Thursday, July 2, 2015

Ketika Berita Musibah Disiarkan



Cermin buruk muka kita adalah, jika ada peristiwa musibah yang mengejutkan publik bersama korban yang besar, kejadiannya dramatis dengan frekuensi siar yang luas maka selalu ada omongan emosional yang berlebihan “kapasitas air liurnya”. Contoh terakhir adalah musibah jatuhnya pesawat militer angkut berat Hercules TNI AU di Medan 30 Juni 2015 lalu yang menewaskan lebih seratus jiwa warga bangsa  ini.

Belum lagi selesai evakuasi, masih mengalir deras airmata duka keluarga korban, komentar yang dilontarkan mereka yang merasa sok tahu menyudutkan pemilik alutsista. Yang bilang pesawat tua lah, lalu ngomong pesawat hibah, lalu komentar kurang perawatan, dikomersialkan, kelebihan beban dan sebagainya. Padahal musibah baru hitungan jam dimana prioritas adalah evakuasi korban dan pemberitahuan kepada keluarga korban.
Hercules Indonesia
Itulah kita, begitu banyak stasiun penyiaran TV, Radio dan media cetak hanya mengejar kecepatan siar dan terbit dimana nilai kecepatan itu mengabaikan akurasi dan kelayakan. Sodoran pertanyaan yang diajukan ke wakil rakyat dan pengamat abal-abal, jawabannya seperti “firman tuhan” dengan mengatakan musibah itu karena alutsista renta dan jompo. Jadi dia sudah memastikan bahwa penyebabnya alutsista tua bangka.  Padahal penyelidikan dan penelitian belum dimulai.  Lalu kecelakaan pesawat militer angkut berat Airbus A400M di Spanyol baru-baru ini, apakah karena alutsista itu sudah tua. Jelas tidak, itu pesawat baru, gress yang mau dikirim ke Turki sebagai negara pembeli.  Jatuh juga.

Pihak media juga punya andil dalam menyodorkan rekaman wawancaranya, mestinya jika ada berita musibah, kunjungilah pemuka agama, apakah dia ulama, pendeta, bikshu, setidaknya komentar mereka akan memberikan opini yang menyejukkan sebagai media muhasabah, merenungkan diri lalu bergegas memperbaiki diri. Kalau selalu orang parlemen dan pengamat sentimen berbasis oppsisi yang dihubungi pasti jawabannya tidak mengedepankan dukacitanya tetapi lebih kepada selalu menyalahkan pemilik asset atau yang punya inventaris. Setidaknya numpang populer diatas penderitaan orang lain.

Pesawat Hercules yang dimiliki TNI AU semua ada dalam kontrol perawatan yang ketat. Meski pesawat yang jatuh itu buatan tahun 1964 tetapi hampir seluruh komponen mesin, instrumen perkabelan, avionik sudah berganti, sudah di retrofit. Yang jelas hanya rangkanya saja yang lama, tetapi jeroannya tidak lagi keluaran tahun 1964.  Jika kecelakaan itu disebabkan sayapnya patah atau ekornya lepas atau yang dikenal dengan “keletihan logam” barulah bisa disebut penyebabnya karena uzur.  Tidak ada pesawat uzur karena komponennya selalu diganti sesuai umur teknisnya.
A400M, yang sedang digadang-gadang TNI AU
Saat ini TNI AU sedang berupaya meningkatkan jumlah armada Herculesnya dengan mendatangkan 9 pesawat “Badak” itu dari Australia.  TNI AU saat ini memiliki 2 skuadron angkut berat Hercules yang bermarkas di Halim Jakarta dan Abdurrahman Saleh Malang dengan kekuatan 28 pesawat. Dalam lima tahun ke depan akan ditambah 1 skuadron lagi dan ber home base di Makassar.  Hercules bagaimanapun dikenal sebagai pesawat yang tangguh dan berjasa dalam perjalanan bangsa ini.  Sebagai negara kepulauan yang besar frekuensi jalan pesawat gagah ini cukup tinggi mengarungi berbagai pulau di tanah air.

Harapan kita, program pengadaan alutsista 9 Hercules dari Australia ini tetaplah berlangsung.  Saat ini kita sudah menerima 4 pesawat yang sebelum dikirim diretrofit dulu disana. Pengadaan pesawat angkut berat baru menguras duit anggaran pertahanan.  Soalnya kita baru sadar diri lima tahun belakangan ini untuk memodernisasi alutsista kita. Selama dua puluh lima tahun sebelumnya tidak ada sama sekali pengadaan alias pembelian pesawat angkut Hercules atau penggantinya.

Kementerian Pertahanan sudah menjajaki rencana pembelian pesawat angkut berat Airbus A400M dari Spanyol.  Harga pesawat baru ini seperti yang dipesan Malaysia untuk 4 unit nya mencapai US 1,1 milyar.  Cukup mahal, jadi realistis dengan anggaran pertahanan yang disedot untuk beli alutsista lain seperti jet tempur, kapal perang, kapal selam, untuk pesawat angkut berat kita percaya Hercules tetap masih menjadi andalan.  Mudah-mudahan dalam lima tahun ke depan kita sudah dapat memiliki 2-3 pesawat baru A400M yang secara bertahap mengantikan peran Hercules.

Musibah adalah media muhasabah dan selayaknya kita mendoakan para korban dan keluarganya. Kecelakaan yang dialami jelas karena berbagai faktor.  Biarlah tim yang berwenang yang akan melakukan tugasnya untuk memastikan penyebabnya.  Drama pemberitaan yang menjadi perhatian itu semoga dapat kita saring dan filter sendiri.  Kita tidak bisa menyuruh media bicara akurasi, fakta, opini. Kita yang menjadi penentu nilai berita yang disampaikan. Kita yang mengobyektifkaan nilai berita itu pada relung hati kita. Korban Hercules itu adalah tentara dan keluarga tentara serta penumpang sipil.  Tentara yang sedang bertugas untuk menjaga republik itu pantas dianugerahi penghargaan.  Kepada keluarga besar TNI AU, tetaplah tegar sebagai pengawal kedaulatan dirgantara.
****
Jagarin Pane / 02 Juli 2015

Tuesday, June 23, 2015

Tidak Hanya Semangat, Jenderal



Tentara Nasional Indonesia, bukanlah tentara biasa seandainya kecukupan alutsista terpenuhi baik secara kualitas maupun kuantitas.  Maksud kulo begini, jika pemenuhan alutsista yang berteknologi terkini dapat dimiliki baik secara mutu dan jumlah lalu ditambah dengan kemampuan spartan yang dimiliki prajurit TNI maka layaklah disebut pengawal republik kita bukan tentara biasa.

Untuk urusan spartan, tentara bumi nusantara yang tropis ini dikenal sebagai tentara dengan kemampuan gelut dan survival yang disegani. Karena menu latihan yang dimakan sehari-hari adalah menu yang hampir melewati batas ambang ketahanan fisik dan psikologi. Dalam serial latihan survival antar marinir Indonesia dan Amerika Serikat yang diadakan setiap tahun di hutan Jawa Timur, marinir AS mengaku kalah dengan marinir RI dalam uji ketahanan hidup di hutan raya.
F16 di Tarakan, agar tidak dilecehkan
Serial latihan ketangkasan menembak baik tingkat ASEAN maupun ajang internasional lainnya tradisi juara selalu dipegang TNI. Terakhir di ajang lomba AASAM di Victoria Australia kontingen TNI menyapu lebih separuh medali emas yang disediakan untuk 14 kontingen lain termasuk AS, Inggris dan tuan rumah. Kemudian di arena pasukan perdamaian dunia baik di Libanon, Sudan nama baik tentara republik diukir jelas dengan berbagai prestasi personal dan kesatuan.

TNI telah memenuhi kesempurnaannya sebagai tentara spartan, militan, patriotik, dan penuh semangat karena kurikulum latihannya seperti itu. Jadi dampak dari semua jenis latihan yang dilakukan itu pada dasarnya ingin menjelaskan bahwa tentara kita selalu bersemangat dalam setiap penugasan baik untuk operasi militer perang dan operasi militer selain perang.  Kita bisa saksikan pada operasi militer selain perang evakuasi korban Air Asia beberapa waktu lalu, spartan banget. Lalu operasi militer selain perang berupa operasi serbu teritorial membantu petani tanam padi, merupakan gambaran semangat yang tiada henti.

