Monday, June 8, 2015

Tidak Hanya Laut Yang Berwarna Biru



Suksesi Panglima TNI sudah diambang pintu, sebagaimana yang pernah dijalankan pemerintahan sebelumnya maka mestinya giliran Angkatan Udara mendapat kesempatan untuk menjadi TNI-1.  Namun statemen Menteri Tejo yang menyatakan tidak otomatis  Kepala Staf Angkatan Udara menjadi Panglima TNI pada akhirnya menimbulkan polemik berkepanjangan. Habis juga energi hanya untuk mencoba merubah tatanan yang sudah berjalan sebagaimana tatakrama, meski tak ada Undang-Undangnya

Harus bisa memilah antara visi dan figur.  Kalau visinya tentang poros maritim atau menjadikan laut bukan sebagai punggung tetapi sebagai dada, dan lalu kita membusungkan dada sembari mengucap ini lautku mana lautmu.  Tentu bukan berarti semuanya akan berwarna laut karena warna air laut biru itu juga karena warna langit biru. Jadi figur bisa dari matra apa saja dan ketika tiba giliran tentara langit untuk mendapat kesempatan, jalankanlah dengan biasa-biasa saja. Toh jenderal-jenderal bintang empat itu sudah tersaring dari serangkaian kompetisi gagah dan gigih baik uji visi, uji pikir, uji nyali, dan uji tempur.
Sukhoi Indonesia, kegaharan yang diniscayakan
Memang hak prerogatif Presiden untuk menentukan Panglima TNI tetapi Presiden tentu mendapat masukan dan “gosokan”.  Nah gosokan ini yang perlu diwaspadai karena bisa saja terkontaminasi dengan virus-virus kepentingan apalagi ke depan belanja alutsista kita akan menjadi yang paling gede di ASEAN.  Perlu juga diketahui bahwa Menkopolhukam kita itu kan mantan KSAL dan Menhan kita itu mantan KSAD, jadi kalau Panglima TNI kali ini dari Angkatan Udara, biasa aja tuh. Kok jadi repot mempermasalahkan sesuatu yang sudah berjalan bagus selama ini.

Konsep pertahanan yang dianut Republik ini tidak lagi berdasarkan “masuk dulu baru digebuk” tetapi mulai menerapkan kurikulum “berani masuk digebuk”.  Untuk menjalankan kurikulum baru itu tentu harus punya Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang kuat.  Kenyataannya kekuatan udara dan laut kita belum sampai pada kekuatan “berani masuk digebuk” tapi baru sebatas kiasan “berani masuk dipelototin”. Angkatan udara yang memiliki kualifikasi pre emptive strike yang kita dambakan itu minimal harus punya 4 skuadron Sukhoi dan 6 Skuadron F16 edisi terkini dan atau yang sekelas dengannya. Harus punya pesawat intai strategis, harus punya pesawat pembom strategis.  Angkatan Laut juga demikian, minimal harus punya 4-5 Destroyer, 15-20 Fregat, 30-40 Korvet, 10 kapal selam.  Itu kalau mau menjalankan kurikulum pre emptive strike yang sejati.

Panglima TNI dari tiga matra semuanya pantas dikedepankan untuk memimpin pasukan penjaga NKRI.  Nah ketika pergantian itu tiba pada giliran Angkatan Udara, jalankanlah mekanisme itu karena figur Kepala Staf dari matra manapun sanggup menjalankan visi kemaritiman yang sekarang menjadi lagu wajib tak terbantahkan. Meneruskan tradisi yang sudah baik dari pemerintahan sebelumnya tentu akan memberikan nilai pandang yang bagus bagi pemerintahan sekarang. Tidak ganti kepemimpinan ganti kebijakan apalagi ternyata kebijakan itu karena pamrih atau adanya gosokan untuk kepentingan lain yang Presiden sendiri tidak tahu.  Bukankah Presiden kita presiden yang polos.
KRI Bung Tomo 357 menembakkan rudal
Dukungan visi maritim dari sudut pandang militer tidak lain adalah mempunyai armada laut dengan kemampuan tempur jelajah dengan kapal perang sekelas fregat dan destroyer serta kapal selam herder.  Kekuatan armada tempur laut itu mutlak harus didukung kekuatan Angkatan Udara yang berkualitas.  Tidak mungkin armada laut dipayungi jet tempur Hawk,  harus sekelas Sukhoi atau F16 edisi terakhir atau F-18 Hornet.  Untuk mencapai kekuatan itu perlu waktu tetapi menetapkan figur untuk menjalankan cita-cita itu sangat elok melihat warna biru karena warna biru bukan hanya warna air laut, gunung juga dari jauh berwarna biru, apalagi langit cerah pasti berwarna biru. Jangan pula mengklaim warna biru dari partai saya dan itu sama dengan warna laut yang menjadi idola saya.

