Saturday, November 12, 2016

After Indo Defence 2016

Perhelatan industri pertahanan melalui pameran alutsista Indo Defence baru saja usai.  Gelaran produksi alutsista baik dari dalam negeri dan luar negeri yang berlangsung tanggal 2-5 Nopember 2016 di JIExpo Kemayoran Jakarta itu memperlihatkan semaraknya penawaran jual beli mesin militer. Indo Defence 2016 yang digelar dua tahun sekali, diikuti 670 perusahaan alutsista dari 28 negara. Tentu yang pengen “ditembak” adalah sebuah negara kepulauan yang sedang memodernisasi militernya, Indonesia.

Kabar-kabar yang membungakan hati diperlihatkan after Indo Defence digelar. Kabar-kabar itu setidaknya menjanjikan sebuah harapan besar akan terwujudnya sebuah postur militer Indonesia yang berotot.  Apalagi dengan kucuran anggaran yang membesar dari tahun ke tahun dan mulai menggunakan basis PDB. Tentu kita semua menyambut gembira karena salah satu pilar penyangga NKRI diperkuat, dibaguskan dan digagahkan.
Kapal selam KRI Nagapasa 403, segera datang
Kemhan menyatakan akan kembali memesan 3 kapal selam modern. Seperti kita ketahui saat ini Indonesia sedang menantikan selesainya proyek 3 kapal selam Changbogo kerjasama produksi dengan Korsel. Kapal selam pertama dan kedua dibuat di Korsel dan akan diserahkan bulan Februari dan Oktober 2017. Kapal selam ketiga diproses di PAL Surabaya. Kita berharap pesanan 3 kapal selam baru itu adalah dengan melanjutkan proyek Changbogo agar investasi infrastruktur dan “sekolah” para insinyur kita ke Korsel bisa menunjukkan hasil karyanya.

Sementara untuk proyek kapal perang SIGMA PKR 10514, membangun dua kapal perang kerjasama dengan Belanda akan ditambah lagi sehingga menjadi 4 unit.  Dua kapal perang yang sudah uji laut itu KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Ray 332 akan mendapat teman baru. Dalam pola transfer teknologi ini, kita mendapatkan opsi membangun sampai 20 kapal perang.  Artinya PT PAL  sudah bisa membangun kapal perang striking force setara dengan gurunya.

PT PAL sudah dipercaya membangun dua kapal perang LPD untuk militer Filipina. Ilmu membuat kapal jenis LPD ini didapat dari gurunya Korsel.  Indonesia memesan empat LPD, dua dibuat di Korsel dan dua lagi dibuat di PAL Surabaya.  Hasilnya cemerlang karena si murid yang bernama PAL itu jenius, dan Filipina tertarik dan pesan 2 LPD, satu sudah diserahkan, satu lagi Maret tahun depan. Di Indo Defence kemarin Malaysia juga tertarik untuk membangun LPD nya di PAL.
KRI Martadinata 331, lagi sea trial


Marinir Indonesia sudah memesan 20 unit artileri LG1 MKIII Nexter. Nah di Indo Defence TNI AD menyatakan minatnya untuk mendapatkan alutsista ini. Marinir kita juga kembali memesan sedikitnya 30 unit tank amfibi BMP 3F untuk menambah jumlah 60 tank jenis yang sama yang sudah dimiliki. TNI AD memesan 50 unit panser Badak buatan Pindad dan 50 unit ranpur anti ranjau yang bernama Sanca. Proyek Sanca adalah kerjasama militer dengan Bushmaster Australia.

Galangan kapal swasta nasional di Lampung juga kebagian order. Setelah mendapat pesanan membuat 1 kapal perang LST untuk TNI AL, perusahaan swasta nasional ini mendapat order membuat 2 kapal perang LCU ukuran besar untuk TNI AD. Galangan kapal swasta nasional di Batam juga kebagian buat kapal patroli lepas pantai (OPV) kerjasama dengan DCNS Belanda. Kita ketahui perusahaan di Batam ini sudah mampu membuat dan menyelesaikan 8 kapal perang jenis KCR (Kapal Cepat Rudal) untuk TNI AL. Saat ini sedang mengerjakan kapal Coast Guard ukuran besar untuk Bakamla.

