Sunday, July 1, 2012

Memperkuat Arafuru


Perairan luas di kawasan timur Indonesia sesungguhnya masih sepi dari pengawalan angkatan laut. Laut Arafuru yang berbatasan langsung dengan Australia membentang mulai dari Merauke sampai Tanimbar dan Timor Leste dari sisi strategi pertahanan dinilai sangat strategis. Perairan ini merupakan pagar utama mengamankan Papua dari gangguan infiltrasi atau serangan angkatan laut negara lain jika hendak menginvasi Papua.  Laut Arafuru juga bernilai historis patriotik ketika konflik Trikora pecah awal tahun 60an.  Yos Sudarso dengan sejumlah awak dan kapal perang KRI Macan Tutul bersemayam di perairan itu ketika hendak melakukan infiltrasi ke Papua setelah terjadi baku tembak dengan armada angkatan laut Belanda.

Pergelaran kekuatan angkatan laut sudah saatnya tidak lagi harus berpusat di Surabaya.  Sehingga manakala ada kegiatan operasi laut berupa Guskamla (Gugus keamanan laut)  dan Guspurla (Gugus tempur laut) dapat mengambil sejumlah KRI yang  sudah didomisilikan di Kupang atau Merauke dengan model shift misalnya untuk masa 3 bulan operasi.  Cara-cara ini tentu lebih efektif dari sisi kecepatan reaksi dan meminimalkan biaya perjalanan panjang dari Surabaya atau Makassar. Tapi yang terpenting dari semua itu tentu saja nilai kehadiran sejumlah KRI yang selalu ada di perairan Arafuru atau perairan Banda untuk mewibawakan teritori.
KRI Fatahillah, korvet pemukul strategis TNI AL
Permasalahannya tentu ada di seputar ketersediaan jumlah KRI untuk laut dalam.  Minimal yang diperlukan hadir di perairan timur Indonesia seperti Arafuru adalah jenis korvet atau KCR-60. Kapal perang kita dari jenis korvet diperkirakan berjumlah 24 unit dengan dominasi dari Parchim Class.  Pangkalan angkatan laut Kupang dan Merauke yang sudah berkualifikasi Lantamal sudah selayaknya diisi masing-masing dengan minimal 3 KRI berkualifikasi korvet termasuk adik kelasnya kapal patroli cepat minimal 3 unit untuk menunjukkan kehadiran setiap saat di pagar halaman belakang rumah kita. 

Australia selalu aktif menghadirkan sejumlah kapal perangnya di laut Timor dan sekitarnya termasuk menjadikan Darwin sebagai pangkalan utama angkatan lautnya.  Ini menunjukkan sebuah identitas pentingnya kehadiran kapal perang sebagai bentuk kewibawaan menjaga border perairan. Identitas kewibawaan ini sudah selayaknya  dilakukan oleh TNI AL dengan mengirim sejumlah KRI untuk dipangkalkan di Kupang dan Merauke selama beberapa waktu misalnya 3 bulan berganti shift.  Sehingga minimal ada 6 KRI berkualifikasi korvet yang hadir setiap saat mengawal Arafuru dan Banda.

Yang menggembirakan tentu saja sudah tersedianya satuan radar modern di Kupang, Saumlaki, Timika dan Merauke sehingga tidak ada lagi wilayah udara yang blank spot menghadapi infiltrasi dari selatan yang memang suka usil itu.  Seluruh satuan radar itu sudah terintegrasi sehingga dapat dipantau di pusat komando angkatan udara di Jakarta. Yang belum tentu saja jet tempur untuk melakukan perburuan dan penyergapan terhadap penerbangan tanpa identitas yang terdeteksi.  Sudah ada skuadron Sukhoi di Makassar namun rasanya kok masih terlalu jauh lokasinya dan lagi untuk intersep mestinya tidak  efisien jika menjadi tugas Sukhoi.  Cukup F16 atau F5E yang sudah seharusnya dipangkalkan di Kupang.

Biak sebenarnya paling siap untuk menerima kehadiran skuadron jet tempur.  Sudah tersedia 1 batalyon Paskhas disana berikut satuan radarnya.  Kita sangat berharap untuk program jangka pendek tiga tahun ke depan sudah tersedia 1 skuadron jet tempur F5E yang mengisi pangkalan udara Biak dimana 1 flight diantaranya digeser ke Kupang untuk melakukan patroli udara.  Jika hibah F5E dari Korsel direalisasikan maka kita punya 2 skuadron F5E, maka sudah selayaknya 1 skuadron dimutasikan ke Biak.  Jangan setengah hati memaksimalkan Biak yang sudah menanti sekian lama menunggu kehadiran jet tempur TNI AU menetap disana.
Formasi KRI Parchim Class dalam sebuah latihan tempur laut

Ketersediaan skuadron jet tempur ringan untuk patroli udara di kawasan timur Indonesia khususnya antara Biak, Kupang, Timika dan Merauke serta kehadiran yang terus menerus kapal perang RI di perairan Arafuru merupakan “fardhu kifayah” bagi kita. Karena ini merupakan bagian dari rukun kesempurnaan dalam konsep berpertahanan di bingkai wilayah NKRI.  Kalau kita mengabaikan rukun fardu kifayah berpertahanan ini maka kita sangat berdosa pada sebuah negara yang bernama Indonesia.  Kita sudah punya mata telinga yang lengkap berupa satuan radar yang saling berinteraksi di kawasan itu. Maka rukun berpertahanan itu akan semakin lengkap dengan kehadiran 1 skuadron jet tempur ringan untuk menjaga kewibawaan teritori udara diatas Arafuru dan Laut Timor.  Demikian juga dibentuknya Lantamal Kupang dan Merauke akan menjadi sebuah kesia-siaan jika tidak segera diisi dengan sejumlah KRI minimal KCR 60 atau korvet.

Laut Arafuru, laut Banda dan laut Timor adalah wilayah kita apakah itu menyangkut wilayah teritori pantai dan zona ekonomi eksklusif.  Kehadiran berupa patroli laut dan udara yang terus menerus di wilayah ini merupakan nilai wajah kita sesungguhnya.  Jika kita abai maka itulah raut wajah kita sesungguhnya yang tidak mampu menampilkan nilai kewibawaan yang sejatinya memiliki wilayah yang berwibawa.  Betapa tidak, posisi strategis negara ini yang menunjukkan kewibawaan teritorinya akan menjadi sebuah ironi manakala kita tidak mampu menjaganya, bahkan mengabaikannya. 

Mestinya ke depan ini tidak ada lagi alasan kurangnya armada kapal perang atau kurangnya jet tempur sebagai alasan tak mampu menjaga wilayah.  Mulai tahun ini dan seterusnya akan banyak berdatangan alutsista baru dan bergigi antara lain berupa kapal perang dan jet tempur. Kalau tahun ini mungkin kita masih bisa menghapus dosa fardu kifayah itu namun ketika matahari tahun 2015 sudah memancarkan sinar hangatnya  kita sudah harus mampu menjaga kewibawaan teritori darat, laut dan udara dengan kebanggaan yang pasti.  Jika itu pun belum bisa dilakukan maka satu-satunya jalan adalah menengadahkan tangan dihdapan Sang Pencipta: Ya Allah jagalah dan selamatkanlah negeri kami yang kaya raya ini.
*****
Jagvane / 01 Juli 2012

Tuesday, June 19, 2012

Dua Paman Mencari Simpati


Dinamika Laut Cina Selatan (LCS) terus bergema dan berbunyi ulang mengisi kalender matahari sehari-hari. Awal Juni 2012 lewat pertemuan pertahanan multilateral di Hotel Sangri La Singapura Menhan AS Leon Panetta sudah memastikan bahwa kekuatan armada lautnya di Pasifik akan menjadi yang terbesar dengan menggeser perbandingan kekuatan di Asia Pasifik dan Mediteranean menjadi 60:40 dengan target tahun 2020.  Akan ada pergeseran beberapa kapal induk AS dan kapal tempur kelas berat lainnya dari kawasan lain untuk berpindah ke Asia Pasifik.

