Monday, October 28, 2013

Renungan Kebangsaan

Pemuda yang bersumpah menandakan ada cikal bakal, maka jalan sejarah yang dipergelarkan adalah menyatakan kebersamaan jalan diri untuk membingkai dan merajut. Jahitan yang membentang luas itu adalah bhinneka warna dalam kepalan semangat merah putih, mengumumkan dengan darah dan airmata pada dunia bahwa kami bernama NKRI.

Jahitan itu pula yang hari ini, pada saat kita membasuh wajah di beningnya air danau, perlu dirajut ulang untuk memastikan langkah perjalanan kebersamaan tidak dikoyak oleh ambisi primordial bermata uang. Kesalahan terbesar dalam menyanyikan lagu berjudul "atas nama demokrasi" adalah simpanan lirik lagu yang salah ketik. Maksud liriknya adalah: untuk membangun bangsaku, berubah menjadi : membangun bank saku.

Maka yang terjadi kemudian adalah perlombaan membangun bank saku masing-masing, mengisi kantong dengan cara jahiliyah metode firaun. Sayangnya banyak pelakunya berwajah wudhu dan berada di saf depan manakala menghadap "Pimpinan Tertinggi Dunia Akhirat".

Sumpah Pemuda yang perlu digelegarkan kali ini adalah menyatakan dengan segala hormat bahwa pelaku metode firaun perlu ditenggelamkan dilaut dalam agar nilai jera dan nasuha mampu dibenamkan bersama qarunnya. Gelegar yang lain adalah menggariskan kembali aliran darah nasionalis yang sempat tersumbat kolesterol primordial yang merasa lebih pantas karena dipantas-pantaskan.

Pemuda yang bersumpah menandakan ada cikal bakal
Jika saja alinea terakhir diatas mampu disumpahkan lagi, maka akan ada cikal bakal
Bakal ada cikal bakal
Harus ada cikal bakal
Apakah masih ada cikal bakal ?
****Jagvane / 28102013

Saturday, October 26, 2013

Sesekali Boleh Nampang Kan ?

Tidak hanya tulisannya saja yang muncul, sesekali yang nulis juga perlu

Friday, October 18, 2013

MENIMBANG LAMPUNG



Dinamika kawasan Asia Pasifik khususnya Laut Cina Selatan (LCS) setahun terakhir ini sangat mudah berganti warna. Pagi kelihatannya cerah, tiba-tiba tengah hari mendung dan suram, atau sebaliknya.  PM Cina Li Keqiang dalam pertemuan ASEAN di Brunai tanggal 10 Oktober 2013 yang lalu,misalnya, meminta sengketa LCS diselesaikan secara damai dan bersahabat. Padahal pernyataan dan kenyataan di medan air LCS berbeda tajam. Pernyataan adalah diplomasi, belum tentu kalimat ucap sama dengan kalimat hati.  Gerakan militer Cina yang berbaju kapal nelayan berteknologi selalu memantau situasi LCS setiap hari, termasuk gerakan kapal selamnya.

Dalam terminologi militer pesan “cuaca” yang mudah berganti itu harus disikapi dengan cara pandang kewaspadaan dan pantauan terus menerus.  Termasuk juga tiga tahun lalu belum ada pemikiran menoleh serius ke pantai selatan Jawa dan pantai barat Sumatera.  Tetapi sejak Darwin, pulau Natal dan Cocos ada optimasi bertahap pengumpulan satuan militer dan persenjataan negara adidaya, maka mau tak mau kita harus menoleh dan mengantisipasi untuk berkalkulasi pertahanan diri. Salah satunya adalah membangun pangkalan militer setara Surabaya dan penempatan 1 skuadron Sukhoi generasi terbaru di lingkaran itu.
Tidak lagi harus terpusat di Surabaya
Pangkalan utama angkatan laut di selat Sunda tepatnya di teluk Lampung bisa menjadi pilihan strategis karena berada di mulut ALKI I. Jangkauan operasi kapal perang yang berpangkalan di teluk Lampung bisa menjangkau seluruh pantai selatan Jawa, pantai barat Sumatera dan LCS.  Sementara untuk penempatan 1 skuadron Sukhoi salah satu pilihan bagus bisa ditempatkan di Lanud Radin Inten, Bandar Lampung.  Sama seperti pangkalan AL di Lampung, kehadiran Sukhoi di Bandar lampung bisa memberikan kawalan terhadap seluruh ALKI I, pantai selatan Jawa, pantai barat Sumatera, selat Malaka dan LCS. Lebih dari itu memberi kepastian reaksi cepat mengawal ibukota dari ancaman jet tempur asing.

