Monday, March 30, 2020

Terbelah Dua Terpisah Jauh


Apa perbedaan geo strategis pertahanan Indonesia dan Malaysia. Indonesia jelas negara kepulauan dan semua kepulauan itu berada dalam kendali penuh teritori internal laut dan udara.

Malaysia terbagi dua wilayah yang dipisahkan Laut China Selatan (LCS). Malaysia Semenanjung dan Malaysia Borneo.  Bedanya pemisah dua wilayah itu teritori lautnya tidak berada dalam kontrol internal Kuala Lumpur. Terutama sejak China mengklaim LCS dan Indonesia membangun pangkalan militer di Natuna.

Maka ke depan ini persoalan pertahanan negeri jiran itu yang terbelah dua menarik untuk dikaji terutama jika terjadi konflik teritori dengan China, Indonesia dan Filipina. Malaysia menghadapi persoalan serius untuk masalah ini.

Saat ini belanja militer Malaysia mengalami tekanan keuangan. Hampir tidak ada pembaharuan yang signifikan terutama penambahan aneka jenis alutsista. Sementara negara-negara se kawasan Asia Tenggara utamanya Indonesia, Vietnam, Thailand, Singapura dan Filipina sedang giat memperkuat militernya.

Teritori laut yang terpisah jauh dan ditengahnya ada Natuna dan klaim LCS oleh China secara strategi militer sejatinya telah membuat kontrol militer Semenanjung atas Sarawak dan Sabah menjadi lemah.

China semakin memperkuat taring militernya di LCS. Perairan strategis padat lalulintas ini secara de facto sudah dikuasai militer China. Bahkan ditarik secara ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) pun dengan asumsi tidak ada klaim teritori LCS, Malaysia Barat dan Timur gak nyambung.

Sejak Natuna dijadikan pangkalan militer tri matra oleh Indonesia, maka ruang pertahanan dan militer negeri itu menjadi tidak nyaman. Kondisi yang sama pernah ada ketika Pakistan Barat dan Pakistan Timur dipisahkan oleh India. Tidak harmonisnya hubungan bertetangga ini dan lewat 3 kali peperangan maka Pakistan Timur dengan bantuan India menjadi negara baru bernama Bangladesh tahun 1971.

Indonesia tidak punya kepentingan apapun soal Sarawak dan Sabah. Sementara Filipina punya sejarah kepemilikan atas Sabah. Klaim Malaysia soal Ambalat bisa jadi di kemudian hari membuat Indonesia marah. Maka dalam strategi militer Natuna bisa dijadikan kartu truft  mengerahkan kekuatan Armada Satu dengan kekuatan 35 KRI dan 2 skadron F16. Tujuannya adalah memblokade jalur militer Semenanjung.

Sementara Armada Dua TNI AL dengan kekuatan 40 KRI didukung 1 skadron Sukhoi mampu menguasai Ambalat secara penuh. Tetapi tentu penguasaan secara militer tidak membuat masalah lalu selesai. Maka pilihan penyelesaiannya secara sepihak adalah geo politik dan geo strategis.

Ringkasnya bisa pakai cara geo strategis dan geo politik India yang menjadikan Pakistan Timur menjadi negara baru, Bangladesh. Dinamika kawasan saat ini sangat cepat berubah. Pilihan-pilihan yang bisa terjadi di kemudian hari bermula dari persoalan klaim teritori.

Maka salah satu poin pentingnya adalah memperkuat sistem teknologi persenjataan yang terpadu dan terintegrasi. Dengan itu kekuatan militer sebuah negara menjadi adrenalin dari kekuatan diplomasi internasional. Indonesia sedang menuju jalan itu sementara Malaysia tersendat program penguatan militernya.

****
Semarang, 30 Maret 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Saturday, March 14, 2020

Drama Tersanjung Berakhir Tersandung


Betapa semangatnya kita ketika lima tahun lalu dicanangkan sebuah program pengadaan alutsista strategis dan bergengsi. Mimpi untuk mendapatkan jet tempur mutakhir Sukhoi SU35 menjadi catatan perjalanan panjang. Dengan harap, dengan sukacita, dengan bangga, dengan damba. Berakhir dengan hampa.

Sebuah drama yang banyak menyita perhatian kalangan forum militer tanah air. Menjadi forum diskusi yang hangat, menjadi harapan sejuta umat, dinanti dengan segala hormat, dirinci detail prosesnya dengan cermat, lima tahun lewat akhirnya tamat karena Caatsa mau melumat.

Dibilang gondok sudah pasti, sebab inilah sebuah proses pengadaan alutsista yang paling bertele-tele. Anggaran sudah disediakan jauh-jauh hari. Sudah satu suara antara Kemenhan dan TNI. Sudah dibuatkan rumah skadronnya di Iswahyudi, sudah disiapkan pilot-pilotnya. Sudah dititipkan 3 Sukhoi SU27 di Iswahyudi agar pilot tidak bengong terus.

Su35, yang digadang-gadang tapi terhadang
Begitu tersanjungnya episode drama ini. Tentang sebuah harapan kebanggaan, tentang marwah dirgantara, tentang martabat teritori, tentang daya gentar dan getar. Tetapi akhirnya justru digentarkan dan digetarkan Caatsa Paman Sam. UU Caatsa AS mengharamkan siapapun yang beli alutsista Rusia akan dilibas dan digilas.

Begitulah, dan tanda-tanda itu sejatinya sudah mulai terlihat pada Ratas di kantor Menko Polhukam beberapa waktu lalu. Seusai rapat tiba-tiba para Menteri jadi pelit bicara. Yang terdengar hanya kalimat demi pertimbangan geostrategis dan geopolitik. Gak ada lanjutan kalimat lain.

Artinya dengan begitu selama lima tahun ini tidak menghasilkan apa-apa. Jika ada penggantinya pun misalnya jet tempur Rafale pasti akan butuh 3 tahun lagi. Atau jika disetujui dapat ganti F35 pasti butuh durasi 5 tahun lagi. Benar-benar tersandung.