Yang menarik proyek kerjasama pembuatan medium Tank antara Pindad dan FNSS Turki sudah menampakkan “jalan kehidupannya”.  Kalau ini sukses tentu Indonesia sudah bisa membuat tank tempur yang berkualitas. Jadi kombinasi Panser Anoa, Panser Badak, Tank buatan Pindad akan menjadi tulang punggung kekuatan TNI AD dari industri pertahanan dalam negeri. Pindad bersama PAL sudah menunjukkan kehebatannya dalam membangun industri pertahanan dalam negeri.  Apalagi jika proyek jet tempur KFX/IFX kerjasama PT DI dengan Korsel berhasil, maka lengkaplah sudah kita mampu menyajikan beragam alutsista strategis untuk tentara republik ini.

Tank Pindad-FNSS, wooww

Dalam waktu dekat kita juga akan menerima 6 helikopter Combat SAR EC 725 Super Cougar, 2 helikopter anti kapal selam, 2 helikopter Fennec.  Beberapa waktu lalu galangan kapal swasta nasional sudah menyelesaikan 5 kapal perang patroli cepat untuk TNI AL yaitu KRI Tatihu 853, KRI Ibakora 854, KRI Makerel 855, KRI Torani 860 dan KRI Lepu 861. Sementara pesawat Hercules yang didatangkan dari Australia sudah mencapai 6 unit dari 9 pesanan.

Ramai sekali suasana pesan datang beragam jenis alutsista negeri ini. Belum lagi rencana mengadakan 18 unit MLRS Astross Brazil.  Kita sudah punya 36 unit MLRS Astross, sepertinya masih kurang.  Juga pengadaan peluru kendali jarak sedang SAM, tambahan oerlikon skyshield, sejumlah radar militer untuk Bengkulu, NTT, Morotai. Paket persenjataan peluru kendali jarak menengah untuk jet tempur F16 dari AS juga sudah diambang kedatangan. Helikopter Apache yang pesanan pertama 8 unit akan ditambah lagi menjadi 16 unit.

Jadi Indo Defence kemarin menjadi tempat yang terang benderang untuk memprediksi isian alutsista TNI dalam masa mendatang.  Pesannya jelas, belilah sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan.  Kelola anggaran dengan baik, hindari sikut menyikut satu sama lain, penuhi gudang arsenal TNI dengan alutsista berkualitas, sebar ke seluruh pelosok tanah air.  Itu sajalah harapan kami sebagai rakyat, bangga punya TNI yang kuat dan gagah.
****

Jagarin Pane / 12 Nopember 2016

Wednesday, November 2, 2016

Kembali Mengasah Pedang

Hanya berjarak waktu sebulan dari latihan sebelumnya, militer Indonesia kembali mengasah pedang dengan menggelar dan menggelegarkan pulau Natuna melalui simulasi pertempuran darat bersama aneka ragam alutsista dan lebih 4000 prajurit matra darat.  Mengapa kembali digelar latihan perang di pulau garis depan itu, padahal TNI AU baru saja menggelar unjuk kekuatan besar-besaran disana. Inilah pertanyaan yang diomongi banyak orang.

Jawaban diplomatisnya, ini kan teritori sah kita yang posisinya ada di garis depan, pulau terluar. Jadi Seluruh matra TNI wajib mendiagnosa detail wilayah perbatasan yang lagi demam sebagai antisipasi. Jawaban militernya, jangan coba-coba menganggu wilayah teritori NKRI, berani masuk digebuk.  Jawaban Presiden Joko Widodo lebih sederhana lagi, ini perintah langsung dari saya sebagai Pangti. Ayo para jiran mau ngomong apa.
MLRS Astross II Mk6, ikut ke Natuna
Maka selama dua pekan ini Natuna didatangi kiriman alutsista dari Jawa.  Ada yang lewat laut ada yang lewat udara. Tank Leopard yang bobotnya 63 ton harus dilayarkan dengan kapal ADRI bersama panser Anoa, Tank APC M113, Tank Marder, Tank AMX, Tank Scorpion. Sayangnya pada saat diperlukan kapal khusus angkut tank Leopard KRI Teluk Bintuni 520 masuk dok. Yang menarik MLRS Astross dan artileri 155mm Caesar Nexter bisa diangkut dengan Hercules sehingga mempercepat pergerakan alutsista.

Berbagai jenis Helikopter tempur yang dimiliki TNI AD dikerahkan ke Natuna misalnya Heli serbu Mi35, Bell 412Ep, Mi17 dan lain-lain. Begitu seriusnya latihan ini sampai-sampai Penerbad menarik pulang 3 Helikopter Mi17 yang sedang bertugas menjalankan misi PBB di Mali. Heli Mi17 diangkut pulang dengan menggunakan pesawat Antonov langsung ke Halim. Simulasi pertempuran darat ini diyakini akan menjadi unjuk kekuatan yang terbesar dengan pengerahan alutsista modern yang dimiliki TNI AD.

