Tuesday, January 21, 2020

CCG Pulang Petang, What Next ?


Demam Laut Natuna Utara mereda setelah Indonesia menurunkan sejumlah "paracetamol" dan "antibiotik" untuk menurunkan panasnya. China Coast Guard (CCG) sudah tidak menampakkan diri lagi di area zona ekonomi eksklusif (ZEE) 200 mil laut dari garis pantai pulau terdepan Natuna.
China menguji nyali nasionalisme Indonesia. Reaksi kita yang riuh rendah dimotori oleh suara Menlu Retno Marsudi yang gagah perkasa, kecuali segelintir oknum bernyali banci, membuat China mengalah sambil mengatakan Indonesia sahabat strategis kami, perairan Natuna tidak kami klaim, hanya tumpang tindih, kata Kemlu nya.
Presiden Jokowi mendatangi Natuna dikawal sejumlah jet tempur, pesawat pengintai strategis dan armada KRI. Ribuan pasukan TNI disiagakan di berbagai titik, Kogabwilhan 1 siaga tempur. Hari-hari yang menegangkan. Jutaan netizen nasionalis menggemuruh mencela China yang tak tahu diri.
Iver, yang digadang-gadang
Ketika Ambalat memanas tahun 2006, Presiden SBY juga mendatangi kawasan itu dengan menaiki kapal perang. Ini adalah simbol "kemarahan" diplomatik yang dikemas dengan baju militer. Oleh sebab itu kita mengapresiasi hadirnya panglima tertinggi TNI yang juga Presiden RI Joko Widodo ke Natuna barusan.
Kehadiran Jokowi dan pasukannya akhirnya melunakkan sikap kaku yang diperlihatkan China. Setidaknya pernyataan sikap Kemlu China mencerminkan suasana itu. Hebatnya lagi sikap tegas dan keras Indonesia mendapat apresiasi dari warga negara jiran ASEAN.
Warga Filipina memuji sikap Indonesia yang bersatu padu menguatkan dan menghalau penceroboh di ZEEnya. Sekaligus mereka mencemooh sikap kurang berani yang ditunjukkan Pemerintah Filipina soal klaim yang sama di Laut China Selatan (LCS).
Juga banyak warga Malaysia angkat topi atas keberanian Indonesia menghadang China. Tahniah Indonesia. Lalu membandingkannya dengan cara pemerintah Malaysia yang melempem berhadapan dengan CCG China di LCS.
Natuna sejatinya sudah dibangun pangkalan militer. Berbagai jenis alutsista canggih sudah dialokasikan sebagai perkuatan basis militer. KRI Bung Tomo Class juga sudah mutasi kesana. Jet tempur berbagai jenis silih berganti berpatroli.
Sinergi patroli Natuna, F16 dan Bung Tomo Class
Namun itu belum cukup karena sesungguhnya semburan api lidah naga terasa sangat panas dan membakar. Jadi sebagai tamengnya kita sangat membutuhkan kapal perang striking force kelas destroyer dengan dukungan jet tempur Sukhoi SU35. Termasuk menambah kapal-kapal Bakamla ukuran besar.
Berkali-kali kita menulis soal perkuatan AL dan AU kita. Bahwa negeri kepulauan ini memerlukan kapal perang striking force ukuran besar. Demam Natuna terakhir ini membuktikan itu. Mestinya gerak cepat pengadaan alutsista gahar sudah menampakkan hasil seperti Sukhoi SU35 dan Iver Class.
Meski kita punya ratusan kapal perang berbagai jenis tapi yang paling modern hanya Martadinata Class, itu pun jumlahnya hanya dua unit. Mestinya kapal jenis ini ditambah lagi paling tidak jadi 6 unit. Bukankah model pembangunannya melalui transfer teknologi. Mengapa sekolah itu tidak dilanjut. Apakah Menhan tidak pernah mengevaluasinya.
Armada kapal perang kita sudah dibagi menjadi tiga. Namun persebaran KRI belum merata. Sebabnya karena isian alutsistanya belum banyak bertambah. Lalu mengapa lambat pertambahan kapal perang kelas korvet ke atas. Ya karena prosesnya tarik ulur. Iver itu jadi cerminnya. Sudah berkali-kali berkunjung ke pabriknya di Denmark tapi sampai hari ini belum tanda tangan juga.
Kita butuh kapal perang besar, bukan hanya produksi Kapal Cepat Rudal (KCR), Kapal Patroli Cepat (KPC). Laut Natuna Utara, Laut Arafuru, pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa perlu dikawal kapal jenis Fregat ke atas. Kalau hanya mengandalkan KCR diketawain sama Ratu Kidul.
Ayolah bergegas, Natuna sudah mengajarkan pada kita what next. Lanjutkan pembangunan Martadinata Class, percepat Iver yang sudah digadang-gadang, tambah lagi kekuatan pemukul atas air dan bawah air. Pilih yang terbaik sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk keinginan produsen dan sales alutsista.

