Thursday, August 4, 2011

KEKUATAN MILITER RI RANKING 18 DUNIA

Unjuk Kualitas Prajurit TNI
Sebuah analisis yang dipublikasikan Global Fire Power belum lama ini memberikan evidence yang obyektif untuk menunjukkan peta kekuatan militer negara-negara di seluruh dunia.  Berdasarkan uji data yang mendukung kekuatan militer, daya tahan, stamina dan survival yang mendukungnya, Indonesia berada pada tempat terhormat, di urutan ke 18, menduduki puncak klasemen di kawasan ASEAN, bahkan mengungguli kekuatan Australia yang ada di posisi ke 24 ranking militer seluruh dunia.  

Urutan 10 besar ranking militer se dunia dipegang secara berturut-turut : AS, Rusia, China, India, Inggris, Turki, Korsel, Perancis, Jepang dan Israel.   Kemudian urutan 11 sampai dengan 20     besar adalah Brasil, Iran, Jerman, Taiwan, Pakistan, Mesir, Italia, Indonesia, Thailand dan Ukraina.  Ranking negara ASEAN yang lain adalah Filipina ada di posisi ke 23, Malaysia posisi ke 27, Singapura ke 41.

Analisis ini memberikan sebuah definisi tentang peta kekuatan militer yang sesungguhnya, tidak terfokus pada keunggulan jumlah pesawat tempur atau kapal combatan seperti yang selama ini menjadi opini publik.  Itu sebabnya walaupun Singapura punya kekuatan pesawat tempur terbanyak di ASEAN, negara pulau itu tetap tidak mampu mengungguli Malaysia, Filipina dan Indonesia.  Indikator kekuatan alutsista bukan merupakan faktor penentu keunggulan militer sebuah negara.

Kita selama ini terpengaruh dengan opini psikologis bahwa  Jakarta akan hancur dalam waktu dua jam jika diserang oleh pesawat tempur Singapura.  Padahal apa iya, ini kan negara kepulauan yang paling besar di dunia, punya 240 juta penduduk berkarakter nasionalis, sumber daya alamnya melimpah dan yang terpenting dalam strategi militer, negara kita terdiri dari ribuan titik pertahanan. Bandingkan dengan negara pulau itu, hanya beberapa titik di sebuah pulau.  Secara hankam, pulau itu lebih mudah ditaklukkan.  Yang jelas angkatan udara tidak menjadi faktor utama untuk memenangkan pertempuran karena ibu dari segala perang adalah angkatan darat.  
                                                                                                                  
Sekedar perbandingan, berikut disampaikan peta kekuatan militer antara Indonesia dan Malaysia berdasarkan analisis Global Fire Power :
Negara                                 INDONESIA                      MALAYSIA          Ranking                                   18                                      27
Total Population                         245,613,043                                        28,728,607
Military Manpower Available        129,075,188                                        14,817,517
Fit for Military Service                 107,538,660                                        12,422,580
Reaching Military Age Yearly           4,455,159                                            519,280
Active Military Personnel                    438,410                                            124,000
Active Military Reserves                      400,000                                           640,199
Total Aircraft                                           510                                                 258
Total Land-Based Weapons                     1,577                                              2,465
Total Naval Units                                      136                                                  65
Towed Artillery                                          59                                                  54
Merchant Marine Strength                       1,244                                                 321
Major Ports and Terminals                            9                                                    5
Aircraft Carriers                                           0                                                    0
Destroyers                                                   0                                                   0
Frigates                                                       6                                                   4
Submarines                                                  2                                                  2
Patrol Coastal Craft                                     31                                                 37
Mine Warfare Craft                                      12                                                  4
Amphibious Operations Craft                         8                                                  1
Defense Budget                       $4,740,000,000                             $3,500,000,000
Foreign Reserves                    $96,210,000,000                         $106,500,000,000
Purchasing Power              $1,030,000,000,000                         $414,400,000,000
Oil Production                            1,023,000 bbl                                  693,700 bbl
Oil Consumption                        1,115,000 bbl                                   536,000 bbl
Proven Oil Reserves             4,050,000,000 bbl                          2,900,000,000 bbl
Roadway Coverage                        437,759 km                                    98,721 km
Railway Coverage                              5,042 km                                     1,849 km
Waterway Coverage                         21,579 km                                     7,200 km
Coastline Coverage                         54,716 km                                      4,675 km
Major Serviceable Airports                         684                                              118
Square Land Area                        1,904,569 km                                 329,847 km
Total Labor Force                          116.500.000                                  12.200.000

Dari data diatas beberapa catatan bisa kita letakkan pada kondisi terkini, misalnya posisi cadangan devisa RI saat ini sudah mencapai  $ 122.000.000.000,- (Akhir Juli 2011), jumlah KRI saat ini  berkisar 152 unit.  Kapal-kapal yang berstatus KAL, KKP dan Polisi Air tidak diperhitungkan oleh GFP, padahal kapal-kapal jenis ini ikut berperan dalam patroli keamanan laut atau patroli pantai (Patrol Coastal Craft).  Kemudian komponen cadangan (Active Military Reserves) jumlahnya bisa melebihi perhitungan GFP jika Satuan Pengamanan, Satuan Polisi Pamong Praja, Pertahanan Sipil masuk dalam perhitungan.

Analisis GFP yang disajikan merupakan evidence yang cukup obyektif dan terbarukan, mampu menyajikan data terkini yang memberikan gambaran menyeluruh dari kekuatan militer sebuah negara berdasarkan kekuatan sumber daya militer,  sistem persenjataan,  kekuatan armada angkatan laut, dukungan logistic dan sebaran pangkalan,  sumber daya alam untuk survival, dukungan financial dan kondisi geografis.  Yang menarik kekuatan pesawat tempur digabung dengan sistem persenjataan lain apakah itu pesawat angkut, helikopter, tank, panser, artileri yang menjadi kekuatan angkatan darat.  Sementara kekuatan angkatan laut menjadi faktor terpisah dan memberikan kontribusi real pada kekuatan militer sebuah negara.

Nah, semakin jelas bahwa kita adalah yang terbaik di kawasan ini dalam ranking kekuatan militer.  Oleh sebab itu kita perlu mengeliminir opini-opini psikologis yang mengunder estimate kekuatan TNI, seakan-akan TNI yang paling lemah, seakan-akan TNI tak mampu mengatasi serangan udara Singapura, seakan-akan TNI tak mampu mengawal teritori NKRI. Dalam kondisi minimum essential force yang belum tercapai militer kita ternyata mampu menduduki ranking 18 dunia.  Padahal mulai tahun 2012 sd tahun 2014 saja akan berdatangan setidaknya 60 pesawat tempur baru berbagai jenis,  15 pesawat angkut berbagai jenis, 55 Heli tempur berbagai jenis,  30 Kapal Cepat Rudal, 3 Kapal Selam, 2 Fregat, ratusan Tank dan Panser berbagai jenis.  Belum lagi proyek rudal surface to surface, surface to air, rudal anti tank dan ribuan roket Rhan produksi dalam negeri.

