Ada berita menarik ketika Menteri Pertahanan merangkap Wakil PM Australia Richard Marles berkunjung ke Jakarta tanggal 12 Maret 2026 yang lalu. Bahwa Indonesia dan Australia akan mengembangkan Morotai sebagai pusat latihan militer internasional. Ini kunjungan Marles yang kedua setelah kunjungannya yang pertama 5 Juni 2025 untuk maksud yang sama. Bedanya dengan kunjungan yang pertama, kunjungan kali ini membawa payung Jakarta Treaty yang baru ditandatangani Februari 2026 yang lalu. Traktat Jakarta adalah perjanjian kerjasama pertahanan kedua negara tetapi bukan aliansi militer.
Morotai yang sekarang menjadi nama Kabupaten di Provinsi Maluku Utara adalah nama legendaris pada masa Perang Dunia II di Indo Pasifik. Morotai adalah pangkalan aju strategis dan simbol estafet kemenangan pertempuran. Baik ketika dikuasai Jepang tahun 1942 maupun ketika dikuasai Sekutu tahun 1944. Operasi Trade Wind merupakan estafet penting dalam pertempuran di Morotai. Sejarah mencatat pasukan Jenderal Douglas Mac Arthur berhasil memukul mundur tentara Dai Nippon dari Morotai 15 September 1944. Kemudian membangun 6 landasan pacu sebagai persiapan menyerang Filipina dan Jepang.
Sisa-sisa peninggalan infrastruktur PD II di Morotai masih jelas terlihat sebagai situs sejarah hiruk pikuk pangkalan angkatan udara. Masih berserak sisa puing pesawat, tank, amunisi, hanggar dan landas pacu. Dari delapan landasan pacu, landasan pitu (tujuh) dimanfaatkan menjadi Bandara Leo Wattimena di provinsinya Ibu Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos yang cantik, lincah dan gesit. Yang lebih fenomenal adalah ditemukannya tentara Jepang Teruo Nakamura pada tahun 1974. Serdadu Hirohito ini mampu bertahan hidup selama 30 tahun di hutan Morotai. Luar biasa.
Sepenting apakah kemudian pengembangan pusat latihan militer Morotai bagi Indonesia. Bukankah sudah ada Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel, Puslatpur Marinir di Situbondo Jatim. Ada Puslatpur di Sangatta Kaltim, Dabo Singkep di Kepulauan Riau dan lain-lain. Berbagai lokasi AWR (Air Weapon Range) juga tersebar di sejumlah daerah. Seperti di Pandanwangi AWR Lumajang, Buding AWR Belitung Timur, Astra Kestra AWR Lampung, Takalar AWR Sulawesi Selatan, Haluoleo AWR Sulawesi Tenggara. Bukankah Morotai ada di periferi teritori Indonesia, di tepi samudra biru nan luas Pasifik. Dalam perspektif kita Morotai bukanlah lokasi strategis yang ideal dalam stimulus strategi pertahanan Indonesia.
Dalam Traktat Jakarta yang baru ditandatangani, Australia dan Indonesia bersepakat untuk menguatkan kerjasama strategis dalam bidang pertahanan dan keamanan. Tapi ini bukan persekutuan militer sebagaimana Pukpuk Treaty antara Australia dan Papua Nugini yang ditandatangani tahun lalu. Pukpuk Treaty berbunyi jika Papua Nugini diserang negara lain maka Australia wajib membela. Traktat Jakarta hanya sebatas konsultasi, saling menjaga martabat bertetangga. Salah satu manfaatnya Australia harus bisa memahami dinamika pertahanan dan keamanan tetangga besarnya ini. Termasuk tidak mencampuri urusan keamanan dalam negeri masing-masing negara. Ujian sebenarnya dari traktat ini adalah dinamika geopolitik kawasan yang menjurus pada iklim "ngeri-ngeri sedap". Dan kesetiaan Australia terhadap isi perjanjian.
Dalam ruang horizon dan dinamika geopolitik Indo Pasifik, Australia memandang posisi Morotai sebagai lokasi historis strategis. Morotai adalah jarak udara terdekat dari Darwin sebelum menuju Clark Air Force Base(AFB) Filipina. Clark AFB dan Subic Navy Base adalah pangkalan militer AS di Filipina yang legendaris selama Perang Vietnam. Sangat dimungkinkan Morotai AFB akan berperan dalam skenario dan ikhtiar antisipasi. Ketika cuaca ekstrim permusuhan militer bergejolak menjadi pertempuran skala besar di Laut China Selatan (LCS) dan Laut China Timur (LCT).