****


Jakarta 11 Januari 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
(Mhn Maaf baru di share terlambat)

Thursday, January 2, 2020

Mengawal Natuna Teritori Marwah


Jauh-jauh hari Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan sebuah rencana strategis untuk memperkuat militer Indonesia. Waktu itu krisis Ambalat sedang panas-panasnya. Tetapi alasan kuat SBY menyiapkan program besar yang dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force) adalah adanya laporan intelijen bahwa China sedang membangun kekuatan militer dan mengklaim Laut China Selatan (LCS).
Sepuluh tahun kemudian, saat ini, militer Indonesia sudah jauh lebih kuat. Berbagai jenis alutsista canggih didatangkan. Berbagai infrastruktur militer dibangun, digelar dan dibesarkan. Industri pertahanan dalam negeri diberdayakan, dibesarkan agar mampu menjadi supplier alutsista yang dibutuhkan.
Natuna dijadikan benteng garis depan. Pangkalan militer segala matra dibangun. Berbagai jenis alutsista semua matra sudah dan sedang digelar secara permanen. Ribuan prajurit sudah ditempatkan disana. Sejumlah kapal perang dan coast guard bakamla siaga. Flight jet tempur berbagai jenis silih berganti melakukan patroli.
Nine Dash Line China, klaim yang rakus
Tapi mengapa justru gangguan di teritori ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Laut Natuna Utara semakin menjadi-jadi dan berani, utamanya sejak Oktober 2019. Bahkan yang terakhir di pekan akhir Desember 2019 kapal Coast Guard China yang di back-up kapal perang Fregat mereka berhadapan langsung dengan kapal Coast Guard kita KN Tanjung Datu. Dan tidak mau pergi.
Kehadiran kapal-kapal Bakamla dengan dukungan KRI dibutuhkan setiap saat, bukan setiap periode. Bukan sekedar melihat tangkapan di layar radar atau jaringan internet lalu mengerahkan kapal. Pernyataan petinggi atau penguasa lautan yang high profil dan lantang sangat diperlukan sebagai bagian dari unjuk nyali, uji nyali.
Kemudian kalau mau berjaya dengan sebutan negara maritim atau poros maritim maka perkuatlah angkatan laut dan coast guard. Dan itu extra ordinary, tidak bisa dengan cara-cara biasa. Harus ada percepatan, lebih cepat. Duit sudah ada, tinggal bagaimana mengelola anggaran pertahanan. Ojo mbulet, kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah, kata orang sono.
Pernyataan dan sikap Ratu Kidul Pangandaran Susi Puji Astuti ketika diberi kepercayaan mengelola KKP adalah gambaran sosok highprofile, nasionalis, berkarakter dan mampu mengangkat marwah teritori maritim. Tidak sekedar mengelola dan membesarkan bisnis maritim. Marwah teritori maritim adalah segalanya, baru kemudian bicara soal bisnis maritim, bukan dibalik. Susi telah membuktikan sosok perempuan kuat dan hebat yang dihormati dan disegani dunia selama lima tahun ini.
Astross TNI AD sudah ditempatkan di Natuna
Kita lihat kondisi Laut Natuna Utara saat ini, sangat kontras. Nelayan kita bahkan dikejar-kejar oleh nelayan asing. Konvoi nelayan asing yang dikawal Coast Guard mereka sudah mencabik-cabik marwah teritori ZEE kita. Dan tidak ada satu pun pernyataan dan langkah yang mampu mengangkat kembali marwah yang sudah dicabik-cabik itu kecuali nota protes. Setidaknya sampai detik ini.
Sudah ada 10 kapal perang mengawal Natuna bersama kapal-kapal Bakamla yang dikenal dengan sebutan Coast Guard. Bahkah KN Tanjung Datu 1101 milik Bakamla yang dikerahkan termasuk kapal terbaru ukuran terbesar, 110 meter panjangnya. Ada KRI Bung Tomo Class, ada Parchim Class, ada KRI Fatahillah dan lain-lain.
Asumsi kita, bahwa intelijen asing menangkap pesan kuat bahwa setelah Ratu Kidul kembali ke pangkalannya di Pangandaran, komando teritorial ZEE tidak lagi sekuat karakternya. Jadi test case perlu dilakukan. Maka kapal nelayan asing ramai-ramai menjarah ikan di Laut Natuna Utara dengan dikawal Coast Guardnya bahkan kapal perangnya. Benar-benar tidak bermarwah.


****
Solo 1 Januari 2020

Jagarin Pane
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Tuesday, December 24, 2019

