Tuesday, October 25, 2011

Tank Amfibi BMP-3F Hantu Laut Yang Menggentarkan

Korps Marinir TNI AL saat ini telah memiliki kendaraan tempur (ranpur) yang berkemampuan teknologi pertempuran masa kini, namanya BMP-3F buatan Rusia.  Jumlahnya untuk pengiriman pertama mencapai 17 unit, resmi masuk jajaran Korps Marinir 11 Desember 2010 yang lalu.  BMP itu sendiri singkatan dalam bahasa Rusia, Boyevaya Mashina Pyekhota, sama dengan definisi Infantry Fighting Vehicle, kendaraan tempur angkut pasukan.  BMP-3F adalah ranpur lapis baja tangguh, mampu bermanuver di dua alam (air dan darat), dan disiapkan untuk pertempuran total football dengan kemampuan manuver menyerang dari laut, punya canon 100mm, punya senjata anti serangan udara, punya rudal anti tank, mampu mengangkut pasukan dan sekaligus mampu mempertahankan diri dari serangan lawan.

Tank Amfibi BMP-3F
Sesuai dengan rencana Kemhan, ranpur jenis BMP-3F ini akan terus ditambah dan pada order tahap kedua telah dilakukan kontrak pengadaan 54 unit tank BMP-3F untuk memenuhi kebutuhan 1 batalyon kavaleri Marinir. Kemhan merencanakan kebutuhan ranpur untuk Marinir sebanyak  95 unit terdiri dari 81 unit BMP-3F, 10 unit BMP-3FK (versi komando), dan 4 unit BREM-L (versi bengkel).  Anggaran pembelian 17 unit ranpur BMP-3F  sebesar US$ 50 juta, pada awalnya senilai dengan 20 unit. Tetapi karena penyusutan nilai akhirnya dengan anggaran sebesar itu Marinir mendapatkan 17 unit BMP-3F. Sangat terbuka kemungkinan penambahan ranpur jenis ini untuk batalyon kavaleri Korps Marinir karena pasukan hantu laut ini terus mengembangkan postur kekuatannya.  Tercatat ada 10 negara yang menggunakan tank BMP-3 selain Rusia yaitu UEA, Venezuela, Kuwait, Korsel, Sri Lanka, Cyprus, Indonesia, Ukraina, Azerbaijan, dan Yunani.
Saat ini Korps Marinir berkekuatan  2 Pasmar (setingkat 2 divisi)  dan 1 brigade cikal bakal divisi 3, memiliki sekitar 450 ranpur berbagai jenis misalnya tank  amfibi PT-76, BTR-50, AMX-10P, BMP-2, BTR-80A, LVT-7, Kapa, Howitzer, Peluncur Roket Multi Laras RM Grad, Rudal Panggul Qw3.  Kehadiran tank amfibi BMP-3F semakin memperkuat taring korps pasukan baret ungu ini. Tank jenis ini merupakan pengembangan dari jenis BMP2/BVP2 yang juga dimiliki Korps Marinir, dirancang untuk adu kuat, adu adrenalin dan uji nyali dalam pertempuran tiga dimensi (darat, air, udara).
Tank ini memiliki akurasi tembakan ke sasaran yang tepat dan survival dalam pertempuran.  Keunggulan ini menjadikan BMP-3F sebagai salah satu ranpur infantri bersenjata berat yang disegani di seluruh dunia.  Beratnya mencapai 18,7 Ton, panjang 7,14 meter, lebar 3,15 meter dan tinggi 3,57m, mampu membawa 7 pasukan marinir dan 3 awak tank.  Dari segi bobot dan kelengkapan persenjataan, BMP-3F menduduki urutan teratas kendaraan tempur kavaleri yang dimiliki Korps Marinir, bahkan menjadi alutsista nomor satu dibanding beragam jenis tank yang dimiliki TNI-AD. Dengan tank Scorpion  milik TNI-AD, BMP-3F jauh lebih unggul dan mematikan.

Tank tempur BMP-3F merupakan generasi penerus dari seri sebelumnya BMP1 dan BMP2.  Keunggulan BMP-3F ada pada kekuatan persenjataan yang dimilikinya termasuk membawa 8 rudal bastion dalam sarang arsenalnya. Punya kemampuan bermanuver pada saat berenang di laut yang bergelombang pada level kondisi sea state 3.  Dalam kondisi berenang dengan kemampuan laju 10 km/jam tank modern ini mampu melakukan penembakan  rudal pada  serangan  pendaratan ke pantai. BMP-3F juga mampu menembakkan peluru kanon sambil bergerak dalam kondisi segala cuaca (siang dan malam).

Keunggulan tank BMP-3F mengaplikasikan sistem persenjataan yang memadukan artileri, rudal, roket dengan sistem kontrol penembakan otomatis, mampu menembak tepat pada saat berenang.   Konstruksi persenjataannya merupakan penggabungan dalam satu kubah tembak (single turet) dimana didalamnya tersedia  meriam, peluncur roket kaliber 100mm, kanon otomatis kaliber 30 mm dan mitraliur kaliber 7,62 mm. Penggabungan ini memberikan kemudahan bagi awak ranpur untuk memilih dengan cepat keperluan penggunaan senjata dalam kondisi bertempur karena dapat memilih sasaran yang diinginkan baik didarat, laut dan udara.  Sistem pengontrol penembakan otomatis ini memberi kesempatan kepada awak tank untuk mempertimbangkan berbagai data kondisi medan tempur lalu dengan itu bisa memutuskan memilih menggunakan arsenal jenis apa yang tersedia, kemudian menembak tepat sasaran dengan satu tombol otomatis.

Tank BMP-3F dirancang memiliki kemampuan amfibi penuh, melaju di permukaan air memakai sistem hidrojet, bukan sistem penggerak rantai roda seperti pada BMP-1 dan BMP-2. Kecepatan berenang maksimal 10 km/jam, daya tahan berenang selama 7 jam. Di jalan raya mampu melaju dengan kecepatan 70 km/jam dan di medan off road mampu berlari dengan kecepatan 40 km/jam. Jarak jelajah mencapai 700 km dan mampu berjalan mundur dengan kecepatan 20 km/jam.

BMP-3F yang dirancang untuk pendaratan amfibi terdapat tambahan snorkel di atas badan belakang dan bilah pemecah ombak di depan badan kendaraan. BMP-3F mampu berenang pada level sea state 3.  Akurasi tembakan sambil berenang masih akurat pada sea state level 2. Sea state adalah indikator kondisi gelombang laut menurut badan meteorologi dunia. Level 2 berarti tinggi gelombang berkisar hingga setengah meter, sedangkan level 3 berarti tinggi gelombang laut berkisar hingga 1,25 meter.

Kubah tank atau turet terbuat dari aluminium paduan berlapis baja yang dilas. Persenjataan yang terpasang di turet ditopang dua stabilizer sistem elektromekanik.  Kubah ini memuat sistem persenjataan berupa meriam kaliber 100 mm, meriam otomatis kaliber 30 mm, 1 unit mitraliur kaliber 7,62 mm, dan 6 peluncur granat asap kaliber 81 mm yang semuanya terpasang secara koaksial pada turet. Dua unit mitraliur kaliber 7,62 mm terdapat di sisi depan samping badan(hull). Pengendalian 2 unit mitraliur di bagian badan depan melalui sistem display fiber optik.

Persenjataan pada turet mempunyai variasi sudut -6 derajat hingga +60 derajat dan bisa berputar 360 derajat. Turet mampu menampung 40 butir amunisi kaliber 100 mm, menampung hingga 500 butir amunisi kaliber 30 mm dan ketersediaan amunisi kaliber 7,62mm hingga 6 ribu butir. Turet BMP-3F memiliki 2 penstabil hentakan tolak balik sehingga memiliki akurasi tembakan yang hampir sama dalam penembakan baik dalam posisi statik, bergerak, ataupun saat berenang. Juga dilengkapi dengan komputer penghitung balistik yang mengkalkulasi data pergerakan relatif kendaraan, kecepatan sasaran, dan kondisi cuaca medan tempur.

Laras meriam BMP-3F juga mampu meluncurkan rudal anti-tank Bastion berpandu  sinar laser.  Rudal ini mampu menghancurkan sasaran kendaraan lapis baja setebal hingga 850 mm dengan jarak tembak efektif 4.000 sampai 5.000m.  Pemandu rudal secara elektronik di dalam tank  terdiri atas teleskop siang/malam yang terintegrasi dengan pemancar laser dan sensor pencari.  Pemandu menstabilkan secara vertikal terhadap garis lurus laras meriam dengan mematikan sistem suspensi meriam guna mencegah pengaruh distorsi.  Sistem ini bisa dipakai untuk menyerang sasaran diam ataupun bergerak bahkan pesawat terbang berkecepatan rendah seperti helikopter. Sasaran tembak sejauh 4000 meter ditempuh dalam waktu 13,5 detik.

