Monday, September 5, 2011

Benarkah 6 Sukhoi Su27/30 Datang Akhir Tahun Ini

Air Fueling 2 Sukhoi milik TNI AU
Ini perlu djadikan judul tema kita kali ini sebab yang ingin dipertegas adalah apakah kontrak pengadaan 6 jet tempur Sukhoi yang ditandatangani akhir tahun ini atau memang 6 jet tempur Sukhoi itu akan tiba akhir tahun ini.  Sepengetahuan kita memang  telah ada kontrak pengadaan arsenal Sukhoi akhir tahun lalu untuk mempersenjatai 6 Sukhoi yang datang tahun itu tetapi untuk pengadaan 6 Sukhoi tidak pernah direlease di media sehingga timbul berbagai dugaan apakah tahun ini kontraknya yang di sign atau pesawatnya yang akan tiba.

Ini menarik karena tanggal 3 September 2011 yang lalu Dirjen Rencana Pertahanan Kemhan Marsekal Muda Bonggas S. Silaen mempublikasikan berita bahwa 6 jet tempur Sukhoi Su27/30 segera datang akhir tahun ini yang sudah dilengkapi dengan persenjataan dan avioniknya.  Biasanya proses dan kontrak pengadaan alutsista strategis selalu dikumandangkan dengan transparan misalnya proses pengadaan 16 pesawat Super Tucano dari Brazil dan 16 pesawat T-50 Golden Eagle dari Korsel.  Juga proses pengadaan hibah 24 F16 dari AS yang kemudian belakangan berkembang bahwa jumlah hibahnya menjadi 30 unit termasuk upgradenya menjadi blok 52.

Demikian juga dengan alutsista jenis lain seperti pengadaan batch 2 tank amphibi BMP3F dari Rusia sebanyak 56 unit, pengadaan kapal cepat rudal, kapal trimaran, kapal LST, LPD oleh industri alutsista dalam negeri, instalasi rudal yakhont dan C802 jelas proses dan waktu penampakannya.  Begitupun ada juga yang tak terpantau penampakan prosesnya tahu-tahu sudah datang di gerbang pangkalan TNI, menjadi kenyataan yang menyenangkan.  Misalnya kedatangan 3 heli serbu jenis Mi35 dari Rusia dan yang terakhir kedatangan 6 Heli angkut kapasitas besar jenis Mi17 juga dari Rusia tahu-tahu sudah sampai di Pondok Cabe.

Kalaupun memang yang datang itu wujud pesawatnya akhir tahun ini patut kita sambut gembira karena itu berarti dalam waktu yang singkat pengadaan batch 3 jet tempur Sukhoi sejumlah 6 unit dapat terealisir cepat.  Meskipun begitu jika yang terjadi kemudian adalah sign pengadaan 6 Sukhoi (bukan kedatangan barangnya) kita juga tak perlu sewot karena filosofi dari setiap statemen petinggi kemhan dan petinggi TNI tidak harus ditelan bulat-bulat.  Ingat statemen Menhan Purnomo beberapa waktu lalu yang sempat membuat jiran sebelah tak tidur nyenyak.  Menhan bilang bahwa TNI AU akan diperkuat dengan 180 Sukhoi untuk melengkapi 10 Skuadron tempur yang masing-masing terdiri dari 18 jet tempur. Berita ini menjadi headline news di media regional, running tex TV3 Malaysia sempat menayangkan pemberitaan itu yang tentu saja menghebohkan forum militer negeri itu.

Kondisi terkini sampai tahun 2014 yang memungkinkan kita memiliki 10 skuadron tempur itu bisa dipilah dengan kehadiran 2 Skuadron Sukhoi (32 unit), 3 Skuadron F16 (40 unit), 1 skuadron T-50 (16 unit), 1 skuadron Super Tucano (16 unit), 1 skuadron F5E (12 unit) dan 2 skuadron Hawk 100/200 (36 unit).  Ini yang paling realistis.  Nah setelah tahun 2014 bisa saja F5E diganti dengan keluarga Sukhoi terbaru atau penambahan skuadron tempur baru sampai mencapai 15-18 skuadron untuk menampung kedatangan minimal 50 jet tempur KFX produksi bersama Indonesia-Korea tahun 2018 serta jet tempur jenis lain.  Bukankah TNI AU juga berminat dengan jet tempur Typhoon atau bahkan jet tempur F35 sebagaimana disampaikan oleh KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat di beberapa media baru-baru ini.

Sejatinya memang tak perlu secara lugas dipublikasikan dan dipertontonkan pengadaan alutsista TNI terutama yang berkaitan dengan jumlah dan spesifikasi teknis termasuk jenis persenjataan berkualifikasi strategis.  Ini bagian dari aura rahasia dan strategi militer yang perlu dijaga auratnya, transparan oke tapi jangan telanjang dong.  Makanya pernyataan Dirjen Ranahan Kemhan tentang  pengadaan 6 Sukhoi itu harus dilihat dalam konteks perspektif dan prediksi.  Artinya kita pasti akan menambah 6 Sukhoi untuk melengkapi jet tempur Sukhoi yang berjumlah 10 unit saat ini menjadi 1 skuadron (16 unit). Tentang kapan datangnya atau kapan kontraknya biarlah waktu nanti yang akan menjawabnya.  Yang terpenting dari semua ini kita menyambut hangat setiap kedatangan alutsista baru TNI yang dalam bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang dipastikan akan panen raya alutsista.  TNI telah ”berbuka puasa”, kita ucapkan selamat menikmati menu alutsista baru.
*******
Jagvane / 05 September 2011

Wednesday, August 24, 2011

MAU DIBAWA KEMANA PERTAHANAN NEGARA ASEAN ?

Peta Konflik Laut Cina Selatan
Semangat ASEAN ketika asosiasi pertemanan pertetanggaan ini dilahirkan tahun 1967 adalah menginginkan kerjasama ekonomi diantara sesama jiran sekaligus ingin menghapus aura permusuhan 4 negara diantara kumpulan 5 negara (pada waktu itu) Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina. Sementara Thailand menjadi basis deklarasi ASEAN karena peran mediasi dan fasilitasinya.  Akhirnya Bangkok menjadi tempat kelahirannya.

Sekarang anggotanya menjadi 10 negara dengan tambahan Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar dan Brunei Darussalam.  Sementara Timor Leste diperkirakan akan segera bergabung dengan ASEAN tahun 2012.  Selama perjalanan 3 dekade kerjasama ekonomi itu, sampai tahun 1997 ketika reformasi dan demokratisasi di Indonesia dimulai, iklim pertetanggaan diantara negera ASEAN sejuk-sejuk saja.  Kalaupun ada riak selalu diselesaikan dengan semangat kebersamaan dan kesetaraan.  Itu karena ada peran kepemimpinan dari sosok Presiden  RI kedua Soeharto yang mampu mengawal kedekatan dan keakraban ASEAN bersama pemimpin ASEAN yang lain.

Ketika reformasi bergulir tahun 1998 peran kepemimpinan Indonesia di mata anggota ASEAN lainnya memudar. Ketika sedang mengalami rubuhnya pertahanan ekonomi di tahun itu dan sesudahnya, kita bertarung dengan kesulitan ekonomi dan sekaligus bertarung di ruang politik yang sangat liberal.  Tak sempat mikirin tetangga, wong omahe dewe ribut memperebutkan nasi, kursi dan posisi, serba amburadul.  Dampak krisis ekonomi itu membuat kondisi pertahanan TNI menurun drastis, alutsista yang beroperasi alakadarnya.

Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba perseteruan memperebutkan Sipadan dan Ligitan muncul ke permukaan dan akhirnya dengan melalui persetujuan Mahkamah Internasional Sipadan dan Ligitan lepas dari RI sejak tanggal 17 Desember 2002.  Merasa diatas angin jiran sebelah itu semakin provokatif dan kemudian kembali mengklaim kawasan Ambalat yang berada di selatan Sipadan dan Ligitan sebagai teritorinya, lalu mengerahkan sejumlah kapal perangnya untuk show of force.  Ini yang membuat TNI marah besar lalu mengerahkan sejumlah KRI dan batalyon marinir ke kawasan itu. Sejak saat itu TNI berkesimpulan bahwa Malaysia tidak lagi mengedepankan cara bertetangga yang baik, dan ini harus disikapi dengan cara pandang militer, anda jua kami beli.  Maka bisa kita saksikan warna lukisan pertahanan kita sampai saat ini, Tarakan menjadi basis militer segala matra, Sebatik diperkuat dengan pasukan marinir dan radar pantai.  Berau jadi pangkalan heli tempur, Sangatta jadi pangkalan militer berskala besar, Kalimantan diperkuat 2 Kodam, pengadaan alutsista besar-besaran dimulai dan sudah menampakkan hasilnya, industri hankam dalam negeri diberdayakan.

Dinamika kondisi kawasan kemudian berubah karena Cina mulai melakukan provokasi dengan armada angkatan lautnya di Laut Cina Selatan.  Vietnam dan Filipina berteriak lantang.  Malaysia pasang kuda-kuda, armada ke tujuh AS mondar-mandir di LCS.  Ini menunjukkan bahwa pusat konflik masa depan ada di seputar LCS. Cina akan tetap pada klaimnya dan berusaha untuk mendapatkan kawasan yang kaya akan sumber daya alam tak terbarukan itu dengan cara apapun.  Cina juga sedang membangun kekuatan milternya (AU dan AL) untuk menjadikannya sebagai kekuatan regional yang disegani, tahun 2020 targetnya.

Menyikapi kondisi seperti ini ada pemikiran di sebagian kalangan negara anggota ASEAN untuk menghadapi klaim teritori dan kekuatan militer Cina yang  tangguh itu dengan cara mempersekutukan kekuatan pertahanan negara-negara ASEAN menjadi sebuah aliansi atau pakta pertahanan. Wacana ini perlu dikedepankan karena konflik LCS berpotensi menyulut tarung militer yang melibatkan negara besar dan berpengaruh.  Itu sama dengan membiarkan halaman rumah kita terbakar oleh amuk emosi amunisi berbaju militer.  Itu sebabnya perlu penangkal cegah dengan mempersekutukan kekuatan militer negara anggota ASEAN, misalnya.

Arah pertahanan ASEAN bisa ditumbuhkan menjadi Pakta Pertahanan jika mampu dihilangkan rasa saling curiga diantara negara ASEAN. Misalnya Indonesia dengan Malaysia, Singapura dengan Malaysia, Thailand dengan Kamboja.  Persyaratan lain yang mesti dijelaskan adalah pembubaran FPDA yang dibentuk untuk mengimbangi kekuatan militer Indonesia pada era Dwikora.  Kalau memang Pakta Pertahanan ASEAN merupakan sebuah kebutuhan untuk menangkal kekuatan militer Cina yang semakin mengkhawatirkan dan mengklaim Laut Cina Selatan, atau untuk menjaga kestabilan wilayah regional ini, mestinya tidak ada sebuah negara anggotanya yang bermuka dua, pura-pura bergabung dengan pakta ini tetapi bathinnya belum menerima karena merasa masih terancam kedaulatannya oleh jirannya sendiri atau mengklaim teritori jirannya.

Indonesia, Singapura, Myanmar, Kamboja, Laos tidak punya konflik teritori dengan Cina.  Sementara  Vietnam, Malaysia, Filipina, Thailand dan Brunai ada saling tumpang tindih dengan “lidah naga”.  Vietnam sejak lama punya sejarah konflik perbatasan dengan Cina, rakyatnya juga anti Cina, Vietnam dekat dengan Rusia sementara Kamboja dan Myanmar adalah sekutu dekat Cina.  Militer Vietnam dan Kamboja secara historis punya cerita gemilang ketika mampu mengusir tentara AS dari Indocina pertengahan tahun 70an. Filipina menjadi sekutu tradisional AS, Singapura setali tiga uang.  Malaysia dan Singapura bergabung dalam FPDA.  Thailand dulu bergabung dengan SEATO yang sudah dibubarkan.  Itulah gado-gado pertahanan negara ASEAN dan cerita historisnya.  Apakah gado-gado itu bisa disatukan atau dipertemukan dalam sebuah aliansi militer, sangat tergantung pada persamaan sikap diantara negara anggotanya.

Perkuatan alutsista TNI saat ini yang sudah mulai menampakkan bentuk kekuatannya, diniscayakan mulai tahun 2014 sudah menjadi kekuatan penyeimbang diantara sesama negara ASEAN.  Kemudian periode 2014-2019 diyakini akan menjadi kekuatan penggentar diantara negara jiran.  Pada periode ini Indonesia diyakini sudah memiliki lebih dari 200 jet tempur berbagai jenis, 320 KRI berbagai jenis dalam tiga armada tempur, 12 kapal selam, ratusan rudal jarak menengah baik surface to surface maupun surface to air. Pada saat yang sama industri hankam dalam negeri sudah mampu memasok alutsista seperti tank, panser, roket, artileri, KCR, PKR, kapal selam, rudal, helikopter, pesawat angkut dan jet tempur.  Sementara total pasukan TNI bisa mencapai 600 ribu personil dengan 3 divisi pasukan marinir, 3 divisi pasukan Kostrad sebagai pasukan pemukul reaksi cepat.

Kekuatan alutsista TNI ini diyakini bisa menjadi faktor penjinak bagi arogansi dua negara ASEAN yaitu Malaysia dan Singapura.  Ingat-ingat saja rentang tahun 2007 sampai dengan 2009 ketika konflik Ambalat memanas, statement pemerintahannya dan elemen masyarakatnya melecehkan kekuatan TNI.  Tahun 2010 levelnya sudah agak menurun.  Tahun ini ketika berbagai proyek pengadaan alutsista digelar secara signifikan, simultan dan transparan, tensi statement government Malaysia sudah sangat menurun.  Bahkan forumer mereka yang mengisi diskusi forum militer di berbagai media maya yang biasanya banyak cakap dan melecehkan RI mulai menunjukkan perubahan sikap, sudah kembali ke habitatnya, sudah mulai jinak kata pawang harimau di taman Safari.  Itu artinya perkuatan alutsista TNI merupakan jawaban paling tangguh untuk memberikan “daya pukul” balasan kepada negara-negara yang meremehkan kedaulatan RI tanpa harus mengajaknya berkelahi.

Bagi Indonesia pakta pertahanan regional tidak penting-penting banget karena negeri ini dilahirkan dan dipertahankan dengan semangat cinta tanah air, nasionalisme dan patriotik.  Sebuah saksi dan jalinan kisah sejarah yang tak terbantahkan. Meskipun demikian jika memang situasi dan kondisi mengharuskan demikian demi solidartias ASEAN, kita tidak menafikan itu bisa terwujud.  Hanya persyaratan ekologis dan keseimbangan dalam hubungan pertetanggaan yang setara perlu dikeluarkan bisulnya, misalnya pengakhiran pakta FPDA, tidak ada klaim teritori misalnya Ambalat.  Kemudian tidak menjadi negeri penampung koruptor dan dolarnya dengan dalih tak ada perjanjian ekstradisi.  Sederhana kan, karena pada dasarnya cara gaul republik ini ya begitu itu, low profile, banyak menahan diri, dan selalu mengedepankan cara pandang toleransi dengan jirannya.  Tapi cara pandang dan sikap itu sering ditafsirkan sebagai bentuk ketidakmampuan menjalankan diplomasi dengan jirannya.