Tidak itu saja, Vietnam sebagai musuh sejarahnya yang memalukan harus didekati dengan tebal muka demi mendapatkan akses pelabuhan di teluk Cam Ranh yang strategis itu.  Menteri Pertahanan AS Leon Panetta minggu pertama Juni 2012 berkunjung ke kawasan yang pernah menjadi pusat pangkalan militernya ketika terjadi perang Vietnam yang berlarut itu.  Dia pula yang  menjadi petinggi Pentagon yang pertama berkunjung ke Cam Ranh sejak usai perang Vietnam tahun 1975.  Demi strategi menghadapi kekuatan militer Cina, cara apapun harus dilakukan AS untuk mempertahankan hegemoninya di Asia Pasifik dan LCS.  Itulah lagak dan gaya Paman Sam.
Jet tempur latih T50 Golden Eagle segera mengisi skuadron TNI AU
Dengan Indonesia pun langkah pendekatan dilakukan. AS membuka diri untuk pasar senjatanya ke Indonesia, misalnya pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 dengan beragam senjatanya. Demikian juga dengan retrofit beberapa Hercules yang di upgrade dengan ongkos hibah.  Pentagon tentu sudah melihat horizon, sesungguhnya kalau mau berseteru dengan Cina di kawasan LCS, posisi strategis Indonesia adalah yang paling memukau dari segala dimensi apakah itu luas wilayahnya, akses pintu masuk dari lautan Hindia yang dimiliki RI,  dan pengaruhnya yang kuat di ASEAN.

Saling berebut pengaruh di Indonesia antara AS dan Cina bisa kita lihat dari cara mengambil hati mereka.  Seumur-umur perjalanan negeri ini, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja AS mengajak latihan tempur laut dengan TNI AL bareng sama Australia di pantai barat Sumatra tahun 2013.  Lalu ketika ada bantuan hibah sistem integrasi radar pantai dari AS dan sudah jadi, tiba-tiba Cina mengajak RI untuk kerjasama juga dalam pengadaan radar pantai di selat-selat strategis yang menjadi pintu masuk dan keluar dari LCS.

Paman Mao juga tak mau kehilangan momentum. Setelah berbaik hati mau memberikan sekolah teknologi rudal kepada Indonesia, aliran kunjungan petinggi militer negeri itu terus berdatangan ke Jakarta.  Terakhir Jendral Jing Zhiyuan panglima korps rudal Cina dan anggota komisi militer pusat Cina berkunjung ke Jakarta Senin tanggal 18 Juni 2012.  Jendral Jing mengajak TNI untuk mengadakan latihan bersama pasukan khusus dan angkatan laut termasuk pengiriman pilot Sukhoi  TNI AU untuk berlatih di Cina menggunakan simulator Sukhoi. 
RI memesan 9 CN295, 2 diantaranya selesai akhir tahun ini
Tetapi tentu saja yang tak terpublikasikan adalah melakukan supervisi terhadap progress sekolah teknologi rudal yang sedang berjalan itu.  Wong yang datang kan panglima rudal bukan panglima burung loh.  Nilai kewibawaan dan pentingnya kunjungan itu bisa dilihat dari sambutan yang diberikan tuan rumah Kemhan dengan sambutan langsung dari Menhan Purnomo Yusgiantoro, Sekjen Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Heryanto dan kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigen TNI Hartind Asrin. Bos Kemhan menyambut panglima rudal Cina demi kesuksesan sekolah rudal.

RI sendiri saat ini sedang melakukan peremajaan alutsistanya dengan mendatangkan beragam alutsista baik produksi DN maupun LN atau kerjasama produksi.  Ini adalah belanja alutsista terbesar RI sejak era Dwikora yang membelanjakan milyaran dollar untuk pengadaan alutsista segala matra.  Bahkan diprediksi dalam kelanjutan MEF (minimum Essential Force) tahap kedua tahun 2015-2019, jika tidak ada perubahan kebijakan Pemerintah, anggaran belanja militer RI menjadi yang terbesar di Asia Tenggara seirama dengan perkuatan ekonomi yang tumbuh meyakinkan.

Seperti dalam sebuah dinamika perjalanan, ketika kita sedang mengisi perbekalan untuk memperkuat basis pertahanan, sejalan dengan itu perkembangan dinamika LCS menghangat dengan klaim Cina atas kawasan LCS dan sibuknya AS mengantisipasi perkembangan militer Cina.  Seperti menemukan ritme dalam alunan lagu berjudul ”Kau Menginginkan Aku”, klop dan seirama, dua-duanya ingin mengambil hati. Ketika perkuatan itu sedang berjalan, Cina dan AS berupaya mencari simpati atau berebut pengaruh di Indonesia.  Maka Paman Mao berbaik hati mendirikan sekolah rudal di Indonesia, sembari berupaya mendapatkan akses informasi pergerakan kapal-kapal angkatan laut AS dengan tawaran radar pantainya.  AS pun tak ingin ketinggalan kereta, sudah duluan pasang radar pantai di jalur ALKI, lalu ngajak latihan perang bareng, kerjasama pelatihan TNI di sekolah militer AS, beri bantuan hibah berbayar untuk 24 F16 dan hibah beneran untuk upgrade 4 Hercules.
Heli serbu Mi35 milik Skuadron 31 Penerbad
Situasi yang penuh dinamika bergelombang ini harus bisa dimanfaatkan Indonesia dengan memaksimalkan peran diplomasi tingkat tinggi sembari mengambil manfaat optimal bagi perkuatan alutsista dan teknologinya. Sambil menyelam minum air, RI harus bermain cantik menghadapi manuver kedua Paman yang lagi bergejolak syahwat militernya.  Peran diplomasi RI sangat diperlukan dalam mendinginkan suhu yang kian memanas untuk saling berebut pengaruh di LCS.  Peran diplomasi ini penting untuk dilakukan karena RI tak punya klaim teritori di LCS sehingga perannya lebih obyektif dan netral.  RI punya hubungan yang baik dan bersahabat dengan Cina dan AS.  Peran yang diambil tentu saja dengan berbaik langkah kepada kedua negara besar ini dan mengajaknya ke jalur dialog kesetaraan.

Beratnya jalan dialog diantara kedua Paman ini karena karakter keduanya memang cenderung keras dan penuh gengsi. Cina yang berjaya dalam perkembangan ekonominya dan akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu didunia setelah tahun 2020 terlihat sangat kaku dalam perilaku, ketat informasi, jarang bicara dan ”jarang pula tersenyum”.  Sementara AS yang merasa tersaingi ekonomi dan militernya dengan Cina terkenal dengan arogansinya, suka mendikte, merasa menjadi polisi dunia sementara yang berseberangan dengannya dianggap tersangka.  Dua karakter ini bisa mendidihkan suhu yang sudah panas di LCS.  Maka langkah militer yang diambil sejatinya bukanlah solusi yang terbaik karena  dengan cara itu bisa saja terjadi konflik skala besar. 

RI sangat diharapkan mampu mendekatkan kedua kutub yang berseberangan itu ketika kedua Paman yang sedang berahi pengaruh berupaya mengambil simpati kepada kita.  Bukankah ini momentum sesunggguhnya, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.  Sembari melakukan diplomasi karena kedua mereka sedang berebut simpati, saatnya pula kita memperkuat militer dan teknologinya juga mumpung ketika keduanya sedang berbaik hati kepada kita.  Bukankah ini sebuah dinamika perjalanan memperkuat pertahanan negara sembari mencerdaskan kemampuan diplomasi.  Siapa tahu keduanya lantas duduk satu meja lalu saling sapa dan biarkanlah mereka berunding bertahun-tahun. 

Peran yang dijalankan RI ini dengan mendudukkan kedua Paman bersama beberapa ”keponakan-keponakan” yang lain seperti Filipina, Vietnam dan Malaysiai untuk berunding diniscayakan merupakan prestasi tersendiri bagi diplomasi RI.  Apalagi solusi akhirnya dengan bersalaman satu sama lain untuk  tidak lagi merasa benar sendiri walaupun langkah itu memerlukan waktu bertahun-tahun dan melelahkan.  Tetapi yang terpenting kita juga harus siap dengan kemungkinan terburuk.  Untuk itulah perkuatan alutsista TNI merupakan jalan akbar yang diridhoi oleh seluruh rakyat Indonesia sehingga setidaknya tahun 2020 nanti kita pun siap dengan segala "cuaca" ekstrim yang mungkin terjadi.
******
Jagvane / 19 Juni 2012



Wednesday, June 13, 2012

Menggagahkan Diri Di Teras Depan


Selat Malaka adalah jalan raya laut yang ramai lancar memisahkan tiga rumah negara bertetangga Indonesia, Malaysia dan Singapura yang masing-masing punya pagar pengaman yang berbeda.  Sementara selat Singapura adalah jalan raya laut nan sempit padat merayap yang memisahkan Indonesia dan Singapura dan merupakan selat terpadat yang dilintasi berbagai kapal niaga segala ukuran.  Di selat sempit yang memisahkan Batam dengan Singapura, negeri pulau kota itu memagari dirinya dengan beragam alutsista untuk meyakinkan wilayah negerinya yang kecil itu aman dari gangguan berskala apapun. 

