Perkembangan geopolitik dan geostrategis kawasan regional yang dinamis mengharuskan kita untuk memperbaharui konsep dan strategi pertahanan NKRI. Ini dilakukan dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsa. Esensinya pengawal republik harus terus digagahperkasakan untuk mempertahankan warisan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Alutsista TNI adalah keniscayaan yang wajib disegarkan, supaya mekar, kekar dan gahar (Jagarin Pane SE MM)
Monday, March 30, 2020
Terbelah Dua Terpisah Jauh
Apa perbedaan geo strategis pertahanan Indonesia dan Malaysia. Indonesia jelas negara kepulauan dan semua kepulauan itu berada dalam kendali penuh teritori internal laut dan udara.
Malaysia terbagi dua wilayah yang dipisahkan Laut China Selatan (LCS). Malaysia Semenanjung dan Malaysia Borneo. Bedanya pemisah dua wilayah itu teritori lautnya tidak berada dalam kontrol internal Kuala Lumpur. Terutama sejak China mengklaim LCS dan Indonesia membangun pangkalan militer di Natuna.
Maka ke depan ini persoalan pertahanan negeri jiran itu yang terbelah dua menarik untuk dikaji terutama jika terjadi konflik teritori dengan China, Indonesia dan Filipina. Malaysia menghadapi persoalan serius untuk masalah ini.
Saat ini belanja militer Malaysia mengalami tekanan keuangan. Hampir tidak ada pembaharuan yang signifikan terutama penambahan aneka jenis alutsista. Sementara negara-negara se kawasan Asia Tenggara utamanya Indonesia, Vietnam, Thailand, Singapura dan Filipina sedang giat memperkuat militernya.
Teritori laut yang terpisah jauh dan ditengahnya ada Natuna dan klaim LCS oleh China secara strategi militer sejatinya telah membuat kontrol militer Semenanjung atas Sarawak dan Sabah menjadi lemah.
China semakin memperkuat taring militernya di LCS. Perairan strategis padat lalulintas ini secara de facto sudah dikuasai militer China. Bahkan ditarik secara ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) pun dengan asumsi tidak ada klaim teritori LCS, Malaysia Barat dan Timur gak nyambung.
Sejak Natuna dijadikan pangkalan militer tri matra oleh Indonesia, maka ruang pertahanan dan militer negeri itu menjadi tidak nyaman. Kondisi yang sama pernah ada ketika Pakistan Barat dan Pakistan Timur dipisahkan oleh India. Tidak harmonisnya hubungan bertetangga ini dan lewat 3 kali peperangan maka Pakistan Timur dengan bantuan India menjadi negara baru bernama Bangladesh tahun 1971.
Indonesia tidak punya kepentingan apapun soal Sarawak dan Sabah. Sementara Filipina punya sejarah kepemilikan atas Sabah. Klaim Malaysia soal Ambalat bisa jadi di kemudian hari membuat Indonesia marah. Maka dalam strategi militer Natuna bisa dijadikan kartu truft mengerahkan kekuatan Armada Satu dengan kekuatan 35 KRI dan 2 skadron F16. Tujuannya adalah memblokade jalur militer Semenanjung.
Sementara Armada Dua TNI AL dengan kekuatan 40 KRI didukung 1 skadron Sukhoi mampu menguasai Ambalat secara penuh. Tetapi tentu penguasaan secara militer tidak membuat masalah lalu selesai. Maka pilihan penyelesaiannya secara sepihak adalah geo politik dan geo strategis.
Ringkasnya bisa pakai cara geo strategis dan geo politik India yang menjadikan Pakistan Timur menjadi negara baru, Bangladesh. Dinamika kawasan saat ini sangat cepat berubah. Pilihan-pilihan yang bisa terjadi di kemudian hari bermula dari persoalan klaim teritori.
Maka salah satu poin pentingnya adalah memperkuat sistem teknologi persenjataan yang terpadu dan terintegrasi. Dengan itu kekuatan militer sebuah negara menjadi adrenalin dari kekuatan diplomasi internasional. Indonesia sedang menuju jalan itu sementara Malaysia tersendat program penguatan militernya.
****
Semarang, 30 Maret 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Saturday, March 14, 2020
Drama Tersanjung Berakhir Tersandung
Betapa semangatnya kita ketika lima tahun lalu dicanangkan sebuah program pengadaan alutsista strategis dan bergengsi. Mimpi untuk mendapatkan jet tempur mutakhir Sukhoi SU35 menjadi catatan perjalanan panjang. Dengan harap, dengan sukacita, dengan bangga, dengan damba. Berakhir dengan hampa.
Sebuah drama yang banyak menyita perhatian kalangan forum militer tanah air. Menjadi forum diskusi yang hangat, menjadi harapan sejuta umat, dinanti dengan segala hormat, dirinci detail prosesnya dengan cermat, lima tahun lewat akhirnya tamat karena Caatsa mau melumat.
Dibilang gondok sudah pasti, sebab inilah sebuah proses pengadaan alutsista yang paling bertele-tele. Anggaran sudah disediakan jauh-jauh hari. Sudah satu suara antara Kemenhan dan TNI. Sudah dibuatkan rumah skadronnya di Iswahyudi, sudah disiapkan pilot-pilotnya. Sudah dititipkan 3 Sukhoi SU27 di Iswahyudi agar pilot tidak bengong terus.
![]() |
| Su35, yang digadang-gadang tapi terhadang |
Begitu tersanjungnya episode drama ini. Tentang sebuah harapan kebanggaan, tentang marwah dirgantara, tentang martabat teritori, tentang daya gentar dan getar. Tetapi akhirnya justru digentarkan dan digetarkan Caatsa Paman Sam. UU Caatsa AS mengharamkan siapapun yang beli alutsista Rusia akan dilibas dan digilas.
Begitulah, dan tanda-tanda itu sejatinya sudah mulai terlihat pada Ratas di kantor Menko Polhukam beberapa waktu lalu. Seusai rapat tiba-tiba para Menteri jadi pelit bicara. Yang terdengar hanya kalimat demi pertimbangan geostrategis dan geopolitik. Gak ada lanjutan kalimat lain.
Artinya dengan begitu selama lima tahun ini tidak menghasilkan apa-apa. Jika ada penggantinya pun misalnya jet tempur Rafale pasti akan butuh 3 tahun lagi. Atau jika disetujui dapat ganti F35 pasti butuh durasi 5 tahun lagi. Benar-benar tersandung.
