Perkembangan geopolitik dan geostrategis kawasan regional yang dinamis mengharuskan kita untuk memperbaharui konsep dan strategi pertahanan NKRI. Ini dilakukan dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsa. Esensinya pengawal republik harus terus digagahperkasakan untuk mempertahankan warisan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Alutsista TNI adalah keniscayaan yang wajib disegarkan, supaya mekar, kekar dan gahar (Jagarin Pane SE MM)
Monday, October 28, 2013
Saturday, October 26, 2013
Friday, October 18, 2013
MENIMBANG LAMPUNG
Dinamika kawasan Asia Pasifik khususnya Laut Cina Selatan
(LCS) setahun terakhir ini sangat mudah berganti warna. Pagi kelihatannya
cerah, tiba-tiba tengah hari mendung dan suram, atau sebaliknya. PM Cina Li Keqiang dalam pertemuan ASEAN di
Brunai tanggal 10 Oktober 2013 yang lalu,misalnya, meminta sengketa LCS
diselesaikan secara damai dan bersahabat. Padahal pernyataan dan kenyataan di
medan air LCS berbeda tajam. Pernyataan adalah diplomasi, belum tentu kalimat
ucap sama dengan kalimat hati. Gerakan
militer Cina yang berbaju kapal nelayan berteknologi selalu memantau situasi
LCS setiap hari, termasuk gerakan kapal selamnya.
Dalam terminologi militer pesan “cuaca” yang mudah
berganti itu harus disikapi dengan cara pandang kewaspadaan dan pantauan terus
menerus. Termasuk juga tiga tahun lalu
belum ada pemikiran menoleh serius ke pantai selatan Jawa dan pantai barat Sumatera. Tetapi sejak Darwin, pulau Natal dan Cocos
ada optimasi bertahap pengumpulan satuan militer dan persenjataan negara
adidaya, maka mau tak mau kita harus menoleh dan mengantisipasi untuk berkalkulasi
pertahanan diri. Salah satunya adalah membangun pangkalan militer setara
Surabaya dan penempatan 1 skuadron Sukhoi generasi terbaru di lingkaran itu.
![]() |
| Tidak lagi harus terpusat di Surabaya |
Pangkalan utama angkatan laut di selat Sunda tepatnya di
teluk Lampung bisa menjadi pilihan strategis karena berada di mulut ALKI I. Jangkauan
operasi kapal perang yang berpangkalan di teluk Lampung bisa menjangkau seluruh
pantai selatan Jawa, pantai barat Sumatera dan LCS. Sementara untuk penempatan 1 skuadron Sukhoi
salah satu pilihan bagus bisa ditempatkan di Lanud Radin Inten, Bandar Lampung.
Sama seperti pangkalan AL di Lampung, kehadiran
Sukhoi di Bandar lampung bisa memberikan kawalan terhadap seluruh ALKI I,
pantai selatan Jawa, pantai barat Sumatera, selat Malaka dan LCS. Lebih dari
itu memberi kepastian reaksi cepat mengawal ibukota dari ancaman jet tempur
asing.
Program MEF(Minimum Essential Force) kedua diprediksi akan
ada penambahan minimal 2 skuadron jet tempur diluar penggantian jet tempur F5E.
Boleh jadi penggantian F5E dari F16 upgrade batch 2 sebagaimana yang pernah
ditawarkan Obama setelah 24 F16 batch 1 tiba. Sangat terbuka kemungkinan isian penambahan 2
skuadron itu dari Sukhoi Family. Alokasi
strategis penempatan 1 skuadron Sukhoi di wilayah Barat menurut pandangan kita
sangat tepat berada di jalur ALKI I Selat Sunda yaitu di Lanud Radin Inten. Sementara 1 skuadron yang lain bisa
ditempatkan di timur Indonesia yaitu Biak. Jadi gambaran jelasnya ada 3
skuadron Sukhoi yaitu di Lampung, Makassar, Biak. Sebagai jet tempur kelas
berat jelajah jangkau Sukhoi dari titik Lampung akan mampu mengcover seluruh ALKI I yang
meliputi Selat Sunda, Selat Malaka sampai Natuna. Termasuk mengawal Jawa dan
Sumatera. Yang paling penting dari semua
pemikiran strategis itu adalah untuk mengawal ibukota.