Kemampuan intelijen dan teknologinya serta kekuatan alutsista yang dimiliki Singapura memberikan kesan dan pesan agar pihak eksternal jangan bermain api dengannya. Pihak yang dimaksud tentu Indonesia dan Malaysia.  Bedanya adalah negeri kecil itu memang punya rumah kecil yang sekaligus sebagai pusat eksistensi mereka sehingga mereka membentuk kombinasi pertahanan sarang lebah yang siap menyengat jika diganggu.  Jika tak diganggu ya tak apa-apa, namanya juga lebah, tidak ingin mengganggu dan tak ingin diganggu.  Demikian juga dengan Malaysia walau tidak sedahsyat Singapura dalam mengamankan teritorinya di selat Malaka, secara de facto mereka lebih bereaksi cepat jika ada pelanggaran teritori perairannya dibanding dengan Indonesia.
Pulau Nipah, dipersiapkan sebagai beranda yang gagah
Indonesia yang memiliki teritori lahan “semilyar hektar” dan merupakan teritori terbesar di Asia Tenggara juga sudah melakukan pagar pengamanan untuk menjaga kedaulatan teritorinya di batas jalan raya laut yang menghubungkan Asia Selatan, Timur Tengah dengan Asia Timur.  Salah satunya tentu dengan menghadirkan “satpam” berupa kapal patroli TNI AL di sepanjang teras depan rumahnya.  Tetapi harus diakui kehadiran satuan angkatan laut dengan alutsistanya ini belum sampai pada kategori gagah dan kekar.  Kehadiran kapal patroli di teras depan yang bernama selat Malaka dan selat Singapura belum mencerminkan kewibawaan pada sebuah teritori negara yang paling besar wilayahnya, paling besar pula penduduknya dan punya sumber daya alam yang melimpah.

Lalulintas di jalan raya laut seperti selat Malaka dan selat Singapura tentu memerlukan kehadiran negara yang berwibawa dalam bentuk satuan patroli laut  yang siaga penuh dan cepat bereaksi sebagai wujud eksistensi kita  di jalan raya laut yang juga menjadi border negara kita.  Mencontohkan cara kerja PT Kereta Api Indonesia manakala ada kereta api melewati stasiun besar dan kecil baik berhenti atau tidak, selalu ada personil kereta api bertopi yang memberi hormat dan semboyan sehingga kita mengetahui ada kehadiran dan monitoring dalam perjalanan kereta api tadi.

Satuan kapal cepat rudal (KCR) adalah kendaraan yang paling pas untuk memastikan kehadiran angkatan laut yang berwibawa untuk mengawal dan mengamankan teritori negara.  Menghadirkan satuan kapal cepat rudal di selat Malaka dan selat Singapura bukan dimaksud untuk pamer kekuatan tetapi untuk meyakinkan pemakai lalulintas jalan raya laut terpadat itu bahwa mereka berada di salah satu sisi jalan raya laut yang bernama Indonesia. Kehadiran patroli KCR ini juga sekaligus untuk memberikan rasa aman bagi perjalanan kapal niaga dari kejahatan perompakan laut di dua selat ini.  Manfaat lain adalah memberikan sinyal pada negara tetangga yang berbatasan laut dengan RI bahwa kita hadir mengawal teritori dengan postur meyakinkan.
Jet tempur F16 segera ditempatkan 1 skuadron di Pekanbaru
Oleh sebab itu pembentukan satuan kapal cepat rudal di Armada Barat yang sudah diputuskan setahun yang lalu mestinya sudah dapat memberikan warna kehadiran tadi.  Termasuk menambah kuantitas KCR hingga mencapai jumlah mencukupi melakukan patroli laut sepanjang selat Malaka dan selat Singapura every time.  Ketika dibentuk satuan kapal cepat rudal di Armada Barat setahun yang lalu jumlah alutsista berupa KCR tidak lebih dari 10 KCR.  Kita sangat berharap jumlah itu bisa dilipatgandakan menjadi minimal 25 KCR dimana sebagian kapal mengawal perairan Natuna dan sebagian lagi mengawal selat Malaka dan selat Singapura.

Kehadiran satuan tempur Marinir di Riau Kepulauan adalah decision yang bagus untuk mempertegas nilai tambah kehadiran satuan pengamanan berkualifikasi serbu amfibi di teras depan rumah kita.  Bukankah teras atau beranda depan rumah kita adalah lambang kewibawaan sebuah rumah apalagi jika pengamanannya dilengkapi dengan pengaman berkualitas herder.  Ini juga sekaligus ingin mengubah sebuah “peribahasa” yang berbunyi masuk dulu baru digebuk.  Lalu menggantinya dengan syair lagu berirama mars, gebuk dulu sebelum masuk.  Jalan ke arah itu sedang dipersiapkan.  Kita sudah punya satuan Marinir di Lhok Seumawe, Belawan dan yang sedang dipersiapkan adalah satuan tempur Marinir di Batam, Nipah dan Karimun.  

Kombinasi kapal cepat rudal di Armada Barat dan penempatan satuan Marinir di jalan raya laut itu diniscayakan memberikan nilai kegagahan dalam postur pengamanan laut di kedua selat itu.  Sebaran kapal cepat rudal ini bisa dipangkalkan di Belawan, Dumai dan Tg Pinang untuk mengantisipasi kecepatan reaksi dan coverage patroli.  Kegagahan ini akan semakin kinclong manakala 1 skuadron jet tempur F16 sudah memasuki home basenya yang baru di Pekanbaru termasuk skuadron UAVnya sehingga memberi tambahan kekuatan bagi skuadron Hawk yang sudah lebih dulu berhome base di ibukota Riau Daratan itu.

Ada pertanyaaan lalu bagaimana dengan kapal-kapal KKP yang juga melakukan patroli keamanan laut. Jawabannya tetap saja jalankan fungsinya sesuai tupoksi tentu dengan koordinasi Angkatan Laut.  Fungsi kapal-kapal KKP adalah memantau dan menangkap kapal asing yang melakukan kegiatan ilegal fishing di laut teritori kita.  Jika ada insiden antara  kapal patroli KKP dengan negara tetangga, satuan kapal cepat rudal TNI AL bisa memback upnya sehingga kehadiran KCR memberikan nilai gentar bagi keinginan jiran untuk ber insiden dengan kita.
Manuver KRI Clurit dengan 2 Rudal C705
Pemenuhan kebutuhan kapal cepat rudal tidaklah menghadapi kendala karena kapal perang jenis ini sudah bisa diproduksi oleh galangan kapal nasional kita baik PT PAL maupun swasta nasional.  PT PAL sedang mempersiapkan minimal 6 KCR ukuran 60 meter sementara galangan kapal di Batam sudah menghasilkan 2 dari 6 pesanan KCR ukuran 40 meter.  Kapal ketiga akan diserahkan Nopember tahun ini.  Galangan kapal di Banyuwangi juga sedang menyiapkan beberapa kapal perang Trimaran yang juga berkualifikasi KCR. 

Penyiapan KCR bersinergi dengan produksi rudal anti kapal C705 kerjasama dengan Cina.  Dengan membawa 2 rudal C705 sebagai senjata pukulnya maka setiap KCR yang melaju cepat di jalan raya laut beranda rumah kita tentu memberi nilai kegagahan yang meyakinkan sebagai bentuk kewibawaan kehadiran  yang sebanding dengan besarnya rumah yang harus dijaga ini.   Kehadiran KRI Sigma Diponegoro di Singapura untuk menjemput Presiden SBY dari kunjungan ke negeri itu awal bulan ini dan dikawal oleh 2 KCR dari Clurit Class memberikan aura kebanggaan bagi siapapun yang melihatnya.  Akan lebih bangga lagi jika kehadiran itu bukan hanya sekedar menjemput seorang Kepala Negara melainkan dengan kehadiran yang terus menerus di beranda jalan raya laut itu. Bukankah ini bentuk dari formula menggagahkan diri untuk sebuah kepantasan dan kepatutan yang memang harus dipertontonkan di wilayah border yang bernama Republik Indonesia.
*****
Jagvane 13 Juni 2012.