Dengan pergerakan dan penggelaran alutsista  di Natuna, tentu berdampak bagus bagi rasa nasionalisme patriotik warga kita yang berdomisili disana. Dan memang harus begitu, dipertunjukkan bahwa kalian yang berada di garis depan teritori RI ada dalam perlindungan TNI, kalian dipayungi oleh tentara pengawal republik. Siapapun yang ada di perbatasan.

Cina, walaupun tidak menampakkan reaksi diplomatik tetapi jujur saja akan mengintip suasana latihan tempur itu. Ini hal yang biasa dalam kacamata militer.  Apalagi dengan kecanggihan teknologi satelit dan UAV. Termasuk juga AS dan Singapura akan memantau serius jalannya latihan tempur itu. Latihan antar satuan tempur TNI AD melibatkan batalyon kavaleri, artileri, infanteri mekanis, arhanud, zeni tempur, raiders, penerbad. Ini juga menguji kesiapan interoperability sistem komunikasi, koordinasi dan persenjataan.
Artileri Caesar Nexter, ikut meramaikan
Nilai tambah latihan tempur TNI AD yang dijadwalkan dimulai tanggal 10 Nopember 2016 ini akan kembali disaksikan oleh Presiden Jokowi bersama seluruh Gubernur di Indonesia. Ini juga bagian dari pesan jelas itu bahwa Natuna bagian NKRI. Para Gubernur datang untuk merasakan suasana pertempuran di Natuna.  Kalau itu terlaksana maka hanya selang waktu satu bulan Presiden kita kembali lagi mengunjung Natuna. Bukan kah ini sebuah pesan yang jelas. Sudah jelas kan.

Berbagai skenario jalannya pertempuran sudah disetting. Misalnya kalau “doktrin berani masuk digebuk” lebih banyak dijalankan oleh TNI AU dan TNI AL maka skenario “musuh sudah masuk baru digebuk” jelas menjadi domain TNI AD. Musuh yang masuk lewat sebuan pantai akan dijegal oleh tank Leopard dan kawan-kawan. Skenario serangan udara musuh maka Arhanud akan berperan memuntahkan rudal jarak pendeknya.  Penerjunan PPRC juga bagian dari serial latihan besar ini.

Tetapi jujur saja, untuk ukuran republik yang luas ini, kuantitas dan kualitas alutsista TNI masih belum memadai termasuk sebarannya.  Masih banyak yang harus ditambah dan disebar. Pembangunan pangkalan militer di Natuna yang sedang berlangsung tentu memerlukan banyak isian alutsista untuk ditempatkan disana. Juga di tempat-tempat lain seperti Biak, Saumlaki, Sorong, Kupang, Tarakan.

Jika pemerintah dengan dorongan kuat parlemen menjalankan program anggaran pertahanan berbasis PDB maka dalam lima tahun ke depan isian alutsista yang dibutuhkan (bukan yang diinginkan lho) dapat terpenuhi. Alhamdulillah untuk anggaran tahun 2017 diperlihatkan awal korelasi berbasis PDB dengan koordinasi yang baik antara Menkeu, Menhan dan DPR. Kemhan mendapat alokasi anggaran sebesar 108 trilyun, ini yang terbesar.

Jadi pembangunan pangkalan militer Natuna berjalan sesuai rencana.  Dua tahun lagi selesai dan wajah pangkalan itu “bolehlah”. Ada bunker kapal selam, ada bunker jet tempur, ada rudal SAM jarak sedang, ada UAV, ada radar tiga dimensi, kapal perang striking force. Sementara di tempat lain republik ini isian alutsista akan terus berdatangan dalam tahun-tahun mendatang.  Latihan militer skala besar bisa berjalan dengan mulus. Tentu semua ini akan mematangkan dan memantapkan profesionalitas prajurit TNI.

Karena Natuna ada di garis depan yang paling tinggi nilai ancamannya maka wajar dong pulau itu dibentengi dengan kekuatan militer yang besar.  Termasuk kegiatan latihan militer seluruh matra TNI, adalah dalam rangka membiasakan suasana dan pengenalan medan garis depan.  Kekayaan sumber daya alamnya harus dijaga dan dilindungi.  Lebih dari itu kedaulatan dan kewibawaan teritori NKRI adalah segalanya. Jadi sering-seringlah mengasah pedang di teritori Natuna.
****
Jagarin Pane
Semarang, 02 Nopember 2016


Saturday, October 15, 2016

Harapan Cerah Menuju Anggaran Berbasis PDB

Barusan kita sudah menyaksikan unjuk kekuatan jet-jet tempur kita di Natuna. Bulan Oktober ini dan dua bulan ke depan kita masih akan terus menyaksikan latihan militer dua matra lainnya yaitu TNI AL dan TNI AD di pulau terdepan Laut Cina Selatan. Pergerakan sejumlah alutsista itu dan setiap ada raungan dan dentuman amunisi pastilah sejumlah milyaran rupiah musnah bersama raungan dan dentuman itu.

