Tuesday, September 3, 2019

Mengagahkan Kalimantan Menggenggam Ambalat


Rencana penempatan 1 skadron jet tempur F16 Viper di Pontianak AFB, sebenarnya tidak terkait dengan rencana pemindahan ibukota negara ke Kalimantan Timur. Karena awalnya difokuskan untuk mengawal Natuna, lebih dekat ke Natuna. Maka rencana penempatan itu menjadi sangat strategis karena sekaligus menjadi payung utama untuk menjaga bumi Borneo yang sedang bergembira dengan rencana kehadiran ibukota baru.

Sementara itu rencana memindahkan 1 skadron jet tempur Hawk di Pontianak untuk “dikumpulkan” dengan skadron Hawk di Pekanbaru perlu dievaluasi kembali.  Akan lebih baik distribusi 16 jet tempur Hawk itu diurai ke Tarakan AFB, Natuna AFB dan Berau AFB. Jet tempur Hawk kita ketahui juga sebagai pesawat pengebom dan ibukota baru itu berbatasan darat langsung dengan negara jiran. Jadi Hawk diperlukan banget di Kalimantan. Kita ketahui saat ini Pontianak AFB menjadi markas skadron Elang Khatulistiswa dengan alutsista 16 jet tempur Hawk dan skadron 51 UAF dengan pesawat nirawak Aerostar buatan Israel.
Apache dan Mi35, pantas untuk Kalimantan
Sebagai ibukota yang berbatasan darat dengan negara lain, sangat layak kekuatan TNI AD dilipatgandakan di Kalimantan. Setidaknya harus ada 1 Divisi Kostrad disamping dua Kodam yang sudah eksis. Kodam Tanjungpura dengan wilayah Kalbar dan Kalteng bermarkas di Pontianak saat ini memiliki kekuatan 10 batalyon infantri, artileri, arhanud dan kavaleri. Sementara Kodam Mulawarman yang bermarkas di Balikpapan dengan wilayah Kaltim, Kalsel dan Kaltara juga memiliki kekuatan 10 batalyon infantri, artileri, arhanud, kavaleri plus 1 skadron helikopter tempur di Berau milik Penerbad.

Sebagai pulau yang berbatasan darat dengan Malaysia dan menjadi pusat pemerintahan negeri ini, perkuatan militer di Kalimantan harus setara dengan Jawa.  Ibukota baru harus dilindungi dengan kekuatan minimal 1 brigade infantri mekanis, satuan peluru kendali jarak pendek dan jarak menengah serta pangkalan militer seperti Halim AFB Jakarta. Pulau Kalimantan yang berhutan lebat jelas memerlukan tambahan kekuatan batalyon infantri dan armed yang disebar di dekat perbatasan Indonesia Malaysia.

Kekuatan Angkatan Laut jelas merupakan tugas utama Armada Dua yang bermarkas di Surabaya. Pangkalan AL di Balikpapan harus ditingkatkan menjadi pangkalan utama TNI AL yang bersifat khusus. Sudah ada pangkalan utama TNI AL di Tarakan yang membawahi Balikpapan. Pangkalan bersifat khusus maksudnya harus ada KRI yang stand by atau beroperasi di perairan Balikpapan setiap saat.
F16 Viper, sebentar lagi
Ingat laut Sulawesi dan selat Makassar adalah laut dalam. Perairan ini sangat ideal bagi perjalanan kapal selam ukuran besar. Itu sebabnya memilih pangkalan kapal selam di Teluk Palu adalah karena idealnya perairan ini juga karena mengawal Ambalat.  Sayangnya bencana gempa bumi da Tsunami merusak fasilitas pangkalan yang baru saja selesai dibangun.

Natuna sangat membantu dari sisi pertahanan utamanya jika terjadi konflik teritori dengan Malaysia, soal Ambalat misalnya. Pangkalan AU dan AL Natuna dipersiapkan untuk pertahanan garis depan menangkal lidah naga China. Namun jika terjadi konflik dengan Malaysia, pangkalan ini memegang posisi kunci untuk memblokade aliran militer dari Semenanjung Malaysia ke Sarawak dan Sabah di Kalimantan. Maka rencana perkuatan militer kita di Kalimantan sehubungan dengan lokasi ibukota baru dari sisi strategi militer menguntungkan Indonesia terutama soal Ambalat. Meski tujuan itu bukan karena Ambalat. Sama halnya dengan memperkuat Natuna.

Sangat dimungkinkan kehadiran 1 divisi Kostrad di Kalimantan, apakah dengan cara membangun divisi baru atau merelokasi satuan-satuan tempur yang tergabung di Divisi Kostrad yang ada di Jawa. Artinya akan hadir sejumlah alutsista baru misalnya tambahan Tank Leopard, MLRS Astross, Artileri Nexter, Roket Rhan, termasuk satuan peluru kendali jarak menengah.