Definsinya jelas, kita perkuat postur TNI dengan berbagai arsenal mutakhir, bergengsi dalam kualitas dan berdaya dalam kuantitas.  Ini juga seirama dengan pertumbuhan ekonomi kita yang stabil, meningkat dan berdaya tahan.  Kekuatan product domestic bruto, cadangan devisa, pendapatan perkapita, dan kekuatan daya beli selama tiga tahun terakhir menunjukkan indikator yang memuaskan.  Itu artinya belanja alutsista kita pun makin tahun makin menggembirakan.  Tahun 2014 adalah momentum untuk memperlihatkan taring dan taji TNI tetapi bukan untuk mengajak berkelahi melainkan siap siaga untuk mempertahankan kedaulatan teritori.

Kita meyakini dengan kekuatan militer yang disegani, tetangga yang pongah akan berubah sikap dan tidak lagi semena-mena mengklaim “ini milikku” atau membiarkan uang haram mengisi kantong di rekening banknya bersama sang koruptor.  Sebagian negara anggota ASEAN tak punya kepentingan dengan LCS tetapi sebagai anggota pendiri ASEAN kita tidak tega juga jika melihat Vietnam, Filipina dan Malaysia melakukan tarung militer dengan Cina, jelas tidak seimbang dan itu terjadi di halaman kita.  Persekutuan militer ASEAN boleh jadi merupakan kekuatan penyeimbang yang memungkinkan Cina berhitung ulang, lalu mengedepankan cara-cara diplomasi untuk penyelesaiannya.  Ini memang tidak mudah karena melibatkan cara pandang yang bertolak belakang, sama-sama keras, sama-sama punya argumen.  Ini memerlukan waktu bertahun-tahun dan melelahkan. Kehadiran perisai aliansi pertahanan ASEAN menurut pandangan kita merupakan salah satu cara yang diperlukan sesuai urgensi kebutuhan pada kondisi terkini demi solidaritas ASEAN.  Namanya juga wacana, sah-sah saja dan realistis kan ?

******
Jagvane / 24 Agustus 2011

Sunday, August 14, 2011

Jangan Under Estimate Dengan Postur TNI

Paskhas TNI AU dalam sebuah defile
Ketika dalam sebuah tulisan terdahulu kita mencoba mengangkat analisis yang diterbitkan Global Fire Power tentang ranking kekuatan militer dunia based on ke 45 faktor supportingnya, lalu menempatkan kekuatan milier Indonesia di urutan ke 18, banyak orang berpendapat tidak sependapat. Padahal kalau mau dibedah lebih jauh apa yang dipublikasikan GFP merupakan analisis data yang obyektif, terukur dan historis mulai dari kekuatan populasi, kekuatan pasukan, kekuatan cadangan, kekuatan alutsista, kekuatan finansial, kekuatan daya beli, kekuatan cadangan devisa, kekuatan demografi, kekuatan cadangan energi, kekuatan angkatan kerja.

Definisi yang berlaku selama ini adalah kekuatan militer sama dengan kekuatan jumlah pasukan dan alutsista.  Lalu kekuatan alutsista sama dengan kekuatan pesawat tempur, pesawat pembom, destroyer, fregat, korvet, kapal selam, rudal, tank.  Padahal dukungan untuk sebuah operasi tempur militer pasti ada dukungan logistik, zeni, angkutan, bbm, sebaran pangkalan, satuan radar, intelijen, daya juang, karakter bangsa, daya tahan, militansi, pasukan cadangan.  Untuk kriteria alutsista postur TNI sedang menuju kekuatan MEF, artinya TNI masih harus membenahi kuantitas dan kualitas alutsistanya tetapi untuk urusan unjuk kualitas pasukan, daya tahan, semangat juang, patriotik, TNI jangan dianggap enteng.

Sayangnya yang sering dipublikasikan dan diopinikan adalah kekurangan demi kekurangan, mulai dari kurang anggaran sampai akhirnya kurang siap bertempur, kurang siap melakukan operasi militer.  Jadi yang ada pada benak sebagian masyarakat adalah kekurangyakinan pada postur TNI.  Padahal ketika dilakukan operasi militer di perairan Somalia untuk membebaskan Sinar Kudus yang jauhnya ribuan kilometer, kita sukses.  Yang istimewa dalam operasi militer ini adalah armada KRI memasuki perairan teritori Somalia, ini tidak pernah dilakukan negara lain termasuk AS.  TNI mengirim 3 KRI masing-masing 2 fregat dan 1 LPD.  Kapal LPD ini memuat sedikitnya  tank amphibi 4 BMP3F, 8 LVT, 2 Howitzer, 1 batalyon pasukan gabungan TNI.  Mereka siap melakukan operasi amphibi terbatas untuk menghancurkan pusat kejahatan perompakan di pantai Somalia.  Ini yang tidak ada dalam skenario operasi pembebasan sandera oleh negara lain, bahkan pemerintah Somalia sudah memberikan lampu hijau kepada Indonesia untuk melakukan operasi penyerangan pantai.

Contoh lain, misal terjadi konflik dengan Malaysia dan mereka melakukan serangan pendahuluan dari KL menerbangkan 12 Sukhoi,  4 F18 Hornet dan 8 Mig 29 (sekedar catatan: dalam setiap serangan maksimal dua pertiga kekuatan yang dapat diterjunkan ke medan tempur, sisanya ready di pangkalan atau sedang dalam perbaikan). Armada ini mau dimana kemana, ke Jakarta saja atau ke beberapa kota. Andai hanya ke Jakarta pertanyaannya apakah kemudian Jakarta akan hancur dengan serangan  22 pesawat tempur Malaysia itu.  Jelas tidak dong, kalau tercubit atau terluka iya.  Nah kalau sudah tercubit atau terluka pasti akan ada counter attack.  Karakter bangsa kita adalah kalau sampai tercubit bahkan hanya terhina pun, serangan balasannya akan mampu menjerakan negeri jiran itu.

Jangan lupa, seandainya ibukota sampai terluka atau lumpuh, kan masih banyak kota-kota besar lainnya yang eksis, ada Medan, Surabaya, Bandung, Semarang, Palembang, Balikpapan, Makassar, Ambon, Jayapura, Denpasar, Padang dan lain-lain yang siap mengambil alih komando darurat perang.  Ingat jaman perang kemerdekaan dulu, Jakarta diduduki Belanda, ibukota pindah ke Yogya.  Yogya diserbu, Presiden Soekarno ditangkap, pusat pemerintahan darurat diambilalih Bukittinggi Sumbar. Sekarang bisa saja komando kewilayahan (Kodam) yang ada di Kalimantan langsung mengadakan penyusupan dan sabotase di Sarawak dan Sabah sementara yang di Sumatera melakukan hal yang sama merembes ke Semenanjung pakai pola infilitrasi model TKI ilegal.  Ini baru salah atu pola serangan balik, masih banyak pola lainnya misalnya serangan udara balasan, pendaratan amphibi dan serangan darat frontal di Serawak, misalnya.

Ketika GFP menyajikan data bahwa kekuatan  Air Power Indonesia berada diatas Singapura, banyak yang mentertawakan.  Air Power menurut GFP terdiri dari jumlah Aircraft (gabungan pesawat militer dan sipil), Helikopter dan Lanud dimana Indonesia memiliki 510 pesawat udara, 168 helikopter dan ratusan Lanud  sementara Singapura punya 422 pesawat udara, 100 helikopter dan 8 Lanud.  Memang dari 422 pesawat yang dimiliki Singapura itu hampir 150 unit adalah pesawat tempur modern  sementara jumlah pesawat tempur RI saat ini baru mencapai 70an.  Meski jumlah pesawat tempur Singapura jauh diatas Indonesia namun dalam strategi militer negara itu tak akan mampu mengalahkan Indonesia. Itu sebabnya segede apapun alutsista yang dimiliki oleh Singapura, negara itu bukan ancaman bagi Indonesia.

