Wednesday, October 5, 2011

Catatan Ulang Tahun Pengawal Republik

Ulang tahun pada dasarnya adalah mematri posisi eksistensi ketika cerita perjalanan sampai di batas daur ulang edar manakala bumi lengkap tigaratus enampuluh lima hari enam jam berputar mengelilingi matahari.  Satu tahun namanya dan eksistensi pun kembali ke titik ulang untuk kemudian berjalan lagi, terus, sampai pada sebutan berulang lagi.

Lima oktober dua ribu sebelas pengawal republik memasuki bilangan usia enampuluh enam, sebuah bilangan yang mencerminkan kedewasaan titik eksistensi pada putaran revolusi bumi yang selama itu berkeliling tak jenuh, tak ingkar mengantarkan semua dinamika yang ada didalamnya termasuk sebuah institusi TNI. Ya selama usia itu TNI telah berkembang menjadi menjadi sebuah kebanggaan, martabat, harga diri, keperkasaan dan kesetiaan mengawal Republik Indonesia. 
Pasukan Marinir TNI AL
Ketika pada awalnya dilahirkan, TNI mirip sebagai sosok bayi yang tak punya apa-apa, telanjang.  TNI lahir dalam sejumlah keterbatasan pada saat mana perjuangan untuk menendang penjajah memerlukan energi dan gizi yang bernama arsenal.  Namun senjata utama TNI waktu itu adalah doa dan spirit tempur, semangat luar biasa untuk mengusir penjajah yang tak mengakui adanya pengumuman kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.  Cerita perang kemerdekaan yang penuh haru biru itu, ada agresi militer pertama lalu agresi milter kedua tak jua menghilangkan TNI dari percaturan tempur sebagaimana yang diinginkan Belanda.  Akhirnya negeri kincir angin ini yang letih, kehabisan stamina dan mengakui kedaulatan RI akhir tahun 1949.

Perjalanan kemudian mencatat pergolakan di beberapa daerah yang merasa dianaktirikan oleh Jakarta.  Ada PRRI / Permesta, ada RMS, ada Daud Beureueh, ada DI/TII.  Semua pergolakan itu memberikan catatan bagi TNI, bahwa tidak ada kata kompromi jika ada komponen yang menyatakan memisahkan diri dengan seabreg alasan.  Karena perjanjian bernegara ini sudah jelas, bahwa negara kesatuan ini adalah konsekuensi sejarah dari kebersamaan langkah yang sudah dilas dengan semangat proklamasi.  Pemberontakan itu akhirnya dipadamkan dengan berdirinya TNI di garis depan sebagai tulang punggung pemadam kebakaran.

Membuka era 60an, Trikora berkumandang tepatnya 19 Desember 1961 untuk memperjuangkan Irian Barat yang masih digenggam Belanda.  Trikora adalah momentum perkuatan alutsista TNI yang luar biasa dan pertama.  Berbagai arsenal mematikan didatangkan dari blok Timur.  Kehadiran arsenal-arsenal ini memberikan aura gentar bagi Belanda. Atas nasehat Presiden AS Kennedy, Belanda akhirnya angkat kaki dari Papua. Inilah kekalahan kedua Belanda setelah sebelumnya mengakui kedaulatan Indonesia akhir tahun 1949.  Sekali lagi TNI tampil sebagai bemper perjuangan keutuhan NKRI. Lengkap sudah NKRI dari Sabang sampai Merauke, ibarat sebuah tubuh, lengkap sudah bersama seluruh anggota badan. 

Lima Oktober TNI berulang tahun, dan tahun ini genap sudah usianya menginjak angka enampuluh enam, sebuah usia dewasa yang mengantarkan kesetiaan pengawal republik pada negeri ini.  Pada usia sebaya ini TNI sedang mempersiapkan gelar alutsista menuju minimum essential force. Ya sang hulubalang sedang mengasah pedangnya agar terlihat mengkilap dan tajam.  Mengapa harus diasah agar tajam, karena inilah kekuatan bargaining yang mampu memberikan nilai kesetaraan dalam pola gaul dengan negara lain terutama negara yang senang mengklaim teritori negara lain.  Kekuatan alutsista adalah cermin menuju profesionalitas TNI karena teman sejati  TNI adalah alutsista itu sendiri, namanya saja angkatan bersenjata, ya senjata itulah  yang menjadi kebanggaan dan nilai profesionalitas sosok tentara.

Nah kalau bicara alutsista maka alokasi atau distribusi alutsista menjadi penting bagi sebuah negara bercorak kepulauan ini. Bicara tentang alokasi arsenal dan satuan-satuan tempur pada sebuah peta yang bernama Republik Indonesaia, maka bisa disimpulkan dengan mudah kekuatan arsenal TNI semua angkatan  menumpuk di pulau Jawa.  Kostrad divisi I dan II semua bermukim di Jawa, Pasmar I dan II juga berdomisili di Jawa.  Pangkalan utama TNI AL di Surabaya dan Jakarta.  Skuadron-skuadron tempur dan angkut militer mayoritas ada di pulau Jawa.

Satuan-satuan tempur di dua Kodam di Kalimantan sudah selayaknya mendapatkan alutsista penggebuk berdaya ledak tinggi disertai mobilitas gerak pasukan.  Main Battle Tank (MBT) diperlukan di sebuah pulau yang berbatasan darat dengan negara tetangga, bukan diletakkan di Jakarta.  Selama ini jika ada penambahan alutsista baru untuk TNI AD, Jakarta dan Jawa selalu mendapat prioritas kemudian alutsista yang lama dipindahkan ke satuan tempur daerah di luar Jawa.  Ketika konflik Ambon sempat menyalak minggu kedua September 2011, alutsista yang muncul di jalanan kota Ambon tidak mencerminkan kegagahannya karena memang sudah tua.  Bandingkan misalnya yang tampil Panser Anoa, auranya akan menegaskan kehadiran satuan pengaman yang gagah dan berwibawa.

Tidak perlu harus mengutamakan Jawa.  Misalnya untuk alokasi  satuan batalyon kavaleri dan batalyon infantri mekanis beserta kekuatan arsenalnya kota Ambon, Banda Aceh, Lhok Seumawe, Jayapura, Pontianak, Kupang mestinya mendapatkan priorotas paling utama.  Di Ambon misalnya harus ada batalyon infantri mekanis dengan kekuatan 70-75 panser Anoa atau yang sejenis.  Kehadiran alutsista seperti ini akan memberikan warna kekuatan gahar pengaman republik dari unsur-unsur pengacau dan separatis.  Bisa ditampilkan pada saat parade militer atau melakukan patroli pengamanan wilayah untuk meredam konflik antar warga.  Demikian juga dengan Pontianak sangat memerlukan kekuatan Main Battle Tank.

Kita berharap ada pemerataan penempatkan satuan-satuan tempur TNI segala matra di 5 pulau besar yaitu Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.  Lima pulau besar ini dapat membentuk Kowilhan (Komando Wilayah Pertahanan) yang nantinya  saling memback up satu sama lain.  Kalimantan misalnya sebagai daerah yang beresiko konflik perbatasan paling tinggi minimal harus ada satuan organik dengan kekuatan 2 divisi TNI AD dengan dukungan alutsista berupa 2 batalyon kavaleri MBT, 4 batalyon infantri mekanis, 4 batalyon armed, 2 batalyon rudal / roket dan 15 batalyon infantri.  Kekuatan AD ini didukung dengan gelar kekuatan AU yang menempatkan secara permanen minimal 2 skuadron tempur, 1 skuadron heli tempur dan 1 skuadron UAV.  TNI AL menempatkan sejumlah KRI di Tarakan berikut penempatan batalyon-batalyon marinir di beberapa pangkalan AL yang ada di Kalimantan.

Penataan satuan organik sebagai kekuatan pemukul reaksi cepat di masing-masing 5 pulau besar dan saling mendukung satu sama lain diniscayakan lebih efektif dalam rentang kendali dan kecepatan reaksi.  Misalnya terjadi konflik terbuka di Ambalat, maka satuan organik di Kalimantan dan Sulawesi bisa saling membantu dengan kedekatan jarak jangkau dan jarak tempur.   Termasuk pula dalam operasi militer selain perang sebaran kekuatan pasukan TNI dengan alokasi alutsistanya di 5 pulau besar ini mampu memberikan kecepatan reaksi.

Seremoni ulangtahun yang digelar di Markas Besar TNI Cilangkap Jakarta hari ini memberi kesan sederhana dan tidak memusatkan pameran kekuatan alutsista di ibukota negara.  Hanya ada flypass 6 Sukhoi dan 6 Hawk, parade dan defile tidak ditampilkan.  Berbeda dengan di Surabaya dan Yogyakarta, kesannya lebih meriah dengan dilakukannya parade dan defile menampilkan beragam jenis alutsista TNI yang dimiliki.  Bisa jadi ini menjadi pertanda bahwa sebaran alutsista  akan dialokasikan merata khususnya di lima pulau besar RI. 

Kita berharap suatu saat akan ada gelar upacara HUT TNI yang dipimpin Presiden di daerah perbatasan, misalnya di Kupang dan Pontianak dengan gelar alutsista secara besar-besaran.  Walaupun hanya bersifat seremoni namun gaungnya akan terasa kuat di kalangan rakyat setempat, manakala upacara HUT TNI dipusatkan di provinsi border land.  Ini akan menciptakan ruang rasa pada nuansa kebangsaan dan mampu membangkitkan semangat patriotik. Parade alutsista di kawasan perbatasan darat akan memberikan pesan jelas kepada negara tetangga adanya kehadiran TNI yang kuat di ruang perbatasan itu. Kita membayangkan ada parade dan defile satuan organik pasukan pemukul reaksi cepat di Kalimantan Barat atau NTT, ada unjuk kekuatan alutsista berupa MBT, Panser, Artileri, Rudal, Roket, Jet Tempur, KRI dan alutsista lainnya.  Semoga horizon membayangkan itu suatu saat bisa menjadi kenyataan yang membanggakan.  Dirgahayu TNI.

Jagvane / 05 Oktober 2011

Tuesday, September 27, 2011

Sisi Humanisme Pengawal Republik

Ayo foto dulu rame-rame, Ibunya juga kepengen tuh !
Kegagahan Kowad, kelembutan seorang Ibu
Kebersamaan, kehangatan dan keceriaan
Selamat berjuang Bapakku
Sama-sama berjuang
Sapa yang hangat dari seorang prajurit
Cantik, tersenyum tapi jangan coba-coba ganggu
Sebuah perlindungan dan rasa kasih sayang, silakan jalan duluan, Nak





Monday, September 26, 2011

Dilema Pengadaan Jet Tempur F16

Khalayak ramai sejatinya sudah sangat berharap kedatangan jet tempur paling favorit di dunia saat ini, Fighting Falcon F16.  Yang diharap tentu saja yang ramai dibicarakan yaitu hibah 30 F16 blok 25 second yang akan diupgrade menjadi blok 32.  TNI AU sebagai user sudah  pun mempersiapkan pangkalan baru bagi home base jet tempur ini sekalian mempersiapkan pilot-pilotnya untuk mengawaki  elang petempur itu. Kalau barangnya jadi datang, ini merupakan paket pembelian terbesar dalam pengadaan jet tempur TNI AU selama 3 dekade.

Jet Tempur F16 TNI AU 
Namun ketika semua tahapan dilalui mulai dari kesediaan Pemerintah AS menawarkan program hibah F16 kepada Indonesia dengan kunjungan Presiden Obama 9 Nop 2009, kemudian ada kunjungan Komisi I DPR ke AS untuk lihat barang yang akan dihibahkan itu, kemudian dilakukan lobby-lobby intensif diantara kedua negara dan juga parlemennya, lalu Kongres AS menyetujuinya medio Agustus 2011, tiba-tiba dalam dua kali rapat antara Pemerintah dan DPR Senin (19/09) dan Rabu (21/9), perbedaan pandangan diantara keduanya menajam.  Lalu berita mengejutkan datang hari Sabtu (24/9) Kemenhan dengan persetujuan Komisi I telah memutuskan membeli 6 jet tempur gress F16 blok 52 dengan anggaran US$ 430 juta.  Terus untuk yang 30 F16 second bagaimana dong.

Kita melihat cerita perjalanan proses pengadaan jet tempur F16 second ini sebagai sebuah antiklimaks. Lihat saja proses awalnya, disiapkan anggaran untuk pembelian 6 jet tempur baru F16 blok 52 tahun 2010, lalu ada tawaran dari Pemerintah AS untuk menghibahkan 30 F16 blok 25 kepada Indonesia, hal yang sama dilakukan Pemerintah AS kepada Thailand dengan menghibahkan puluhah F16 secondnya untuk kemudian di upgrade.  TNI AU lebih memilih hibah 30 F16 dengan pertimbangan luas wilayah coverage udara RI yang harus diawasi dengan patroli udara.  Lagi pula dengan upgrade ke blok 32,  jet tempur F16 dinilai sangat layak  mengawal teritori udara RI.  Sekadar catatan 10 F16 yang dimiliki TNI AU saat in adalah dari blok 15 OCU yang kemampuannya jauh dibawah blok 32.

Ketidaksepahaman antara DPR dengan Kemenhan tentang hibah ini menurut pandangan kita adalah sebuah kemunduran dari sebuah langkah yang sudah diamini keduabelah pihak pada awalnya.  Menjadi ironi ketika semua tahapan krusial seperti persetujuan Kongres AS sudah dilalui tetapi tiba-tiba berselisih sendiri oleh sebab-sebab teknis  yang mestinya bisa didiskusikan dengan sikap jernih dan transparan.  Kalau kalangan komisi I DPR beranggapan bahwa dengan 6 jet tempur anyar dari F16 blok 52 bisa memberikan efek gentar, tidak jua bisa disebut demikian.  Apa yang bisa dilakukan dengan 6 biji jet tempur itu untuk mengawal wilayah udara RI yang seluas Eropa itu, apalagi jika membandingkan dengan kekuatan 60 F16 blok 52 yang dimiliki Singapura.  Jika sudut pandang itu yang dipakai maka mestinya dibeli saja sebanyak minimal 1 skuadron (16 unit) F16 blok 52.

Pilihan TNI AU pada opsi hibah 30 F16 second karena sejatinya TNI AU tahu diri dengan keterbatasan anggaran.  Kalau minta duit sebesar US $ 1,4 Milyar untuk beli 16 jet tempur gress F16 blok 52 jelas berat diongkos, begitu pertimbangannya, maka untuk sementara cukuplah kuota anggarannya berkisar US$ 450 juta.  Ya karena TNI AU juga masih harus mendatangkan Super Tucano, Golden Eagle dan Sukhoi untuk melengkapi skuadronnya yang grounded karena ketuaan pesawat.  TNI AU sebagai user sudah sangat familiar dengan F16 bahkan sudah memiliki simulator di pangkalan Iswahyudi.  Kuantitas F16 diperlukan dalam jumlah banyak mengingat dinamika kondisi kawasan, konflik perbatasan, sehingga kehadiran armada F16 dalam jumlah yang memadai diperlukan untuk mengawal kewibawaan teritori udara kita.  Ongkos terbang F16 juga jauh lebih murah dibanding Sukhoi karena Sukhoi memang dipersiapkan untuk pertarungan berat dan panjang sesuai jarak jelajahnya dan kemampuan manuvernya.  Nah dalam kondisi damai namun tetap waspada seperti sekarang ini yang perlu tampil dalam patroli udara sangat pantas dibebankan pada F16.

Dalam bingkai yang sama kita juga berharap pada  Kemenhan dan TNI agar ketika sudah memilih opsi pengadaan 30 F16 second itu mestinya diperjelas tentang penggunaan anggaran yang sesungguhnya dan jadwal kedatangan bertahap F16 second itu.  Soalnya beberapa statemen yang disampaikan ke publik  berbeda satu sama lain, ada yang bilang sebelum April 2012 menjelang hari bhakti TNI AU minimal sudah datang 4 unit tapi ada juga yang katakan baru datang tahun 2014 sebanyak 4 unit sebagaimana yang dikritisi oleh anggota Komisi I DPR Fayakhun Andriadi.  Kalau beli second saja durasi kedatangannya baru tahun 2014 mending beli baru saja.  Bukankah pilihan beli yang second itu juga berkaitan dengan waktu kedatangannya yang lebih cepat, begitu gambaran politisi muda Partai Golkar ini.

Dalam konteks ini kita ingin menggarisbawahi bahwa sesungguhnya mayoritas rakyat Indonesia sangat menginginkan perkuatan TNI di segala matra.  Sudah saatnya kita mempunyai alutsista yang setara dengan yang dipunyai negara sekeliling kita.  Ini tentu sebuah kado yang menggembirakan bagi Kemenhan dan TNI untuk mempergunakan uang rakyatnya bagi pengadaan alutsista yang modern.  Sudah ada kesamaan sikap antara DPR dan Pemerintah mengucurkan dana alutsista sebesar 100 trilyun rupiah dengan opsi tambahan 50 trilyun lagi untuk masa 2010-2014.  Bukankah ini momentum yang membahagiakan karena selama ini kita miris dengan gelar alutsista TNI, jauh dari kesan gagah perkasa malah cenderung menjadi gagah gemulai karena kualitas arsenalnya  jadi bahan tertawaan.