Angkatan laut juga diharapkan tidak lagi menumpuk kapal
perang di Surabaya. Sebagaimana
dikatakan Jendral Kiki Syahnakri di acara Sugeng Sarjadi TVRI dalam rangka
menyambut HUT TNI 5 Oktober lalu. Sudah
saatnya pangkalan TNI AL tidak lagi dipusatkan di Surabaya. Maka salah satu pilihan tentu saja pangkalan
TNI AL di Teluk Lampung yang dulu sempat bergema kuat di era Pak Harto ketika
heboh pembelian 39 kapal perang eks Jerman
Timur. Bukankah di Piabung sudah ada
satuan tempur Marinir setingkat brigade. Benar pemikiran mantan KSAL Laksamana Slamet
Subiyanto bahwa TNI AL jangan hanya memikirkan halaman dalam NKRI, tapi juga
perlu kehadiran di halaman luar seperti pantai selatan Jawa dan pantai barat
Sumatera. Kehadiran pangkalan utama TNI AL di kawasan selat Sunda merupakan
basis perkuatan untuk mengawal ALKI I di mulut botolnya langsung.
![]() |
| Jet Tempur Sukhoi, 3 skuadron mampu mengcover seluruh NKRI |
MEF tahap 2 tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 adalah
kunci geliat perkuatan seluruh matra TNI.
Sebagai satuan pemukul NKRI dari ancaman asing, modernisasi persenjataan
TNI di MEF 2 adalah keniscayaan yang harus dipertaruhkan dalam istiqomahisasi kebijakan
meskipun struktur pemerintahan, konspirasi kabinet dan parlemen sudah berbeda
figur. Sudah tentu menu utama dari adanya
persebaran pangkalan AL dan skuadron jet tempur adalah pemenuhan dan penambahan
jenis kapal perang berkualifikasi destroyer, fregat, kapal selam dan jet tempur
berteknologi setara dengan ancaman yang datang dari selatan Jawa atau LCS.
Khusus kapal selam selayaknya Indonesia harus memiliki minimal 12 kapal selam
untuk mengawal jelajah perairan NKRI. Oleh sebab itu disamping 3 Changbogo yang
sedang dalam proses pembangunan, opsi mengambil kapal selam dari Rusia sangat
pantas dilakukan sebagai upaya percepatan kehadiran kapal selam yang merupakan
alutsista strategis.
Menimbang Lampung adalah kalkulasi sederhana, masih dalam
konteks mengawal Jawa sebagai jantung Indonesia dan sekaligus membuka kawalan
baru sebagai akibat munculnya perkuatan militer di selatan Jawa dan barat
Sumatera. Hitung cepatnya, memperpendek jarak
jelajah KRI dan memastikan ruang udara Sumatera Jawa ada dalam genggaman Sukhoi.
Meski katanya Cocos dan Darwin untuk
menghadapi militer China tetapi tetap saja akan melewati teritori NKRI, tetap
saja akan mengacak-acak ruang udara NKRI.
Kehadiran Skuadron Sukhoi dan pangkalan besar KRI di Lampung setidaknya
akan memberikan langkah hati-hati bagi pihak manapun untuk tidak sembarangan
melanggar kedaulatan teritori Indonesia.
*****
Jagvane / 18 Oktober 2013
Tuesday, October 15, 2013
Wawancara Dengan Koran Pikiran Rakyat Bandung
Sehubungan
dengan tema Senjata Kimia yang saat ini menjadi fokus perhatian dunia
internasional, wartawan Pikiran Rakyat Bandung Feby Syarifah melakukan
wawancara dengan pemerhati pertahanan dan alutsista TNI Jagarin Pane. Berikut petikannya:
Bagaimana sebenarnya
peraturan internasional mengenai kepemilikan senjata kimia? Apakah peraturannya
seketat peraturan mengenai kepemilikan nuklir?
Sebenarnya regulasi universal tentang kepemilikan senjata kimia sama
ketatnya dengan kepemilikan senjata nuklir.
Protokol Jenewa tahun 1925 jelas menyatakan melarang penggunaan senjata
kimia. Protokol ini lahir sebagai akibat penggunaan senjata kimia dalam Perang
Dunia I yang menewaskan puluhan ribu tentara. Hanya karena proses membuat
senjata kimia itu lebih mudah dibanding dengan senjata nuklir, maka kontrol
untuk kepemilikan senjata kimia lebih sulit terdeteksi. Semua negara di dunia ini punya potensi untuk
membuat senjata kimia yang dikenal dengan senjata pemusnah massal.