Meski begitu kita percaya dengan Menhan Prabowo yang cepat mengambil keputusan. Toh soal proses pengadaan SU35 itu tidak dalam wilayah kendalinya. Dia hanya berada di hilir yang menerima proses akhir. Kita meyakini Prabowo akan ambil langkah strategis yang cepat dan cermat.
![]() |
| F16 Viper, tinggal tunggu waktu |
Maka harapan kembali kita suarakan agar proses pengadaan jet tempur Rafale segera dipercepat. Paling pantas dan cepat menjawab tekanan Uak Sam adalah membeli puluhan jet tempur Rafale. Kalau perlu salip saja dengan proses pengadaan jet tempur F16 Viper yang sekarang sudah hampir final.
Pelajarannya adalah bukan karena soal duit. tetapi proses yang bertele-tele. Seandainya bisa diselesaikan 2 tahun sejak tahun 2015 maka kita tidak sampai pada pemberlakuan Caatsa. Dan hari ini sudah bisa menyaksikan jet tempur penggentar Sukhoi SU35. Benar-benar tersandung dan gigit jari.
Pesan kuat kita untuk Menhan Prabowo, percepat semua proses pengadaan alutsista. Gak usah dibikin ribet. Duitnya ada kok. Bahkan sudah disediakan dana On Call. Beli banyak Rafale, segera teken Iver. Lanjutkan proses Gowind. Sambut ajakan Raja Belanda untuk buat kapal perang setara Iver yaitu Omega.
Udah gitu aja, masih gondok sama Uak Sam. Benci tapi rindu dan dibutuhkan. Mau dilawan dia Jawara dan sewaktu-waktu bisa jadi payung untuk konflik Laut Cina Selatan. Itu yang disebut kantor Menko Polhukam: demi kepentingan geostrategis dan geopolitik. Kita mengalah saja, sambil membayangkan wajah santri pak Mahfud MD.
****
Jagarin Pane
Yogya 14 Maret 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI.
Wednesday, March 11, 2020
Dipercepat Dong
Produksi tank
Harimau pesanan TNI AD sudah dimulai, demikian juga dengan panser Badak.
Termasuk panser amfibi Cobra yang difinishing di Pindad, aslinya adalah panser
Pandur II dari Ceko.
Filipina
naksir Harimau. Kapasitas produksi Pindad terbatas. Mau buat 18 Harimau, mau
buat 12 Badak, mau merakit pansam Cobra, lagi merakit ranpur Sanca dan Komodo.
Panser Anoa juga masih produksi. Berarti Filipina antri dulu kalau jadi beli.
Moga-moga aja jadi, dan sabar.
Arhanud
jadul "Simbah S60" tua2 keladi makin tua makin bertaji. Ratusan
alutsista buatan Uni Sovyet tahun enampuluhan ini mau diintegrasikan menjadi
air defense digital system. Tentu untuk memayungi kota-kota besar di Indonesia
dari ancaman serangan udara. Baguslah.
![]() |
| Iver Class for Indonesian Navy |
TNI AU
merilis progress pembangunan kekuatan di timur negeri. Infrastuktur Koopsau III
sudah selesai dibangun di Biak. Skadron 'angkut sedang', sudah diisi dengan 4
pesawat CN 235. Skadron baru 'angkut berat' Hercules yang bermarkas di Makassar
juga sudah diisi 4 Hercules. Belum lengkap memang.
Yang
sedang dipersiapkan skadron Helikopter TNI AU di Jayapura. Alutsista helikopter
sudah dipesan. Skadron tempur lokasi definitifnya belum ditetapkan. Biak atau
Kupang. Soal lokasi win win aja deh. Biak sudah siap, Kupang juga. Yang penting
jenis jet tempurnya intersep.
Iver yang
digadang-gadang, kembali dikunjungi pabriknya di Denmark oleh pejabat Kemhan
dan anggota DPR. Sudah empat kali lho. Mau beli dua, kenapa gak tiga sekalian.
Kan armada tempur kita ada tiga, masing-masing dapat bagian. Gak pake lama lho.
Proyek
PKR 10514 jilid dua mau dilanjut, agak dipercepat gitu. Raja Belanda datang
untuk memastikan Damen Schelde dapat lampu hijau. Mestinya sudah sejak tahun
2018 proyek ini dilanjut. Jadi tidak ada jeda terlalu lama. Misal usia KRI
Martadinata 331 sudah delapan tahun baru adiknya yang nomor tiga lahir.
Kelamaan kan.
TNI AL
perlu kapal perang berbagai jenis. Semua berjalan biasa, padahal perlu jalan
cepat. Satu LPD rumah sakit sedang dibuat. Tiga KCR paket lengkap lagi
diproduksi. Program lanjutan pembuatan kapal perang jenis LST dan BCM jalan
terus. Nah yang lemot adalah untuk menghadirkan KRI striking force Iver Class
dan Martadinata Class paket dua.
![]() |
| CH4 Wing Long |
Kita mau
kedatangan paket alutsista model baru. Namanya Hanud area berupa satuan peluru
kendali darat ke udara jarak sedang. Merknya Nassam 2 buatan Norwegia. Disebut
model baru karena selama setengah abad kita tak punya pelapis kedua sistem
pertahanan udara.
Selama
ini model hanud kita hanya dua lapis yaitu jet tempur dan peluru kendali SAM
jarak pendek. Dengan kehadiran satuan peluru kendali jarak sedang maka tersedia
3 lapis model pertahanan udara. Prioritas untuk Ibukota dan Natuna.
Proses
pengadaan jet tempur F16 terus berjalan. Tetapi tiba-tiba AS mencabut status RI
utk urusan perdagangan dari negara berkembang jadi negara maju. Artinya tidak
ada lagi fasilitas keringanan alias GSP untuk produk ekspor kita ke AS.
Kenapa
GSP dikaitkan dgn pembelian alutsista AS. Karena surplus perdagangan mau
diseimbangkan dengan cara beli F16, Hercules dll. Jika fasilitas GSP dihapus ya
mending cari produk lain dong sebagai bentuk independensi RI.
Apalagi
soal Sukhoi SU35, setelah Ratas di kantor Menko Polhukam baru-baru ini,
tiba-tiba semua pada pelit bicara. Maka menjadi pertanyaan apakah ancaman
Caatsa dari AS menjadikan menteri-menteri itu pelit bicara.