Program MEF(Minimum Essential Force) kedua diprediksi akan ada penambahan minimal 2 skuadron jet tempur diluar penggantian jet tempur F5E. Boleh jadi penggantian F5E dari F16 upgrade batch 2 sebagaimana yang pernah ditawarkan Obama setelah 24 F16 batch 1 tiba.  Sangat terbuka kemungkinan isian penambahan 2 skuadron itu dari Sukhoi Family.  Alokasi strategis penempatan 1 skuadron Sukhoi di wilayah Barat menurut pandangan kita sangat tepat berada di jalur ALKI I Selat Sunda yaitu di Lanud Radin Inten.  Sementara 1 skuadron yang lain bisa ditempatkan di timur Indonesia yaitu Biak. Jadi gambaran jelasnya ada 3 skuadron Sukhoi yaitu di Lampung, Makassar, Biak. Sebagai jet tempur kelas berat jelajah jangkau Sukhoi dari titik Lampung  akan mampu mengcover seluruh ALKI I yang meliputi Selat Sunda, Selat Malaka sampai Natuna. Termasuk mengawal Jawa dan Sumatera.  Yang paling penting dari semua pemikiran strategis itu adalah untuk mengawal ibukota.

Angkatan laut juga diharapkan tidak lagi menumpuk kapal perang di Surabaya.  Sebagaimana dikatakan Jendral Kiki Syahnakri di acara Sugeng Sarjadi TVRI dalam rangka menyambut HUT TNI 5 Oktober lalu.  Sudah saatnya pangkalan TNI AL tidak lagi dipusatkan di Surabaya.  Maka salah satu pilihan tentu saja pangkalan TNI AL di Teluk Lampung yang dulu sempat bergema kuat di era Pak Harto ketika heboh pembelian 39 kapal perang eks  Jerman Timur.  Bukankah di Piabung sudah ada satuan tempur Marinir setingkat brigade.  Benar pemikiran mantan KSAL Laksamana Slamet Subiyanto bahwa TNI AL jangan hanya memikirkan halaman dalam NKRI, tapi juga perlu kehadiran di halaman luar seperti pantai selatan Jawa dan pantai barat Sumatera. Kehadiran pangkalan utama TNI AL di kawasan selat Sunda merupakan basis perkuatan untuk mengawal ALKI I di mulut botolnya langsung.
Jet Tempur Sukhoi, 3 skuadron mampu mengcover seluruh NKRI
MEF tahap 2 tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 adalah kunci geliat perkuatan seluruh matra TNI.  Sebagai satuan pemukul NKRI dari ancaman asing, modernisasi persenjataan TNI di MEF 2 adalah keniscayaan yang harus dipertaruhkan dalam istiqomahisasi kebijakan meskipun struktur pemerintahan,  konspirasi kabinet dan parlemen sudah berbeda figur.  Sudah tentu menu utama dari adanya persebaran pangkalan AL dan skuadron jet tempur adalah pemenuhan dan penambahan jenis kapal perang berkualifikasi destroyer, fregat, kapal selam dan jet tempur berteknologi setara dengan ancaman yang datang dari selatan Jawa atau LCS. Khusus kapal selam selayaknya Indonesia harus memiliki minimal 12 kapal selam untuk mengawal jelajah perairan NKRI. Oleh sebab itu disamping 3 Changbogo yang sedang dalam proses pembangunan, opsi mengambil kapal selam dari Rusia sangat pantas dilakukan sebagai upaya percepatan kehadiran kapal selam yang merupakan alutsista strategis.

Menimbang Lampung adalah kalkulasi sederhana, masih dalam konteks mengawal Jawa sebagai jantung Indonesia dan sekaligus membuka kawalan baru sebagai akibat munculnya perkuatan militer di selatan Jawa dan barat Sumatera.  Hitung cepatnya, memperpendek jarak jelajah KRI dan memastikan ruang udara Sumatera Jawa ada dalam genggaman Sukhoi.  Meski katanya Cocos dan Darwin untuk menghadapi militer China tetapi tetap saja akan melewati teritori NKRI, tetap saja akan mengacak-acak ruang udara NKRI.  Kehadiran Skuadron Sukhoi dan pangkalan besar KRI di Lampung setidaknya akan memberikan langkah hati-hati bagi pihak manapun untuk tidak sembarangan melanggar kedaulatan teritori Indonesia.
*****
Jagvane / 18 Oktober 2013

Tuesday, October 15, 2013

Wawancara Dengan Koran Pikiran Rakyat Bandung



Sehubungan dengan tema Senjata Kimia yang saat ini menjadi fokus perhatian dunia internasional, wartawan Pikiran Rakyat Bandung Feby Syarifah melakukan wawancara dengan pemerhati pertahanan dan alutsista TNI Jagarin Pane. Berikut petikannya:

Bagaimana sebenarnya peraturan internasional mengenai kepemilikan senjata kimia? Apakah peraturannya seketat peraturan mengenai kepemilikan nuklir?
Sebenarnya regulasi universal tentang kepemilikan senjata kimia sama ketatnya dengan kepemilikan senjata nuklir.  Protokol Jenewa tahun 1925 jelas menyatakan melarang penggunaan senjata kimia. Protokol ini lahir sebagai akibat penggunaan senjata kimia dalam Perang Dunia I yang menewaskan puluhan ribu tentara. Hanya karena proses membuat senjata kimia itu lebih mudah dibanding dengan senjata nuklir, maka kontrol untuk kepemilikan senjata kimia lebih sulit terdeteksi.  Semua negara di dunia ini punya potensi untuk membuat senjata kimia yang dikenal dengan senjata pemusnah massal.

Apakah setiap negara berhak mengembangkan industri kimia dasarnya sebebas-bebasnya?
Setiap negara didunia ini bebas membuat dan mengembangkan industri kimianya.  Bebas tapi juga mestinya bertanggung jawab. Kita punya industri kimia berskala besar, Petrokimia Gresik, Pupuk Iskandar Muda, Pupuk Sriwijaya, Pupuk Kujang dll itukan semuanya industri kimia untuk keperluan perdagangan dan pertanian.  Nah untuk memastikan bahwa industri kimia itu adalah utuk tujuan damai dan tidak disalahgunakan, maka harus ada regulasi yang mengatur berupa Undang-Undang.

Kapan sebuah zat kimia bisa dikatakan senjata kimia? 
Zat kimia bisa disebut sebagai senjata kimia diawali dengan nawaitunya, alias niatnya. Sama dengan Narkoba kalau untuk keperluan dunia kedokteran dalam dosis yang terukur untuk pengobatan dan penyembuhan, ya tidak ada masalah.  Tetapi jika sudah disalahgunakan akan menyentuh wilayah hukum, makanya disebut penyalahgunaan narkoba.  Contohnya, air aki (asam sulfat)  H2SO4 jelas salah satu penggunaannya untuk battery power penggerak, tapi jika disiramkan ke wajah jelas salah besar, tidak sesuai peruntukannya.

