Friday, September 7, 2012

Prediksi Kedatangan Alutsista TNI sampai dengan Tahun 2014


 10 Pesawat angkut Hercules type H
 16 Pesawat tempur coin Super Tucano ( 4 sudah datang)
 16 Pesawat latih Grob G120TP
   6 Pesawat latih KT1 Wong Bee
 16 Jet tempur T50 Golden Eagle
 16 Jet tempur F5E
   6 Jet tempur Sukhoi SU30  bersama paket rudal
   1  Simulator Sukhoi
 24 Jet tempur F16 Blok 52 upgrade  batch 1
   6 Jet tempur F16 untuk suku cadang
 14 Jet tempur F16 Blok 52 upgrade  batch 2
 10 Pesawat angkut CN295
 26 Heli angkut bell 412 EP ( 6 sudah diserahkan)
   6 Heli combat EC 725 Cougar
   8 Heli serang Apache
   5 Heli serbu Mi35 (tambahan)
   6 Heli angkut Mi17 (tambahan)
 11 Heli anti kapal selam
   4 Pesawat patroli CN235 MPA
   8 UAV
100 MBT Leopard
100 Panser Anoa Batch 3
300 Rantis 2,5 ton 4x4
400 Truck Angkut Pasukan
900 Roket R-Han
  34 Tank Amfibi BMP3F
  20 Panser Amfibi BTR80A
  18 MLRS Astross II
  10 MLRS RM Grad
  60 Armed 155mm Caesar
  80 Rudal Arhanud jarak pendek
  60 Rudal C705
  16 Rudal Yakhont
  12 Rudal Exocet blok 3
  18 Rudal Maverick
  36 Rudal AMRAAM
    3 Kapal Light Fregat Nachoda Ragam Class
    4 Kapal Cepat Rudal Trimaran ( 1 sudah diluncurkan)
    6 Kapal Cepat Rudal KCR40 ( 2 sudah diserahkan)
    6 Kapal Cepat Rudal KCR60
    4 Kapal Landing Ship Tank (LST)
    2 Kapal Bantu Cair Minyak (BCM)
    1 Kapal Bantu Oceanografi
    1 Kapal Latih Layar pengganti Dewaruci
    3 Kapal selam jenis Changbogo (datang mulai tahun 2015)
    1 Kapal Perusak Kawal Rudal PKR10514  (selesai tahun 2017)
******
Jagvane 07 Sep 2012 /Dari berbagai sumber

Friday, August 31, 2012

Diplomasi Pre Emptive Jangan Paksakan Kehendak


Kunjungan Menlu AS Hillary Clinton awal September 2012 ini ke Jakarta sangat diyakini membawa upaya pre emptive diplomasi AS sehubungan dengan gerak langkah Cina dari sisi militer dan diplomasi yang sangat mengkhawatirkan posisi AS.  Hillary memulai kunjungannya tanggal 30 Agustus 2012 dari Cook Island, Timor Leste, Indonesia, Brunai, Cina dan Rusia selama 11 hari.  Di Vladivostok Rusia Clinton mewakili Presiden Obama dalam Konferensi Tingkat Tinggi APEC pekan pertama September 2012.  Entah ada kaitannya atau tidak sebelumnya tanggal 10 Agustus 2012 Menlu Cina  Yang Jiechi sudah lebih dulu berkunjung ke Jakarta, tentu juga melakukan diplomasi  pre emptive dan menjanjikan kepada seorang gadis manis bernama Indonesia.

Posisi Indonesia sangat jelas, tidak memiliki konflik dengan kawasan Laut Cina Selatan (LCS) tetapi kawasan ini bersinggungan dengan halaman depan rumah kita dan sekaligus menjadi jalan raya transportasi strategis dari dan ke Asia Timur.  Klaim Cina atas seluruh pulau dan perairan LCS membenturkan dirinya pada sejumlah negara ASEAN yang sama-sama mengaku menjadi pemiliknya.  Lalu kenapa AS menjadi sibuk dan ikut masuk pada wilayah benturan itu, padahal tak ada kaitannya dengan teritori dia.

Sibuknya AS “mengurus” Cina di LCS tidak sekedar berkaitan dengan konflik teritori.  AS sejatinya haus dengan sumber daya energi tak terbarukan yang bernama minyak bumi dan gas walau testimoninya selalu mengaku hendak membendung pengaruh Cina.  Bersamaan dengan itu sifat jagoannya muncul manakala Cina menargetkan bahwa pada tahun 2020 nanti militernya mulai berada dalam kriteria kekuatan regional yang disegani. AS tentu tak ingin kehilangan hegemoninya sebagai pemimpin klasemen liga kekuatan militer di Asia Pasifik dan dunia yang mampu memayungi Jepang dan Korsel.
Armada Kapal Perang RI pulang dari Latgab
Perkembangan terkini situasi dan kondisi maju ekonomi regional di masing-masing negara tentu tidak bisa dihindarkan.  Kemajuan ekonomi Cina merupakan efek kejut dari pola sebuah negara raksasa non demokrasi yang diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu di dunia beberapa tahun ke depan.  Sejalan dengan itu Cina juga membangun kekuatan militernya secara terpadu menuju militer pre emptive di kawasan Asia Pasifik.  Prediksi kekuatan ekonomi dan militer Cina yang bakalan tak terbendung ini memberikan reaksi paranoid di mata AS sehingga ada kesan kepanikan psikologi militer.  Lalu memindahkan kekuatan armada Mediteranean dan marinir ke Asia Pasifik sembari berupaya memperbanyak sekutu.

Merapatnya kekuatan militer besar di kawasan LCS dimana teritori Indonesia sebagai garis pantai terbesar dari arah selatan mengharuskan AS melakukan lobi intensif dan sedikit menekan kepada Indonesia.  Jika terjadi konflik militer skala besar garis pantai dan teritori udara RI akan menjadi akses militer AS untuk memukul Cina dari arah selatan.  Sementara dari arah timur diprediksi armada VII AS berkonsentrasi menjaga Taiwan, Korsel dan Jepang.   Artinya AS memang butuh sekutu tambahan sebagai pemilik teritori paling depan.  Indonesia adalah pilihan satu-satunya dalam upaya mengurung Cina di LCS sehingga ini akan menutup akses militer dan ekonomi Cina ke selat Malaka, selat Sunda dan selat Lombok. 

Vietnam, Malaysia, Brunai, Filipina jelas berkonflik dengan Cina dan jika Indonesia berhasil masuk “aliansi” bersama AS dan Australia tentu sistem keroyokan yang dikenal sebagai pakemnya AS dalam menghajar lawannya menjadi sempurna dari sisi strategi militer.  Dari sisi kekuatan militer dan cakupan wilayah tempur, gabungan militer AS, Australia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Brunai dan Filipina diyakini mampu bersaing dengan Cina.  Masalahnya adalah kedekatan Indonesia dan Cina yang terus dipupuk lewat kerjasama ekonomi dan pertahanan akan menjadi goncangan tersendiri karena posisi teritori dan pengaruhnya yang kuat di ASEAN bisa mementahkan semua prediksi dan asumsi yang dibangun AS.
Pendaratan pasukan marinir di Natuna
Diplomat Indonesia di Kemenlu dan intelijen militer tentu sudah paham dengan lagu dan langgam yang diperdengarkan AS. Kecerdasan diplomasi RI sudah teruji untuk memberikan argumen berwajah perspektif dengan menawarkan logika bersahabat pada semua negara. Tidak ingin memiliki musuh dan selalu berupaya mendekatkan kedua posisi yang berseberangan itu setidaknya akan memberikan ruang untuk mendinginkan temperatur.  Di mata AS upaya mendekati RI dengan  membawa hibah berbayar 24 F16 batch 1 dan 10 F16 batch 2, lampu hijau pembelian 8 heli Apache dan rudal serang darat jarak jauh Maverick serta latihan militer bersama merupakan pintu masuk yang bergizi. Namun pemaksaan terhadap sebuah keinginan berdasarkan logika pergaulan yang disandang sekalipun membawa “kado” tidaklah pantas dikedepankan secara tersurat.

