Friday, May 29, 2020

Semakin Gahar Dan Berkelas

Program MEF (Minimum Essential Force) TNI digulirkan tahun 2010 dan saat ini sudah masuk tahun 2020. Berikut adalah hasil karya program besar itu di tiga matra TNI:

Penambahan Alutsista TNI AD
ü  56 unit MLRS Astros II Mk6 dari Brazil
ü  55 unit Artileri Caesar Nexter dari Perancis
ü  18 unit Artileri KH 179 dari Korsel
ü  54 unit Artileri  KH178 dari Korsel
ü  38 unit Artileri M109 A4 GS dari Belgia
ü  103 unit Tank Leopard dari Jerman
ü  50 unit Tank Marder dari Jerman
ü  350 unit Panser Anoa dari Pindad
ü  22 unit Panser Tarantula dari Korsel
ü  10 unit Panser APC Norinco dari China
ü  12 unit Ranpur Bushmaster dari Australia
ü  150 unit Tank M113 dari Belgia
ü  5 unit Tank M113 Arisgator dari Italia
ü  18 unit Ponton  M3 dari Ceko
ü  22 unit Panser Pandur II dari Ceko
ü  12 unit Helikopter angkut Mi17 dari Rusia
ü  5 unit Helikopter serbu Mi35 dari Rusia
ü  8 unit Helikopter serbu Apache dari AS
ü  30 unit Helikopter Bell 412 Ep  AS/ PT DI
ü  12 unit Helikopter Fennec  Perancis/ PT DI
ü  10 unit Arhanud TD2000 dari China
ü  Paket Rudal Grom dari Polandia
ü  Paket Rudal Starstreak dari Inggris
ü  Paket Rudal Mistral dari Perancis
ü  Paket Rudal anti tank Javelin dari AS
ü  Paket Rudal anti tank NLAW dari Swedia
ü  Paket Rudal anti tank Milan dari Perancis

Penambahan Alutsista TNI AL
ü  3 Fregat Bung Tomo Class dari Inggris
ü  2 Fregat PKR 10514 Belanda dan PT PAL
ü  8 Kapal Cepat Rudal 40 m dari  swasta nasional
ü  6 Kapal Cepat Rudal 60 m dari PT PAL
ü  2 Kapal riset Oceanography dari Perancis
ü  10 Kapal LST  dari swasta nasional
ü  1 Kapal LPD dari PT PAL
ü  3 Kapal Selam Changbogo Korsel/PAL
ü  3 Kapal Tanker BCM dari swasta nasional
ü  1 Kapal Latih Layar dari Spanyol
ü  16 Kapal Patroli Cepat dari swasta nasional
ü  4 Pesawat CN 235 MPA dari PT DI
ü  4 Pesawat Bonanza Beechcraft dari AS
ü  2 Pesawat latih Baron G58 dari AS
ü  5 Helikopter Bell 412Ep AS / PT DI
ü  11 Helikopter AKS Panther dari Perancis
ü  14 Drone Scan Eagle dari AS
ü  60 unit Tank Amfibi BMP3F dari Rusia
ü  15 unit Tank Amfibi LVTP dari Korsel
ü  5 unit Panser Amfibi BTR4 dari Ukraina
ü  9 unit roket MLRS RM Grad dari Ceko
ü  8 unit roket MLRS Vampire dari Ceko
ü  4 unit Norinco type 90 dari China
ü  Paket Rudal anti kapal C705 dari China
ü  Paket Rudal anti kapal C802 dari China
ü  Paket Rudal anti kapal Exocet dari Perancis
ü  Paket Rudal anti kapal Yakhont dari Rusia
ü  Paket Rudal QW3 Marinir dari China

