Monday, January 8, 2018

Kita Ada Di MEF Dua Lho

Matahari 2018 masih diganggu mendung dan musim hujan yang basah. Bumi nusantara yang hijau permai dan basah ini adalah anugerah yang luar biasa menghantarkan warga negaranya untuk menghirup oksigen segar dengan wajah bugar bersama payung kedaulatan negeri kepulauan NKRI. Payung kedaulatan itu saat ini sedang diperkuat, digagahhebatkan agar mempunyai nilai marwah. Lewat program MEF yang digagas sejak delapan tahun lalu, garda pertahanan negeri ini sedang diperkuat.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah kinerja MEF yang saat ini memasuki episode kedua menampilkan catatan bugar dan segar sebagaimana asupan oksigen hutan tropis, kayaknya beda deh. Kemhan kita yang saat ini berada dalam MEF jilid dua belum mampu menunjukkan kebugaran dalam manajemen komunikasi, koordinasi dan konfirmasi unjuk kerja khususnya pengadaan alutsista. Padahal perjalanan MEF kedua sudah memasuki tahun ketiga setengah.

Apache datang, karya MEF I
MEF (Minimum Essential Force) adalah nama program modernisasi militer Indonesia yang sudah dimulai sejak tahun 2010. Pada program MEF pertama  (2010-2014) jajaran Kemhan telah menunjukkan kelasnya sebagai unit kinerja yang mampu menghasilkan perkuatan alutsista  di segala matra dengan anggaran yang disediakan. Hasilnya bisa kita lihat sekarang dengan kedatangan berbagai jenis alutsista yang canggih, gahar dan berteknologi terkini.

Tetapi jujur harus kita akui program MEF yang sekarang belum menunjukkan kinerja yang kinclong padahal usia program telah memasuki tiga setengah tahun masa kerja. Tidak ada catatan tinta emas yang mau dituliskan sebagai piagam kebagusan kerja. Belum ada program pengadaan alutsista yang bernilai greget untuk bisa disematkan sebagai prestasi kerja.

Proyek pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 terkesan bertele-tele. Terakhir drama yang diperlihatkan adalah saling lempar bola panas antara Kemhan dan Kemdag. Sementara Rusia sejatinya merasa keki dengan permainan ping pong ini, padahal Papa Bear sudah setuju dengan model barter komoditas. Tapi atas nama persahabatan dan butuh uang dia tetap bersabar melihat tingkah polah pembeli yang satu ini.

Setelah menyelesaikan program pembangunan 2 kapal perang jenis Sigma PKR 10514 Martadinata Class, kerjasama transfer teknologi dengan Belanda, belum ada lagi kabar untuk melanjutkan pembangunan kapal perang ketiga dan keempat. Logikanya kalau mau mendapatkan ilmu transfer teknologi kapal perang haruslah membangun minimal 4 unit kapal perang agar ilmunya benar-benar lengket di benak para insinyur kita.
24 F16 Blok 52 Id datang, karya MEF I
Sudah ada contohnya dengan proyek transfer teknologi kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) Makassar Class bersama Korsel. Kita berhasil membangun 4 kapal perang LPD, dua dibangun di Korsel dua lagi di PAL Surabaya.  Kemudian bahkan kita dapat mengekspor 2 kapal perang sejenis ke Filipina murni buatan PAL. Dua-duanya sudah diserahkan kepada Pemerintah Filipina dan sangat membantu dalam operasi militer di Marawi baru-baru ini.

Pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class dengan teknologi Korea Jerman, satu sudah jadi, satu lagi mau diserahkan triwulan I tahun ini dan satu lagi sedang dikerjakan di galangan kapal nasional PT PAL Surabaya. Mestinya bangun lagi dua kapal selam jenis yang sama dengan berbagai penyesuaian di galangan PT PAL. Jangan mudah pindah ke lain hati.  Amanah dan istiqomah akan membawa kita ke derajat fathonah alias cerdas.  Cerdas teknologi dan cerdas bersikap.

Lain lagi dengan Drama “Tersanjung Tersandung Helikopter Agusta Westland AW101”.  Sudah ditolak Presiden Jokowi, masih juga memaksakan untuk tetap mengadakan 1 unit.  Ketika barangnya datang, lalu pada bilang, lho kok datang, kok gak bilang-bilang. Akhirnya si AW101 dimasukkan ke kandang.  KPK datang karena katanya 200 milyar melayang, lalu banyak yang meradang karena KPK mengundang atas nama Undang-Undang.

Anggaran terbesar yang dikucurkan untuk Kemhan tahun 2018 ini adalah bukti bahwa Pemerintah bersama DPR serius banget untuk menggagahkan tentaranya. Sudah terlalu jauh kita tertinggal dalam postur persenjataan TNI.  Maka kita kejar ketertinggalan itu.  Kita buka pengadaan alutsista model transfer teknologi seperti PKR10514, Kapal Selam, Tank. Kita beli Jet Tempur, Tank Amfibi, berbagai jenis Artileri, Peluru Kendali dan lain-lain.
KRI Nagapasa 403, karya MEF I
Juga program pengembangan jet tempur IFX bersama Korsel demi memberikan marwah pada industri pertahanan strategis dalam negeri dimasa mendatang. Ironinya beberapa waktu yang lalu tersiar ke publik Kemhan lupa mengalokasikan dana pengembangan jet tempur IFX yang harus disetor ke Korsel. Menteri Sri Mulyani sampai harus memberikan nasehat halus.

Kita tetap optimis dalam waktu dekat akan ada penandatanganan kontrak pembelian jet tempur Sukhoi SU35. Kita juga memprediksi akan ada lanjutan proyek pembangunan 2 kapal perang Sigma PKR jilid dua. Dan lanjutan pengadaan kapal selam keempat dan kelima melanjutkan kuantitas Nagapasa Class.

Dengan asumsi pada tahun pertama sampai tahun ketiga Kemhan menyelesaikan kedatangan proyek pengadaan alutsista MEF I.  Maka mestinya mulai tahun ini greget proyek pengadaan alutsista skala besar akan diperlihatkan, seperti tambahan minimal 1 skadron jet tempur selain Sukhoi SU35. Pengadaan radar militer, penyelesaian pangkalan militer Natuna, lanjutan proyek Tank Kaplan, produksi Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat dan lain-lain.

