Friday, February 16, 2018

Rencana Berikutnya


Setelah kontrak pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35, TNI AU akan diperkuat lagi dengan jet tempur F16 Viper.  Menhan AS sudah berkunjung ke Jakarta, artinya peluang untuk mendapatkan 3 skadron F16 Viper terbuka lebar. Jarang lho kedatangan Menhan adidaya tidak membawa maksud dan tujuan serta hasil. Untuk jet tempur Sukhoi SU35 juga masih terbuka mendapatkan 5-7 unit lagi untuk melengkapinya menjadi 1 skadron.  Saat ini TNI AU memiliki 16 jet tempur Sukhoi SU27/30, 34 jet tempur F16 blok 52 Id, 36 jet tempur Hawk 100/200, 15 jet latih tempur T50 serta 15 pesawat tempur coin Super Tucano. Selamat untuk tentara langit Indonesia. 

****
Jagarin Pane/ 15 Feb 2018

Selamat Datang Sukhoi SU35


Akhirnya kontrak pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya ditandatangani tanggal 14 Pebruari 2018.  Inilah jet tempur yang paling dinantikan di bumi pertiwi dan sekaligus jet tempur paling menggerunkan sepanjang sejarah republik. Alhamdulillah.

****
Jagarin Pane / 15 Feb 2018

Wednesday, February 7, 2018

Proyeksi Serba Tiga

Program modernisasi militer Indonesia memasuki masa-masa paling menentukan, utamanya soal pengembangan kekuatan pasukan pemukulnya.  Program 100 hari Panglima TNI dengan jelas akan memulai merealisasikan penyebaran dan pengembangan postur kekuatan angkatan bersenjata segala matra. Dan semuanya adalah serba tiga.

Divisi pemukul strategis angkatan darat yang lebih dikenal dengan nama Kostrad akan mengembangkan diri menjadi tiga Divisi tempur modern dengan markas pusat Divisi III ada di Makassar sementara satu Brigade tempur Kostrad akan ditempatkan di Papua. Divisi yang sudah ada sampai saat ini, Divisi I bermarkas di Cilodong Jawa Barat dan Divisi II di Singosari Malang. Kekuatan pasukan pemukul elitenya diprediksi akan mencapai 50 ribu prajurit.

Divisi Marinir yang lebih dikenal dengan Pasmar akan dikembangkan menjadi tiga  Pasmar dimana Pasmar ketiga akan berpusat di Sorong Papua.  Saat ini Pasmar I ada di Jakarta dan Pasmar II di Surabaya. Prediksi jumlah pasukan Marinir dengan tiga  Pasmar berjumlah 35 ribu pasukan. Demikian juga dengan Armada ketiga yang sedang dikembangkan akan berpusat di Sorong.  Saat ini ada dua Armada kekuatan TNI AL, Armada Barat di Jakarta dan Armada Timur di Surabaya.
Martadinata Class
Komando operasi angkatan udara tidak mau ketinggalan dengan membentuk Koopsau III di Biak. Pangkalan angkatan udara Biak secara infrastruktur sudah ready for use sebagai markas Koopsau III sekaligus home base jet tempur. Saat ini Koopsau I berkedudukan di Jakarta dan Koopsau II berada di Makassar. Jumlah pesawat tempur berbagai jenis yang dimiliki saat ini berjumlah 116 unit. Prediksi pesawat tempur sampai MEF ketiga adalah 180 unit.

Yang menarik adalah pengembangan serba tiga itu juga membutuhkan tambahan 3 skadron jet tempur untuk TNI AU, tiga puluhan kapal perang untuk TNI AL dan tigaratusan Tank berbagai jenis yang dibutuhkan TNI AD. Dan yang juga tidak kalah penting adalah semua program hebat itu akan diselesaikan dalam serial MEF yang ketiga periode 2019-2024.

Angkatan laut saat ini sedang mempersiapkan pembangunan tiga kapal selam lanjutan setelah tiga kapal selam Nagapasa Class selesai tahun ini. Sangat dimungkinkan serial kerjasama transfer teknologi PT PAL dengan Korsel akan terulang kembali. PT PAL saat ini juga sedang mempersiapkan  pembangunan tiga Kapal Cepat Rudal, setelah sukses membangun kapal jenis yang sama “Sampari Class” sebanyak tiga unit.

Setelah memproduksi tigaratusan Panser Anoa berbagai versi PT PINDAD dalam program MEF ketiga juga direncanakan akan membangun tigaratusan Medium Tank Kaplan produksi bersama Turki dan Indonesia. PT Pindad telah banyak memproduksi berbagai jenis alutsista untuk TNI AD termasuk senjata organik perorangan yang membuat TNI AD selalu juara tak tergoyahkan dalam setiap lomba tembak militer tingkat dunia.
Parade HUT TNI
Angkatan udara membutuhkan tambahan tiga skadron tempur dengan harapan terbesar ada di jet tempur paling menggiurkan F16 Viper. Kedatangan Menhan AS beberapa waktu lalu di Jakarta mengisyaratkan kuat kita akan segera mendapatkannya. Kekuatan pukul TNI AU saat ini ada di 8 skadron pesawat tempur. Sementara itu tambahan tiga radar militer diprediksi akan tiba dalam sisa waktu MEF jilid dua saat ini.

Pembentukan armada ketiga TNI AL membutuhkan sebaran kapal perang berbagai jenis.  Dari jumlah 150 kapal perang berbagai jenis yang dimiliki saat ini, angkatan laut Indonesia akan menambah paling sedikit 30 kapal perang baru.  Sampai selesainya MEF ketiga nanti jumlah KRI akan mencapai 180 unit KRI.

