Sunday, December 25, 2022

Belum Sepadan

Penamaan Bandara Soekarno Hatta adalah momentum sejarah tahun delapan puluhan untuk sebuah bandara nomor satu terbaru di Indonesia yang berlokasi di Cengkareng Tangerang. Bandara ini mulai beroperasi tangal 1 April 1985. Pada awalnya sempat terjadi tarik ulur soal penamaan Bandara ini. Bertahan di nama Cengkareng sebelum akhirnya ditetapkan nama Soekarno Hatta sebagai nama untuk dwi tunggal proklamator The Founding Father of Republic.

Hampir seluruh bandara utama di setiap negara memberi penamaan pada sosok pahlawan nasional terbaiknya. Misalnya Bandara Ben Gurion di Tel Aviv Israel, Bandara King Abdul Azis di Jeddah Arab Saudi, Bandara John F Kennedy di New York AS, Bandara Ninoy Aquino di Manila Filipina. Penamaan bandara sesuai dengan kebesaran nama seorang pahlawan di negara tersebut adalah manifestasi dari "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya". Seluruh bandara utama di Indonesia menyematkan nama pahlawan kecuali bandara Kualanamu di Sumut, bandara Minangkabau di Sumbar dan bandara Kertajati di Jabar.

Angkatan Laut Indonesia memiliki kapal perang modern light fregate "Bung Tomo Class" yaitu KRI Usman Harun 359. Ini merupakan penamaan dari 2 prajurit marinir (dulu KKO) yang dihukum gantung di Singapura pada tahun 1968 sebagai dampak konfrontasi Dwikora. Sangat tepat dua prajurit gagah berani ini disatukan namanya untuk penamaan KRI striking force TNI AL. Sesuai dengan semangat patriotik keduanya, Serda Usman dan Kopral Harun bahu membahu melakukan infiltrasi melalui laut dan berhasil melakukan sabotase, mengebom hotel Mac Donald Singapura bulan Maret tahun 1965. 

Saat ini TNI AL menunggu kehadiran kapal perang jenis korvet VVIP dengan nama KRI Bung Karno 369 yang sedang dalam proses pembangunan di galangan kapal swasta dalam negeri. Juga sudah ada penamaan Gelora Bung Karno (GBK) untuk stadion terbesar di Indonesia yang dibangun di era Presiden Soekarno. Artinya sudah ada penamaan utuh untuk seorang putra terbaik negeri ini, bapak bangsa. Setelah sebelumnya selama lebih tiga dekade stadion megah itu bernama Senayan. Sejarah kemudian mencatat Asian Games ke 4 tahun  1962 dilaksanakan di GBK dan Asian Games ke 18 tahun 2018 juga di stadion yang namanya sudah kembali menjadi GBK. 

Sesuai dengan marwah kedua tokoh besar ini, kita berpandangan bahwa perlu ada pemisahan nama Bandara Soekarno Hatta atau nama Jalan Soekarno Hatta dalam rangka menempatkan kedua nama besar itu pada maqam yang tertinggi untuk masing-masing sosoknya. Tidak lagi digabung atas nama dwi tunggal Proklamator. Salah satu usulannya adalah nama bandara di  CengkarengTangerang menjadi Bandara Soekarno atau Bandara Bung Karno. Karena bandara itu adalah bandara nomor wahid di Indonesia sekaligus pintu gerbang utama lalulintas udara di tanah air.

Bagaimana dengan Bung Hatta. Untuk sosok putra Sumatera Barat ini bisa diberikan untuk nama bandara Kualanamu di Deli Serdang Sumatera Utara Penamaan nama bandara terbesar di Sumatera ini sampai saat ini kesulitan " menemukan" sosok pahlawan yang bisa diterima semua komponen masyarakat disana. Dan sepanjang usia republik nama bandara utama di Sumut bukan nama pahlawan asal Sumut melainkan mengambil nama daerah lokasinya yaitu Polonia dan Kualanamu. Nah jika nama Muhammad Hatta disematkan untuk bandara Kualanamu diyakini akan diterima semua pihak karena wakil presiden pertama ini mewakili semua aspirasi Sumatera. Dan kelas bandara Kualanamu setara dengan kebesaran nama Bung Hatta.

Demikian juga untuk nama jalan Soekarno Hatta, mestinya harus terpisah. Hampir di semua kota di Indonesia nama jalan Soekarno Hatta kalah tempat dan kalah strategis dengan nama jalan Jendral Sudirman. Sudah namanya digabung atas nama dwi tunggal posisi penamaan jalannya juga di "pinggiran" kota. Kita berpendapat ini belum sepadan dengan pembudayaan nilai-nilai kejuangan 1945 yang dibangun dua pendiri republik ini. Marwah perjuangan tahun 1945 harus kita kuatkan dan lestarikan di era digital milenial ini.  Salah satunya adalah membangun persepsi kebesaran nama Bung Karno dan Bung Hatta. Dengan contoh teknis usulan penamaan bandara dan jalan protokol yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan tahun 1945. Merdeka !

***

Jagarin Pane / 25 Desember 2022


Tuesday, December 6, 2022

Kepantasan Seorang Yudo Margono

Saatnya Panglima TNI dijabat "Laksamana Raja Di Laut", begitu kira-kira meminjam judul lagu dendang melayu klasik yang dinyanyikan Iyet Bustami. KSAL Laksamana Yudo Margono setelah sabar setahun menunggu, akhirnya tampil sebagai pucuk pimpinan TNI menggantikan Jendral Andika Perkasa. Sejauh ini sepanjang sejarah republik baru ada 2 figur KSAL yang mendapat kesempatan menjadi Panglima TNI selain Laksamana Yudo. Dan itu terjadi di era reformasi pasca 1998. Mereka adalah Laksamana Widodo AS dan Laksamana Agus Suhartono.

Yudo Margono sebelum menjabat sebagai KSAL dipercaya sebagai Pangkogabwilhan I yang wilayah operasionalnya salah satunya adalah hot spot terpanas Laut Natuna Utara (LNU). Antisipasi dinamika LNU yang demam berkepanjangan adalah konsentrasi penuh armada tempur TNI AL untuk siaga penuh. Tentu bersama TNI AD dan TNI AU. Sudah ada brigade tempur komposit Gardapati di Natuna dengan sejumlah pergelaran alutsista berbagai jenis. Ada skuadron jet tempur, UAV, satuan radar, sejumlah KRI disana. Termasuk kapal-kapal BAKAMLA dan KKP.

Inisiatif KSAL membangun kapal perang striking force jenis korvet untuk VVIP dengan nama KRI Bung Karno 369 adalah untuk sebuah refleksi nasional. Ini adalah kapal perang kepresidenan. Pemberian nama KRI Bung Karno sekaligus untuk mengingatkan kita betapa seorang "Bung Besar" Soekarno dengan "Dekrit Trikoranya" tahun 1961 mampu menjadikan angkatan laut Indonesia berjaya, disegani dan terkuat di kawasan bumi selatan. 

Bayangkan saat itu kita mempunyai seratusan kapal perang dan 12 kapal selam "Whiskey Class" dari Uni Sovyet. Juga kekuatan angkatan udara yang menggetarkan kawasan dengan seratusan pesawat tempur dan bomber strategis. Atas dasar kekuatan armada yang besar ini Presiden AS John F Kennedy kemudian "membujuk" Belanda agar bersedia keluar dari Papua secara terhormat melalui diplomasi dan bendera PBB. Akhirnya Belanda bersedia "pulang kampung".

Pembangunan kapal perang jenis korvet KRI Bung Karno 369 ini dibuat oleh galangan kapal swasta nasional di Batam. Bukan beli dari luar negeri. Dan ini jelas satu semangat dengan kalimat "Berdikari" yang digemakan The Founding Father Republik Indonesia. Seremoni penamaan KRI Bung Karno 369 dilakukan oleh Presiden ke 5 Megawati Sukarno Putri bersama KSAL tgl 20 Juni 2022 yang lalu di Jakarta.

Yudo Margono adalah figur sederhana yang lugas dan lincah dalam menjalankan tugas ketentaraannya. Jauh dari hingar bingar politik. Laksamana raja di laut kelahiran Madiun limapuluh tujuh tahun lalu dan suami seorang perwira Polri berpangkat AKBP ini dibalik kesederhanaannya, mimik wajahnya selalu memperlihatkan keseriusan dan ketegasan. Pada sisi yang lain dia juga ternyata seorang humanis  yang pintar berdendang. Vokal campur sarinya enak didengar.

Sebagai KSAL yang sedang mengembangkan kekuatan TNI AL, Yudo memindahkan markas Guskamla (Gugus keamanan laut) untuk bermarkas di Sabang. Kemudian Koarmada Satu  dipindah dari Jakarta ke Tanjung Pinang. Koarmada Dua di Surabaya dan Koarmada Tiga di Sorong Papua. Sangat tepat keputusan memindahkan markas Koarmada Satu di "garis depan" Kepulauan Riau. Juga sekaligus markas Kogabwilhan Satu. Rentang kendali dan efektivitas operasi KRI lebih terukur. Tidak perlu bolak balik ke Jakarta.

PT PAL saat ini sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang jenis fregat Arrowhead 140. Juga ada pesanan on going project sedang dalam proses produksi belasan kapal perang untuk TNI AL seperti OPV, LST, LPD, penyapu ranjau, KCR, KPC, BCM. Untuk alutsista marinir bisa dong lebih diprioritaskan pertambahannya karena sudah dikembangkan menjadi 3 divisi. Pasukan marinir adalah pasukan serbu pantai maka sangat wajar alutsistanya perlu ditambah secara kuantitas dan kualitas.

Kita berharap Laksamana Yudo mampu mengembangbesarkan angkatan laut negeri kepulauan ini bersama dua matra lainnya. Tentu bersinergi dengan Kementerian Pertahanan. Program modernisasi 41 KRI striking force dapat diselesaikan karena dinamika potensi konflik di kawasan sudah di depan mata. Juga penambahan jet tempur, satuan peluru kendali berbagai jenis, radar GCI dan pesawat peringatan dini AWACS. Indonesia harus mempersiapkan kekuatan militernya sebagai antisipasi cuaca terburuk di kawasan Indo Pasifik, khususnya Laut China Selatan. Laksamana raja di laut sudah sangat paham sekali soal geopolitik dan geostrategis ini.

****

Jagarin Pane / 6 Desember 2022


Thursday, November 24, 2022

Menunggu Final Decision

Penguatan alutsista TNI secara extra ordinary terus dilakukan pemerintah melalui Kementerian Pertahanan yang bersinergi dengan Bappenas dan Kementerian Keuangan. Terakhir kabar yang mengemuka adalah lanjutan proses pengadaan 36 jet tempur canggih F15 ID yang pintu gerbangnya sudah dibuka lebar pemerintah AS.  Kemudian diyakini dipermudah lagi dengan persetujuan lewat jalur antar pemerintah G to G, melalui mekanisme FMS (Foreign Military Sales).

Ini kurang lebih sama dengan proses pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 ID dan 8 helikopter serbu Apache beberapa tahun yang lalu lewat mekanisme FMS. Yang beda adalah proses pengadaan 5 pesawat angkut berat Super Hercules yang kontrak efektifnya ditandatangani tahun 2019 lewat jalur G to B, dengan pola DCS (Direct Commercial Sales). Kemenhan RI langsung bernegosiasi dengan OEM (Original Equipment Manufacturer) Lockheed Martin AS. Patut dicatat bahwa ekspor alutsista AS baik yang melalui jalur FMS maupun DCS harus mendapat persetujuan dari pemerintah dan parlemennya.

Pengadaan jet tempur F15 ID sangat dipengaruhi oleh keinginan kuat Indonesia untuk mendigdayakan kekuatan angkatan udaranya yang punya ruang udara seluas Eropa. Disamping itu sebagaimana pernah mengemuka bahwa AS telah memberikan fasilitas keringanan bea masuk ribuan komoditi ekspor Indonesia ke Paman Sam. Fasilitas ini dikenal dengan istilah populer GSP (General Specialized Preference). Dengan itu surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai puluhan milyar dollar selama puluhan tahun. Pada era pemerintahan Donald Trump GSP ini pernah mau dicabut. Nah, pembelian alutsista dari AS salah satunya adalah untuk meringankan timbangan neraca yang berat sebelah, kata pemerintahan Trump waktu itu.

Keputusan pemerintah AS memberi ruang bagi Indonesia untuk mendapatkan jet tempur canggih F15 ID merupakan langkah kuda seiring dengan dinamika geopolitik kawasan Indo Pasifik. Tetapi seiring dengan perkembangan teknologi kedirgantaraan terkini masih ada kelas jet tempur siluman F35 yang lebih mutakhir. Dan hanya negara sekutu AS yang bisa mendapatkannya seperti Australia, Singapura, Korsel dan Jepang. Meskipun begitu kita berpendapat sudah sangat bagus memperkuat teritori kedirgantaraan dengan jet tempur F15 ID sebagai pengganti jet tempur Sukhoi SU35. Apalagi sudah ada jet tempur Rafale dan Mirage.

Keputusan akhir (final decision) ada ditangan pemerintah, kata Menhan Prabowo kemarin. Dan pastinya Kementerian Pertahanan bersama Bappenas dan Kementerian Keuangan sedang berkoordinasi ketat seiring dengan tenggat waktu. Presiden yang akan memutuskan dengan mempertimbangkan banyak hal. Misalnya pintu persetujuan sudah lapang, GSP sudah aman, FMS terbuka lebar. Namun situasi dan antisipasi cuaca buruk perekonomian ke depan juga harus disikapi dengan serius dan waspada. Sementara persetujuan pemerintah AS akan expired akhir tahun ini jika tidak ada respon tindak lanjut dari Indonesia. 

Prediksi kita pemerintah akan bersetuju dengan pengadaan jet tempur ini tetapi jumlahnya mungkin tidak sampai 36 unit. Melainkan hanya ada di kisaran 16-18 unit. Sepertinya ini win-win solution. Bukankah awalnya Menhan Prabowo yang bertandang ke AS untuk minta persetujuan. Kemudian pemerintah AS merespon. Melalui lembaga dibawah kementerian pertahanan DSCA (Defense Security Cooperation Agency) menerbitkan dan mempublikasikan persetujuan detail penjualan 36 jet tempur F15 ID. Artinya monggo kerso. Lalu Menhan berkunjung lagi ke Pentagon untuk negosiasi dan hal-hal teknis. Paling akhir Menhan AS Lloyd Austin berkunjung ke Jakarta Senin 21 Nopember 2022 yang lalu. Artinya semua ini adalah sinyal positif. 

