Saturday, May 15, 2021

Mengunci KKB Teroris Papua

Ribuan pasukan pemukul TNI sudah masuk rimba gunung Papua termasuk pasukan elite paling mematikan Kopassus. Gerak pasukan khusus ini dalam setiap penugasan tidak pernah terdeteksi pemberitaan, tidak terendus tiba-tiba sudah ada di medan operasi, pergerakannya siluman. Bisa saja Kopassus diterjunkan dari pesawat di titik tertentu kemudian bergerak cepat dan senyap lalu sergap. Apalagi uniform baru Kopassus benar-benar sesuai dengan hijau belantara rimba tropis. Sebuah kamuflase terbaik.

Kali ini KKB Papua harus membayar mahal atas perbuatan kejinya membunuh dan membakar. Selama ini operasi KAMDAGRI yang dilakukan POLRI dengan dukungan TNI adalah operasi bernuansa teritorial defensif semata untuk menjaga keamanan sipil. Sembari melakukan patroli keamanan, mengawal pembangunan infrastuktur juga memberikan penerangan wawasan kebangsaan pada warga sipil di pedalaman. Lama kelamaan KKB merasa besar kepala dan menganggap remeh kekuatan sesungguhnya pengawal republik. Momentum gugurnya kepala BIN Papua yang juga perwira tinggi Kopassus mendidihkan adrenalin tentara dan negara.

Negara sejatinya adalah kehormatan dan harga diri tertinggi, maka melukai marwah negara dengan cara biadab adalah cara-cara teroris. Berhadapan dengan gerombolan ini tidak bisa lagi menggunakan metode defensif pasif namun harus melakukan pre emptive strike. Mengejar dan menghancurkan markas-markas teroris KKB di seluruh belantara Papua adalah target utama sekaligus menghabisi para teroris sadis. Anda jual kami beli. Dan itu sudah dimulai. Dalam dua pekan 12 teroris KKB ditembak mati. Ini baru permulaan.

Pertarungan menghancurkan teroris KKB Papua tidak hanya berlaku di rimba belantara Papua tapi seharusnya juga di rimba maya alias media sosial. Termasuk upaya  diplomasi proaktif Kemenlu di dunia internasional. Rimba media sosial yang tidak punya wilayah teritori adalah pertempuran digital terkini untuk mempengaruhi dan merebut opini mindset alias pola pikir personal. Kasus pembelotan seorang tentara yang sedang bertugas di hutan rimba Papua sangat diyakini karena termakan pertarungan opini alias perang pemikiran di medsos yang menghasut dan mampu mengubah persepsi dan perspektif obyektif.

Medsos adalah ruang besar kebebasan eksistensi diri, penampilan personal termasuk publikasi olah pikir apakah itu based on fakta, kebenaran, pembenaran atau kebohongan. Yang terakhir ini semakin merajalela karena disertai bumbu penyedap yang pedas bernama ujaran kebencian. Pertarungan opini di medsos adalah drama yang pemenangnya adalah yang mampu merubah cara pandang mindset seseorang. Tidak peduli dengan apakah didalamnya ada nilai kebenaran. Menghadapi teroris KKB  Papua kita sebagai anak bangsa pecinta NKRI harus bisa memukul mundur opini pembenaran dan hasutan yang beredar di medsos. Kita harus proaktif melakukan counter attack terhadap opini-opini pembelokan fakta. Misalnya penembakan 3 teroris KKB beberapa waktu lalu yang dikatakan mereka sebagai warga sipil yang disiksa.

Diplomasi aktif Kemenlu adalah bagian dari memenangkan dan menenangkan opini internasional. Bahwa eksistensi KKB teroris tidak lebih dari ulah segelintir orang yang ingin menghidupkan separatis. Padahal PEPERA 1969 sudah diakui PBB dan dunia internasional. Artinya semangat separatis yang didengungkan segelintir petualang politik sebenarnya tidak punya aspek legalitas dan kapabilitas apalagi klaim. Persoalannya adalah publikasi opini, pencarian dukungan yang bermuara minta sumbangan bisa menjadi sesuatu yang seakan-akan besar dan hebat, padahal hanya fatamorgana. Di forum PBB diplomat kita benar-benar high profil dan menohok ketika berdebat di forum dunia itu, manakala ada negara di Pasifik Selatan yang ingin menyerang Indonesia soal Papua. Ini adalah kecerdasan diplomatik yang sangat mengagumkan.

Organisasi teroris KKB harus dikunci mati. Tidak bisa tidak. Lakukan operasi senyap, tak perlu ada publikasi luas soal pemberangkatan batalyon-batalyon TNI, termasuk suasana kontak senjata di medan operasi. Ini adalah operasi penumpasan atas nama harga diri NKRI, di wilayah NKRI, urusan dalam negeri NKRI. Pemberantasan teroris bernuansa separatis, lokasinya di hutan belantara, harus dihadapi dengan operasi pasukan khusus di garis depan bersama pasukan raider.  Sekali lagi ini momen yang tepat untuk menghancurkan KKB teroris Papua.

Sekedar catatan tiga dekade lalu ketika ada negara lain yang coba-coba mencampuri urusan dalam negeri kita soal Papua, TNI AU mengerahkan 3 jet tempur F5 Tiger dan mengeluarkan sonic bom persis di wilayah border Papua-PNG. Yang kebakaran jenggot Australia lalu protes. Dan memang negeri tetangga selatan itu selalu begitu, usil, rewel dan suka menghasut. Soal Timor Timur adalah pelajaran sejarah yang tidak boleh dilupakan. Nah sekarang dia sedang digebuk China lewat embargo impor batubara dan lain-lain karena terlalu usil, rewel dan suka mendikte. Intinya kita harus berhati-hati dengan negeri Kanguru ini.

Untuk pertarungan di hutan gunung Papua kita serahkan pada pengawal republik yang punya reputasi heroik. Demikian juga penempatan agen-agen diplomatik Kemenlu  yang cerdas, gaul dan high profil di Kedubes,  di forum PBB untuk menguatkan "silaturrahim" kelas dunia. Nah tugas kita sebagai netizen adalah bertarung di media sosial untuk memenangkan ghozwul fikr alias perang pemikiran alias pertempuran opini mindset soal Papua. Kita ada di posisi legal standing yang kuat, kita ada di posisi yang sah dan benar. 

Maka kita publikasikan secara terus menerus dan massif posisi terhormat ini agar tidak digerogoti opini KKB yang bernama pembenaran, pembelokan arah atau bahkan seakan playing victim. Papua sudah banyak kemajuan, itu fakta dan itu harus kita dengungkan dengan bahasa netizen yang gaul, kocak dan nggemesi. Bahasa seperti ini adalah bagian dari intervensi dan infiltrasi untuk pertarungan ghozwul fikr khususnya di kalangan kaum milenial. Papua adalah bagian utuh dari bingkai NKRI, tidak bisa diganggu gugat dan sekarang saatnya kita kunci mati organisasi teroris KKB dari tiga front sekaligus, pertempuran real di hutan Papua, kecerdasan diplomatik dan pertarungan opini ghozwul fikr di media sosial. 

****

Jagarin Pane / 15 Mei 2021

Monday, May 3, 2021

Memandang Horizon Jernih

Dukacita dan simpati seluruh dunia atas musibah tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 bersama 53 orang awaknya merupakan capital gain saham yang bernama nilai-nilai kemanusiaan. Meski yang tenggelam adalah alutsista strategis penghancur perdamaian namun eksistensi nilai-nilai kemanusiaan seluruh dunia mampu mempersatukan musibah dalam kebersamaan sikap kemanusiaan yang bermarwah dan beradab. Itulah sejatinya fungsi dan nilai jabatan amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi yang belakangan ini jarang muncul menjunjung humanisme.

Kita tentu tidak ingin berlarut dalam kesedihan mendalam ketika melihat keluarga menangis dan terisak. Pimpinan keluarga sekaligus kebanggaan istri dan anaknya harus berpisah dengan orang yang dikasihi. Demikian juga korps Hiu Kencana yang kehilangan banyak prajurit petarung yang berkualitas akan kembali bangkit dan memandang horizon jernih dengan semangat "tabah sampai akhir". Hiu Kencana harus bangkit, mengepalkan tangan dan langkah tegap karena kalian adalah prajurit pasukan khusus, pasukan terlatih, pilihan, berkualitas dan kebanggaan negeri.

Indonesia adalah negara kepulauan yang strategis. Penguatan pengawal utama teritori ada di matra laut dan udara. Kita saat ini sedang berada dalam program modernisasi militer, sudah berjalan 11 tahun sejak 2010. Selama satu dekade ini sudah banyak pertambahan berbagai jenis alutsista. Jumlah kapal selam bertambah dari 2 unit menjadi 5 unit, jumlah kapal perang bertambah lebih 40 KRI berbagai jenis. Namun sesungguhnya target pencapaian minimum kekuatan alutsista kita belum tercapai.

Jumlah kapal selam kita baru saja mencapai 5 unit bulan lalu ketika KRI Alugoro 405 yang dibangun di PT PAL Surabaya resmi masuk inventori TNI AL. Kemudian KRI Alugoro 405 dan kakaknya KRI Ardadedali 404 bersama pakdenya KRI Nanggala 402 berjalan bersama menuju perairan Natuna. JJB alias jalan-jalan bareng ini untuk menunjukkan kepada pihak yang ngubek-ngubek Laut China Selatan bahwa Indonesia punya harga diri teritori. Dan setelah pulang dari Natuna itu Nanggala sandar sebentar di pangkalannya di Armada Dua Surabaya untuk penugasan selanjutnya, penembakan torpedo di laut Bali dalam serial latihan tempur Armada Dua bersama 20 KRI lainnya.

Dengan musibah Nanggala maka jumlah kapal selam Indonesia tinggal 4 unit. Sebuah jumlah yang jauh dari standar kekuatan minimum untuk negeri kepulauan. Namun sebenarnya tidak terkait dengan musibah Nanggala kita saat ini sedang mempersiapkan pengadaan 3 kapal selam baru sampai tahun 2024.  Semua sedang berproses termasuk penyediaan dan ketersediaan awak kapal selam yang harus dipersiapkan lebih dini. Karena mempersiapkan dan mencetak awak kapal selam membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan seleksi ketat.

Kabar yang menggembirakan, Indonesia sedang merancang pembuatan kapal selam mini tanpa awak berkemampuan artificial intelligent. Ini program yang sangat ditunggu dan menjadi harapan besar. Bahwa kepemilikan kapal selam konvensional berkisar antara 12-14 unit saat ini sedang kita kejar. Kemudian membangun kapal selam mini tanpa awak merupakan sebuah langkah cerdas Kementerian Pertahanan. Dirut PT PAL yang baru dilantik adalah ahli perkapalan kaliber internasional dan pakar rancangbangun kapal selam tanpa awak. Titik awal sudah dipatri, artinya konsistensi lah yang akan menjawabnya kelak, mampukah kita dalam lima tahun ke depan membuat kapal selam tanpa awak.

Pesan yang ingin disampaikan tetaplah memandang horizon jernih dengan fokus terhadap yang sudah direncanakan termasuk percepatannya. Kita masih harus berlari mengejar ketertinggalan perolehan alutsista menguatkan benteng teritori. Jumlah kapal perang striking force, kapal selam, jet tempur, peluru kendali dan lain-lain masih sangat kurang.  Sementara dinamika konflik kawasan tidak bisa dipandang remeh, jelas-jelas nyata dan di depan halaman. Publik sedang menunggu publikasi lanjutan tentang realisasi pengadaan kapal perang Iver Class, jet tempur F15, Rafale dan lain-lain. Juru bicara Kementerian Pertahanan adalah pintu keterbukaan informasi agar kita tidak "terpukau" oleh informasi dan opini dari juru bicara produsen alutsista.

Pengumpulan dana dari komunitas sebuah Masjid di Yogya adalah bentuk keinginan dan harapan yang besar serta dukungan kuat untuk percepatan modernisasi alutsista TNI.  Ini juga bagian dari memandang horizon jernih agar Kementerian Pertahanan mampu dan segera menyelesaikan program pengadaan alutsista. Sebagian besar rakyat negeri ini mendukung bahkan antusias untuk percepatan perkuatan alutsista tentaranya. Kita harus terus berlari mengejar horizon kebanggaan punya tentara dan alutsista yang gahar. Termasuk tetap memandang jernih, optimis, dan fokus dalam proses pengadaannya.

****
Jagarin Pane / 3 Mei 2021

Monday, April 26, 2021

Sang Pelenyap Senyap

KRI Nanggala 402 adalah marwah dan kebanggaan Korps Hiu Kencana yang bersama KRI Cakra 401 merupakan sepasang monster bawah air yang mengawal teritori laut Indonesia sejak tahun 1981. Dua pengawal tangguh ini juga sempat bersahabat dengan "Pakdenya" KRI Pasopati 410 yang sudah ada sejak era Trikora tahun 1962 menjadi benteng teritori bawah laut negeri ini. Bedanya Pasopati setelah pensiun bisa terlihat jasadnya sebagai monumen kapal selam di Surabaya sementara Nanggala dalam perjalanan tugasnya yang mulia dan berwibawa berdiam abadi ke kedalaman laut Bali.

Sejarah perjalanan kapal selam Indonesia hadir pertama kali tahun 1959 dengan kedatangan 2 kapal selam Whiskey Class dari Uni Sovyet (sekarang Rusia). Keduanya diberi nama RI Cakra 401 dan RI Nanggala 402.  Sekedar catatan sebelum tahun 1973 identitas penamaan kapal perang diawali dengan RI (Republik Indonesia), setelah itu diganti menjadi KRI (Kapal Republik Indonesia). Bersamaan dengan dikumandangkannya Trikora oleh Bung Karno 19 Desember 1961 maka penambahan Whiskey Class mencapai jumlah 12 unit. 

Whiskey Class termasuk Nanggala 402 menjadi kekuatan penggentar, waktu itu kita lah yang terhebat di kawasan ini sehingga Belanda atas desakan AS bersedia hengkang dari Papua. Tentu melalui jalur PBB supaya terlihat terhormat. Padahal sejatinya kekuatan militer Indonesia lah yang menjadi penggentarnya. Waktu itu dengan seratusan kapal perang plus 12 kapal selam serta seratusan pesawat tempur dan pengebom strategis membuat pihak lawan ukur diri. Setelah Trikora dilanjut dengan Dwikora untuk mengganyang Malaysia. Poinnya ketangguhan satuan kapal selam Indonesia saat itu paling kuat di kawasan bumi selatan. Kita memiliki 12 kapal selam hanya dalam waktu 4 tahun, 1959 sampai dengan 1963.

