Sunday, November 29, 2020

Antara Kerjasama Ekonomi Dan Ambisi Teritorial

Indonesia dan China baru saja menandatangani kerjasama jual beli batubara seharga 20,6 trilyun rupiah untuk tahun 2021. Sementara dengan AS, Indonesia diberi "hadiah" perpanjangan GSP ( General Specialized Preference)untuk ribuan produk ekspor kita ke AS sehingga mampu bersaing di pasar domestik AS. Sekaligus membuat surplus milyaran dollar neraca perdagangan bagi Indonesia. Fasilitas GSP ini sudah berlangsung sejak tahun 1985. AS juga akan berinvestasi besar di Indonesia termasuk di Natuna.

Dua hidangan terbaru dan terkini diatas disajikan di depan teras rumah kita. Kedua sahabat kita yang kekar itu mengetuk pintu rumah kita bergantian dengan gaya Hulk yang sopan banget. Tapi manakala sedang tumpah adrenalinnya keduanya jadi Hulk yang pamer otot berwarna hijau dan sorot mata merah tajam. Kerjasama ekonomi terbaru dengan kedua negara besar dan hebat itu yang sudah berlangsung lama patut kita sambut dengan sukacita.

Seandainya China bermain halus di Laut China Selatan (LCS), istilahnya "Njawani" begitu, mungkin saja situasi di LCS tidak sepanas sekarang. Tidak tergesa-gesa dan mengedepankan pola diplomasi yang cerdas, bermain cantik ketika berhadapan dengan seterunya AS. Bukankah prediksi ke depan China akan menjadi kekuatan ekonomi nomor wahid sejagat. Raih dulu itu sembari membangun kekuatan militer dan aliansi militer. Dengan Rusia misalnya. Dan tidak sekarang klaim itu, setidaknya sepuluh tahun ke depan. Pola China  berinvestasi dan donasi hutang ke sejumlah negara sudah cukup memberikan pengaruh. Sabar gitu loh.

Sayangnya untuk urusan  LCS dilakukan dengan tergesa-gesa dan kasar. Mentang-mentang, pamer kekuatan dan menyakitkan beberapa negara ASEAN. AS dan sekutunya menemukan blunder besar dan kemudian melakukan counter attack yang mendebarkan. Pemilik hegemoni dan polisi dunia ini kemudian bergerak lincah ke segala lini mengopinikan China sebagai tersangka hukum laut internasional.

AS dengan cepat merangkul India untuk merapatkan barisan bersama Jepang dan Australia. Kebetulan India juga sedang melotot dengan China. NATO yang nun jauh disana diajak bergegas. Saudara sepupunya Inggris siap sedia mengirimkan armada lautnya ke LCS. Dan ini yang terpenting, AS sudah, sedang dan akan menggeser separuh kekuatan militernya ke Indo Pasifik. Kemudian akan membangun Armada ke1 khusus untuk LCS. Alamak.

Nasi sudah menjadi bubur ayam, sehingga makan rendang pun harus cepat mengunyahnya karena di depan halaman rumah ada kegaduhan. Semburan api lidah naga membuat LCS demam tinggi dan bergelombang. Perubahan cuaca yang cepat ini membuat sejumlah negara ASEAN juga Taiwan dan Jepang memperkuat barikade militer. Termasuk Indonesia. Semua bergegas. Taiwan pesan 60 jet tempur F16 Viper, ratusan peluru kendali pertahanan pantai dari AS dan lain-lain. Jepang berlari cepat bangun kekuatan armada laut dengan puluhan destoyer, merubah LHD jadi kapal induk F35 yang landing take off vertikal.  Sudah dan sedang menerima ratusan jet tempur siluman F35 dari AS.

Negara-negara ASEAN seperti Vietnam dan Filipina beradu cepat memperkuat militernya. Sama halnya dengan kita. Kelihatannya hanya Malaysia yang tidak bergegas memperkuat militernya. Padahal sudah 90 kali perairan zona ekonomi eksklusif Malaysia disatroni China termasuk pesawat pengebom strategisnya.  Kementerian Pertahanan Indonesia sepanjang perjalanan tahun ini dengan langkah cepat berupaya mendatangkan sejumlah alutsista strategis dan gahar dari sejumlah negara produsen alutsista. Semua dalam proses dan harus cepat.

Namun sejalan dengan itu kerjasama ekonomi dengan China tetap berlangsung mulus. Jepang dengan China oke-oke saja tuh. Investasi China di Vietnam lancar dan besar. Perdagangan AS dengan China meski diwarnai saling embargo tetap berjalan. Kerjasama ekonomi Indonesia dan China sangat baik dan menguntungkan kedua belah pihak. Sejatinya saat ini tidak ada satupun negara yang tidak melakukan kerjasama ekonomi antar negara. Simbiosis mutualistis, saling memerlukan dan ketergantungan satu sama lain.

Maka lihatlah China ketika dia memulai konfrontasi di LCS dan dengan India. Meski kuat secara militer tetapi dia sendirian. Secara diplomasi dia kalah opini.  Dan secara hukum internasional jelas salah. Artinya diluar kerjasama ekonomi, China menjadi musuh bersama. Ambisi teritori China yang dilakukan secara terburu-buru, sembrono dan egois telah menimbulkan luka diplomatik bagi sejumlah negara. Namun karena simbiosis mutualistis tadi dan untuk kepentingan nasional masing-masing negara, tetap tersenyum dan bertransaksi dengan China, juga sebaliknya.

Maka disini berlaku hukum tegas: Si vis pacem parabellum. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Perseteruan NATO dan Pakta Warsawa di era perang dingin membuktikan hal ini. Puluhan ribu tank,artileri, roket, rudal dan senjata nuklir berikut ratusan ribu prajurit kedua belah pihak digelar di sepanjang perbatasan Eropa Barat dan Timur. Dan perang tidak terjadi selama lebih dari 40 tahun. Pada saat yang sama pertumbuhan ekonomi dunia tumbuh dengan cemerlang. Yang terjadi kemudian Pakta Warsawa bubar, Uni Sovyet bubar, Yugoslavia bubar, Jerman Barat dan Timur bersatu.

Maka untuk menghadapi arogansi militer China,  kita harus secepatnya memperkuat militer dan alutsista. Wajib hukumnya karena ini menyangkut marwah dan harga diri bangsa. Semua negara menganut paham ini. Oleh sebab itu mari kita sambut dengan gembira tawaran Jepang untuk menguatkan armada angkatan laut kita dengan 8 kapal perang fregat. Kita sambut tawaran AS untuk menguatkan angkatan udara kita dengan jet tempur dan lain-lain. Namun sebagai warga dunia di bumi bulat bundar ini kita tetap melakukan kerjasama ekonomi antar negara yang saling menguntungkan termasuk dengan China.

Dengan memperkuat militer dan kemampuan berdiplomasi, diniscayakan ada rasa segan untuk melakukan konfrontasi terbuka. Lihat saja pamer kekuatan AS dan China di LCS dan Selat Taiwan, silih berganti, saling gertak, saling ejek, saling lempar statemen. Dan hanya sebatas itu. Karena keduanya sebenarnya saling segan menyegani, dan tetap saja damai, dan tetap saja melakukan kerjasama ekonomi skala besar.

Yuk kita berbenah cepat dengan pakem yang sama, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Segera perkuat tentara kita dengan alutsista gahar, dengan jumlah yang sepadan dengan luasnya teritori kita. Kita bangun dan kembangkan manajemen pertempuran modern dengan kemampuan network centric warfare. Dan yang terpenting tetap menjaga iklim netralitas. Menjaga hubungan baik dengan China, dengan AS, Jepang, dengan negara-negara ASEAN. Eh hampir kelupaan tetangga selatan kita Australia sebut juga dong. Habis dia bertetangga suka gak ikhlas sih.

****

Jagarin Pane / 29 Nopember 2020

Monday, November 23, 2020

Mencermati Langkah Kuda Militer AS di LCS

Bukan AS namanya kalau tidak mengambil langkah kuda untuk menjaga posisi keunggulan militernya. Baru saja tersiar publikasi bahwa AS akan menghidupkan kembali Armada ke 1 untuk mengawal ketat perairan Laut China Selatan (LCS). Dan ini yang sangat mungkin, menjadikan Singapura sebagai pangkalan utama Armada ke 1 AS. Termasuk juga pulau Christmas di selatan Jawa.

Sebenarnya saat ini sudah ada Armada ke 7 AS yang berpangkalan di Yokosuka Jepang. Yang selama ini bermanuver di LCS ya dari gugus tempur Armada ke 7 itu dengan satu kapal induk, 20.000 pasukan, puluhan kapal pengiringnya dan 150 pesawat berbagai jenis. Namun menurut Secretary of the Navy Kenneth Braithwaite rentang kendali Yokosuka terlalu lebar, tidak efektif karena juga harus mengawal Korea Utara dan Taiwan serta memayungi Jepang.

