Sunday, March 5, 2017

Menjaga Harmoni Komunikasi Relasi Publik

Adalah sebuah dagelan ketika seorang petinggi Kemhan melempar pernyataan ketidaktahuannya soal pengadaan Helikopter Agusta Westland AW101 yang dibeli dari Inggris. Di forum Komisi I DPR belum lama berselang  Menhan dan Panglima TNI menyatakan soal ketidaktahuan masing-masing mengenai pengadaan Helikopter bagus itu. Dalam harmoni komunikasi relasi publik ini mestinya tidak boleh terjadi sehingga masyarakat jadi bertanya ada apa gerangan.

Dalam proses pengadaan alutsista banyak hal yang publik merasa tak terduga. Contohnya APC Bushmaster dari Australia, APC M113 dari Belgia tiba-tiba berdatangan begitu saja. Kita pun baru mengetahui jika ternyata kita mau beli 4 pesawat angkut berat A400M dari media asing sementara media nasional kita tidak diberi informasi apapun, bahkan Panglima TNI saja tidak tahu. Proses pengadaan yang terukur informasinya adalah pengadaan tank Leopard, Astross Mk6, artileri Caesar Nexter, artileri KH178, KH179, kapal selam Changbogo, jet tempur F16, jet latih T50, sejumlah radar.  Itu semua adalah program yang dirancang oleh Kemhan periode lalu.

Helikopter AW101, datang juga akhirnya
Anggaran yang dikucurkan untuk Kementerian Pertahanan adalah yang terbesar bahkan pada tahun-tahun mendatang akan semakin besar lagi.  Kita membutuhkan kekuatan pertahanan yang berteknologi untuk menjaga negeri kepulauan yang luas ini.  Masih banyak yang harus dipenuhi, masih banyak alutsista yang harus didatangkan dan itu berarti masih banyak yang harus dianggarkan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan. Alhamdulillah pemerintah kita sudah sadar diri bahwa membangun pertahanan tidak berkorelasi dengan kemajuan ekonomi. Jadi sama-sama lah diperkuat.

Sejalan dengan itu sangat pantas jika Kemhan mampu membahasakan program-program pembangunan kekuatan pertahanan negeri kepada media dalam negeri yang kemudian menyampaikan kepada rakyat pemilik republik. Lebih penting dari itu menjaga harmoni komunikasi relasi publik dengan pemangku kepentingan seperti Kementerian Keuangan, Bapenas, TNI, Industri pertahanan dan masyarakat luas pecinta republik.

Kita ingin menggaris bawahi bahwa salah satu ketidakharmonian komunikasi di Kemhan adalah membahasakan program dengan pernyataan yang jelas dan tegas.  Kita merasa tidak mendapat informasi maksimal dari Kemhan. Tiba-tiba ada release dari SIPRI tentang shopping list alutsista kita. Tiba-tiba ada berita dari Janes kita mau beli A400M  sementara Sukhoi SU35 yang sudah dibahasakan berulang kali mau dibeli tak jua sampai pada kalimat kontrak. Dampaknya ada skadron tempur yang non aktif karena tidak ada aktivitas apapun karena pesawat lamanya sudah grounded.

Pesawat angkut A400M, mau beli 4 biji katanya
Kalau soal pengadaan alutsista kita tidak perlu berdalih rahasia negara. Informasi pengadaan alutsista itu justru akan memberikan  rasa bangga bagi anak negeri dan sekaligus penambah semangat bagi prajurit TNI. Negara tetangga yang mendapat informasi ini tentu akan berhitung ulang sehingga tidak mudah melecehkan teritori NKRI seperti yang pernah terjadi.  Misal Singapura mau beli sejumlah F35 tidak ada tuh rahasia-rahasiaan. Semua dibuka ke publik. Warga Singapura bangga, negara tetangga pun menghormati kedaulatannya. Yang menjadi bingkai kerahasiaan itu adalah gelaran operasi militer, deploy alutsista dan pasukan, metode tempur interoperability.

Kita menyambut gembira ketika KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto baru-baru ini memberikan pernyataan bahwa TNI AU akan membeli sejumlah jet tempur sergap, akan mendatangkan sejumlah peluru kendali jarak sedang, radar, helikopter dan meningkatkan kemampuan 15 jet T50 dengan radar dan rudal. Kita juga senang dengan pernyataan beliau soal Helikopter AW101, yang kalau diurut-urut jelas Kemhan tahu jalan cerita pengadaannya.  Dengan cerita ini kita pun tahu anatomi operasional PT DI kita yang sampai saat ini memang belum bisa buat Helikopter. Bandingkan dengan saudaranya yang lain Pindad dan PT PAL yang sudah membuktikan hasil karyanya secara elegan dan bermanfaat.

Kita juga bergembira ketika ada berita bahwa 5 jet tempur F16 Blok52 Id akan datang bulan ini, kemudian 1 kapal selam baru dan modern akan tiba bulan April nanti.  Kita ikut bangga manakala PT PAL selesai membangun infrastruktur kapal selam dan siap untuk memulai pembangunan kapal selam ketiga dan seterusnya dari produk kerjasama transfer teknologi dengan Korsel. Kita bangga dengan PT PAL yang sudah bisa buat kapal perang jenis LPD, Korvet, KCR dan sebentar lagi kapal selam.

Tapi kita juga tersentak begitu mendengar berita seorang Brigjen TNI divonis hukuman seumur hidup dan dipecat dari TNI karena korupsi US$ 12 Juta dalam proses pengadaan alutsista Helikopter Apache dan F16 meski kita meyakini bahwa perbuatan itu tidak dilakukan sendiri. Ini adalah contoh bagaimana kuatnya godaan di sebuah kementerian yang punya anggaran terbesar tapi belum pernah disentuh KPK karena undang-undangnya belum memungkinkan.
F16, datang lagi 5 unit bulan ini
Negeri ini sedang berbenah banget. Infrastruktur diperhebat dimana-mana agar konektivitas sudut republik bisa terjalin dengan mulus. Ada Tol darat ada Tol laut. Bandara, Pelabuhan Laut ditambah dan ditingkatkan kapasitasnya. Demikian juga dengan pembangunan militer kita.  Semua sedang diperkuat, Armada TNI AL ditambah, Pasmar ditambah, Kostrad ditambah semuanya menjadi 3 divisi.  Pangkalan Natuna dibangun besar-besaran, Kesatrian dipercantik, alutsista baru datang terus menerus.  Kita pesan lagi, barang pesanan lama datang, begitu terus silih berganti. 

Itu semua memerlukan manajemen komunikasi yang apik, harmoni diantara semua pihak yang berkepentingan. Kemhan adalah pintu utamanya.  Oleh karena itu harmoni dalam komunikasi dengan relasi publik media dalam negeri dan masyarakat perlu dipercantik dan diutamakan. Jangan sampai media luar negeri yang mendapatkan infonya lalu kita saling bertanya satu sama lain.  Semoga dengan itu Kemhan akan semakin bersinar cahayanya di mata masyarakat. Kita ingin militer kita kuat, setara dengan negara sekitar sehingga marwah dan kewibawaan teritori bisa mengalir di kawasan sekitar. Amanah itu ada di Kemhan, maka model harmoni komunikasi dan koordinasinya semoga bisa fathonah, itu saja harapan kita.
****
Jagarin Pane / 05 Maret 2017


Sunday, February 12, 2017

Mulai Produksi Massal


Tanpa publikasi luas Indonesia tahun ini mulai memproduksi Roket Rhan450 dengan jarak tembak sejauh 150 km. Uji coba alutsista ini sukses dilaksanakan Desember tahun lalu. Sejalan dengan ini PT Dahana mulai memproduksi bahan peledak dan propelan untuk mendukung produksi Rhan450. Keberhasilan ini mengangkat gengsi Indonesia di kawasan Asia Tenggara karena mampu mengembangkan berbagai jenis alutsista strategis salah satunya Rhan450.