Tinggal Selangkah Lagi


Kata-kata bijak tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Atau contohlah China yang membangun kekuatan militernya dengan satu kebulatan tekad. Membangun bangsaku, bukan membangun bank saku.
Kita perlu mencontoh Paman Panda terutama dalam tekad menguasai teknologi militer. China membeli kapal induk bekas yang belum selesai dari Ukraina. Supaya Ukraina mau melepas, dibilang kapal induk itu mau dijadikan kasino terapung.
Nah setelah dibeli ternyata kapal itu dibangun menjadi kapal induk beneran, namanya Liaoning (CV16), sekarang sudah berlayar. Based on Liaoning dibuat lagi kapal induk fotocopy namanya Shandong (CV17), sudah diresmikan Xi Jinping barusan.
Mereka juga beli sejumlah jet tempur Sukhoi dari Rusia lalu dipelajari serius bin fokus dan kemudian dibuat jet tempur fotocopy teknologi Rusia. Sekarang dua-duanya seiring sejalan mengawal langit China.
UCAV TNI AU CH4 Rainbow buatan China
Indonesia ingin menguasai teknologi pembuatan kapal selam dengan cara sportif. Maka melalui pemesanan 3 kapal selam kelas Changbogo dari Korsel dikirimlah ratusan ilmuwan kita ke Korsel sepuluh tahun yang lalu untuk transfer teknologi.
Perjalanan selama sepuluh tahun ini sudah menghasilkan produk 3 kapal selam yang dinamai Nagapasa Class. Kapal selam ketiga dibuat di PT PAL Surabaya yang membangun infrastruktur galangan kapal selam.
Nah sekarang sudah di sign pembuatan kapal selam ke 4,5,6 untuk melanjutkan penguasaan teknologi kapal selam. Artinya tinggal selangkah lagi kita menguasai teknologi ini. Sejalan dengan itu saat ini ilmuwan kita melakukan overhaul kapal selam KRI Cakra yang nota bene sejenis dengan Changbogo.
Tak lama muncul suara di media yang bersumber dari Kemenhan bahwa Nagapasa Class tidak sesuai harapan, kurang ini kurang itu. Padahal kontrak kapal selam batch 2 sudah berjalan. Bersamaan dengan itu Menhan Prabowo berkunjung ke Turki untuk tingkatkan kerjasama militer. Lalu mencoba produk kapal selam Turki U214 yang satu perguruan dengan Changbogo yang sama-sama berguru di Jerman.
Martadinata Class, bagian dari transfer teknologi
Kita berharap tidak ada gangguan cuaca apalagi sekelas tornado dalam proses transfer teknologi pembuatan kapal selam Nagapasa Class ke 4,5,6. Kalaupun kita tertarik dengan U214 Turki bisa secara paralel dan juga dengan pola transfer teknologi. Jadi ada dua dosen yang ngajari teknologi kapal selam dalam satu perguruan.
Demikian juga dengan proyek pengembangan jet tempur KFX/IFX dengan Korsel yang sudah berjalan sepuluh tahun tetap pada jalurnya. Sudah duapertiga perjalanan bagi ilmu dilakukan ratusan ilmuwan kita di Korsel. Lima tahun lagi penampakan jet tempur gen 4.5 sudah menjadi kenyataan.
Negosiasi terhadap beberapa pasal kerjasama on going project KFX/IFX masih terus dilakukan. Tapi tidak untuk membatalkannya. Perjalanan kerjasama ini sudah mendekati finish, tentu ada pihak-pihak yang tidak suka dengan pencapaian ini.
Maka seharusnya kita kembali menguatkan tekad untuk pencapaian penguasaan teknologi pembuatan kapal selam dan jet tempur. Hanya butuh lima enam tahun lagi untuk pencapaian itu. Jangan sampai hanya karena persoalan teknis lalu merambat jadi masalah strategis alias kita mundur dari pola kerjasama ini.
Ini sama dengan proyek kerjasama alih teknologi pembuatan kapal perang striking force Martadinata Class yang belum purna. Kita dan Belanda baru bangun dua kapal, tentu ilmu alih teknologinya masih menggantung. Minimal harus ada lagi lanjutan pembuatan kapal perang ke 3 dan 4. Tapi sampai sekarang masih belum dilanjut.
Kalau memang tekad kita seperti yang disampaikan Presiden Jokowi pada Menhan Prabowo untuk membangun industri pertahanan, tiga proyek strategis ini perlu pengawalan khusus untuk pencapaiannya. Kita tahu banyak sekali madu anggaran dikucurkan untuk Kemenhan dan itu mengundang para makelar alutsista untuk mencicipinya.
Namanya makelar tentu dia menawarkan sejumlah "bank saku" untuk pengambil keputusan dan asistennya agar barangnya dibeli. Tekad China yang sukses membangun industri pertahananannya karena komitmen "bangsaku" demikian kuat dan ketat. Sementara kita disinyalir masih ada di dua sisi persimpangan, menebalkan "bank saku" atau bertekad untuk kejayaan bangsaku.
Ayo ngaku aja.
****
Semarang 24 Desember 2019
Jagarin Pane