RI ingin semua persoalan sengketa berbaju apa pun sangat terhormat dijalankan melalui jalur diplomasi dan perundingan. Dan RI sudah melakukan itu misalnya menjadi arsitek perdamaian di Kamboja dan Filipina Selatan. Nah kalau jalur ini yang dilalui pertanyaannya adalah atas dasar apa AS ikut-ikutan berunding karena dia tidak berkonflik dengan teritori Cina yang dipersengketakan.  Maka logika kita akan semakin jelas bahwa sejatinya AS ingin mendapat jatah sumber daya fosil di dasar LCS disamping agar hegemoni militernya di Asia Pasifik tetap bersinggasana. Dalam upaya menjaga hegemoni itu tentu dia tak ingin sendirian menanggung beban militer membendung pengaruh Cina. Dan salah satu upayanya tentu dengan merangkul RI agar ikut serta dalam pengaruhnya untuk kesetiakawanan.

Pesan untuk AS, bermain cantiklah terhadap republik ini karena atmosfer takdir tidak lagi mengharuskan pemaksaan kehendak dan merasa benar sendiri.  Asia Pasifik adalah masa depan dunia. Cina bersama Jepang, Korsel, Taiwan dan Singapura sudah memberikan panduannya. Indonesia pun sudah diperhitungkan dunia dengan kekuatan ekonomi terbesar ke 16 di dunia dan terbesar di ASEAN. Pergaulan kawasan yang dibangun dengan semangat saling menghormati dan tak merasa arogan adalah posisi strategis yang menjadikan ASEAN tetap bergema meski beberapa anggotanya berselisih dengan Cina. Indonesia berperan besar dalam menciptakan posisi ASEAN yang harmonis.  Kita meyakini dengan peran RI yang selalu mengedepankan diplomasi rendah hati namun ulet bisa membawa negara ASEAN yang bersengketa dengan Cina ke meja perundingan.
Batalyon Scorpion dalam sebuah Latgab TNI
Seandainya Cina mau berunding dengan ASEAN tentang masa depan LCS dan menemukan kata kuncinya, kondisi ini tentu akan memukul wajah AS sekaligus akan menjadikan Cina terhormat di mata ASEAN.  Bukankah kemajuan ekonomi Cina dan ASEAN yang sudah didapat selama ini akan menjadi kesia-siaan jika terjadi konflik militer berskala besar. Tentu pemikir strategis di masing-masing negara yang bersengketa tidak ingin masuk di wilayah itu. Jadi ingat ketika upaya RI merukunkan faksi-faksi yang bertikai di Kamboja dengan melakukan Jakarta Informal Meeting (JIM) November 1988.  Begitu alotnya mempersatukan ego keras masing-masing di Kamboja dan rasanya mustahil berdamai. Kubu Hun Sen didukung Vietnam dan Uni Sovyet sementara Heng Samrin didukung Cina.  Namun dengan kepiawaian diplomasi Menlu RI Ali Alatas kekerasan kedua kubu mencair dan akhirnya berdamai di Paris setahun kemudian.

Dengan contoh itu dalam lingkup yang lebih luas RI bisa melakukan langkah inisiatif untuk merundingkan kawasan LCS. Cina juga diharap tak kaku dengan langkah perundingan karena Indonesia sejatinya ingin kawasan regional ini menjadi kawasan yang sejuk dan damai.  Tetapi kalau kekakuan Cina terus dipanggungkan maka  ketika militer RI mulai bertaring tahun 2020 tak salah jua jika negeri ini merapat ke AS demi solidaritas ASEAN dan penyeimbang kawasan.

******
Jagvane/ 31 Agustus 2012

Wednesday, August 29, 2012

Spirit Beralutsista Dalam Pita Kebangsaaan


Belanja militer Indonesia untuk tahun anggaran 2013 diprediksi menyentuh angka 77,7 trilyun rupiah  naik dari 72,9 trilyun rupiah tahun ini.  Dari angka 77,7 trilyun rupiah itu sebanyak 28,2 T adalah untuk belanja dan rawat alutsista.  Nah kalau disandingkan dengan program belanja alutsista selama 5 tahun (Tahun 2010 sd 2014) sebesar 150 trilyun rupiah maka angka 28,2 trilyun itu proprosional karena rata-rata 30 trilyun per tahun anggaran.

Jujur saja, ada yang berbunga dan mekar di hati kita manakala melihat keseriusan pemerintah untuk mendandani hulubalangnya yang selama ini kurang gizi alutsista alias dibiarkan tak terurus.  Gelontoran dana yang dukucurkan mulai tahun 2010 sampai saat ini mulai menunjukkan kegairahan dan spirit serta kebanggaan bagi sebuah definisi sejati tentang perkuatan alutsista TNI.  Bahwa alutsista itu adalah nafas dan libido TNI yang harus terus diperbaharui kuantitas dan kualitasnya agar tetap terjaga kepercayaan diri dan adrenalin tempur berkemampuan teknologi di setiap nadi prajurit kita.

Yang membanggakan adalah bersepakatnya semua elemen bangsa apakah dia bernama Pemerintah, DPR, DPD dan mayoritas rakyat Indonesia untuk mendukung penuh perkuatan alutsista TNI.  Dalam sebuah negara demokrasi dukungan  seluruh elemen kebangsaan ini merupakan sebuah ketakjuban yang luar biasa dan jarang ada.  AS saja sebagai negara demokrasi nomor satu di dunia tidak selalu seiring kata dan langkah pemerintah dengan parlemennya atau bahkan sebagian rakyatnya jika menyangkut hal ikhwal pengembangan alutsista mereka termasuk ekspor senjatanya.
Tank amfibi BMP-3F yang sudah dimiliki Marinir Indonesia
Inilah nilai plus yang membikin “angek” alias iri negara lain utamanya negara tetangga yang selama ini selalu meremehkan kekuatan militer Indonesia.  Spirit beralutsista di negeri ini tumbuh seirama dengan terusiknya harga diri kebangsaan karena bertahun-tahun menjadi pusat pelecehan teritori.  Spirit itu semakin berharga nilainya manakala pengambil keputusan di negeri ini tidak lagi berorientasi beli murni dalam setiap pengadaan alutsista.  Langkah cerdas Pemerintah adalah berupaya mengembangkan industri Hankam di dalam negeri sembari mengambil nafas transfer teknologi dari negara sahabat yang bermurah hati, misalnya Cina dan Korea Selatan.  Maka lihat saja geliat Pindad, PT DI dan PAL serta perusahaan swasta nasional seperti Lundin, Palindo, Koja Bahari dan lain-lain yang mendapat order trilyunan sekaligus memberikan lowongan dan ruang pekerjaan baru bagi ribuan sumber daya manusia di negeri ini.

Khusus untuk teritori udara jika nanti dan tak lama lagi kekuatan skuadron tempur kita sudah kedatangan berbagai jenis pesawat tempur dan menjadi kekuatan dengan 1 skuadron Sukhoi, 3 skuadron F16, 2 Skuadron F5E, 2 skuadron Hawk, 1 skuadron T-50, 1 skuadron Super Tucano, maka sebaran skuadron dan flight perlu dicermati sesuai kebutuhan dan gengsi teritori.  Pekanbaru misalnya setelah diperkuat dengan 2 skuadron jet tempur Hawk dan F16, sangat diharapkan memunculkan 1 flight Hawk atau F16 secara bergantian di bumi Aceh.  Ini yang disebut gengsi teritori disamping mengawal perbatasan karena di sebelah barat laut Sabang ada kekuatan besar yang mengintip, India.  Gengsi teritori udara itu bisa menimbulkan kewibawaan negara di mata rakyat Aceh karena deru jet tempur sehari-hari di wilayah ujung NKRI itu akan mampu memberikan kesan dan pesan kebangsaan yang kuat, bahwa kita berada dalam lindungan payung kekuatan udara.
Kesiapan armada RI di Pangkalan AL Surabaya
Sebagai contoh historis era akhir tahun 70an, ketika 1 flight jet tempur A4 Skyhawk di tempatkan di Lanud Polonia Medan, warga Medan dan Sumut merasa “tersanjung” dan bangga dengan kehadirannya yang setiap hari meraung dan melintas cepat disertai manuver lincah.  Ini menjadi tontonan sekaligus memberi ruang kebanggaan akan apa yang disebut perlindungan udara dan gengsi teritori.  Kehadiran jet tempur A4 Skyhawk di Medan selama beberapa tahun mampu memberikan nafas kelegaan karena sejatinya selama bertahun-tahun di seberang selat Malaka ada pangkalan Butterworth tempat berkumpulnya jet tempur FPDA pada waktu itu.