Mulai tahun ini program sebaran kapal perang RI dialokasikan untuk 14 pangkalan angkatan laut (Lantamal). Dengan asumsi setiap Lantamal disediakan 3-4 kapal perang berkualifikasi patroli maka ada  sekitar 50 KRI disebar di seluruh Lantamal. Ini adalah strategi untuk gerak cepat armada mengantisipasi pelanggaran teritori laut.

Kita optimis penambahan jumlah armada kapal perang TNI AL bisa tercapai karena dua pertiga kapal perang yang dibutuhkan itu bisa dibuat di PT PAL dan galangan kapal swasta nasional lainnya. Sementara sepertiganya dilakukan melalui kerjasama produksi dengan pihak luar atau membeli utuh untuk kapal perang berkualifikasi Destroyer.

Kita meyakini di babak-babak akhir pemerintahan saat ini selama satu tahun ke depan akan banyak kontrak pangadaan alutsista skala besar.  Dan barangnya akan datang pada saat MEF ketiga berlangsung. Misalnya kontrak pengadaan kapal perang jenis perusak kawal rudal, kapal selam, jet tempur, radar, uac/ucav, tank amfibi dan lain-lain. Ini yang paling realistis. Tapi bisa saja ada kejutan yang lebih hebat misalnya kontrak pengadaan kapal perang jenis Destroyer.

Perjalanan MEF kita adalah pola ukur hitung untuk menyelesaikan perkuatan TNI yang selama puluhan tahun kurang mendapat perhatian. Dampaknya kita sudah tertinggal jauh dengan militer jiran. Oleh sebab itu diniscayakan dengan terus memompakan anggaran pertahanan yang besar dalam program MEF berkesinambungan ketertinggalan itu bisa disejajarkan.

Pertahanan sebuah negara adalah bagian dari kehormatan bernegara, marwah berbangsa. Maka kesediaan mengikhlaskan porsi anggaran pertahanan dalam jumlah terbesar adalah jalan barokah untuk perjuangan perjalanan berbangsa dan bernegara. Jalan barokah itu akan semakin karomah manakala penggunaan anggarannya dipergunakan untuk kemashlahatan tentara, perkuatan alutsista dan kesejahteraan prajurit. Itu saja Jenderal.
****

Jagarin Pane / 07 Feb 2018

Saturday, January 20, 2018

Ketika Harapan Kembali Bersinar

Program jilid dua dari apa yang sudah dikenal selama ini, Minimum Essential Force TNI (MEF)kembali memantik harapan bugar di hari-hari terakhir ini dengan berita-berita yang membangkitkah ghiroh bertentara. Perkuatan militer Indonesia dengan pintu gerbang Kemhan memberikan angin segar program yang membungakan dalam tahun ini. Menambah sejumlah alutsista di segala matra dalam skala besar.

Tiga tahun terakhir ini berbagai jenis alutsista hasil program MEF jilid satu masih terus berdatangan secara bergelombang. Sementara MEF jilid dua sedang mempersiapkan pesanan alutsista skala besar antara lain rencana membeli dua kapal perang besar jenis Destroyer, penambahan kapal selam baru, penambahan  skadron jet tempur selain jet tempur Sukhoi SU35, penambahan 12 radar, melanjutkan program PKR dan lain-lain.
CN235 MPA untuk TNI AL yg diserahkan bulan Januari 2018 
Sementara itu Menteri Pertahanan AS tanggal 21-22 Januari 2018 berkunjung ke Jakarta. Tentu ada tawaran alat militer yang dibawanya. Maka peluang menambah jet tempur made in AS seperti F16 Viper sangat terbuka lebar. Termasuk menambah kuantitas Helikopter serbu paling canggih Apache dari pesanan yang sekarang berjumlah 8 unit bisa ditambah menjadi dua kali lipatnya.

Seperti diketahui pesanan alutsista yang didatangkan dari AS saat ini antara lain 24 jet tempur F16 blok 52Id, 28 Helikopter Bell 412EP, 8 Helikopter Apache. Dalam pandangan kita kunjungan Menhan AS salah satunya adalah memperkuat kemitraan pertahanan strategis. Bahasa militernya adalah membawa daftar alutsista yang boleh dibeli Indonesia. Bahasa bisnisnya nawarin barang untuk dipakai dengan sejumlah harga paketan.

Dalam daftar anggaran belanja yang beredar luas selain membeli 11 jet tempur Sukhoi SU35, Indonesia akan membeli 2 kapal perang jenis Destroyer, 2 kapal perang jenis PKR 10514, 2 kapal selam, sejumlah Radar GCI, UAV, Helikopter Serbu,  Helikopter Angkut, Peluru Kendali, Tank, Tank Amfibi, Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat, MLRS Astross, Pesawat Amfibi, Pesawat Latih dan lain-lain.
Hercules kita dalam latgab TNI skala besar
Sementara 15 jet latih tempur T50 Golden Eagle sedang dipasangi radar canggih yang mampu mendeteksi berbagai sasaran secara jitu, dan mempersenjatainya dengan peluru kendali.  Jadi fungsinya menjadi baby falcon cabe rawit, kecil-kecil menyengat, sangat berguna untuk ronda udara. Memang kalau untuk patroli udara serahkan saja dengan F16 atau Golden Eagle.  Jangan biarkan jet tempur kelas berat Sukhoi membawa misi patroli rutin, tidak efektif.

Di kurikulum MEF Indonesia diwajibkan menambah perbendaharaan 3 skadron jet tempur. Maka harapan besar dari kedatangan Menhan AS adalah memberikan lampu hijau percepatan bagi pengadaan minimal 2 skadron jet tempur F16 Viper, penambahan Apache dan membeli Chinook. Ruang udara yang luas mengharuskan Indonesia memiliki setidaknya 11 jet tempur yang disebar di berbagai pangkalan angkatan udara.

