Perkuatan militer Indonesia saat ini dengan program extra ordinary untuk mencapai Optimum Essential Force (OEF) bagaimanapun menjadi perhatian para jiran sekitarnya. Malaysia, Singapura, Filipina dan Australia punya cara masing-masing untuk menyikapinya. Yang jelas mata dan telinga intelijen mereka bekerja untuk memperhatikan modernisasi militer Indonesia. Wajarlah karena dalam hidup bertetangga dinamika geopolitik dan geoekonomi paling sering bersinggungan. Bahkan kadang-kadang sampai melakukan show of force seperti di perairan Ambalat dulu dengan Malaysia. Juga Australia pernah pamer kekuatan. Mengerahkan 8 jet tempur F18 bermanuver diatas Kupang NTT tanggal 16 September 1999, dua minggu setelah referendum Timor Timur. Apalagi kalau bukan untuk unjuk kekuatan pada saat kekuatan alutsista kita lemah karena embargo. Ini pengalaman pahit kita bertetangga.
Program extra ordinary untuk memperkuat militer Indonesia saat ini adalah yang terbesar sejak era Trikora dan Dwikora. Program strategis pemerintah ini adalah dalam rangka mengantisipasi turbulensi geopolitik dunia yang lebih sering mendebarkan saat ini. Tidak lagi sekedar ngeri-ngeri sedap. Sudah terbukti, dunia kita saat ini melenceng jauh meninggalkan tatakrama dan mekanisme ber PBB. Bombardir Israel di Gaza dibiarkan, pertempuran keroyokan jarak jauh 12 hari Iran-Israel dan AS, operasi militer AS di Venezuela, pengerahan kekuatan militer AS di sekitar Iran, klaim AS atas Greenland dan Kanada. Mengusik ketentraman Mexico, Kolumbia dan Kuba, serta berbagai gertakan AS lainnya. Ini menunjukkan adanya kerusakan tatanan ekosistem geopolitik oleh sebuah sebab. Keangkuhan negara adidaya AS dan sekutu terkasihnya Israel.
Indonesia sesungguhnya sudah mengantisipasi cuaca ekstrim geopolitik global selama lima tahun terakhir. Menhan Prabowo waktu itu sudah punya "buku putih" sendiri dengan program besar dan cepat untuk memperkuat manajemen pertahanan berbasis network centric warfare (NCW). Maka bisa kita lihat hasil dari program extra ordinary ini dengan kedatangan 3 unit jet tempur Rafale dari 42 unit yang kita pesan. Dan akan ditambah menjadi 60 unit. Pengadaan alutsista cepat saji 2 kapal perang jumbo dari Italia sudah terlaksana dengan hadirnya KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321. Kemudian ada delapan puluhan Drone canggih Bayraktar, Akinci, dan Anka dari Turkiye. Bersamaan dengan itu ada penambahan 13 Radar GCI dari Thales Perancis dan 12 dari Retia Ceko.
Dengan Korsel, Indonesia pesan 16 unit jet tempur KF21 hasil pengembangan teknologi bersama selama 10 tahun. Sebelumnya kita sudah pesan 6 jet latih tempur T50i dan datang bulan ini untuk menambah kekuatan 13 unit yang sudah ada. Turkiye yang sedang mempersiapkan produksi jet tempur gen 5 KAAN dan masih dalam tahap pengembangan akhir, Indonesia sudah memesan sebanyak 48 unit. Kontrak efektif yang tertunda dengan Rusia untuk pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 sudah aktif kembali. Setidaknya ada tambahan 8 unit SU35 untuk melengkapi keluarga 16 unit Sukhoi SU27 dan SU30 yang sudah ada di Hasanudin AFB (Air Force Base) Makassar.