Ini artinya peluang untuk meningkatkan ranking militer itu sangat terbuka.  Namun lebih dari itu, kita harus selalu percaya diri dengan kemampuan hulubalang pengawal negara kita, dengan semangat tempurnya, dengan kualitas prajuritnya yang selalu mengungguli tentara negara jiran.  Sekali lagi militer kita adalah yang terunggul diantara para jiran.  Dan itu harus kita rawat dan pelihara dengan suplai alusista yang modern dan menggentarkan. Dan itu harus konsisten dan berkesinambungan,-
****
Jagvane / 4 Agustus 2011

Wednesday, July 27, 2011

Manuver 12 Kapal Selam RI Memaksa Belanda Angkat Kaki dari Papua

Kapal Selam Indonesia KRI Cakra 401
Armada kapal selam RI yang tergabung dalam operasi Jayawijaya untuk mengambil paksa Papua yang dikuasai Belanda tahun 1962, memberikan andil besar dan menjadi kekuatan penggentar utama ciutnya nyali tempur Belanda.  Dimulai dengan kedatangan dua kapal selam pertama RI dari Rusia via Polandia tiba tanggal 12 September 1959 dari kelas Whiskey yaitu KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 403.  Waktu itu istilah KRI masih disebut dengan RI.  Berikutnya datang lagi 4 kapal selam pada bulan Januari 1962  masih dari kelas yang sama, yaitu KRI  Nagabanda 407, KRI Trisula 402, KRI Candrasa 408 dan KRI Nagarangsang 404. 

Kloter terakhir berupa 6 kapal selam diterima bulan Desember 1962 yaitu KRI  Wijayadanu 409, KRI Hendrajala 405, KRI Bramastra 412, KRI Pasopati 410,  KRI Cundamani 411 dan KRI Alugoro 406.  Enam kapal selam yang terakhir ini sebenarnya berangkat dari Vladivostok Rusia bulan Juli 1962 namun ketika sampai di perairan laut Sulawesi diperintahkan langsung ke perairan Papua via Morotai dan langsung diawaki oleh pelaut Rusia.  Awaknya sendiri dari TNI AL sebenarnya sudah ikut pelatihan awak kapal selam di Vladivostok, dan pulang ke Surabaya naik kapal penumpang.  Itu sebabnya penyerahan 6 kapal selam ini baru dilakukan Desember 1962 di Surabaya ketika konflik Trikora sudah selesai.

Mengapa demikian, karena Komando Mandala sedang mempersiapkan operasi gabungan amphibi untuk menyerbu Biak pada bulan Juli 1962 dengan target tanggal 17 Agustus 1962 bendera Merah Putih sudah bisa dikibarkan di bumi Papua.  Begitu instruksi Presiden Soekarno pada Mayjen Soeharto selaku Panglima Mandala.  Jauh hari sebelum hari H itu, manuver kapal selam RI membuat armada kapal perang Belanda berdebar kencang karena Whiskey Class itu seperti hantu laut, terasa ada terdengar tidak apalagi terlihat.

Operasi kapal selam RI yang penuh rahasia sangat mengkhawatirkan armada Belanda yang menjaga perairan Papua. Belanda memang unggul dalam informasi elektronika dan informasi intelijen dalam konflik ini, namun tak berdaya menghadapi manuver armada kapal selam RI.  Mirip sosok monster yang setiap saat muncul menembakkan torpedo mautnya yang paling modern pada saat itu. Armada kapal selam RI berperan besar dalam menyusupkan pasukan TNI ke daratan Papua. Salah satunya operasi penyusupan pasukan komando RPKAD melalui kapal selam  KRI Tjandrasa berhasil mendaratkan 15 pasukan komando RI di teluk Tanah Merah Papua pertengahan Agustus 1962.

Belanda sejatinya masih mengharapkan bantuan dari AS dan Australia dalam mempertahankan eksistensinya di tanah Papua jika terjadi perang terbuka dengan Indonesia. Namun berdasarkan informasi intelijen yang dilakukan Armada ke 7 AS yang berpangkalan di Teluk Subic Filipina, konflik terbuka antara Indonesia versus Belanda akan mempermalukan bangsa Eropa / Barat karena sangat memungkinkan Indonesia (sebagai bangsa Asia) akan memenangkan pertarungan paling berdarah ini, jika terjadi.

Pada saat yang sama AS juga sedang bergumul di Perang Vietnam, tentu AS tidak mau membuka front kedua membantu Belanda sebagai sekutunya selama ini. Hasil pemantauan berupa gambar sangat mencengangkan AS bahwa Indonesia sedang mempersiapkan penyerbuan besar-besaran ke Biak.  Setidaknya di Teluk Peleng (Sulawesi) telah bersiap hampir seratus kapal perang RI baik combatan, angkut pasukan, logistik dan tanker.  Sementara seratusan pesawat tempur Mig 15, Mig 17, Mig 19, Mig 21 serta pesawat pembom Il-28 dan Tu-16 sudah stand by di pangkalan Madiun, Makassar, Manado, Morotai, Ambon, Tual.  Dari semua kekuatan taring yang dimiliki RI saat itu, kekuatan 12 kapal selam yang lalu lalang di perairan utara Papua  sejak  Mei sampai dengan Agustus 1962 merupakan pusat kegentaran armada Belanda yang dipimpin kapal induk Karel Doorman.

Kekuatan armada kapal selam RI yang dipusatkan di teluk Kupa-Kupa Maluku Utara merupakan satuan pemukul strategis yang berada diluar konvoy kapal perang RI.  Satuan ini bergerak lebih dulu, siluman, mencari dan menemukan kemudian menembakkan torpedo paling canggih saat itu SAET-50 homing torpedo pada setiap kapal perang Belanda yang ditemui mereka. Armada kapal perang Belanda tidak mampu mendeteksi kehadiran Whiskey Class RI karena kesenyapannya berdiam diri di kedalaman 150 meter berhari-hari. 

Waktu berjalan terus, persiapan perang terbuka semakin intensif, hari H penyerbuan telah ditetapkan 12 Agustus 1962, manuver kapal selam RI semakin giat melakukan operasi pengintaian terhadap target. Penyusupan pasukan melalui udara semakin sering dilakukan sebagai bagian dari mata dan telinga di kantong musuh pada saat penyerbuan nanti.

Kegentaran Belanda dengan situasi kritis ini dan statemen Presiden John F. Kennedy agar Belanda segera meninggalkan Papua memberikan angin segar bagi diplomasi RI yang dipimpin Adam Malik.  Beberapa hari sebelum tanggal 17 Agustus 1962 Belanda bersetuju dengan gencatan senjata yang diberi sandi Awan Terang.  Oleh Pemerintah RI gencatan senjata resmi diberlakukan tanggal 18 Agustus  1962 namun Komando Mandala baru memperlakukan Awan Terang tanggal 25 Agustus 1962. Sejarah kemudian mencatat Papua diserahkan ke Indonesia  melalui PBB yang disebut UNTEA (United Nation Temporary Execution Authorities). 

Tahapannya 1 Oktober 1962 Bendera Belanda diturunkan di tanah Papua, diganti dengan Bendera PBB.  Tanggal 2 Oktober 1962 bendera Belanda dinaikkan lagi bersama bendera PBB sampai tanggal 31 Desember 1962.  Bendera Merah Putih berkibar 1 Januari 1963 bersama bendera PBB kemudian pada tanggal 1 Mei 1963 bendera PBB diturunkan, bendera Merah Putih berkibar sendirian, penanda resmi  tanah Papua kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Catatan sejarah yang sering dilupakan orang adalah sebab-sebab terjadinya persetujuan melalui jalur diplomasi adalah kekuatan militer sebagai penggentar.  Tidaklah mungkin akan tercapai persetujuan pengembalian Papua jika Indonesia tak membangun kekuatan militer secara besar-besaran pada waktu itu termasuk kehadiran 12 kapal selam siluman yang menggentarkan itu.  Catatan penting lainnya adalah dalam kondisi ekonomi yang serba kurang waktu itu, Indonesia sanggup membangun kekuatan militer yang paling disegani di bumi selatan Asia, menghadirkan 12 kapal selam hanya dalam waktu 2-3 tahun.  Bandingkan dengan sekarang yang kondisi ekonomi kita jauh lebih kuat dan gagah, mau mendatangkan 3 kapal selam “kelas welter ringan” saja prosesnya mbulet sampai lima tahun.  Sebenarnya kalau kita mau kita bisa setara dengan era Trikora dulu, punya 12 kapal selam bahkan lebih. Kalau kita mau, pertanyaannya adalah apakah kita mau.  Kalau memang ada kemauan pasti ada jalannya, kata pepatah, tetapi apakah kita memang mau.