Untuk matra laut penambahan 2 kapal selam sangat membesarkan hati.  Sampai dengan akhir tahun ini kita punya 5 kapal selam.  Maka proyek pengadaan 2 kapal selam baru akan semakin memberikan kekuatan pertahanan bawah air yang bergigi. Termasuk pengadaan 2 Destroyer dan 2 Fregat ditambah sejumlah Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat, LPD, LST akan menjadikan angkatan laut kita semakin tegar dan kuat.

Kehadiran armada BAKAMLA atau Coast Guard Indonesia sangat membantu meringankan tugas TNI AL dalam pengamanan laut khususnya pencurian ikan.  Armada BAKAMLA saat ini sedang dikuatkan dengan pembangunan kapal-kapal baru aneka ukuran. Salah satunya yang terbesar berukuran 115 meter baru saja selesai.  Ini sangat menggembirakan dan dalam lima tahun ke depan armada BAKAMLA akan mencapai 45-50 kapal baru berbagai ukuran.

Di ASEAN ada trend negara jiran melakukan perkuatan militerya secara signifikan. Misalnya Vietnam dan Filipina yang berkonflik teritori dengan Cina di Laut Cina Selatan. Meskipun tidak ada konflik teritori Myanmar, Singapura dan Thailand juga memperkuat militernya. Hanya Malaysia yang agak tersendat pembangunan militernya. Belanja militernya hanya beli yang kecil-kecil saja. Tidak ada belanja militer skala besar selama 7 tahun terakhir ini.

Harapan baru kembali diperlihatkan sinarnya, manakala program MEF jilid dua sudah menggeliat untuk kembali memesan sejumlah alutsista gahar dalam jumlah banyak. Tapi meskipun dibeli dalam jumlah besar tetap saja masih belum mencukupi esensi minimal sebagaimana yang dipersyaratkan. Perlu tiga tahap MEF agar kuantitas minimal alutsista yang diinginkan bisa tercapai.

Kita mengapresiasi program-program Kemhan meski sering kali urut dada atas kinerja eksekusi yang diperlihatkan.  Contohnya dalam proses kontrak Sukhoi SU35 yang bertele-tele.  Kemhan sebagai pemegang anggaran terbesar menjadi sorotan publik soal manajemen anggaran, soal mekanisme pengadaan alutsista.  Terlebih lagi soal komunikasi publikasi yang kurang terukur pesan kuatnya.

Harapan besar kita sandarkan pada kementerian pertahanan untuk membaguskuatkan militer kita. Semoga program MEF jilid dua yang tersisa satu setengah tahun ini mampu dikejar dengan semangat kerjasama dan koordinasi yang menjulang. Anggaran udah disediakan maka belanjalah dengan spirit menguatkan kehebatan dan kedaulatan teritori sembari mengurangi ego sektoral one man show.
****
Jagarin Pane / 20 Januari 2018


Monday, January 15, 2018

Angin Segar Alutsista 2018

Angin segar Alutsista yang mau datang tahun ini :
- 6 Pesawat latih Grob -Jerman
- 6 Pesawat latih KT1 Wong Bee -Korsel
- 7 Helikopter AKS Panther(4 sdh diterima) -Perancis
- 5 Helikopter Apache (3 sdh diterima) -AS
- 6 Helikopter Fennec (6 sdh diterima) -Perancis
- 2 Pesawat angkut Hercules ( 7 sdh diterima) -Australia
- 2 Radar militer Weibel -Denmark
- 1 Kapal selam KRI404 -Korsel-PAL
- 1 Kapal LPD (Landing Plattform Dock) -PAL
- 4 Kapal LST (Landing Ship Tank) -Galangan swasta nasional
- 4 Battery Peluru Kendali Mistral -Perancis
- 4 Battery Peuru Kendali Starstreak -Inggris
- 2 Battery Peluru Kendali Nasams -Norwegia

Sign pengadaan dan proses buat :
- 11 Jet tempur Sukhoi SU35 -Rusia
-   6 Helikopter Combat SAR Caracal -Perancis
-   3 Helikopter Bell 412 EP -AS
-   2 Pesawat  CN295 -Spanyol - PT DI
-   9 Pesawat Casa 212 -PT DI
-   1 Pesawat CN 235 -PT DI
-   4 KCR (Kapal Cepat Rudal) -PAL
-   2 Kapal PKR Sigma 10514 -Belanda-PAL
-   2 Kapal buru ranjau -Jerman
-   1 Kapal OPV -Galangan swasta nasional
-   1 Kapal selam KRI405 -Korsel-PAL
-   4 Kapal Patroli Cepat -Galangan swasta nasional
****
Jagarin Pane / Dari berbagai sumber

Monday, January 8, 2018

Kita Ada Di MEF Dua Lho

Matahari 2018 masih diganggu mendung dan musim hujan yang basah. Bumi nusantara yang hijau permai dan basah ini adalah anugerah yang luar biasa menghantarkan warga negaranya untuk menghirup oksigen segar dengan wajah bugar bersama payung kedaulatan negeri kepulauan NKRI. Payung kedaulatan itu saat ini sedang diperkuat, digagahhebatkan agar mempunyai nilai marwah. Lewat program MEF yang digagas sejak delapan tahun lalu, garda pertahanan negeri ini sedang diperkuat.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah kinerja MEF yang saat ini memasuki episode kedua menampilkan catatan bugar dan segar sebagaimana asupan oksigen hutan tropis, kayaknya beda deh. Kemhan kita yang saat ini berada dalam MEF jilid dua belum mampu menunjukkan kebugaran dalam manajemen komunikasi, koordinasi dan konfirmasi unjuk kerja khususnya pengadaan alutsista. Padahal perjalanan MEF kedua sudah memasuki tahun ketiga setengah.