Penambahan Alutsista TNI AU
ü  6 Jet tempur Sukhoi SU30 dari Rusia
ü  24 Jet tempur F16 blok 52 Id dari AS
ü  16 Jet latih tempur T50 dari Korea Selatan
ü  16 Pesawat coin Super Tucano dari Brazil
ü  9 Pesawat  Hercules dari Australia
ü  12  Pesawat CN295 dari Spanyol/PT DI
ü  24 Pesawat  KT01 WB dari Korea Selatan
ü  24 Pesawat latih Grob dari Jerman
ü  6 Pesawat patroli CN235 MPA dari PT DI
ü  6 UAV Aerostar dari Israel
ü  6 UCAV Wing Long dari China
ü  12 UAV Wulung dari PT BPPT dan PT DI
ü  9 Helikopter EC725 dari Perancis
ü  6 Helikopter Super Puma dari Perancis
ü  1 Helikopter AW101 dari Inggris/Italia
ü  8 Radar Master T dari Inggris
ü  2 Radar Weibel dari Denmark
ü  1 Radar Vera Ng dari Ceko
ü  4 Batt Oerlikon Skyshield dari Swiss
ü  1 Batt Nasams 2 dari Norwegia
ü  Paket Rudal untuk 16 Sukhoi dari Rusia
ü  Paket Rudal untuk 24 F16 dari AS
ü  Paket Rudal Chiron Paskhas dari Korsel
ü  Paket Rudal  QW3 Paskhas dari China
****

Jagarin Pane /  29 Mei 2020
Dari berbagai sumber

Friday, May 22, 2020

Belanja Terus Neh Demi Marwah Teritori


Prediksi Perolehan Alutsista TNI

Periode MEF III (2020-2024):

ü  50 Tank medium Harimau dari Pindad
ü  200 Panser Anoa dari Pindad
ü  150 APC roda rantai
ü  30 Ranpur Sanca dari Australia / Pindad
ü  50 Panser Badak dari Pindad
ü  50 Panser Pandur II dari Ceko / Pindad
ü  30 Ranpur Intai Kavaleri dari Pindad
ü  18 Unit MLRS Astross II Mk6 dari Brazil
ü  18 Unit Artileri Caesar Nexter dari Perancis
ü  18 Unit Artileri M109 A4 GS dari Belgia
ü  1 Kapal jenis Destroyer
ü  2 Kapal Fregat Iver Class dari Denmark
ü  2 Kapal Martadinata Class Belanda / PAL
ü  1 LPD Rumah Sakit dari PT PAL
ü  1 Kapal jenis LHD
ü  3 Kapal Cepat Rudal 60m dari PT PAL
ü  3 Kapal selam Nagapasa Class dari Korsel/PAL
ü  2 Kapal penyapu ranjau dari Jerman
ü  6 Kapal Patroli Cepat dari swasta nasional
ü  4 Kapal LST dari swasta nasional
ü  22 Tank amfibi BMP-3F dari Rusia
ü  100Tank amfibi BT-3F dari Rusia
ü  40 unit Panser Amfibi BTR4 dari Ukraina
ü  20 Artileri Caesar Nexter LGI dari Perancis
ü  10 Panser Intai Amfibi dari Rusia
ü  10 MLRS Vampire dari Ceko
ü  32 Jet tempur F16 Viper dari AS
ü  6 Pesawat Hercules type J dari AS
ü  9 Pesawat Casa NC212
ü  6 Pesawat Amfibi CL415 dari Kanada
ü  2 Pesawat tanker
ü  2 Pesawat AEW/C
ü  4 Helikopter Chinook dari AS
ü  4 Helikopter Blackhawk dari AS
ü  3 Helikopter EC725 Caracal dari Perancis
ü  8 Helikopter serbu Apache dari  AS
ü  4 Pesawat CN295 dari Spanyol / PT DI
ü  11 Helikopter Bell 412 Ep dari AS / PT DI
ü  10 UCAV Elang Hitam dari PT DI
ü  2 Batt Nasams 2 dari Norwegia
ü  2 Batt Oerlikon Skyshield dari Swiss
ü  2 Batt Rudal SAM jarak jauh
ü  4 Radar Weibel dari Denmark
ü  Paket Rudal Amraam dari AS
ü  Paket Rudal Mistral dari Perancis
ü  Paket Rudal Starstreak dari Inggris
ü  Paket Rudal Exocet MM40 Blok3 dari Perancis