Dan semua model perkuatan itu diniscayakan ada di program MEF jilid 3 (2020-2024).  Maka kita bisa saksikan nanti frekuensi belanja alutsista semakin berkibar.  Menjelang akhir MEF jilid 2 yang berakhir tahun ini saja diprediksi akan ada sign kontrak jet tempur F16 Viper, Hercules seri J, kapal perang Fregat, Radar, UAV, helikopter Apache, Chinook dan lain-lain. Semuanya patut kita sambut dengan kebanggaan.  Begitulah seharusnya berindonesia, memperkuat benteng pertahanan, mewibawakan marwah ber NKRI dan memberdayakan posisi geostrategis Indonesia.

Bandung, 03 September 2019
Jagarin Pane

Saturday, August 17, 2019

Mau Nambah Lagi Astross II Mk6

Alutsista MLRS Astross II Mk6 dari batalyon armed roket TNI AD ikut meramaikan jalannya latihan tempur setingkat brigade di Puslatpur Baturaja Sumsel.  Ini adalah salah satu alutsista canggih made in Brazil yang baru dibeli beberapa tahun lalu sebanyak 38 unit untuk 2 batalyon. Dan Indonesia kembali memesan Astross untuk kebutuhan 1 batalyon. Performanya bagus dan amunisi roketnya sudah bisa diproduksi Pindad. Selamat untuk Pindad.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

****
Jagarin Pane

Iver Huitfeldt Diambang Pintu

Kapal perang Fregat rasa Destroyer Iver Huitfeldt yang sudah lama ditaksir berat Indonesia, sudah berada diambang pintu.  Semoga tidak ada lagi halangan yang merintanginya dan bulan depan sudah bisa sign kontrak.  Indonesia membutuhkan kapal perang jenis ini untuk memperkuat pertahanan laut negeri kepulauan yang luas ini. Prediksi kita akan dipesan sebanyak 2 unit sesuai pagu anggaran yang tersedia.
Gambar mungkin berisi: luar ruangan

****
Jagarin Pane

Ikut Latihan Tempur TNI AD Di Baturaja

Dua jenis Helikopter yang paling disegani di dunia yaitu Helikopter Apache lengkap dengan persenjataannya termasuk rudal Hellfire buatan AS dan Helikopter Mi 35 buatan Rusia meramaikan suasana latihan tempur antar batalyon setingkat brigade di Pusat Latihan Tempur Baturaja Sumatera Selatan yang melibatkan 5000 prajurit TNI AD selama tiga minggu di bulan Agustus 2019.  Penerbad memang perkasa.
Gambar mungkin berisi: langit dan luar ruangan

Keterangan foto tidak tersedia.


****
Jagarin Pane

Rame-Rame Pensiun Neh

  • KRI Slamet Riyadi 352 (Fregat)
  • KRI Ki Hajar Dewantara 364 (Fregat)
  • KRI Teluk Ratai 509 (LST)
  • KRI Teluk Bone 511 (LST)
  • KRI Teluk Penyu 513 (LST)
  • KRI Nusa Utara 584 (LCT)
  • KRI Sambu 902 (BCM)

Yang jelas usia sudah sepuh, diganti yang lebih digital dan milenial. Semua yang dipensiun itu sudah ada penggantinya. Kapal-kapal perang baru yang menggantikan KRI yang pensiun adalah :
  • KRI Raden Eddy Martadinata 331 (Fregat)
  • KRI I Gusti Ngurah Ray 332 (Fregat)
  • 7 Kapal perang LST Bintuni Class
  • 3 Kapal perang BCM Tarakan Class
****
Jagarin Pane / dari berbagai sumber