Pergantian rezim tahun 1966 membuat eksistensi 12 kapal selam Indonesia memudar karena ketiadaan suku cadang. Sampai tahun 1980 hanya 2 dari 12 kapal selam Whiskey Class yang masih bertahan yaitu KRI Bramastra 412 dan KRI Pasopati 410. Maka ketika tahun 1981 KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 datang langsung dikemudikan awak kapal selam kita dari pabrikannya di  Kiel Jerman Barat (Sekarang Jerman), rasa bangga kembali mengembang. Membawa kapal selam dari Jerman ke Indonesia butuh waktu 2 bulan tentu merupakan keberanian yang membanggakan.

KRI Nanggala pernah berduet bersama KRI Cakra di laut Sulawesi beberapa tahun lalu untuk mencari 4 prajurit TNI AL. Penyebabnya adalah hilangnya 4 awak kapal KRI Layang ketika menangkap dan membawa kapal nelayan Filipina yang diduga adalah gerilyawan Marawi.  Kapal nelayan diperiksa dan sebagian besar awaknya ditahan di KRI Layang. Kemudian 4 prajurit KRI Layang ditugaskan mengawal beberapa awak kapal nelayan Filipina. Ternyata tidak pernah sampai di Miangas. Tidak lama kemudian pertempuran hebat terjadi di Marawi antara pasukan pemerintah Filipina dengan gerilyawan.

Prajurit Hiu Kencana adalah pasukan khusus TNI AL yang sudah lulus ujian ketangguhan, cerdas, kuat, tegar, tahan, tabah dan sabar. Motto Hiu Kencana adalah Tabah Sampai Akhir sejatinya adalah ketahanan mengelola emosi, sabar, tahan tidak melihat matahari berminggu-minggu, kuat dan mampu menikmati tugas di dalam mesin pembunuh berlapis, pelenyap kapal musuh dalam kesenyapan di kedalam laut yang sunyi. Pernah sekali waktu didatangkan seorang Dokter untuk mendeteksi tingkat stres awak kapal selam selama menyelam. Ternyata memasuki minggu kedua si Dokter yang berteriak-teriak histeris minta dikembalikan ke pangkalan. Awak kapal tersenyum melihat kondisinya. Kapal selam memang dirancang dan dibangun untuk tidak terdeteksi. Dia berjalan sendiri berminggu-minggu melakukan tugas pengintaian dan infiltrasi serta penembakan. Termasuk harus pintar menyembunyikan diri ketika diincar kapal musuh.

Secara operasional jam terbang Cakra dan Nanggala sangat padat. Bayangkan periode 1981 sampai dengan 2015 Indonesia hanya punya 2 kapal selam dengan luas wilayah perairan yang membentang.  Melakukan tugas intelijen dan infiltrasi dalam kesenyapan, sesungguhnya beban kerja keduanya overload, karena tidak ada penambahan kapal selam. Ketika Ambalat memanas tahun 2005 Nanggala tampil sebagai benteng terdepan, berpatroli sendiri berminggu-minggu. Akhirnya keduanya secara bergantian dioverhaul dan diganti jeroannya dengan instrumen digital di Korsel. Nanggala overhaul tahun 2012. Delapan tahun setelah itu KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 mendapat "keponakan baru" yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405. Ketiganya lahir dari hasil kerjasama alih teknologi dengan Korsel.

Barusan mendapat tugas mengawal Natuna bersama KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405, Nanggala kembali ke markasnya di Armada Dua. Seperti diketahui KRI Clurit 641 dan KRI Kujang 642 dari Armada Satu sukses menembakkan rudal anti kapal C705 menenggelamkan KRI Balikpapan 905 yang baru pensiun di Laut Natuna Utara. Kemudian Armada Dua akan melakukan hal yang sama di Laut Bali. Selain akan menembakkan rudal anti kapal dari KRI Hiu 634 dan KRI Layang 635, juga akan menembakkan torpedo SUT dari KRI Nanggala 402. Diantara tiga Armada laut yang dimiliki TNI AL hanya Armada Dua yang memiliki alutsista strategis 5 Kapal Selam bermarkas di Surabaya.

Jalan cerita kemudian berubah dan itulah takdir akhir cerita. Nanggala bersama 53 orang awaknya termasuk komandan satuan kapal selamnya tidak pernah menyahut panggilan dari kapal markas KRI Dr. Soeharso 990 ketika sudah diizinkan menyelam dan menembak torpedo SUT. Kapal baja seberat 1200 ton itu meluncur ke dasar laut ALKI 2. Sang pelenyap berakhir dalam senyap. Kita kehilangan SDM militer yang mahal. Mencetak awak kapal selam butuh waktu dan investasi. Padahal kita juga akan menambah sedikitnya 3 kapal selam baru dari yang sudah ada sekarang. Kita relakan kepergian Nanggala bersama para awaknya. Mereka akan dikenang sepanjang sejarah. Seluruh dunia akhirnya tahu tentang Nanggala, seluruh dunia tahu tentang keperkasaan prajurit Nanggala, seluruh dunia berduka dengan kepergian abadi Nanggala berdiam dalam senyap. Lahumul Fatihah.

****

Jagarin Pane / 26 April 2021

Sunday, April 18, 2021

Dua Turbulensi Mereda

Ada dua proyek besar alutsista strategis dan bergengsi yang selama Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan mengalami turbulensi dan gelombang kejut sehingga membuat sang pilot berada di titik simpang akhir konsistensi.  Kerjasama alih teknologi pembuatan kapal selam "Nagapasa Class" dan pengembangan jet tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan yang sudah berjalan hampir satu dekade dihadang "awan cumulunimbus" yang membuat perjalanan panjang alih teknologi itu gonjang ganjing dan nyaris terjerembab. 

Pengembangan teknologi jet tempur gen 4.5 antara Indonesia dan Korsel sudah berjalan delapan tahun. Proyek teknologi tinggi bernilai US$ 7,3 milyar setara 113 trilyun rupiah itu dibagi porsinya, Korsel menanggung 80% dan Indonesia 20%. Sejauh ini kita sudah membayar "SPP" sebesar 2,9 trilyun sebelum akhirnya menunggak iuran tahunan sebesar 7,7 trilyun rupiah sejak tahun 2019. Mogok bayar itu kemudian dikaitkan dengan berbagai informasi dan opini yang dalam pandangan kita sebenarnya sebuah dinamika wajar dalam perjalanan perjanjian kerjasama yang panjang.

Sebagai penganut "mazhab konsistensiniyah" sebuah istilah dalam forum militer alias aliran istiqomah, kita selalu menyuarakan keinginan yang kuat agar dua program besar ini terus berlanjut. Di beberapa tulisan terdahulu yang sudah dipublikasikan melalui blog militer pribadi dan di media online kita tetap mengharapkan program alih teknologi jet tempur IF21 dan kapal selam tetap berjalan. Kedua teknologi tinggi ini jika bisa kita kuasai maka hampir sempurna penguasaan teknologi alutsista yang dimiliki industri pertahanan kita. Kita sudah bisa membuat aneka ragam alutsista mulai dari panser, tank, roket, kapal patroli cepat, kapal cepat rudal, kapal LST, kapal LPD dan lain-lain. 

Perkembangan terkini yang menggembirakan adalah gonjang ganjing itu reda. Peresmian kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 yang dibangun di PT PAL membuktikan bahwa serah terima itu mampu menepis spekulasi yang beredar di kalangan netizen forum militer. Banyak rumor soal Alugoro yang dianggap tidak sesuai harapan padahal PT PAL dalam setiap tahapan uji laut mempublikasikan hasilnya. Kemudian soal jet tempur KF21 /IF21 dimana Indonesia absen iuran selama dua tahun terakhir karena berbagai faktor teknis dan non teknis. Opini yang beredar kemudian adalah tidak diberikannya teknologi kunci dari AS untuk menyuntik instrumen pesawat ini.

Nah barusan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto diundang ke Korsel. Dia disambut meriah dengan karpet merah di Seoul layaknya seorang Presiden untuk menghadiri seremoni peluncuran prototype jet tempur KFX yang kemudian diberi nama jet tempur KF21 Boramae. Seremoni mewah di Seoul tanggal 9 April 2021 ini yang juga bertepatan dengan HUT TNI AU mendapat liputan media yang luas di seluruh dunia. Presiden Korsel Moon Jae-in memberikan apresiasi kepada Indonesia sementara Presiden Jokowi memberikan sambutan secara virtual. Indonesia akan melanjutkan kerjasama pengembangan jet tempur KF21/IF21 adalah pernyataan kunci yang disampaikan Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo. Terang benderang.

Pelajaran yang bisa dipetik dari episode turbulensi program kerjasama alih teknologi kapal selam dan jet tempur ini adalah kemampuan menyikapi dan menyaring mana yang berwarna opini dan penggiringan opini dan mana yang merupakan pernyataan resmi. Dalam beberapa artikel yang kita publikasikan soal dua proyek alutsista strategis ini kita selalu menyuarakan semangat konsistensi, tetap teguh melanjutkan kerjasama yang sudah di dua pertiga perjalanan. Karena kita memahami bahwa perjalanan panjang program alutsista strategis dan bergengsi ini akan mengalami pasang surut. Apalagi dibumbui rayuan sales promotion grup produsen alutsista lain termasuk mungkin saja ada pihak lain yang tidak ingin kita bisa menguasai teknologi kapal selam dan jet tempur.

Maka ketika KRI Alugoro 405 diresmikan belum lama ini di Surabaya dan juga ketika purwa rupa jet tempur KF21 diluncurkan di Seoul,setidaknya ada nafas kelegaan yang kita hirup, ada rasa plong, ada rasa sukacita yang membuat bibir tersenyum puas. Bahkan Alugoro yang baru diserahkan pabrikannya langsung unjuk diri di Natuna. Luar biasa.  Kedua program besar alutsista teknologi tinggi ini akan berlanjut terus tentu diawali dengan perundingan soal-soal teknis. Indonesia akan segera mengirim kembali seratusan insinyur proyek jet tempur IF21 ke Korsel setelah sebelumnya pulang di awal pandemi Covid19.

Proyek Nagapasa batch 2 untuk membangun kapal selam keempat, kelima dan keenam bernilai US$ 1,2 milyar bisa dilanjutkan, apalagi sebenarnya kontrak awal "U209-1400 Project" ini sudah diteken tahun 2019. Dan kontrak selanjutnya adalah kontrak efektif untuk memulai pembangunan kapal selam keempat tentu setelah membayar down payment. Kita apresiasi keteguhan Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo untuk tetap istiqomah melanjutkan kedua proyek hebat ini. Lima enam tahun ke depan kita akan terus melangkah menuju pencapaian hasil yang insyaAllah membanggakan. Semoga.

****

Jagarin Pane / 18 April 2021

Saturday, April 10, 2021

Adrenalin April

Sepanjang pekan ini saling unjuk kekuatan terjadi di Laut China Selatan (LCS). April yang sedang menuju musim panas sepertinya didahului oleh situasi panas melebihi situasi sebelumnya. April menjelang bulan Ramadhan di LCS ternyata justru mulai menunjukkan suasana kegelisahan dan kegerahan luar biasa yang bisa menimbulkan jantung berdebar dan keringat dingin. Meski belum sampai mengguncang bursa saham dan pasar uang dunia namun adrenalin militer di LCS sepekan terakhir melonjak drastis. Perairan strategis yang kaya sumber daya mineral itu didatangi berbagai konvoi angkatan laut. Masing-masing ingin tampil menunjukkan tajinya.

Diawali dengan langkah China yang mengerahkan dua ratusan kapal milisi nelayan dikawal sejumlah kapal perang dan kapal selam mau menggertak Filipina. Maka berbaris rapatlah duaratusan kapal milisi itu menghadap ke timur di perairan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Filipina seperti ingin mengadakan upacara bendera unjuk kekuatan. Namun Filipina tidak kalah gertak, angkatan laut siaga penuh, sejumlah kapal perang dikirim berdekatan dengan lokasi berkumpulnya ratusan kapal milisi China. Termasuk mengerahkan jet tempur FA-50 yang baru dibeli dari Korsel.

Tidak lama kemudian datanglah kapal induk AS CVN Theodore Roosevelt bersama beberapa kapal pengawalnya dari Teluk Benggala, Selat Malaka dan ngetem di LCS. Di perairan dekat Anambas sejumlah jet tempur F18 Hornet dari kapal induk AS ini melakukan manuver latihan tempur bersama dengan jet tempur Sukhoi dan F18 Malaysia selama dua hari. Bisa jadi AS ingin mengajak Malaysia agar fight alias tidak loyo menghadapi klaim China.  Soalnya diantara negara yang tumpang tindih klaim di ASEAN hanya Malaysia yang terkesan tidak ngotot. Sementara itu di lokasi yang berbeda tapi masih dalam satu kawasan, Vietnam tanpa pengumuman sebelumnya  tampil mengejutkan, unjuk gigi dengan melakukan latihan tempur laut skala besar mengerahkan sejumlah kapal perang, kapal selam dan jet tempur. 

Angkatan Laut Indonesia tampil high profile kali ini. Tanpa banyak publikasi dan umbar pernyataan, TNI AL mengerahkan 25 kapal perang dan dua kapal selam anyar ke Natuna. Dan yang lebih spektakuler dua KRI yaitu KRI Clurit 641 dan KRI Kujang 642 Kamis kemarin sukses menembakkan peluru kendali anti kapal permukaan C705 di perairan Laut Natuna Utara. Berhasil mengenai sasaran sebuah kapal tanker TNI AL yang baru dipensiunkan KRI Balikpapan 901. Tidak itu saja unjuk kekuatannya, malamnya digelar serial simulasi pertempuran anti serangan udara.  Serial berikutnya pasukan Marinir TNI AL melakukan operasi pendaratan pasukan di pantai Dabo Singkep tentu dengan dukungan sejumlah KRI.

Tetapi sesungguhnya yang lebih menggetarkan adalah pernyataan keras dari militer AS kepada China bersamaan dengan kedatangan kapal induk AS ke LCS. Bunyi peringatanya, jika ada tembakan kepada militer dan kapal perang Filipina termasuk pesawat udara maka sesuai perjanjian pertahanan dengan Filipina, AS akan mengerahkan seluruh kekuatan militernya untuk melindungi Filipina. Bahasa tegasnya, berani senggol bacok, nah lo. Pernyataan ini tentu membuat adrenalin militer di kawasan ini meninggi merah padam.