****
Jagarin Pane /  22 Mei 2020
Dari berbagai sumber


Sunday, May 17, 2020

De Facto China Sudah Kuasai LCS

Kesabaran China selama setengah abad untuk perlahan tapi pasti menguasai perairan Laut China Selatan (LCS) sudah menampakkan hasil. Perairan strategis dan kaya sumber energi fosil secara de facto sudah dalam genggaman China. Anjing menggonggong kafilah berlalu, begitu kira-kira bunyi nine dash line nya.
Meski AS menentang keras aneksasi halus terhadap LCS, nyatanya sudah terbangun tujuh pangkalan militer China di Paracel dan Spratly. Meski negara-negara ASEAN plus Australia plus Jepang memprotes keras berkali-kali, nyatanya kawasan perairan itu sudah masuk wilayah distrik Xisha dan Nansha China sejak April 2020.
Bahkan mulai Mei 2020 ini China melarang aktivitas apapun di perairan Paracel. Yang terkena pukulan jelas Vietnam karena perairan itu ada di halaman depan ibukota Hanoi. Kemudian dalam waktu dekat China juga akan menerapkan zona identifikasi pertahanan udara yang dikenal dengan istilah ADIZ (Air Defence Indentification Zone).
Salah satu pangkalan militer China di LCS
Yang paling sial tentu Malaysia. Sebab dengan penguasaan LCS dan ADIZ otomatis terputuslah teritori Sabah dan Sarawak dari Semenanjung Malaysia. Belum lagi di selatan LCS ada pangkalan militer Indonesia di Natuna. Kapal perang dan jet tempur Indonesia secara rutin patroli di Natuna. Pak Cik pasti pusing tujuh keliling.
Yang paling tegang tentu Vietnam. Berhadapan langsung head to head dengan Hainan dan Teluk Tonkin yang menjadi home base terbesar di teater selatan angkatan laut dan udara China. Kemudian ada Paracel di depan hidung Vietnam. Apalagi ternyata di halaman ZEE sendiri tidak boleh ada aktivitas nelayan dan eksplorasi minyak. Paman Nguyen pasti nyesek tuh.
Yang paling gondok tentu Filipina. Kapal perangnya sempat dikunci dengan radar tembakan dari kapal perang China April lalu. Sejatinya insiden di Spratly itu todongan bersenjata paling serius yang dialami angkatan laut Filipina. Dan China tidak peduli dan terus mengintimidasi. Tuan Duterte pasang muka marah.
Lantas, bagaimana dengan Natuna. Siapkah kita menghadapi semburan api lidah naga yang semakin panas. Cukupkah hanya dengan nota protes diplomatik berulang kali. Cukupkah dengan menggelar operasi gugus tempur laut dan udara. Jawabnya tidak.
Sekuat apapun militer kita tetap "gak nendang" di mata China. Bahkan semua kekuatan militer negara ASEAN digabung belum mampu menyeimbangkan kekuatan militer China. Itu China yang sekarang. Bagaimana dengan China sepuluh tahun lagi. Jawabnya tak terbendung.
Diponegoro Class, bagian dari armada TNI AL yang canggih
Lantas bisakah mengandalkan AS. Tidak menjamin. Meskipun saat ini AS mengerahkan sejumlah kapal tempur kelas berat ke LCS untuk menekan China. Juga armada kapal selam nuklir yang ada di Pasifik, berikut sejumlah pesawat pengebom nuklir B1B Lancer.
Sebab ada tiga hot spot di dunia ini yang dijaga ketat oleh AS. Yaitu kawasan Asia Timur, kawasan Teluk Persia dan kawasan Mediteranian. Belum lagi kehadiran armada AS untuk Amerika Latin. Jadi AS tidak fokus ke LCS. Walaupun saat ini AS sedang unjuk taring dengan mengerahkan kapal selam nuklir dan pesawat pengebom nuklir ke LCS.
Oleh sebab itu perlu strategi besar dan cerdas menghadapi China. Harus ada inisiatif dari sejumlah negara di kawasan untuk menyatukan sikap. Dan ini yang sampai sekarang tidak muncul-muncul. Perlu mengikutsertakan India, Australia, Jepang dan AS masuk dalam aliansi pertahanan bersama negara ASEAN.
Harus ada inisiatornya. Harus ada diplomasi ulung yang mampu mengajak peran bersama. Ini kerja besar dan berat. Yang jelas AS tidak mau bermain sendirian menghadapi China. Harus keroyokan, itu model AS. Apalagi ini China, raksasa yang sedang menggeliat kuat.
Maka prediksi kita kedepan adalah akan tercipta dua blok baru. Dan terjadi perang dingin sebagaimana era tahun delapan puluhan antara NATO dan Pakta Warsawa. LCS menjadi area titik panas yang rawan meledak. Dan itu ada di depan mata kita, di halaman depan rumah kita.
Maka kita harus bersiap untuk kondisi terburuk. Persiapannya seperti makna Si Vis Pacem Parabellum. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Dan siapkanlah perkuatan alutsista yang setara. Dengan durasi waktu yang singkat. Jangan lagi ngomong tigapuluh tahun tidak akan ada musuh.
Pada tataran diplomasi harus ada model persekutuan baru untuk membendung ekspansi China. Tidak bisa ditunda lagi. Sebab kalau masih memakai model konvensional seperti sekarang ini, sendiri-sendiri berteriak, kirim nota protes mengecam keras, tidak akan berpengaruh bagi China. Sekali lagi anjing menggonggong kafilah berlalu. Emang gua pikirin, katanya.💪💪ambil muter LCS.
****
Jagarin Pane/ 17 Mei 2020