Berdatangan Lagi


Main Battle Tank Leopard RI kembali datang, ada 16 unit merapat di Tg Priok Jakarta. Indonesia memesan 110 MBT Leopard terdiri dari 40 Leopard A4 dan 60 Leopard RI dan sisanya Leopard Recovery. TNI AD tahun ini juga akan diperkuat dengan 50 unit Panser Pandur II 8x8 dari Ceko, 60 unit Panser Badak buatan Pindad, 40 unit Rantis Sanca lisensi Bushmaster Australia dan 12 unit Ponton Amfibi dari Ceko.

Kembali Pesan


Kemhan minggu ini kembali memesan 18 unit meriam artileri digital Caesar Nexter 155mm dari Perancis. Sebelum ini kita sudah pesan 36 unit alutsista jenis ini dan semuanya sudah datang. Jelas bahwa batalyon Armed TNI AD semakin digaharkan dengan berbagai alutsista modern seperti 37 unit MLRS Astross II Mk6, 54 unit artileri KH178 105mm, 18 unit artileri KH179 155mm.  Setelah ini Kemhan juga akan kembali pesan 18 unit Astross II Mk6 dari Brazil.

Tuesday, February 7, 2017

Ketika Tentara Kyai Murka

Selama empat hari terakhir suasana Republik tercinta hiruk pikuk oleh sebuah sebab yang sama, aktor yang sama dalam sebuah judul sinetron kisah nyata “ Nista Yang Tak Pernah Padam”. Berbulan-bulan kita disuguhi sajian alur cerita dengan menggoreng adrenalin, memupuk kebencian, memanen murka.  Hanya karena ulah satu orang yang menanam bibit permusuhan kebhinekaan maka yang merasakan adalah sebagian besar rakyat Republik yang sejatinya adalah lem perekat kebhinnekaan itu.

Suka atau tidak suka lem perekat dominan di Republik nasionalis ini adalah Ukhuwah Islamiyah dan kultur Jawa. Ukhuwah Islamiyah mampu mendekatkan keragaman suku dalam bingkai kesamaan religi untuk merawat Republik.  Demikian juga dengan kultur Jawa yang menjadi suku mayoritas anak negeri, adalah sebuah kultur yang menjunjung nilai budaya: Menang tanpa ngasoraake, ngluruk tonpo bolo. Wujudnya adalah senantiasa bersikap arif dan bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu.

Berbulan bilang energi Republik habis terkuras untuk sebuah tema nista yang direbus terus menerus yang menyebabkan iklim negeri menjadi kerontang, padahal kita sedang ada di musim hujan yang basah dan dingin. Nah ditengah iklim yang sejuk tapi kerontang itu sekali lagi diperlihatkan suara menggema di serial sidang dalam aura pelecehan marwah, berlagak sebagai kawan Tuhan, mengatasnamakan Tuhan, dan punya bukti dari Tuhan lalu mengancam akan mempermalukan.


Padahal di awal serial meja hijau, seseorang itu menampilkan suara isak dan derai air mata, terbata-bata mohon dimaafkan. Lalu karakter arogansi muncul lagi, main ancam, main gertak, berlagak sebagai Jaksa padahal Terdakwa. Dia tak tahu atau atau pura-pura tak tahu yang diancam adalah pemimpin tertinggi dari “Republik Kyai” sebuah organisasi keagamaan santun dan teduh terbesar di negeri ini bahkan di seluruh dunia, “rakyatnya” yang bernama Nahdliyin hampir menyentuh bilangan 90 juta.

Maka murkalah Nahdliyin, maka murkalah Jamaah yang mengamalkan Tahlil dan Qunut.  Maka sibuklah petinggi keamanan negeri untuk menyejukkan suasana, padahal hujan sudah berkali-kali membasahi Republik, namun kali ini tak mampu mendinginkan “lapangan rumput” yang sering diinjak-injak harga dirinya. Kalau kita bisa mengamati traffik lalulintas yang bernama telepon, SMS, WA, Line, FB dan lain-lain, situasi di “lalulintas transmisi “ itu benar-benar mencerminkan suasasana Republik yang gelisah memanas.

Ketika tentara Kyai murka, lakon kembali dipertunjukkan dengan menampilkan air muka dan tutur kata minta maaf, mohon dimaafkan, tidak ada maksud ini itu dan seterusnya. Sebegitu mudahkah, di hari ini mempertontonkan arogansi, di hari lain memperlihatkan wajah iba dan minta dikasihani.  Bukankah ini ciri pribadi yang labil, yang tak mampu menguasai emosi dan jelas tak cocok jadi pemimpin.

Secara Jamiyah para tentara Kyai yang bernama Banser, Anshor, Santri akan mengikuti garis komando panglima Kyai Rois Aam. Kalau Rois Am bilang dinginkan suasana, semua mengiyakan. Itu secara Jamiyah, tetapi secara Jamaah tentu perlu waktu untuk mendinginkan suasana.  Sebagaimana disampaikan KH Said Aqil Siroj, “Kepala Staf Manajemen Kyai”, ketersinggungan Nahdliyin perlu waktu untuk menetralisirnya.

Ketika suasana murka dan panas itu berkecamuk, Kyai Said sampai kerepotan mengatur Anshor dan Banser yang sudah siap membanjiri Jakarta.  Untunglah suasana di permukaan organisasi alias Jamiyah Nahdliyin mampu diredakan meski belum tuntas secara Jamaah. Harus dibedakan Jamiyah dan Jamaah ya. Jamiyah itu esensinya adalah organisasi dan Jamaah itu adalah isinya organisasi. Jadi kalau ada ummat yang mengamalkan Tahlil dan Qunut sudah pasti dia adalah Nahdliyin meski belum tentu ada di Jamiyah. Makanya Kesultanan Brunai yang mengamalkan Tahlil dan Qunut adalah Jamaah Nahdliyin, itu contohnya.



Sebagaimana disampaikan KH Mustofa Bisri bahwa Kyai dan Ulama yang ada di Indonesia itu hakekatnya sama. Mereka mewakafkan dirinya untuk masyarakat, memberikan pelajaran ilmu pada Santrinya, memberikan contoh adab dan akhlak. Dengan memberikan contoh akhlak dan adab itu, maka terlihat garis wajah dan laku sikap para Nahdliyin yang tak pernah menampilkan keangkuhan beragama, bersikap toleran dan menghargai perbedaan.  Itu yang membuat bandul Republik kita terjaga juga kesantunannya sebagai negeri Rahmatan Lil Alamin.