Singapura dapat melakukan pre emptive strike ke Jakarta atau kota-kota lainnya, tapi setelah itu dia akan merasakan akibat fatalnya. Karena Singapura negara jasa, sangat mudah memberikan terapi kejut bagi negeri ini.  Misal stop kunjungan wisatawan dari RI, ciptakan suasana tidak tenang, lakukan sabotase, sebar virus mematikan, atau serangan rudal dari Batam. Negara yang sejahtera dan makmur seperti Singapura tentu tak ingin bermain api dengan Indonesia kalau tak ingin eksitensinya menjadi basah kuyup dan pucat pasi.  Orang Singapura lebih senang dengan kondisi status quo, tidak ingin mengganggu tapi jangan sampai diganggu, mirip sarang lebah.

Memang jalan terbaik adalah tidak ada konflik dengan jiran regional apalagi sampai terjadi perang terbuka.  Namun filosofi lama masih tetap berlaku bahwa kita cinta damai tetapi jalan perang bukan sesuatu yang mustahil manakala kehormatan dan harga diri bangsa dilecehkan, diremehkan.  Itu yang tak bisa kita terima.  Pada dasarnya kita selalu menghormati hubungan pertetanggaan dengan semangat toleransi, saling menghargai dan low profile.  Namun wajah low profile ini sering disalahartikan sebagai ketidakmampuan menjaga kewibawaan, ketidakmampuan mensetarakan diri dalam berdiplomasi.  Ini yang sering menjadikan 2 jiran sebelah Malaysia dan Singapura pongah dan merasa dia bisa mendikte republik ini. 

Singapura bisa dengan seenaknya sendiri “memelihara” koruptor Indonesia yang lari dan bermukim disana bersama uang haramnya dengan alasan tak ada perjanjian ekstradisi.  Tapi dia lupa bahwa hubungan bertetangga itu yang lebih penting adalah menjaga perasaan tetangganya dari sekedar sebuah perjanjian ekstradisi.  Contoh terkini lihat saja Kolombia, tak ada perjanjian ekstradisi dengan RI namun pemerintahnya mampu menunjukkan pola kerjasama mengatasi kejahatan lintas negara, mengembalikan seorang buron paling dicari  Nazaruddin di deportasi ke Indonesia.  Terimakasih Kolombia.

Malaysia  sebagai orang kaya baru (kata dia) merasa sudah lebih makmur dengan Indonesia, perilakunya mirip-mirip dengan Singapura.  Mungkin dia, terutama generasi mudanya selalu melihat wajah Indonesia dalam kesehariannya adalah wajah TKI yang ada di rutinitas benak mereka, sebagai wajah bangsa kelas dua.  Cermin ini yang menjadikan cara pandang mereka terhadap jirannya menjadi seperti kacamata kuda, tidak mampu melihat sejarah masuknya TKI ke sana justru untuk membantu perkuatan populasi etnis Melayu menghadapi populasi etnis Cina sekitar tahun 70an.

Terhadap semua cara pandang dan sudut pandang yang dipertontonkan jiran kita itu, salah satu jalan yang harus dipersiapkan adalah perkuatan postur TNI disamping pembangunan ekonomi yang sudah menunjukkan ketahanan ekonomi makro dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.  Cadangan devisa sudah mencapai US$ 122 Milyar, pendapatan perkapita ada di kisaran US$3.000, anggota G20, inflasi terkendali, bursa saham menunjukkan kinerja tahan uji, demikian juga rupiah kecenderungannya menguat terhadap Dollar AS.

Sudah saatnya kita merawat dan membesarkan anak kandung kita ini karena TNI adalah pengawal eksistensi kita, eksistensi republik ini.  Menjaga keutuhan NKRI salah satunya adalah menumpas unsur separatis yang mencoba untuk memisahkan diri.  Jangan lagi ada pandangan bahwa TNI harus mengedepankan dialog dalam menghadapi separatis.  Tugas TNI adalah menghancurkan separatis terutama yang mengajak tarung dengan senjatanya.  Tugas Pemerintah adalah melakukan pendekatan kesejahteraan dan dialog dalam kerangka NKRI.  Keutuhan NKRI adalah tugas konstitusi TNI, menjaga rangkaian pulau dari Sabang sampai Merauke sebagai warisan peninggalan jajahan Belanda. Itu sudah takdir sejarah final yang diakui oleh PBB.

Kita berharap di tahun 2014 nanti, postur TNI sudah menunjukkan kekuatan alutsista yang bertaring terutama kekuatan pukulnya.  Dan tentu tidak berhenti sampai disitu saja, terus melakukan perkuatan menembus kriteria menggentarkan.  Namun yang lebih penting dari semua itu adalah membalikkan semua cara pandang under estimate terhadap postur TNI.  Dalam kondisi belum MEF pun TNI mampu melakukan pengawalan permanen terhadap Ambalat, menjaga pulau-pulau terluar, mengirim armada laut ke perairan Somalia, berperan aktif sebagai pasukan perdamaian PBB, mengirim kapal perang ke Libanon untuk misi PBB, unggul dalam setiap kejuaraan militer antar negara, memiliki pasukan khusus yang disegani negara lain, tampil terdepan dalam setiap operasi penanggulangan bencana alam, dan lain-lain. 

Apakah ini bukan sebuah nilai, bukan sebuah prestasi, bukan sebuah kebanggaan.  Mestinya kita berterimakasih pada  anak kandung kita ini yang selalu mengedepankan kegigihan dalam setiap tugasnya, demi menjaga kehormatan, nama baik dan kewibawaan negeri kepulauan khatulistiwa nan indah ini.  Tidak salah jua sembari mengucapkan selamat hari ulang tahun ke 66 untuk negeri raya ini, rasa hormat dan bangga kita bingkiskan pada pengawal republik.  Bahwa ulang tahun kemerdekaan ini adalah bagian dari darma bakti sosok TNI selama ini yang menjadikan eksistensimu tetap tegar geliat sampai saat ini, duhai Republik Indonesia.

*****
Jagvane ( 14 Agustus  2011)
Dirgahayu Republik Indonesia

Friday, August 12, 2011

Katanya Sih Ada Lomba Belanja Senjata Di ASEAN

Barisan Panser Anoa Pindad
Kalau pengen lihat Filipina marah, lihatlah kejadian Juni kemarin ketika armada Cina menyentuh wilayah sensitif di perairan barat daya negeri itu.  Meski cuma menyentuh halus tetapi karena yang menyentuh rombongan kapal “nelayan bersenjata” Cina, Manila bereaksi keras dan “ngamuk omongan” sehingga terdengar oleh sekutu tradisionalnya AS.  Suara lantang petinggi Filipina mulai dari Presidennya, Menlunya dan Menhannya membuat AS menoleh, lalu Menlu Hillary menegaskan:  AS tak akan berpangku tangan jika sekutunya Pinoy diancam oleh Cina.  Langkah kongkritnya USS George Washington yang sedang mengawasi perairan Korea dibelokkan sembilan puluh derajat ke selatan menuju Filipina dan Laut Cina Selatan  bersama kapal tempur yang mendukung gerakan kapal induknya.

