Thursday, March 19, 2026

Membangun Kemampuan ADS Dan Air Strike

Presiden ke 6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono baru-baru ini menyampaikan pesan kuat agar manajemen pertahanan Indonesia mampu beradaptasi dengan doktrin based on kekuatan teknologi terkini. Doktrin pertahanan konvensional "masuk dulu baru digebuk" harus diganti dengan doktrin pre emptive strike yaitu "berani masuk digebuk". Teknisnya Indonesia harus memiliki kemampuan Air Defence System (ADS) dan Air Strike dengan aset alutsista strategis. Infrastruktur tempurnya adalah rudal, radar, satelit, pesawat deteksi dini, drone, jet tempur dan kapal perang. Seluruhnya berada dalam Combat Management System (CMS) yang terintegrasi dengan Network Centric Warfare (NCW).

Dalam program extra ordinary Kementerian Pertahanan yang dikenal dengan Optimum Essential Force (OEF), manajemen pertahanan Indonesia saat ini sedang bertransformasi menuju kekuatan pertahanan yang sepadan dengan luasnya wilayah teritori. Angkatan Laut dan Angkatan Udara mendapat prioritas perkuatan karena posisi geostrategis dan geopolitik Indonesia yang khas negara kepulauan terbesar. Khusus untuk ADS, Indonesia sedang membangun sistem pertahanan udara (Hanud) berlapis. Seiring dengan itu juga membangun kemampuan Air Strike dan Air Superiority. Indonesia memang harus membangun doktrin pertahanan udara secara berlapis dan terintegrasi.

Lapisan terluar ADS dan Air Strike adalah unjuk kinerja kekuatan sejumlah jet tempur TNI AU yang sudah dan akan dimiliki. Saat ini ada 16 jet tempur Sukhoi, 33 jet tempur F16, 19 jet tempur T5O,  24 jet tempur Hawk dan 13 pesawat counter insurgency Super Tucano. Kedepan kita akan banyak kedatangan jet tempur canggih seperti 42 jet tempur Rafale, 16 jet tempur KF21, 48 jet tempur KAAN, 8 jet tempur Sukhoi SU35. Bahkan Rafale akan ditambah 18 unit lagi untuk menjadi kekuatan 4 skadron tempur. Aset jet tempur beraneka ragam ini bagian dari penguasaan Air Superiority untuk negeri kepulauan yang luas ini.

Lapisan kedua ADS adalah dengan pemesanan 2 baterai HQ-9 buatan China. Sistem peluru kendali HQ-9, adalah alutsista pencegat jarak jauh dengan jangkauan tembak hingga 260 km. Kemampuannya adalah mencegat jet tempur lawan dan atau rudal balistik sebelum menyentuh teritori Indonesia. "Menjemput musuh" yang melakukan pre emptive strike di luar perbatasan negeri. Prediksi kedatangannya pada semester II tahun 2027. Sistem peluncuran rudal HQ-9 ini setara dengan rudal S300 dari Rusia dan  rudal Patriot dari AS. Kota-kota besar Indonesia seperti Ibukota Nusantara, Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar layak mendapat perlindungan minimal 1 baterai HQ-9.

Lapis ADS berikutnya dalam pertahanan udara area adalah ADS-400 Trisula, kolaborasi teknologi Excalibur Ceko dan Roketsan Turkiye. Jangkauan tembaknya 100 km dengan radar presisi tinggi. ADS-400 mampu membegal target-target lincah seperti jet tempur, rudal jelajah dan drone, jika lolos dari lapis  terluar ADS. Prediksi kedatangan alutsista canggih ini awal tahun 2027. Khusus alutsista buatan Turkiye sudah banyak yang datang seperti rudal balistik KHAN, rudal anti kapal Atmaca, drone Bayraktar, drone Anka. Dua kapal perang frigate "Istambul Class" sedang dipersiapkan pengirimannya ke Indonesia.