Apache datang, karya MEF I
MEF (Minimum Essential Force) adalah nama program modernisasi militer Indonesia yang sudah dimulai sejak tahun 2010. Pada program MEF pertama  (2010-2014) jajaran Kemhan telah menunjukkan kelasnya sebagai unit kinerja yang mampu menghasilkan perkuatan alutsista  di segala matra dengan anggaran yang disediakan. Hasilnya bisa kita lihat sekarang dengan kedatangan berbagai jenis alutsista yang canggih, gahar dan berteknologi terkini.

Tetapi jujur harus kita akui program MEF yang sekarang belum menunjukkan kinerja yang kinclong padahal usia program telah memasuki tiga setengah tahun masa kerja. Tidak ada catatan tinta emas yang mau dituliskan sebagai piagam kebagusan kerja. Belum ada program pengadaan alutsista yang bernilai greget untuk bisa disematkan sebagai prestasi kerja.

Proyek pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 terkesan bertele-tele. Terakhir drama yang diperlihatkan adalah saling lempar bola panas antara Kemhan dan Kemdag. Sementara Rusia sejatinya merasa keki dengan permainan ping pong ini, padahal Papa Bear sudah setuju dengan model barter komoditas. Tapi atas nama persahabatan dan butuh uang dia tetap bersabar melihat tingkah polah pembeli yang satu ini.

Setelah menyelesaikan program pembangunan 2 kapal perang jenis Sigma PKR 10514 Martadinata Class, kerjasama transfer teknologi dengan Belanda, belum ada lagi kabar untuk melanjutkan pembangunan kapal perang ketiga dan keempat. Logikanya kalau mau mendapatkan ilmu transfer teknologi kapal perang haruslah membangun minimal 4 unit kapal perang agar ilmunya benar-benar lengket di benak para insinyur kita.
24 F16 Blok 52 Id datang, karya MEF I
Sudah ada contohnya dengan proyek transfer teknologi kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) Makassar Class bersama Korsel. Kita berhasil membangun 4 kapal perang LPD, dua dibangun di Korsel dua lagi di PAL Surabaya.  Kemudian bahkan kita dapat mengekspor 2 kapal perang sejenis ke Filipina murni buatan PAL. Dua-duanya sudah diserahkan kepada Pemerintah Filipina dan sangat membantu dalam operasi militer di Marawi baru-baru ini.

Pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class dengan teknologi Korea Jerman, satu sudah jadi, satu lagi mau diserahkan triwulan I tahun ini dan satu lagi sedang dikerjakan di galangan kapal nasional PT PAL Surabaya. Mestinya bangun lagi dua kapal selam jenis yang sama dengan berbagai penyesuaian di galangan PT PAL. Jangan mudah pindah ke lain hati.  Amanah dan istiqomah akan membawa kita ke derajat fathonah alias cerdas.  Cerdas teknologi dan cerdas bersikap.

Lain lagi dengan Drama “Tersanjung Tersandung Helikopter Agusta Westland AW101”.  Sudah ditolak Presiden Jokowi, masih juga memaksakan untuk tetap mengadakan 1 unit.  Ketika barangnya datang, lalu pada bilang, lho kok datang, kok gak bilang-bilang. Akhirnya si AW101 dimasukkan ke kandang.  KPK datang karena katanya 200 milyar melayang, lalu banyak yang meradang karena KPK mengundang atas nama Undang-Undang.

Anggaran terbesar yang dikucurkan untuk Kemhan tahun 2018 ini adalah bukti bahwa Pemerintah bersama DPR serius banget untuk menggagahkan tentaranya. Sudah terlalu jauh kita tertinggal dalam postur persenjataan TNI.  Maka kita kejar ketertinggalan itu.  Kita buka pengadaan alutsista model transfer teknologi seperti PKR10514, Kapal Selam, Tank. Kita beli Jet Tempur, Tank Amfibi, berbagai jenis Artileri, Peluru Kendali dan lain-lain.
KRI Nagapasa 403, karya MEF I
Juga program pengembangan jet tempur IFX bersama Korsel demi memberikan marwah pada industri pertahanan strategis dalam negeri dimasa mendatang. Ironinya beberapa waktu yang lalu tersiar ke publik Kemhan lupa mengalokasikan dana pengembangan jet tempur IFX yang harus disetor ke Korsel. Menteri Sri Mulyani sampai harus memberikan nasehat halus.

Kita tetap optimis dalam waktu dekat akan ada penandatanganan kontrak pembelian jet tempur Sukhoi SU35. Kita juga memprediksi akan ada lanjutan proyek pembangunan 2 kapal perang Sigma PKR jilid dua. Dan lanjutan pengadaan kapal selam keempat dan kelima melanjutkan kuantitas Nagapasa Class.

Dengan asumsi pada tahun pertama sampai tahun ketiga Kemhan menyelesaikan kedatangan proyek pengadaan alutsista MEF I.  Maka mestinya mulai tahun ini greget proyek pengadaan alutsista skala besar akan diperlihatkan, seperti tambahan minimal 1 skadron jet tempur selain Sukhoi SU35. Pengadaan radar militer, penyelesaian pangkalan militer Natuna, lanjutan proyek Tank Kaplan, produksi Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat dan lain-lain.