Kita tidak perlu jua terpaku dan melotot dengan nilai dollar yang dipublikasikan DSCA bulan Pebruari 2022 yang lalu. Angka itu sesungguhnya adalah angka penawaran, bukan harga persetujuan kontrak. DSCA pernah menerbitkan harga penawaran Apache milyaran dollar. Nyatanya nilai kontrak efektifnya hanya separuhnya. Sembari menunggu final decision dari Presiden Jokowi kita berharap win-win solution akan menjadi marwah keputusan. Adonannya sudah tersedia, kesediaan pemerintah AS memberi lampu hijau, model FMS, menghargai persahabatan kedua negara, kita yang berinisiatif, ada GSP, antisipasi iklim perekonomian dunia yang menuju resesi, pandemi belum usai. Mari kita menunggu final decision dengan semangat membangun investasi pertahanan.

****

Jagarin Pane / 24 Nopember 2022

Friday, November 11, 2022

Memaknai Investasi Pertahanan

Ada beberapa netizen forum militer bertanya mengapa Indonesia harus belanja persenjataan banyak dan beruntun akhir-akhir ini. Mengapa tidak lebih mengutamakan belanja untuk ekonomi kesejahteraan negeri ini. Terminologi jawaban cerdas dari pertanyaan ini adalah memaknai belanja alutsista sebagai investasi pertahanan. Alokasi APBN untuk ekonomi kesejahteraan sudah terbagi di PUPR, kesehatan, pendidikan, subsidi, dana desa, UMKM dan lain-lain. Anggaran pertahanan kita sejauh ini masih di kisaran 0,8-0,9% dari produk domestik bruto. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 3%, India 2,7%, Inggris 2,2%, AS 3,5%.

Jujur saja selama ini kita sedikit lengah dalam membangun kekuatan militer based on navy and air force. Apalagi menganggap bahwa tidak akan ada musuh yang mengancam dan menyerang teritori NKRI selama duapuluh tahun ke depan. Ini yang kemudian menjadi tema statemen Menhan Prabowo ketika menjadi keynote speaker di acara Seminar Nasional TNI AU di Halim AFB Selasa tanggal 08 Nopember 2022.  Prabowo berharap para elite dan jendral dapat mengedepankan pola pikir strategis, mengantisipasi ancaman yang sudah di depan mata. Kita bangun kekuatan militer negeri ini secara signifikan untuk 20 tahun ke depan. Inilah investasi pertahanan untuk eksistensi dan marwah negara.

Dan sekarang ancaman itu jelas dan terang benderang. Suasana geopolitik dan geostrategis di kawasan Indo Pasifik saat ini sudah menyimpan bara api untuk konflik besar-besaran dan skala penuh. Ada tiga hotspot seperti bisul yang menunggu pecah bernanah di kawasan "timur jauh" ini, yaitu konflik Dua Korea di Semenanjung Korea, konflik China-Taiwan dan konflik di Laut China Selatan (LCS). China sudah membangun beberapa pangkalan militer canggih di kepulauan Spratly dan Paracel di LCS. Pertaruhan eksistensi dunia di masa depan ada di kawasan Indo Pasifik yang "satu kelurahan" dengan kita.

Semuanya merupakan potensi pertempuran dahsyat di kemudian hari. Sudah ada pakta militer baru berbau nuklir AUKUS antara Australia, Inggris dan AS. Latihan militer antar negara sudah sangat intens di berbagai tempat. Di Filipina, Australia, Korsel, Hawaii, Jepang silih berganti melakukan simulasi pertempuran multi nasional. Garuda Shield di Indonesia salah satu yang berskala besar diikuti 14 negara. Terakhir AS bersiap menempatkan 6 pesawat bomber strategis B52 bersenjata nuklir di Darwin Australia. Sementara Korut sudah mulai "bermain mercon balistik" menggertak Korsel dan Jepang.

Bagaimana dengan kesiapan kita. Filosofi si vis pacem parabellum ( jika ingin damai bersiaplah untuk perang) menjadi standar untuk memperkuat militer kita yang memang tertinggal jauh dari negara di kawasan.  Ya karena itu tadi menganggap tidak ada musuh yang mengancam dalam dua tiga dekade ke depan. Nyatanya dinamika kawasan LCS yang penuh gejolak ini membuat kita berkalkulasi dan berhitung. Hasilnya kita belum mencapai kekuatan militer minimal untuk menjaga negeri kepulauan terbesar di dunia ini. Maka digelarlah program MEF (Minimum Essential Force) sejak 13 tahun lalu yang kemudian diperhebat dalam tiga tahun terakhir ini.

Maka ketika ajang Indo Defence di Jakarta barusan, terdapat banyak persetujuan kontrak pengadaan alutsista untuk TNI. Nilainya milyaran dollar. Adalah sangat wajar dalam perspektif "baru bangun tidur" karena saat ini kita dituntut berlari untuk mengejar ketertinggalan kekuatan militer kita. Apalagi ternyata ada yang gagal datang seperti jet tempur Sukhoi SU35. Artinya ada rentang waktu yang terbuang. Kemudian yang lebih penting dalam kaitan ini, bahwa belanja alutsista sesungguhnya adalah untuk investasi pertahanan dengan durasi 20-30 tahun ke depan. Contoh kita membeli 42 jet tempur Rafale adalah untuk masa investasi 20-25 tahun kedepan. 

Yang namanya membangun investasi pertahanan apalagi untuk mengejar ketertinggalan terlihat dalam shopping list kementerian pertahanan. Ada kontrak pembelian rudal balistik Khan  dan Hisar. Pengadaan 5 Hercules, 12 jet tempur Mirage, 2 kapal perang penyapu ranjau, 6 pesawat amfibi.  Juga pengadaan 3 kapal cepat rudal, 2 OPV, 1 korvet, 1 LPD, 2 LST dari galangan kapal dalam negeri. Masih banyak shopping list yang lain.

Untuk semua itu mestinya harus kita sikapi dengan semangat membangun "dua sisi mata uang", ekonomi kesejahteraan dan pertahanan yang seiring sejalan. Negeri ini potensi pertumbuhan perekonomiannya ke depan diprediksi meningkat signifikan.

Release yang dikeluarkan IMF Oktober 2022 ini menempatkan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia  di urutan ke 7 berdasarkan paritas daya beli (GDP based on Purchase Power Parity). Ranking PDB nomor satu adalah China dan AS sudah tergeser ke posisi runner up. Sebuah pencapaian bagus Indonesia bisa menyalip Perancis dan Inggris. Namun sayangnya prestasi ini tidak mendapat porsi pemberitaan yang proporsional. Ironinya kalau ada berita bertema ghibah senang banget membahasnya.

Sinergi cerdas Bappenas, Kementerian Keuangan dan Kementerian Pertahanan patut kita apresiasi. Usulan investasi pertahanan Kemhan disambut dan disaring Bappenas dengan green light kemudian disaring lagi oleh Kemenkeu dengan penetapan sumber pembiayaan (PSP). Semua mekanisme ini dijalankan dengan semangat percepatan karena kebutuhan alutsista kita extra ordinary. Dengan sebuah sebab yang jelas, militer belum mencapai kekuatan minimal sampai saat ini. Ini fakta.

Seremoni pembuatan kapal perang terbesar heavy fregate Merah Putih akan dilaksanakan bulan ini di PT PAL. Kontrak efektif pengadaan 2 pesawat angkut berat Air Bus A400M diprediksi akhir tahun ini. Juga pelaksanaan repowering 41 kapal perang striking force TNI AL di galangan kapal dalam negeri. Tiga contoh ini adalah bagian dari shopping list yang berbilang puluhan item untuk bisa diselesaikan dalam MEF jilid tiga yang berakhir tahun 2024. Termasuk pengadaan jet tempur F15, kapal selam dan kapal perang heavy fregate selain Arrowhead 140.

Pencapaian pertumbuhan ekonomi kesejahteraan kita harus diimbangi dengan investasi pertahanan. Tidak bisa tidak. Lihat China sekarang, juga Jepang, Korsel, Singapura, Australia, Taiwan. Semua upaya ini dimaksudkan untuk keberlangsungan bernegara, melindungi pencapaian kesejahteraan, rasa aman dan percaya diri. Sekaligus memberikan efek segan bagi negara lain, ini yang disebut dengan diplomasi militer. Kekuatan ekonomi kesejahteraan yang dikawal dengan kekuatan militer yang sepadan sejatinya adalah marwah, prestasi dan gengsi sebuah negara. Kita sedang menuju pencapaian itu.

****

Jagarin Pane / 11 Nopember 2022

Monday, November 7, 2022

Indo Defence, Gelar Testimoni Inhan

Pergelaran dan pameran produk industri pertahanan multi nasional dilaksanakan di JI Expo Kemayoran Jakarta mulai tanggal 2 sampai dengan 5 Nopember 2022. Ajang produk dan bisnis persenjataan ini mempertontonkan teknologi alutsista terkini yang diikuti 900 produsen alutsista dari 59 negara. Pergelaran berbagai jenis alutsista ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara, melahirkan banyak kesepakatan dan kontrak pengadaan untuk Kementerian Pertahanan Indonesia.

Industri pertahanan (Inhan) dalam negeri seperti Pindad, PAL,  PT DI dan swasta nasional mengerahkan seluruh kekuatan produksinya termasuk yang berwajah "mock up" demi untuk memperlihatkan potensi kemampuan dan bermarketing komunikasi. Ada manuver tank Harimau yang sedang dalam tahap produksi pesanan TNI AD. Ada panser Badak dengan persenjataan anti serangan udara Skyranger. Ada juga tampilan panser Anoa generasi ketiga. Semuanya buatan Pindad.

Kesepakatan kontrak antara Kementerian Pertahanan yang perlu diapresiasi di Indo Defence ini adalah Mild Life Modernization (MLM) atau upgrade 41 kapal perang TNI AL di sembilan galangan kapal dalam negeri dengan lead integrator PT PAL. Artinya 9 galangan kapal di dalam negeri yang sudah punya kemampuan membangun kapal perang mendapat kepercayaan untuk proyek strategis ini. Karena seluruh kapal perang striking force TNI AL kecuali Martadinata Class akan di upgrade infrastruktur tempurnya termasuk memperbaharui teknologi radar, integrasi komunikasi dan instalasi rudal terbaru.

PT PAL diketahui sedang merancang dan akan memproduksi kapal selam serang mini tanpa awak bekerjasama dengan Diehl Defense Jerman. Waktu bangunnya lebih cepat hanya 1 tahun dan punya efek gentar sebagaimana kapal selam serang ringan. Panjang 25 meter dengan Artificial Intelligence dengan waktu operasional lebih lama. Kapal selam autonomous ini bisa menembak torpedo dari dalam laut. Kita ketahui Dirut PAL saat ini adalah seorang profesional yang ditarik pulang dari Jepang oleh Menhan Prabowo. Kaharuddin Djenod adalah seorang pakar dan desainer perkapalan yang sudah menghasilkan ratusan karya.

Banyak proyek strategis yang diamanahkan ke PT PAL. Saat ini saja sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang canggih heavy fregate Arrowhead 140 kerjasama dengan Inggris. Seremoni pemotongan baja tanda dimulainya pembangunan Arrowhead direncanakan pada bulan Nopember ini. Termasuk memulai pembangunan 2 kapal perang jenis landing platform dock (LPD) pesanan yang kedua dari angkatan laut Filipina. Artinya PT PAL telah mengekspor 2 kapal perang ke negeri jiran utara ini dan dipercaya lagi membangun tambahan 2 unit. Alhamdulillah. 

Itu sebabnya kedepan ini untuk pembuatan kapal cepat rudal (KCR) 60 meter TNI AL, dipercayakan ke pihak swasta seperti PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi dan PT Tesco Indomaritim di Bekasi. Galangan kapal swasta nasional PT Daya Radar Utama di Srengseng Lampung saat ini sedang mengerjakan 2 kapal perang OPV (Offshore Patrol Vessel) dan  PT Karimun Anugrah Sejati yang di Batam juga sedang menyelesaikan kapal perang jenis korvet VVIP KRI Bung Karno 369. PT Lundin sukses membangun kapal perang stealth KRI Golok 688 dan tank boat Antasena. Luar biasa.

Surprise di forum Indo Defence adalah ditandatanganinya kontrak sistem pengadaan rudal balistik Khan dan sistem rudal pertahanan udara Hisar buatan Roketsan Turkiye. Sebenarnya alutsista jenis yang terakhir ini sedang ditunggu-tunggu sebagai pelapis pertahanan udara (hanud) nasional. Kita sudah punya hanud titik dengan sejumlah rudal starstreak dan mistral di beberapa batalyon Arhanud TNI AD. Juga rudal hanud area jarak sedang yaitu Nasams. Rudal Hisar diproyeksikan untuk long range surface to air missile (LRSAM). Ini adalah pelapis pertahanan udara yang sejak lama dinantikan.

Di Pondok Dayung Tanjung Priok salah satu lokasi Indo Defence untuk matra laut ada unjuk kebolehan KCR dihadapan Menhan Prabowo. KCR 60m buatan swasta nasional Tesco  mampu berenang dengan kecepatan 40 knot/jam. Termasuk unjuk kinerja tank boat Antasena buatan galangan kapal swasta Lundin Banyuwangi. Semua unjuk kinerja itu membawa rasa optimis akan kemampuan Inhan swasta nasional. Pada kesempatan ini ada seremoni pengukuhan kapal perang jenis LPD rumah sakit buatan PT PAL yaitu KRI Dr Wahidin Sudirohusodo 991.

Sementara di Halim AFB ada unjuk kecanggihan jet tempur Rafale yang memukau. Demi Indo Defence si Rafale dan rombongannya rela datang kembali ke Jakarta. Setelah sebulan yang lalu datang menghangatkan langit Jakarta usai mengikuti latihan tempur angkatan udara mancanegara Pitch Black di Darwin Australia. Indonesia juga ikut di ajang Pitch Black dengan mengirimkan 7 jet tempur F16. Selain Rafale yang meramaikan Indo Defence ada juga atraksi tim Jupiter TNI AU dengan pesawat KT-1 Wong Bee yang lincah itu. Banyak sih yang mau diceritakan tapi sementara ini dulu ya. Nanti disambung lagi.

****

Jagarin Pane / 6 Nopember 2022

Tuesday, October 25, 2022

Pohang Ditekuk Mirage Dipeluk

Ini adalah soal urusan alutsista bekas karena keduanya adalah alutsista yang segera dipensiunkan pemiliknya. Tetapi mengapa Pohang ditekuk dan Mirage dipeluk tentu punya jalan cerita masing-masing. Dan jalan cerita itu menjadi menarik untuk dicermati karena keduanya, 3 kapal perang Pohang Class dari Korsel dan 12 jet tempur Mirage dari Qatar sejatinya sangat dibutuhkan secara instan dan cepat saji untuk memperkuat pertahanan negeri kepulauan ini.

Korsel beberapa waktu lalu berniat untuk menghibahkan 3 kapal perang jenis korvet Pohang Class kepada Indonesia. Tidak ada makan siang gratis, begitu juga dengan hibah alutsista bekas ini sangat diyakini terkait dengan upaya marketing diplomasi Korsel untuk bisa melanjutkan proyek tiga kapal selam Nagapasa Class batch 2 yang MOUnya sudah diteken tiga tahun lalu. Kementerian Pertahanan bersama Bappenas lalu membuat action plan dan road map untuk mendatangkan 3 kapal striking force ini sampai kemudian bertemu dengan angka US $21 juta agar ketiganya datang dan operasional. Namun ternyata Kementerian Keuangan menolak memberikan PSP (penetapan sumber pembiayaan) alias tidak berkenan. Pohang gagal datang.

Tetapi mengapa pada saat yang bersamaan ada lampu hijau dari Kementerian Keuangan bersetuju untuk mempersiapkan sumber pendanaan 12 jet tempur Mirage dari Qatar. Padahal sebelumnya tidak ada rencana untuk akuisisi jet tempur made in Perancis ini dalam planning Kementerian Pertahanan. Yang mengemuka adalah pengadaan 42 jet tempur Rafale dari Perancis dan 36 jet tempur F15 IDN dari AS. Termasuk pengadaan 6 kapal perang heavy fregate Fremm Class dan 2 kapal selam Scorpene Class dari Perancis. Mirage tiba-tiba muncul kepermukaan dan mencuri perhatian.

Dalam pandangan kita bisa saja penolakan halus Pohang Class terkait dengan kurang tertariknya Indonesia untuk melanjutkan proyek kerjasama pembangunan 3 kapal selam Nagapasa jilid dua. Ini juga terkait dengan performansi 3 kapal selam yang sudah selesai dibuat dalam program Nagapasa jilid satu yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405. Indonesia tidak puas dengan kinerja kapal selam jenis U209 improved ini. Selama sembilan tahun Indonesia menjalin kerjasama alih tekonologi pembuatan 3 kapal selam dengan Korsel. Kapal selam ketiga KRI Alugoro 405 dibuat di galangan kapal selam PT PAL Surabaya.

Apalagi baru saja terungkap ada 9 kapal selam milik angkatan laut Korsel dari jenis U214 yang notabene fotocopy pabrikan Jerman bermasalah di modul inverternya. Bahkan satu diantaranya harus ditarik pulang ketika sedang menyelam di Laut China Timur Januari 2022 yang lalu. Cacat fungsional armada kapal selam ini sangat memukul kekuatan angkatan laut Korsel. Padahal negeri itu harus siaga penuh menghadapi permusuhan dengan saudara sekandungnya Korut. Kita ketahui Nagapasa Class adalah U209 Jerman yang dibangun Korsel setelah negeri ginseng itu berguru dengan Mahaguru kapal selam Jerman selama 10 tahun dan membuat U209 dan U214 untuk angkatan lautnya.

Soal pengadaan dadakan 12 jet tempur Mirage dari Qatar dengan PSP US $ 750 juta sangat dimungkinkan karena keputusan politik pemerintah Indonesia untuk menjalin kerjasama multi bidang dalam skala besar dengan Qatar dan UEA. Terutama pembangunan IKN, bidang investasi dan kerjasama pertahanan. Disamping itu kehadiran cepat jet tempur Mirage adalah untuk mengisi ketersediaan skadron tempur di Natuna yang saat ini diisi jet latih tempur Golden Eagle. Sementara jet tempur Rafale baru akan datang tahun 2026, masih lama. Jika semuanya berjalan lancar Mirage diprediksi segera datang akhir tahun depan. Kita memang sedang berkejaran dengan waktu untuk memperkuat tameng Natuna.

Percepatan proses pengadaan alutsista adalah keharusan dalam mengejar tingkat keterisian program MEF (minimum essential force) jilid 3 yang berakhir tahun 2024. Maka selayaknya kita sambut kehadiran 12 jet tempur Mirage dan berharap proses pengadaan 2 kapal selam Scorpene bisa terselesaikan secepatnya. Alutsista strategis seperti jet tempur, kapal perang dan kapal selam sangat dibutuhkan dalam menghadapi potensi konflik besar di Laut China Selatan. Kehadirannya tentu bagian dari diplomasi militer kita sekaligus membangun rasa percaya diri. Bahwa kita harus mempunyai kekuatan angkatan laut dan udara yang setara teknologinya dengan negara kawasan. Bergegaslah.

****

Jagarin Pane / 24 Oktober 2022

Wednesday, October 5, 2022

Lintas Sejarah Tentara Republik (2-Habis)

Sejak era Menteri Pertahanan M Yusuf bersamaan dengan booming harga minyak pertengahan tahun tujuh puluhan, menjadi titik balik penguatan alutsista TNI meski tidak segahar era Dwikora. Pengalaman memasuki Timor Timur dengan alutsista minim menjadi justifikasi penguat, reformasi penguatan alutsista dimulai. Tercatat 100 batalyon TNI AD dipersenjatai dengan M16 untuk para prajuritnya,  membeli seratusan panser dari Perancis dan merenovasi barak-barak militer.

Sementara itu TNI AU dibelikan 16 jet tempur F5E dari AS dan 36 jet tempur A4-Skyhawk bekas pakai dari Israel. Awalnya diinformasikan bahwa 36 pesawat pengebom A-4 Skyhawk bekas pakai perang Arab-Israel tahun 1973 ini disebut berasal dari AS. Melalui operasi intelijen digelar mekanisme teknis untuk melatih pilotnya. Sampai-sampai pilotnya tidak tahu kalau sudah dibawa ke Israel lewat penerbangan dan paspor berliku. Mirip film James Bond 007. Barulah setelah era reformasi, terbuka informasi yang sesungguhnya tentang asal usul jet tempur itu, dari Israel.

Awal tahun delapan puluhan TNI AL mendapat 2 kapal selam baru buatan Jerman yang dikenal dengan Cakra Class, salah satunya KRI Nanggala 402. Kemudian di era yang sama mendapat tambahan 6 kapal perang fregat bekas pakai Van Speijk Class dari Belanda dan 3 korvet anyar buatan Belanda Fatahillah Class. TNI AU pada dekade yang sama memperoleh 8 jet tempur Hawk Mk53 dari Inggris dan 12 jet tempur F16 dari AS. Kehadiran F16 blok 15 OCU memberikan kekuatan baru bagi penjaga kedirgantaraan nasional sebagai skadron tempur strategis bersama jet tempur F5E.

Pembelian alutsista yang paling menghebohkan adalah ketika memborong 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur yang sudah bergabung menjadi Jerman tahun 90an. Berkat lobbi BJ Habibie prosesnya kemudian disetujui Presiden Soeharto. Namun proses pengadaannya saat itu ribet dan ributnya  bukan main sampai kemudian majalah Tempo dibreidel rezim Soeharto. Drama proses pembelian kapal perang korvet Parchim Class dan landing ship tank Frosch Class dari Jerman Timur ini pada akhirnya mampu menambah kuantitas alutsista matra laut sampai sekarang.

Heboh yang lain juga terjadi di era 90an ketika Indonesia memesan 40 jet tempur Hawk 100/200 dari Inggris. Pengiriman pesawat dilakukan secara bergelombang dan ferry. Nah dalam pengiriman batch selanjutnya tiba-tiba ada embargo atas perintah "abang sepupunya"  AS karena peristiwa Santa Cruz di Timor Timur. Buruknya perilaku Inggris adalah meninggalkan 4 pesawat Hawk di Bangkok begitu saja, pilotnya disuruh pulang otoritas Inggris. Pilot TNI AU akhirnya yang mengambil pesawat itu setelah melobi otoritas Thailand. Padahal Indonesia juga memborong 100 tank Scorpion dari London. Kita sebagai pembeli alutsista tidak dihargai sama sekali. Kondisi ini semakin diperparah ketika jet tempur Hawk dan tank Scorpion yang diterjunkan ke Aceh dilarang untuk dipergunakan melawan GAM tahun 2001.

Ketika konflik Ambalat mengemuka tahun 2004, kondisi alutsista TNI masih sangat kurang. Jet tempur F16 masih diembargo AS sementara jiran Malaysia show of force di perairan kaya sumber daya energi fosil itu. Bahkan ketika Presiden SBY berkunjung ke Karang Unarang dengan beberapa KRI, pesawat Malaysia sengaja melintas diatas. Malaysia menunjukkan powernya karena mereka mempunyai 18 jet tempur Sukhoi dan 8 jet tempur F18 Hornet. Termasuk 2 kapal selam canggih Scorpene. Nah, dari konflik Ambalat dan prediksi intelijen soal Laut China Selatan (LCS) dan Natuna inilah Presiden SBY kemudian merancang program strategis militer tahun 2009 yang dikenal dengan Minimum Essential Force (MEF). Inilah awal modernisasi alutsista TNI yang sampai hari ini sudah memasuki MEF jilid III yang berakhir tahun 2024.

Perkuatan alutsista TNI saat ini sudah jauh meninggalkan Malaysia. Dan jiran kita itu sejauh ini tidak lagi pergi "bermain api" di Ambalat karena sudah kalah awu dari Indonesia. Pembangunan pangkalan militer di Natuna seperti pepatah "sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui". Artinya benteng pertahanan yang dibangunkuatkan di Natuna ditujukan untuk mengantisipasi konflik LCS yang diklaim China. Namun pangkalan ini bisa bermanfaat jika konflik Ambalat memanas. Indonesia bisa melakukan blokade militer dari Semenanjung Malaysia ke Sabah. Secara strategi militer pangkalan militer Natuna menjadi garis depan untuk menghadapi China dan "garis pemisah" Semenanjung dan Sarawak Sabah Malaysia.

Saat ini meski belum sampai pada kriteria kekuatan minimal, perkuatan alutsista TNI patut kita syukuri. Aset eksisting TNI AU saat ini ada 3 skadron F16, 1 skadron Sukhoi, 2 skadron Hawk, 1 skadron T50 dan 1 skadron Super Tucano. Indonesia juga sudah memesan 42 jet tempur Rafale dan bersiap menyambut produksi jet tempur KFX/IFX bersama Korea Selatan.  Sementara TNI AL sudah menambah inventory striking force KRI yaitu Diponegoro Class 4 unit, Bung Tomo Class 3 unit, Martadinata Class 2 unit, kapal selam 3 unit. Termasuk puluhan kapal cepat rudal dan kapal patroli cepat buatan dalam negeri. Marinir juga mendapat aset puluhan tank amfibi BMP-F dan MLRS Grad/Vampire. PT PAL saat ini sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang terbesar heavy fregate Arrowhead 140.

TNI AD menambah kekuatan striking forcenya dengan seratusan tank Leopard, limapuluhan tank Marder, limapuluhan artileri Nexter, limapuluhan MLRS Astross II Mk6, tigaratusan panser Anoa, Badak dan lain-lain. Termasuk penambahan ratusan peluru kendali SAM Starstreak, Mistral. Juga helikopter Mi35, Mi17 buatan Rusia dan Apache buatan AS. Saat ini sedang diproduksi tank Harimau kerjasama Pindad dan FNSS Turki. Semua ini sangat membanggakan kita. Industri pertahanan nasional baik BUMN maupun swasta nasional ikut berkibar sebagai penyedia ragam alutsista. Dan tentu menyerap ribuan tenaga kerja dan ratusan tenaga ahli.

Maka menyambut HUT TNI ke 77 tanggal 5 Oktober 2022 ini marilah kita mensyukuri semakin mekarnya kekuatan militer kita. TNI adalah benteng eksistensi NKRI, TNI adalah adrenalin NKRI. Kekuatan ekonomi dan kekuatan militer negeri ini harus sama-sama kuat. Saat ini kekuatan ekonomi kita ada di ranking 16 dunia dan masuk G20, kekuatan militer juga ada di urutan 15 dunia GFP. Seiring sejalan kan. Kekuatan militer sejatinya adalah marwah diplomasi militer sebuah negara. Kita sedang menuju ke arah itu. Selamat ulang tahun ke 77, TNI Adalah Kita. Dirgahayu TNI.

****

Jagarin Pane / 05 Oktober 2022

Tuesday, October 4, 2022

Lintas Sejarah Tentara Republik (1)

Sejarah militer Indonesia adalah persenyawaan jati diri perjuangan dengan rakyat dalam memastikan jalannya perang kemerdekaan menuju pengakuan kedaulatan. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah pernyataan kemerdekaan. Dan ini tidak menjadi penghalang ketika Belanda ingin "memeluk kembali" kepulauan nusantara setelah sebelumnya tahun 1942 ditendang Dai Nippon secara militer. Maka sepanjang lima tahun perang kemerdekaan 1945-1949 persenyawaan jatidiri TNI dan rakyat menjadi pergelaran tempur di panggung militansi heroik dan fundamen nasionalis patriotik negeri ini. Melalui serial pertempuran Surabaya dan agresi militer yang berdarah-darah, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia akhir Desember 1949.