Dalam pandangan kita sebenarnya ini adalah bagian dari strategi cerdas AS  menutup celah dan akses ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) untuk militer China ke Samudra Hindia. Sebab di timur Indo Pasifik sudah ada pangkalan militer AS di Guam, utara Papua dan Subic di Filipina yang bisa kembali digunakan setelah ditutup. Subic dan Clark adalah pangkalan militer terdepan AS dalam perang Vietnam. Juga di Darwin Australia sudah ada penempatan satu brigade pasukan Marinir AS dan salah satu pangkalan aju AL AS.

Jika Singapura jadi pangkalan Armada ke 1 AS, ini benar-benar di depan hidung kita sebab Batam dan Tanjung Pinang ada di sebelahnya. Tanjung Pinang adalah salah satu pangkalan strategis TNI AL dan sebagai salah satu mata rantai logistik militer mengawal Natuna. Sebenarnya sudah lama AS menggunakan Singapura sebagai tempat singgah, bekal ulang dan rehat untuk armada kapal perangnya. Namun volumenya tidak sering.

Singapura punya resiko tinggi jika menjadi pangkalan AL AS. Beijing yang sendirian dan gondok sudah pasti akan mengarahkan peluru kendali konvensional dan nuklir jarak jauhnya kesana. Menarget negeri pulau itu untuk menjadi sasaran tembak peluru kendali balistik China jika terjadi perang besar. Tijitibeh kata China, mati siji mati kabeh.

Jika armada ke 1 AS aktif kembali dan mengambil Singapura dan Christmas Australia sebagai pangkalan AL maka kita mau tidak mau harus menyesuaikan kondisi itu dengan membesarkan kekuatan TNI AL segera. Tidak bisa tidak.  Selat Sunda, Selat Malaka adalah pintu keluar masuk Armada ke 1 AS dan kapal perang yang lewat bukan sembarang kapal perang. Setiap melewati ALKI mereka pasti memetakan situasi sekitar perairan termasuk bawah air untuk kepentingan intelijen.

Belum lagi kekuatan angkatan laut India yang sudah mulai "pdkt" dengan AL AS. Untuk diketahui empat negara QUAD yaitu AS, India, Australia dan Jepang baru saja melakukan latihan militer bersama di Teluk Benggala. Dan akan dilanjut di Laut Arab akhir bulan ini. Persekutuan informal 4 negara ini suatu saat bisa menjadi aliansi militer paling gerun di Asia jika ada kesepakatan formal diantara mereka.

Pengambil kebijakan bidang pertahanan kita, tidak bisa  lagi bekerja dengan prosedur standar apalagi menganggap kehadiran armada ke 1 AS sebagai hal yang biasa. Harus ada upaya percepatan pengadaan kapal perang dan fleksibilitas kemitraan. Disatu sisi kita percepat perkuatan AL dan AU, di sisi lain kita harus mampu membawa fleksibilitas jatidiri ditengah perubahan dan dinamika kawasan.

Meski Singapura menjadi pangkalan AL AS namun negara kota itu hanya sebuah titik. Karena sesungguhnya durasi lalulintas kapal perang Armada ke 1 AS yang datang dan pergi mutlak harus melewati ALKI. Siapkah kita mengawalnya. ALKI adalah jalur laut pelayaran internasional namun kalau yang lewat kapal perang tetaplah kita siaga dan memperlihatkan diri.

Pangkalan AL yang ada di ALKI-1 harus diperkuat dengan tambahan kapal perang. Padang, Sabang, Belawan segera berbenah. Penuhi kekuatan standar pangkalan AL dengan tambahan kapal perang minimal jenis korvet. Termasuk sistem persenjataan pertahanan pangkalan. Laut Jawa juga bagian dari ALKI dimana di sisi selatannya ada pangkalan TNI AL terbesar yaitu Surabaya dan Jakarta.

Proses pengadaan alutsista diharap tidak bertele-tele. Pengalaman soal pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 contohnya, terlalu lama durasi prosesnya, tiga tahun. Jika bisa diselesaikan lebih awal, dipastikan SU35 sudah hadir di langit nusantara.  Dulu di era duit terbatas untuk anggaran pertahanan, wajar kita sulit dan lama untuk mendapat alutsista. Sekarang sudah disediakan anggaran beli alutsista yang besar, mendapat barangnya pun ternyata lama juga.

Semua sedang bergerak dan berproses. Penuhi segera 3 skadron jet tempur dengan F16 Viper dan Sukhoi SU35, itu saja dulu. Lobby terus  Paman Sam agar pengadaan SU35 bisa berjalan mulus, tinggal selangkah lagi. Kemudian tawaran Jepang untuk menyediakan 8 kapal perang fregat modern disambut hangat. Jangan kelamaan mikir, percepat prosesnya. Sehingga diharapkan dalam lima tahun kedepan sudah tersedia kebutuhan kapal perang jenis fregat dan destroyer. Dan ini yang penting, punya marwah ketika beriringan dengan kafilah Armada ke 1 AS yang melintas ALKI.

****

Jagarin Pane / 22 Nopember 2020

Wednesday, November 11, 2020

Jepang Datang Membawa Asa

Geliat untuk memperkuat militer Indonesia selama perjalanan tahun ini luar biasa lincahnya. Padahal program penguatan TNI sebenarnya sudah berjalan dari tahun-tahun sebelumnya. Program MEF (Minimum Essential Force) sudah berjalan 10 tahun.  Lima tahun sebelum tahun ini sudah berjalan program MEF dengan Menhan yang beda. Tapi mengapa baru sepanjang tahun ini gemuruhnya terasa menyentak seperti lagu maju tak gentar.

Jawabannya tergantung persepsi kita masing-masing. Boleh jadi karena greget sebelumnya memang kurang, sedangkan yang sekarang penuh gairah. Bisa juga karena terbukti MEF selama sepuluh tahun belum menghasilkan taring sementara geraham sudah saling gesek gemeretak.  Atau memang cuaca ekstrim sedang melanda beranda depan rumah kita. Sementara atap rumah kita belum sekuat badai yang menerpa.

Fakta di lapangan jelas terang benderang,  dinamika Laut China Selatan (LCS) penuh gelombang ketidakpastian. Dan cenderung memanas oleh sebuah sebab: klaim dan pamer kekuatan. Fakta di lapangan membuktikan bahwa alutsista kita memang belum memadai. Bahkan menghadapi tinggi gelombang laut dan badai LCS kapal perang kita masih kewalahan.

Lalu datang AS dengan iming-iming mau membantu memperkuat sebagai sahabat. Nah, lucunya Uak Sam ini mau membantu tapi setengah hati. Dia bilang kita belum saatnya boleh membeli jet tempur siluman F35 karena harus bertahap, jarene. Tapi kita juga tak boleh melanjutkan transaksi pembelian jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia. Pengennya mengajak bermitra untuk menghadapi China, tetapi syarat ketentuan diberlakukan sepihak. Kalau memang tidak setuju atau tidak mau menjual F35 jangan pula menghalang-halangi transaksi pengadaan SU35 dengan Rusia. Ente sahabat tomat, dekat-dekat beri hormat, pas pulang kembali kumat.

Tak lama kemudian datanglah saudara tua Asia Timur, Nippon. Lihatlah model persahabatan Jepang dengan Indonesia yang tak dibuat-buat. Mereka datang, bergerak cepat, Perdana Menterinya ke Jakarta, Menhannya diskusi dengan Menhan kita secara virtual. Lalu diberitakan secara luas bahwa Jepang akan ikut memayungi kedaulatan teritori Indonesia dengan 8 kapal perang jenis destroyer. Syarat dan ketentuan tidak berlaku, bayar belakangan. Ruaarr biassa.

Kalau 8 kapal perang itu jadi direalisasikan, maka ini adalah ekspor alutsista terbesar Jepang sejak perang dunia kedua. Dan bagi Indonesia ini adalah pengadaan alutsista laut terbesar sejak pengadaan 39 kapal perang bekas dari Jerman awal dekade 1990. Pertanyaannya mengapa Jepang tiba-tiba hadir mengambil inisiatif dan bersedia menjadi salah satu distributor alutsista strategis Indonesia.

Jepang adalah sahabat sejati Indonesia yang dalam sejarah pertemanan tidak pernah menyinggung tata krama diplomatik pada kita. Selalu santun dan terdepan dalam memberikan bantuan. Bahkan sekalipun mereka kecewa berat dengan dimenangkannya China dalam tender kereta super cepat Jakarta-Bandung, tetap tidak memperlihatkan sakit hatinya, alias berlapang dada.

Bagaimana dengan AS dan juga Australia. Dalam pengamatan kita dua sosok paman dan keponakan bule ini punya sifat yang sama, arogan. Menganggap Indonesia sebagai sahabat, sebagai mitra tetapi tidak pernah tulus bersahabat. Kalau ada maunya mendekat, kalau kepentingannya terganggu menyekat. Bandingkan dengan Jepang, Korsel bahkan China. Kultur Asia mengajarkan persahabatan setara, saling menghormati antar negara.