Tetapi lebih dari itu unjuk kerja sebuah unit kerja strategis dalam menyelesaikan amanah yang dipercayakan adalah lebih terhormat dengan memberikan informasi progres terkini.  Dengan bahasa manajemen yang tertata dan jelas. Disamping kematangan koordinasi, komunikasi dan konfirmasi sebagai pilar manajemen profesional. Publik bisa menilai kualitas kepemimpinan dari berbagai aspek, salah satunya tidak mencla mencle.
****

Jagarin Pane /08 Januari 2018

Wednesday, December 27, 2017

Yang Terbaru 2017

6 Helikopter Caracal memperkuat TNI AU
3 Apache datang, 5 lagi Maret 2018

6 F16 Blok 52 Id datang, lengkap jadi 24 unit
20 unit Artileri Swa Gerak sudah datang
1 dari 11 unit Helikopter anti kapal selam Panther
7 Hercules dari 9 yg dipesan dari Australia sudah datang
PKR 10514 KRI 331 dan KRI 332 sudah operasional
KRI Bimasuci buatan Spanyol sudah datang
KRI Nagapasa403  sudah datang, 2 lagi menyusul
Oerlikon Skyshield sudah disebar ke pangkalan udara
MLRS Vampire sudah masuk arsenal Marinir
Tank Pindad sudah berparade
Panser Pandur II sudah unjuk diri
Rudal Starstreak sudah disebar ke Obyek Vital
M113 Arisgator sudah sampai
Jagarin Pane / 27-12-2017
****

Friday, December 8, 2017

Menitip Asa Pada Panglima Baru

TNI berganti Panglima, sebuah keniscayaan bagi organisasi angkatan bersenjata yang dinamis dan berjalan bersama perjalanan eksistensi negara. Sebuah pergantian yang lumrah, biasa-biasa saja, sebuah suksesi yang wajib sukses untuk organisasi pertahanan negara yang berkarakter komando.

Panglima yang baru adalah orang nomor satu di matra tentara langit yang sudah digadang-gadang sejak lama. Sangat dekat dengan orang nomor satu di negeri ini, dan inilah modal dasar memilih kepemimpinan strategis. Basisnya adalah kepercayaan dan integritas. Menjadi hal yang wajar ketika Angkatan Udara mendapat kesempatan untuk mengendalikan komando militer republik ini.
24 jet tempur F16 blok 52 Id sdh mengisi skadron tempur TNI AU
Sesungguhnya dari kacamata geostrategis negeri ini, maka benteng pertahanan negeri kita adalah angkatan laut dan angkatan udara udara. Di dua matra ini luasnya teritori yang harus dikawal adalah harga teritori paling mahal harga “pasarnya”. Mengembangkuatkan angkatan laut dan angkatan udara memerlukan investasi besar karena yang berperan besar di matra laut dan udara adalah kekuatan alutsista yang dimiliki.

Poros Maritim yang menjadi cita-cita pemerintahan now memerlukan payung kuat angkatan udara dan angkatan laut. Makanya sangat wajar kalau kita harus memperkuat dua matra ini secara tegas, jelas dan terang. Kita masih membutuhkan setidaknya 3 skadron tempur diluar 11 jet tempur Sukhoi SU35.  Kita perlu sedikitnya 8 kapal selam untuk menjaga ALKI strategis, sejumlah kapal perang destroyer dan fregat, peluru  kendali SAM jarak menengah untuk obyek vital.

Kepulauan Natuna adalah pertarungan yang sesungguhnya manakala kita bertaruh gengsi berteritori di sebuah kawasan yang demam konfliknya berkepanjangan. Makanya pemerintah bersiap diri memagari Natuna demi gengsi, harkat dan kedaulatan berteritori. Pangkalan besar sedang dibangun di Natuna untuk memastikan perlawanan yang menyengat manakala harus berhadapan dengan negara yang haus klaim teritori.
KRI Martadinata 331, produk kerjasama teknologi
Sesuai Undang-Undang, tentara harus fokus pada pertahanan negara. Modernisasi militer Indonesia yang saat ini sedang berlangsung adalah dalam rangka menyinari fokus itu. Persenjataan yang kuat, modern dan berteknologi serta kesejahteraan prajurit adalah peta jalan yang diyakini mampu membuat TNI benar-benar fokus pada urusan pertahanan NKRI.

Oleh sebab itu PanglimaTNI yang baru diharapkan mampu mengedepankan wajah tentara yang sesungguhnya, tentara profesional sebagai wajah pertahanan ibu pertiwi. Memperkuat angkatan laut dan udara adalah dalam rangka menjabarkan dan mengamankan Poros Maritim. Tidak merasa sebagai pemilik hegemoni tetapi merupakan bagian dari komponen penting dan strategis menjaga eksistensi ber NKRI.

Percepatan modernisasi militer kita adalah keharusan yang menjadi wilayah berwajah koordinasi, komunikasi, konfirmasi dan saling percaya. Irama sinergitas intra matra dan antar matra TNI adalah password utama penilaian publik. Juga dengan Kemhan sebagai pintu utama pengambil kebijakan pertahanan dan alutsista. Lihatlah progran MEF 2 kita, sepanjang perjalanan 3 tahun terakhir, adakah kemajuan besar yang didapat dengan anggaran besar yang sudah disediakan. Proses Sukhoi SU35 adalah cerminnya.
Pangkalan kapal selam TNI AL
Konsistensi pengadaan alutsista dengan kerjasama transfer teknologi wajib diteruskan.  Misalnya lanjutan kerjasama pembuatan kapal selam ke 4 dan ke 5 dengan Korsel.  Kita sudah bangun dengan investasi besar galangan kapal selam di Surabaya.  Kita sudah sekolahkan ratusan insinyur ke Korsel selama 6 tahun. PAL saat ini sedang membangun kapal selam ke 3 Nagapasa Class. Pesannya jangan mudah pindah ke lain hati hanya karena rayuan komisi berwajah dollar.