Perkembangan terkini di tengah hiruk pikuk LCS,  armada kapal perang Perancis jenis  LHD Mistral Class dan fregat pengawalnya sedang rehat di pangkalan TNI AL Sabang sebelum menuju LCS. Demikian juga Inggris tengah bersiap mengirim kapal induk Queen Elizabeth dengan sejumlah kapal perang pengawal ke LCS. Sementara TNI AL dalam waktu dekat ini setelah Idul Fitri akan menggelar latihan puncak Armada Jaya 2021 di perairan Laut Natuna Utara. Bakal ramai dan ke depan ini akan selalu ramai etalase LCS dipenuhi dan silih berganti berdatangan berbagai jenis kapal perang. Ini sejatinya sebagai bentuk kemarahan dalam bahasa militer sekutu AS kepada China yang secara sepihak mengklaim hampir seluruh perairan LCS.

Masa depan LCS sangat bergantung pada sikap China karena dia yang memulai dan secara hukum laut internasional dia salah. Bagaimanapun persoalan klaim tidak bisa diselesaikan secara militer apalagi jelas menyalahi konvensi internasional. Mestinya diselesaikan secara adat, secara dialog, secara baik-baik, terhormat. Jangan mentang-mentang bisa membangun kekuatan militer super hebat lalu menganggap persoalan klaim bisa diselesaikan dengan cara preman. Jangan sampai dunia memberikan opini sebagai negeri dengan kemampuan diplomasi dibawah standar alias egois.

Diplomasi militer yang dilakukan sejumlah negara di LCS dengan melakukan manuver kapal perang vivere pericoloso adalah sebuah formula warning untuk Beijing, untuk mengingatkan. Bahwa jika terjadi pertempuran hebat di LCS sesungguhnya akan menghancurkan tatanan kesejahteraan yang telah dibangun lebih setengah abad ini.  Maka sebelum itu terjadi perlu upaya extra ordinary para diplomat ASEAN,  Australia, Jepang, China, AS, Inggris, Perancis, Jerman dan PBB melakukan safari silaturrahim terus menerus. Musik pengiringnya adalah orkestra berbagai kapal perang teknologi terkini melakukan kontestasi keunggulan. Lirik lagunya: anda khidmat kami hormat, anda kumat kami babat. Dan dunia menjelang kiamat. Tamat.

****
Jagarin Pane / 10 April 2021

Saturday, April 3, 2021

Jakarta Bermain Cerdik

Inilah manfaatnya menempatkan orang yang sesuai kompetensinya. Ketika melakukan kunjungan simetris sekaligus ke Jepang beberapa hari lalu, keduanya memperlihatkan kualitas diplomasi dan pertahanan yang cemerlang. Kunjungan Menlu Retno Marsudi dan Menhan Prabowo Subianto ke Tokyo memperlihatkan cerdik dan lugasnya Jakarta mengambil peran keseimbangan kawasan Indo Pasifik khususnya Laut China Selatan (LCS).

Meski selalu ingin ditarik dari jalur netral untuk ikut blok QUAD (Quadrilateral Security Dialogue-Dialog keamanan segi empat) namun Indonesia punya cara sendiri dan ingin berjalan sendiri di tengah riuh rendah dan hiruk pikuk LCS. Amerika Serikat dengan kepiawaiannya berhasil merangkul India untuk ikut bersama dia dan sekutunya Australia dan Jepang membentuk persekutuan "bulan sabit". Secara geostrategis dan geopolitik aliansi ini mengurung China dari tiga penjuru mata angin kecuali Utara. Persis bulan sabit.

Hasil gemilang yang diperoleh dalam perjamuan "2 plus 2",  Menlu dan Menhan RI dengan Menlu dan Menhan Jepang adalah terbukanya ruang besar untuk mendapatkan 8 kapal perang fregat siluman Mogami Class teknologi terkini dari Jepang. Ini merupakan peralihan kiblat yang mencengangkan produsen alutsista strategis dunia karena selama ini kiblat kapal perang striking force Indonesia berasal dari Belanda, Inggris, Jerman, Perancis dan Denmark. Pokoknya Eropa banget.

Dari Belanda kita memperoleh 4 KRI Sigma Diponegoro Class dan 2 KRI Sigma PKR 10514 Martadinata Class. Dari Inggris kita mendapatkan 3 KRI Bung Tomo Class, kemudian dari Jerman kita baru saja pesan 2 KRI pemburu ranjau Frankestein Class. Sementara dari Perancis kita mendapatkan 2 KRI intelijen bawah air Rigel Class. Terakhir dari Denmark kita memesan 2 KRI Iver Class. Ini hanya untuk pengadaan kapal perang edisi terkini, belum secara historis. Misalnya pengadaan 39 kapal perang bekas dari Jerman atau 6 kapal perang fregat Ahmad Yani Class, 3 Fatahillah Class dari Belanda dan 2 kapal selam Cakra Class dari Jerman.

Rencana pengadaan 8 kapal perang teknologi tinggi dari Jepang merupakan lompatan luar biasa bagi Indonesia. Bahkan kapal yang hendak kita beli itu untuk Angkatan Laut Jepang saja baru jadi 2 unit dari rencana pengadaan 32 unit. Perubahan cara pandang Indonesia dengan melihat Jepang sebagai mitra strategis sekaligus saudara tua yang santun dan tak punya cacat hubungan diplomatik, tanpa harus bergabung dengan QUAD, adalah strategi Kemenlu dan Kemenhan yang patut diacungi jempol. Statemen bersama Menlu Jepang dan Indonesia jelas menyindir Beijing yang bermain kasar dan tidak tahu tatakrama dan etika pergaulan internasional. Mau menang sendiri.

Diplomasi militer yang dipertunjukkan Jakarta dan Tokyo ingin mengingatkan China secara tegas dan lugas, meski China merupakan mitra dagang strategis bagi Indonesia dan Jepang, namun jika China melakukan perubahan ekstrim dari status quo yang berlaku saat ini di LCS akan dilawan semua negara yang berkonflik dengannya secara militer. Istilah kunonya Raden Mas Said alias Mangkunegoro I berlaku disini: tiji tibeh, mati satu mati semua.  Wani po ora.

Maka rencana pembelian 8 kapal perang fregat dari Jepang adalah diplomasi militer cerdas yang dimainkan Jakarta. Ini menunjukkan betapa Indonesia bisa memilih mitra strategis yang juga punya masalah maritim dengan China. Kita ingin menyampaikan pesan kuat bahwa pembelian 8 kapal perang sekaligus itu adalah isyarat militer yang tegas untuk pihak sono.  Sesuai rencana kita akan membeli 4 kapal perang yang juga dikenal dengan istilah populer 30FFM yang dibuat di Jepang dan 4 unit yang lain dibuat di galangan kapal Indonesia.

Indonesia punya hubungan baik dengan semua penghuni Indo Pasifik. Dengan Beijing, Tokyo, Canberra, Washington dan New Delhi bangunan kemitraan kita setara. Kerjasama ekonomi dengan lima negara yang juga anggota grup elite dunia  G20 ini berjalan lancar, meningkat dan akrab. Di G20 Indonesia menduduki ranking 14 besar kekuatan ekonomi dunia yang dikenal dengan PDB ( Produk Domestik Bruto). Demikian juga hubungan bilateral kita dengan Korsel dan Korut, baik-baik saja. 

Situasi yang normal meski masih ditengah wabah Covid 19 mestinya  jangan diusik dengan keangkuhan militer. Seperti pengesahan Undang-Undang Maritim China yang boleh menembak kapal asing yang masuk wilayah yang diklaimnya.  Pengerahan dua ratusan kapal nelayan milisi China ke ZEE Filipina dengan dukungan kapal perang sudah tidak bisa lagi menakut-nakuti Filipina. Meski saat ini sesama negara ASEAN melawan dengan cara dan kekuatan sendiri-sendiri tidak menutup kemungkinan di suatu saat bersatu sikap melawan keangkuhan militer China. Bersama dengan QUAD bisa jadi ini awal dari game over peradaban kehidupan di bumi bulat bundar ini.

****

Jagarin Pane / 3 April 2021

Friday, March 26, 2021

Alugoro Menepis Spekulasi

KRI Alugoro 405 resmi diserahterimakan di galangan kapal selam PT PAL Surabaya tanggal 17 Maret 2021 yang lalu.  Pada seremoni itu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dengan lantang berkata bahwa dalam lima tahun depan kita harus bisa membuat kapal selam secara utuh termasuk desainnya. Seremoni dan kalimat Prabowo yang terang benderang itu menepis berbagai tudingan dan spekulasi selama ini. Berbagai  menu "adonan" informasi, disinformasi dan opini diramu untuk melemahkan prestasi dan prestise pencapaian kerjasama alih teknologi pembangunan 3 kapal selam PT PAL dengan DSME (Daewoo Shipbuilding Maritime Engineering) Korsel. 

Kita selalu menyuarakan second opinion spirit konsistensi dalam pembangunan Nagapasa Project ini yang sudah berlangsung sepuluh tahun dan telah menghasilkan tiga kapal selam produksi alih teknologi. Kakak kelas Alugoro 405 yang sudah duluan operasional adalah KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404. Kedua kapal selam ini dibuat di Korsel dengan seratusan insinyur Indonesia ikut kuliah transfer teknologi. Sedangkan KRI Alugoro 405 dibuat di PT PAL Surabaya dengan supervisi insinyur Korsel. Artinya insinyur kita sudah banyak mengambil peran. Bukankah ini sebuah prestasi dan prestise.

Suara lantang Prabowo di acara serah terima kapal selam "Changbogo Reborn" ini membuka peluang yang memang sudah terbuka bahwa Nagapasa jilid 2 akan berlanjut untuk membangun kapal selam ke empat, lima dan enam selama lima tahun ke depan. Mengapa disebut sudah terbuka karena memang sudah ada kontrak awal yang ditandatangani antara Indonesia dan Korsel tahun 2019. Tidak lama kemudian selama kurun waktu itu riuh rendah pasar informasi dan opini memeriahkan kampanye miring soal ketangguhan Nagapasa Class. Menggiring opini agar serial Nagapasa episode kedua tidak ditayangkan lagi. Meskipun begitu PT PAL tetap "tawaddu", rendah hati dan tak ikut membela diri.

Selama dua tahun ini pula kita ikut meramaikan pasar opini Nagapasa Class. Setidaknya ada enam tulisan yang kita publikasikan agar pengambil keputusan tetap istiqomah mendapat ilmu mahal transfer teknologi pembuatan kapal selam dari Korsel (sila buka www.analisisalutsista.blogspot.com ). Jangan mudah pindah ke lain hati, ke yang lebih sexy hanya karena lirikan sinar mata indah dari gadis manis berwajah komisi. Tinggal selangkah lagi atau setidaknya lima enam tahun ke depan kita sudah lulus sekolah transfer teknologi pembuatan kapal selam. Sebuah lompatan yang luar biasa.

Indonesia saat ini memiliki 5 kapal selam yang nota bene satu perguruan. Dua kapal selam "Cakra Class" produksi tahun 1980 buatan Jerman dari jenis U209-1200. Sementara Korsel berguru pada Jerman untuk mendapatkan teknologi U209.  Nah 3 kapal selam  Nagapasa Class yang baru selesai dibangun ini adalah U209-1400. Sementara target yang diinginkan dalam satu dekade ini adalah memiliki 12 kapal selam. Maka seandainya Nagapasa jilid dua sukses membangun 3 kapal selam maka kita punya 8 kapal selam. Masih tersedia peluang untuk pengadaan 4 kapal selam canggih yang selama ini dikampanyekan dan digadang-gadang dari Jerman atau Perancis. Artinya selesaikan dulu kuliah di Nagapasa College baru kemudian tumpahkan hasrat yang menggebu untuk memeluk Scorpene Perancis atau U214 Jerman.

Payung pelindung program pembuatan kapal selam ini dari awal sudah sangat kuat. Diawali dengan Presiden SBY dan Presiden Korsel untuk Nagapasa Batch satu tahun 2011 kemudian dilanjut dengan Presiden Jokowi dan Korsel-1 untuk Batch dua tahun 2019. Bahkan Presiden Jokowi dan Presiden Moon Jae-in sudah saling berkunjung satu sama lain dalam waktu berdekatan menjelang tandatangan kontrak awal Nagapasa episode kedua. Bukankah ini sebuah isyarat yang kuat untuk tetap melanjutkan pembangunan 3 kapal selam di batch kedua ini.

Penguasaan teknologi kapal selam adalah barang mewah dan merupakan gengsi kelas tinggi sebuah negara. Korea Selatan sudah membuka diri untuk berbagi teknologi strategis. Jarang ada negara yang bermurah hati membagi teknologi alutsista bawah air yang gahar ini. Insinyur kita sudah sepuluh tahun kuliah di DSME, kemudian meningkat menjadi "asisten dosen" di Fakultas Alugoro. Begitu seterusnya sampai di kapal selam ke enam nantinya diniscayakan sudah mampu menjadi "dosen" yang menguasai teknologi pembuatan kapal selam.

Tentu ini tidak bisa dibandingkan dengan negara-negara yang sudah puluhan tahun menjadi produsen pembuatan kapal selam teknologi canggih. Kita adalah pemula dan tidak pantas disandingkan dengan Jerman, Perancis atau Rusia. Tetapi kita harus memulainya. Dan sudah kita mulai. Bersamaan dengan itu industri pertahanan kita saat ini sudah bisa membuat berbagai jenis alutsista. Kita sudah mampu membuat panser, tank, roket, bom, berbagai jenis kapal perang seperti KPC, KCR, LST, LPD. Dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan diharapkan industri pertahanan kita sudah bisa membuat alutsista strategis dan gerun berupa kapal perang jenis korvet, fregat, kapal selam dan bahkan jet tempur. Semua ada di depan mata, maka ketika ada sinar mata indah yang menyapa lembut tetaplah tersenyum dan teguh hati serta menjawab mesra: jangan sekarang.

****

Jagarin Pane / 25 Maret 2021

Wednesday, March 17, 2021

Bukan Soal Natuna Semata

Program MEF (Minimum Essential Force) TNI sudah jauh hari dikumandangkan, satu dekade yang lalu. Figur yang mengawali dan bersemangat menjalankannya adalah tokoh sipil Purnomo Yusgiantoro sebagai  Menteri Pertahanan era SBY yang gesit dan cerdas. Kucuran dana untuk pembelian aneka ragam alutsista waktu itu menyentuh angka US$ 15 Milyar.