*******
Jagvane / 27 Juli 2011

Sunday, July 17, 2011

Doktrin Perang TNI Memang Harus Berubah

Barisan Tank TNI AD dalam sebuah Latgab
Panglima tertinggi TNI yang juga orang nomor satu di negeri kepulauan ini sudah menjelaskannya di pusat pendidikan perwira gagah, Akademi Militer Magelang   tanggal 13 Juli 2011, dihadapan para pemegang komando tempur dan teritorial  TNI. Sudah saatnya doktrin pertahanan atau yang lazim disebut doktrin perang TNI diubah disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan yang bergerak dinamis.  Doktrin yang selama ini dipegang adalah membiarkan halaman perairan dimasuki dan dikuasai musuh dengan sedikit perlawanan, baru setelah sampai di darat musuh digebuk, kalau masih kalah juga, lari ke pegunungan lalu melakukan perang gerilya yang berlarut.  Bah, macam mana pula ini.

Konsep tarung demikian sudah harus tutup buku dan diganti dengan doktrin garang menggebuk lawan yang mencoba masuk dimanapun dia mau masuk, hancurkan sebelum masuk. Ini yang disebut dengan doktrin pre emptive strike atau menghalau musuh sejauh mungkin dari teritori tanah air, dari daratan utama.  Dalam tulisan-tulisan sebelum ini kita sudah sering mengatakan perlunya pola masuk dulu baru digebuk diganti dengan gebuk duluan sebelum masuk. Mengapa demikian karena persoalan utama dari sengketa antar negara kini dan yang akan datang didominasi oleh penguasaan energi tak terbarukan yang berada di wilayah laut biru.  Untuk negara kita disamping laut biru tadi juga ada di beberapa pulau utama seperti Papua dan Kalimantan.

Doktrin perang model semi ofensif ini tentu memerlukan kekuatan alutsista besar dan pangkalan militer yang bersifat menyebar, utamanya pangkalan Angkatan Udara dan pangkalan Angkatan Laut.  Disamping itu mutlak diperlukan armada tempur laut dan skuadron tempur udara yang dapat diandalkan sebagai kekuatan pukul menggentarkan. Pembentukan tiga armada TNI AL dan tiga divisi Marinir tidak bisa ditawar lagi dengan membaginya menjadi armada barat, armada tengah dan armada timur. Demikian juga pemenuhan kebutuhan minimal 10 Skuadron tempur dengan pesawat tempur multi peran harus tersedia.

Contoh di kawasan barat RI, Natuna, bisa dijadikan pangkalan utama  bersama Tanjung Pinang dan Belawan. Di masing-masing tiga pangkalan utama ini  minimal harus tersedia  5 Fregat, 9 Korvet, dan 15 Kapal Cepat Rudal yang benar-benar ber home base disana, bukan BKO atau dikendalikan Surabaya.  Minimal 3 kapal selam disediakan untuk mengawal perairan selat Malaka, Selat Singapura dan Natuna.  Dengan kata lain untuk armada barat diperlukan ketersediaan kapal combatan berupa 15 Fregat, 27 Korvet dan 45 Kapal cepat Rudal serta 3 kapal selam.  Tiga pangkalan utama ini didukung oleh pangkalan  pratama seperti Lhok Seumawe, Sabang, Teluk Bayur, Dumai dan Mempawah sebagai area patroli gugus tempur laut armada barat TNI AL.

Sementara untuk armada tengah  setidaknya ada 4 pangkalan utama AL yaitu di Jakarta, Surabaya, Makassar dan Tarakan.  Posisi armada tengah harus merupakan yang terkuat dari 2 armada lainnya dan dimasing-masing pangkalan harus tersedia minimal 6 Fregat, 12 Korvet, dan  16 Kapal Cepat Rudal.  Isian KRI untuk armada tengah dengan kapal tempur  24 Fregat, 48 Korvet, 64 Kapal Cepat Rudal ditambah dengan unsur 4 kapal selam.  Ke empat pangkalan utama ini didukung oleh pangkalan pratama yaitu  Semarang, Panjang, Cilacap, Benoa, Balikpapan, Bitung.

Pangkalan AL armada timur dipusatkan di Ambon, Kupang dan Merauke.  Tiga pangkalan utama ini berada di lokasi laut dalam.  Oleh sebab itu diperlukan kapal jenis Fregat dan Korvet.  Masing-masing pangkalan diisi dengan  6 Fregat dan 10 Korvet.  Dengan demikian armada timur memerlukan minimal 18 Fregat dan 30 Korvet dengan dukungan  3 kapal selam.  Sementara untuk Kolinlamil (Komando Lintas Laut Militer dipusatkan di dua pangkalan yaitu Jakarta dan Makassar dengan kapal jenis LST, LPD, LHD, Tanker dan kapal RS.

Untuk matra darat juga perlu memperkuat diri dengan menambah satuan tempur berupa batalyon rudal untuk menjaga garis pantai dari serbuan amphibi.  Misalnya menempatkan batalyon rudal anti kapal di Natuna dan Batam, bisa dari jenis Yakont sebagaimana yang telah dilakukan Vietnam untuk menjaga garis pantainya.  Penempatan rudal surface to surface made in Pindad-Lapan perlu dilakukan di Bengkalis, Rupat dan Bintan, Kalimantan Barat dan Bunyu.  Jangan lalai menempatkan beberapa batalyon rudal untuk mengamankan pantai selatan Jawa sebagaimana pernah diulas dalam tulisan sebelum ini (baca: Jangan Remehkan Selatan Jawa).  Mengapa demikian, selama ini perhatian hankam kita hanya mikirin selat Malaka, Natuna dan Ambalat. Pantai barat Sumatera dan pantai selatan Jawa kok kurang kuat pagarnya. Perkuatan matra darat di Papua, NTT, Kalimantan sudah dan sedang dilakukan.  Papua memerlukan minimal 3 brigade tempur lengkap, NTT minimal 1 brigade dan Kalimantan 6 brigade. 

Untuk matra udara harus diperkuat dengan minimal  3 skuadron Sukhoi (48 unit), 3 skuadron F16 (48 unit), 12 F5E, 36 Hawk100/200, 16 T-50, 16 Super Tucano an 40 Hercules. Pesawat early warning minimal tersedia 2 unit bersama 5 pesawat intai strategis maritim.  Sangat diperlukan rudal surface to air jarak sedang (hanud area) untuk pertahanan pangkalan yang dioperasikan Paskhas disamping rudal jarak pendek  (hanud titik) yang sudah tersedia.  Sebaran pangkalan pesawat tempur bisa dilakukan di Medan, Subang, Tarakan, Biak, Timika dan Kupang.  Sebaran pangkalan pesawat tempur saat ini ada di Madiun, Makassar, Pontianak, Pekanbaru dan Malang.

Sebaran kekuatan matra TNI dimaksudkan agar dapat bereaksi cepat dengan jarak tempur dan logistik lebih pendek jika terjadi konflik dengan negara lain yang ingin mengajak tarung dengan RI. Misalnya Ambalat, jika konflik pecah, pangkalan AL di Tarakan akan mampu memberikan kekuatan pukul yang menjerakan bagi pihak lawan.  Dengan tersedianya jumlah KRI berbagai jenis di pangkalan utama Tarakan yang ready for war, setidaknya akan membuat lawan berhitung cermat sebelum memulai konflik militer dengan RI.  Bahasa premannya gak berani ganggu kalau tak ingin babak belur.

