Monday, February 4, 2013

Mengajak Singapura Berharmoni



Negeri multi etnis yang terjepit di mulut Johor dan diapit Batam merupakan simbol dari keberhasilan menata cara pandang multi dimensi ditengah keterbatasan sumber daya alam.  Apakah itu membangun struktur ekonomi berbasis jasa, membangun kesejahteraan sumber daya manusianya dan membangun sistem pertahanan menyengat untuk meyakinkan komunitasnya terhadap apa yang disebut keberlangsungan hidup dan kewibawaan menjaga keunggulan Singapura.

Maka keseharian Singapura bisa dilihat dari kesibukannya meningkatkan image, menarik wisatawan, memelihara posisi keunggulan sebagai pusat jasa bisnis dunia. Menyelenggarakan balap mobil formula satu malam hari adalah diferensiasi marketing yang tak terduga dan sukses untuk mengambil hati pelancong.  Belum lagi ketika korban perkosaan di India tiba-tiba harus dirawat di RS Mount Elizabeth dan akhirnya meninggal, merupakan bagian dari upaya memasarkan diri, menyatakan diri sebagai yang terbaik.  Setidaknya ingin mempopulerkan imagenya yang sudah dikenal luas itu.

Untuk urusan pertahanan negeri  Singapura baru sadar diri setelah tahun 80an.  Sebelumnya negeri kecil dan kancil itu bukanlah sebuah sarang tawon yang siap menyengat siapa saja yang hendak mengganggu.  Negeri Lee Kwan Yew itu mulai membenahi militernya dengan berguru ke Israel.  Walau tidak sama persis posisi kedua negara itu memang “terkepung” oleh negeri Muslim.  Bedanya kalau Israel menjadi musuh abadi Arab, Singapura tidak sampai demikian tapi bukan tak mungkin oleh sebuah sebab kedua negara yang mengapit pulau Temasek itu bisa saja bersekongkol untuk “menghabisi’ Singapura.

Sekarang, Singapura adalah negara dengan alutsista militer terkuat di Asia Tenggara.  Mereka membangun pertahanan model sarang tawon, berani ganggu aku sengat. Angkatan Udaranya punya 2 skuadron F15 dan 6 Skuadron F16.  Di laut punya 6 kapal selam dan puluhan kapal kombatan yang terintegrasi sistem pertempurannya.  Saat ini mereka sedang membangun pertahanan Iron Dome untuk pertahanan anti rudal dan mempersiapkan kehadiran F35 yang siluman itu.

Dengan payung yang sedemikian kuat itu pertanyaannya tentu untuk apa Singapura membentengi dirinya dengan kemampuan pre emptive strike.  Inilah dia, kewibawaan Singapura sekaligus kesombongannya adalah selalu menjaga jarak dengan dua tetangganya.  Padahal sesungguhnya kekhawatiran Singapura yang nota bene negara dengan tingkat kesejahteraan terbaik di kawasan ini adalah pada soal ketidakpastian masa depan dan keberlangsungan perjalanan negeri sejahtera itu.

Meski mempunyai kekuatan militer paling gres, anatomi kependudukan Singapura sesungguhnya rawan perpecahan. Catatan tentang soal kependudukan saat ini jumlah penduduk Singapura sekitar 35 % adalah orang luar alias pendatang.  Tahun 2030 diprediksi jumlah itu bisa mencapai 50% dari total penduduk Singapura.  Keragaman etnis yang dipimpin oleh etnis Cina boleh jadi memberikan sentuhan untuk selalu berimprovisasi mempertahankan status quo. Namun pergaulan sopan pada dua jirannya sesungguhnya merupakan kunci menjaga stabilitas dirinya.  Untuk urusan sumber daya alam misalnya pasokan air, suplai logistik sayur mayur sampai kebutuhan pasir laut sangat tergantung pada dua negara disebelahnya.

Kelemahan utama pada negeri jasa dan hanya satu pulau seperti Singapura ini adalah kepanikan. Meski memiliki kekuatan militer canggih, kepanikan merupakan musuh nomor satu di negara yang mengandalkan sektor jasa.  Misalnya Malaysia melakukan embargo air atau Indonesia menyetop arus wisatawan belanja,  kemudian ada wabah yang menyebabkan kematian massal.  Kondisi ini boleh jadi menimbulkan kegelisahan dan kepanikan yang menyebabkan runtuhnya image sebagai negara pusat jasa tadi.

Oleh karena itu, pola bertetangga yang baik yang mengedepankan kesetaraan adalah cara pandang yang cemerlang yang harus disetel tuningnya oleh Pemerintah Singapura.  Bukankah Singapura telah berhasil dalam membangun cara pandang sebagaimana yang diungkap di awal tulisan ini.  Jujur saja masih banyak yang harus dibenahi dalam pola pertemanan antara Indonesia dan Singapura.  Sikap negara sejahtera meski kecil cenderung meremehkan jirannya yang besar tapi belum sejahtera, padahal secara ekosistem telah tercipta saling ketergantungan.

Ke depan Indonesia akan semakin maju kekuatan ekonominya.  Saat ini saja telah menjadi kekuatan ekonomi dengan PDB terbesar di ASEAN dan terbesar ke 16 di dunia.  Bursa Jakarta telah jauh mengungguli bursa Singapura selama lima tahun terakhir ini.  Belum lagi pembangunan militer Indonesia yang terus dipacu untuk mengejar ketertinggalannya.  Gelontoran anggaran militer RI yang besar memberikan harapan bahwa tahun 2014 nanti kebutuhan alutsista yang dipenuhi akan mencapai 38% dari target.  Artinya masih banyak yang akan dibeli dan tidak mustahil tahun 2020 nanti menjadi kekuatan yang mengungguli negara Singapura.