Kita
simak saja sembari mengajak semua proses itu: Dipercepat dong. Ayo dong.
Buktikan independensi negeri. Datangkan Sukhoi SU35, percepat kontrak Iver,
teken segera pengadaan jet tempur intersep selain SU35. Lanjutkan proyek
KFX/IFX. Tunjukkan pada rakyat keseriusan membangun kekuatan militer dengan
kinerja percepatan. Sebelum keburu resesi.
****Bandung, 7 Maret 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI.
Sunday, February 16, 2020
ON GOING PROJECT INDONESIAN MILITARY
1. Upgrade 10 jet tempur F16 blok 15
2. Upgrade 15 jet latih T50 menjadi FA50
3. Overhaul KRI Cakra 401
4. Pembangunan 3 Kapal KCR 60 m
5. Pembangunan 1 Kapal LPD rumah sakit
6. Pembangunan 3 Kapal LST
7. Pembangunan 1 Kapal BCM
8. Pembangunan 3 Kapal KPC
9. Pembangunan 3 Kapal selam batch 2
10. Pembelian 22 Panser Cobra
11. Pembelian 18 Tank Harimau
12. Pembelian 40 Rantis Sanca
13. Pembelian 18 Ponton Amphibious M3
14. Uppgrade 188 Arhanud S60
15. Pembelian 18 Caesar Nexter batch2
15. Pembelian 18 Astross Mk2 batch 2
16. Pembelian 2 Batt Nassam2
17. Pembelian 3 Batt Oerlikon Skyshield
18. Pembelian 11 Jet Tempur Sukhoi SU35
19. Pembelian 9 Helikopter Caracal
20. Pembelian 8 Helikopter Bell 412 Epi
21. Pembelian 3 Pesawat CN295
22. Pembelian 4 Radar GCI
23. Pembelian 6 UCAV Wing Loong
24. Pembelian 8 MLRS Vampire
25. Pembelian 6 Pesawat Amfibi CL415
26. Pembelian 1 Satelit Militer
27. Pembelian 5 Pesawat Hercules type J
28. Hibah 6 UAV Scan Eagle
****
Jagarin Pane / Dari berbagai sumber/16.02.20
Saturday, February 8, 2020
Menyandingkan MEF Dan INHAN
Perjalanan MEF (
Minimum Essential Force) sudah memasuki usia yang kesepuluh. Sejalan dengan itu
industri pertahanan (Inhan) kita mulai memperlihatkan gairah berkarya memenuhi
sebagian kebutuhan alutsista TNI. MEF diproklamirkan tahun 2010 dan bersamaan dengan
itu dimulailah pemberdayaan industri pertahanan nasional dengan berbagai pola.
Pindad
sudah mampu membuat berbagai jenis persenjataan personel pasukan. Kerjasama
produksi kendaraan tempur Komodo, Badak, Sanca berjalan terus. Produksi panser
Anoa sampai saat ini mencapai tigaratusan unit. Saat ini Pindad sedang
memproduksi tank Harimau pesanan TNI AD.
![]() |
| Tank Harimau, sudah mulai diproduksi |
PT DI
sudah memproduksi puluhan pesawat CN235 dan bahkan sudah diekspor ke berbagai
negara. Juga merakit ratusan helikopter berbagai jenis untuk TNI. Termasuk yang
terbaru dan diam-diam proyek bergengsi UAV/UCAV Elang Hitam. Sementara saat ini
sedang berlangsung proyek kerjasama teknologi pembuatan jet tempur KFX/IFX
dengan Korsel. Sudah berjalan sepuluh tahun.
PT PAL
sebenarnya punya dua proyek strategis yaitu kerjasama alih teknologi pembuatan
kapal perang perusak kawal rudal dan pembuatan kapal selam U209/1400. Keduanya
juga sudah berjalan 10 tahun.
Namun
untuk proyek pembuatan kapal perang perusak kawal rudal yang dikenal dengan
sebutan PKR 10514 Martadinata Class tersendat di pembuatan kapal ketiga dan
keempat. Mestinya untuk menuntaskan alih teknologi dengan Damen Schelde Belanda
masih diperlukan tambahan minimal 2 unit lagi. Ini salah satu PR untuk Menhan
Prabowo.
![]() |
| Astross II Mk6, sudah memperkuat Natuna |
Sementara
untuk program alih teknologi pembuatan kapal selam sudah berhasil dibangun 3
kapal selam yang dikenal dengan Nagapasa Class. Kapal selam ketiga KRI Alugoro
dirakit di PT PAL Surabaya dan sekarang sedang uji endurance, uji teknologi di
laut.
Sempat
diterpa isu macam-macam, toh ketiga kapal selam ini baik-baik saja. KRI
Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 sudah operasional dengan persenjataan
torpedo canggih Blackshark. Kabar baik lainnya sudah diteken kontrak pembuatan
kapal selam ke 4,5,6. Semuanya dalam rangka memenuhi kebutuhan jumlah kapal
selam dan-ini yang terpenting-untuk menguasai sepenuhnya teknologi pembuatan
kapal selam.
Saat ini
kesibukan PT PAL yang lain adalah pembuatan 3 kapal cepat rudal (KCR),
pembuatan 1 kapal jenis LPD (Landing Platform Dock) dan overhaul kapal selam KRI
Cakra 401. Kita sangat berharap agar pembuatan kapal perang striking force
Martadinata Class yang ke 3 dan 4 bisa segera dimulai. Sebagaimana dicerahkan
oleh Presiden Jokowi, yang bisa dibuat di PT PAL silakan pesan bahkan untuk
jangka waktu sampai 15 tahun. Nah lo.
Kita
sebenarnya bisa dan mampu membesarkan dan memberdayakan industri pertahanan
kita termasuk dengan pola alih teknologi. Tiga proyek alih teknologi, pembuatan
kapal selam, pembuatan PKR 10514, pembuatan jet tempur KFX/IFX sudah berada di
duapertiga perjalanan. Masih butuh 5-6 tahun lagi untuk mencapai finish.
Maka di
periode ini kita perlu mengumandangkan lagi komitmen konsistensi untuk kelak
bisa mandiri memenuhi kebutuhan alutsista TNI. Statemen Presiden menjadi
catatan untuk kita bersama memajukan industri pertahanan nasional.