Awak tank adalah komandan, sopir, dan juru tembak. Kubah BMP-3F ditempati komandan dan juru tembak, masing-masing terdapat pintu palka. Komunikasi antar awak menggunakan peralatan komunikasi pemancar radio R-173 dan penerima radio R-173P serta intercom R-174. Tank ini dilengkapi dua periskop monokuler  dengan pembesaran sampai 4 kali dan piranti pencari jejak infrared.

Kemampuan manuver gesit ranpur ini didukung oleh kekuatan mesin diesel yang terletak dibagian belakang dengan kekuatan mencapai 500-600 tenaga kuda.  Kompartemen mesin ditutup oleh sekat kedap suara sehingga di ruang kabin tidak terganggu suara mesin. Kabin memiliki ventilator perlindungan Nubika (nuklir, biologi, kima) dengan penyaring FVU dan pendeteksi radiasi kima GO-27. Di kabin tank juga tersedia sensor api dan pemadam kebakaran otomatis. Transmisinya  punya 4 persneling maju dan 1 mundur, sementara untuk urusan knalpot gas buang dapat dimanfaatkan sebagai tabir asap pelindung dengan cara menginjeksikan bahan bakar.  Walaupun beroda rantai namun mengendarai ranpur ini terasa nyaman karena adanya suspensi hidropneumatik independen pada masing-masing 12 roda yang dilapisi rantai.

Semua kelengkapan operasi tempur serang yang dimiliki tank amphibi BMP-3F ini memberi pesan kuat bahwa hantu laut ini benar-benar menggentarkan, kapan saja dan dimana saja siap dioperasikan untuk mempertahankan teritori NKRI.  Bulan Nopember 2011 ini akan dilakukan latihan puncak Armada Jaya di Kalimantan Timur dengan mengerahkan sedikitnya 23 KRI berbagai jenis.  Salah satunya adalah skenario penyerangan dan pendaratan pantai dengan berbagai jenis tank amfibi yang dimiliki Korps Marinir.  Sudah tentu peran serta tank amfibi BMP-3F akan memberikan nilai detterens dan kualitas latihan tempur.  Ini juga bermakna pesan pada jiran manapun untuk tidak bermain api dan melecehkan teritori NKRI.
*****
Jagvane, 25 Oktober 2011

Monday, October 17, 2011

Simbol Teknologi Tinggi Itu Kembali Menggeliat


Industri produk kedirgantaraan kebanggaan bangsa  PT Dirgantara Indonesia (PT DI) saat ini sudah memasuki tahun ke 36, tepatnya tanggal 23 Agustus 1976 ketika masih bernama Nurtanio diresmikan oleh Presiden Soeharto. Langkah sejarah perusahaan strategis ini mengalami fase kebanggaan sekaligus keharuan, ketika titik kebanggaan mencapai kulminasi ditahun 1997 dengan memulai produksi pesawat komersial N250 turboprop berkapasitas 50-70 penumpang dan mengembangkan jet N2130 berkapasitas 100-130 penumpang.  Pada saat yang sama ”ultimatum” IMF pada krisis finansial tahun 1998 memaksa industri kedirgantaraan kita bertekuk lutut pada donatur berwajah kapitalis.  Sekedar catatan pesawat penumpang N250 yang dijuluki Gatot Kaca terbang perdana 10 Agustus 1995 dan tanggal ini dijadikan sebagai Hari Teknologi Nasional.

Pesawat angkut NC295 di Lanud Halim Perdana Kusuma Jkt 
Cerita pendirian Nurtanio diawali dengan kedatangan BJ Habibie bersama 17 insinyur dari Jerman dengan restu Dirut Pertamina dan panggilan pulang Presiden Soeharto   tahun 1975 untuk bekerja di ATP (Advance Technology Pertamina).  Sementara itu di Bandung sudah ada Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio.  Atas restu Pak Harto Habibie diperkenankan membuat industri pesawat terbang berskala internasional, lalu ATP dan Lembagai Industri Penerbangan Nurtanio digabung dan diresmikan 23 Agustus 1976.

Dalam langkah perjalanannya Nurtanio kemudian berganti baju menjadi PT IPTN (Industri Pesawat terbang Nusantara) tahun 1986, kemudian ganti baju lagi menjadi PT DI (Dirgantara Indonesia) tahun 2000.  Pada saat ganti baju yang terakhir itu perseroan ini sedang mengalami goncangan hebat sebagai akibat ultimatum IMF tadi, tidak ada kucuran dana segar dari Pemerintah, lalu tahun 2003 PT DI melakukan PHK masal kepada ribuan karyawannya.  Tercatat waktu itu ada 16 ribu karyawan dikurangi menjadi  hanya 4000 karyawan saja.

Tanggal 4 Oktober 2011 adalah penanda kebangkitan yang cukup signifikan bagi sebuah industri teknologi tinggi PT DI karena sahabat lamanya CASA Spanyol melalui bendera Airbus Military yang dimiliki European Aeronautic Defense and Space (EADS) melakukan ”pernikahan kembali” dengan memproduksi bersama pembuatan pesawat angkut militer NC 295.  Pernikahan pertama adalah kerjasama produksi CN235. Kerjasama dengan Airbus Miltary ini akan memproduksi minimal 9 pesawat angkut militer berkapasitas 71 pasukan atau 49 peterjun payung, diproduksi secara paralel, 6 diantaranya dibuat di pabrik pesawat terbang milik Airbus Military di San Pablo Spanyol, 3 unit lagi diproduksi di Bandung.  Sangat terbuka kemungkinan PT DI memproduksi lebih banyak NC295 untuk pasar Asia Pasifik.

Pesawat NC295 merupakan pengembangan dari CN235, punya kesanggupan membawa beban 9,2 ton sehingga masuk kategori medium military lift, badannya diperpanjang 3 meter sementara sayapnya tetap sama dan diperkuat dengan engine PW127G turboprop buatan Pratt &Withney, kekuatannya satu setengah kali CN235. Data Casa menunjukkan NC295 lebih irit bahan bakar dan perawatan dan sanggup terbang dengan daya jelajah 5.300 km dengan kapasitas bahan bakar 4,5 ton.  Kemhan memesan 9 unit pesawat jenis ini untuk memperkuat skuadron angkut sedang dalam mobilitas rotasi pasukan dan penanggulangan bencana alam.

Pesanan Kemhan ini membuat PT DI menggeliat gairah setelah sebelumnya tanggal 26 Mei 2011 melalui program penyertaan modal negara (PMN) dengan persetujuan Komisi VI DPR, perusahaan ini digelontor dana konversi sebesar Rp 3,8 trilyun untuk memperbaiki posisi neraca keuangan.  Rincian PMN itu adalah 1,42 T untuk konversi utang dan 2,38T untuk penyertaan modal sementara.  Suntikan ini mampu menyegarkan wajah permodalan perseroan dari sebelumnya defisit 707 milyar rupiah menjadi plus 617 milyar.

Bulan Mei 2011 PT DI berhasil melakukan pengiriman pesawat produksinya CN235 jenis angkut militer VIP ke Senegal dengan nilai kontrak US$ 13 juta. Pesawat ini merupakan modifikasi dari CN 235 milik Merpati.   Modifikasi yang dilakukan adalah dengan mengubahnya menjadi tipe pesawat militer, menganti mesin untuk menambah daya angkut dan penambahan sistem auto pilot TCAS.  Ini adalah ekspor pertama sejak tahun 2008 dimana selama itu PT DI tidak mampu melakukan ekspor pesawat produksinya meskipun yang diekspor itu pesawat second yang diperbaharui.

Setelah ekspor ke Senegal, PT DI juga kembali mengirimkan 2 CN235 tipe patroli maritim yang dipesan angkatan laut Korea Selatan.  Korea Selatan memesan 4 unit CN 235 patroli maritim yang dilengkapi dengan alat pendeteksi kapal, migrasi ikan, polusi tumpahan minyak dengan nilai kontrak US$ 94 juta.  Semuanya akan diselesaikan tahun ini.  Khusus dengan Korsel, PT DI ke depan diprediksi akan mendapat tambahan order CN 235 atau NC295 dalam jumlah banyak sehubungan dengan adanya kerjasama pertahanan yang erat antara RI dan Korsel.  RI banyak memesan alutsista dari Korsel antara lain 16 jet latih tempur T50 Golden Eagle, pengadaan 3 kapal selam kelas Changbogo, upgrade 2 kapal selam dan lain-lain.  Selama ini negeri ginseng itu sudah mengunakan 15 unit pesawat CN 235 buatan PT DI untuk keperluan operasi militernya.