Apakah
setiap negara berhak mengembangkan industri kimia dasarnya sebebas-bebasnya?
Setiap negara didunia ini bebas membuat dan mengembangkan industri
kimianya. Bebas tapi juga mestinya
bertanggung jawab. Kita punya industri kimia berskala besar, Petrokimia Gresik,
Pupuk Iskandar Muda, Pupuk Sriwijaya, Pupuk Kujang dll itukan semuanya industri
kimia untuk keperluan perdagangan dan pertanian. Nah untuk memastikan bahwa industri kimia itu
adalah utuk tujuan damai dan tidak disalahgunakan, maka harus ada regulasi yang
mengatur berupa Undang-Undang.
Kapan sebuah
zat kimia bisa dikatakan senjata kimia?
Zat kimia bisa disebut sebagai senjata kimia diawali dengan nawaitunya,
alias niatnya. Sama dengan Narkoba kalau untuk keperluan dunia kedokteran dalam
dosis yang terukur untuk pengobatan dan penyembuhan, ya tidak ada masalah. Tetapi jika sudah disalahgunakan akan
menyentuh wilayah hukum, makanya disebut penyalahgunaan narkoba. Contohnya, air aki (asam sulfat) H2SO4 jelas salah satu penggunaannya untuk
battery power penggerak, tapi jika disiramkan ke wajah jelas salah besar, tidak
sesuai peruntukannya.
Dalam
sejarah perang, zat kimia apa yang paling membahayakan dan memiliki keampuhan
paling tinggi sebagai senjata pembunuh massal?
Dalam sejarahnya PD I menjadi saksi sejarah perang modern betapa kejamnya
penggunaan senjata kimia. Jerman menggunakan gas klorin di Belgia yang
menewaskan 15 ribu tentara lawan, kemudian pihak Inggris dan sekutunya
melakukan pembalasan dengan menggunakan gas Sulfur Mustard. Inilah cikal bakal lahirnya Protokol Jenewa
tahun 1925.
Perang
dimana yang tercatat paling buruk dalam sejarah karena menggunakan senjata
kimia?
Perang Vietnam tahun
1961 sd 1975 merupakan salah satu perang tanpa etika karena penggunaan senjata
kimia. AS membombardir dengan menggunakan senjata kimia, salah satunya dikenal
dengan nama Agent Orange. Setidaknya 20 juta gallon disebar dari udara di bumi
Vietnam termasuk Agent Orange. Versi Pemerintah Vietnam menyebut 400 ribu orang
Vietnam tewas atau cacat berat, 500 ribu bayi lahir cacat dan 2 juta warga
Vietnam terkena kanker dan penyakit lain sebagai dampak lanjutan penggunaan
senjata kimia itu.
Bagaimana
dengan Indonesia? Apakah Indonesia memiliki kekuatan untuk bisa mengembangkan
industri kimianya sebagai senjata kimia?
Indonesia punya potensi dan kemampuan untuk mengembangkan industri kimia
menjadi senjata kimia. Senjata kimia itu mudah untuk diproduksi sehingga untuk
pengawasannya perlu payung hukum untuk tidak menggunakan senyawa kimia itu
sebagai senjata kimia.
Adakah
peraturan di Indonesia yang mengatur mengenai pengembangan kimia dan sampai
mana batas pengembangan yang bisa dilakukan?
Regulasi nasional tentang penggunaan bahan kimia dan larangan penggunaan
bahan kimia sebagai senjata kimia ada dalam UU No 9 Tahun 2008. Sebenarnya dunia pun sudah menyetujui adanya
perjanjian larangan penggunaan senjata kimia yang diikrarkan 188 negara April
tahun 1997. Israel dan Korut tidak ikut
tandatangan. Setahun kemudian Indonesia meratifikasinya melalui UU No 6 tahun
1998.
Adakah
larangan yang jelas di Indonesia terkait pengembangan kimia sebagai senjata?
Jelas ada. Sebagai negara berdaulat, hak konstitusi sebagaimana tertuang
dalam pembukaan UUD 1945, menjaga ketertiban dan perdamaian dunia, salah satu
kontribusinya adalah memenuhi kewajiban dalam melaksanakan Konvensi
Senjata Kimia yang telah diratifikasi melalui Undang-Undang No. 6 Tahun 1998. Kemudian dalam Undang-Undang No
9 Tahun 2008 semakin dipertegas lagi substansinya.
Tanpa
senjata kimia dan nuklir, bagaimanakah posisi kekuatan Indonesia dilihat dari
alutsistanya? Apakah masih termasuk kuat?