Friday, August 9, 2019

Memperkuat Pertahanan Di Kalimantan


Hari-hari ini ada pergerakan ribuan pasukan pemukul TNI AD dari pulau Jawa ke Sumatra. Tentu melintas selat Sunda kemudian melanjutkan perjalanan darat ke Baturaja Sumsel. Pergerakan ini semakin menggerunkan karena bersamaan dengan pergerakan ratusan unit alutsista dan dipertontonkan kepada khalayak sepanjang rute.
Ya, Angkatan Darat kita dari divisi Kostrad sedang punya hajat besar di bulan kemerdekaan ini. Belum setahun berselang tepatnya di bulan November 2018 hajatan besar juga dilakukan di tempat yang sama. Artinya frekuensi simulasi pertempuran bergerak terus menyesuaikan dengan teknologi dan network manajemen pertempuran.
Setelah dua matra TNI AL dan TNI AU unjuk kekuatan dengan menggelar latihan tempur internal matra bulan lalu maka TNI AD giliran show of force melakukan model simulasi sinergi pertempuran antar batalyon. Suasana pertempuran akan lebih hiruk pikuk karena ini adalah ibu segala perang.
Astross II Mk6 untuk Latihan tempur TNI AD di Baturaja
Berbagai jenis alutsista keluar kesatrian. Ada MBT Leopard, Tank Marder, M113, MLRS Astross, Panser Anoa, Artileri Caesar Nexter, KH 178, KH179. Berbagai jenis rudal SAM Mistral, Starstreak dipertunjukkan dan unjuk kebolehan.
Berbagai jenis helikopter Penerbad juga ikut memeriahkan jalannya simulasi pertempuran. Mulai dari helikopter Fennec, Bell 412, Mi17, Mi 35 dan Apache. Hercules TNI AU juga diikutkan untuk penerjunan pasukan.
Simulasi pergerakan ribuan prajurit dan ratusan alutsista berbagai jenis itu bisakah tidak harus ke Baturaja terus. Sekali waktu gerakan besar ini diarahkan ke bumi Kalimantan tempat yang direncanakan sebagai ibukota baru.
Mengurai Java Centris dengan tidak menumpuk alutsista TNI AD di Jawa adalah sebuah keniscayaan. Apalagi dengan rencana pindahnya ibukota ke Kalimantan. Pola perkuatan pertahanan di Kalimantan harus mendapat prioritas. Ini pekerjaan besar apalagi saat ini di Kalimantan tidak ada divisi Kostrad satu batalyon pun.
JIka tahun-tahun mendatang diadakan latihan tempur antar batalyon TNI AD di Kalimantan di lokasi yang sudah ditetapkan sebagai ibukota baru tentu sebuah kebijakan strategis yang cerdas. Memindahkan ribuan pasukan dan ratusan unit alutsista dari Jawa tentu membutuhkan banyak kapal perang jenis LST dan LPD. Sudah tersedia semuanya.
MBT Leopard, pantas untuk Kalimantan
Satuan-satuan tempur di Kalimantan saat ini sebagian besar hanya mendapat alutsista bekas dari Jawa sementara yang baru selalu di Jawa. Maka jika ada penambahan tank Leopard misalnya, harusnya dialokasikan utk Kalimantan.
Logikanya perbatasan darat di Kalimantan mutlak diperkuat dengan alutsista andal. Kompi kavaleri di Kalbar hanya mengandalkan ranpur jadul. Harus ada percepatan pengembangan menjadi minimal 3 batalyon kavaleri kostrad di Kaltim, Kaltara dan Kalbar dengan tank Leopard atau tank Harimau.
Payung pertahanan untuk ibukota baru harus paralel dengan pembangunan infrastrukturnya. Misalnya menempatkan satuan peluru kendali Nasams. Ibukota Jakarta saat ini dilindungi 1 brigade infantri mekanis, dilapis dgn Kostrad Divisi Satu dan Kodam Siliwangi. Ada pangkalan Halim dan ada markas Armada Satu. Ibukota baru mestinya juga seperti itu.
Putra Jaya dekat dengan Kuala Lumpur, Canberra dekat dengan Sydney, Washington dekat dengan New York. Brasilia tdk jauh dari Rio De Jeneiro. Artinya semua masih satu wilayah satu pulau. Pola pertahanan sudah tertata. Lain halnya dengan pindahnya ibukota RI. Sudah antar pulau, wilayah baru itu belum tersedia infrastruktur militer yang memadai.
Boleh saja dan lebih tepat memindahkan 1 batalyon pemukul infantri mekanis, 1 batalyon infantri raiders, 1 batalyon kavaleri dari Jawa untuk perlindungan ibukota baru. Juga harus tersedia dan mutlak diperlukan 1 pangkalan angkatan udara lengkap dengan Paskhas dengan pesawat militernya.
Sejatinya TNI AD masih sangat kurang jumlah dan jenis alutsista di ibukota-ibukota provinsi. Termasuk payung pertahanan obyek vital. Maka sejalan dengan program MEF jilid tiga yang dimulai tahun lengkap, penambahan alutsista kavaleri, artileri, roket dan peluru kendali SAM mutlak harus ada. Juga program bedol desa minimal 5 batalyon pemukul Kostrad dari Jawa ke Kalimantan.
Kalimantan pulau besar dan kaya sumber daya energi. Menetapkan ibukota di pulau tanpa gunung api ini adalah pilihan strategis. Mengalokasikan satuan tempur pemukul Kostrad ke Kalimantan juga pilihan strategis. Pengadaan alutsista berbagai jenis untuk TNI AD secara besar-besaran juga pilihan strategis. Kalau begitu MEF III benar-benar strategis.