Pindad
sudah mampu memproduksi panser Anoa, tank Harimau dan berbagai jenis roket. PT
PAL sudah mampu membuat KCR dan LPD. Galangan kapal swasta nasional sudah mampu
membuat kapal patroli cepat (KPC), kapal landing ship tank (LST), kapal untuk
BAKAMLA, KKP, Bea Cukai, Polairud.
Jika kita
sudah mampu dan lulus di tiga proyek alih teknologi strategis Inhan, maka
prestasi ini juga menjadi nilai prestisius bagi bangsa ini. Untuk mencapai itu
tentu ada pihak-pihak yang merasa tidak senang termasuk pihak asing atau negara
asing. Maka kemudian dimunculkanlah opini-opini yang under estimate dan yang
sebangsa dengannya.
Maka mari
kita perkuat kebersamaan komitmen. Dengan menggarisbawahi pernyataan Presiden
dalam Ratas Alutsista di hanggar kapal selam PT PAL Surabaya tanggal 27 Januari
2020 yang lalu. Utamakan industri pertahanan nasional dan lanjutkan tiga proyek
alih teknologi strategis.
****
Surabaya, 03 Februari 2020
Jagarin Pane
Monday, January 27, 2020
MEF 3, Pertaruhan Marwah Pertahanan
Kunjungan Menhan ke
Perancis barusan membuat gegap gempita pemberitaan media nasional dan
internasional. 48 Rafale, 4 Scorpene, 2 Gowind. Sempat melambung antara
angan-angan dan kenyataan, begitu menggerunkan headlinenya. Tetapi kemudian
kita harus berhitung cermat dan cerdas.
Mengapa
begitu, karena soal jet tempur Sukhoi SU35 saja belum ada perkembangannya alias
jalan ditempat. Proses pengadaan 32 jet tempur F16 Viper belum kelar juga. Lalu
kabar proyek transfer teknologi kapal selam Nagapasa Class jilid dua dengan
Korsel diganggu desas desus, termasuk proyek pengembangan jet tempur IFX. Terus
gimana dong.
Kita saat
ini sudah berada di MEF ( Minimum Essential Force) jilid 3 (2020-2024).
Pertaruhan marwahnya disini. Kalau program sesuai target, nilainya biasa saja.
Tapi dengan perkembangan kawasan yang gampang demam, mudah naik tensi, maka
harus ada percepatan hasil melebihi target MEF 3.
![]() |
| Sukhoi SU35, belum datang juga |
Maka
percepatlah pengadaan 32 jet tempur F16 Viper, 6 Hercules, 2 kapal perang Iver,
2 kapal perang PKR 10514 batch 2. Datangkan segera Sukhoi SU35, tank amfibi
BMP-3F dan panser amfibi BT-3F. Ini kan sudah jelas riwayat prosesnya.
Berdasarkan
list belanja banyak yang mau datang. Ada satuan peluru kendali darat ke udara
jarak menengah Nassam2 untuk pertahanan Ibukota dan Natuna. Ada Astross Mk2,
ada Oerlikon Skyshield, ada sejumlah radar untuk menutup blankspot.
Penyelesaian pembangunan 3 KCR (Kapal Cepat Rudal), 3 LST, 1 kapal LPD rumah
sakit, 6 KPC (Kapal Patroli Cepat), 11 Heli AKS, 9 Heli Bell 412 Epi, 9 Heli
Caracal dan lain-lain. Banyak sih kalau mau didetailkan.
Yang
spektakuler nanti adalah hadirnya 2 kapal perang terbesar yang dimiliki
Indonesia dari kelas Iver buatan Denmark. Termasuk tambahan kapal selam
Scorpene selain lanjutan pembuatan 3 kapal selam Nagapasa Class. Bakal rame
dah. Semua sibuk dapat proyek gede-gede. Industri pertahanan nasional baik BUMN
dan Swasta sedang berbunga dan berbuah indah.
Ada juga
proyek pengembangan UAV /UCAV yang akan menjadi primadona manajemen pertempuran
masa depan. Sudah disiapkan roadmapnya. Terbunuhnya jenderal garda revolusi
Iran di Baghdad beberapa waktu lalu adalah bukti kecanggihan UAV/ UCAV.
![]() |
| F16 Viper, yang digadang-gadang itu |
MEF jilid
3 ini adalah finalisasi keseluruhan program modernisasi militer Indonesia yang
dimulai sejak jaman SBY jilid 2. Namun bukan berarti semua akan berakhir di MEF
jilid 3. Ke depan after MEF 3 program penguatan militer kita akan terus
berjalan.
Tanda-tanda
penambahan anggaran pertahanan makin jelas. Meski untuk tahun ini sudah
ditetapkan pagu anggaran sebesar 131 T. Sangat terbuka ada dana on call
sebagaimana disampaikan Menkeu. Prediksi jumlah dana on call yang disiapkan ada
di kisaran 30-36 Trilyun.
Lima
tahun ke depan ini adalah kesibukan Kemenhan yang luar biasa. Beruntunglah kita
karena Kementerian ini dinakhodai oleh orang yang cerdas, pintar dan bergerak
cepat. Lima tahun ini waktu yang pendek karena kita akan menghadirkan sejumlah
alutsista strategis beraneka ragam.
Presiden
Jokowi sangat percaya dengan kemampuan Menhan Prabowo dan berharap anggaran
Kemenhan bisa dipergunakan tepat guna dan tidak di mark up. Sebuah sindiran dan
boleh jadi sebuah teguran untuk Kemenhan.
Anggaran
Kemenhan saat ini baru ada di 0,8% dari PDB kita. Jika angka itu ada di 1% saja
dari PDB, artinya jumlah nominal duitnya ada di rentang 200 Trilyun. Sebuah
jumlah yang biasa-biasa saja karena kita sedang membangun investasi bidang
pertahanan. Kita meyakini jumlah 200 Trilyun itu akan dicapai pada tahun 2022
mendatang.
Investasi
pertahanan dengan nilai terbesar adalah rukun marwah fardhu kifayah yang harus dilaksanakan
pemerintah dan parlemen. Kalau tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh
dosanya ditanggung seluruh komponen negara. Wujudnya kita dipermalukan soal
teritori atau bahkan terjadi aneksasi terhadap bagian tertentu teritori kita.
Di Natuna barusan, kita sudah "ngamuk" sementara kapal-kapal CCG
masih menari dan bergoyang di ZEE kita. Mereka keluar ZEE kita karena sudah
kenyang dan penuh kapal-kapal nelayannya.