Ruang persahabatan tiga negara ini, Indonesia, Malaysia dan Singapura, merupakan peluang untuk menjalin keharmonisan dan kesetaraan.  Hal yang tak terbantahkan adalah takdir geografi Singapura diapit oleh dua jirannya yang juga semakin maju.  Nilai lebih dari dua jiran ini adalah jumlah populasi yang besar dan tersedianya sumber daya alam yang melimpah sementara Singapura harus berjuang melawan keterbatasan lahan.  Peluang mengajak berharmoni dengan dua jirannya dalam kesetaraan pergaulan diyakini lebih bermanfaat daripada mengedepankan keunggulan militer dan ekonomi.  Singapura harus bisa merangkul kedua sahabatnya itu dengan harmoni dan kesetaraan.
******
Jagvane / 04 Feb 2013

Friday, January 18, 2013

Esensi Beralutsista


Postur negara yang ideal sesungguhnya mirip dengan postur jasmani manusia yang kekar, kuat dan berpenampilan menarik.  Punya olah pikir, olah daya, olah rasa dan sekaligus tolak bala.  Kemampuan tolak bala ini dalam konsep postur manusia adalah kemampuan melawan segala macam ancaman yang datang dari dalam tubuh itu sendiri berupa penyakit maupun orang-orang yang mengajak gelut oleh suatu sebab.  Negara juga tak jauh beda, untuk mempertahankan eksitensinya, mengamankan jalan hidupnya dan memberdayakan sumber daya yang ada di dalamnya diperlukan organisasi militer untuk mengawal dan mempertahankannya. Organisasi militer merupakan satu kesatuan yang utuh dengan nadi negara dalam membangun eksistensi termasuk membangun kesejahteraan.

Esensi beralutsista adalah memahami kebutuhan salah satu organ tubuh itu, tangan dan kaki, untuk mampu menjalankan fungsinya sebagai anggota gerak yang diandalkan jika suatu saat diperlukan melindungi organ tubuh yang lain.  Militer dan alutsista adalah instrumen yang tak dapat dipisahkan.  Jadi sangat lucu jika militer kuat secara postur fisik orangnya, jago bela diri, tahan uji di hutan tetapi alutsistanya masih sekelas S60 (maksudnya sekelas tahun 60an). Makanya mendandani militer kita merupakan kewajiban mutlak seirama dengan kemajuan ekonomi yang telah kita dapatkan saat ini.  Hanya orang-orang yang sableng saja yang mengatakan tidak perlu kita memiliki militer yang kuat.  Atau mereka yang memang punya tujuan hendak membonsai militer karena memang dibayar untuk itu atau karena punya kebencian yang mendalam.

Diantara semua argumen yang disuarakan pihak sableng itu untuk tidak menganggap penting mempersenjatai tentara dengan alutsista modern karena  sepanjang perjalanan bangsa ini relatif tidak ada ancaman terhadap eksistensi bangsa.  Tidak ada perang terbuka dengan negara tetangga.  Ini beda dengan India dan Pakistan yang sudah lebih dari sekali terlibat perang terbuka.  Perang terbuka tahun 1971 akhirnya melahirkan negara Bangladesh yang sebelumnya bernama Pakistan Timur.  Merasa dipermalukan India, Pakistan memperkuat militer dan persenjataannya termasuk senjata nuklir.  India juga tak mau kalah dengan membangun militernya secara besar-besaran termasuk kekuatan nuklirnya.

Adalah sebuah kekeliruan jika kita mengabaikan pembangunan kekuatan militer oleh sebab yang disebut tadi, tidak ada ancaman.  Ada atau tidak ada ancaman  perjalanan bangsa ini mesti dikawal dengan kekuatan militer yang memadai karena militer itu senyawa dengan perjalanan eksitensi bangsa.  Militer itu organ tubuh negara, bagian yang tak terpisahkan ketika bangsa ini membangun kesejahteraan dan ketahanan ekonominya. Seirama dengan itu memperkuat militer dengan alutsista modern adalah kesetaraan yang mesti dikedepankan tanpa bermaksud mentang-mentang.

Maka dengan kelapangan cara pandang, selayaknya kita terus menerus mempersiapkan kekuatan militer dengan memberinya gizi yang setara dengan kemajuan ekonomi yang didapat.  Tidak terbantahkan memang, perjalanan pertumbuhan ekonomi selama 9 tahun terakhir cukup membungakan hati sehingga pada akhirnya kita bisa membangun kekuatan militer setelah sekian lama puasa alutsista.  Jangan lupa perjalanan pemerintahan SBY selama 9 tahun ini prioritas tamanya adalah pembangunan ekonomi.  Artinya selama 6 tahun pertama belum ada yang signifikan dalam belanja alutsista kita, ya se adanya saja.  Baru 3 tahun terakhir ini belanja alutsista dijalankan dengan argo penuh untuk mempercepat modernisasi alutsista TNI.

Tahun 2014 nanti ketika SBY mengakhiri perjalanan pemerintahnya dengan 2 kali masa jabatan, pada saat itu sudah banyak aluistsista yang berdatangan.  Meski begitu untuk ukuran kekuatan ideal, belanja alutsista sampai tahun 2014 belumlah masuk kategori gahar.  Kedatangan berbagai jenis alutsista baru itu hanya untuk menutupi kekurangan alutsista yang sangat bersahaja dan kurang gizi.  So sampai tahun 2014 sejatinya kita baru sampai pada tahap memulihkan “kesehatan gizi” alutsista, kita baru sembuh, saudaraku.

Itulah sebabnya cerita pengadaan alutsista di periode berikutnya tahun 2015-2019 dengan figur kepemimpinan yang baru adalah kunci menuju kekuatan kesetaraan dengan negara sekitarnya. Oleh sebab itu perlu selalu dikumandangkan cara pandang pemerintahan eksiting sekarang ini untuk disambung dengan kebijakan yang sama dan sebangun dengan next government.  Meneruskan program penguatan alutsista TNI.  Jangan sampai ketika gizi alutsista sudah sampai pada taraf kesehatan gizi lantas dibiarkan lagi karena menganggap sudah cukup.  Teknologi apapun dalam ruang kekinian termasuk teknologi alutsista merupakan “makhluk ciptaan” yang berusia pendek. Hari ini kita membeli atau memproduksi satu jenis alutsista dengan teknologi terkini, lima tahun lagi sudah ada edisi tercanggihnya.  Nah itulah salah satu argumen mengapa kita harus terus memperbaharui alutsista.

Bangsa ini akan terus menapaki jalan kehidupannya, melintas dalam pembaharuan waktu dan upaya mensejahterakan sumber daya manusianya.  Kita akan terus menjalani ruang waktu ini bersama konektivitas dan hubungan antar bangsa yang dinamis dan simbiosis.  Peran militer adalah untuk mengawal dan menjaga kewibawaan hubungan yang dinamis itu utamanya memelihara kewibawaan bernegara dari rangsangan pihak luar yang hendak bersitegang.  Negara yang punya militer kuat, tentu dengan kemajuan ekonomi yang signifikan, memberikan nilai tambah dalam spirit nasionalisme. Spirit kebangsaan itu sudah ada dalam naluri anak bangsa.  Kebanggaan itu akan semakin sempurna manakala kita punya kekuatan militer dengan alutsista yang canggih.  Itulah sejatinya esensi beralutsista.
*******
Jagvane/ 17 Januari 2013

Tuesday, January 15, 2013

Setelah Jamuan Istimewa Itu

Menteri Pertahanan Inggris Philip Hammond berkunjung ke Indonesia tanggal 15-16 Januari 2013.  Bahasa diplomasinya adalah untuk mempererat dan memperkuat hubungan pertemanan kedua negara.  Bahasa sanjungannya adalah sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan pengaruhnya yang kuat di ASEAN, Inggris sangat patut memperhatikan dan menjadikan RI sebagai mitra pentingnya.