Proklamasi Trikora oleh Bung Karno tahun 1961 untuk merebut Irian Barat menjadi momentum revolusi perkuatan militer Indonesia. Hanya dalam waktu 4 tahun kekuatan militer Indonesia menjadi yang terbesar di bumi bagian selatan. Tidak ada tandingannya, Australia kalah awu, kalah jumlah dan kalah kualitas. Militer Indonesia tumbuh menjadi kekuatan yang disegani dengan kekuatan seratusan kapal perang, 12 kapal selam, seratusan jet tempur Mig 17, Mig 19, Mig 21, puluhan bomber strategis Tu-16 dan ratusan ribu tentara. Kedatangan kapal penjelajah paling gahar dari Uni Sovyet (sekarang Rusia) KRI Irian membuat kapal induk Belanda Karel Doorman ngacir pelan-pelan dari Papua.

Kekuatan militer ini dipersiapkan untuk merebut Irian Barat. Pemusatan kekuatan militer di Teluk Peleng terpantau pesawat mata-mata AS yang melintas dari Filipina. Presiden AS John F Kennedy tidak ingin ada perang terbuka antara Indonesia-Belanda karena pada saat itu perang Vietnam juga sedang berkecamuk. Pangkalan AU Clark dan Pangkalan AL di Subic Filipina menjadi pangkalan militer AS untuk menghadapi perang Indochina. Lobi diplomatik dilakukan sementara infiltrasi pasukan Indonesia ke tanah Papua mulai menggentarkan Belanda. Meski tidak terjadi perang terbuka, kekuatan militer Indonesia menjadi penentu kemenangan diplomatik paling bermarwah. Belanda angkat kaki dari Papua tahun 1963. Dengan itu lengkaplah syair lagu Dari Sabang Sampai Merauke.

Trikora usai, Dwikora menjelang dan pemusatan kekuatan militer Indonesia berpaling dari konsentrasi di timur menjadi ke barat. Memperkuat Sumatera dan Kalimantan masing-masing dengan 7 brigade angkatan darat dan sukarelawan. Seratusan KRI dan pesawat tempur siaga penuh. Dwikora yang bertema mengganyang Malaya adalah bentuk kekecewaan dan perlawanan Bung Karno atas pembentukan Federasi Malaysia oleh Inggris. Sejarah kemudian mencatat bahwa Dwikora menjadi taruhan geopolitik dan geostrategis paling dramatis sepanjang perjalanan republik. Mulai dari pertempuran Kalabakhan di Tawao, jatuhnya Hercules di Long Bawang Kaltara, infiltrasi Hercules ke Semenanjung sampai pengintaian kapal induk Inggris di selat Sunda oleh kapal selam Indonesia. Termasuk ancaman serangan nuklir oleh Inggris melalui Australia.

Dwikora berakhir dengan damai sejak peristiwa G30S/PKI. Arah politik berubah, semuanya berubah termasuk kondisi alutsista TNI yang kehabisan suku cadang. Dan Rusia tidak memberikannya kecuali dibayar tunai. KRI Irian yang menjadi flag ship armada tempur TNI AL harus terhapus dari inventori alutsista TNI. Jumlah kapal selam menyusut tajam hanya tinggal 2 unit sampai tahun 1980. Demikian juga dengan jet-jet tempur TNI AU. Antara tahun 1967 sampai tahun 1977 alutsista kita dalam kondisi memprihatinkan. Australia menghibahkan 20 jet tempur F86 Sabre demi untuk mengisi kekosongan skadron jet tempur Indonesia setelah era MIG berakhir.

Dalam kondisi seperti ini Indonesia mengukir sejarah dunia dengan memasuki wilayah Timor Portugis yang sedang bergolak akhir tahun 1975. Iklim geopolitik Asia Tenggara dengan kejatuhan Indochina dibawah pengaruh komunis menjadi alasan kuat untuk menghalau paham itu dari bumi Lorosae yang dikuasai Fretilin. Maka setelah kunjungan Presiden AS Gerald Ford ke Jakarta, pasukan Indonesia menyerbu Timor Timur dari darat, laut dan udara. Padahal kondisi alutsista saat itu sangat kurang. Penerjunan pasukan TNI dengan pesawat Hercules tidak mendapat pengawalan jet tempur. Sementara pasukan marinir dengan bantuan tembakan dari beberapa KRI berhasil mendarat di pantai Dili. Akhirnya ibukota Dili berhasil ditaklukkan hanya dalam hitungan hari. Itulah awal kehadiran tentara Indonesia di Timor Timur selama 24 tahun berakhir tahun 1999.

(Bersambung)

****

Jagarin Pane / 3 Oktober 2022

Friday, September 23, 2022

Mirage Rafale Bienvenue

Program pengadaan jet tempur Rafale F3R buatan Perancis sudah sampai pada kepastian kedatangannya. Artinya kontrak efektif yang sudah diteken dan dilanjut dengan pembayaran uang muka bisa memastikan jadwal ketibaannya. Tahap awal 6 unit dulu dari pesanan 42 unit Rafale. Sementara pada saat yang bersamaan ada berita lain yang menjadi pengiring kabar gembira Rafale. Yaitu "rencana cepat saji" mendatangkan 14 jet tempur bekas pakai Mirage 2000. Dua kabar yang membungakan dan menggemuruhkan.

Tetapi pertanyaannya mengapa harus ada Mirage 2000. Kan sudah pesan Rafale.  Mari kita berangkat dari rangkaian proses pengadaan jet tempur sebelumnya. Proses pengadaan cepat saji jet tempur Mirage 2000 tidak terlepas dari interval waktu yang hilang selama 7 tahun. Lho kok bisa. Ya iyalah. Tahun 2016 dimulai proses pengadaan jet tempur Sukhoi SU35. Sejak tahun 2017 proses pengadaan jet tempur heavy fighter ini sudah menuju kontrak efektif. Artinya mulai tahun 2021 kemarin kita seharusnya sudah mulai menerima kedatangan jet tempur multi role buatan Rusia tersebut. 

Tapi tiba-tiba ada UU CAATSA dari pemilik hegemoni Paman Sam sebagai imbas pencaplokan Rusia terhadap semenanjung Krimea milik Ukraina tahun 2014. Setiap negara yang bertransaksi persenjataan dengan Rusia akan dikenakan sanksi, begitu ancaman Pakde Sam sambil mendelik. Dan proses pembayaran uang muka tidak dapat dilanjutkan karena ancaman CAATSA. Kalau diteruskan fasilitas GSP ekspor kita ke AS bisa dicabut. Dan nilainya milyaran dollar. Itu yang didepan mata. Maka terjadilah "blank spot" alias kekosongan ketersediaan alutsista jet tempur untuk skadron udara 14 Iswahyudi sampai hari ini.

Tetapi kemudian ada pertanyaan lain mengapa tidak melanjutkan tambahan F16 "gurun" atau F16 Viper sebagaimana pernah diprogramkan sebelumnya. Bukankah kita sudah memiliki 10 jet tempur F16 generasi awal yang dibeli tahun 1989 dan 24 jet tempur F16 "gurun" blok 52Id yang dibeli tahun 2013. Apalagi saat ini insinyur dan teknisi TNI AU dengan supervisi Lockheed Martin AS sedang memodernisasi infrastruktur tempur 10 F16 generasi pertama di Iswahyudi AFB. Sebuah model transfer teknologi yang sangat menguntungkan. Teknisi TNI AU jadi paham banget dengan jeroan F16. Saat ini sudah selesai 6 unit F16, 3 diantaranya sudah diuji manuver tempurnya pada Latgab Pitch Black baru-baru ini di Australia. Dan sukses.

Menurut pandangan kita menghadirkan Mirage sebagai crash program tidak terlepas dari ruang kerjasama skala besar dan multi bidang serta imbal balik yang telah, sedang dan akan dibangun dengan Uni Emirat Arab (UEA). Negeri sultan ini adalah salah satu negara Arab yang paling mesra hubungannya dengan Indonesia. Ada nama Muhammad Bin Zayed (MBZ) pemimpin tertinggi UEA sebagai nama jalan tol layang Jakarta-Cikampek. Ada pembangunan Masjid Raya di Solo donasi ratusan milyar dari UEA. Juga ada jalan Joko Widodo di Abu Dhabi UEA. Negara Arab super kaya ini menjadi salah satu investor terbesar pembangunan infrastruktur di Indonesia, termasuk IKN. Indonesia sedang membangun kerjasama pertahanan dengan UEA.

UEA sudah lebih dulu memesan 80 jet tempur Rafale F3R. Sementara inventory Mirage 2000 UEA akan pensiun seiring kedatangan si Rafale. Bisa saja kan dalam pembicaraan dan negosiasi dua negara sahabat, kita kemudian ditawarkan Mirage sebagai imbal jasa kerjasama investasi UEA di Indonesia. Dan saat ini kita memang sedang membutuhkan ketersediaan jet tempur dalam waktu cepat. Untuk mengisi stop gap kedatangan Rafale akhir tahun 2026. Bukankah situasi geopolitik di Indo Pasifik khususnya Laut China Selatan semakin berbahaya dari waktu ke waktu. Si vis pacem parabellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang.

Ini adalah bagian dari program percepatan MEF (Minimum Essential Force) jilid tiga TNI sampai dengan tahun 2024. Ketersediaan alutsista strategis jet tempur dan kapal perang heavy fregate adalah harga mati, tidak bisa ditawar meski harganya naik. Jangan sampai kita terlambat memenuhi persyaratan minimal ini. Kalau kita mau berseteru secara militer demi harga diri teritori, penuhi dulu persyaratan minimalnya. Oleh sebab itu dengan sejuta doa mari kita tunggu kedatangan dua jenis jet tempur lintas generasi buatan Perancis ini. Sembari melukis tulisan kaligrafi: Mirage Rafale Bienvenue.

****

Jagarin Pane / 23 September 2022

Friday, September 9, 2022

Mekarnya Angkatan Laut Indonesia

Pernyataan terang benderang KSAL soal kekuatan angkatan laut Indonesia saat ini yang semakin kuat dan mekar patut kita cermati. Bahwa ada penambahan kuantitas dan kualitas alutsista selama program MEF (Minimum Essential Force), jelas meningkat. Termasuk pengembangan organisasi armada tempur dan pasukan marinir. Tetapi jujur saja, modernisasi alutsista TNI AL yang sedang gencar dilakukan saat ini baru untuk mengejar kekuatan minimal yang diperlukan dalam mengawal teritori laut NKRI. Angkatan Laut Indonesia belum sampai pada kekuatan minimal MEF untuk menjaga teritori laut yang sangat luas ini.

Kekuatan striking force "Liga 1" TNI AL maksimal hanya bertumpu pada kelas fregate dan korvet yang jumlahnya hanya belasan. Belum ada KRI sekelas heavy fregate dan destroyer. Fregate Ahmad Yani Class 4 unit, Bung Tomo Class 3 unit, korvet Diponegoro Class 4 unit, Fatahillah Class 3 unit dan yang terbaru fregate Martadinata Class 2 unit. Sementara aset kapal selam ada 4 unit. Masih ada kekuatan striking force "Liga 2" TNI AL yaitu 10 unit Parchim Class bekas pakai Jerman, KCR (kapal cepat rudal) Rencong Class 3 unit dan KCT (kapal cepat torpedo) Andau Class 4 unit. Kapal perang terbaru buatan industri pertahanan galangan kapal nasional adalah 8 KCR ukuran 40 meter dan 6 KCR ukuran 60 meter. Ada juga penambahan 12 KPC (kapal patroli cepat) yang dapat dipasang rudal anti kapal.

Jika terjadi serangan terhadap teritori di Natuna maka benteng pertahanan garis depan adalah angkatan laut dan udara. Beda dengan pertempuran Rusia-Ukraina, angkatan laut Rusia sebagai supporting pertempuran dengan menembakkan ratusan peluru kendali. Potensi konflik di kawasan LCS (Laut China Selatan) adalah pertunjukan superioritas armada tempur dalam penguasaan teritori laut. Artinya kuantitas, kualitas dan keunggulan teknologi pertempuran 4 dimensi alutsista kapal perang dan kapal selam adalah harga mati. 

Indonesia sedang menuju ke arah itu dengan membangun kapal perang heavy fregate. Industri pertahanan strategis PT PAL sedang berkonsentrasi mempersiapkan proyek monumental dan strategis ini dengan membangun 2 unit kapal perang Arrowhead 140 meter kerjasama teknologi dengan Inggris. Heavy fregate adalah alutsista strategis yang setara dengan potensi konflik besar di kawasan LCS. Diharapkan dalam sepuluh tahun kedepan Indonesia sudah memiliki 6-8 kapal perang heavy fregate.

Teritori laut Indonesia adalah yang terluas dibanding daratan. Posisi geopolitik dan geostrategis yang mayoritas perairan mengharuskan negeri ini memperkuat matra laut. Tidak bisa tidak. Dinamika konflik kawasan Indo Pasifik harus dipotret sebagai ancaman serius dan bersifat jangka panjang. Nyatanya Timur Tengah tidak lagi menjadi prioritas bagi AS dan sekutunya. Apalagi beberapa negara Arab sudah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Afghanistan ditinggalkan begitu saja bersama alutsista milyaran dollar. Pusat perhatian masa depan AS adalah Indo Pasifik. Sebagian besar kekuatan angkatan laut dan udara AS sudah dan sedang direlokasi ke kawasan Indo Pasifik untuk berhadapan dengan rival masa depannya, China.

Angkatan laut Indonesia mengantisipasi perubahan besar ini dengan mengembangkan organisasi dan memperkuat armada lautnya. Armada tempur laut TNI AL dikembangkan dari dua armada menjadi tiga armada. Demikian juga dengan Pasmar (pasukan marinir). Termasuk sebaran pangkalan. Markas Armada Satu di Tanjung Pinang, Armada Dua di Surabaya dan Armada Tiga di Sorong. Markas Pasmar Satu di Jakarta, Pasmar Dua di Surabaya dan Pasmar Tiga di Sorong. Di Natuna sudah ada brigade komposit Gardapati gabungan interoperability tiga matra TNI. Sejumlah KRI dan pasukan marinir bersiaga permanen.

Program MEF yang dimulai sejak tahun 2010 sudah memberikan tambahan kekuatan kapal perang TNI AL dan alutsista marinir secara signifikan meski belum sampai pada kriteria minimal. Selain penambahan kekuatan KRI striking force ada penambahan 9 kapal perang jenis landing ship tank (LST) dan 6 kapal perang landing platform dock (LPD) serta 3 kapal perang LPD rumah sakit. Juga ada tambahan 3 kapal perang BCM (bantu cair minyak). Semuanya adalah produksi dalam negeri. TNI AL memperoleh aset penting berupa kapal perang intelijen bawah air Rigel Class sebanyak 2 unit dari Perancis dan sedang menunggu kedatangan 2 kapal penghancur ranjau dari Jerman. 