Ongkos keamanan itu jangan dinilai dari jika terjadi sesuatu baru dirasakan benefitnya.  Jangan berfikir seperti itu.  Sama dengan jika rumah kita kemalingan baru kemudian jendelanya diberi teralis dan pintunya diberi palang pintu.  Itu artinya kita sudah rugi dua kali, ya kemalingannya ya ongkos bikin teralisnya.  Sudah guondokk karena hartanya kemalingan, tambah maning buat teralis, wis ya loro tenan.  Oleh sebab itu ongkos mengamankan teritori NKRI ini jangan dilihat dalam konteks insidentil belaka melainkan harus dilihat dalam horizon perspektif dan kewibawaan. Ongkos itu memang mahal karena rumah kita ini sangat besar, kaya sumber daya alam, strategis, cantik menarik menawan hati, kata sebuah lagu. Dan kita harus memulainya dari sekarang, tidak bisa tidak, termasuk merubah paradigma doktrin perang TNI.  Perubahan doktrin itu seirama dengan reformasi belanja berbagai alutsista untuk membentuk kekuatan pukul yang menggentarkan  diniscayakan akan memberikan kewibawaan kedaulatan NKRI. Nilai kewibawaan itu bisa dilihat dari keseganan jiran untuk melecehkan atau mengganggu teritori Indonesia.  Kewibawaan kedaulatan itu adalah ongkos yang paling murah dalam definisi menjaga keutuhan wilayah Republik Indonesia.  Coba renungkan dalam-dalam.

******
Jagvane / 17 Juli 2011

Wednesday, July 13, 2011

Uji Nyali di Laut Cina Selatan

Kawasan Konflik Laut Cina Selatan
Awalnya adalah di sebuah tanggal, 9 Juni 2011, di sebuah tempat di lepas pantai  timur Vietnam datang 3 kapal patroli Cina, mirip dengan awal kisah Ambalat, pekerja pembangunan mercu suar di Karang Unarang didatangi kapal angkatan laut Malaysia, lalu memukuli pekerja Indonesia.  Kapal patroli Cina melakukan provokasi, melarang sekaligus merusak peralatan survey kegempaan pada sebuah kapal Vietnam yang sedang melakukan eksplorasi kandungan minyak di kawasan itu.

Vietnam pun menyalak keras, pemerintahnya berteriak dan mengadu pada ketua ASEAN, rakyatnya yang patuh dan tak pernah demonstrasi diajak pemerintahnya untuk melakukan unjuk rasa menantang arogansi AL Cina di Laut Cina Selatan, lalu Angkatan Lautnya juga melakukan latihan perang di kawasan itu beberapa hari kemudian. Vietnam benar-benar marah dan segera kontak Moskow agar 5 kapal selam Kilo yang sudah dipesan, dipercepat pengirimannya tahun 2014 termasuk 8 Sukhoi batch terakhir. Silo-silo Yakhont  yang ada di sepanjang pantai Vietnam disiagakan, siap tarung dan diarahkan ke pulau Hainan yang persis ada di depan mata Vietnam. Di pulau itu militer Cina telah membangun pangkalan AL yang modern dan lengkap.  Arsenal artileri dan tank  Vietnam segera dikirim ke utara negeri itu untuk unjuk gigi lawan PLA di matra darat.

Filipina juga tak tinggal diam karena sebelumnya nelayan negeri itu paling sering diganggu dan diprovokasi kapal “nelayan” Cina yang sebenarnya merupakan kapal spionase Cina bersama beberapa kapal selamnya.  Konvoy ini yang selalu mengawasi kawasan perairan Lidah Naga yang diklaim Cina sudah menjadi milik nenek moyangnya Dinasti Han jauh sebelum tahun Masehi beredar. Pemerintahan Aquino Jr mengadu pada Uwak Sam dan segera melakukan peremajaan alutsista mendatangkan kapal fregat second dari AS termasuk pesawat tempur.

Dua insiden yang melibatkan Cina, Vietnam dan Filipina itu bergema keras dan mendapat perhatian serius dari “herder” lautan Pasifik, armada VII AS.  Maka kapal induk bertenaga nuklir USS George Washington dan kapal-kapal pengawalnya termasuk kapal selam bertenaga nuklir  yang sedang mengawasi Korut segera menuju selatan.  Di Filipina rombongan herder ini mampir dua jenak untuk memberikan semangat dan rasa tenang pada sahabat karibnya yang pernah menjadi  lokasi pangkalan induk dan aju armada VII AS yaitu Clark dan Subic. 

Filipina yang sedang tersengat semangat mempertahankan kedaulatannya segera mengoperasikan kembali kapal  destroyer RRP Rajah Humabon yang terkenal pada perang dunia II.  Bersama beberapa kapal perang yang dimilikinya, Rajah Humabon seakan ingin mempertontonkan keperkasaannya dulu, lalu bergabung dengan armada VII AS, dan mereka pun melakukan latihan tempur di perairan Spratly selama beberapa hari.  AS ingin menegaskan pada Filipina bahwa dia tak ingin berdiam diri jika sekutu tradisionalnya itu diancam Cina atau teritorinya di Spartly diambil paksa Cina.

Dari perairan Filipina armada kapal induk AS itu bergegas menuju selatan, lalu memasuki laut Natuna, Selat Karimata dan Selat Sunda.  Di kawasan teritori Indonesia USS George Washington menyapa TNI AL  sembari mengajak latihan bareng sambil melintas, makanya disebut Passex, passing exercise, latihan sambill lewat, bahasa budayanya kulonuwun gitu.  Maka TNI AL kirim KRI Diponegoro dan KRI Slamet Riyadi dan beberapa personil untuk ambil bagian dalam latihan bareng itu. Wakasal Laksamana Madya Marsetio dijemput khusus di Halim dan diterbangkan ke landasan USS George Washington. 

Tumben, kali ini kok baik hati sampai menjemput segala bahkan membolehkan wartawan TVOne melakukan liputan khusus di jeroan kapal induk itu.  Bandingkan dengan tahun 2003 ketika rombongan kapal induk AS melintas di laut Jawa, tepatnya di Bawean 5 pesawat tempur Hornetnya melakukan manuver provokasi dan membahayakan penerbangan sipil seakan ingin menanyakan “kesiapan” F16 kita yang pada waktu itu lagi apes-apesnya kena embargo.

Gerakan armada kapal perang AS itu yang melintas kawasan perairan ASEAN menyiratkan hasrat kuat dan tegas bahwa AS marah secara militer dengan cara Cina yang menggertak Vietnam dan Filipina dalam konflik di Laut Cina Selatan.  AS ingin menegaskan pada ASEAN bahwa Paman Sam masih merupakan payung yang bisa diandalkan sekalipun perkembangan militer Cina dan alutsistanya berkembang sangat pesat.  Kawasan Spratly dan Paracel memang sudah menjadi sengketa menahun antara Cina, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunai dan Taiwan.  Saat ini Vietnam menguasai 20 pulau di kepulauan Spratly, Filipina menguasai 8 pulau, Malaysia menguasai 3 pulau dan Brunai menguasai 1 pulau.

Cina memang sedang mempersiapkan kekuatan angkatan lautnya untuk menjadi kekuatan angkatan laut yang andal. Ini sesuai dengan arahan Presiden Cina Hu Jintao. Sebuah kapal induk sedang dikerjakan, puluhan fregat dibangun.  Saat ini kekuatan AL Cina  diperkuat dengan 21 kapal destroyer, 42 kapal fregat,  68 kapal selam, 121 kapal amphibi dan 368 kapal patroli.  Sementara AU nya diperkuat dengan 1.900 pesawat tempur berbagai jenis.  Baru-baru ini Cina mempertontonkan pesawat siluman J-20 yang diuji coba Januari 2011.  Untuk tahun anggaran 2011 ini saja Cina menggelontor PLA dengan kucuran dana sebesar $ 91,5 Milyar atau setara dengan 800 trilyun rupiah.  Target Cina adalah menjadikan tahun 2020 sebagai awal tahun keperkasaan angkatan laut Cina.