Monday, December 9, 2019

Melirik Halaman Belakang


Posisi geografi Indonesia sangat strategis, besar, tetapi masih telanjang dimensi pertahanannya. Dua pertiga isi teritorinya air dan kaya sumber daya energi fosil namun angkatan lautnya belum mencapai kriteria diakui apalagi disegani. Juga angkatan udaranya yang harus mengcover ruang udara seluas benua Eropa.
Saat ini cara pandang pertahanan kita masih fokus menghadap utara. Disana ada potensi konflik seperti di Natuna dan Ambalat. Dua hot spot ini mengharuskan TNI gelar kekuatan personil dan alutsista disana. Kita bersyukur secara bertahap isian alutsista anyar sudah digelar di Natuna sebagai jawaban atas klaim ZEE China di perairan Laut Natuna Utara.
Kita punya halaman depan yang menghadap utara dengan segala dinamika yang terjadi. Namun kita juga punya halaman belakang. Disana ada Australia yang punya kekuatan alutsista striking force yang menghancurkan secara massif.
Australia punya doktrin pertempuran menyerang lebih dulu di luar wilayahnya. Kehadiran jet tempur siluman F35 semakin menegaskan bahwa teritori kita semakin telanjang dan tak berdaya manakala terjadi gempuran pre emptive strike dari halaman belakang.
Oleh sebab itu rencana strategis TNI untuk menempatkan batalyon arhanud dengan satuan tembak peluru kendali jarak menengah anti serangan udara di Merauke dan Saumlaki sangat bagus. Dan itu berarti menghadap ke selatan yang nota bene adalah Australia.
Pertahanan udara adalah kombinasi kekuatan jet tempur dan rudal hanud jarak jauh, jarak sedang dan jarak pendek. Selama ini gap yang terjadi di model pertahanan udara kita adalah tidak adanya pertahanan udara area berupa satuan peluru kendali jarak menengah dan jarak jauh. Baru hanud titik di pangkalan militer dan obyek vital.
Dalam program MEF jilid tiga yang dimulai tahun depan diniscayakan ada lanjutan belanja alutsista hanud area. Di MEF jilid 2 sudah dimulai dengan pembelian peluru kendali jarak menengah Nassam 2 untuk pertahanan ibukota Jakarta dan Natuna. Tapi barangnya belum sampai.
Lapisan pertahanan udara kita segera dilengkapi dengan jet-jet tempur terkini, peluru kendali surface to air jarak jauh dan jarak menengah. Dipilihnya Saumlaki dan Merauke sebagai basis pertahanan udara statis sesuai dengan hakekat ancaman karena wilayah itu ruang udaranya terletak di garis lurus antara Darwin dan Guam. Tahu sendirilah maksudnya.
Mengapa tidak di Kupang atau Biak, karena kedua wilayah itu sudah dialokasikan untuk penempatan skadron jet tempur. Jadi kombinasi jet tempur sebagai hanud mobile atau dinamis dengan penempatan satuan peluru kendali darat ke udara di timur negeri adalah strategi zona marking yang bagus.
Lebih dari itu perkuatan lapisan pertahanan udara kita harus mendapat prioritas. Masih banyak titik dan area pertahanan udara kita yang belum tercover. Meski Jawa sudah dilapis dengan kekuatan radar canggih dan jet tempur tapi hanud areanya masih nihil. Apalagi pulau-pulau besar yang lain.
Pekerjaan besar ini harus didukung dengan anggaran yang besar. Nah pantas kan kalau rasio anggaran pertahanan kita ke depan minimal 1% dari PDB dan itu sama dengan 240 T per tahun. Tahun 2020 pagu anggaran pertahanan sudah ditetapkan yaitu sebesar 131 T. Itu sama dengan 0,8% dari PDB kita.
Potensi konflik kita itu muka belakang sama-sama berpeluang. Yang di halaman belakang kita itu adalah tetangga yang baik kalau ada maunya. Suka usil dan suka mendikte tapi jauh lebih makmur dari kita. Suka menolong tapi juga suka ngungkit-ngungkit jasanya itu. Nah menghadapi jiran model ginian harus kita perkuat pagar halaman kita.
Jika pertahanan kita kuat mau ngomong sama jiran jadi berkelas. Maksudnya ketika kita berdiplomasi, argumen kita didengar. Apalagi kalau pas ngomongnya mata ikut mendelik. Itu tetangga pada mikir juga dan syaratnya ya harus punya kekuatan militer yang berkualitas dan disegani. Itu saja.
****
Jakarta, 7 Desember 2019
Jagarin Pane

Monday, November 25, 2019

Menyemai Asa Industri Pertahanan

Presiden Jokowi Senin tanggal 25 Nopember 2019 bertemu dengan sejumlah ilmuwan Indonesia yang sedang menimba riset dan teknologi di Korsel. Jokowi ke Korsel dalam rangka KTT ASEAN-Korsel.
Ratusan ilmuwan Indonesia bergabung dalam proyek teknologi jet tempur KFX/IFX dan pembuatan kapal selam Nagapasa Class di Korsel. Kedua proyek militer ini strategis, sangat prestisius dan sedang berada dalam paruh waktu perjalanannya.
Proyek transfer teknologi pembuatan kapal selam sudah dimulai sejak tahun 2013. Indonesia mengirim 113 ilmuwan ke Korsel. Saat ini sudah berhasil dibangun 3 kapal selam, dua di Korsel dan satu yang terakhir di PT PAL Surabaya.
KRI Nagapasa 403, produk transfer teknologi
Sekarang ini dan dalam waktu enam tahun ke depan dibangun lagi tiga kapal selam jenis yang sama sebagai kelanjutan "kuliah" transfer teknologi. Dengan itu diharapkan tahun 2025 nanti kita sudah dapat menguasai teknologi canggih pembuatan kapal selam.
Saat ini PT PAL sedang meng overhaul kapal selam KRI Cakra 401 sebagai bagian dari implementasi transfer teknologi. Selama ini kapal selam kita kalau mau di overhaul dibawa ke Jerman atau Korsel. Nah sekarang cukup di PT PAL saja.
Proyek strategis dan prestisius lainnya adalah pembangunan jet tempur gen 4.5 KFX/IFX. Kita mengirim banyak ilmuwan untuk program ini. Program strategis ini sudah dimulai sembilan tahun lalu dan diharapkan tujuh tahun kedepan sudah menghasilkan produk jet tempur.
Dalam proyek ini Indonesia urunan sebesar 20% dari nilai keseluruhan program US$ 8 milyar. Sayangnya dalam perjalanan pengembangan jet tempur ini kita menunggak iuran wajib tahunan. Saat ini Kemhan sedang mengkaji ulang. Kita berharap kerjasama akan berlanjut terus. Sudah lebih separuh jalan dan juga sudah keluar duit banyak. PT DI juga sudah mempersiapkan semuanya.
Kemarin baru saja diuji luncur Roket R-Han 122b produk Pindad dan kendaraan peluncurnya. Sukses. Semuanya produk dalam negeri. Belum lama berselang juga sudah diuji endurance produk kebanggaan Pindad lainnya yaitu Tank Harimau. Sukses.
KRI Clurit 641, kapal cepat rudal produk industri pertahanan nasional
Sekarang sudah dimulai produksi massal tank Harimau pesanan TNI AD. Selain itu Pindad juga sudah memproduksi lebih 300 unit Panser Anoa. Roket R-Han dan kendaraan peluncurnya segera diproduksi massal. Luar biasa.
PT PAL saat ini sedang mengerjakan proyek 3 kapal cepat rudal (KCR), 1 kapal jenis LPD rumah sakit dan upgrade KRI Malahayati 362. Jika overhaul KRI Cakra 401 selesai dilanjut dengan pembuatan kapal selam batch2 Nagapasa Class. Jadwalnya begitu padat dan ketat. Belum lagi jika proyek kapal perusak PKR berlanjut.
Sementara berbagai galangan kapal swasta nasional juga ikut kecipratan rezeki APBN Kemenhan. Ada yang buat kapal perang jenis LST, ada yang kebagian kapal patroli cepat, kapal logistik BCM, kapal Bakamla, KAL dan lain-lain. Semuanya sumringah.
Jadi apa yang diperintahkan Presiden Jokowi kepada Menhan Prabowo agar perolehan alutsista menomorsatukan produk industri pertahanan dalam negeri sejatinya sudah dan sedang berjalan.
Jika proyek jet tempur KFX/IFX dan kapal selam Nagapasa Class sukses maka lengkaplah berbagai jenis produk alutsista kita. Dan itu diharapkan bisa dicapai pertengahan dekade mendatang. Luar biasa.
Persemaian asa industri pertahanan kita sudah menghijau dimana-mana. Kebanggaan ini harus terus dikawal dengan amanah, istiqomah dan fathonah. Semangat bangga terhadap produk dalam negeri. Bahwa kita sudah bisa buat panser, tank, roket, rudal, kapal perang, kapal selam, jet tempur. Benar-benar membanggakan.
****

