Saturday, October 10, 2015

Rayuan Viper Paman Sam

Sepanjang pekan cerah ini after lima oktober, saat perayaan HUT TNI ke 70 dipertunjukkan secara spektakuler, ada kabar bagus yang lagi didendangkan berkaitan dengan tawaran alutsista matra udara.  Yaitu promosi jet tempur F16 blok mutakhir yang dikenal dengan F16 Viper oleh perusahaan AS Lockheed Martin kepada Indonesia.

Seperti kita ketahui saat ini Indonesia telah memiliki dan mengoperasikan 10 jet tempur F16 blok 15 OCU, kemudian mendapatkan 24 F16 blok 52 Id yang barangnya sudah mulai berdatangan. Artinya sudah sejak tahun 1990 TNI AU mengoperasikan pesawat jenis ini dan sudah begitu familiar dengan lika-liku perjalanannya.  Sejalan dengan kedatangan bertahap jet tempur F16 blok 52 Id untuk mengisi skuadron F16 Pekanbaru maka 10 F16 blok 15 akan di upgrade supaya bisa setara kemampuan tempurnya dengan adik kelasnya F16 blok 52 Id.

Simulator F16 Viper, sedang promosi
Tentu ada pertanyaan apakah tawaran F16 Viper ini lalu dianggap sebagai pesaing alias kompetitor terhadap pengadaan Sukhoi SU35 yang saat ini sedang berlangsung.  Kita meyakini tidak, dengan berbagai asumsi dan perspektif ke depan.  Kita masih sangat membutuhkan tambahan jet tempur Sukhoi Family, maka kehadiran 1 skuadron Sukhoi SU35 mutlak diperlukan sebagai satuan pemukul penyeimbang dan penggentar terhadap kekuatan angkatan udara negara jiran.

Jet tempur Sukhoi SU35 dibeli untuk menggantikan jet tempur F5E yang sudah harus memasuki masa pensiun. Sementara prediksi kita dalam program perkuatan MEF 2015-2019 ini masih akan ada tambahan minimal 1 skuadron jet tempur untuk memperkuat matra udara khususnya kawasan timur Indonesia.  Kupang dan Biak tentu memerlukan kehadiran jet tempur secara terus menerus sebagai garda terdepan halaman belakang yang harus diwaspadai.

Oleh sebab itu maka tawaran jet tempur F16 generasi akhir ke Indonesia mestinya harus dilihat dari perspektif itu.  Angkatan Udara Indonesia sudah jauh-jauh hari naksir berat sama si Sukhoi SU35. Bukan semata-mata karena sudah terbiasa mengoperasikan Sukhoi SU27 dan SU30 tetapi juga dalam upaya menyetarakan diri dengan jiran sekitar yang sudah bersiap dengan kedatangan jet tempur siluman F35.  Sparing partner F35 adalah SU35.

Kalau ingat sejarah, maka era tahun enam puluhan adalah era kehebatan angkatan udara Indonesia dengan lebih dari 120 jet tempur Mig 15, Mig 17, Mig 19, Mig 21 bersama puluhan pesawat pembom kelas berat semuanya made in Uni Sovyet. Tetapi mulai era tahun tujuhpuluhan bahkan sampai sampai saat ini kehebatan persenjataan matra udara kita belum mampu memecahkan rekor kehebatan tahun enampuluhan itu.

Kita merasa optimis bahwa tawaran terang benderang Viper itu akan diambil oleh pemerintah Indonesia.  Kayaknya sih promosi tanggal 7 Oktober lalu di Grand Hyatt Jakarta dengan membawa simulator F16 Viper dimaksudkan sebagai langkah awal untuk mencari ruang dan memancing reaksi khalayak dan user.  Akhir bulan ini Presiden Jokowi kan bertandang ke Washington bertemu Presiden Obama. Yakinlah 100 persen pasti barang tadi yang bernama F16 Viper, bersama pesawat angkut militer C17 Globemaster dan kapal perang fregat akan menjadi menu perbincangan kesepakatan.

F16 Blok 52Id, sudah berdatangan
Seperti diketahui Indonesia saat ini sedang membangun kekuatan militernya secara besar-besaaran. Pada MEF tahap I tahun 2010-2014 sudah direalisasikan dana pengadaan alutsista sebesar 150 trilyun. Kita sudah lihat sebagian hasilnya pada demonstrasi kekuatan TNI tanggal 5 Oktober kemarin. Maka pada MEF tahap II yang sedang berlangsung saat ini menurut pengamat pertahanan Andi Wijayanto prediksi angggaran beli dan rawat alutsista kita bisa mencapai angka 400 trilyun selama lima tahun.

Tentu dengan anggaran segede itu pembelian 1 skuadron Sukhoi SU35 dan 1 skuadron F16 Viper bukanlah seperti pungguk merindukan bulan.  Kita meyakini bahwa keduanya akan menjadi pasangan yang saling melengkapi dan ditakuti untuk mengawal kewibawaan kedaulatan udara tanah air.  Jadi gambaran tahun 2019 kira-kira begini bentuk minimalisnya, 2 skuadron Sukhoi dan 3 skuadron F16. Realistis kan.

Sesungguhnya perkuatan militer Indonesia adalah mengejar ketertinggalannya sendiri dibanding negara-negara disekitarnya.  Adalah sangat membanggakan dan kita tidak jadi ditertawakan waktu, manakala sudah ada kesadaran bahwa sesungguhnya negeri ini harus punya kekuatan angkatan laut dan udara yang menggentarkan. Negeri kepulauan yang sudah sekian puluh tahun memunggungi laut akhirnya baru sadar diri bahwa potensi sekaligus harga dirinya ada di laut luas.