China banyak berkontribusi untuk pembangunan infrastruktur Indonesia. Jepang apalagi, sudah sejak dulu membantu kita ketika kita masih susah bin miskin. Korsel juga berinvestasi  besar dan bahkan melakukan kerjasama teknologi alutsista pengembangan jet tempur KFX/IFX dan kapal selam Nagapasa Class. Ketiga ras kuning ini berperan besar membangun ekonomi kesejahteraan untuk kita. Itu kenyataan sejarah.

Sementara AS dan terutama Australia yang wira-wiri dan hidup di lingkungan Kelurahan Indo Pasifik mestinya mampu beradaptasi dengan kultur kelurahan ini, meski asal usulnya bukan ras Asia alias pendatang. Kenyataannya selalu mengedepankan sikap "merasa lebih". Padahal ketika baru-baru ini China mengembargo produk Australia karena terlalu mencampuri soal LCS, sang Kanguru merasa gerah kepanasan.

Maka selayaknya kita sambut uluran tangan saudara tua kita Jepang. Kita jelas sangat membutuhkan kapal perang ukuran besar untuk menjaga teritori negeri utamanya Natuna. Jepang siap memasok kapal perang ke Indonesia secepat mungkin. Artinya ada kapal perang eksisting Jepang yang sangat mungkin akan dialihkan ke Indonesia karena targetnya tahun 2022 sudah operasional.

Jelas ini bukan membangun kapal perang baru. Sebagai contoh dua kapal perang Iver Class yang dipesan Indonesia baru selesai dibangun tahun 2025. Sementara Indonesia ingin secepatnya mendatangkan 4 kapal perang striking force dari Jepang dan membangun 4 kapal lainnya di Indonesia. Semua masih berproses dan biarlah proses asa itu berjalan. Dan biarkan juga asa kita menghirup udara segar mendengar dan membaca berita segar ini.

****

Jagarin Pane / 11 Nopember 2020

Wednesday, November 4, 2020

Upaya Menggeser Posisi Netral

Amerika Serikat saat ini sedang menumpahkan perhatiannya pada kawasan Laut China Selatan (LCS), sebuah kawasan perairan dan karang atol yang kaya sumber daya perikanan dan energi. AS bersama keponakannya Australia sedang berupaya kuat membentuk "persekutuan bulan sabit" untuk mengurung China mulai dari Jepang sampai India. Disebut demikian karena negara-negara yang diajak itu posisinya mengelilingi China seperti bulan sabit.

Khusus kepada Indonesia, pemilik dua pertiga teritori ASEAN, jurus soft diplomacy yang diperlihatkan AS adalah segera mengucurkan dana milyaran dollar untuk berinvestasi sumber daya perairan di Natuna. Kemudian memberikan persetujuan perpanjangan GSP (generalized specialist preferences), sebuah formula keringanan bea masuk barang ekspor Indonesia ke AS yang sudah bertahan puluhan tahun. Artinya GSP tidak jadi dicabut.

Sang pemegang sabuk hegemoni sekaligus penyandang kekuatan ekonomi dan militer nomor wahid di jagat ini sejatinya sedang digerogoti oleh penantang terkuatnya, China. Secara pasti dan sistematis China mampu menjadikan dirinya, sebuah kapal besar dengan 1,4 milyar penduduknya, sebagai kekuatan ekonomi raksasa kedua setelah AS. Prediksi ke depan China akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu di dunia.

China sedang bergeliat dan bergairah, nun jauh di timur jauh. Sementara pertarungan adu pengaruh di Asia Barat alias Timur Tengah secara potensi dan perspektif tidak lagi se spektakuler potensi konflik di Indo Pasifik. Wilayah ini akan menjadi ajang pertaruhan dan pertarungan paling berbahaya dan sangat berpotensi menjadi pemicu pertempuran maha dahsyat. Itu sebabnya AS telah dan sedang menggeser kekuatan militernya ke Indo Pasifik.

Langkah adu cepat dilakukan pemilik hegemoni. Safari kunjungan berulang dilakukan ke Indonesia, Vietnam, Filipina dan India. Taiwan diperkuat dengan ratusan rudal Harpoon pertahanan pantai dan tambahan 60 jet tempur F16 Viper. Dengan Filipina sudah dihidupkan lagi perjanjian tradisional mereka, menggunakan Subic dan Clark sebagai benteng perisai Filipina dan pangkalan aju untuk militer AS.

Indonesia sedang dibujuk rayu dan sedikit disanjung dengan bermanis muka. Menhan Prabowo disambut permadani merah di Pentagon. Menlu AS Pompeo datang ke Jakarta membawa tembang diplomasi, menghaluskan tutur kata. Kami akan kucurkan investasi besar, memberi kado GSP untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin, dan menyediakan kebutuhan alutsista gentar strategis, demikian bunyi syair tembangnya.

Keputusan AS akan berinvestasi di Natuna tentu sebuah keputusan cerdas bagi kedua belah pihak. Bagi Indonesia kucuran dana milyaran dollar sangat membantu terpuruknya ekonomi akibat pandemi. Kemudian yang tidak kalah penting dari sisi pertahanan, bisa menjadi perisai penggentar bagi pengklaim. Sedangkan bagi AS ini cara menghadirkan eksistensi kehadiran superioritasnya di "garis depan" meski berwarna sipil.

Untuk kerjasama pertahanan  pilihan menggunakan F16 Viper dan F15 merupakan pilihan realistis. Bukan berarti keinginan mendapatkan F35 tidak diluluskan AS, namun waiting list utk pesawat siluman itu sampai 9-10 tahun. Sedangkan kebutuhan terhadap armada jet tempur sangat mendesak, karena ancaman sudah di depan mata.  Itu sebabnyaTyphoon tiba-tiba menjadi pilihan dadakan karena barangnya sudah tersedia. Kalau jadi membeli F16 Viper waiting listnya 3-4 tahun.

Perjuangan AS untuk menggeser posisi netral Indonesia di LCS sejauh ini menjadi rezeki ekonomi bagi kita. Perpanjangan GSP dan investasi AS sangat membantu kita. Tentu saja tidak ada makan siang gratis. Tetapi bagi kita selama tidak ada bau-bau pangkalan militer AS tidak mengapa. Investasi di Natuna adalah dunia usaha. GSP adalah dunia usaha. Kalaupun kita beli Viper, Herky, Chinook atau bahkan rudal Harpoon Coastal memang kita sedang membutuhkannya.

Mungkin bagi AS kesediaan Indonesia menerima investasi di Natuna merupakan pergeseran posisi netral. Sebab sebelumnya China mati-matian merayu Indonesia untuk bisa berinvestasi di Natuna tapi ditolak. Ya harus ditolak dong, sebab kalau diterima tentu artinya kita membenarkan alias mengakui klaim nine dash line China. Sebab kawasan investasi itu adalah eksplorasi ZEE tumpang tindih.

Maka dalam kontestasi berebut pengaruh, gadis manis berambut sebahu yang bernama Indonesia bolehlah sedikit jual mahal. Tetap senyum manis dengan Paman Panda juga memberikan senyum menggoda buat Paman Sam.  Diplomasi kita jelas untuk kepentingan nasional kita dan dua paman tadi juga telah banyak memberikan nilai tambah untuk kita. Memberikan ruang untuk investasi AS bukan untuk menggeser posisi netral. Demikian juga membeli sejumlah alutsista AS bukan untuk menjadi  sekutu. Semuanya untuk kepentingan nasional kita.

****

Jagarin Pane / 4 Nopember 2020

Sunday, October 25, 2020

Bermain Cantik, Lincah Dan Gesit

Luar biasa pertarungan diplomatik untuk mencari simpati dan memenangkan opini antara AS dan China sepanjang perjalanan tahun ini di Indo Pasifik. Semua komponen kementerian luar negeri dan pertahanan kedua gajah besar itu dikerahkan untuk berkunjung dan dikunjungi. Sementara para diplomat gajah berdiplomasi, alutsista gahar berbagai jenis kedua belah pihak dipamerkan sebagai unjuk kekuatan diplomasi militer. Pamernya di halaman depan komplek perumahan ASEAN.

Di Tokyo awal bulan ini berlangsung pertemuan QUAD yang dituduh China sebagai mini NATO. Empat negara, Jepang, AS, Australia dan India berembug informal "ngrasani" Paman Mao yang haus teritori. PM Jepang Suga Yoshihide yang baru dilantik langsung melakukan kunjungan luar negeri pertama ke negara garis depan Laut China Selatan (LCS) Vietnam dan Indonesia. Dan berjanji secepatnya akan mengekspor sejumlah alutsistanya.

Menlu China dan sejumlah diplomat kawakannya melakukan hal yang sama, diplomasi ofensif dan terang-terangan. Wang Yi berkunjung ke lima negara ASEAN, Kamboja, Malaysia, Laos, Thailand dan Singapura. Dia mengajak negara ASEAN untuk menjauhi AS yang selalu bikin masalah. ASEAN harus bersatu sikap menghadapi arogansi AS di LCS, katanya.