Tetapi lebih dari itu unjuk kerja sebuah unit kerja strategis dalam menyelesaikan amanah yang dipercayakan adalah lebih terhormat dengan memberikan informasi progres terkini.  Dengan bahasa manajemen yang tertata dan jelas. Disamping kematangan koordinasi, komunikasi dan konfirmasi sebagai pilar manajemen profesional. Publik bisa menilai kualitas kepemimpinan dari berbagai aspek, salah satunya tidak mencla mencle.
****

Jagarin Pane /08 Januari 2018

Wednesday, December 27, 2017

Yang Terbaru 2017

6 Helikopter Caracal memperkuat TNI AU
3 Apache datang, 5 lagi Maret 2018

6 F16 Blok 52 Id datang, lengkap jadi 24 unit
20 unit Artileri Swa Gerak sudah datang
1 dari 11 unit Helikopter anti kapal selam Panther
7 Hercules dari 9 yg dipesan dari Australia sudah datang
PKR 10514 KRI 331 dan KRI 332 sudah operasional
KRI Bimasuci buatan Spanyol sudah datang
KRI Nagapasa403  sudah datang, 2 lagi menyusul
Oerlikon Skyshield sudah disebar ke pangkalan udara
MLRS Vampire sudah masuk arsenal Marinir
Tank Pindad sudah berparade
Panser Pandur II sudah unjuk diri
Rudal Starstreak sudah disebar ke Obyek Vital
M113 Arisgator sudah sampai
Jagarin Pane / 27-12-2017
****

Friday, December 8, 2017

Menitip Asa Pada Panglima Baru

TNI berganti Panglima, sebuah keniscayaan bagi organisasi angkatan bersenjata yang dinamis dan berjalan bersama perjalanan eksistensi negara. Sebuah pergantian yang lumrah, biasa-biasa saja, sebuah suksesi yang wajib sukses untuk organisasi pertahanan negara yang berkarakter komando.

Panglima yang baru adalah orang nomor satu di matra tentara langit yang sudah digadang-gadang sejak lama. Sangat dekat dengan orang nomor satu di negeri ini, dan inilah modal dasar memilih kepemimpinan strategis. Basisnya adalah kepercayaan dan integritas. Menjadi hal yang wajar ketika Angkatan Udara mendapat kesempatan untuk mengendalikan komando militer republik ini.
24 jet tempur F16 blok 52 Id sdh mengisi skadron tempur TNI AU
Sesungguhnya dari kacamata geostrategis negeri ini, maka benteng pertahanan negeri kita adalah angkatan laut dan angkatan udara udara. Di dua matra ini luasnya teritori yang harus dikawal adalah harga teritori paling mahal harga “pasarnya”. Mengembangkuatkan angkatan laut dan angkatan udara memerlukan investasi besar karena yang berperan besar di matra laut dan udara adalah kekuatan alutsista yang dimiliki.

Poros Maritim yang menjadi cita-cita pemerintahan now memerlukan payung kuat angkatan udara dan angkatan laut. Makanya sangat wajar kalau kita harus memperkuat dua matra ini secara tegas, jelas dan terang. Kita masih membutuhkan setidaknya 3 skadron tempur diluar 11 jet tempur Sukhoi SU35.  Kita perlu sedikitnya 8 kapal selam untuk menjaga ALKI strategis, sejumlah kapal perang destroyer dan fregat, peluru  kendali SAM jarak menengah untuk obyek vital.

Kepulauan Natuna adalah pertarungan yang sesungguhnya manakala kita bertaruh gengsi berteritori di sebuah kawasan yang demam konfliknya berkepanjangan. Makanya pemerintah bersiap diri memagari Natuna demi gengsi, harkat dan kedaulatan berteritori. Pangkalan besar sedang dibangun di Natuna untuk memastikan perlawanan yang menyengat manakala harus berhadapan dengan negara yang haus klaim teritori.
KRI Martadinata 331, produk kerjasama teknologi
Sesuai Undang-Undang, tentara harus fokus pada pertahanan negara. Modernisasi militer Indonesia yang saat ini sedang berlangsung adalah dalam rangka menyinari fokus itu. Persenjataan yang kuat, modern dan berteknologi serta kesejahteraan prajurit adalah peta jalan yang diyakini mampu membuat TNI benar-benar fokus pada urusan pertahanan NKRI.

Oleh sebab itu PanglimaTNI yang baru diharapkan mampu mengedepankan wajah tentara yang sesungguhnya, tentara profesional sebagai wajah pertahanan ibu pertiwi. Memperkuat angkatan laut dan udara adalah dalam rangka menjabarkan dan mengamankan Poros Maritim. Tidak merasa sebagai pemilik hegemoni tetapi merupakan bagian dari komponen penting dan strategis menjaga eksistensi ber NKRI.

Percepatan modernisasi militer kita adalah keharusan yang menjadi wilayah berwajah koordinasi, komunikasi, konfirmasi dan saling percaya. Irama sinergitas intra matra dan antar matra TNI adalah password utama penilaian publik. Juga dengan Kemhan sebagai pintu utama pengambil kebijakan pertahanan dan alutsista. Lihatlah progran MEF 2 kita, sepanjang perjalanan 3 tahun terakhir, adakah kemajuan besar yang didapat dengan anggaran besar yang sudah disediakan. Proses Sukhoi SU35 adalah cerminnya.
Pangkalan kapal selam TNI AL
Konsistensi pengadaan alutsista dengan kerjasama transfer teknologi wajib diteruskan.  Misalnya lanjutan kerjasama pembuatan kapal selam ke 4 dan ke 5 dengan Korsel.  Kita sudah bangun dengan investasi besar galangan kapal selam di Surabaya.  Kita sudah sekolahkan ratusan insinyur ke Korsel selama 6 tahun. PAL saat ini sedang membangun kapal selam ke 3 Nagapasa Class. Pesannya jangan mudah pindah ke lain hati hanya karena rayuan komisi berwajah dollar.

Demikian juga dengan serial PKR (Perusak Kawal Rudal)produksi bersama PAL dan Damen Schelde Belanda sudah mampu membuat dua kapal perang Martadinata Class. Bisa dilanjutkan lagi dengan pembuatan kapal perang ketiga, keempat dan seterusnya. Ini dalam rangka penguasaan teknologi kapal perang yang sudah didepan mata, jangan sia-siakan itu.  Termasuk juga program jet tempur teknologi tinggi KFX/IFX sebagai langkah strategis yang perlu dikawal terus menerus.

Semua itu memerlukan koordinasi dan komunikasi serta lobby yang terus menerus dengan Kemhan sebagai induk semang birokrasi pertahanan dan alutsista.  Kemhan juga dituntut untuk sigap, cepat dan cerdas dalam mengambil keputusan strategis. Bukan ngurusin yang taktis dan teknis.  Contohnya soal kapal selam Nagapasa yang catuan elektriknya kurang bertenaga.  Kan sudah diselesaikan pada waktu Sea Trial di Korsel. Kok malah diumbar di ruang publikasi, teknis banget itu.

Kita bangga jika militer kita kuat dan bertenaga.  Kuat di postur prajurit dengan kemahiran bela diri dan survival yang spartan. Bertenaga karena dipenuhinya alutsista yang dibutuhkan, alutsista yang modern dan berteknologi. Negara yang kuat di bidang militer sudah pasti akan disegani negara lain. Jadi untuk mengganggu ataupun melecehkan teritori kita akan berpikir ulang jika TNI dan alutsistanya minimal sudah memenuhi MEF jilid tiga.

Asa yang baru kita titipkan pada Marsekal berkumis rapi dan berwajah cerah meski rambut kurang sedikit cepak. Harapan besar ada di komando Panglima TNI yang baru ini.  Memperkuat angkatan laut dan udara adalah prioritas karena benteng kedaulatan teritori yang sesungguhnya ada di dua matra itu. Point pentingnya dia dekat dengan RI-1 dan ketika menjadi Irjen Kemhan mampu membongkar korupsi terbesar pengadaan jet tempur F16 dan Helikopter Apache.
****

Jagarin Pane / 07 Des 2017

Wednesday, November 8, 2017

Sudah Kuatkah Kita ?

Berbagai jenis alutsista yang terus berdatangan di tanah air tentu sangat mengembirakan. Program MEF (Minimum Essential Force) yang sudah dimulai sejak tujuh tahun lalu memberikan banyak inventori alutsista berteknologi untuk segala matra.  Pertanyaannya adalah sudah kuatkah kita. Maka jawaban lugasnya adalah belum. Sebab kita baru dalam kondisi untuk memulihkan kondisi persenjataan TNI yang selama ini gizi alutsistanya memprihatinkan.

Berbagai jenis alutsista yang datang mulai dari Tank Leopard, Tank Marder, Panser Anoa, MLRS Astross, Artileri Caesar Nexter, Artileri KH178, KH179, Helikopter Mi35, M117, Bell 412, Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat, Kapal LPD, LST, Korvet, Light Fregat, PKR10514, Kapal Selam, Tank Amfibi BMP3F, Pandur II, Arisgator, MLRS Vampire, RM Grad, berbagai jenis peluru kendali, Jet Tempur F16 blok 52 Id, Golden Eagle, Super Tucano, Hercules, CN 295, Radar Militer, Helikopter Comat SAR Caracal, Helikopter Anti Kapal Selam, Drone, dan lain-lain adalah dalam rangka mencukupi gizi alutsista tentara kita yang selama ini kurang diperhatikan.
Yang baru datang, artileri M109 
Adalah sebuah “fardhu kifayah” alias kewajiban mutlak dari pemerintah untuk memperkuat pertahanan negeri kepulauan ini yang luasnya setara Eropa. Apabila fardu kifayah ini tidak dilaksanakan atau terlambat dilakukan maka menjadi dosa bersama karena warisan NKRI yang kaya dan hebat ini tidak dimarwahkan dan dimartabatkan melalui kekuatan TNI yang sepadan dengan besarnya kedaulatan teritori yang harus dijaga.

Alhamdulillah, dua sektor utama dan vital sedang dihebatkan saat ini. Infrastruktur sedang dikembangkuatkan. Jalan tol dibangun untuk menguatkan daya tahan konektivitas. Jalan-jalan di perbatasan teritori negeri dibanguntumbuhkan untuk mempermudah akses ekonomi dan pertahanan. Pelabuhan laut, Bandar Udara, Bendungan, Jembatan dibaguskan sekaligus ditambah kuantitas dan kualitasnya. Sektor pertahanan juga dikembangkuatkan untuk memastikan kewibawaan teritori NKRI.

Dalam era demokrasi saat ini suara-suara sumbang tentang penguatan infrastruktur dan pertahanan akan selalu ada. Dalam pandangan kita dua sektor ini sangat pantas untuk dinomorsatukan. Kita sudah sangat tertinggal di dua sektor ini.  Kita kejar ketertinggalan itu agar kita mampu bersaing dalam investasi dan kewibawaan kedaulatan. Membangun kekuatan ekonomi tidak bisa tidak harus menguatkan jaringan infrastruktur.  Membangun kekuatan teritori tidak bisa tidak harus menguatkan interoperability alutsista.
Yang baru diresmikan KRI 332 I Gusti Ngurah Rai
Khusus dalam mengembangkuatkan militer, catatan kita adalah lebih seringlah berkoordinasi, berkomunikasi dan berinteraksi antara sesama petinggi. Petinggi Kemhan, petinggi TNI adalah person yang diamanahi untuk menghebatkan tentara kita.  Anggaran sudah disediakan bahkan menjadi nomor satu terbanyak pada tahun 2018. Jangan sampai soal kebijakan pembelian alutsista saling menumpahkan curahan hati ke media atau saling menyalahkan satu sama lain.

Soal pembelian helikopter AW101 misalnya menjadi contoh kurangnya koordinasi dan bahkan saling melempar tanggung jawab, akhirnya terbuka korupsinya. Juga proses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang memakan waktu bertahun-tahun memberikan kesan kurang greget dalam bermanajemen. Anggaran sudah disediakan jauh-jauh hari namun proses pengadaannya bertele-tele. Duit sudah ada kok malah mbulet.

Ketika jaman Trikora dan Dwikora kita hanya butuh tujuh tahun untuk menghebatkan militer kita menjadi yang terkuat di bumi selatan khatulistiwa.  Padahal waktu itu kekuatan ekonomi kita tidak sehebat sekarang ini.  Menghebatkan militer pada jaman Trikora dan Dwikora tidak ada ribut-ribut soal pembelian alutsista, tidak juga terdengar adanya korupsi. Semua dilakukan demi sebuah marwah: Bangsaku hebat, ini dadaku mana dadamu.

Sekarang, kekuatan militer kita belum sehebat jaman Dwikora yang memiliki 12 kapal selam, pesawat pembom strategis, ratusan kapal perang.  Pertumbuhan ekonomi jauh lebih baik, GDP kita masuk 15 besar dunia, tingkat kesejahteraan meningkat bagus.  Tetapi manejemen pengadaan alutsista tidak sehebat jaman Dwikora yang benar-benar fokus untuk menguatkan militer kita. Karena kondisi regional waktu itu penuh dengan konflik dan konfrontasi.

Minggu-minggu mendatang akan datang lagi kapal latih layar tinggi KRI Bimasuci, kemudian kapal selam KRI Ardadedali 404, 5 jet tempur F16 blok 52, 2 Hercules, Torpedo kapal selam, Helikopter Apache, Helikopter Mi26, peluru kendali darat ke udara jarak sedang NASAMS dan lain-lain. Kontrak pengadaan Sukhoi SU35 dalam waktu dekat, juga kontrak-kontrak pengadaan yang lain seperti radar Weibel, Oerlikon Skyshield, kapal perang jenis PKR10514 tahap kedua, kapal cepat rudal.

Tahun 2018 dan seterusnya akan banyak kontrak pengadaan alutsista skala besar.  Peluang besar ada di pengadaan jet tempur F16 Viper, lanjutan pengadaan kapal selam ke 4 dan 5 Nagapasa Class, produksi Tank Pindad-FNSS Turki, Panser Amfibi, MLRS Vampire, Nassams batch 2, satelit militer, pesawat AEW&C dan lain-lain. Termasuk juga penyelesaian tahap akhir pangkalan militer segala matra di Natuna, pangkalan AL di Teluk Ratai Lampung dan  penempatan permanen 1 flight jet tempur di Kupang dan Biak.

Menghebatkan infrastruktur dan pertahanan adalah soal keberanian dan kepastian.  Bahwa dua sektor ini sangat dibutuhkan bagi sebuah negara kepulauan yang luas dan indah ini. Kita sudah tertinggal jauh di bidang ini. Kita kejar ketertinggalan ini, kita bangun infrastruktur di segala lini termasuk di kawasan perbatasan. Kita kuatkan benteng pertahanan dan sinergi keduanya, infrastruktur dan pertahanan akan memastikan bahwa kita sedang membangun harga diri, harga investasi dan harga kesejahteraan. Percayalah.
****
Jagarin Pane / 08 Nopember 2017


Thursday, October 26, 2017

Anggaran Pertahanan 2018 Terbesar



Berpacu dalam melodi, anggaran pertahanan dan infrastruktur tahun 2018 saling memacu, saling memperkuat. Benteng pertahanan diperkuat, infrastruktur juga dihebatkan. Beli Sukhoi SU35, Hercules, Helikopter Mi26, Apache, Blackhawk, CN295, Tank amfibi BT3F, MLRS Vampire, Pandur II, Arisgator, Radar Weibel, Kapal selam, PKR 10514 lanjutan Martadinata Class, KCR, KPC, LST, LPD, Nassam, Oerlikon Skyshield, Drone, Astross, ampun dah banyak betul Jendral.

APBN Final 2018
****
Jagarin Pane / 26 Oktober 2017

Saturday, October 21, 2017

Santri Tentara, Tentara Santri

Selama puluhan tahun tidak terjawab siapa sebenarnya yang membunuh Jendral Aubertin Walter Sothern Mallaby di Surabaya tanggal 30 Oktober 1945 malam hari.  Selama waktu itu pula belum terjawab mengapa begitu heroiknya rangkaian pertempuran di kota Surabaya, padahal organisasi tentara baru saja dibentuk.  Bagaimana mereka para pemuda memobilisasi kekuatan yang demikian hebatnya untuk melawan ribuan tentara Sekutu dari Brigade 49  Divisi 23 The Fighting Cock Inggris yang kenyang pengalaman tempur PD II.

Fakta sejarah yang selama ini diabu-abukan dalam buku sejarah kita akhirnya diperjelas hitam putihnya. Faktanya adalah dalam sebuah kemelut yang terjadi di Jembatan Merah Surabaya Jendral  Malllaby ditembak oleh seorang pemuda santri. Hal ini juga dipertegas oleh Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo baru-baru ini. Bahwa pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945 sesungguhnya didominasi oleh peran para santri dan lasykar santri karena TNI sendiri baru lahir 5 Oktober 1945.
Mobil Brigjen Mallaby yang terbakar habis
Resolusi Jihad yang dikeluarkan di Surabaya dalam pertemuan para ulama se Jawa dan Madura tanggal 21-22 Oktober 1945 adalah pemicu pertempuran besar itu. Resolusi ini memberikan semangat yang luar biasa bagi para pemuda santri untuk berjuang membela tanah airnya. Aliran tentara Sekutu yang merembes di berbagai kota besar di Indonesia khususnya pulau Jawa memberikan kesan seakan proklamasi kemerdekaan Indonesia dianggap pernyataan ompong. Maka puluhan ribu pemuda santri dan lasykar Islam tampil menunjukkan kekuatannya.

Saat ini nilai kejuangan para santri dicatatkan dalam sejarah tanah air dengan menetapkan tanggal 22 Oktober setiap tahun sebagai hari santri nasional, mulai tahun 2015. Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari tanggal 22 Oktober 1845 adalah nilai emasnya. Mengapa baru sekarang ditetapkan. Jawabnya karena baru lima tahun terakhir ini kita “sadar diri”. Baru bisa merenungkan dengan jernih tanpa politisasi makna perjuangan para santri yang selama ini dianggap tidak bergaung di kancah perang kemerdekaan.

Para santri dan ulama adalah komponen hijau daun tanah air yang mampu memberikan kesejukan pada warna republik meskipun sering diganggu oleh hiruk pikuk kemarahan dan sumpah serapah dari daun-daun yang lain. Disitulah nilai tambahnya, tidak mudah terpancing meski sudah diatas ubun-ubun “serangan artilerinya”. Santri sejati dan ulama adalah perekat nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Wathoniyah meski sering menjadi obyek pelengkap penderita dari tema-tema penghasutan.

Para santri dan kader militan dari komponen hijau daun yang berkarakter nahdliyin adalah komponen terbesar yang masih bisa menjadi indikator stabilitas perjalanan eksitensi negeri ini. Jumlah ini ada puluhan juta di tanah air, karakternya menyejukkan dan tak suka ribut. Meski berkarakter low profile dan sering menjadi obyek cemoohan karena tak mampu berkonsolidasi, sekali waktu perlu melakukan show of force untuk menunjukkan kekuatan militan hijau daun “berkarakter tentara”.

Maka di puncak Gunung Lawu Tawangmangu dipertunjukkan kekuatan militan itu tanggal 14-15 Oktober 2017. Puluhan ribu kekuatan militan santri dan ulama hijau daun berkumpul dalam semangat bertanah air yang kuat, ghiroh menjaga republik, hubbul wathon minal iman.  Kader militan hijau daun sekali waktu perlu mempertunjukkan jati dirinya yang nasionalis religi karena itu adalah amanah, bahwa mencintai tanah air dan membela tanah air adalah sebagian dari iman.

Sementara itu doktrin tentara kita jelas, mati terhormat demi kejayaan NKRI.  Pemerintah saat ini sedang membaguskan kekuatan alutsista tentaranya yang juga berseragam hijau daun.  Semua dibenahi, infrastruktur berupa pangkalan militer dibangunbesarkan. Berbagai jenis alutsista canggih didatangkan untuk memperkuat benteng pertahanan republik. Ini dilakukan demi marwah teritori NKRI, demi kedaulatan NKRI, menjaga eksistensi bernegara dengan segala dinamikanya.
Puluhan ribu Santri dan Ulama berkumpul di Gn Lawu
Para santri kita sesungguhnya juga berjiwa tentara terutama jika disejajarkan bangunan nasionalismenya, semangatnya untuk mencintai tanah airnya. Sejarah santri adalah lembaran-lembaran untuk selalu mencintai Indonesia.  Resolusi jihad adalah bukti ketika proklamasi 17 Agustus 1945 dianggap tidak ada. Puluhan ribu pemuda santri dengan lasykar-lasykarnya bersama dukungan ulama melakukan pertempuran hebat di seluruh Indonesia.

Kurikulum tentara adalah kontrak mati pada NKRI, garda terdepan untuk melindungi, menjaga dan menjamin eksistensi NKRI.  Sesungguhnya karakter tentara dan karakter Santri adalah sama, mencintai tanah air, membela tanah air dan pilar-pilar didalamnya.  Tentara hijau daun dan santri hijau daun adalah dua komponen yang saling menguatkan dan menghebatkan. Yang satu dengan kekuatan alutsista, yang satu lagi dengan kekuatan doa.
 
Maka ketika tampilan menggemuruh puluhan ribu santri dan ulama Nusantara di Gunung Lawu beristighosah dan berikrar di pagi sejuk ba’da Subuh, tanpa publikasi luas, itu adalah pesona heroik hijau daun yang ingin menyampaikan pesan indah. Bukankah tanah air ini alamnya begitu ramah, bukankah ukhuwah kita begitu barokah, bukankah kebersamaan ini begitu karomah. Bukankah hijau daun itu pesona indah.

Hijau daun itu adalah tentara dan santri. Hijau daun itu adalah amanah, istiqomah, fathonah. Untuk memberikan suasana sejuk dan nyaman ber Indonesia nan indah. Ini bukan soal berpemerintahan, ini soal bernegara. Bagi kita mencintai bangsa ini tidak ada hubungannya dengan siapa yang sedang berkuasa karena bangsa ini lebih mahal nilainya dari sekedar ribut ribut soal kekuasaan dan pemerintahan.  Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017.
*****
Jagarin Pane /19 Oktober 2017

Wednesday, October 4, 2017

Ketika Tentara Memamerkan Diri

Gelar kekuatan pengawal republik tanggal 5 Oktober 2017 di Cilegon Banten menjadi ajang pameran pembangunan kekuatan militer Indonesia yang saat ini sedang giat-giatnya menggagahkan dirinya. Militer Indonesia sedang berada di ruang belanja alutsista selama delapan tahun terakhir ini untuk memenuhi kekuatan “gizi” alutsista, sebuah syarat utama yang harus dipenuhi untuk mendapat predikat gagah perkasa.

Ketika tentara belanja alutsista saat ini maka anggaran yang diperlukan tidak lagi bilangan berapa trilyun tetapi sudah memasuki kuantitas ratusan trilyun rupiah. Menghebatkan sosok militer dari sebuah negara kepulauan terbesar didunia memang perlu stok anggaran besar.  Karena selama puluhan tahun militer kita hanya mendapatkan “gizi” alutsista seadanya dengan alasan lebih mengutamakan pembangunan sektor lain.

Maka ketika era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memaklumatkan modernisasi militer kita tahun 2010, anggaran yang dikucurkan selama lima tahun terakhir pemerintahannya mencapai 150 trilyun rupiah dengan aneka ragam pengadaan alutsista yang dijelaskan dengan cerdas oleh Kementerian Pertahanan. Publik dapat mengetahui informasi pengadaan berbagai alutsista dengan terang benderang.
Helikopter anti kapal selam Panther, kita beli 11 unit
Misalnya program beli 103 tank Leopard, program pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52Id, beli 16 Super Tucano, beli 16 Golden Eagle, beli 36 Astross, beli 37 Nexter, beli peluru kendali berbagai jenis, pengadaan 3 kapal selam dengan transfer teknologi dan banyak lagi ragam alutsista yang dibeli semuanya dipublikasikan. Alutsista yang dibeli utuh atau melalui kerjasama transfer teknologi atau yang sudah bisa dibuat sendiri dapat diketahui publik dengan jelas dan cerah.