Sepuluh tahun dari tahun 2010, saat ini kita berada di MEF jilid tiga. Bersamaan dengan itu demam di Laut China Selatan (LCS) semakin membara karena AS mengajak sekutu dan sahabatnya untuk mengeroyok China. Termasuk belakangan ini Perancis, Jerman, Inggris mulai ikut intervensi dengan mengerahkan kapal perang dan kapal selam. Sementara persinggungan klaim China dengan Indonesia sebenarnya hanya terjadi di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil,  bukan di perairan kedaulatan teritori laut NKRI 12 mil dari pantai kepulauan Natuna.

Lantas mengapa kita terlihat sibuk banget belakangan ini untuk memperkuat basis pertahanan. Mengapa demikian, karena sesungguhnya bukan persoalan Natuna semata. Ini lebih disebabkan karena kita kalah start dari beberapa jiran kita untuk memperkuat dan memodernisasi militernya. Selama ini kita cenderung selalu menyanjung lagu "tidak ada musuh karena semua sahabat kita".  Jiran sudah punya jet tempur canggih dan armada laut yang berkualitas, sementara kita masih memuja zero enemy.

Selama ini kita terlena tidak melihat teritori laut sebagai benteng teritori. Doktrin masuk dulu baru digebuk menunjukkan model pertahanan yang bertumpu pada kekuatan matra darat. Kekuatan armada kapal perang dan kekuatan jet tempur kita dibawah ambang batas minimal. Baru setelah Ambalat diubek-ubek jiran, kita sadar diri bahwa kekuatan angkatan laut dan udara kita ternyata kurang bertaring. Sementara jiran yang merasa lebih kuat menunjukkan sikap pongahnya. Sakitnya tuh terasa disini.

Kemudian datanglah armada nine dash line berwujud semburan panas lidah naga yang mengaku sebagai pemilik lapak LCS. China mengklaim perairan dan gugus kepulauan karang atol di LCS sebagai miliknya, sekaligus menggerakkan armada CCG (China Coast Guard) dan angkatan lautnya menggertak  beberapa negara ASEAN. Vietnam, Filipina dan Malaysia dijadikan bulan-bulanan pelecehan secara militer. Indonesia tidak luput dari gertakannya tapi kita jawab dengan diplomasi militer tidak galah gertak dengan mengerahkan jet tempur F16 dan sejumlah KRI ke Natuna.

Meski sudah banyak tambahan aneka ragam alutsista namun sesungguhnya sampai hari ini  sebagian alutsista kita masih berkarakter engkol, analog dan jadul. Sebagai contoh, lihat saja alutsista Marinir lebih banyak produk lawas seperti tank amfibi PT76 dan panser amfibi BTR50. Ketika ada latihan pertahanan pangkalan, alutsista yang diperlihatkan sudah pantas masuk batalyon museum. Sudah semestinya pangkalan AL dan atau obyek vital dibentengi dengan alutsista digital setara Oerlikon Skyshield atau Starstreak. 

Jadi sampai hari ini  militer kita belum sampai pada kriteria kekuatan minimum. Dan target pencapaian MEF itu ada di periode 2020 sampai 2024. Itulah sebabnya Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bergerak cepat untuk memenuhinya. Shopping list Kementerian Pertahanan menunjukkan banyaknya kebutuhan alutsista yang akan kita datangkan selama lima tahun ke depan. Jadi bukan soal Natuna semata tetapi lebih pada upaya mengejar ketertinggalan.

Maka bisa kita lihat seabreg program kerja Kementerian Pertahanan. Mulai dari pengadaan kapal perang kelas fregat, kapal selam, jet tempur Rafale, F15 Ex, Radar, pesawat Hercules, pesawat MRTT, pesawat AEW, helikopter berbagai jenis, peluru kendali berbagai jenis. Termasuk pembuatan drone UCAV Elang Hitam made in anak negeri yang diniscayakan akan menjadi primadona manajemen pertempuran modern remote control network centric warfare. Banyak sekali yang harus diselesaikan Kementerian Pertahanan untuk mengejar target MEF jilid tiga sampai tahun 2024.

Persoalan di perairan Natuna bagi Indonesia harus diletakkan dalam bingkai proporsional. Artinya hubungan baik dan hangat yang sudah terjalin dengan China dan AS menjadi fundamen kuat untuk dikembangkan. Posisi netral kita adalah memainkan peran diplomasi intensif untuk memelihara stabilitas dan suasana kondusif di kawasan ini. Kehadiran armada AL dan AU Paman Sam di kawasan ini bisa kita persepsikan sebagai penyeimbang sekaligus penggentar pihak yang mengklaim LCS.

Soal daftar belanja alutsista di MEF ketiga, adalah bagian dari upaya mengejar target pencapaian sekaligus mensejajarkan diri dalam diplomasi militer di kawasan. Negara kepulauan terbesar ini harus dipayungi dengan kekuatan militer berbasis network centric warfare. Kita sedang menuju kesana. Sehingga doktrin masuk dulu baru digebuk bisa diperbaharui menjadi : berani masuk digebuk. Jadi ini bukan karena soal Natuna semata tetapi karena kita ingin membangun kekuatan militer yang sampai saat ini belum masuk kriteria kekuatan minimal.  Itu tema besarnya.

****
Jagarin Pane /17 Maret 2021

Monday, March 8, 2021

Membangun Perspektif Horizon

Percepatan realisasi pengadaan alutsista strategis sesungguhnya adalah yang terpenting daripada menampilkan segerobak rencana belanja.  Termasuk membangun perspektif horizon menguasai teknologi alutsista di masa depan. Ada kesan dengan daftar shopping yang segudang,  banyak maunya. Prioritas untuk mendatangkan minimal 6 jet tempur F15 Ex tahun ini apakah bisa direalisir, itu pertanyaan besarnya. Belum lagi persoalan sudah ditandatanganinya kontrak awal pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang tidak bisa begitu saja diabaikan apalagi dibatalkan.

Soal lanjutan kerjasama pengembangan jet tempur KFX/IFX dan kerjasama alih teknologi pembuatan kapal selam Changbogo, dua-duanya dengan Korsel, menjadi sebuah catatan tinta tebal non istiqomah alias inkonsistensi dalam menjalankan dan meneruskan proyek teknologi tinggi alutsista strategis. Padahal perjalanan kerjasama itu sudah berada di duapertiganya, sepertiga lagi akan menghasilkan karya monumental. Pertanyaannya kenapa harus berencana menarik diri. Bukankah ketidaksamaan persepsi dan perspektif bisa dirundingkan di koridor itu. Mengapa justru ingin memutus nilai strategisnya.

Tiga kapal selam yang dibuat pada proyek batch 1 Nagapasa Class sudah jadi. Dua diantaranya KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 sudah operasional. Sementara KRI Alugoro 405 menunggu seremoni peresmian. Artinya untuk dua kapal selam terdahulu tidak ada kendala teknis dong karena sudah ada berita acara penerimaannya. Lalu mengapa belakangan di kemudian hari bersuara tidak puas atau tidak sesuai dan mengapa harus diterima kalau tidak puas atau tidak sesuai. 

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang tersaji di ruang diskusi forum militer. Sehingga ujung-ujungnya ada kalimat klise yang berbunyi: ganti menteri ganti selera. Bukankah kontrak awal batch 2 Nagapasa Class sudah ditandatangani dan bahkan Presiden Jokowi sudah berkunjung ke Korsel sebelumnya. Demikian juga sebaliknya Presiden Korsel berkunjung ke Indonesia. Sebuah isyarat payung yang kuat untuk meneruskan Nagapasa Batch 2. Artinya everything is ok, atau everything will be ok meminjam ungkapan pejuang demokrasi remaja Myanmar Kyal Sin yang ditembak mati junta militer. 

Demikian juga dengan proyek jet tempur generasi 4,5 KFX/IFX. Dengan alasan sangat teknis, kita lalu tidak melanjutkan iuran yang sudah disepakati, alias mogok bayar "SPP". Padahal bulan April nanti jet tempur KFX akan dipertunjukkan ke publik purwa rupanya di Korsel. Seperti diketahui Indonesia dalam perjanjian ini mendapat porsi 20% dari pembiayaan pengembangan jet tempur. Porsi Indonesia bernilai US$ 1,51 Milyar, sudah dibayar US$ 201,4 juta sampai Januari 2019. Setelah itu emoh bayar karena alasan teknis.

Dua kerjasama teknologi  persenjataan strategis yang mogok di duapertiga perjalanan ini memunculkan dugaan lain. Jangan-jangan ada pihak yang tidak suka dengan program teknologi tinggi alutsista bergengsi ini. Pencapaian besarnya kelak dianggap bisa membuat kawasan tersaingi. Bisa saja kan. Bisa dibayangkan lima sampai sepuluh tahun ke depan kita sudah menguasai teknologi jet tempur dan kapal selam. Juga teknologi kapal fregat, peluru kendali, roket, tank, panser. Luar biasa pencapaian itu.

Kita sudah mampu membuat panser, tank, roket, kapal perang jenis KPC, KCR, LST, LPD. Kapal fregat segera menyusul kemudian kapal selam dan jet tempur. Tentu ini sebuah prestasi yang membanggakan. Seandainya proyek alih teknologi kapal selam dan pengembangan jet tempur jalan terus maka sempurnalah industri pertahanan kita. Itu sebabnya "perselisihan teknis" yang terjadi di dua proyek alutsista dengan Korsel bisa disikapi dengan perspektif  horizon"lima repelita" alias duapuluh lima tahun. Bukan "satu repelita" tok alias satu jabatan menteri.

Untuk kebutuhan mendesak sah-sah saja mendatangkan jet tempur F15 Ex atau Rafale. Atau menambah kapal selam dari negara lain. Tapi untuk "lima repelita" monggo dilanjut proyek jet tempur KFX/IFX dan kapal selam Nagapasa Class. Toh seleksi alam akan terjadi dengan pensiunnya 24 jet tempur Hawk atau bahkan 16 jet tempur Sukhoi yang umurnya relatif pendek. Juga 2 kapal selam "Cakra Class" yang saat ini sudah berusia 40 tahun. 

Kebanggaan kita soal pertahanan sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehebatan industri pertahanan yang kita miliki. Dan itu sebenarnya sudah di depan mata jika kita mampu membangun perspektif horizon, perspektif membangun kebanggaan pertahanan negara. Oleh sebab itu mari kita kumandangkan selalu lagu istiqomah bin konsistensi dalam bingkai perspektif, membangun kewibawaan pertahanan negara berdaulat. 

****

Jagarin Pane / 6 Maret 2021

Thursday, February 18, 2021

Langkah Kuda Prabowo

Menteri Pertahanan Prabowo sejauh ini bisa disebut menang dalam strategi percaturan untuk mendapatkan alutsista dan green light dari AS. Cerita dimulai dari langkah UU Caatsa AS yang "menjegal" perolehan 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia.  Ini membuat perkuatan skadron tempur TNI AU jalan ditempat. Skadron 14 pengganti F5E yang sudah dibangunkan home basenya di Iswahyudi AFB terlalu lama sunyi. Sehingga dipinjamkan dulu 3 unit Sukhoi SU27 dari Skadron 11 Hasanudin AFB supaya pilotnya tidak menganggur. Ternyata yang ditunggu tidak kunjung datang.

Prabowo sesungguhnya dongkol kuadrat alias kecewa berat. Yang pertama soal Caatsa ini. Seharusnya fighter tangguh SU35 sudah hadir menggemuruhkan langit nusantara. Namun diblokade AS yang mengenakan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Dan yang paling membuat dia kecewa adalah blokade perjalanan dirinya ke AS yang sudah berjalan belasan tahun. Logika cerdasnya begini : sudah tidak boleh bertransaksi SU35, tidak pula boleh berkunjung ke AS tapi kok disuruh beli F16 Viper. 

Jendral tempur ini kemudian bergerak cepat sejak dilantik jadi Menhan. Rencana Indonesia untuk membeli 36 jet tempur F16 Viper made in Paman Sam dia padamkan. Dengan alasan butuh jet tempur siap pakai dan two engine untuk menutup gap isian skadron 14 Iswahyudi, Prabowo berniat kuat untuk mendatangkan 15 jet tempur Typhoon Austria bekas pakai tapi jarang dipakai. Lalu dengan Perancis dia membuat perjanjian awal untuk pengadaan sejumlah jet tempur Rafale dan kapal selam Scorpene.

Ini langkah kuda yang cemerlang. AS terperangah dan harus mengakui kalah langkah. Kartu mati AS ada di Laut China Selatan (LCS) yang mengharuskan dia cari "bolo" untuk menghadapi lidah naga China yang menyembur di nine dash line. Posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia yang dominan di ASEAN mengharuskan AS merangkul Indonesia memperkuat "persekutuan" versi dia. Aliran logistik militer jika terjadi konflik terbuka dengan China di LCS pasti akan melewati ruang udara Indonesia, juga ALKI 1 dan ALKI 2 yang strategis.

Pentagon akhirnya memberi lampu hijau buat Menhan kita bahkan kedatangannya disambut hangat dengan karpet merah dan meriah. Prabowo dan delegasi Kemenhan datang dengan wajah sumringah dan wibawa. Meski keinginannya untuk mendapatkan jet tempur siluman F35 belum disetujui AS karena durasi pesan datang alias daftar tunggu bisa mencapai 10 tahun.  Sebagai pengganti kita diizinkan mendapatkan 15 jet tempur F15 Ex.  Kita saat ini memang sedang butuh jet tempur siap saji untuk mengisi jet tempur SU35 yang gagal hadir. Manuver Prabowo mengejar Typhoon dan Rafale yang non AS sukses membuka mata hati Paman Sam yang biasanya suka mendikte.

Dari hasil Rapim TNI tanggal 16 Februari 2021 ada publikasi blue print yang menjadi program besar Kemenhan. Berbagai jenis alutsista yang akan didatangkan dari AS berupa 15 jet tempur F15 Ex, 15 pesawat angkut Hercules type J, 4 heli hibrid Osprey, 32 helikopter Blackhawk. Sementara dari Perancis sedang dipersiapkan pengadaan 36 jet tempur Rafale,  4 kapal selam Scorpene. Rincian shopping list itu bisa membuat kita yang membacanya lalu menulis komen: wow banyak banget. Tidak tanggung-tanggung memang. Matra laut saja mau dibelikan16 kapal perang fregat, 10 kapal selam, 18 KCR (Kapal Cepat Rudal), 6 KCR siluman dan lain-lain.