Friday, June 8, 2012

Kontrak PKR10514 Sebuah Keterkejutan Yang Wajar


Hingar bingar belanja alutsista TNI yang  sedang menuju panen raya tahun ini tiba-tiba “dikejutkan” dengan kontrak kerjasama pengadaan 1 unit kapal perusak kawal rudal (PKR) antara Kemhan RI dengan DSNS (Damen Schelde Naval Shipbuilding) Belanda.  Kontrak itu ditandatangani Selasa tanggal 5 Juni 2012 di Jakarta.  Kemhan diwakili oleh Kepala Baranahan (Badan Sarana Pertahanan) Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan DSNS diwakili oleh Director Naval Sale Of DSNS Evert Van Den Broek.

Mengapa harus terkejut, karena komunitas militer dan publik kita tidak menyangka akan adanya penandatanganan kontrak PKR karena proyek itu sudah dianggap mati suri.  Padahal awalnya harapan begitu besar disandangkan terhadap proyek PKR light fregat ini yang kelak akan menghasilkan 10 kapal perang PKR dengan pola transfer teknologi.  Tetapi ketika membaca nilai kontraknya hanya menghasilkan nilai 1 produk yang biasa-biasa saja dan hanya bernilai kontrak US$ 7 juta untuk bagian PT PAL.  Sedangkan sisa dari nilai kontrak yang US$ 220 juta tetap milik Damen Schelde meski dinyatakan bahwa kapal itu akan dirakit bagian-bagiannya di PAL Surabaya.  Ironisnya ketika bicara transfer teknologi, RI harus bayar lagi sebesar US $ 1,5 juta pada guru mantan kolonialnya.
KRI Sigma Class dan LPD Class TNI AL dengan US Coast Guard di Laut Jawa Juni 2012
Diantara semua paket pengadaan alutsista TNI, paket kontrak dengan Damen Schelde ini merupakan paket yang berakhir anti klimaks padahal ereksi harapannya sudah cukup lama tapi tak mampu juga penetrasi.  Bandingkan dengan pengadaan Leopard yang sempat diributkan itu tetapi sesungguhnya komunitas forum militer dan publik tanah air mendukung kehadiran MBT Leopard.  Namun ketika kontrak pengadaan PKR 10514 (Kapal perang dengan panjang 105 meter dan lebar 14 meter, berat 2335 ton) ini di sign, kritik yang bertubi-tubi ditembangkan oleh komunitas itu tak terkecuali oleh wakil ketua Komisi I DPR TB Hasanudin.

Kalau dalam proyek pengadaan Leopard komunitas militer yang tergabung dalam formil kaskus sebagian besar kontra dengan TB Hasanudin maka kali ini sebagian besar mereka justru mendukung langkah TB Hasanudin untuk membawa persoalan kontrak itu dalam rapat dengan Kemhan minggu-minggu mendatang.  Banyak hal yang perlu ditanyakan, diklarifikasi sehubungan dengan pola kerjasama pengadaan alutsista kapal perang yang dinilai banyak kalangan bersifat setengah hati.  Setengah hati di pihak Indonesia sebangun dengan setengah hati pihak Belanda.

Proyek PKR ini sudah tersendat lebih dari empat tahun dengan berbagai cerita yang tak berujung.  Setelah KRI Sigma ke empat di terima, publik dilambungkan dengan rencana proyek Kornas (korvet nasional) atau yang disebut Sigma jilid 5, lalu berubah lagi dengan memajang proyek PKR, dan bahkan sudah pakai acara potong baja sebagai simbol dimulainya proyek itu.  Namun  setelah itu tak ada kabar lagi.  Lalu tiba-tiba ada rencana mengakuisisi 3 kapal perang dari jenis Nachoda Ragam Class, tiga perawan tua yang tak laku-laku.  Awalnya sudah dipinang Brunai namun tak lama dibatalkan karena spek teknisnya tak sesuai dengan permintaan Brunai walaupun negeri kaya minyak itu sudah membayar lunas maharnya.
Pangkalan Utama TNI AL Surabaya dengan 3 korvet Sigma Class
TNI AL memang masih membutuhkan banyak kapal perang berbagai kelas untuk memenuhi ambisinya membentuk 3 armada tempur.  Diantara berbagai proyek pengadaan kapal perang itu tercatat proyek kapal cepat rudal buatan galangan swasta nasional yang berjalan mulus.  Selama 2 tahun terakhir ini sudah jadi 2 KCR Clurit Class.  Proyek pengadaan 3 kapal selam kelas Changbogo dari Korsel sedang berjalan meski jalan ke arah sana berliku sampai membutuhkan 5 tahun untuk memilih jenis kapal selam yang bagaimana yang akan mengawal perairan RI.  Meski sempat bangga dengan rencana menghadirkan 2 kapal selam kelas Kilo dari Rusia namun akhirnya kapal selam kelas U209 dari Korsel yang terpilih karena ada sekolah transfer teknologinya.

Ada pertanyaan menggelitik mengapa untuk urusan pengadaan kapal pemukul permukaan kita harus berkiblat ke Belanda.  Padahal masih banyak negara yang mampu membuat jenis kapal yang sekelas dengan pola yang lebih ramah dalam perjanjian kerjasamanya, misalnya Italia.  Ada kesan dalam setiap pengadaan alutsista dengan negeri penjajah ini mereka selalu beranggapan bahwa mereka merasa diatas kita derajat kelasnya.  Lihat saja ketika kita mau pesan Leopard, Belanda mempersyaratkan berbagai macam hal seperti HAM dan Papua.  Namun ketika kita balik arah ke Jerman mereka senewen juga dan minta bagian separuhnya daripada tidak dapat sama sekali.  Menepuk air di dulang tepercik muka sendiri.

Sebagai negeri penjajah, sudah tiba saatnya bagi Belanda untuk memamerkan langkah kedewasaan sikap dengan lebih banyak membagi ilmu, mempertaruhkan langkah arifnya daripada sekedar berbisnis murni.  Proyek kerjasama dalam bentuk apa pun semestinya dijadikan langkah untuk mempromosikan diri sebagai bangsa yang menghargai nilai-nilai kebersamaan dan harkat.  Bukan selalu mendikte dan merasa paling pintar.  Ingat jaman IGGI, ingat lagak Mr Pronk dekade 90an. Sayangnya juga kita masih berada dalam lingkar langgam sebagai anak jajahan dengan pola pikir banyak mengangguk, sehingga kita juga tak mampu membebaskan diri dari pengaruh bathin 350 tahun itu.

Negara-negara industri alutsista di Asia seperti Korsel dan Cina selalu menampilkan gaya gaul yang setara dan ini memang kultur Asia yang selalu menghargai bangsa lain.  Dengan Cina kita sudah mendapatkan kerjasama teknologi rudal.  Demikian juga dengan Korsel dengan teknologi kapal selam.  Kerjasama pengadaan kapal perusak kawal rudal kelas light fregat awalnya sangat diharapkan menghasilkan jumlah kapal light fregat minimal 2 unit tahun 2014 dari opsi pengadaan 10 unit setelah tahun 2014.  Selain itu dengan pengadaan kapal sebanyak itu diharapkan RI dapat mengambil ilmu transfer teknologinya setelah kapal ketiga dan keempat.  Namun cerita dongeng sebelum tidur itu justru dianggap mati suri karena Damen Schelde dan PT PAL gagal bersepaham dalam kualitas dan kuantitas transfer teknologi yang diinginkan.

Nah ketika perjalanan pasal kontrak terhenti di terminal pasar transfer teknologi, sementara TNI AL sangat memerlukan kapal-kapal berkualifikasi korvet ke atas lalu muncullah tawaran 3 Nachoda Ragam (NR) Class.  Sebagai user TNI AL memang butuh banyak kapal perang untuk peremajaan kapal perangnya sekalian mengejar pencapaian target MEF tahap I yang berakhir tahun 2014.  Terlepas dari apapun kontroversi tentang NR sesungguhnya Angkatan Laut kita membutuhkan kapal perang ini karena kegagalan pencapaian kontrak PKR sesuai jadwal. Apalagi NR ini barangnya sudah ada. 
3 Nachoda Ragam Class yang diinginkan TNI AL
Kontrak PKR 10514 yang di sign tanggal 5 Juni 2012 itu hanya untuk pembuatan 1 kapal tok.  Ini juga sebuah bentuk keanehan karena biasanya kontrak kerjasama minimal untuk 2 kapal perang. Okelah kalau memang kontrak PKR 10514 itu dilakukan dalam rangka memenuhi payung hukum atau sekedar menggugurkan kewajiban, ke depannya tidak salah kalau kita melirik ke Cina, Perancis dan Italia.  Kita masih butuh kapal perang berkualifikasi fregat dan bahkan destroyer.  Negara-negara itu diyakini bersahabat dan tidak pelit ilmu teknologi sehingga jalannya proses pertambahan kapal perang RI dapat terpenuhi sekalian menimba teknologinya.  Catatan untuk PT PAL juga adalah jangan terlalu berharap banyak tentang ilmu transfer teknologi jika secara lahiriah dan bathiniah belum mampu menjalankan peran itu secara total.