Namanya juga berkunjung pasti ada maunya, lalu keluarlah press release seperti diatas untuk memberikan rasa suka pada tuan rumah.  Ya tuan rumah memang sedang digandrungi dan dirayu oleh sejumlah negara produsen alutsista dunia untuk membeli sejumlah alutsista buatan mereka.  Maklum kucuran dana untuk modernisasi alutsista TNI sangat menggiurkan para semut-semut itu untuk mencicipi madu duit alutsista RI.

Mata kuliah penting dari sejarah pertemanan dengan negeri mama Eli ini adalah mengambil sikap berhati-hati, tidak mudah terjebak rayuan dalam penawaran teknologi terkini yang diusung persenjataan negeri itu.  Setidaknya jika memang kita hendak membeli sejumlah alutsista made in Britain pelajari dulu pasal demi pasal secara cerdas.  Jika ada pasal yang mengatur pengggunaan alutsista untuk urusan dalam negeri atau digunakan untuk berkelahi dengan tetangga sebelah tidak boleh digunakan, ya ditolak saja karena itu berarti sudah mencampuri urusan dalam negeri kita.  Lagian barangnya kan sudah dibeli, ya suka-suka gua dong mau digunakan untuk apa termasuk untuk perang sama jiran yang pongah.

Sejarah pengiriman Hawk200 batch terakhir tahun 1999 sangat mengecewakan.  Pesawat tempur itu ditinggalkan pilotnya di Bangkok Thailand karena di tengah perjalanan ferry London-Jakarta keluar keputusan Pemerintah Inggris mengembargo senjata ke RI karena masalah Timor Leste.  Lalu ketika dilakukan operasi militer di Aceh tahun 2003 Tank Scorpion dan Hawk 200 dilarang digunakan.  Ini sangat menyakitkan.  Makanya kita mengusulkan dalam setiap perjanjian jual beli senjata dengan Inggris atau negara lain yang suka usil dan mendikte RI dimasukkan satu pasal sebelum pasal penutup yaitu pasal yang berbunyi: dilarang melarang.

Kunjungan Menhan Inggris merupakan lanjutan dari kunjungan Presiden SBY ke Inggris tanggal  30 Oktober sampai dengan 3 Nopember 2012 yang dijamu secara istimewa oleh mama Eli dan keluarga kerajaan Inggris termasuk memperoleh gelar kebangsaan.  Dibalik sambutan yang istimewa itu tentu peribahasa tidak ada makan siang gratis menjadi panutannya.  Inggris memang sedang melakukan langkah diplomatik yang intens untuk membujuk Indonesia membeli alutsista mereka.

Rasanya kalau hanya untuk memuluskan penjualan 3 light fregat “Nachoda Ragam Class” atau perbaikan 10 F16 AB TNI AU atau rudal Starstreak kok belum sesuai dengan bobot kunjungan itu. Baru terasa gemanya jika yang dibawa dalam daftar penawaran itu adalah penjualan 24-32 unit jet tempur dan persenjataannya.  Jika jet tempur itu jadi dibeli Indonesia, kita menyambutnya dengan senang hati karena ini berarti semakin memperkuat alat pukul kedirgantaraan ruang udara negeri ini yang sangat luas.  Meskipun begitu kita juga tidak mengharap jet tempur itu segera datang dalam waktu dekat, bisa saja kedatangannya mulai tahun 2016 dan seterusnya.  Mengapa, karena kita tahun ini dan tahun depan akan kedatangan banyak alutsista, untuk TNI AU akan datang 102 pesawat, sebagian diantaranya jet tempur berbagai jenis.

Berandai-andai tentang Typhoon boleh saja kan, meski tetaplah kita berhati-hati dalam pola perjanjian bisnisnya agar sejarah kebodohan kita sendiri itu tidak terulang.  Itu sebabnya ketika Pemerintahan Megawati marah dengan ketidakbolehan menggunakan Scorpion dan Hawk di Aceh kemudian ada embargo F16, dia berpaling wajah lalu memesan 4 Sukhoi ke Rusia.  Yang lebih hebat lagi barangnya bisa datang setelah 4 bulan dipesan.  Ini tidak lebih karena kekecewaan terhadap Barat yang arogan dan Rusia menampung “curhat Ibu” dengan mengistimewakan pesanan 4 Sukhoi walaupun tidak istimewa dalam persenjataan dan avioniknya.  Tapi inilah titik balik itu karena setelah 4 Sukhoi itu kita pesan lagi 6 Sukhoi, barangnya sudah datang, lalu pesan lagi 6 Sukhoi dan semua persenjataannya termasuk suku cadang, simulator dan rudal-sudalnya.  Tahun ini lengkap 16 biji alias 1 skuadron.

Nah ketika negara lain ramai-ramai menawarkan dan menjual alutsistanya ke RI, Inggris hanya melongo saja karena tak dilirik.  Bagaimana mau dilirik wong kita saja banyak dilirik negara lain.  Mana sempat. Aktif dong jangan jual mahal, emang ente siapa bung.  Akhirnya dia sadar diri lalu mengundang RI-1 ke London dengan sejuta hidangan dan layanan sambil menawarkan sejumlah alutsista canggih.  Dan lanjutan cerita jualan itu, datanglah Menhannya yang asli Epping Essex itu.  Huss jangan salah baca loh.