Solo 25 Nopember 2019
Jagarin Pane

Wednesday, November 6, 2019

Berpacu Dengan Waktu Menguatkan Tentara


Tidak ada penolakan dalam rencana kunjungan ke AS, maka mentahlah semua rumor argumen terduga soal Prabowo selama ini, yang ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan RI periode 2019-2024. AS mempersilakan Prabowo berkunjung ke AS. Artinya no problem, clear.

Sejak ditunjuk jadi Menhan, Prabowo terlihat bergerak cepat menginventarisir dan menganalisis perkuatan alutsista TNI yang sedang menuju MEF jilid III  tahun depan. Kesibukan mantan Pangkostrad dan Wapang ABRI ini diikuti dengan release atau public relation yang  giat mempublikasikan aktivitas Menhan.  Ini menjadi sebuah bagian dari aktivitas, agar menjadi jelas untuk disampaikan ke publik. Dan itu sangat perlu.

Demikian juga statemen KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna yang menyampaikan kabar gembira bahwa TNI AU akan membeli 32 jet tempur F16 blok 72 Viper dan sedang memproses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35. Public relation diperlukan untuk memastikan kabar yang sebenarnya agar tidak menjadi rumor atau tanda tanya tanpa jawaban.
Jet tempur Sukhoi SU35, sebentar lagi datang
Publik selalu menanti kabar-kabar teranyar dari Kemenhan dan TNI.  Maka kabarilah dengan fikroh dan ghiroh komunikasi yang jelas dan terukur. Publik kita sejatinya menginginkan tentaranya kuat dan juga sejahtera. Maka setiap program yang dijalankan Kemenhan dan TNI selalu diikuti publik kita dengan semangat kebangsaan yang kuat.

Kemampuan leader diperlukan di Kementerian Pertahanan. Disamping ketegasan dan kemampuan berkomunikasi menjelaskan setiap program dan lain-lain untuk konsumsi publik. Penting juga dicatat jangan sampai ditanya wartawan apa dijawab apa alias gak nyambung.

Program Kemenhan kedepan ini sangat padat dan penuh dengan godaan.  Mengelola anggaran tertinggi diantara kementerian yang ada, tahun depan angkanya mencapai 131 trilyun dan bisa bertambah lewat APBNP. Tentu banyak sales-sales alutsista yang menawarkan produk termasuk juga keikutsertaan pemerintahnya.

Bung Tomo Class, jaga Natuna
Pengadaan sejumlah alutsista buatan AS tidak terlepas dari diplomasi perdagangan RI. Dalam rangka mengamankan fasilitas kelonggaran bea masuk atas sejumlah produk ekspor Indonesia ke AS. Kita juga surplus perdangangan dengan AS yang nilainya milyaran dollar. Maka salah satu jalan keluarnya adalah membeli sejumlah alutsista buatan AS seperti F16 Viper, Hercules, Apache, Chinook.

Indonesia sedang membutuhkan berbagai jenis alutsista tiga matra untuk memperkuat benteng pertahanannya. Semua sedang berpacu dengan waktu.  Tidak hanya dengan AS, kita juga sudah dan sedang membeli sejumlah alutsista dengan Rusia dan Korsel. Dengan Rusia sedang diproses pengadaan 22 tank amfibi BMP3F dan 23 panser amfibi BT3F. 

Dengan Korsel sedang dikerjakan pembuatan tiga kapal selam Changbogo Class. Sebelumnya juga kita sudah menerima tiga kapal selam sejenis dengan metode transfer teknologi. Juga sedang berlangsung program kerjasama pembuatan jet tempur gen 4.5 KFX/IFX yang sudah berjalan sejak tahun 2012.

Perkuatan angkatan laut, ini yang masih kurang greget. Perlu disegerakan kontrak pengadaan kapal perang striking force minimal kelas Fregat dan atau Perusak Kawal Rudal yang dikenal dengan proyek PKR-10514. Untuk kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR) dan Kapal Patroli Cepat (KPC) tidak jadi soal. Galangan kapal nasional kita sudah mampu membuat sebanyak apapun yang dipesan. Termasuk kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank),LPD (Landing Platform Dock) dan BCM (Bantu Cair Minyak).

