Tanpa banyak pemberitaan proses pengadaannya, tiba-tiba saja 12 unit kendaraan tempur (ranpur) amfibi angkut pasukan AAV-M35 made in Paman Sam datang menjelang HUT TNI ke 81. Ini adalah kejutan alutsista tak terduga untuk Marinir Indonesia yang selama bertahun-tahun hanya menyaksikan kedatangan berbagai jenis alutsista untuk satuan tempur TNI lainnya. Bukan untuk pasukan hantu laut.
Sesuai kesepakatan dengan AS melalui program FMS (foreign military sales) G to G alias tidak pakai perantara, akan datang lagi 23 unit bulan November nanti. Berikutnya tahun 2027 dan 2028 akan datang masing-masing 35 unit sehingga jumlah seluruhnya mencapai 105 unit AAV-M35. Nah, surprisenya ada di jumlah pengadaan ranpur amfibi yang besar dan kecepatan proses kirim, selain sepi dari pemberitaan dan pengamatan.
Sebenarnya ranpur amfibi ini (Amphibious Assault Vehicle / AAV) sudah sering digunakan dalam latihan gabungan USMC (United State Marine Corps) dengan Kormar (Korps Marinir) Indonesia. Bersama "saudara tuanya" ranpur LVT-7 (Landing Vehicle Tracked) milik Kormar. Batalyon Kormar punya belasan ranpur amfibi LVT-7 hibah dari Marinir Korsel sepuluh tahun lalu. Sebagai bonus pembelian 16 jet latih tempur T50 Korsel dan 3 kapal selam produk transfer teknologi "Nagapasa Class".
Ranpur amfibi roda rantai LVT-7 dan AAV-M35 sebenarnya satu pabrikan di AS. Hanya beda edisi. Yang jelas AAV-M35 lebih modern dari LVT-7. Harga per unit ranpur AAV-M35 ex USMC ini sebenarnya terhitung murah, tidak sampai US $1 juta per unitnya. Kesepakatan G to G (government to government) ini tentu tidak terlepas dari kedekatan relasi antar pimpinan Korps Marinir kedua negara yang sudah berlangsung belasan tahun.
Jadi ingat lagu populer "persahabatan bagai kepompong", kira-kira begitulah analogi kedekatan Kormar dan USMC yang sudah berlangsung sejak lama. Setiap tahun prajurit USMC dan prajurit Kormar berlatih bersama di berbagai serial latihan tempur. Seperti CARAT (Cooperation Afloat Readiness And Training) di Puslatpur Marinir Situbondo Jawa Timur. Juga RIMPAC di Hawaii dan Super Garuda Shield di beberapa lokasi di Indonesia. Termasuk pengiriman prajurit Marinir berlatih di AS.
Kedekatan persahabatan inilah yang diniscayakan menjadi trigger perolehan ranpur amfibi AAV-M35 yang mau dipensiunkan USMC dalam jumlah besar dan harga diskon. Karena USMC mau mengganti ranpur roda rantai AAV dengan roda ban. Bagi Kormar penambahan 105 ranpur amfibi ini jelas akan meningkatkan kekuatan serbu pantainya. Sebagai kekuatan serbu yang menjunjung Jalesu Bhumyamca Jayamahe, Marinir Indonesia harus mempunyai daya pukul gahar dengan kombinasi alutsista mobile seperti tank amfibi, panser amfibi, roket multi laras, drone dan coastal missile.
Yang menarik tentu saja diversifikasi alutsista Kormar yang selama ini berkiblat ke Eropa Timur mulai mencair. Kormar punya kekuatan 3 divisi disebut dengan istilah 3 Pasmar (Pasukan Marinir). Alutsista Pasmar dengan 40.000 pasukan meliputi berbagai jenis dengan jumlah terbesar dari Eropa Timur, sudah lansia namun dapat diretrofit kembali. Tercatat ada 90 unit tank amfibi PT76 dan 190 panser amfibi BTR 50 buatan Uni Sovyet (sekarang Rusia). Yang relatif baru adalah 12 panser amfibi BTR 80A buatan Rusia yang sukses bertugas bertahun-tahun di UNIFIL Lebanon. Sampai dikira "bang thoyib sudah beberapa kali hari raya tidak pulang-pulang".