Kita berpendapat, terima sajalah tawaran itu dengan catatan pesawat tempur marga Sukhoi tetap diperbanyak.  Jadi dalam MEF tahap II 2015-2019 boleh jadi kekuatan kita bertambah dengan 24 jet tempur Typhoon dan 16 jet tempur Sukhoi SU35.  Alamak kalau itu terealisir bangga kali aku sebagai anak bangsa melihat kekuatan dirgantara negeriku yang setara dengan tetangganya sehingga tak ada lagi pelecehan dan umpatan : jelek kali kau ! alutsistamu jadul ! masak mau kau lawan aku !
*****
Jagvane /  15 Jan 2013

Thursday, January 10, 2013

Tendangan si Maidin Kena Muka Sendiri


Kalau anda melihat, Maidin, jumlah penonton Indonesia yang mencapai 3 juta penonton sejak film Habibie dan Ainun di putar di seluruh bioskop di Indonesia sepanjang satu bulan ini, sudah pasti anda menjadi seorang yang kerdil nilai, kerdil martabat dan malu hati.  Malu terhadap hinaan dan cercaan yang anda tuliskan untuk konsumsi politik dalam negeri negara anda.  Anda katakan Habibie penghianat, anda katakan Habibie anjing imperialis adalah sebuah penghinaan yang hanya bisa dilakukan oleh politisi bermuka celeng tanpa hati nurani.  Kita ingin menegaskan hal yang sudah tegas dan lugas bahwa Habibie adalah sosok yang dicintai rakyat Indonesia, baik pribadinya maupun kecerdasan intelektualnya serta ketaatannya pada akidah yang digenggamnya bersama kecintaannya pada sang istri yang sudah lebih dulu meninggalkan kita semua..

Perilaku kekanak-kanakan politisi penguasa di negeri jiran itu memberikan definisi jelas tentang ketidakmampuan mereka pada apa yang disebut perbedaan pendapat dan sudut pandang. Negeri yang merdeka berdasarkan hadiah dari kolonial Inggris tidak mampu menghilangkan kelas masyarakat yang dibangun berdasarkan struktur kesultanan negara bagian yang sangat protektif terhadap bumiputera Melayu.  Struktur non egaliter inilah yang membuat pola pandang dan pola pikir elite politiknya lemah syahwat ketika berhadapan dengan kritik dan beda pendapat.  Kritik dianggapnya “Kirik” lalu menyebut lawannya dengan Dog Imperialism padahal dia sendiri yang menjadi Asu UMNO.  Kegetiran suasana kebatinan ini menampakkan ruang ego yang demikian nyata manakala dalam ruang orasi yang dilakukan Habibie di Universitas Selangor atas undangan Anwar Ibrahim Desember lalu, membuat segelintir politisi UMNO kebakaran jenggot dan keringat dingin di ruang AC.  Kita ingin katakan pada Maidin, bahwa demokrasi di negara anda adalah demokrasi imitasi.  Contohnya jelas, anda bebas menghina Anwar Ibrahim tetapi jika kubu Anwar sebagai pihak oposisi melakukan kritik atas jalannya pemerintahan dan perilaku orang UMNO, dengan memakai jubah “Nabi ISA”  (Internal Security Act)  terjadilah pembungkaman, penangkapan dengan argumen pembenarannya. Anwar Ibrahim adalah korban politik UMNO yang dilakukan secara vulgar, berlebihan dan melewati ambang batas kepatutan.

Zainuddin Maidin adalah corongnya UMNO, maklum profesi awalnya kan seorang jurnalis yang kemudian pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan Malaysia.  Jelasnya dia tidak sendirian meski pemerintah Malaysia menganggap itu tulisan pribadi yang tidak mewakili suara pemerintahnya sebagaimana dilontarkan PM Najib Tun Razak ketika bertemu SBY di KL akhir Desember 2012.  Arah tembakannya adalah ingin menaikkan citra UMNO dan BN dalam pilihan raya Malaysia tahun ini.  Musuh bersama UMNO dan BN adalah Anwar Ibrahim yang selama bertahun-tahun dijadikan korban pembusukan namun tak mempan jua.  Bahkan korban pembusukan itu semakin semerbak harum kembangnya.  Sebenarnya jika politisi UMNO tidak membawa-bawa nama Habibie untuk dijadikan sasaran tembak, rakyat Indonesia tidak terlalu memikirkan apalagi mencampuri model demokrasi di Malaysia yang masih setingkat play group, harus ada orang tua yang mendampingi di sekolahnya.  Bukan bermaksud membenarkan posisi bertetangga RI atas jiran yang satu ini tetapi perjalanan sejarah membuktikan selalu saja pihak seberang sana yang memulai keributan apakah itu klaim teritori, klaim kebudayaan, pelecehan TKI, arogansi orang kaya baru.
Habibie adalah sosok yang dikagumi oleh bangsa Indonesia.  Beliau meletakkan dasar-dasar teknologi kerdirgantaraan yang saat ini sedang bergeliat hangat memproduksi pesawat dan helikopter.  Pemikiran visioner beliau yang betapapun pahitnya namun harus diputuskan yaitu melaksanakan referendum di Timor Timur yang kemudian melepaskan diri dari Indonesia.  Pemikiran visioner itu kemudian terjawab kini, Timor Timur tidak lagi menjadi beban politik dan ekonomi bagi Indonesia dan yang terpenting dari semua itu bekas provinsi Indonesia itu bersahabat erat tanpa dendam dengan bekas induk semangnya.  Dunia menaruh hormat pada Indonesia.
Dalam urusan pertahanan negeri, perkuatan militer Indonesia adalah jawaban paling tegas untuk memberitahu pihak sebelah bahwa kita tidak ingin lagi menjadi pelengkap penderita.  Militer Indonesia telah bangkit dengan kedatangan sejumlah alutsista modern dan akan terus berdatangan untuk memenuhi definisi MEF(Minimum Essential Force). Memang namanya MEF tetapi target yang hendak dikejar adalah minimal mengungguli kekuatan persenjataan militer Malaysia, maksimal berkeinginan menjadi kekuatan militer nomor satu di Asia Tenggara.   Inilah jawaban cemerlang tentang sebuah hakekat eksistensi dan martabat negeri.  Perkuatan tentara dengan dukungan kemajuan ekonomi selama hampir 9 tahun ini memberikan nilai tambah pada nilai spirit kebangsaan yang memang sudah ada dalam naluri dan adrenalin warga bangsa ini. 
Penambahan satuan tempur termasuk batalyon tank di Kalimantan, pembentukan dua komando militer kewilayahan, penempatan sistem persenjataan Astross II di Kalimantan, pembentukan skuadron UAV dan roket-roket Rhan berdaya tembak 50 km serta skuadron Heli Tempur adalah bagian dari hasrat yang ingin ditumpahkan.  Bahwa jika anda bermain api kami tidak perlu menyiram dengan air lagi seperti yang dilakukan selama ini demi persaudaraan ASEAN.  Tetapi kami juga akan kirimkan bola api yang lebih besar.  Bukankah Presiden sudah mengirim pesan jelas di Universitas Utara Malaysia baru-baru ini, tidak ada garansi tidak terjadi perang di kawasan ASEAN di masa depan. Tidak lama lagi peluru-peluru kendali berjarak tembak 300 km sebagai hasil kolaborasi teknologi roket Lapan dengan teknologi rudal C705 Cina akan menjadi kekuatan strategis yang ditempatkan secara statis dan mobile di perbatasan Indonesia-Malaysia.
Lanjutan tentang tendangan si Maidin diperlihatkan lagi ketika dalam satu tulisan terbaru yang berdjudul  “Yang Tidak sama Antara Habibie dan Anwar” yang dimuat di Utusan Malaysia tanggal 8 Januari 2012, Zainuddin Maidin berupaya hendak memutihkan Habibie dengan dua alinea terakhir tulisannya : Di Indonesia, bekas Presiden Indonesia B.J. Habibie masih mempunyai kredibiliti yang tinggi. Beliau bukan seorang street actor, maka itu rakyat Indonesia marah apabila saya menyamakannya dengan Anwar Ibrahim. B.J. Habibie adalah seorang pemimpin yang masih dihormati dan tidak bergelumang dengan lumpur seperti Anwar Ibrahim.
Jelas sekali dia bermental bunglon dan malu untuk meminta maaf.  Ironinya lagi berpuluh alinea dia ungkapkan untuk kembali membusukkan Anwar Ibrahim lalu ditutup dengan dua alinea diatas. Jelas tidak nyambung karena memang tidak ada kaitannya. Begitulah kenyataannya, Maidin tak mau meminta maaf, lalu menulis lagi dengan maksud mengambil hati. Hebatnya lagi Presiden ketiga RI Habibie tak perlu repot menanggapi tulisan hinaannya, itulah cermin  jiwa kenegarawanannya.  Pelajaran demi pelajaran telah kita dapatkan dari rumah jiran yang pongah ini.  Maka pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan rakyat dan perkuatan militer adalah langkah elegan yang sedang dijalani negara ini untuk memberikan “pukulan telak tanpa harus berkelahi”.  Semuanya sedang berjalan, so biarkan anjing mengonggong kafilah terus melaju.  Tetapi sesekali memang perlu juga dibentak karena biasanya kalau anjing mengonggong tanda tak menggigit dan kalau dibentak dijamin pasti lari. 
*****
Jagvane 10 Januari 2013,-