Panser amfibi BT3F, sudah dipesan untuk Marinir
Angkatan laut kita sangat perlu kapal perang jenis Destroyer. Agar jika sekali waktu (bisa saja kan) ketemu dengen Destroyer China di Laut China Selatan tidak kalah mental. China tidak mengklaim Natuna tetapi perairan ZEE Natuna masih tumpang tindih.  ZEE kita jelas sah dan diakui internasional. Sementara ZEE yang diklaim si lidah naga baru sebatas klaim, belum sah.

Hot spot yang perlu perhatian ekstra adalah Natuna.  Kedepan ini bisa saja pecah pertempuran sporadis di kawasan itu yang bisa melebar ke segala penjuru.  Kesiapan kita saat ini adalah dengan mengerahkan tiga kapal perang Bung Tomo Class dan satu kapal perang KRI Fatahillah bersama sejumlah Kapal Cepat Rudal dan Parchim Class.

Meski kita sudah memiliki ratusan KRI berbagai jenis tetapi untuk striking force jelas masih kurang.  Apalagi untuk memenuhi kebutuhan tiga armada tempur.  Maka lima tahun kedepan seyogyanya minimal sudah tersedia lima kapal perang kelas Real Fregat. Sementara armada kapal selam kita dalam lima tahun kedepan sudah bisa mencapai 8 unit. Lumayanlah.

Menhan kita yang baru ini diyakini bisa mengambil keputusan yang cepat, tepat, lugas dan cerdas. Lima tahun kedepan ini adalah pertaruhan pemenuhan MEF, baru sekedar kebutuhan minimal lho.  Mestinya pola pikir kita tidak dalam rangka memenuhi target MEF lagi tapi lebih dari itu, menuju kekuatan pertahanan yang disegani. Jenderal Prabowo punya visi besar itu.
****
Surabaya, 5 Nopember 2019
Jagarin Pane

Saturday, November 2, 2019

Nambah 32 Jet Tempur F16 Viper, Luarbiasa



Luar biasa, Indonesia segera menambah lagi kekuatan pukul angkatan udaranya dengan memesan 32 jet tempur F16 Viper disamping sedang memproses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35.  Berbagai alutsista lain yang sedang diproses pengadaannya adalah penambahan 5 pesawat angkut berat Hercules seri J, 8 Helikopter tempur Apache, 6 Helikopter Chinook, 6 UCAV CH4 Rainbow, 4 Radar Master T.  Yang mau datang dalam waktu dekat adalah alutsista pertahanan udara Oerlikon Skyshield.

Angkatan Udara Indonesia saat ini sudah memiliki 33 jet tempur F16, 16 Sukhoi SU27/30, 32 Hawk 100/200, 15 T50 Golden Eagle dan 15 Super Tucano. Dengan kedatangan 32 jet tempur F16 Viper dan 11 jet tempur heavy fighter Sukhoi SU35 kekuatan pukul kita menjadi semakin kuat. Alhamdulillah.

****
Jagarin Pane  02112019

Friday, October 25, 2019

Menguji Prabowo Di Teritori Adrenalin


Ketika ada rumor bahwa jendral bintang tiga Prabowo Subianto akan menjadi Menhan di Kabinet Jokowi jilid dua, kita sangat antusias menyambutnya.  Dan ketika rumor itu menjadi kenyataan, Prabowo jadi Menhan maka kita sudah langsung mengibarkan bendera optimis bahwa proyek MEF (Minimum Essential Force) dan modernisasi militer Indonesia akan berjalan dengan langkah tegap.

Prabowo adalah prajurit tempur sejati dan berani. Pengalamannya di organisasi tentara tidak usah ditanya dengan seabreg prestasi. Silakan tanya Mbah Gugel. Termasuk sukses membebaskan puluhan sandera peneliti Tim Lorentz di Papua tahun 1996. Wilayah teritori Prabowo adalah adrenalin negara, militer. Maka salut untuk Jokowi yang menempatkan bekas rivalnya di Pilpres menduduki posisi strategis, Menteri Pertahanan.

Tank Harimau Pindad, kebanggaan nasional
Kementerian Pertahanan yang tahun depan mendapat kucuran anggaran 131 T, terbesar diantara kementerian lain punya hajat besar yang berkelanjutan yaitu proyek MEF jilid terakhir. MEF jilid I tahun 2010-2014, MEF jilid II tahun 2015-2019 dan yang terakhir MEF jilid III 2020-2024. Harus diakui MEF jilid I dengan nakhoda sipil Purnomo Yusgiantoro sukses dengan pengadaan alutsista skala besar. 

Harus diakui juga pada MEF jilid II saat ini ada ketersendatan program.  Contohnya pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 yang prosesnya sepanjang periode MEF II tak juga kunjung selesai.  Termasuk proyek pengadaan kapal perang striking force, ramai terus soal apakah pilih Iver atau PKR.  MEF jilid II kurang terasa gregetnya. Pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 sudah disediakan anggarannya jauh-jauh hari. Bahkan sebelum ada ancaman CAATSA dari AS.

Prabowo datang dengan semangat dan derap langkah yang tegas dan berkarakter. Tugas dia adalah membaguskan kembali kinerja Kemenhan dengan manajemen anggaran yang produktif. Tugas dia adalah membereskan iuran proyek kerjasama teknologi pembuatan jet tempur dengan Korea Selatan KFX/IFX. Tunggakan iuran Indonesia di proyek ini semestinya tidak terjadi dan meluas pemberitaannya di media internasional. Termasuk juga sengketa proyek satelit militer dimana Kemenhan dikenakan denda jutaan dollar.

Tank amfibi BT-3F sedang dinanti kedatangannya
Masih banyak pekerjaan besar yang harus diselesaikan di MEF III.  Pangkalan militer di Natuna belum punya payung pertahanan yang kuat.  Lalu ada pembangunan pangkalan militer di Morotai, Saumlaki, Biak dan Merauke yang memerlukan kecepatan koordinasi, komunikasi dan alokasi anggaran.  Belum lagi soal pengadaan jet tempur F16 Viper, helikopter Apache, helikopter Chinook. Syukur-syukur didatangkan pesawat pengebom strategis.

Posisi geostrategis Indonesia mengharuskan negeri ini memperkuat Angkatan Laut dan Udara.  Prabowo tidak usah diajari soal itu. Belum lagi soal postur kekuatan milter di Kalimantan Timur yang akan menjadi ibukota negara. Harus punya pengamanan pertahanan berlapis. Pembentukan Kogabwilhan, pembentukan Kostrad Divisi Tiga, Armada Tiga, Pasmar Tiga, Koopsau Tiga harus segera diisi dengan beragam jenis alutsista canggih. Tidak sekedar merelokasi alutsista jadul dari Jawa.

Kita sedang berlomba dengan waktu untuk menguatkan militer kita. Ini tidak bisa dikelola dengan manajemen pertahanan yang konvensional.  Dibutuhkan figur leader bukan manager. Prabowo diyakini punya kemampuan out of the box, punya inovasi.  Dan punya adrenalin di teritori adrenalin. Terus terang ketika Pilpres kemarin kita tidak memilihnya karena sejatinya wilayah dan wajahnya adalah wilayah militer dan pertahanan negeri, wilayah adrenalin negara.

Modernisasi militer Indonesia memerlukan figur yang kuat dan mampu mengambil keputusan yang tegas. Proyek alutsista skala besar dengan anggaran besar tentu menjadi ruang tarik menarik berbagai kepentingan.  Kemenhan menjadi “madu” yang menjadi daya tarik para “semut” mengerumuninya. Kepemimpinan yang banyak dirubungi semut berbagai kepentingan itu harus mampu melakukan koordinasi, komunikasi cerdas dan mengambil keputusan tegas dan cepat.

Kita percaya sebagaimana harapan Presiden Jokowi bahwa militer Indonesia harus kuat seperti kekuatan ekonomi kita yang ditargetkan masuk 10 besar dua dekade mendatang. Maka datangkanlah dengan segera  berbagai jenis alutsista canggih untuk mengimplementasikan manajemen network centric warfare. Jangan lupa tingkatkan juga kesejahteraan prajuritnya, itu syarat utamanya.
****
Yogya, 24 Oktober 2019
Jagarin Pane

Saturday, October 19, 2019

Kogabwilhan, Berani Masuk Digebuk


Sudah lama digadang-gadang, ditunggu-tunggu akhirnya menjadi kenyataan. Salah satu kekuatan pemukul terintegrasi TNI untuk tiga wilayah pertahanan resmi beroperasi. Terhitung tanggal 27 September 2019 tiga panglima bintang tiga dari tiga matra resmi dilantik Panglima TNI.
Tanjung Pinang menjadi markas Kogabwilhan I, hot spotnya adalah Natuna, Kogabwilhan II markasnya di Balikpapan hot spotnya Ambalat. Kogabwilhan III markasnya di Biak, hot spotnya Papua.
Dulu di era Orba dikenal istilah doktrin pertahanan, masuk dulu baru digebuk. Artinya musuh yang mencoba masuk teritori Indonesia dibiarkan masuk dulu baru kemudian dipukul mundur. Ini yang disebut Java Centris. Pasukan dari Jawa yang kemudian akan menggebuk musuh yang sudah masuk.
Ucav CH4, bagian dari kekuatan pertahanan kita
Sekarang doktrin masuk dulu baru digebuk alias pola defensif pasif tidak layak untuk dikedepankan. Perkembangan dinamika kawasan seperti Laut Cina Selatan dan Ambalat mengharuskan kehadiran KRI yang terus menerus.
Ongkos operasional dan logistik manakala mengerahkan sejumlah KRI dari Jakarta atau Surabaya jelas tidak efektif. Belum lagi kecepatan respon kehadiran memerlukan durasi lebih lama.
Maka tersedianya pangkalan militer tri matra di Natuna adalah bagian dari perwujudan pola pre emptive strike, berani masuk digebuk. Kogabwilhan menjadi leader dari manajemen pertempuran interoperability tiga matra dalam kurikulum baru yang canggih, network centric warfare.
Kita sudah punya Kostrad divisi 1,2,3. Kita sudah punya Pasmar 1,2,3. Kita sudah punya Armada 1,2,3. Kita sudah punya Koopsau 1,2,3. Maka integrasi organisasi ketiganya ada di Kogabwilhan 1,2,3.
Pola network centric warfare sudah diuji coba dalam Latgab TNI bulan September 2019 di Jawa Timur. Pola ini akan lebih disempurnakan pada tahun depan. Targetnya mulai tahun depan TNI akan komprehensif menggunakan network centric warfare.
F16 Viper, akan memperkuat skadron tempur kita
Ini perkembangan yang membanggakan. Apalagi jika sudah dilengkapi dengan sejumlah alutsista berdaya gebuk tinggi. Seperti jet temput Sukhoi SU35, F16 Viper dan peluru kendali SAM jarak menengah dan jauh. Serta sejumlah KRI kelas fregat.
Kita sangat menantikan tumbuhkuatnya militer kita sejalan dengan tumbuhkembangnya Gdp. Kita punya potensi menjadi negara dengan kekuatan ekonomi 10 besar dunia. Maka kekuatan militer kita seharusnya juga tumbuh menjadi kekuatan yang disegani.
Sehingga pola pre emptive strike kita mampu menjadi sebuah kekuatan pemukul yang menjerakan. Kogabwilhan diniscayakan akan menjadi kekuatan penyengat apabila sejumlah alutsista canggih sudah hadir.
Maka kehadirannya mesti dipercepat, bukan diperdebatkan. Pengen Iver, pengen PKR akhirnya jalan ditempat. Sementara negara lain kecepatan dan percepatan kedatangan alutsistanya tidak bertele-tele. Sedikit bicara barang berdatangan.
Kita lambat dalam proses pengadaan jet tempur Sukhoi SU35. Tiba-tiba SU57 sudah ditawarkan ke Myanmar. Artinya kalau SU 35 hadir, momentumnya sudah tidak jreng lagi alias biasa-biasa saja.
Oleh sebab itu figur Menhan kabinet mendatang harus diisi dengan figur yang cerdas, tidak bertele-tele dan tegas. Kogabwilhan sudah ada sudah dibentuk, maka isian alutsistanya harus segera dipenuhi.
Makna berani masuk digebuk adalah kehadiran dan kecanggihan alutsista di perbatasan. Tanpa itu bisa jadi doktrin pertahanan kita menjadi bahan ejekan negara yang sedang bangun kekuatan militernya. Emang elu berani gebuk gua, emang elu udah kuat, katanya.
****
Malang, 11 Oktober 2019
Jagarin Pane