Tentara kita tidak boleh dicampuri dengan kepentingan politik. Yang jelas kemampuan tempur militer negara ini harus dibenahi, dibaguskan dan digaharkan. Tantangan teritorial ke depan tidak bisa hanya diplototin lalu kirim nota diplomatik. Kita harus punya militer yang kuat menjalankan kurikulum berani masuk digebuk.  Tidak lagi ada kalimat nanti dulu untuk memperkuat militer kita. Bahkan melihat kondisi dinamis di kawasan ini percepatan pembangunan kekuatan itu menjadi syarat utama.  Kalau hanya Hawk yang ditugaskan menjaga Natuna atau KCR 40 dan KCR 60,  negeri Utara kita itu pasti bilang “gak nendang tuh”.

Siapapun yang memimpin TNI dia adalah orang terbaik dan ketika giliran Angkatan Udara yang harus memimpin, jalankan saja.  Figur Panglima TNI dari tiga angkatan itu sanggup menjalankan visi dan misi kemaritiman. Jangan sampai ketika menunggu antrian tiket begitu tiba di depan loket, tiketnya habis padahal di belakang loket sedang ada transaksi. Jangan sampai model kedengkian di loket karcis itu terjadi dalam menentukan pantas dan tidak pantasnya figur untuk menjalankan visi.  Ingat bukan hanya laut yang berwarna biru, gunung juga berwarna biru dan langit juga pemilik warna biru.
****
Jagarin Pane / 08 Juni 2015

Thursday, May 28, 2015

Ketika Ruang Kerjasama Dibuka Luas



Kunjungan Menhan RI Ryamizard Ryacudu ke AS melintasi Lautan Pasifik singgah di Hawaii baru kemudian ke Washington DC tanggal 07 sampai dengan 15 Mei 2015 bukanlah sekedar kunjungan basa basi. Di Hawaii Menhan bertemu dengan dua komandan Pasifik yaitu komandan Armada dan komandan Angkatan Darat, dua komando yang bertanggung jawab terhadap gejolak dan huru hara keamanan di sepertiga cekungan bumi.

Intinya adalah AS tentu harus terus menerus merayu  Indonesia sebagai bumper utama jika terjadi huru hara di Laut Cina Selatan (LCS). Cara AS menghadapi musuh atau saingannya adalah dengan membentuk aliansi pertahanan atau aliansi serang lawan.  Selalu bernuansa keroyokan, begitu gayanya, hampir tak pernah berkelahi sendirian dan tak pernah jua berkelahi di rumah sendiri. Nah Indonesia harus diajak untuk ikut dalam barisan aliansinya.

Armada laut Indonesia, harus selalu siap sedia
Kali ini lawan potensial yang bakal di hadapi di “hari kemudian” adalah Cina,   sosok naga yang makin menunjukkan taring kekuatan ekonomi dan militer yang tak terbendung lagi.  Musuh masa depan AS yang sesungguhnya adalah Cina.  Itu sebabnya mulai tahun kemarin AS secara bertahap memindahkan perangkat dan armada militernya ke kawasan Asia Pasifik sampai mencapai 60% kekuatan yang ada di seluruh dunia.

Indonesia sebagai pemilik teritori kepulauan yang memisahkan Lautan Pasifik dan Lautan India punya peran strategis untuk operasi militer skala besar di LCS jika huru-hara itu benar-benar terjadi.  Oleh sebab itu para pemikir strategis AS tentu harus memperhitungkan posisi Indonesia yang luas itu sebagai penyekat dan benteng untuk menghadapi Cina. Australia juga sangat berkepentingan dengan bumper yang bernama Indonesia itu sehingga dia harus baik-baik dan tahan diri.