Bandara Haluoleo di Kendari sedang dikembangkan menjadi AFB tandem dengan Hasanudin. Prediksi isiannya ya keluarga Sukhoi tadi. Dua AFB ini menjadi salah satu pilar kekuatan NTS (Nusantara Trident Shield) atau Perisai Trisula Nusantara untuk memayungi Ibu Kota Nusantara. Jet tempur J10 Chengdu dari China yang sempat digadang-gadang Menhan Syafri, jika jadi dibeli sangat dimungkinkan penempatannya di kawasan Timur Selatan Indonesia, menemani Sukhoi. Pilihan kuatnya bisa di El Tari AFB Kupang. Jet tempur China sedang naik daun karena dianggap sukses menjatuhkan 4 jet tempur Rafale India dalam pertempuran udara Pakistan-India berbasis NCW dengan durasi singkat tahun lalu.
Ada kabar baik dari Turkiye. Setelah mendapat "Brawijaya Class" dengan pola beli pesanan negara pembuat Italia, dari Turkiye kita mendapat pola yang sama. Beli kapal perang yang hampir selesai untuk AL Turkiye. 2 kapal perang frigate "Istanbul Class" dialihkan untuk lndonesia. Sementara PT PAL yang sekarang sedang membangun 2 KRI heavy frigate Merah Putih akan membangun 2 unit lagi sehingga akan mencapai 4 unit. Jadi memang paralelisasi dan extra ordinary banget. Dari galangan kapal dalam negeri sedang sea trial 2 korvet KRI Raja Ali Fisabilillah 391dan KRI Lukas Rumkorem 392. Korvet KRI Bung Hatta 370 sudah menemani KRI VVIP Bung Karno 369. Keduanya produksi dalam negeri. KRI Belati 622 full combat buatan anak negeri sudah masuk Armada Tiga di Sorong. Rencana akuisisi 7 kapal perang frigate eksisting dari AL China bersama 1 kapal induk bekas dari Italia dipastikan akan menambah kekuatan gentar TNI AL.
Perkembangan yang begitu cepat perkuatan militer Indonesia saat ini menjadi sorotan media asing termasuk para jiran kita. Malaysia yang selama 1 dekade ini pertambahan alutsistanya cenderung stagnan, mulai menggeliat setelah memperhatikan kecepatan pertumbuhan alutsista Indonesia yang begitu masif. Secara kuantitas dan kualitas kekuatan alutsista Indonesia saat ini sudah jauh meninggalkan Malaysia. Meski Malaysia akan menambah jet tempur FA50 dari Korsel dan menyelesaikan 3 unit frigate "Maharajalela Class" yang tertunda bertahun-tahun, kekuatan jiran serumpun itu tetap masih dibawah kekuatan alutsista Indonesia yang berkembang pesat. Diantara seluruh negara ASEAN, Malaysia sejauh ini terlihat tersendat pertumbuhan kekuatan militernya. Bandingkan dengan Filipina dan Vietnam yang tumbuh signifikan.
Tetangga selatan Australia, kita meyakini, adalah yang paling aktif memantau pertumbuhan alutsista Indonesia. Canberra tentu sangat berkepentingan dengan keamanan nasionalnya. Program percepatan investasi pertahanan Indonesia mengharuskan negeri itu mengkalkukasi ulang kekuatan pertahanannya. Terbentuknya Aliansi militer Canberra dengan Port Moresby beberapa bulan lalu adalah bagian dari percaturan strategi militer Australia. Indonesia dalam pandangan Australia sejak dulu adalah tetangga besar yang selalu di suudzoni. Maka percepatan pertumbuhan kekuatan militer Indonesia saat ini boleh jadi menjadi kecemasan stadium satu bagi Australia. Harap-harap cemas bin khawatir. Biarkan saja toh Buku Putih pertahanannya sudah bersabda bahwa ancaman terbesarnya dari Utara.
Prediksi tambahan investasi pertahanan Indonesia tahun 2030 untuk TNI AU adalah tersedianya 42 jet tempur Rafale, 16 jet tempur KFX, 8 jet tempur Sukhoi SU35, 16 jet tempur J10 Chengdu, 24 jet latih tempur M346F blok 20, 25 Radar GCI. Prediksi perolehan 48 jet tempur KAAN dari Turkiye setelah tahun 2030. Matra TNI AL memperoleh 1 kapal induk drone, 1 kapal induk helikopter, 8 heavy frigate, 4 kapal selam, 30 kapal selam nir awak, sejumlah batterai Coastal Missile, seratusan tank amfibi, puluhan MLRS, ratusan drone berbagai jenis dan lain-lain. TNI AD mendapatkan 22 helikopter Black Hawk, 6 helikpoter Mi17, 5 batterai Balistic Missile, ratusan tank, panser dan lain-lain. Pertambahan signifikan dan masif ini dipantau serius jiran selatan sambil bergumam what next.