Friday, May 8, 2020

Indonesia Siaga Di Natuna

Demam tinggi di tengah Pandemi Covid 19 semakin mencekam di Laut China Selatan (LCS). China lagi naik pitam sehubungan dengan melintasnya konvoi kapal perang dan pesawat pengebom strategis B1B Lancer AS keliling hilir mudik di LCS.
Kalau diurut-urut kejadiannya kan bermula dari China juga. Armadanya keliling LCS mulai dari Vietnam, Filipina dan Malaysia Timur. Di Vietnam menghajar kapal nelayan sampai tenggelam. Di perairan ZEE Filipina melakukan provokasi berbahaya, lalu di Sabah show of force terhadap Petronas yang lagi eksplorasi minyak di LCS.
Kamis ini armada tempur China dengan dukungan kapal induk Liaoning, sejumlah destroyer,fregat dan kapal selam termasuk jet tempur mulai memperlihatkan taringnya di LCS. Meski kemarahannya ditujukan ke AS tapi limbah adrenalinnya tetap tumpah kepada pemilik kapling klaim sejumlah negara ASEAN.
Astoss II Mk6 sudah ditempatkan di Natuna
China baru saja memberi nama dan region pada puluhan pulau kecil yang berserakan di LCS. Saat ini China bahkan sedang mempersiapkan zona identifikasi pertahanan udara ADIZ ( Air Defence Indentification Zone) di LCS. Ini sebuah langkah berbahaya dan akan berdampak luas.
Berkenaan dengan kondisi terkini di LCS militer Indonesia mengambil sikap bersiaga penuh. Sementara Menlu Retno Marsudi bersuara terang menyatakan keprihatinannya akan kondisi LCS. Semestinya bisa mengedepankan code of conduct karena kita semua sedang dilanda wabah Covid 19, katanya.
Natuna kembali jadi perhatian. Panasnya perairan LCS terasa di bumi rantau nan indah. Pasukan TNI yang sudah ditempatkan disana akan melewati hari-hari penuh siaga. Diantara seluruh perbatasan teritori yang kita kawal, Natuna adalah yang terlengkap dan terintegrasi.
Sudah ada sejumlah kapal Coast Guard, kapal KKP serta sejumlah KRI yang berpangkalan disana. Termasuk Brigade tempur komposit Gardapati di daratan Natuna. Teritori Natuna ada dalam kendali Kogabwilhan I. Dengan kekuatan Armada Satu 35 KRI, 3 Skadron tempur dan 1 Skadron UAV. Ada kekuatan 1 divisi Kostrad, 1 divisi Marinir dan dukungan batalyon Kodam di Sumatra dan Kalimantan Barat.
Meski tidak masuk Kogabwilhan I, kekuatan kapal perang KRI striking force dari Armada Dua yang berkedudukan di Surabaya diniscayakan memback up kesiagaan ini. Juga 1 Skadron jet tempur Sukhoi dan 1 skadron F16.
Kekuatan pukul organik di Natuna diisi oleh KRI Bung Tomo Class, sejumlah KRI Parchim Class dan Fatahillah Class. Berkaca dari insiden Januari 2020 yang lalu kehadiran KRI Martadinata Class dan KRI Diponegoro Class dari Armada Dua diperlukan sebagai perkuatan inti.
Kemarahan China dalam pandangan dunia internasional tidak pantas diperlihatkan. Seperti anak kecil yang suka mengganggu bikin onar tapi ketika ketemu rival yang setara mengedepankan emosi. Padahal kita lihat betapa negara-negara ASEAN yang bersinggungan dengan dia tetap menahan diri.
KRI Bung Tomo Class mengawal Natuna
Berhadapan dengan karakter arogan ini maka perlindungan dan payung pertahanan Natuna harus diprioritaskan. Sudah jauh-jauh hari kita sampaikan. Januari yang lalu China sudah mengganggu ZEE Natuna. Nah sekarang datang lagi dengan tensi amarah unjuk kekuatan di LCS. Dan ini yang terbesar. Masih pasif dan low profile kah kita.
Tidak hanya memperkuat militer. Kita juga harus proaktif melalui jalur networking diplomasi melakukan pendekatan kepada negara-negara yang jadi lawan China. Harus ada langkah besar, cermat dan cepat untuk menyeimbangkan suasana, menyeimbangkan arogansi. Jangan biarkan China merajalela di LCS.
Kedepan ini pertarungan memperebutkan hegemoni antara China dengan AS semakin terang benderang dan vulgar. Tuduhan AS terhadap asal muasal Corona, berjayanya teknologi 5G Huawei, perang dagang, pertumbuhan ekonomi dan militer China yang signifikan, klaim China atas LCS.
Semuanya akan menjadi dentuman keras bernuansa nuklir. Sebagaimana ancaman Presiden Donald Trump. Ancaman itu kemudian dijawab oleh China dengan ready for war. Pengerahan armada tempur China ke LCS adalah salah satu sekamnya.
****
Jagarin Pane / 07 Mei 2020