Jadi pembentukan 3 divisi marinir, 3 armada tempur laut dengan 160-170 KRI, 10-12 kapal selam bersama 10-12 skuadron jet tempur adalah keniscayaan yang diyakini mampu melakukan pengawalan ketat teritori NKRI lewat mekanisme interoperability antar angkatan. Tahun 2020 gambaran itu akan memetakan dengan jelas kekuatan militer Indonesia yang sesungguhnya.  Makanya rayuan Viper Paman Sam disikapi dengan cara pandang optimis, kita ambil untuk memperkuat matra udara. 

Jika Paman Sam sudah menawarkan barangnya, maknanya adalah keinginan yang kuat bagi negeri itu untuk memodernisasi militer Indonesia sebagai mitra strategisnya.  Bagi kita juga sebagai penyeimbang pemakaian alutsista barat dan timur.  Jadi isian alutsistanya ada Sukhoi ada F16, ada Bung Tomo Class  ada Parchim Class, ada BMP3F ada LVT-7, ada Yakhont ada Exocet, ada Kilo ada Changbogo. Inilah etalase alutsista yang benar-benar memadukan kekuatan timur barat.  Meminjam tagline Kompas TV inilah inspirasi Indonesia.
****

Jagarin Pane / 10 Oktober 2015 

Wednesday, September 30, 2015

Beli 6 Kilo Sikapi Dengan Lembut

Sejak sepuluh tahun yang lalu rencana memperkuat satuan kapal selam “Hiu Kencana” Indonesia dengan sejumlah kapal selam kelas herder sesungguhnya sudah menggema. Tercatat tahun 2007 berhembus angin sepoi-sepoi yang menyatakan Indonesia memesan sedikitnya 2 kapal selam Kilo buatan Rusia. Proses tarik ulur yang begitu kuat dan tegang antara mereka yang berkepentingan dengan pengadaan kapal selam sampai memakan waktu lima tahun lamanya, sebelum akhirnya pemenangnya bermerk Changbogo buatan Korea Selatan dengan embel-embel transfer teknologi.

Lalu dibuatlah 3 kapal selam Changbogo dengan 2 diantaranya dibuat di Korsel dan 1 dibuat di PAL Surabaya.  Saat ini dua kapal selam yang dibuat di Korsel sedang dalam proses pembangunan dan satu diantaranya akan selesai akhir tahun 2016, yang kedua tahun 2017 dan yang ketiga yang dibuat di PAL itu diperkirakan selesai tahun 2019. Jika yang dibuat di PAL itu berhasil maka inilah awal cikal bakal Indonesia membuat kapal selam made in sendiri dengan supervisi Korsel sehingga tahun 2024 akan ada 6-8 kapal selam Changbogo.
KRI Nanggala 402, jam terbang sangat tinggi
Tahun 2013 tiba-tiba ada statemen puting  beliung dari Menhan Purnomo bahwa Indonesia akan membangun armada kapal selam secara besar-besaran dengan membeli 12 kapal selam Kilo dari Rusia. Supaya pernyataan itu lebih bergema maka dalam waktu singkat dikirimlah tim analisis dan peneliti ke Rusia untuk membeli barang second hand yang digadang-gadang itu.  Respons luar biasa dan sorak sorai menyambut rencana itu didendangkan dan dikumandangkan oleh komunitas forum militer, pengamat militer dan mereka yang cinta jalesveva jayamahe. Tetapi tak lama berselang rencana besar dan ambisius itu hilang tak berbekas sampai kemudian kabinet berganti rezim.

Nah di bulan September 2015 yang ceria ini berhembus lagi angin semilir nan menyejukkan hati karena pernyataan Menhan Ryamizard Ryacudu bahwa Indonesia akan membeli sejumlah alutsista dari Rusia dalam sebuah paket bantuan luar negeri senilai US$ 2,5 milyar meliputi jet tempur Sukhoi SU35, kapal selam Kilo dan peluru kendali SAM jarak menengah S300.  Makanya kita menyebutnya dengan pernyataan September ceria karena rencana beli ini merupakan paket pengadaan alutsista berkelas herder semuanya.  Untuk jet tempur Sukhoi SU35 rencananya tahap pertama akan didatangkan 8 unit dulu lengkap dengan persenjataannya. Sementara untuk kapal selam Kilo pada tahap pertama akan dibeli 3 kapal selam dari paket 6 kapal selam sampai tahun 2024.

Terkait dengan rencana pengadaan kapal selam Kilo ini kita berharap banget program pengadaan kapal selam Changbogo tidak terganggu karena ada program transfer teknologinya.  Jika 3 Changbogo berhasil dibuat dan sukses operasional maka untuk kapal selam ke empat dan seterusnya kita diharapkan sudah mampu membuat kapal selam sendiri tentu dengan supervisi Korsel. Ini tentu sangat membanggakan karena industri pertahanan kita mampu mensuplay kebutuhan alutsista paling bergengsi, kapal selam.

Jika berandai-andai dengan program MEF sampai tahun 2024 dengan prediksi kebutuhan 12-14 kapal selam maka hitung-hitungannya boleh jadi dengan formula 6 kapal selam Kilo dan 6-8 kapal selam Changbogo.  Artinya kita tetap masih membutuhkan kapal selam Kilo untuk memperkuat armada kapal selam disamping terus memperbaharui teknologi Changbogo sebagai karya anak bangsa. Simbiosis antara Kilo dan Changbogo diperlukan karena untuk laut dalam seperti pantai selatan Jawa dan pantai barat Sumatera tentu yang pantas tampil adalah kapal selam Kilo.
KRI Cakra 401 dalam sebuah latihan
Sesungguhnya titik kritis armada kapal selam kita ada di saat ini sampai tahun 2017 saat dimana Changbogo pertama datang.  Saat ini kita hanya punya kapal selam “Cakra Class” sebanyak 2 unit, tentu jam terbang operasionalnya sangat tinggi.  Melewati tahun-tahun kritis ini tentu harus disikapi dengan “tabah sampai akhir” sebagaimana motto korps hiu kencana yang memang selama setengah abad ini harus tabah dan sabar dengan jumlah kapal selam yang sangat terbatas.  Bayangkan perairan yang luas ini hanya dikawal 2 kapal selam selama 50 tahun.