Pasukan marinir memperkuat otot serbu pantainya dengan bertambahnya aset pemukul yaitu 54 tank amfibi BMP3F, 15 ranpur amfibi LVT7A1, 18 MLRS RM Grad/Vampire. Dalam waktu dekat pasukan hantu laut ini diprediksi akan mendapatkan enam puluhan kendaraan amfibi dari AS dan Turki. Statemen KSAL baru-baru ini menyebut kapal perang pesanan TNI AL yang sedang proses produksi ada 5 di PT PAL, ada 3 di Bekasi, ada 2 di Lampung, ada 5 di Batam, ada 2 di Banten. Beliau ingin menunjukkan merata dan berkibarnya industri galangan kapal di tanah air sekaligus ingin menyampaikan semakin mekarnya kekuatan angkatan laut Indonesia. Mekar untuk menuju MEF.

****

Jagarin Pane / 9 September 2022

Sunday, September 4, 2022

18 Rafale

Program pengadaan jet tempur Rafale sudah tercover di Green Book. Nilainya US $2,9 milyar dari usulan pagu PLN (pinjaman luar negeri). Jumlah ini diprediksi untuk mendapatkan 12 unit Rafale. Jika digabung dengan kontrak efektif 6 Rafale terdahulu maka Indonesia akan memperoleh 18 jet tempur Rafale dari rencana akuisisi 42 unit. Lumayanlah. Sebuah langkah bijak dan pantas ditengah keterbatasan kemampuan keuangan pemerintah saat ini.

Bagaimanapun perkuatan alutsista TNI adalah keharusan. Karena kita saat ini masih harus mengejar ketertinggalan untuk memenuhi target minimum essential force kekuatan militer kita tahun 2024. Sementara situasi geopolitik kawasan Indo Pasifik khususnya Laut China Selatan semakin tinggi tensi konfliknya. Sampai hari ini alutsista kita belum sampai pada kekuatan minimal apalagi standar dan ideal.

***

Jagarin Pane / 03 Sep 2022

Sunday, August 21, 2022

Memilih Yang Terpilih

Kebutuhan ketersediaan alutsista strategis kita berpacu dengan waktu. Dan kemudian bertemu dengan keterbatasan sumber daya keuangan yang tergerus dampak pandemi Covid19 dan subsidi energi. Melucuti stamina APBN. Di satu sisi ada kebutuhan mendesak dan tidak bisa ditunda untuk isian dan sebaran alutsista karena adanya dinamika konflik kawasan. Temperatur konflik mengancam eksistensi teritori dan di sisi yang lain pemerintah harus menggelontorkan subsidi besar untuk konsumsi energi ratusan juta penduduknya, untuk menjaga agar inflasi tidak liar.

Penjelasan soal ketersediaan alutsista strategis ini sederhana, apakah ada penambahan jet tempur selama 5 tahun terakhir. Apakah ada penambahan kapal perang striking force kelas korvet keatas selama 5 tahun terakhir. Jawabnya tidak ada. Kita gagal mendatangkan 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia karena Undang-Undang CAATSA AS. Lantas kita bergegas untuk mendapatkan 42 jet tempur Rafale dari Perancis. 6 unit diantaranya sudah kontrak efektif tetapi pesawatnya baru datang paling cepat tahun 2026.

Artinya ada 9-10 tahun kita menunggu waktu untuk menambah jumlah jet tempur. Saat ini kekuatan pukul TNI AU bertumpu pada 16 jet tempur Sukhoi SU27/30 dan 33 jet tempur F16. Langkah cepat dan cerdas Menteri Pertahanan untuk mendatangkan 42 jet tempur Rafale dari Perancis patut kita apresiasi. Beli "grosiran" dalam jumlah banyak untuk investasi pertahanan tiga dekade. Selama ini kita dikenal produsen alutsista sebagai pembeli ketengan. Sementara untuk pengadaan 2 kapal perang heavy fregate Arrowhead 140 sudah kontrak efektif dari rencana pengadaan 16 kapal perang yang sekelas dengannya. Oktober tahun ini mulai dibangun di PT PAL.

Bagaimana kemudian kita memilih yang sudah terpilih sebagai skala prioritas untuk perkuatan alutsista kita yang cukup mendesak ini. Pilihan bisa dengan berbagai skema. Misalnya dari 42 jet tempur Rafale yang diinginkan, 6 yang sudah kontrak efektif bisa digenapkan menjadi 12 unit dulu. Untuk yang 30 unit ditunda dulu. Kemudian untuk menutup "blank spot" 5 tahun kedepan karena lamanya antrian produksi Rafale, tambahan ketersediaan jet tempur tawaran dari Uni Emirat Arab bisa dipergunakan. Pengadaan 14 jet tempur Mirage bekas pakai, harganya murah. Bisa siap pakai dengan durasi kedatangan lebih cepat, satu tahun diprediksi sudah datang. Dan kita memang sedang membutuhkan ketersediaan jet tempur untuk mengawal Natuna secepatnya.

Soal kapal selam juga prioritas.  Maka rencana pengadaan 2 kapal selam dari Perancis atau Jerman menurut pandangan kita harus segera direalisasikan. Kita sudah mempunyai 4 kapal selam "satu bapak lain emak". Sama-sama berjenis U209, yang satu buatan Jerman sudah sepuh buatan tahun 1980. Tiga lainnya hasil kerjasama produksi DSME Korsel dan PT PAL Indonesia, masih baru. Dan keempatnya kalah kelas dengan punya jiran Singapura, Malaysia dan Vietnam. Itu sebabnya kita perlu menyegerakan pengadaan 2 kapal selam yang lebih gahar. Armada kapal perang bawah air kita masih harus ditambah secara kuantitas dan kualitas. Dan ini prioritas.

Program pengadaan alutsista Indonesia sejauh ini berjalan lancar. Pesanan 5 Hercules gres dari AS produksinya sedang berjalan. Pengadaan 6 jet latih tempur Golden Eagle dari Korsel sedang dalam proses produksi. Kita juga sedang menunggu kedatangan bertahap 6 pesawat amfibi dari Kanada untuk TNI AU. Termasuk menunggu kedatangan 2 kapal perang pemburu ranjau dari Jerman untuk TNI AL. Sementara PT PAL baru saja meluncurkan kapal perang jenis LPD rumah sakit yang ketiga.  Pindad sedang menyelesaikan pesanan tank Harimau untuk TNI AD termasuk panser Badak. PT DI saat ini sedang menyelesaikan assembling helikopter berbagai jenis untuk TNI AU, TNI AD.

Dalam kondisi keuangan yang tergerus mengatasi pandemi dan subsidi energi yang cukup besar, meneropong skala prioritas pemenuhan kebutuhan alutsista adalah keniscayaan bersama. Perkuatan alutsista adalah keharusan karena situasinya mendesak dan kita belum sampai pada kriteria minimum essential force, apalagi ideal. Namun kita juga harus realistis dengan APBN kita, seperlimanya untuk subsidi, terlalu besar. Dan rasio hutang terhadap PDB di kisaran 41%. Fundamental ekonomi sejauh ini disebut kuat dengan pertumbuhan 5,49% di kuartal kedua ini. Dan inflasi juga hampir menyaingi pertumbuhan ekonomi. Inflasi posisi terakhir ada diangka 4,9%.

Perolehan 12 jet tempur Rafale, 12 jet tempur Mirage bekas pakai, 4 kapal perang heavy fregate dan 2 kapal selam serbu sudah sangat realistis untuk mengejar ketertinggalan minimum essential force sampai tahun 2024. Peningkatan infrastruktur tempur alutsista eksisting  juga sedang berlangsung. Bung Tomo Class bergantian di upgrade, juga beberapa kapal cepat rudal termasuk KRI Golok 688 dipersenjatai dengan rudal canggih. Jet tempur F16 dan T50 dimodernisasi kemampuan tempurnya. Radar GCI di sejumlah titik diperbaharui. Dan ini yang terpenting, instrumen network centric warfare dari Scytalys Yunani dengan kemampuan interoperability tiga angkatan sedang dibangun. Semuanya patut kita syukuri.

****

Jagarin Pane / 20 Agustus 2022

Friday, August 5, 2022

Blunder Kebijakan Abrasi Hegemoni

Mengapa Nancy Pelosi mengusik status quo iklim geopolitik di Taiwan. Cuaca yang cerah berawan tiba-tiba menjadi angin puting beliung yang membuat kawasan Asia Timur berdebar-debar. Padahal jelas banget kebijakan politik luar negeri AS adalah mengakui satu China, dipertegas lagi dalam sekian pernyataan Biden. Terakhir ketika berbicara dengan Xi Jin Ping sebelum Pelosi jalan-jalan cari perkara. Artinya Taiwan secara diplomatik tidak diakui AS sebagai negara berdaulat. Tapi mengapa Pelosi keukeuh berkunjung ke Taiwan dan AS tetap tegar menjadi payung pelindung Taiwan. Barusan Ketua DPR AS Nancy Pelosi berkunjung secara zigzag ke Taiwan.

Padahal dalam run down kunjungan ke Indo Pasifik, Taiwan tidak ada dalam jadwal. Dia datang ke Singapura kemudian lanjut ke Malaysia. Nah ketika mau terbang ke Taiwan rute pesawatnya yang terpantau di flight radar tidak langsung menuju utara memotong semenanjung Malaysia dan Laut China Selatan  (LCS). Tetapi menelusuri selat Karimata, garis khatulistiwa Kalimantan dan diatas Balikpapan berbelok ke Filipina. Ketika melewati Luzon pesawat Nancy mulai dikawal 8 jet tempur F15 AS dan 5 tanker dari Okinawa AFB. Dan dibawahnya ada pengawalan dari kapal induk USS Ronald Reagan. Benar-benar sebuah perjalanan berlapis unjuk kekuatan. Sayangnya kurang mendapat simpati.

Nancy sudah take off dari Taiwan namun situasi di sekitar Taiwan makin mencekam. Militer China sedang menunjukkan kemarahan terbesarnya dan memblokade laut sekeliling pulau Formosa. Dan kemarin 4 Agustus 2022 China memulai latihan militer besar-besaran di sekeliling Taiwan dengan mengerahkan 2 kapal induk dan kapal selam nuklir. Kemudian meluncurkan 11 peluru kendali hipersonik Dong Feng. Beberapa diantaranya melewati daratan Formosa. Dan bersamaan dengan itu ada 3 kapal induk AS berada di dekat area latihan militer China. Kemarahan sudah diubun-ubun, China maju tak gentar, penerbangan sipil di Taiwan terhalang aktivitas militer China.

Pergantian cuaca ekstrim begini menjadi perhatian sejumlah negara di kawasan. Para Menlu ASEAN yang sedang berkumpul di Phnom Penh Kamboja menyerukan agar situasi kawasan tidak diubek-ubek yang bisa menimbulkan konflik. Sementara diplomat Korsel menyuarakan ketidaksukaan kunjungan Nancy ke Taiwan dan berpotensi menjadi beban baru bagi situasi kawasan Indo Pasifik. Dalam pandangan kita mestinya ada kearifan untuk menjaga dinamika kawasan Indo Pasifik yang hari-hari belakangan ini berstatus ngeri-ngeri sedap alias sensitif karena imbas perang Rusia-Ukraina.  Kunjungan seorang ketua DPR AS ini mencerminkan sikap kurang toleran dan blunder kebijakan. Sekaligus memberikan aba-aba yang menunjukkan sabuk hegemoni yang mulai tergerus abrasi.

Rusia mendukung kemarahan China termasuk pengerahan kekuatan militer besar-besaran di Fujian dan selat Taiwan. Dukungan ini menjadi kredit poin bagi persekutuan keduanya di kemudian hari. Pengerahan kekuatan militer China menjadi simulasi penting bagi negeri itu karena sekaligus menjadi ancang-ancang untuk menyelesaikan persoalan Taiwan secara militer. Dan itu hanya soal waktu. Berkaca dari perang Rusia-Ukraina dalam perspektif China, menyerbu Taiwan menjadi semakin terbuka lebar. Rusia yang membombardir Ukraina sampai hari ini nyatanya tidak bisa dibela secara total oleh AS dan NATO.

Abrasi hegemoni AS sudah diperlihatkan dalam berbagai peristiwa di dunia. Di Afghanistan capek sendiri lalu hengkang. Kekuatan ekonomi China diprediksi lima tahun lagi akan menjadi nomor satu. Dan yang paling jelas adalah pertempuran di Ukraina. Terlalu banyak statemen menggertak, mengancam, mengucilkan, mengerdilkan Rusia ternyata menjadi bumerang bagi AS dan sekutunya. Krisis pangan dan energi membuat seluruh dunia "kepanasan". Beberapa diantaranya sudah resesi. Tiba-tiba situasi panas menerkam Asia Timur hanya karena kunjungan simbol hegemoni seorang Nancy Pelosi. Ongkos berdebar itu yang mestinya diperhitungkan karena bisa menjadi suara antipati di kawasan Indo Pasifik.

****

Jagarin Pane / 05 Agustus 2022

Friday, July 29, 2022

Momentum Super Garuda Shield

Sudah mulai ada pergerakan militer di sejumlah titik di Indonesia seperti di pangkalan AL Jakarta, Pelabuhan Panjang, Bakauheni, jalan tol di Lampung, Balikpapan, Laut Jawa dan Dabo Singkep Kepulauan Riau. Termasuk sejumlah air force base, batalyon marinir dan batalyon kostrad. Ini adalah bagian dari deploy ribuan pasukan dan alutsista untuk latihan gabungan skala besar Indonesia dan AS bertajuk Super Garuda Shield yang akan digelar mulai 1 Agustus 2022 selama dua minggu. Soal teknis ini perlu disampaikan agar masyarakat luas tahu ada hajatan apa nih, kok banyak alutsista dan pasukan melintas. Dan ada bulenya lagi. Termasuk agar tidak terulang salah pengertian diantara kementerian soal kedatangan persenjataan AS yang dikira senjata ilegal. Kan jadi tak elok didengar publik.