Saat ini kerjasama pertahanan dengan AS diperluas.  Ada kerjasama konsultasi manajemen pertempuran modern, ada kerjasama cyber war, ada kerjasama pelatihan personel militer, ada kerjasama antar kesatuan militer. AS juga tak pelit lagi menjual alat tempur modernnya seperti helikopter Apache dengan rudal hellfirenya, jet tempur F16 dengan rudal Air to Air dan Air to Surface.  Kemudian ada Heli Chinook dan tawaran F16 blok 60 dan kapal perang OHP Class.

Pembangunan pangkalan militer Cina di LCS
Skenario jika terjadi huru hara di LCS bagi AS dan Australia adalah memanfaatkan teritori Indonesia sebagai medan lintasan armada laut, lintasan jet-jet tempur dan pembom strategis dari selatan. Lebih penting dari itu khasiatnya adalah jangan sampai Indonesia terhasut dengan Cina, jangan sampai Indonesia dipeluk Cina, jangan sampai Indonesia digendong Cina, jangan sampai Indonesia masuk dalam blok Cina. Posisi netral adalah posisi yang paling minimalis di mata AS.

Oleh sebab itu ruang luas untuk kerjasama militer dibuka AS untuk Indonesia. Silakan mau pilih kerjasama model apa, namanya juga lagi mengambil hati.   Ditawarkan kapal perang OHP Class masih jual mahal gak papa, ditawarkan F16 blok mutakhir masih mikir gak papa, ditawarkan PC3 Orion masih merem melek gak papa.  Yang penting ente ikutlah dengan barisan kami sebagai perisai garis depan, begitu yang ada dalam pikiran Pentagon. AS sudah mewanti-wanti bahwa konflik LCS bukan konflik kelas teri dan konflik itu ada di depan halaman kita.

AS, Australia, Jepang, Korsel sejatinya adalah kekuatan pemukul yang mampu menghancurkan kekuatan militer Cina jika terjadi perang terbuka.  Tetapi dengan kondisi sekarang model yang paling disukai adalah dengan model proxy war, mendorong “pelanduk” untuk tampil ke depan sementara si “gajah” petintang petinting di belakang.  Lalu memperbanyak sekutu sebanyak mungkin agar resiko tidak ditanggung sendiri alias ditanggung rame-rame.  Jadi gak rugi sendiri.

Pemikir-pemikir strategis Indonesia sesungguhnya paham dengan dinamika itu.  Ingin berdiri ditengah serba salah karena arena ring pertempuran terimbas ke wilayahnya. Ingin jadi wasit di tengah ring tinju sengketa belum menunjukkan kemampuan diplomasinya, salah-salah malah bisa menjadi korban dari salah seorang petinju. Tetapi kita meyakini bahwa pada saatnya Jakarta bisa memilih yang terbaik dari posisi netralnya saat ini.

Suhu tinggi di LCS hari-hari belakangan ini sangat terasa.  Pengintaian yang dilakukan oleh pesawat Poseidon AS di LCS disikapi dengan reaksi keras oleh Cina.  Pembangunan pangkalan militer Cina di LCS dipastikan akan menciutkan nyali negara lawan klaimnya.  Hanya AS yang mampu menandingi kekuatan Cina. Maka untuk menjawab kemarahan Cina sehubungan dengan insiden Poseidon beberapa hari yang lalu, Juli nanti akan dilakukan latihan militer gabungan antara AS, Australia dan Jepang di LCS melibatkan puluhan ribu pasukan dan berbagai alutsista teknologi terkini.

Kita berpendapat Jakarta harus cepat mengambil langkah antisipatif terhadap kondisi sekitar Natuna yang demamnya semakin meninggi. Perkuatan militer harus dipercepat. Natuna harus dibenahi segera, apakah itu perluasan pangkalan AL dan AU. Percepat pengiriman alutsista. Kapal-kapal perang sekelas Destroyer atau Fregat diperbanyak. Manfaatkan ruang kerjasama militer dengan AS seluas-luasnya. Jangan sampai telat mikir atau berpikir pola makelar.