Oleh sebab itu kita berharap pengadaan 30 F16 second itu tidak berhenti begitu saja.  TNI AU sebagai user tentu yang paling tahu dengan kondisi F16 second itu karena pengawal dirgantara ini sudah sangat paham dengan anatomi F16 segala blok. Kita meyakini bahwa pilihan F16 second itu dilakukan TNI AU sebagai jembatan ketersediaan armada jet menjelang kehadiran jet tempur KFX tahun 2020 karena F16 second ini masih dapat digunakan sampai 12 tahun ke depan.  Meskipun begitu Kemenhan dan TNI diharapkan lebih membuka diri  pada mitra legislatifnya DPR tentang kajian teknis, teknologi, pola bayar up grade, jangka waktu kedatangan, keterlibatan industri hankam dalam negeri PT DI.  DPR sebagai wakil rakyat negeri ini tentu membawa misi mempertangungjawabkan penggunaan anggaran yang besar itu.  Argumen-argumen yang disampaikan oleh Komisi I DPR setidaknya membuka mata kita bahwa masih diperlukan ruang komunikasi untuk bisa mempersamakan persepsi.  Kita hargai posisi argumentasi Komisi I DPR sembari ingin menyampaikan pesan: Sebagai rakyat kita sangat menginginkan 30 F16 second itu, syukur-syukur dapat dua sekaligus, 6 jet tempur gress F16 blok 52  beserta 30 F16 blok 32 upgrade.  Siapa tahu kan ?
*******
Jagvane / 26 Sept 2011

Friday, September 16, 2011

Gelisahkah Singapura ?

Wakil Perdana Menteri Singapura Theo Chee Hean berkunjung ke Jakarta 14 September 2011 termasuk  melakukan kunjungan kehormatan lima belas menit ke Kementerian Pertahanan.  Pertanyaannya tentu, untuk apa ke Kemhan karena tamu negara yang berdatangan sepekan terakhir ini biasanya diterima Presiden, seperti kunjungan Perdana Menteri Thaliand Yinluck Sinawatra atau Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung yang datang berurutan.  Walaupun singkat tetapi sepertinya ada salam kulonuwun Wakil PM Singapura kepada Kemhan sebagai bahasa diplomasi dari sebuah tema : ada maunya.
Daerah Latihan Tempur Singapura dalam DCA yang gagal
Pada saat yang bersamaan sedang disiapkan latihan gabungan angkatan udara kedua negara di provinsi Riau dengan melibatkan berbagai jenis jet tempur.  RSAF mendatangkan 1 fight jet tempur F16 dan 1 flight F5E, sedangkan TNI AU menyertakan 1 fight jet tempur Hawk200, 1 flight F5E dan 1 flight F16.  Angkatan laut kedua negara sudah lebih dahulu melakukan patroli laut terkoordinasi selama berminggu-minggu yang melibatkan kapal perang kedua negara.  TNI AL mengerahkan 4 KRI dari armada barat.

Singapura dan Indonesia pernah menandatangani perjanjian kerjasama pertahanan (Defence Cooperation Agreement / DCA). Seremoni  DCA  ditandatangani pada 27 April 2007 oleh Menhan kedua negara disaksikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong.  Tetapi yang terjadi kemudian adalah sepakat untuk tidak sepakat karena berbagai kontroversi seperti ekstradisi koruptor dan area latihan Bravo di Natuna untuk media latihan militer Singapura.

Ada pertanyaan yang mengemuka, apakah makna sebuah kunjungan silaturahim ke sebuah Kementerian yang mengurusi kedaulatan dan pertahanan bangsa.  Sepertinya ada sesuatu yang menyiratkan bahwa Singapura sedang hendak mengambil hati petinggi Kemhan, hendak berdialog lagi dalam berbagai dimensi.  Memang Menhan secara lugas menjelaskan sebelum pertemuan dengan delegasi wakil PM Singapura itu bahwa tidak ada lagi pembahasan kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Singapura.

Tetapi namanya juga bahasa diplomasi setiap saat kan bisa berubah tergantung situasi.  Bisa jadi pernyataan Menhan itu sebagai bentuk kuatnya bargaining Indonesia untuk melakukan runding ulang atau pembicaraan berjenis kelamin apapun dengan Singapura.  RI tak mau lagi didikte oleh Singapura yang sengaja menyatukan perjanjian ekstradisi dengan perjanjian pertahanan beberapa tahun lalu.   Makanya pernyataan lugas Menhan Purnomo itu patut kita acungi jempol, sebuah ketegasan sikap yang diperdengarkan, kita tak butuh lagi pembahasan perjanjian kerjasama pertahanan dengan Singapura.

Bersamaan dengan berlalunya waktu sejak gagalnya DCA 2007, Indonesia mulai melakukan peremajaan alutsista secara besar-besaran.  Alutsista segala matra diperkuat, diperbanyak, dan disebar ke satuan-satuan tempur TNI.  Industri hankam dalam negeri dipeluk hangat dan diberi kepercayaan untuk memenuhi sebagian alutsista TNI.  Misalnya Pindad dengan Panser Anoa, PAL dengan LPD, LST, Kapal Cepat Rudal dan Perusak Kawal Rudal, lalu PT DI dengan CN235 MPA dan Helikopter.  Dari negara mitra luar negeri banyak dibeli berbagai jenis alutsista pemukul, baik melalui beli murni maupun dengan beli melalui transfer teknologi.

Catatan kita adalah, memang akhirnya makin terbukti bahwa perkuatan alutsista TNI adalah peta jalan untuk memberikan nilai kesetaraan dalam hubungan bilateral, multilateral terutama terkait dengan dinamika bertetangga.   Sekedar membandingkan, sekuat apapun Singapura, tak akan mampu menandingi keperkasaan Indonesia terutama terkait dengan populasi, sumber daya alam, kekuatan daya beli, stamina bernegara dan berbangsa, demografi dan kekuatan pasar.  Jangan main-main dengan 240 juta rakyat Indonesia karena kekuatan populasi sebesar itu merupakan kekuatan potensi bagi dinamika Singapura. Potensi itu dalam hubungan bilateral yang baik bisa menjadi penyumbang pariwisata terbesar bagi Singapura, kekuatan pasar bagi produk Singapura. Dalam dinamika yang lain bisa jadi kekuatan yang membahayakan Singapura.

Saat ini Singapura unggul dalam kekuatan militer karena didukung oleh perolehan arsenal yang mematikan dan berteknologi tinggi.  Keinginan untuk unggul di sektor ini tak lain disebabkan untuk memberikan nilai kepastian dalam eksistensi bernegara karena tetangga disebelahnya merupakan tetangga yang besar (Malaysia) dan sangat besar (Indonesia).  Kecemasan pada kepastian kelanjutan mempertahankan eksistensi bernegara ini membuat negeri pulau itu memperkuat pertahanan, memberlakukan wajib militer bagi semua warga negaranya yang sudah cukup umur.

Ketika saat ini Indonesia sedang giat-giatnya memperkuat alutsista untuk pengawal republik tentu Singapura merasa bahwa keunggulan militernya mulai tersaingi. Padahal ini satu-satunya keunggulan dia ketika suatu saat harus berhadapan pada posisi hubungan yang memburuk dengan salah satu dari kedua jirannya.  Ini tentu sebuah kegelisahan yang terasa ada terkatakan tidak.  Okelah saat ini di tahun 2011, Singapura masih tetap unggul jauh dalam kualitas dan kuantitas arsenal namun kacamata militer horizon mereka menangkap bahwa horizon 2014 itu tidak lama lagi dan pada saat itu kekuatan militer Indonesia yang baru menyandang MEF (Minimum Essential Force) sudah setara dengan kekuatan milter mereka, bahkan kekuatan armada laut Indonesia di mata mereka sudah melebihi kegelisahan itu sendiri.

Kegelisahan itu boleh jadi yang mengiringi langkah seorang wakil PM dan delegasinya berkunjung ke Kemhan, sebuah pintu masuk untuk melakukan dialog, pembicaraan, perundingan dan atau apapun untuk satu maksud, mempererat yang sudah erat, mengikat yang belum terikat, membungkus yang masih belum terbungkus.  Kita menghargai sebuah niat baik, mempererat hubungan antara dua negara bertetangga, saling berkunjung, saling menghormati.  Semua itu untuk nilai kesetaraan dalam hubungan bernegara.  Semoga Singapura mampu melihat perspektif itu.
******
Jagvane / 16 Sep 2011


Sunday, September 11, 2011

Korina: Begitu Dekat Begitu Nyata

Sepanjang minggu kedua September 2011 ini hampir semua media di Indonesia menempatkan berita gembira tentang kabar belanja alutsista TNI.  Ada sidang kabinet terbatas tanggal 7 September 2011 yang dihadiri Presiden, Wapres, Menko Polhukam, Menkeu, Menhan, Panglima TNI dan Kapolri khusus membahas dana alutsista dan progress pengadaannya sampai dengan tahun 2014.  Presiden yang tahu persis tentang seluk beluk pengadaan alutsista termasuk potensi korupsinya (karena dia seorang jendral purnawirawan TNI) memberi arahan secara lugas, rinci dan sistematis bahwa pengadaan alutsista TNI harus tepat waktu, tepat sasaran dan tepat anggaran.