Ini bukanlah perbuatan atau perilaku sia-sia karena ini justru adalah adrenalin bernegara dan berbangsa.  Bangsa  dan negara manapun di dunia ini pasti akan melakukan uji adrenalin, uji kemarahan karena di setiap dentuman yang menghabiskan milyaran duit itu ada suasana kebanggaan terhadap sebuah eksistensi bernegara.  Militer itu adalah adrenalin negara, jadi raungan dan dentuman itu adalah keniscayaan yang mempertontonkan ketangguhan, kehebatan dan keperkasaan.
Kesiapsiagaan di pangkalan TNI AL Surabaya
Bagaimana agar kehebatan dan ketangguhan itu bisa diperlihatkan dengan lebih spektakuler lagi, tentu dengan kucuran anggaran pertahanan yang lebih besar dan terbesar. Persoalan pertahanan, persoalan kewibawaan teritori tidak bisa dikaitkan dengan kondisi ekonomi dalam hubungan sebab akibat. Pertahanan teritori adalah harga diri dan harga mati yang harus terus diupayakan mendapatkan prioritas anggaran tuntutan jaman.

Meski kita sudah dan sedang dalam proses modernisasi militer, kebutuhan untuk mengawal dan mewibawakan teritori dari ancaman yang sudah di depan mata perlu kecepatan dan percepatan. Pemenuhan cepat terhadap  tambahan 2 skuadron jet tempur dan belasan kapal perang striking force bukanlah keinginan tetapi kebutuhan. Sebagaimana beberapa tulisan kita terdahulu bahwa Kupang perlu penempatan minimal 4 jet tempur bersama Natuna dan Tarakan, akhirnya terjawab.
Ada kabar baik soal penambahan anggaran pertahanan. Menteri Keuangan dan Menteri Pertahanan bersama Komisi I DPR bersepakat mencarikan cara untuk penambahan anggaran pertahanan tahun 2017. Presiden Jokowi sudah berkomitmen bahwa anggaran pertahanan diupayakan sebesar 1,5 % dari PDB kita. Itu artinya anggaran pertahanan kita bisa mencapai 250 trilyun pertahun.

Tentu tahun depan tidak perlu mimpi terlalu jauh.  Mencapai angka di kisaran 120-125 trilyun rupiah saja patut disyukuri karena itu berarti sudah ada peningkatan yang cukup menggembirakan. Yang lebih menggembirakan tentu adanya kesepakatan tiga saudara sebangsa itu (DPR, Menkeu,Menhan) untuk lebih memprioritaskan penyediaan anggaran pertahanan republik sebagai tulang punggung eksistensi ber NKRI.

Menkeu hari-hari belakangan ini terlihat lebih sumringah terutama adanya pencapaian yang menggembirakan soal Tax Amnesty.  Ruang fiskal mulai terasa sejuk bersama tobatnya anak bangsa untuk memarkir dananya di tanah air sendiri.  IHSG dan rupiah menunjukkan trend menggembirakan dan situasi ini akan sangat membantu membangun persepsi APBN tahun depan.

F16 di Pekanbaru AFB
Tahun depan diprediksi akan ada penambahan alutsista baru seperti jet tempur, kapal perang, kapal selam, radar, tank, artileri, peluru kendali jarak sedang, UAV, tank amfibi.  Disamping itu ada program instalasi radar dan rudal jet T50 golden eagle, pembangunan pangkalan militer besar di Natuna, alokasi penempatan 1 flight jet tempur di Kupang, Natuna, Tarakan. Semua program itu bersama dengan latihan gabungan TNI memerlukan anggaran besar.

Kita optimis dengan program MEF (Minimum Essential Force)yang sedang memasuki tahap II ini. Ada konsistensi meneruskan program MEF dari pemerintahan sebelumnya disamping karena memang banyak kewajiban pembayaran alutsista pesanan rezim sebelumnya yang harus dilunasi pemerintahan eksiting.  Pesanan alutsista baru untuk pemerintahan sekarang baru akan terlihat tahun 2017 dan seterusnya bersamaan berkurangnya pembayaran multy years pengadaan alutsista sebelumnya.

