Wednesday, October 28, 2026

Membaca Kegelisahan Little Red Dot

Hari-hari ini kita menyaksikan bombardir informasi soal IHSG dan Karhutla yang meluas menjadi Cognitive War antara Indonesia dan Singapura. Secara kronologis, dalam perspektif Indonesia, Singapura sepertinya merasa gelisah dengan rencana akbar ekspor satu pintu Indonesia. Melalui Danantara seluruh komoditi ekspor sumber daya alam (SDA) negeri ini akan dikonsolidasikan mulai tahun 2027. Selama ini negeri mungil itu menjadi "pusat pengepul" terhadap komoditi ekspor SDA Indonesia dan kondisi status quo ini yang kemudian hendak direformasi oleh Presiden Prabowo. Tim intelijen ekonomi Presiden sudah jauh-jauh hari menganalisis soal transfer pricing, under invoicing yang secara akumulasi merugikan Indonesia milyaran dollar.

Apa yang kemudian membuat Presiden Prabowo murka adalah karena disinyalir Korporasi Singapura Temasek dan GIC melakukan counter attack, intervensi geopolitik melalui tekanan kepada MSCI. Temasek dan GIC mempunyai pengaruh di lembaga pemeringkat rating bursa saham MSCI (Morgan Stanley Capital International). Berada dibelakang ancaman MSCI untuk menurunkan rating IDX. Tidak tanggung-tanggung langsung 2 tingkat dari Emerging Market menjadi Stand Alone Market. Singapura memakai invicible hand untuk menghantam IDX. Jelas ini merupakan bantingan yang sangat menyakitkan dari jiran yang merasa masa depan kesejahteraannya terancam. Dan ini bukan yang pertama. Karena sebelum ini juga ada upaya MSCI untuk menghancurkan IDX dan Kurs padahal fundamental ekonomi Indonesia kuat.

Dalam catatan kita, perjalanan bertetangga dengan negeri mungil yang sejahtera ini mirip ungkapan "lain di bibir lain di hati". Singapura karena banyak berinvestasi di Indonesia lalu merasa kastanya lebih tinggi alias sombong. Pada sisi yang lain ada kesan Singapura selalu merasa khawatir akan eksistensinya. Dan berusaha mendikte tetangga besarnya. Misalnya ketika Indonesia akan menempatkan 2 skadron jet tempur Hawk di Pekanbaru dan Pontianak yang baru dibeli dari Inggris tahun 1995, Singapura merasa khawatir, terancam dan terkepung. Padahal saat itu negara kota ini sudah punya perangkat pertahanan yang kuat dengan puluhan jet tempur F16, F15 dan kapal perang modern.

Kesan ingin mendikte juga terlihat ketika Indonesia membeli 3 kapal perang fregat dari Inggris tahun 2014. salah satu nama dari 3 kapal perang "Bung Tomo Class" ini diberi nama KRI Usman Harun 359. Singapura merasa keberatan dengan penamaannya untuk KRI striking force Indonesia. Bahkan secara terang benderang Menteri Pertahanan Singapura melarang KRI Usman Harun 359 masuk perairan Singapura. Begitu emosionalnya perilaku diplomatik jiran sebelah Batam ini, hanya untuk penamaan kapal perang. Singapura berpandangan bahwa Serda Usman dan Kopral Harun, 2 prajurit KKO Indonesia waktu itu (sekarang marinir) adalah teroris. 

Kaget juga kita mendengar argumen paranoid itu. Artinya Singapura tidak mampu move on dan tidak paham soal persepsi dan perspektif sejarah kebangsaan masing-masing negara. Padahal dalam era konfrontasi Dwikora 1964-1966, sabotase yang dilakukan 2 prajurit KKO itu adalah bagian dari perintah komando pertempuran atas nama "Ganyang Malaysia" oleh Bung Karno. Sejarah mencatat tentang sabotase dan peledakan McDonald  House di Orchard Road tanggal 10 Maret 1965 menewaskan 3 orang dan melukai 33 orang lainnya. Sabotase ini menggemparkan Singapura.

Kita ketahui bersama Singapura saat ini memiliki kekuatan militer berkarakter pre emptive strike. Memiliki kemampuan serang jarak jauh dengan dukungan jet tempur F15, F16 dan F35 yang jumlahnya mencapai seratusan. Termasuk kapal perang frigat dan kapal selam canggih U218 buatan Jerman. Wajar saja karena negeri ini secara geopolitik berada di dua kekuatan demografi besar yang menghimpit wilayahnya, Malaysia dan Indonesia dengan pengalaman sejarahnya. Negara yang sudah sejahtera wajar dan pantas memiliki kekuatan militer tangguh untuk menjamin eksistensinya. 