2 dari  4 LPD hasil kerjasama produksi Korina

Senada dengan itu Menteri Keuangan memperjelas kembali bahwa sampai dengan tahun 2014 telah disediakan anggaran Rp 100 Trilyun untuk pengadaan alutsista.  Yang sedang disiasati saat ini adalah penambahan Rp 50 Trilyun lagi agar target anggaran yang telah disepakati antara Pemerintah dan DPR sebesar Rp. 150 Trilyun bisa tercapai.  Menteri Keuangan sangat berharap agar penyerapan belanja alutsista tepat waktu karena yang terjadi selama ini proses pengadaannya yang bertele-tele sehingga tahun anggaran terlewati begitu saja.

Kalau mau dirunut ini adalah puncak rangkaian gelar statemen yang dilakukan oleh para petinggi TNI dan Kemhan.  Sebelumnya di Wates 1 September 2011 KSAU Marsekal Imam Sufaat mempertegas bahwa proses pengadaan alutsista TNI AU akan dipercepat sehingga tahun 2014 pengawal dirgantara ini sudah memiliki kekuatan alutsista yang kuat bersamaan dengan berakhirnyaa era SBY.  Kemudian KASAL Laksamana TNI Soeparno dalam sertijab Panglima Armada Timur tgl 06 September 2011 di Surabaya menyatakan alutsista TNI AL tahun 2014 akan sesuai dengan target MEF (Minimum Essential Force).

Harus diakui inilah proyek pengadaan alutsista terbesar setelah era Dwikora dimana dalam kurun waktu 5 tahun (2010-2014) dilakukan penambahan alutsista TNI secara besar-besaran.  Kita tak perlu lagi membahas apa-apa yang dibeli dari luar negeri, dikerjasamakan atau diadakan sendiri oleh industri pertahanan dalam negeri.  Yang ingin kita kedepankan adalah pola kerjasama alih teknologi alutsista dengan Korea Selatan sebagai negara mitra kerjasama yang mendulang berkah karena tak pelit ilmu sehingga dia juga ketiban rezeki devisa dollar.  Korea Selatan memang sudah memiliki industri alutsista berskala dunia akreditasi A sejak 10 tahun terakhir ini yang semuanya diawali dengan pola kerjasama alih teknologi dengan negara-negara utama penghasil industri alutsista seperti AS, Jerman, Israel, Perancis.  Walaupun terhitung baru dalam perjalanan industri alutsistanya dibanding “mbahnya” tadi, negeri ginseng ini tak pelit ilmu dan mau berbagi jurus dengan Indonesia, misalnya yang sudah terbukti kerjasama pembuatan 4 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) untuk TNI AL.

Saat ini berbagai jenis alusista buatan Korsel yang sudah bermukim di Indonesia selain LPD adalah pesawat latih KT-1 Wongbee, Rantis Barracuda untuk Brimob, Senapan mesin K3, Ranpur amphibi LVT-7, Radio Panggul VHF dan FM PRC 999KE/C, Submachinegun Daewoo K7, Truk angkut pasukan sekelas reo, Jip KIA dan upgrade KRI Cakra.  Yang sedang dinantikan kedatangannya adalah upgrade KRI Nanggala selesai akhir tahun ini, jet latih tempur T-50 golden eagle, panser canon Anoa Tarantula, tank IFV K-21.  Yang sedang dirisetkembangkan bersama adalah jet tempur generasi 4.5 KFX.  Dari pola produksi bersama ini nantinya Indonesia akan mendapatkan 50 unit jet tempur  dengan kemampuan tempur melebihi kualitas F16.

Dan, puncak dari semua kerjasama alutsista itu adalah dinantikannya proyek prestisius pembuatan 3 kapal selam dalam waktu dekat ini.  Kunjungan Menhan Korsel ke Jakarta 8 September lalu menyiratkan upaya kuat negeri itu memenangkan pertarungan tender melawan Turki.  Nah kalau mau didolarkan nilai kerjasama proyek alutsista RI termasuk dengan pola berbagi ilmu tadi Korsel setidaknya akan mendulang  US$ 3,8 milyar.  Rinciannya US$ 2 milyar untuk proyek jet tempur KFX, US$ 1,2 milyar untuk proyek kapal selam, US$ 400 juta untuk proyek jet latih tempur T-50, sisanya proyek tank IFV K21, proyek panser anoa tarantula dan upgrade kapal selam KRI Nanggala.

Kedekatan hubungan Korina (Korea_Indonesia) tidak hanya belaku pada sektor alutsista. Barang-barang produk Korsel mulai dari otomotif sampai dengan gadget sudah begitu kita kenal dan pergunakan.  Kedekatan lain yang mampu mengikat kedekatan emosional adalah hadirnya beragam jenis sinetron Korea di layar kaca TV kita.  Sinetron dari negeri ginseng ini saat ini begitu melekat dimata pemirsa.  Hebohnya lagi ada satu stasiun TV nasional Indosiar yang menayangkan beragam jenis sinetron Korsel dari pagi sampai sore, mestinya namanya ditukar saja dari Indosiar menadi Indorea.  Tak ketinggalan jua  kiblat model dan gaya group penyanyi kita ya prianya ya wanitanya mengikuti banget gaya artis Korsel.  Ini adalah sebuah fenomena yang jarang terjadi, ada kerjasama militer yang begitu dekat, ada kerjasama ekonomi yang sudah akrab, ada pula ”kerjasama” kedekatan emosional dalam dunia hiburan.  Siapa yang tak kenal dengan nama-nama artis Korea yang setiap hari berkunjung via media TV untuk kemudian pemirsa kita terbawa dalam dinamika emosi jalan cerita sinetron.

Suka tidak suka itulah yang terjadi saat ini.  Budaya Korsel memang banyak persamaan dengan Indonesia, menghargai tata krama, tidak arogan, hubungan antar negara dan rakyatnya dibangun dalam konsep kesetaraan. Tenaga kerja Indonesia banyak yang bekerja di Korsel dengan perjanjian kerja yang menghargai konsep kemitraan.  Kedekatan hubungan dengan Korsel itu malah melebihi kedekatan hubungan kita dengan negara serumpun Malaysia. Jadi tak salah kalau kita menyebut kedekatan dan kemesraan hubungan Korina ini seperti motto iklan sebuah perusahaan telekomunikasi : begitu dekat, begitu nyata.  Atau, walau jauh di mata namun dekat di hati.
*****
Jagvane / 11 Sep 2011

Monday, September 5, 2011

Benarkah 6 Sukhoi Su27/30 Datang Akhir Tahun Ini

Air Fueling 2 Sukhoi milik TNI AU
Ini perlu djadikan judul tema kita kali ini sebab yang ingin dipertegas adalah apakah kontrak pengadaan 6 jet tempur Sukhoi yang ditandatangani akhir tahun ini atau memang 6 jet tempur Sukhoi itu akan tiba akhir tahun ini.  Sepengetahuan kita memang  telah ada kontrak pengadaan arsenal Sukhoi akhir tahun lalu untuk mempersenjatai 6 Sukhoi yang datang tahun itu tetapi untuk pengadaan 6 Sukhoi tidak pernah direlease di media sehingga timbul berbagai dugaan apakah tahun ini kontraknya yang di sign atau pesawatnya yang akan tiba.

Ini menarik karena tanggal 3 September 2011 yang lalu Dirjen Rencana Pertahanan Kemhan Marsekal Muda Bonggas S. Silaen mempublikasikan berita bahwa 6 jet tempur Sukhoi Su27/30 segera datang akhir tahun ini yang sudah dilengkapi dengan persenjataan dan avioniknya.  Biasanya proses dan kontrak pengadaan alutsista strategis selalu dikumandangkan dengan transparan misalnya proses pengadaan 16 pesawat Super Tucano dari Brazil dan 16 pesawat T-50 Golden Eagle dari Korsel.  Juga proses pengadaan hibah 24 F16 dari AS yang kemudian belakangan berkembang bahwa jumlah hibahnya menjadi 30 unit termasuk upgradenya menjadi blok 52.

Demikian juga dengan alutsista jenis lain seperti pengadaan batch 2 tank amphibi BMP3F dari Rusia sebanyak 56 unit, pengadaan kapal cepat rudal, kapal trimaran, kapal LST, LPD oleh industri alutsista dalam negeri, instalasi rudal yakhont dan C802 jelas proses dan waktu penampakannya.  Begitupun ada juga yang tak terpantau penampakan prosesnya tahu-tahu sudah datang di gerbang pangkalan TNI, menjadi kenyataan yang menyenangkan.  Misalnya kedatangan 3 heli serbu jenis Mi35 dari Rusia dan yang terakhir kedatangan 6 Heli angkut kapasitas besar jenis Mi17 juga dari Rusia tahu-tahu sudah sampai di Pondok Cabe.

Kalaupun memang yang datang itu wujud pesawatnya akhir tahun ini patut kita sambut gembira karena itu berarti dalam waktu yang singkat pengadaan batch 3 jet tempur Sukhoi sejumlah 6 unit dapat terealisir cepat.  Meskipun begitu jika yang terjadi kemudian adalah sign pengadaan 6 Sukhoi (bukan kedatangan barangnya) kita juga tak perlu sewot karena filosofi dari setiap statemen petinggi kemhan dan petinggi TNI tidak harus ditelan bulat-bulat.  Ingat statemen Menhan Purnomo beberapa waktu lalu yang sempat membuat jiran sebelah tak tidur nyenyak.  Menhan bilang bahwa TNI AU akan diperkuat dengan 180 Sukhoi untuk melengkapi 10 Skuadron tempur yang masing-masing terdiri dari 18 jet tempur. Berita ini menjadi headline news di media regional, running tex TV3 Malaysia sempat menayangkan pemberitaan itu yang tentu saja menghebohkan forum militer negeri itu.

Kondisi terkini sampai tahun 2014 yang memungkinkan kita memiliki 10 skuadron tempur itu bisa dipilah dengan kehadiran 2 Skuadron Sukhoi (32 unit), 3 Skuadron F16 (40 unit), 1 skuadron T-50 (16 unit), 1 skuadron Super Tucano (16 unit), 1 skuadron F5E (12 unit) dan 2 skuadron Hawk 100/200 (36 unit).  Ini yang paling realistis.  Nah setelah tahun 2014 bisa saja F5E diganti dengan keluarga Sukhoi terbaru atau penambahan skuadron tempur baru sampai mencapai 15-18 skuadron untuk menampung kedatangan minimal 50 jet tempur KFX produksi bersama Indonesia-Korea tahun 2018 serta jet tempur jenis lain.  Bukankah TNI AU juga berminat dengan jet tempur Typhoon atau bahkan jet tempur F35 sebagaimana disampaikan oleh KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat di beberapa media baru-baru ini.

Sejatinya memang tak perlu secara lugas dipublikasikan dan dipertontonkan pengadaan alutsista TNI terutama yang berkaitan dengan jumlah dan spesifikasi teknis termasuk jenis persenjataan berkualifikasi strategis.  Ini bagian dari aura rahasia dan strategi militer yang perlu dijaga auratnya, transparan oke tapi jangan telanjang dong.  Makanya pernyataan Dirjen Ranahan Kemhan tentang  pengadaan 6 Sukhoi itu harus dilihat dalam konteks perspektif dan prediksi.  Artinya kita pasti akan menambah 6 Sukhoi untuk melengkapi jet tempur Sukhoi yang berjumlah 10 unit saat ini menjadi 1 skuadron (16 unit). Tentang kapan datangnya atau kapan kontraknya biarlah waktu nanti yang akan menjawabnya.  Yang terpenting dari semua ini kita menyambut hangat setiap kedatangan alutsista baru TNI yang dalam bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang dipastikan akan panen raya alutsista.  TNI telah ”berbuka puasa”, kita ucapkan selamat menikmati menu alutsista baru.
*******
Jagvane / 05 September 2011

Wednesday, August 24, 2011

MAU DIBAWA KEMANA PERTAHANAN NEGARA ASEAN ?

Peta Konflik Laut Cina Selatan
Semangat ASEAN ketika asosiasi pertemanan pertetanggaan ini dilahirkan tahun 1967 adalah menginginkan kerjasama ekonomi diantara sesama jiran sekaligus ingin menghapus aura permusuhan 4 negara diantara kumpulan 5 negara (pada waktu itu) Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina. Sementara Thailand menjadi basis deklarasi ASEAN karena peran mediasi dan fasilitasinya.  Akhirnya Bangkok menjadi tempat kelahirannya.

Sekarang anggotanya menjadi 10 negara dengan tambahan Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar dan Brunei Darussalam.  Sementara Timor Leste diperkirakan akan segera bergabung dengan ASEAN tahun 2012.  Selama perjalanan 3 dekade kerjasama ekonomi itu, sampai tahun 1997 ketika reformasi dan demokratisasi di Indonesia dimulai, iklim pertetanggaan diantara negera ASEAN sejuk-sejuk saja.  Kalaupun ada riak selalu diselesaikan dengan semangat kebersamaan dan kesetaraan.  Itu karena ada peran kepemimpinan dari sosok Presiden  RI kedua Soeharto yang mampu mengawal kedekatan dan keakraban ASEAN bersama pemimpin ASEAN yang lain.

Ketika reformasi bergulir tahun 1998 peran kepemimpinan Indonesia di mata anggota ASEAN lainnya memudar. Ketika sedang mengalami rubuhnya pertahanan ekonomi di tahun itu dan sesudahnya, kita bertarung dengan kesulitan ekonomi dan sekaligus bertarung di ruang politik yang sangat liberal.  Tak sempat mikirin tetangga, wong omahe dewe ribut memperebutkan nasi, kursi dan posisi, serba amburadul.  Dampak krisis ekonomi itu membuat kondisi pertahanan TNI menurun drastis, alutsista yang beroperasi alakadarnya.

Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba perseteruan memperebutkan Sipadan dan Ligitan muncul ke permukaan dan akhirnya dengan melalui persetujuan Mahkamah Internasional Sipadan dan Ligitan lepas dari RI sejak tanggal 17 Desember 2002.  Merasa diatas angin jiran sebelah itu semakin provokatif dan kemudian kembali mengklaim kawasan Ambalat yang berada di selatan Sipadan dan Ligitan sebagai teritorinya, lalu mengerahkan sejumlah kapal perangnya untuk show of force.  Ini yang membuat TNI marah besar lalu mengerahkan sejumlah KRI dan batalyon marinir ke kawasan itu. Sejak saat itu TNI berkesimpulan bahwa Malaysia tidak lagi mengedepankan cara bertetangga yang baik, dan ini harus disikapi dengan cara pandang militer, anda jua kami beli.  Maka bisa kita saksikan warna lukisan pertahanan kita sampai saat ini, Tarakan menjadi basis militer segala matra, Sebatik diperkuat dengan pasukan marinir dan radar pantai.  Berau jadi pangkalan heli tempur, Sangatta jadi pangkalan militer berskala besar, Kalimantan diperkuat 2 Kodam, pengadaan alutsista besar-besaran dimulai dan sudah menampakkan hasilnya, industri hankam dalam negeri diberdayakan.

Dinamika kondisi kawasan kemudian berubah karena Cina mulai melakukan provokasi dengan armada angkatan lautnya di Laut Cina Selatan.  Vietnam dan Filipina berteriak lantang.  Malaysia pasang kuda-kuda, armada ke tujuh AS mondar-mandir di LCS.  Ini menunjukkan bahwa pusat konflik masa depan ada di seputar LCS. Cina akan tetap pada klaimnya dan berusaha untuk mendapatkan kawasan yang kaya akan sumber daya alam tak terbarukan itu dengan cara apapun.  Cina juga sedang membangun kekuatan milternya (AU dan AL) untuk menjadikannya sebagai kekuatan regional yang disegani, tahun 2020 targetnya.

Menyikapi kondisi seperti ini ada pemikiran di sebagian kalangan negara anggota ASEAN untuk menghadapi klaim teritori dan kekuatan militer Cina yang  tangguh itu dengan cara mempersekutukan kekuatan pertahanan negara-negara ASEAN menjadi sebuah aliansi atau pakta pertahanan. Wacana ini perlu dikedepankan karena konflik LCS berpotensi menyulut tarung militer yang melibatkan negara besar dan berpengaruh.  Itu sama dengan membiarkan halaman rumah kita terbakar oleh amuk emosi amunisi berbaju militer.  Itu sebabnya perlu penangkal cegah dengan mempersekutukan kekuatan militer negara anggota ASEAN, misalnya.

Arah pertahanan ASEAN bisa ditumbuhkan menjadi Pakta Pertahanan jika mampu dihilangkan rasa saling curiga diantara negara ASEAN. Misalnya Indonesia dengan Malaysia, Singapura dengan Malaysia, Thailand dengan Kamboja.  Persyaratan lain yang mesti dijelaskan adalah pembubaran FPDA yang dibentuk untuk mengimbangi kekuatan militer Indonesia pada era Dwikora.  Kalau memang Pakta Pertahanan ASEAN merupakan sebuah kebutuhan untuk menangkal kekuatan militer Cina yang semakin mengkhawatirkan dan mengklaim Laut Cina Selatan, atau untuk menjaga kestabilan wilayah regional ini, mestinya tidak ada sebuah negara anggotanya yang bermuka dua, pura-pura bergabung dengan pakta ini tetapi bathinnya belum menerima karena merasa masih terancam kedaulatannya oleh jirannya sendiri atau mengklaim teritori jirannya.