Tanpa bermaksud mendramatisir, cuaca LCS itu bisa meledak setiap saat.  Segeralah bertindak, perkuat Natuna, perkuat Riau, perkuat Kalimantan.  Mana tuh Kogabwilhan, statusnya masih terdengar mulu, belum terdaftar apalagi diakui atau disamakan.  Masih jauh kan padahal “Belanda” sudah dekat.  Jangan sampai niat awal yang tulus untuk memperkuat “bangsaku” dalam perjalanan kemudian yang terjadi justru memperkuat “bank saku”.
****
Semarang, 28 Mei 2015

Sunday, May 10, 2015

Mencermati Sinyal Adrenalin "TSel"



Jawaban cemerlang juru bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir belum lama ini sungguh sangat membungakan hati kita: Pembangunan Indonesia tidak dipengaruhi bantuan Australia. Indonesia tidak dalam kapasitas meminta-minta bantuan Australia dan adalah hak Australia untuk tidak memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada Indonesia.  Ini adalah jawaban yang mampu memukul wajah negeri itu yang senangnya mengancam Indonesia dengan berbagai jurus sehubungan dengan ditembak matinya 2 gembong narkoba Bali Nine baru-baru ini.

Sinyal adrenalin TSel (Tetangga Selatan) belakangan ini menuju tensi tinggi karena tidak legowo dengan matinya 2 warga negaranya yang tersangkut pidana narkoba.  Mulai dari ancaman akan membekukan bantuan luar negerinya kepada Indonesia sebesar 4 trilyun, mengajak boikot warganya ke Bali, memberi beasiswa dengan nama “pahlawan” Bali Nine, menghalangi dan membatalkan perjalanan Sby ke Perth sampai dilarangnya mahasiswa kita ikut kuliah di sebuah universitas disana.
Halim AFB, salah satu basis kuat TNI AU
Sesungguhnya Australia memerlukan Indonesia dalam segala hal.  Artinya kita sesungguhnya begitu penting di mata mereka.  Negeri berpenduduk 250 juta ini adalah pasar ekonomi yang bisa mempengaruhi kehebatan negeri itu. Ada puluhan ribu mahasiwa Indonesia di Australia yang tentu ikut menggeliatkan ekonomi negeri itu. Peternak sapi Australia memerlukan pasar besar yang bernama Indonesia. Indonesia sesungguhnya juga merupakan bumper bagi Australia terutama menghadapi ancaman militer raksasa Cina yang mulai menyemburkan api lidah naga di kawasan sekitarnya.

Arogansi cara bertetangga negeri warisan aborigin itu tidak telepas dari persepsi dan perspektif pengendali pemerintahannya yang merasa selalu diatas angin dan kesan mendikte jika berselisih paham dengan RI.  Maunya dia ya kemauan dia yang diikuti sebab kalau tidak maka menu omongan bernama dan bernada ancaman dia teriakkan dengan sok jagoan misalnya tarik duta besar, boikot pariwisata, ungkit-ungkit bantuan tsunami dan seterusnya.  Kita berkesimpulan bahwa pengendali pemerintahan disana memang tidak menunjukkan cara pandang yang bijaksana dan dewasa dalam hubungan pertetanggaan khususnya dengan Indonesia. Yang dikedepankan hanya arogansi dan merasa kastanya lebih tinggi.

Terkait dengan hubungan kerjasama pertahanan dan militer dengan kita, ada beberapa  kerjasama yang sedang on going project, misalnya hibah berbayar 5 Hercules dan pembelian 4 Hercules bekas.  Kemudian kerjasama pelatihan militer antar kedua negara. Lebih penting dari itu adalah Australia harus memelihara hubungan ekonomi, militer dan kepolisiannya dengan kita karena kebutuhan masa depannya.  Apalagi saat ini Indonesia sedang melaksanakan modernisasi militernya di segala matra.

Uji tembak peluru kendali Exocet Blok 3
Perkuatan militer Indonesia pada saatnya nanti akan memberikan kekuatan pertahanan diri yang setara dengan negeri itu.  Artinya tidak bisa lagi Australia meremehkan kekuatan militer kita. Indonesia saat ini sedang membangun kekuatan militernya dengan anggaran belanja yang meningkat tajam.  Bahkan diperkirakan tahun 2017 nanti anggaran pertahanan Indonesia sesuai prediksi Andi Widjajanto akan menjadi nomor satu di ASEAN.  Dan itu akan berlanjut terus sehingga fajar kekuatan militer yang kekar gagah itu akan terlihat di tahun 2024 kelak, sepuluh tahun dari sekarang.