Makanya diam-diam Australia menjalin persekutuan militer dengan Papua Nugini yang dikenal dengan Pukpuk Treaty. Meski disebut ini merupakan antisipasi perluasan pengaruh China di Indo Pasifik, tetap saja membuat Jakarta marah secara diplomatik. Sehingga Australia mengirim pejabat tingginya untuk menenangkan Jakarta. Dengan berbagai track record perilaku tetangga berwajah Eropa ini, kita memang perlu waspada. Bukankah Pukpuk Treaty bisa digunakan untuk akses proxy war di Papua. Strategi Indonesia yang ingin memperkuat skadron tempur buatan non barat di kawasan Timur dan pengembangan Armada Tiga, dalam perspektif kita adalah bentuk diplomasi militer yang cerdas. Termasuk menambah puluhan batalyon teritorial pembangunan di Papua. Ini bagian dari antisipasi dinamika geopolitik. Utamanya menghadapi pola bertetangga dengan jiran yang punya rekam jejak kurang baik.
Bagaimana dengan Singapura. Setali tiga uang dengan Australia yang menganggap Indonesia adalah ancaman terhadap eksistensi negerinya. Makanya Singapura jauh-jauh hari sudah memperkuat militernya dengan alutsista canggih. Sebenarnya bagi Indonesia sehebat apapun kekuatan pre emptive strike Singapura, bukan merupakan ancaman bagi Indonesia. Sebaliknya dengan teknologi drone, benchmark pertempuran Rusia-Ukraina dan Iran-Israel justru membuat Singapura semakin merasa terancam. Sebab utamanya adalah kondisi geografi negerinya yang "little red dot". Padahal jiran yang bernama Indonesia ini selalu low profile dan bahkan bersepakat dengan DCA (Defence Cooperation Agreement). Perjanjian ini memberikan ruang latihan militer untuk AL dan AU Singapura di perairan selatan Natuna dan Bengkalis Riau. Kurang baik apa coba.
Program OEF Indonesia yang begitu masif diyakini menjadi perhatian serius negeri mungil itu. Harapan kita ada perubahan sikap diplomatik Singapura untuk lebih luwes dalam pola diplomatik. Seperti keberatannya atas penamaan KRI Usman Harun 359 pada kapal perang striking force Indonesia beberapa tahun lalu. Ini menunjukkan sikap Singapura yang belum move on dari Dwikora khususnya sabotase di Singapura yang dilakukan marinir Indonesia (dulu KKO) Usman dan Harun. Ciri khas keluwesan bertetangga mudah saja. Tunjukkan sikap saling menghormati meski secara kesejahteraan negeri itu lebih makmur.
Bagi Indonesia program OEF adalah kepantasan dan keharusan nasional. Untuk menjamin eksistensi dan marwah negeri kepulauan yang luas ini bersama kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah. Republik Indonesia yang seluas Eropa sangat wajar dan wajib memiliki ratusan jet tempur, ratusan kapal perang, rudal balistik, rudal pertahanan pantai, radar GCI, dan lain-lain. Manajemen pertahanan kita yang kuat sejatinya adalah untuk penyeimbang kawasan karena Indonesia non blok dan tidak ingin berada dalam aliansi militer manapun. Posisi geopolitik Indonesia sangat strategis di kawasan Indo Pasifik yang punya potensi konflik besar saat ini dan masa depan.