PT DI saat ini sedang disibukkan dengan penyelesaian berbagai order alutsista udara untuk TNI, yaitu pembuatan 3 pesawat CN235 patroli maritim untuk TNI AL dan penyelesaian helikopter NAS-332 Super Puma untuk TNI AU.  TNI AU juga memesan 1 unit CN235 MPA untuk skuadron intainya. Tak ketinggalan TNI AD sebagai pelanggan tetap PT DI memesan 8 unit helikopter jenis Bell 412 EP tipe serbu dan 8 unit dari tipe angkut, kemudian helikopter jenis Fennec AS-550  sebanyak 8 unit.  Masih banyak paket-paket alutsista yang diorder oleh TNI misalnya  pembuatan SUT Torpedo tipe 364 MKO untuk kapal selam TNI AL dan paket simulator terjun payung untuk TNI AD.  Dari semua rangkaian order itu diprediksi sampai tahun 2014 PT DI akan mendapat peluang revenue sebesar Rp 9,23 Trilyun, sebuah angka yang mampu memberikan nilai geliat gairah bagi industri kedirgantaraan dalam negeri.

Ini semua tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah bersama DPR dalam program pengadaan alutsista TNI yang menggelontorkan dana 100 Trilyun rupiah dengan opsi tambahan 50 trilyun selama periode 2010-2014, dengan mengggandeng industri strategis pertahanan dalam negeri.  Selain PT DI, PAL dan Pindad juga mendapat order luar biasa dalam pengadaan alutsista TNI.  PAL mendapat order pembuatan puluhan Kapal Cepat Rudal, Kapal Landing Ship Tank, Kapal LPD, integrasi sistem tempur KRI dan kerjasama pembuatan kapal selam dengan Korsel.  Pindad mendapat pesanan ribuan senjata SS2, ribuan roket R-Han, ratusan Panser Anoa, kerjasama produksi Panser Canon Tarantula dengan Korsel  dan Panser Fnss dengan Turki.

Untuk diketahui selama 36 tahun masa kehadirannya PT DI telah memproduksi lebih dari 300 pesawat terbang dan helikopter berbagai jenis seperti NC-212, CN235, NBO105, NBELL 412, NAS332.  Juga mampu memproduksi 60 ribu unit roket dan 160 unit torpedo, 13 ribu unit komponen pesawat terbang F16, Boeing, Airbus.  Sejalan dengan itu PT DI mampu melakukan penguasaan teknologi pabrikasi Casa, Boeing Company, Fokker dan Bell Helicopter termasuk product support, maintenance dan overhaul. Dalam quality assurance sudah diakui oleh General Dynamic dengan persyaratan US Military Specification MIL-1-45208A, Bae, Lockhead, Boeing Company, Daimler Benz Aerospace dan DGAC.

Geliat gairah PT DI sebagai simbol teknologi tinggi yang dimiliki republik ini merupakan momentum kebangkitan kembali industri kerdigantaraan kita.  Apalagi saat ini sudah ada kerjasama pengembangan proyek jet tempur KFX/IFX bersama Korsel dimana  Indonesia mendapat bagian 50 unit jet tempur generasi 4,5 dan PT DI akan menjadi produsen dan pemasar jet tempur dengan kualitas diatas F16 mulai tahun 2020.  Simbol teknologi tinggi bangsa ini kembali bersinar terang memberikan nilai kebanggaan dan harapan pada generasi penerus bangsa.
******
Jagvane,17 Oktober 2011
Catatan
Tulisan ini dipublikasikan di Harian Suara Merdeka Tgl 18 Oktober 2011

Wednesday, October 5, 2011

Catatan Ulang Tahun Pengawal Republik

Ulang tahun pada dasarnya adalah mematri posisi eksistensi ketika cerita perjalanan sampai di batas daur ulang edar manakala bumi lengkap tigaratus enampuluh lima hari enam jam berputar mengelilingi matahari.  Satu tahun namanya dan eksistensi pun kembali ke titik ulang untuk kemudian berjalan lagi, terus, sampai pada sebutan berulang lagi.

Lima oktober dua ribu sebelas pengawal republik memasuki bilangan usia enampuluh enam, sebuah bilangan yang mencerminkan kedewasaan titik eksistensi pada putaran revolusi bumi yang selama itu berkeliling tak jenuh, tak ingkar mengantarkan semua dinamika yang ada didalamnya termasuk sebuah institusi TNI. Ya selama usia itu TNI telah berkembang menjadi menjadi sebuah kebanggaan, martabat, harga diri, keperkasaan dan kesetiaan mengawal Republik Indonesia. 
Pasukan Marinir TNI AL
Ketika pada awalnya dilahirkan, TNI mirip sebagai sosok bayi yang tak punya apa-apa, telanjang.  TNI lahir dalam sejumlah keterbatasan pada saat mana perjuangan untuk menendang penjajah memerlukan energi dan gizi yang bernama arsenal.  Namun senjata utama TNI waktu itu adalah doa dan spirit tempur, semangat luar biasa untuk mengusir penjajah yang tak mengakui adanya pengumuman kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.  Cerita perang kemerdekaan yang penuh haru biru itu, ada agresi militer pertama lalu agresi milter kedua tak jua menghilangkan TNI dari percaturan tempur sebagaimana yang diinginkan Belanda.  Akhirnya negeri kincir angin ini yang letih, kehabisan stamina dan mengakui kedaulatan RI akhir tahun 1949.

Perjalanan kemudian mencatat pergolakan di beberapa daerah yang merasa dianaktirikan oleh Jakarta.  Ada PRRI / Permesta, ada RMS, ada Daud Beureueh, ada DI/TII.  Semua pergolakan itu memberikan catatan bagi TNI, bahwa tidak ada kata kompromi jika ada komponen yang menyatakan memisahkan diri dengan seabreg alasan.  Karena perjanjian bernegara ini sudah jelas, bahwa negara kesatuan ini adalah konsekuensi sejarah dari kebersamaan langkah yang sudah dilas dengan semangat proklamasi.  Pemberontakan itu akhirnya dipadamkan dengan berdirinya TNI di garis depan sebagai tulang punggung pemadam kebakaran.

Membuka era 60an, Trikora berkumandang tepatnya 19 Desember 1961 untuk memperjuangkan Irian Barat yang masih digenggam Belanda.  Trikora adalah momentum perkuatan alutsista TNI yang luar biasa dan pertama.  Berbagai arsenal mematikan didatangkan dari blok Timur.  Kehadiran arsenal-arsenal ini memberikan aura gentar bagi Belanda. Atas nasehat Presiden AS Kennedy, Belanda akhirnya angkat kaki dari Papua. Inilah kekalahan kedua Belanda setelah sebelumnya mengakui kedaulatan Indonesia akhir tahun 1949.  Sekali lagi TNI tampil sebagai bemper perjuangan keutuhan NKRI. Lengkap sudah NKRI dari Sabang sampai Merauke, ibarat sebuah tubuh, lengkap sudah bersama seluruh anggota badan. 

Lima Oktober TNI berulang tahun, dan tahun ini genap sudah usianya menginjak angka enampuluh enam, sebuah usia dewasa yang mengantarkan kesetiaan pengawal republik pada negeri ini.  Pada usia sebaya ini TNI sedang mempersiapkan gelar alutsista menuju minimum essential force. Ya sang hulubalang sedang mengasah pedangnya agar terlihat mengkilap dan tajam.  Mengapa harus diasah agar tajam, karena inilah kekuatan bargaining yang mampu memberikan nilai kesetaraan dalam pola gaul dengan negara lain terutama negara yang senang mengklaim teritori negara lain.  Kekuatan alutsista adalah cermin menuju profesionalitas TNI karena teman sejati  TNI adalah alutsista itu sendiri, namanya saja angkatan bersenjata, ya senjata itulah  yang menjadi kebanggaan dan nilai profesionalitas sosok tentara.

Nah kalau bicara alutsista maka alokasi atau distribusi alutsista menjadi penting bagi sebuah negara bercorak kepulauan ini. Bicara tentang alokasi arsenal dan satuan-satuan tempur pada sebuah peta yang bernama Republik Indonesaia, maka bisa disimpulkan dengan mudah kekuatan arsenal TNI semua angkatan  menumpuk di pulau Jawa.  Kostrad divisi I dan II semua bermukim di Jawa, Pasmar I dan II juga berdomisili di Jawa.  Pangkalan utama TNI AL di Surabaya dan Jakarta.  Skuadron-skuadron tempur dan angkut militer mayoritas ada di pulau Jawa.

Satuan-satuan tempur di dua Kodam di Kalimantan sudah selayaknya mendapatkan alutsista penggebuk berdaya ledak tinggi disertai mobilitas gerak pasukan.  Main Battle Tank (MBT) diperlukan di sebuah pulau yang berbatasan darat dengan negara tetangga, bukan diletakkan di Jakarta.  Selama ini jika ada penambahan alutsista baru untuk TNI AD, Jakarta dan Jawa selalu mendapat prioritas kemudian alutsista yang lama dipindahkan ke satuan tempur daerah di luar Jawa.  Ketika konflik Ambon sempat menyalak minggu kedua September 2011, alutsista yang muncul di jalanan kota Ambon tidak mencerminkan kegagahannya karena memang sudah tua.  Bandingkan misalnya yang tampil Panser Anoa, auranya akan menegaskan kehadiran satuan pengaman yang gagah dan berwibawa.