Dalam sejarah perang, zat kimia apa yang paling membahayakan dan memiliki keampuhan paling tinggi sebagai senjata pembunuh massal?
Dalam sejarahnya PD I menjadi saksi sejarah perang modern betapa kejamnya penggunaan senjata kimia. Jerman menggunakan gas klorin di Belgia yang menewaskan 15 ribu tentara lawan, kemudian pihak Inggris dan sekutunya melakukan pembalasan dengan menggunakan gas Sulfur Mustard.  Inilah cikal bakal lahirnya Protokol Jenewa tahun 1925.
Perang dimana yang tercatat paling buruk dalam sejarah karena menggunakan senjata kimia?
Perang Vietnam tahun 1961 sd 1975 merupakan salah satu perang tanpa etika karena penggunaan senjata kimia. AS membombardir dengan menggunakan senjata kimia, salah satunya dikenal dengan nama Agent Orange. Setidaknya 20 juta gallon disebar dari udara di bumi Vietnam termasuk Agent Orange. Versi Pemerintah Vietnam menyebut 400 ribu orang Vietnam tewas atau cacat berat, 500 ribu bayi lahir cacat dan 2 juta warga Vietnam terkena kanker dan penyakit lain sebagai dampak lanjutan penggunaan senjata kimia itu.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia memiliki kekuatan untuk bisa mengembangkan industri kimianya sebagai senjata kimia?
Indonesia punya potensi dan kemampuan untuk mengembangkan industri kimia menjadi senjata kimia. Senjata kimia itu mudah untuk diproduksi sehingga untuk pengawasannya perlu payung hukum untuk tidak menggunakan senyawa kimia itu sebagai senjata kimia.

Adakah peraturan di Indonesia yang mengatur mengenai pengembangan kimia dan sampai mana batas pengembangan yang bisa dilakukan?
Regulasi nasional tentang penggunaan bahan kimia dan larangan penggunaan bahan kimia sebagai senjata kimia ada dalam UU No 9 Tahun 2008.  Sebenarnya dunia pun sudah menyetujui adanya perjanjian larangan penggunaan senjata kimia yang diikrarkan 188 negara April tahun 1997.  Israel dan Korut tidak ikut tandatangan. Setahun kemudian Indonesia meratifikasinya melalui UU No 6 tahun 1998.

Adakah larangan yang jelas di Indonesia terkait pengembangan kimia sebagai senjata?
Jelas ada. Sebagai negara berdaulat, hak konstitusi sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945, menjaga ketertiban dan perdamaian dunia, salah satu kontribusinya adalah memenuhi kewajiban dalam melaksanakan Konvensi Senjata Kimia yang telah diratifikasi melalui Undang-Undang No. 6 Tahun 1998.  Kemudian dalam Undang-Undang No 9 Tahun 2008 semakin dipertegas lagi substansinya.

Tanpa senjata kimia dan nuklir, bagaimanakah posisi kekuatan Indonesia dilihat dari alutsistanya? Apakah masih termasuk kuat?
Untuk Indonesia, sebagai bagian dari upaya pertahanan NKRI, fokus utamanya adalah memenuhinya dengan alutsista konvensional tanpa harus memaksa diri untuk memiliki senjata kimia atau senjata nuklir.  Sejatinya negara “Gentleman” adalah negara yang mampu menata pertahanan diri dengan persenjataan konvensional semata tanpa harus memenuhi nafsu bunuh maksimalnya dalam menangani perselisihan antar negara dengan menggunakan senjata kimia apalagi nuklir. Yang perlu dicatat proses kematian dengan senjata konvensional adalah langsung mati atau luka tembak karena daya ledak, selesai. Tapi proses kematian akibat senjata kimia bukan karena daya ledaknya tetapi proses “sengatannya” ke tubuh kita sangat dramatis, memilukan, menyayat hati. Ada yang mati pelan-pelan, cacat seumur hidup dan dampaknya sampai ke generasi berikutnya. Makanya negara yang menggunakan senjata kimia bisa disebut sebagai negara pengecut, tak berperikemanusiaan dan tak bermoral.

Sisi mana dari ketersediaan alutsista Indonesia yang harus lebih diperkuat?
Terkait dengan ketersediaan alutsista Indonesia yang saat ini sedang giat-giatnya memodernisasi tentaranya, semua matra perlu diperkuat.  Kita sudah punya 1 skuadron Sukhoi di Makassar, dalam MEF (minimum essential force) tahap 2 nanti masih sangat dibutuhkan minimal penambahan 1 skuadron lagi yang penempatannya berdekatan dengan ALKI I atau menjaga ibukota.  Angkatan Laut juga masih perlu perkuatan dengan kehadiran fregat, korvet dan destroyer.  Termasuk kapal selam tentunya sebagai senjata strategis pemukul yang paling disegani.  Matra darat masih sangat membutuhkan alutsista kavaleri seperti tank, panser. Juga rudal darat ke darat, roket dan artileri.  Kita yakin tahun 2019 nanti apa yang kita inginkan itu dapat tercapai.  Tak perlu memaksa diri dengan kepemilikan senjata kimia meski kita sanggup memproduksinya. Dengan alutsista konvensional, pemenuhan untuk segala matra dicukupi, negara ini akan disegani sekaligus gentleman.
****
(Catatan: Dimuat dalam Koran PR tgl 07 Oktober 2013 rubrik Cakrawala)
 Jagvane / 15 Oktober 2013