Demikian juga dengan serial PKR (Perusak Kawal Rudal)produksi bersama PAL dan Damen Schelde Belanda sudah mampu membuat dua kapal perang Martadinata Class. Bisa dilanjutkan lagi dengan pembuatan kapal perang ketiga, keempat dan seterusnya. Ini dalam rangka penguasaan teknologi kapal perang yang sudah didepan mata, jangan sia-siakan itu.  Termasuk juga program jet tempur teknologi tinggi KFX/IFX sebagai langkah strategis yang perlu dikawal terus menerus.

Semua itu memerlukan koordinasi dan komunikasi serta lobby yang terus menerus dengan Kemhan sebagai induk semang birokrasi pertahanan dan alutsista.  Kemhan juga dituntut untuk sigap, cepat dan cerdas dalam mengambil keputusan strategis. Bukan ngurusin yang taktis dan teknis.  Contohnya soal kapal selam Nagapasa yang catuan elektriknya kurang bertenaga.  Kan sudah diselesaikan pada waktu Sea Trial di Korsel. Kok malah diumbar di ruang publikasi, teknis banget itu.

Kita bangga jika militer kita kuat dan bertenaga.  Kuat di postur prajurit dengan kemahiran bela diri dan survival yang spartan. Bertenaga karena dipenuhinya alutsista yang dibutuhkan, alutsista yang modern dan berteknologi. Negara yang kuat di bidang militer sudah pasti akan disegani negara lain. Jadi untuk mengganggu ataupun melecehkan teritori kita akan berpikir ulang jika TNI dan alutsistanya minimal sudah memenuhi MEF jilid tiga.

Asa yang baru kita titipkan pada Marsekal berkumis rapi dan berwajah cerah meski rambut kurang sedikit cepak. Harapan besar ada di komando Panglima TNI yang baru ini.  Memperkuat angkatan laut dan udara adalah prioritas karena benteng kedaulatan teritori yang sesungguhnya ada di dua matra itu. Point pentingnya dia dekat dengan RI-1 dan ketika menjadi Irjen Kemhan mampu membongkar korupsi terbesar pengadaan jet tempur F16 dan Helikopter Apache.
****

Jagarin Pane / 07 Des 2017

Wednesday, November 8, 2017

Sudah Kuatkah Kita ?

Berbagai jenis alutsista yang terus berdatangan di tanah air tentu sangat mengembirakan. Program MEF (Minimum Essential Force) yang sudah dimulai sejak tujuh tahun lalu memberikan banyak inventori alutsista berteknologi untuk segala matra.  Pertanyaannya adalah sudah kuatkah kita. Maka jawaban lugasnya adalah belum. Sebab kita baru dalam kondisi untuk memulihkan kondisi persenjataan TNI yang selama ini gizi alutsistanya memprihatinkan.

Berbagai jenis alutsista yang datang mulai dari Tank Leopard, Tank Marder, Panser Anoa, MLRS Astross, Artileri Caesar Nexter, Artileri KH178, KH179, Helikopter Mi35, M117, Bell 412, Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat, Kapal LPD, LST, Korvet, Light Fregat, PKR10514, Kapal Selam, Tank Amfibi BMP3F, Pandur II, Arisgator, MLRS Vampire, RM Grad, berbagai jenis peluru kendali, Jet Tempur F16 blok 52 Id, Golden Eagle, Super Tucano, Hercules, CN 295, Radar Militer, Helikopter Comat SAR Caracal, Helikopter Anti Kapal Selam, Drone, dan lain-lain adalah dalam rangka mencukupi gizi alutsista tentara kita yang selama ini kurang diperhatikan.
Yang baru datang, artileri M109 
Adalah sebuah “fardhu kifayah” alias kewajiban mutlak dari pemerintah untuk memperkuat pertahanan negeri kepulauan ini yang luasnya setara Eropa. Apabila fardu kifayah ini tidak dilaksanakan atau terlambat dilakukan maka menjadi dosa bersama karena warisan NKRI yang kaya dan hebat ini tidak dimarwahkan dan dimartabatkan melalui kekuatan TNI yang sepadan dengan besarnya kedaulatan teritori yang harus dijaga.

Alhamdulillah, dua sektor utama dan vital sedang dihebatkan saat ini. Infrastruktur sedang dikembangkuatkan. Jalan tol dibangun untuk menguatkan daya tahan konektivitas. Jalan-jalan di perbatasan teritori negeri dibanguntumbuhkan untuk mempermudah akses ekonomi dan pertahanan. Pelabuhan laut, Bandar Udara, Bendungan, Jembatan dibaguskan sekaligus ditambah kuantitas dan kualitasnya. Sektor pertahanan juga dikembangkuatkan untuk memastikan kewibawaan teritori NKRI.

Dalam era demokrasi saat ini suara-suara sumbang tentang penguatan infrastruktur dan pertahanan akan selalu ada. Dalam pandangan kita dua sektor ini sangat pantas untuk dinomorsatukan. Kita sudah sangat tertinggal di dua sektor ini.  Kita kejar ketertinggalan itu agar kita mampu bersaing dalam investasi dan kewibawaan kedaulatan. Membangun kekuatan ekonomi tidak bisa tidak harus menguatkan jaringan infrastruktur.  Membangun kekuatan teritori tidak bisa tidak harus menguatkan interoperability alutsista.
Yang baru diresmikan KRI 332 I Gusti Ngurah Rai
Khusus dalam mengembangkuatkan militer, catatan kita adalah lebih seringlah berkoordinasi, berkomunikasi dan berinteraksi antara sesama petinggi. Petinggi Kemhan, petinggi TNI adalah person yang diamanahi untuk menghebatkan tentara kita.  Anggaran sudah disediakan bahkan menjadi nomor satu terbanyak pada tahun 2018. Jangan sampai soal kebijakan pembelian alutsista saling menumpahkan curahan hati ke media atau saling menyalahkan satu sama lain.