Tidak perlu harus mengutamakan Jawa.  Misalnya untuk alokasi  satuan batalyon kavaleri dan batalyon infantri mekanis beserta kekuatan arsenalnya kota Ambon, Banda Aceh, Lhok Seumawe, Jayapura, Pontianak, Kupang mestinya mendapatkan priorotas paling utama.  Di Ambon misalnya harus ada batalyon infantri mekanis dengan kekuatan 70-75 panser Anoa atau yang sejenis.  Kehadiran alutsista seperti ini akan memberikan warna kekuatan gahar pengaman republik dari unsur-unsur pengacau dan separatis.  Bisa ditampilkan pada saat parade militer atau melakukan patroli pengamanan wilayah untuk meredam konflik antar warga.  Demikian juga dengan Pontianak sangat memerlukan kekuatan Main Battle Tank.

Kita berharap ada pemerataan penempatkan satuan-satuan tempur TNI segala matra di 5 pulau besar yaitu Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.  Lima pulau besar ini dapat membentuk Kowilhan (Komando Wilayah Pertahanan) yang nantinya  saling memback up satu sama lain.  Kalimantan misalnya sebagai daerah yang beresiko konflik perbatasan paling tinggi minimal harus ada satuan organik dengan kekuatan 2 divisi TNI AD dengan dukungan alutsista berupa 2 batalyon kavaleri MBT, 4 batalyon infantri mekanis, 4 batalyon armed, 2 batalyon rudal / roket dan 15 batalyon infantri.  Kekuatan AD ini didukung dengan gelar kekuatan AU yang menempatkan secara permanen minimal 2 skuadron tempur, 1 skuadron heli tempur dan 1 skuadron UAV.  TNI AL menempatkan sejumlah KRI di Tarakan berikut penempatan batalyon-batalyon marinir di beberapa pangkalan AL yang ada di Kalimantan.

Penataan satuan organik sebagai kekuatan pemukul reaksi cepat di masing-masing 5 pulau besar dan saling mendukung satu sama lain diniscayakan lebih efektif dalam rentang kendali dan kecepatan reaksi.  Misalnya terjadi konflik terbuka di Ambalat, maka satuan organik di Kalimantan dan Sulawesi bisa saling membantu dengan kedekatan jarak jangkau dan jarak tempur.   Termasuk pula dalam operasi militer selain perang sebaran kekuatan pasukan TNI dengan alokasi alutsistanya di 5 pulau besar ini mampu memberikan kecepatan reaksi.

Seremoni ulangtahun yang digelar di Markas Besar TNI Cilangkap Jakarta hari ini memberi kesan sederhana dan tidak memusatkan pameran kekuatan alutsista di ibukota negara.  Hanya ada flypass 6 Sukhoi dan 6 Hawk, parade dan defile tidak ditampilkan.  Berbeda dengan di Surabaya dan Yogyakarta, kesannya lebih meriah dengan dilakukannya parade dan defile menampilkan beragam jenis alutsista TNI yang dimiliki.  Bisa jadi ini menjadi pertanda bahwa sebaran alutsista  akan dialokasikan merata khususnya di lima pulau besar RI. 

Kita berharap suatu saat akan ada gelar upacara HUT TNI yang dipimpin Presiden di daerah perbatasan, misalnya di Kupang dan Pontianak dengan gelar alutsista secara besar-besaran.  Walaupun hanya bersifat seremoni namun gaungnya akan terasa kuat di kalangan rakyat setempat, manakala upacara HUT TNI dipusatkan di provinsi border land.  Ini akan menciptakan ruang rasa pada nuansa kebangsaan dan mampu membangkitkan semangat patriotik. Parade alutsista di kawasan perbatasan darat akan memberikan pesan jelas kepada negara tetangga adanya kehadiran TNI yang kuat di ruang perbatasan itu. Kita membayangkan ada parade dan defile satuan organik pasukan pemukul reaksi cepat di Kalimantan Barat atau NTT, ada unjuk kekuatan alutsista berupa MBT, Panser, Artileri, Rudal, Roket, Jet Tempur, KRI dan alutsista lainnya.  Semoga horizon membayangkan itu suatu saat bisa menjadi kenyataan yang membanggakan.  Dirgahayu TNI.

Jagvane / 05 Oktober 2011

Tuesday, September 27, 2011

Sisi Humanisme Pengawal Republik

Ayo foto dulu rame-rame, Ibunya juga kepengen tuh !
Kegagahan Kowad, kelembutan seorang Ibu
Kebersamaan, kehangatan dan keceriaan
Selamat berjuang Bapakku
Sama-sama berjuang
Sapa yang hangat dari seorang prajurit
Cantik, tersenyum tapi jangan coba-coba ganggu
Sebuah perlindungan dan rasa kasih sayang, silakan jalan duluan, Nak





Monday, September 26, 2011

Dilema Pengadaan Jet Tempur F16

Khalayak ramai sejatinya sudah sangat berharap kedatangan jet tempur paling favorit di dunia saat ini, Fighting Falcon F16.  Yang diharap tentu saja yang ramai dibicarakan yaitu hibah 30 F16 blok 25 second yang akan diupgrade menjadi blok 32.  TNI AU sebagai user sudah  pun mempersiapkan pangkalan baru bagi home base jet tempur ini sekalian mempersiapkan pilot-pilotnya untuk mengawaki  elang petempur itu. Kalau barangnya jadi datang, ini merupakan paket pembelian terbesar dalam pengadaan jet tempur TNI AU selama 3 dekade.

Jet Tempur F16 TNI AU 
Namun ketika semua tahapan dilalui mulai dari kesediaan Pemerintah AS menawarkan program hibah F16 kepada Indonesia dengan kunjungan Presiden Obama 9 Nop 2009, kemudian ada kunjungan Komisi I DPR ke AS untuk lihat barang yang akan dihibahkan itu, kemudian dilakukan lobby-lobby intensif diantara kedua negara dan juga parlemennya, lalu Kongres AS menyetujuinya medio Agustus 2011, tiba-tiba dalam dua kali rapat antara Pemerintah dan DPR Senin (19/09) dan Rabu (21/9), perbedaan pandangan diantara keduanya menajam.  Lalu berita mengejutkan datang hari Sabtu (24/9) Kemenhan dengan persetujuan Komisi I telah memutuskan membeli 6 jet tempur gress F16 blok 52 dengan anggaran US$ 430 juta.  Terus untuk yang 30 F16 second bagaimana dong.

Kita melihat cerita perjalanan proses pengadaan jet tempur F16 second ini sebagai sebuah antiklimaks. Lihat saja proses awalnya, disiapkan anggaran untuk pembelian 6 jet tempur baru F16 blok 52 tahun 2010, lalu ada tawaran dari Pemerintah AS untuk menghibahkan 30 F16 blok 25 kepada Indonesia, hal yang sama dilakukan Pemerintah AS kepada Thailand dengan menghibahkan puluhah F16 secondnya untuk kemudian di upgrade.  TNI AU lebih memilih hibah 30 F16 dengan pertimbangan luas wilayah coverage udara RI yang harus diawasi dengan patroli udara.  Lagi pula dengan upgrade ke blok 32,  jet tempur F16 dinilai sangat layak  mengawal teritori udara RI.  Sekadar catatan 10 F16 yang dimiliki TNI AU saat in adalah dari blok 15 OCU yang kemampuannya jauh dibawah blok 32.

Ketidaksepahaman antara DPR dengan Kemenhan tentang hibah ini menurut pandangan kita adalah sebuah kemunduran dari sebuah langkah yang sudah diamini keduabelah pihak pada awalnya.  Menjadi ironi ketika semua tahapan krusial seperti persetujuan Kongres AS sudah dilalui tetapi tiba-tiba berselisih sendiri oleh sebab-sebab teknis  yang mestinya bisa didiskusikan dengan sikap jernih dan transparan.  Kalau kalangan komisi I DPR beranggapan bahwa dengan 6 jet tempur anyar dari F16 blok 52 bisa memberikan efek gentar, tidak jua bisa disebut demikian.  Apa yang bisa dilakukan dengan 6 biji jet tempur itu untuk mengawal wilayah udara RI yang seluas Eropa itu, apalagi jika membandingkan dengan kekuatan 60 F16 blok 52 yang dimiliki Singapura.  Jika sudut pandang itu yang dipakai maka mestinya dibeli saja sebanyak minimal 1 skuadron (16 unit) F16 blok 52.