Meski begitu kita percaya dengan Menhan Prabowo yang cepat mengambil keputusan. Toh soal proses pengadaan SU35 itu tidak dalam wilayah kendalinya. Dia hanya berada di hilir yang menerima proses akhir. Kita meyakini Prabowo akan ambil langkah strategis yang cepat dan cermat.

F16 Viper, tinggal tunggu waktu
Maka harapan kembali kita suarakan agar proses pengadaan jet tempur Rafale segera dipercepat. Paling pantas dan cepat menjawab tekanan Uak Sam adalah membeli puluhan jet tempur Rafale. Kalau perlu salip saja dengan proses pengadaan jet tempur F16 Viper yang sekarang sudah hampir final.

Pelajarannya adalah bukan karena soal duit. tetapi proses yang bertele-tele. Seandainya bisa diselesaikan 2 tahun sejak tahun 2015 maka kita tidak sampai pada pemberlakuan Caatsa. Dan hari ini sudah bisa menyaksikan jet tempur penggentar Sukhoi SU35. Benar-benar tersandung dan gigit jari.

Pesan kuat kita untuk Menhan Prabowo, percepat semua proses pengadaan alutsista. Gak usah dibikin ribet. Duitnya ada kok. Bahkan sudah disediakan dana On Call. Beli banyak Rafale, segera teken Iver. Lanjutkan proses Gowind. Sambut ajakan Raja Belanda untuk buat kapal perang setara Iver yaitu Omega.

Udah gitu aja, masih gondok sama Uak Sam. Benci tapi rindu dan dibutuhkan. Mau dilawan dia Jawara dan sewaktu-waktu bisa jadi payung untuk konflik Laut Cina Selatan. Itu yang disebut kantor Menko Polhukam: demi kepentingan geostrategis dan geopolitik. Kita mengalah saja, sambil membayangkan wajah santri pak Mahfud MD.

****
Jagarin Pane
Yogya 14 Maret 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI.

Wednesday, March 11, 2020

Dipercepat Dong


Produksi tank Harimau pesanan TNI AD sudah dimulai, demikian juga dengan panser Badak. Termasuk panser amfibi Cobra yang difinishing di Pindad, aslinya adalah panser Pandur II dari Ceko.
Filipina naksir Harimau. Kapasitas produksi Pindad terbatas. Mau buat 18 Harimau, mau buat 12 Badak, mau merakit pansam Cobra, lagi merakit ranpur Sanca dan Komodo. Panser Anoa juga masih produksi. Berarti Filipina antri dulu kalau jadi beli. Moga-moga aja jadi, dan sabar.
Arhanud jadul "Simbah S60" tua2 keladi makin tua makin bertaji. Ratusan alutsista buatan Uni Sovyet tahun enampuluhan ini mau diintegrasikan menjadi air defense digital system. Tentu untuk memayungi kota-kota besar di Indonesia dari ancaman serangan udara. Baguslah.
Iver Class for Indonesian Navy
TNI AU merilis progress pembangunan kekuatan di timur negeri. Infrastuktur Koopsau III sudah selesai dibangun di Biak. Skadron 'angkut sedang', sudah diisi dengan 4 pesawat CN 235. Skadron baru 'angkut berat' Hercules yang bermarkas di Makassar juga sudah diisi 4 Hercules. Belum lengkap memang.
Yang sedang dipersiapkan skadron Helikopter TNI AU di Jayapura. Alutsista helikopter sudah dipesan. Skadron tempur lokasi definitifnya belum ditetapkan. Biak atau Kupang. Soal lokasi win win aja deh. Biak sudah siap, Kupang juga. Yang penting jenis jet tempurnya intersep.
Iver yang digadang-gadang, kembali dikunjungi pabriknya di Denmark oleh pejabat Kemhan dan anggota DPR. Sudah empat kali lho. Mau beli dua, kenapa gak tiga sekalian. Kan armada tempur kita ada tiga, masing-masing dapat bagian. Gak pake lama lho.
Proyek PKR 10514 jilid dua mau dilanjut, agak dipercepat gitu. Raja Belanda datang untuk memastikan Damen Schelde dapat lampu hijau. Mestinya sudah sejak tahun 2018 proyek ini dilanjut. Jadi tidak ada jeda terlalu lama. Misal usia KRI Martadinata 331 sudah delapan tahun baru adiknya yang nomor tiga lahir. Kelamaan kan.
TNI AL perlu kapal perang berbagai jenis. Semua berjalan biasa, padahal perlu jalan cepat. Satu LPD rumah sakit sedang dibuat. Tiga KCR paket lengkap lagi diproduksi. Program lanjutan pembuatan kapal perang jenis LST dan BCM jalan terus. Nah yang lemot adalah untuk menghadirkan KRI striking force Iver Class dan Martadinata Class paket dua.
CH4 Wing Long
Kita mau kedatangan paket alutsista model baru. Namanya Hanud area berupa satuan peluru kendali darat ke udara jarak sedang. Merknya Nassam 2 buatan Norwegia. Disebut model baru karena selama setengah abad kita tak punya pelapis kedua sistem pertahanan udara.
Selama ini model hanud kita hanya dua lapis yaitu jet tempur dan peluru kendali SAM jarak pendek. Dengan kehadiran satuan peluru kendali jarak sedang maka tersedia 3 lapis model pertahanan udara. Prioritas untuk Ibukota dan Natuna.
Proses pengadaan jet tempur F16 terus berjalan. Tetapi tiba-tiba AS mencabut status RI utk urusan perdagangan dari negara berkembang jadi negara maju. Artinya tidak ada lagi fasilitas keringanan alias GSP untuk produk ekspor kita ke AS.
Kenapa GSP dikaitkan dgn pembelian alutsista AS. Karena surplus perdagangan mau diseimbangkan dengan cara beli F16, Hercules dll. Jika fasilitas GSP dihapus ya mending cari produk lain dong sebagai bentuk independensi RI.
Apalagi soal Sukhoi SU35, setelah Ratas di kantor Menko Polhukam baru-baru ini, tiba-tiba semua pada pelit bicara. Maka menjadi pertanyaan apakah ancaman Caatsa dari AS menjadikan menteri-menteri itu pelit bicara.
Kita simak saja sembari mengajak semua proses itu: Dipercepat dong. Ayo dong. Buktikan independensi negeri. Datangkan Sukhoi SU35, percepat kontrak Iver, teken segera pengadaan jet tempur intersep selain SU35. Lanjutkan proyek KFX/IFX. Tunjukkan pada rakyat keseriusan membangun kekuatan militer dengan kinerja percepatan. Sebelum keburu resesi.
****
Bandung, 7 Maret 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI.