****
Balikpapan 05 Agustus 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Wednesday, July 31, 2019

Mekarnya Industri Pertahanan Kita


Satu dekade terakhir ini, perubahan besar terjadi di industri pertahanan kita di segala matra. Sebuah perjalanan yang memberikan nilai kebanggaan bagi bangsa besar ini. Sejalan dengan tumbuh kuatnya benteng pertahanan negeri, TNI.
PT PAL Surabaya adalah gambaran jelas sebuah industri pertahanan maritim yang saat ini disibukkan dengan berbagai pesanan pembuatan kapal perang. BUMN strategis ini sudah mampu membuat kapal cepat rudal. Sudah ada 4 kapal cepat rudal yang dibuat di galangan kapal ini. Masih ada lagi pesanan 3 kapal sejenis yang sedang dibuat.
PT PAL bekerjasama dengan Damen Schelde Belanda sudah menyelesaikan 2 kapal perang modular jenis perusak kawal rudal " Martadinata Class". Demikian juga kerjasama produksi pola transfer teknologi pembuatan kapal selam dengan Daewoo Korsel telah menyelesaikan 3 kapal selam "Nagapasa Class". Saat ini sedang dibangun 3 kapal selam jenis yang sama tentu dengan mitra yang sama.
KRI Raden Eddy Martadinata 331, kerjasama transfer teknologi
Diharapkan dengan memproduksi 6 kapal selam canggih ini transfer teknologi yang kita tekuni selama ini bisa membuahkan hasil, yaitu bisa membuat kapal selam berteknologi made in sendiri. Contoh keberhasilan transfer teknologi adalah pembuatan kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) dengan guru yang baik hati, Korsel.
Kita memesan 4 kapal LPD "Makassar Class" kepada Korsel dengan catatan 2 dibuat di Korsel dan 2 lagi dibuat di Surabaya. Setelah PT PAL sukses membuat kapal ke tiga dan keempat, datang tawaran dari Filipina yang pesan 2 kapal LPD. Dan dua-duanya sukses dibuat dan diserahkan ke Filipina. Saat ini Manila sedang melakukan tender terbuka pemesanan 2 kapal sejenis. Peluang menang terbuka lebar.
PT PAL baru saja menyelesaikan pembuatan kapal LPD KRI Semarang 594 pesanan TNI AL dan saat ini sedang membangun 1 kapal LPD rumah sakit. Jadi betapa sibuknya perusahaan plat merah ini, membangun 3 kapal cepat rudal, membangun 3 kapal selam dan membangun 1 kapal LPD rumah sakit dengan waktu bersamaan. Luar biasa.
Tank Harimau produksi bersama Pindad-FNSS Turki
Bisa dibayangkan ke depan nanti dengan kemampuan PT PAL membuat kapal perang jenis striking force termasuk kapal selam dan juga kapal jenis LPD. Betapa Angkatan Laut kita akan semakin berjaya kekuatan armadanya dengan dukungan industri pertahanan strategis PT PAL.
Galangan kapal swasta nasional juga ikut mekar dan berbunga harum dengan berbagai pesanan kapal perang jenis kapal patroli cepat (KPC), landing ship tank (LST) pesanan TNI AL. Belum lagi pesanan dari Bakamla, KKP, Bea Cukai dan Kepolisian.
Galangan kapal swasta nasional yang ada di Batam, Banten, Jatim dan Lampung sedang panen raya dan menikmati bulan madu perjalanan bisnis mereka. PT Daya Radar Utama Lampung misalnya mendapat pesanan 5 kapal perang LST dan semuanya sudah hampir diselesaikan. Belum lagi yang pesanan Bakamla.
Sementara beberapa galangan kapal swasta nasional di Batam telah berhasil membuat belasan kapal cepat rudal ukuran 40 m dan kapal patroli cepat untuk TNI AL. Belum terhitung pesanan kapal Coast Guard untuk Bakamla.
Bagaimana dengan PT Pindad, industri pertahanan strategis matra darat. Lagi rame Om, saat ini sudah menyelesaikan pembuatan 300 panser Anoa. Bulan-bulan ini sedang disibukkan memproduksi tank Harimau pesanan TNI AD. Medium tank ini akan diproduksi di kisaran 300 unit untuk batalyon kavaleri TNI AD. Pasar yang menjanjikan termasuk peluang ekspor ke negara sahabat.
PT Pindad juga sedang memproduksi puluhan ranpur anti ranjau Sanca. Puluhan kendaraan Komodo Nexter sedang diselesaikan. Sementara untuk panser canon Badak masih tertunda produksinya meski sudah lulus uji ketahanan.
Industri pertahanan strategis lainnya PT DI sedang disibukkan dengan berbagai pesanan TNI AU. Ada pesanan puluhan helikopter berbagai jenis seperti Bell 412 Epi, Caracal, Panther. Juga pesanan pesawat CN 295, CN 235. Selain CN 235 yang murni produk sendiri, berbagai jenis pesanan tadi merupakan produk perusahaan multi nasional bekerjasama dengan PT DI.
KRI Alugoro 405, kerjasama transfer teknologi
Yang paling monumental adalah kerjasama teknologi jet tempur KFX/IFX dengan Korsel. Jika semuanya berjalan lancar lima tahun ke depan sdh ada gambaran produksi dimana kita bisa mendapatkan puluhan jet tempur sesuai rasio investasi kedua negara.
Dengan pencapaian ini maka pembangunan kekuatan pertahanan kita yang didukung kemampuan industri pertahanan dalam negeri memberikan asupan energi yang luar biasa untuk terciptanya mata rantai otot pertahanan yang kekar.
Ketersediaan industri pertahanan yang mampu mensuplai kebutuhan alutsista berteknologi akan memberikan jaminan kebutuhan alutsista setiap saat. Perjalanan mekarnya industri pertahanan baik yang plat merah maupun swasta nasional kita apresiasi sebagai keberhasilan cum laude.
Bahwa kebutuhan alutsista kita sekarang dan yang akan datang sebagian besar bisa dicukupi oleh industri pertahanan dalam negeri akan menjadi kebanggaan dan gengsi nasional. Karena tumbuh mekarnya industri alutsista kita sejatinya adalah memastikan ketersediaan beragam alutsista utk kebutuhan TNI, Bakamla, KKP dan Kepolisian. Termasuk juga peluang ekspor.
Lebih dari itu mekar harumnya industri pertahanan kita tentu akan memberikan persepsi positif di kawasan karena Indonesia telah mampu menghasilkan kualitas produksi alutsista setara dengan negara lain, setara pula dengan tumbuh kuatnya otot militer negeri ini. Barakallah.