Bergegaslah, jangan kelamaan mikir. Datangkan alutsista canggih,
kembangkan industri pertahanan, lanjutkan proyek jet tempur IFX, lanjutkan
Nagapasa Class. Percepat produksi tank Harimau, roket RHan. Lanjutkan produksi
panser Anoa. Sekali lagi MEF 3 adalah perhitungan dan pertaruhan marwah
pertahanan kita.
****
Semarang, 24 Januari
2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Tuesday, January 21, 2020
CCG Pulang Petang, What Next ?
Demam Laut Natuna
Utara mereda setelah Indonesia menurunkan sejumlah "paracetamol" dan
"antibiotik" untuk menurunkan panasnya. China Coast Guard (CCG) sudah
tidak menampakkan diri lagi di area zona ekonomi eksklusif (ZEE) 200 mil laut
dari garis pantai pulau terdepan Natuna.
China
menguji nyali nasionalisme Indonesia. Reaksi kita yang riuh rendah dimotori
oleh suara Menlu Retno Marsudi yang gagah perkasa, kecuali segelintir oknum
bernyali banci, membuat China mengalah sambil mengatakan Indonesia sahabat strategis
kami, perairan Natuna tidak kami klaim, hanya tumpang tindih, kata Kemlu nya.
Presiden
Jokowi mendatangi Natuna dikawal sejumlah jet tempur, pesawat pengintai
strategis dan armada KRI. Ribuan pasukan TNI disiagakan di berbagai titik,
Kogabwilhan 1 siaga tempur. Hari-hari yang menegangkan. Jutaan netizen
nasionalis menggemuruh mencela China yang tak tahu diri.
![]() |
| Iver, yang digadang-gadang |
Ketika
Ambalat memanas tahun 2006, Presiden SBY juga mendatangi kawasan itu dengan
menaiki kapal perang. Ini adalah simbol "kemarahan" diplomatik yang
dikemas dengan baju militer. Oleh sebab itu kita mengapresiasi hadirnya
panglima tertinggi TNI yang juga Presiden RI Joko Widodo ke Natuna barusan.
Kehadiran
Jokowi dan pasukannya akhirnya melunakkan sikap kaku yang diperlihatkan China.
Setidaknya pernyataan sikap Kemlu China mencerminkan suasana itu. Hebatnya lagi
sikap tegas dan keras Indonesia mendapat apresiasi dari warga negara jiran
ASEAN.
Warga
Filipina memuji sikap Indonesia yang bersatu padu menguatkan dan menghalau
penceroboh di ZEEnya. Sekaligus mereka mencemooh sikap kurang berani yang
ditunjukkan Pemerintah Filipina soal klaim yang sama di Laut China Selatan
(LCS).
Juga
banyak warga Malaysia angkat topi atas keberanian Indonesia menghadang China.
Tahniah Indonesia. Lalu membandingkannya dengan cara pemerintah Malaysia yang
melempem berhadapan dengan CCG China di LCS.
Natuna
sejatinya sudah dibangun pangkalan militer. Berbagai jenis alutsista canggih
sudah dialokasikan sebagai perkuatan basis militer. KRI Bung Tomo Class juga
sudah mutasi kesana. Jet tempur berbagai jenis silih berganti berpatroli.
![]() |
| Sinergi patroli Natuna, F16 dan Bung Tomo Class |
Namun itu
belum cukup karena sesungguhnya semburan api lidah naga terasa sangat panas dan
membakar. Jadi sebagai tamengnya kita sangat membutuhkan kapal perang striking
force kelas destroyer dengan dukungan jet tempur Sukhoi SU35. Termasuk menambah
kapal-kapal Bakamla ukuran besar.
Berkali-kali
kita menulis soal perkuatan AL dan AU kita. Bahwa negeri kepulauan ini
memerlukan kapal perang striking force ukuran besar. Demam Natuna terakhir ini
membuktikan itu. Mestinya gerak cepat pengadaan alutsista gahar sudah
menampakkan hasil seperti Sukhoi SU35 dan Iver Class.
Meski
kita punya ratusan kapal perang berbagai jenis tapi yang paling modern hanya
Martadinata Class, itu pun jumlahnya hanya dua unit. Mestinya kapal jenis ini
ditambah lagi paling tidak jadi 6 unit. Bukankah model pembangunannya melalui
transfer teknologi. Mengapa sekolah itu tidak dilanjut. Apakah Menhan tidak
pernah mengevaluasinya.
Armada
kapal perang kita sudah dibagi menjadi tiga. Namun persebaran KRI belum merata.
Sebabnya karena isian alutsistanya belum banyak bertambah. Lalu mengapa lambat
pertambahan kapal perang kelas korvet ke atas. Ya karena prosesnya tarik ulur.
Iver itu jadi cerminnya. Sudah berkali-kali berkunjung ke pabriknya di Denmark
tapi sampai hari ini belum tanda tangan juga.
Kita
butuh kapal perang besar, bukan hanya produksi Kapal Cepat Rudal (KCR), Kapal
Patroli Cepat (KPC). Laut Natuna Utara, Laut Arafuru, pantai barat Sumatera,
pantai selatan Jawa perlu dikawal kapal jenis Fregat ke atas. Kalau hanya
mengandalkan KCR diketawain sama Ratu Kidul.
Ayolah bergegas, Natuna sudah mengajarkan pada kita what next.
Lanjutkan pembangunan Martadinata Class, percepat Iver yang sudah
digadang-gadang, tambah lagi kekuatan pemukul atas air dan bawah air. Pilih
yang terbaik sesuai dengan kebutuhan,
bukan untuk keinginan produsen dan sales alutsista.
****
Jakarta 11 Januari
2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
(Mhn Maaf baru di share terlambat)
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Thursday, January 2, 2020
Mengawal Natuna Teritori Marwah
Jauh-jauh hari
Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan sebuah rencana strategis
untuk memperkuat militer Indonesia. Waktu itu krisis Ambalat sedang
panas-panasnya. Tetapi alasan kuat SBY menyiapkan program besar yang dikenal
dengan MEF (Minimum Essential Force) adalah adanya laporan intelijen bahwa
China sedang membangun kekuatan militer dan mengklaim Laut China Selatan (LCS).