Pembangunan kekuatan militer dengan situasi dan kondisi lingkungan yang mudah demam merupakan kewajiban mutlak.  Apalagi jika melihat sejarah ambisi klaim dan haus teritori negara pemilik nine dash line yang keras kepala dan susah diajak senyum.  Kita perkuat militer kita untuk memastikan rasa aman rakyat kita di perbatasan. Kita perkuat alutsista kita untuk memastikan teritori kita tidak dilecehkan negara lain.

Jaminan perkuatan itu ada di anggarannya. Jadi kita menyambut gembira adanya kekompakan eksekutif dan legislatif untuk menyediakan anggaran pertahanan yang lebih besar di tahun-tahun mendatang.  Tetapi harus juga diingat kalimat terang benderang Presiden Jokowi baru-baru ini untuk perkuatan alutsista : beli sesuai kebutuhan bukan keinginan.  Untuk yang terakhir ini, ujiannya ada di jajaran Kementerian Pertahanan bersama para Jenderal TNI.  Kita lihat saja dan semoga amanah, istiqomah dan fathonah.
****

Jagarin Pane / 15 Oktober 2016

Saturday, October 8, 2016

Natuna, Menuju Pertahanan Sarang Lebah

Ada dua catatan dalam mengamati gelar unjuk kekuatan angkatan udara Indonesia di Natuna dan Laut Cina Selatan (LCS) tanggal 5-6 Oktober yang lalu.  Pertama lokasi latihan di Natuna tidak direncanakan melainkan perintah langsung Presiden Jokowi hanya sepuluh hari sebelum hari H nya.  Kedua keseriusan pemerintah membangun pangkalan militer trimatra di pulau terluar LCS itu bukan lagi angan-angan.

Latihan Angkasa Yudha (pertempuran udara) tahun ini sebenarnya akan dilakukan di Belitong tetapi ketika hajat itu mendekati hari pertunjukan keluar perintah langsung dari Presiden Jokowi agar lokasi dipindah ke Natuna. Maka hanya dalam hitungan hari alutsista-alutsista mahal TNI AU harus di relokasi ke titik tumpu Natuna. Nilai tambah dari relokasi mendadak ini adalah semakin mendekati situasi yang sebenarnya utamanya jika ada kondisi emergency di Natuna.

Maka kita pun bisa menyaksikan kehebatan kombinasi 48 jet tempur Indonesia yang dikerahkan pada latihan itu membombardir sasaran di laut, melakukan pertempuran udara, menangkis serangan udara dan penerjunan pasukan pemukul Paskhas. Prosesi unjuk kekuatan tentara langit Indonesia itu disaksikan Presiden Jokowi dan sejumlah menteri dan disiarluaskan oleh sejumlah media internasional termasuk Al Jazeera.

Presiden Jokowi di Natuna
Dalam kacamata intelijen militer sangat dimungkinkan latihan tentara langit Indonesia dipantau serius oleh militer Cina, termasuk mengerahkan kapal selam dan UAV. Juga konvoi kapal perang lima negara FPDA (Five Power Defence Arrangements)yang sedang memulai latihan perang laut di LCS. Mereka adalah Malaysia, Singapura, Australia, Selandia Baru dan Inggris selama dua minggu ke depan menguji komitmen persekutuan militer mereka utamanya terhadap konflik LCS.

Natuna sedang dipersiapkan menuju pangkalan militer swalayan yang menggigit. Tiga matra TNI sedang membangun pangkalan milter terintegrasi.  Pembangunan batalyon AD, Marinir, Paskhas dilakukan serentak bersama pembangunan bunker berkapasitas 5 jet tempur dan bunker kapal selam.  Tidak hanya itu, Natuna juga sedang mempersiapkan kehadiran alutsista baru berupa peluru kendali jarak sedang, tambahan radar weibel, UAV, MLRS, helikopter serbu.  Proyek militer strategis ini berpacu dengan waktu dan diharapkan rampung tahun 2018.

Tetapi bukan berarti semuanya menunggu tahun 2018. Saat ini saja landasan pacu 2.500 m sudah jadi berikut sarana pendukung. Termasuk penempatan satuan-satuan militer dan sejumlah kapal perang. Latihan militer TNI AU bisa berlangsung spektakuler karena sarana vital yang sudah operasional. Dukungan dari Hang Nadim, Supadio, Halim dan Rusmin Nuryadin tentu berperan besar dalam operasi militer skala besar yang dilakukan angkatan udara kita.