Indonesia dan AS kembali menggelar latihan militer gabungan. Garuda Shield sudah rutin dilaksanakan setiap tahun antara TNI AD dan US Army. Namun tahun ini kurikulumnya diperluas dengan mengikutsertakan angkatan laut dan angkatan udara kedua negara. Istimewanya lagi ada 12 negara Indo Pasifik yang ikut bergabung di medan Super Garuda Shield. Pesan militernya jelas untuk menjaga nafas kebersamaan dalam iklim pertahanan keamanan Indo Pasifik yang kondusif. Filosofi si vis pacem parabellum terang benderang diperlihatkan sebagai show of force. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang.

Maka Indonesia pun bersiap untuk unjuk kinerja militer. Pasukan marinir dan alutsistanya sudah ready for use, mulai embarkasi di Koarmada Satu Jakarta. Pasukan kostrad juga sudah bergerak melintas selat Sunda menuju Baturaja. Sejumlah KRI striking force sudah mempersiapkan diri termasuk untuk penembakan alutsista strategis. Semua aspek teknis manajemen pertempuran dan logistik militer sudah dipersiapkan. Karena ini latihan gabungan bersama banyak negara lain kecuali China, sudah tentu kita harus mempersiapkan pasukan dan alutsista dengan kemampuan penuh. Termasuk menyediakan infrastruktur militer di Puslatpur TNI AD di Baturaja, Dabo Singkep dan Amborawang Balikpapan.

Latihan gabungan Super Garuda Shield antara Indonesia dan AS dengan dukungan 12 negara lain dalam pandangan kita mempunyai momentum militer yang tepat ditengah berkecamuknya perang Rusia-Ukraina dan ancaman China terhadap Taiwan terkait dengan rencana kunjungan Nancy Pelosi ketua DPR AS. Meski ada dua konsentrasi AS yang sedang dipikul yaitu perang Eropa dan persoalan Taiwan yang semakin berat, latihan militer Super Garuda Shield adalah sebuah komitmen bentuk mengukur kesiapsiagaan komprehensif. Karena baru kali ini latgab bilateral Indonesia-AS khusus matra darat diperluas menjadi Latgab multilateral tiga matra network centric warfare. Pasti seru nih.

Bagi Indonesia Latgab ini adalah langkah diplomasi militer yang cerdas untuk mengingatkan siapapun pihak yang ingin mengganggu teritori kita untuk tidak bermain api. Sementara dalam gerak lincah diplomasi kita yang lain Presiden Jokowi baru saja berkunjung ke China, Korsel dan Jepang. Ini yang disebut politik bebas aktif, proaktif dan bersahabat dengan semua negara untuk membangun ekonomi kesejahteraan. Kita ingin kerjasama dengan semua negara atas nama simbiosis mutualistik, kepentingan bersama. Namun kita juga harus bersiap secara militer untuk mengawal kedaulatan teritori. Dan mengingatkan pihak yang suka bilang "ini punyaku" lalu mengerahkan kekuatan maritimnya, untuk tidak berlaku curang dan main gertak.

Maka sesaat lagi kita akan menyaksikan serial latihan gabungan ini dengan mempertontonkan ketangguhan dan kecanggihan alutsista TNI bersinergi dengan alutsista negara lain. Ada Leopard, Apache, Astross, UAV, F16, Boeing intai strategis, KRI dan lain-lain. Untuk pendaratan pasukan marinir di Dabo Singkep misalnya, marinir kita akan bahu membahu dengan marinir AS, Australia, Jepang dan Singapura menyerbu pantai Todak yang kontur geografinya mirip dengan Natuna. Yang menarik karena ini untuk yang pertama kali marinir Indonesia melakukan serbuan pantai bersama negara lain. Dan yang lebih menarik lagi diyakini akan ada nota protes dari pihak sono yang juga sudah mempersiapkan infrastruktur intelijennya untuk mengintip jalannya Latgab bergengsi ini. Biarkan saja.

****

Jagarin Pane / 29 Juli 2022

Monday, July 25, 2022

Benua Biru Lebam Membiru

Ironi sekali, sebuah "real estate" paling maju, modern, megah dan berjaya selama hayat dikandung badan, sebuah komunitas antarbangsa kelas "sultan" di ekosistem benua biru yang makmur sejahtera terjadi malapetaka pertempuran dahsyat yang mempermalukan diri sendiri dan lingkungannya. Celakanya lagi tidak ada upaya totalitas secara sistem di bumi bulat bundar ini untuk menghentikannya. PBB tidak punya taring, yang ada hanya gigi susu. Yang terjadi justru saling menyulut, saling melotot, saling menghasut, saling membombardir demi gengsi harga diri. Jadilah benua biru makin lebam dan Ukraina pun babak belur membiru.

Pertempuran hebat ini adalah mahakarya sutradara protagonis dalam episentrum hegemoni pemilik kebenaran subyektivitas. Dan lawannya adalah warisan dari detente empat dekade yang tersisa, yang dianggap sebagai antagonis dari semua pasal-pasal pembenaran produk klub pemenang detente. Dan lokasi perang teknologi tinggi ini ada di sebuah benua bangsawan yang menjadi kiblat dan induk lompatan teknologi, Eropa. Luar biasa. Begitulah aslinya definisi hegemoni yang tidak pernah puas dengan hasrat ekspansi berbasis suudzon dan kepentingan sepihak untuk menguatkan paku status quo.

Padahal saat ini sudah tidak ada lagi lawan tanding yang setara after the end of cold war era. Tidak ada lagi musuh strategis NATO di Eropa, sudah bergeser ke Indo Pasifik. Akhirnya yang terjadi kemudian adalah menepuk air didulang terpercik muka sendiri. Maksud hati ingin memeluk Ukraina apa daya sikil beruang merah ikut terinjak. Dikira lawannya keder dengan gertakan, ternyata yang dihadapi adalah tembok besar bernyali kuat dengan arsenal nuklir terbesar. Nasi telah menjadi bubur ayam dan yang "menikmati" sajian ini adalah decision maker protagonis dan antagonis. 

Sajian lain dari pahitnya bubur ayam tadi adalah krisis energi dan pangan yang berimbas ke segala penjuru mata angin. Inflasi tinggi menerjang bagai rob musim kemarau dan salah satu korban kolapsnya adalah Sri Lanka dan Haiti. Semua negara pasang kuda-kuda tidak terkecuali Indonesia. Kabar baiknya negeri kita-kata IMF dan lembaga keuangan internasional-punya fundamen ekonomi yang kuat. Sejauh ini pertumbuhan ekonomi semester I tahun 2022 ada di angka 5,1% dan inflasi 3,2%. Rasio hutang terhadap PDB 42%. Neraca perdagangan surplus besar, ditopang oleh produk ekspor primadona batubara, nikel dan CPO yang meroket harganya.

Lalu mengapa dunia tidak bergerak melakukan inisiatif perdamaian dari pertempuran paling mematikan di benua biru ini. Sudah lima bulan tanpa jeda dentuman menggema, meluluhlantakkan. Jutaan orang sudah mengungsi. Bisa dibayangkan betapa menderitanya puluhan ribu rumah tangga keluarga Ukraina yang tercerai berai. Ini merupakan episode perjalanan berbangsa dan berdunia yang paling konyol dan primitif di abad milenial. Komunitas antarbangsa Eropa yang berada di era teknologi dan literasi digital dengan kemampuan beyond visual range dan mampu "melipat" bumi, justru terjebak dalam  jaring konflik bergaya primitif. Dan seakan berlaku hukum rimba, adu kuat dan adu banteng. Siapa kuat dia yang menang.

Insiatif perdamaian Presiden Jokowi sempat membuka setitik cahaya pencerahan. Kedatangan RI-1 beserta nyonya ke Kiev dan Moskow menjadi catatan harapan dunia. Ikut sertanya first lady Indonesia mendatangi medan konflik melambangkan pesan kemanusiaan sesungguhnya. Dan ini menjadi catatan terbaik dalam kacamata pemberitaan internasional dari perjalanan paling beresiko seorang Presiden RI dan istri untuk inisiatif perdamaian. Namun sejauh ini belum ada  sinar terang gencatan senjata untuk menghentikan dentuman berbagai jenis alutsista racikan teknologi terkini.

Krisis energi dan pangan sudah meninggi tensinya dan diprediksi akan membuat lumpuh perekonomian di sejumlah negara. Sementara jeda pertempuran fisik Rusia-Ukraina tidak terjadi, terus berlangsung seru. Di Teheran kemarin ada pertemuan tingkat tinggi segitiga Iran, Rusia dan Turki. Sambutan Iran terhadap Vladimir Putin luar biasa sekaligus menyampaikan second opinion soal Ukraina. Bahwa jika Rusia tidak berinisiatif mengambil Krimea tahun 2014 pihak NATO yang akan mendudukinya. Logikanya "bersinergi" sebab salah satu poin penting invasi Rusia ke Ukraina adalah "akan direkrutnya" Kiev menjadi anggota NATO. Dan itu berarti head to head dengan Moskow. 

Ada Kabar terkini pipa gas Rusia Nord Stream I trans Eropa sudah mulai mengalirkan gas ke Uni Eropa. Syarat mengalirnya karena penghuni "real estate" nya melunakkan sanksi kepada Moskow, dengan membuka blokiran bank papan atas Rusia dan pencairan dana untuk transaksi pangan dan energi. Jadi ingat lirik lagu "kau yang mulai kau yang mengakhiri". Sejauh ini Kremlin secara de facto memenangkan pertempuran energi dan pangan terhadap Uni Eropa. Meski di sektor pemberitaan dan opini on the spot medan pertempuran,  Rusia kalah publikasi. Karena mayoritas media mainstream dunia termasuk medsos dikuasai mutlak oleh Barat. Lihat saja pemberitaan CNN Indonesia yang punya networking dengan CNN Internasional.

Kita tidak tahu kapan pertempuran ini mereda. Tapi jika dibiarkan berlarut dan sengkarut akan menjadi krusial manakala semua energi pertempuran konvensional terkuras habis. Belum lagi jika Rusia semakin dijepit dengan real war dan proxy war. Dalam doktrin pertahanan Rusia disebut jika wilayah teritorinya termasuk Ukraina Timur dan Krimea yang dikuasai saat ini, mendapat gempuran hebat dari Ukraina maka Rusia berhak dan sah melakukan counter attack dengan serangan nuklir. Dan kalau ini terjadi bisa dipastikan meletus Perang Dunia ketiga. Dan semua yang dicapai umat manusia menjadi sia-sia. Dan semua yang dilakoni umat manusia game over, termasuk literasi digital yang sedang dibaca ini.

****
Jagarin Pane / 25 Juli 2022

Saturday, June 25, 2022

Inisiatif Cemerlang Indonesia

Pertempuran dahsyat Rusia-Ukraina sudah memasuki bulan ke lima dan sampai hari ini tidak ada inisiatif dari negara lain untuk menengahi dan mengakhiri. PBB yang diharapkan bisa berperan besar melalui Dewan Keamanan "kalah awu" dengan veto. Demikian juga dengan Majelis Umum PBB hanya sekedar menerbitkan resolusi diatas kertas. Kemudian hanya jadi penonton dentuman ribuan senjata di benua terkemuka itu. Ironi banget di sebuah benua digital milenial maju dan sejahtera justru terjadi pertempuran paling menghancurkan disaksikan bahkan diprovokasi oleh tetangga sendiri atas nama persekutuan militer.

Turki pernah punya inisiatif mengajak perundingan damai. Menjadi shohibul bait dari dua delegasi yang bertikai. Formula yang ditawarkan Turki adalah gencatan senjata. Sayangnya Ukraina kurang merespon baik bahkan membuat pernyataan "kompor" sehingga mentah dan mental di lapangan. Sekedar mengingat sejarah, perang Korea tahun 1953 belum selesai sampai sekarang. Hanya ada gencatan senjata di garis demarkasi Pamunjom. Pertempuran Rusia-Ukraina berlanjut terus, Ukraina semakin babak belur. Sementara Sanksi AS dan Uni Eropa kepada Rusia jadi bumerang sendiri. Inflasi, krisis energi dan pangan dunia sudah terjadi di Eropa dan AS.

Inisiatif Indonesia untuk mencoba mengetuk pintu rumah dan pintu hati dua rumah yang bertetangga dekat, bahkan pernah bersatu dan bersenyawa di rumah gadang yang bernama Uni Sovyet, merupakan langkah cemerlang. Seluruh dunia menanti momen penting ini. Presiden Joko Widodo yang menjabat Presidensi G20 adalah kepala pemerintahan dari sebuah negara berkarakter non blok. Kita menaruh harapan besar langkah proaktif Presiden Jokowi ini bisa membuka matahati pemimpin kedua belah pihak, setidaknya gencatan senjata dulu.

Inisiatif Indonesia untuk menengahi konflik berdarah dan menghancurkan di Eropa sangat ditunggu seluruh dunia. Dampak perang dahsyat ini sudah membuat dunia sesak nafas saat ini. Dan kalau ini berlanjut terus bukan tidak mungkin menjadi perang nuklir. Rusia adalah sahabat dekat Indonesia, juga Ukraina. Ketika dunia ramai-ramai seperti paduan suara mengutuk agresi Rusia, Indonesia tidak termasuk barisan paduan suara itu. Netral saja. Sikap diplomasi cerdas ini menjadi kredit poin bagi Indonesia untuk bertamu.

Perang Rusia-Ukraina sesungguhnya telah membuka formula horizon baru tentang perlunya keseimbangan tatanan dunia. Keseimbangan dimaksud adalah dunia yang tidak unipolar alias barat centris. Harus ada penyeimbang untuk meminimalisir perilaku hegemoni dari pemilik super power. Sejarah dunia membuktikan bahwa sejak runtuhnya Uni Sovyet dan bubarnya Pakta Warsawa tahun 1990 tata pergaulan internasional saat ini "dikendalikan" pemilik hegemoni dan sekutunya. Nilai yang digadang-gadang bukan based on kebenaran tetapi pembenaran yang ditentukan berdasarkan kepentingan sepihak. Sudah banyak contohnya seperti di Irak, Libya dan Afghanistan. 