Pilihan TNI AU pada opsi hibah 30 F16 second karena sejatinya TNI AU tahu diri dengan keterbatasan anggaran.  Kalau minta duit sebesar US $ 1,4 Milyar untuk beli 16 jet tempur gress F16 blok 52 jelas berat diongkos, begitu pertimbangannya, maka untuk sementara cukuplah kuota anggarannya berkisar US$ 450 juta.  Ya karena TNI AU juga masih harus mendatangkan Super Tucano, Golden Eagle dan Sukhoi untuk melengkapi skuadronnya yang grounded karena ketuaan pesawat.  TNI AU sebagai user sudah sangat familiar dengan F16 bahkan sudah memiliki simulator di pangkalan Iswahyudi.  Kuantitas F16 diperlukan dalam jumlah banyak mengingat dinamika kondisi kawasan, konflik perbatasan, sehingga kehadiran armada F16 dalam jumlah yang memadai diperlukan untuk mengawal kewibawaan teritori udara kita.  Ongkos terbang F16 juga jauh lebih murah dibanding Sukhoi karena Sukhoi memang dipersiapkan untuk pertarungan berat dan panjang sesuai jarak jelajahnya dan kemampuan manuvernya.  Nah dalam kondisi damai namun tetap waspada seperti sekarang ini yang perlu tampil dalam patroli udara sangat pantas dibebankan pada F16.

Dalam bingkai yang sama kita juga berharap pada  Kemenhan dan TNI agar ketika sudah memilih opsi pengadaan 30 F16 second itu mestinya diperjelas tentang penggunaan anggaran yang sesungguhnya dan jadwal kedatangan bertahap F16 second itu.  Soalnya beberapa statemen yang disampaikan ke publik  berbeda satu sama lain, ada yang bilang sebelum April 2012 menjelang hari bhakti TNI AU minimal sudah datang 4 unit tapi ada juga yang katakan baru datang tahun 2014 sebanyak 4 unit sebagaimana yang dikritisi oleh anggota Komisi I DPR Fayakhun Andriadi.  Kalau beli second saja durasi kedatangannya baru tahun 2014 mending beli baru saja.  Bukankah pilihan beli yang second itu juga berkaitan dengan waktu kedatangannya yang lebih cepat, begitu gambaran politisi muda Partai Golkar ini.

Dalam konteks ini kita ingin menggarisbawahi bahwa sesungguhnya mayoritas rakyat Indonesia sangat menginginkan perkuatan TNI di segala matra.  Sudah saatnya kita mempunyai alutsista yang setara dengan yang dipunyai negara sekeliling kita.  Ini tentu sebuah kado yang menggembirakan bagi Kemenhan dan TNI untuk mempergunakan uang rakyatnya bagi pengadaan alutsista yang modern.  Sudah ada kesamaan sikap antara DPR dan Pemerintah mengucurkan dana alutsista sebesar 100 trilyun rupiah dengan opsi tambahan 50 trilyun lagi untuk masa 2010-2014.  Bukankah ini momentum yang membahagiakan karena selama ini kita miris dengan gelar alutsista TNI, jauh dari kesan gagah perkasa malah cenderung menjadi gagah gemulai karena kualitas arsenalnya  jadi bahan tertawaan.

Oleh sebab itu kita berharap pengadaan 30 F16 second itu tidak berhenti begitu saja.  TNI AU sebagai user tentu yang paling tahu dengan kondisi F16 second itu karena pengawal dirgantara ini sudah sangat paham dengan anatomi F16 segala blok. Kita meyakini bahwa pilihan F16 second itu dilakukan TNI AU sebagai jembatan ketersediaan armada jet menjelang kehadiran jet tempur KFX tahun 2020 karena F16 second ini masih dapat digunakan sampai 12 tahun ke depan.  Meskipun begitu Kemenhan dan TNI diharapkan lebih membuka diri  pada mitra legislatifnya DPR tentang kajian teknis, teknologi, pola bayar up grade, jangka waktu kedatangan, keterlibatan industri hankam dalam negeri PT DI.  DPR sebagai wakil rakyat negeri ini tentu membawa misi mempertangungjawabkan penggunaan anggaran yang besar itu.  Argumen-argumen yang disampaikan oleh Komisi I DPR setidaknya membuka mata kita bahwa masih diperlukan ruang komunikasi untuk bisa mempersamakan persepsi.  Kita hargai posisi argumentasi Komisi I DPR sembari ingin menyampaikan pesan: Sebagai rakyat kita sangat menginginkan 30 F16 second itu, syukur-syukur dapat dua sekaligus, 6 jet tempur gress F16 blok 52  beserta 30 F16 blok 32 upgrade.  Siapa tahu kan ?
*******
Jagvane / 26 Sept 2011

Friday, September 16, 2011

Gelisahkah Singapura ?

Wakil Perdana Menteri Singapura Theo Chee Hean berkunjung ke Jakarta 14 September 2011 termasuk  melakukan kunjungan kehormatan lima belas menit ke Kementerian Pertahanan.  Pertanyaannya tentu, untuk apa ke Kemhan karena tamu negara yang berdatangan sepekan terakhir ini biasanya diterima Presiden, seperti kunjungan Perdana Menteri Thaliand Yinluck Sinawatra atau Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung yang datang berurutan.  Walaupun singkat tetapi sepertinya ada salam kulonuwun Wakil PM Singapura kepada Kemhan sebagai bahasa diplomasi dari sebuah tema : ada maunya.
Daerah Latihan Tempur Singapura dalam DCA yang gagal
Pada saat yang bersamaan sedang disiapkan latihan gabungan angkatan udara kedua negara di provinsi Riau dengan melibatkan berbagai jenis jet tempur.  RSAF mendatangkan 1 fight jet tempur F16 dan 1 flight F5E, sedangkan TNI AU menyertakan 1 fight jet tempur Hawk200, 1 flight F5E dan 1 flight F16.  Angkatan laut kedua negara sudah lebih dahulu melakukan patroli laut terkoordinasi selama berminggu-minggu yang melibatkan kapal perang kedua negara.  TNI AL mengerahkan 4 KRI dari armada barat.

Singapura dan Indonesia pernah menandatangani perjanjian kerjasama pertahanan (Defence Cooperation Agreement / DCA). Seremoni  DCA  ditandatangani pada 27 April 2007 oleh Menhan kedua negara disaksikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong.  Tetapi yang terjadi kemudian adalah sepakat untuk tidak sepakat karena berbagai kontroversi seperti ekstradisi koruptor dan area latihan Bravo di Natuna untuk media latihan militer Singapura.

Ada pertanyaan yang mengemuka, apakah makna sebuah kunjungan silaturahim ke sebuah Kementerian yang mengurusi kedaulatan dan pertahanan bangsa.  Sepertinya ada sesuatu yang menyiratkan bahwa Singapura sedang hendak mengambil hati petinggi Kemhan, hendak berdialog lagi dalam berbagai dimensi.  Memang Menhan secara lugas menjelaskan sebelum pertemuan dengan delegasi wakil PM Singapura itu bahwa tidak ada lagi pembahasan kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Singapura.

Tetapi namanya juga bahasa diplomasi setiap saat kan bisa berubah tergantung situasi.  Bisa jadi pernyataan Menhan itu sebagai bentuk kuatnya bargaining Indonesia untuk melakukan runding ulang atau pembicaraan berjenis kelamin apapun dengan Singapura.  RI tak mau lagi didikte oleh Singapura yang sengaja menyatukan perjanjian ekstradisi dengan perjanjian pertahanan beberapa tahun lalu.   Makanya pernyataan lugas Menhan Purnomo itu patut kita acungi jempol, sebuah ketegasan sikap yang diperdengarkan, kita tak butuh lagi pembahasan perjanjian kerjasama pertahanan dengan Singapura.

Bersamaan dengan berlalunya waktu sejak gagalnya DCA 2007, Indonesia mulai melakukan peremajaan alutsista secara besar-besaran.  Alutsista segala matra diperkuat, diperbanyak, dan disebar ke satuan-satuan tempur TNI.  Industri hankam dalam negeri dipeluk hangat dan diberi kepercayaan untuk memenuhi sebagian alutsista TNI.  Misalnya Pindad dengan Panser Anoa, PAL dengan LPD, LST, Kapal Cepat Rudal dan Perusak Kawal Rudal, lalu PT DI dengan CN235 MPA dan Helikopter.  Dari negara mitra luar negeri banyak dibeli berbagai jenis alutsista pemukul, baik melalui beli murni maupun dengan beli melalui transfer teknologi.

Catatan kita adalah, memang akhirnya makin terbukti bahwa perkuatan alutsista TNI adalah peta jalan untuk memberikan nilai kesetaraan dalam hubungan bilateral, multilateral terutama terkait dengan dinamika bertetangga.   Sekedar membandingkan, sekuat apapun Singapura, tak akan mampu menandingi keperkasaan Indonesia terutama terkait dengan populasi, sumber daya alam, kekuatan daya beli, stamina bernegara dan berbangsa, demografi dan kekuatan pasar.  Jangan main-main dengan 240 juta rakyat Indonesia karena kekuatan populasi sebesar itu merupakan kekuatan potensi bagi dinamika Singapura. Potensi itu dalam hubungan bilateral yang baik bisa menjadi penyumbang pariwisata terbesar bagi Singapura, kekuatan pasar bagi produk Singapura. Dalam dinamika yang lain bisa jadi kekuatan yang membahayakan Singapura.