Untuk Indonesia, sebagai bagian dari upaya pertahanan NKRI, fokus
utamanya adalah memenuhinya dengan alutsista konvensional tanpa harus memaksa
diri untuk memiliki senjata kimia atau senjata nuklir. Sejatinya negara “Gentleman” adalah negara
yang mampu menata pertahanan diri dengan persenjataan konvensional semata tanpa
harus memenuhi nafsu bunuh maksimalnya dalam menangani perselisihan antar
negara dengan menggunakan senjata kimia apalagi nuklir. Yang perlu dicatat proses
kematian dengan senjata konvensional adalah langsung mati atau luka tembak
karena daya ledak, selesai. Tapi proses kematian akibat senjata kimia bukan
karena daya ledaknya tetapi proses “sengatannya” ke tubuh kita sangat dramatis,
memilukan, menyayat hati. Ada yang mati pelan-pelan, cacat seumur hidup dan
dampaknya sampai ke generasi berikutnya. Makanya negara yang menggunakan
senjata kimia bisa disebut sebagai negara pengecut, tak berperikemanusiaan dan
tak bermoral.
Sisi mana
dari ketersediaan alutsista Indonesia yang harus lebih diperkuat?
Terkait dengan ketersediaan alutsista Indonesia
yang saat ini sedang giat-giatnya memodernisasi tentaranya, semua matra perlu
diperkuat. Kita sudah punya 1 skuadron
Sukhoi di Makassar, dalam MEF (minimum essential force) tahap 2 nanti masih
sangat dibutuhkan minimal penambahan 1 skuadron lagi yang penempatannya
berdekatan dengan ALKI I atau menjaga ibukota.
Angkatan Laut juga masih perlu perkuatan dengan kehadiran fregat, korvet
dan destroyer. Termasuk kapal selam
tentunya sebagai senjata strategis pemukul yang paling disegani. Matra darat masih sangat membutuhkan
alutsista kavaleri seperti tank, panser. Juga rudal darat ke darat, roket dan
artileri. Kita yakin tahun 2019 nanti apa yang kita inginkan itu dapat tercapai. Tak perlu memaksa diri dengan kepemilikan
senjata kimia meski kita sanggup memproduksinya. Dengan alutsista konvensional,
pemenuhan untuk segala matra dicukupi, negara ini akan disegani sekaligus gentleman.
****
(Catatan: Dimuat
dalam Koran PR tgl 07 Oktober 2013 rubrik Cakrawala)
Jagvane / 15 Oktober 2013
Thursday, October 10, 2013
Wawancara Dengan NRC Handelsblad (Belanda) Tgl 07 Oktober 2013 Sehubungan Dengan Kunjungan Menteri Pertahanan Belanda ke Indonesia :
Berikut
adalah beberapa pertanyaan dari koresponden
kami (Melle Garschagen) dari NRC Handelsblad kepada Bapak Jagarin Pane yang sudah diterjemahkan ke bahasa
Indonesia :
Mengapa pemerintah Indonesia dan TNI merasa penting untuk mengeluarkan
dana untuk memperkuat dan memper-modern kekuatan militer?
Pemerintah
Indonesia bersama DPR memandang sangat perlu untuk memodernisasi TNI sebagai
antisipasi dinamika kawasan khususnya Laut Cina Selatan. Tahun 2008 yang lalu berdasarkan kajian
intelijen dan Hankam RI menganalisis bahwa pusat konflik masa depan adalah Laut
Cina Selatan. Meski Indonesia tidak
terlibat klaim teritori dengan negara lain di kawasan itu, Pemerintah memandang
sangat perlu untuk memperkuat tentaranya.
Klaim Malaysia terhadap Ambalat juga merupakan salah satu pemicu untuk
memperkuat TNI. Karena ternyata negeri
itu lebih dahulu melakukan manuver kapal perang di kawasan itu tahun 2005
sehingga Presiden SBY merasa tersinggung dan langsung mendatangi lokasi di
Karang Unarang untuk menegaskan bahwa Ambalat adalah teritori NKRI.
Siapakah/negara mana yang dilihat
sebagai ancaman terbesar bagi keamanan dan keselamatan Indonesia? Kenapa?