Maka tak salah jua jika di Biak yang sudah siap infrastruktur Lanud, Radar dan Paskhasnya ditempatkan 1 skuadron jet tempur, tak usah muluk-muluk dulu, jet tempur F5E sajalah. Dari jumlah 1 skuadron itu 1 flight jet tempur F5E bisa ditugasterbangkan di Merauke untuk kawal teritori udara yang berbatasan dengan Australia dan Papua Nugini.  Raungan mesin jet tempur di wilayah Papua diyakini akan memberikan spirit berbangsa dan kebanggaan sebagai bagian dari kampanye militer untuk selalu dan setiap saat memberikan perlindungan udara di ujung timur wilayah NKRI. Kehadiran jet tempur dan raungannya di ruang udara mampu memberikan kebanggaan dan kesan yang bergetar lebih luas pada ruang dada dan kalbu setiap warga melebihi dari ketika melihat parade Tank, Panser atau Kapal Perang. Betul tak ?

Demikian juga dengan Kupang sebagai pintu terdepan yang berhadapan dengan Dili dan Darwin sangat perlu ditempatkan 1 flight F16 sebagai bagian dari skuadron F16 Madiun. Kehadiran F16 di Kupang diniscayakan mampu memberikan nilai kewibawaan pada halaman belakang rumah kita sekaligus mengingatkan tetangga akan pengawalan teritori NKRI di sudut itu.  Seperti diketahui Darwin akan semakin ramai lalulintas militer laut dan udaranya sehubungan dengan penempatan Marinir AS disana, dan sejauh ini sangat layak kita menempatkan 1 flight F16 di NTT untuk kawal teritori udara.
Formasi jet tempur F16 TNI AU dalam serial latihan
Karena diprediksi kita akan mendapatkan 3 skuadron F16 maka selain Madiun dan Pekanbaru, wilayah lain yang pantas mendapatkan 1 skuadron F16 adalah Balikpapan yang dengan radius dan jarak tempuh F16 mampu mengawal perbatasan udara Kalimantan dan Sulawesi.  Jika 1 flight di tempatkan di Tarakan maka perlindungan udara terhadap Ambalat akan semakin cepat respons dan kuat setara.  Bagi warga masyarakat yang berada di lokasi pulau Tarakan, Bunyu, Nunukan dan Sebatik kehadiran jet tempur F16 di wilayah mereka mampu memberikan rasa bangga dan percaya diri sekaligus memupuk semangat kebangsaan.

Dengan sebaran jet tempur di lokasi yang tersebar itu termasuk di Natuna dengan 1 flight jet tempur Hawk dari Skuadron Supadio Pontianak maka secara defacto kita sudah mampu menghadirkan dan mengawal teritori udara secara penuh.  Sehingga Sukhoi di Makassar tak usah ikut-ikutan patroli udara karena jet tempur kelas berat ini bukan untuk patroli udara melainkan gelut udara kelas berat dengan ongkos terbang yang lebih mahal.  Tidak ada lagi ruang udara NKRI yang blank spot apalagi mata dan telinga yang bernama radar di Indonesia Timur sudah mampu mengcover wilayah pandang.  Dan jika itu dilengkapi dengan kemampuan intersep maka lengkaplah sudah persyaratan sebuah perlindungan simkamling, ada mata untuk melihat, ada telinga untuk mendengar dan ada tangan untuk menindak.

Spirit beralutsista dalam pita kebangsaan memang harus terus digemakan di setiap wilayah NKRI utamanya wilayah perbatasan negara.  Kita sedang berada dalam perjalanan itu.  Perkuatan alutsista TNI bukanlah untuk mengancam tetangga melainkan untuk memberikan kekuatan rasa aman dan kewibawaan teritori.  Selama ini alutsista TNI sangat jadul banget sehingga wajar jua kalau barang jadul itu diganti agar sesuai dengan perkembangan teknologi.  Negara kita ini sangat luas, negara kepulauan terbesar di dunia sekaligus pemilik teritori pantai terpanjang kedua di dunia dan pemilik ruang udara sebesar benua Eropa.  Sangat wajar dong jika RI memiliki militer dengan alutsista yang gahar karena rumah kami rumah yang besar, rumah gadang dengan sejuta pesonanya, dengan sumber alamnya yang melimpah.  Belum lagi posisi ini jika dikaitkan dengan dinamika Laut Cina Selatan. Rumah yang besar itu sangat pantas dijaga herder karana tetangga kiri kanan pun sudah menyiapkan herder jauh-jauh hari sebelumnya dan kita tak protes tuh.  Iya kan ?

******
Jagvane / 29 Agustus 2012

Thursday, August 23, 2012

Menuju Macan Asia


Lima tahun itu tidak lama dan lima tahun dari tahun ini sama dengan tahun 2017 saat dimana pertumbuhan dan pertambahan alutsista TNI telah menjadi fakta jelas.  Adalah Presiden Yudhoyono yang memberikan spirit ber alutsista ketika memberikan pengarahan dalam Rapat Koordinasi di Mabes TNI Jakarta tanggal 9 Agustus 2012 di hadapan petinggi Kemhan dan TNI sekalian berbuka puasa bersama, lima tahun lagi kita akan menjadi macan Asia.  Spirit militer yang lain adalah pernyataan orang nomor satu di negeri ini yang menyatakan jangan menggurui Indonesia dalam soal HAM ketika bertransaksi bisnis alutsista karena penjajah adalah pelanggar HAM terbesar.  Negeri yang disindir jelas Belanda karena ketika kita ingin mendapatkan Leopard dengan transaksi jual beli tetapi disangkutkan dengan kondisi HAM di tanah air.

Kalau melihat luasnya teritori negara ini yang harus dijaga maka memperkuat pengawal republik yang bernama TNI itu merupakan sebuah keniscayaan dan rukunnya wajib banget.  Berpuluh tahun  kita hanya bisa menyaksikan  secuil jet tempur yang bernama F16 dan F5E berupaya terbang ala kadarnya sekedar membuktikan nafas angkatan udara masih ada.  Selama itu pula berbagai pelecehan teritori dilakukan oleh mereka yang mengaku bersahabat dengan negeri ini.  Insiden Bawean tahun 2003 ketika konvoy kapal induk AS melintas di laut Jawa, klaim Ambalat dengan provokasi angkatan laut Malaysia tahun 2005, juga pelanggaran udara oleh jet tempur Hornet Australia ketika krisis Timor Timur tahun 1999. Sebagai anak bangsa rasanya kok sesak amat ya menyaksikan burung pengawal kedirgantaraan kita terseok-seok mengibaskan sayapnya dan armada laut kekurangan kapal berkualifikasi striking force.

Heli Bell 412EP sebagian sudah mengisi alutsista TNI 
Lima tahun ke depan ekonomi Indonesia akan melaju secara meyakinkan dengan asumsi ceteris paribus, tidak terjadi pergolakan di Timur Tengah. Prediksi pertumbuhan ekonomi berkisar antara 6,8% sampai dengan 7%.  Kekuatan belanja tahunan (Purchace Power Years) atau yang disebut APBN akan menembus 2.000 trilyun dan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke 14 di dunia, terbesar di ASEAN. Sejalan dengan itu belanja militer diprediksi akan menembus 100 trilyun per tahun. Pada saat yang sama kita sudah memiliki sedikitnya 3 skuadron F16, 2 skuadron Sukhoi, 2 skuadron F5E, 1 skuadron T-50, 1 skuadron Super Tucano, 2 skuadron Hawk.  Sementara kehadiran 50 jet tempur IFX sudah diambang pintu. 