Indonesia begitu serius mempersiapkan payung Natuna. Kabupaten vital berpenduduk 110 ribu jiwa itu dengan sejumlah kekayaaan alam yang melimpah di sekitarnya harus dipagari dengan kekuatan militer berkarakter sarang lebah. Ancaman terhadap teritori Natuna dan ZEE nya tidak main-main, sudah di depan mata.  Karena itu kita tidak mau kecolongan ruang teritori. Apalagi jika menilai karakter negeri pengklaim LCS yang haus sumber daya alam.
Suasana pemboman di pantai Natuna
Hari ini memang tidak ada klaim terhadap pulau Natuna dan jajaran pulau kecil di sekitarnya tetapi ZEE kita di utara Natuna dikatakan tumpang tindih dengan “pemilik” nine dash line.  Bisa jadi besok berubah menjadi ten dash line dengan memasukkan Natuna kedalamnya. Maka dalam pandangan kita sangat tepat waktu jika pemerintah memperkuat militer di Natuna dengan membangun pangkalan militer tri matra sekuat-kuatnya.

Indonesia sedang dalam proses memperkuat tentaranya dengan mendatangkan alutsista berbagai jenis dari luar negeri. Alutsista yang sedang dalam proses pembelian misalnya jet tempur Sukhoi SU 35.  Alutsista model kerjasama produksi yang sedang dibuat antara lain kapal perang jenis PKR 10514, kapal selam Changbogo. Alutsista buatan sendiri misalnya,  panser Anoa, panser Badak, KPC 40m, KCR 60m, LST, LPD.

Dengan komitmen dan konsistensi yang kuat maka dalam tiga tahun ke depan diniscayakan kita bisa buat sendiri tank dan kapal perang light fregat. Lima tahun ke depan kita bisa buat kapal selam dan sepuluh tahun ke depan kita bisa buat jet tempur sendiri. Ini bukan lagi angan-angan tetapi sudah didepan mata. Jadi industri pertahanan strategis sudah kita kuasai dan pemenuhan alutsista dapat dipenuhi oleh industri pertahanan kita sendiri.

Mempersiapkan Natuna sebagai pangkalan militer sarang lebah tidak lain adalah untuk menjaga kehormatan dan kewibawaan teritori NKRI. Lebah itu kalau sarangnya tidak diganggu dia tidak akan mengganggu dan akan terus memproduksi sumber daya madunya. Tapi manakala dia diganggu tentu akan berjibaku habis-habisan meski sarangnya habis dibakar. 

Natuna pun begitu karena dia milik sah NKRI kita siapkan sumber daya madunya berupa produksi sumber daya alam untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa ini. Tapi manakala ada negara lain yang menganggu apalagi ingin mencaploknya maka sengatan lebah militer Natuna akan berperan lebih awal dan menyengat kuat sebelum bala bantuan dari penjuru negeri berdatangan. Ini sesuai doktrin baru militer kita, berani masuk digebuk. Mikir !
****
Jagarin Pane / 08 Oktober 2016

Sunday, October 2, 2016

Natuna Menguji Tentara Langit

Perintah penting datang langsung dari panglima tertinggi TNI Presiden Jokowi seminggu sebelum unjuk kekuatan TNI AU di Belitong tanggal 28-29 September 2016.  Sesuai rencana sebelumnya Belitong akan “dihancurkan” oleh sedkitnya 48 jet tempur berbagai jenis yang dimiliki TNI AU lewat serangan udara bertubi-tubi selama dua hari.  Namun seminggu sebelum tanggal itu, Jokowi memerintahkan lokasi latihan tentara langit dipindah ke Natuna.

Ada apa gerangan. Dinamika kawasan Natuna menunjukkan bahwa kita perlu menampilkan apa yang kita miliki dalam sebuah keharusan yang diwajibkan secara mendadak.  Boleh jadi sebagai show of force TNI AU, bisa juga untuk membalas unjuk kekuatan di seberang laut yang dipertontonkan secara terus menerus. Atau mengobati rasa kecewa hitungan mundur peluncuran rudal Cina yang tak sesuai perintah Jokowi dalam serial latihan Armada Jaya sebelumnya.

Jet Tempur F16, jumlahnya saat ini 23 unit
Bahasa militer adalah lanjutan dari laporan intelijen. Bahasa militer yang seperti ini mungkin saja sebagai bentuk kemarahan karena disepelekan. Bisa juga karena ada yang mengatur-ngatur lewat jalur diplomasi agar di Natuna suasana diupayakan tidak banyak gerakan militer. Ini sempat dilontarkan oleh Menko Polhukam Luhut Panjaitan beberapa bulan lalu. Padahal pihak sana berpesta terus mengeluarkan jurus manuver kung fu dan pamer kekuatan.