Meskipun begitu sebagai tes cuaca, Cina “merasa perlu” melakukan uji nyali dan provokasi pada beberapa tetangganya di kawasan Laut Cina Selatan sekaligus menguji adrenalin armada pasifik AS. Hasil tes menunjukkan bahwa para tetangganya ternyata tidak gentar menghadapi manuver AL Cina, bahkan armada angkatan laut AS juga membalas gertakan Cina dengan melakukan latihan perang bersama Filipina, Indonesia dan Australia.  Dalam waktu dekat dengan Vietnam juga akan dilakukan latihan perang laut dengan angkatan laut AS.

Bagi Indonesia, uji nyali di Laut Cina Selatan merupakan sebuah dinamika yang harus disikapi tegas dan lugas. Itu adalah halaman depan kita yang boleh jadi halaman perairan itu ikut terkena imbas konflik regional. Perkuatan militer di kawasan Natuna sudah dipersiapkan sejak lama dan harus ditingkatkan.  Pangkalan AU dan AL sudah beroperasi penuh.  Setiap hari ada patroli udara dengan beberapa sorti pesawat tempur, demikian juga dengan patroli angkatan laut.  TNI AL menempatkan beberapa KRI dari jenis Korvet dan KCR (Kapal Cepat Rudal) di Natuna dan Anambas.  Gejolak di kawasan ini memberikan keyakinan kuat bahwa untuk mengawal NKRI diperlukan kekuatan  alutsista TNI yang  modern, besar dan berwibawa.  Sudah saatnya pula kita  bergandeng tangan memberikan kekuatan pukul penuh pada pengawal republik agar ada kewibawaan pada kedaulatan negara kita.  

Sembari menunggu kedatangan berbagai jenis alutsista yang sudah dipesan (dan kita akan panen raya alutsista mulai tahun 2012), kita harus terus melangkah dengan pesanan-pesanan baru baik buatan dalam negeri maupun yang masih harus diimpor.  Jangan buruk sangka lebih dulu seperti yang disangkakan oleh sebuah LSM agar kita tak beli senjata dari Belarusia.  Terlalu pagi ngomongnya, atau ini bagian dari skenario persaingan antar produsen alutsista luar negeri, tepatnya persaingan antara makelar alutsista.

Perkuatan alutsista TNI adalah keniscayaan yang harus terus dikumandangkan dan dijalankan dengan istiqomah. Sudah dimulai sejak tahun 2010, Pemerintah melakukan reformasi alutsista secara besar-besaran. Kita semua wajib mendukung dan  membesarkan anak kandung kita, TNI, dengan alutsista yang tangguh karena jati diri TNI adalah  kedigdayaan personal dan alutsista.  Tapi jangan juga dilupakan kesejahteraannya agar kombinasi digdaya personal dan alutsista lalu diadon dengan kesejahteraan akan menjadi sebuah definisi abadi: profesional.

*****
Jagvane / 13 Juli 2011

Friday, July 1, 2011

Mengajak Singapura Menjadi Jiran Setara

Parade Pasukan Marinir TNI AL
Dari sisi pertahanan keamanan, Singapura seperti sebuah tembok beton kokoh yang mengelilingi seputar pulaunya yang tidak lebih besar dari Jabotabek. Takdir Singapura adalah terjepit diantara dua jirannya yang serumpun, di utara Malaysia dan di sisi selatan Indonesia.  Hari-hari takdir yang dimulai tanggal 9 Agustus 1965 itu mungkin yang menginspirasi pendiri sekaligus Perdana Menteri pertamanya Lee Kwan Yew untuk memperkuat pertahanannya karena pembelotannya pada Federasi Tanah Melayu dan sejarah Dwikora Indonesia.  Lee berhasil membawa 3 berkah sekaligus bagi negeri pulau itu, kesejahteraan rakyatnya, kestabilan pemerintahan dan kekuatan arsenal angkatan bersenjatanya.

Maka bisa kita lihat saat ini keunggulan arsenal militernya baik AD, AL, dan AU.  Dari sisi kuantitas personil, pasukan negeri pulau dengan populasi 5 juta penduduk-1 juta diantaranya adalah pekerja asing yang bekerja di berbagai sektor-  jelas kalah jumlah dari jirannya, namun jika dilihat dari kualitas dan jumlah persenjataannya, orang akan ukur diri dan berhitung ulang jika hendak mengganggu Singapura.  Dia akan seperti ribuan tawon yang menyengat kiri kanan jika ada yang berusaha mengganggu sarangnya.

Kalau ditanya secara waras dan kondisi normal apakah itu melalui metode jajak pendapat atau survey sebahagian besar warga Indonesia akan menjawab tidak ingin mengganggu negeri itu karena sudah menjadi salah satu “provinsi” tujuan wisata paling disenangi.  Namun jika dilihat dari cara dan metode bertetangganya wajar saja kita merasa berang dengan keangkuhan cara pandang pemerintahannya.  Salah satunya adalah melindungi para koruptor RI dengan  ditelantarkannya alias tidak disepakatinya perjanjian ektradisi.

Menjawab cara pandang bertetangga yang arogan itu, metode pendekatan bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah membangun keseimbangan perkuatan alutsista. Statemen Menhan Purnomo yang menyatakan RI akan memperkuat skuadron tempurnya dengan 180 Sukhoi ternyata cukup menggentarkan rumah jiran sebelah. Lalu uji coba rudal Yakhont beberapa waktu lalu di selatan Selat Sunda serta instalasi sistem persenjataan rudal Yakhont dan C802 pada puluhan KRI  mulai membuka mata dan bahasa tubuh Singapura. Langkah awal memulai kembali diplomasi perjanjian kerjasama pertahanan dan perjanjian ekstradisi yang disia-siakan sejak April 2007 dilakukan dengan kunjungan delegasi Singapura ke Jakarta akhir Juni 2011 dipimpin Menlu barunya. Bahasa diplomasinya adalah perkenalan dengan Menlu Singapura K.Shanmugam.

Singapura boleh berbangga untuk saat ini dengan keunggulan alutsistanya. Untuk kekuatan udaranya, mereka punya 24 F15 SG, 60 F16 C/D dan puluhan fighter lainnya.  Angkatan lautnya juga punya 4 kapal selam dan puluhan kapal combatan berteknologi terkini, belum lagi arsenal darat yang sanggup melakukan pre emptive strike. Tapi Singapura hanyalah sebuah pulau, bahwa dia tidak bisa disamakan dengan Israel yang masih punya pintu keluar Laut Mediteranian.  Singapura benar-benar terjepit. Singapura sangat kekurangan dalam ruang udara dan laut untuk melakukan latihan militer.

Alutsista Singapura yang seabreg itu terkendala oleh ruang udara dan laut yang sempit dan membuat dia sesak nafas.  Singapura butuh udara segar untuk olahraga alutsistanya.  Maka jangan heran 1 skuadron F16 ditempatkan di AS dan  Australia. Thailand memberikan izin ruang udaranya dipakai sebagai arena latihan tempur AU Singapura.  Dengan Indonesia juga pernah ada lokasi latihan penembakan pesawat tempur  (Air Weapon Range) di Siabu Riau namun sekarang sudah diclose.