Soal pembelian helikopter AW101 misalnya menjadi contoh kurangnya koordinasi dan bahkan saling melempar tanggung jawab, akhirnya terbuka korupsinya. Juga proses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang memakan waktu bertahun-tahun memberikan kesan kurang greget dalam bermanajemen. Anggaran sudah disediakan jauh-jauh hari namun proses pengadaannya bertele-tele. Duit sudah ada kok malah mbulet.

Ketika jaman Trikora dan Dwikora kita hanya butuh tujuh tahun untuk menghebatkan militer kita menjadi yang terkuat di bumi selatan khatulistiwa.  Padahal waktu itu kekuatan ekonomi kita tidak sehebat sekarang ini.  Menghebatkan militer pada jaman Trikora dan Dwikora tidak ada ribut-ribut soal pembelian alutsista, tidak juga terdengar adanya korupsi. Semua dilakukan demi sebuah marwah: Bangsaku hebat, ini dadaku mana dadamu.

Sekarang, kekuatan militer kita belum sehebat jaman Dwikora yang memiliki 12 kapal selam, pesawat pembom strategis, ratusan kapal perang.  Pertumbuhan ekonomi jauh lebih baik, GDP kita masuk 15 besar dunia, tingkat kesejahteraan meningkat bagus.  Tetapi manejemen pengadaan alutsista tidak sehebat jaman Dwikora yang benar-benar fokus untuk menguatkan militer kita. Karena kondisi regional waktu itu penuh dengan konflik dan konfrontasi.

Minggu-minggu mendatang akan datang lagi kapal latih layar tinggi KRI Bimasuci, kemudian kapal selam KRI Ardadedali 404, 5 jet tempur F16 blok 52, 2 Hercules, Torpedo kapal selam, Helikopter Apache, Helikopter Mi26, peluru kendali darat ke udara jarak sedang NASAMS dan lain-lain. Kontrak pengadaan Sukhoi SU35 dalam waktu dekat, juga kontrak-kontrak pengadaan yang lain seperti radar Weibel, Oerlikon Skyshield, kapal perang jenis PKR10514 tahap kedua, kapal cepat rudal.

Tahun 2018 dan seterusnya akan banyak kontrak pengadaan alutsista skala besar.  Peluang besar ada di pengadaan jet tempur F16 Viper, lanjutan pengadaan kapal selam ke 4 dan 5 Nagapasa Class, produksi Tank Pindad-FNSS Turki, Panser Amfibi, MLRS Vampire, Nassams batch 2, satelit militer, pesawat AEW&C dan lain-lain. Termasuk juga penyelesaian tahap akhir pangkalan militer segala matra di Natuna, pangkalan AL di Teluk Ratai Lampung dan  penempatan permanen 1 flight jet tempur di Kupang dan Biak.

Menghebatkan infrastruktur dan pertahanan adalah soal keberanian dan kepastian.  Bahwa dua sektor ini sangat dibutuhkan bagi sebuah negara kepulauan yang luas dan indah ini. Kita sudah tertinggal jauh di bidang ini. Kita kejar ketertinggalan ini, kita bangun infrastruktur di segala lini termasuk di kawasan perbatasan. Kita kuatkan benteng pertahanan dan sinergi keduanya, infrastruktur dan pertahanan akan memastikan bahwa kita sedang membangun harga diri, harga investasi dan harga kesejahteraan. Percayalah.
****
Jagarin Pane / 08 Nopember 2017


Thursday, October 26, 2017

Anggaran Pertahanan 2018 Terbesar



Berpacu dalam melodi, anggaran pertahanan dan infrastruktur tahun 2018 saling memacu, saling memperkuat. Benteng pertahanan diperkuat, infrastruktur juga dihebatkan. Beli Sukhoi SU35, Hercules, Helikopter Mi26, Apache, Blackhawk, CN295, Tank amfibi BT3F, MLRS Vampire, Pandur II, Arisgator, Radar Weibel, Kapal selam, PKR 10514 lanjutan Martadinata Class, KCR, KPC, LST, LPD, Nassam, Oerlikon Skyshield, Drone, Astross, ampun dah banyak betul Jendral.

APBN Final 2018
****
Jagarin Pane / 26 Oktober 2017

Saturday, October 21, 2017

Santri Tentara, Tentara Santri

Selama puluhan tahun tidak terjawab siapa sebenarnya yang membunuh Jendral Aubertin Walter Sothern Mallaby di Surabaya tanggal 30 Oktober 1945 malam hari.  Selama waktu itu pula belum terjawab mengapa begitu heroiknya rangkaian pertempuran di kota Surabaya, padahal organisasi tentara baru saja dibentuk.  Bagaimana mereka para pemuda memobilisasi kekuatan yang demikian hebatnya untuk melawan ribuan tentara Sekutu dari Brigade 49  Divisi 23 The Fighting Cock Inggris yang kenyang pengalaman tempur PD II.

Fakta sejarah yang selama ini diabu-abukan dalam buku sejarah kita akhirnya diperjelas hitam putihnya. Faktanya adalah dalam sebuah kemelut yang terjadi di Jembatan Merah Surabaya Jendral  Malllaby ditembak oleh seorang pemuda santri. Hal ini juga dipertegas oleh Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo baru-baru ini. Bahwa pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945 sesungguhnya didominasi oleh peran para santri dan lasykar santri karena TNI sendiri baru lahir 5 Oktober 1945.
Mobil Brigjen Mallaby yang terbakar habis
Resolusi Jihad yang dikeluarkan di Surabaya dalam pertemuan para ulama se Jawa dan Madura tanggal 21-22 Oktober 1945 adalah pemicu pertempuran besar itu. Resolusi ini memberikan semangat yang luar biasa bagi para pemuda santri untuk berjuang membela tanah airnya. Aliran tentara Sekutu yang merembes di berbagai kota besar di Indonesia khususnya pulau Jawa memberikan kesan seakan proklamasi kemerdekaan Indonesia dianggap pernyataan ompong. Maka puluhan ribu pemuda santri dan lasykar Islam tampil menunjukkan kekuatannya.

Saat ini nilai kejuangan para santri dicatatkan dalam sejarah tanah air dengan menetapkan tanggal 22 Oktober setiap tahun sebagai hari santri nasional, mulai tahun 2015. Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari tanggal 22 Oktober 1845 adalah nilai emasnya. Mengapa baru sekarang ditetapkan. Jawabnya karena baru lima tahun terakhir ini kita “sadar diri”. Baru bisa merenungkan dengan jernih tanpa politisasi makna perjuangan para santri yang selama ini dianggap tidak bergaung di kancah perang kemerdekaan.

Para santri dan ulama adalah komponen hijau daun tanah air yang mampu memberikan kesejukan pada warna republik meskipun sering diganggu oleh hiruk pikuk kemarahan dan sumpah serapah dari daun-daun yang lain. Disitulah nilai tambahnya, tidak mudah terpancing meski sudah diatas ubun-ubun “serangan artilerinya”. Santri sejati dan ulama adalah perekat nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Wathoniyah meski sering menjadi obyek pelengkap penderita dari tema-tema penghasutan.

Para santri dan kader militan dari komponen hijau daun yang berkarakter nahdliyin adalah komponen terbesar yang masih bisa menjadi indikator stabilitas perjalanan eksitensi negeri ini. Jumlah ini ada puluhan juta di tanah air, karakternya menyejukkan dan tak suka ribut. Meski berkarakter low profile dan sering menjadi obyek cemoohan karena tak mampu berkonsolidasi, sekali waktu perlu melakukan show of force untuk menunjukkan kekuatan militan hijau daun “berkarakter tentara”.

Maka di puncak Gunung Lawu Tawangmangu dipertunjukkan kekuatan militan itu tanggal 14-15 Oktober 2017. Puluhan ribu kekuatan militan santri dan ulama hijau daun berkumpul dalam semangat bertanah air yang kuat, ghiroh menjaga republik, hubbul wathon minal iman.  Kader militan hijau daun sekali waktu perlu mempertunjukkan jati dirinya yang nasionalis religi karena itu adalah amanah, bahwa mencintai tanah air dan membela tanah air adalah sebagian dari iman.

Sementara itu doktrin tentara kita jelas, mati terhormat demi kejayaan NKRI.  Pemerintah saat ini sedang membaguskan kekuatan alutsista tentaranya yang juga berseragam hijau daun.  Semua dibenahi, infrastruktur berupa pangkalan militer dibangunbesarkan. Berbagai jenis alutsista canggih didatangkan untuk memperkuat benteng pertahanan republik. Ini dilakukan demi marwah teritori NKRI, demi kedaulatan NKRI, menjaga eksistensi bernegara dengan segala dinamikanya.
Puluhan ribu Santri dan Ulama berkumpul di Gn Lawu
Para santri kita sesungguhnya juga berjiwa tentara terutama jika disejajarkan bangunan nasionalismenya, semangatnya untuk mencintai tanah airnya. Sejarah santri adalah lembaran-lembaran untuk selalu mencintai Indonesia.  Resolusi jihad adalah bukti ketika proklamasi 17 Agustus 1945 dianggap tidak ada. Puluhan ribu pemuda santri dengan lasykar-lasykarnya bersama dukungan ulama melakukan pertempuran hebat di seluruh Indonesia.

Kurikulum tentara adalah kontrak mati pada NKRI, garda terdepan untuk melindungi, menjaga dan menjamin eksistensi NKRI.  Sesungguhnya karakter tentara dan karakter Santri adalah sama, mencintai tanah air, membela tanah air dan pilar-pilar didalamnya.  Tentara hijau daun dan santri hijau daun adalah dua komponen yang saling menguatkan dan menghebatkan. Yang satu dengan kekuatan alutsista, yang satu lagi dengan kekuatan doa.
 
Maka ketika tampilan menggemuruh puluhan ribu santri dan ulama Nusantara di Gunung Lawu beristighosah dan berikrar di pagi sejuk ba’da Subuh, tanpa publikasi luas, itu adalah pesona heroik hijau daun yang ingin menyampaikan pesan indah. Bukankah tanah air ini alamnya begitu ramah, bukankah ukhuwah kita begitu barokah, bukankah kebersamaan ini begitu karomah. Bukankah hijau daun itu pesona indah.

Hijau daun itu adalah tentara dan santri. Hijau daun itu adalah amanah, istiqomah, fathonah. Untuk memberikan suasana sejuk dan nyaman ber Indonesia nan indah. Ini bukan soal berpemerintahan, ini soal bernegara. Bagi kita mencintai bangsa ini tidak ada hubungannya dengan siapa yang sedang berkuasa karena bangsa ini lebih mahal nilainya dari sekedar ribut ribut soal kekuasaan dan pemerintahan.  Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017.
*****
Jagarin Pane /19 Oktober 2017