Sunday, February 16, 2020

ON GOING PROJECT INDONESIAN MILITARY


1.  Upgrade 10 jet tempur F16 blok 15
2.  Upgrade 15 jet latih T50 menjadi FA50
3.  Overhaul KRI Cakra 401
4.  Pembangunan 3 Kapal KCR 60 m
5.  Pembangunan 1 Kapal LPD rumah sakit
6.  Pembangunan 3 Kapal LST
7.  Pembangunan 1 Kapal BCM
8.  Pembangunan 3 Kapal KPC
9.  Pembangunan 3 Kapal selam batch 2
10. Pembelian 22 Panser Cobra
11. Pembelian 18 Tank Harimau
12. Pembelian 40 Rantis Sanca
13. Pembelian 18 Ponton Amphibious M3
14. Uppgrade 188 Arhanud S60
15. Pembelian 18 Caesar Nexter batch2
15. Pembelian 18 Astross Mk2 batch 2
16. Pembelian 2 Batt Nassam2
17. Pembelian 3 Batt Oerlikon Skyshield
18. Pembelian 11 Jet Tempur Sukhoi SU35
19. Pembelian 9 Helikopter Caracal
20. Pembelian 8 Helikopter Bell 412 Epi
21. Pembelian 3 Pesawat CN295
22. Pembelian 4 Radar GCI
23. Pembelian 6 UCAV Wing Loong
24. Pembelian 8 MLRS Vampire
25. Pembelian 6 Pesawat Amfibi CL415
26. Pembelian 1 Satelit Militer
27. Pembelian 5 Pesawat Hercules type J
28. Hibah 6 UAV Scan Eagle
****
Jagarin Pane / Dari berbagai sumber/16.02.20

Saturday, February 8, 2020

Menyandingkan MEF Dan INHAN

Perjalanan MEF ( Minimum Essential Force) sudah memasuki usia yang kesepuluh. Sejalan dengan itu industri pertahanan (Inhan) kita mulai memperlihatkan gairah berkarya memenuhi sebagian kebutuhan alutsista TNI. MEF diproklamirkan tahun 2010 dan bersamaan dengan itu dimulailah pemberdayaan industri pertahanan nasional dengan berbagai pola.
Pindad sudah mampu membuat berbagai jenis persenjataan personel pasukan. Kerjasama produksi kendaraan tempur Komodo, Badak, Sanca berjalan terus. Produksi panser Anoa sampai saat ini mencapai tigaratusan unit. Saat ini Pindad sedang memproduksi tank Harimau pesanan TNI AD.
Tank Harimau, sudah mulai diproduksi
PT DI sudah memproduksi puluhan pesawat CN235 dan bahkan sudah diekspor ke berbagai negara. Juga merakit ratusan helikopter berbagai jenis untuk TNI. Termasuk yang terbaru dan diam-diam proyek bergengsi UAV/UCAV Elang Hitam. Sementara saat ini sedang berlangsung proyek kerjasama teknologi pembuatan jet tempur KFX/IFX dengan Korsel. Sudah berjalan sepuluh tahun.
PT PAL sebenarnya punya dua proyek strategis yaitu kerjasama alih teknologi pembuatan kapal perang perusak kawal rudal dan pembuatan kapal selam U209/1400. Keduanya juga sudah berjalan 10 tahun.
Namun untuk proyek pembuatan kapal perang perusak kawal rudal yang dikenal dengan sebutan PKR 10514 Martadinata Class tersendat di pembuatan kapal ketiga dan keempat. Mestinya untuk menuntaskan alih teknologi dengan Damen Schelde Belanda masih diperlukan tambahan minimal 2 unit lagi. Ini salah satu PR untuk Menhan Prabowo.
Astross II Mk6, sudah memperkuat Natuna
Sementara untuk program alih teknologi pembuatan kapal selam sudah berhasil dibangun 3 kapal selam yang dikenal dengan Nagapasa Class. Kapal selam ketiga KRI Alugoro dirakit di PT PAL Surabaya dan sekarang sedang uji endurance, uji teknologi di laut.
Sempat diterpa isu macam-macam, toh ketiga kapal selam ini baik-baik saja. KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 sudah operasional dengan persenjataan torpedo canggih Blackshark. Kabar baik lainnya sudah diteken kontrak pembuatan kapal selam ke 4,5,6. Semuanya dalam rangka memenuhi kebutuhan jumlah kapal selam dan-ini yang terpenting-untuk menguasai sepenuhnya teknologi pembuatan kapal selam.
Saat ini kesibukan PT PAL yang lain adalah pembuatan 3 kapal cepat rudal (KCR), pembuatan 1 kapal jenis LPD (Landing Platform Dock) dan overhaul kapal selam KRI Cakra 401. Kita sangat berharap agar pembuatan kapal perang striking force Martadinata Class yang ke 3 dan 4 bisa segera dimulai. Sebagaimana dicerahkan oleh Presiden Jokowi, yang bisa dibuat di PT PAL silakan pesan bahkan untuk jangka waktu sampai 15 tahun. Nah lo.
Kita sebenarnya bisa dan mampu membesarkan dan memberdayakan industri pertahanan kita termasuk dengan pola alih teknologi. Tiga proyek alih teknologi, pembuatan kapal selam, pembuatan PKR 10514, pembuatan jet tempur KFX/IFX sudah berada di duapertiga perjalanan. Masih butuh 5-6 tahun lagi untuk mencapai finish.
Maka di periode ini kita perlu mengumandangkan lagi komitmen konsistensi untuk kelak bisa mandiri memenuhi kebutuhan alutsista TNI. Statemen Presiden menjadi catatan untuk kita bersama memajukan industri pertahanan nasional.
Pindad sudah mampu memproduksi panser Anoa, tank Harimau dan berbagai jenis roket. PT PAL sudah mampu membuat KCR dan LPD. Galangan kapal swasta nasional sudah mampu membuat kapal patroli cepat (KPC), kapal landing ship tank (LST), kapal untuk BAKAMLA, KKP, Bea Cukai, Polairud.
Jika kita sudah mampu dan lulus di tiga proyek alih teknologi strategis Inhan, maka prestasi ini juga menjadi nilai prestisius bagi bangsa ini. Untuk mencapai itu tentu ada pihak-pihak yang merasa tidak senang termasuk pihak asing atau negara asing. Maka kemudian dimunculkanlah opini-opini yang under estimate dan yang sebangsa dengannya.
Maka mari kita perkuat kebersamaan komitmen. Dengan menggarisbawahi pernyataan Presiden dalam Ratas Alutsista di hanggar kapal selam PT PAL Surabaya tanggal 27 Januari 2020 yang lalu. Utamakan industri pertahanan nasional dan lanjutkan tiga proyek alih teknologi strategis.
****
Surabaya, 03 Februari 2020
Jagarin Pane