Dalam pandangan kita daftar belanja blue print yang spektakuler itu adalah sebuah keniscayaan. Namun durasi waktu MEF (Minimum Essential Force) TNI jilid tiga tahun 2020 sampai dengan 2024 membuat kita harus realistis. Jelas durasi itu tidak cukup untuk memenuhi shopping list Kemenhan. Termasuk juga anggarannya. Belum lagi ketok palu dari Kementerian PPN / Bappenas yang menjadi titik paling penting untuk goal proses panjang ini. Maka tercukupi 50% saja dari daftar belanja itu kita sudah sangat bersyukur. Percepatan kedatangan jet tempur F15Ex yang nantinya akan mengawal Natuna sangat diharapkan. Dari informasi  yang beredar AS akan memprioritaskan kedatangan 6 jet tempur F15 Ex ke Indonesia selambat-lambatnya akhir tahun ini.

Ini sesuai dengan keinginan Prabowo bahwa Natuna harus segera dipayungi jet tempur berkualitas. Sebelum SU35 terkena Caatsa, jet tempur ini yang akan mengawal Natuna. Itu sebabnya langkah kuda Prabowo untuk mengakuisisi 15 jet tempur Typhoon dari Austria sekaligus menolak F16 Viper yang ditawarkan AS sebelum era Prabowo, adalah sebuah kemenangan langkah kuda. Marwahnya dengan permainan catur alutsista ini adalah bisa membuka pintu green light, berkunjung ke AS bahkan disambut hangat oleh Pentagon. Prestasi yang mengikuti marwahnya adalah kesediaan AS untuk menyediakan jet tempur "double gardan" F15 Ex. Hanya sedikit negara yang diberi ruang untuk memiliki jet tempur ini.  Hanya sekutu dekat AS.

Apapun dinamikanya sejatinya Republik ini sangat memerlukan perkuatan alutsista militer utamanya matra laut dan udara. Halaman depan rumah kita yang bernama Natuna adalah wilayah konflik sekarang,masa depan dan jangka panjang. Ini adalah wilayah konflik yang bisa menjadi potensi besar untuk pertempuran paling mematikan di dunia. Maka "new normal" yang berlaku di Natuna ke depan adalah mempersiapkan kondisi paling mencekam dengan memperkuat armada tempur TNI AL dan skadron tempur  TNI AU. Prabowo sudah dan sedang mempersiapkan semuanya dan bersamaan dengan itu dia sudah memenangkan langkah kudanya. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

****

Jagarin Pane / 18 Februari 2021

Tuesday, February 9, 2021

Mewibawakan Mobilitas Kawal Laut Negeri

Angkatan Laut Indonesia menguatkan pergerakan kawal laut bersama BAKAMLA utamanya di kawasan ALKI 1 dan ALKI 2 yang strategis dan ramai sepanjang perjalanan tahun ini. Frekuensi ini bisa dilihat dari mobilitas patroli yang meningkat di berbagai titik kawal seperti Natuna, Selat Malaka, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Makasar dan Ambalat. Pergerakan puluhan KRI di Armada Satu, Armada Dua dan Armada Tiga setiap hari untuk menegaskan kehadiran dan keamanan serta kewibawaan laut teritori kita.

Kapal perang jenis logistik BBM dan air, KRI Bontang 907 baru saja mendeteksi kapal  Coast Guard China di ZEE Natuna. Meski fungsi KRI Bontang sebagai kapal supporting namun instrumen radarnya mampu mengendus kehadiran CCG. Dan kalau harus duel fisik alias ngajak tabrakan boleh juga tuh, KRI Bontang badannya gede. Di perairan ZEE model gelutnya seperti itu, diawali dengan komunikasi saling bantah, lalu kejar-kejaran, saling serempet dan saling menabrakkan diri. Kemudian balik kanan. Sebab menurut UNCLOS jika sampai terjadi tembak menembak di ZEE, yang duluan menembak dianggap yang memulai perang.

Barusan kapal BAKAMLA alias Coast Guard Indonesia KN Pulau Nipah 321mengejar kapal survei intelijen bawah air China Xiang Yang Hong dan dicegat di Selat Sunda. Kapal ini dalam perjalanan melewati ALKI 1 dari Natuna tidak memenuhi protokol "kesehatan" kelautan ALKI kita. Alias main petak umpet, mulai dari mematikan instrumen AIS agar tidak terlacak, tidak mau buka komunikasi bahkan kemudian mengurangi kecepatan dan berhenti. Dicurigai sedang memetakan alur laut bawah air untuk kepentingan militer China. Nah setelah dicegat di Selat Sunda baru mengaku dan bohong bahwa AIS nýa bermasalah.

Kapal induk AS yang perkasa USS Nimitz dan dua kapal pengawalnya beberapa hari lalu melintas di ALKI 1 dan dikawal ketat 5 KRI, satu pesawat pengintai TNI AL dari selat Malaka sampai Batam. USS Nimitz kemudian menuju utara melintas Laut China Selatan dan pasti meramaikan pasar provokasi dengan kapal perang China. Kita membayangi armada kapal induk AS untuk menegaskan kehadiran kita, standar prosedur kawal ALKI. Bukan untuk memprovokasi apalagi mengusir sebagaimana publikasi hoax netizen ngawur. Perairan ALKI adalah jalan raya laut internasional sesuai konvensi hukum laut internasional (UNCLOS).

Prestasi hebat dicapai ketika kapal BAKAMLA KN Marore 322 berhasil menangkap tangan dua tanker raksasa Iran dan Panama sedang "indehoi" di Selat Karimata ALKI 1 pekan lalu. Kedua kapal tanker itu ketahuan sedang melakukan transfer ilegal BBM di tengah laut, melanggar batas ALKI dan tidak membuka komunikasi radio. Diduga Iran melakukan transaksi minyak ilegal dengan China karena Iran saat ini mendapat sanksi ekonomi dari AS. Setelah awak BAKAMLA menaiki kapal dan bersitegang barulah mereka menyadari dan kedua tanker dibawa ke Batam untuk investigasi lanjutan.

Terakhir 3 KRI menghantar perjalanan kapal perang jenis fregat dan kapal selam Perancis di Selat Sunda menuju Samudra Hindia dengan upacara passing exercise. Inilah penghargaan itu, jika kapal perang asing kulonuwun di perairan ALKI kita, ada penghormatan passing exercise dan salam bon voyage. Dan kalau main petak umpet,  jadi tidak terhormat dan tidak ingin mendapat penghormatan. Awak kapal induk USS Nimitz juga mendapat salam Bon Voyage dari kapal perang kita ketika sampai di Singapura. Semoga perjalananmu menyenangkan, itu maknanya.

KRI paling gress dan canggih milik TNI AL KRI I Gusti Ngurah Rai 332 berangkat dari pangkalan utama TNI AL Surabaya dua hari lalu menuju garis lurus ke utara perairan Ambalat. Dia membawa helikopter anti kapal selam terbaru Panther made in Perancis. Sekalian patroli sepanjang perjalanan kalau-kalau ada penyusup bawah air di selat Makasar yang strategis itu. Indonesia membeli 11 helikopter jenis ini dan barangnya sudah diterima semua. KRI 332 tentu tidak sendirian, sudah ada 4-5 KRI yang selalu patroli di Ambalat. Termasuk perairan ALKI 3 di Kupang, Ambon dan Sorong ada sejumlah KRI melakukan patroli rutin.

TNI AL saat ini memiliki armada sekitar 160 kapal perang berbagai jenis berkategori KRI dan sekitar 270 kapal berkategori KAL (Kapal Angkatan Laut). Kekuatan sebesar ini tentu punya mobilitas dan ongkos operasi yang besar setiap hari. Dan memang harus begitu. Pergerakan sebuah kapal perang memerlukan ongkos logistik yang besar. Apalagi pergerakan sebuah jet tempur. Itu yang membedakan TNI AL dan TNI AU dengan TNI AD. Angkatan Darat adalah kekuatan pasukan dengan dukungan alutsista sedangkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara adalah kekuatan alutsista dengan dukungan pasukan. Sebagai contoh ongkos operasional AL dan AU Amerika Serikat mencapai 85% dari anggaran operasional militer AS. Itu adalah ongkos mobilitas sebagai polisi in the world.

Kita mengapresiasi TNI AL dan BAKAMLA. Sebagai negara kepulauan yang lebih luas perairannya, kehadiran armada keduanya yang terus menerus adalah keniscayaan dan kemutlakan. BAKAMLA saat ini sedang dikembangkuatkan dengan pengadaan berbagai ukuran kapal patroli. Semuanya buatan dalam negeri. Dan bahkan sekarang sudah mendapat izin dari Kemenhan untuk dipersenjatai. Tidak hanya meriam air. Saat ini BAKAMLA punya armada sekitar 16 kapal dan ditargetkan memiliki sekitar 50 kapal dalam lima tahun kedepan. Sinergi BAKAMLA dan TNI AL selama ini telah diperlihatkan di perairan Natuna. Sinergi keduanya telah memberikan nilai marwah dan wibawa untuk teritori laut dan ZEE kita. Tahniah, jalesveva jayamahe.

****
Jagarin Pane / 09 Februari 2021

Thursday, January 28, 2021

Mempersoalkan Global Fire Power

Setidaknya selama tujuh tahun terakhir ini situs internasional Global Fire Power (GFP) secara rutin memberikan reportase tahunan ranking kekuatan militer konvensional dunia. Dengan sembilan indikator utama tidak termasuk indikator senjata nuklir, dan belasan sub indikator yang mendampingi dirumuskanlah pola ranking kekuatan militer dunia. Indonesia selama tujuh tahun terakhir berada di ranking 14-16 dunia. Bulan Januari 2021 ini GFP menempatkan Indonesia di urutan ke 16 besar dunia dari 138 negara, urutan ke 9 Asia dan number one in ASEAN.

Perpres No 18 tahun 2020 tentang rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2020-2024 khususnya di bidang pertahanan, memasukkan Global Fire Power Index dan Global Teroris Index sebagai salah satu target rujukan pencapaian. Artinya pemerintah Indonesia meyakini bahwa indikator yang menjadi dasar formula index secara keseluruhan memenuhi agregat perumusan obyektivitas. Lalu apa yang dipersoalkan.

Ketidakpercayaan warga forum militer (formil) di beberapa media sosial dan beberapa pengamat militer, lebih disebabkan tidak gerunnya perolehan alutsista Indonesia sampai saat ini. Baik secara kuantitas maupun kualitas. Jadi tidak pantas berada di urutan 16 besar dunia, diatas Singapura dan Australia yang punya alutsista canggih. Dengan Singapura saja secara kuantitas dan kualitas angkatan udara Indonesia masih kalah kelas dari negeri mungil itu. Singapura punya jet tempur F35, F15, F16 mencapai lebih dari 100 unit.

Tetapi publik formil lebih sering terpukau dengan kekuatan angkatan udara. Sehingga mengabaikan kekuatan matra lain. Padahal matra AL dan AD punya peran strategis dalam interoperability pertempuran. Dengan mengambil contoh Singapura sebagai pembanding, angkatan laut dan angkatan darat Indonesia secara kuantitas lebih kuat dari Singapura. Kuantitas alutsista dalam penilaian GFP adalah bagian dari sistem penilaian kekuatan militer sebuah negara.

Dalam bidang pertahanan Singapura sangat jelas menganut doktrin pre emptive strike. Karena posisi geostrategis dan geopolitik negeri itu terhimpit oleh dua jiran yang besar, Indonesia dan Malaysia. Doktrin militer seperti ini, jika terjadi konflik terbuka harus mampu menghancurkan musuh sebelum memasuki wilayah teritorinya. Maka diperlukan kekuatan angkatan udara yang unggul terhadap jirannya.

Australia juga menganut paham gebuk dulu sebelum masuk. Kita lihat peta Australia yang distribusi populasi terbesar hanya di  New South Wales, Victoria dan South Australia. Maka Australia mengelola manajemen pertahanan dengan menempatkan jet-jet tempur canggihnya di utara benua ini yang nota bene kosong populasi penduduk. Perisai pertahanan Australia bertumpu pada kekuatan AL dan AU.

Indikator yang menjadi pijakan GFP tidak melulu soal kecanggihan alutsista tapi juga memasukkan parameter luasnya teritori, jumlah populasi penduduk, produksi bbm dan jumlah tenaga kerja. Misalnya indikator logistik militer Indonesia dengan enam sub indikator yaitu labor force, lantamal,kekuatan maritim, coverage jalan raya, coverage jalan kereta api, bandara. Seluruh potensi kekuatan indikator ini jelas mengalahkan Singapura. Belum lagi indikator man power seperti populasi jumlah penduduk, jumlah tentara aktif termasuk cadangan, kapasitas mobilisasi umum, geostrategis, sumber daya alam. Indonesia mengungguli Singapura.

Global Fire Power adalah versi dan sudut pandang. Jika tidak sepakat buatlah versi lain yang lebih meyakinkan. Sebab jika hanya membantah, menyanggah dan mempertanyakan (sekaligus meremehkan) artinya hanya sebatas debat warung kopi. Kita meyakini bahwa indikator dan sub indikator yang dibangun untuk menghasilkan index komprehensif GFP adalah fakta, bukan rekayasa. Itu sebabnya di Perpres 18/2020  index GFP menjadi salah satu target untuk pencapaian perkuatan militer disamping MEF (Minimum Essential Force) dan kontribusi industri pertahanan dalam negeri.

Target pemerintah sampai tahun 2024, Indonesia bisa masuk 10 besar kekuatan militer dunia versi GFP kita apresiasi. Namun untuk memenuhi target itu tidak hanya mengandalkan pemenuhan kuantitas. Seperti melipatgandakan pasukan cadangan melalui Komponen Cadangan. Prioritas utama adalah memenuhi kebutuhan alutsista striking force berkualitas gahar. Seperti 4 skadron jet tempur, sejumlah kapal perang kelas fregat, kapal selam, UAV, radar, pesawat early warning. Kemudian memperkuat basis pertahanan udara dengan peluru kendali jarak menengah dan jarak jauh. Tidak ketinggalan menjaga selat-selat strategis dan pulau Natuna dengan peluru kendali pertahanan pantai. Lebih utama dari semua itu adalah mempersiapkan implementasi network centric warfare. Kalau itu tercapai layaklah kita berada di urutan 10 besar kekuatan militer versi GFP.

****

Jagarin Pane /28 Januari 2021

Tuesday, January 19, 2021

Cepat Guna Tepat Guna

Gerak cepat diperlihatkan TNI dalam musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya baru-baru ini di perairan gugusan kepulauan Seribu.  Sangat dekat dengan pangkalan angkatan laut Armada Satu Jakarta, lokasi jatuhnya pesawat naas ini cepat dijangkau. Meski akhirnya tidak menemukan korban hidup karena dahsyatnya benturan pesawat dengan air, semuanya hancur berkeping tanpa kecuali. Respon cepat ini patut diapresiasi.