Nista yang tak pernah padam, boleh kita sandangkan pada sang aktor.  Pribadi yang labil, arogan tetapi kemudian karena terdesak lalu menghiba, terisak, terbata-bata, lalu kembali membentak, menghina, mengancam.  Lengkap sudah.  Tetapi kali ini dia berhadapan dengan kemurkaan tentara Kyai di Republik Nahdliyin.  Ketika murka sudah sampai diubun-ubun, dia menghiba lagi dan mohon maaf. Duh Gusti, kemarin sudah menista agama, sekarang menista Ulama. Benar-benar nista yang tak pernah padam. Dia lupa bahwa "alutsista" yang paling gahar dari para Kyai dan tentara Kyai adalah DOA.

Jadi mirip sebuah pepatah lama, “Gara-gara dia setitik rusak Jokowi sebelanga”.  Pemerintahan kita mestinya cerdas menyikapi gerak lagak orang ini. Bukankah menjadi pemimpin harus mampu menjaga lisan dan sikap, mampu memberikan ketenangan kepada masyarakat yang dipimpinnya.  Dan masyarakat pun ikut senang dengan model kepemimpinannya.  Hanya karena satu orang ini rusak tatanan kebhinnekaan, rusak tatanan kerukunan berbangsa, habis energi anak negeri membahasnya.  Untung saja kemurkaan tentara Kyai bisa dikendalikan. InsyaAllah Republik Khatulistiwa ini masih berada dalam ridho Allah SWT, amin.
****

Jagarin Pane / 05 Feb 2017

Thursday, January 26, 2017

Godaan Manisnya Madu Anggaran Alutsista

Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani baru-baru ini yang menjanjikan anggaran pertahanan RI tahun 2018 bisa naik dua kali lipat dari yang sekarang sesungguhnya adalah pernyataan yang membungakan, membanggakan dan sekaligus mengharukan.  Betapa tidak, meski dibelakangnya ada embel-embel jika penerimaan pajak tahun 2017 sukses, sejatinya pernyataan Srikandi itu ingin menjelaskan kepada kita bahwa pemerintah komit untuk memprioritaskan soal pertahanan bangsa besar ini.

Tahun ini anggaran pertahanan kita mencapai 108 trilyun, angka itu saja sudah yang terbesar jika dibanding dengan sektor lain. Dengan itu kita bisa melanjutkan program modernisasi alutsista, sebuah cita-cita yang wajib dicapai jika bangsa ini paham dengan kebesaran harga dirinya, harga sumber daya alamnya, harga kebhinnekaannya dan harga nasionalisnya. Kita bersyukur karena selama setahun tahun terakhir ini pemerintah kita sudah sadar diri bahwa membesarkan harga diri pertahanan tidak lagi terkait dengan korelasi peningkatan kesejahteraan atau pertumbuhan ekonomi.  Pertahanan adalah pertaruhan eksistensi berbangsa dan bernegara termasuk menjaga kedaulatan sumber daya alam yang bergizi tinggi itu.
Pesawat angkut berat A400M yang mau dibeli itu
Besarnya anggaran pertahanan yang dikucurkan hendaknya diimbangi dengan pengelolaan anggaran yang profesional. Karena manisnya madu anggaran alutsista mudah membuat kita tergoda gairahnya, lalu mencoba mencuri cicip, sedikit-sedikit, gak ada yang lihat dan KPK pun gak punya radar, lalu akhirnya terkena diabetes korupsi. Contohnya sudah ada, seorang jendral bintang satu TNI AD di Kemhan akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup dan dipecat dari TNI karena kebanyakan curi cicip madu alutsista sampai 12 juta dollar AS.

Angka juta dollar itu kalau dirupiahkan itu mencapai 156 milyar dikantongi sendiri oleh sang perwira dalam proses pembelian 24 jet tempur F16 blok 52 Id dan 8 Helikopter Apache dari AS sebagaimana terbukti di sidang pengadilan militer akhir tahun lalu. Kita ketahui bahwa untuk mendatangkan 24 jet tempur F16 blok 52 Id Indonesia merogoh kocek US$700 juta dan 8 helikopter Apache senilai US$ 295 juta dalam skema anggaran multy years.

Setelah kasus itu ternyata masih ada lagi seorang perwira berpangkat kolonel TNI AU yang juga tergiur manisnya madu anggaran alutsista, lalu tergelincir dalam kubangan korupsi. KSAU yang baru dilantik Marsekal Hadi Tjahjanto barusan mengungkapkan ke publik bahwa ada perwiranya tersandung kasus korupsi di Kemhan. Kasusnya sedang dalam proses hukum, belum ada vonis. Dua kasus diatas sesungguhnya hanya “contoh soal” yang ketahuan oleh “pengawas ujian” berlaku curang.

Kemhan sebagai pintu gerbang pengadaan alutsista dengan anggaran yang cukup besar diyakini banyak dirayu berbagai produsen alutsista luar negeri.  Yang namanya rayuan tentu segala cara dilakukan termasuk iming-iming dan saudaranya iming-iming. Dalam dunia bisnis manapun, marketernya pastilah cerdas, lihai sekaligus licik.  Dalam pola tawar produk, berbagai “fasilitas mewah” ditawarkan.  Masih segar dalam ingatan ketika proses rayuan untuk deal proyek jet T-50 Golden Eagle dengan Korsel, tim kita sampai difasilitasi pesawat kepresidenan Korsel dan fasilitas mewah lainnya.  Akhirnya kita deal 16 jet latih tempur Golden Eagle senilai US$ 400 juta tanpa radar.
Jet tempur Sukhoi SU35 yang diidamkan itu
Tugas besar dan basah itu mengharuskan Kemhan bergerak lincah mengelola anggaran dan kebutuhan alutsista user.Petingginya harus mampu membawa bahasa koordinasi internal dan eksternal dengan bahasa jelas dan tegas. Termasuk dengan para usernya yang bernama TNI AD, TNI AL, daan TNI AU. Misalnya soal pengadaan Helikopter Agusta Westland AW 101 sudah ditolak RI-1 kok masih berani dibeli.  Maka wajar jika publik membacanya dengan bahasa: ada udang dibalik batu.

Juga soal pemberitaan terkini yang mengatakan bahwa Kemhan akan membeli 5 unit pesawat militer baru angkut berat  jenis Airbus A400M senilai US$ 2 milyar, kemudian dipertanyakan oleh user TNI AU dan Panglima TNI. Ini adalah contoh soal yang lain bagaimana potret merawat dan mengembangkan bahasa koordinasi yang belum cum laude di institusi terkait. Bagaimana pun publik bisa membacanya dengan komentar sederhana : kok bisa ya.

Bahasa dan keinginan khalayak pecinta NKRI sesungguhnya mengharapkan program modernisasi militer negerinya punya grand strategy yang jelas dan matang.  Misalnya soal jet tempur Sukhoi SU35, anggarannya sudah jauh hari disediakan tetapi mengapa begitu berlarutnya keputusan yang diambil. Termasuk jumlahnya mengapa hanya 8 unit. Mengapa tidak dijelaskan kalau itu tahap pertama lalu tahun depan ditambah lagi orderannya 8 unit lagi. Sehingga dalam dua tiga tahun mendatang kita punya 16 Sukhoi SU35. Jaminannya adalah anggaran tahun depan membesar signifikan.

Masih banyak yang lain, misalnya pengadaan peluru kendali darat ke udara jarak sedang untuk melindungi Ibukota Jakarta dan Natuna, lanjutan Changbogo jilid empat, lanjutan PKR jilid tiga dan lain-lain.  Kita jelas butuh batalyon arhanud berupa satuan peluru kendali jarak sedang untuk melindungi Jakarta dan kota besar lainnya. Jika anggaran pertahanan tahun depan meningkat tajam, maka alutsista yang kita butuhkan akan lebih banyak kita dapatkan. Tetapi tentu bukan untuk membeli banyak merek sehingga menciptakan model show room alutsista, padahal yang dibeli sedikit.