Filipina segera berbenah.  Armada angkatan lautnya hanya memiliki kapal ukuran kecil dan kurang memiliki kekuatan pukul mulai dipoles, bahkan kapal jenis fregat yang sudah tua kembali dikaryakan dan dilayarkan di perairan sengketa Spratly.  Filipina segera memesan 8 Fregat second dari AS, menjajaki pembelian LPD dari Indonesia, menambah jumlah pesawat tempur, memperbanyak patroli di kawasan sengketa.  Point penting dari urusan klaim ini adalah AS siap menyediakan arsenal militer segala matra untuk Filipina menghadapi ancaman Cina di Laut Cina Selatan.  Jaminan ini diberikan oleh Menlu Hillary usai bertemu dengan Menlu Filipina Albert del Rosario di Washington akhir Juni lalu.  Untuk menunjukkan taringnya, militer Filipina membongkar sebuah bangunan di sebuah pulau di kawasan di perairan sengketa akhir Juli lalu, untung tak terjadi insiden lagi

Vietnam sami mawon marahnya sama Cina, bahkan pemerintahnya mengajak rakyatnya demo anti Cina untuk bangkitkan semangat nasionalismenya.  Lalu berupaya menginventariasi kembali kekuatan alutsistanya. Mereka terang-terangan menyatakan sudah, sedang dan akan membeli arsenal dalam jumlah yang banyak.  Setidaknya 6 fregat, 6 kapal selam Kilo dan 24 jet tempur Sukhoi SU30 sudah ada di daftar belanjaannya, 2 fregat sudah datang, 12 Sukhoi sudah operasional di pangkalannya.  Jangan lupa Vietnam memiliki ribuan arsenal matra darat yang terdiri dari Tank, Panser, Artileri made in Rusia peninggalan perang Vietnam yang berakhir tahun1975.  Vietnam juga telah menyiagakan rudal anti kapal Yakhont yang disebar di garis pantai sebagai tameng ancaman angkatan laut negara lain.

Tak terasa kemudian yang terjadi adalah belanja alutsista yang memberikan definisi telah terjadi perlombaan senjata di sebuah perkumpulam negara yang bernama ASEAN.  Simak saja belanja alutsista Thailand, beli 40 Heli tempur, 4 kapal selam second, 12 Gripen, ratusan Tank dan Panser, 4 LPD, 5 fregat.  Kemudian Malaysia, sudah punya 18 Sukhoi, 2 kapal selam, 6 Korvet.  Mau nambah lagi dengan 1 skuadron jet tempur Typhoon atau Rafale dan mempersenjatai kapal tempurmya dengan rudal anti kapal sekelas C802.

Diantara negara ASEAN, Singapura yang kelihatan adem ayem tak ikut koar-koar lomba senjata karena memang dia  sudah duluan mempersiapkan diri.  Sudah punya 5 kapal selam, 6 Fregat, 24 F15, 80 F16 dan senjata based on land lainnya.  Singapura sudah lebih siap menghadapi tantangan dari luar negaranya.  Negeri pulau itu membentuk model pertahanan lebah, siapa berani ganggu siap menerima sengatan lebah dari gudang arsenalnya yang mampu lakukan pre emptive strike.

Bagaimana dengan Indonesia.  Perkuatan alutsista kita yang sedang terjadi saat ini adalah untuk memenuhi kriteria kekuatan pukul standar.  Kita hanya mengisi gudang arsenal kita dengan rematerialisasi alias pergantian alutsista yang  sudah tua.  Misalnya pesawat Bronco diganti dengah 1 skuadron Super Tucano.  Sisa Hawk Mk53 diganti dengan 1 skuadron jet T-50 Korea.  Demikian juga penambahan 24 F16 dan 6 Sukhoi untuk menambal kekuatan skuadron tempur yang masih kurang sempurna.

Namun persepsi jiran bisa lain karena rumah yang bernama Indonesia itu selalu menjadi perhatian mereka.  Pokoknya apa saja yang dilakukan rumah gadang   ini selalu dicermati baik-baik oleh setidaknya 3 negara yaitu Singapura, Malaysia dan Australia.  Ketiga negara itu sepertinya punya rasa was-was jika republik ini membangun kekuatan militernya.  Padahal Indonesia memang perlu melakukan reformasi alutsistanya untuk menjaga eksistensi kedaulatan dan kewibawaan rumah besarnya dari gangguan ketiga jiran itu.  Dalam bahasa pertetanggaan biasa disebut mengantisipasi dinamika kawasan yang dinamis.

Indonesia telah menetapkan pagu anggaran pembelian alutsista US$ 15 Milyar  periode tahun 2010 sd 2014 untuk memenuhi persyaratan kekuatan pukul yang memadai.  Jumlah anggaran sebesar itu akan memastikan RI bahwa tahun 2014 nanti pengawal republik ini sudah dilengkapi dengan arsenal modern minimal 9 skuadron pesawat tempur berbagai jenis, puluhan  pesawat angkut berbagai jenis, beberapa skuadron helikopter tempur, helikopter anti kapal selam, heikopter angkut, rudal jarak menengah hanud area.  Kemudian pertambahan jumlah KRI berbagai jenis diprediksi bisa mencapai 220 unit, kapal selam 5 unit, pertambahan dan persebaran pasukan Marinir.  Pertambahan pasukan TNI AD dengan 3 Divisi Kostrad, melengkapi alat tempur pasukan infantri mekanis dengan ratusan Panser.  Pengadaan Panser Canon, Tank IFV, rudal anti tank, howitzer, roket dan rudal surface to surface semuanya diharapkan sudah ready for use di tahun 2014.

Nah dari semua kondisi dan situasi itu, katanya sih telah terjadi perlombaan belanja alutsista di kawasan ini.  Bolehlah orang mempersepsikan apa saja tapi yang jelas perkembangan situasi di kawasan ini terutama gertakan angkatan laut Cina memaksa sejumlah negara memperkuat militernya.  Indonesia tidak terkait dengan konflik klaim laut Cina Selatan namun dalam perkembangan ke depan bisa saja ada tumpang tindih kawasan perairan di sekitar Natuna. Yang masih segar adalah konflik Ambalat dengan Malaysia. Perkuatan militer Indonesia adalah untuk mengantisipasi kondisi itu karena konflik regional ke depan adalah perebutan sumber daya alam tak terbarukan.  Jika kemudian terjadi situasi lomba belanja arsenal di kawasan ASEAN, tidak jua kita lalu mengatakan : bukan untuk itu. Karena faktanya memang sedang terjadi belanja senjata di kawasan ini.  Jadi biarkan saja orang mau ngomong apa.
*****
Jagvane / 12 Agustus 2011

Thursday, August 4, 2011

KEKUATAN MILITER RI RANKING 18 DUNIA

Unjuk Kualitas Prajurit TNI
Sebuah analisis yang dipublikasikan Global Fire Power belum lama ini memberikan evidence yang obyektif untuk menunjukkan peta kekuatan militer negara-negara di seluruh dunia.  Berdasarkan uji data yang mendukung kekuatan militer, daya tahan, stamina dan survival yang mendukungnya, Indonesia berada pada tempat terhormat, di urutan ke 18, menduduki puncak klasemen di kawasan ASEAN, bahkan mengungguli kekuatan Australia yang ada di posisi ke 24 ranking militer seluruh dunia.  

Urutan 10 besar ranking militer se dunia dipegang secara berturut-turut : AS, Rusia, China, India, Inggris, Turki, Korsel, Perancis, Jepang dan Israel.   Kemudian urutan 11 sampai dengan 20     besar adalah Brasil, Iran, Jerman, Taiwan, Pakistan, Mesir, Italia, Indonesia, Thailand dan Ukraina.  Ranking negara ASEAN yang lain adalah Filipina ada di posisi ke 23, Malaysia posisi ke 27, Singapura ke 41.

Analisis ini memberikan sebuah definisi tentang peta kekuatan militer yang sesungguhnya, tidak terfokus pada keunggulan jumlah pesawat tempur atau kapal combatan seperti yang selama ini menjadi opini publik.  Itu sebabnya walaupun Singapura punya kekuatan pesawat tempur terbanyak di ASEAN, negara pulau itu tetap tidak mampu mengungguli Malaysia, Filipina dan Indonesia.  Indikator kekuatan alutsista bukan merupakan faktor penentu keunggulan militer sebuah negara.