Beruntung kita sudah punya 2 kapal perang intelijen bawah air yang canggih buatan Perancis yaitu KRI Rigel 933 dan KRI Spica 934. Beruntung juga kita sudah punya 2 kapal perang jenis LPD rumah sakit yaitu KRI Semarang 594 dan KRI Dr Soeharso 990. Hebatnya lagi saat ini kita sedang membangun 2 kapal perang jenis rumah sakit. Yang satu sudah diluncurkan ke air dan diberi nama KRI Dr Wahidin Sudirohusodo 991. Kapal yang satu lagi masih dalam proses pembangunan. Target tiga kapal rumah sakit akan tercapai tahun depan dan KRI Semarang 594 akan dikembalikan fungsi utamanya sebagai kapal LPD angkut pasukan dan alutsista mobile.

Lebih dari itu kita punya pasukan penyelam berkualitas dan hebat dari Taifib, Denjaka, Kopaska dan Dislambair TNI AL. Dengan dukungan instrumen deteksi canggih dari KRI Rigel dan komando Operasi Militer Selain Perang (OMSP) di KRI Raden Eddy Martadinata 331, pencarian korban dan kotak hitam dapat dikelola dengan manajemen militer cepat guna dan tepat guna. Bahkan TNI AU juga mengerahkan pesawat boeing intai strategis dari Skadron Makassar dan beberapa Helikopter dari Skadron Bogor.

Sebenarnya ada puluhan KRI dari Armada Satu Jakarta dan Armada Dua Surabaya yang sedang mempersiapkan diri untuk konvoi ke Natuna. Mau show of force lah sekalian untuk memeriahkan Hari Dharma Samudra tanggal 15 Januari 2021 di pulau strategis itu. Musibah Sriwijaya mengalihkan dan membatalkan rencana keberangkatan ke Natuna. Ini sebuah keputusan cepat guna dan tepat guna dan terbukti berhasil guna.

Demikian juga dengan bencana alam di Ķalsel dan Sulbar. Sedikitnya ada 8 pesawat Hercules diberangkatkan membawa bantuan sosial untuk segera mencapai sasaran dalam waktu cepat dan tepat. Artinya manfaat untuk cepat dan tanggap darurat diperlihatkan karena kita memiliki armada Hercules yang memadai.  Saat ini ada dua skadron Hercules di Jakarta dan Malang. Skadron ketiga di Makassar yang baru dibentuk sangat bermanfaat untuk bencana Sulbar, cepat guna dan tepat guna. Tidak usah mendatangkan Hercules dari Jakarta dan Malang. Saat ini KRI Dr Soeharso 990 dan beberapa KRI lainnya bahu membahu mengirim bantuan ke Sulbar lewat laut yang lebih aman.

Pengembangan kekuatan militer Indonesia salah satunya adalah untuk fungsi OMSP seperti ini, dan mampu beroperasi di tiga hotspot sekaligus yaitu Jakarta, Kalsel dan Sulbar. Kostrad dimekarkan jadi tiga Divisi dimana lokasi Divisi 3 ada di Sulawesi dan Papua. Demikian juga dengan Armada TNI AL dimekarkan jadi tiga Armada. Dan Armada 3 ada di Sorong. Marinir tidak mau ketinggalan memekarkan dirinya jadi tiga Pasmar. Markas Pasmar 3 ada di Sorong Papua Barat. TNI AU menempatkan Biak sebagai markas Koopsau 3 dan membangun skadron tempur di Kupang, Skadron Helikopter di Jayapura, skadron angkut sedang di Biak dan skadron UAV di Timika.

Sebaran kekuatan TNI di tiga matra adalah bagian dari upaya respon cepat baik untuk operasi militer perang (OMP) maupun untuk operasi militer selain perang (OMSP). Sekalian untuk mengurai pemusatan kekuatan militer di pulau Jawa. Teritori garis depan seperti Natuna, Sabang, Tarakan, Morotai, Saumlaki, Merauke, Biak, Kupang sudah dicover satuan tempur tiga matra. Meski kekuatan alutsista striking force yang menyertainya masih sangat kurang. Contohnya Armada 3 dan Pasmar 3 di Sorong kuantitas dan kualitas alutsistanya masih sederhana banget.

Hilir mudik kapal asing baik kapal niaga, kapal perang, kapal selam bahkan drone bawah air mengharuskan kita memperkuat selat strategis dan ALKI ( Alur Laut Kepulauan Indonesia). Nah di program Kemenhan tahun ini sudah terurai jelas rencana menempatkan missile coastal di selat strategis seperti selat Sunda, selat Malaka, selat Lombok, juga di pantai Natuna. Termasuk pemasangan sonar deteksi kapal selam. Kita berpandangan ini harus menjadi prioritas untuk diinstal dalam MEF jilid 3 sekarang.

Infrastruktur pangkalan militer TNI boleh disebut sudah menyebar merata di pelosok tanah air. Hanya isian alutsista mobile yang belum mencukupi seperti jumlah jet tempur, jumlah KRI, peluru kendali SAM jarak menengah dan jarak jauh, UAV, Radar dan lain-lain yang diperlukan untuk menjamin terjaganya teritori kita.  Maka kita menyambut optimis program besar Kemenhan tahun ini yang sudah dipublikasikan beberapa hari yang lalu bersamaan dengan Rapim Kemenhan. Yang terbaru adalah program instalasi missile coastal di selat-selat strategis. Termasuk lanjutan pengadaan kapal perang selain Iver Class, pengadaan kapal selam, jet tempur Typhoon dan Rafale, peluru kendali  Nasams2, Radar, Helikopter berbagai jenis.

Investasi pertahanan dengan membeli dan mendatangkan sejumlah alutsista canggih terbukti sangat bermanfaat dalam penanggulangan musibah. Termasuk penyebaran ragam alutsista.  Pengadaan sejumlah Hercules baru dari AS adalah bagian dari upaya memperkuat skadron angkut berat yang vital. Juga pengadaan sejumlah helikopter Chinook yang terbukti berjasa dalam bencana Tsunami Aceh. Bahwa pengadaan alutsista sejatinya adalah untuk mengcover keseluruhan wilayah NKRI baik untuk mengawal teritori dan untuk operasi kemanusiaan. Semuanya untuk memenuhi kriteria respon cepat guna dan tepat guna.

****

Jagarin Pane / 19 Januari 2021


Saturday, January 2, 2021

Memahami Kebutuhan Alutsista TNI

Setahun perjalanan Prabowo memimpin Kementerian Pertahanan, gerak langkah cepatnya untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI perlu diapresiasi. Posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia jika dikawinkan dengan dinamika konflik kawasan membuat kita sadar diri dan tahu diri. Bahwa sejatinya pagar pengaman teritori kita belum memadai. Prabowo melihat itu dalam kacamata out of the box. Bahasa kerennya beyond visual range.

Contoh terakhir ditemukannya drone bawah air milik angkatan laut China di perairan strategis selat Makassar beberapa hari yang lalu. Ini menunjukkan bahwa potensi infiltrasi militer asing melalui teknologi drone dan atau kapal selam sangat jelas. Jalur ALKI 2 selat Makassar adalah kawasan ideal jalur kapal selam karena perairannya dalam. Pesawat Adam Air yang tenggelam di selat Makassar bisa ditemukan melalui kapal selam mini tanpa awak milik AS di kedalaman 8.000 meter.

Luas teritori tanah dan air negeri ini seluas Eropa. Payung pelindung teritori seluas itu hanya dikawal oleh empatpuluhan jet tempur dan tigapuluhan kapal perang striking force. Memang secara data ada 8 skadron tempur yang dimiliki TNI AU namun yang bergigi untuk berkelahi hanya 3 skadron tempur alias hanya empatpuluhan. Demikian juga dengan data kekuatan angkatan laut yang memiliki sekitar 160 KRI. Hanya seperlimanya yang berkualifikasi striking force dipimpin Martadinata Class.

Lantas mengapa baru sekarang tergopoh-gopoh sampai terengah-engah baru menyadari urgensi pemenuhan kebutuhan alutsista negeri yang masih belum sampai pada kriteria minimal. Jawabnya simpel karena pendahulunya tidak melihat dalam kacamata visi beyond visual range. Jadi ya santai mawon, tidak ada ancaman untuk kita sampai tigapuluh tahun mendatang. Wong kita itu bersahabat dengan semua. Kita gak punya musuh and gak perlu kesusu apalagi misuh-misuh.

Siapa juga yang cari musuh. Tapi bukankah sahabat dari sahabat kita berpotensi jadi musuh kita. Atau mitra besar kerjasama ekonomi kita bisa jadi musuh kita. Konflik Timur Tengah contohnya. Meski berbaju egoisme kelompok puritan konservatif yang mudah diadu domba sesungguhnya adalah hasrat menggebu untuk penguasaan sumber daya energi fosil. Lihat saja Irak dan Libya sekarang siapa yang menguasai sumber daya energi fosil disana. Jadi musuh masa depan adalah mitra kita sendiri terutama yang haus sumber daya energi limited.

Dua hot spot di teritori kita saat ini yaitu perairan Natuna dan Ambalat bisa jadi di kemudian hari bertambah. Di perairan Arafuru misalnya yang juga kaya dengan sumber daya ekonomi fosil. Menjaga wilayah dua hot spot meski dalam kondisi damai tetap memerlukan energi ekstra berupa pengerahan sejumlah KRI setiap hari dengan dukungan patroli jet tempur.

Beredarnya publikasi anggaran tahun 2021 untuk penguatan alutsista TNI tentu menggembirakan kita semua. Kita akan membeli beragam jenis alutsista disamping memodernisasi alutsista eksisting. Ada penambahan yang siginifikan untuk jet tempur, pesawat intai, helikopter, radar, kapal perang fregat, kapal selam, peluru kendali berbagai jenis, drone, tank amfibi dan lain-lain. Termasuk menyempurnakan sistem manajemen pertempuran yang dikenal dengan network centric warfare. Pertengahan bulan ini ada seremoni peresmian kapal selam dan sejumlah KRI di Surabaya.

Memahami kebutuhan alutsista TNI sama dengan memenuhi kebutuhan rasa aman kita sebagai bangsa. Termasuk juga marwah dan harga diri bangsa. Rasa aman itu seperti tidak bermakna manakala kita sedang berada dalam kondisi aman. Padahal kondisi dan garansi aman itu tercipta karena ada institusi tentara yang senantiasa mengawal republik siang malam tanpa jeda. Oleh sebab itu sangat pantas dan wajar pengawal republik dicukupi kebutuhannya dengan alutsista canggih dan berkelas.

Kekuatan alutsista TNI yang modern, berteknologi canggih, interoperability adalah nilai marwah dan harga diri republik. Kualitas dan kuantitas berbagai jenis persenjataan untuk mengawal teritori negeri kepulauan adalah model diplomasi militer. Pengerahan sejumlah KRI dengan dukungan drone dan jet tempur di Ambalat setiap hari dan selama ini, bagian dari diplomasi militer. Dampaknya telah menihilkan infiltrasi dan manuver militer jiran disana. Bandingkan dengan keadaan sepuluh tahun yang lalu.

Maka pemenuhan kebutuhan alutsista TNI utamanya angkatan laut dan udara adalah capital gain dalam investasi pertahanan negeri. Bukan belanja sia-sia, bukan pula sebagai kebutuhan nomor dua. Belanja alutsista adalah untuk eksistensi negeri dan akan berguna selama bertahun-tahun. Selama waktu itu pula ada garansi rasa aman dan sekaligus rasa bangga memiliki alutsista canggih dan berkualitas. Dan bagi negara lain kekuatan militer dan alutsista kita menjadi penggentar untuk berlaku tidak pantas. Jadi bukan untuk perang semata tetapi bisa menjadi formula untuk mencegah perang atau konflik. Selamat tahun baru 2021.

****

Jagarin Pane / 02 Januari 2021

Wednesday, December 23, 2020

Cerdas Menyikapi Dan Harus Dihadapi

Catatan perjalanan politik luar negeri Indonesia ke depan dan diplomasi militer yang menyertainya adalah cepat mengantisipasi dan cerdas memilih. AS telah menyatakan sikap tegas, jelas dan terang-terangan bahwa musuh utama jangka panjangnya adalah China. Arah strategi militernya adalah menuju head to head dengan China. Palagannya adalah Laut China Selatan (LCS). Palagan itu ada di depan halaman rumah kita. Sudah kuatkah pagar halaman rumah kita?

Persoalan di LCS bisa berimplikasi luas karena lawan tandingnya tidak tanggung-tanggung, si naga perkasa China. Timur Tengah seruwet apa pun persoalannya masih bisa terukur titik didih konfliknya. Tapi untuk LCS panasnya konflik bisa membuat semuanya game over. Bayangkan saja, begitu tegangnya suasana di lapangan antar dua armada gajah, bisa saja prajurit salah mendeteksi, salah pencet tombol, lalu meluncur peluru kendali balistik. Pihak yang disasar mendeteksi kemudian balas meluncurkan rudal. Perang terbuka bisa terjadi karena salah pencet tombol. Apalagi kalau yang diluncurkan rudal nuklir. Duh Gusti.

Itu sebabnya Menhan Prabowo bergeliat dan bergerak cepat. Dia lihat alutsista matra laut dan udara kita tidak sepadan dengan luasnya teritori dan panasnya konflik LCS. Harus ada tambahan berlipat untuk alutsista laut dan udara agar setidaknya sedikit bisa mengimbangi dan tidak kalah gertak. Kapal perang jenis fregat dan destroyer serta kapal selam senyap adalah kebutuhan alutsista yang harus segera ada. Termasuk puluhan jet tempur double enjine beserta ragam persenjataannya. Harus ada dan secepatnya.

AS sudah membidik Indo Pasifik, membidik China sebagai musuh jangka panjangnya. Di lokasi yang sama juga ada konflik semenanjung Korea dan Taiwan. Pergeseran kekuatan militernya sedang dilakukan. Perlahan tapi pasti Timur Tengah mulai ditinggalkan. Cerdiknya lagi AS berhasil melunakkan sikap negara-negara Arab untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tercatat UEA, Bahrain, Sudan dan Marokko selama empat bulan terakhir ini sudah berdamai dengan musuh lahir bathinnya. Diprediksi Arab Saudi dan Oman menyusul. Dinamika permusuhan di Timur Tengah saat ini merubah peta konflik dari Arab-Israel ke Arab-Iran. Israel juga musuh utama Iran.