Kapal selam Changbogo yang dibuat dengan model transfer teknologi sangat pantas dilanjutkan.  Sama halnya dengan proyek PKR10514 untuk menerapkan ilmu transfer teknologi yang baru didapat. Jangan karena ada tawaran dari produsen lain dengan iming-iming mengiurkan lalu berubah pikiran.  Publik sedang membicarakan alutsista harapannya seperti kelanjutan produksi Panser Anoa buatan dalam negeri, ternyata yang datang yang tak terduga, misalnya si APC M113 itu yang jumlahnya ratusan.

Manisnya madu anggaran alutsista akan terasa lebih manis jika pemanfaatannya tepat guna, tepat waktu dan tepat biaya. Bisa dibayangkan jika anggaran pertahanan tahun depan mencapai 200 trilyun, kita bisa dapatkan beberapa kapal perang gres kelas fregat, beberapa skadron jet tempur dan lain-lain untuk disebar di pangkalan militer luar Jawa. Bukankah Presiden sudah memerintahkan agar sebaran tentara dan alutsista tidak menumpuk di Jawa alias Jawa Sentris.

Maka sebaran alutsista itu harus diperbanyak lebih dulu.  Memperbanyak kualitas dan kuantitas alutsista tentu perlu anggaran besar.  Itu sudah sedang dan akan dilakukan pemerintah. Tugas besar Kemhan adalah memastikan penggunaan anggaran sesuai peruntukannya, sesuai usulan pengguna. Ini adalah pekerjaan yang banyak godaan dan rayuannya. Ritme itu yang saat ini sedang dipantau ketat oleh publik kita.
****
Jagarin Pane / 26 Januari 2017

Tuesday, January 17, 2017

Yang Mau Datang Tahun Ini

Modernisasi alutsista militer Indonesia terus berlanjut. Kita masih terus memesan alutsista berteknologi tinggi, sementara yang mau datang tahun ini cukup banyak, yaitu :
• 10 jet tempur F16 blok 52Id dari AS
• 3 pesawat angkut berat Hercules dari Australia
• 2 pesawat angkut sedang CN295 dari Spanyol
• 2 pesawat patroli maritim CN235 produksi PT DI
• 2 Radar Master T Thales dari Perancis
• 2 Arhandud Oerlikon Skyshield dari Swiss
• 3 Helikopter Combat SAR Caracal dari Perancis
• 2 Helikopter Apache dari AS
• 7 Helikopter Fennec AS550 dari Perancis
• 4 Helikopter anti kapal selam Panther dari Perancis
• 2 kapal selam “Nagapasa Class” dari Korsel
• 2 kapal light fregat PKR10514 JP Belanda dan PT PAL
• 3 KCR (Kapal Cepat Rudal) produksi PT PAL
• 6 KPC (Kapal Patroli Cepat) prod gal kapal swasta nasional
• 2 Kapal Landing Ship Tank prod gal kapal swasta nasional
• 1 Kapal latih layar Bimasuci dari Spanyol
• 1 Kapal Logistik produksi galangan kapal swasta nasional
• 4 MLRS Norinco dari China
• 20 Artileri Nexter LG I MK III dari Perancis
• 30 MBT Leopard RI dari Jerman
• 20 Panser Badak produksi PT PINDAD
• 10 APC Sanca produksi PT PINDAD
• 50 APC M113 dari Belgia
• 1 Detasemen Rudal Starstreak dari Inggris

****
17 Jan 2017 / Jagarin Pane / Dari berbagai sumber



Wednesday, January 4, 2017

Alutsista Kita, Mengapa Membeli Berbagai Merek

Modernisasi militer Indonesia yang terus berkibar sampai saat ini menunjukkan suasana pasar alutsista yang hiruk pikuk. Berbagai produsen alutsista menawarkan produknya dengan penuh gairah dan sang pembeli pun tergiur dengan berbagai merek yang ditawarkan. Dalam lima tahun ke depan suasana pasar yang begitu gempita akan memberikan gelora yang lebih hangat. Dan sang pembeli akan semakin tergoda dengan bujuk rayu pemilik merek untuk melirik dan memeluk produk mereka.

Marinir kita sudah punya alutsista MLRS (Roket Multi Laras) bermerek RM Grad buatan Ceko, jumlahnya tidak banyak.  Lalu datang lagi yang bermerek Vampire juga buatan Ceko. Tidak apa-apa karena Vampire adalah edisi terkini serial MLRS. Tetapi kemudian dalam waktu berdekatan muncul lagi MLRS dari Norinco Cina. Mengapa tidak melanjutkan Vampire saja, termasuk kembali memperbanyak jumlah tank amfibi BMP3F yang jumlahnya baru mencapai 60 unit.  Kalau Marinirnya mau dikembangkan sampai tiga divisi tentu perlu ratusan tank amfibi modern.
Helikopter Cougar TNI AU
Demikian juga untuk kapal perang PKR Project 10514 bisa dilanjut untuk kapal perang ketiga sampai keenam. Ini kan proyek transfer teknologi yang sedang berjalan.  Kasihan ilmu TOT nya kalau hanya sampai di kelas dua alias hanya dua kapal tok.  Ilmu terapan belum bisa dibuktikan. Termasuk proyek kapal selam Changbogo dengan mekanisme serap teknologi dari Korsel. Kapal selam keempat dan seterusnya bisa dibuat para insinyur kita yang sudah bersusah payah menggalinya dalam pembuatan kapal selam pertama sampai ketiga.

Sambil menunggu proyek prestise jet tempur KFX/IFX selesai, selayaknya kita perbanyak Sukhoi SU35. Tidak cukup hanya delapan unit, minimal ada satu skadron alias 16 unit. Tidak usah tergiur merek lain yang banyak ditawarkan. Masih ada lanjutan pengadaan F16 blok 52id yang belum datang.  Fokus itu saja, kalau mau ditambah Viper akan lebih baik. Jadi cukup Sukhoi Family dan F16 sebagai jet tempur utama.

 Membeli banyak jenis alias merek dengan kuantitas terbatas akan menimbulkan kesan seolah-olah hanya ingin bergaya untuk parade militer. Banyak merek padahal kuantitasnya hitungan jari. Asisten pertahanan dari negara sahabat yang diundang dalam acara parade militer, sedikit banyak kan tahu dengan situasi dan kondisi ini. Jadi untuk apa bergaya kalau jeroannya sudah terang benderang.
Panser Canon Badak
Soal Helikopter Agusta Westland AW101 yang heboh dua kali, mencerminkan suasana yang hangat “diantara sesama petinggi”. Presiden Jokowi menginstruksikan agar dilakukan investigasi mengapa proyek yang sudah dibatalkan setahun sebelumnya muncul kembali.  Ini juga sebuah keanehan logika, sudah dibatalkan lalu kemudian mau datang lagi.  Kita sudah punya Super Puma, kita sudah pesan dan datang EC725 Caracal yang Combat SAR itu.  Lalu untuk apa AW101.