Pemindahan lokasi latihan tentara langit secara mendadak adalah bagian dari metode simulasi yang tak direncanakan. Jadi sangat mendekati dengan kondisi sebenarnya jika memang suatu saat Natuna harus diselamatkan dari ancaman agresi militer. Bayangkan persiapan di Belitong sudah cukup matang, simulasi banker, jet tempur “ecek-ecek” dibuat bersama “fasilitas militer” yang akan dihancurkan.  Pergeseran radar mobile, alutsista canggih oerlikon skyshield, berbagai jenis peluru kendali, bom, pesawat tempur, pesawat angkut sudah disiagakan.

Manfaat dari pergeseran lokasi latihan ini adalah menguji kondisi emergency alias kondisi darurat yang tidak sesuai dengan rencana latihan yang sudah dibuat. Menguji kemampuan dan kecerdasan pemikir strategis angkatan udara kita untuk bertindak cepat tepat dalam suasana yang tidak ada dalam plot rencana.  Ini bukan pekerjaan sederhana, memindahkan alutsista mahal, koordinasi antar satuan, gerakan pasukan ke tapal batas yang hanya punya satu pangkalan AU, pemindahan amunisi dan logistik perlu kerja cerdas.

Pekanbaru, Batam, Jakarta, Pontianak adalah pangkalan angkatan udara yang berperan penting untuk latihan puncak tentara langit.  Bandara Hang Nadim menjadi pangkalan aju  untuk 7 jet tempur Sukhoi yang bermarkas di Makassar dan 10 F16 yang bermarkas di Pekanbaru. Supadio Pontianak menjadi rumah sementara bagi 8 jet latih tempur T50 Golden Eagle dan 6 Super Tucano.  Beberapa pesawat angkut Hercules, CN295 diberangkatkan ke Batam, Supadio dan Natuna.

Formasi Sukhoi dan F16 di Istana Negara Jkt
Maka mulai tanggal 03 Oktober sampai dengan tanggal 6 Oktober 2016 Natuna akan dikerumuni puluhan jet tempur lewat berbagai manuver pertempuran. Hiruk pikuk suasana pertempuran itu akan spektakuler di mata masyarakat di sana karena ini adalah untuk pertama kalinya sepanjang sejarah latihan tentara langit dalam jumlah besar dikerahkan ke Natuna.  Hampir separuh kekuatan TNI AU dikerahkan dalam sebuah latihan operasi militer yang tidak direncanakan sebelumnya.

Poin penting dalam pengerahan alutsista mahal ini adalah, untuk menghadapi satu titik panas teritori kita membutuhkan kuantitas alutsista yang mencukupi dan kualitas alutsista yang canggih.  Nah jika terjadi dua titik panas dalam sebuah insiden teritori tentu distribusi alutsista tadi harus disebar. Maka berulang kali kita menyatakan bahwa jumlah jet tempur, radar dan rudal kita masih belum mencukupi.

Maka sangat wajar jika kita mengharap sign kontrak pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 segera direalisir. Jumlahnya pun mudah-mudahan tidak dicicil tetapi langsung satu skuadron lengkap dengan persenjataannya.  Jika ini terjadi maka pecahlah rekord beli alutsista jet tempur 16 biji lengkap dengan tentengannya.  Bukankah sebelumnya kita selalu beli eceran, beli 4 sukhoi kosongan, lalu nambah 6 lagi juga kosongan, beli lagi 6 biji baru ada paket rudalnya dan itu butuh waktu 12 tahun.

Tantangan berteritori kita bukan cerita fiksi tetapi kenyataan dan ada di depan mata. Jadi kalau masih ada yang sibuk bilang kita tidak punya musuh, kita bersahabat dengan semua negara, lebih baik ngurusin bencana alam yang di depan mata, maka jalan pikiran orang seperti itu adalah kacamata kuda. Mempersiapkan militer yang kuat adalah bagian dari cara menjaga perdamaian dan persahabatan. 

Militer yang kuat akan melapis kekuatan diplomasi.  Ibarat orang ngomong, kalau gerakannya gagah gemulai maka omongannya gak dianggap. Militer yang kuat adalah untuk memastikan omongan kita didengar dalam bingkai diplomasi, menjaga harkat dan martabat ber NKRI. Menguji tentara langit di Natuna adalah bagian dari pesan diplomatik itu karena bahasa militer adalah bahasa otot.  Sangat pantas kita menguji otot kita di Natuna untuk mejaga kewibawaan teritori Republik Indonesia.
****
Jagarin Pane /  02 Oktober 2016



Thursday, September 15, 2016

Bendera MEF Tujuh Tahun Berkibar, Inilah Hasilnya

Program MEF (Minimum Essential Force) digulirkan tahun 2010 dan saat ini sudah masuk tahun ke tujuh. Berikut adalah hasil karya program itu di tiga matra TNI.