Mengantisipasi ini Indonesia harus mempunyai kekuatan pertahanan yang mampu menjaga dan menjamin kedaulatan teritorinya. Sekaligus sebagai penguat diplomasi antar negara. Soal persepsi jiran dengan penguatan militer kita adalah hal yang wajar. Karena itu sudut pandang masing-masing. Ingat pengalaman pahit bertetangga ketika alutsista kita terbatas. Malaysia show of force di Ambalat, Australia bermanuver di atas Kupang. Jiran utara kita Filipina, adalah contoh tetangga terbaik yang selalu bersikap positive thinking bertetangga dengan Indonesia. Termasuk respon perkuatan militer Indonesia. Dan track record bertetangga dengan Manila memang tidak ada catatan luka sejarah. Jadi biarkanlah para jiran dengan sikapnya masing-masing. Kita tetap jalan terus menuju Optimum Essential Force.
****
Jagarin Pane / 04 Februari 2026
6 comments:
Ini yang ditunggu² bung Jagarin, terima kasih banyak. Nah Su 35 ini klo statusnya kontrak efektif berarti sdh ada DP masuk ya? Juga mohon infonya juga bung, apakah ada info lanjutan (kepastian respon Kemhan) atas tawaran PPA full spec (2 unit) & fremm ( ... unit ?) serta kasel U212 ?
Welcome SU-35.....
Bye F-15 EX... secanggih apapun Pesawat Tempur made in USA., Bayang2 Embargao plus isu 'kill switch'/'Blackout button' pada setiap pespur buatan USA yg dijual ke negara2 lain Sungguh Sangat Menghantui......
Salah satu kebijakan pemerintah sekarang yang patut di apresiasi adalah menghindari alutsista canggih dari Amerika. Mulai dari batalnya F15 Ex, hingga penolakan drone untuk pengawasan di Natuna.. ini cukup untuk memperlihatkan kebijakan Indonesia,yang sudah mulai melawan dominasi Amerika.
Apalagi isi pengadaan Su35 yang mulai muncul kepermukaan,kalau benar ini adanya, ini sudah menjadi bukti jelas kalau pemerintah Indonesia susah mulai membangkang.
Harapannya,agar alutsista TNI itu seragam. Pengadaan jet dari China bukanlah ide yang baik. Saya tidak akan membahas konektivitas dengan perangkat lain,tapi ini akan menjadi masalah logistik untuk kedepannya
SDH sangat tepat langkah pemerintah yg membatalkan f15 dan drone yg mereka suguhkan..selama ini pusing pusing selalu menganjurkan utk berbuat baik dgn amirika terutama membeli alutssta canggihnya..Alhamdulillah opini penyesatan itu bisa mentahkan!
Tidak ada sahabat yg benar2 sejati..
Tidak ada musuh yg benar2 abadi..
Kawan bisa menjadi lawan..
Sprti yg pernah disampaikan Mr. RI 1, Jika Indonesia diserang/perang maka tidak ada negara lain yg pasti akan membantu Kita.. We Fight Alone, We Stand Alone, Nobody Will Help Us....
Si Vis Pacem, Parra Bellum...
Ingat tidak ada yang ingin benar benar berperang
Perang artinya bangkrud
Perang artinya bakar triliunan Duit
Maka yang lebih mudah adalah
War koknitif
Ubah cara pandang mereka bernegara
Dan jantung Negera kita sudah keritis
Yaitu melemmahnya gotong royong
Ingat kita bernegara karna. Berbeda beda dan juga memiliki satu kesamaan, Yaitu ingin aman bernegara, dan bermasyarakat
Maka di sepakati lah sebuah negeri
Yang bukan dongen dengan keberagamannya
Yaitu indonesia ini
Permasalahan alusista kita sama dengan rakyatnya, yang beraneka ragam
Mulai dari:
barat
Eropa
Rusia
Asia
Hingga timur tengah
Yang berbeda bahasa
Maka Alusista kita perlu bahasa pemersatu
Yaitu server penerjemah
Intelegensi (ia)
Atau simpelnya bahasa terjemah
Dan dalam hal ini sudah di proses
Dengan LiNk_id
Dan apa yang perlu di lakukan setelah ini
Tinggal sering sering ke pos ronda aja
Di Deket rumah pak RT
Karna kita bisa ngopi ngipi
Bakar rokok
Ngobrol diskusi bareng
Sampai curhat masalah masalah
Yang dak penting dan tak perlu di bawa ke psiketri
Karna kita hadir
Dan tidak asing
Post a Comment