Monday, January 27, 2020

MEF 3, Pertaruhan Marwah Pertahanan


Kunjungan Menhan ke Perancis barusan membuat gegap gempita pemberitaan media nasional dan internasional. 48 Rafale, 4 Scorpene, 2 Gowind. Sempat melambung antara angan-angan dan kenyataan, begitu menggerunkan headlinenya. Tetapi kemudian kita harus berhitung cermat dan cerdas.
Mengapa begitu, karena soal jet tempur Sukhoi SU35 saja belum ada perkembangannya alias jalan ditempat. Proses pengadaan 32 jet tempur F16 Viper belum kelar juga. Lalu kabar proyek transfer teknologi kapal selam Nagapasa Class jilid dua dengan Korsel diganggu desas desus, termasuk proyek pengembangan jet tempur IFX. Terus gimana dong.
Kita saat ini sudah berada di MEF ( Minimum Essential Force) jilid 3 (2020-2024). Pertaruhan marwahnya disini. Kalau program sesuai target, nilainya biasa saja. Tapi dengan perkembangan kawasan yang gampang demam, mudah naik tensi, maka harus ada percepatan hasil melebihi target MEF 3.
Sukhoi SU35, belum datang juga
Maka percepatlah pengadaan 32 jet tempur F16 Viper, 6 Hercules, 2 kapal perang Iver, 2 kapal perang PKR 10514 batch 2. Datangkan segera Sukhoi SU35, tank amfibi BMP-3F dan panser amfibi BT-3F. Ini kan sudah jelas riwayat prosesnya.
Berdasarkan list belanja banyak yang mau datang. Ada satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah Nassam2 untuk pertahanan Ibukota dan Natuna. Ada Astross Mk2, ada Oerlikon Skyshield, ada sejumlah radar untuk menutup blankspot. Penyelesaian pembangunan 3 KCR (Kapal Cepat Rudal), 3 LST, 1 kapal LPD rumah sakit, 6 KPC (Kapal Patroli Cepat), 11 Heli AKS, 9 Heli Bell 412 Epi, 9 Heli Caracal dan lain-lain. Banyak sih kalau mau didetailkan.
Yang spektakuler nanti adalah hadirnya 2 kapal perang terbesar yang dimiliki Indonesia dari kelas Iver buatan Denmark. Termasuk tambahan kapal selam Scorpene selain lanjutan pembuatan 3 kapal selam Nagapasa Class. Bakal rame dah. Semua sibuk dapat proyek gede-gede. Industri pertahanan nasional baik BUMN dan Swasta sedang berbunga dan berbuah indah.
Ada juga proyek pengembangan UAV /UCAV yang akan menjadi primadona manajemen pertempuran masa depan. Sudah disiapkan roadmapnya. Terbunuhnya jenderal garda revolusi Iran di Baghdad beberapa waktu lalu adalah bukti kecanggihan UAV/ UCAV.
F16 Viper, yang digadang-gadang itu
MEF jilid 3 ini adalah finalisasi keseluruhan program modernisasi militer Indonesia yang dimulai sejak jaman SBY jilid 2. Namun bukan berarti semua akan berakhir di MEF jilid 3. Ke depan after MEF 3 program penguatan militer kita akan terus berjalan.
Tanda-tanda penambahan anggaran pertahanan makin jelas. Meski untuk tahun ini sudah ditetapkan pagu anggaran sebesar 131 T. Sangat terbuka ada dana on call sebagaimana disampaikan Menkeu. Prediksi jumlah dana on call yang disiapkan ada di kisaran 30-36 Trilyun.
Lima tahun ke depan ini adalah kesibukan Kemenhan yang luar biasa. Beruntunglah kita karena Kementerian ini dinakhodai oleh orang yang cerdas, pintar dan bergerak cepat. Lima tahun ini waktu yang pendek karena kita akan menghadirkan sejumlah alutsista strategis beraneka ragam.
Presiden Jokowi sangat percaya dengan kemampuan Menhan Prabowo dan berharap anggaran Kemenhan bisa dipergunakan tepat guna dan tidak di mark up. Sebuah sindiran dan boleh jadi sebuah teguran untuk Kemenhan.
Anggaran Kemenhan saat ini baru ada di 0,8% dari PDB kita. Jika angka itu ada di 1% saja dari PDB, artinya jumlah nominal duitnya ada di rentang 200 Trilyun. Sebuah jumlah yang biasa-biasa saja karena kita sedang membangun investasi bidang pertahanan. Kita meyakini jumlah 200 Trilyun itu akan dicapai pada tahun 2022 mendatang.
Investasi pertahanan dengan nilai terbesar adalah rukun marwah fardhu kifayah yang harus dilaksanakan pemerintah dan parlemen. Kalau tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dosanya ditanggung seluruh komponen negara. Wujudnya kita dipermalukan soal teritori atau bahkan terjadi aneksasi terhadap bagian tertentu teritori kita. Di Natuna barusan, kita sudah "ngamuk" sementara kapal-kapal CCG masih menari dan bergoyang di ZEE kita. Mereka keluar ZEE kita karena sudah kenyang dan penuh kapal-kapal nelayannya.
Bergegaslah, jangan kelamaan mikir. Datangkan alutsista canggih, kembangkan industri pertahanan, lanjutkan proyek jet tempur IFX, lanjutkan Nagapasa Class. Percepat produksi tank Harimau, roket RHan. Lanjutkan produksi panser Anoa. Sekali lagi MEF 3 adalah perhitungan dan pertaruhan marwah pertahanan kita.
****


Semarang, 24 Januari 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Tuesday, January 21, 2020

CCG Pulang Petang, What Next ?