Mulai Juli 2005 Singapura dan Indonesia melakukan perundingan  perjanjian kerjasama pertahanan (DCA) dan dijadikan satu paket dengan perjanjian ekstradisi.  Inilah pintarnya Singapura, dia sengaja menjadikan dua hal yang berbeda jauh itu menjadi satu paket agar bernilai tawar tinggi terutama ketika mengajukan usulan daerah latihan tempur di perairan Natuna. Perjanjian ekstradisi adalah nilai tawarnya agar MTA (Military Training Area) di Area Bravo Natuna bisa dipergunakan sebagai arena latihan Singapura selama 6 bulan dalam setiap tahunnya.

Ini yang berlebihan, logikanya latihan tempur paling lama hanya 10 hari dan kalau mau dijadikan 4 kali setahun baru 40 hari. Kemudian daerah  Bravo itu mencakup daerah yang cukup luas dan menjadi daerah penangkapan ikan para nelayan.  Belum lagi pasal di perjanjian ekstradisi, orangnya si koruptor boleh dibawa pulang tapi duitnya harus tetap berdiam di Bank Singapura.  Kesannya kok mendikte RI.  Maka walau sudah disign oleh Menteri Pertahanan RI dan Singapura dan disaksikan oleh Presiden SBY dan PM Lee Hsien Loong tanggal 27 April 2007, kesepakatan kerjasama itu mati suri alias tak berguna.

Kesetaraan bertetangga, itu kalimat yang pas dikumandangkan pada Singapura.  Banyak hal yang menjadi kredit point bagi RI untuk mulai memperlihatkan kesejatian dirinya.  Jumlah pelancong RI adalah yang terbanyak membelanjakan uangnya di negara kota itu, IHSG Jakarta sudah jauh mengungguli pasar saham Singapura. Indonesia 2000 berbeda jauh dengan Indonesia 2011. Tidak boleh dilupakan adalah faktor kesetaraan alutsista dimana selama ini Indonesia selalu mengabaikan dan menelantarkan TNI. Perkuatan alutsista TNI yang mulai digebyar dan digelar untuk menuju MEF (Minimum Essential Force) adalah bagian dari menunjukkan kesejatian dan jati diri kita sebagai bangsa.  Jika MEF itu dicapai dalam 2 kali renstra maka kekuatan alutsista kita akan jauh berada diatas Singapura. 

Sekedar catatan, ujicoba roket Lapan di Baturaja dan Cianjur Selatan tahun lalu, mendapat perhatian besar dari intelijen Singapura.  Roket ini adalah cikal bakal rudal surface to surface yang mampu mencapai jarak tembak 300 km.  Artinya jika ada 200 rudal jenis ini disebar di Bintan dan Batam  maka rumah tetangga sebelah menjadi susah tidur dan gelisah.  Nah kegelisahan dia itu menjadi salah satu resep untuk melunakkan cara pandang bertetangga bagi sebuah rumah yang bernama Singapura. 

Maksudnya mengapa harus melindungi koruptor RI dan hartanya.  Katanya negara yang paling disiplin, katanya negara yang paling bersih, katanya negara yang paling toleran, tapi menerapkan standar ganda jika berhadapan dengan koruptor tetangganya.  Bukankah perjanjian ekstradisi itu adalah bagian dari upaya kesetaraan dalam bertetangga.  Bukankah cara bertetangga yang setara itu adalah memahami posisi diri untuk toleransi dan saling pengertian. Untuk lahan latihan milter Singapura, kita tak jual mahal kok, asal proporsional, terukur dan terjadwal, pasti akan kita berikan.  Kita bisa memahami sesak nafasnya ruang latihan militer  tetangga kita.  Lalu dimana letak ketidaksetaraan itu.  Salah satunya adalah karakter kita yang tidak percaya diri, sikap kita yang selalu mengkerdilkan diri sendiri  dan menjadikan Singapura besar kepala.

Perkuatan alutsista yang direvolusikan saat ini untuk mencapai kekuatan MEF dan kekuatan deterence diniscayakan menjadi kekuatan bargaining agar kehidupan bertetangga dengan jiran-jiran sebelah menjadi setara, saling menghargai dan saling menghormati. Singapura harus menyadari bahwa RI akan segera mengambil alih keunggulan alutsista tidak lama lagi termasuk perkuatan ekonomi yang  semakin diperhitungkan dunia.  Kita mengingatkan bahwa  belum terlambat bagi Singapura untuk merubah cara pandangnya dalam bertetangga dengan Indonesia, kesetaraan, itu saja permintaan kita sebelum akhirnya dalam batas-batas kesabaran itu kita akan mengatakan : Ini dadaku, mana dadamu !!.

****
Jagvane / 01 Juli 2011


Thursday, June 23, 2011

Selamat Datang 24 Jet Tempur F16

Skuadron F16  TNI AU
Akhirnya TNI AU kesampaian juga menambah perkuatan jet tempur paling populer di dunia dan paling banyak spiesesnya, F16, setelah Kongres AS menyetujuinya sebagai tahapan akhir dari proses hibah.  Jujur saja kita katakan ada rasa plong dan lega nafas dengan persetujuan ini karena itu berarti jumlah F16 kita akan menjadi 34 unit yang berarti bisa disamakan dengan 2 skuadron.

Dan kalau mau diputar ulang sejenak, maka sejak Desember 2010 sampai pekan keempat Juni 2011 TNI AU sudah memperoleh pesanan koleksi tambahan 56 pesawat tempur berbagai jenis yang terdiri dari 16 Super Tucano, 16 T-50 dan 24 F16. Tiga proses pengadaan alutsista penggebuk TNI AU boleh kita sebut sebagai upaya  yang gemilang dan cepat dalam decision.  Hanya dalam waktu enam bulan ada 3 decision untuk perkuatan alutsista TNI AU.  Kita berharap pada tahun ini juga sudah ada sign decision kontrak penambahan 6 unit Sukhoi untuk melengkapi 10 Sukhoi yang sudah ada saat ini.

Tentu sekarang sedang dipikirkan oleh petinggi TNI AU sebagai unit yang punya barang alutsista penggebuk yaitu alokasi skuadron F16. Untuk Super Tucano  sudah dipastikan ditempatkan di Lanud Abrurrahman Saleh Malang.  Di Lanud ini juga ada 1 skuadron angkut berat Hercules dan  sisa 4 unit OV-10 Bronco dengan status grounded tapi masih bisa operasi loh.  Skuadron T-50 sebagai pengganti Hawk Mk-53 tetap ada di Lanud Iswahyudi Madiun.  Saat ini Hawk Mk-53 masih beroperasi dengan kekuatan 6 pesawat tempur.

Yang jelas jika 34 F16 ditempatkan semuanya di Madiun kok rasanya penuh sesak gitu. Di Iswahyudi juga ada 1 skuadron pesawat tempur F5E sebanyak 12 unit.  Dari sisi pertahanan pangkalan, tak elok jika dalam satu pangkalan terdapat pemusatan kekuatan pesawat tempur. Mestinya ada persebaran kekuatan alutsista pesawat tempur  untuk memudahkan patroli udara pada ruang udara kita yang sangat luas ini.

Biak, Medan, Kupang dan Tarakan diyakini sudah masuk nominasi “audisi” penempatan pangkalan F16.  Yang paling siap dari keempat pangkalan itu adalah Biak.  Pangkalan di utara Papua ini sudah siap lahir bathin menerima pinangan pesawat tempur, sudah punya radar canggih, sudah punya “among tamu” 1 batalyon Paskhas yang segar-segar (karena baru dibentuk).  Waktu  Lanud Supadio Pontianak ditempatkan 16 pesawat tempur baru jenis Hawk 100/200 tahun 1996, belum memiliki pasukan pertahanan pangkalan yang bernama Paskhas sehingga Paskhas yang ada di Lanud Sulaiman Bandung bedol desa alias bertransmigrasi ke Pontianak sebelum akhirnya dibentuk 1 batalyon Paskhas yang baru.