Indonesia, Singapura, Myanmar, Kamboja, Laos tidak punya konflik teritori dengan Cina.  Sementara  Vietnam, Malaysia, Filipina, Thailand dan Brunai ada saling tumpang tindih dengan “lidah naga”.  Vietnam sejak lama punya sejarah konflik perbatasan dengan Cina, rakyatnya juga anti Cina, Vietnam dekat dengan Rusia sementara Kamboja dan Myanmar adalah sekutu dekat Cina.  Militer Vietnam dan Kamboja secara historis punya cerita gemilang ketika mampu mengusir tentara AS dari Indocina pertengahan tahun 70an. Filipina menjadi sekutu tradisional AS, Singapura setali tiga uang.  Malaysia dan Singapura bergabung dalam FPDA.  Thailand dulu bergabung dengan SEATO yang sudah dibubarkan.  Itulah gado-gado pertahanan negara ASEAN dan cerita historisnya.  Apakah gado-gado itu bisa disatukan atau dipertemukan dalam sebuah aliansi militer, sangat tergantung pada persamaan sikap diantara negara anggotanya.

Perkuatan alutsista TNI saat ini yang sudah mulai menampakkan bentuk kekuatannya, diniscayakan mulai tahun 2014 sudah menjadi kekuatan penyeimbang diantara sesama negara ASEAN.  Kemudian periode 2014-2019 diyakini akan menjadi kekuatan penggentar diantara negara jiran.  Pada periode ini Indonesia diyakini sudah memiliki lebih dari 200 jet tempur berbagai jenis, 320 KRI berbagai jenis dalam tiga armada tempur, 12 kapal selam, ratusan rudal jarak menengah baik surface to surface maupun surface to air. Pada saat yang sama industri hankam dalam negeri sudah mampu memasok alutsista seperti tank, panser, roket, artileri, KCR, PKR, kapal selam, rudal, helikopter, pesawat angkut dan jet tempur.  Sementara total pasukan TNI bisa mencapai 600 ribu personil dengan 3 divisi pasukan marinir, 3 divisi pasukan Kostrad sebagai pasukan pemukul reaksi cepat.

Kekuatan alutsista TNI ini diyakini bisa menjadi faktor penjinak bagi arogansi dua negara ASEAN yaitu Malaysia dan Singapura.  Ingat-ingat saja rentang tahun 2007 sampai dengan 2009 ketika konflik Ambalat memanas, statement pemerintahannya dan elemen masyarakatnya melecehkan kekuatan TNI.  Tahun 2010 levelnya sudah agak menurun.  Tahun ini ketika berbagai proyek pengadaan alutsista digelar secara signifikan, simultan dan transparan, tensi statement government Malaysia sudah sangat menurun.  Bahkan forumer mereka yang mengisi diskusi forum militer di berbagai media maya yang biasanya banyak cakap dan melecehkan RI mulai menunjukkan perubahan sikap, sudah kembali ke habitatnya, sudah mulai jinak kata pawang harimau di taman Safari.  Itu artinya perkuatan alutsista TNI merupakan jawaban paling tangguh untuk memberikan “daya pukul” balasan kepada negara-negara yang meremehkan kedaulatan RI tanpa harus mengajaknya berkelahi.

Bagi Indonesia pakta pertahanan regional tidak penting-penting banget karena negeri ini dilahirkan dan dipertahankan dengan semangat cinta tanah air, nasionalisme dan patriotik.  Sebuah saksi dan jalinan kisah sejarah yang tak terbantahkan. Meskipun demikian jika memang situasi dan kondisi mengharuskan demikian demi solidartias ASEAN, kita tidak menafikan itu bisa terwujud.  Hanya persyaratan ekologis dan keseimbangan dalam hubungan pertetanggaan yang setara perlu dikeluarkan bisulnya, misalnya pengakhiran pakta FPDA, tidak ada klaim teritori misalnya Ambalat.  Kemudian tidak menjadi negeri penampung koruptor dan dolarnya dengan dalih tak ada perjanjian ekstradisi.  Sederhana kan, karena pada dasarnya cara gaul republik ini ya begitu itu, low profile, banyak menahan diri, dan selalu mengedepankan cara pandang toleransi dengan jirannya.  Tapi cara pandang dan sikap itu sering ditafsirkan sebagai bentuk ketidakmampuan menjalankan diplomasi dengan jirannya.

Definsinya jelas, kita perkuat postur TNI dengan berbagai arsenal mutakhir, bergengsi dalam kualitas dan berdaya dalam kuantitas.  Ini juga seirama dengan pertumbuhan ekonomi kita yang stabil, meningkat dan berdaya tahan.  Kekuatan product domestic bruto, cadangan devisa, pendapatan perkapita, dan kekuatan daya beli selama tiga tahun terakhir menunjukkan indikator yang memuaskan.  Itu artinya belanja alutsista kita pun makin tahun makin menggembirakan.  Tahun 2014 adalah momentum untuk memperlihatkan taring dan taji TNI tetapi bukan untuk mengajak berkelahi melainkan siap siaga untuk mempertahankan kedaulatan teritori.

Kita meyakini dengan kekuatan militer yang disegani, tetangga yang pongah akan berubah sikap dan tidak lagi semena-mena mengklaim “ini milikku” atau membiarkan uang haram mengisi kantong di rekening banknya bersama sang koruptor.  Sebagian negara anggota ASEAN tak punya kepentingan dengan LCS tetapi sebagai anggota pendiri ASEAN kita tidak tega juga jika melihat Vietnam, Filipina dan Malaysia melakukan tarung militer dengan Cina, jelas tidak seimbang dan itu terjadi di halaman kita.  Persekutuan militer ASEAN boleh jadi merupakan kekuatan penyeimbang yang memungkinkan Cina berhitung ulang, lalu mengedepankan cara-cara diplomasi untuk penyelesaiannya.  Ini memang tidak mudah karena melibatkan cara pandang yang bertolak belakang, sama-sama keras, sama-sama punya argumen.  Ini memerlukan waktu bertahun-tahun dan melelahkan. Kehadiran perisai aliansi pertahanan ASEAN menurut pandangan kita merupakan salah satu cara yang diperlukan sesuai urgensi kebutuhan pada kondisi terkini demi solidaritas ASEAN.  Namanya juga wacana, sah-sah saja dan realistis kan ?

******
Jagvane / 24 Agustus 2011

Sunday, August 14, 2011

Jangan Under Estimate Dengan Postur TNI

Paskhas TNI AU dalam sebuah defile
Ketika dalam sebuah tulisan terdahulu kita mencoba mengangkat analisis yang diterbitkan Global Fire Power tentang ranking kekuatan militer dunia based on ke 45 faktor supportingnya, lalu menempatkan kekuatan milier Indonesia di urutan ke 18, banyak orang berpendapat tidak sependapat. Padahal kalau mau dibedah lebih jauh apa yang dipublikasikan GFP merupakan analisis data yang obyektif, terukur dan historis mulai dari kekuatan populasi, kekuatan pasukan, kekuatan cadangan, kekuatan alutsista, kekuatan finansial, kekuatan daya beli, kekuatan cadangan devisa, kekuatan demografi, kekuatan cadangan energi, kekuatan angkatan kerja.

Definisi yang berlaku selama ini adalah kekuatan militer sama dengan kekuatan jumlah pasukan dan alutsista.  Lalu kekuatan alutsista sama dengan kekuatan pesawat tempur, pesawat pembom, destroyer, fregat, korvet, kapal selam, rudal, tank.  Padahal dukungan untuk sebuah operasi tempur militer pasti ada dukungan logistik, zeni, angkutan, bbm, sebaran pangkalan, satuan radar, intelijen, daya juang, karakter bangsa, daya tahan, militansi, pasukan cadangan.  Untuk kriteria alutsista postur TNI sedang menuju kekuatan MEF, artinya TNI masih harus membenahi kuantitas dan kualitas alutsistanya tetapi untuk urusan unjuk kualitas pasukan, daya tahan, semangat juang, patriotik, TNI jangan dianggap enteng.