Thursday, April 30, 2020

China Menggebu ASEAN Terpaku

Code of Conduct alias kode etik perilaku yang didengungkan ASEAN untuk bertatakrama tenggang rasa di Laut China Selatan (LCS) tidak digubris China. Jangankan LCS, ada wabah maut yang meluluhlantakkan ekonomi dunia saja China gak peduli.
Mestinya fokus aja dulu ikut prihatin dengan wabah Covid19. Sayang tidak diperlihatkan. Begitu dia sembuh dari serangan wabah, ambisi hegemoni dipertunjukkan untuk ekspansi liar penguasaan teritori sumber daya mineral. Mulai dari Laut China Timur (LCT),sampai LCS.
Klaim sepihak tidak menyelesaikan masalah. Meski China telah membangun fasilitas dan pangkalan militer di Paracel dan Spratly. Arogansi militer yang diperlihatkan China selama ini menunjukkan kualitas diplomasi egois dan kaku. Dan ini sudah menimbulkan antipati di sejumlah negara.
Klaim China atas LCS
Vietnam yang berada di garis depan LCS sudah lama ribut dengan tetangga utaranya. Pembangunan kekuatan militer Vietnam sangat pesat dan satu arah alias berkiblat ke Rusia. Kita lihat perolehan alutsista strategisnya mulai dari kapal selam Kilo, jet tempur Sukhoi, pertahanan pantai Bastion kapal perang Gepard Class. Semuanya dari Rusia. 
Filipina juga berbenah diri memperkuat alutsistanya. Meski belum sekuat Vietnam dan Indonesia, negeri itu berpacu dengan waktu untuk menggagahkan militernya. Filipina terlena tidak menguatkan militernya ketika ada payung militer AS dengan pangkalan udara Clarck dan pangkalan angkatan laut Subic. Kedua pangkalan militer itu sudah ditutup.
Malaysia kelihatannya kurang bergairah memperkuat militernya. Penambahan alutsista nyaris tak terdengar karena rasio hutang terhadap PDB diatas 50%. Akibatnya anggaran pertahanan tidak bertambah signifikan. Padahal perairan Sabah sudah sering disisir armada China, bahkan pesawat pengebom China ikut "parade".
Pertanyaannya dimana semangat kebersamaan ASEAN. Sepertinya jalan sendiri-sendiri untuk mengamankan kepentingan nasionalnya. Code of Conduct yang ditawarkan ASEAN hanya nyanyian hampa. Jadinya wibawa dan marwah ASEAN jika berhadapan dengan China sudah kalah mental dulu. Dan tidak bersatu sikap.
ASEAN masih mengharap payung armada pasifik AS. Tapi ketergantungan itu menjadi nisbi manakala 2 armada kapal induk AS ditarik ke pangkalan karena awaknya tertular Covid 19. Praktis saat ini tidak ada payung perlindungan AS di LCS. Maka China leluasa "berkunjung" dan bikin onar.