Kesempurnaan spartan itu akan semakin kelihatan nilai gaharnya manakala tentara dilengkapi dengan kekuatan alutsista yang modern, berkualitas dan mencukupi.  Nah dalam kurun enam tahun terakhir ini mata hati pemerintah mulai sadar diri untuk segera melakukan modernisasi persenjataan TNI segala matra.  Maka dengan rencana strategis bernama MEF dimulailah gebrakan untuk memperbaharui alutsista TNI.  Proyek alutsista bernilai ratusan trilyun selama lima tahun pertama, kemudian dilanjut dengan pemerintahan yang baru menunjukkan sikap istiqomah yang kuat dari pemerintah untuk terus memperkuat kegagahan hulubalangnya.

Oleh-oleh Wayang IndoBatt di Unifil
Kita sangat bergembira dengan keyakinan pemerintahan Jokowi yang akan terus melanjutkan perkuatan tentara.  Kondisi yang tak pasti di lingkungan regional kita mengharuskan persiapan penguatan persenjataan.  Kita berharap jangan ada statemen yang meremehkan kondisi di Laut Cina Selatan.  Itu bukan konflik kelas teri. Jangan pula kita terlambat mengantisipasi ketika semua negara sudah membentengi dirinya baik secara mandiri maupun aliansi.  Kita harus bersiap diri meski kita tidak ikut konflik karena pemain utama di laut kaya sumber daya alam itu adalah gajah dunia.

Perang modern tidak mengandalkan semangat semata tetapi lebih pada dukungan kekuatan alutsista berteknologi. Jadi sangat lucu kalau ada pernyataan “yang penting semangat” lalu mengabaikan pemenuhan kebutuhan alutsista. Perang abad 21 dan seterusnya tidak lagi mengajarkan gelut antar tentara atau adu jotos antar tentara atau adu pedang antar pasukan.  Cukup pencet tombol lalu meledaklah berbagai amunisi mulai dari peluru kendali, bom dan artileri dari jarak jauh.

Untuk mengantisipasi situasi regional yang tak pasti dan agar kita tidak dilecehkan oleh bangsa lain kita sangat membutuhkan tambahan kekuatan 4-5 skuadron fighter, 3-4 destroyer, 8-10 fregat, 12-15 korvet berteknologi bersama 10-12 kapal selam dalam 8 tahun mendatang.  Ini bukan mimpi tapi kewajiban kita sebagai bangsa yang diwarisi negara kepulauan paling elok di muka bumi ini. Kita mampu untuk memenuhi kebutuhan gizi alutsista buat pengawal republik, kalau kita mau.  Kita bisa menjadikan tentara kita sebagai tentara modern yang memiliki unjuk kerja spartan. Kita harus bersemangat membangun tentara kita dan menjadikannya sebagai tentara luar biasa.

Kita akan terus melangkah. Sembari mengharap ada perbaikan pertumbuhan ekonomi, rencana pengadaan alutsista akan terus digaungkan seirama pula dengan pernyataan-pernyataan yang mengedepankan optimis dan keyakinan.
Sebagai anak bangsa tentu kita menginginkan kemampuan dan kemajuan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan. Tingkat kesejahteraan yang diperoleh tentu memerlukan keyakinan pada rasa aman, damai dan tidak merasa terancam.  Perkuatan tentara dalam rangka itu untuk memastikan rasa aman dari gangguan teritori dan eksitensi bangsa sekaligus penggahar kekuatan diplomasi. Tidak hanya semangat Jenderal tapi kita butuh banyak alutsista terkini untuk hulubalang kita.
****
Kudus, 23 Juni 2015
Jagarin Pane

Monday, June 8, 2015

Tidak Hanya Laut Yang Berwarna Biru



Suksesi Panglima TNI sudah diambang pintu, sebagaimana yang pernah dijalankan pemerintahan sebelumnya maka mestinya giliran Angkatan Udara mendapat kesempatan untuk menjadi TNI-1.  Namun statemen Menteri Tejo yang menyatakan tidak otomatis  Kepala Staf Angkatan Udara menjadi Panglima TNI pada akhirnya menimbulkan polemik berkepanjangan. Habis juga energi hanya untuk mencoba merubah tatanan yang sudah berjalan sebagaimana tatakrama, meski tak ada Undang-Undangnya