Saat ini saja sesungguhnya gertak sambal negeri kanguru itu tidak bergaung di negeri ini.  Mau boikot pariwisata kek, mau tarik dubes kek, mau putus bantuan kek, sudah gak ngaruh tuh.  Toh semuanya berjalan seperti biasa dan gertakan Abbott dianggap angin lalu.  Apalagi jawaban diplomat Indonesia Arrmanatha Nasir yang sangat jantan itu membuat negeri itu harus berhitung ulang.  Sebab dia juga harus berpikir ulang jika Indonesia melakukan serangan balik dengan menghentikan impor sapi atau menghentikan kerjasama kepolisian untuk tanggulangi teroris, dia akan kelimpungan sendiri.  Harap dicatat, kita bukan lagi pengikut tetapi sudah menjadi faktor penentu.

Indonesia akan terus berjalan dengan membangun kekuatan ekonomi dan militernya.  Yang tidak akan tertandingi Australia adalah kekuatan ekonomi Indonesia yang sudah jauh mengungguli tetangga selatan itu.  Demikian juga perkuatan militer Indonesia dengan membangun kekuatan 1 divisi marinir di timur Indonesia, membangun armada tempur kawasan timur berpusat di Sorong, menambah kekuatan skuadron tempur di Biak, memperkuat radar-radar militer tentu pada saatnya akan mampu menyadarkan dia bahwa tetangga dekat utaranya itu bukanlah anjing kampung yang mudah digertak.

Kekuatan ekonomi dan militer Indonesia sedang menuju kekuatan herder dan jika itu tercapai sepuluh tahun dari sekarang sebagaimana prediksi lembaga-lembaga internasional maka gertak sambal yang selalu dikumandangkan selama ini akan dibalas dengan gemeretak geraham sambil menyeringai.  Dijamin kanguru sebelah terdiam dan terkesima.  Yang perlu dipahami Australia adalah meski nanti kekuatan ekonomi dan militer kita sudah setara herder tetapi yakinlah kita tetap mengedepankan kultur timur yang selalu santun dan teposeliro dengan tetangga tetapi tentu dengan menambah rambu “anda sopan kami segan, anda senggol kami bacok”.
****
Ahad/10 Mei 2015

Saturday, May 2, 2015

Menuju Anggaran Pertahanan 200 T



Adalah Komisi I DPR beberapa waktu lalu menggemakan kembali semangat berpertahanan dengan menargetkan anggaran belanja tentara bisa mencapai Rp. 200 T setiap tahun di era pemerintahan Jokowi.  Jika itu tercapai maka dipastikan anggaran pertahanan Indonesia akan menjadi nomor satu di ASEAN mengungguli Singapura.  Dengan anggaran pertahanan tahun 2015 sebesar Rp. 102 T Indonesia menduduki ranking kedua setelah Singapura.

Yang menarik disini adalah, biasanya tradisi untuk mengekspose peningkatan anggaran pertahanan selalu dikumandangkan secara berulang dari kementerian shohibul bait lewat berbagai kesempatan seremoni atau jumpa pers. Ternyata perjuangan untuk menambah anggaran hulubalang republik sudah dimudahkan oleh parlemen.  Ini membuktikan bahwa keinginan untuk memperkuat otot tentara sudah disepakati bulat oleh seluruh struktur bingkai kebangsaan, utamanya yang bernama pemerintah dan parlemen.

Anggaran militer berbagai negara
Meski pencapaian anggaran 200 T itu dengan syarat dan ketentuan berlaku antara lain indikator pertumbuhan ekonomi 7% sesungguhnya semangat menuju pertumbuhan ekonomi dan militer itu menjadi harapan semua pihak.  Sesungguhnya kita telah berada dalam pertumbuhan kesejahteraan menuju tingkat yang lebih baik apalagi subsidi BBM telah dihapuskan dan dialihkan untuk pembangunan sektor infrastruktur secara besar-besaran. Contohnya pembangunan jalan tol ratusan kilometer Solo-Kertosono dan Bakauheni-Palembang diambil alih oleh Pemerintah lewat BUMN infrastruktur. 