Penambahan Alutsista TNI AD
·         38 unit MLRS Astros II Mk6 dari Brazil
·         37 unit Artileri Mobile Caesar Nexter dari Perancis
·         18 unit Artileri 155 mm KH 179 dari Korea Selatan
·         54 unit Artileri 105 mm KH178 dari Korea Selatan
·         103 unit Tank Leopard dari Jerman
·         50 unit Tank Marder dari Jerman
·         300 unit Panser Anoa dari PINDAD
·         22 unit Panser Tarantula dari Korea Selatan
·         10 unit Panser APC Norinco dari Cina
·         6 unit Bushmaster dari Australia
·         150 unit Tank angkut pasukan M113 dari Belgia
·         12 unit Helikopter angkut Mi17 dari Rusia
·         5 unit Helikopter serbu Mi35 dari Rusia
·         8 unit Helikopter serbu Apache dari AS
·         22 unit Helikopter Bell 412 EP kerjasama produksi AS dan PT DI
·         12 unit Helikopter Fennec kerjasama produksi Perancis dan PT DI
·         10 unit Arhanud TD2000 dari Cina
·         300 peluru kendali Starstreak dari Inggris
·         136 peluru kendali Mistral dari Inggris
·         180 rudal anti tank Javelin dari AS
·         600 rudal anti tank NLAW dari Swedia

Penambahan Alutsista TNI AL
·         3 KRI jenis Light Fregat Bung Tomo Class dari Inggris
·         2 KRI jenis PKR 10514 kerjasama Belanda dan PT PAL
·         8 KRI jenis Kapal Cepat Rudal 40 m dari galangan kapal swasta nasional
·         3 KRI jenis Kapal Cepat Rudal 60 m dari PT PAL
·         2 KRI jenis Kapal Intelijen Bawah Laut dari Perancis
·         3 KRI jenis Landing Ship Tank dari galangan kapal nasional
·         3 KRI jenis Kapal Selam Changbogo dari Korea Selatan
·         2 KRI jenis Bantu Cair Minyak dari galangan kapal nasional
·         1 KRI jenis Latih Layar dari Spanyol
·         16 KAL jenis Kapal Patroli Cepat
·         4 Pesawat patroli maritim CN 235 dari PT DI
·         4 Pesawat latih Bonanza Beechcraft dari AS
·         2 Pesawat latih Baron G58 dari AS
·         5 Helikopter Bell 412EP kerjasama produksi AS dan PT DI
·         11 Helikopter anti kapal selam Panther dari Perancis
·         8 Helikopter anti kapal permukaan dari Perancis
·         60 unit Tank Amfibi BMP3F dari Rusia
·         5 unit Panser Amfibi BTR4 dari Ukraina
·         9 unit artileri roket MLRS RM Grad dari Ceko
·         8 unit artileri roket MLRS Vampire dari Ceko
·         8 unit arhanud MLRS Norinco type 90 dari Cina
·         80 peluru kendali anti kapal C705 dari Cina
·         20 peluru kendali anti kapal C802 dari Cina
·         30 peluru kendali anti kapal Exocet dari Perancis
·         6 peluru kendali anti kapal Yakhont dari Rusia
·         90 peluru kendali QW3 marinir dari Cina

Penambahan Alutsista TNI AU
·         6 jet tempur Sukhoi SU30 dari Rusia
·         24 jet tempur F16 blok 52 Id dari AS
·         16 jet latih tempur T50 Golden Eagle dari Korea Selatan
·         16 pesawat coin Super Tucano dari Brazil
·         5 pesawat angkut berat Hercules dari Australia
·         11 pesawat angkut sedang CN295 dari Spanyol
·         24 pesawat latih KT01 Wong Bee dari Korea Selatan
·         18 pesawat latih Grob dari Jerman
·         3 pesawat patroli CN235 MPA dari PT DI
·         6 UAV Searcher dari Israel
·         12 UAV Wulung dari PT BPPT dan PT DI
·         6 Helikopter EC725 dari Perancis
·         3 Helikopter Super Puma NAS332 dari Perancis
·         8 Radar Master T dari Inggris
·         8 Arhanud Oerlikon Skyshield dari Jerman
·         Paket lengkap persenjataan rudal untuk 16 Sukhoi dari Rusia
·         Paket lengkap persenjataan rudal untuk 24 F16 dari AS
·         200 peluru kendali  Paskhas QW3 dari Cina
     ****
Jagarin Pane / 15 Sep 2016