Di Natuna sudah dibangun infrastruktur pangkalan militer namun isian alutsistanya masih sangat kurang. Bandingkan dengan Vietnam. Sepanjang garis pantai yang berhadapan dengan Hainan sudah dipasang rudal Bastion bersama puluhan kapal perang dan kapal selam.

Iver Class akan menjadi kekuatan utama TNI AL

Teritori terdepan di LCS ini harus diperkuat dengan alutsista sekelas dengan Bastion kombinasi dengan Nasams2. Ancaman untuk Natuna bukan hanya jet tempur, juga kapal perang jenis Fregat keatas. Makanya KRI yang mengawal Natuna juga harus Fregat keatas. Bukan KCR.
Diplomasi setara dengan China harus diimbangi dengan kekuatan militer yang setara juga. Kemudian menyatukan sikap khusus untuk 4 negara, Indonesia, Vietnam, Filipina dan Malaysia. Supaya tidak ada kesan terpaku dan kalah mental, ambil posisi "bersatu kita teguh" khusus untuk 4 negara ini. Adakan KTT spesial misalnya atau melakukan latihan militer 4 negara.
Atau ajak sekalian AS, Australia dan Jepang ikut latihan militer skala besar. Menghadapi China kita tidak bisa sendiri-sendiri. Kalau perlu buat perjanjian pertahanan semacam FPDA. Gak masalah kan. Malaysia dan Singapura anggota FPDA dalam ASEAN. Kalau pakai cara-cara konvensional, China pasti akan semakin merajalela. Apakah kita mau China mengobok-obok Natuna atau bahkan menganeksasi ?

****
Semarang, 28 April 2020
Jagarin Pane

Friday, April 24, 2020

Hellfire Apache


Sangar banget dipasang rudal maut Hellfire. Helikopter tempur Apache Indonesia adalah salah satu yang tercanggih yang dibeli dari AS. Markas skadron serbu Apache di Pangkalan AD Ahmad Yani Semarang. Indonesia membeli 8 Helikopter serbu Apache lengkap dengan sistem persenjataannya dan akan menambah kekuatan Apache dengan pembelian tahap berikutnya.

****
Jagarin Pane / 24 April 2020

NASAMS Datang

Selamat datang sistem pertahanan udara untuk ibukota Jakarta. Namanya NASAMS 2 buatan Norwegia.  Sementara jenis peluru kendalinya Amraam AIM 120 buatan AS. Satuan tembak peluru kendali darat ke udara jarak sedang ini dibawah kendali Batalyon Paskhas TNI AU. Satu sistem battery NASAMS 2 terdiri dari 3 kendaraan peluncur. Satu kendaraan peluncur bisa memuat 6 peluru kendali. Jadi ada 18 peluru kendali SAM (Surface to Air Missile) yang memayungi ibukota. Alhamdulillah. Ini baru tahap pertama, masih ada pembelian tahap berikutnya.