Bahkan yang terakhir di Afghanistan perang berakhir dengan "ditinggal begitu saja" termasuk ribuan alutsista bernilai milyaran dollar. Ini persis seperti akhir perang Vietnam tahun 1975. Artinya kekuatan sebesar apapun, sehebat apapun, sedahsyat apapun tidak mampu menyelesaikan konflik dan pertempuran. Konflik hanya bisa diselesaikan dengan perundingan damai. Titik. Maka berangkat dari dalil kebenaran inilah Presiden Jokowi menuju Kiev dan Moskow tanggal 30 Juni 2022 setelah menghadiri KTT G7 di Jerman.

Indonesia punya pengalaman sukses mendamaikan perang saudara di Kamboja dan menyelesaikan konflik gerilyawan Moro di Filipina Selatan. Perang saudara di Kamboja yang begitu sadis selama belasan tahun setelah AS angkat kaki dari Indochina. Konflik kejam itu seperti tidak menemukan jalan akhir dengan korban jutaan dan genosida. Inisiatif Menlu Ali Alatas untuk mengundang faksi-faksi yang saling bertikai ke Jakarta adalah langkah terpuji. Undangan ini dikenal dengan sebutan Jakarta Informal Meeting (JIM) meski tempat pertemuannya di Bogor.  

Pada awalnya pihak-pihak yang berperang di Kamboja justru saling ngotot dan saling serang pernyataan di JIM jilid satu. Dan itu adalah proses, biarkan mereka curhat dan Menlu Ali Alatas adalah diplomat cerdas juga mediator yang sabar dan ulet. Nyatanya suasana sudah mulai mencair dan melunak serta mampu merumuskan kesepakatan di JIM jilid berikutnya. Akhirnya Kamboja damai abadi sampai sekarang. Artinya formula perundingan damai adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri perang terbuka Rusia-Ukraina. Bukan dengan mengirim ribuan alutsista, umbar pernyataan dan merasa paling benar paling kuat.

****

Jagarin Pane / 25 Juni 2022

Wednesday, June 15, 2022

Mengapa Diberi Nama KRI Bung Karno

Ada kabar bagus untuk Angkatan Laut Indonesia. Galangan kapal swasta nasional PT Karimun Anugerah Sejati di Batam mendapat order pembuatan kapal perang jenis korvet berpeluru kendali. Seremoni first steel cutting dan keel laying baru saja dilakukan pada hari Kamis tanggal 9 Juni 2022 di Batam. Kapal perang ini menjadi istimewa karena dirancang untuk mengakomodasi pelayanan VVIP dan Kepresidenan. Artinya rancang bangun, teknologi infrastruktur dan persenjataannya harus memenuhi kriteria pengamanan VVIP dan Kepresidenan.

Galangan kapal swasta nasional yang lain, PT Daya Radar Utama di Lampung saat ini juga sedang melaksanakan pembuatan 2 kapal perang striking force jenis korvet. Perusahaan ini sudah lebih dulu sukses membangun 4 kapal perang jenis landing ship tank (LST). Beberapa galangan kapal swasta lainnya mendapat order membuat kapal perang jenis LST, bantu cair minyak (BCM) dan kapal patroli cepat (KPC).  PT Lundin di Banyuwangi baru saja berjaya membangun kapal cepat rudal (KCR) teknologi trimaran stealth KRI Golok 688.

PT PAL sebagai BUMN strategis punya jadwal ketat menyelesaikan pembuatan 2 KCR dan 1 kapal landing platform dock (LPD) rumah sakit untuk TNI AL. Yang membanggakan PT PAL baru saja menang tender batch 2 membangun 2 kapal perang jenis LPD untuk angkatan laut Filipina. Juga sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal perang terbesar heavy fregate Arrowhead 140, termasuk rencana membangun kapal selam serbu dengan kerjasama transfer teknologi. Luar biasa kesibukan PT PAL. Kita merasa bangga dengan kemampuan industri pertahanan maritim ini.

Untuk diketahui pembuatan kapal perang korvet berpeluru kendali di Batam ini adalah untuk menggantikan peran KRI Barakuda 814 yang selama ini menjadi kapal VVIP. KRI Barakuda adalah kapal perang jenis FPB57 buatan Jerman tahun 1995.  Hanya saja soal penamaan kapal perang yang akan menggantikan KRI Barakuda ini disebut akan memakai nama KRI Bung Karno. Dalam pandangan kita penamaan ini kurang pas dan tidak setara dengan kebesaran nama dan marwah Bung Karno.

Nama Bung Karno adalah marwah terbesar dan tertinggi untuk negeri ini. Jadi terlihat kurang sepadan jika kapal perang jenis korvet ini diberi nama KRI Bung Karno. Sebagai contoh AS memberi nama kapal induk nuklir terbaru mereka dengan USS Gerald Ford yang merupakan Presiden AS ke 38. Juga ada kapal induk USS Ronald Reagan. Inggris kapal terbesarnya HMS Queen Elizabeth. Demikian juga dengan Rusia penamaan kapal perang berdasarkan hirarki kepahlawanan. Jadi menurut persepsi kita kapal perang yang dibangun ini lebih baik diberi nama yang lain yang setara dengan kelas korvet.

Berbagai kapal perang striking force kita sudah punya penamaan berdasarkan nama-nama pahlawan. Martadinata Class, Ahmad Yani Class, Bung Tomo Class, Diponegoro Class jelas tingkatan kelasnya diatas korvet yang baru mulai dibangun di Batam ini. Ada kesan penamaan KRI Bung Karno untuk korvet ini yang kelasnya lebih rendah dari kelas kapal perang diatas, kurang sepadan, kurang pantas. Lebih pantas nama besar Bung Karno ini disematkan di salah satu dari dua kapal perang jenis heavy fregate Arrowhead 140 yang sedang dipersiapkan pembangunannya. Yang satu lagi diberi nama KRI Muhammad Hatta. Dua kapal perang canggih ini akan menjadi kapal perang terbesar yang dimiliki Indonesia.

Demikian juga dengan penamaan Bandara Soekarno Hatta di Tangerang sebagai bandara nomor wahid di negeri ini. Sepintas sepertinya sudah sesuai namun nama ini sejatinya untuk  "dwi tunggal proklamator", bukan atas nama perseorangan. Dalam pandangan kita alangkah baiknya penamaan ini dipisah saja. Sekedar usul boleh kan. Bandara di Tangerang menjadi Bandara Ir Soekarno. Dan nama Mohammad Hatta bisa disematkan di bandara Kualanamu di Sumatera Utara. Seperti kita ketahui ada dua Bandara yang masih bernama berdasarkan lokasinya, yaitu Kualanamu di Sumut dan Kertajati di Jabar. 

Bandara Kualanamu sangat pantas menyandang nama Bandara Muhammad Hatta dan itu mewakili aspirasi Sumatera. Kita ketahui sejak awal sangat sulit memberi nama pahlawan untuk Bandara Kualanamu di Sumut, sebagaimana dulu Bandara Polonia. Diusulkan diberi nama Bandara A ternyata komunitas B dan C tidak sepakat. Diberi nama Bandara B, komunitas A dan C tidak berkenan. Nah kalau kemudian dimunculkan nama Muhammad Hatta menurut prediksi kita,  bisa disepakati semua pihak. 

Mari kita menempatkan nama besar Bung Karno dalam bingkai dan tempat yang sepadan. Sudah ada stadion terbesar di tanah air bernama Gelora Bung Karno sebagai contoh yang sesuai. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Bung Karno dan Bung Hatta adalah marwah terbesar dan tak tergantikan sepanjang masa. The founding father bagi negeri kepulauan tropis nan indah permai ini. Mari kita renungkan bersama dengan mata hati yang jernih saudaraku yang dirahmati Allah.

****

Jagarin Pane /15 Juni 2022

Wednesday, June 8, 2022

Antara Siaga Dan Waspada

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru saja memberikan kabar terkini tentang situasi perekonomian Indonesia. Pesannya untuk kita agar bersiap menghadapi ketidakpastian ekonomi keuangan internasional, kenaikan harga dan inflasi sebagai dampak pandemi Covid 19 dan perang Rusia-Ukraina. Di belahan bumi yang lain Presiden AS Joe Biden mengumumkan keadaan darurat energi di negaranya ditengah semakin memburuknya hubungan AS-Rusia dengan perkiraan kuat putusnya hubungan diplomatik antara kedua negara. Krisis pangan telah menghantui seluruh dunia termasuk potensi melebarnya konflik bersenjata di Eropa menuju Indo Pasifik.

Sementara itu dalam rapat tertutup Kemenhan, TNI dan Komisi I DPR RI Senin 6 Juni 2022 ada permintaan tambahan pagu anggaran Kementerian Pertahanan untuk tahun 2023 menjadi 319 trilyun rupiah. Sebelumnya pagu indikatif anggaran Kemenhan tahun 2023 yang ditetapkann sementara, ada di angka 123 trilyun. Artinya ada usulan penambahan signifikan sebesar 196 trilyun. Kemenhan dan TNI tentu sudah memperhitungkan besaran nominal tambahan anggaran itu dengan justifikasi yang kuat dan jelas. Dinamika geopolitik dan potensi konflik di Laut China Selatan (LCS) semakin panas dan ruwet sementara kekuatan alutsista kita sampai hari ini masih jauh dari mencukupi. 

Di kawasan lain diatas kepulauan Paracel LCS pekan terakhir Mei kemarin baru saja terjadi insiden gesekan berbahaya antara pesawat intai strategis Poseidon Australia dengan jet tempur J16 fotocopy Sukhoi SU30 China. J16 menyergap Poseidon yang melintas Paracel lalu melepaskan flare dan serpihan aluminium. Diikuti dengan gerakan tangan sang pilot China mengacungkan jari tengah ke arah kokpit Poseidon. Sebuah drama yang benar-benar mencekam situasinya. Pada waktu yang hampir bersamaan kapal coast guard China juga memasuki perairan ZEE Natuna. Setelah diperingatkan KRI Imam Bonjol 383 kapal pengawas pantai China keluar dari ZEE Natuna.

Dampak perang Rusia-Ukraina seperti memberi angin segar bagi China untuk melangkah lebih maju dalam manuver militer dan show of force. Bulan lalu serombongan 30 pesawat militer China menyusup ke area ADIZ (Air Defence Indentification Zone)Taiwan. Sebelumnya jika ada kapal perang atau pesawat yang melintas di LCS, yang terjadi adalah komunikasi saling ejek, nyinyir dan ancam antara kedua belah pihak. Tapi kali ini China mengerahkan jet tempur canggihnya untuk menyergap Poseidon. Australia bereaksi keras dan menganggap penyergapan itu sebagai agresi. Tapi kemudian China membalas kalimat itu dengan menyebut resiko tanggung sendiri. Alamak.

Berdasarkan catatan BPS inflasi kita saat ini sudah 3,5% karena kenaikan harga barang dan jasa termasuk transportasi udara. Sebagai catatan Inflasi di Turki bahkan sudah mencapai 78%. Seluruh dunia menghadapi tekanan ekonomi hebat sebagai dampak Covid 19 dan perang di Eropa. Tidak semua komoditi yang bisa kita tahan kenaikan harganya, ujar ibu Sri Mulyani karena itu bisa menyebabkan subsidi dari APBN membengkak. Sementara ini pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi dan listrik karena pemerintah menambah nominal subsidi seratusan trilyun. Kita apresiasi kebijakan ini.

Antara siaga dan waspada, keduanya mengandung makna yang sama: bersikap hati-hati. Antara perkuatan ekonomi kesejahteraan dan pertahanan sejatinya adalah dua sisi mata uang yang bersinergi kuat. Dinamika geopolitik kawasan yang sudah tidak sejuk lagi dan berdurasi jangka panjang mengharuskan kita pasang kuda-kuda untuk memperkuat benteng pertahanan. Sementara pertumbuhan ekonomi harus berjalan positif untuk meningkatkuatkan PDB kita. Pertumbuhan ekonomi 5% misalnya akan meningkatkan pertumbuhan PDB sekaligus mampu mengelola rasio hutang. Artinya jika hutang bertambah dan diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi dalam kondisi normal, rasio hutang menjadi relatif stabil.

Pertumbuhan kekuatan pertahanan Indonesia tidak bisa lagi dinomorduakan saat ini dan seterusnya karena justifikasinya sudah sangat jelas dan terang benderang. Perkuatan alutsista adalah extra ordinary. Dinamika konflik kawasan sudah masuk stadium tiga sementara kekuatan pertahanan kita masih setingkat "obat generik". Ada perseteruan kuat antara pemilik hegemoni AS dan pesaing hegemoni China di halaman rumah kita. Saat ini sudah terjadi pergeseran kekuatan utama militer dunia ke Indo Pasifik. Di kawasan ini ada tiga hotspot sekaligus yang sama-sama punya potensi meledak dahsyat. Yaitu permusuhan dua Korea, persoalan Taiwan dan klaim terhadap LCS.

Oleh sebab itu pembangunan kekuatan pertahanan dalam pandangan kita harus tumbuh sejajar dengan pembangunan kekuatan ekonomi kesejahteraan. Singkatnya pertumbuhan kekuatan pertahanan tidak boleh dikesampingkan apalagi dibaikan atau ditunda.  Pertarungan saat ini dan masa depan adalah perebutan sumber daya alam, dan negeri kepulauan nan indah ini punya segudang harta kekayaan itu. Mengapa kemudian China keukeuh menduduki Paracel dan Spratly serta membangun pangkalan militer disana karena salah satu wilayah di LCS ini punya kandungan sumber daya energi yang besar.

Tidak mudah memang untuk menentukan prioritas dalam kondisi perekonomian nasional dan internasional saat ini. Namun setidaknya masih ada celah dan harapan untuk memilahnya. Dalam perspektif kita salah satu solusinya bisa saja pemerintah melakukan penjadwalan ulang soal pembangunan IKN Nusantara dan atau menata ulang prioritas proyek strategis nasional yang terkait infrastruktur. IKN tetap dibangun karena sudah menjadi amanat Undang-Undang namun pelaksanaannya yang diundur misalnya mulai tahun anggaran 2024. Demikian juga dengan proyek strategis nasional ada yang bisa ditunda.