Sayangnya yang sering dipublikasikan dan diopinikan adalah kekurangan demi kekurangan, mulai dari kurang anggaran sampai akhirnya kurang siap bertempur, kurang siap melakukan operasi militer.  Jadi yang ada pada benak sebagian masyarakat adalah kekurangyakinan pada postur TNI.  Padahal ketika dilakukan operasi militer di perairan Somalia untuk membebaskan Sinar Kudus yang jauhnya ribuan kilometer, kita sukses.  Yang istimewa dalam operasi militer ini adalah armada KRI memasuki perairan teritori Somalia, ini tidak pernah dilakukan negara lain termasuk AS.  TNI mengirim 3 KRI masing-masing 2 fregat dan 1 LPD.  Kapal LPD ini memuat sedikitnya  tank amphibi 4 BMP3F, 8 LVT, 2 Howitzer, 1 batalyon pasukan gabungan TNI.  Mereka siap melakukan operasi amphibi terbatas untuk menghancurkan pusat kejahatan perompakan di pantai Somalia.  Ini yang tidak ada dalam skenario operasi pembebasan sandera oleh negara lain, bahkan pemerintah Somalia sudah memberikan lampu hijau kepada Indonesia untuk melakukan operasi penyerangan pantai.

Contoh lain, misal terjadi konflik dengan Malaysia dan mereka melakukan serangan pendahuluan dari KL menerbangkan 12 Sukhoi,  4 F18 Hornet dan 8 Mig 29 (sekedar catatan: dalam setiap serangan maksimal dua pertiga kekuatan yang dapat diterjunkan ke medan tempur, sisanya ready di pangkalan atau sedang dalam perbaikan). Armada ini mau dimana kemana, ke Jakarta saja atau ke beberapa kota. Andai hanya ke Jakarta pertanyaannya apakah kemudian Jakarta akan hancur dengan serangan  22 pesawat tempur Malaysia itu.  Jelas tidak dong, kalau tercubit atau terluka iya.  Nah kalau sudah tercubit atau terluka pasti akan ada counter attack.  Karakter bangsa kita adalah kalau sampai tercubit bahkan hanya terhina pun, serangan balasannya akan mampu menjerakan negeri jiran itu.

Jangan lupa, seandainya ibukota sampai terluka atau lumpuh, kan masih banyak kota-kota besar lainnya yang eksis, ada Medan, Surabaya, Bandung, Semarang, Palembang, Balikpapan, Makassar, Ambon, Jayapura, Denpasar, Padang dan lain-lain yang siap mengambil alih komando darurat perang.  Ingat jaman perang kemerdekaan dulu, Jakarta diduduki Belanda, ibukota pindah ke Yogya.  Yogya diserbu, Presiden Soekarno ditangkap, pusat pemerintahan darurat diambilalih Bukittinggi Sumbar. Sekarang bisa saja komando kewilayahan (Kodam) yang ada di Kalimantan langsung mengadakan penyusupan dan sabotase di Sarawak dan Sabah sementara yang di Sumatera melakukan hal yang sama merembes ke Semenanjung pakai pola infilitrasi model TKI ilegal.  Ini baru salah atu pola serangan balik, masih banyak pola lainnya misalnya serangan udara balasan, pendaratan amphibi dan serangan darat frontal di Serawak, misalnya.

Ketika GFP menyajikan data bahwa kekuatan  Air Power Indonesia berada diatas Singapura, banyak yang mentertawakan.  Air Power menurut GFP terdiri dari jumlah Aircraft (gabungan pesawat militer dan sipil), Helikopter dan Lanud dimana Indonesia memiliki 510 pesawat udara, 168 helikopter dan ratusan Lanud  sementara Singapura punya 422 pesawat udara, 100 helikopter dan 8 Lanud.  Memang dari 422 pesawat yang dimiliki Singapura itu hampir 150 unit adalah pesawat tempur modern  sementara jumlah pesawat tempur RI saat ini baru mencapai 70an.  Meski jumlah pesawat tempur Singapura jauh diatas Indonesia namun dalam strategi militer negara itu tak akan mampu mengalahkan Indonesia. Itu sebabnya segede apapun alutsista yang dimiliki oleh Singapura, negara itu bukan ancaman bagi Indonesia.

Singapura dapat melakukan pre emptive strike ke Jakarta atau kota-kota lainnya, tapi setelah itu dia akan merasakan akibat fatalnya. Karena Singapura negara jasa, sangat mudah memberikan terapi kejut bagi negeri ini.  Misal stop kunjungan wisatawan dari RI, ciptakan suasana tidak tenang, lakukan sabotase, sebar virus mematikan, atau serangan rudal dari Batam. Negara yang sejahtera dan makmur seperti Singapura tentu tak ingin bermain api dengan Indonesia kalau tak ingin eksitensinya menjadi basah kuyup dan pucat pasi.  Orang Singapura lebih senang dengan kondisi status quo, tidak ingin mengganggu tapi jangan sampai diganggu, mirip sarang lebah.

Memang jalan terbaik adalah tidak ada konflik dengan jiran regional apalagi sampai terjadi perang terbuka.  Namun filosofi lama masih tetap berlaku bahwa kita cinta damai tetapi jalan perang bukan sesuatu yang mustahil manakala kehormatan dan harga diri bangsa dilecehkan, diremehkan.  Itu yang tak bisa kita terima.  Pada dasarnya kita selalu menghormati hubungan pertetanggaan dengan semangat toleransi, saling menghargai dan low profile.  Namun wajah low profile ini sering disalahartikan sebagai ketidakmampuan menjaga kewibawaan, ketidakmampuan mensetarakan diri dalam berdiplomasi.  Ini yang sering menjadikan 2 jiran sebelah Malaysia dan Singapura pongah dan merasa dia bisa mendikte republik ini. 

Singapura bisa dengan seenaknya sendiri “memelihara” koruptor Indonesia yang lari dan bermukim disana bersama uang haramnya dengan alasan tak ada perjanjian ekstradisi.  Tapi dia lupa bahwa hubungan bertetangga itu yang lebih penting adalah menjaga perasaan tetangganya dari sekedar sebuah perjanjian ekstradisi.  Contoh terkini lihat saja Kolombia, tak ada perjanjian ekstradisi dengan RI namun pemerintahnya mampu menunjukkan pola kerjasama mengatasi kejahatan lintas negara, mengembalikan seorang buron paling dicari  Nazaruddin di deportasi ke Indonesia.  Terimakasih Kolombia.

Malaysia  sebagai orang kaya baru (kata dia) merasa sudah lebih makmur dengan Indonesia, perilakunya mirip-mirip dengan Singapura.  Mungkin dia, terutama generasi mudanya selalu melihat wajah Indonesia dalam kesehariannya adalah wajah TKI yang ada di rutinitas benak mereka, sebagai wajah bangsa kelas dua.  Cermin ini yang menjadikan cara pandang mereka terhadap jirannya menjadi seperti kacamata kuda, tidak mampu melihat sejarah masuknya TKI ke sana justru untuk membantu perkuatan populasi etnis Melayu menghadapi populasi etnis Cina sekitar tahun 70an.

Terhadap semua cara pandang dan sudut pandang yang dipertontonkan jiran kita itu, salah satu jalan yang harus dipersiapkan adalah perkuatan postur TNI disamping pembangunan ekonomi yang sudah menunjukkan ketahanan ekonomi makro dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.  Cadangan devisa sudah mencapai US$ 122 Milyar, pendapatan perkapita ada di kisaran US$3.000, anggota G20, inflasi terkendali, bursa saham menunjukkan kinerja tahan uji, demikian juga rupiah kecenderungannya menguat terhadap Dollar AS.

Sudah saatnya kita merawat dan membesarkan anak kandung kita ini karena TNI adalah pengawal eksistensi kita, eksistensi republik ini.  Menjaga keutuhan NKRI salah satunya adalah menumpas unsur separatis yang mencoba untuk memisahkan diri.  Jangan lagi ada pandangan bahwa TNI harus mengedepankan dialog dalam menghadapi separatis.  Tugas TNI adalah menghancurkan separatis terutama yang mengajak tarung dengan senjatanya.  Tugas Pemerintah adalah melakukan pendekatan kesejahteraan dan dialog dalam kerangka NKRI.  Keutuhan NKRI adalah tugas konstitusi TNI, menjaga rangkaian pulau dari Sabang sampai Merauke sebagai warisan peninggalan jajahan Belanda. Itu sudah takdir sejarah final yang diakui oleh PBB.

Kita berharap di tahun 2014 nanti, postur TNI sudah menunjukkan kekuatan alutsista yang bertaring terutama kekuatan pukulnya.  Dan tentu tidak berhenti sampai disitu saja, terus melakukan perkuatan menembus kriteria menggentarkan.  Namun yang lebih penting dari semua itu adalah membalikkan semua cara pandang under estimate terhadap postur TNI.  Dalam kondisi belum MEF pun TNI mampu melakukan pengawalan permanen terhadap Ambalat, menjaga pulau-pulau terluar, mengirim armada laut ke perairan Somalia, berperan aktif sebagai pasukan perdamaian PBB, mengirim kapal perang ke Libanon untuk misi PBB, unggul dalam setiap kejuaraan militer antar negara, memiliki pasukan khusus yang disegani negara lain, tampil terdepan dalam setiap operasi penanggulangan bencana alam, dan lain-lain. 