Kita selama ini terpengaruh dengan opini psikologis bahwa  Jakarta akan hancur dalam waktu dua jam jika diserang oleh pesawat tempur Singapura.  Padahal apa iya, ini kan negara kepulauan yang paling besar di dunia, punya 240 juta penduduk berkarakter nasionalis, sumber daya alamnya melimpah dan yang terpenting dalam strategi militer, negara kita terdiri dari ribuan titik pertahanan. Bandingkan dengan negara pulau itu, hanya beberapa titik di sebuah pulau.  Secara hankam, pulau itu lebih mudah ditaklukkan.  Yang jelas angkatan udara tidak menjadi faktor utama untuk memenangkan pertempuran karena ibu dari segala perang adalah angkatan darat.  
                                                                                                                  
Sekedar perbandingan, berikut disampaikan peta kekuatan militer antara Indonesia dan Malaysia berdasarkan analisis Global Fire Power :
Negara                                 INDONESIA                      MALAYSIA          Ranking                                   18                                      27
Total Population                         245,613,043                                        28,728,607
Military Manpower Available        129,075,188                                        14,817,517
Fit for Military Service                 107,538,660                                        12,422,580
Reaching Military Age Yearly           4,455,159                                            519,280
Active Military Personnel                    438,410                                            124,000
Active Military Reserves                      400,000                                           640,199
Total Aircraft                                           510                                                 258
Total Land-Based Weapons                     1,577                                              2,465
Total Naval Units                                      136                                                  65
Towed Artillery                                          59                                                  54
Merchant Marine Strength                       1,244                                                 321
Major Ports and Terminals                            9                                                    5
Aircraft Carriers                                           0                                                    0
Destroyers                                                   0                                                   0
Frigates                                                       6                                                   4
Submarines                                                  2                                                  2
Patrol Coastal Craft                                     31                                                 37
Mine Warfare Craft                                      12                                                  4
Amphibious Operations Craft                         8                                                  1
Defense Budget                       $4,740,000,000                             $3,500,000,000
Foreign Reserves                    $96,210,000,000                         $106,500,000,000
Purchasing Power              $1,030,000,000,000                         $414,400,000,000
Oil Production                            1,023,000 bbl                                  693,700 bbl
Oil Consumption                        1,115,000 bbl                                   536,000 bbl
Proven Oil Reserves             4,050,000,000 bbl                          2,900,000,000 bbl
Roadway Coverage                        437,759 km                                    98,721 km
Railway Coverage                              5,042 km                                     1,849 km
Waterway Coverage                         21,579 km                                     7,200 km
Coastline Coverage                         54,716 km                                      4,675 km
Major Serviceable Airports                         684                                              118
Square Land Area                        1,904,569 km                                 329,847 km
Total Labor Force                          116.500.000                                  12.200.000

Dari data diatas beberapa catatan bisa kita letakkan pada kondisi terkini, misalnya posisi cadangan devisa RI saat ini sudah mencapai  $ 122.000.000.000,- (Akhir Juli 2011), jumlah KRI saat ini  berkisar 152 unit.  Kapal-kapal yang berstatus KAL, KKP dan Polisi Air tidak diperhitungkan oleh GFP, padahal kapal-kapal jenis ini ikut berperan dalam patroli keamanan laut atau patroli pantai (Patrol Coastal Craft).  Kemudian komponen cadangan (Active Military Reserves) jumlahnya bisa melebihi perhitungan GFP jika Satuan Pengamanan, Satuan Polisi Pamong Praja, Pertahanan Sipil masuk dalam perhitungan.

Analisis GFP yang disajikan merupakan evidence yang cukup obyektif dan terbarukan, mampu menyajikan data terkini yang memberikan gambaran menyeluruh dari kekuatan militer sebuah negara berdasarkan kekuatan sumber daya militer,  sistem persenjataan,  kekuatan armada angkatan laut, dukungan logistic dan sebaran pangkalan,  sumber daya alam untuk survival, dukungan financial dan kondisi geografis.  Yang menarik kekuatan pesawat tempur digabung dengan sistem persenjataan lain apakah itu pesawat angkut, helikopter, tank, panser, artileri yang menjadi kekuatan angkatan darat.  Sementara kekuatan angkatan laut menjadi faktor terpisah dan memberikan kontribusi real pada kekuatan militer sebuah negara.

Nah, semakin jelas bahwa kita adalah yang terbaik di kawasan ini dalam ranking kekuatan militer.  Oleh sebab itu kita perlu mengeliminir opini-opini psikologis yang mengunder estimate kekuatan TNI, seakan-akan TNI yang paling lemah, seakan-akan TNI tak mampu mengatasi serangan udara Singapura, seakan-akan TNI tak mampu mengawal teritori NKRI. Dalam kondisi minimum essential force yang belum tercapai militer kita ternyata mampu menduduki ranking 18 dunia.  Padahal mulai tahun 2012 sd tahun 2014 saja akan berdatangan setidaknya 60 pesawat tempur baru berbagai jenis,  15 pesawat angkut berbagai jenis, 55 Heli tempur berbagai jenis,  30 Kapal Cepat Rudal, 3 Kapal Selam, 2 Fregat, ratusan Tank dan Panser berbagai jenis.  Belum lagi proyek rudal surface to surface, surface to air, rudal anti tank dan ribuan roket Rhan produksi dalam negeri.

Ini artinya peluang untuk meningkatkan ranking militer itu sangat terbuka.  Namun lebih dari itu, kita harus selalu percaya diri dengan kemampuan hulubalang pengawal negara kita, dengan semangat tempurnya, dengan kualitas prajuritnya yang selalu mengungguli tentara negara jiran.  Sekali lagi militer kita adalah yang terunggul diantara para jiran.  Dan itu harus kita rawat dan pelihara dengan suplai alusista yang modern dan menggentarkan. Dan itu harus konsisten dan berkesinambungan,-
****
Jagvane / 4 Agustus 2011

Wednesday, July 27, 2011

Manuver 12 Kapal Selam RI Memaksa Belanda Angkat Kaki dari Papua

Kapal Selam Indonesia KRI Cakra 401
Armada kapal selam RI yang tergabung dalam operasi Jayawijaya untuk mengambil paksa Papua yang dikuasai Belanda tahun 1962, memberikan andil besar dan menjadi kekuatan penggentar utama ciutnya nyali tempur Belanda.  Dimulai dengan kedatangan dua kapal selam pertama RI dari Rusia via Polandia tiba tanggal 12 September 1959 dari kelas Whiskey yaitu KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 403.  Waktu itu istilah KRI masih disebut dengan RI.  Berikutnya datang lagi 4 kapal selam pada bulan Januari 1962  masih dari kelas yang sama, yaitu KRI  Nagabanda 407, KRI Trisula 402, KRI Candrasa 408 dan KRI Nagarangsang 404. 

Kloter terakhir berupa 6 kapal selam diterima bulan Desember 1962 yaitu KRI  Wijayadanu 409, KRI Hendrajala 405, KRI Bramastra 412, KRI Pasopati 410,  KRI Cundamani 411 dan KRI Alugoro 406.  Enam kapal selam yang terakhir ini sebenarnya berangkat dari Vladivostok Rusia bulan Juli 1962 namun ketika sampai di perairan laut Sulawesi diperintahkan langsung ke perairan Papua via Morotai dan langsung diawaki oleh pelaut Rusia.  Awaknya sendiri dari TNI AL sebenarnya sudah ikut pelatihan awak kapal selam di Vladivostok, dan pulang ke Surabaya naik kapal penumpang.  Itu sebabnya penyerahan 6 kapal selam ini baru dilakukan Desember 1962 di Surabaya ketika konflik Trikora sudah selesai.