Oleh sebab itu rencana pengadaan kapal selam Kilo dan menunggu selesainya 3 kapal selam Changbogo kita sikapi dengan lembut saja sembari berdoa semoga program pengadaan kapal selam yang sangat dibutuhkan oleh negara yang baru-baru ini menganut paham “Maritimiyah” bisa segera terwujud dengan jelas.  Sejujurnya kita sudah cukup kecewa dengan program plin plan dari Pemerintah sejak tahun 2007 yang gembar gembor mau beli kapal selam Kilo.  Lalu tahun 2013 didendangkan lagi lagu yang sama kemudian hilang tak berbekas. Dan berkat itu semua sampai saat ini kapal selam kita tetap bertahan dijumlah 2 biji sejak setengah abad yang lalu.

Ketika September ini dikumandangkan lagi lagu “pelipur lara” itu bukan karena Vietnam sudah mendapatkan 4 kapal selam Kilo dari rencana beli 6 unit kemudian kita merasa disalip, atau bukan karena Singapura beli lagi 2 kapal selam canggih U-218 dari Jerman, atau Thailand beli 2 kapal selam China. Atau bukan pula karena selera rezim. Bukan, bukan karena itu tetapi karena kebutuhan untuk perairan nusantara yang luas ini.  Ada laut dangkal ada laut dalam itulah warna perairan Indonesia.  Maka di tengah kelesuan ekonomi yang terjadi saat ini jangan sampai rencana perkuatan militer kita ikut lesu karena perkuatan militer sesungguhnya investasi eksistensi bangsa.

Kita sikapi semuanya dengan tenang. Kelesuan ekonomi semoga cepat berakhir dan perjalanan kedaulatan ekonomi nasional dapat bangkit kembali.  Demikian pula perjalanan kedaulatan pertahanan nasional yang sedang dibangun dengan rencana bagus pengadaan kapal selam Kilo, jet tempur Sukhoi SU35 dan peluru kendali SAM S300 bisa benar-benar meyakinkan kita sampai barangnya kemudian ada di depan mata.
****
Jagarin Pane / 28092015

Wednesday, September 9, 2015

Akhirnya Sukhoi SU35

Kabar gembira itu memang harus dibagi karena penantian yang ditunggu dengan harapan yang sesuai dengan kenyataan sungguh menjadi sebuah definisi senyum yang mengagumkan. Di minggu pertama September ceria 2015 Menhan Ryamizard telah mengumumkan bahwa pilihan pada penggantian skuadron tempur F5E akhirnya ada pada jet tempur Sukhoi SU35 yang memang sangat dinantikan.

Semua kalangan tentu merasa gembira dengan keputusan itu. Si user TNI AU tentu bergembira karena jet tempur maut itu sudah digadang-gadang sejak lama. Mereka yang paham dengan mata rantai strategi pertahanan tentu menyambut hangat pilihan cerdas itu.  Soalnya ini menyangkut daya getar dan daya gentar yang mampu menyetarakan diri dengan lingkungan garis pertahanan di sekitarnya. Sukhoi SU35 adalah jet tempur yang sangat menggetarkan.
F16 bersiap lakukan patroli udara
Asumsinya mudah saja. Jika kita pilih F15 atau F18 Hornet tentu “bacaan tempurnya” sudah ada di benak negara yang pakai alutsista itu.  Katakanlah Australia dan Singapura.  Belum lagi masalah down grade yang pasti akan dikancingkan pada setiap pesawat tempur yang dibeli oleh negara bukan sekutu penjual. Singapura dan Australia jelas sekutu AS, jadi jika kita pilih F15 atau F18 maka jelas tidak akan setara dengan yang dibeli Singapura atau Australia.  Kedua negara ini juga sudah memutuskan membeli jet tempur siluman F35.  Maka keputusan kita beli SU35 adalah dalam rangka “menyambut” kehadiran F35 itu sendiri.

Pilihan terhadap jet tempur Sukhoi SU35 sudah kita prediksi sejak lama.  Setidaknya ada dua tulisan yang bertemakan tentang jet tempur SU35.  Terbaru artikel tanggal 26 maret 2015 juga sudah kita publikasi baik di blog pribadi dan media sosial lainnya.  Intinya adalah hasrat yang kuat untuk mendapatkan pesawat tempur itu perlu didukung Kemhan, ternyata kemudian Kemhan mengamininya.

Dengan mendapatkan 1 skuadron jet tempur kelas berat Sukhoi SU35 tentu kewibawaan teritori udara NKRI semakin bergigi.  Jika ini terpenuhi maka jumlah Sukhoi Family yang dimiliki TNI AU berjumlah 32 unit dari seri SU27, SU30 dan SU35. Tentu kekuatan Sukhoi itu akan disempurnakan dengan adanya tambahan jet tempur F16 yang bisa mencapai 34 unit dalam satu tahun ke depan.

Kunjungan Presiden Jokowi ke AS akhir bulan depan diharapkan akan menghasilkan kesepakatan penjualan alutsista untuk Indonesia. Tentu untuk menyeimbangkan pasokan alutsista timur dan barat.  Sebagaimana yang pernah ditawarkan Presiden Obama setahun lalu, bahwa disamping program pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 yang sedang berjalan, ditawarkan juga tambahan 1 skuadron F16 blok 60 dan 2 kapal perang jenis fregat OHP Class. Alutsista lainnya yang sudah pasti adalah 8 Heli tempur Apache berikut persenjataannya, 4 Heli angkut Chinook.
Sukhoi dan F16 melintas Monas
Berhadapan dengan lingkungan sekitar yang selalu usil dan anggap enteng dengan kekuatan militer Indonesia, tentu harus dijawab dengan perkuatan militer.  Nah jawaban perkuatan militer Indonesia itu semakin hari semakin memberikan keyakinan pada apa yang disebut nilai kewibawaan yang semakin terang benderang.  Bahwa itulah salah satu cara elegan yakni memperkuat otot militer tanpa harus mata mendelik.