****
Jakarta 30 Juli 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Saturday, July 20, 2019

Belanja Terus Neh

Kementerian Pertahanan mendapat tambahan anggaran tahun ini sebesar 2 Trilyun rupiah untuk 
membeli 2 kapal perang jenis hydro oceanografi merangkap kapal penyelamat awak kapal selam. Ini 
sebuah kabar surprise tentunya dalam program modernisasi militer kita.

Di hari yang sama ada seremoni pembuatan 2 kapal perang jenis patroli cepat untuk menambah 
kekuatan armada dua. Galangan kapal swasta nasional bertepuk gembira dapat lagi proyek buat kapal 
perang. Saat ini saja PT PAL sebagai pionir pembuatan berbagai jenis KRI sedang disibukkan membuat 
3 kapal cepat rudal untuk TNI AL.

Indonesia saat ini sedang menunggu kedatangan pesawat tempur Sukhoi SU35. Kita juga sedang 
bersiap menyambut kehadiran peluru kendali darat ke udara jarak sedang Nasams untuk payung 
Jakarta dan Natuna. Juga MLRS Astross batch 2.
Heli Apache diatas kesatrian Yon 411 Pandawa Salatiga
Pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class jilid 2 juga sudah diteken. Ini salah satu kesibukan PT PAL 
yang saat ini sedang melaksanakan uji laut utk produksi kapal selam ketiga jilid satu. Industri pertahanan 
strategis ini juga sedang membuat pesanan 1 kapal perang jenis LPD rumah sakit.

Belanja militer Indonesia berlanjut terus. Istilah kerennya tiada hari tanpa belanja alutsista. Sebuah 
kondisi yang sangat membanggakan. Dan pada tahun-tahun mendatang akan semakin intens kekuatan 
belinya dengan anggaran terbesar dibanding kementerian yang lain.

Sekedar mengingatkan, Pindad saat ini sedang memproses pengadaan Tank Harimau untuk TNI AD. 
Pindad juga bersiap untuk produksi masal roket RHan. Amunisi ini bisa dipakai untuk MLRS Vampire 
milik Marinir. Termasuk sedang mengupayakan untuk dipakai MLRS Astross milik TNI AD.

Galangan kapal PT DRU Lampung sedang menyelesaikan sea trial 3 kapal perang jenis LST. Ini adalah 
galangan kapal yg produktif dan sukses membuat LST Bintuni Class. Galangan kapal di Batam juga 
produktif membuat kapal cepat rudal dan kapal patroli cepat.

TNI AU segera menutup blank spot area dengan membeli sejumlah radar untuk Bengkulu, Sumba, 
Singkawang, Morotai. Ketika mata telinga ini sdh mengcover seluruh teritori udara maka kehadiran alat 
penggebuk semisal jet tempur F16 Viper akan menyempurnakan semua kewibawaan teritori kita.

Maka gambaran proyek pengadaan alutsista negeri ini akan semakin berkibar dan membesar. Pembelian 5 pesawat angkut berat Hercules seri J dari AS, tambahan 8 helikopter tempur Apache, 9 
helikopter Caracal, 11 helikopter Bell 412 Ep, 2 pesawat tanker, 3 pesawat CN295, 4 pesawat CN 235 
dan 32 jet tempur F16 Viper sudah diambang pintu.

TNI AL bersiap menambah lagi 2 kapal perang jenis PKR Martadinata Class, 2 kapal perang Light 
Destroyer Iver Class dan 2 kapal pemburu ranjau. Marinir sedang menunggu kedatangan 22 tank amfibi 
Bmp-3F dan 21 panser amfibi Bt-3F dari Rusia. Termasuk sejumlah MLRS Vampire yang didatangkan 
bertahap.
Jet tempur F16, populasinya akan terus ditambah sampai 70 unit

Anggaran militer Indonesia adalah terbesar kedua setelah Singapura untuk kawasan Asean. Ini cukup 
membanggakan karena selama dekade terdahulu anggaran pertahanan kita berkategori ciput. Tahun 
depan anggaran militer kita menyentuh angka 126 Trilyun.

Negeri kaya sumber daya alam ini sudah sepatutnya memperkuat benteng pertahanannya. Ribut masa 
depan adalah seputar penguasaan areal sumber daya alam. Cina sudah memproklamasikan wilayah 
Laut Cina Selatan sebagai miliknya. Cina membangun armada tempurnya secara besar-besaran.