Meski mempunyai kekuatan militer yang canggih, Singapura bukan menjadi ancaman bagi Indonesia. Karena dalam perspektif intelijen militer kita,  Singapura hanya sebuah little red dot. Sebuah hamparan kecil yang lebih mudah ditaklukkan jika terjadi konflik militer. Istilah little red dot diperkenalkan oleh Presiden Habibie yang menyebut kecilnya Singapura seperti noktah merah di peta geopolitik kawasan. Sebagai negara jasa sebenarnya sangat mudah membuat negeri itu panik tanpa harus menembakkan peluru. Pakai pola asimetris saja.

Ketika saat ini Indonesia sedang giat-giatnya membangun kekuatan militer melalui Optimum Essential Force, bisa dipastikan Singapura akan berhitung ulang menata manajemen pertahanannya. Benchmark perang Rusia-Ukraina dan AS, Israel - Iran membuktikan bahwa teknologi rudal balistik dan drone adalah alutsista strategis yang mampu meluluhlantakkan ADS (Air Defence System ) Israel dan Pangkalan militer AS. Meski Singapura memiliki ADS yang kuat, tidak menjamin negeri itu bisa bertahan manakala ada serangan ribuan drone dan ratusan rudal balistik. Titik lemahnya adalah karena dia Little Red Dot. Ini juga salah satu kegelisahan Singapura melihat pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia yang massif dan extra ordinary.

Saat ini Indonesia sedang berupaya menguatkan fondasi ekonomi dan pertahanannya. Beberapa fondasi ekonomi telah menunjukkan hasil gemilang seperti swa sembada pangan, hilirisasi produk SDA. Mulai tahun depan Indonesia akan menerapkan kebijakan ekspor SDA satu pintu melalui Danantara. Perubahan kebijakan ekspor Indonesia ini yang kemudian menggelisahkan Singapura karena negeri itu tidak lagi menjadi pusat pengepul SDA Indonesia. Dalam pola intelijen ekonomi dimana pun sebelum semua rencana perubahan besar itu terlaksana harus ada perlawanan total football untuk mempertahankan status quo sekaligus memporakporandakannya rencana besarnya.

Kita lihat sekarang bagaimana salah tingkahnya Singapura setelah semua skenario untuk membombardir ketahanan ekonomi Indonesia tidak sesuai harapan. Bahkan Indonesia melakukan serangan ekonomi balasan melalui pengurangan pengiriman bahan bakar gas alam. Selasa 27 Oktober 2026 ini Menlu Singapura bekunjung ke Indonesia bertemu dengan rekan diplomatiknya untuk mendinginkan kemarahan Jakarta. Dalam sudut pandang kita Singapura harus tahu diri dan perlu penyesuaian dalam dinamika hubungan bertetangga. Singapura sangat perlu Indonesia sebagai tetangga besarnya yang memiliki populasi 280 juta penduduk, kekuatan ekonominya terbesar di ASEAN, luas wilayah sebesar Eropa, punya SDA melimpah dan sebagian besar rakyatnya memiliki jiwa nasionalis patriotik. 

Kekuatan ekonomi Indonesia yang tergambar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) adalah nomor satu di ASEAN, ranking 17 besar dunia sehingga masuk anggota G20. Jauh diatas Singapura. Hanya saja jika PDB ini dibagi dengan jumlah penduduk, Indonesia kalah sejahtera dibanding Singapura. Kegelisahan Singapura sebenarnya bisa  disikapi dengan selalu mengedepankan negosiasi dengan Indonesia. Bukan dengan cara-cara tidak etis. Termasuk mengurangi ego superior karena merasa lebih sejahtera. Indonesia akan terus melangkah maju menguatkan pertumbuhan dan ketahanan ekonomi serta memperkuat manajemen pertahanan. 

Kegelisahan jiran kita ini adalah gambaran tentang keberlanjutan dan eksistensi negaranya. Dinamika geopolitik kawasan bagaimanapun adalah mempersiapkan ketidakpastian dan turbulensi seperti konflik kawasan dan jaminan ketersediaan SDA. Persiapannya adalah membangun ketahanan ekonomi dan energi, swa sembada, hilirisasi. Sejalan dengan itu manajemen pertahanan juga harus dikembangkuatkan. Indonesia sedang berada di jalan ini. Soal tetangga gelisah itu urusan dia. Tapi kalau dia mengganggu apalagi berusaha mensabotase, kita perlu melakukan pembalasan terukur. Dan ini sudah kita lakukan. Dan akhirnya dia salah tingkah sendiri.

****

Jagarin Pane / 28 Oktober 2026