Kita bisa melihatnya sekarang dan utamanya di ajang gelar kekuatan militer pada HUT TNI ke 72 tanggal 5 Oktober 2017 di Banten. Tiga matra TNI menampilkan berbagai jenis alutsista berteknologi yang membuat kita merasa bangga.  Bangga punya tentara yang gagah dengan derap langkap tegap, bangga punya alutsista yang canggih dan berteknologi. Tiga matra ini menampilkan model simulasi pertempuran modern di hadapan Presiden dan para undangan lain.

Membangun kekuatan militer dari sebuah negara kepulauan terbesar di dunia memerlukan anggaran besar. Tetapi ini bukan biaya alias beban untuk republik melainkan investasi yang melekat dari sebuah perjalanan ber eksistensi NKRI.  Militer adalah penjamin kelangsungan bernegara, berteritori yang bermarwah dan bagian dari kewibawaan berbangsa disamping tentu saja kesejahteraan ekonomi.
KRI Nagapasa 403, ada tiga unit yang kita pesan
Perkembangan situasi yang dinamis di sekitar wilayah teritori Indonesia mengharuskan kita memperkuat barikade teritori, dan itu belum terlambat. Pembangunan pangkalan militer tiga matra berkarakter sarang lebah di Natuna saat ini sedang berlangsung. Nantinya diharapkan mampu “membela dirinya sendiri” dari serbuan asing sebelum bala bantuan datang dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Demikian juga pangkalan angkatan udara di Medan, Tarakan, Kupang, Morotai dan Biak akan dikembangkan terus dan menjadi home base jet tempur, pesawat intai, drone dan paskhas untuk memastikan kewibawaan teritori Indonesia yang indah ini. Ini pekerjaan besar dan memerlukan waktu.  Itu sebabnya program MEF yang sudah dimulai tahun 2010 dan kita saat ini ada di program MEF II yang berkelanjutan dengan rezim yang berbeda tetap konsisten dengan modernisasi tentara kita. Kita apresiasi dua rezim yang berbeda dengan program berkelanjutan.

Sesungguhnya kita butuh waktu yang lebih cepat untuk perkuatan alutsista kita.  Maka sangat disayangkan terjadinya proses yang bertele-tele dari pengadaan jet tempur Sukhoi SU35.  Anggaran sudah disediakan pemerintah namun banyaknya campur tangan berbagai pihak membuat proses pengadaan jet tempur gahar itu menjadi gunjingan publik. Sama halnya ketika para petinggi negeri ini gaduh soal senjata milik salah satu institusi.  Masing-masing mengedepankan egonya.  Lebih lucu lagi sore membantah ada barang datang, malamnya baru mengakui.
Tank Harimau Hitam, kita produksi 100 unit tahun depan
Pertunjukan silat argumen diantara para petinggi itu sejatinya akan kalah hebat dengan pertunjukan kehebatan hulubalang republik yang dipertontonkan pada hari jadinya di Cilegon Banten. Dentuman demi dentuman dari berbagai alutsista gahar yang memperlihatkan sinergi pertempuran modern di hadapan Presiden Jokowi mestinya menjadikan renungan bathin.  Bahwa kita ini ber NKRI, kita ini ber Indonesia, kita ini bersaudara sebangsa, kita ini bangsa hebat, kita ini bangsa besar, kita ini bangsa kaya.

Maka wahai petinggi perbaguslah koordinasi dan sinergi, komunikasi dan hirarki, silaturrahmi dan introperability. Pertempuran modern ditentukan oleh interoperability dan kekuatan alutsista yang dimiliki. Bukan oleh omongan yang tak bersinergi dan hobby membantah. Publik pasti akan mentertawakan para pemimpinnya.  NKRI perlu militer yang kuat, anggaran sudah sedang dan akan terus dipenuhi pemerintah. Maka percepatlah proses pengadaannya,  jelaskanlah ke publik, buanglah ego sektoral. Jangan sampai publik sampai pada kesimpulan : kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah.

Selamat hari ulang tahun TNI ke 72
Adrenalin NKRI adalah TNI, kewibawaan NKRI adalah TNI, marwah teritori NKRI adalah TNI

****
Jagarin Pane / 04 Oktober 2017


Saturday, September 16, 2017

Gelar Kekuatan Menuju Hebat

Gelar kekuatan TNI akan diperlihatkan pada serebrasi HUT nya yang ke 72 tanggal 5 Oktober 2017 nanti di Cilegon Banten. Pameran menuju hebat kira-kira begitu meski harus diakui sampai saat ini sesungguhnya kekuatan militer kita belum masuk kategori hebat.  Tapi menuju hebat bolehlah karena jalan kearah itu sedang dilakukan melalui program strategis MEF I, II dan III. Kita sedang berada di MEF II.

Mengapa harus punya militer yang hebat, jawab singkatnya karena kita negara besar, negara kaya. Kaya sumber daya alam, besar sumber daya manusianya. Jadi kalau masih ada pikiran sempit yang mengatakan tidak perlu punya militer kuat maka pola pikir itu dinyatakan dengan pasti kurang wawasan kebangsaannya. Militer adalah adrenalin sebuah negara, dia juga adalah benteng eksistensi sekaligus pengawal teritori.
Apache TNI AD, kebanggaan tersendiri
Berpuluh tahun kita selalu disajikan format baku bahwa pembangunan ekonomi adalah nomor satu. Benar juga karena pengalaman pemerintahan Soekarno yang mendahulukan penguatan militer daripada ekonomi membuat kita tak beranjak petumbuhan ekonominya. Tapi jangan lupa penguatan militer itu karena tantangan jaman yaitu mengembalikan Papua ke pemilik sejati dan membendung neo kolonialisme lewat Dwikora.

Baru delapan tahun terakhir ini format itu disesuaikan dengan rumus sama. Dua-duanya seiring sejalan, pembangunan kekuatan ekonomi dilakukan bersamaan dengan pembangunan kekuatan militer. Ekonomi kita saat ini berada di lingkungan elite dunia masuk kelompok G20 dengan urutan ke 15. Militer kita juga ternyata tidak jauh-jauh rankingnya dari klasemen kekuatan ekonomi yaitu berada di peringkat 14 besar dunia.

Tantangan berteritori kita sejatinya luar biasa. Luasnya teritori yang harus dijaga dan membendung ekspansi teritori dari sebuah negara hebat di Asia adalah kewaspadaan yang harus dilakukan terus menerus. Maka perkuatan militer yang sedang dilakukan selama delapan tahun terakhir ini adalah dalam upaya penguatan pertahanan yang harus berkualifikasi hebat juga. Semua matra TNI harus diperkuat.

Anggaran yang dikucurkan untuk menguatkan militer kita menjadi yang terbesar dibanding kementerian yang lain. Catatannya adalah program hebat ini dengan anggaran yang besar harus dikelola bagus dan dikawal dengan kecerdasan bermanajemen di Kemhan.  Termasuk kecerdasan menyampaikan program kepada masyarakat republik.  Publikasi resmi terhadap rencana pengadaan alutsista harus disampaikan agar tidak menimbulkan fitnah.

Jangan sampai berita dan gosip yang didapat adalah versi makelar sales sementara berita yang sesungguhnya disembunyikan, tahu-tahu barang ghoibnya sudah datang. Contohnya kendaraan lapis baja M113. Maka konferensi pers yang dilakukan Kemhan soal pembelian Sukhoi SU35 baru-baru ini adalah langkah cerdas agar publik tidak terombang ambing.  Sebelum konferensi pers ada yang ngomong soal Gripen, seakan-akan sudah yakin akan dibeli, padahal itu versi salesman yang tentu saja menjagokan produknya.

Korupsi pembelian Apache, F16 serta  AW101 adalah cermin buruk yang menjadi ibrah untuk kita semua yang berhati jernih. Dua kasus korupsi itu saja punya nilai nominal rupiah yang luar biasa besarnya. Ironinya adalah soal helikopter AW101, saling lempar tanggung jawab lalu menyampaikannya ke ranah publik.  Ini menjadi sebuah gambaran kurang bersinarnya jalur koordinasi, konfirmasi dan komunikasi diantara pemangku jabatan strategis.
Kapal selam KRI Nagapasa, luar biasa
Menguatkan tentara adalah juga menguatkan bangsaku, tapi jangan pula diartikan sebagai menguatkan “bank saku” jenderal. Bangsaku ini harus kuat ekonominya dan harus kuat militernya. Maka pembangunan kekuatan ekonomi yang sedang berlangsung saat ini, pembangunan infrastruktur  di segala sektor termasuk pembangunan kekuatan militer kita adalah proses yang sangat membanggakan dan menjanjikan.

Maka pameran kekuatan militer kita yang akan disajikan dalam HUT TNI bulan depan adalah laporan pertanggungjawaban militer kepada rakyatnya yang telah bersusah payah patuh bayar pajak, retribusi, sumbangan, donasi, infaq untuk bangsanya. Sebagai bentuk tanggung jawab itulah gelar parade militer akan menampilkan alutsista-alutsista baru yang canggih dengan “jalan cerita” upacara yang menunjukkan nilai hebat.

Alutsista-alutsista baru yang akan ditampilkan adalah sang primadona kapal selam KRI Nagapasa 403. Kemudian helikopter serang Apache, Helikopter Blackhawk, Helikopter Anti kapal selam Panther, Kapal perang PKR10514 Martadinata Class, Tank medium Kaplan, Panser Pandur II, Arisgator, Artileri swagerak M109, MLRS Vampire, peluru kendali Starstreak, roket Rhan450.  Alutsista yang lain adalah MLRS Astross II Mk6, Artileri Caesar Nexter, Artileri KH178, KH179, Tank Leopard, Marder, M113, Panser Anoa, Jet tempur F16, Sukhoi, Golden Eagle, Supertucano dan masih banyak yang lain, bisa disaksikan sendiri pada hari H nya.

Saat ini Indonesia sedang melakukan pemesanan dua kapal penyapu ranjau dari Jerman.  Sementara KRI Bimasuci sedang dalam persiapan menuju tanah air dari pabrikannya di Spanyol. Kita juga sedang menantikan kedatangan kapal selam kedua dari Korsel akhir tahun ini. PT PAL saat ini sedang membangun 1 kapal selam “Nagapasa Class” kerjasama dengan Korsel dan 1 kapal perang jenis KCR 60m.  Beberapa galangan kapal dalam negeri saat ini sedang membuat 1 kapal perang jenis LPD, 3 kapal perang jenis LST, 1 kapal perang jenis logistik BCM, 6 kapal perang jenis KPC. Tahun depan akan dimulai lagi proyek PKR tahap II dengan membangun 3 kapal perang jenis Martadinata Class.

Angkatan udara kita memesan 11 jet tempur Sukhoi SU35, menanti kedatangan 5 jet tempur F16 blok 52 dari AS, instalasi radar dan rudal 15 jet tempur T-50, upgrade 10 jet tempur F16 blok 15 Ocu, mendatangkan 4 Hercules dari Australia, menambah 2 CN295, menunggu kedatangan peluru kendali jarak sedang Nasam, menambah radar militer di 4 titik pertahanan, memperkuat pangkalan AU di Kupang, Natuna, Tarakan, Batam dan Biak. 

Kita memang sedang menuju hebat walaupun sesungguhnya kalimat yang tepat adalah mengejar ketertinggalan. Tertinggal sama negara tetangga. Jadi nanti jika MEF III yang berakhir tahun 2024 barulah kriteria setara bisa disandangkan. Setara bisa juga diartikan hebat karena mampu mengejar ketertinggalan menuju kesetaraan. Selamat hari ulang tahun, semoga semakin hebat dan perkasa mengawal republik tercinta tanpa mengenal lelah.
****
Semarang / 16 September 2017


Friday, September 8, 2017

Menyikapi RISING 50 Tahun

Singapura menjamu Indonesia secara meriah di acara perjalanan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara.  Presiden Jokowi dan rombongan besarnya berada di negeri pulau itu selama dua hari 6-7 September 2017 untuk merayakan ulang tahun persahabatan kedua negara yang memasuki usia setengah abad. Acara yang paling gagah adalah tampilnya 20 jet tempur F16 kedua negara membentuk formasi angka limapuluh melintas Marina Bay disaksikan PM Lee Hsien Loong dan Presiden Jokowi.