Thursday, January 3, 2013

Mencermati Dinamika Kawasan


Presiden SBY memberikan orasi lugas di hadapan civitas akademika dan Rektor Universitas Utara Malaysia yang sekaligus juga Raja Malaysia di Kuala Lumpur ketika menerima gelar Doktor HC tanggal 19 Desember 2012.  Beliau mengatakan tidak ada jaminan tidak ada perang di kawasan ASEAN di masa mendatang.  Ini merupakan statemen yang memiliki nilai diplomasi tinggi.  Pernyataan ini sekaligus kuat pesannya untuk mengantisipasi prakiraan cuaca kawasan yang bisa saja memburuk akibat konflik perbatasan darat dan laut di kawasan ini.

Bargaining untuk mengedepankan peran diplomasi high profile yang sewaktu-waktu diperlukan ukurannya adalah memiliki kekuatan militer yang disegani setidaknya untuk ukuran kawasan Asia Tenggara.  Jalan ke arah itu sedang dijalani.  Sampai tahun 2014 dengan kedatangan gelombang alutsista untuk mengisi persenjataan kesatrian TNI, meski sejatinya baru dalam tahap memulihkan kekurangan gizi alutsista setelah sekian lama berpuasa dan hanya menikmati sajian alutsista tua yang jumlahnya terbatas.

Titik tumpu menuju kekuatan gahar itu ada di ruang lima tahun berikutnya setelah tahun 2014.  Di ruang waktu itu jika kita konsisten dengan rencana strategis untuk memperkuat militer, disitulah kita mulai berhitung dengan menghadirkan kekuatan alutsista untuk menambah daya gempur yang lebih bergetar.  Di ruang waktu itu sudah pasti akan ada penambahan minimal 3 kapal selam baru hasil dari kesepakatan dagang dan magang tahun 2012 antara Korsel dan RI.  Dengan asumsi kapal selam ketiga selesai tahun 2017 diharapkan PT PAL dengan supervisi Korsel mampu membuat 2 kapal selam lagi sehingga tahun 2019 ada 5 kapal selam baru.
Jet Tempur Golden Eagle, segera datang tahun ini
Pertanyaannya untuk apa sih kita memperkuat alutsista militer kita.  Jawabnya adalah untuk mencermati situasi kawasan yang dinamis dengan berbagai konflik teritorial.   Perkuatan militer RI menuju kekuatan nomor satu ASEAN atau setidaknya setara dengan negara ASEAN yang lain misalnya Singapura dan Thailand adalah dalam upaya menggagahkan diri untuk tampil percaya diri dalam setiap urusan diplomasi dengan sedikit menggeretakkan geraham.  Cara ini tentu bisa dilakukan jika background kekuatan militer ada di belakangnya.  Bukan bermaksud untuk mengajak berkelahi tetapi bukankah setiap urusan sengketa tapal batas bisa diselesaikan dengan dialog kesetaraan.

Persinggungan teritorial dengan Malaysia misalnya, mestinya bisa diselesaikan dengan cara diskusi dan perundingan walaupun serialnya bisa mencapai 1000 kali diskusi. Tak mengapa asal suasananya dengan sikap bertetangga yang baik.  Blunder Angkatan Laut Malaysia di Ambalat adalah melakukan show of force, lalu menangkap pekerja Mercu Suar Karang Unarang sambil memukulinya. Ini yang memicu kemarahan militer Indonesia termasuk Presiden SBY yang langsung datang ke wilayah itu dengan kawalan kapal perang.  Kehadiran seorang Kepala Negara ke kawasan sengketa membawa pesan diplomatik yang kuat, jangan bermain api dengan kami. 