Sepuluh
tahun kemudian, saat ini, militer Indonesia sudah jauh lebih kuat. Berbagai
jenis alutsista canggih didatangkan. Berbagai infrastruktur militer dibangun,
digelar dan dibesarkan. Industri pertahanan dalam negeri diberdayakan,
dibesarkan agar mampu menjadi supplier alutsista yang dibutuhkan.
Natuna
dijadikan benteng garis depan. Pangkalan militer segala matra dibangun.
Berbagai jenis alutsista semua matra sudah dan sedang digelar secara permanen.
Ribuan prajurit sudah ditempatkan disana. Sejumlah kapal perang dan coast guard
bakamla siaga. Flight jet tempur berbagai jenis silih berganti melakukan
patroli.
![]() |
| Nine Dash Line China, klaim yang rakus |
Tapi
mengapa justru gangguan di teritori ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Laut Natuna
Utara semakin menjadi-jadi dan berani, utamanya sejak Oktober 2019. Bahkan yang
terakhir di pekan akhir Desember 2019 kapal Coast Guard China yang di back-up
kapal perang Fregat mereka berhadapan langsung dengan kapal Coast Guard kita KN
Tanjung Datu. Dan tidak mau pergi.
Kehadiran
kapal-kapal Bakamla dengan dukungan KRI dibutuhkan setiap saat, bukan setiap
periode. Bukan sekedar melihat tangkapan di layar radar atau jaringan internet
lalu mengerahkan kapal. Pernyataan petinggi atau penguasa lautan yang high
profil dan lantang sangat diperlukan sebagai bagian dari unjuk nyali, uji
nyali.
Kemudian
kalau mau berjaya dengan sebutan negara maritim atau poros maritim maka
perkuatlah angkatan laut dan coast guard. Dan itu extra ordinary, tidak bisa
dengan cara-cara biasa. Harus ada percepatan, lebih cepat. Duit sudah ada,
tinggal bagaimana mengelola anggaran pertahanan. Ojo mbulet, kalau bisa
dipersulit untuk apa dipermudah, kata orang sono.
Pernyataan
dan sikap Ratu Kidul Pangandaran Susi Puji Astuti ketika diberi kepercayaan
mengelola KKP adalah gambaran sosok highprofile, nasionalis, berkarakter dan
mampu mengangkat marwah teritori maritim. Tidak sekedar mengelola dan
membesarkan bisnis maritim. Marwah teritori maritim adalah segalanya, baru
kemudian bicara soal bisnis maritim, bukan dibalik. Susi telah membuktikan
sosok perempuan kuat dan hebat yang dihormati dan disegani dunia selama lima
tahun ini.
![]() |
| Astross TNI AD sudah ditempatkan di Natuna |
Kita
lihat kondisi Laut Natuna Utara saat ini, sangat kontras. Nelayan kita bahkan
dikejar-kejar oleh nelayan asing. Konvoi nelayan asing yang dikawal Coast Guard
mereka sudah mencabik-cabik marwah teritori ZEE kita. Dan tidak ada satu pun
pernyataan dan langkah yang mampu mengangkat kembali marwah yang sudah
dicabik-cabik itu kecuali nota protes. Setidaknya sampai detik ini.
Sudah ada
10 kapal perang mengawal Natuna bersama kapal-kapal Bakamla yang dikenal dengan
sebutan Coast Guard. Bahkah KN Tanjung Datu 1101 milik Bakamla yang dikerahkan
termasuk kapal terbaru ukuran terbesar, 110 meter panjangnya. Ada KRI Bung Tomo
Class, ada Parchim Class, ada KRI Fatahillah dan lain-lain.
Asumsi kita, bahwa intelijen asing menangkap pesan kuat bahwa
setelah Ratu Kidul kembali ke pangkalannya di Pangandaran, komando teritorial
ZEE tidak lagi sekuat karakternya. Jadi test case perlu dilakukan. Maka kapal
nelayan asing ramai-ramai menjarah ikan di Laut Natuna Utara dengan dikawal
Coast Guardnya bahkan kapal perangnya. Benar-benar tidak bermarwah.
****
Solo 1 Januari 2020
Jagarin Pane
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Solo 1 Januari 2020
Jagarin Pane
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Tuesday, December 24, 2019
Tinggal Selangkah Lagi
Kata-kata
bijak tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Atau contohlah China yang
membangun kekuatan militernya dengan satu kebulatan tekad. Membangun bangsaku,
bukan membangun bank saku.
Kita perlu mencontoh Paman Panda terutama dalam tekad
menguasai teknologi militer. China membeli kapal induk bekas yang belum selesai
dari Ukraina. Supaya Ukraina mau melepas, dibilang kapal induk itu mau
dijadikan kasino terapung.
Nah setelah dibeli ternyata kapal itu dibangun menjadi
kapal induk beneran, namanya Liaoning (CV16), sekarang sudah berlayar. Based on
Liaoning dibuat lagi kapal induk fotocopy namanya Shandong (CV17), sudah
diresmikan Xi Jinping barusan.
Mereka juga beli sejumlah jet tempur Sukhoi dari Rusia
lalu dipelajari serius bin fokus dan kemudian dibuat jet tempur fotocopy
teknologi Rusia. Sekarang dua-duanya seiring sejalan mengawal langit China.
![]() |
| UCAV TNI AU CH4 Rainbow buatan China |
Indonesia ingin menguasai teknologi pembuatan kapal
selam dengan cara sportif. Maka melalui pemesanan 3 kapal selam kelas Changbogo
dari Korsel dikirimlah ratusan ilmuwan kita ke Korsel sepuluh tahun yang lalu
untuk transfer teknologi.
Perjalanan selama sepuluh tahun ini sudah menghasilkan
produk 3 kapal selam yang dinamai Nagapasa Class. Kapal selam ketiga dibuat di
PT PAL Surabaya yang membangun infrastruktur galangan kapal selam.
Nah sekarang sudah di sign pembuatan kapal selam ke
4,5,6 untuk melanjutkan penguasaan teknologi kapal selam. Artinya tinggal
selangkah lagi kita menguasai teknologi ini. Sejalan dengan itu saat ini
ilmuwan kita melakukan overhaul kapal selam KRI Cakra yang nota bene sejenis
dengan Changbogo.
Tak lama muncul suara di media yang bersumber dari
Kemenhan bahwa Nagapasa Class tidak sesuai harapan, kurang ini kurang itu. Padahal
kontrak kapal selam batch 2 sudah berjalan. Bersamaan dengan itu Menhan Prabowo
berkunjung ke Turki untuk tingkatkan kerjasama militer. Lalu mencoba produk
kapal selam Turki U214 yang satu perguruan dengan Changbogo yang sama-sama
berguru di Jerman.