Biak sudah siap menerima pesawat tempur tetapi Medan juga membutuhkan kehadiran pesawat tempur untuk mengimbangi patroli tempur negara jiran di seberang selat Malaka.  Sementara Tarakan juga sangat perlu kehadiran pesawat tempur minimal setingkat Flight tetapi terus menerus sepanjang tahun, tidak seperti sekarang sifatnya musiman.  Kondisi meminta ini sama dan sebangun  dengan Lanud El Tari Kupang NTT.

Maka boleh jadi prediksinya adalah menempatkan 1 Skuadron (12 unit) F16 di Medan dan 1 skuadron (12 unit) F5E di Biak, kemudian 1 flight  (4 unit) F16 di Tarakan dan 1 flight (4 unit) F16 di Kupang.  Sisanya sebanyak 14 unit F16 tetap bermukim di markas besar F16 Madiun.  Namanya juga prediksi tentu tak jua harus sepemikiran dengan pengambil keputusan petinggi TNI AU namun jika ditilik dari pola persebaran kekuatan tempur AU kita, choice ini bisa jadi pertimbangan.

Lalu bagaimana dengan dinamika Laut China Selatan yang ada di depan hidung Natuna.  Boleh saja dilakukan pergeseran pesawat tempur Hawk di Pekanbaru yang saat ini berjumlah 20 unit,  6 unit diantaranya ditempatkan di Ranai untuk patroli sekitar Natuna secara rutin dan berkesinambungan.  Dalam kondisi tertentu bisa juga 6 F16 di Medan dialihtugaskan ke Natuna untuk patroli udara, atau kombinasi flight Hawk di Pontianak dengan flightt F16 di Madiun.

Perpindahan skuadron F5E ke Biak untuk saat ini dipandang lebih pas jika  melihat urgensi nilai ancaman.  Kehadiran F5E dimaksudkan agar ruang udara Papua dari Biak, Jayapura, Timika dan Merauke dapat dicover oleh patroli udara skuadron ini.  Ini bukan berarti pesawat tempur F16 tidak ikut berpartisipasi, bisa, berdasarkan urgensi dan nilai ancaman.

Akan terasa lebih lega lagi jika TNI AU sudah punya 2 skuadron Sukhoi sebagai alutsista pemukul strategis, 1 skuadron eksisting di Makassar, 1 skuadron lainnya bisa saja di Lanud Suryadharma Subang atau di Belitong.  Dari sisi coverage kedua lokasi ini dianggap mendekati ideal, menjaga ibukota Jakarta, bisa menjangkau Natuna, Sarawak, Singapura dan Semenanjung, sekaligus tidak bersinggungan dengan coverage Sukhoi di Makassar.

Apapun itu, kehadiran 24 pesawat tempur F16 di ruang dirgantara kita memberikan rasa segar, lega dan binar. Apalagi jika formasi kekuatannya menjadi 32 Sukhoi, 34 F16, 16 T50, 16 Super Tucano dan 36 Hawk 100/200.  Tentu rasanya tidak sekedar segar, lega dan binar  tapi menjadi bunga, bangga, harkat dan aura gahar.  Untuk aura yang satu ini diam-diam sudah menjadi perbincangan hangat di kalangan militer negara jiran dan pengamat militer asing. Biarkan saja mereka berbincang.

*****
Jagvane / 23 Juni 2011

Sunday, June 19, 2011

Mengawal Ambalat Dengan Pola Trikora


Pesawat Tempur F16 TNI AU
Trikora adalah puncak kemarahan Presiden Soekarno setelah lebih dari sepuluh tahun Belanda tak mau juga hengkang dari bumi Papua.  Berbagai cara diplomasi dilakukan selama kurun sepuluh tahun itu sejak pengakuan kedaulatan RI oleh Kerajaan Belanda akhir Desember 1949.  Namun bukannya segera “mengemasi barang-barang”nya di Papua sebagaimana  amanat Konferensi Meja Bundar, Belanda malah memperkuat militernya di bumi cenderawasih dan bersiap memproklamirkan negara boneka Papua.

Bukan Soekarno namanya kalau tidak cerdas, bervisi, enerjik, menggelegar dan mampu berpikir out of the book. Jalan diplomasi tidak menampakkan perkembangan, langkah keras dia lakukan melalui cara menasionalisasikan seluruh perusahaan Belanda yang ada di Indonesia dan memulangkan paksa semua warga negara Belanda.  Itu terjadi tahun 1959.  Setahun kemudian tepat tanggal 17 Agustus 1960 RI memutuskan hubungan diplomatik dengan bekas penjajahnya itu.  Diplomasi untuk mengembalikan Irian Barat harus dipertegas dengan gelar kekuatan militer besar-besaran.  Ini dimulai tahun 1958 dengan kontrak pembelian alutsista dari blok Timur  (Polandia dan Cekoslovakia) sebesar US $ 80 juta. Tak lama kemudian 30 Mig 15 UTI tiba di tanah air.  Pada tahun yang sama Rusia (waktu itu masih Uni Sovyet) melalui sekutunya Polandia menyetujui pengadaan dua kapal selam kelas Whiskey.  Setahun kemudian tepatnya September 1959 dua kapal selam itu tiba di Surabaya dan diberi nama  RI Cakra dan RI Nanggala.

Desember 1960 delegasi Jendral Nasution bertandang ke Rusia dengan membawa daftar belanja alutsista seabreg.  Setahun kemudian Rusia menyetujui belanja alutsista untuk RI sebesar US $ 500 juta dollar, ini ekivalen dengan nilai US$ 2,5 milyar untuk ukuran sekarang.  Daftar belanja yang disetujui  itu adalah 10 kapal selam, 5 Destroyer, 8 Fregat, 14 Penyapu Ranjau, 22 Kapal Cepat Torpedo. Kemudian 40 Mig-17 Fresco, 30 Mig-19, 24 Mig-21, 26 Pesawat pembom jarak jauh Tu-16, 18 pembom taktis IL-28 Beagle, 8 Antonov, 12 Mi-4, 8 Mi-6,  6 radar, ratusan tank / panser amphibi. Pada saat yang sama TNI sudah memiliki  10 Hercules, 8 B-25 Mitchell, 6 B-26 Invader, 12 P51 D Mustang, 32 C-47 Dakota, 20 Heli Bell-204, 8 Heli Albatross, 4 Destroyer dan 8 Fregat dan 30 an KRI jenis lain.

Trikora dikumandangkan Presiden Soekarno di Yogya tanggal 19 Desember 1961.  Pemilihan tanggal ini untuk mengingatkan serangan frontal Belanda ke Yogya tanggal 19 desember 1948 namun tak mampu mengalahkan TNI.  Nah setelah Trikora dikumandangkan dimulailah kampanye  pengembalian Irian Barat, dibentuk Komando Mandala dengan komandan Mayjen Soeharto  awal Pebruari 1962 atau 2 minggu setelah pertempuran Arafuru. Pusat komando pengendalian pertempuran ada di Makassar.  Arafuru adalah spirit dan adrenalin komando Mandala yang kemudian melakukan puluhan inflitrasi dan penerjunan tak terduga di Irian sebelum operasi puncak Jayawijaya dilakukan.

Kekuatan daya pukul yang dimiliki TNI pada pertengahan tahun 1962 menjelang operasi gabungan amphibi Jayawijaya tanggal 12 Agustus 1962 untuk menyerang Biak sangat mengkhawatirkan AS.  Melalui pesawat mata-mata dan kapal selam armada ke 7 AS diperoleh informasi yang sangat mencekam, ada  manuver dan pemusatan kekuatan TNI AL di Teluk Peleng dan Halmahera.  Lebih dari 90 KRI berkumpul di Teluk Peleng dan 12 kapal Selam di Teluk Kupa-Kupa. Sementara berbagai pesawat tempur dan pembom ditempatkan di Morotai, Amahai, Letfuan, Langgur, Manado, Kendari, Makassar.