Sebenarnya
bagi Indonesia tidak ada ancaman dari negara tertentu yang membahayakan
keselamatan Indonesia. Tetapi sebagai antisipasi bagi negara kepulauan terbesar
di dunia ini dan punya posisi strategis di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik
sangat wajar bagi Indonesia memperkuat persenjataan militernya yang selama
lebih dari 10 tahun tidak diperbaharui. Penempatan Marinir AS di Darwin
Australia bagaimanapun merupakan ancaman bagi keamanan RI, maka sebagai
antisipasi TNI saat ini sedang mempersiapkan alokasi pasukan Marinir di Papua
setingkat divisi.
Cabang TNI yang mana yang paling
menganggap perlu dan penting untuk menginvestasikan dana dan ekspansi kekuatan
militer (dalam hal alutsista)?
Semua
matra TNI sedang memperkuat diri. TNI AU sudah mendapatkan 1skuadron Sukhoi
Su27/30 beserta rudal canggihnya dan sangat terbuka kembali melakukan pesanan
untuk 1 skuadron berikutnya dari seri Sukhoi SU35 yang lebih modern. TNI AU
juga menantikan kedatangan jet tempur F16 sebanyak 24 unit dari AS dan 16 unit
T50 Golden Eagle dari Korsel.
Satuan-satuan radar modern memperkuat kawasan timur Indonesia sehingga
tidak ada lagi yang blank spot. TNI AL
sedang menantikan 3 kapal selam Changbogo dari Korsel dan mendapat tawaran 10
kapal selam kelas Kilo bekas dari Rusia. Marinir diperkuat dengan lebih dari 50
tank amfibi BMP3F dari Rusia, 12 artileri roket RM Grad. Indonesia sedang menunggu kedatangan 3 fregat
ex Brunai dari Inggris, sudah memesan 2 fregat Sigma dari Damen Schelde Belanda
yang dikenal dengan PKR 10514. Kapal
Cepat Rudal ukuran 40 meter dan 60 meter buatan dalam negeri sudah dan sedang
dalam proses pembuatan. Sementara 3 LST
buatan dalam negeri untuk kapal angkut Tank Leopard sedang dalam pengerjaan.
TNI AD sudah pesan 103 MBT Leopard 2 dan 50 Tank Marder dari Jerman, kemudian
menunggu kedatangan 36 unit MLRS Astross II Mk6 dari Brazil bersama 38 artileri
Caesar Nexter dari Perancis. 300 panser
Anoa buatan dalam negeri sudah memperkuat batalyon TNI AD.
Akankah trend ini akan
berubah setelah pemilu? Factor2
apa saja yang mempengaruhi?
Program
modernisasi TNI ini dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force). Untuk MEF tahap I tahun 2010 sd 2014 sudah
jelas arahnya dengan anggaran sebesar US $15 milyar. Untuk MEF tahap II tahun 2015 sd 2019 sudah
berganti pemerintahan. Tetapi hampir semua kalangan berpendapat bahwa MEF tahap
II akan berjalan lebih intensif lagi dengan prediksi pagu anggaran minimal US
$20 milyar. Yang menggembirakan ketika kita bicara modernisasi TNI semua
komponen bangsa ini, Pemerintah, Parlemen dan mayoritas rakyat Indonesia
mendukung program ini. Ini yang membuat
kita optimis bahwa MEF II akan berlanjut lebih baik lagi.
Negara
mana saja yang menerima pesanan paling banyak untuk peralatan perang TNI?
Indonesia
menerapkan program alutsista dengan memesan produk yang belum bisa dibuat di
dalam negeri dengan berbagai negara. Dengan AS misalnya pengadaan upgrade 24
F16, pembelian 8 Apache, pembelian rudal anti tank Javelin, pembelian 40 heli
Bell412Ep dan lain-lain. Dengan Rusia 16 Sukhoi, simulator Sukhoi, BMP3F. Dengan Korea Selatan 3 kapal selam, 22 panser
tarantula, 16 jet latih tempur Golden Eagle. Dengan Jerman 103 MBT Leopard, 50
Marder dan 18 pesawat latih Grobb.
Brazil mendapat order 16 pesawat Super Tucano dan MLRS Astross II.
Perancis mendapat pesanan artileri Caesar Nexter. Belanda 2 PKR 10514 Sigma.
Dengan Australia pesan 9 Hercules bekas. Juga dengan Spanyol pesan 9 pesawat
angkut sedang CN295. Jadi semua negara sahabat mendapat pesanan bervariasi.
Menteri
pertahanan Belanda akan melakukan lawatan ke Indonesia minggu ini untuk
mengadakan pembicaraan dengan menhan RI dan TNI. Menurut Anda, apa saja yang
akan mereka bicarakan?
Kunjungan
Menhan Belanda tentu untuk memperkuat kerjasama pertahanan. Anggaran belanja
militer RI yang besar sesungguhnya menarik banyak negara untuk merapat ke RI.
Ada kemungkinan Menhan Belanda menawarkan kembali 80 Leopardnya yang dulu
ditawarkan ke Indonesia tetapi karena terlalu banyak persyaratan HAM, Indonesia
beralih ke Jerman bahkan mendapat jumlah yang lebih banyak. Tetapi yang lebih penting mestinya Belanda
lebih membuka mata hatinya untuk Indonesia misalnya dengan membagi teknologi
militer untuk negeri bekas jajahannya. Misalnya teknologi kapal perang
PKR10514. Jika saja Belanda lebih memahami cara mengambil hati Indonesia, kita
yakin Belanda akan mendapat tempat di hati rakyat Indonesia. Dan kalau itu sudah didapat maka order bisnis
apapun akan berjalan lancar dan jelas.
Kekuatan ekonomi Indonesia saat ini no.16 di dunia, pertumbuhan ekonomi
rata-rata 6%,pendapatan perkapita US $4.000,- dengan jumlah penduduk 240 juta.
Dengan anggaran militer masih sekitar 0,8%-1% dari PDB saat ini sudah
sedemikian menariknya, apalagi jika menyentuh 2,5%-3% dari PDB. Dan itu sangat mungkin.
Salam
Hormat, Sarah Sayekti
Melle Garschagen
NRC Handelsblad
****
Jagvane / 10 Oktober 2013
Saturday, October 5, 2013
Seikat Kembang Untuk Pengawal Republik
Hari ini, perayaan usiamu dihelat di berbagai sudut republik. Di ibukota sebagai pusat pertunjukan kegagahan dilakukan gelar alutsista berbagai jenis. Tapi bukan sekedar itu, di berbagai sudut tanah air pun tugas realnya digelar dengan menghadirkan sejumlah batalyon untuk borderland apakah itu di bumi Kalimantan, Timor NTT atau Papua. Ada lagi yang menggelar diri di pulau terpencil, satuan Marinir untuk menegaskan kepemilikan NKRI. Banyak juga yang tak tahu ada gelaran sejumlah KRI di sisi selatan negeri ini sebagai jawaban atas gelaran kapal perang tetangga selatan yang tak sudi menerima imigran pelarian.
Banyak tugas yang sedang dijalankan di luar batas negeri. Ada ribuan prajurit menjalankan tugas peace keeping PBB, di Libanon dan tempat lain. Ada KRI Diponegoro mengawasi perairan laut Tengah. Ada 3 Heli Mi17 yang siap diberangkatkan ke Sudan bersama 100an prajurit Penerbad. Pengamanan APEC di Bali dengan menggelar pasukan bersama sejumlah alutsista. Meski Presiden Obama tak jadi datang namun kualitas pengamanan tetaplah bagian dari keharusan menjaga kewibawaan shohibul bait sembari tetap menebar senyum pada sejumlah tamu.
Jadi meski ada perayaan Ultah, tetaplah nomor satu kewajiban mutlak menjaga negeri dan menerima tugas perdamaian dunia. Tentara negeri ini adalah bangunan energi yang punya kemampuan dan ketangguhan personal. Kualitas personal itu berdampingan dengan kedatangan berbagai jenis alutsista yang mampu menebarkan semangat berjuang dan bertarung. Maka jadilah dia "senyawa kimia" yang mampu memberikan aura gagah dan getar sehingga mampu mewibawakan harkat dan martabat teritorial bangsa ini.
Seikat kembang sangat pantas untuk Pengawal Republik yang mampu menampilkan keistiqomahannya dalam menjaga NKRI. Sementara di dalam rumah tangga negeri ini penuh carut marut kehebohan korupsi dari penjaga nilai konstitusi karena Ketua MKnya sendiri tertangkap tangan menjadi "pemain bayaran". Belum lagi lagak dan langgam anggota Parlemen yang merasa dia telah menjadi "Tuhannya Setan" sehingga bisa melakukan apa saja yang menurutnya pantas, pantas memaki, pantas menuduh, pantas mengambil, pantas menyunat. Dan lain-lain dan lain-lain karena terlalu banyak sampai mau muntah jika menyebutnya.