Indonesia sejatinya punya posisi tawar yang bagus. Posisi geostrategis dan geopolitik kita menjadi tumpuan harapan dua gajah. Misalnya aliran konvoi kapal perang dan jet tempur dari arah selatan pasti melewati teritori kita.  Maka AS berusaha melakukan berbagai langkah diplomasi untuk merangkul Indonesia. China juga sami mawon, mengajak kita melakukan kerjasama investasi di Natuna. Menko Maritim dan Investasi kita diundang ke Beijing.

Penolakan terhadap pesawat intai strategis AS Poseidon untuk mendapat fasilitas singgah di Indonesia setidaknya memberikan tamparan halus bahwa Indonesia punya nyali mengatakan tidak. Sama halnya ketika kita mau beli jet tempur Sukhoi SU35 dihalangi Pakde Sam.  Rasanya ditampar juga kan. Oleh sebab itu seharusnya AS lebih bisa memahami posisi Indonesia yang sudah kontrak pengadaan Sukhoi SU35. Jangan egois Pakde.

Juga soal Indo Pasifik utamanya LCS, AS mestinya bermain di tataran kesetaraan dalam pola diplomasi. Keangkuhan AS dalam menjalankan diplomasi mau menang sendiri bisa saja menimbulkan kebencian mendalam bagi negara yang dihasut. China tidak bisa dikucilkan begitu saja, sudah kadung menjadi raksasa. Sama halnya dengan Rusia yang mendapat sanksi CAATSA dari AS. Rusia dan China yang selalu ditekan dan difitnah bisa saja dikemudian hari membentuk pakta militer. Putin sudah memberikan isyarat itu. 

Sementara Indonesia harus bermain cantik, lincah dan gesit ( meminjam syair lagu Ebiet G  Ade), baik di tataran diplomasi dan pertahanan. Diplomasi kita yang dikawal ketat Menlu cantik lincah dan gesit (juga mungil) telah membuktikan kemampuan berdiplomasi dalam berbagai issue internasional. Misalnya Vanuatu yang baru saja "digebuk" diplomat kita di PBB karena sok tahu dan sok menggurui soal Papua. Dan Indonesia sekarang menjabat lagi sebagai ketua Dewan Keamanan PBB. Menlu kita cerdas untuk selalu tersenyum kepada kedua Pamannya, Paman Sam dan Paman Mao.

Menhan kita juga cerdik dan lugas. Ketika jalan visa nya ke AS masih di blokade, dia melakukan manuver kunjungan ke Austria, Perancis, Jerman, Rusia dan Turki. Austria merasa senang karena 15 Typhoon nya diminati Prabowo. Perancis menyambut gembira, Rafale yang sedang dibangga-banggakan India, makin berkibar karena kita pengen beli banyak. Sementara Viper malah statusnya jalan ditempat. Akhirnya Wahington memberi green light untuk Menhan kita.

AS berharap banyak dari mitra besarnya Indonesia. Sementara  dengan Vietnam AS masih salah tingkah.  Langkahnya terbatas pada basa-basi silaturahim karena sejarah luka pertempuran perang Vietnam belum pulih. Apalagi saat ini Vietnam sekutu dekat dengan Rusia. Kalau kita berharap banyak dari mitra kita mestinya kita juga harus memberi ruang dan peluang untuk take and give pada mitra kita. Itu yang seharusnya dilakukan AS.

Menlu AS Mike Pompeo pekan depan akan berkunjung ke Jakarta untuk membujuk Jakarta agar tidak terlalu non blok alias netral dalam menyikapi klaim nine dash line China. Nah dalam momen itu mestinya Indonesia memperkuat posisinya soal SU35 agar bisa dikecualikan dari UU CAATSA. Mau merangkul tapi kok menghalangi transaksi bisnis alutsista kita.

Di tengah kunjungan itu Pompeo juga akan  menyempatkan diri hadir di forum GP Ansor. Dalam kacamata diplomasi ini sebuah jurus untuk mencari simpati di organisasi kepemudaan nasionalis religi terbesar. Sekalian mencari dukungan civil society. Bahwa AS serius ingin merangkul Indonesia alias cari teman untuk memperkuat garis depan LCS

Maka kita akan melihat di hari-hari mendatang ketangguhan dua figur, Retno Marsudi dan Prabowo melakukan diskusi, perundingan dengan segala dinamikanya. Posisi kita jelas tidak ingin didikte AS tetapi harus dibahasakan secara "njawani dan halus". Demikian juga soal alutsista jika AS memberikan jalan terang soal SU35, kita lanjutkan proses pengadaan 24 jet tempur F16 Viper dan lain-lain. Lha kalau angel temen, angel temen tuturanmu Pakde Sam, tidak salah juga kalau kami borong Rafale dan Typhoon.

****

Jagarin Pane / 25 Oktober 2020

Thursday, October 15, 2020

Mengukur Bargaining Prabowo

Lama tak terdengar lanjutan progres pengadaan alutsista strategis Indonesia, tiba-tiba ada lampu hijau dari Washington. Isi pesannya kira-kira begini, silakan datang, kami menyambut hangat Menhan Prabowo dan shopping listnya. Ini kabar yang menggembirakan sekaligus membanggakan karena lampu merah kunjungan selama dua puluh tahun sudah padam, berganti lampu hijau.

Di sisi ini Prabowo telah memenangkan pertarungan harga diri tanpa merasa susah payah melobby dan merayu. Sementara AS melihat sudut pandang horizon tentang perspektif sosok mantan Pangkostrad ini. Sudut pandang Indo Pasifik yang dinamis dan potensi kepemimpinannya untuk Indonesia setelah 2024 menjadi poin penting terbukanya portal kunjungan ini.

Menghadapi militer China, AS perlu mitra besar, sedikit dibawah kategori sekutu. Indonesia adalah mitra besar yang perlu sekali dirangkul untuk kepentingan strategis AS di Asia Pasifik khususnya Laut China Selatan (LCS). Karakter Paman Sam biasalah, selalu "nggolek bolo" untuk mempertahankan hegemoninya di belahan dunia manapun.

Indonesia sebenarnya sedang memproses pengadaan alutsista dengan AS. Misalnya pengadaan 24 unit jet tempur F16 Viper, 6 pesawat Hercules terbaru, 8 Osprey, 8 Chinook dan 8 Apache batch 2.  Namun jujur saja sebenarnya saat ini kita dalam posisi "tersinggung" dengan kesombongan AS lewat CAATSA untuk menghalangi pembelian 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia. Padahal kontraknya  sudah ditandatangani tahun 2018 yang lalu.

Langkah cerdas Prabowo sepanjang semester satu tahun ini melakukan proses percepatan pembelian alutsista selain dari AS. Dia kunjungi Perancis, Rusia dan Turki. Dengan Austria melakukan kontak intensif untuk bisa membeli 15 jet tempur Typhoon bekas tapi masih rendah jam terbangnya. Pesan tersirat dari semua hasrat besar Prabowo sebelum mendapat green light dari AS adalah tidak ingin berkiblat ke AS dalam pengadaan alutsista. Boleh jadi karena kekecewaannya terhadap blokade visa kunjungan ke AS.

Posisi tawar Prabowo dalam kunjungan ke AS bisa diolah dengan kemampuan diplomasi dan lobby tim Kemenhan. Misalnya berupaya semaksimal mungkin meloloskan hambatan pembelian 11 jet tempur Sukhoi SU35. Atau jika Uak Sam keberatan bisa diganti dengan sejumlah jet tempur stealth F35. Nilai kunjungan bargaining selama tiga hari mulai hari ini akan diuji dengan kalimat: apakah AS akan meluluskan permintaan Indonesia untuk mendapatkan 11 jet tempur Sukhoi SU 35 atau menggantinya dengan F35. 

Jika memang tidak  mendapatkan salah satunya atau bahkan keduanya Menhan eks Capres itu sudah siap dengan paket pengganti yaitu 2 skadron Rafale plus 1 skadron Typhoon. Artinya 24 unit jet tempur F16 Viper yang sedang berproses dilepas juga. Dua jenis jet tempur non AS, Rafale dan Typhoon  menjadi kekuatan tawar menawar Prabowo.

Lebih dari itu "mengalahnya" AS pada embargo personal terhadap Prabowo selama 2 dekade karena  melihat posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia yang sangat penting. Indonesia dianggap paling berani berhadapan dengan China. Ketika Coast Guard China memasuki perairan ZEE Natuna, Indonesia bereaksi keras dan mengirim sejumlah kapal perang dan jet tempur.

Sejatinya menjaga stabilitas LCS harus menggunakan pakem si vis pacem parabellum. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Artinya penguatan alutsista adalah kemutlakan, tidak bisa tidak. Kita harus bisa secepatnya memiliki militer dengan kekuatan pukul yang diperhitungkan. Sejalan dengan langkah itu kita harus berupaya menyeimbangkan kekuatan dengan "merapat" pada mitra yang ingin menjaga stabilitas kawasan.

Dalam program modernisasi militer Indonesia untuk angkatan udara masih memerlukan minimal tambahan 3 skadron tempur baru. Maka layak pula jika isian skadron baru itu dihuni SU35 atau F35. Dan jika tidak mendapat keduanya sah-sah saja jika kita segera merealisir pengadaan 2 skadron Rafale dan 1 skadron Typhoon. Bahkan untuk Typhoon kalau tidak ada halangan diprediksi pertengahan tahun depan sudah datang.

Bagaimanapun AS adalah sahabat yang bisa memahami harapan dan keinginan kita. Apalagi situasi LCS yang demam tinggi terus menerus memerlukan strategi kemitraan yang cerdas. Artinya untuk kepentingan nasional kita juga. Secara ekonomi kita dekat dengan China dan AS. Namun dengan pertimbangan stabilitas kawasan kita juga harus memilih langkah cerdik dalam memilih teman yang bisa menjaga kampung kita meskipun teman kita berbeda kampung.

Harapan masa depan LCS adalah stabilitas. Maka jika banyak negara di luar kawasan ikut mengambil peran, adalah sebuah kewajaran. Jepang, Australia dan Kanada sudah mengikuti langkah AS. Inggris juga sudah merapat. NATO diprediksi akan ikut menjadi payung stabilitas. Kemitraan strategis untuk menjaga stabilitas LCS memang mahal harganya. Kita dan ASEAN tentu ingin situasi ini berlaku abadi, alias tidak ada keangkuhan dan pamer kekuatan militer. Maka bargaining Prabowo yang dibawa ke AS akan menjadi headline di kawasan ini hari-hari mendatang.

****

Jagarin Pane/15 Oktober 2020


Wednesday, September 9, 2020

Selangkah Lagi Menuju Era Network Centric Warfare

Dari Yunani ada kabar bagus dan ditunggu. Bahwa perusahaan raksasa negeri para dewa itu, Scytalys memenangkan tender terbuka untuk membangun infrastruktur software fundamen Network Centric Warfare (NCW) militer Indonesia. Nilai kontrak proyek ini mencapai US$ 49 juta atau 730 milyar rupiah, dipublikasikan 15 Agustus 2020.

Membangun militer modern sama dengan mempersiapkan sistem manajemen pertempuran berbasis network. Tidak bisa tidak, tidak bisa ditunda karena perkembangan teknologi pertempuran sangat dinamis. Manajemen pertempuran sekarang dan masa depan adalah integrasi interoperability antar matra darat, laut dan udara dalam satu komando.

Scytalys sudah berpengalaman membangun sistem interoperability pertahanan di Jepang dan Korsel. Dari pengalaman itu kemudian akan membangun infrastruktur software komando interkoneksi pertahanan Indonesia. Ini yang disebut dengan C4ISR (Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveilance, Reconnaisance).

                                              Nagapasa Class akan mencapai jumlah 6 unit

Melihat kacamata diri dalam bingkai geo politik dan geo strategis, maka jelas ciri khas sistem manajemen pertempuran kita bertumpu pada kekuatan angkatan laut dan udara. Doktrinnya musuh harus dicegah masuk teritori, berani masuk digebuk. Maka kekuatan gebuknya ada di AL dan AU. Klaim teritori kita semuanya adalah perairan. Konsekuensinya kekuatan alutsista matra laut dan udara harus ditingkatkan secara signifikan dan cepat.

Natuna adalah hotspot contoh soal yang jelas. Dan membuat kita tergopoh-gopoh. Juga Ambalat. Dua hot spot ini mengharuskan kita membagi dua kekuatan AL dan AU. Maka peta jalannya sudah jelas. Salah satunya kita saat ini sedang mengembangkan model alutsista remote control PUNA (pesawat udara nir awak) Elang Hitam. Begitu strategisnya proyek militer ini sehingga mampu menggeser program strategis nasional lainnya seperti pesawat R80 Habibie di masa pandemi ini. 

                                                 Sedang proses 24 jet tempur F16 Viper

Elang Hitam diniscayakan akan menjadi tulang punggung manajemen pertempuran masa depan. Bisa difungsikan sebagai pesawat intai strategis, pesawat patroli udara dan patroli maritim sekaligus serang dadakan. Sudah banyak bukti betapa peranan drone bersenjata mampu melakukan serangan kejut, mendadak dan "bersih cemerlang tanpa menggores".

Saat ini kita sedang berupaya mendapatkan 24 jet tempur F16 Viper, 15 Typhoon dan lain-lain untuk TNI-AU. Sedangkan TNI-AL sudah mempersiapkan Iver Class dan Martadinata Class batch dua. Termasuk melanjutkan pembuatan tiga kapal selam Nagapasa batch dua. Ragam alutsista ini semua, kelak akan dijahit menjadi bagian dari sistem NCW TNI. Scytalys menguatkan sistem pertahanan TNI, mempersiapkan bangunan software sinergitas komunikasi dan koordinasi militer teknologi terkini.

Elang Hitam diprediksi akan menjadi alutsista garis depan secepatnya. Itu sebabnya run down produk ini berlangsung dengan supervisi ketat. Nopember tahun ini sudah mulai uji coba dan akhir tahun depan sudah mulai produksi. Teknologi Elang Hitam harus kita kuasai secepatnya, tidak semata-mata beli produk luar. Kita sudah punya PUNA Aerostar buatan Israel dan Wing Loong buatan China. Kehadiran Elang Hitam sudah ditunggu di Natuna.

Iver Class juga akan menjadi alutsista penggentar bersama Martadinata Class. Iver diprediksi akan dibangun 4 unit sama seperti Martadinata Class. Kapal permukaan striking force ini diperkuat alutsista bawah air Nagapasa Class. Scytalys perlu waktu tiga tahun untuk meracik adonan C4ISR. Sementara mempersiapkan ragam alutsista gahar juga perlu waktu lima tahunan. Maka dalam lima tahun kedepan implementasi NCW sudah menjadi kenyataan bersama kekuatan alutsista yang "bolehlah".

Hakekatnya kita membangun kekuatan teknologi militer bukan untuk gagah-gagahan. Negara lain mengikuti pola yang sama. Singapura sudah duluan. Ini adalah tuntutan bernegara kesejahteraan. Kita bangga jika militer kita sudah punya sistem pertahanan terintegrasi, karena itu bagian dari marwah bernegara. Kekuatan ekonomi kita bangunkuatkan. Sejalan dengan itu kita juga harus menguatkan militer kita. Dua-duanya berjalan, seiring sejalan dan berjalan terus.

****

Jagarin Pane/7 September 2020


Saturday, August 29, 2020

Malaysia Tampilkan Peta, TNI Tampilkan Armada

Tanpa banyak publikasi, sepanjang tahun ini angkatan laut Indonesia secara terus menerus menghadirkan sejumlah kapal perang striking force dan memperlihatkan taji tempurnya di Ambalat. Sejumlah KRI dari Armada Dua silih berganti mengawal teritori perairan Kaltara bersinergi dengan pesawat intai dan jet tempur TNI AU. Berita ini kalah seru dengan konflik di Laut China Selatan (LCS) yang melibatkan China dan AS.

Bulan Februari tahun ini Malaysia memperlihatkan buku putih pertahanannya, bagaimana strategi pertahanannya 10 tahun ke depan. Namun titik perhatian kita adalah adanya tampilan peta baru teritori Malaysia. Dan memasukkan perairan Ambalat dalam wilayah teritori dan ZEE nya. Secara geopolitik dan geostrategis, Ambalat adalah wilayah kedaulatan Malaysia, menurut Buku Putihnya.

Ketika Buku Putih itu terbit sudah banyak kemajuan yang didapat dalam perkuatan militer Indonesia selama 10 tahun terakhir. Tahun 2005 yang lalu kekuatan alutsista kita tertinggal dari Malaysia. Dan jiran yang satu ini karena merasa menang dalam sengketa Sipadan dan Ligitan lalu memperlihatkan keangkuhan militernya. Berkali-kali dengan arogannya melecehkan teritori Indonesia. Bahkan ketika Presiden SBY berkunjung ke Ambalat, pesawat mereka melintas di atas kapal perang yang dinaiki RI-1.

                                               Interoperability antar matra di Ambalat

Kondisi sekarang sudah terbalik. Militer kita sudah jauh mengungguli Malaysia. Perolehan asset kapal perang baru kita meningkat signifikan. Juga untuk matra udara dan darat kita banyak memperoleh asset-asset berteknologi terkini. Program Minimum Essential Force (MEF) yang digagas dan dimulai sejak Presiden SBY tahun 2009 telah menghasilkan postur kekuatan TNI yang jauh lebih baik.

Sementara Malaysia hampir tidak terdengar berita memperoleh alutsista anyar dan berkelas. Pembangunan fregat Maharajalela Class ruwet dan terhenti. Pergantian helikopter jadul Nuri tidak terlaksana. Operasional jet tempur Sukhoi tidak maksimal bahkan ada kabar 1 jet tempur Sukhoinya mengalami "keletihan logam" karena sering dipakai atraksi demo.