Harus bisa memilah antara visi dan figur.  Kalau visinya tentang poros maritim atau menjadikan laut bukan sebagai punggung tetapi sebagai dada, dan lalu kita membusungkan dada sembari mengucap ini lautku mana lautmu.  Tentu bukan berarti semuanya akan berwarna laut karena warna air laut biru itu juga karena warna langit biru. Jadi figur bisa dari matra apa saja dan ketika tiba giliran tentara langit untuk mendapat kesempatan, jalankanlah dengan biasa-biasa saja. Toh jenderal-jenderal bintang empat itu sudah tersaring dari serangkaian kompetisi gagah dan gigih baik uji visi, uji pikir, uji nyali, dan uji tempur.
Sukhoi Indonesia, kegaharan yang diniscayakan
Memang hak prerogatif Presiden untuk menentukan Panglima TNI tetapi Presiden tentu mendapat masukan dan “gosokan”.  Nah gosokan ini yang perlu diwaspadai karena bisa saja terkontaminasi dengan virus-virus kepentingan apalagi ke depan belanja alutsista kita akan menjadi yang paling gede di ASEAN.  Perlu juga diketahui bahwa Menkopolhukam kita itu kan mantan KSAL dan Menhan kita itu mantan KSAD, jadi kalau Panglima TNI kali ini dari Angkatan Udara, biasa aja tuh. Kok jadi repot mempermasalahkan sesuatu yang sudah berjalan bagus selama ini.

Konsep pertahanan yang dianut Republik ini tidak lagi berdasarkan “masuk dulu baru digebuk” tetapi mulai menerapkan kurikulum “berani masuk digebuk”.  Untuk menjalankan kurikulum baru itu tentu harus punya Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang kuat.  Kenyataannya kekuatan udara dan laut kita belum sampai pada kekuatan “berani masuk digebuk” tapi baru sebatas kiasan “berani masuk dipelototin”. Angkatan udara yang memiliki kualifikasi pre emptive strike yang kita dambakan itu minimal harus punya 4 skuadron Sukhoi dan 6 Skuadron F16 edisi terkini dan atau yang sekelas dengannya. Harus punya pesawat intai strategis, harus punya pesawat pembom strategis.  Angkatan Laut juga demikian, minimal harus punya 4-5 Destroyer, 15-20 Fregat, 30-40 Korvet, 10 kapal selam.  Itu kalau mau menjalankan kurikulum pre emptive strike yang sejati.

Panglima TNI dari tiga matra semuanya pantas dikedepankan untuk memimpin pasukan penjaga NKRI.  Nah ketika pergantian itu tiba pada giliran Angkatan Udara, jalankanlah mekanisme itu karena figur Kepala Staf dari matra manapun sanggup menjalankan visi kemaritiman yang sekarang menjadi lagu wajib tak terbantahkan. Meneruskan tradisi yang sudah baik dari pemerintahan sebelumnya tentu akan memberikan nilai pandang yang bagus bagi pemerintahan sekarang. Tidak ganti kepemimpinan ganti kebijakan apalagi ternyata kebijakan itu karena pamrih atau adanya gosokan untuk kepentingan lain yang Presiden sendiri tidak tahu.  Bukankah Presiden kita presiden yang polos.
KRI Bung Tomo 357 menembakkan rudal
Dukungan visi maritim dari sudut pandang militer tidak lain adalah mempunyai armada laut dengan kemampuan tempur jelajah dengan kapal perang sekelas fregat dan destroyer serta kapal selam herder.  Kekuatan armada tempur laut itu mutlak harus didukung kekuatan Angkatan Udara yang berkualitas.  Tidak mungkin armada laut dipayungi jet tempur Hawk,  harus sekelas Sukhoi atau F16 edisi terakhir atau F-18 Hornet.  Untuk mencapai kekuatan itu perlu waktu tetapi menetapkan figur untuk menjalankan cita-cita itu sangat elok melihat warna biru karena warna biru bukan hanya warna air laut, gunung juga dari jauh berwarna biru, apalagi langit cerah pasti berwarna biru. Jangan pula mengklaim warna biru dari partai saya dan itu sama dengan warna laut yang menjadi idola saya.