Jadi pusat konflik sekarang dan masa depan adalah Indo Pasifik utamanya LCS. Dan teritori kita di perairan Natuna bersinggungan dengan pusat konflik. Sudah siapkah kita. Jawabnya belum. Ujian diplomatik kita akan terus diuji dengan sindiran dan gertakan salah satu pihak. Kalau diplomat dan pejabat AS yang tandang ke Jakarta, pihak sono muring-muring dan menyindir. Demikian juga jika Beijing mengirim delegasi diplomasi, Washington mengingatkan pentingnya fungsi kemitraan.

Kemenlu harus bermain siasat cerdik, harus pintar berkomunikasi dengan kedua belah pihak yang berseteru. Ketika kita menolak landing take off pesawat pengintai strategis AS Poseidon di seluruh Lanud kita, China bersorak dan memuji Indonesia. Sebaliknya ketika Menlu dan Menhan AS ke Jakarta dalam waktu berdekatan, Beijing merepet soal kebersamaan ASEAN yang tidak perlu dicampuri negara yang jauh dari kawasan damai ini. Penting menjaga bandul tetap seimbang agar kita tidak terjebak oleh percaturan hegemoni dan penantang hegemoni. Tapi soal kita memperkuat garda nasional China tidak ambil pusing, sebaliknya AS sangat mengharapkan perkuatan militer kita.

Soal perairan Natuna, area tumpang tindih ada di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) nya. Indonesia berpendapat tidak ada titik singgung di ZEE Natuna. ZEE Indonesia sah dan diakui oleh hukum laut internasional. Sementara klaim China di LCS tidak diakui dunia. Datangnya rombongan kapal Coast Guard China area bermainnya di sektor tumpang tindih itu. Bukan di seluruh perairan Laut Natuna Utara. Artinya kita harus menyikapi segmen potensi konflik ini dengan proporsional. China tidak mengusik ZEE kita di Anambas, justru dengan Vietnam kita masih berselisih soal batasnya. Jelasnya biarlah AS yang menjadi tameng LCS karena dialah yang mampu mengerem ambisi teritori China.

Meskipun begitu kita harus bergerak cepat untuk memperkuat pagar teritori. ALKI 1 dan ALKI 2 diprediksi akan menjadi jalur ramai lintas laut militer AS dan Australia. Apalagi jika pangkalan Armada 1 AS yang mau dibentuk berada di Singapura. Wah rame dong. Singapura  ikut terlindungi.  TNI AL tentu harus terus bersiaga baik di jalur ALKI maupun Natuna. Kekuatan armada KRI mau tidak mau harus ditingkatkan dengan sejumlah kapal fregat dan destroyer secepatnya. Beruntunglah Iver Class sudah final menuju kontraknya, semoga bisa dibuat secara paralel dan serentak selesai. 

Sudah saatnya kita bergerak cepat dan lugas. Angkatan Laut dan Angkatan Udara patut mendapat pembaharuan alutsista. Sejumlah kapal perang kelas fregat sedang disiapkan. Selain Iver Class kelanjutan PKR 10514 batch 2  Martadinata Class sedang berproses. Pertemuan Presiden Jokowi dengan Raja Belanda Willem Alexander bulan Maret lalu sudah memperjelas arahnya. Fokus saja dulu pada 2 Iver Class dan 2 Martadinata Class. Kemudian untuk matra udara jet tempur Typhoon bisa jadi prioritas utama dilanjut Rafale dan atau F15. Setidaknya itulah harapan kita sepanjang MEF jilid tiga ini sampai tahun 2024. Realistis kan.

****

Jagarin Pane / 23 Desember 2020

Thursday, December 10, 2020

Pertarungan Di TikunganTerakhir

Pejabat Menteri Pertahanan AS langsung terbang ke Jakarta ketika mengetahui posisi marketing alutsistanya merasa disepelekan dan disalip oleh kompetitor Eropa, Perancis. Melalui publikasi luas di media internasional Perancis hampir pasti memperoleh pesanan 36 jet tempur Rafale untuk Indonesia. Sementara dengan Austria pembelian 15 jet tempur Eurofighter Typhoon bekas pakai sudah hampir final. Lha nasib F16 Viper pripun njih. Wis sampeyan mangkat teng jekardahh, titah Trump sebelum lengser keprabon.

Menteri Christopher Miller dan tim lobby marketing Kemenhan AS berdiskusi hangat dengan Kemenhan RI. Nilai tawar Indonesia sangat bergema di ruang rapat yang sejuk karena Jakarta sedang menikmati indahnya hujan Desember. Prabowo tidak ingin membeli jet tempur F16 Viper. Tegas dia katakan, kami ingin jet tempur F15, F18 atau F35. Sementara itu jiran sebelah pada nguping menunggu info lanjutan. Termasuk juga kompetitor Perancis.  Namun tiba-tiba senyap beberapa saat sebelum kemudian media Asia Nikkei mempublikasi luas hasrat besar Indonesia ini.

Prabowo ingin jet tempur double engine. F16 meski generasi paling mutakhir Viper tetaplah single engine. Layaklah, melihat hotspot Natuna, Ambalat dan luasnya teritori negeri, kita butuh jet tempur berdaya gebuk tinggi. Maka sayonara lah F16 Viper. Paman Sam mengalah. Padahal Taiwan yang sekutu dekatnya saja dan berada pada posisi terdekat dengan China hanya diberi F16 Viper. AS akhirnya mempersilakan kita memilih F15 atau F18. Sementara untuk jet tempur siluman F35 bukan tidak disetujui namun antrian daftar tunggu mencapai 10 tahun. Kelamaan. 

Lalu mengapa 15 jet tempur Typhoon tetap diambil. Karena kita butuh segera mengoperasikan jet tempur ini. Barang sudah ada, bekas pakai meski jarang dipakai Austria. Typhoon yang juga double engine diperlukan segera sebagai pesawat intersep utamanya untuk melindungi Natuna. Sementara yang lain apakah itu Rafale, F15 masih harus menunggu proses produksi setidaknya 4 tahun. Typhoon kalau oke bisa datang semester kedua tahun depan. Gap 4-5 tahun harus diisi dengan Typhoon.

Tetapi apakah kemudian Rafale bisa disalip di tikungan terakhir, kita berpandangan tidak. Pertarungan di tikungan terakhir memang seru namun Rafale tetap berlanjut, mungkin jumlahnya yang dikurangi dari 36 menjadi 24 unit. Nah yang 12 unit untuk jet tempur F15. Atau bisa saja kombinasinya 32 Rafale dan 16 F15. Semua akan terjawab di bulan Januari 2021 nanti. Pandangan lain menyebut shopping list yang dibeli dari AS melalui program FMS yang sudah disetujui adalah pesawat Hercules type H dan J, helikopter Chinook, helikopter Blackhawk, rudal Amraam. Peluang Osprey kelihatannya mengecil, terlalu mahal dan terkesan mewah.

Biasanya lobby tingkat tinggi AS lewat pejabat Kemenhannya yang datang terburu-buru menunjukkan poin penting untuk digarisbawahi.  Jangan permalukan AS, jangan tinggalkan AS dan jangan remehkan AS. Karena kita sudah diberi perpanjangan fasilitas ekspor GSP, dan AS sudah berjanji akan investasi besar di Indonesia. Paman Sam sudah membuka pintu seluas-luasnya untuk kita. Pakde Sam sudah banyak ngalah demi kemitraan menjaga Laut China Selatan. Tidak ada makan siang gratis. Pintar-pintarlah kita membawa diri di ruang diplomasi yang sangat dinamis ini. Dan tetap netral.

Yang menggembirakan adalah pernyataan seorang pejabat Kemenhan RI yang sudah tersebar luas di media internasional. Bahwa Indonesia akan menambah 100 jet tempur mutakhir, melatih 300 pilot jet tempur dan 100 pilot Hercules. Ini program besar dan harus terealisir mengingat hot spot yang dihadapi Indonesia juga termasuk kelas berat. Pernyataan ini tentu membanggakan termasuk ketika kita diperbolehkan menggunakan jet tempur F15 yang sangat terkenal itu.

Indonesia sedang bergiat kuat untuk segera memenuhi kekuatan alutsistanya di seluruh matra. Kebutuhan kapal selam untuk TNI AL dengan kandidat terkuat Scorpene dari Perancis. Satuan peluru kendali darat ke udara (SAM) jarak menengah dan jarak jauh. Juga helikopter serang, tank amfibi, panser amfibi untuk Marinir. Sejumlah kapal perang jenis Fregat dari Belanda, Jepang, Perancis dan Italia. Semuanya sedang berproses. Khusus untuk pengadaan 2 kapal perang real fregate Iver Class dari Denmark sudah final, tinggal menunggu sign kontrak dalam waktu dekat.

Maka di hari-hari mendatang, minggu mendatang dan bulan mendatang diniscayakan kita akan mendapatkan berita yang menggembirakan untuk tentara kita. Penandatanganan kontrak alutsista strategis secara beruntun dan kedatangan berbagai jenis alutsista adalah anugerah dan kebutuhan. Bahwa negeri ini perlu payung kekuatan yang memadai untuk melindungi teritori karena teritori adalah harga diri dan marwah negara. Kita harus kuat secara ekonomi dan militer, dua-duanya harus seiring sejalan. Tidak bisa tidak. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Si Vis Pacem Parabellum. Vivere Pericoloso, nyerempet-nyerempet bahaya tidak mengapa.

****

Jagarin Pane /10 Desember 2020

Saturday, December 5, 2020

Desember Ceria

Sepanjang pekan ini berbagai media internasional memberitakan secara lugas dan jelas tentang perkembangan terkini dari hasrat yang menggebu untuk pengadaan alutsista strategis Indonesia. Utamanya jet tempur. Media Perancis, Kantor Berita Reuters, Jane's ramai-ramai memberitakan soal jalan cerita proses pengadaan 36 jet tempur Rafale made in Perancis. Termasuk juga progres pengadaan 15 jet tempur Typhoon Austria.

Menariknya tidak ada satu pun media kita yang ikut meramaikan berita ini kecuali mengutipnya. Termasuk juga Kementerian Pertahanan, biasa-biasa saja. Meskipun begitu tetap selalu ada berita gembira untuk militer Indonesia setiap hari setiap minggu. Misalnya peresmian satuan peluru kendali darat ke udara (surface to air missile) jarak menengah Nasams2 di Tangerang untuk payung perlindungan ibukota Jakarta.

Kemudian progres pembangunan 1 kapal perang LPD (Landing Platform Dock) rumah sakit dan 2 KCR (Kapal Cepat Rudal)  di PT PAL. Juga pembangunan 1 kapal perang jenis BCM (Bantu Cair Minyak) di galangan kapal swasta nasional dan selesainya pembangunan 2 kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank) oleh Koja Bahari. Kabar lainnya yang cukup menggembirakan adalah dimulainya pembangunan 2 kapal perang pemburu dan penghancur ranjau TNI AL di Bremen Jerman.

TNI AD baru saja kedatangan sistem rudal hanud titik batch 2 yaitu rudal Starstreak buatan Inggris. Dan sudah dialokasikan untuk Batalyon Arhanud TNI AD di Medan dan Pekanbaru. Berita lainnya adalah Lanud Saumlaki sudah bisa didarati Hercules.  Saat ini di Saumlaki dan Merauke sudah beroperasi pengindra jarak jauh Satuan Radar Master T. Kedua lokasi ini diprediksi akan menjadi dua titik pertahanan strategis Indonesia berupa penempatan satuan peluru kendali darat ke udara jarak jauh. 

Kabar lainnya TNI AU akan membangun pangkalan udara di pulau Subi kepulauan Natuna yang dekat dengan Sarawak Malaysia. Nantinya pangkalan ini akan terkoneksi dengan Supadio AFB Kalbar dan Raden Sadjad AFB di Natuna Besar. Yang tak kalah seru adalah berita suksesnya peluncuran roket RHan 450 jarak 100 km untuk yang kelima kalinya pekan ini.

Hari-hari ini kita juga menyaksikan adanya kesibukan di PT PAL. Dubes Denmark berkunjung kesana sepertinya sedang mempersiapkan hal-hal teknis soal pengadaan kapal perang fregat Iver Class. Sementara pada hari yang sama Dubes Jepang didampingi delegasi industri pertahanan Jepang berkunjung dan berdiskusi serius dengan Menhan Prabowo soal kerjasama pertahanan. Harapan tentang pengadaan 8 kapal perang fregat dari saudara tua Jepang semakin menggumpal.

Soal jet tempur, dalam pandangan kita sebenarnya saat ini sedang terjadi kekuatan tarik menarik diantara negara produsen alutsista canggih terhadap pembelinya. Amerika Serikat yang sudah memberikan perpanjangan GSP pada Indonesia dan akan menambah kucuran investasi sangat berharap kita membeli jet tempur F16 Viper dan atau F18 Hornet blok 3. Sementara Perancis punya peluang terbesar menurut versi mereka. Soalnya di media Perancis diberitakan bahwa Indonesia menginginkan proses pengadaan jet tempur Rafale dipercepat. Bulan ini diharapkan sudah teken kontrak, katanya. Persaingan antar negara kompetitor terlihat jelas.

Sementara untuk pengadaan kapal selam tiba-tiba berubah haluan, pindah ke lain hati neh. Pilihan beralih pada dua pilihan baru yaitu dari Perancis atau Jerman. Serial lanjutan "sinetron" Nagapasa Class batch 2 hampir pasti berantakan alias tidak happy ending. Lantaran produk batch 1 yang telah menghasilkan 3 kapal selam kerjasama transfer teknologi DSME Korsel dan PAL Indonesia tidak sesuai harapan pengguna. 

Sebenarnya kontrak awal Nagapasa batch 2 dengan Korsel sudah diteken tahun lalu. Namun kontrak efektif bersamaan dengan pembayaran DP belum ditandatangani. Pembatalan kontrak batch 2 ini berimplikasi denda dan bisa menjurus pada ketersinggungan diplomatik Korsel mengingat kerjasama alih teknologi ini sudah "dipayungi" oleh RI-1 dan Korsel-1 sejak era Presiden SBY sampai Presiden Jokowi.

Dari berbagai pemberitaan soal pemenuhan kebutuhan alutsista Indonesia yang begitu masif, kenyataannya memang kita sedang berupaya secepatnya untuk menghadirkan berbagai jenis alutsista. Dinamika kawasan yang begitu cepat berubah mengharuskan kita memiliki inventory alutsista yang berkualitas dan mencukupi. Saat ini setidaknya ada 2 hotspot yang harus dikawal, yaitu Natuna dan Ambalat. Belum lagi nanti jika Armada ke 1 AS akan  berpangkalan di sekitar kita. Dan nyatanya ketersediaan alutsista di kedua hotspot itu saja telah membuka mata kita bahwa masih banyak kebutuhan alutsista yang harus dipenuhi untuk negeri kepulauan ini.