Kita sangat mendukung perkuatan kapal perang TNI AL.  Ada proyek kapal cepat rudal  KCR 40 dan KCR 60 serta KCR Trimaran.  Ada proyek kapal tanker, ada proyek kapal LST, ada proyek kapal selam, semuanya sedang berjalan.  Ketersendatan proyek PKR dengan Belanda selayaknya dijadikan pengalaman berharga.  Ke depan kita mengharapkan pola kerjasama pembuatan kapal pemukul berkualifikasi fregat dan destroyer dengan negara lain selain Belanda dapat berjalan.  Tidak satu jalan ke Roma bukan, dan hanya keledai yang bisa jatuh ke kubangan lebih dari sekali.

*****
Jagvane / 08 Juni 2012




Saturday, May 26, 2012

Menyambung Konsistensi MEF


Pembangunan kekuatan TNI dengan modernisasi alutsista segala matra sudah dimulai sejak tahun 2010 beberapa bulan ketika jabatan kedua Presiden SBY dilanjutkan.  Tahun ini sudah memasuki tahun ketiga dari apa yang kita kenal dengan sebutan Minimum Essential Force (MEF) tahap I.  Dan selama waktu itu kita sudah dapat saksikan daftar belanja alutsista yang mampu membanggakan dada dan membungakan wajah.  Belanja alutsista pada MEF tahap I sudah dapat kita ketahui dengan komprehensif.  Termasuk segala dinamika prosesnya yang terkadang harus berselisih paham dengan Komisi I DPR yang punya tupoksi bertugas sebagai pengawas yang mengkritisi.  Setidaknya mulai semester kedua tahun ini panen raya alutsista sudah dimulai.

Kalau boleh jujur kita hendak mengatakan bahwa titik kritis dalam kesinambungan perkuatan alutsista TNI terletak pada pergantian pemerintahan tahun 2014.  Dengan pergantian Presiden termasuk rombongan kabinet koalisinya,  staf khusus dan staf ahli sudah pasti berganti figur. Titik kritis inilah yang perlu kita cermati agar jangan sampai kita meneruskan predikat yang selalu menempel selama ini yaitu ganti pimpinan ganti kebijakan. Termasuk juga yang perlu dicermati secara intelijen adalah kemungkinan adanya intervensi pihak luar lewat figur pimpinan RI mendatang agar MEF TNI hanya sampai tahun 2014.  Cukup satu episode saja.
Jet Tempur TNI AU penjaga kewibawaan udara NKRI
Kita harus menyikapi kondisi dinamis yang terbentang di sekitar halaman rumah kita seperti gesekan militer di Laut Cina Selatan, klaim Ambalat, perkembangan militer Cina dan India yang demikian pesat, peningkatan kekuatan militer AS di Darwin, Singapura dan Kokos.  Oleh sebab itu sudah selayaknya kita tidak bisa lagi bermain-main di wilayah inkonsistensi dalam membangun postur TNI karena kekuatan TNI itu adalah nilai nur kewibawaan dan martabat untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI. Selain pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan, pertumbuhan kekuatan militer sebuah negara haruslah berjalan dengan irama yang setara. 

Pertumbuhan ekonomi kita selama ini berjalan baik, pendapatan per kapita meningkat jelas.  PDB kita yang terbesar di ASEAN, cadangan devisa kita diatas US$ 100 milyar.  RI merupakan kekuatan ekonomi nomor 16 di dunia, itu sebabnya kita masuk kelompok G20.   Nah beberapa indikator ekonomi ini menjadi catatan bahwa pertumbuhan kekuatan militer juga harus digerakkan seirama dengan gerak maju ekonomi kita.  Dunia juga mengakui bahwa ekonomi kita memiliki kekuatan dan daya tahan pada setiap krisis ekonomi dunia.  Hanya saja kita selalu terpengaruh dengan opini-opini yang dilontarkan beberapa pengamat ekonomi lewat media yang “itu-itu” saja, selalu sinis dengan pencapaian yang diperoleh pemerintah.

Figur presiden pasca 2014 boleh berbeda kebijakan untuk sektor-sektor lain.  Namun sangat diharapkan bisa meneruskan kesinambungan perkuatan TNI sampai tahun 2019 dan seterusnya karena MEF I yang akan selesai tahun 2014 sejatinya baru menambal sulam kekuatan alutsista seperti mengganti skuadron yang grounded, kapal perang yang sudah tua, dan meriam renta di batalyon jompo.  MEF I barulah berupa tunas muda dari tumbuhnya kekuatan yang diinginkan. Sangat ironis ketika tunas muda itu tumbuh lalu dibiarkan kering dan merana lagi.
Howitzer Caesar segera mengisi alutsista TNI AD
Mengapa baru disebut tunas muda karena sesungguhnya pada tahun 2014 kekuatan alutsista kita belum mampu berjalan langkah tegap melainkan baru mulai berdiri dan berjalan.  Dibanding dengan Singapura saja kekuatan militer kita belum mampu mengimbangi baik dari sisi kualitas dan kuantitas.  Kita hanya menang jumlah pasukan padahal di masa mendatang keunggulan teknologi alutsista dan integrasinya menjadi penentu kemenangan militer sebuah negara. Contohnya kita masih belum punya pesawat AEW (peringatan dini).  Kemudian performansi kapal perang kita belum bisa dikatakan memuaskan apalagi cum laude baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.  Demikian juga dengan kekuatan skuadron tempur yang baru punya 1 skuadron Sukhoi sebagai barometer kekuatan udara.

Rentang wilayah RI yang harus dijaga bukanlah sebuah rumah kecil melainkan sebuah rumah gadang yang kaya dan bergengsi.  Rumah kita kaya dengan sumber daya alam dan bergengsi karena berada dalam posisi menentukan bagi lalulintas perekonomian Asia Timur, Asia Tenggara, Australia dan Timur Tengah.  Nah wilayah kedaulatan kita ini tentu harus punya satpam yang kuat dan sekaligus disegani.  Banyak orang punya pikiran skeptis dan lalu menyederhanakan masalah misalnya dengan analogi mengatakan tidak perlu kehadiran satpam yang kuat di sebuah kompleks perumahan karena ketika tidak terjadi gangguan keamanan seakan-akan fungsi satpam itu tidak ada.  Padahal justru kehadiran Satpam itu di kesehariannya mampu melumpuhkan dan mementahkan niat orang yang hendak berbuat jahat, apalagi kalau satpamnya banyak dan dilengkapi dengan senjata yang mumpuni.

MEF tahap II periode 2015-2019 merupakan tahapan penting karena didalamnya ada planning pertumbuhan kekuatan yang diniscayakan mampu meninggikan harkat dan kewibawaan kedaulatan NKRI.  Belanja alutsista dengan dukungakn PDB dan Purchase Power (APBN) diyakini akan lebih baik dari anggaran MEF tahap I.  Itulah sebabnya secara finansial mestinya tidak ada bottle neck yang menyumbat.  Kita meyakini dan mewanti-wanti kebijakan pemerintahan yang baru nanti akan menjadi penentu nyaman tidaknya kelanjutan pembangunan postur militer RI.
Super Tucano Agustus 2012 tiba di Lanud Malang
Jauh-jauh hari kita mengumandangkan harapan agar siapa pun yang terpilih sebagai orang nomor 1 di negeri ini tetaplah konsisten melanjutkan serial MEF dengan mata hati yang jernih.  Ini untuk menunjukkan pada nilai konsistensi bahwa membangun kekuatan militer itu tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong dan sejenak saja atau berdasarkan selera dan gaya masing-masing.  Kita lihat Cina dan India yang begitu konsisten membangun kekuatan militernya selama 10 tahun terakhir.  Meskipun berganti pemerintahan namun program modernisasi di kedua negara tersebut berjalan terus dan bahkan meningkat dari tahun ke tahun.