Mengapa Malaysia melakukan itu, karena dia merasa sudah lebih kuat militernya dari Indonesia.  Inilah poin penting yang kemudian menjadi pemicu bangunnya macan tidur bersama kemarahan rakyat Indonesia.  Pelajaran dari mata kuliah Ambalat adalah ternyata dia bukanlah tetangga yang baik, dia bukanlah jiran yang ramah, menggunting dalam lipatan.  Padahal selama tiga puluh tahun lebih cara gaul yang diperlihatkan RI selalu mengedepankan ruang harmoni dan tutur sapa diplomatik yang santun dan hangat.  Kasus terakhir adalah tulisan seorang mantan menteri Malaysia yang menghina Habibie dan Gus Dur untuk komoditi kampanye UMNO di pilihan raya Malaysia tahun 2013 ini.
BMP-3F batch 2 segera datang tak lama lagi
Dengan Australia, sikap yang ditunjukkan padanya sebaiknya adalah bergaul dengan bahasa santun tetapi tidak dalam rangka mudah mendikte kita atau tidak mudah bersepakat sesuai hasrat dia.  Begitu hasrat itu sudah ganti warna, dia tinggalkan kita.  Contohnya ketika Timor Timur hendak dikuasai ideologi kiri pada era perang dingin dulu, Australia dan AS setuju dengan pengerahan militer RI yang nota bene ongkos militernya ditanggung sendiri oleh RI.  Tetapi setelah perang dingin usai, negeri Kanguru itu balik kanan lalu melakukan manuver “serangan balik” hendak melepaskan Timtim dari NKRI dengan alasan HAM dan keinginan masyarakat setempat.

Untuk masalah Papua sejatinya Australia bermuka dua terhadap kita.  Di satu sisi mereka berikrar bahwa Papua merupakan bagian tak terpisahkan dari RI tetapi di sisi lain juga dengan alasan HAM dan kehendak rakyat Papua, Australia memberikan ruang ambigu dalam cara bergaul dengan RI. Negeri yang dijuluki Samuel P. Huntington sebagai negara asing di kawasan Asia, a torn country, geoculturally torn country, selalu merasa asing di lingkungannya, membuat dia merasa tidak nyaman dengan lingkungannya.  Ketidaknyamanannya itu memberikan rasa gerah pada dirinya lalu dengan gaya kultur Barat yang selalu merasa lebih dominan, pintar dan cerdas.  And then mendikte tetangganya yang nota bene selalu menampilkan cara gaul yang low profile, sebagaimana kultur Asia Timur Tenggara pada umumnya.
Rudal Yakhont yang menggentarkan itu
Keputusan Kemhan dan Mabes TNI untuk memagari Papua dan Indonesia Timur dengan menggelar secara bertahap 15.000 Marinir merupakan “serangan balasan” terhadap arogansi Australia yang secara sepihak bersedia menerima kedatangan 5.000 Marinir AS di Darwin.  Jelas sepihak karena dilakukan tanpa mengajak diskusi terlebih dahulu pada tetangganya.  Menlu Marty sempat melontarkan “kemarahan diplomatik” atas kepongahan Australia yang paranoid itu.

Jawaban dengan cara pandang militer diniscayakan menjadi jalan gentar yang lebih bergema.  Maka rencana menempatkan secara permanen 1 divisi pasukan Marinir di Papua adalah langkah tepat untuk menunjukkan pada tetangga kulit putih itu bahwa kita bisa melakukan strategi militer secara mandiri dan terukur.  Tidak pakai sekutu-sekutuan sebagaimana model keroyokan yang dilakukan oleh AS dan Australia terhadap musuh politik hegemoninya.  Papua adalah bagian tulang dan daging NKRI yang tak terpisahkan. RI berhak melakukan kawalan militer terhadap seluruh wilayah teritorinya termasuk  Papua.  Apakah kita pernah meributkan ketika Aborigin menyampaikan unjuk rasa kekecewaannya pada Pemerintah Australia.  Lha mengapa dia mesti repot-repot menjadi pahlawan kesiangan ngurusin soal Papua.

Mencermati dinamika perkembangan kawasan di sekeliling kita salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat “infrastruktur” militer.  Oleh sebab itu upaya Pemerintah bersama DPR yang seia sekata untuk membangun alutsista TNI harus terus kita kawal dan kumandangkan.  Perkuatan militer adalah untuk menambah bobot kewibawaan dalam setiap diplomasi disamping memagari teritori dari setiap upaya untuk mengganggu apalagi melecehkannya.  Sudah saatnya kita menampilkan kewibawaan diplomasi dengan kekuatan tawar yang minimal setara.  Bobot kekuatan tawar itu ada pada kekuatan militer.  Sekali lagi bukan untuk mengajak berkelahi melainkan sebagai bagian dari kelengkapan postur diri yang tegap berwibawa tetapi tetap santun dalam bersikap dan bertutur sapa.  Bukankah selama ini kami tidak pernah memulai perkara.  Makanya jika anda ramah kami hormat, anda marah  kami lumat.
******
Jagvane / 03 Jan 2013



Wednesday, January 2, 2013

APA SETELAH INI ?


Tahun 2013 ini merupakan tahun penantian yang dinanti untuk menyambut kedatangan berbagai jenis alutsista yang telah dipesan sebelumnya. Kedatangan berbagai jenis alutsista untuk TNI tahun 2013 sampai dengan tahun 2014 merupakan gelombang kedatangan yang diniscayakan mampu memberikan kebanggaan dalam upaya menggagahkan garda republik.  Berbagai kesatrian TNI dari segala matra sedang mempersiapkan “resepsi pernikahan” antara batalyon mereka dengan pengantin yang dinanti bernama alutsista.

Pertanyaan Kemudian yang menggema tentu apakah cukup sampai disini atau apa setelah ini atau adakah selain yang ini.  Kalau melihat pernyataan dari decision maker di Kemhan dan Mabes TNI, kalimat yang selalu keluar adalah : Sampai tahun 2014 MEF (Minimum Essential Force) akan mencapai nilai target 30-35% dari kebutuhan yang direncanakan.  Maka secara matematis pengadaan alutsista apakah itu beli utuh dari luar negeri atau melalui transfer teknologi atau produksi dalam negeri akan tetap berjalan sampai tahun 2024.
MBT Leopard Jerman dalam sebuah manuver
MEF yang mencapai kisaran 30-35% tahun 2014 dipastikan akan berganti figur pemerintahan.  Presiden Sby tidak lagi menjabat presiden setelah itu sehingga kalkulasi penyelesaian lanjutan pengadaan alutsista untuk MEF sampai dengan tahun 2024 masih berupa persimpangan.  Namun kalau berhitung secara indikator makro ekonomi dengan prediksi kekuatan PDB tahun 2014 dan pertumbuhan ekonomi yang stabil tinggi seperti yang terjadi selama 8 tahun terakhir ini maka besaran nominal belanja militer juga ikut terangkat nilainya meski persentase rasionya tetap.  