Kita baru memulai pembangunan infrastruktur secara besar-besaran dan itu baru akan kelihatan nilai jerih payahnya minimal 3 tahun mendatang.  Dengan anggaran subsidi BBM yang mampu melipatgandakan kekuatan anggaran infrastruktur, ditambah asupan gizi investasi Cina untuk membangun berbagai paket infrastruktur di tanah air yang mencapai US $50 milyar maka diprediksi mulai tahun 2018 akan memberikan kekuatan pertumbuhan ekonomi sebagaimana dicita-citakan bersama.

Oleh sebab itu sebagaimana rangkaian sebab akibat tadi, maka pertambahan anggaran pertahanan sebesar 200 T diyakini akan bisa dicapai pada tahun 2018 atau 2019.  Ini perhitungan prediksi berdasarkan kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam perjalanan peningkatan kesejahteraan.  Kita meyakini bahwa pencapaian yang diharapkan itu bisa tercapai tentu dengan program-program extra ordinary yang dikawal ketat oleh pemerintah bersama DPR.
Fregat TNI AL dikawal Apache
Belanja militer Indonesia adalah hasrat yang harus terus dihembuskan karena kita tidak ingin dikata-katain begini, sudah kemalingan baru pasang teralis. Kita ingin pagar teritori dijaga ketat oleh kapal-kapal perang, kapal selam dan jet tempur yang mampu menggonggong dan menggigit. Jangan hanya menggonggong tapi ketika ditimpuk batu sama tetangga lalu bungkam atau bahkan terkaing-kaing.  Jadi pengawalnya harus berkelas herder bukan anjing kampung atau bahkan pudel.  Kalau kita ingin mengumandangkan NKRI harga mati maka alutsista berkelas herder dan kesejahteraan prajurit yang cemerlang juga harga mati dong.

Kementerian Pertahanan tentu sudah punya rencana-rencana bagus untuk memilih alutsista terbaik bagi TNI juga peningkatan kesejahteraan prajuritnya.  Artinya usulan-usulan yang diajukan user itulah yang menjadi pilihan utama untuk memperkuat berbagai jenis alutsista yang diinginkan. Termasuk mengumandangkan semangat memperkuat militer dengan maksud untuk memastikan kekuatan daya berpertahanan “tidak malu-maluin” jika suatu hari kemudian terjadi konflik dengan negara lain.

Mengumandangkan semangat berpertahanan adalah untuk memberikan keyakinan kepada semua komponen bangsa bahwa kondisi dinamis kawasan tidak bisa diprediksi.  Jadi kita wajib memperkuat alat pertahanan kita meski kita tidak ingin berperang dengan jiran, tidak ingin konflik dengan negara lain.  Mengedepankan hal-hal yang berbau klise seperti kita tidak mungkin berperang dengan negara lain, negara-negara ASEAN baik-baik semua, kita tidak punya masalah dengan Cina atau Australia tidak akan menganggu kita, lebih baik fokus pada bencana alam, adalah sebuah opini untuk meremehkan hakekat pertahanan itu sendiri.

Kita masih sangat membutuhkan skuadron-skuadron fighter, puluhan kapal kombatan, belasan kapal selam dan berbagai alutsista berdaya hancur tinggi untuk memastikan nilai NKRI harga mati itu. Maka peningkatan anggaran pertahanan yang terus menerus sangat dibutuhkan oleh negeri ini karena luasnya wilayah yang harus dijaga dan memastikan tidak adanya gangguan teritori bahkan rencana agresi negara lain karena kita punya militer yang kuat.

Pencapaian anggaran 200T tentu bukan sebuah mimpi.  Kita meyakini kita bisa mencapai nominal itu bahkan akan melewatinya mulai tahun 2020 mendatang.  Pencapaian anggaran sebesar itu tentu mampu mensumringahkan kita karena dengan dana itu kita bisa belanja alutsista berkualitas dan berteknologi terkini seirama dengan peningkatan kesejahteraan prajurit.

Mewibawakan sebuah harga diri bangsa tentu dengan mengembangkan postur kesejahteraan dan kekuatan.  Mewibawakan sebuah teritori dan eksitensi negara tentu dengan memperkuat pagar pertahanan. Kita sudah memulainya dengan menggelontorkan belanja militer dalam jumlah besar.  Kita akan terus membangun kekuatan itu sampai kemudian nilai kewibawaan dan kegagahan tadi muncul dari kesimpulan yang diambil oleh mereka yang hendak mencoba mengganggu.
****
Jagarin Pane / 02 Mei 2015