Latihan gabungan Super Garuda Shield beberapa tahun lalu yang diikuti limaribuan pasukan Indonesia, AS, Australia, Jepang dan lain-lain, ada simulasi pergerakan pasukan lintas udara. Satu kompi pasukan Kostrad TNI AD bersama pasukan US Army dideploy dengan pesawat angkut raksasa globe master US Air Force. Berangkat dari Andersen AFB di Guam Pasifik menuju titik penerjunan di Puslatpur TNI AD di Baturaja Sumsel. Durasi perjalan selama lima jam jika ditarik garis lurus pertengahannya adalah Morotai. Padahal simulasi semua serial Super Garuda Shield adalah untuk menghadapi common enemy. Artinya baik dari Guam dan Darwin, Morotai merupakan titik strategis yang efektif dan cepat dalam skenario counter attack untuk LCS dan LCT.
Meski pusat latihan tempur berskala internasional ini nantinya seratus persen dikelola Indonesia, bisa saja dengan persetujuan Indonesia berdasarkan Traktat Jakarta, Morotai "dipinjam" Australia untuk digunakan bersama AS menjadi pangkalan aju dalam menghadapi musuh antagonisnya. Disinilah percaturan geopolitik itu berperan. Dinamikanya bisa mengubah mata angin "keberpihakan" manakala kepentingan nasional kita diganggu. Soal ZEE Natuna misalnya. Nine dash line yang disebut lidah naga adalah klaim pengakuan sepihak China. Dan ini berlawanan dengan cara pandang Australia dan empat negara ASEAN lainnya Vietnam, Malaysia, Filipina dan Brunai.
Sebagai pusat latihan militer internasional, mengembangkan Morotai adalah bagian dari diplomasi militer Indonesia dan Australia. Sementara kita juga sedang giat-giatnya membangun kekuatan militer untuk mencapai kekuatan yang optimum berkorelasi dengan luasnya teritori negeri ini. Pengembangan armada tempur TNI AL yang akan dikembangkan menjadi 5 armada, salah satunya tentu akan mengawal Morotai dan teritori perairan disekitarnya. Sorong di Papua Barat yang menjadi markas Komando Armada Tiga TNI AL dekat dengan Morotai. Dan diniscayakan menjadi payung perlindungan laut Morotai. Termasuk penempatan skadron tempur baru, bisa dialokasikan di Biak Papua yang sudah punya skadron angkut TNI AU.
Indonesia bersahabat dengan negara manapun dan tidak terikat dengan aliansi militer. Dengan China kita mengedepankan prinsip kerjasama pengembangan sumber daya energi fosil di perairan Natuna. Juga dengan Malaysia di perairan Ambalat. Namun dalam ikhtiar antisipasi dinamika geopolitik yang mudah terguncang turbulensi seperti saat ini di Timur Tengah, kita harus mempersiapkan skenario ikhtiar kontigensi. Program besar utamanya dan extra ordinary adalah memperkuat pertahanan dengan berbagai jenis alutsista canggih. Dalam sistem manajemen pertempuran modern interoperability network centric warfare.
Bersamaan dengan itu, memperkuat kerjasama pertahanan dengan tetangga, Australia contohnya. Pengembangan Morotai AFB sebagai pusat latihan militer internasional adalah bagian dari diplomasi pertahanan kedua negara. Tidak sulitkan merubah fungsi pusat latihan militer internasional menjadi pangkalan militer dalam situasi kontigensi menghadapi lawan yang sama. Karena infrastrukturnya sudah tersedia. Diplomasi pertahanan adalah bagian dari kecerdasan cara memperlihatkan tanpa harus mengatakan. Meskipun begitu, kita juga harus tetap berhati-hati dan waspada dengan cara bertetangga jiran selatan berwajah Eropa ini. Sudah pahamlah maksudnya. Dan sudah pahamkan mengapa Morotai.
*****
Jagarin Pane / 31 Maret 2026
No comments:
Post a Comment