Mengapa demikian, karena Komando Mandala sedang mempersiapkan operasi gabungan amphibi untuk menyerbu Biak pada bulan Juli 1962 dengan target tanggal 17 Agustus 1962 bendera Merah Putih sudah bisa dikibarkan di bumi Papua.  Begitu instruksi Presiden Soekarno pada Mayjen Soeharto selaku Panglima Mandala.  Jauh hari sebelum hari H itu, manuver kapal selam RI membuat armada kapal perang Belanda berdebar kencang karena Whiskey Class itu seperti hantu laut, terasa ada terdengar tidak apalagi terlihat.

Operasi kapal selam RI yang penuh rahasia sangat mengkhawatirkan armada Belanda yang menjaga perairan Papua. Belanda memang unggul dalam informasi elektronika dan informasi intelijen dalam konflik ini, namun tak berdaya menghadapi manuver armada kapal selam RI.  Mirip sosok monster yang setiap saat muncul menembakkan torpedo mautnya yang paling modern pada saat itu. Armada kapal selam RI berperan besar dalam menyusupkan pasukan TNI ke daratan Papua. Salah satunya operasi penyusupan pasukan komando RPKAD melalui kapal selam  KRI Tjandrasa berhasil mendaratkan 15 pasukan komando RI di teluk Tanah Merah Papua pertengahan Agustus 1962.

Belanda sejatinya masih mengharapkan bantuan dari AS dan Australia dalam mempertahankan eksistensinya di tanah Papua jika terjadi perang terbuka dengan Indonesia. Namun berdasarkan informasi intelijen yang dilakukan Armada ke 7 AS yang berpangkalan di Teluk Subic Filipina, konflik terbuka antara Indonesia versus Belanda akan mempermalukan bangsa Eropa / Barat karena sangat memungkinkan Indonesia (sebagai bangsa Asia) akan memenangkan pertarungan paling berdarah ini, jika terjadi.

Pada saat yang sama AS juga sedang bergumul di Perang Vietnam, tentu AS tidak mau membuka front kedua membantu Belanda sebagai sekutunya selama ini. Hasil pemantauan berupa gambar sangat mencengangkan AS bahwa Indonesia sedang mempersiapkan penyerbuan besar-besaran ke Biak.  Setidaknya di Teluk Peleng (Sulawesi) telah bersiap hampir seratus kapal perang RI baik combatan, angkut pasukan, logistik dan tanker.  Sementara seratusan pesawat tempur Mig 15, Mig 17, Mig 19, Mig 21 serta pesawat pembom Il-28 dan Tu-16 sudah stand by di pangkalan Madiun, Makassar, Manado, Morotai, Ambon, Tual.  Dari semua kekuatan taring yang dimiliki RI saat itu, kekuatan 12 kapal selam yang lalu lalang di perairan utara Papua  sejak  Mei sampai dengan Agustus 1962 merupakan pusat kegentaran armada Belanda yang dipimpin kapal induk Karel Doorman.

Kekuatan armada kapal selam RI yang dipusatkan di teluk Kupa-Kupa Maluku Utara merupakan satuan pemukul strategis yang berada diluar konvoy kapal perang RI.  Satuan ini bergerak lebih dulu, siluman, mencari dan menemukan kemudian menembakkan torpedo paling canggih saat itu SAET-50 homing torpedo pada setiap kapal perang Belanda yang ditemui mereka. Armada kapal perang Belanda tidak mampu mendeteksi kehadiran Whiskey Class RI karena kesenyapannya berdiam diri di kedalaman 150 meter berhari-hari. 

Waktu berjalan terus, persiapan perang terbuka semakin intensif, hari H penyerbuan telah ditetapkan 12 Agustus 1962, manuver kapal selam RI semakin giat melakukan operasi pengintaian terhadap target. Penyusupan pasukan melalui udara semakin sering dilakukan sebagai bagian dari mata dan telinga di kantong musuh pada saat penyerbuan nanti.

Kegentaran Belanda dengan situasi kritis ini dan statemen Presiden John F. Kennedy agar Belanda segera meninggalkan Papua memberikan angin segar bagi diplomasi RI yang dipimpin Adam Malik.  Beberapa hari sebelum tanggal 17 Agustus 1962 Belanda bersetuju dengan gencatan senjata yang diberi sandi Awan Terang.  Oleh Pemerintah RI gencatan senjata resmi diberlakukan tanggal 18 Agustus  1962 namun Komando Mandala baru memperlakukan Awan Terang tanggal 25 Agustus 1962. Sejarah kemudian mencatat Papua diserahkan ke Indonesia  melalui PBB yang disebut UNTEA (United Nation Temporary Execution Authorities). 

Tahapannya 1 Oktober 1962 Bendera Belanda diturunkan di tanah Papua, diganti dengan Bendera PBB.  Tanggal 2 Oktober 1962 bendera Belanda dinaikkan lagi bersama bendera PBB sampai tanggal 31 Desember 1962.  Bendera Merah Putih berkibar 1 Januari 1963 bersama bendera PBB kemudian pada tanggal 1 Mei 1963 bendera PBB diturunkan, bendera Merah Putih berkibar sendirian, penanda resmi  tanah Papua kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Catatan sejarah yang sering dilupakan orang adalah sebab-sebab terjadinya persetujuan melalui jalur diplomasi adalah kekuatan militer sebagai penggentar.  Tidaklah mungkin akan tercapai persetujuan pengembalian Papua jika Indonesia tak membangun kekuatan militer secara besar-besaran pada waktu itu termasuk kehadiran 12 kapal selam siluman yang menggentarkan itu.  Catatan penting lainnya adalah dalam kondisi ekonomi yang serba kurang waktu itu, Indonesia sanggup membangun kekuatan militer yang paling disegani di bumi selatan Asia, menghadirkan 12 kapal selam hanya dalam waktu 2-3 tahun.  Bandingkan dengan sekarang yang kondisi ekonomi kita jauh lebih kuat dan gagah, mau mendatangkan 3 kapal selam “kelas welter ringan” saja prosesnya mbulet sampai lima tahun.  Sebenarnya kalau kita mau kita bisa setara dengan era Trikora dulu, punya 12 kapal selam bahkan lebih. Kalau kita mau, pertanyaannya adalah apakah kita mau.  Kalau memang ada kemauan pasti ada jalannya, kata pepatah, tetapi apakah kita memang mau.

*******
Jagvane / 27 Juli 2011

Sunday, July 17, 2011

Doktrin Perang TNI Memang Harus Berubah

Barisan Tank TNI AD dalam sebuah Latgab
Panglima tertinggi TNI yang juga orang nomor satu di negeri kepulauan ini sudah menjelaskannya di pusat pendidikan perwira gagah, Akademi Militer Magelang   tanggal 13 Juli 2011, dihadapan para pemegang komando tempur dan teritorial  TNI. Sudah saatnya doktrin pertahanan atau yang lazim disebut doktrin perang TNI diubah disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan yang bergerak dinamis.  Doktrin yang selama ini dipegang adalah membiarkan halaman perairan dimasuki dan dikuasai musuh dengan sedikit perlawanan, baru setelah sampai di darat musuh digebuk, kalau masih kalah juga, lari ke pegunungan lalu melakukan perang gerilya yang berlarut.  Bah, macam mana pula ini.