Thursday, October 10, 2013

Wawancara Dengan NRC Handelsblad (Belanda) Tgl 07 Oktober 2013 Sehubungan Dengan Kunjungan Menteri Pertahanan Belanda ke Indonesia :



Berikut adalah beberapa pertanyaan dari koresponden kami (Melle Garschagen) dari NRC Handelsblad kepada Bapak Jagarin Pane yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia : 

Mengapa pemerintah Indonesia dan TNI merasa penting untuk mengeluarkan dana untuk memperkuat dan memper-modern kekuatan militer? 
Pemerintah Indonesia bersama DPR memandang sangat perlu untuk memodernisasi TNI sebagai antisipasi dinamika kawasan khususnya Laut Cina Selatan.  Tahun 2008 yang lalu berdasarkan kajian intelijen dan Hankam RI menganalisis bahwa pusat konflik masa depan adalah Laut Cina Selatan.  Meski Indonesia tidak terlibat klaim teritori dengan negara lain di kawasan itu, Pemerintah memandang sangat perlu untuk memperkuat tentaranya.  Klaim Malaysia terhadap Ambalat juga merupakan salah satu pemicu untuk memperkuat TNI.  Karena ternyata negeri itu lebih dahulu melakukan manuver kapal perang di kawasan itu tahun 2005 sehingga Presiden SBY merasa tersinggung dan langsung mendatangi lokasi di Karang Unarang untuk menegaskan bahwa Ambalat adalah teritori NKRI.
Siapakah/negara mana yang dilihat sebagai ancaman terbesar bagi keamanan dan keselamatan Indonesia? Kenapa? 
Sebenarnya bagi Indonesia tidak ada ancaman dari negara tertentu yang membahayakan keselamatan Indonesia. Tetapi sebagai antisipasi bagi negara kepulauan terbesar di dunia ini dan punya posisi strategis di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik sangat wajar bagi Indonesia memperkuat persenjataan militernya yang selama lebih dari 10 tahun tidak diperbaharui. Penempatan Marinir AS di Darwin Australia bagaimanapun merupakan ancaman bagi keamanan RI, maka sebagai antisipasi TNI saat ini sedang mempersiapkan alokasi pasukan Marinir di Papua setingkat divisi.
Cabang TNI yang mana yang paling menganggap perlu dan penting untuk menginvestasikan dana dan ekspansi kekuatan militer (dalam hal alutsista)? 
Semua matra TNI sedang memperkuat diri. TNI AU sudah mendapatkan 1skuadron Sukhoi Su27/30 beserta rudal canggihnya dan sangat terbuka kembali melakukan pesanan untuk 1 skuadron berikutnya dari seri Sukhoi SU35 yang lebih modern. TNI AU juga menantikan kedatangan jet tempur F16 sebanyak 24 unit dari AS dan 16 unit T50 Golden Eagle dari Korsel.  Satuan-satuan radar modern memperkuat kawasan timur Indonesia sehingga tidak ada lagi yang blank spot.  TNI AL sedang menantikan 3 kapal selam Changbogo dari Korsel dan mendapat tawaran 10 kapal selam kelas Kilo bekas dari Rusia. Marinir diperkuat dengan lebih dari 50 tank amfibi BMP3F dari Rusia, 12 artileri roket RM Grad.  Indonesia sedang menunggu kedatangan 3 fregat ex Brunai dari Inggris, sudah memesan 2 fregat Sigma dari Damen Schelde Belanda yang dikenal dengan PKR 10514.  Kapal Cepat Rudal ukuran 40 meter dan 60 meter buatan dalam negeri sudah dan sedang dalam proses pembuatan.  Sementara 3 LST buatan dalam negeri untuk kapal angkut Tank Leopard sedang dalam pengerjaan. TNI AD sudah pesan 103 MBT Leopard 2 dan 50 Tank Marder dari Jerman, kemudian menunggu kedatangan 36 unit MLRS Astross II Mk6 dari Brazil bersama 38 artileri Caesar Nexter dari Perancis.  300 panser Anoa buatan dalam negeri sudah memperkuat batalyon TNI AD.
Akankah trend ini akan berubah setelah pemilu? Factor2 apa saja yang mempengaruhi? 
Program modernisasi TNI ini dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force).  Untuk MEF tahap I tahun 2010 sd 2014 sudah jelas arahnya dengan anggaran sebesar US $15 milyar.  Untuk MEF tahap II tahun 2015 sd 2019 sudah berganti pemerintahan. Tetapi hampir semua kalangan berpendapat bahwa MEF tahap II akan berjalan lebih intensif lagi dengan prediksi pagu anggaran minimal US $20 milyar. Yang menggembirakan ketika kita bicara modernisasi TNI semua komponen bangsa ini, Pemerintah, Parlemen dan mayoritas rakyat Indonesia mendukung program ini.  Ini yang membuat kita optimis bahwa MEF II akan berlanjut lebih baik lagi.
Negara mana saja yang menerima pesanan paling banyak untuk peralatan perang TNI? 
Indonesia menerapkan program alutsista dengan memesan produk yang belum bisa dibuat di dalam negeri dengan berbagai negara. Dengan AS misalnya pengadaan upgrade 24 F16, pembelian 8 Apache, pembelian rudal anti tank Javelin, pembelian 40 heli Bell412Ep dan lain-lain. Dengan Rusia 16 Sukhoi, simulator Sukhoi, BMP3F.  Dengan Korea Selatan 3 kapal selam, 22 panser tarantula, 16 jet latih tempur Golden Eagle. Dengan Jerman 103 MBT Leopard, 50 Marder dan 18 pesawat latih Grobb.  Brazil mendapat order 16 pesawat Super Tucano dan MLRS Astross II. Perancis mendapat pesanan artileri Caesar Nexter. Belanda 2 PKR 10514 Sigma. Dengan Australia pesan 9 Hercules bekas. Juga dengan Spanyol pesan 9 pesawat angkut sedang CN295. Jadi semua negara sahabat mendapat pesanan bervariasi.
Menteri pertahanan Belanda akan melakukan lawatan ke Indonesia minggu ini untuk mengadakan pembicaraan dengan menhan RI dan TNI. Menurut Anda, apa saja yang akan mereka bicarakan? 
Kunjungan Menhan Belanda tentu untuk memperkuat kerjasama pertahanan. Anggaran belanja militer RI yang besar sesungguhnya menarik banyak negara untuk merapat ke RI. Ada kemungkinan Menhan Belanda menawarkan kembali 80 Leopardnya yang dulu ditawarkan ke Indonesia tetapi karena terlalu banyak persyaratan HAM, Indonesia beralih ke Jerman bahkan mendapat jumlah yang lebih banyak.  Tetapi yang lebih penting mestinya Belanda lebih membuka mata hatinya untuk Indonesia misalnya dengan membagi teknologi militer untuk negeri bekas jajahannya. Misalnya teknologi kapal perang PKR10514. Jika saja Belanda lebih memahami cara mengambil hati Indonesia, kita yakin Belanda akan mendapat tempat di hati rakyat Indonesia.  Dan kalau itu sudah didapat maka order bisnis apapun akan berjalan lancar dan jelas.  Kekuatan ekonomi Indonesia saat ini no.16 di dunia, pertumbuhan ekonomi rata-rata 6%,pendapatan perkapita US $4.000,- dengan jumlah penduduk 240 juta. Dengan anggaran militer masih sekitar 0,8%-1% dari PDB saat ini sudah sedemikian menariknya, apalagi jika menyentuh 2,5%-3% dari PDB.  Dan itu sangat mungkin.
Salam Hormat, 
Sarah Sayekti 
Melle Garschagen
NRC Handelsblad 
****
Jagvane / 10 Oktober 2013