Membangun postur kekuatan militer bukanlah untuk berlagak sikap atau menantang perang dengan negara lain.  Postur kekuatan militer sangat diperlukan dalam perjuangan eksistensi bangsa dengan segala harta yang dimiliki.  Harta kebanggaan RI yang bernilai tinggi adalah sumber daya alam yang berlimpah apakah itu sumber daya alam darat atau sumber daya alam laut.  Pengelolaan sumber daya kelautan yang terbarukan saja jika mampu dikelola dengan manajemen usaha dan birokrasi yang baik mampu menghasilkan puluhan trilyun rupiah per tahun.  Belum lagi sumber daya kelautan yang tak terbarukan sebagaimana yang tersimpan di Natuna, Ambalat dan Arafuru.

Militer yang kuat juga akan mampu menjadi kekuatan bargaining dan kewibawaan dalam diplomasi antar negara.  Karena sesungguhnya kekuatan militer adalah payung untuk menjalankan diplomasi atau hubungan antar negara berdasarkan prinsip kesetaraan yang bermartabat.  Lebih dari itu negara yang memiliki militer yang kuat diyakini mampu membawa kebanggaan dalam perjalanan bangsa.  Tetapi ini tentu saja harus setara dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyatnya.  Jangan sampai ada analogi yang menyindir ketika sebuah rumah besar  dan kaya kemalingan.  Selidik punya selidik ternyata jendelanya tidak punya teralis besi. Nah setelah kemalingan barulah si empunya rumah memberi teralis pada jendelanya.  Ini namanya rugi dua kali, rugi karena kemalingan dan rugi karena terlambat memberi teralis pada jendelanya.  Apakah kita mau seperti itu ?

*****
Jagvane / 26 Mei 2012

Wednesday, May 23, 2012

Menyongsong Latgab 2013


Ada pertanyaan, mengapa harus tahun 2013, jawabnya karena itu berarti 5 tahun dari tahun 2008 saat diadakan Latgab TNI skala besar.  Ini sebagaimana yang diinstruksikan Panglima Tertinggi TNI yang juga Presiden RI agar 5 tahun sekali TNI melakukan Latgab skala besar.  Namun yang lebih membanggakan tentu karena pada tahun 2013 Latgab TNI dilakukan bersamaan dengan musim panen raya alutsista berbagai jenis yang sudah berdatangan sejak pertengahan 2012 ini.

Skenarionya tentu tidak jauh dari suasana adrenalin militer kita yang selalu ingin mempertahankan teritorinya secara jelas dan jantan. Oleh karena itu boleh jadi prediksi hotspot area latihan tempur gabungan itu akan berpusat di selat Malaka (pertempuran laut dan pendaratan amfibi), Kalimantan (pertempuran darat dan udara) dan Ambalat (perang laut dan pendaratan amfibi).  Tiga titik panas ini sangat dinantikan dalam latihan perang TNI untuk menguji kualitas alutsista yang dimiliki, integrasi sistem komunikasi, spirit tempur prajurit TNI di tiga wilayah tempur sekaligus.

Sekedar catatan di Riau Kepulauan saat ini sedang dibangun kekuatan baru satuan tempur Marinir TNI AL, sementara Marinir telah menempatkan satuan tempurnya di Pangkalan Brandan, Lhok Seumawe dan Piyabung Lampung.  Ini diluar dari kekuatan Pasmar I dan II Marinir yang berbasis di Jawa dan 1 brigade Marinir yang disiapkan di Papua.  Sementara di Kalimantan juga sedang dibangun satuan-satuan tempur TNI AD yaitu batalyon infantri, batalyon artileri, batalyon kavaleri untuk menambah kekuatan eksisting yang sudah ada.
Tank amfibi TNI AL dalam serial latihan 
Yang menarik tentu saja kekuatan alutsista TNI pada saat digelarnya latgab 2013 itu akan banyak diisi dengan alutsista baru.  Paling tidak sudah tersedia puluhan MBT anyar Leopard.  Dengan begitu sudah bisa dilakukan kombinasi pertempuran tank dengan payung heli serang, UAV, batalyon roket, batalyon artileri, satuan rudal anti tank yang sudah tersedia di Kalimantan.  Demikian juga dengan sebaran rudal darat ke darat.  Oleh sebab itu skenario perang darat di kalimantan diharapkan tidak lagi menguji lagu lama yang sudah usang yaitu biarkan musuh masuk lebih dulu baru digebuk. 

Lagu itu harus diganti dengan lagu baru berirama rock berjudul pre emptive strike dengan menembakkan rudal darat ke darat ke sasaran yang disimulasikan sebagai instalasi militer dan komunikasi pihak lawan. Ruang udara di Kalimantan juga dihirukpikukkan dengan pertempuran udara antara Sukhoi TNI AU dengan jet tempur pihak lawan.  Dengan dukungan jet tempur Sukhoi, Hawk, Heli serang, dan UAV pola latihan perang darat dan udara di Kalimantan akan menjadi ukuran kemenangan kampanye militer RI atau puncak dari Latgab tersebut.

Di Selat Malaka disimulasikan terjadi pertempuran laut karena pihak lawan melanggar teritori RI. Tahap awal satuan kapal cepat RI yang memang sudah terbentuk di kawasan itu melakukan pengejaran dan menembakkan rudal C705 ke arah beberapa kapal perang lawan.  Satuan Marinir dari Sumut dan Lampung disiagakan dan dikirim untuk lakukan pendaratan amfibi di salah satu pulau yang disimulasikan sebagai basis pertahanan pihak lawan.  Skuadron F16 yang bermarkas di Pekan baru bersama skuadron Hawk200 melakukan kawal udara dan serangan udara langsung ke beberapa kapal perang lawan yang mencoba melakukan serangan balik.   Lalu konvoy kapal perang armada barat berkekuatan 30 KRI berbagai jenis muncul dari balik pulau Bintan dan menuju Karimun tempat terjadinya hotspot.
KRI Nanggala  diuji kemampuan tempurnya di Latgab 2013
Di kawasan Ambalat, pasukan Marinir berkekuatan 1 brigade melakukan pendaratan pasukan di Nunukan dan Sebatik.  Dipilihmya 2 pulau terdepan ini agar gaung kampanye militer RI terdengar keras di telinga tetangga sebelah. Namun sebelumnya telah terjadi pertempuran laut yang melibatkan 25 KRI dan 10 kapal lawan. TNI AL melakukan penembakan rudal yakhont oleh KRI berkualifikasi Fregat dan langsung menenggelamkan 2 kapal musuh.  Payung untuk pertempuran laut dikawal oleh 8 Sukhoi dari Makasar, 2 UAV dan 4 heli anti kapal selam.

Skenario latgab khususnya perang darat di Kalimantan tidak lagi mengandalkan kekuatan pasukan dari pulau Jawa.  Cukup hanya bantuan 1 brigade Kostrad dari Sulawesi yang secara geografi lebih dekat dengan Kalimantan.  Dua Kodam di Kalimantan sudah tersedia berbagai arsenal mulai dari MBT, MLRS, Artileri, Rudal Anti Tank, Rudal Darat ke Darat, Roket, UAV, Heli Serang.  Jadi pola latihannya tidak lagi menunggu diserang tapi langsung melakukan serangan ofensif berskala besar sehingga pihak lawan tak mampu kumpulkan kekuatan.  Pangkalan udara pihak lawan diserang oleh satuan rudal darat ke darat, demikian juga dengan satuan radar dan pusat komunikasi harus segera dilumpuhkan pada hari pertama Latgab. 

Pada hari kedua pihak lawan mencoba melakukan konsolidasi termasuk melakukan serangan udara.  Namun serangan udara itu dapat dipatahkan Sukhoi TNI AU yang bersiaga di Balikpapan.  Karena hampir semua pangkalan udara pihak lawan sudah dilumpuhkan maka bantuan Sukhoi pihak lawan dari seberang laut yang jauh menjadi tidak efisien karena Sukhoi TNI AU lebih tahan beradu karena masih punya stok BBM.  Setelah gangguan Sukhoi lawan berhasil dipatahkan, Sukhoi TNI AU melakukan serangan udara udara langsung dan memastikan 2/3 pangkalan militer lawan sudah hancur. 
Pasukan TNI AL bersiap menuju medan operasi
Pada hari ketiga satuan MBT, satuan roket dan satuan rudal anti tank dengan dukungan Heli serang dan Super Tucano melakukan perang tank dengan pihak lawan.  Dengan dukungan UAV yang mensuplai informasi keberadaan MBT lawan, Heli serang melakukan penembakan terhadap MBT lawan yang bersembunyi di perkebunan kelapa sawit.  Satuan roket dan artileri menghujani kota-kota sepanjang perbatasan dan satuan MBT bergerak masuk sejauh 30 mil dari perbasan.  Namun penjelajahan satuan MBT ini hanya 1 hari saja karena RI memang tidak punya ambisi teritori, sekedar menghajar lawan agar tahu diri.