Konsep tarung demikian sudah harus tutup buku dan diganti dengan doktrin garang menggebuk lawan yang mencoba masuk dimanapun dia mau masuk, hancurkan sebelum masuk. Ini yang disebut dengan doktrin pre emptive strike atau menghalau musuh sejauh mungkin dari teritori tanah air, dari daratan utama.  Dalam tulisan-tulisan sebelum ini kita sudah sering mengatakan perlunya pola masuk dulu baru digebuk diganti dengan gebuk duluan sebelum masuk. Mengapa demikian karena persoalan utama dari sengketa antar negara kini dan yang akan datang didominasi oleh penguasaan energi tak terbarukan yang berada di wilayah laut biru.  Untuk negara kita disamping laut biru tadi juga ada di beberapa pulau utama seperti Papua dan Kalimantan.

Doktrin perang model semi ofensif ini tentu memerlukan kekuatan alutsista besar dan pangkalan militer yang bersifat menyebar, utamanya pangkalan Angkatan Udara dan pangkalan Angkatan Laut.  Disamping itu mutlak diperlukan armada tempur laut dan skuadron tempur udara yang dapat diandalkan sebagai kekuatan pukul menggentarkan. Pembentukan tiga armada TNI AL dan tiga divisi Marinir tidak bisa ditawar lagi dengan membaginya menjadi armada barat, armada tengah dan armada timur. Demikian juga pemenuhan kebutuhan minimal 10 Skuadron tempur dengan pesawat tempur multi peran harus tersedia.

Contoh di kawasan barat RI, Natuna, bisa dijadikan pangkalan utama  bersama Tanjung Pinang dan Belawan. Di masing-masing tiga pangkalan utama ini  minimal harus tersedia  5 Fregat, 9 Korvet, dan 15 Kapal Cepat Rudal yang benar-benar ber home base disana, bukan BKO atau dikendalikan Surabaya.  Minimal 3 kapal selam disediakan untuk mengawal perairan selat Malaka, Selat Singapura dan Natuna.  Dengan kata lain untuk armada barat diperlukan ketersediaan kapal combatan berupa 15 Fregat, 27 Korvet dan 45 Kapal cepat Rudal serta 3 kapal selam.  Tiga pangkalan utama ini didukung oleh pangkalan  pratama seperti Lhok Seumawe, Sabang, Teluk Bayur, Dumai dan Mempawah sebagai area patroli gugus tempur laut armada barat TNI AL.

Sementara untuk armada tengah  setidaknya ada 4 pangkalan utama AL yaitu di Jakarta, Surabaya, Makassar dan Tarakan.  Posisi armada tengah harus merupakan yang terkuat dari 2 armada lainnya dan dimasing-masing pangkalan harus tersedia minimal 6 Fregat, 12 Korvet, dan  16 Kapal Cepat Rudal.  Isian KRI untuk armada tengah dengan kapal tempur  24 Fregat, 48 Korvet, 64 Kapal Cepat Rudal ditambah dengan unsur 4 kapal selam.  Ke empat pangkalan utama ini didukung oleh pangkalan pratama yaitu  Semarang, Panjang, Cilacap, Benoa, Balikpapan, Bitung.

Pangkalan AL armada timur dipusatkan di Ambon, Kupang dan Merauke.  Tiga pangkalan utama ini berada di lokasi laut dalam.  Oleh sebab itu diperlukan kapal jenis Fregat dan Korvet.  Masing-masing pangkalan diisi dengan  6 Fregat dan 10 Korvet.  Dengan demikian armada timur memerlukan minimal 18 Fregat dan 30 Korvet dengan dukungan  3 kapal selam.  Sementara untuk Kolinlamil (Komando Lintas Laut Militer dipusatkan di dua pangkalan yaitu Jakarta dan Makassar dengan kapal jenis LST, LPD, LHD, Tanker dan kapal RS.

Untuk matra darat juga perlu memperkuat diri dengan menambah satuan tempur berupa batalyon rudal untuk menjaga garis pantai dari serbuan amphibi.  Misalnya menempatkan batalyon rudal anti kapal di Natuna dan Batam, bisa dari jenis Yakont sebagaimana yang telah dilakukan Vietnam untuk menjaga garis pantainya.  Penempatan rudal surface to surface made in Pindad-Lapan perlu dilakukan di Bengkalis, Rupat dan Bintan, Kalimantan Barat dan Bunyu.  Jangan lalai menempatkan beberapa batalyon rudal untuk mengamankan pantai selatan Jawa sebagaimana pernah diulas dalam tulisan sebelum ini (baca: Jangan Remehkan Selatan Jawa).  Mengapa demikian, selama ini perhatian hankam kita hanya mikirin selat Malaka, Natuna dan Ambalat. Pantai barat Sumatera dan pantai selatan Jawa kok kurang kuat pagarnya. Perkuatan matra darat di Papua, NTT, Kalimantan sudah dan sedang dilakukan.  Papua memerlukan minimal 3 brigade tempur lengkap, NTT minimal 1 brigade dan Kalimantan 6 brigade. 

Untuk matra udara harus diperkuat dengan minimal  3 skuadron Sukhoi (48 unit), 3 skuadron F16 (48 unit), 12 F5E, 36 Hawk100/200, 16 T-50, 16 Super Tucano an 40 Hercules. Pesawat early warning minimal tersedia 2 unit bersama 5 pesawat intai strategis maritim.  Sangat diperlukan rudal surface to air jarak sedang (hanud area) untuk pertahanan pangkalan yang dioperasikan Paskhas disamping rudal jarak pendek  (hanud titik) yang sudah tersedia.  Sebaran pangkalan pesawat tempur bisa dilakukan di Medan, Subang, Tarakan, Biak, Timika dan Kupang.  Sebaran pangkalan pesawat tempur saat ini ada di Madiun, Makassar, Pontianak, Pekanbaru dan Malang.

Sebaran kekuatan matra TNI dimaksudkan agar dapat bereaksi cepat dengan jarak tempur dan logistik lebih pendek jika terjadi konflik dengan negara lain yang ingin mengajak tarung dengan RI. Misalnya Ambalat, jika konflik pecah, pangkalan AL di Tarakan akan mampu memberikan kekuatan pukul yang menjerakan bagi pihak lawan.  Dengan tersedianya jumlah KRI berbagai jenis di pangkalan utama Tarakan yang ready for war, setidaknya akan membuat lawan berhitung cermat sebelum memulai konflik militer dengan RI.  Bahasa premannya gak berani ganggu kalau tak ingin babak belur.

Ongkos keamanan itu jangan dinilai dari jika terjadi sesuatu baru dirasakan benefitnya.  Jangan berfikir seperti itu.  Sama dengan jika rumah kita kemalingan baru kemudian jendelanya diberi teralis dan pintunya diberi palang pintu.  Itu artinya kita sudah rugi dua kali, ya kemalingannya ya ongkos bikin teralisnya.  Sudah guondokk karena hartanya kemalingan, tambah maning buat teralis, wis ya loro tenan.  Oleh sebab itu ongkos mengamankan teritori NKRI ini jangan dilihat dalam konteks insidentil belaka melainkan harus dilihat dalam horizon perspektif dan kewibawaan. Ongkos itu memang mahal karena rumah kita ini sangat besar, kaya sumber daya alam, strategis, cantik menarik menawan hati, kata sebuah lagu. Dan kita harus memulainya dari sekarang, tidak bisa tidak, termasuk merubah paradigma doktrin perang TNI.  Perubahan doktrin itu seirama dengan reformasi belanja berbagai alutsista untuk membentuk kekuatan pukul yang menggentarkan  diniscayakan akan memberikan kewibawaan kedaulatan NKRI. Nilai kewibawaan itu bisa dilihat dari keseganan jiran untuk melecehkan atau mengganggu teritori Indonesia.  Kewibawaan kedaulatan itu adalah ongkos yang paling murah dalam definisi menjaga keutuhan wilayah Republik Indonesia.  Coba renungkan dalam-dalam.

******
Jagvane / 17 Juli 2011