Friday, October 4, 2019

Unjuk Kekuatan Yang Perlu Diapresiasi


Unjuk kekuatan militer Indonesia diperlihatkan lagi. Belum sebulan melakukan latihan gabungan skala besar dan terintegrasi antar matra, akhir pekan ini diperlihatkan lagi melalui hari ulang tahun TNI yang ke 74. TNI menggelar kekuatan full armament di Pangkalan militer Halim AFB Jakarta, minus kapal perang.

Kekuatan militer Indonesia meningkat signifikan selama sepuluh tahun terakhir. Termasuk juga berkibarnya industri pertahanan dalam negeri seperti PINDAD, PT PAL, PT DI dan industri pertahanan swasta nasional.  Kita boleh membanggakan kekuatan ini jika dibanding dengan kekuatan kita sepuluh tahun yang lalu.

Namun untuk negera kepulauan sebesar ini tentu kekuatan yang kita miliki belumlah mencapai kekuatan minimal yang dipersyaratkan.  Begitu pun pencapaian yang kita dapatkan sampai di usia perjalanan yang ke 74 pengawal NKRI patut disyukuri, dinikmati dan dirayakan dengan menggelar kekuatan.
Kita sudah punya 5 kapal selam, nambah lagi sebanyak 3 unit
TNI tengah dalam perjalanan memodernisasi kekuatannya. Kekuatan itu sejatinya bertumpu pada kekuatan angkatan laut dan angkatan udara.  Negara kepulauan harus punya kekuatan angkatan laut yang disegani karena dua pertiga teritori negeri ini adalah perairan. Juga angkatan udara sebagai payung teritori darat dan laut wajib untuk diperkuat.

Barusan sudah dibentuk model pertahanan wilayah yang dikenal dengan Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan) dan panglimanya berbintang tiga.  Ada tiga Kogabwilhan yang diperasionalkan sesuai tuntutan dinamika kawasan. Kogabwilhan I yang berpusat di Tanjung Pinang akan menjadi payung utama untuk mengawal Natuna dan Selat Malaka.

Gelar-gelar kekuatan seperti ini dipermanenkan sehingga tidak diperlukan lagi gugus tempur laut atau gugus keamanan laut atau satuan tugas tempur lainnya. Termasuk juga mengefektifkan kekuatan Kodam di luar Jawa, sehingga tidak ada lagi kesan Java Centris.

Ucav CH4, kita sudah punya, sampai 8 unit nantinya

Perubahan pola strategis ini sangat membantu utamanya dalam soal rentang kendali pengerahan pasukan dan alutsista termasuk mata rantai logistik.  Nah yang terpenting dari semua perubahan strategis itu adalah ketersediaan isian alutsista yang terintegrasi antara tiga matra.  Jangan sampai dibikin kantor baru, perabotnya belum tersedia.

Isian alutsista masih banyak yang harus dipenuhi dan secepatnya. Kita ingin mengkritisi bahwa selama lima tahun terakhir ini di MEF II proses pengadaan alutsista sedikit tersendat, alias tidak selancar di MEF I tahun 2010-2014. Contohnya pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 dan pengadaan program kapal perang PKR tahap kedua.

Kita berharap kecepatan proses pengadaan alutsista di MEF III tahun 2020-2024 bisa berjalan baik. Kita berpacu dengan waktu karena masing-masing negara di kawasan ini juga berlomba meningkatkan kekuatannya.  Adalah Cina yang menjadi sebab dengan menggeliatkan lidah naganya kemana-mana dan sampai juga di Laut Cina Selatan.

Kita rayakan hari ulang tahun TNI tahun ini dengan semangat kebangsaan yang kuat.  Meski di tengah suasana perayaan ini, TNI sedang melakukan operasi kemanusiaan di Papua dengan mengerahkan sejumlah alutsista berupa pesawat angkut Hercules, CN 235 dan sejumlah Helikopter. Kita doakan semoga negeri penuh pesona ini selalu dalam kehidupan yang damai, aman dan nyaman.  Dirgahayu TNI.
****
Semarang, 04 Oktober 2019
Jagarin Pane