Laporan intelijen ini sampai ke telinga Presiden Kennedy dan beliau segera mengambil langkah darurat, mempertemukan kedua delegasi Indonesia dan Belanda untuk maju ke meja perundingan.  Inilah salah satu kepiawaian Soekarno.  Presiden RI pertama ini sengaja “membiarkan” kedatangan alutsista TNI AL dari Rusia datang  dan melewati laut Sulawesi yang tentu saja dekat dengan pangkalan armada ke 7 AS di Teluk Subic Philipina.  Kedatangan kapal penjelajah yang legendaris KRI Irian dari Rusia sengaja dipamerkan sebagai unjuk kekuatan dan bagian dari perang psikologis untuk menggentarkan armada kapal perang Belanda.  Dan memang Belanda ciut, begitu KRI Irian memasuki perairan Indonesia, kapal komando Belanda Karel Doorman menghindar menuju Australia.

Intelijen AS menangkap pesan bahwa tanggal 12 Agustus 1962 TNI akan dilakukan operasi gabungan amphibi menyerang Biak dengan nama operasi Jayawijaya.  Jumlah pasukan TNI yang disiapkan mencapai 30.000 pasukan  pendarat terdiri dari pasukan marinir dan angkatan darat.  Jika pertempuran ini terjadi, merupakan perang paling dahsyat setelah perang Korea dan diprediksi mampu memukul kekuatan Belanda yang dipimpin kapal induk Karel Doorman. Persyaratan serangan amphibi dengan kekuatan 3:1 telah dipenuhi oleh TNI.  Ini tentu saja akan mempermalukan blok Sekutu yang nota bene AS sebagai kepala premannya.  Padahal pada waktu bersamaan AS sedang  bertarung di perang Vietnam untuk membendung paham komunis di Asia tenggara.  

Kennedy berpendapat mestinya Belanda harus mengalah dan menyerahkan Papua ke Indonesia daripada membebani AS membantu Belanda melawan RI.  Presiden AS itu dalam sebuah pertemuan rahasia dengan Menlu Belanda memaksa negeri kincir angin itu untuk segera meninggalkan Irian Barat secara terhormat daripada diserang dan dikalahkan secara militer oleh pasukan TNI. Inilah sebuah ironi dari persekutuan itu, walaupun mereka sekutu tidak harus seirama dengan pendapat masing-masing.  Itulah sialnya si Belanda dan itu sudah jalan takdirnya.  Namun kunci penyelesaian dari kampanye pengembalian Irian ini adalah unjuk kekuatan dan gelar alutsista TNI secara besar-besaran, dipamerkan di depan armada ke 7 AS.

Bagaimana dengan Ambalat, mestinya pola dan metode Trikora menjadi referensi historisnya.  Memang saat ini ada 3-4 KRI yang berpatroli rutin di perairan itu termasuk membenahi infrastruktur pangkalan AL dan AU di Tarakan.  Juga menempatkan satuan Marinir di Sebatik, menjadikan Tarakan sebagai zona pangkalan militer segala matra, membangun pangkalan aju di Sangatta, mempersiapkan pangkalan kapal selam di Teluk Palu, menambah satuan tempur  setingkat brigade dan batalyon di Kalimantan dan Sulawesi.

Yang membedakan keduanya adalah kecepatan dan percepatan pemenuhan alutsistanya. Soekarno melalui instruksinya yang tegas dan lugas ingin agar pengadaan belanja alutsista TNI yang seabreg itu bisa dipenuhi dalam waktu 2-3 tahun, dan bisa !!.  Demikian juga dalam menentukan hari H penyerbuan amphibi ke Irian, Panglima Mandala Mayjen Soeharto yang berhitung cermat dan menganalisis dari kacamata militer  berpendapat bahwa kesiapan militer RI baru benar-benar ready for combat  bulan Januari 1963.  

Namun Soekarno menghendaki agar tanggal 17 Agustus 1962 bendera Merah Putih sudah bisa dikibarkan di Irian Barat.  Maka ditetapkanlah operasi Jayawijaya tangal 12 Agustus 1962.  Hasilnya akhir bulan Juli 1962  armada TNI AL berkekuatan lebih 90 KRI sudah ready di pangkalan aju Teluk Peleng.  Sementara 12 kapal selam Whiskey Class sudah berpatroli di perairan Irian dan bahkan sudah mendaratkan pasukan khusus TNI AD di pantai Irian.  Total kekuatan armada TN AL adalah 130 KRI, 12 Kapal Selam.  TNI AU memiliki armada  lebih dari 130 pesawat tempur dan 30 an pesawat pembom jarak jauh dan berpeluru kendali.

Logikanya kalau kita mau saat ini kita bisa mempercepat proses pengadaan alutsista.  Tapi nyatanya mau beli 2 kapal selam saja prosesnya sampai 5 tahun belum kelar.  Meskipun begitu kita ( seluruh rakyat Indonesia loh) berharap tahun ini sudah ada eksekusi pengadaan kapal selam minimal 4 buah agar dalam 3 tahun ke depan kekuatan kapal selam kita mencapai 6 unit. Demikian juga proyek Light Fregat dengan membangun minimal 10 PKR berjalan lancar.  Proyek 100 KCR, proyek rudal Lapan, rudal C802, rudal Yakhont, rudal surface to air jarak sedang segera mengisi gudang arsenal kita.

Pengadaan tambahan 6 Sukhoi, hibah 24 F16, 9 Hercules, 24 UAV, 54 BMP-3F, 70 Tank IFV, 40 Panser Canon, 90 Meriam KH178 segera datang.  Untuk 16 Super Tucano dan 16 T50 tinggal menyambut kedatangannya.  Masih banyak jenis arsenal lain yang segara memenuhi kesatrian TNI di segala matra.  Kalau di era Trikora pemenuhan kebutuhan alutsista dapat dipenuhi dalam waktu 2-3 tahun, pengadaan alutsista TNI saat ini setidaknya dapat dipenuhi tahun 2014 untuk kebutuhan tempur minimal. 

Jadi Ambalat memang harus djaga dengan memamerkan kekuatan alutsista.  Kalau perlu melakukan manuver diperairan itu secara lugas dan kontinu. Jangan beri celah militer Malaysia memasuki Ambalat.  Itu jalan satu-satunya untuk menunjukkan eksitensi kedaulatan kita sekaligus kesiapan menghadapi konfrontasi militer berskala besar.  Diplomasi oke dan jalankan tapi harus dikawal dengan kekuatan militer yang tangguh.  Tidak bisa tidak.  Dan kalau ini tidak bisa dilaksanakan akan menjadi dosa sejarah bagi khalifah yang memimpin negeri ini.  Nilai plusnya sudah ada, pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih baik, cadangan devisa mencapai US$ 120 milyar, pendapatan per kapita sudah pencapai US$ 3.000, investasi menggemaskan dan lain-lain yang menunjukkan indikator ekonomi makro oke.

Sudah saatnya kita membangun kekuatan militer yang andal untuk mengawal Ambalat dan teritori lainnya dari unsur klaim dan melecehkan.  Kita memang perlu minimal 180 pesawat tempur, 300 KRI, 12 Kapal selam dan arsenal strategis lainnya didukung oleh kekuatan minimal 600 ribu prajurit TNI.  Jangan sampai telat mikir atau kelamaan memutuskan atau terlalu lama berdandan di kaca cermin padahal diluar hujan sudah turun dengan lebatnya sehingga tahu-tahu Ambalat pun tersapu banjir bandang lalu tiba-tiba muncul sebuah mercu suar baru dengan tulisan: Milik Kerajaan Melayu

*****
Jagvane  / 19 Juni 2011