Persoalan ketersendatan pembangunan militer Malaysia tidak terlepas dari gaya rezim terdahulu yang disinyalir banyak menyalahgunakan wewenang. Padahal ancaman terhadap teritori Malaysia di depan mata. Klaim China terhadap perairan LCS di Sabah banyak mempermalukan Kerajaan. Setidaknya ada 89 kali pelanggaran yang dilakukan China namun Malaysia tidak memberikan respon militer alias diam saja.

Persoalan Sabah dengan Filipina juga mencuat belakangan ini. Berdasarkan catatan sejarah, Sabah bagi Filipina adalah wilayah bekas Kesultanan Sulu. Ini juga merupakan ancaman teritori kedaulatan Malaysia. Perkuatan militer Filipina saat ini harus diantisipasi Malaysia meski tujuan utamanya adalah untuk menghadapi China di LCS. Bisa jadi militer Filipina menjadi kekuatan penggentar untuk konflik Sabah kelak.

                                           Kesiapan Armada TNI AL dari Armada Dua

Hampir semua negara ASEAN meningkatkan belanja militernya sementara Malaysia tertatih-tatih melakukannya. Persoalan kemelut politik di Semenanjung yang masih ruwet menyita energi konstruktif untuk negeri serumpun itu. Belum lagi letak geografi Sabah dan Ambalat yang jauh dari Semenanjung. Dalam bingkai strategi militer akan menyulitkan Malaysia manakala terjadi konflik di Sabah dan Ambalat.

Indonesia punya pangkalan militer di Tanjung Pinang, Pontianak dan Natuna. Bahkan Natuna mampu melakukan blokade militer jika memang diperlukan. Malaysia semenanjung akan mengalami kesulitan dalam suplai militer ke Ambalat manakala terjadi konflik. Penyergapan yang dilakukan 2 jet tempur F16 TNI AU terhadap Hercules Malaysia yang menuju ke Sarawak setahun lalu adalah contoh soalnya.

Sekarang saja Malaysia mengalami kesulitan dalam distribusi kapal perang dan jet tempur. Armada lautnya kekurangan kapal combatan. Bagaimana menjaga perairan Semenanjung, lalu terpotong jalur militernya ke Sabah dan Sarawak karena ada pangkalan militer China di Paracel dan Spratly serta pangkalan militer Indonesia di Natuna. Makanya saat ini kehadiran armada laut Malaysia di Ambalat nihil meski Buku Putih pertahanannya jelas memasukkan Ambalat sebagai wilayahnya. Artinya Buku Putih itu tidak bergigi. Sementara kita sepanjang tahun ini mengawal ketat perairan Ambalat, karena itu wilayah kita.

Pelajarannya adalah, apapun itu, kekuatan egois dan diplomasi sebuah negara harus diikuti dengan kekuatan militer yang setara. Si Vis Pacem Para Bellum adalah semboyan kewibawaan militer. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Diplomasi militer adalah menjalankan semboyan ini.

Jika militer kita kuat dan disegani maka kekuatan diplomasi kita juga disegani. Jadi sangat dimungkinkan tidak terjadi perang karena masing-masing merasa segan. Contoh jelasnya konflik India-China baru-baru ini. Karena saling segan yang terjadi kemudian tawurannantar personil yang menewaskan lebih 70 serdadu kedua negara. Bukan karena letusan senjata.

Kehadiran sejumlah KRI dan jet tempur di Ambalat adalah diplomasi militer untuk menunjukkan kekuatan militer Indonesia. Sekaligus untuk menegaskan marwah dan kedaulatan teritori NKRI. Ada dua hal yang menjadi faktor nihilnya kehadiran kapal perang Malaysia disana. Kurangnya armada kapal perang mereka atau merasa kalah mental beruji nyali dengan kapal perang kita.

****

Jagarin Pane / 29 Agustus 2020



Saturday, August 22, 2020

Menyetarakan Payung Lantamal

Angkatan Laut Indonesia punya pasukan elite Marinir sebagai salah satu komponen sistem senjata armada terpadu (SSAT) TNI AL. Selain sebagai unsur SSAT, Marinir juga bagian dari pasukan pemukul reaksi cepat (PPRC) TNI. Komponen SSAT adalah KRI, Pesawat Penerbal, Marinir dan Pangkalan. Marinir merupakan kekuatan pemukul serbu pantai yang andal, bagian dari metode pertempuran laut yang paling seru.

Minggu-minggu ini kita mendapat publikasi melihat jalannya latihan tempur pasukan batalyon Marinir pertahanan pangkalan (Yonmarhanlan). Kita disuguhkan pemandangan yang memprihatinkan. Meriam lawas yang sudah jadi pajangan di halaman depan markas "dikaryakan" lagi dan menjadi senjata andalan jalannya model simulasi.

Pangkalan angkatan laut yang bernama Lantamal merupakan obyek vital instalasi militer. Sama vitalnya dengan Halim AFB atau Hasanudin AFB. Bedanya kedua AFB itu dijaga dan dipayungi dengan alutsista canggih Oerlikon Skyshield dan QW3. Sedangkan Lantamal kita masih telanjang dan tertinggal jauh untuk soal ini.

                                         Transporter Tank Amfibi Marinir

Sudah sepantasnya pasukan Marinir yang bertugas sebagai Yonmarhanlan diberi persenjataan yang sepadan dengan makna obyek vital militer. Sebagai unsur SSAT, pangkalan adalah instrumen penting yang harus steril dan dipayungi. Ada belasan Lantamal yang tersebar di tanah air. Payung pertahanannya adalah keharusan mutlak dan perlu secepatnya direalisasikan.

Minimal harus ada hanud titik dengan persenjataan rudal SAM ( Surface to Air Missile), rudal darat ke udara jarak pendek di setiap Lantamal. Bukankah Lantamal berfungsi sebagai sistem mata rantai logistik dan amunisi kapal perang. Bukankah Lantamal juga sebagai pangkalan permanen Kapal Cepat Rudal dan Kapal Patroli Cepat TNI AL.

Lihat saja batalyon-batalyon Arhanud TNI AD. Punya berbagai jenis persenjataan hanud titik yang canggih dan berkelas sejak adanya program MEF (Minimum Essential Force) . Punya ratusan rudal canggih Starstreak dan Mistral. Bahkan batalyon Arhanud TNI AD sudah mulai mengoperasikan hanud area berupa satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah. Lalu bandingkan dengan batalyon Marinir pertahanan pangkalan AL. Bagai bumi dan langit.

Instalasi obyek vital militer berupa pangkalan udara secara bertahap sudah dilengkapi dengan payung pelindung alutsista modern. Paskhas TNI AU saat ini sudah memiliki persenjataan hanud titik berupa rudal QW3 buatan China dan Oerlikon Skyshield buatan Swiss.

Mengapa persenjataan payung perlindungan untuk Lantamal tertinggal. Bukankah Lantamal adalah rumah inap KRI. Bahkan di beberapa Lantamal masih satu komplek dengan kapal-kapal niaga. Sangat tidak elok terlihat manakala kesenjangan ini berlarut-larut. Latihan militer Yonmarhalan di beberapa Lantamal baru-baru ini menjadi diskusi hangat forum militer netizen.

Sangat wajar dan segera jika pangkalan AL dilengkapi dengan hanud titik atau sistem pertahanan udara jarak pendek. Boleh juga kalau memakai Oerlikon Skyshield. Atau bisa juga pakai model CIWS (Close In Weapon System) seperti yang terpasang di KRI striking force. Pakai rudal Starstreak atau Mistral juga bagus.

                                          MLRS Vampire Marinir Indonesia

Marinir sebagai pasukan serbu pantai sudah dilengkapi dengan berbagai jenis alutsista seperti tank amfibi BMP3F, LVTP, MLRS Grad, Vampire dan lain-lain. Meski secara kuantitas masih kurang. Artinya sebagai pasukan pemukul SSAT dan PPRC, Marinir punya alat pemukul yang andal. Namun sebagai pasukan pertahanan pangkalan yang berdiri sendiri, Marinir masih harus mengurut dada. Ayo dong MEF, penuhi kebutuhan dia. Bukankah dia adalah kita.

****

Jagarin Pane /22 Agustus 2020

Wednesday, August 12, 2020

Beijing Sindir Jakarta, Buruk Muka Cermin Dibelah

Adalah publikasi Global Times edisi tanggal 4 Agustus 2020 yang mengklaim bahwa Jakarta telah melakukan langkah blunder soal Laut China Selatan (LCS). Kita ketahui Global Times merupakan media corong pemerintah China. Tentu publikasinya merupakan suara tidak resmi kesepakatan dan dorongan dari rezim Xi Jinping. Sebab kalau diomongin lewat Jubir Kemenlu China bisa menimbulkan insiden diplomatik. Inilah salah satu seni diplomasi. Pinjam tangan media underbow.

Kita ketahui bersama bahwa diplomat Indonesia di PBB bulan Mei lalu mengirim surat pernyataan resmi bahwa Indonesia menolak klaim China terhadap pulau-pulau dan perairan LCS. Penolakan ini juga sebagai bentuk dukungan pada Filipina yang telah memenangkan sidang Mahkamah Internasional terhadap klaim China di LCS tahun 2016. Malaysia beberapa hari yang lalu juga mengadu ke PBB soal yang sama.

Selama satu semester ini tidak henti-hentinya China melakukan provokasi dan unjuk kekuatan militer di LCS. Terakhir militer negeri itu menerbangkan sejumlah bomber strategis dan jet tempur ke Spratly sepanjang hari termasuk pengisian ulang bbm di udara. Sementara AS dan sekutu serta sahabatnya saat ini sedang melakukan latihan tempur laut terbesar RIMPAC di Hawaii.

                                                          Diponegoro Class

Dunia mengakui bahwa China sukses membangun kekuatan ekonomi kesejahteraan untuk 1,3 milyar penduduknya hanya dalam waktu 50 tahun. Infrastruktur jalan raya dan jalan tol dibangun sepanjang ratusan ribu kilometer. Industri maju pesat. Investasi merajalela dimana-mana. Ini sebuah prestasi luar biasa. Pendapatan per kapita rakyatnya saat ini dua kali besaran GNP Indonesia.

Tetapi kemudian ada perubahan sikap keramahan yang selama ini menjadi bagian dari budaya China selama ratusan tahun. China yang selalu ramah dengan jirannya sekarang berubah menjadi aura amarah karena ambisi teritorialnya memaksakan kehendak. China perlu memperluas teritori kaya energi untuk menjamin kesejahteraan masa depan rakyatnya.

Pola cara mengedepankan adrenalin militer sangat tidak pantas. Dengan kekuatan militer terhebat di Asia, China merasa pantas untuk bersitegang dengan jiran kiri kanan. Karena merasa sangat pantas maka jalur diplomatik yang dipergunakan negara "pelanduk" ASEAN dianggapnya tidak pantas. Ini yang disebut buruk muka cermin dibelah, tidak pandai menari lalu lantai dansa yang disalahkan.

Indonesia punya klaim tumpang tindih Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dengan Vietnam dan Malaysia. Juga diantara sesama negara ASEAN lainnya. Tetapi semuanya menerapkan Code of Conduct berperilaku sewajarnya dan mengutamakan dialog. Contoh sukses dialog teritori ZEE ASEAN adalah antara Indonesia dan Filipina, clear.

Global Times menuduh Jakarta tidak bermain cantik soal LCS dan menempatkan keberpihakan Indonesia pada tempat yang tidak semestinya. Karena Beijing tidak mengklaim kepulauan Natuna. Hanya sedikit persinggungan ZEE di perairan utara Natuna. Mestinya Indonesia tidak perlu reaktif dengan mengadu kepada PBB. Sebuah langkah yang tidak perlu, kata dia.

                                                     Saling Klaim di LCS

Jakarta diharapkan tidak terjebak pada model keberpihakan. Dengan mengambil contoh Vietnam dan Filipina yang punya klaim langsung terhadap Paracel dan Spratly, namun keduanya bisa secara proporsional tidak berpihak. AS yang menolak klaim China terhadap LCS ternyata tidak menandatangani kesepakatan UNCLOS 1982.

Yang perlu kita cermati narasi Global Times cenderung ingin memecah belah ASEAN. Faktanya bukankah Filipina sudah terang-terangan menolak klaim China, membawa kasus itu ke Mahkamah Internasional. Dan menang. Vietnam sudah duluan mengirim nota diplomatik dan mengadu ke PBB. Vietnam juga yang memimpin deklarasi ASEAN yang kompak menolak klaim China bulan lalu.

Ada upaya menyudutkan Indonesia tetapi Menlu Retno adalah diplomat ulung dan berkelas. Indonesia menginginkan terlaksananya code of conduct di LCS, sebuah prakarsa yang sudah lama digagas namun belum bisa terlaksana. Ucapan Retno ini adalah sindiran tajam untuk China yang memang tidak mau tunduk pada kode etik berperilaku di LCS. Barusan Retno menginisiasi komitmen bersama ASEAN yang menginginkan kawasan ini menjaga perdamaian.

Dengan situasi seperti inilah maka kemudian Menhan Prabowo berupaya keras untuk segera membeli alutsista canggih berupa kapal perang, kapal selam, jet tempur, helikopter, radar, uav dan lain-lain. Ini adalah diplomasi militer. Diperlukan penguatan anggaran khusus alutsista dan menghadirkan secepat mungkin alutsista untuk mengawal Natuna. Kerja besar dan penuh dinamika dari Kemenhan adalah dalam rangka percepatan proses. Maka kita bisa lihat pejabat Kemenhan wira wiri.

Gaya diplomasi China yang cenderung kaku, mudah menyalahkan pihak lain adalah karena sudah merasa kuat dari sisi militer. Dan harus kita akui tidak ada lawan yang sepadan dengan China kecuali AS. Apapun itu sebagai negara berdaulat kita harus perkuat militer kita secepat mungkin. Setidaknya mampu memberikan perlawanan model sarang lebah di Natuna manakala terjadi konflik besar. Menyengat kesana kemari meski sarangnya dibakar habis.

Persiapan menghadapi kondisi terburuk adalah dengan memperkuat otot militer. Unsur primitif budaya manusia masih tetap eksis manakala bicara adrenalin negara dan gengsi kedaulatan. Provokasi, unjuk kekuatan, pamer militer yang ditunjukkan China sesungguhnya mempertontonkan unsur primitif tadi. Buruk muka cermin dibelah, merasa paling benar dalam sikap permusuhan sejatinya memperlebar antipati yang bernama mentang-mentang.

****

Jagarin Pane / 9 Agustus 2020

Sunday, August 2, 2020

New Normal Di Laut China Selatan


Demam yang terus menerus di Laut China Selatan (LCS) sepertinya tidak akan pernah kembali normal suhunya seperti dulu lagi. Demam akan terus menerus terjadi sepanjang tahun dan bertahun-tahun. New normal di LCS adalah demam panas itu sendiri. Virusnya bernama nine dash line bersama semburan api lidah naga.

AS dan Australia sudah resmi membentuk aliansi militer dan akan "merekrut" sejumlah negara. India, Filipina dan Jepang sudah berkomitmen untuk bersatu kita teguh. Inggris dan Kanada yang jauh nun disana sudah berkomitmen bersekutu dengan AS. Untuk Korsel meski sekutu dekat AS namun untuk LCS tidak dilibatkan. Biarkan dia menjaga status quo garis demarkasi Panmunjom. Bisa jadi kalau diikutkan aliansi, lalu China memprovokasi Korut, sangat berbahaya untuk Semenanjung Korea. Demikian juga Taiwan.

Armada Angkatan Laut China
Natuna Indonesia ada di kawasan konflik skala besar LCS. Maka Natuna harus kita jaga ketat. Marwah teritori kita dipertaruhkan disana. Dan new normal juga sudah berlaku di kepulauan Natuna. Deru dan raungan jet-jet tempur di bumi rantau nan indah (ranai) sudah biasa. Pasukan brigade komposit dan alutsistanya sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Kapal perang kita silih berganti mengawal perairan Laut Natuna Utara (LNU).

Hukum laut internasional memang harus ditegakkan. Meski dengan kekuatan otot militer. Dalam hal ini kita sepakat dengan langkah militer AS dan sekutunya untuk melawan klaim pemilik nine dash line. Tidak lagi atas nama kebebasan navigasi internasional, sekarang AS, Australia dan ASEAN tegas menolak klaim nine dash line China.

Sebagai antisipasi new normal di Natuna, kementerian pertahanan bergerak cepat. Proses pengadaan alutsista strategis dilakukan dengan langkah kilat. Publik kemudian tahu ada alutsista surprise seperti Osprey dan Typhoon yang mau dibeli. Kemudian yang terakhir rencana pengadaan rudal anti kapal Brahmos dari India.

Iver Class, akan memperkuat TNI AL
Sebenarnya saat ini banyak paket pengadaan alutsista yang sedang berproses di Kemenhan. Misalnya pengadaan kapal perang Iver dan lanjutan PKR10514. Juga pengadaan jet tempur F16 Viper, pesawat Hercules, pesawat tanker, pesawat pengintai, helikopter Apache, radar, peluru kendali Nassam, tank amfibi, MLRS.

Industri pertahanan dalam negeri baik BUMN maupun swasta juga kebagian proyek. Matra laut dengan berbagai jenis pengadaan kapal perang KCR, KPC, LPD, LST, BCM. Matra darat dengan proyek tank Harimau, Bushmaster, panser Cobra, panser Anoa. Matra udara dengan proyek helikopter Panther, Caracal, UAV.

Semua industri pertahanan sedang mekar-mekarnya. Terutama sepuluh tahun terakhir. Semuanya dalam bingkai program Minimum Essential Force (MEF) selama 15 tahun dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2024. Program MEF yang digagas dan dimulai oleh Presiden SBY sebenarnya sudah mengantisipasi potensi konflik di LNU.