Contoh terakhir saja, Singapura masih merasa pantas mempergunakan zona latihan militer di laut Natuna dan selat Malaka berdasarkan kesepakatan pertahanan kedua negara tahun 2007. Padahal perjanjian itu batal dengan sendirinya  karena tidak diratifikasi oleh DPR dan ketidaksediaan Singapura memasukkan pasal ektradisi koruptor. Tetapi negeri itu tetap memakai teritori kita untuk latihan jet tempurnya.  Ini kemudian yang membuat Panglima TNI berang lalu menyiapkan jet tempur di Batam untuk mengusir penyusup itu.

Belum lagi gaya sok jagoan Malaysia di Ambalat.  Kalau kita pulangkan Sukhoi atau F16 dari Tarakan, dia langsung berulah dan bermanuver.  Kalau kita kirim lagi Sukhoi ke Tarakan dia malu-malu kucing atau pura-pura baik. Begitu seterusnya, jadi kedepannya memang harus tersedia minimal 1 flight jet tempur di Tarakan dan juga di Batam.  Oleh sebab itu tambahan 1 skuadron Sukhoi SU35 dan juga 1 skuadron F16 blok 60 diniscayakan akan mampu mewibawakan teritori dirgantara tanah air. 

Kita kan tidak ingin perang.  Negara yang usil dan sok jagoan itu juga sejatinya tidak ingin perang. Tetapi provokasi, penyusupan, pelanggaran teritori dan anggap enteng merupakan tamparan bagi kewibawaan teritori kita.  Bulan-bulan ini kita kedatangan lagi berbagai jenis alutsista baru antara lain MBT Leopard, Tank Marder, Artileri Caesar Nexter dan lain-lain.  Artileri berat KH179 juga sudah disebar ke Kalimantan bersama tank Scorpion. Jadi perkuatan dan sebaran alutsista, perkuatan jet tempur, kapal perang, kapal selam sesungguhnya adalah jawaban laki-laki untuk mengedepankan otot militer tanpa harus mendelik matanya.
 ****

Jagarin Pane / 06 Septemper 2015

Saturday, August 22, 2015

Tidak Sekedar Buat Garasi

Berita enak tapi masih perlu dikunyah adalah ketika militer Indonesia mengabarkan bahwa mereka sudah meningkatkan status pangkalan AL di Tarakan, Pontianak dan Sorong Agustus 2015 ini menjadi pangkalan utama TNI AL. Artinya dengan status peningkatan itu maka pangkalan garis depan itu bertanggung jawab penuh terhadap keamanan dan kewibawaan teritori di wilayahnya sekaligus memperpendek rentang kendali dan kecepatan reaksi tempur.

Dengan tambahan itu berarti saat ini angkatan laut Indonesia memiliki 14 pangkalan utama TNI AL yang harus mampu memberikan dukungan logistik dan amunisi alias bekal ulang untuk berbagai kapal perang termasuk ketersediaan alutsista pertahanan pangkalan dari serangan pihak lawan. Yang jelas bukan sekedar menampung jenjang karir laksamana pertama yang menjadi komandannya. Seperti kita ketahui pangkalan utama AL harus dijaga 1 batalyon pasukan marinir berikut sejumlah alutsita anti serangan udara dan anti serangan bawah air.
2 F16 TNI AU sedang gelar patroli teritori
Membuat garasi adalah bagian dari mengelola infrastruktur agar kendaraan yang diparkir tuan rumah aman, nyaman dan terpelihara. Demikian juga dengan pembangunan infrastruktur militer dengan maksud untuk memperkuat logistik dan kecepatan reaksi militer. Bisa dibayangkan jika terjadi sebuah krisis militer di pulau Sebatik dan Ambalat jika masih harus mendatangkan kapal perang dari Makassar dan Surabaya berapa lama waktu tempuh untuk sampai di tujuan. Maka dilihat dari sisi ini tujuan peningkatan pangkalan AL itu tepat waktu.

Pertanyaannya adalah apakah sudah sepadan sebaran alutsista KRI di 14 Lantamal itu. Pangkalan utama AL Surabaya dalam pandangan kita harus mampu membagi beban persebaran alutsista matra laut.  Sangat berbahaya jika hanya menumpuk alutsista di satu titik.  Sebuah serangan udara mematikan yang tak terlacak radar dipastikan akan melumpuhkan angkatan laut Indonesia manakala Surabaya di hujani peluru kendali udara darat dan bom-bom pintar dari sebuah kekuatan yang punya senjata itu.

Pangkalan AL di Belawan, Padang, Tanjung Pinang sangat pantas diberikan korvet bukan sekedar LST.  Aliran patroli juga diperkuat dan diperbanyak di pantai barat Sumatera dan selatan Jawa karena prediksi kita dari sini lah aliran kapal perang akan bermulai ketika konflik besar di Laut Cina Selatan pecah.  Jelas kita masih kurang dalam soal kuantitas dan kualitas KRI striking force semacam korvet dan fregat.  Maka untuk mengisi alutsista di 14 pangkalan itu tentu harus diperbanyak korvet dan fregat atau bahkan destroyer, tidak sekedar memperbanyak KCR.