Pasmar juga punya 40 unit tank amfibi AMX10P buatan Perancis yang jarang ikut latihan, dan 22 tank BVP2 anti serangan udara dari Cekoslovakia. Yang terbaru adalah 54 unit tank amfibi BMP-3F buatan Rusia sebelum masuk 15 unit ranpur amfibi LVT-7 hibah dari Korsel. Alutsista roket multi laras yang dimiliki Pasmar adalah 9 unit RM70 Grad, 8 unit RM70 Vampire buatan Ceko dan 4 unit Norinco type 90B buatan China. Untuk artileri ada 20 unit meriam LG I Mk III kaliber 105 mm buatan Perancis. Catatan kita roket multi laras MLRS jumlahnya belum mencukupi untuk kebutuhan batalyon roket di 3 Pasmar.
Sebagai bagian dari kekuatan SSAT (Sistem Senjata Armada Terpadu) TNI AL, Pasmar sudah mengembangkan organisasinya menjadi 3 Divisi. Masing-masing mabesnya ada di Jakarta (Pasmar 1), Surabaya (Pasmar 2) dan Sorong (Pasmar 3). Dengan kedatangan ranpur AAV-M35 ini sebaran berbagai jenis alutsista Marinir diharapkan akan lebih proporsional. Misalnya belasan tank amfibi BMP-3F dan AAV-M35 bisa di alokasikan ke mabes Pasmar 3 di Sorong Papua. Isiannya bukan hanya tank lawas PT76 dan panser tua BTR 50.
Batalyon Marinir 10 di Batam juga perlu mendapatkan alokasi tank amfibi BMP-3F dan ranpur AAV-M35 dengan jumlah proporsional. Bukankah Batam berada di kawasan jalur perniagaan yang luar biasa sibuk. Pantas dong mendapat alokasi alutsista Marinir yang baru sebagai bagian dari penguatan perbatasan. Termasuk untuk parade HUT TNI sehingga dapat menjadi kebanggaan warga Batam. Juga lokasinya dekat dengan Dabo Singkep Kepulauan Riau yang sejak beberapa tahun terakhir sudah menjadi Puslatpur Marinir.
Sebagai pasukan hantu laut serbu pantai dan bagian dari SSAT, Marinir Indonesia bersama kekuatan TNI AL yang lain seperti KRI, kapal selam, Lantamal dan Penerbal menerapkan manajemen tempur terintegrasi. Dalam perkembangannya kemudian, teknologi pertempuran interoperability, penggunaan drone tempur menjadi kebutuhan mutlak. Termasuk kehadiran kapal selam tanpa awak (KSOT), drone permukaan Kamikaze yang mulai diproduksi PT PAL. Kehadiran kapal induk KRI Sriwijaya 100 akan memberikan kekuatan gahar berlipat ganda sebagai penentu keberhasilan operasi serbu pantai pasukan Marinir.
Kita mengapresiasi kecepatan proses pengadaan alutsista surprise untuk Pasmar sebagai pasukan elite TNI AL. Sebagai unsur striking force vital, menyerbu daratan dari pantai, pengerahan kekuatan pasukan Marinir mutlak harus mendapat dukungan berbagai SSAT TNI AL termasuk jet tempur dan drone. Selain tank amfibi di garis depan, ranpur amfibi angkut pasukan adalah kebutuhan vital batalyon infanteri Pasmar. Oleh sebab itu kedatangan AAV-M35 selayaknya kita sambut dengan nafas panjang dan kelegaan. Akhirnya Marinir Indonesia "berbuka puasa" sebagai kado HUT TNI ke 81. Alhamdulillah.
****
Jagarin Pane / 3 Oktober 2026