Saat ini Singapura unggul dalam kekuatan militer karena didukung oleh perolehan arsenal yang mematikan dan berteknologi tinggi.  Keinginan untuk unggul di sektor ini tak lain disebabkan untuk memberikan nilai kepastian dalam eksistensi bernegara karena tetangga disebelahnya merupakan tetangga yang besar (Malaysia) dan sangat besar (Indonesia).  Kecemasan pada kepastian kelanjutan mempertahankan eksistensi bernegara ini membuat negeri pulau itu memperkuat pertahanan, memberlakukan wajib militer bagi semua warga negaranya yang sudah cukup umur.

Ketika saat ini Indonesia sedang giat-giatnya memperkuat alutsista untuk pengawal republik tentu Singapura merasa bahwa keunggulan militernya mulai tersaingi. Padahal ini satu-satunya keunggulan dia ketika suatu saat harus berhadapan pada posisi hubungan yang memburuk dengan salah satu dari kedua jirannya.  Ini tentu sebuah kegelisahan yang terasa ada terkatakan tidak.  Okelah saat ini di tahun 2011, Singapura masih tetap unggul jauh dalam kualitas dan kuantitas arsenal namun kacamata militer horizon mereka menangkap bahwa horizon 2014 itu tidak lama lagi dan pada saat itu kekuatan militer Indonesia yang baru menyandang MEF (Minimum Essential Force) sudah setara dengan kekuatan milter mereka, bahkan kekuatan armada laut Indonesia di mata mereka sudah melebihi kegelisahan itu sendiri.

Kegelisahan itu boleh jadi yang mengiringi langkah seorang wakil PM dan delegasinya berkunjung ke Kemhan, sebuah pintu masuk untuk melakukan dialog, pembicaraan, perundingan dan atau apapun untuk satu maksud, mempererat yang sudah erat, mengikat yang belum terikat, membungkus yang masih belum terbungkus.  Kita menghargai sebuah niat baik, mempererat hubungan antara dua negara bertetangga, saling berkunjung, saling menghormati.  Semua itu untuk nilai kesetaraan dalam hubungan bernegara.  Semoga Singapura mampu melihat perspektif itu.
******
Jagvane / 16 Sep 2011


Sunday, September 11, 2011

Korina: Begitu Dekat Begitu Nyata

Sepanjang minggu kedua September 2011 ini hampir semua media di Indonesia menempatkan berita gembira tentang kabar belanja alutsista TNI.  Ada sidang kabinet terbatas tanggal 7 September 2011 yang dihadiri Presiden, Wapres, Menko Polhukam, Menkeu, Menhan, Panglima TNI dan Kapolri khusus membahas dana alutsista dan progress pengadaannya sampai dengan tahun 2014.  Presiden yang tahu persis tentang seluk beluk pengadaan alutsista termasuk potensi korupsinya (karena dia seorang jendral purnawirawan TNI) memberi arahan secara lugas, rinci dan sistematis bahwa pengadaan alutsista TNI harus tepat waktu, tepat sasaran dan tepat anggaran.

2 dari  4 LPD hasil kerjasama produksi Korina

Senada dengan itu Menteri Keuangan memperjelas kembali bahwa sampai dengan tahun 2014 telah disediakan anggaran Rp 100 Trilyun untuk pengadaan alutsista.  Yang sedang disiasati saat ini adalah penambahan Rp 50 Trilyun lagi agar target anggaran yang telah disepakati antara Pemerintah dan DPR sebesar Rp. 150 Trilyun bisa tercapai.  Menteri Keuangan sangat berharap agar penyerapan belanja alutsista tepat waktu karena yang terjadi selama ini proses pengadaannya yang bertele-tele sehingga tahun anggaran terlewati begitu saja.

Kalau mau dirunut ini adalah puncak rangkaian gelar statemen yang dilakukan oleh para petinggi TNI dan Kemhan.  Sebelumnya di Wates 1 September 2011 KSAU Marsekal Imam Sufaat mempertegas bahwa proses pengadaan alutsista TNI AU akan dipercepat sehingga tahun 2014 pengawal dirgantara ini sudah memiliki kekuatan alutsista yang kuat bersamaan dengan berakhirnyaa era SBY.  Kemudian KASAL Laksamana TNI Soeparno dalam sertijab Panglima Armada Timur tgl 06 September 2011 di Surabaya menyatakan alutsista TNI AL tahun 2014 akan sesuai dengan target MEF (Minimum Essential Force).

Harus diakui inilah proyek pengadaan alutsista terbesar setelah era Dwikora dimana dalam kurun waktu 5 tahun (2010-2014) dilakukan penambahan alutsista TNI secara besar-besaran.  Kita tak perlu lagi membahas apa-apa yang dibeli dari luar negeri, dikerjasamakan atau diadakan sendiri oleh industri pertahanan dalam negeri.  Yang ingin kita kedepankan adalah pola kerjasama alih teknologi alutsista dengan Korea Selatan sebagai negara mitra kerjasama yang mendulang berkah karena tak pelit ilmu sehingga dia juga ketiban rezeki devisa dollar.  Korea Selatan memang sudah memiliki industri alutsista berskala dunia akreditasi A sejak 10 tahun terakhir ini yang semuanya diawali dengan pola kerjasama alih teknologi dengan negara-negara utama penghasil industri alutsista seperti AS, Jerman, Israel, Perancis.  Walaupun terhitung baru dalam perjalanan industri alutsistanya dibanding “mbahnya” tadi, negeri ginseng ini tak pelit ilmu dan mau berbagi jurus dengan Indonesia, misalnya yang sudah terbukti kerjasama pembuatan 4 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) untuk TNI AL.

Saat ini berbagai jenis alusista buatan Korsel yang sudah bermukim di Indonesia selain LPD adalah pesawat latih KT-1 Wongbee, Rantis Barracuda untuk Brimob, Senapan mesin K3, Ranpur amphibi LVT-7, Radio Panggul VHF dan FM PRC 999KE/C, Submachinegun Daewoo K7, Truk angkut pasukan sekelas reo, Jip KIA dan upgrade KRI Cakra.  Yang sedang dinantikan kedatangannya adalah upgrade KRI Nanggala selesai akhir tahun ini, jet latih tempur T-50 golden eagle, panser canon Anoa Tarantula, tank IFV K-21.  Yang sedang dirisetkembangkan bersama adalah jet tempur generasi 4.5 KFX.  Dari pola produksi bersama ini nantinya Indonesia akan mendapatkan 50 unit jet tempur  dengan kemampuan tempur melebihi kualitas F16.

Dan, puncak dari semua kerjasama alutsista itu adalah dinantikannya proyek prestisius pembuatan 3 kapal selam dalam waktu dekat ini.  Kunjungan Menhan Korsel ke Jakarta 8 September lalu menyiratkan upaya kuat negeri itu memenangkan pertarungan tender melawan Turki.  Nah kalau mau didolarkan nilai kerjasama proyek alutsista RI termasuk dengan pola berbagi ilmu tadi Korsel setidaknya akan mendulang  US$ 3,8 milyar.  Rinciannya US$ 2 milyar untuk proyek jet tempur KFX, US$ 1,2 milyar untuk proyek kapal selam, US$ 400 juta untuk proyek jet latih tempur T-50, sisanya proyek tank IFV K21, proyek panser anoa tarantula dan upgrade kapal selam KRI Nanggala.

Kedekatan hubungan Korina (Korea_Indonesia) tidak hanya belaku pada sektor alutsista. Barang-barang produk Korsel mulai dari otomotif sampai dengan gadget sudah begitu kita kenal dan pergunakan.  Kedekatan lain yang mampu mengikat kedekatan emosional adalah hadirnya beragam jenis sinetron Korea di layar kaca TV kita.  Sinetron dari negeri ginseng ini saat ini begitu melekat dimata pemirsa.  Hebohnya lagi ada satu stasiun TV nasional Indosiar yang menayangkan beragam jenis sinetron Korsel dari pagi sampai sore, mestinya namanya ditukar saja dari Indosiar menadi Indorea.  Tak ketinggalan jua  kiblat model dan gaya group penyanyi kita ya prianya ya wanitanya mengikuti banget gaya artis Korsel.  Ini adalah sebuah fenomena yang jarang terjadi, ada kerjasama militer yang begitu dekat, ada kerjasama ekonomi yang sudah akrab, ada pula ”kerjasama” kedekatan emosional dalam dunia hiburan.  Siapa yang tak kenal dengan nama-nama artis Korea yang setiap hari berkunjung via media TV untuk kemudian pemirsa kita terbawa dalam dinamika emosi jalan cerita sinetron.