Pangkalan AL Tarakan misalnya, dia punya tugas berat untuk mengamankan wilayah Ambalat. Maka ketersediaan minimal 3 korvet, 2 fregat dan 4 kapal patroli  dengan dukungan 1 flight jet tempur merupakan menu wajib yang harus ada sepanjang tahun disana.  Sudah siapkah, atau masih tetap Surabaya centris atau Makassar centris yang jarak tempuhnya cukup panjang.  Pengalaman selama 8 bulan ini menunjukkan jika kita lengah atau kurangi patroli maka tetangga sebelah itu curi-curi kesempatan, berlagak gagah dan jaguh.
Pangkalan AL Surabaya, besar dan gahar
Membangunkuatkan angkatan laut dan udara membutuhkan dana besar, itulah konsekuensi kita sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.  Maka percepatan pembangunkuatkan itu multak harus ada. Kemenhan sebagai pengambil keputusan strategis tidak perlu melontarkan statemen di wilayah abu-abu tetapi jelas harus statemen merah putih. Misalnya ungkapan tidak perlu Wamenhan mestinya dengan mengedepankan argumen yang obyektif. Menjaga dan mewibawakan merah putih tentu dengan berkonsentrasi penuh terhadap pemenuhan kebutuhan asupan gizi alutsista TNI dengan program yang terang benderang.

Purnomo, Menhan sipil periode yang lalu, mampu membangkitkan semangat beralutsista dengan pernyataan-pernyataannya yang lugas, terang benderang meski kadang  tidak selalu harus pas. Misalnya pernyataan kebutuhan 10 skuadron Sukhoi alias 180 pesawat, padahal maksudnya 10 skuadron jet tempur berbagai jenis.  Atau pernyataan gegap gempitanya tentang rencana akuisisi 10 kapal selam kilo dari Rusia ternyata hanya untuk mengecoh Australia agar segera memutuskan membeli Poseidon.

Isian garasi tentu harus segera diisi.  Jangan sampai seperti Biak, ketika semua sudah tersedia apakah itu kualitas pangkalan, paskhas TNI AU, satuan Radar, markas Kosek tetapi skuadron tempur inap dan menetap yang diinginkan belum hadir sampai saat ini.  Belum ada skuadron tempur rawat inap disana.  Yang ada flight rawat jalan, sesekali berkunjung sekalian merawat jalan landasan dan kesiapan infrastruktur.

Kita menginginkan kekuatan laut yang sepadan dengan luasnya wilayah perairan.  Maka pengembangan 3 armada tempur laut, 3 divisi pasukan marinir sebagai bagian dari persebaran kekuatan angkatan laut harus disertai dengan percepatan pemenuhan kebutuhan kapal perang, kapal selam dan alutsista pendukung.  Tiga armada laut itu minimal harus diperkuat dengan 170 KRI berbagai jenis dengan teknologi terkini dan berusia tiga puluh tahun kebawah termasuk minimal 12 kapal selam.

Dengan kekuatan 170 KRI dan 12 kapal selam maka dipastikan isian garasi untuk 14 pangkalan AL terpenuhi. Sebenarnya kebutuhan 170 KRI itu sudah kita penuhi saat ini tetapi jika melihat masa pakai KRI itu lebih sepertiganya sudah berusia diatas 30 tahun. Untuk urusan kapal selam mulai akhir tahun depan kita mendapatkan 1 kapal selam baru dari Korsel.  Dan seterusnya setiap tahun kita akan mendapatkan 1 kapal selam baru apalagi jika infrastruktur pabrik kapal selam PT PAL selesai tahun depan maka produksi kapal selam minimal 1 unit per tahun terpenuhi.

Garasi demi garasi yang dibuat saat ini dimaksudkan sebagai rumah pertahanan alutsista. Kita berharap isian perabot didalamnya dapat terpenuhi dalam waktu dekat karena gelagat cuaca di kawasan ini tidak selalu baik untuk keamanan dan kenyamanan berteritori. Gengsi berteritori adalah ketika kita mampu menunjukkan kehadiran alutsista berteknologi di sempadan  sekalian untuk menunjukkan pada pihak sana bahwa kita siap berkelahi.

****

Jagarin Pane / 22 Agustus 2015

Wednesday, July 29, 2015

Mempercepat Isian Alutsista

Bagai cerita kucing dan tikus, begitu gambaran persoalan perbatasan klaim teritori Indonesia dan Malaysia di wilayah Ambalat Kalimantan Utara.  Ketika kucing mempertajam mata telinganya dengan mendatangkan 1 flight jet tempur ke Tarakan, maka si tikus bersembunyi sambil bersiasat.  Atau sekali dua kali melempar drone ke Sebatik dan Ambalat untuk menguji ketajaman radar Indonesia.  Nah begitu flight jet tempur Indonesia kembali ke home base si tikus kembali berpesta dengan berlagak sebagai jagoan.

Demikian juga dengan patroli laut oleh KRI.  Jika KRI yang berpatroli berjenis fregat atau korvet, si tikus tiarap atau balik badan.  Tetapi jika KRI berlabuh di Tarakan untuk isi ulang logistik maka tikus tadi keluar sarang bahkan kadang-kadang berlagak mengerahkan kapal selamnya yang bermarkas di teluk Sepanggar untuk menguji kemampuan deteksi angkatan laut Indonesia.  Itulah fakta yang terjadi di lapangan padahal patroli militer Indonesia bukan hanya di kawasan itu.  Masih banyak hot spot lain yang harus diawasi misalnya perairan Natuna, Selat Malaka, Laut Arafuru dan Laut Timor.

F16 di Tarakan, memastikan kedaulatan NKRI
Persoalannya adalah masih kurangnya ketersediaan alutsista berbagai jenis yang harus dimiliki. Atau meski sudah banyak alutsista yang dipesan namun kedatangannya tidak sesuai target pengadaan. Contohnya pesanan 24 jet tempur F16 blok 52 yang mestinya seluruhnya sudah datang pada akhir tahun 2015, ternyata sampai akhir Juli 2015 baru 9 unit yang datang.  Demikian juga dengan kedatangan alutsista jenis lain seperti MBT Leopard, Astross, Caesar Nexter, Super Tucano dan lain-lain tidak tepat waktu.