![]() |
| Martadinata Class, bagian dari transfer teknologi |
Kita berharap tidak ada gangguan cuaca apalagi sekelas
tornado dalam proses transfer teknologi pembuatan kapal selam Nagapasa Class ke
4,5,6. Kalaupun kita tertarik dengan U214 Turki bisa secara paralel dan juga
dengan pola transfer teknologi. Jadi ada dua dosen yang ngajari teknologi kapal
selam dalam satu perguruan.
Demikian juga dengan proyek pengembangan jet tempur
KFX/IFX dengan Korsel yang sudah berjalan sepuluh tahun tetap pada jalurnya.
Sudah duapertiga perjalanan bagi ilmu dilakukan ratusan ilmuwan kita di Korsel.
Lima tahun lagi penampakan jet tempur gen 4.5 sudah menjadi kenyataan.
Negosiasi terhadap beberapa pasal kerjasama on going
project KFX/IFX masih terus dilakukan. Tapi tidak untuk membatalkannya.
Perjalanan kerjasama ini sudah mendekati finish, tentu ada pihak-pihak yang
tidak suka dengan pencapaian ini.
Maka seharusnya kita kembali menguatkan tekad untuk
pencapaian penguasaan teknologi pembuatan kapal selam dan jet tempur. Hanya
butuh lima enam tahun lagi untuk pencapaian itu. Jangan sampai hanya karena
persoalan teknis lalu merambat jadi masalah strategis alias kita mundur dari
pola kerjasama ini.
Ini sama dengan proyek kerjasama alih teknologi
pembuatan kapal perang striking force Martadinata Class yang belum purna. Kita
dan Belanda baru bangun dua kapal, tentu ilmu alih teknologinya masih
menggantung. Minimal harus ada lagi lanjutan pembuatan kapal perang ke 3 dan 4.
Tapi sampai sekarang masih belum dilanjut.
Kalau memang tekad kita seperti yang disampaikan
Presiden Jokowi pada Menhan Prabowo untuk membangun industri pertahanan, tiga
proyek strategis ini perlu pengawalan khusus untuk pencapaiannya. Kita tahu
banyak sekali madu anggaran dikucurkan untuk Kemenhan dan itu mengundang para
makelar alutsista untuk mencicipinya.
Namanya makelar tentu dia
menawarkan sejumlah "bank saku" untuk pengambil keputusan dan
asistennya agar barangnya dibeli. Tekad China yang sukses membangun industri
pertahananannya karena komitmen "bangsaku" demikian kuat dan ketat.
Sementara kita disinyalir masih ada di dua sisi persimpangan, menebalkan
"bank saku" atau bertekad untuk kejayaan bangsaku.
Ayo ngaku aja.
****
Semarang 24 Desember 2019
Jagarin Pane
****
Semarang 24 Desember 2019
Jagarin Pane
Monday, December 9, 2019
Melirik Halaman Belakang
Posisi
geografi Indonesia sangat strategis, besar, tetapi masih telanjang dimensi
pertahanannya. Dua pertiga isi teritorinya air dan kaya sumber daya energi
fosil namun angkatan lautnya belum mencapai kriteria diakui apalagi disegani.
Juga angkatan udaranya yang harus mengcover ruang udara seluas benua Eropa.
Saat ini cara pandang pertahanan kita masih fokus
menghadap utara. Disana ada potensi konflik seperti di Natuna dan Ambalat. Dua
hot spot ini mengharuskan TNI gelar kekuatan personil dan alutsista disana.
Kita bersyukur secara bertahap isian alutsista anyar sudah digelar di Natuna
sebagai jawaban atas klaim ZEE China di perairan Laut Natuna Utara.
Kita punya halaman depan yang menghadap utara dengan
segala dinamika yang terjadi. Namun kita juga punya halaman belakang. Disana
ada Australia yang punya kekuatan alutsista striking force yang menghancurkan
secara massif.
Australia punya doktrin pertempuran menyerang lebih dulu di luar wilayahnya. Kehadiran jet tempur siluman F35 semakin menegaskan bahwa teritori kita semakin telanjang dan tak berdaya manakala terjadi gempuran pre emptive strike dari halaman belakang.
Australia punya doktrin pertempuran menyerang lebih dulu di luar wilayahnya. Kehadiran jet tempur siluman F35 semakin menegaskan bahwa teritori kita semakin telanjang dan tak berdaya manakala terjadi gempuran pre emptive strike dari halaman belakang.
Oleh sebab itu rencana strategis TNI untuk menempatkan
batalyon arhanud dengan satuan tembak peluru kendali jarak menengah anti
serangan udara di Merauke dan Saumlaki sangat bagus. Dan itu berarti menghadap
ke selatan yang nota bene adalah Australia.
Pertahanan udara adalah kombinasi kekuatan jet tempur
dan rudal hanud jarak jauh, jarak sedang dan jarak pendek. Selama ini gap yang
terjadi di model pertahanan udara kita adalah tidak adanya pertahanan udara
area berupa satuan peluru kendali jarak menengah dan jarak jauh. Baru hanud
titik di pangkalan militer dan obyek vital.
Dalam program MEF jilid tiga yang dimulai tahun depan
diniscayakan ada lanjutan belanja alutsista hanud area. Di MEF jilid 2 sudah
dimulai dengan pembelian peluru kendali jarak menengah Nassam 2 untuk
pertahanan ibukota Jakarta dan Natuna. Tapi barangnya belum sampai.
Lapisan pertahanan udara kita segera dilengkapi dengan
jet-jet tempur terkini, peluru kendali surface to air jarak jauh dan jarak
menengah. Dipilihnya Saumlaki dan Merauke sebagai basis pertahanan udara statis
sesuai dengan hakekat ancaman karena wilayah itu ruang udaranya terletak di
garis lurus antara Darwin dan Guam. Tahu sendirilah maksudnya.
Mengapa tidak di Kupang atau Biak, karena kedua
wilayah itu sudah dialokasikan untuk penempatan skadron jet tempur. Jadi
kombinasi jet tempur sebagai hanud mobile atau dinamis dengan penempatan satuan
peluru kendali darat ke udara di timur negeri adalah strategi zona marking yang
bagus.