Untuk urusan produksi Helikopter, PT DI baru sebatas merakit.  Ini beda dengan produk pesawat angkut CN235 yang terkenal itu. TNI AU memakai produk andalan PT DI ini bersama penerbangan sipil dalam negeri dan beberapa negara sahabat. Sayangnya produk ini tidak dimarketingkan secara terus menerus, dan bahkan TNI AU sudah beralih ke CN 295.  Ini yang membuat Chappy Hakim mantan KSAU mengkritisi kinerja PT DI yang tidak optimal mengembangkan dan menghasilkan produk andalan, selain merakit.  Jadi mirip peribahasa merakit -rakit selalu, berkembangnya kapan-kapan.

Kita masih membutuhkan kuantitas dan kualitas alutsista berteknologi terkini. Kita masih membutuhkan setidaknya 10 kapal perang jenis PKR 10514, maka tambahlah proyek transfer teknologi itu dengan cap made ini bangsaku. Kapal selam masih kurang banyak, maka buatlah lanjutan serial Changbogo dengan cap made ini negeriku. Ilmu transfernya sudah didapat, lalu buktikan.  Kita sudah buktikan bisa buat kapal perang jenis LPD untuk militer Filipina, ilmunya kan dari Korsel.

Yang namanya produsen alutsista tentu giat dan aktif menawarkan produk unggulannya, itu sudah hukum pasar. Marketer mereka bersemangat mencari jalan dan celah untuk bisa menembus desicion maker. Pintunya adalah pendekatan dan kedekatan personal, aromanya parfum komisi alias gizi penunjang aktivitas.  gelora rayu dan ramah senyum adalah bagian dari dinamika itu.  Sementara bagi pembeli ada koridor rambu yang harus ditaati.

MBT Leopard

Salah satunya adalah UU No16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.UU itu menyebut terang bahwa pengembangan industri pertahanan merupakan bagian terpadu dari perencanaan strategis pengelolaan sumber daya nasional untuk kepentingan pertahanan dan keamanan Negara. Jadi tugas pemerintah adalah bertanggungjawab membangun dan mengembangkan industri pertahanan agar berdaya saing.

Bisa diproduksi sendiri, pakai buatan sendiri, contohnya Panser Anoa, Badak, Kapal Cepat Rudal, LPD, CN235. Kerjasama produksi yang sedang berjalan contohnya PKR10514 dan Changbogo.  Belum bisa buat, beli bekas seperti MBT Leopard, Tank Marder, F16 dan Hercules. Tapi kemudian tiba-tiba muncul ratusan kendaraan lapis baja M113 dan beberapa unit Bushmaster.  Lalu bagaimana kelanjutan Panser Anoa dan Badak kalau dasarnya adalah UU No 16 tahun 2012. Apalagi Pindad sedang mengembangkan Tank medium.

Anggaran besar Kemhan adalah madu dan magnet bagi produsen alutsista. Namun penggunaan dan pengembangan industri pertahanan strategis adalah tugas bersama mengolah dan mengelolanya. Godaan produsen luar negeri yang genit bisa diatasi dengan model pengadaan transfer teknologi dan imbal jasa.  Tetapi penyederhanaan merek perlu diimplementasikan agar tidak timbul kesan terjadi faksi salesman di pintu pengadaan alutsista.  Beli sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan, kata Presiden.  Jelaskan ?
****

Jagarin Pane / 04 Jan 2017

Tuesday, December 20, 2016

Meluruskan Musibah Hibah

Militer Indonesia sedang berduka. Sebuah pesawat angkut berat Hercules A1334 milik skadron 32 Abd Rahman Saleh Malang, rute Timika-Wamena Papua jatuh menjelang landing di Bandara Wamena Minggu tgl 18 Desember 2016. Sebanyak 13 prajurit TNI AU gugur dalam menjalankan tugas latihan konversi pilot definitif.

Seperti biasa berbagai jenis kelamin media, apakah dia bernama media layar kaca, layar baca, layar internet, dan bahkan media sosial meramaikan suasana dukacita musibah itu untuk membombardir predikat hibah yang disandangkan pada pesawat yang kena musibah.  Karena pesawat bekas hibah lalu kena musibah,maka ramai-ramai mencari salah, korbannya adalah hibah. Untung saja gak ada yang ngomong bedebah.

Mestinya musibah apapun disikapi dengan nurani yang bening sembari merenungkan makna dibalik setiap musibah. Bahwa kombinasi teknologi terkini, kecakapan pilot, faktor cuaca, beban pesawat adalah bagian dari instrumen berhasilnya jalan terbang pesawat.  Pesawat Hercules A1334 itu memang pesawat tua tetapi seluruh instrumen mesin, avionik, radar sudah diperbaharui.  Artinya teknologinya sudah terkini.
Hercules A-1334
Kita terpaku pada usia jam terbang dan mengecilkan peran overhaul, retrofit atau pembaharuan instrumen.  Sama pemikirannya ketika kita sedang naik jip hardtop yang mesinnya sudah diganti dengan mesin Kijang, bawaan kita masih pada bangunan fisik hardtopnya.  Kita terpaku pada usia pesawat naas yang sudah berusia 34 tahun, lalu berandai-andai dengan argumen ghibah.

Kita mungkin sudah lupa bahwa jatuhnya pesawat tempur Super Tucano di Malang 10 Februari 2016, bukanlah karena pesawat sudah tua.  Itu pesawat masih sangat baru dari pabrikannya di Brazil.  Kita pesan 16 unit pesawat ini dari Brazil. Atau naasnya pesawat aorobatic T50 Golden Eagle di Yogya tanggal 20 Desember 2015 dalam serial pertunjukan manuver. Pesawatnya baru banget, masih gres, beli dari Korsel sebanyak 16 unit alias satu skadron. Tidak ada yang hibah disini.

Lebih dramatis lagi pesawat yang benar-benar baru keluar pabrik, jenis angkut berat militer A400M buatan Airbus Spanyol, terjerembab di dekat bandara Sevilla Spanyol tangal 9 Mei 2015.  Pesawat yang mampu membawa muatan 37 ton itu harus tamat riwayatnya di depan pabriknya sendiri.  Masih ingat Lion air yang jatuh di laut dekat Bandara Ngurah rai tanggal 13 April 2013 menjelang landing.  Apakah itu pesawat tua ? tentu tidak, umurnya masih sangat muda.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan program kerjasama militer RI_Australia soal pesanan 9 Hercules bekas, 4 diantaranya hibah dan sisanya beli second.  Seluruh pesawat itu diretrofit dulu semua instrumennya.  Empat pesawat hibah yang diretrofit itu ongkosnya ditanggung Indonesia. Jadi gak hibah-hibah gitu aja, dibagusin dulu, uji coba, bayar, lalu dibawa ke tanah air. Sebagai catatan 4 pesawat hibah berbayar yang sudah di retrofit itu yang bernomor seri A1330-A1333 bagus-bagus aja tuh sampai saat ini.

Lalu ketika jet tempur T50 Golden Eagle jatuh di Yogya, atau Super Tucano nubruk rumah di Malang, atau Helikopter Mi17 jatuh di Kaltara, atau Lion nyemplung di laut Bali, atau A400M jatuh di depan pabriknya. Apakah semua musibah itu karena faktor hibah atau barang bekas, tentu tidak, karena waktu itu si hibah sedang tidur, tidak pantas dan tidak layak jadi korban ghibah.
KRI REM331, benar-benar baru kerjasama teknologi
Mengapa harus ada jurnalisme ghibah yang menjuruh fitnah. Karena kita belum mampu menjalankan amanah dengan fathonah. Kita lihat beberapa media televisi, bukan memberitakan secara obyektif tetapi memberitakan lewat sudut pandang, maksudnya sudut pandang pemiliknya.  Kasihan awak medianya, harusnya membela yang benar berganti dengan membela yang bayar.