Kita harus bersiap. Kita juga harus bangun kekuatan militer kita. Maka belanja alutsista berteknologi 
adalah sebuah keharusan. Kalau kita kuat secara militer, gak ada itu yang mau macam-macam sama 
kita. Artinya gak mau ribut dan ribet urusannya.

Itulah salah satu fungsi penguatan militer. Kalau kita kuat jiran kawasan segan, kalau kita lemah, jiran 
merajalela. Masih ingatkan kemelut Ambalat tempo hari. Itu salah satu contohnya ketika jiran merajalela 
dan menyepelekan. Sekarang dia sudah jauh tertinggal dan kita akan terus dan terus belanja alutsista 
untuk benteng pertahanan kita. Majulah Indonesia.
****
Bandar Lampung 19 Juli 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Thursday, July 11, 2019

Menggelar AYA dan AYU Di Bulan Yang Sama


Seiring dengan terus berdatangannya berbagai jenis alutsista TNI berkualitas, maka tuntutan untuk melakukan uji hebat dan uji canggih dilakukan secara berjenjang di semua matra TNI. Puncaknya adalah menggelar unjuk kerja latihan untuk setiap matra, dan puncak dari semua aktivitas itu adalah menggelar latihan gabungan TNI.

Pekan kedua dan ketiga bulan Juli ini dua matra TNI menggelar latihan militer skala besar di masing-masing matra di Jawa Timur. Angkatan laut menggelar kekuatannya  di Laut Jawa dengan serial Armada Jaya (AYA) yang sudah memasuki jilid ke 37. Sementara Angkatan Udara punya acara dengan waktu relatif sama, menggelar simulasi Angkasa Yudha (AYU) di Madiun, Malang dan Lumajang.

Semua puncak latihan internal matra TNI dilakukan setahun sekali. Untuk latihan gabungan TNI dengan model interoperability skala besar biasanya dilakukan 4 tahun sekali. Ini tidak termasuk latihan PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) yang waktunya sesuai kebutuhan di lapangan.  Jadi bisa setahun sekali bisa setahun dua kali dan seterusnya.
F16, alutsista strategis yang dimiliki Indonesia
Saat TNI AL sedang melakukan berbagai simulasi pertempuran laut dengan kekuatan puluhan KRI berbagai jenis dan ribuan prajurit Marinir.  Hari-hari ini terlihat kesibukan yang luar biasa di pangkalan utama TNI AL di Surabaya untuk embarkasi pasukan dan alutsista. Sementara lokasi latihan tempur ada di laut Jawa dan berakhir di pantai Situbondo.

Sementara itu TNI AU mengerahkan seluruh kekuatannya untuk AYU 2019. Ada jet tempur Sukhoi SU27/30, ada F16, ada Hawk, T50 dan Super Tucaco bersama dengan ribuan prajurit Paskhas dan sejumlah alutsista lain seperti radar, rudal, bom dll.  Ada 7 skadron tempur yang dilibatkan dalam Angkasa Yudha 2019. Rute latihan dari markas besar Iswahyudi AFB kemudian ada Abdul Rahman Saleh AFB dan area latihan tempur Lumajang.

Simulasi pertempuran pada hakekatnya adalah menguji kesiapan pasukan dan alutsista dengan berbagai model yang disiapkan. Untuk Armada Jaya, ada simulasi pertempuran laut antar kapal perang, anti serangan udara, anti kapal selam dan berakhir dengan serbuan pantai oleh pasukan Marinir.

Angkasa Yudha juga menampilkan pertempuran udara, misalnya antara F16 dan Hawk, Sukhoi dan F16, pengeboman bertubi-tubi, perebutan Air Force Base dan penerjunan pasukan. Yang menarik untuk kedua simulasi pertempuran laut dan udara kali ini adalah menggunakan metode dua pihak saling mengendalikan. Jadi seperti pertempuran yang sesungguhnya.

KRI Nagapasa 403, kapal selam terbaru Indonesia
Model interoperabilty berguna untuk saling koordinasi sekaligus menghindari friendly fire atar sesama pasukan. Termasuk juga model perang elektronika dan cyber army yang menjadi ciri khas pertempuran modern. Kurikulum latihan seperti ini mutlak harus kita kuasai karena kunci kemenangan pertempuran modern adalah asupan gizi intelijen dengan kekuatan teknologi pertempuran yang dimiliki.

Kapal-kapal perang yang kita miliki  sudah menyesuaikan dengan teknologi persenjataan yang modern, misalnya KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai 332.  Tiga Kapal selam terbaru yang kita miliki juga sudah memiliki kualitas persenjataan dan teknologi pertempuran modern yang memadai.

Empat jet tempur Sukhoi SU27 dan Sukhoi SU30 yang dibeli pada era Presiden Megawati sudah diupgrade setara dengan adik kelasnya. 15 Jet latih tempur T50 sedang diupgrade dengan memasang radar tempurnya sehingga nantinya berubah menjadi fighter FA50. 10 Jet tempur F16 blok 15 sedang dalam tahap peningkatan kemampuan tempur.