Demikian juga dengan angkatan laut yang sudah memliki 3 armada tempur dengan kekuatan minimal 190 KRI termasuk 5 kapal selam. Tak ketinggalan pula penguasaan teknologi rudal anti kapal dan rudal serang darat yang digelar di wilayah perbatasan sudah menjadi kenyataan.  Angkatan darat sudah dilengkapi dengan ratusan MBT, Heli serang dan rudal arhanud jarak sedang.  Dengan belanja militer sesuai renstra MEF (Minimum Essential Force) pertumbuhan dan pertambahan alutsista akan terus berlanjut menuju kekuatan getar dan gentar.
Howitzer 155 mm Caesar sedang ditunggu kedatangannya
Sejujurnya kita berada dalam perjalanan itu dan kemajuan ekonomi kita sejauh ini memberikan nilai tambah pada sentuhan pertumbuhan ekonomi dan cadangan devisa serta nilai bursa saham yang menjadi indikator penting. Tetapi pertumbuhan dan pertambahan ini tak menjadi perhatian media, utamanya jendela rumah yang bernama layar kaca.  Televisi swasta yang menyandang predikat TV News hanya menampilkan sisi oposisi dan kritik yang melewati batas-batas kepatutan.  Yang disiarkan dan di live kan hanya pendapat mereka yang “dia pikir dia pintar”.   Meminjam sebuah anekdot tentang orang yang kalau botak di depan kepala selalu dianggap pemikir, lalu kalau botaknya di belakang kepala dianggap orang pintar.  Maka kalau botaknya di depan dan di belakang kepala, dia pikir dia pintar.

Namun rakyat sudah mampu memilah mana yang sampah mana yang buah, sehingga kelayakan pendapat dan argumen yang didasarkan sentimen negatif dan politisasi sudah mampu dipilah.  Biar anjing menggonggong, perjalanan pertumbuhan ekonomi jalan terus.  Yang jelas pendapat dan analisis dari lembaga ekonomi dan keuangan internasional misalnya Bank Dunia, IMF dan ADB memberikan nilai plus untuk kemajuan ekonomi RI.  Itu pendapat yang obyektif dan jauh dari bias politisasi untuk keuntungan opini pembenaran.  Bahkan dengan IMF kita mampu menegakkan kepala setelah melunasi utang kepda IMF berkaitan dengan krisis ekonomi 1998, kita mampu memberikan pinjaman US$ 1 milar kepadanya.

Kebutuhan alutsista perlu disesuaikan dengan perkembangan situasi kawasan yang dinamis.  Oleh sebab itu tidak tertutup kemungkinan akan ada kejutan dalam hal pengadaan alutsista strategis kita.  Misalnya kapal selam dan jet tempur.  Sangat terbuka kemungkinan pertambahan paralel dari yang sudah kita pesan seperti yang tersirat dalam pernyataan Menhan Purnomo pertengahan Agustus 2012. Boleh jadi kita akan kembali menambah kapal selam dari jenis lain selain Changbogo atau Sukhoi dari jenis yang terkini teknologinya seperti Su35BM.  Semua tergantung kondisi di lapangan dan yang terpenting adalah ada kemauan dan kemampuan untuk memperolehnya.
UAV pesawat intai yang mengisi skuadron di Pontianak
Spirit beralutsista dalam bingkai semangat kebangsaan perlu selalu didengungkan untuk memberikan kebanggaan dalam berbangsa dan bernegara.  Dalam kondisi kita yang sedang membangun kekuatan militer sesuai renstra MEF, negara tetangga sudah banyak yang berbaik hati dan menyapa dengan tata krama.  Australia berupaya mengambil hati dengan menunjukkan  cara pandang yang berbeda seperti yang ditunjukkan dalam Pitch Black 2012.  Malaysia sudah mulai tahu diri dan bersopan sikap.  Singapura meskipun tak menampakkan mimik kekhawatiran tapi sesungguhya mereka mulai berhitung ulang dalam strategi pertahanan sarang lebahnya.  Belum lagi puluhan negara yang punya industri alutsista berkunjung ke Jakarta untuk menjual senyum mengambil hati dan mengharap dapat order pengadaan alutsista.

Sehubungan dengan itu kita tidak bisa lagi bermain di wilayah inkonsistensi dalam urusan pertahanan negara terutama ketika terjadi pergantian kepemimpinan kenegaraan.  Oleh sebab itu perjalanan pertumbuhan alutsista harus tetap berada dalam barisan yang rapat dan seia sekata untuk terus menambah dan mengembangkan alutsista produk dalam negeri dan joint product disamping beli jadi.  Negeri ini harus punya militer dengan kemampuan berkelahi yang berteknologi tinggi, tidak lagi sekedar masuk dulu baru gebuk, sebelum masuk ya digebuk sekalian, itu yang paling tepat.  Dan kita meyakini satu saat kelak, tak lama lagi milter kita akan memiliki kemampuan pukul dan membanting.

Sebagai bangsa besar dengan teritori luas, kepemilikan milter yang kuat dengan beragam alutsista berteknologi tinggi merupakan salah satu cara untuk mewibawakan kedaulatan NKRI dari gangguan berbagai bentuk. Lebih dari itu dengan kekuatan militer yang andal dan diperhitungkan, menjalankan diplomasi untuk kepentingan nasional dan regional akan menjadi lebih mudah karena kehormatan dan kewibawaan harga diri ada di dalam bingkainya.  Sejauh ini yang sangat membanggakan adalah dukungan mayoritas rakyat Indonesia dan DPR untuk perkuatan milter kita.  Ini mencerminkan nilai kedewasaan dan kebersamaan sikap manakala menyangkut harkat dan martabat bangsa.  Bahwa semangat nasionalis itu masih tetap terjaga ketika berhadapan dengan dinamika kawasan dan pelecehan teritori NKRI. 

********
Jagvane/23 Agustus 2012

Monday, August 6, 2012

Sukhoi Indonesia Bertarung di Pitch Black Australia


Hari-hari ini tepatnya tanggal 27 Juli 2012 sampai dengan 17 Agustus 2012 sedang berlangsung latihan gabungan terbesar angkatan udara 6 negara di ruang udara Australia Utara tepatnya di Air Force Base Tindal dan Darwin.  Yang istimewa dalam latihan gabungan yang diberi kode Pitch Black 2012 ini adalah keikutsertaan Indonesia dengan mengirimkan 4 jet tempur kelas berat Sukhoi yang terdiri dari 2 unit SU27 SKM dan 2 unit SU30 MK2.  Selain Indonesia negara yang mengirim alutsista udaranya adalah tuan rumah Australia, AS, Singapura, Thailand dan Selandia Baru.  Total pesawat yang dilibatkan berjumlah 94 unit.  Begitu istimewanya Indonesia karena seluruh media Australia memberitakan kehadiran Sukhoi sebagai berita utama padahal negara lain seperti Singapura juga membawa jet tempur mutakhirnya F15 SG.
Pelajaran berharga dari war games ini tentu saja akan menjadi dokumen militer yang bernilai tinggi bagi semua negara peserta karena yang bertarung adalah teknologi tempur udara terkini buatan Rusia dan Barat.  Pilot TNI AU diyakini bisa memetik ruang pengalaman tempur yang lebih cemerlang karena menghadapi lawan dari berbagai jenis jet tempur seperti F15 SG dan F16CD dari Singapura, F18 Super Hornet Australia , F18 Hornet AS dan F16 AB Thailand.   Meskipun sifatnya latihan gabungan namun dalam urusan “jurus silat” dan kemampuan dalam teknologi tempurnya tidak harus dikeluarkan seluruhnya.  Karena bisa dipastikan selalu ada upaya intelijen militer untuk mengetahui jeroan teknologi dan persenjataan serta kelemahan jet fighter yang berpartisipasi dalam event ini.
Meski bukan yang pertama pertarungan Sukhoi dengan F15 SG, F16, F18 Hornet dan Super Hornet tetap merupakan kajian yang menarik karena Flanker (sebutan Barat untuk Sukhoi) merupakan jet tempur penuh misteri yang disegani negara-negara Barat.  Sekedar catatan Sukhoi India pernah mengikuti latihan gabungan angkatan udara Red Flag di Nellis AFB Nevada AS tahun 2008.  Kurikulum latihan pada Red Flag menjadi acuan dalam latihan gabungan angkatan udara Pitch Black 2012 yaitu  air lift, air to air combat, surface attack, deep interdiction, close air support, airborne early warning and control, air to air refuelling, tactical air transport. 
Biasanya tim dibagi menjadi dua dengan berbagai jenis jet fighter berbagai negara peserta.  Dari semua jenis latihan itu tentu “mata pelajaran” pertempuran udara merupakan ujian paling bergengsi, paling mendebarkan sekaligus membanggakan.  Kemampuan teknologi radar sebuah jet tempur dalam mendeteksi dan mencium pergerakan jet tempur lawan dan kemampuan pilotnya bermanuver menjadi kunci kemenangan dalam memperebutkan superioritas udara.  Tetapi dalam banyak event latihan gabungan justru kemampuan radar ini dimatikan karena khawatir dijamming atau dikunci oleh pesawat “tidak dikenal” yang biasanya selalu mengintip dan mengamati latihan ini.
4 Sukhoi TNI AU dikawal 2 Hornet RAAF diatas Darwin
Seperti diketahui Australia juga menyertakan pesawat early warning system Boeing737 Wedgetail yang dikenal sebagai radar terbang paling canggih. Wedgetail bisa menjadi pesawat komando pengendalian, peringatan dini, jammer dan penyedia komunikasi anti sadap.  Pesawat ini mampu mendeteksi 3000 sasaran dengan radar utama tipe electronically scanned array segala cuaca dengan radius pengamatan 300 mil laut dari ketinggian 30.000 sampai 40.000 kaki. Tentu mereka akan memaksimalkan kemampuan teknologi intip mengintipnya pada latihan gabungan angkatan udara 6 negara ini.

Jet tempur Sukhoi SU27 SKM dirancang memiliki kemampuan sergap superioritas udara dengan jelajah jarak jauh.  Selain keunggulan udara jet tempur ini dengan kemampuan multiperannya mampu melakukan serangan terhadap sasaran di darat dengan peluru kendali atau bom pintar.  Teknologi tempur Sukhoi 27 SKM dari pabriknya Knaapo di  Rusia  sangat menggentarkan karena mampu membawa rudal udara ke udara RVV-AE active radar homing, rudal udara ke permukaan KH- 29T(TE), KH-29L, KH-31P, KH-31A dan bom pintar jenis KAB 500Kr dan KAB-1500Kr. Sukhoi SU 27SKM dan SU30 MK2 telah dilengkapi dengan instrumen isi ulang BBM di udara sehingga kemampuan jelajah tempurnya semakin jauh. 
Dengan sekali isi ulang avtur Sukhoi SU27 SKM dan SU30 MK2 mampu mencapai jelajah 5400 km, sebuah jelajah tempur yang menakjubkan.  Instrumen avionik di kokpit berupa layar kaca MLD (Multifunction Liquid-crystal Display) dan HUD (Head Up Display).  Sistem navigasi terintegrasi dengan sistem satelit Glonass dan Navstar demikian juga dengan RWR (Radar Warning Receiver) yang berfungsi mengendalikan tembakan rudal anti radiasi KH-31P.  Penggunaan IRST (Infrared Search and Track Device) yang mampu menembakkan rudal laser beam riding sudah tersedia di Sukhoi SU27 SKM.
Teknologi tempur yang dikandung pada Jet tempur Sukhoi SU27 SKM dan SU30 MK2 mampu mendeteksi, mengunci dan menyerang sasaran 360 derajat dengan segala cuaca. Cantelan beragam persenjataan Sukhoi mampu menggotong sampai 12 jenis senjata mulai dari rudal udara ke udara, rudal udara ke darat, roket dan bom.  Selain kemampuan serang darat yang dimiliki Sukhoi SU30 MK2 perbedaan lain yang membedakan keduanya adalah SU27 SKM memiliki 1 kursi pilot sedangkan SU30 MK2 memiliki 2 kursi pilot.  Kecanggihan teknologi Sukhoi tentu mampu menyetarakan kemampuan pilot TNI AU dengan pilot jet tempur canggih lainnya seperti F15 SG Singapura dan Super Hornet Australia.
Berbagai jenis pesawat yang disertakan dalam latihan ini mencerminkan betapa bergengsinya pitch black ini.  Selain jet tempur Australia menyertakan pesawat angkut C17 dan C130 serta Wedgetail AEW&C.  Singapura mengikutkan pesawat KC-135 Refulling Aircraft dan Gulfstream G550 sementar Indonesia mengirim 2 Hercules.  Diantara semua negara peserta hanya Selandia baru yang tidak mengirim jet tempurnya karena seperti kita ketahui mereka tidak memiliki jet tempur.  Mereka hanya mengirim pesawat angkut dan beberapa perwira AU sebagai pengamat.  Dan ini sebagai bentuk penghormatan Australia pada negeri tetangganya yang sama-sama memiliki wajah Eropa di geografi Asia Pasifik.
Latihan gabungan antar negara diharapkan mampu memberikan kualitas pengalaman bagi personil militer masing-masing negara terutama dalam mengadopsi dan eksperimen teknologi terkini di medan latihan.   Kehadiran Sukhoi di Pitch Black adalah dalam rangka itu disamping menjalani diplomasi militer tentunya.
********
Jagvane 
Catatan : 
Tulisan ini  dipublikasikan di Rubrik Teknologi  SUARA MERDEKA tgl 06 Agustus 2012





Saturday, August 4, 2012

Kita Butuh Kapal Selam Kilo


Negara pulau Singapura sedang mempersiapkan satuan pemukul strategis bawah air dengan kekuatan 10 kapal selam, 6 diantaranya sudah operasional dan sisanya dari jenis Scorpene sedang dalam tahapan negosiasi menuju kontrak pengadaaan dengan Perancis.  Bisa dibayangkan kemampuan pre emptive strike armada bawah laut negeri itu ketika dalam kondisi terburuk harus bertempur dengan negara lain.  Militer Singapura akan bertempur di luar wilayah teritorinya dan itu sama saja tidak lepas dari teritori Indonesia dan Malaysia yang dijadikan lahan pertarungan.

Indonesia saat ini mempunyai 2 kapal selam dari jenis U209 buatan Jerman yang sudah diretrofit di Korea Selatan. Kita juga sudah menandatangani kontrak pembuatan 3 kapal selam dari jenis Changbogo dengan Korea Selatan.  Kapal selam pertama akan diselesaikan dan dikirim ke Surabaya akhir tahun 2015.  Dalam rencana ke depan diharapkan kita bisa melakukan transfer teknologi dan berkemampuan membuat kapal selam di dalam negeri dengan lisensi dan itu tentu sangat dinantikan.  Namun melihat perkembangan situasi kawasan Laut Cina Selatan (LCS) yang semakin menggelora kita perlu jurus lain untuk penambahan alutsista kapal selam secara paralel selain dengan Changbogo.  Kita perlu tambahan kapal selam jenis lain dari kelas yang lebih tinggi.
Kapal Selam RI sedang di dermaga utama TNI AL Surabaya
Pilihan yang lebih menggairahkan tentu dari jenis Kilo buatan Rusia.  Pertimbangan dari sisi militer, negara tetangga sudah menentukan pilihannya dengan memesan dan mengoperasikan kapal selam dari kelas yang lebih gahar. Pertimbangan dari sisi ketersediaan dana dan kemudahan prosedur Rusia sudah lebih dulu membuka pintunya. Mengapa kita tidak memanfaatkan sisa kredit state dari Rusia sebesar USS$ 700 juta dollar untuk pengadaan kapal selam kelas Kilo dari Rusia.  Anggaran multi years untuk pengadaan alutsista tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 berjumlah US$15 milyar, salah satu komponennya adalah kredit state yang dari Rusia itu. Itu artinya kalau tidak dimanfaatkan maka ada dana tak terserap dalam realisasi belanja alutsista.  Rusia hanya mau mencairkan dana itu sesuai perjanjian terdahulu untuk pengadaan 2 kapal selam jenis Kilo.  Dialihkan ke Sukhoi saja mereka enggan karena Rusia tetap berkomitmen untuk 2 kapal selam itu.

Logikanya anggaran kan sudah tersedia, lalu mengapa masih jual mahal atau karena ada desakan negara lain untuk tidak mengambil Kilo.  Kalau argumennya karena desakan negara lain, sangatlah tidak pantas dan memalukan, sementara Vietnam, Singapura, Malaysia sudah melangkah dengan kepala tegak. Vietnam sedang menunggu pesanan pertama dari 5 kapal selam Kilo yang dipesan dari Rusia.  Malaysia diyakini akan kembali menambah kapal selamnya dari yang ada 2 unit saat ini.  Singapura sudah mengoperasikan 6 kapal selam.  Sementara jangan ditanya kalau soal kapal selam Cina yang selalu mondar mandir di bawah LCS.  Cina memilik 65 kapal selam berbagai jenis.