RISING 50 tahun atau Republik Indonesia-Singapura 50 tahun adalah sebuah perjalanan dinamika bertetangga yang diisi dengan berbagai hal mulai dari kemarahan, keramahan, keangkuhan, keanggunan dan sebagainya mewarnai jalannya pertetanggaan itu. Bulan September 1967 secara resmi hubungan diplomatik Indonesia-Singapura dibuka dengan menempatkan masing-masing Duta Besar meski “cuaca bathin” waktu itu masih penuh permusuhan sebagai dampak DWIKORA.

Belum ada setahun hubungan itu memburuk dan nyaris menimbulkan pertempuran antara kedua negara. Marinir Indonesia siap menyerbu Singapura. Sebabnya adalah dieksekusinya dua marinir Indonesia Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968. Usman Harun melakukan infiltrasi dan sabotase di Orchard Road tahun 1965 ketika konfrontasi Indonesia-Malaysia memuncak. Singapura bagian dari Federasi Tanah Melayu pada waktu itu.
10 F16 Indonesia, 10 F16 Singapura
Tensi kemarahan itu berakhir dengan kunjungan PM Lee Kwan Yew ke Jakarta tahun 1973 dan menaburkan bunga di makam Usman dan Harun di TMP Kalibata. Presiden Soeharto bersedia menjamu PM Lee dengan syarat dia harus datang ke makam Usman Harun. Ini kemenangan diplomatik Indonesia. Dengan semangat ASEAN kedua negara mampu membangun dan merawat persahabatan berbasis keramahan dan saling menyapa.

Dalam perjalanannya kemudian Singapura berhasil membangun pertumbuhan ekonominya menjadi sebuah negara maju dan sejahtera termasuk juga membangun kekuatan militernya menjadi kekuatan sarang lebah yang menyengat. Sementara Indonesia, sebuah negara kepulauan terbesar dengan sumber daya alam yang kaya raya dan sumber daya manusia yang besar “baru mau akan” menjadi negara maju sejahtera. Pembangunan kekuatan militer kita tersendat selama puluhan tahun.

Maka sikap angkuh pun ditunjukkan negeri mungil itu di berbagai hal. Ketika para koruptor negeri ini bersembunyi disana, tak ada keinginan untuk membantu memulangkan dengan alasan tidak ada perjanjian ekstradisi. Ketika mau dibuat perjanjian pinjam lahan untuk latihan militernya mereka tidak mau dikaitkan dengan perjanjian ekstradisi. Kadang-kadang deru jet tempur mereka yang sedang latihan di lahan sempit negaranya menyentuh teritori Batam. Yang lebih menyakitkan kapal selam mereka bebas berkeliaran di perairan kita.

Yang heboh tentu saja ketika kita hendak memberi nama sebuah kapal perang kita dengan nama KRI USMAN HARUN bulan Februari 2014. Singapura mempertunjukkan diplomasi kekanak-kanakan dengan menyamai Usman dan Harun sebagai teroris.  Mereka keberatan jika satu kapal perang dari tiga kapal perang yang dibeli Indonesia diberi nama kedua pahlawan nasional itu.  Bahkan mereka membatalkan 100 undangan untuk Kemhan Indonesia yang akan menghadiri Singapore Airshow 2014.  Juga mereka keberatan jika kapal perang itu singgah di Batam.  Lucu ya.

Tapi kali ini kita bersikap tegas dan lantang.  Petinggi militer dan diplomatik kita bersuara seragam. Tidak boleh ada intervensi soal nama itu karena itu hak Republik Indonesia.  Singapura terdiam terpaku. Juga soal Tax Amnesty. Sementara kita jalan terus. Kekuatan ekonomi kita sudah menembus 15 besar dunia maka kita ikut group elite G20 dan nomor satu di ASEAN. Militer kita juga ternyata menduduki ranking 14 besar dunia, nomor satu di ASEAN. Pembangunan kekuatan militer kita berjalan terus dengan percaya diri.

Dalam strategi militer sekuat apapun militer Singapura tetap memiliki titik lemah fatal yaitu satu titik itu saja. Meski dia punya kekuatan udara yang luar biasa yang katanya bisa hancurkan Jakarta dalam hitungan jam tapi sesungguhnya kelemahannya ada di satu titik itu saja sementara kita terdiri dari ribuan titik yang menyebar luas.  Coba kita letakkan ASTROSS dan NEXTER di Batam, lalu bombardir Changi dan Paya Lebar. Meskipun jet tempurnya berhasil bom Jakarta tapi tentu mereka tak bisa pulang karena pangkalan militernya sudah hancur.

Kekuatan ekonomi  dan kekuatan militer kita saat ini tentu menjadi perhitungan Singapura.  Maka diplomasi RISING TREE yang dipertunjukkan kemarin merupakan sebuah upaya bermanis wajah untuk sahabatnya yang sedang menuju negara hebat.  Indonesia sedang membangun infrastruktur ekonomi secara besar-besaran, juga penguatan militer yang luar biasa. Singapura jelas mengamati perubahan hebat tetangganya itu.

Maka pesannya adalah, bertetanggalah dengan semangat kesetaraan, berdiplomasilah dengan bahasa ramah bukan marah, bersikaplah anggun bukan angkuh karena Indonesia yang tak akan mampu ditandingi Singapura sepanjang sejarah adalah kekuatan nasionalisnya, kekuatan sumber daya alamnya dan kekuatan sumber daya manusianya. Takdir Singapura adalah bertetangga seumur hidup dengan Indonesia. Hubungan itu saling membutuhkan, jangan merasa Indonesia butuh Singapura tapi ke depan justru Singapura butuh Indonesia.

Raungan 20 jet tempur F16 dengan membentuk formasi angka lima puluh kemarin begitu spektakuler maknanya. Angka lima diisi dengan 10 jet tempur Indonesia dan angka nol diisi dengan 10 jet tempur Singapura adalah gambaran kesetaraan itu.  Hubungan militer yang setara, hubungan diplomatik yang setara, hubungan ekonomi yang saling menguntungkan adalah bingkai bertetangga yang indah antara Indonesia dan Singapura.  Maka bertetanggalah dengan anggun dan ramah, kita akan membalasnya dengan sapa dan senyum, tak lupa sambil belanja terus di negeri tujuan wisata dan shopping center itu. Bisa aja.
****
Jagarin Pane / 8 September 2017