Apakah ini bukan sebuah nilai, bukan sebuah prestasi, bukan sebuah kebanggaan.  Mestinya kita berterimakasih pada  anak kandung kita ini yang selalu mengedepankan kegigihan dalam setiap tugasnya, demi menjaga kehormatan, nama baik dan kewibawaan negeri kepulauan khatulistiwa nan indah ini.  Tidak salah jua sembari mengucapkan selamat hari ulang tahun ke 66 untuk negeri raya ini, rasa hormat dan bangga kita bingkiskan pada pengawal republik.  Bahwa ulang tahun kemerdekaan ini adalah bagian dari darma bakti sosok TNI selama ini yang menjadikan eksistensimu tetap tegar geliat sampai saat ini, duhai Republik Indonesia.

*****
Jagvane ( 14 Agustus  2011)
Dirgahayu Republik Indonesia

Friday, August 12, 2011

Katanya Sih Ada Lomba Belanja Senjata Di ASEAN

Barisan Panser Anoa Pindad
Kalau pengen lihat Filipina marah, lihatlah kejadian Juni kemarin ketika armada Cina menyentuh wilayah sensitif di perairan barat daya negeri itu.  Meski cuma menyentuh halus tetapi karena yang menyentuh rombongan kapal “nelayan bersenjata” Cina, Manila bereaksi keras dan “ngamuk omongan” sehingga terdengar oleh sekutu tradisionalnya AS.  Suara lantang petinggi Filipina mulai dari Presidennya, Menlunya dan Menhannya membuat AS menoleh, lalu Menlu Hillary menegaskan:  AS tak akan berpangku tangan jika sekutunya Pinoy diancam oleh Cina.  Langkah kongkritnya USS George Washington yang sedang mengawasi perairan Korea dibelokkan sembilan puluh derajat ke selatan menuju Filipina dan Laut Cina Selatan  bersama kapal tempur yang mendukung gerakan kapal induknya.

Filipina segera berbenah.  Armada angkatan lautnya hanya memiliki kapal ukuran kecil dan kurang memiliki kekuatan pukul mulai dipoles, bahkan kapal jenis fregat yang sudah tua kembali dikaryakan dan dilayarkan di perairan sengketa Spratly.  Filipina segera memesan 8 Fregat second dari AS, menjajaki pembelian LPD dari Indonesia, menambah jumlah pesawat tempur, memperbanyak patroli di kawasan sengketa.  Point penting dari urusan klaim ini adalah AS siap menyediakan arsenal militer segala matra untuk Filipina menghadapi ancaman Cina di Laut Cina Selatan.  Jaminan ini diberikan oleh Menlu Hillary usai bertemu dengan Menlu Filipina Albert del Rosario di Washington akhir Juni lalu.  Untuk menunjukkan taringnya, militer Filipina membongkar sebuah bangunan di sebuah pulau di kawasan di perairan sengketa akhir Juli lalu, untung tak terjadi insiden lagi

Vietnam sami mawon marahnya sama Cina, bahkan pemerintahnya mengajak rakyatnya demo anti Cina untuk bangkitkan semangat nasionalismenya.  Lalu berupaya menginventariasi kembali kekuatan alutsistanya. Mereka terang-terangan menyatakan sudah, sedang dan akan membeli arsenal dalam jumlah yang banyak.  Setidaknya 6 fregat, 6 kapal selam Kilo dan 24 jet tempur Sukhoi SU30 sudah ada di daftar belanjaannya, 2 fregat sudah datang, 12 Sukhoi sudah operasional di pangkalannya.  Jangan lupa Vietnam memiliki ribuan arsenal matra darat yang terdiri dari Tank, Panser, Artileri made in Rusia peninggalan perang Vietnam yang berakhir tahun1975.  Vietnam juga telah menyiagakan rudal anti kapal Yakhont yang disebar di garis pantai sebagai tameng ancaman angkatan laut negara lain.

Tak terasa kemudian yang terjadi adalah belanja alutsista yang memberikan definisi telah terjadi perlombaan senjata di sebuah perkumpulam negara yang bernama ASEAN.  Simak saja belanja alutsista Thailand, beli 40 Heli tempur, 4 kapal selam second, 12 Gripen, ratusan Tank dan Panser, 4 LPD, 5 fregat.  Kemudian Malaysia, sudah punya 18 Sukhoi, 2 kapal selam, 6 Korvet.  Mau nambah lagi dengan 1 skuadron jet tempur Typhoon atau Rafale dan mempersenjatai kapal tempurmya dengan rudal anti kapal sekelas C802.

Diantara negara ASEAN, Singapura yang kelihatan adem ayem tak ikut koar-koar lomba senjata karena memang dia  sudah duluan mempersiapkan diri.  Sudah punya 5 kapal selam, 6 Fregat, 24 F15, 80 F16 dan senjata based on land lainnya.  Singapura sudah lebih siap menghadapi tantangan dari luar negaranya.  Negeri pulau itu membentuk model pertahanan lebah, siapa berani ganggu siap menerima sengatan lebah dari gudang arsenalnya yang mampu lakukan pre emptive strike.

Bagaimana dengan Indonesia.  Perkuatan alutsista kita yang sedang terjadi saat ini adalah untuk memenuhi kriteria kekuatan pukul standar.  Kita hanya mengisi gudang arsenal kita dengan rematerialisasi alias pergantian alutsista yang  sudah tua.  Misalnya pesawat Bronco diganti dengah 1 skuadron Super Tucano.  Sisa Hawk Mk53 diganti dengan 1 skuadron jet T-50 Korea.  Demikian juga penambahan 24 F16 dan 6 Sukhoi untuk menambal kekuatan skuadron tempur yang masih kurang sempurna.

Namun persepsi jiran bisa lain karena rumah yang bernama Indonesia itu selalu menjadi perhatian mereka.  Pokoknya apa saja yang dilakukan rumah gadang   ini selalu dicermati baik-baik oleh setidaknya 3 negara yaitu Singapura, Malaysia dan Australia.  Ketiga negara itu sepertinya punya rasa was-was jika republik ini membangun kekuatan militernya.  Padahal Indonesia memang perlu melakukan reformasi alutsistanya untuk menjaga eksistensi kedaulatan dan kewibawaan rumah besarnya dari gangguan ketiga jiran itu.  Dalam bahasa pertetanggaan biasa disebut mengantisipasi dinamika kawasan yang dinamis.

Indonesia telah menetapkan pagu anggaran pembelian alutsista US$ 15 Milyar  periode tahun 2010 sd 2014 untuk memenuhi persyaratan kekuatan pukul yang memadai.  Jumlah anggaran sebesar itu akan memastikan RI bahwa tahun 2014 nanti pengawal republik ini sudah dilengkapi dengan arsenal modern minimal 9 skuadron pesawat tempur berbagai jenis, puluhan  pesawat angkut berbagai jenis, beberapa skuadron helikopter tempur, helikopter anti kapal selam, heikopter angkut, rudal jarak menengah hanud area.  Kemudian pertambahan jumlah KRI berbagai jenis diprediksi bisa mencapai 220 unit, kapal selam 5 unit, pertambahan dan persebaran pasukan Marinir.  Pertambahan pasukan TNI AD dengan 3 Divisi Kostrad, melengkapi alat tempur pasukan infantri mekanis dengan ratusan Panser.  Pengadaan Panser Canon, Tank IFV, rudal anti tank, howitzer, roket dan rudal surface to surface semuanya diharapkan sudah ready for use di tahun 2014.

Nah dari semua kondisi dan situasi itu, katanya sih telah terjadi perlombaan belanja alutsista di kawasan ini.  Bolehlah orang mempersepsikan apa saja tapi yang jelas perkembangan situasi di kawasan ini terutama gertakan angkatan laut Cina memaksa sejumlah negara memperkuat militernya.  Indonesia tidak terkait dengan konflik klaim laut Cina Selatan namun dalam perkembangan ke depan bisa saja ada tumpang tindih kawasan perairan di sekitar Natuna. Yang masih segar adalah konflik Ambalat dengan Malaysia. Perkuatan militer Indonesia adalah untuk mengantisipasi kondisi itu karena konflik regional ke depan adalah perebutan sumber daya alam tak terbarukan.  Jika kemudian terjadi situasi lomba belanja arsenal di kawasan ASEAN, tidak jua kita lalu mengatakan : bukan untuk itu. Karena faktanya memang sedang terjadi belanja senjata di kawasan ini.  Jadi biarkan saja orang mau ngomong apa.
*****
Jagvane / 12 Agustus 2011