Satuan pemukul bawah air merupakan alutsista strategis yang sedang dikembangkan di regional LCS dan itu bagian dari kampanye militer perebutan wilayah sumber daya alam yang melimpah di wilayah itu.  Kalau mau beradu strategi pertempuran di LCS kuncinya ada di kekuatan laut dan udara namun kekuatan udara tidak mampu mematahkan kekuatan bawah air sehingga kekuatan pemukul bawah air yang akan saling beradu di kedalaman LCS. Ini artinya untuk menjaga teritori kita dari ancaman penyusupan kapal selam asing  diperlukan penambahan armada kapal selam yang proporsional dengan luasnya perairan. 

Dengan kekuatan 5 kapal selam pada tahun 2018 dimana 2 diantaranya sudah berusia uzur, bisa dipastikan Indonesia kalah wibawa dibanding Singapura dan Vietnam.  Negara kepulauan terbesar di dunia ini masih membutuhkan sedikitnya 12 kapal selam berbagai jenis.  Mengapa harus berbagai jenis karena ini menyangkut tingkat keandalan dan kegentaran dalam menguasai laut dangkal atau laut dalam yang dua-duanya dimiliki Indonesia. Pada jaman Trikora Soekarno mampu mendatangkan 12 kapal selam kelas Whiskey dari Rusia hanya dalam waktu 3 tahun, padahal pada saat yang sama kondisi ekonomi bangsa ini belum sehebat sekarang.
Kapal  Selam Whiskey Class yang pernah dimiliki TNI AL
Adalah keputusan yang tepat dan belum terlambat kalau Pemerintah mau mempergunakan kredit state dari Rusia untuk pengadaan 2 kapal selam Kilo.  Pinjaman sudah dibentangkan 4 tahun lalu bahkan Rusia siap menambah pasokan kredit statenya untuk berbagai alutsista made in Rusia.  Dari perspektif milter dan hankam sangat relevan kalau kita menambah satuan pemukul alutsista bawah laut dari jenis yang menggentarkan.  Bukankah negara tetangga Malaysia, Vietnam dan Singapura leluasa membeli alutsista gahar sesuai keinginannya sementara kita sepertinya tak leluasa melakukan itu.

Kawasan perairan selatan jantung Indonesia, pulau Jawa selama ini hanya ditemani Ratu Pantai Selatan, sepi dari pengawalan angkatan laut.  Ke depan diyakini merupakan kawasan yang hiruk pikuk dengan lalulintas militer armada AS dari Australia menuju LCS dan sebaliknya yang melewati Selat Sunda.  Namanya saja milter negara adi kuasa pasti sekali waktu melakukan manuver memancing atau sekedar iseng melakukan penyusupan dan pengamatan melalui kapal selam atau kapal permukaan.  Nah kalau yang dipancing tidak melakukan pengawalan teritori itu artinya sama saja tidak mewibawakan teritori yang menjadi job pengawalannya.  Kehadiran kapal selam laut dalam TNI AL untuk “mengiringi” konvoy armada kapal perang asing di selatan Jawa adalah jawaban untuk mewibawakan keedaulatan teritori laut kita.

Kita pun berandai-andai jika kredit state itu diambil oleh pemerintah untuk pengadaan 2 kapal selam Kilo maka pada tahun 2020 nanti saat dimana LCS bisa berubah menjadi arena titik didih setidaknya kita telah memiliki 10 kapal selam dengan rincian 2 Kilo, 3 Changbogo yang dipesan sekarang, 3 Changbogo lisensi yang dibuat di PAL Surabaya dan 2 Cakra Class yang masih bisa beroperasi. Namanya juga berandai-andai akan lebih bernilai gahar lagi kalau kombinasinya pada tahun 2020 nanti dengan formasi 4 Kilo dan 6 Changbogo dengan memensiunkan Cakra Class.  

Tetapi yang pasti kalau pengambil keputusan di negeri ini selalu merasa inferior dan tertekan bathin dalam menentukan jenis alutsista yang pantas mengawal teritori bawah laut NKRI atau alutsista strategis lainnya, maka sejatinya itu bisa menjelaskan wajah kita yang sebenarnya, bangsa yang sudah merdeka namun masih bermental terjajah. Kasihan nantinya jika generasi penerus bangsa ini “menegur” generasi sebelumnya dengan ungkapan generasi tertekan bathin.  Kalau sudah begini jangan lantas menyalahkan Tuhan karena Tuhan telah berfirman : Aku tak akan merubah nasib sebuah kaum atau bangsa sebelum dia merubah paradigmanya sendiri.

******
Jagvane / 04 Agustus 2012 

Wednesday, July 25, 2012

Mengkritisi Australia

Tetangga selatan kita yang lokasi geografinya terpencil dan sendirian berwajah Eropa di koridor Asia Pasifik boleh dikata dan jujur sepanjang sejarah perjalanan republik ini bukanlah tetangga yang berhati tulus.  Australia selalu memandang Indonesia sebagai tetangga yang besar tetapi mereka merasa lebih tinggi kastanya.  Ini tak terlepas dari kultur Eropa yang selalu memandang bangsa Asia dan Afrika sebagai bagian dari sisa sejarah kolonialis sehingga pola kultur yang dikedepankan tak bisa lepas dari kriteria merasa lebih unggul kualitas dan performansi segala dimensi.

Australia ikut “membela” RI ketika Trikora menuju perang terbuka dengan Belanda awal tahun 60an.  Pertimbangannya tentu sama dengan ketakutan AS pada kesiapan kekuatan militer RI waktu itu berdasarkan laporan intelijen AS yang ready for war dalam hitungan minggu.  Kesamaan pandang itu adalah daripada dipermalukan dan dikalahkan bangsa Asia, persaudaraan Barat dengan leader AS menginginkan jalan diplomasi untuk melepas Papua sehingga Belanda kalah terhormat.  Jika terjadi perang terbuka dengan RI, prediksi intelijen AS menyebut Belanda akan dikalahkan oleh kekuatan militer RI dengan 12 kapal selam yang paling ditakuti saat itu.  Australia bersama AS membentuk tim diplomasi komisi tiga negara untuk dibawa ke PBB dalam penyerahan Papua tahun 1963 ke RI.
Pembom Strategis AURI yang ditakuti Australia
Ketika Dwikora dikumandangkan, Australia bersama Inggris yang sejatinya adalah “ibu kandung yang membuang dirinya” ikut mengirim pasukan dan disebar di Kalimantan.  Kali ini Australia berperan sebagai musuh RI yang bersama Inggris menjadi pagar pengaman Persekutuan Tanah Melayu bentukan Inggris untuk melawan kemarahan Soekarno.  Perubahan haluan politik RI setelah tahun 1965 mengharuskan Dwikora dihentikan dan tak lama setelah itu ASEAN berdiri tahun 1967 sebagai bentuk kesepahaman bertetangga diantara negara-negara Asia Tenggara.

Alutsista made in blok Timur mulai kehilangan gigi karena ketiadaan suku cadang.  Era tahun 70an kondisi alutsista TNI sangat memprihatinkan.  Australia dengan berbagai syarat menghibahkan 1 skuadron jet tempur F86 Sabre, puluhan pesawat Nomad dan puluan kapal patroli kepada Indonesia.  Syaratnya tentu dengan tidak lagi memakai alutsista blok Timur yang memang sudah mati suri.

Timor Timur bergolak diakhir tahun 1975, dengan Fretilin yang berhaluan kiri menguasai wilayah itu.  Pada waktu itu era perang dingin lagi “berdarmawisata” kemana-mana sehingga jika dibiarkan berkuasa maka komunis sudah berada di gerbang utara Australia dan di halaman belakang RI.  Setelah kunjungan Presiden Gerald Ford ke Jkt dan memberi “restu” maka pasukan Indonesia melakukan operasi militer di Timor Timur.  Australia tentu merasa senang karena tak perlu biaya untuk membendung paham komunis yang meloncat tiba-tiba dari Indocina ke depan Darwin.