Serangan serentak di tiga titik panas ini dimaksudkan agar pihak lawan terpecah konsentrasinya sehingga distribusi kekuatan militernya harus dibagi di tiga front itu.  Skenario dadakan dan serang lebih dulu dalam Latgab TNI 2013 merupakan episode baru yang sangat mungkin ditampilkan dalam Latgab itu karena kemampuan alutsista kita sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Latgab TNI tahun 2013 diprediksi diikuti 35.000 pasukan TNI, 80 KRI berbagai kelas, 40 jet tempur berbagai jenis, 50 heli tempur dan angkut,  40 MBT, 30 BMP3F, 50 Scorpion, 40 BTR-50, 10 BTR80, 10 RM Grad, 5 MLRS, 2 kapal selam dan berbagai alutsista baru lainnya.
*******
Jagvane / 23 Mei 2012

Wednesday, May 16, 2012

Sekilas Info

Beberapa Tulisan di Blog ini telah dipublikasikan di Media Cetak Nasional:
  • Indonesia Membangun Industri Alutsista - Rubrik Teknologi Suara Merdeka
  • Korina, Begitu Dekat Begitu Nyata - Rubrik Teknologi Suara Merdeka
  • Changbogo Diambang Pintu - Rubrik Teknologi Suara Merdeka
  • Simbol Teknologi Tinggi Itu Kembali Menggeliat - Rubrik Teknologi Suara Merdeka
  • Lagu Hits Alutsista"Transfer Teknologi" - Majalah Defender edisi 57
  • Mereka Mulai Menyadari - Majalah Defender edisi 57
  • Jawaban Atas Tuduhan Mark Up Sukhoi - Majalah Defender edisi 58
  • Mewaspadai Halaman Belakang Rumah Kita - Majalah Defender edisi 58


Monday, May 14, 2012

Membaca Pergerakan Militer di LCS

Kondisi di Laut Cina Selatan (LCS) setahun belakangan ini menjadi catatan stabilo merah bagi hampir semua negara ASEAN. Hal itu disebabkan oleh makin benderangnya kehadiran kapal-kapal angkatan laut Cina baik yang memakai kamuflase kapal niaga atau kapal nelayan maupun jelas-jelas postur kapal perang.  Sangat diyakini jua bahwa beberapa kapal selam Cina dan AS melakukan patroli bawah laut dan melakukan operasi intelijen di perairan strategis dan kaya itu.

Cina sudah lebih dari duapuluh tahun lalu mengumumkan peta lidah naga, bahwa kawasan LCS merupakan wilayah teritorinya sejak jaman sebelum masehi.  Namun selama waktu itu tidak ada gesekan militer karena wajah Cina masih imut-imut alias malu-malu kucing alias tahu diri karena kemampuan militernya belum setaraf ofensif.  Kekuatan militer Cina yang mulai tumbuh taring dan semburan naganya beberapa tahun terakhir ini merupakan cikal bakal terjadinya ketidaknyamanan memandang peta LCS dengan banyaknya pergerakan militer berbagai negara.

Itu sebabnya mengapa AS tidak membolehkan situasi ini menjadi tanpa payung sehingga diperlukan pergeseran kekuatan militer ke kawasan Asia Tenggara.  Memang jika dikumpulkan seluruh kekuatan militer ASEAN belum mampu mengimbangi kekuatan milter Cina yang tahun 2020 nanti menjelma menjadi sosok naga yang siap menghamburkan api dan panas konflik, setidak-tidaknya untuk menakut-nakuti. Padahal diantara 10 negara ASEAN ada juga yang pro Cina seperti Myanmar, Laos dan Kamboja yang juga tak punya konflik teritori di LCS.
Kawasan LCS yang menjadi pusat pergerakan militer

Sejatinya kepentingan AS terhadap LCS bukanlah sekedar membendung laju militer Cina yang mengancam hegemoninya.  Tetapi karena keinginan yang kuat untuk menjaga potensi sumber daya fosil yang terkandung didalam LCS tetap dalam kontrol dan kondisi status quo.  Situasi ini dalam jangka panjang merupakan peluang bagi AS untuk bisa mengeksplorasi dan mengekspolitasi sesuai pengaruh kekuatan politiknya, setidaknya oleh perusahaan minyaknya.  Tidak dapat dibantah masa depan sumber daya energi fosil akan menjadi pusat perebutan kekuasaan negara-negara besar.

Indonesia sebagai pemilik teritori terbesar di kawasan Asia Tenggara dan berkepentingan di LCS tentu tidak ingin kawasan LCS menjadi pusat konflik.  Indonesia bersahabat baik dengan AS juga dengan Cina. Posisi ini mestinya dipandang menjadi sebuah keunggulan posisi jika RI mampu menjalankan diplomasi optimal untuk meyakinkan kedua seteru AS dan Cina untuk bersepaham tidak menggunakan kacamata militer dalam menyelesaikan klaim teritori LCS.  AS tak punya klaim teritori di LCS, hanya saja ada negara-negara ASEAN yang butuh pertolongan negara adidaya itu misalnya Filipina.  Dan inilah pintu masuk menjaga status quo itu.

Kemampuan diplomasi RI di era Ali Alatas sebagai Menlu, yang mampu mendamaikan pertikaian perang saudara di Kamboja, awalnya dianggap sebuah kerja sia-sia oleh banyak pengamat dan negara Barat.  Namun dengan beberapa tahapan informal meeting, situasi keras yang ditampilkan kedua seteru di Kamboja bisa mencair dan bahkan berdamai abadi sebagaimana yang dapat kita saksikan sekarang.  Ini adalah sebuah prestasi yang membanggakan dan diakui dunia manakala RI berhasil menjalankan misi diplomatik mendamaikan pertikaian di Kamboja. Begitu hormatnya Kamboja kepada RI salah satunya dengan mengirimkan pasukan khususnya untuk dilatih dan dididik oleh Kopassus.  Padahal mestinya dia berkiblat ke Cina untuk urusan militernya.

Mencermati dinamika LCS, yang terjadi sekarang adalah saling berebut pengaruh untuk membawa RI masuk ke dalam blok AC ( Amerika atau Cina).  Misalnya tiba-tiba saja ada rencana latihan militer bersama angkatan laut segitiga RI-AS-Australia di pantai barat Sumatera tahun depan.  Sementara Singapura langsung oke saja ketika 4 kapal perang AS ditempatkan disana secara permanen.  Filipina berteriak lantang minta bantuan militer kepada induk semangnya AS karena Paman Panda mulai pamer kekuatan di posisi klaim tumpang tindih itu.  Persoalannya adalah bagaimana cara membujuk Cina yang kaku itu atau mungkinkah arogansi sosok Paman Sam bisa diajak untuk mendinginkan suhu lalu duduk sama rendah berdiri sama tinggi di ruang dialog.

Jalan dialog adalah harapan paling asa yang disandangkan jika tidak ingin halaman depan rumah kita di LCS menjadi ajang adu kuat berbaju militer. Langkah ini diyakini pada awalnya akan sangat sulit, berliku dan hampir mustahil membuahkan hasil.  Tetapi dengan keyakinan kuat sebagai negara yang bersahabat baik dengan AS dan Cina langkah-langkah panjang dan melelahkan tadi diniscayakan akan membawa hasil.  Peran Indonesia sangat menentukan karena posisi gaulnya yang lebih dinamis dan merdeka.  Untuk urusan diplomasi ini memang diperlukan figur setara Ali Alatas yang mampu melewati berbagai rintangan dan selalu memberikan inspirasi bagi pola diplomasi RI.