Negeri seluas Indonesia ini harus banyak memiliki kapal perang dan jet tempur. Dua jenis alutsista ini mutlak diperlukan sebagai alat pukul dan alat sengat manakala ada gangguan ancaman terhadap teritori.  Untuk angkatan udara kita harus punya alat sengat yang mampu membuat pihak luar berpikir ulang untuk mencoba mengganggu.  Makanya pantas sekali ada percepatan pengadaan alutsista baik yang sudah dipesan maupun yang akan dipesan.  Jika kedatangan 24 jet tempur F16 bisa diselesaikan akhir tahun ini maka sirkulasi dan pergantian shift patroli untuk menjaga Ambalat dan Natuna lebih “lapang di dada”.  Jet tempur F16 lebih efisien untuk patroli udara dibanding Sukhoi.  Jadi Sukhoi lebih banyak disimpan sebagai kekuatan pukul strategis.

Demikian juga dengan pengadaan jet tempur pengganti atau jet tempur tambahan.  Paling tidak kita harus mampu merealisasikan 1 skuadron pengganti jet tempur F5E dan 1 skuadron jet tempur tambahan sampai tahun 2020 ini.  Dengan begitu maka alokasi sebaran jet tempur akan lebih luwes dan leluasa untuk ditandangkan ke seluruh kawasan hot spot tanah air.  Kita berharap pengganti jet tempur F5E tetap konsisten dengan Sukhoi SU35 untuk memastikan ketersedian Sukhoi Family dalam jumlah yang memadai.

Klaim Cina di LCS, lidah naga menjulur
Untuk kekuatan armada tempur laut tambahan KRI baru jelas diperlukan.  Maka kita menyambut baik adanya tambahan pesanan 4 KRI berjenis kelamin PKR10514 menyusul 2 unit yang sedang dibuat di galangan kapal Damen Schelde Belanda dan PT PAL. Dengan begitu diharapkan realisasi 6 KRI dapat dipenuhi sampai tahun 2020 dengan model pengerjaan pembuatan kapal saling bersinergi dan paralel antara dua perusahaan industri pertahanan ini.  Untuk diketahui PT PAL mendapat lisensi dari Belanda memproduksi sampai 20 KRI jenis perusak kawal rudal ini.

Seperti kita ketahui PT PAL saat ini sedang disibukkan dengan berbagai order kapal perang seperti proyek 2 LPD untuk Filipina, proyek 16 KCR 60 m untuk TNI AL yang saat ini sudah sampai pada kapal keempat. Paling strategis tentu kerjasama pembuatan kapal selam dengan Korea Selatan. Saat ini sedang dibangun 2 kapal selam jenis Changbogo di Korsel sementara kapal selam ketiga akan dibangun di PT PAL tahun 2017 dengan supervisi Korsel.  Jadi nantinya PT PAL diharapkan akan mampu membuat kapal selam jenis ini mulai dari kapal selam keempat dan seterusnya minimal sampai delapan unit.

Hal yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan model pertahanan terpadu di Natuna. Ini merupakan proyek strategis yang berpacu dengan waktu. Pangkalan AL dan AU di Natuna harus mampu menyediakan logistik ulang dan amunisi bagi kapal perang, jet tempur dan pesawat pengintai.  Ini pekerjaan besar tetapi juga demi mengantisipasi kekuatan besar yang lagi mabuk dan berselingkuh dengan teritori negara lain. Kita berharap di Natuna ada ketersediaan 1 skuadron jet tempur sepanjang tahun bersama belasan KRI berbagai jenis untuk memastikan kekuatan beton garis depan teritori.

Demikian juga di Tarakan minimal tersedia 1 flight jet tempur setiap saat, bukan kadang-kadang, termasuk ketersediaan sejumlah KRI. Catatan kita adalah dengan membangun pangkalan militer di Natuna akan berdampak pada konsentrasi kekuatan Malaysia yang mau tak mau terpecah.  Natuna bisa jadi kartu truft bagi Indonesia manakala konflik Ambalat memanas.  Misalnya dengan memotong jalur logistik negeri jiran itu. Yang jelas pembangunan pangkalan militer di Natuna membuat Malaysia seperti ditikam dari belakang padahal kita tidak merasa menikam.

Oleh sebab itu tidak bisa tidak isian alutsista TNI dalam kuantitas besar dan kualitas terkini harus terus diupayakan cepat pesan dan cepat datang.  Kita optimis bahwa dalam periode lima tahun ini akan banyak didatangkan pesanan baru disamping kedatangan alutsista pesanan periode sebelumnya.  Kunjungan Presiden Jokowi ke AS Nopember tahun ini dan kunjungan PM Inggris barusan tentu membawa misi kerjasama pertahanan alias daftar belanja alutsista yang ditawarkan atau yang diinginkan.

Tidak akan ada gangguan teritori manakala kekuatan alutsista kita gahar kuantitas dan kualitasnya. Tidak sampai terjadi model perseteruan kucing-kucingan seperti yang terjadi di Ambalat jika Tarakan dan Nunukan dilapis kekuatan pre emptive strike dengan kehadiran jet tempur, radar dan rudal serta KRI dalam sinergi interoperabilitas.  Sudah saatnya kita percepat isian alutsista segala matra agar tidak ada lagi permainan kucing-kucingan karena tujuan besar kita adalah menghalau semburan naga. Kita persiapkan alutsista kita menjadi macan dan tetangga usil pasti akan tahu diri dan berusaha menjadi kucing tetapi kita sudah berubah menjadi macan.
****

Jagarin Pane / 29 Juli 2015

Thursday, July 2, 2015

Ketika Berita Musibah Disiarkan



Cermin buruk muka kita adalah, jika ada peristiwa musibah yang mengejutkan publik bersama korban yang besar, kejadiannya dramatis dengan frekuensi siar yang luas maka selalu ada omongan emosional yang berlebihan “kapasitas air liurnya”. Contoh terakhir adalah musibah jatuhnya pesawat militer angkut berat Hercules TNI AU di Medan 30 Juni 2015 lalu yang menewaskan lebih seratus jiwa warga bangsa  ini.