Menurut pemerhati pertahanan dari UI Andi Widjajanto untuk tahun 2014 nanti anggaran pertahanan RI yang terdiri dari belanja rutin dan belanja alutsista diprediksi akan mencapai angka 120 trilyun rupiah.  Sementara untuk tahun 2019 diprediksi mencapai 190 trilyun rupiah.  Jadi mestinya dengan indikator pertumbuhan ekonomi dan pertambahan PDB serta kekuatan daya beli (APBN) yang terus cemerlang, tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan modernisasi alutsista TNI seusai MEF yang diinginkan, meski berganti figur kepemimpinan RI-1.

Sekarang secara jangka pendek, meski masih jauh, tentu perhitungan anggaran tahun anggaran 2014 dilakukan tahun 2013 ini demikian juga perhitungan anggaran 2015 dikalkulasi tahun 2014.  Artinya masih ada dua tahun anggaran yang diproses oleh pemerintahan eksisting. Meskipun diantara semua perhitungan anggaran itu tentu ada yang multi years seperti pengadaan PKR 10514, maksudnya pagu anggarannya dibebankan selama 3-4 tahun.  Tetapi logikanya mosok gak ada lagi yang mau dibeli selama dua tahun anggaran itu.  Pasti ada dong, lalu apa kira-kira alutsista yang mau dibeli itu.
Barisan Tank Amfibi menuju embarkasi
Prediksi optimis kita masih banyak yang ada dalam daftar belanja alutsista untuk kebutuhan MEF.  Salah satunya kita meyakini akan ada pengadaan 2 kapal selam dari negara yang berbeda, selain Korsel yang sudah teken kontrak 3 Changbogo.  Disamping itu Angkatan Laut yang akan memekarkan armadanya dengan 3 armada tempur tentu memerlukan tambahan kekuatan KRI yang signifikan termasuk kapal selam.  Misalnya armada barat dan timur masing-masing memerlukan 60 kapal perang berbagai jenis ditambah dengan armada pusat dengan kekuatan 80 KRI itu berarti secara keseluruhan harus ada 200 KRI.  

Sementara saat ini diperkirakan baru tersedia 140-145 KRI.  Jika 3 KCR 60 buatan PAL, 3 LST, 2 BCM, 1 kapal latih, 3 KCR 40 Palindo dan 3 light fregat Nachoda Ragam Class bergabung sampai tahun 2014 hitung-hitungannya baru tersedia 155-160 KRI.  Terus kekurangan 40 kapal perang itu bisakah dipenuhi dalam MEF tahap II tahun 2015-2019 karena selama periode itu tentu ada juga KRI yang memasuki masa pensiun.  Sementara MEF tahap I 2010-2014 kita hanya mampu menambah 15-20 KRI. Pertambahan KRI di MEF II mudah-mudahan akan memberikan keseimbangan antara pertambahan KCR dan PKR termasuk kapal selam sesuai dengan mekarnya armada.

Angkatan Udara dengan kekuatan 16 Sukhoi, 34 F16, 16 T50 Golden Eagle, 16 Super Tucano, 32 Hawk dan 12 F5E pada tahun 2014 tentu belum masuk kategori gahar tetapi cukup memadai dalam menjaga kontrol udara dan kewibawaan dirgantara RI.  Namun untuk menghadapi perkembangan situasi kawasan regional yang tidak pasti di masa depan seperti konflik Laut Cina Selatan, perkembangan militer Cina dan India kita tidak puas dengan sejumlah alutsista diatas. 
Bersiap menuju latihan Armada Jaya 2012
Bukankah Presiden kita pernah mengatakan di depan Universitas Utara Malaysia baru-baru ini ketika menerima penghargaan Doktor HC, tidak ada jaminan di masa depan bahwa di kawasan ASEAN tidak akan terjadi perang.  Oleh karena itu kita perlu memperkuat kekuatan pukul udara yang membanting dengan tambahan minimal 2 skuadron jet tempur dari marga Sukhoi untuk pemenuhan kebutuhan jet tempur kelas berat.  Dari jet tempur kelas welter masih dibutuhkan setidaknya 2 skuadron jet tempur dari jenis Rafale atau Typhon sembari menunggu kedatangan jet tempur produksi bersama RI_Korsel IFX mulai tahun 2020.

Angkatan Darat juga masih banyak yang harus dipenuhi.  Tidak cukup hanya dengan 100 MBT Leopard.  Mestinya setiap pulau besar harus ada minimal 2 batalyon MBT.  Termasuk dalam penyediaan rudal anti serangan udara, tidak lagi berorientasi rudal “Blok M-Harmoni” tetapi sudah mulai dipikirkan rudal dari jenis AKAP (antar kota antar provinsi) alias rudal jarak sedang.  Yang membanggakan tentu perkembangan Roket Lapan yang sudah menuju 3 digit dan tahun ini akan diuju coba.  Gabungan teknologi jarak tembak roket Lapan dikombinasi dengan teknologi rudal C705 akan memberikan kekuatan berlipat untuk pertempuran pre emptive strike.

Yang terpenting dari semua itu adalah mempertahankan konsistensi alias istiqomah dalam upaya mendandani militer kita dengan alutsista modern yang tidak hanya berkualitas tetapi juga bernilai kuantitas.  Inilah pekerjaan MEF dengan halte 2014 sebagai koridor pergantian kepemimpinan.  Ini juga titik kritis yang memang harus dilalui sebagai konsekuensi negara demokrasi.  Kita meyakini RI-1 after 2014 adalah sosok yang mampu melihat cakrawala pandang yang bisa melihat perkuatan militer sebagai bagian yang tak tergantikan dalam mengusung nilai-nilai kewibawaan diplomasi dan harkat kedaulatan negara.