Nah di bulan Desember ini diprediksi ada penandatanganan kontrak pengadaan alutsista gahar dan strategis bernilai belasan trilyun rupiah.  Dengan begitu bulan hujan yang penuh rahmat dan barokah ini menjadi bulan yang segar dan ceria. Desember ceria bisa menjadi tonggak awal dimulainya kedatangan alutsista skala besar setelah ada tandatangan kontrak di bulan ini. Semoga Desember ceria ini akan menjadi kenangan Desember yang indah di kemudian hari.

****

Jagarin Pane / 5 Desember 2020

Sunday, November 29, 2020

Antara Kerjasama Ekonomi Dan Ambisi Teritorial

Indonesia dan China baru saja menandatangani kerjasama jual beli batubara seharga 20,6 trilyun rupiah untuk tahun 2021. Sementara dengan AS, Indonesia diberi "hadiah" perpanjangan GSP ( General Specialized Preference)untuk ribuan produk ekspor kita ke AS sehingga mampu bersaing di pasar domestik AS. Sekaligus membuat surplus milyaran dollar neraca perdagangan bagi Indonesia. Fasilitas GSP ini sudah berlangsung sejak tahun 1985. AS juga akan berinvestasi besar di Indonesia termasuk di Natuna.

Dua hidangan terbaru dan terkini diatas disajikan di depan teras rumah kita. Kedua sahabat kita yang kekar itu mengetuk pintu rumah kita bergantian dengan gaya Hulk yang sopan banget. Tapi manakala sedang tumpah adrenalinnya keduanya jadi Hulk yang pamer otot berwarna hijau dan sorot mata merah tajam. Kerjasama ekonomi terbaru dengan kedua negara besar dan hebat itu yang sudah berlangsung lama patut kita sambut dengan sukacita.

Seandainya China bermain halus di Laut China Selatan (LCS), istilahnya "Njawani" begitu, mungkin saja situasi di LCS tidak sepanas sekarang. Tidak tergesa-gesa dan mengedepankan pola diplomasi yang cerdas, bermain cantik ketika berhadapan dengan seterunya AS. Bukankah prediksi ke depan China akan menjadi kekuatan ekonomi nomor wahid sejagat. Raih dulu itu sembari membangun kekuatan militer dan aliansi militer. Dengan Rusia misalnya. Dan tidak sekarang klaim itu, setidaknya sepuluh tahun ke depan. Pola China  berinvestasi dan donasi hutang ke sejumlah negara sudah cukup memberikan pengaruh. Sabar gitu loh.

Sayangnya untuk urusan  LCS dilakukan dengan tergesa-gesa dan kasar. Mentang-mentang, pamer kekuatan dan menyakitkan beberapa negara ASEAN. AS dan sekutunya menemukan blunder besar dan kemudian melakukan counter attack yang mendebarkan. Pemilik hegemoni dan polisi dunia ini kemudian bergerak lincah ke segala lini mengopinikan China sebagai tersangka hukum laut internasional.

AS dengan cepat merangkul India untuk merapatkan barisan bersama Jepang dan Australia. Kebetulan India juga sedang melotot dengan China. NATO yang nun jauh disana diajak bergegas. Saudara sepupunya Inggris siap sedia mengirimkan armada lautnya ke LCS. Dan ini yang terpenting, AS sudah, sedang dan akan menggeser separuh kekuatan militernya ke Indo Pasifik. Kemudian akan membangun Armada ke1 khusus untuk LCS. Alamak.

Nasi sudah menjadi bubur ayam, sehingga makan rendang pun harus cepat mengunyahnya karena di depan halaman rumah ada kegaduhan. Semburan api lidah naga membuat LCS demam tinggi dan bergelombang. Perubahan cuaca yang cepat ini membuat sejumlah negara ASEAN juga Taiwan dan Jepang memperkuat barikade militer. Termasuk Indonesia. Semua bergegas. Taiwan pesan 60 jet tempur F16 Viper, ratusan peluru kendali pertahanan pantai dari AS dan lain-lain. Jepang berlari cepat bangun kekuatan armada laut dengan puluhan destoyer, merubah LHD jadi kapal induk F35 yang landing take off vertikal.  Sudah dan sedang menerima ratusan jet tempur siluman F35 dari AS.

Negara-negara ASEAN seperti Vietnam dan Filipina beradu cepat memperkuat militernya. Sama halnya dengan kita. Kelihatannya hanya Malaysia yang tidak bergegas memperkuat militernya. Padahal sudah 90 kali perairan zona ekonomi eksklusif Malaysia disatroni China termasuk pesawat pengebom strategisnya.  Kementerian Pertahanan Indonesia sepanjang perjalanan tahun ini dengan langkah cepat berupaya mendatangkan sejumlah alutsista strategis dan gahar dari sejumlah negara produsen alutsista. Semua dalam proses dan harus cepat.

Namun sejalan dengan itu kerjasama ekonomi dengan China tetap berlangsung mulus. Jepang dengan China oke-oke saja tuh. Investasi China di Vietnam lancar dan besar. Perdagangan AS dengan China meski diwarnai saling embargo tetap berjalan. Kerjasama ekonomi Indonesia dan China sangat baik dan menguntungkan kedua belah pihak. Sejatinya saat ini tidak ada satupun negara yang tidak melakukan kerjasama ekonomi antar negara. Simbiosis mutualistis, saling memerlukan dan ketergantungan satu sama lain.

Maka lihatlah China ketika dia memulai konfrontasi di LCS dan dengan India. Meski kuat secara militer tetapi dia sendirian. Secara diplomasi dia kalah opini.  Dan secara hukum internasional jelas salah. Artinya diluar kerjasama ekonomi, China menjadi musuh bersama. Ambisi teritori China yang dilakukan secara terburu-buru, sembrono dan egois telah menimbulkan luka diplomatik bagi sejumlah negara. Namun karena simbiosis mutualistis tadi dan untuk kepentingan nasional masing-masing negara, tetap tersenyum dan bertransaksi dengan China, juga sebaliknya.

Maka disini berlaku hukum tegas: Si vis pacem parabellum. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Perseteruan NATO dan Pakta Warsawa di era perang dingin membuktikan hal ini. Puluhan ribu tank,artileri, roket, rudal dan senjata nuklir berikut ratusan ribu prajurit kedua belah pihak digelar di sepanjang perbatasan Eropa Barat dan Timur. Dan perang tidak terjadi selama lebih dari 40 tahun. Pada saat yang sama pertumbuhan ekonomi dunia tumbuh dengan cemerlang. Yang terjadi kemudian Pakta Warsawa bubar, Uni Sovyet bubar, Yugoslavia bubar, Jerman Barat dan Timur bersatu.

Maka untuk menghadapi arogansi militer China,  kita harus secepatnya memperkuat militer dan alutsista. Wajib hukumnya karena ini menyangkut marwah dan harga diri bangsa. Semua negara menganut paham ini. Oleh sebab itu mari kita sambut dengan gembira tawaran Jepang untuk menguatkan armada angkatan laut kita dengan 8 kapal perang fregat. Kita sambut tawaran AS untuk menguatkan angkatan udara kita dengan jet tempur dan lain-lain. Namun sebagai warga dunia di bumi bulat bundar ini kita tetap melakukan kerjasama ekonomi antar negara yang saling menguntungkan termasuk dengan China.

Dengan memperkuat militer dan kemampuan berdiplomasi, diniscayakan ada rasa segan untuk melakukan konfrontasi terbuka. Lihat saja pamer kekuatan AS dan China di LCS dan Selat Taiwan, silih berganti, saling gertak, saling ejek, saling lempar statemen. Dan hanya sebatas itu. Karena keduanya sebenarnya saling segan menyegani, dan tetap saja damai, dan tetap saja melakukan kerjasama ekonomi skala besar.

Yuk kita berbenah cepat dengan pakem yang sama, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Segera perkuat tentara kita dengan alutsista gahar, dengan jumlah yang sepadan dengan luasnya teritori kita. Kita bangun dan kembangkan manajemen pertempuran modern dengan kemampuan network centric warfare. Dan yang terpenting tetap menjaga iklim netralitas. Menjaga hubungan baik dengan China, dengan AS, Jepang, dengan negara-negara ASEAN. Eh hampir kelupaan tetangga selatan kita Australia sebut juga dong. Habis dia bertetangga suka gak ikhlas sih.

****

Jagarin Pane / 29 Nopember 2020

Monday, November 23, 2020

Mencermati Langkah Kuda Militer AS di LCS

Bukan AS namanya kalau tidak mengambil langkah kuda untuk menjaga posisi keunggulan militernya. Baru saja tersiar publikasi bahwa AS akan menghidupkan kembali Armada ke 1 untuk mengawal ketat perairan Laut China Selatan (LCS). Dan ini yang sangat mungkin, menjadikan Singapura sebagai pangkalan utama Armada ke 1 AS. Termasuk juga pulau Christmas di selatan Jawa.

Sebenarnya saat ini sudah ada Armada ke 7 AS yang berpangkalan di Yokosuka Jepang. Yang selama ini bermanuver di LCS ya dari gugus tempur Armada ke 7 itu dengan satu kapal induk, 20.000 pasukan, puluhan kapal pengiringnya dan 150 pesawat berbagai jenis. Namun menurut Secretary of the Navy Kenneth Braithwaite rentang kendali Yokosuka terlalu lebar, tidak efektif karena juga harus mengawal Korea Utara dan Taiwan serta memayungi Jepang.

Dalam pandangan kita sebenarnya ini adalah bagian dari strategi cerdas AS  menutup celah dan akses ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) untuk militer China ke Samudra Hindia. Sebab di timur Indo Pasifik sudah ada pangkalan militer AS di Guam, utara Papua dan Subic di Filipina yang bisa kembali digunakan setelah ditutup. Subic dan Clark adalah pangkalan militer terdepan AS dalam perang Vietnam. Juga di Darwin Australia sudah ada penempatan satu brigade pasukan Marinir AS dan salah satu pangkalan aju AL AS.

Jika Singapura jadi pangkalan Armada ke 1 AS, ini benar-benar di depan hidung kita sebab Batam dan Tanjung Pinang ada di sebelahnya. Tanjung Pinang adalah salah satu pangkalan strategis TNI AL dan sebagai salah satu mata rantai logistik militer mengawal Natuna. Sebenarnya sudah lama AS menggunakan Singapura sebagai tempat singgah, bekal ulang dan rehat untuk armada kapal perangnya. Namun volumenya tidak sering.

Singapura punya resiko tinggi jika menjadi pangkalan AL AS. Beijing yang sendirian dan gondok sudah pasti akan mengarahkan peluru kendali konvensional dan nuklir jarak jauhnya kesana. Menarget negeri pulau itu untuk menjadi sasaran tembak peluru kendali balistik China jika terjadi perang besar. Tijitibeh kata China, mati siji mati kabeh.

Jika armada ke 1 AS aktif kembali dan mengambil Singapura dan Christmas Australia sebagai pangkalan AL maka kita mau tidak mau harus menyesuaikan kondisi itu dengan membesarkan kekuatan TNI AL segera. Tidak bisa tidak.  Selat Sunda, Selat Malaka adalah pintu keluar masuk Armada ke 1 AS dan kapal perang yang lewat bukan sembarang kapal perang. Setiap melewati ALKI mereka pasti memetakan situasi sekitar perairan termasuk bawah air untuk kepentingan intelijen.

Belum lagi kekuatan angkatan laut India yang sudah mulai "pdkt" dengan AL AS. Untuk diketahui empat negara QUAD yaitu AS, India, Australia dan Jepang baru saja melakukan latihan militer bersama di Teluk Benggala. Dan akan dilanjut di Laut Arab akhir bulan ini. Persekutuan informal 4 negara ini suatu saat bisa menjadi aliansi militer paling gerun di Asia jika ada kesepakatan formal diantara mereka.

Pengambil kebijakan bidang pertahanan kita, tidak bisa  lagi bekerja dengan prosedur standar apalagi menganggap kehadiran armada ke 1 AS sebagai hal yang biasa. Harus ada upaya percepatan pengadaan kapal perang dan fleksibilitas kemitraan. Disatu sisi kita percepat perkuatan AL dan AU, di sisi lain kita harus mampu membawa fleksibilitas jatidiri ditengah perubahan dan dinamika kawasan.

Meski Singapura menjadi pangkalan AL AS namun negara kota itu hanya sebuah titik. Karena sesungguhnya durasi lalulintas kapal perang Armada ke 1 AS yang datang dan pergi mutlak harus melewati ALKI. Siapkah kita mengawalnya. ALKI adalah jalur laut pelayaran internasional namun kalau yang lewat kapal perang tetaplah kita siaga dan memperlihatkan diri.

Pangkalan AL yang ada di ALKI-1 harus diperkuat dengan tambahan kapal perang. Padang, Sabang, Belawan segera berbenah. Penuhi kekuatan standar pangkalan AL dengan tambahan kapal perang minimal jenis korvet. Termasuk sistem persenjataan pertahanan pangkalan. Laut Jawa juga bagian dari ALKI dimana di sisi selatannya ada pangkalan TNI AL terbesar yaitu Surabaya dan Jakarta.

Proses pengadaan alutsista diharap tidak bertele-tele. Pengalaman soal pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 contohnya, terlalu lama durasi prosesnya, tiga tahun. Jika bisa diselesaikan lebih awal, dipastikan SU35 sudah hadir di langit nusantara.  Dulu di era duit terbatas untuk anggaran pertahanan, wajar kita sulit dan lama untuk mendapat alutsista. Sekarang sudah disediakan anggaran beli alutsista yang besar, mendapat barangnya pun ternyata lama juga.

Semua sedang bergerak dan berproses. Penuhi segera 3 skadron jet tempur dengan F16 Viper dan Sukhoi SU35, itu saja dulu. Lobby terus  Paman Sam agar pengadaan SU35 bisa berjalan mulus, tinggal selangkah lagi. Kemudian tawaran Jepang untuk menyediakan 8 kapal perang fregat modern disambut hangat. Jangan kelamaan mikir, percepat prosesnya. Sehingga diharapkan dalam lima tahun kedepan sudah tersedia kebutuhan kapal perang jenis fregat dan destroyer. Dan ini yang penting, punya marwah ketika beriringan dengan kafilah Armada ke 1 AS yang melintas ALKI.

****

Jagarin Pane / 22 Nopember 2020