Suka tidak suka itulah yang terjadi saat ini.  Budaya Korsel memang banyak persamaan dengan Indonesia, menghargai tata krama, tidak arogan, hubungan antar negara dan rakyatnya dibangun dalam konsep kesetaraan. Tenaga kerja Indonesia banyak yang bekerja di Korsel dengan perjanjian kerja yang menghargai konsep kemitraan.  Kedekatan hubungan dengan Korsel itu malah melebihi kedekatan hubungan kita dengan negara serumpun Malaysia. Jadi tak salah kalau kita menyebut kedekatan dan kemesraan hubungan Korina ini seperti motto iklan sebuah perusahaan telekomunikasi : begitu dekat, begitu nyata.  Atau, walau jauh di mata namun dekat di hati.
*****
Jagvane / 11 Sep 2011

Monday, September 5, 2011

Benarkah 6 Sukhoi Su27/30 Datang Akhir Tahun Ini

Air Fueling 2 Sukhoi milik TNI AU
Ini perlu djadikan judul tema kita kali ini sebab yang ingin dipertegas adalah apakah kontrak pengadaan 6 jet tempur Sukhoi yang ditandatangani akhir tahun ini atau memang 6 jet tempur Sukhoi itu akan tiba akhir tahun ini.  Sepengetahuan kita memang  telah ada kontrak pengadaan arsenal Sukhoi akhir tahun lalu untuk mempersenjatai 6 Sukhoi yang datang tahun itu tetapi untuk pengadaan 6 Sukhoi tidak pernah direlease di media sehingga timbul berbagai dugaan apakah tahun ini kontraknya yang di sign atau pesawatnya yang akan tiba.

Ini menarik karena tanggal 3 September 2011 yang lalu Dirjen Rencana Pertahanan Kemhan Marsekal Muda Bonggas S. Silaen mempublikasikan berita bahwa 6 jet tempur Sukhoi Su27/30 segera datang akhir tahun ini yang sudah dilengkapi dengan persenjataan dan avioniknya.  Biasanya proses dan kontrak pengadaan alutsista strategis selalu dikumandangkan dengan transparan misalnya proses pengadaan 16 pesawat Super Tucano dari Brazil dan 16 pesawat T-50 Golden Eagle dari Korsel.  Juga proses pengadaan hibah 24 F16 dari AS yang kemudian belakangan berkembang bahwa jumlah hibahnya menjadi 30 unit termasuk upgradenya menjadi blok 52.

Demikian juga dengan alutsista jenis lain seperti pengadaan batch 2 tank amphibi BMP3F dari Rusia sebanyak 56 unit, pengadaan kapal cepat rudal, kapal trimaran, kapal LST, LPD oleh industri alutsista dalam negeri, instalasi rudal yakhont dan C802 jelas proses dan waktu penampakannya.  Begitupun ada juga yang tak terpantau penampakan prosesnya tahu-tahu sudah datang di gerbang pangkalan TNI, menjadi kenyataan yang menyenangkan.  Misalnya kedatangan 3 heli serbu jenis Mi35 dari Rusia dan yang terakhir kedatangan 6 Heli angkut kapasitas besar jenis Mi17 juga dari Rusia tahu-tahu sudah sampai di Pondok Cabe.

Kalaupun memang yang datang itu wujud pesawatnya akhir tahun ini patut kita sambut gembira karena itu berarti dalam waktu yang singkat pengadaan batch 3 jet tempur Sukhoi sejumlah 6 unit dapat terealisir cepat.  Meskipun begitu jika yang terjadi kemudian adalah sign pengadaan 6 Sukhoi (bukan kedatangan barangnya) kita juga tak perlu sewot karena filosofi dari setiap statemen petinggi kemhan dan petinggi TNI tidak harus ditelan bulat-bulat.  Ingat statemen Menhan Purnomo beberapa waktu lalu yang sempat membuat jiran sebelah tak tidur nyenyak.  Menhan bilang bahwa TNI AU akan diperkuat dengan 180 Sukhoi untuk melengkapi 10 Skuadron tempur yang masing-masing terdiri dari 18 jet tempur. Berita ini menjadi headline news di media regional, running tex TV3 Malaysia sempat menayangkan pemberitaan itu yang tentu saja menghebohkan forum militer negeri itu.

Kondisi terkini sampai tahun 2014 yang memungkinkan kita memiliki 10 skuadron tempur itu bisa dipilah dengan kehadiran 2 Skuadron Sukhoi (32 unit), 3 Skuadron F16 (40 unit), 1 skuadron T-50 (16 unit), 1 skuadron Super Tucano (16 unit), 1 skuadron F5E (12 unit) dan 2 skuadron Hawk 100/200 (36 unit).  Ini yang paling realistis.  Nah setelah tahun 2014 bisa saja F5E diganti dengan keluarga Sukhoi terbaru atau penambahan skuadron tempur baru sampai mencapai 15-18 skuadron untuk menampung kedatangan minimal 50 jet tempur KFX produksi bersama Indonesia-Korea tahun 2018 serta jet tempur jenis lain.  Bukankah TNI AU juga berminat dengan jet tempur Typhoon atau bahkan jet tempur F35 sebagaimana disampaikan oleh KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat di beberapa media baru-baru ini.

Sejatinya memang tak perlu secara lugas dipublikasikan dan dipertontonkan pengadaan alutsista TNI terutama yang berkaitan dengan jumlah dan spesifikasi teknis termasuk jenis persenjataan berkualifikasi strategis.  Ini bagian dari aura rahasia dan strategi militer yang perlu dijaga auratnya, transparan oke tapi jangan telanjang dong.  Makanya pernyataan Dirjen Ranahan Kemhan tentang  pengadaan 6 Sukhoi itu harus dilihat dalam konteks perspektif dan prediksi.  Artinya kita pasti akan menambah 6 Sukhoi untuk melengkapi jet tempur Sukhoi yang berjumlah 10 unit saat ini menjadi 1 skuadron (16 unit). Tentang kapan datangnya atau kapan kontraknya biarlah waktu nanti yang akan menjawabnya.  Yang terpenting dari semua ini kita menyambut hangat setiap kedatangan alutsista baru TNI yang dalam bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang dipastikan akan panen raya alutsista.  TNI telah ”berbuka puasa”, kita ucapkan selamat menikmati menu alutsista baru.
*******
Jagvane / 05 September 2011

Wednesday, August 24, 2011

MAU DIBAWA KEMANA PERTAHANAN NEGARA ASEAN ?

Peta Konflik Laut Cina Selatan
Semangat ASEAN ketika asosiasi pertemanan pertetanggaan ini dilahirkan tahun 1967 adalah menginginkan kerjasama ekonomi diantara sesama jiran sekaligus ingin menghapus aura permusuhan 4 negara diantara kumpulan 5 negara (pada waktu itu) Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina. Sementara Thailand menjadi basis deklarasi ASEAN karena peran mediasi dan fasilitasinya.  Akhirnya Bangkok menjadi tempat kelahirannya.

Sekarang anggotanya menjadi 10 negara dengan tambahan Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar dan Brunei Darussalam.  Sementara Timor Leste diperkirakan akan segera bergabung dengan ASEAN tahun 2012.  Selama perjalanan 3 dekade kerjasama ekonomi itu, sampai tahun 1997 ketika reformasi dan demokratisasi di Indonesia dimulai, iklim pertetanggaan diantara negera ASEAN sejuk-sejuk saja.  Kalaupun ada riak selalu diselesaikan dengan semangat kebersamaan dan kesetaraan.  Itu karena ada peran kepemimpinan dari sosok Presiden  RI kedua Soeharto yang mampu mengawal kedekatan dan keakraban ASEAN bersama pemimpin ASEAN yang lain.

Ketika reformasi bergulir tahun 1998 peran kepemimpinan Indonesia di mata anggota ASEAN lainnya memudar. Ketika sedang mengalami rubuhnya pertahanan ekonomi di tahun itu dan sesudahnya, kita bertarung dengan kesulitan ekonomi dan sekaligus bertarung di ruang politik yang sangat liberal.  Tak sempat mikirin tetangga, wong omahe dewe ribut memperebutkan nasi, kursi dan posisi, serba amburadul.  Dampak krisis ekonomi itu membuat kondisi pertahanan TNI menurun drastis, alutsista yang beroperasi alakadarnya.

Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba perseteruan memperebutkan Sipadan dan Ligitan muncul ke permukaan dan akhirnya dengan melalui persetujuan Mahkamah Internasional Sipadan dan Ligitan lepas dari RI sejak tanggal 17 Desember 2002.  Merasa diatas angin jiran sebelah itu semakin provokatif dan kemudian kembali mengklaim kawasan Ambalat yang berada di selatan Sipadan dan Ligitan sebagai teritorinya, lalu mengerahkan sejumlah kapal perangnya untuk show of force.  Ini yang membuat TNI marah besar lalu mengerahkan sejumlah KRI dan batalyon marinir ke kawasan itu. Sejak saat itu TNI berkesimpulan bahwa Malaysia tidak lagi mengedepankan cara bertetangga yang baik, dan ini harus disikapi dengan cara pandang militer, anda jua kami beli.  Maka bisa kita saksikan warna lukisan pertahanan kita sampai saat ini, Tarakan menjadi basis militer segala matra, Sebatik diperkuat dengan pasukan marinir dan radar pantai.  Berau jadi pangkalan heli tempur, Sangatta jadi pangkalan militer berskala besar, Kalimantan diperkuat 2 Kodam, pengadaan alutsista besar-besaran dimulai dan sudah menampakkan hasilnya, industri hankam dalam negeri diberdayakan.