Demam Laut Natuna Utara mereda setelah Indonesia menurunkan sejumlah "paracetamol" dan "antibiotik" untuk menurunkan panasnya. China Coast Guard (CCG) sudah tidak menampakkan diri lagi di area zona ekonomi eksklusif (ZEE) 200 mil laut dari garis pantai pulau terdepan Natuna.
China menguji nyali nasionalisme Indonesia. Reaksi kita yang riuh rendah dimotori oleh suara Menlu Retno Marsudi yang gagah perkasa, kecuali segelintir oknum bernyali banci, membuat China mengalah sambil mengatakan Indonesia sahabat strategis kami, perairan Natuna tidak kami klaim, hanya tumpang tindih, kata Kemlu nya.
Presiden Jokowi mendatangi Natuna dikawal sejumlah jet tempur, pesawat pengintai strategis dan armada KRI. Ribuan pasukan TNI disiagakan di berbagai titik, Kogabwilhan 1 siaga tempur. Hari-hari yang menegangkan. Jutaan netizen nasionalis menggemuruh mencela China yang tak tahu diri.
Iver, yang digadang-gadang
Ketika Ambalat memanas tahun 2006, Presiden SBY juga mendatangi kawasan itu dengan menaiki kapal perang. Ini adalah simbol "kemarahan" diplomatik yang dikemas dengan baju militer. Oleh sebab itu kita mengapresiasi hadirnya panglima tertinggi TNI yang juga Presiden RI Joko Widodo ke Natuna barusan.
Kehadiran Jokowi dan pasukannya akhirnya melunakkan sikap kaku yang diperlihatkan China. Setidaknya pernyataan sikap Kemlu China mencerminkan suasana itu. Hebatnya lagi sikap tegas dan keras Indonesia mendapat apresiasi dari warga negara jiran ASEAN.
Warga Filipina memuji sikap Indonesia yang bersatu padu menguatkan dan menghalau penceroboh di ZEEnya. Sekaligus mereka mencemooh sikap kurang berani yang ditunjukkan Pemerintah Filipina soal klaim yang sama di Laut China Selatan (LCS).
Juga banyak warga Malaysia angkat topi atas keberanian Indonesia menghadang China. Tahniah Indonesia. Lalu membandingkannya dengan cara pemerintah Malaysia yang melempem berhadapan dengan CCG China di LCS.
Natuna sejatinya sudah dibangun pangkalan militer. Berbagai jenis alutsista canggih sudah dialokasikan sebagai perkuatan basis militer. KRI Bung Tomo Class juga sudah mutasi kesana. Jet tempur berbagai jenis silih berganti berpatroli.
Sinergi patroli Natuna, F16 dan Bung Tomo Class
Namun itu belum cukup karena sesungguhnya semburan api lidah naga terasa sangat panas dan membakar. Jadi sebagai tamengnya kita sangat membutuhkan kapal perang striking force kelas destroyer dengan dukungan jet tempur Sukhoi SU35. Termasuk menambah kapal-kapal Bakamla ukuran besar.
Berkali-kali kita menulis soal perkuatan AL dan AU kita. Bahwa negeri kepulauan ini memerlukan kapal perang striking force ukuran besar. Demam Natuna terakhir ini membuktikan itu. Mestinya gerak cepat pengadaan alutsista gahar sudah menampakkan hasil seperti Sukhoi SU35 dan Iver Class.
Meski kita punya ratusan kapal perang berbagai jenis tapi yang paling modern hanya Martadinata Class, itu pun jumlahnya hanya dua unit. Mestinya kapal jenis ini ditambah lagi paling tidak jadi 6 unit. Bukankah model pembangunannya melalui transfer teknologi. Mengapa sekolah itu tidak dilanjut. Apakah Menhan tidak pernah mengevaluasinya.
Armada kapal perang kita sudah dibagi menjadi tiga. Namun persebaran KRI belum merata. Sebabnya karena isian alutsistanya belum banyak bertambah. Lalu mengapa lambat pertambahan kapal perang kelas korvet ke atas. Ya karena prosesnya tarik ulur. Iver itu jadi cerminnya. Sudah berkali-kali berkunjung ke pabriknya di Denmark tapi sampai hari ini belum tanda tangan juga.
Kita butuh kapal perang besar, bukan hanya produksi Kapal Cepat Rudal (KCR), Kapal Patroli Cepat (KPC). Laut Natuna Utara, Laut Arafuru, pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa perlu dikawal kapal jenis Fregat ke atas. Kalau hanya mengandalkan KCR diketawain sama Ratu Kidul.
Ayolah bergegas, Natuna sudah mengajarkan pada kita what next. Lanjutkan pembangunan Martadinata Class, percepat Iver yang sudah digadang-gadang, tambah lagi kekuatan pemukul atas air dan bawah air. Pilih yang terbaik sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk keinginan produsen dan sales alutsista.