Ironisnya ketika perjalanan sejarah menunjuk tahun 1999, ketika perang dingin sudah usai dengan bubarnya Uni Sovyet dan tamatnya Yugoslavia  beberapa tahun sebelumnya, Australia berbalik haluan dan berupaya ingin memerdekakan Timor Timur.  Peristiwa sejarah ini sejatinya sangat menyakitkan Indonesia apalagi ketika itu terjadi krisis ekonomi maha hebat di tanah air. Sudah jatuh tertimpa tangga, tiba-tiba tetangga sebelah menggedor-gedor jendela rumah. Arogansi ini dalam kacamata militer merupakan tusukan bayonet yang menikam apalagi ketika sejumlah Hornet Australia melakukan parade sampai diatas Ambon malam hari sebagai reaksi dicegatnya Hornet mereka oleh Hawk TNI AU  di pulau Roti NTT ketika sedang dalam perjalanan dari Darwin menuju Singapura siang harinya.
Jet Tempur Hawk di Air Force Base Halim Jakarta
Sibuknya Australia mengurusi soal Timor Timur terkesan overdosis dan angkuh.  Persahabatan yang dibangun bertahun-tahun ketika Paul Keating menjabat PM Australia sirna tak berbekas.  Kedatangan militer Australia di Dili memakai baju Interfet seperti hendak mempertunjukkan kehebatannya sebagai malaikat penolong kepada rakyat Timor Timur.  Tetangga selatan itu sekali lagi membuktikan kriteria persahabatan berdasarkan kepentingan tanpa mengindahkan perasaan tetangganya.  Dan memang kultur Eropa berada dalam rekam jejak yang seperti itu.

Bertetangga dengan orang Barat yang terlempar ke benua selatan itu mestinya tidak boleh disikapi dengan kepolosan dan inferior diri.  Catatan sejarah bertetangga dengan Australia yang menjadi ukuran evidence bisa menjadi barometer nilai keikhlasan bertetangga negeri Kanguru itu.  Kultur Barat yang selalu merasa superior adalah karakter mereka, sayangnya mereka tak memahami kultur dimana mereka berada yang sesungguhnya berada di kawasan Asia yang menjunjung rasa hormat satu sama lain.  Jepang, Korea dan Cina misalnya kehebatan ekonominya tak lantas membuat mereka arogan karena punya kultur Asia yang diam-diam menghanyutkan.  Ini bertolak belakang gaya diplomasi Australia yang mendikte, merasa lebih tinggi unjuk dirinya,  tetapi tak mampu mengedepankan kesejajaran dalam bersilaturahmi.

Dalam soal Papua diyakini Australia memasang topeng bermuka dua.  Statemen pemerintahannya selalu menyuarakan bahwa Papua bagian dari NKRI, Papua satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan RI. Namun muka yang lain selalu melangkahkan aroma yang berbeda.  Papua selalu dijadikan Australia komoditi politik untuk menaikkan citra pemerintahan atau partai oposisi.  Demikian juga dengan persetujuan negeri itu untuk menjadikan Darwin sebagai pangkalan militer dan Marinir AS sempat membuat Menlu Marty berang ketika berlangsung KTT Asia Timur di Bali Nopember tahun silam.  Bagaimana tak berang, arogansi Australia ditunjukkan di KTT yang juga dihadiri Presiden Obama dan PM Cina Wen Jiabao dengan mengumumkan penempatan 2500 marinir AS di Darwin.  Jelas dong waktu dan tempatnya kurang pas, orang mau meeting  malah diprovokasi dengan statemen seperti itu.

Perkuatan militer Indonesia saat ini tentu tak terlepas dari pantauan intelijen dan pemikir strategis hankam Australia. Kehadiran Skuadron Sukhoi di Makassar menjadi referensi betapa kekhawatiran negeri itu pada tetangganya yang besar ini semakin kuat.  Walaupun mereka sudah diperkuat dengan 24 Superhornet yang baru dan menunggu kedatangan F35 tetap saja mereka berpandangan keunggulan  militernya seperti hendak diambil alih oleh Indonesia.  Dalam pandangan kita, dua tahun terakhir Australia menunjukkan sikap ingin bersahabat dengan militer Indonesia.  Dan setiap ajakan untuk bersahabat pada sahabat yang pernah dilukainya tentu harus ada ongkosnya.  Maka hibah 4 Hercules itu bisa jadi bagian dari ongkos untuk mengambil hati RI.  Lalu berhasil membujuk RI agar Sukhoi TNI AU ikut gabung dalam Pitch Black di Darwin akhir bulan ini .
Skuadron Sukhoi, alutsista strategis TNI AU
Sekedar berandai-andai jika perkuatan Alutsista TNI sudah sampai pada MEF tahap ketiga, sangat diyakini bahwa Australia akan mengidap penyakit anyar, namanya virus SNTTN, sesak nafas tidur tak nyenyak.  Nah sebelum virus itu berkembang biak maka vaksin antivirus itu mulai sekarang harus dikembangkan.  Salah satu caranya tentu dengan merangkul Indonesia agar bisa dekat dengannya, syukur-syukur bisa masuk persekutuannya untuk menghadapi Cina.  Apalagi perkembangan laut Cina Selatan (LCS) yang makin dinamis dan terkadang panas dalam membuat Australia dan sekutunya AS memasang kuda-kuda karena juluran lidah naga Cina sudah mengendus LCS dan bersiap menerkamnya manakala gizi militernya sudah siap tahun 2020 nanti.

Bersahabat dengan semua negara itu penting, tentu berdasarkan kepentingan nasional kita dan kesetaraan “gender”.  Jangan sampai kita sebagai negara besar nomor empat terbesar di muka bumi ini dianggap belum setara gendernya di mata Australia seperti yang selama ini ditunjukkannya dalam bingkai pertemanan.  Dengan menggelontorkan sejumlah bantuan dan hibah untuk mengambil hati,  maksud dan tujuannya disampaikan kemudian, jelas merupakan persahabatan atas nama pamrih dan balas budi.  Mestinya Australia mengedepankan bahasa kultur kepada tetangganya dan juga tetangga lainnya di Asia Tenggara. Beramah tamahlah dengan jirannya.  

Yang menarik tentu saja pernyataan Menlu Australia yang mengucapkan selamat berpuasa bagi muslim Indonesia beberapa hari lalu seakan menyiratkan apakah ini juga bagian dari upaya mengambil hati Indonesia, entahlah.  Yang jelas saling menghargai kultur, memahami kultur Asia, memahami kebhinnekaan Indonesia, tidak mengompori Papua, tidak suka mendikte, tidak merasa arogan dan superior merupakan prasyarat jika Australia ingin mengambil hati rakyat Indonesia, sekali lagi rakyat Indonesia.   Susah senang, haru biru, luluh lantak, hancur minah telah dialami negeri ini bersama cerita perjalanannya dan yang pasti negeri ini sedang menuju pertumbuhan kekuatan yang pasti.  Menuju PDB 1 trilyun dollah, pendapatan per kapita sudah US$ 4.000, kekuatan ekonomi 16 besar dunia, kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, militernya pun mulai menggeliat.  Jika Australia melihat dari periskop ini belum terlambat dia taubat nasuha untuk kemudian memandang negeri ini dari dimensi kesetaraan dalam berjiran.
********
Jagvane / 25 Juli 2012

Monday, July 23, 2012

Antara Phnom Penh dan Darwin


Minggu ke dua Juli 2012 ada dua berita kejut yang mampu mengejutkan kualitas diplomasi dan intelijen berbagai pihak.  Yang satu terjadi di ibukota Kamboja, yang satu lagi dari Darwin Australia.  Kejutan diplomatik terjadi di Phnom Penh Kamboja ketika dilangsungkan pertemuan para menlu ASEAN tanggal 8 sampai dengan 13 Juli 2012 membahas konflik Laut Cina Selatan (LCS).  Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah ASEAN yang telah berusia 45 tahun, para Menlu 10 negara yang ber urun rembug gagal mencapai kata sepakat dalam memberikan nilai kebersamaan untuk code of conduct LCS.  Dengan kata lain ASEAN untuk pertama kalinya sepakat untuk tidak sepakat mengenai sebuah tema yang dirundingkan intensif.  Dalam terminologi yang lain ini adalah kemenangan diplomasi Cina yang berhasil “meretakkan” keharmonisan ASEAN yang dikenal santun dan kompak dalam menyikapi berbagai hal di rantau kawasan.