Saturday, October 5, 2013

Seikat Kembang Untuk Pengawal Republik

Hari ini, perayaan usiamu dihelat di berbagai sudut republik.  Di ibukota sebagai pusat pertunjukan kegagahan dilakukan gelar alutsista berbagai jenis.  Tapi bukan sekedar itu, di berbagai sudut tanah air pun tugas realnya digelar dengan menghadirkan sejumlah batalyon untuk borderland apakah itu di bumi Kalimantan, Timor NTT atau Papua.  Ada lagi yang menggelar diri di pulau terpencil, satuan Marinir untuk menegaskan kepemilikan NKRI.  Banyak juga yang tak tahu ada gelaran sejumlah KRI di sisi selatan negeri ini sebagai jawaban atas gelaran kapal perang tetangga selatan yang tak sudi menerima imigran pelarian.

Banyak tugas yang sedang dijalankan di luar batas negeri.  Ada ribuan prajurit menjalankan tugas peace keeping PBB, di Libanon dan tempat lain.  Ada KRI Diponegoro mengawasi perairan laut Tengah.  Ada 3 Heli Mi17 yang siap diberangkatkan ke Sudan bersama 100an prajurit Penerbad.  Pengamanan APEC di Bali dengan menggelar pasukan bersama sejumlah alutsista.  Meski Presiden Obama tak jadi datang namun kualitas pengamanan tetaplah bagian dari keharusan menjaga kewibawaan shohibul bait sembari tetap menebar senyum pada sejumlah tamu.

Jadi meski ada perayaan Ultah, tetaplah nomor satu kewajiban mutlak menjaga negeri dan menerima tugas perdamaian dunia.  Tentara negeri ini adalah bangunan energi yang punya kemampuan dan ketangguhan personal.  Kualitas personal itu berdampingan dengan kedatangan berbagai jenis alutsista yang mampu menebarkan semangat berjuang dan bertarung.  Maka jadilah dia "senyawa kimia" yang mampu memberikan aura gagah dan getar sehingga mampu mewibawakan harkat dan martabat teritorial bangsa ini.

Seikat kembang sangat pantas untuk Pengawal Republik yang mampu menampilkan keistiqomahannya dalam menjaga NKRI.  Sementara di dalam rumah tangga negeri ini penuh carut marut kehebohan korupsi dari penjaga nilai konstitusi karena Ketua MKnya sendiri tertangkap tangan menjadi "pemain bayaran".  Belum lagi lagak dan langgam anggota Parlemen yang merasa dia telah menjadi "Tuhannya Setan" sehingga bisa melakukan apa saja yang menurutnya pantas, pantas memaki, pantas menuduh, pantas mengambil, pantas menyunat.  Dan lain-lain dan lain-lain karena terlalu banyak sampai mau muntah jika menyebutnya.

Tanpa bermaksud membandingkan, bukankah satu-satunya kewibawaan negeri ini hanya ada pada sosok Pengawal Republik.  Tampilan sederhananya lihat saja di Monas atau tempat lain yang saat ini sedang memamerkan sejumlah alutsista. Ada kegagahan disitu, ada nilai harga diri bernegara dan berbangsa.  Ada kepantasan negeri ini bernama Republik Indonesia.  Masih ada kepantasan kita mematut-matut diri di depan cermin karena masih ada sebuah kebanggaan ber NKRI dengan kemampuan Pengawal Republik menjaga nilai keistiqomahannya sesuai konstitusi.  Sementara nilai-nilai yang lain terutama yang terakhir ini di Mahkamah Konstitusi sangat menghentak nilai negeri yang berkonstitusi.

Selamat ulang tahun tentaraku
Meski negeri ini penuh hiruk pikuk kegaduhan
Tetap jalankan spirit menegakkan kewibawaan teritori
Seikat kembang kami sandangkan didadamu
Karena engkau adalah cermin kewibawaan nilai itu

****
Jagvane / 05 Oktober 2013