Anggaran pertahanan kita belum sebesar yang diharapkan.  Tahun depan dapat kucuran 108 trilyun, Alhamdulillah. Kalau bicara soal anggaran, baru lima tahun inilah pembesaran anggaran terlihat bagus, naik secara signifikan.  Tetapi selama puluhan tahun sebelum itu kita telah melemahkan militer kita sendiri dengan kucuran anggaran yang seuprit sehingga ketika para tetangga sudah modern militernya barulah kita terbangun.

Kita baru sadar dengan negeri kepulauan terbesar sedunia ini, sumber daya alamnya melimpah, populasinya ratusan juta tetapi militernya hampir tidak punya gigi alias sedikitnya alutsista apalagi yang berkualitas.  Maka program beli 24 F16 bekas dilakukan dengan duit $750 juta. Demikian juga dengan program pengadaan 9 Hercules bekas dari Australia.  Salah? Tidak juga karena kuantitas alutsista kita memang terlanjur malu-maluin sehingga butuh kuantitas agar coverage patroli dan angkut logistik terpenuhi.

Lagian kalau ada pesawat jatuh tidak mutlak si hibah jadi korban fitnah.  Banyak faktor penyebab sehingga penelitian nanti yang akan menjawabnya.  Sayangnya ketika hasil penelitian nanti diungkap “suasana emosional” sebagian besar kita sudah surut, sehingga tak menjadi perhatian lagi.  Itulah sebagian besar kita, mudah difitnah media melalui diskusi ilmiah (katanya) dengan pengamat level kuliah, berlagak amanah ternyata kurang fathonah.

Mumpung bulan Maulid, duhai media, kembalilah kepada kriteria shiddiq, tabligh, amanah dan fathonah.  Beritakan, tablighkan, sampaikan segala sesuatu dengan benar, dengan shiddiq sebagai bagian dari tugas yang penuh tanggung jawab, amanah.  Semua itu harus dibungkus dengan kecerdasan, fathonah agar kita terhindar dari ghibah dan fitnah. Kasian si hibah jadi korban fitnah karena musibah.


Jagarin Pane / 20 Des 2016

Saturday, December 17, 2016

Menyikapi Raptor Di Darwin

Amerika Serikat dan Australia sudah sepakat untuk menempatkan jet tempur siluman raptor F22 di Darwin awal tahun depan. Urgensi kehadiran jet tempur generasi kelima ini adalah untuk mengimbangi gerak militer Cina yang begitu cepat di Laut Cina Selatan (LCS). Tetapi bukankah dengan itu berlaku pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Sebuah negeri kepulauan yang ada di utara Darwin layak berhitung cermat dengan kehadiran 1 brigade pasukan Marinir dan F22 AS di utara Australia itu.  Negeri kepulauan itu saat ini sedang memodernisasi militernya untuk pertahanan teritori dari ancaman yang sudah nyata, Ambalat dan Natuna. Kehadiran militer AS di depan hidung Kupang tentu menggelisahkan dari kacamata militer.

Dengan begitu setidaknya perhatian pertahanan yang selama ini fokus di utara negeri kemudian harus juga memperhatikan halaman belakang yang warna militer didekatnya begitu kental dan kuat. Pemusatan kekuatan militer di Darwin dan Australia Utara tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Perlu ada tambahan perkuatan militer di Kupang dan sekitarnya secepatnya.
Jet tempur F22 Raptor
Hadirnya F22 memberikan persepsi betapa telanjangnya Jakarta, betapa terbukanya  Surabaya dan Timika  manakala terjadi arogansi militer negara adidaya yang bisa saja terjadi dalam perjalanan berteritori ke depan. Yang jelas Indonesia ada dalam jangkauan jet-jet tempur siluman itu dan menjadi jalur utama perjalanan Darwin – LCS.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan serial cerita pembelian jet tempur Sukhoi SU35 yang tersendat-sendat itu.  Kita katakan serial karena setiap membicarakan sinetron SU35 gak pernah ada titik ujungnya apalagi klimaksnya.  Padahal yang mau dibeli hanya 8-10 biji dan anggarannya pun sudah tersedia sejak beberapa  tahun lalu. Entah kenapa kok proses beli nya begitu sulit atau memang memakai logika ini: kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah. 

Sementara tetangga kita Singapura sedang menunggu kedatangan jet tempur F35 yang setali tiga uang kesilumanannya. Jadi di bawah kita ada jet tempur F22, disebelah kiri ada jet tempur F35. Lalu kita sendiri masih “mendramatisir” proses pembelian Sukhoi SU35 dengan berbagai persyaratan.  Capek juga mengikuti proses drama itu.
Jet tempur Sukhoi SU35
Apakah sebenarnya kita berangkat untuk menjalankan konsep membangun pertahanan berbasis “bangsaku” atau pertahanan berbasis “bank saku” alias komisi gede untuk pembelian alutsista. Kisah seorang Kolonel yang ketahuan menilep uang negara sebesar US $ 12 juta untuk pembelian F16 dan Apache adalah tamparan untuk Kemhan yang dipermalukan awaknya sendiri dalam manajemen pembelian alutsista.

Sementara negara lain terus berupaya membesarkan nilai pertahanannya. Vietnam dalam waktu empat tahun sudah bisa mendatangkan 5 unit kapal selam Kilo, dan 24 unit jet tempur Sukhoi Su27/30, sudah datang semuanya.  Sementara kita butuh waktu 10 tahun untuk mendatangkan  kapal selam baru.  Hasilnya 3 biji Changbogo, barangnya pun baru mau datang tahun depan. Program pengadaan 24 F16 blok 52 id yang ditandatangani tahun 2012 mestinya proyek itu sudah selesai akhir tahun ini.  Kenyataannya masih ada 9 unit F16 yang belum sampai di tanah air.

Kementerian Pertahanan sebagai pintu gerbang proses pengadaan alutsista adalah kementerian pemegang anggaran APBN terbesar mulai tahun depan. Artinya perhatian pemerintah dan parlemen soal perkuatan pertahanan teritori cukup besar. Kemhan boleh jadi adalah kementerian basah dengan kucuran anggaran, akan tetapi jangan sampai “basah kuyup” karena perilaku oknum.

Anggaran terbesar harus dikelola dengan profesional dan transparan. Kemhan harus lugas dan cerdas memetakan potensi ancaman, bergerak cepat, beli alutsista setara, untuk memastikan keseimbangan teknologi terkini yang dimiliki. Tidak melulu ngurusin program bela negara.  Program bela negara perlu tetapi bukan segala-galanya. Teknologi alutsista itu juga penting dan harus dimiliki di alam nyata bukan di alam maya.

Halaman belakang rumah yang bernama NTT, Arafuru, Merauke harus dipoles dengan penempatan sejumlah alutsista modern. Syukurlah sudah ada program menempatkan sejumlah jet tempur di Kupang dan pembangunan batalyon arhanud di NTT serta tambahan kapal perang.  Tetapi bukan sekedar persebaran jet tempur atau kapal perang saja, penting dan mendesak adalah penambahan kuantitas dan kualitas alutsista seperti Sukhoi SU35, Fregat dan kapal selam secepat-cepatnya.

Raptor dan marinir AS di Darwin jelas ancaman meski dalam kacamata diplomatik kita berkawan baik dengan AS dan Australia. Tetapi dalam perjalanan dinamika diplomatik itu semuanya berbungkus kepentingan nasional dan tuntutan pemenuhan sumber daya alam. Di bingkai itu AS mudah berubah pikiran apalagi besok dipimpin Donald Trumph yang sangat nasionalis itu.

Jawabannya jelas, perkuat secepat mungkin militer kita. Beli Sukhoi tidak lagi 8 biji tapi minimal 1 skuadron alias 16 biji. Jumlah kapal selam juga dipercepat proses pembangunannya.  Sudah ada infrastruktur kapal selam di PAL Surabaya. Jadi bisa dibuat paralel masing-masing di Korsel dan Surabaya.  Demikian juga dengan kapal-kapal permukaan, lanjutkan proyek PKR 10514, teruskan proyek KCR. Jangan sampai telat mikir atau kebanyakan mikirin komisi sehingga makna pertahanan berbasis bangsaku berubah menjadi pertahanan berbasis bank saku.
****

Jagarin Pane / 17 Desember 2016

Monday, December 12, 2016

Galeri Foto Tentaraku

Pangkalan TNI AL Surabaya, gegap gempita
"Bung Tomo Class" tiga kapal perang terbaru kita
Hercules ke 5 dari 9 pesanan yang datang.  Kita punya 27 Hercules
Dentuman dan Leopard di Natuna, luar biasa
Jet tempur F16 patroli.  Kita punya 33 unit 
Sukhoi dan persenjataan lengkapnya
****
12 Des 2016

Wednesday, November 30, 2016

Alutsista Kita, Pesan Datang Silih Berganti

Perjalanan memperkuat militer Indonesia terus menggeliat tanpa henti. Komitmen dan konsistensi pengelola negeri ini bersama seluruh rakyatnya adalah menyetarakan kekuatan militernya dengan kehebatan sumber daya alamnya, luas wilayahnya, sumber daya manusianya dan posisi geostrategis yang harus dikawal bersama perjalanan eksistensi bernegara. Dengan itu maka kita akan terus melihat alutsista-alutsista anyar berdatangan ke negeri kepulauan nan elok ini.

Militer Indonesia tidak lagi terhalang kesulitan anggaran untuk memantapkan profesionalitas jati dirinya. Kita lihat barusan di Natuna dengan latihan militer besar-besaran yang berkelanjutan.  TNI AU menggelar latihan tempur skala besar disana demikian juga dengan TNI AD sepanjang Oktober dan Nopember tahun ini. Berbagai jenis alutsista canggih diperlihatkan, diuji tembak dalam model pertempuran modern. Simulasi yang membanggakan.

Pangkalan-pangkalan militer perbatasan diperkuat.  Natuna dalam dua tahun ke depan sudah menjadi pangkalan militer besar segala matra. Di Teluk Palu sedang dibangun pangkalan kapal selam, di Tarakan dibangun pangkalan AU dan AL yang bersinergi satu sama lain. Di Kupang juga menjadi pangkalan jet tempur TNI AU bersama pembangunan batalyon kavaleri dan batalyon arhanud. Di Papua Barat dan Sulawesi Utara dibentuk Kodam baru.
Uji tembak MLRS Astross II Mk6
Di Sorong sedang dibangun pangkalan induk TNI AL untuk armada timur.  Di Makassar sudah dibentuk satuan kapal cepat armada timur untuk respons cepat kejadian tak terduga di laut. Ini mencontoh satuan kapal cepat armada barat yang sudah eksis lebih dahulu dan mampu menjalankan perannya untuk meminimalkan perompakan dan insiden di laut. Jumlah kapal perang permukaan terus ditambah baik yang berpredikat KRI maupun KAL.

Setelah menambah 2 kapal perang jenis PKR10514 yaitu KRI Raden Edy Martadinata 331 dan KRI  I Gusti Ngurah Ray 332, TNI AL kembali memesan 2 kapal perang sejenis. Sementara PT PAL saat ini sedang menyelesaikan pembangunan galangan kapal selam modern karena adanya transfer teknologi pembuatan kapal selam dengan Korsel. Bulan Februari 2017 nanti modul kapal selam ketiga “Nagapasa Class” akan dirakit dan diselesaikan di PAL. Kemudian kapal selam keempat dan seterusnya akan dibuat di PAL. 

Sebagaimana disampaikan Menhan Ryamizard baru-baru ini Indonesia akan membangun 10 kapal selam modern untuk menjaga teritori lautnya. Jika teknologi kapal selam sudah dikuasai dengan membangun sendiri kapal selam ke empat dan seterusnya maka lengkap sudah PT PAL menguasai seluruh teknologi kapal perang mulai dari KCR 60m, PKR 10514, LPD dan kapal selam. Ini kemajuan yang luar biasa.

Jet tempur F16, bersiap patroli udara
Demikian juga Pindad sudah mampu membuat panser Anoa sampai 300 unit, Panser Badak 50 unit. Akan semakin sempurna jika proyek medium tank bisa diselesaikan tahun depan.  PT DI tak mau ketinggalan meski agak kedodoran dan berselisih dengan relasi user utamanya TNI AU. Jika proyek jet tempur KFX/IFX kerjasama dengan Korsel sukses maka kehebatan industri pertahanan kita sudah setara dengan negara lain dan paling lengkap.

Proyek pembangunan militer kita yang didukung anggaran militer terbesar mulai tahun 2017 akan menghasilkan hadirnya ragam alutsista anyar. Daftar belanja yang diprediksi akan diorder tahun 2017 antara lain paket alutsista peluru kendali darat ke udara (SAM) jarak sedang, jet tempur Sukhoi SU35, kapal selam mini 22m, tank amfibi BMP3F, tank Pindad-FNSS, tank boat X18, panser Pandur II 8x8, ranpur Sanca, UAV, radar, kapal selam.

Sementara berbagai alutsista yang diprediksi datang tahun 2017 adalah 2 kapal selam jenis Changbogo, 2 kapal perang PKR 10514, 2 kapal cepat rudal 60m, 8 kapal patroli cepat, 2 kapal perang LST, 4 helikopter Apache, 4 helikopter Fennec, 4 helikopter Combat EC725 Cougar, 6 helikopter anti kapal selam Panther, 4 RM70 Vampire, 50 panser Badak,  20 artileri LG1 MkIII Nexter, sistem peluncur dan rudal Starstreak, 3 radar militer, 20 MBT Leopard, 2 kapal LCU, 9 jet tempur F16 blok52.

Leopard di Natuna, ada kebanggaan disitu
Fokus pengembangan industri pertahanan dalam negeri mendatang adalah mendalami dan menguasai teknologi alutsista modern dengan tujuh proyek strategis yaitu teknologi propelan,roket, rudal, medium tank, radar, kapal selam dan jet tempur.  Ini pekerjaan besar yang secara substansi sudah berjalan dengan baik sampai saat ini. Kita meyakini tidak lama lagi Indonesia akan memiliki industri pertahanan nasional yang mampu mensuplai kebutuhan alutsista strategis yang dibutuhkan militernya.