Tentara kita tidak boleh dicampuri dengan kepentingan politik. Yang jelas kemampuan tempur militer negara ini harus dibenahi, dibaguskan dan digaharkan. Tantangan teritorial ke depan tidak bisa hanya diplototin lalu kirim nota diplomatik. Kita harus punya militer yang kuat menjalankan kurikulum berani masuk digebuk.  Tidak lagi ada kalimat nanti dulu untuk memperkuat militer kita. Bahkan melihat kondisi dinamis di kawasan ini percepatan pembangunan kekuatan itu menjadi syarat utama.  Kalau hanya Hawk yang ditugaskan menjaga Natuna atau KCR 40 dan KCR 60,  negeri Utara kita itu pasti bilang “gak nendang tuh”.

Siapapun yang memimpin TNI dia adalah orang terbaik dan ketika giliran Angkatan Udara yang harus memimpin, jalankan saja.  Figur Panglima TNI dari tiga angkatan itu sanggup menjalankan visi dan misi kemaritiman. Jangan sampai ketika menunggu antrian tiket begitu tiba di depan loket, tiketnya habis padahal di belakang loket sedang ada transaksi. Jangan sampai model kedengkian di loket karcis itu terjadi dalam menentukan pantas dan tidak pantasnya figur untuk menjalankan visi.  Ingat bukan hanya laut yang berwarna biru, gunung juga berwarna biru dan langit juga pemilik warna biru.
****
Jagarin Pane / 08 Juni 2015

Thursday, May 28, 2015

Ketika Ruang Kerjasama Dibuka Luas



Kunjungan Menhan RI Ryamizard Ryacudu ke AS melintasi Lautan Pasifik singgah di Hawaii baru kemudian ke Washington DC tanggal 07 sampai dengan 15 Mei 2015 bukanlah sekedar kunjungan basa basi. Di Hawaii Menhan bertemu dengan dua komandan Pasifik yaitu komandan Armada dan komandan Angkatan Darat, dua komando yang bertanggung jawab terhadap gejolak dan huru hara keamanan di sepertiga cekungan bumi.

Intinya adalah AS tentu harus terus menerus merayu  Indonesia sebagai bumper utama jika terjadi huru hara di Laut Cina Selatan (LCS). Cara AS menghadapi musuh atau saingannya adalah dengan membentuk aliansi pertahanan atau aliansi serang lawan.  Selalu bernuansa keroyokan, begitu gayanya, hampir tak pernah berkelahi sendirian dan tak pernah jua berkelahi di rumah sendiri. Nah Indonesia harus diajak untuk ikut dalam barisan aliansinya.

Armada laut Indonesia, harus selalu siap sedia
Kali ini lawan potensial yang bakal di hadapi di “hari kemudian” adalah Cina,   sosok naga yang makin menunjukkan taring kekuatan ekonomi dan militer yang tak terbendung lagi.  Musuh masa depan AS yang sesungguhnya adalah Cina.  Itu sebabnya mulai tahun kemarin AS secara bertahap memindahkan perangkat dan armada militernya ke kawasan Asia Pasifik sampai mencapai 60% kekuatan yang ada di seluruh dunia.

Indonesia sebagai pemilik teritori kepulauan yang memisahkan Lautan Pasifik dan Lautan India punya peran strategis untuk operasi militer skala besar di LCS jika huru-hara itu benar-benar terjadi.  Oleh sebab itu para pemikir strategis AS tentu harus memperhitungkan posisi Indonesia yang luas itu sebagai penyekat dan benteng untuk menghadapi Cina. Australia juga sangat berkepentingan dengan bumper yang bernama Indonesia itu sehingga dia harus baik-baik dan tahan diri.

Saat ini kerjasama pertahanan dengan AS diperluas.  Ada kerjasama konsultasi manajemen pertempuran modern, ada kerjasama cyber war, ada kerjasama pelatihan personel militer, ada kerjasama antar kesatuan militer. AS juga tak pelit lagi menjual alat tempur modernnya seperti helikopter Apache dengan rudal hellfirenya, jet tempur F16 dengan rudal Air to Air dan Air to Surface.  Kemudian ada Heli Chinook dan tawaran F16 blok 60 dan kapal perang OHP Class.