****
Jagarin Pane / 24 April 2020

Monday, April 20, 2020

Tetap Pasang Kuda-Kuda

China kembali memperlihatkan arogansi militernya meski dunia lagi "dianeksasi" musuh bersama Corona. Militer negeri itu mengerahkan kapal induk Liaoning dan sejumlah kapal striking forcenya di Laut China Timur (LCT) dekat Okinawa dan Selat Taiwan.

Tidak hanya di LCT tapi juga di Laut China Selatan (LCS) China memperlihatkan keangkuhan militernya. Belum lama berselang kapal nelayan Vietnam diseruduk dan ditenggelamkan di perairan Paracel LCS. Padahal negeri tirai bambu itu belum sembuh benar dari serangan virus mematikan Corona.

Pada saat yang sama kapal induk AS yang sedang bertugas di Pasifik Barat USS Theodore Roosevelt ditarik ke Guam. Dan kapal induk yang lain USS Ronald Reagan diistirahatkan di Yokosuka Jepang. Semua karena ratusan awaknya terkena virus Covid 19.  Maka pertunjukan militer China yang leluasa mengerahkan sejumlah kapal perang ke LCTdan LCS  adalah cermin ambisi militer yang buas.

Ketika ditinggal payung dua kapal induk AS yang "ditaklukkan" Covid 19,  betapa terasa telanjangnya LCT dan LCS. Artinya China memang hanya sepadan lawan AS. Kombinasi seluruh kekuatan militer di Asia Tenggara tidak dianggap gahar alias gak nendang bagi China. Makanya dia leluasa suka-suka hati mengerahkan kapal perangnya yang jumlahnya ratusan unit kemana dia suka.

Belum lagi soal pelebaran pengaruh. China sudah dan sedang membuat pengaruh di Kamboja, Laos dan Myanmar. Sementara Thailand tidak punya klaim konflik alias netral, Singapura juga. Maka sesungguhnya ASEAN tidak lagi kompak menyuarakan kata sepakat untuk melawan klaim China terhadap LCS.

Sopan santun militer dan ikut bersimpati atas tragedi wabah Corona yang diawali dari China, yang melanda dunia saat ini tidak diperlihatkan China. Ambisi militernya yang haus penguasaan sumber daya energi membuat semua negara di sekitarnya pasang kuda-kuda.

Maka bagi Indonesia persiapan pasang kuda-kuda adalah mempercepat perolehan alutsista yang berdaya gebuk besar. Misalnya untuk angkatan laut, Iver Class. Dan melanjutkan program Martadinata Class batch 2. Untuk angkatan udara percepat proses jet tempur F16 Viper. Fokus ini saja dulu karena memang sudah jauh-jauh hari dipersiapkan.

Selama lima tahun ini tidak ada penambahan alutsista strategis jet tempur dan KRI striking force. Yang ada hanya kedatangan alutsista dari proses rezim sebelumnya. Jet tempur Sukhoi SU35 hanya fatamorgana. PKR 10514 jalan ditempat alias hanya dua saja cukup kayak slogan KB.

Bagaimana mau pasang kuda-kuda kalau soal pengadaan alutsista strategis terkesan lambat. Mudah berputar haluan dan retorika menggebu kemudian diam nyaris tak terdengar. Seakan-akan semua sedang bersiap mendengar suara baling-baling Nagapasa Class. Dan yang terdengar justru jeritan Corona yang membuat dunia terhempas.

Rapatkan barisan, perkuat pagar teritori negeri gak pake lama. Beli alutsista strategis tanpa harus bertele-tele sesuai kebutuhan bukan sesuai selera. Tetap fokus pada physical distancing, stay at home mawon. Pertahanan negeri tetap bagian dari prioritas. Pertahanan negeri adalah investasi, jadi percepatlah dan istiqomahlah.

****
Semarang/ 15 April 2020
Jagarin Pane