Tanpa bermaksud membandingkan, bukankah satu-satunya kewibawaan negeri ini hanya ada pada sosok Pengawal Republik. Tampilan sederhananya lihat saja di Monas atau tempat lain yang saat ini sedang memamerkan sejumlah alutsista. Ada kegagahan disitu, ada nilai harga diri bernegara dan berbangsa. Ada kepantasan negeri ini bernama Republik Indonesia. Masih ada kepantasan kita mematut-matut diri di depan cermin karena masih ada sebuah kebanggaan ber NKRI dengan kemampuan Pengawal Republik menjaga nilai keistiqomahannya sesuai konstitusi. Sementara nilai-nilai yang lain terutama yang terakhir ini di Mahkamah Konstitusi sangat menghentak nilai negeri yang berkonstitusi.
Selamat ulang tahun tentaraku
Meski negeri ini penuh hiruk pikuk kegaduhan
Tetap jalankan spirit menegakkan kewibawaan teritori
Seikat kembang kami sandangkan didadamu
Karena engkau adalah cermin kewibawaan nilai itu
****
Jagvane / 05 Oktober 2013
Banyak tugas yang sedang dijalankan di luar batas negeri. Ada ribuan prajurit menjalankan tugas peace keeping PBB, di Libanon dan tempat lain. Ada KRI Diponegoro mengawasi perairan laut Tengah. Ada 3 Heli Mi17 yang siap diberangkatkan ke Sudan bersama 100an prajurit Penerbad. Pengamanan APEC di Bali dengan menggelar pasukan bersama sejumlah alutsista. Meski Presiden Obama tak jadi datang namun kualitas pengamanan tetaplah bagian dari keharusan menjaga kewibawaan shohibul bait sembari tetap menebar senyum pada sejumlah tamu.
Jadi meski ada perayaan Ultah, tetaplah nomor satu kewajiban mutlak menjaga negeri dan menerima tugas perdamaian dunia. Tentara negeri ini adalah bangunan energi yang punya kemampuan dan ketangguhan personal. Kualitas personal itu berdampingan dengan kedatangan berbagai jenis alutsista yang mampu menebarkan semangat berjuang dan bertarung. Maka jadilah dia "senyawa kimia" yang mampu memberikan aura gagah dan getar sehingga mampu mewibawakan harkat dan martabat teritorial bangsa ini.
Seikat kembang sangat pantas untuk Pengawal Republik yang mampu menampilkan keistiqomahannya dalam menjaga NKRI. Sementara di dalam rumah tangga negeri ini penuh carut marut kehebohan korupsi dari penjaga nilai konstitusi karena Ketua MKnya sendiri tertangkap tangan menjadi "pemain bayaran". Belum lagi lagak dan langgam anggota Parlemen yang merasa dia telah menjadi "Tuhannya Setan" sehingga bisa melakukan apa saja yang menurutnya pantas, pantas memaki, pantas menuduh, pantas mengambil, pantas menyunat. Dan lain-lain dan lain-lain karena terlalu banyak sampai mau muntah jika menyebutnya.
Tanpa bermaksud membandingkan, bukankah satu-satunya kewibawaan negeri ini hanya ada pada sosok Pengawal Republik. Tampilan sederhananya lihat saja di Monas atau tempat lain yang saat ini sedang memamerkan sejumlah alutsista. Ada kegagahan disitu, ada nilai harga diri bernegara dan berbangsa. Ada kepantasan negeri ini bernama Republik Indonesia. Masih ada kepantasan kita mematut-matut diri di depan cermin karena masih ada sebuah kebanggaan ber NKRI dengan kemampuan Pengawal Republik menjaga nilai keistiqomahannya sesuai konstitusi. Sementara nilai-nilai yang lain terutama yang terakhir ini di Mahkamah Konstitusi sangat menghentak nilai negeri yang berkonstitusi.
Selamat ulang tahun tentaraku
Meski negeri ini penuh hiruk pikuk kegaduhan
Tetap jalankan spirit menegakkan kewibawaan teritori
Seikat kembang kami sandangkan didadamu
Karena engkau adalah cermin kewibawaan nilai itu
****
Jagvane / 05 Oktober 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)