Disamping upaya diplomasi tentu perkuatan militer kita tidak boleh diabaikan.  Itu sebabnya program Minimum Essential Force (MEF) tahap I harus disambung dengan MEF tahap II meski terjadi pergantian pucuk pimpinan negara tahun 2014. Kita tidak boleh lagi setengah hati membangun kekuatan militer karena ini akan menjadi kekuatan pendamping upaya diplomasi. Kesinambungan perkuatan militer merupakan satu kebutuhan karena di sekeliling kita perkuatan yang sama juga dilakukan.

Pergerakan militer di LCS merupakan upaya unjuk kekuatan.  Upaya ini akan terus menjadi gerakan berbalas pantun.  Cina kerahkan armada pasti akan dibalas oleh Vietnam, Malaysia dan Filipina.  Demikian juga dengan AS tentu tak mau kehilangan kuku militernya dengan menggerakkan kapal induknya.  Kondisi ini akan terus menerus terjadi dan bukan tidak mungkin akan terjadi insiden yang menyulut pertempuran laut.  

Inisiatif yang diambil Indonesia untuk melakukan jalan dialog dengan tahapan awal berupa dialog informal merupakan langkah tepat.  Upaya ini tentu tidak langsung membuahkan hasil.  Masih diperlukan langkah bertahun-tahun dan melelahkan untuk menemukan solusi paling tepat bagi semua negara yang bersengketa.  Kekakuan Cina dan arogansi AS bisa saja luruh dan mencair manakala upaya tanpa mengenal lelah itu telah menembus matahati mereka.

*****
Jagvane / 14 Mei 2012

Thursday, May 3, 2012

Mengapa Harus Gelisah, Malaysia

Ekspedisi Khatulistiwa sedang digelar di bumi Kalimantan terhitung sejak 5 April 2012 sampai dengan 17 Juli 2012.  Hajatan strategis ini diikuti 1.170 orang, mayoritas pasukan TNI segala matra, untuk mengenali dan mengintimi situasi geografi dan lekuk bumi Kalimantan.  Utamanya di kawasan perbatasan  yang menantang sekalian mensimulasi naluri tempur pasukan TNI melalui medan ralasuntai (rawa, laut, sungai dan pantai) di Kalimantan. 

Ini juga bagian dari “rekonstruksi operasi Anacondas-2” sebagaimana yang pernah difilmkan, meneliti flora dan fauna di pedalaman Kalimantan sembari mencari Anacondas dan anggrek merah kalau memang ada.  Sekalian juga menginspeksi patok perbatasan yang sering diusili tetangga sebelah.  Kepala Staf Angkatan Darat pernah bilang : Lu cabut patok gue sikat.  Nah ini juga bagian dari pembuktian apakah ada patok perbatasan negara kita yang dicabut atau digeser oleh tetangga sebelah.
Tim Ekspedisi Khatulistiwa di Lanud Supadio Pontianak
Operasi teritorial yang melibatkan pasukan khusus TNI AD (Kopassus), Marinir, Kostrad dan Paskhas serta sejumlah ilmuwan, menwa dan relawan ternyata disikapi dengan kewaspadaan penuh oleh negara jiran Malaysia.  Jauh-jauh hari pasukan Malaysia mendatangkan belasan MBT Pendekar ke Sabah dan arsenal lain di kawasan itu termasuk mengerahkan jet tempur F18 Hornet ke utara Kalimantan. Kamuflasenya adalah latihan militer ATM, katanya. 

Tapi kafilah tetap berlalu dengan langkah tegap walau anjing tetangga menggonggong terus.  Mereka bahkan sampai mengawasi ketat pergerakan pasukan TNI yang mulai bergerak dari Sebatik menuju kawasan kabupaten Nunukan yang ada di daratan Kalimantan yaitu Simanggaris, Alang dan Lumbis.  Mereka menganggap ekspedisi ini sebagai show of force sehingga harus dikawal dengan unjuk kekuatan juga.

Karena merasa gerah dan gelisah mereka juga mengerahkan jet tempur Hornet ke Kinabalu dan pergerakan jet tempur ini dipantau ketat oleh radar TNI AU yang ada di Tarakan sehingga tanggal 16 April sampai dengan 20 April 2012 yang lalu TNI AU mengirimkan 1 flight jet tempur Sukhoi ke Balikpapan untuk melakukan operasi kawal udara di perbatasan. 

Kehadiran Sukhoi di kawasan perbatasan ini membawa manfaat bagi perjalanan ekspedisi karena setelah itu tidak ada lagi gangguan udara dari pihak sebelah.  Lagian ngapain juga mengganggu, wong ini rumah-rumahku sendiri, halamanku sendiri, pohon-pohonku sendiri, tanah-tanahku sendiri. Upaya gangguan ini mencerminkan ketidakdewasaan tetangga sebelah terhadap hajatan kenduri kita menjelajah perbatasan milik kita karena mereka menganggap itu ancaman.

Ekspedisi khatulistiwa merupakan bagian dari upaya memoles kawasan border untuk lebih mengenali lintang dan bujur perbatasan.  Termasuk di dalamnya pegunungan dan lembah, sungai dan gambut, kultur masyarakat setempat, komunikasi dengan masyarakat perbatasan, menggali informasi intelijen untuk kajian militer agar kawasan ini dapat diikat suasana keindonesiaannya dari sisi hankam.  Ekspedisi ini dibagi dalam 8 group koordinat yang menjelajah hutan di wilayah kabupaten Sambas, Sanggau, Putussibau, Murung Raya, Hulu Sungai Tengah, Kutai Barat, Malinau dan Nunukan.  Ekspedisi bergengsi kebangsaan ini terdiri dari komando pengendalian, tim penjelajah, tim komunikasi dan  tim peneliti.

Pada saat yang sama 2 Kodam di Kalimantan lagi berbenah. Kodam Mulawarman yang berbatasan dengan Sabah Malaysia sedang bersiap diri menyambut berbagai alutsista  baru diantaranya 1 batalyon MBT Leopard, 1 skuadron heli serang Penerbad, MLRS, rudal surface to surface, rudal surface to air, Howitzer bersamaan dengan pembangunan batalyon infantri, artileri dan kavaleri.  Sementara Kodam Tanjungpura yang berbatasan dengan Sarawak juga membangun satuan-satuan tempur baru yaitu batalyon artileri dan kavaleri.  TNI AU sudah menempatkan 1 skuadron jet tempur Hawk di Pontianak dan menanti kedatangan 1 skuadron pesawat tanpa awak (UAV).

Sejalan dengan itu 3 bandara di Kaltim sedang dalam tahapan retrofit agar bisa didarati pesawat Hercules untuk mobilitas pasukan.  Ketiga Lanud itu adalah Long Bawan Krayan, Long Ampung dan Datah Dawai di Long Nunuk Kutai Barat.  Dari sisi Hankam ketiga Bandara ini bernilai strategis karena berada pada wilayah yang tak jauh dari border.  Bandara Long Bawan mempunyai nilai historis dalam era Dwikora tahun 1964 dengan pendaratan Hercules yang dramatis itu.
Tim Ekspedisi Khatulistiwa ceria dan easy going
Operasi Khatulistiwa ini di back up oleh sedikitnya 12 batalyon organik di 2 Kodam yang ada di Kalimantan bahkan di kawasan perbatasan Kalimantan saat ini dijaga oleh batalyon Linud Kostrad yang didatangkan dari Jawa.  Selain itu Penerbad juga mengerahkan armada heli tempur untuk mengawal personel yang sedang menjelajah kawasan perbatasan.  Sementara TNI AU menyiagakan jet tempur Hawk yang berpangkalan di Pontianak disamping pesawat pengintai.

Seharusnya Malaysia tak perlu gelisah karena ekspedisi ini merupakan urusan rumah tangga RI. Wajar dong kalau RI berupaya untuk merawat pagar halamannya dan sesekali dikunjungi dengan rombongan besar. Adalah wajar juga karena ini menyangkut perencanaan pertahanan negara. Jadi tidaklah beralasan kalau rumah tangga disebelah kita itu merasa gelisah dan gerah lalu berupaya membayangi dan menakut-nakuti personel TNI dengan gerakan gerilya atau patroli udara termasuk mengerahkan MBT segala.  Silakan bergerilya Pakcik tapi jangan salahkan kami kalau tiba-tiba saja pasukan anda disergap oleh Kopassus.  Di hutan rimba segala sesuatu bisa terjadi dengen cepat, tepat, senyap karena ini teritori tempur Kopassus yang paling ideal.  Kalau tak percaya silakan coba.

******
Jagvane 03 Mei 2012