Maka menggelar AYA dan AYU setiap tahun adalah dalam rangka menguji alutsista baru untuk dapat diketahui keunggulan teknologinya, daya tahannya dan kesiapan satuan tempur yang mengoperasikannya. Simulasi pertempuran sejatinya adalah pertempuran itu sendiri yang diskenariokan sebagai bagian dari unjuk kekuatan untuk percaya diri.

Ke depan ini dengan semakin banyaknya alutsista baru yang canggih berdatangan, tuntutan untuk mensinergikan berbagai jenis alutsista itu dalam satu model sinergitas interoperability mutlak diperlukan. Kesiapan itu sudah diperlihatkan melalui simulasi AYA dan AYU dan akan terus disempurnakan dalam tahun-tahun mendatang.

****
Jakarta, 11 Juli 2019
Jagarin Pane

Friday, June 14, 2019

Sebar Kekuatan Di Timur Negeri


Angkatan udara Indonesia baru saja meresmikan 2 skadron angkut militer di kawasan timur Indonesia. Di Makassar digelar skadron angkut berat Hercules, namanya Skadron 33. Di Biak Papua di gelar skadron angkut sedang CN235/CN295, namanya skadron 27. Pesawat dan kru diboyong dari Jawa.

Pengembangan skadron angkut di wilayah timur merupakan langkah strategis karena wilayah ini sejatinya adalah prioritas kecepatan dalam setiap kondisi operasi militer maupun operasi militer selain perang. Makassar dipilih sebagai markas skadron Hercules dalam rangka memenuhi interoperablity antar satuan tempur karena di wilayah ini ada satuan tempur PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) Kostrad TNI AD.

Sementara Biak dipilih sebagai home base skadron 27 angkut sedang, sangat membantu mobilitas gerakan militer di Papua yang kontur buminya sangat menantang. Di Biak juga sudah tersedia infrastruktur militer seperti Radar, Paskhas dan menjadi markas Koopsau III.  Masih ada dua skadron lagi yang akan mengisi kekuatan timur Indonesia yaitu skadron Helikopter di Jayapura dan skadron tempur di Kupang atau Biak.
Jet tempur F16 di Lanud Biak

Pengembangan kekuatan pertahanan udara Indonesia terus dibangun karena memang belum sampai pada tahap kekuatan minimal yang harus dimiliki negeri kepulauan ini. Itu sebabnya program MEF (Minimum Essential Force) yang ditarget selesai tahun 2024 adalah sebuah kekuatan yang baru sampai di kriteria minimal.

Untuk mencapai kekuatan minimal itu, TNI AU masih memerlukan tambahan kekuatan minimal 3 skadron tempur, 1 skadron angkut berat, 1 skadron angkut sedang, 5 radar militer, 2 jet tanker isi ulang BBM di udara, 2 pesawat AEW&C.  Ini sebuah target yang realistis lho dan diharapkan tahun 2024 sudah bisa dipenuhi.

Tiga skadron tempur yang dinantikan adalah 11 jet tempur Sukhoi SU35 dan 32 Jet tempur F16 Viper. Skadron angkut berat Hercules akan mendapat tambahan 6 Hercules gress dari AS sementara skadron angkut sedang yang sudah mendapatkan 9 CN295 akan ditambah 3 unit lagi.

Infrastruktur pangkalan udara sudah tersedia di berbagai tempat.  Ada Natuna, ada Tarakan, ada Morotai, ada Biak dan sebagainya.  Ada infrastruktur yang bagus di Lanud Soewondo (ex Polonia) di Medan tapi kosong dengan pesawat militer.  Maka sangat layak skadron Hawk dan F16 di Pekanbaru sering-sering bermain di Medan biar tidak kesepian gitu.
Armada Hercules TNI AU
Pontianak di plot menjadi home base jet tempur F16 Viper.  Lokasi pangkalan udara ini paling dekat dengan Natuna sehingga sangat tepat menempatkan jet intersep di bumi khatulistiwa ini. Sementara jet tempur Hawk yang tersedia saat ini bisa diinapkan di Natuna sebagian. Patroli sekeliling Laut Natuna Utara.

Jika program MEF jilid III bisa diselesaikan tahun 2024, kita baru sampai pada kriteria kekuatan minimal. Artinya kekuatan angkatan udara kita yang menjaga negeri jamrud khatulistiwa ini punya inventori alutsista 27 jet tempur Sukhoi SU27/30/35, 66 jet tempur F16 blok52/Viper, 15 jet tempur latih FA50, 32 jet tempur taktis Hawk 100/200, 15 pesawat Super Tucano, 36 Hercules, 12 CN295, 16 CN235, 2 jet tanker isi ulang BBM di udara, 2 pesawat AEW&C.

Kekuatan ini sudah melebihi kekuatan TNI AU jaman Dwikora meski tidak punya pesawat pengebom strategis seperti era Dwikora. Kekuatan minimal ini patut disyukuri karena ini kekuatan pertahanan, bukan kekuatan ekspansi.  Isian alutsista angkatan udara perlu investasi anggaran yang besar karena angkatan udara adalah teknologi dan kekuatan penggentar.