Namun agresivitas China selama semester I tahun ini dengan memprovokasi negara-negara yang bersinggungan dengan nine dash line nya menjadikan LCS demam tinggi. Padahal seluruh dunia sedang dilanda pandemi Covid 19, tiba-tiba China mempertunjukkan otot militernya. Dunia tersentak, kita juga.

Typhoon, yang sedang trending topic
Itulah sebabnya Kemenhan disibukkan dengan crash program pengadaan alutsista. Kalau kita melihat dan mengamati kesibukan tak biasa dan terus menerus di ruang komando Kogabwilhan Satu, kita semakin paham akan perlunya penambahan alutsista matra udara dan laut. Sungguh betapa bergunanya radar canggih Vera-Ng, radar Weibel X Band yang sudah terpasang di Natuna. Betapa berharganya skadron 51 UAV di Pontianak yang mengirim sejumlah UAV ke Natuna. Betapa pentingnya 3 skadron F16 dan Hawk yang ada di Pekanbaru dan Pontianak. Tapi itu semua belum cukup.

Jelas belum cukup karena kita masih berjuang di wilayah minimum essential force. Belum mencapai target minimum. Lalu ada hot spot berkepanjangan di Natuna. Jadi kita harus segera mendatangkan alutsista strategis secepatnya. Typhoon Austria salah satu pilihan. Barang sudah ada dan masih sedikit jam terbangnya. Anggap sajalah percepatan pengadaan alutsista Kemenhan sebagai langkah new normal. Biasa saja menyikapinya. Gak usah misuh-misuh soal Typhoon dan Osprey. Masih akan banyak kejutan lain soal pengadaan alutsista. Prediksi anggaran khusus alutsista ke depan ada di kisaran angka US$ 24 milyar.

Lihat saja India yang begitu marah dengan China akibat provokasi di perbatasan kedua negara. Lalu proses pengadaan alutsista jet tempur Rafale yang sudah teken kontrak tiga tahun lalu harus dipercepat kedatangannya, kata India. Dan kemarin 5 Rafale sudah sampai di India dengan publikasi luas untuk menunjukkan kesiapan dan keseriusan India menghadapi konfrontasi dengan China.

Jet Tempur F16 Viper, masih proses

Hot spot Natuna adalah pertaruhan marwah teritori kita. Geliat pencapaian MEF dan percepatan pengadaan alutsista adalah new normal, kebiasaan baru, sesuatu yang biasa, wajar-wajar saja. Kita lihat gerakan cepat Menhan berkunjung ke beberapa negara produsen alutsista, terakhir ke Turki dan India. Tujuannya untuk memperoleh alutsista berkualitas dengan harga sepantasnya. Komitmen Prabowo yang patut kita apresiasi adalah meminimalisasi mark up pengadaan alutsista.

Investasi pertahanan setara dengan investasi ekonomi. Karena investasi pertahanan sejatinya untuk menjaga kelangsungan dan kesejahteraan ekonomi sebuah negara. Belanja pertahanan adalah dalam rangka membangun sistem kekuatan pertahanan agar bisa disegani. Dengan itu pertumbuhan ekonomi dan kelangsungannya menuju kesejahteraan menjadi salah satu pijakan kepercayaan diri. Maka kita harus perkuat keduanya.

****
Jagarin Pane / 30 Juli 2020

Wednesday, July 22, 2020

Riuh Rendah Diterpa Angin Typhoon


Dua hari ini jagat netizen forum militer tanah air gegap gempita merespon inisiatif cepat tak terduga Kemenhan RI. Gerak cepat Menhan Prabowo untuk segera mengisi skadron jet tempur TNI AU dengan jet tempur Typhoon membuat hingar bingar alam raya netizen formil dan pasar alutsista.

Jet tempur kelas berat multi role Sukhoi SU35 seharusnya tahun ini sudah mulai berdatangan. Tetapi sorot mata CAATSA Paman Sam yang mendelik melotot membuat langkah eksekusi uang muka Sukhoi SU35 tersendat. Akibatnya ada kekosongan pengisian jet tempur sampai tahun 2023.

Ini mirip kisahnya dengan isian kapal perang baru setelah 4 korvet sigma Diponegoro Class datang seluruhnya dari Belanda. Sementara kontrak pengadaan kapal perusak kawal rudal Martadinata Class dengan Damen Schelde Belanda baru bisa menyelesaikan pembuatan kapal perang tahun 2017. Ada gap lima tahun, padahal kita sangat membutuhkan KRI striking force.
Typhoon yang lagi jadi trending topic
Lalu ada informasi bahwa 3 Light Fregat Nakhoda Ragam Class yang dibeli Sultan Brunai dari Inggris bermasalah. Maka lewat diplomasi tingkat tinggi antara Presiden SBY dan Sultan Bolkiah, akhirnya kita mendapatkan 3 kapal perang bekas tapi baru. Tiga kapal perang untuk Brunai itu sempat terkatung-katung sepuluh tahun di Inggris karena Sultan menolak menerima.

Ketiganya masuk Bung Tomo Class dan sekarang ada di Armada Satu. Beli kapal perang Brunai dengan harga murah dapat bonus 2 kapal cepat Salawaku Class. Lumayanlah. Nah, Bung Tomo Class sejak pertama diakuisisi Indonesia baru mulai mendapatkan upgrade tahun ini satu persatu.

Saat ini kita sangat membutuhkan segera jet tempur "pengganti" Sukhoi SU35. Kenyataannya selama tiga tahun kedepan tidak akan ada isian jet tempur baru. Padahal ancaman terhadap Natuna nyata, jelas dan berat. Jika kontrak pengadaan jet tempur F16 Viper dilakukan tahun ini, barangnya baru bisa diserahkan mulai tahun 2024. Demikian juga dengan jet tempur Rafale paling cepat datang tahun 2023.

Diponegoro Class
Oleh sebab itu harus ada isian jet tempur sekarang. Dan jet tempur Eurofighter Typhoon Austria adalah peluang terbesar untuk mendapatkannya. 15 jet tempur bekas pakai tapi irit jam terbangnya itu sudah ada barangnya. Tinggal kirim kalau semua sudah beres, sign kontrak. Austria sendiri menginginkan Typhoon yang dibeli tahun 2003 dari konsorsium Airbus dipensiun dini karena berbagai permasalahan. Yang jelas kondisi jet tempur masih gres karena jarang dipakai.

Sebenarnya pada tahun 2015 ketika ada rencana untuk mengganti jet tempur F5E, Typhoon adalah salah satu calon kuat disamping Sukhoi SU35. Adalah Kadispen TNI AU pada waktu itu Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto yang menyampaikannya. Waktu itu Dubes Spanyol sempat mempromosikan Typhoon. Tapi pilihan kemudian jatuh pada SU35 Rusia.

Ramai sekali diskusi hangat pro kontra dan komentar forum militer netizen. Ini memberikan arus kuat yang mencerminkan hasrat dan keinginan agar tentara langit kita punya kekuatan detteren. Rafale digadang-gadang, Viper diharap-harap. Tapi kedua jenis jet tempur itu belum bisa hadir tahun ini. Harus menunggu minimal 3 tahun lagi.

Jangan lihat soal trance Typhoon. Di kemudian hari bisa di upgrade. Waktu kita mendapatkan 4 sukhoi paket cepat di era ibu Mega, spek teknis Sukhoinya "standar banget". Kualitasnya jauh dibawah Sukhoi Malaysia. Dan sekarang 4 Sukhoi "jadul" tadi sudah setara dengan adik kelasnya di skadron Sukhoi Makassar. Soal perawatan lebih mahal Sukhoi SU27/30.

Bung Tomo Class
Program Minimum Essential Force (MEF) jilid 3 ini harus extra ordinary. Kompor yang buat panas suasana adalah China. Kita tak mungkin bisa menyamai kehebatan militer China. Untuk urusan yang begituan biar saja AS dan sekutunya yang mengimbangi. Tapi bukan berarti lalu kita tenang-tenang saja. Kita juga harus mempersiapkan kekuatan striking force kita seoptimalnya.

Kita butuh jet tempur sekarang juga. Maka ketika ada peluang untuk mendapatkan Eurofighter Typhoon, upaya yang dilakukan Kemenhan patut diapresiasi. Pemikir dan pengambil kebijakan di Kemenhan dan TNI punya analisis intelijen, potensi ancaman dan kekuatan TNI AU. Kalau Typhoon menjadi pilihan, itu sudah upaya maksimal agar tentara langit kita semakin berotot. Tapi tentu pembandingnya bukan China.

Lanud strategis Supadio perlu jet tempur strategis. Sebenarnya F16 Viper sudah dipersiapkan untuk dialokasikan di Supadio AFB. Tapi waiting listnya cukup lama, empat tahun. Maka langkah cepat extra ordinary Kemenhan setidaknya bisa kita tempatkan pada proporsi kebutuhan jet tempur yang mendesak. Typhoon Austria membuka lebar peluang itu.

****
Jagarin Pane / 21 Juli 2020