Belum lagi selesai evakuasi, masih mengalir deras airmata duka keluarga korban, komentar yang dilontarkan mereka yang merasa sok tahu menyudutkan pemilik alutsista. Yang bilang pesawat tua lah, lalu ngomong pesawat hibah, lalu komentar kurang perawatan, dikomersialkan, kelebihan beban dan sebagainya. Padahal musibah baru hitungan jam dimana prioritas adalah evakuasi korban dan pemberitahuan kepada keluarga korban.
Hercules Indonesia
Itulah kita, begitu banyak stasiun penyiaran TV, Radio dan media cetak hanya mengejar kecepatan siar dan terbit dimana nilai kecepatan itu mengabaikan akurasi dan kelayakan. Sodoran pertanyaan yang diajukan ke wakil rakyat dan pengamat abal-abal, jawabannya seperti “firman tuhan” dengan mengatakan musibah itu karena alutsista renta dan jompo. Jadi dia sudah memastikan bahwa penyebabnya alutsista tua bangka.  Padahal penyelidikan dan penelitian belum dimulai.  Lalu kecelakaan pesawat militer angkut berat Airbus A400M di Spanyol baru-baru ini, apakah karena alutsista itu sudah tua. Jelas tidak, itu pesawat baru, gress yang mau dikirim ke Turki sebagai negara pembeli.  Jatuh juga.

Pihak media juga punya andil dalam menyodorkan rekaman wawancaranya, mestinya jika ada berita musibah, kunjungilah pemuka agama, apakah dia ulama, pendeta, bikshu, setidaknya komentar mereka akan memberikan opini yang menyejukkan sebagai media muhasabah, merenungkan diri lalu bergegas memperbaiki diri. Kalau selalu orang parlemen dan pengamat sentimen berbasis oppsisi yang dihubungi pasti jawabannya tidak mengedepankan dukacitanya tetapi lebih kepada selalu menyalahkan pemilik asset atau yang punya inventaris. Setidaknya numpang populer diatas penderitaan orang lain.

Pesawat Hercules yang dimiliki TNI AU semua ada dalam kontrol perawatan yang ketat. Meski pesawat yang jatuh itu buatan tahun 1964 tetapi hampir seluruh komponen mesin, instrumen perkabelan, avionik sudah berganti, sudah di retrofit. Yang jelas hanya rangkanya saja yang lama, tetapi jeroannya tidak lagi keluaran tahun 1964.  Jika kecelakaan itu disebabkan sayapnya patah atau ekornya lepas atau yang dikenal dengan “keletihan logam” barulah bisa disebut penyebabnya karena uzur.  Tidak ada pesawat uzur karena komponennya selalu diganti sesuai umur teknisnya.
A400M, yang sedang digadang-gadang TNI AU
Saat ini TNI AU sedang berupaya meningkatkan jumlah armada Herculesnya dengan mendatangkan 9 pesawat “Badak” itu dari Australia.  TNI AU saat ini memiliki 2 skuadron angkut berat Hercules yang bermarkas di Halim Jakarta dan Abdurrahman Saleh Malang dengan kekuatan 28 pesawat. Dalam lima tahun ke depan akan ditambah 1 skuadron lagi dan ber home base di Makassar.  Hercules bagaimanapun dikenal sebagai pesawat yang tangguh dan berjasa dalam perjalanan bangsa ini.  Sebagai negara kepulauan yang besar frekuensi jalan pesawat gagah ini cukup tinggi mengarungi berbagai pulau di tanah air.

Harapan kita, program pengadaan alutsista 9 Hercules dari Australia ini tetaplah berlangsung.  Saat ini kita sudah menerima 4 pesawat yang sebelum dikirim diretrofit dulu disana. Pengadaan pesawat angkut berat baru menguras duit anggaran pertahanan.  Soalnya kita baru sadar diri lima tahun belakangan ini untuk memodernisasi alutsista kita. Selama dua puluh lima tahun sebelumnya tidak ada sama sekali pengadaan alias pembelian pesawat angkut Hercules atau penggantinya.

Kementerian Pertahanan sudah menjajaki rencana pembelian pesawat angkut berat Airbus A400M dari Spanyol.  Harga pesawat baru ini seperti yang dipesan Malaysia untuk 4 unit nya mencapai US 1,1 milyar.  Cukup mahal, jadi realistis dengan anggaran pertahanan yang disedot untuk beli alutsista lain seperti jet tempur, kapal perang, kapal selam, untuk pesawat angkut berat kita percaya Hercules tetap masih menjadi andalan.  Mudah-mudahan dalam lima tahun ke depan kita sudah dapat memiliki 2-3 pesawat baru A400M yang secara bertahap mengantikan peran Hercules.

Musibah adalah media muhasabah dan selayaknya kita mendoakan para korban dan keluarganya. Kecelakaan yang dialami jelas karena berbagai faktor.  Biarlah tim yang berwenang yang akan melakukan tugasnya untuk memastikan penyebabnya.  Drama pemberitaan yang menjadi perhatian itu semoga dapat kita saring dan filter sendiri.  Kita tidak bisa menyuruh media bicara akurasi, fakta, opini. Kita yang menjadi penentu nilai berita yang disampaikan. Kita yang mengobyektifkaan nilai berita itu pada relung hati kita. Korban Hercules itu adalah tentara dan keluarga tentara serta penumpang sipil.  Tentara yang sedang bertugas untuk menjaga republik itu pantas dianugerahi penghargaan.  Kepada keluarga besar TNI AU, tetaplah tegar sebagai pengawal kedaulatan dirgantara.
****
Jagarin Pane / 02 Juli 2015

Tuesday, June 23, 2015

Tidak Hanya Semangat, Jenderal



Tentara Nasional Indonesia, bukanlah tentara biasa seandainya kecukupan alutsista terpenuhi baik secara kualitas maupun kuantitas.  Maksud kulo begini, jika pemenuhan alutsista yang berteknologi terkini dapat dimiliki baik secara mutu dan jumlah lalu ditambah dengan kemampuan spartan yang dimiliki prajurit TNI maka layaklah disebut pengawal republik kita bukan tentara biasa.