Maka membangunkembangkan angkatan udara sejatinya adalah membangun teknologi pertempuran terkini yang mampu bersinergi dengan matra lain.  Investasinya cukup menguras anggaran negara tetapi marwah teritori negeri akan terangkat dan disegani. Kekuatan Angkatan udara adalah  martabat dan kebanggaan setiap negara.  Kita harus mendapatkan marwah itu.
****
Solo, 14 Juni 2019
Jagarin Pane


Friday, May 24, 2019

Diplomasi Viper

Beradu luwes, beradu lincah, bergerak cepat, diam-diam  dan berpacu dengan waktu, adalah irama yang sedang diperlihatkan Indonesia dalam diplomasi perdagangannya dengan Amerika Serikat. Sebabnya cuma satu, agar fasilitas yang bernama GSP yang diberikan negara adidaya itu masih bisa diperpanjang nafasnya untuk Indonesia.

GSP (Generalized System of Preferences) adalah fasilitas kemudahan perdagangan yang diberikan AS untuk negara-negara berkembang dengan cara membebaskan bea masuk ribuan produk negara-negara tersebut. Ada sekitar 3.500 produk ekspor RI yang boleh lenggang kangkung diberikan kemudahan masuk ke AS.  Ini sudah berlangsung puluhan tahun.

Nah, pak Donald mulai mendehem neh. Dengan China  terang-terangan dan tegas melakukan perang dagang.  Maka Indonesia mengantisipasinya dengan melakukan diplomasi perdagangan selama dua tahun terakhir ini dengan Paman Sam.  Kita ketahui bahwa sejak Oktober 2017 AS meninjau ulang pemberian fasilitas GSP terhadap 25 negara termasuk Indonesia. Untungnya kita masih punya “kartu remi” yang sangat diperlukan Uak Sam utamanya dalam menghadapi menggeliatnya militer China di Laut China Selatan (LCS).
Helikopter Apache Penerbad, akan ditambah lagi
Maka kartu remi dimainkan Indonesia dengan menerima tawaran Menhan AS untuk membeli sejumlah alutsista berkelas dari  Paman Sam.  Pengadaan alutsista semacam jet tempur F16 Viper, Hercules seri J dan Apache bermanfaat untuk menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara yang selama ini menguntungkan kita. Artinya tidak lagi dipelototi Trump.

Ini juga seirama dengan rencana strategis pertahanan RI yang akan menambah skadron-skadron tempurnya. Maka penambahan minimal 32 unit jet tempur F16 Blok 70 Viper adalah sebuah langkah cemerlang dan akan terlaksana dalam MEF jilid III. Indonesia juga sudah mendapatkan 8 Helikopter serang Apache dan diprediksi akan menambah 8 unit lagi. 

Selain alutsista diatas yang paling sering didengungkan adalah pengadaan 6 pesawat Hercules seri terbaru. Pak Menhan sudah disambut di Pentagon untuk memastikan pembelian pesawat militer angkut berat yang legendaris itu. Program beli ini juga agar AS bisa memberikan kelonggaran untuk pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia yang masih tersendat karena DP tidak bisa cair.
F16 Viper yang digadang-gadang itu
Itulah kenyataan yang kita hadapi karena sang adidaya lagi galak-galaknya kepada siapa pun yang mau mengganggu hegemoni Yues’e di segala bidang. Raksasa China aja diajak gelut alias perang dagang, dengan Iran sekarang sedang demam tinggi, Rusia dikenakan sanksi ekonomi ketat, Venezuela diadu domba dan lain-lain.

Untuk kepentingan geo strategis AS di LCS maka Trump memerlukan dukungan Indonesia. Artinya masih ada kekuatan bargaining bagi kita soal GSP tadi.  Kita memang lagi butuh peningkatan kualitas dan kuantitas alutsista.  Dan karena sudah ditawari juga oleh Menhan AS pada waktu berkunjung ke Jakarta maka tidak eloklah kalau tidak diambil.

Anggaran pertahanan kita tahun depan juga meningkat bagus mencapai 126 Trilyun rupiah.  GSP untuk produk ekspor kita ke AS juga masih bisa diperpanjang. Sekalian bisa mencairkan kebuntuan soal pembelian 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia yang terhambat Bank Garansi untuk DPnya.  Semua itu bisa dihasilkan dengan model diplomasi perdagangan yang cerdas, lincah dan luwes.

Kita meyakini bahwa kontrak pengadaan Jet tempur F16 Viper, Hercules, Apache akan diselesaikan Oktober tahun ini dan barangnya mulai berdatangan di episode MEF jilid III (2020-2024). Diplomasi Viper membutuhkan gerak lincah luwes dan bergerak cepat diam-diam seperti seekor ular Viper.  Karena kita pun bakalan mendapat Viper, jet tempur F16 Blok 70 paling mutakhir, lincah dan mematikan.
*****
Yogya, 24 Mei 2019
Jagarin Pane