Semua berpacu dengan waktu. Negara pengklaim Laut Cina Selatan sedang giat membangun pangkalan militer di wilayah klaimnya. Persinggungan teritori dengan kita jelas ada karena masing-masing menggunakan ZEE sebagai titik ukur untuk eksploitasi sumber daya alam di laut kaya itu.  Itulah sebabnya mengapa kita membangun pangkalan militer besar di Natuna. Kita tidak ingin negara lain melecehkan teritori kita.  Demikian juga di kawasan perbatasan lain di negeri ini dipasang mata dan telinga berikut alat pukulnya.

Wajar dong diperkuat karena kehebatan negeri ini dengan sumber daya alamnya baik di laut dan di darat. Populasi penduduknya yang besar tentu harus mendapatkan perlindungan dan jaminan suplai logistik. Posisi geostrategis mewajibkan negeri ini memperkuat militernya sebagai jaminan kelangsungan perjalanan berbangsa. Jadi modernisasi tentara dengan alutsista berteknologi terkini adalah untuk memastikan kekuatan daya tahan,daya tangkal serta daya pukul.  Negeri ini harus punya militer yang setara dengan kehebatan sumber daya alam dan sumber daya manusianya.
****
Jagarin Pane / 30 Nop 2016 

Friday, November 18, 2016

Menghangatkan Adonan NKRI

Kebanggaan kita sebagai bagian dari anak bangsa yang berbingkai NKRI adalah ketidaksamaan ramuan yang membentuk adonan dalam sebuah tekad membangun bangsa. Republik Indonesia adalah adonan yang diramu, diracik, diblender dan dimatangkan dalam sebuah open panasnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan puluhan tahun yang lalu. Kematangan perjuangan itulah yang membentuk karakter berbangsa sampai saat ini, semangat nasionalis patriotik.

Semangat kebhinnekaan, semangat kebersamaan yang dibentuk dari ketidaksamaan komponen, itulah kehebatan kita, itulah kebanggaan kita. Tujuh puluh satu tahun adonan NKRI memberikan makna dalam perjalanan eksitensi bangsa.  Bersama menjalani hiruk pikuk suka cita bangsa, bersama menjalani hiruk pikuk duka cita bangsa dengan peristiwa-peristiwa besar yang menampar perjalanan, menikam nilai-nilai kesatuan dan tetap saja dengan ridho Allah kita masih bisa bernama Indonesia dan semoga akan selalu bernama Indonesia.

Adonan NKRI hari-hari belakangan ini agak menggumpal satu sama lain oleh sebuah sebab yang terlambat didiagnosa pengendali negeri yang bernama rezim. Akibat omongan nista dari seorang pejabat publik yang memasuki wilayah teritori aqidah lain, jadilah kemarahan yang menggumpal yang membuat adonan kebersamaaan menjadi retak. Lebih dari itu gumpalan adonan dari sebuah komponen mayoritas yang teritori aqidahnya dilecehkan memberikan pesan kuat bahwa kemarahan ukhuwah harus disikapi dengan arif.
Latihan tempur TNI AD di Natuna, jangan main-main
Teritori aqidah tidak jauh beda dengan teritori NKRI dari sisi semangat jihadnya.  Kalau pada saat-saat ini militer kita sedang mengadakan simulasi pertempuran berkelanjutan di Natuna, pesannya jelas agar negara-negara lain yang bersengketa wilayah di Laut Cina Selatan tidak melecehkan teritori Indonesia. Kalau itu dilecehkan maka segenap komponen anak bangsa dengan tulang punggung TNI akan marah besar dan siap berjibaku.

Ketika sudah dipertunjukkan nilai tersangka kepada pembuat sebab, mestinya dipertunjukkan pula nilai-nilai arif dari komponen mayoritas. Dan mempercayakan semuanya pada mekanisme hukum. Para pemimpin agama, para ulama sedang berupaya mendinginkan suhu, dan kita sebagai anak bangsa, sebagai umat selayaknya ikut dalam barisan itu.  Terus mengumbar adrenalin juga tidak sehat manakala perjalanan tubuh memerlukan istirahat.

Adonan NKRI adalah predikat terhormat dari sebuah perjalanan bangsa yang berdarah dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaannya. Bukankah NKRI diramu dari kesadaran berbangsa yang unsur-unsur adonannya berbeda satu sama lain.  Meski komponen mayoritas berwarna hijau daun, toh bendera kita berwarna merah putih.  Meski mayoritas kita adalah dari suku yang selalu “ewuh pakewuh” toh bahasa nasional kita dari sebuah suku minoritas.

Ketika naskah Piagam Jakarta disempurnakan menjadi Pancasila dengan menghilangkan tujuh suku kata, toh yang mayoritas tadi tetap legowo.  Itulah yang disebut adonan hangat untuk menciptakan sebuah bangunan karakter berbangsa dengan pilar kuat, semangat kebangsaan dalam kebhinnekaan.  Bangunan karakter model begini sangat sulit mencarinya di belahan mana pun di dunia karena dibentuk dari nilai juang, harga diri dan kebersamaan dalam perbedaan. Syukuri saudaraku yang dirahmati Allah.
Negeri yang indah, permai, nusantaraku
Pelajaran penting dari “mulutmu harimaumu” adalah jadilah pemimpin yang beretika dan berakhlak.  Meski proses dan hasil kerjanya diakui hebat tetapi penentu semua keberhasilan itu adalah nilai lisan dan sikap rendah hati yang menampakkan suasana sejuk. Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah cerdas dan tanggap dalam merespon segala cuaca yang menerkam ekstrim.  Ini utamanya untuk pemimpin rezim yang mestinya lebih banyak menyoal rumus strategis negara daripada  sekedar berpikir dan melangkah taktis wira wiri yang tak perlu.

Hulubalang Republik yang bernama Tentara Nasional Indonesia adalah benteng utama yang bersama komponen bangsa yang lain senantiasa menjaga ramuan adonan yang bernama NKRI.  Sejarah membuktikan semua komponen yang membentuk dan merekatkan NKRI adalah pejuang sejati.  Komponen mayoritas  tentu dengan kekuatan mayoritasnya berperan besar dan sebanding dengan nilai dominannya. TNI adalah payung kehormatan itu untuk menjaga dan mempertahankan kehormatan bangsa besar ini.

Namanya adonan tentu ramuannya terdiri dari berbagai unsur untuk menampilkan rasa nikmat bagi sebuah kue atau roti. Meski komponen dominan pembuat roti atau kue adalah tepung terigu, tetapi jika tidak ada campuran putih telur, mentega, gula, dan unsur lain tentu rasanya hambar. Kue yang bernama Indonesia itu adalah yang paling nikmat manakala kita mau mensyukuri nilai-nilai kebangsaan yang kita miliki. Memahami perbedaan diantara kita sebagai rahmat dan kasih sayang Allah. 

Marilah kita hangatkan kembali sebuah adonan keindahan yang sudah tercetak puluhan tahun yang lalu. Sebuah adonan kebanggaan, sebuah adonan kebersamaan yang sudah kita jalani dengan suka duka.  Kultur kita adalah kebersamaan itu, nilai kejuangan kita adalah kebersamaan itu, kehebatan kita adalah keragaman itu, republik kita adalah kebersamaan itu.  Semoga Allah selalu meridhoi jalan kebersamaan bangsa besar ini.

****
Jagarin Pane / 18 Nopember 2016