****


Jakarta 11 Januari 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
(Mhn Maaf baru di share terlambat)

Thursday, January 2, 2020

Mengawal Natuna Teritori Marwah


Jauh-jauh hari Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan sebuah rencana strategis untuk memperkuat militer Indonesia. Waktu itu krisis Ambalat sedang panas-panasnya. Tetapi alasan kuat SBY menyiapkan program besar yang dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force) adalah adanya laporan intelijen bahwa China sedang membangun kekuatan militer dan mengklaim Laut China Selatan (LCS).
Sepuluh tahun kemudian, saat ini, militer Indonesia sudah jauh lebih kuat. Berbagai jenis alutsista canggih didatangkan. Berbagai infrastruktur militer dibangun, digelar dan dibesarkan. Industri pertahanan dalam negeri diberdayakan, dibesarkan agar mampu menjadi supplier alutsista yang dibutuhkan.
Natuna dijadikan benteng garis depan. Pangkalan militer segala matra dibangun. Berbagai jenis alutsista semua matra sudah dan sedang digelar secara permanen. Ribuan prajurit sudah ditempatkan disana. Sejumlah kapal perang dan coast guard bakamla siaga. Flight jet tempur berbagai jenis silih berganti melakukan patroli.
Nine Dash Line China, klaim yang rakus
Tapi mengapa justru gangguan di teritori ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Laut Natuna Utara semakin menjadi-jadi dan berani, utamanya sejak Oktober 2019. Bahkan yang terakhir di pekan akhir Desember 2019 kapal Coast Guard China yang di back-up kapal perang Fregat mereka berhadapan langsung dengan kapal Coast Guard kita KN Tanjung Datu. Dan tidak mau pergi.
Kehadiran kapal-kapal Bakamla dengan dukungan KRI dibutuhkan setiap saat, bukan setiap periode. Bukan sekedar melihat tangkapan di layar radar atau jaringan internet lalu mengerahkan kapal. Pernyataan petinggi atau penguasa lautan yang high profil dan lantang sangat diperlukan sebagai bagian dari unjuk nyali, uji nyali.
Kemudian kalau mau berjaya dengan sebutan negara maritim atau poros maritim maka perkuatlah angkatan laut dan coast guard. Dan itu extra ordinary, tidak bisa dengan cara-cara biasa. Harus ada percepatan, lebih cepat. Duit sudah ada, tinggal bagaimana mengelola anggaran pertahanan. Ojo mbulet, kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah, kata orang sono.
Pernyataan dan sikap Ratu Kidul Pangandaran Susi Puji Astuti ketika diberi kepercayaan mengelola KKP adalah gambaran sosok highprofile, nasionalis, berkarakter dan mampu mengangkat marwah teritori maritim. Tidak sekedar mengelola dan membesarkan bisnis maritim. Marwah teritori maritim adalah segalanya, baru kemudian bicara soal bisnis maritim, bukan dibalik. Susi telah membuktikan sosok perempuan kuat dan hebat yang dihormati dan disegani dunia selama lima tahun ini.
Astross TNI AD sudah ditempatkan di Natuna
Kita lihat kondisi Laut Natuna Utara saat ini, sangat kontras. Nelayan kita bahkan dikejar-kejar oleh nelayan asing. Konvoi nelayan asing yang dikawal Coast Guard mereka sudah mencabik-cabik marwah teritori ZEE kita. Dan tidak ada satu pun pernyataan dan langkah yang mampu mengangkat kembali marwah yang sudah dicabik-cabik itu kecuali nota protes. Setidaknya sampai detik ini.
Sudah ada 10 kapal perang mengawal Natuna bersama kapal-kapal Bakamla yang dikenal dengan sebutan Coast Guard. Bahkah KN Tanjung Datu 1101 milik Bakamla yang dikerahkan termasuk kapal terbaru ukuran terbesar, 110 meter panjangnya. Ada KRI Bung Tomo Class, ada Parchim Class, ada KRI Fatahillah dan lain-lain.
Asumsi kita, bahwa intelijen asing menangkap pesan kuat bahwa setelah Ratu Kidul kembali ke pangkalannya di Pangandaran, komando teritorial ZEE tidak lagi sekuat karakternya. Jadi test case perlu dilakukan. Maka kapal nelayan asing ramai-ramai menjarah ikan di Laut Natuna Utara dengan dikawal Coast Guardnya bahkan kapal perangnya. Benar-benar tidak bermarwah.


****
Solo 1 Januari 2020

Jagarin Pane
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Tuesday, December 24, 2019

Tinggal Selangkah Lagi


Kata-kata bijak tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Atau contohlah China yang membangun kekuatan militernya dengan satu kebulatan tekad. Membangun bangsaku, bukan membangun bank saku.
Kita perlu mencontoh Paman Panda terutama dalam tekad menguasai teknologi militer. China membeli kapal induk bekas yang belum selesai dari Ukraina. Supaya Ukraina mau melepas, dibilang kapal induk itu mau dijadikan kasino terapung.
Nah setelah dibeli ternyata kapal itu dibangun menjadi kapal induk beneran, namanya Liaoning (CV16), sekarang sudah berlayar. Based on Liaoning dibuat lagi kapal induk fotocopy namanya Shandong (CV17), sudah diresmikan Xi Jinping barusan.
Mereka juga beli sejumlah jet tempur Sukhoi dari Rusia lalu dipelajari serius bin fokus dan kemudian dibuat jet tempur fotocopy teknologi Rusia. Sekarang dua-duanya seiring sejalan mengawal langit China.
UCAV TNI AU CH4 Rainbow buatan China
Indonesia ingin menguasai teknologi pembuatan kapal selam dengan cara sportif. Maka melalui pemesanan 3 kapal selam kelas Changbogo dari Korsel dikirimlah ratusan ilmuwan kita ke Korsel sepuluh tahun yang lalu untuk transfer teknologi.
Perjalanan selama sepuluh tahun ini sudah menghasilkan produk 3 kapal selam yang dinamai Nagapasa Class. Kapal selam ketiga dibuat di PT PAL Surabaya yang membangun infrastruktur galangan kapal selam.
Nah sekarang sudah di sign pembuatan kapal selam ke 4,5,6 untuk melanjutkan penguasaan teknologi kapal selam. Artinya tinggal selangkah lagi kita menguasai teknologi ini. Sejalan dengan itu saat ini ilmuwan kita melakukan overhaul kapal selam KRI Cakra yang nota bene sejenis dengan Changbogo.
Tak lama muncul suara di media yang bersumber dari Kemenhan bahwa Nagapasa Class tidak sesuai harapan, kurang ini kurang itu. Padahal kontrak kapal selam batch 2 sudah berjalan. Bersamaan dengan itu Menhan Prabowo berkunjung ke Turki untuk tingkatkan kerjasama militer. Lalu mencoba produk kapal selam Turki U214 yang satu perguruan dengan Changbogo yang sama-sama berguru di Jerman.
Martadinata Class, bagian dari transfer teknologi
Kita berharap tidak ada gangguan cuaca apalagi sekelas tornado dalam proses transfer teknologi pembuatan kapal selam Nagapasa Class ke 4,5,6. Kalaupun kita tertarik dengan U214 Turki bisa secara paralel dan juga dengan pola transfer teknologi. Jadi ada dua dosen yang ngajari teknologi kapal selam dalam satu perguruan.
Demikian juga dengan proyek pengembangan jet tempur KFX/IFX dengan Korsel yang sudah berjalan sepuluh tahun tetap pada jalurnya. Sudah duapertiga perjalanan bagi ilmu dilakukan ratusan ilmuwan kita di Korsel. Lima tahun lagi penampakan jet tempur gen 4.5 sudah menjadi kenyataan.
Negosiasi terhadap beberapa pasal kerjasama on going project KFX/IFX masih terus dilakukan. Tapi tidak untuk membatalkannya. Perjalanan kerjasama ini sudah mendekati finish, tentu ada pihak-pihak yang tidak suka dengan pencapaian ini.
Maka seharusnya kita kembali menguatkan tekad untuk pencapaian penguasaan teknologi pembuatan kapal selam dan jet tempur. Hanya butuh lima enam tahun lagi untuk pencapaian itu. Jangan sampai hanya karena persoalan teknis lalu merambat jadi masalah strategis alias kita mundur dari pola kerjasama ini.
Ini sama dengan proyek kerjasama alih teknologi pembuatan kapal perang striking force Martadinata Class yang belum purna. Kita dan Belanda baru bangun dua kapal, tentu ilmu alih teknologinya masih menggantung. Minimal harus ada lagi lanjutan pembuatan kapal perang ke 3 dan 4. Tapi sampai sekarang masih belum dilanjut.
Kalau memang tekad kita seperti yang disampaikan Presiden Jokowi pada Menhan Prabowo untuk membangun industri pertahanan, tiga proyek strategis ini perlu pengawalan khusus untuk pencapaiannya. Kita tahu banyak sekali madu anggaran dikucurkan untuk Kemenhan dan itu mengundang para makelar alutsista untuk mencicipinya.
Namanya makelar tentu dia menawarkan sejumlah "bank saku" untuk pengambil keputusan dan asistennya agar barangnya dibeli. Tekad China yang sukses membangun industri pertahananannya karena komitmen "bangsaku" demikian kuat dan ketat. Sementara kita disinyalir masih ada di dua sisi persimpangan, menebalkan "bank saku" atau bertekad untuk kejayaan bangsaku.
Ayo ngaku aja.
****
Semarang 24 Desember 2019
Jagarin Pane

Monday, December 9, 2019

Melirik Halaman Belakang


Posisi geografi Indonesia sangat strategis, besar, tetapi masih telanjang dimensi pertahanannya. Dua pertiga isi teritorinya air dan kaya sumber daya energi fosil namun angkatan lautnya belum mencapai kriteria diakui apalagi disegani. Juga angkatan udaranya yang harus mengcover ruang udara seluas benua Eropa.
Saat ini cara pandang pertahanan kita masih fokus menghadap utara. Disana ada potensi konflik seperti di Natuna dan Ambalat. Dua hot spot ini mengharuskan TNI gelar kekuatan personil dan alutsista disana. Kita bersyukur secara bertahap isian alutsista anyar sudah digelar di Natuna sebagai jawaban atas klaim ZEE China di perairan Laut Natuna Utara.
Kita punya halaman depan yang menghadap utara dengan segala dinamika yang terjadi. Namun kita juga punya halaman belakang. Disana ada Australia yang punya kekuatan alutsista striking force yang menghancurkan secara massif.
Australia punya doktrin pertempuran menyerang lebih dulu di luar wilayahnya. Kehadiran jet tempur siluman F35 semakin menegaskan bahwa teritori kita semakin telanjang dan tak berdaya manakala terjadi gempuran pre emptive strike dari halaman belakang.
Oleh sebab itu rencana strategis TNI untuk menempatkan batalyon arhanud dengan satuan tembak peluru kendali jarak menengah anti serangan udara di Merauke dan Saumlaki sangat bagus. Dan itu berarti menghadap ke selatan yang nota bene adalah Australia.
Pertahanan udara adalah kombinasi kekuatan jet tempur dan rudal hanud jarak jauh, jarak sedang dan jarak pendek. Selama ini gap yang terjadi di model pertahanan udara kita adalah tidak adanya pertahanan udara area berupa satuan peluru kendali jarak menengah dan jarak jauh. Baru hanud titik di pangkalan militer dan obyek vital.
Dalam program MEF jilid tiga yang dimulai tahun depan diniscayakan ada lanjutan belanja alutsista hanud area. Di MEF jilid 2 sudah dimulai dengan pembelian peluru kendali jarak menengah Nassam 2 untuk pertahanan ibukota Jakarta dan Natuna. Tapi barangnya belum sampai.
Lapisan pertahanan udara kita segera dilengkapi dengan jet-jet tempur terkini, peluru kendali surface to air jarak jauh dan jarak menengah. Dipilihnya Saumlaki dan Merauke sebagai basis pertahanan udara statis sesuai dengan hakekat ancaman karena wilayah itu ruang udaranya terletak di garis lurus antara Darwin dan Guam. Tahu sendirilah maksudnya.
Mengapa tidak di Kupang atau Biak, karena kedua wilayah itu sudah dialokasikan untuk penempatan skadron jet tempur. Jadi kombinasi jet tempur sebagai hanud mobile atau dinamis dengan penempatan satuan peluru kendali darat ke udara di timur negeri adalah strategi zona marking yang bagus.
Lebih dari itu perkuatan lapisan pertahanan udara kita harus mendapat prioritas. Masih banyak titik dan area pertahanan udara kita yang belum tercover. Meski Jawa sudah dilapis dengan kekuatan radar canggih dan jet tempur tapi hanud areanya masih nihil. Apalagi pulau-pulau besar yang lain.
Pekerjaan besar ini harus didukung dengan anggaran yang besar. Nah pantas kan kalau rasio anggaran pertahanan kita ke depan minimal 1% dari PDB dan itu sama dengan 240 T per tahun. Tahun 2020 pagu anggaran pertahanan sudah ditetapkan yaitu sebesar 131 T. Itu sama dengan 0,8% dari PDB kita.
Potensi konflik kita itu muka belakang sama-sama berpeluang. Yang di halaman belakang kita itu adalah tetangga yang baik kalau ada maunya. Suka usil dan suka mendikte tapi jauh lebih makmur dari kita. Suka menolong tapi juga suka ngungkit-ngungkit jasanya itu. Nah menghadapi jiran model ginian harus kita perkuat pagar halaman kita.
Jika pertahanan kita kuat mau ngomong sama jiran jadi berkelas. Maksudnya ketika kita berdiplomasi, argumen kita didengar. Apalagi kalau pas ngomongnya mata ikut mendelik. Itu tetangga pada mikir juga dan syaratnya ya harus punya kekuatan militer yang berkualitas dan disegani. Itu saja.
****
Jakarta, 7 Desember 2019
Jagarin Pane

Monday, November 25, 2019

Menyemai Asa Industri Pertahanan

Presiden Jokowi Senin tanggal 25 Nopember 2019 bertemu dengan sejumlah ilmuwan Indonesia yang sedang menimba riset dan teknologi di Korsel. Jokowi ke Korsel dalam rangka KTT ASEAN-Korsel.
Ratusan ilmuwan Indonesia bergabung dalam proyek teknologi jet tempur KFX/IFX dan pembuatan kapal selam Nagapasa Class di Korsel. Kedua proyek militer ini strategis, sangat prestisius dan sedang berada dalam paruh waktu perjalanannya.
Proyek transfer teknologi pembuatan kapal selam sudah dimulai sejak tahun 2013. Indonesia mengirim 113 ilmuwan ke Korsel. Saat ini sudah berhasil dibangun 3 kapal selam, dua di Korsel dan satu yang terakhir di PT PAL Surabaya.
KRI Nagapasa 403, produk transfer teknologi
Sekarang ini dan dalam waktu enam tahun ke depan dibangun lagi tiga kapal selam jenis yang sama sebagai kelanjutan "kuliah" transfer teknologi. Dengan itu diharapkan tahun 2025 nanti kita sudah dapat menguasai teknologi canggih pembuatan kapal selam.
Saat ini PT PAL sedang meng overhaul kapal selam KRI Cakra 401 sebagai bagian dari implementasi transfer teknologi. Selama ini kapal selam kita kalau mau di overhaul dibawa ke Jerman atau Korsel. Nah sekarang cukup di PT PAL saja.
Proyek strategis dan prestisius lainnya adalah pembangunan jet tempur gen 4.5 KFX/IFX. Kita mengirim banyak ilmuwan untuk program ini. Program strategis ini sudah dimulai sembilan tahun lalu dan diharapkan tujuh tahun kedepan sudah menghasilkan produk jet tempur.
Dalam proyek ini Indonesia urunan sebesar 20% dari nilai keseluruhan program US$ 8 milyar. Sayangnya dalam perjalanan pengembangan jet tempur ini kita menunggak iuran wajib tahunan. Saat ini Kemhan sedang mengkaji ulang. Kita berharap kerjasama akan berlanjut terus. Sudah lebih separuh jalan dan juga sudah keluar duit banyak. PT DI juga sudah mempersiapkan semuanya.
Kemarin baru saja diuji luncur Roket R-Han 122b produk Pindad dan kendaraan peluncurnya. Sukses. Semuanya produk dalam negeri. Belum lama berselang juga sudah diuji endurance produk kebanggaan Pindad lainnya yaitu Tank Harimau. Sukses.
KRI Clurit 641, kapal cepat rudal produk industri pertahanan nasional
Sekarang sudah dimulai produksi massal tank Harimau pesanan TNI AD. Selain itu Pindad juga sudah memproduksi lebih 300 unit Panser Anoa. Roket R-Han dan kendaraan peluncurnya segera diproduksi massal. Luar biasa.
PT PAL saat ini sedang mengerjakan proyek 3 kapal cepat rudal (KCR), 1 kapal jenis LPD rumah sakit dan upgrade KRI Malahayati 362. Jika overhaul KRI Cakra 401 selesai dilanjut dengan pembuatan kapal selam batch2 Nagapasa Class. Jadwalnya begitu padat dan ketat. Belum lagi jika proyek kapal perusak PKR berlanjut.
Sementara berbagai galangan kapal swasta nasional juga ikut kecipratan rezeki APBN Kemenhan. Ada yang buat kapal perang jenis LST, ada yang kebagian kapal patroli cepat, kapal logistik BCM, kapal Bakamla, KAL dan lain-lain. Semuanya sumringah.
Jadi apa yang diperintahkan Presiden Jokowi kepada Menhan Prabowo agar perolehan alutsista menomorsatukan produk industri pertahanan dalam negeri sejatinya sudah dan sedang berjalan.
Jika proyek jet tempur KFX/IFX dan kapal selam Nagapasa Class sukses maka lengkaplah berbagai jenis produk alutsista kita. Dan itu diharapkan bisa dicapai pertengahan dekade mendatang. Luar biasa.
Persemaian asa industri pertahanan kita sudah menghijau dimana-mana. Kebanggaan ini harus terus dikawal dengan amanah, istiqomah dan fathonah. Semangat bangga terhadap produk dalam negeri. Bahwa kita sudah bisa buat panser, tank, roket, rudal, kapal perang, kapal selam, jet tempur. Benar-benar membanggakan.
****

Solo 25 Nopember 2019
Jagarin Pane