Soal perkuatan pertahanan menjadi penting dan mendesak karena kita tertinggal, itu poin pentingnya. Maka keberanian untuk mengusulkan tambahan anggaran yang diajukan Kemenhan dan TNI karena situasinya sudah extra ordinary. Saat ini kekuatan minimal saja (minimum essential force) yang menjadi target perkuatan militer kita belum tercapai. Minimal saja belum terpenuhi konon pula mencapai kekuatan standar dan ideal. Masih jauh panggang dari api.  Meski tidak harus sesuai dengan usulan tambahan anggaran tahun 2023 menjadi 319 trilyun, penambahan anggaran pertahanan yang signifikan selayaknya bisa dipenuhi. Rasio anggaran pertahanan terhadap PDB selama ini hanya di kisaran 0,8% dan itu adalah rasio terkecil di kawasan Indo Pasifik. Standar minimal ada di rasio 1,5% dari PDB. Dan kita belum pernah mendekati rasio itu apalagi mencapainya. Yuk mari kita membaca yang tersurat dan tersirat serta menganalisis situasi geopolitik saat ini dengan mata hati bening.

****

Jagarin Pane / 08 Juni 2022

Monday, May 30, 2022

Skala Prioritas Alutsista, Berharap Di Presidensi G20

Pandemi Covid 19 yang mengharu biru seluruh bumi bulat bundar selama dua tahun terakhir ini, menguras sumur energi anggaran seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Rasio hutang negara di dunia terhadap PDB (Product Domestic Bruto) juga membengkak. Rasio hutang kita terhadap PDB saat ini ada di angka 42-44%. Bandingkan dengan sebelum Pandemi yang dikisaran 30-32%. Meski demikian rasio hutang Indonesia after Pandemi relatif lebih baik dari negara-negara jiran atau negara-negara G20. Juga pertumbuhan ekonomi kita sepanjang triwulan I tahun ini sebesar 5,1% menumbuhkan rasa optimis untuk bangkit dan berlari. Sayangnya ketika dunia bersiap recovery tiba-tiba meledak pertempuran dahsyat di Eropa antara Rusia-Ukraina yang dampaknya dipastikan menguras kembali energi dunia. Baru bersiap untuk memulihkan "luka energi" tiba-tiba harus luka lagi, tiarap lagi. Duh Gusti.

Khusus untuk program penguatan militer negeri kepulauan ini, dalam perspektif kita memakai pola mengedepankan skala prioritas adalah langkah terbaik dan terukur.  Karena mata air sumur anggaran  masih belum terisi optimal, demikian juga dengan keran dari sumur hutang harus dikelola secara profesional dan proporsional. Skala prioritas bukan berarti penundaan karena dinamika kawasan Indo Pasifik termasuk Laut China Selatan (LCS) saat ini dan masa mendatang adalah potensi terkuat untuk bergejolak hebat. Jangan lagi "berandai-andai" tidak ada ancaman terhadap teritori NKRI untuk tigapuluh tahun ke depan karena potensi musuh jelas sudah ada di depan mata. Saat ini diperlukan skala prioritas untuk pengadaan alutsista strategis.

Misalnya kontrak efektif untuk 6 jet tempur Rafale yang sudah diteken dengan memakai anggaran Sukhoi SU35, hanya perlu ditambah 6 unit lagi. Jadi 12 unit Rafale untuk kontrak efektif tahun ini, tidak perlu sekaligus 36 unit. 12 unit Rafale adalah skala prioritas sebagai pengganti 11 unit jet tempur Sukhoi SU35 yang "gagal mendarat" di tanah air. Kita sudah kehilangan waktu 5 tahun dari proses pengadaan 11 Sukhoi SU35 yang ngadat. Maka sangat wajar kalau kita memohon dengan sangat agar 12 unit Rafale ini bisa segera landing 4 tahun mendatang.

Pesanan alutsista sebelum Covid 19 yang segera tiba mengisi inventori TNI AU adalah 5 pesawat angkut berat Hercules type J dari AS mulai Januari tahun depan. Juga 6 pesawat amfibi untuk TNI AU dari Kanada akan tiba mulai tahun depan. Sementara 6 unit tambahan jet latih tempur T-50 dari Korsel diperkirakan datang tahun 2023. Tambahan 6 jet tempur ini akan memperkuat 14 unit yang sudah ada dan semuanya sudah diinstalasi radar Elbit dan dipersenjatai rudal. Tampilannya menjadi Fa-50 sehingga bisa memperkuat skadron jet tempur TNI AU di Natuna. TNI AU juga akan diperkuat 13 radar GCI ( Ground Controlled Interception) digital tiga dimensi dari Thales Perancis. Kontrak efektif sudah ditandatangani di Paris belum lama ini.

Tiga kapal selam Nagapasa Class diharapkan akan operasional penuh setelah selesai harwat (pemeliharaan dan perawatan) tahun ini. Yang paling mendesak adalah kebutuhan tambahan kapal selam serbu untuk memastikan daya gentar alutsista bawah air kita. Saat ini TNI AL hanya punya 4 unit kapal selam "anjing kampung". Untuk itu kita sangat mengharapkan proses pengadaan 2 kapal selam "herder" Scorpene yang digadang-gadang selama ini bisa segera kontrak efektif tahun ini juga. Ini skala prioritas, tidak bisa ditunda karena jujur saja kekuatan bawah air kita dalam SSAT (sistem senjata armada terpadu) belum menggigit. Sementara itu untuk 2 unit kapal perang heavy fregate Arrowhead140 alhamdulillah sudah kontrak efektif. Artinya sudah ada kepastian tambahan 2 kapal striking force yang gahar untuk menjaga kewibawaan teritori NKRI.

Untuk program pengadaan alutsista strategis seperti 6 kapal perang heavy fregate Fincantieri Class dari Italia dan 6 kapal perang Mogami Class dari Jepang serta 36 jet tempur F15 IDN dalam pandangan kita bisa dijadwal ulang. Kita fokus pada harwat dan upgrade 4 unit KRI Diponegoro Class dan 3 unit Bung Tomo Class yang sudah dijadwalkan. Bergantian mengawal teritori laut tersedia 2 KRI Martadinata Class, 3 KRI Fatahillah Class dan 4 KRI Ahmad Yani Class dan sejumlah KRI striking force lainnya. Khusus untuk pengadaan 36 jet tempur F15 IDN yang terkait dengan fasilitas GSP (General Specialized Preferences) ekspor kita ke Paman Sam, jika memang harus segera "diseimbangkan" setidaknya untuk batch 1 bisa order 8 unit dulu.

Diplomasi dan penguatan militer kita perlu effort bertahap. Maka sebagai komplemennya, kelincahan dan kecerdasan diplomasi kementerian luar negeri RI menjadi yang paling penting dan utama untuk dijalankan. Kecerdasan dan kepiawaian itu sudah diperlihatkan dalam Presidensi G20 saat ini ketika beberapa anggota G20 yang dipimpin AS mau mutung di KTT Bali Nopember mendatang jika Rusia diikutundangkan. Rusia kan jamaah G20, perlakuannya harus sama. Langkah cerdas yang diambil Kemenlu Indonesia sangat bermartabat dengan prinsip netral, tidak ikut arus alias nggah nggih mawon. Tetap konsisten mengundang Rusia dan mengikutkan Ukraina. Win-Win solution. Namun kabar terakhir ternyata Ukraina tidak jadi menghadiri KTT G20 di Indonesia. 

Kemampuan diplomasi internasional ini diharapkan bermanfaat mengurangi suhu konflik di LCS. Sejauh tidak ada intervensi militer asing di perairan Natuna, posisi netral kita tetap istiqomah. Membuka dialog yang terus menerus dan mengedepankan semangat kerjasama dengan semua pihak adalah langkah yang harus terus dikumandangkan. Kita sudah paham betul dengan karakter Paman Mao yang mahal senyum dan karakter Paman Sam yang high profile berbumbu emosional. Juga karakter  Paman Bear yang sedikit bicara dan tegas. 

Sembari kita berskala prioritas untuk penguatan militer kita karena keterbatasan anggaran, kecakapan berdiplomasi di Presidensi G20 adalah momentum unjuk kecerdasan dan kepiawaian Indonesia. Siapa tahu dengan KTT G20 di Bali ada solusi perdamaian abadi antara Ukraina dan Rusia. Juga ada solusi kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan di LCS dan Indo Pasifik. Dengan begitu ada harapan relaksasi otot militer, dan pengurangan belanja persenjataan. Semoga Pamam Bear terbuka mata hatinya, semoga Paman Sam menyadari tempramennya dan Paman Mao mudah diajak tersenyum. Dunia kan milik kita bersama untuk kesejahteraan bersama. Recover together recover stronger. Semoga.

****

Surabaya, 30 Mei 2022

Jagarin Pane

Wednesday, May 18, 2022

IKN Rentan Serangan Militer

Adalah Gubernur Lemhannas Andy Widjajanto mewanti-wanti dan menyampaikan pesan kuat untuk kita bahwa ibukota baru Nusantara yang mau dibangun di Kalimantan Timur, dalam persepsi dan perspektif militer serta pertahanan negara sangat rentan terhadap serangan militer dari udara, laut dan darat. Teknologi alutsista saat ini dan masa depan  adalah membangun sistem kekuatan pertahanan secara berlapis dan sinergi. Andy menyampaikan pesan itu dalam seminar daring yang diadakan BRIN hari Kamis tanggal 12 Mei 2022. Temanya adalah " IKN Dalam Dinamika Keamanan Regional Dan Refleksi Identitas Global Indonesia"

Ini sejalan dengan pandangan kita. Bahwa jauh-jauh hari kita sudah menyampaikan opini bahwa sampai saat ini Kalimantan itu masih telanjang dalam sistem pertahanan negara dilihat dari berbagai dimensi seperti pergelaran alutsista, teknologi alutsista dan network centric warfare. Dan dalam konteks membangun IKN secara sistem dan sinergi maka pembangunan kekuatan pertahanan harus menjadi satu formula kebersamaan atau bahkan mendahului. Sehingga ketika IKN operasional penuh maka pada saat yang sama kekuatan pertahanan IKN sudah ready for use. Sejauh ini kekuatan militer di Kalimantan sangat jauh berbeda dengan Jawa yang menjadi pusat kekuatan militer Indonesia.

Merujuk pada perang dahsyat Rusia-Ukraina dengan diluncurkannnya ribuan peluru kendali jarak sedang dan jarak jauh dengan presisi tepat sasaran, maka rentanitas ibukota baru kita Nusantara terbuka sekali. Perang Rusia-Ukraina menjadi mata kuliah maha penting bagi pemikir dan ahli strategi militer seluruh dunia termasuk Indonesia. Sebagaimana pernah disampaikan Panglima TNI Jendral Andika Perkasa. Teknologi militer terkini, intai strategis, intelijen militer dan manajemen pertempuran network centric warfare menjadi materi pembelajaran yang berharga dalam perang terbesar di Eropa sejak perang dunia kedua. Pembangunan kekuatan pertahanan di IKN diniscayakan akan merujuk pada kurikulum terakhir ini.

Halaman depan IKN Nusantara adalah ALKI 2 laut Sulawesi dan selat Makassar. Perairan ini adalah perairan laut dalam dan terhubung langsung dengan Samudra Pasifik. ALKI 2 adalah jalur pelayaran internasional termasuk jalur kapal perang dan kapal selam. Khusus untuk kapal selam tonase besar ALKI 2 adalah jalur paling aman untuk "bergerilya" karena lautnya sangat dalam. Tidak usah heran kalau jalur ini menjadi jalur unggulan lintasan kapal selam China, AS, Australia, Jepang dan lain-lain. ALKI 2 dari arah utara ke selatan akan melewati selat Lombok dan bertemu Samudra Hindia. Artinya halaman depan IKN ini perlu mendapatkan perlindungan berlapis.

Demikian juga dengan perbatasan darat ribuan kilometer dengan Malaysia di halaman belakang IKN. Atau di belakangnya lagi ada Laut China Selatan (LCS) yang demam berkepanjangan. Bukan tidak mungkin peluru kendali jarak jauh China suatu saat bisa menghantam IKN dari lokasi peluncuran di LCS jika terjadi pertempuran terbuka di kawasan itu dan melebar ke segala arah. Semua kemungkinan bisa terjadi. Maka untuk mengantisipasinya perlu perencanaan strategis dan komprehensif bagaimana membangun kekuatan militer IKN dengan pertahanan berlapis. Pertahanan ibukota adalah pertahanan terhormat, pertahanan harga diri dan tidak lagi berorientasi darat melainkan mobilitas strategis tiga matra TNI dan cyber.

Untuk membangun IKN dengan kekuatan pertahanan yang berlapis tentu memerlukan anggaran yang sangat besar. Padahal saat ini perkuatan militer kita juga butuh anggaran besar. Pada saat yang sama dampak Pandemi masih sangat memukul benteng ekonomi kesejahteraan, meski di Triwulan I Tahun 2022 pertumbuhan ekonomi kita menyentuh angka 5, 1 %. Belum lagi dampak perang dahsyat di Eropa. Oleh sebab itu dalam persepsi kita membangun ibukota baru di Kalimantan Timur tidak perlu dilakukan dengan tergesa-gesa. Bertahap saja. Di beberapa negara yang sudah jadi ibukota barunya, untuk membangun ibukota baru diperlukan waktu peredaran matahari selama 10-15 tahun paling cepat. Tidak bisa instan dan harus segera. Sementara pada tahun 2024 bisa dipastikan ada pergantian figur kepemimpinan nasional. 

Membangun kekuatan militer adalah membangun kekuatan sistem interoperability tiga matra plus cyber war dengan menghadirkan sejumlah alutsista canggih teknologi terkini.  Saat ini kita sedang mengarah kesana dan semuanya memerlukan waktu untuk investasi pertahanan. Pada saat yang bersamaan pembangunan ibukota baru Nusantara sedang dalam proses. Maka jalan terbaik adalah melakukan pembangunan IKN secara bertahap, tidak tergesa-gesa. Dan memang tidak ada yang perlu dikejar. Sementara secara nasional prioritas perkuatan militer kita seyoyanya mendapat tempat utama karena dinamika kawasan yang sudah tidak nyaman dan sering demam. Jangan sampai sudah kemalingan baru disiapkan teralisnya. Perkuatan militer lebih diutamakan karena dia adalah teralisnya pembangunan ekonomi kesejahteraan di negeri kepulauan ini.

****

Jakarta 18 Mei 2022

Jagarin Pane