Untuk urusan spartan, tentara bumi nusantara yang tropis ini dikenal sebagai tentara dengan kemampuan gelut dan survival yang disegani. Karena menu latihan yang dimakan sehari-hari adalah menu yang hampir melewati batas ambang ketahanan fisik dan psikologi. Dalam serial latihan survival antar marinir Indonesia dan Amerika Serikat yang diadakan setiap tahun di hutan Jawa Timur, marinir AS mengaku kalah dengan marinir RI dalam uji ketahanan hidup di hutan raya.
F16 di Tarakan, agar tidak dilecehkan
Serial latihan ketangkasan menembak baik tingkat ASEAN maupun ajang internasional lainnya tradisi juara selalu dipegang TNI. Terakhir di ajang lomba AASAM di Victoria Australia kontingen TNI menyapu lebih separuh medali emas yang disediakan untuk 14 kontingen lain termasuk AS, Inggris dan tuan rumah. Kemudian di arena pasukan perdamaian dunia baik di Libanon, Sudan nama baik tentara republik diukir jelas dengan berbagai prestasi personal dan kesatuan.

TNI telah memenuhi kesempurnaannya sebagai tentara spartan, militan, patriotik, dan penuh semangat karena kurikulum latihannya seperti itu. Jadi dampak dari semua jenis latihan yang dilakukan itu pada dasarnya ingin menjelaskan bahwa tentara kita selalu bersemangat dalam setiap penugasan baik untuk operasi militer perang dan operasi militer selain perang.  Kita bisa saksikan pada operasi militer selain perang evakuasi korban Air Asia beberapa waktu lalu, spartan banget. Lalu operasi militer selain perang berupa operasi serbu teritorial membantu petani tanam padi, merupakan gambaran semangat yang tiada henti.

Kesempurnaan spartan itu akan semakin kelihatan nilai gaharnya manakala tentara dilengkapi dengan kekuatan alutsista yang modern, berkualitas dan mencukupi.  Nah dalam kurun enam tahun terakhir ini mata hati pemerintah mulai sadar diri untuk segera melakukan modernisasi persenjataan TNI segala matra.  Maka dengan rencana strategis bernama MEF dimulailah gebrakan untuk memperbaharui alutsista TNI.  Proyek alutsista bernilai ratusan trilyun selama lima tahun pertama, kemudian dilanjut dengan pemerintahan yang baru menunjukkan sikap istiqomah yang kuat dari pemerintah untuk terus memperkuat kegagahan hulubalangnya.

Oleh-oleh Wayang IndoBatt di Unifil
Kita sangat bergembira dengan keyakinan pemerintahan Jokowi yang akan terus melanjutkan perkuatan tentara.  Kondisi yang tak pasti di lingkungan regional kita mengharuskan persiapan penguatan persenjataan.  Kita berharap jangan ada statemen yang meremehkan kondisi di Laut Cina Selatan.  Itu bukan konflik kelas teri. Jangan pula kita terlambat mengantisipasi ketika semua negara sudah membentengi dirinya baik secara mandiri maupun aliansi.  Kita harus bersiap diri meski kita tidak ikut konflik karena pemain utama di laut kaya sumber daya alam itu adalah gajah dunia.

Perang modern tidak mengandalkan semangat semata tetapi lebih pada dukungan kekuatan alutsista berteknologi. Jadi sangat lucu kalau ada pernyataan “yang penting semangat” lalu mengabaikan pemenuhan kebutuhan alutsista. Perang abad 21 dan seterusnya tidak lagi mengajarkan gelut antar tentara atau adu jotos antar tentara atau adu pedang antar pasukan.  Cukup pencet tombol lalu meledaklah berbagai amunisi mulai dari peluru kendali, bom dan artileri dari jarak jauh.

Untuk mengantisipasi situasi regional yang tak pasti dan agar kita tidak dilecehkan oleh bangsa lain kita sangat membutuhkan tambahan kekuatan 4-5 skuadron fighter, 3-4 destroyer, 8-10 fregat, 12-15 korvet berteknologi bersama 10-12 kapal selam dalam 8 tahun mendatang.  Ini bukan mimpi tapi kewajiban kita sebagai bangsa yang diwarisi negara kepulauan paling elok di muka bumi ini. Kita mampu untuk memenuhi kebutuhan gizi alutsista buat pengawal republik, kalau kita mau.  Kita bisa menjadikan tentara kita sebagai tentara modern yang memiliki unjuk kerja spartan. Kita harus bersemangat membangun tentara kita dan menjadikannya sebagai tentara luar biasa.

Kita akan terus melangkah. Sembari mengharap ada perbaikan pertumbuhan ekonomi, rencana pengadaan alutsista akan terus digaungkan seirama pula dengan pernyataan-pernyataan yang mengedepankan optimis dan keyakinan.
Sebagai anak bangsa tentu kita menginginkan kemampuan dan kemajuan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan. Tingkat kesejahteraan yang diperoleh tentu memerlukan keyakinan pada rasa aman, damai dan tidak merasa terancam.  Perkuatan tentara dalam rangka itu untuk memastikan rasa aman dari gangguan teritori dan eksitensi bangsa sekaligus penggahar kekuatan diplomasi. Tidak hanya semangat Jenderal tapi kita butuh banyak alutsista terkini untuk hulubalang kita.
****
Kudus, 23 Juni 2015
Jagarin Pane