Kejutan diplomasi lainnya adalah keberhasilan Australia untuk mengajak Indonesia membawa jet tempur mutakhirnya Sukhoi SU30 ke Darwin untuk mengikuti latihan gabungan angkatan udara terbesar 6 negara yaitu Australia, AS, Indonesia, Singapura, Thailand dan Selandia Baru.  Latihan ini berlangsung 27 Juli hingga 17 Agustus 2012 melibatkan sedikitnya 94 pesawat dan 2.200 pasukan.  Ini menjadi menarik karena seluruh jet tempur yang dilibatkan dalam serial latihan terbesar yang diberi judul Exercice Pitch Black 12 merupakan jet tempur buatan Barat kecuali Indonesia.  Latihan ini mengambil area di Darwin dan Tindal.  Kecuali tuan rumah dan AS yang mengambil area latihan di Darwin dan Tindal peserta dari negara lain hanya bisa mengakses di Air Force Base Darwin.
Jet tempur kelas berat TNI AU, Sukhoi
Upaya bujuk rayu Australia ini sejatinya telah berlangsung lama.  Mereka pun sempat bertandang ke Air Force Base Sukhoi di Makassar, walaupun latihannya hanya dilayani 1 flight F16 TNI AU beberapa waktu lalu.  Sebenarnya bisa saja Australia mengajak Malaysia yang notabene masih tergabung dalam FPDA untuk membawa Sukhoinya dalam latihan ini.  Tetapi mengapa justru Indonesia yang dibujuk rayu untuk ikut serta, mencerminkan betapa rasa ingin tahu dan penasarannya Australia terhadap alutsista strategis TNI AU itu.  Meskipun begitu kita meyakini kehadiran Sukhoi untuk berperan serta dalam serial latihan itu tentu tidak akan membuka telanjang seluruh kemampuan dan keunggulan yang dimiliki Sukhoi dan pilotnya.  Latihan bareng itu di wilayah permukaan yang selalu dukumandangkan adalah untuk lebih mendekatkan hubungan militer antar negara namun di sisi lain selalu ada upaya intelijen militer mengintip kekuatan dan keunggulan alutsista yang dimiliki peserta latihan itu.

Keberhasilan Australia ini tentu tak terlepas dari kesepakatan diplomasi politik tingkat tinggi dari kedua negara.  Belum lama berselang di Darwin juga terjadi kesepakatan hibah 4 Hercules tipe H dari negeri Kanguru itu kepada Indonesia.  Juga tak lama setelah adanya pemberian grasi kepada narapidana narkoba Corby dan pembebasan tawanan kriminal anak-anak warga Indonesia di negeri itu. Australia sangat berkepentingan dengan pertumbuhan kekuatan militer Indonesia yang sedang giat-giatnya membangun perkuatan alutsista tentaranya.  Lebih dari itu Australia seakan hendak mengatakan kepada Cina bahwa: kami sangat berkepentingan dengan posisi strategis Indonesia yang memegang kendali teritori LCS dari wilayah selatan, posisi dimana militer AS dan Australia akan menggunakan dalam skala penuh jika terjadi konflik militer dengan Cina.

Sementara itu Cina dianggap berhasil mencuri perhatian diplomasi dan intelijen dengan keberhasilannnya mengobok-obok ASEAN di Kamboja.  Keberhasilan ini tentu  tidak terlepas dari upaya politik dan intelijen Cina dengan memberi “asupan gizi” untuk sahabat tradisionalnya Kamboja yang memang sudah menjadi sekutu dekatnya. Kamboja banyak menerima bantuan ekonomi dari Cina untuk pembangunan infrastruktur, telekomunikasi dan teknologi.  Dengan kucuran dana besar dari Cina dan tekanan politik yang menyertainya, Kamboja yang saat ini menjadi Ketua ASEAN akhirnya tak mampu memberikan kekuatan persahabatan pada kebersamaan ASEAN, karena sudah berhutang budi dengan Cina.  Pertemuan para Menlu ASEAN yang gagal mencapai komunike bersama itu menjadi pusat pemberitaan yang hangat di seluruh dunia dan menganggap ASEAN sudah terkotak berdasarkan blok pengaruh.
Latihan gabungan TNI AL dan AL Australia, Kupang-Darwin
Secara historis 10 negara ASEAN memang bertolak belakang dalam haluan dan cerita sejarahnya.  Pendiri ASEAN, Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura pada saat deklarasi ASEAN merupakan kumpulan negara yang ada dalam pengaruh Barat dalam pembangunan ekonominya.  Ini beda dengan kawasan Indocina yang bergabung belakangan setelah usai perang Indocina tahun 1975.  Karakter politik Vietnam, Kamboja dan Laos berbeda karena mereka berhasil mengalahkan pengaruh Barat dalam perang yang berkepanjangan itu. Kedekatan Kamboja dengan Cina memberikan dampak ketika klaim Cina terhadap LCS dan perkembangan militernya mengharuskan Kamboja menanggalkan kesetiaan kebersamaan ASEAN sehingga ini dianggap sebagai menjual  harga diri untuk sebuah sebutan politik balas budi kepada Cina.

Kawasan ASEAN saat ini secara nyata telah diajak untuk memilih dua jalan yang saling merenggangkan satu sama lain. AS melakukan langkah progresif dengan menempatkan kapal tempurnya di Singapura.  Vietnam pun dibujuk agar bersedia memberikan akses militer untuk AS di teluk Cam Ranh.  Demikian juga dengan Thailand, AS berkeinginan memanfaatkan pangkalan udara U Tapao di Thailand untuk kepentingan militernya.  Filipina jelas berada dalam payung militer AS. Malaysia yang termasuk keluarga FPDA bersama Australia dan Inggris punya klaim dengan Cina sudah tentu berada dalam satu paduan suara dengan Vietnam, Filipina dan Brunai, sama-sama menentang Cina.

Satu-satunya negara ASEAN yang masih mampu berada dalam persahabatan ke semua arah adalah Indonesia meski secara jelas kita bisa memahami bahwa telah terjadi rebutan pengaruh antara AS dan Cina untuk merangkul Indonesia.  Militer Cina dan  Indonesia baru-baru ini melakukan latihan bersama pasukan khusus ber tajuk “Sharp Knife II/2012” di Jinan Shandong Cina selama dua minggu. Cina pun berbaik hati dengan memberikan akses bagi pilot-pilot Sukhoi  TNI AU untuk berlatih dengan menggunakan simulator Sukhoi di Cina.  Tak lama kemudian giliran Australia yang sukses mengundang Indonesia untuk partisipasi di Pitch Black Darwin, tentu dengan upaya diplomasi tingkat tinggi.

Saling berebut pengaruh antara Cina dan AS tentu akan merepotkan kelangsungan perjalanan ASEAN.  Oleh karena itu peran diplomasi yang diprakarsai Indonesia untuk menyamakan langkah bagi semua anggota ASEAN merupakan pekerjaan diplomatik yang menguras energi dan stamina.  Langkah yang dilakukan Menlu Marty Natalegawa yang melakukan safari kunjungan ke negara anggota ASEAN sejauh ini menghasilkan konsensus untuk kembali ke ”jalan yang benar”.  Namun ke depan situasi keretakan itu diniscayakan akan berulang kembali karena langkah progresif AS yang overdosis akan dibalas dengan agresivitas kehadiran kapal perang Cina di LCS dan langkah diplomasi bertajuk kerjasama ekonomi dan kerjasama pertahanan dengan beberapa negara ASEAN. 

Sekedar test case Cina juga sudah mampu menjalankan politik gertak ekonomi dengan Filipina karena terus menerus berteriak dengan kehadiran kapal-kapal perang Cina di LCS.  Cina mengurangi impor beberapa komoditi holtikultura  dari Filipina dan mengurangi jumlah wisatawannya berkunjung ke Filipina.  Nah ketika sebuah fregat Cina melintas di kawasan yang disengketakan dengan Filipina awal Juli ini dan sempat karam katanya, Filipina tidak lagi berteriak keras. Alamak, macam mana pula itu.

****
Jagvane/ 23 Juli 2012