Dinamika kondisi kawasan kemudian berubah karena Cina mulai melakukan provokasi dengan armada angkatan lautnya di Laut Cina Selatan.  Vietnam dan Filipina berteriak lantang.  Malaysia pasang kuda-kuda, armada ke tujuh AS mondar-mandir di LCS.  Ini menunjukkan bahwa pusat konflik masa depan ada di seputar LCS. Cina akan tetap pada klaimnya dan berusaha untuk mendapatkan kawasan yang kaya akan sumber daya alam tak terbarukan itu dengan cara apapun.  Cina juga sedang membangun kekuatan milternya (AU dan AL) untuk menjadikannya sebagai kekuatan regional yang disegani, tahun 2020 targetnya.

Menyikapi kondisi seperti ini ada pemikiran di sebagian kalangan negara anggota ASEAN untuk menghadapi klaim teritori dan kekuatan militer Cina yang  tangguh itu dengan cara mempersekutukan kekuatan pertahanan negara-negara ASEAN menjadi sebuah aliansi atau pakta pertahanan. Wacana ini perlu dikedepankan karena konflik LCS berpotensi menyulut tarung militer yang melibatkan negara besar dan berpengaruh.  Itu sama dengan membiarkan halaman rumah kita terbakar oleh amuk emosi amunisi berbaju militer.  Itu sebabnya perlu penangkal cegah dengan mempersekutukan kekuatan militer negara anggota ASEAN, misalnya.

Arah pertahanan ASEAN bisa ditumbuhkan menjadi Pakta Pertahanan jika mampu dihilangkan rasa saling curiga diantara negara ASEAN. Misalnya Indonesia dengan Malaysia, Singapura dengan Malaysia, Thailand dengan Kamboja.  Persyaratan lain yang mesti dijelaskan adalah pembubaran FPDA yang dibentuk untuk mengimbangi kekuatan militer Indonesia pada era Dwikora.  Kalau memang Pakta Pertahanan ASEAN merupakan sebuah kebutuhan untuk menangkal kekuatan militer Cina yang semakin mengkhawatirkan dan mengklaim Laut Cina Selatan, atau untuk menjaga kestabilan wilayah regional ini, mestinya tidak ada sebuah negara anggotanya yang bermuka dua, pura-pura bergabung dengan pakta ini tetapi bathinnya belum menerima karena merasa masih terancam kedaulatannya oleh jirannya sendiri atau mengklaim teritori jirannya.

Indonesia, Singapura, Myanmar, Kamboja, Laos tidak punya konflik teritori dengan Cina.  Sementara  Vietnam, Malaysia, Filipina, Thailand dan Brunai ada saling tumpang tindih dengan “lidah naga”.  Vietnam sejak lama punya sejarah konflik perbatasan dengan Cina, rakyatnya juga anti Cina, Vietnam dekat dengan Rusia sementara Kamboja dan Myanmar adalah sekutu dekat Cina.  Militer Vietnam dan Kamboja secara historis punya cerita gemilang ketika mampu mengusir tentara AS dari Indocina pertengahan tahun 70an. Filipina menjadi sekutu tradisional AS, Singapura setali tiga uang.  Malaysia dan Singapura bergabung dalam FPDA.  Thailand dulu bergabung dengan SEATO yang sudah dibubarkan.  Itulah gado-gado pertahanan negara ASEAN dan cerita historisnya.  Apakah gado-gado itu bisa disatukan atau dipertemukan dalam sebuah aliansi militer, sangat tergantung pada persamaan sikap diantara negara anggotanya.

Perkuatan alutsista TNI saat ini yang sudah mulai menampakkan bentuk kekuatannya, diniscayakan mulai tahun 2014 sudah menjadi kekuatan penyeimbang diantara sesama negara ASEAN.  Kemudian periode 2014-2019 diyakini akan menjadi kekuatan penggentar diantara negara jiran.  Pada periode ini Indonesia diyakini sudah memiliki lebih dari 200 jet tempur berbagai jenis, 320 KRI berbagai jenis dalam tiga armada tempur, 12 kapal selam, ratusan rudal jarak menengah baik surface to surface maupun surface to air. Pada saat yang sama industri hankam dalam negeri sudah mampu memasok alutsista seperti tank, panser, roket, artileri, KCR, PKR, kapal selam, rudal, helikopter, pesawat angkut dan jet tempur.  Sementara total pasukan TNI bisa mencapai 600 ribu personil dengan 3 divisi pasukan marinir, 3 divisi pasukan Kostrad sebagai pasukan pemukul reaksi cepat.

Kekuatan alutsista TNI ini diyakini bisa menjadi faktor penjinak bagi arogansi dua negara ASEAN yaitu Malaysia dan Singapura.  Ingat-ingat saja rentang tahun 2007 sampai dengan 2009 ketika konflik Ambalat memanas, statement pemerintahannya dan elemen masyarakatnya melecehkan kekuatan TNI.  Tahun 2010 levelnya sudah agak menurun.  Tahun ini ketika berbagai proyek pengadaan alutsista digelar secara signifikan, simultan dan transparan, tensi statement government Malaysia sudah sangat menurun.  Bahkan forumer mereka yang mengisi diskusi forum militer di berbagai media maya yang biasanya banyak cakap dan melecehkan RI mulai menunjukkan perubahan sikap, sudah kembali ke habitatnya, sudah mulai jinak kata pawang harimau di taman Safari.  Itu artinya perkuatan alutsista TNI merupakan jawaban paling tangguh untuk memberikan “daya pukul” balasan kepada negara-negara yang meremehkan kedaulatan RI tanpa harus mengajaknya berkelahi.

Bagi Indonesia pakta pertahanan regional tidak penting-penting banget karena negeri ini dilahirkan dan dipertahankan dengan semangat cinta tanah air, nasionalisme dan patriotik.  Sebuah saksi dan jalinan kisah sejarah yang tak terbantahkan. Meskipun demikian jika memang situasi dan kondisi mengharuskan demikian demi solidartias ASEAN, kita tidak menafikan itu bisa terwujud.  Hanya persyaratan ekologis dan keseimbangan dalam hubungan pertetanggaan yang setara perlu dikeluarkan bisulnya, misalnya pengakhiran pakta FPDA, tidak ada klaim teritori misalnya Ambalat.  Kemudian tidak menjadi negeri penampung koruptor dan dolarnya dengan dalih tak ada perjanjian ekstradisi.  Sederhana kan, karena pada dasarnya cara gaul republik ini ya begitu itu, low profile, banyak menahan diri, dan selalu mengedepankan cara pandang toleransi dengan jirannya.  Tapi cara pandang dan sikap itu sering ditafsirkan sebagai bentuk ketidakmampuan menjalankan diplomasi dengan jirannya.

Definsinya jelas, kita perkuat postur TNI dengan berbagai arsenal mutakhir, bergengsi dalam kualitas dan berdaya dalam kuantitas.  Ini juga seirama dengan pertumbuhan ekonomi kita yang stabil, meningkat dan berdaya tahan.  Kekuatan product domestic bruto, cadangan devisa, pendapatan perkapita, dan kekuatan daya beli selama tiga tahun terakhir menunjukkan indikator yang memuaskan.  Itu artinya belanja alutsista kita pun makin tahun makin menggembirakan.  Tahun 2014 adalah momentum untuk memperlihatkan taring dan taji TNI tetapi bukan untuk mengajak berkelahi melainkan siap siaga untuk mempertahankan kedaulatan teritori.

Kita meyakini dengan kekuatan militer yang disegani, tetangga yang pongah akan berubah sikap dan tidak lagi semena-mena mengklaim “ini milikku” atau membiarkan uang haram mengisi kantong di rekening banknya bersama sang koruptor.  Sebagian negara anggota ASEAN tak punya kepentingan dengan LCS tetapi sebagai anggota pendiri ASEAN kita tidak tega juga jika melihat Vietnam, Filipina dan Malaysia melakukan tarung militer dengan Cina, jelas tidak seimbang dan itu terjadi di halaman kita.  Persekutuan militer ASEAN boleh jadi merupakan kekuatan penyeimbang yang memungkinkan Cina berhitung ulang, lalu mengedepankan cara-cara diplomasi untuk penyelesaiannya.  Ini memang tidak mudah karena melibatkan cara pandang yang bertolak belakang, sama-sama keras, sama-sama punya argumen.  Ini memerlukan waktu bertahun-tahun dan melelahkan. Kehadiran perisai aliansi pertahanan ASEAN menurut pandangan kita merupakan salah satu cara yang diperlukan sesuai urgensi kebutuhan pada kondisi terkini demi solidaritas ASEAN.  Namanya juga wacana, sah-sah saja dan realistis kan ?

******
Jagvane / 24 Agustus 2011