Pembangunan pangkalan militer Cina di LCS
Skenario jika terjadi huru hara di LCS bagi AS dan Australia adalah memanfaatkan teritori Indonesia sebagai medan lintasan armada laut, lintasan jet-jet tempur dan pembom strategis dari selatan. Lebih penting dari itu khasiatnya adalah jangan sampai Indonesia terhasut dengan Cina, jangan sampai Indonesia dipeluk Cina, jangan sampai Indonesia digendong Cina, jangan sampai Indonesia masuk dalam blok Cina. Posisi netral adalah posisi yang paling minimalis di mata AS.

Oleh sebab itu ruang luas untuk kerjasama militer dibuka AS untuk Indonesia. Silakan mau pilih kerjasama model apa, namanya juga lagi mengambil hati.   Ditawarkan kapal perang OHP Class masih jual mahal gak papa, ditawarkan F16 blok mutakhir masih mikir gak papa, ditawarkan PC3 Orion masih merem melek gak papa.  Yang penting ente ikutlah dengan barisan kami sebagai perisai garis depan, begitu yang ada dalam pikiran Pentagon. AS sudah mewanti-wanti bahwa konflik LCS bukan konflik kelas teri dan konflik itu ada di depan halaman kita.

AS, Australia, Jepang, Korsel sejatinya adalah kekuatan pemukul yang mampu menghancurkan kekuatan militer Cina jika terjadi perang terbuka.  Tetapi dengan kondisi sekarang model yang paling disukai adalah dengan model proxy war, mendorong “pelanduk” untuk tampil ke depan sementara si “gajah” petintang petinting di belakang.  Lalu memperbanyak sekutu sebanyak mungkin agar resiko tidak ditanggung sendiri alias ditanggung rame-rame.  Jadi gak rugi sendiri.

Pemikir-pemikir strategis Indonesia sesungguhnya paham dengan dinamika itu.  Ingin berdiri ditengah serba salah karena arena ring pertempuran terimbas ke wilayahnya. Ingin jadi wasit di tengah ring tinju sengketa belum menunjukkan kemampuan diplomasinya, salah-salah malah bisa menjadi korban dari salah seorang petinju. Tetapi kita meyakini bahwa pada saatnya Jakarta bisa memilih yang terbaik dari posisi netralnya saat ini.

Suhu tinggi di LCS hari-hari belakangan ini sangat terasa.  Pengintaian yang dilakukan oleh pesawat Poseidon AS di LCS disikapi dengan reaksi keras oleh Cina.  Pembangunan pangkalan militer Cina di LCS dipastikan akan menciutkan nyali negara lawan klaimnya.  Hanya AS yang mampu menandingi kekuatan Cina. Maka untuk menjawab kemarahan Cina sehubungan dengan insiden Poseidon beberapa hari yang lalu, Juli nanti akan dilakukan latihan militer gabungan antara AS, Australia dan Jepang di LCS melibatkan puluhan ribu pasukan dan berbagai alutsista teknologi terkini.

Kita berpendapat Jakarta harus cepat mengambil langkah antisipatif terhadap kondisi sekitar Natuna yang demamnya semakin meninggi. Perkuatan militer harus dipercepat. Natuna harus dibenahi segera, apakah itu perluasan pangkalan AL dan AU. Percepat pengiriman alutsista. Kapal-kapal perang sekelas Destroyer atau Fregat diperbanyak. Manfaatkan ruang kerjasama militer dengan AS seluas-luasnya. Jangan sampai telat mikir atau berpikir pola makelar.

Tanpa bermaksud mendramatisir, cuaca LCS itu bisa meledak setiap saat.  Segeralah bertindak, perkuat Natuna, perkuat Riau, perkuat Kalimantan.  Mana tuh Kogabwilhan, statusnya masih terdengar mulu, belum terdaftar apalagi diakui atau disamakan.  Masih jauh kan padahal “Belanda” sudah dekat.  Jangan sampai niat awal yang tulus untuk memperkuat “bangsaku” dalam perjalanan kemudian yang terjadi justru memperkuat “bank saku”.
****
Semarang, 28 Mei 2015