Lebih dari itu perkuatan lapisan pertahanan udara kita
harus mendapat prioritas. Masih banyak titik dan area pertahanan udara kita
yang belum tercover. Meski Jawa sudah dilapis dengan kekuatan radar canggih dan
jet tempur tapi hanud areanya masih nihil. Apalagi pulau-pulau besar yang lain.
Pekerjaan besar ini harus didukung dengan anggaran
yang besar. Nah pantas kan kalau rasio anggaran pertahanan kita ke depan
minimal 1% dari PDB dan itu sama dengan 240 T per tahun. Tahun 2020 pagu
anggaran pertahanan sudah ditetapkan yaitu sebesar 131 T. Itu sama dengan 0,8%
dari PDB kita.
Potensi konflik kita itu muka belakang sama-sama
berpeluang. Yang di halaman belakang kita itu adalah tetangga yang baik kalau
ada maunya. Suka usil dan suka mendikte tapi jauh lebih makmur dari kita. Suka
menolong tapi juga suka ngungkit-ngungkit jasanya itu. Nah menghadapi jiran
model ginian harus kita perkuat pagar halaman kita.
Jika pertahanan kita kuat mau ngomong sama jiran jadi
berkelas. Maksudnya ketika kita berdiplomasi, argumen kita didengar. Apalagi
kalau pas ngomongnya mata ikut mendelik. Itu tetangga pada mikir juga dan
syaratnya ya harus punya kekuatan militer yang berkualitas dan disegani. Itu
saja.
****
Jakarta, 7 Desember 2019
Jagarin Pane
Jakarta, 7 Desember 2019
Jagarin Pane
Monday, November 25, 2019
Menyemai Asa Industri Pertahanan
Presiden Jokowi Senin tanggal 25 Nopember 2019 bertemu dengan
sejumlah ilmuwan Indonesia yang sedang menimba riset dan teknologi di Korsel.
Jokowi ke Korsel dalam rangka KTT ASEAN-Korsel.
Ratusan ilmuwan Indonesia bergabung dalam proyek
teknologi jet tempur KFX/IFX dan pembuatan kapal selam Nagapasa Class di
Korsel. Kedua proyek militer ini strategis, sangat prestisius dan sedang berada
dalam paruh waktu perjalanannya.
Proyek transfer teknologi pembuatan kapal selam sudah
dimulai sejak tahun 2013. Indonesia mengirim 113 ilmuwan ke Korsel. Saat ini
sudah berhasil dibangun 3 kapal selam, dua di Korsel dan satu yang terakhir di
PT PAL Surabaya.
![]() |
| KRI Nagapasa 403, produk transfer teknologi |
Sekarang ini dan dalam waktu enam tahun ke depan dibangun
lagi tiga kapal selam jenis yang sama sebagai kelanjutan "kuliah"
transfer teknologi. Dengan itu diharapkan tahun 2025 nanti kita sudah dapat
menguasai teknologi canggih pembuatan kapal selam.
Saat ini PT PAL sedang meng overhaul kapal selam KRI
Cakra 401 sebagai bagian dari implementasi transfer teknologi. Selama ini kapal
selam kita kalau mau di overhaul dibawa ke Jerman atau Korsel. Nah sekarang
cukup di PT PAL saja.
Proyek strategis dan prestisius lainnya adalah
pembangunan jet tempur gen 4.5 KFX/IFX. Kita mengirim banyak ilmuwan untuk
program ini. Program strategis ini sudah dimulai sembilan tahun lalu dan
diharapkan tujuh tahun kedepan sudah menghasilkan produk jet tempur.
Dalam proyek ini Indonesia urunan sebesar 20% dari
nilai keseluruhan program US$ 8 milyar. Sayangnya dalam perjalanan pengembangan
jet tempur ini kita menunggak iuran wajib tahunan. Saat ini Kemhan sedang
mengkaji ulang. Kita berharap kerjasama akan berlanjut terus. Sudah lebih
separuh jalan dan juga sudah keluar duit banyak. PT DI juga sudah mempersiapkan
semuanya.
Kemarin baru saja diuji luncur Roket R-Han 122b produk
Pindad dan kendaraan peluncurnya. Sukses. Semuanya produk dalam negeri. Belum
lama berselang juga sudah diuji endurance produk kebanggaan Pindad lainnya
yaitu Tank Harimau. Sukses.
![]() |
| KRI Clurit 641, kapal cepat rudal produk industri pertahanan nasional |
Sekarang sudah dimulai produksi massal tank Harimau
pesanan TNI AD. Selain itu Pindad juga sudah memproduksi lebih 300 unit Panser
Anoa. Roket R-Han dan kendaraan peluncurnya segera diproduksi massal. Luar
biasa.
PT PAL saat ini sedang mengerjakan proyek 3 kapal
cepat rudal (KCR), 1 kapal jenis LPD rumah sakit dan upgrade KRI Malahayati
362. Jika overhaul KRI Cakra 401 selesai dilanjut dengan pembuatan kapal selam
batch2 Nagapasa Class. Jadwalnya begitu padat dan ketat. Belum lagi jika proyek
kapal perusak PKR berlanjut.
Sementara berbagai galangan kapal swasta nasional juga
ikut kecipratan rezeki APBN Kemenhan. Ada yang buat kapal perang jenis LST, ada
yang kebagian kapal patroli cepat, kapal logistik BCM, kapal Bakamla, KAL dan
lain-lain. Semuanya sumringah.
Jadi apa yang diperintahkan Presiden Jokowi kepada
Menhan Prabowo agar perolehan alutsista menomorsatukan produk industri
pertahanan dalam negeri sejatinya sudah dan sedang berjalan.
Jika proyek jet tempur KFX/IFX dan kapal selam Nagapasa
Class sukses maka lengkaplah berbagai jenis produk alutsista kita. Dan itu
diharapkan bisa dicapai pertengahan dekade mendatang. Luar biasa.
Persemaian asa industri
pertahanan kita sudah menghijau dimana-mana. Kebanggaan ini harus terus dikawal
dengan amanah, istiqomah dan fathonah. Semangat bangga terhadap produk dalam
negeri. Bahwa kita sudah bisa buat panser, tank, roket, rudal, kapal perang,
kapal selam, jet tempur. Benar-benar membanggakan.
****
****
Solo 25 Nopember 2019
Jagarin Pane
Jagarin Pane
Subscribe to:
Posts (Atom)