Memahami perkuatan persenjataan militer sebagai bagian dari kebutuhan negara modern yang melaju maju merupakan perspektif cemerlang untuk mengantisipasi segala cuaca ekstrim yang mungkin terjadi.  Benar, tidak ada jaminan tidak akan ada perang di kawasan ini meski semua negara anggota ASEAN sudah merenda sulaman kebersamaan dalam harmoni.  Maka perkuatan persenjataan itu adalah untuk mengawal dan memastikan perjalanan bangsa untuk siap menghadapi kondisi terburuk.  Keandalan persenjataan militer adalah bagian dari nilai kewibawaan yang dibangun untuk memberikan peran dan pesan diplomasi yang jelas dan lugas.
*****
Jagvane / 02 Jan 2013

Sunday, December 16, 2012

Renungan Dua Tahun, Menggemuruhkan Semangat Beralutsista


Desember ini genap sudah dua tahun hadirnya blog analisis alutsista di layar maya kita dengan jumlah kunjungan lebih dari sejuta pembaca.  Selama itu pula banyak tulisan yang sudah dihadirkan, disimak dan dibaca pembaca bahkan tidak sedikit diantaranya sudah dipublikasikan di media cetak surat kabar dan majalah militer.  Selama itu pula sudah banyak jenis kelamin komentar, tanggapan dan ungkapan yang dicetuskan.  Dan yang menggembirakan tentu saja semua celotehan tertulis yang dilontarkan pembaca via dialog on line atau email sebagian besar bernilai positif, bersemangat kuat untuk mendukung pembangunan kekuatan tentara sekaligus membangkitkan semangat patriotik nasionalis untuk bangga memiliki militer yang kuat.

 
Namanya juga analisis tentu perlu waktu untuk menyelesaikan sebuah tema bahkan karena kehabisan “tinta ide” tulisan yang sudah punya judul pun kadang hanya mampu terselesaikan tiga paragraf lalu buntu sehingga tak jadi layak tayang.  Namun tentu saja ilham dari semua tulisan ini adalah keinginan untuk menyampaikan pesan dalam bingkai semangat berbangsa bersama pita nasionalisme dengan pilar utama kecintaan terhadap insitusi garda republik yang selalu setia mengawal perjalanan negara kepulauan terbesar ini.

Eksistensi negara ini terkait dengan menjaga nilai kedaulatannya ada di garda republik.  Apakah dia bernama Angkatan Darat, Laut dan Udara.  Ketika kita sedang lelap di jam 2 dinihari banyak yang tak tahu (atau tak mau tahu) bahwa di sebuah perairan perbatasan kapal perang kita sedang beradu tegang dengan kapal perang negara lain yang coba memasuki perairan tanpa ijin.  Atau di sebuah titik perbatasan darat 1 pleton pasukan TNI AD sedang berjuang melawan ganasnya rimba perbatasan yang diguyur hujan deras demi menjaga patok batas NKRI.  Atau di layar kaca besar beberapa personil radar TNI AU sedang memelototi titik-titik yang bergerak di layar monitor, mungkin ada  penyusup tak dikenal. 

Semua itu dilakukan untuk menjaga kewibawaan dan kedaulatan rumah gadang yang bernama Indonesia ini dari gangguan dan ancaman negara lan.  Kita sebagai penghuni rumah besar itu bisa tidur nyenyak dan tenteram karena adanya garda tepublik yang menjaga teritori negara ini.  Sayangnya banyak anggapan yang bersemayam di benak kita, karena suasana aman tenteram saja, tidak terjadi apa-apa, bisa bangun tidur jam 4 pagi lalu sholat Subuh di Masjid dengan damai, maka rutinitas itu tidak menganggap kinerja pengawal republik sebagai nilai.  Padahal kehadiran militer yang mengawal 24 jam negeri ini adalah bagian dari penegakan eksistensi dan kedaulatan serta menjaga ketenangan masyarakat di semua pulau negeri.

Ketika menuangkan ide menjadi peduli dan melukiskannya dalam rangkaian kata yang membentuk kalimat dan paragraf, jalan yang dikumandangkan adalah menyisir sisi-sisi dimensi untuk merenda jalan komunikasi yang bersudut pandang positif thinking.  Mengedepankan semangat solusi dan membangun kebersamaan bersemangat memiliki garda republik yang kuat dan disegani.  Inilah sudut pandang itu dan kita meyakini dengan menyulam semangat itu keniscayaan yang didapatkan adalah mengajak kita untuk senantiasa membasuh wajah di air bening danau dan melemparkan pandangan mata teduh di sekeliling nuansa hijau, tentu dengan lantunan syukur atas semua karunia.  Ya kita patut mensyukuri semua itu, tanah air yang penuh pesona, keragaman etnis yang mengagumkan, jumlah penduduk yang besar, petumbuhan ekonomi yang stabil dan tinggi, menuju kekuatan ekonomi sepuluh besar dunia.  Mestinya kita bangga sebagai bangsa yang didirikan dengan semangat nasionalisme yang tinggi yang kemampuan ekonomi dan diplomasinya mulai dilirik dunia internasional.

Sejalan dengan itu perkuatan milter memberikan ruang kelegaan yang membeningkan sekaligus membanggakan.  Berpuluh tahun kita sesak nafas melihat garda republik punya senjata ala kadarnya, seperti tak mampu menegakkan kepala manakala melihat negara lain berupaya memodernisasi angkatan bersenjatanya.  Jujur diakui sebagai penulis kita merasa miris manakala kekuatan  alutsista kita yang mestinya berpredikat gentar, berubah menjadi kekuatan gemetar ketika negara lain show of force meremehkan kekuatan militer kita.  Bagaimana tidak gemetar negara tetangga punya F15, F16 CD, F18 Hornet, Sukhoi sementara kita hanya punya 10 F16 butut yang terseok-seok kena embargo dan harus saling kanibal.

Itulah sejarah kekurangan gizi militer kita.  Dua tahun ini sinar cerah sudah melintas jelas di cakrawala pandang, sembari menanti kedatangan berbagai jenis alutsista modern untuk menggagahkan garda republik.  Dua tahun ini pula blog ini hadir mengiringi semangat mengantar keperkasaan tentara kita untuk menjadi pengawal yang bergizi dengan beragam menu alutsista yang dihidangkan. Tentu dalam menulis analisis ini, sudut pandang subyektivitas selalu ada dan bahkan kadang terlalu hiperbola.  Tetapi sesungguhnya genggaman yang ingin dikepalkan adalah keinginan yang kuat agar perkuatan alutsista tentara kita mampu memberikan spirit dalam beralutsista tidak saja untuk kalangan militer tetapi juga rakyat yang memilik tentara itu. Kita akan terus menulis dengan semangat menggagahkan itu. Kita akan terus menuangkannya dengan semangat kebersamaan itu. Kita akan terus menghidangkannya dengan semangat keikhlasan itu. Semoga Allah SWT selalu memberikan ridhoNya untuk kita semua,amien.  Jayalah tentaraku.

********
Jagarin Pane (jagvane@gmail.com)/ 16 Desember 2012