Berikutnya ada sistem Hanud area jarak menengah yaitu rudal surface to air Buk Mb2K dari Belarusia. Nah kalau yang ini tidak usah lagi diragukan, bersama keluarga Buk yang dari Rusia sudah battle proven di perang Rusia-Ukraina. Buk Mb2K mampu mengatasi ancaman drone, helikopter, pesawat dan rudal musuh. Meski belum dipastikan kedatangannya, Buk Mb2K menjadi bagian dari kesisteman ADS. Sekilas info, jet tempur Sukhoi, helikopter Mi17 dan Mi35 kita rutin dikirim ke Belarusia untuk perawatan berat dan pergantian suku cadang.

Lapis terdalam dan terdekat adalah infrastruktur peluru kendali NASAMS II buatan Norwegia. Alutsista ini sebanyak 2 baterai sudah operasional beberapa tahun lalu untuk melindungi Jakarta. Sistem ini mampu melindungi objek-objek vital dan pusat komando. Didukung sistem teknologi radar digital, NASAMS memastikan perlindungan area dengan akurasi terbaik. Dalam pertempuran Rusia-Ukraina NASAMS menunjukkan kinerja battle proven. Mampu mencegat banyak rudal dan drone Rusia dengan akurasi cemerlang.

Yang terakhir adalah pertahanan udara titik sebagai pertahanan lapis bawah ADS. Beberapa diantaranya berupa peluru kendali yang bisa dipanggul. Kopasgat TNI AU punya ratusan rudal panggul QW3 buatan China untuk mobilitas pertahanan pangkalan AU. Beberapa Air Force Base (AFB) Indonesia saat ini sudah memiliki sedikitnya 6 baterai alutsista perlindungan udara canggih Oerlikon Skyshield buatan Rheinmetall Jerman-Swiss. Alutsista ini berada dalam pengelolaan batalyon Kopasgat TNI AU, sekaligus aset strategis TNI AU. 

Alokasi Oerlikon Skyshield untuk Halim AFB Jakarta, Iswahyudi AFB Madiun, Roesmin Nuryadin AFB Pekanbaru, Supadio AFB Pontianak dan Hasanudin AFB Makassar. Natuna juga sudah mendapatkan Oerlikon Skyshield untuk Raden Sajad AFB. Bersama alutsista artileri Caesar Nexter, MLRS Astros II Mk6, MLRS Vampire, Tank Leopard berada dalam satu Brigade Komposit Gardapati Natuna. Sangat dimungkinkan jika Coastal Missile Brahmos buatan India sudah datang akan memperkuat benteng pertahanan Natuna.

Sementara itu seluruh Batalyon Arhanud TNI AD sudah memiliki ratusan sistem peluru kendali darat ke udara jarak pendek Starstreak buatan Inggris dan Mistral buatan Perancis. Inilah lapisan terakhir ADS. Yang menarik batalyon Arhanud kita masih setia dengan ratusan alutsista legendaris meriam anti serangan udara S60 buatan Uni Sovyet (sekarang Rusia) yang usia dharma baktinya sudah 70 tahun. Kalau dijejer di parade kakek dan cucu jalan bareng neh, si Mbah analog S60 dengan cucu digitalnya Starstreak atau Mistral. Meskipun begitu kemampuan S60 masih prima. Rusia juga masih menggunakan alutsista gaek ini dalam perang melawan Ukraina.

Indonesia sedang bergegas memperkuat manajemen pertahanannya. Salah satu strateginya adalah diversifikasi aset alutsista. Menghadirkan Coastal Missile di selat strategis dan ALKI. Memperbanyak armada kapal perang dan kapal selam mini tanpa awak. Menyebar Rudal Balistik di beberapa titik strategis tanah air. Khusus untuk ADS membangun kekuatan pertahanan udara secara berlapis di kota besar dan obyek vital. Semua upaya extra ordinary ini baru terlihat ready by system tahun 2030. Manajemen pertempuran interoperability saat ini dan kedepan bertumpu pada kemampuan Air Strike dan Air Defence System. Dan TNI sesuai Tupoksinya harus mampu melindungi seluruh teritori negeri dengan Network Centric Warfare.

****

Jagarin Pane /19 Maret 2026


No comments: