Sunday, June 3, 2018

Membangun Kekuatan Udara Skala Penuh


Program strategis Angkatan Udara Indonesia mulai menunjukkan peta jalan besar yang menggempitakan.  Renstra ke 4 (2020-2024) yang bersamaan dengan MEF 3 dijabarkan dengan lugas oleh KSAU di Universitas Pertahanan Sentul Bogor 28 Mei 2018 yang lalu. Sementara itu tahun depan akan dibentuk skadron helikopter dan skadron angkut militer di Makassar. 

Jika pembentukan 2 skadron itu terealisir maka beban kesibukan Air Force Base Hasanuddin akan jadi luar biasa. Bayangkan saja ada 2 skadron tempur kelas berat Sukhoi SU27/30/35, ada skadron intai strategis, ada skadron helikopter, ada skadron angkut berat yang pasti akan diisi si bongsor Hercules, dan skadron teknik. Lalulintas penerbangan militer dan sipil akan semakin padat tentunya.

Kemudian ada penambahan 6 satuan radar terbaru diantaranya untuk Bengkulu, Singkawang, Sumba, Morotai, Jayapura diniscayakan akan memberikan ruang mata dan telinga yang tajam untuk memantau gerak gerik yang bergerak di teritori dirgantara kita. Termasuk berupaya semaksimal mungkin memelototi jet tempur siluman F35 tetangga. Bisa gak ya.
F16 di Biak. TNI AU sudah memiliki 33 unit dan akan terus ditambah
TNI AU sudah mengumumkan akan menambah 3 skadron tempur baru untuk mengisi Airforce Base seperti di Biak, Kupang dan Natuna. Jika ini terpenuhi dalam renstra IV dan MEF III maka kriteria minimum essential force (MEF) tentara langit kita akan terpenuhi. Tetapi itu baru minimum lho, bukan memadai apalagi ideal. Begitu pun pencapaian itu patut disyukuri karena itu berarti sudah memecahkan rekor, melebih kekuatan udara jaman Dwikora dulu.

Kalau mau bicara memadai saja diharuskan  ada tambahan lagi  1 skadron tempur Sukhoi SU35 untuk ditempatkan di Yogya dan 2 skadron tempur seperti F16 Viper atau yang sekelas dengannya untuk ditempatkan di Kalimantan dan Batam. Sebaran jet tempur seperti ini seperti ini akan menjamin respon cepat terhadap segala bentuk ancaman teritori udara kita. Kenapa di Yogya karena Adi Sucipto AFB sepenuhnya nanti akan menjadi pangkalan angkatan udara dan penerbangan sipil sudah pindah ke NYIA (New Yogyakarta International Airport) di Kulon Progo.

Yang menarik adalah pembentukan detasemen peluru kendali anti serangan udara jarak sedang dan jauh. Untuk satuan peluru kendali jarak sedang sudah ada Nasams untuk pengawalan ibukota dan Natuna. Kita meyakini alutsista jenis ini akan terus ditambah untuk melindungi obyek vital dan pangkalan militer kita. Kabar terakhir sudah ada kontrak lanjutan yang ditandantangani.

Khusus untuk satuan peluru kendali jarak jauh diproyeksikan untuk mampu menangkis serangan rudal ke ibukota jauh sebelum rudal itu menyentuh Jakarta. Mengambil contoh serangan rudal AS ke Suriah yang tidak lagi spektakuler karena ada tangkisan rudal anti serangan udara jarak jauh. TNI harus mengambil pelajaran dari kasus ini.
Peluru kendali SAM jarak menengah NASAMS
Peta jalan membangun kekuatan angkatan udara kita memerlukan asupan anggaran yang cukup besar. Kita meyakini bahwa semua program itu akan terlaksana pada periode 2019-2014. Angkatan udara adalah perlambang kekuatan teknologi militer sekaligus gengsi kehebatan militer sebuah negara.  Sinergi yang bagus antara angkatan udara dan angkatan laut untuk negeri kepulauan kita adalah pre emptive strike yang diyakini akan menjadi kekuatan pemukul nomor satu di masa depan.

Angkatan Udara dan Angkatan Laut adalah tameng dan benteng utama negeri kita karena disinilah bermula dan berakhirnya keunggulan militer meski daratan belum dikuasai.  Lagian model pertempuran yang akan dihadapi kelak adalah perebutan sumber daya alam.  Misalnya penguasaaan Kepulauan Natuna oleh Cina. Setelah berhasil direbut tentu si Naga akan menjaganya dengan kekuatan full combatan.

Maka bergegaslah wahai tentara langit, mata elangmu dan kecepatan respon adalah segalanya, hitungannya sudah jam dan menit. Maka perkuatan alutsista tentara langit adalah kemutlakan yang harus dipercepat sesuai tuntutan lingkungan yang dinamis. Semoga peta jalan hebat ini akan menjadi sebuah kenyataan dankebanggaan infrastruktur angkatan udara kita.  Sekali lagi tentara langit kita adalah poin kebanggaan ber NKRI sekaligus payung teritori yang paling bergengsi.
****
Jagarin Pane 
Surabaya, 3 Juni 2018

Friday, May 18, 2018

Mengembangkan Postur Gagah Di Timur Negeri


Indonesia terus membangun kekuatan militernya baik secara struktur komando maupun penyebaran ragam alutsista. Luasnya wilayah teritori negeri ini mengharuskan komando-komando tempur dan teritorial disebarluaskan untuk memastikan kedaulatan teritori negeri berada dalam genggaman.

Maka setelah bertahun-tahun direncanakan, dalam program kerja 100 hari Panglima TNI, pengembangan struktur komando strategis ketiga TNI mulai diberlakukan.  Hari Jumat tanggal 11 Mei 2018 di Sorong Navy Base Papua Barat, Panglima TNI meresmikan operasional Divisi III Kostrad, Komando Armada III, Pasmar III dan Koopsau III.

Ini program besar yang memerlukan sebaran pasukan dan alutsista yang luar biasa. Yang lebih luar biasa lagi adalah keinginan yang gigih untuk tidak lagi bertumpu pada Java Centris dalam pola pertahanan dan sebaran pasukan serta alutsista TNI. Ini juga bagian dari doktrin pembaharuan berani masuk digebuk. Tidak lagi, masuk dulu baru digebuk. Lha kalau yang masuk Naga mau digebuk pake apa Om.
Menyambut KRI Ardadedali 404 di Surabaya Navy Base
Seperti diketahui selama ini tumpuan kekuatan militer kita ada di pulau Jawa.  Kostrad Divisi I ada di Cilodong Jawa Barat, Divisi II ada di Singosari Malang. Pasmar I ada di Jakarta dan Pasmar II di Surabaya. Angkatan udara sudah menyebarkan sebagian kekuatan alutsistanya di luar Jawa seperti 1 skadron Sukhoi di Makassar, 1 skadron F16, 1 skadron Hawk di Pekanbaru, 1 skadron Hawk dan 1 skadron UAV di Kalbar.

Sudah saatnya kita membaguskan postur pertahanan di timur negeri.  Latihan PPRC Mei ini di 3 lokasi sekaligus di wilayah timur negeri ini adalah bagian dari strategi militer sebagai unjuk kekuatan. Pasukan pemukul reaksi cepat dengan dukungan 16 Hercules serentak melakukan counter attack di Morotai, Timika dan Selaru Maluku Tenggara dalam sebuah simulasi tempur yang terukur.

Wilayah timur negeri ini adalah separuh dari luasnya wilayah NKRI.  Harus diakui sebaran isian alutsista dan rentang geografis komando satuan tempur masih jauh dari kondisi memadai. Contohnya ketika diadakan latihan Armada Jaya beberapa tahun lalu dengan mengambil lokasi pendaratan pasukan di Kaimana Papua, sangat menguras energi dan logistik perjalanan armada puluhan KRI striking force yang ditugaskan.

Panjangnya rute Surabaya ke Papua dalam latihan angkatan laut itu dan resiko “serangan kapal selam musuh” di laut dalam Arafuru, dalam perjalanannya tentu tidak efektif dalam pertempuran modern saat ini. Maka sangat layak jika Sorong dijadikan pangkalan Armada III TNI AL beserta organiknya Pasmar III (setingkat satu divisi pasukan marinir).
Hawk dan LPD kita, bersinergi interoperability
Sementara Biak sudah sangat siap sebagai home base jet tempur TNI AU. Selama ini kedatangan berbagai jenis jet tempur tentara langit kita ke Biak AFB hanya menginap hitungan hari saja lalu kembali ke home base masing-masing. Nah kalau sudah tersedia isian 1 skadron jet tempur di Biak, maka ongkos patroli udara jadi lebih hemat.  Lebih dari itu ada rasa percaya diri soal respon cepat intersep jika ada pesawat asing yang masuk tanpa ijin.

Kita berharap dalam program MEF jilid III (2019-2024) gerak operasional penuh divisi tempur ketiga segala matra TNI sudah dilengkapi dengan berbagai jenis alutsista yang dibutuhkan. TNI AL saat ini sudah memiliki 165-170 KRI, setidaknya  35-40 KRI berbagai jenis bisa dimutasi permanen ke Armada III.  Diharapkan Koopsau III sudah dilengkapi dengan 2 skadron tempur di Biak dan Kupang.  Pasmar III juga sudah dilengkapi dengan berbagai jenis alutsista setara kakaknya Pasmar I dan II.

Artinya pengadaan berbagai jenis alutsista masih banyak yang harus dipenuhi. Misalnya pengadaan 3 skadron jet tempur, 3 kapal jenis PKR, 3 kapal selam, belasan KCR, belasan kapal patroli cepat, 100 tank amfibi, 100 tank Pindad, 100 Panser Anoa dan lain-lain adalah sebuah keniscayaan yang harus dicukupi.  Gerak cepat pengadaan dengan dukungan anggaran yang semakin besar dan terbesar adalah bagian dari sebuah kinerja yang dipantau dengan mata elang.

Natuna sudah hampir selesai pembangunan pangkalan militernya, isian alutsistanya harus dipercepat. Demikian juga dengan wilayah perbatasan lainnya. Pola kerja cerdas dan koordinasi sangat diperlukan untuk memastikan kita tidak ketinggalan kereta dalam membangun kekuatan militer. Kita mengapresiasi keputusan strategis TNI AL dengan menyebar permanen 4-5 KRI ke berbagai Lantamal.  Ini langkah jitu untuk sebuah respon cepat patroli angkatan laut.

Adanya kekuatan baru divisi tempur “ketiga” di timur negeri akan memberikan energi pertahanan yang baru dalam sebuah manajemen pertahanan yang rantai komandonya ada di luar Jawa. Sebuah terobosan besar karena wilayah timur yang penuh dengan energi sumber daya alam yang melimpah harus dijaga ketat. 

Kehadiran tiga matra kekuatan milter yang permanen di timur negeri dalam sebuah komando strategis yang saling mendukung adalah sebuah kewajiban mutlak.  Militer adalah bagian dari nadi NKRI, dan nadi itu adalah eksistensi NKRI.  Jadi jelasnya denyut nadi itu adalah TNI dan NKRI.

****
Jagarin Pane /18 Mei 2018

Thursday, May 3, 2018

Ancaman Cina Bukan Lagi Fiksi


Gelar kekuatan militer Cina di Laut Cina Selatan (LCS) sepanjang minggu kedua bulan April 2018 yang lalu merupakan gelar kekuatan militer terbesar yang pernah dilakukan negeri panda itu. Tidak kurang dari 50 kapal perang striking force, 3 kapal selam dan 1 kapal induk dengan dukungan 80 jet tempur bersama 10 ribu pasukan melakukan unjuk kekuatan di LCS dipimpin langsung oleh Presiden Cina Xi Jinping.

Respon Indonesia saat itu adalah segera mengirim 6 kapal perang ke batas teritori Natuna dengan dukungan 8 jet tempur F16 dari skadron Pekanbaru. Yang tidak biasa adalah sebelum 8 jet tempur F16 itu diterbangkan ke Natuna, flight tempur itu berlatih tempur dulu dengan membombardir pantai Bengkalis selama tiga hari. Ini adalah simulasi untuk menghadapi serangan kapal perang musuh atas sebuah pulau.
Bung Tomo Class ditempatkan di Natuna
Tidak terjadi insiden apa-apa dengan konvoi armada militer Cina termasuk dengan kapal-kapal perang Vietnam, Malayisa, Filipina, AS dan Australia yang ikut memantau dari kejauhan. Dan memang unjuk kekuatan militer Cina bukan untuk menciptakan insiden. Melainkan ingin menunjukkan kehebatan militernya yang sudah membangun pangkalan militer dan peluru kendali anti kapal dan anti serangan udara, berikut penempatan jet tempur di pulau-pulau atol yang tersebar di LCS.

Cina memang sedang menggeliat hebat. Perekonomian negeri semilyar orang itu diprediksi akan menjadi nomor satu dalam beberapa tahun mendatang.  Ini bukan fiksi tetapi prediksi yang bakal terjadi. Cina akan menjadi pemain nomor wahid di dunia mulai tahun 2020.  Sejalan dengan itu perkuatan militer mereka juga semakin “merajalela”.  Klaim negeri itu terhadap seluruh kawasan LCS bakalan tak akan terbantahkan atau terpatahkan oleh siapa pun termasuk si pemilik hegemoni Amerika Serikat.

F16 patroli di Natuna
Boleh jadi Natuna akan menjadi ruang tembak berikutnya meski saat ini dikatakan tidak masuk kawasan yang di klaim.  Tetapi persinggungan ZEE di Laut Natuna Utara dengan klaim Cina adalah fakta bukan fiksi.  Ini yang harus diceritakan kepada anak negeri supaya mereka paham betul suasana pertarungannya. Perairan ZEE Natuna kita bersinggungan dengan Vietnam dan Cina.

Antisipasi terkini yang dilakukan Indonesia adalah dengan menempatkan 4 KRI striking force dari Armada Timur dimutasikan ke Armada Barat dan fokus Natuna.  Ke empat KRI itu adalah KRI Bung Tomo, KRI John Lie, KRI Usman Harun dan KRI Fatahillah. Armada Barat saat ini berkekuatan sekitar 35 KRI berbagai jenis.  Tetapi tentu saja tidak seluruhnya terkonsentrasi ke Natuna. Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Sunda, Laut Jawa dan Pantai Barat Sumatera juga perlu dikawal.

Sementara saat ini di Natuna sedang ada  kunjungan inap 6 jet tempur F16 untuk berpatroli rutin secara estafet bergantian dengan Sukhoi. Itulah dampak dari show of force militer Cina yang demikian perkasa. Termasuk kunjungan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Dari kacamata militer jika pada saat mereka unjuk kekuatan di LCS dan melakukan serangan kilat ke Natuna maka dalam hitungan jam pulau terdepan Indonesia itu akan jatuh ke tangan mereka.

Oleh sebab itu tidak bisa lagi kita mengatakan bahwa itu adalah hal yang biasa. Itu luar biasa Bung.  Karena yang melakukan itu adalah negara yang haus ekspansi sumber daya alam untuk bisa menghidupi milyaran penduduknya sampai seratus tahun ke depan. Jadi ini bukan soal jangka pendek. Cina harus bisa menguasai sumber daya alam dan sumber energi untuk menghidupi milyaran warganya yang juga tak tertandingi jumlahnya. Tidak peduli itu punya siapa.

Natuna sedang kita perkuat.  Pangkalan militer segala matra sedang dihebatkan. Tetapi lebih dari sekedar itu adalah percepatan isian alutsista yang harus dipenuhi di batas teritori itu. Tidak lagi memakai model konvensional alias sesuai pagu anggaran yang bertahap dan bertele-tele. Percepatan tambahan minimal 3 skadron jet tempur mestinya harus sudah bisa diselesaikan sebelum rezim ini bertanding lagi tahun depan. Demikian juga dengan tambahan kapal-kapal kombatan sekelas fregat dan destroyer serta kapal selam harus bisa dipercepat perolehannya.

Perkuatan militer bukanlah untuk menciptakan konfrontasi tetapi untuk menjaga agar pihak sana tidak meremehkan teritori kita. Kehadiran militer yang kuat di Natuna adalah untuk menjaga marwah teritori yang sudah diakui secara internasional.  Pantas dan sah. Maka sudah selayaknya kita bergegas agar tidak ketinggalan kereta segera memenuhi isian alutsista untuk Natuna.

Gerak cepat, cerdik dan lincah serta cerdas harus jadi pola pikir, pola sikap dan pola tindak Kementerian Pertahanan. Bergegaslah, karena bela negara zaman now adalah memperbanyak isian alutsista canggih dengan teknologi terkini. Tidak bisa tidak itulah yang harus kita dapatkan dan penuhi untuk NKRI tercinta.

****
Jakarta / 3 Mei 2018



Wednesday, May 2, 2018

Berlayar Menuju Tanah Air


KRI Ardadedali 404 sedang dalam perjalanan lautnya dari pabriknya di Korsel menuju Surabaya Indonesia. Kapal selam canggih milik Indonesia ini dilengkapi dengan peluncur torpedo dan peluru kendali anti kapal yang dapat menembak kapal musuh dari dalam air. Sementara adiknya KRI Nagabanda 405 sedang dalam proses pembangunan di galangan kapal PT PAL Surabaya dan akan uji laut September tahun ini. Kita tidak sekedar beli tapi juga mempelajari teknologinya melalui pola alih teknologi. Dengan demikian Indonesia sudah memiliki 5 kapal selam dan akan melanjutkan pembuatan 3 kapal selam lagi dengan pola yang sama untuk mencukupi kebutuhan kapal selam sebanyak 8 unit. Semoga.

****
Jagarin Pane

Tuesday, April 24, 2018

Benteng Natuna


Panglima TNI kemarin berkunjung ke garis depan teritori Natuna dengan dikawal 4 jet tempur F16 dari skadron Pekanbaru. Natuna saat ini dipasang radar Weibel seperti gambar diatas dan dijaga dengan sedikitnya 4 jet tempur F16 bersama 4 kapal perang striking force.  Pembangunan pangkalan militer sudah mendekati penyelesaian termasuk batalyon-batalyon pemukul dengan sejumlah alutsista canggih. Karakter pangkalan militer Natuna adalah sarang lebah, bila diusik dan diganggu akan menyengat sehebatnya sebelum bala bantuan datang dari Jawa dan pulau lainnya di Indonesia.

***
Jagarin Pane

Friday, April 20, 2018

Datang Lagi


Adiknya KRI Nagapasa 403 yaitu KRI Ardadedali 404 akan berangkat dari Korsel menuju tanah air tanggal 25 April 2018.  Ini adalah kapal selam terbaru Indonesia yang dibuat di Korsel dengan model transfer teknologi. Sementara adik bungsunya KRI Alugoro 405 sedang dibuat di PT PAL Surabaya.  Program pengadaan kapal selam akan terus diadakan untuk mencapai target 8-10 kapal selam baru sampai MEF III nanti. Alhamdulillah.

***
Jagarin Pane

Ikut RIMPAC 2018



Indonesia menyertakan dua kapal perangnya dalam latihan gabungan angkatan laut terbesar di Pasifik RIMPAC di Hawaii dalam waktu dekat. Kapal perang yang dikirim bersama pasukan dan alat tempur lainnya adalah KRI Raden Eddy Martadinata dan KRI Makassar.  Ini adalah bagian dari partisipasi Indonesia untuk menunjukkan kepada lingkungannya bahwa kita punya angkatan laut yang modern untuk menjaga perairan NKRI.  KRI Raden Eddy Martadinata adalah kapal perang paling modern yang dimiliki Indonesia dan mampu melakukan pertempuran empat dimensi.

***
Jagarin Pane

Nassam Di Jakarta


Indonesia mulai membangun sistem pertahanan udara di ibukota Jakarta dengan menempatkan sejumlah peluru kendali anti serangan udara jarak sedang, Nassam. Model pertahanan udara ini mirip yang dilakukan AS terhadap ibukotanya Washington dengan alutsista sejenis. Lokasi pangkalan Hanud ini ada di Tangerang tetapi sistem pertahanan udara ini bersifat mobil, jadi bisa digerakkan ke lokasi strategis lain. Selain Jakarta, peluru kendali Nassam juga akan ditempatkan di Natuna dan kota-kota besar lainnya.  Memang sudah saatnya kita menerapkan lapis pertahanan udara mulai dari fighter jet tempur, hanud area dan hanud titik. Hanud area seperti yang sedang dibangun ini sementara hanud titik adalah rudal-rudal jarak pendek yang sudah banyak kita punyai.

***
Jagarin Pane

Monday, April 16, 2018

Dialihkan ke Natuna


Empat kapal perang Indonesia, tiga diantaranya dari Bung Tomo Class yaitu KRI Bung Tomo 357, KRI John Lie 358, KRI Usman Harun 359 dan satu lagi KRI Fatahillah 361 mulai kemarin dialihkan secara permanen dari Armada Timur ke Armada Barat utamanya untuk menjaga perairan Natuna. Seluruh kapal perang ini adalah kapal perang striking force yang dihadirkan sebagai garda garis depan, karena Natuna adalah gengsi teritori NKRI yang harus dijaga ketat.

****
Jagarin Pane

Thursday, March 29, 2018

Apache Datang Lagi



Lima Helikopter Apache tiba di Semarang kemarin melalui jalur laut.  Dengan kedatangan lima Helikopter canggih ini maka Penerbad sudah mendapatkan 8 unit Helikopter seri yang tercanggih dari AS.  Kemungkinan untuk menambah sebanyak 8 unit lagi masih terbuka lebar. Sementara itu TNI AL kemarin juga menerima kapal perang baru KRI Albakora 867 buatan galangan kapal swasta nasional dari jenis Kapal Patroli Cepat.  Alhamdulillah.
****
Jagarin Pane 

Friday, March 23, 2018

Menunggu Daftar Belanja Lanjutan

Program jilid kedua modernisasi militer Indonesia akan berakhir tahun depan. Selama berlangsungnya serial yang lebih dikenal dengan istilah MEF (Minimum Essential Force) sudah banyak berdatangan berbagai jenis alutsista TNI termasuk pembentukan batalyon-batalyon baru, pangkalan militer baru dan intensitas latihan gabungan TNI skala besar. Artinya program perkuatan tentara kita sudah, sedang dan akan terus berlanjut sampai target MEF tercapai tahun 2024.

Februari yang lalu sudah diteken kontrak pembelian 11 jet tempur paling menggerunkan yang bakal dimiliki republik ini, Sukhoi SU35. Belakangan baru diketahui bahwa tekanan untuk menghambat dan membatalkan kontrak yang prosesnya berlangsung dua tahun sangat besar.  Karena ternyata AS berupaya keras untuk membatalkan kontrak itu.  Tetapi berkat keteguhan sikap petinggi negeri, mata melotot Paman Sam disikapi santai saja, sembari bilang : sabar dong Om, ntar juga kebagian kok. Kami kan juga minat sama Viper punya nya Om.
Apache dan Mi35 punya Penerbad
Oleh sebab itu menu daftar belanja alutsista lanjutan sangat mungkin kita akan membeli jet tempur F16 Viper punya nya Om Sam. Kita sudah familiar dengan jet tempur jenis ini bahkan sudah memakainya sejak tahun 1989.  Apalagi kita juga sudah menerima 24 jet tempur F16 blok 52 Id, sehingga ini jadi basis argumen yang terkuat, membeli lagi alutsista produk AS, F16 Viper karena kita akan membentuk 3 skadron tempur baru.

Daftar belanja yang lain adalah pengadaan 5 unit radar untuk menutup celah blank spot yang masih ada seperti di Bengkulu, Singkawang, Sumba dan Morotai. Jika ini sudah dipenuhi maka program selanjutnya adalah mengganti radar-radar sepuh dengan jenis radar berteknologi digital. Radar adalah mata telinga NKRI untuk memantau pergerakan pesawat asing yang masuk wilayah teritori kita.

Predikasi daftar belanja alutsista yang lain adalah pengadaan tank amfibi BMP-3F untuk Marinir, pengadaan kapal perang jenis Fregat, kapal perang jenis KCR, KPC, kapal perang jenis LST, LPD dan BCM, termasuk juga kapal perang jenis buru ranjau. Sembari menunggu kedatangan kapal selam kedua dan ketiga yang saat ini sedang dibuat di Korsel dan PT PAL, sangat dimungkinkan ada kelanjutan penambahan minimal 2 kapal selam lagi.
Parade HUT TNI, luar biasa
Kapal perang jenis KCR (Kapal Cepat Rudal) dan KPC (Kapal Patroli Cepat) akan ditambah sebanyak mungkin.  Keduanya sudah bisa dibuat di galangan kapal kita. Kapal-kapal jenis ini akan menjadi ujung tombak patroli laut dan mengisi secara permanen di Lantamal-Lantamal yang tersebar di penjuru tanah air. Jumlah Lantamal kita ada 16 buah, jika satu Lantamal membutuhkan 4 kapal perang “hit and run” maka diperlukan setidaknya 60-65 kapal perang jenis KCR dan KPC.

TNI AD juga akan menambah inventori alutsistanya antara lain artileri mobile Caesar Nexter buatan Perancis dan Roket Astross II buatan Brazil, sembari menunggu kedatangan 5 helikopter Apache dari AS. Sangat dimungkinkan kita akan membeli kembali Helikopter Apache sebanyak 8 unit untuk melengkapi jumlah perolehan menjadi 16 unit. Kendaraan lapis baja jenis M113 sejenis dengan insiden tenggelamnya alutsista ini di Purworejo akan terus ditambah.  Kita pesan 150 unit, baru datang sepertiganya.

Kalau mau ditulis, maka daftar belanja alutsista kita untuk MEF jilid II yang berakhir tahun depan cukup banyak ragam jenisnya. Yang jelas order alutsista yang dipesan menjelang akhir pemerintahan tahun 2019 akan berdatangan pada MEF jilid III periode 2020-2014.  Cluenya sudah terang benderang, kita butuh 3 skadron tempur baru, kita butuh kapal perang jenis fregat, korvet, KCR dan KPC.  Kita masih akan memperbanyak jumlah kapal selam sampai 8 unit.  Kita akan memproduksi Tank Kaplan, melanjutkan produksi Panser Anoa, Badak.

Selain sedang membangun pangkalan militer segala matra di Natuna, TNI saat ini sedang melebarkan sayap militernya ke Timur Indonesia dengan membentuk Kostrad Divisi III, Armada Ketiga TNI AL di Sorong, Pasukan Marinir setingkat Divisi dan Komando Operasi TNI AU.  Mengembangkan sayap tentu memerlukan asupan berbagai jenis alutsista dan pasukan tempur dan semuanya diharapkan sudah berkibar di MEF ketiga.

Maka pada hari-hari mendatang, bulan-bulan mendatang akan banyak berita soal kontrak pengadaan alutsista. Tentu ini sangat menggembirakan kita semua.  Tetapi lebih dari itu jika penggunaan anggaran kementerian pertahanan yang menjadi anggaran terbesar dalam APBN dapat dipergunakan sesuai peruntukannya, akan lebih mengembirakan lagi bagi anak negeri pecinta kedaulatan NKRI.

Kita juga berharap dalam program MEF ketiga nanti persentase anggaran pertahanan yang saat ini hanya 0,8-0,9 % dari APBN bisa ditingkatkan menjadi minimal 1,5% dari APBN. Kalau dalam prioritas pemerintahan saat ini fokus di infrastruktur semoga dalam pemerintahan berikutnya bisa mendongkrak anggaran pertahanan sebagaimana harapan kita.  Semangatnya adalah memberikan marwah bagi kedaulatan teritori, memberikan kekuatan payung teritori NKRI sekaligus bargaining untuk diplomasi cerdas. Kita akan terus menyuarakan aspirasi ini.
****
Semarang, 23 Maret 2018
Jagarin Pane

Friday, February 23, 2018

Catatan “Drama” Tanda Tangan Sukhoi SU35

Tidak ada media yang tahu bahwa tanggal 14 Februari 2018 yang lalu di Jakarta Kemhan dan Rusia meneken kontrak pengadaan jet tempur strategis Sukhoi SU35.  Sedemikian silent nya bahkan tanda-tanda untuk persiapan tanda tangan saja tidak diperlihatkan sebelumnya, termasuk di ajang Singapore Air Show. Kebiasaannya di ajang pameran kerdigantaraan di Singapura itu diumumkan kontrak-kontrak pembelian persenjataan berbagai negara. Tapi untuk 11 Sukhoi SU35 seperti tidak ada tanda-tanda sebagai kabar baik.

Barulah menjelang malam di tanggal yang sama, rumor beredar di kalangan pemerhati pertahanan dan forum militer negeri ini bahwa kontrak sudah ditandatangani. Besoknya hanya satu media yang menginformasikannya.  Siang harinya ada konferensi pers singkat di Kemhan bahwa memang sudah ditandatangani. Media militer luar negeri seperti Jane’s dan media Rusia memberitakan kontrak pengadaan itu beberapa jam kemudian.

Tapi lucunya beberapa jam kemudian media Jane’s dan media Rusia mencabut kembali berita penandatanganan kontrak Sukhoi SU35 itu dengan alasan belum meyakinkan dan sahih. Alasan mereka belum ada penjelasan resmi dari pejabat Kemhan Indonesia setingkat menteri yang menginformasikannya. Pihak Rusia sendiri mengambil sikap wait and see atau acuh tak acuh untuk memberitakannya. Jadilah seperti sebuah drama pemberitaan yang penuh sandiwara.
Sang primadona SU35, selamat datang
Dua hari kemudian barulah semuanya menjadi jelas ketika media-media dalam negeri termasuk televisi dan kantor berita luar negeri memberitakan kontrak pengadaan alutsista senilai US$ 1,14 milyar itu. Indonesia akhirnya membeli 11 jet tempur canggih Sukhoi SU35  dari Rusia lengkap dengan persenjataannya.  Separuh dibayar cash separuhnya lagi dengan komoditas. Dua unit Sukhoi akan tiba pertengahan tahun depan.

Perjalanan pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 sungguh menarik diikuti.  Bukan saja karena durasi perjalanannya yang se usia dengan rezim ini tetapi juga informasi yang disampaikan berputar terus, baik soal jumlah, soal harga dan lain-lain. Media tidak mendapatkan informasi yang oke.  Mula-mula diberitakan hanya 8 unit, lalu berubah menjadi 11 unit dengan jumlah nominal anggaran yang disediakan sama.  Begitu disampaikan 11 unit dengan harga satuan tertentu, digoreng lagi dan ada yang bilang kemahalan. Lalu ramai lagi.

Kemudian soal bayar dengan komoditi ekspor, terjadi silang pendapat antara Kemhan dan Kemdag. Kemhan bilang urusan teknis komoditi ada di Kemdag, lalu Kemdag bilang kita tunggu kontrak induknya ditandatangani dan lain-lain. Lalu soal kapan tandatangan kontrak juga seperti “menghitung hari, bulan dan tahun” dan nama-nama bulan pun disebutkan, Nopember, Desember, Januari dan Februari. Juga nama-nama tahun, 2016, 2017, 2018. Akhirnya goal di hari Valentine.  Benar-benar perjalanan “cinta” jodoh pengadaan alutsista yang berakhir happy ending di hari kasih sayang.

Soal mengapa tidak dipublikasi luas, banyak asumsi yang bisa dikedepankan.  Salah satunya adalah karena romantika perjodohan kontrak ini disimak dengan seksama oleh jiran-jiran kita.  Asumsi yang lain adalah kita ingin low profile saja, biasa-biasa aja tidak usah dibesar-besarkan “akad nikahnya” dan tak perlu ada acara “resepsi pernikahan”. Jet tempur multi role sehebat Sukhoi SU35 sudah memberikan efek gentar karena kecanggihan teknologi dan manuvernya yang spektakuler itu. Jadi supaya tidak ada kesan high profile ya diam-diam saja.

Ketika Jane’s dan media Rusia meralat berita kontrak pengadaan jet tempur itu, forumer militer negeri jiran “bersorak kegirangan” seakan mendapat mainan baru untuk bahan diskusi hangat. Dan ketika berita kontrak itu memang benar-benar terjadi giliran forumer militer kita “bertepuk tangan meriah”.  Ini saja sudah menggambarkan betapa hebohnya lalulintas traffic di media sosial militer membahas soal tetek bengek jet tempur Sukhoi SU35.
F16 Viper, segera menyusul
Sesungguhnya kita membutuhkan skadron-skadron jet tempur berteknologi tinggi untuk mengawal langit biru nusantara dengan wibawa penuh. Oleh sebab itu prediksi kita setelah kontrak penandatanganan 11 Sukhoi SU35 ini dalam tahun ini juga atau paling tidak sampai menjelang Pilpres 2019 mendatang akan ada lagi kontrak pengadaan jet tempur. Calon kuatnya adalah jet tempur F16 Viper dan jumlahnya diprediksi mencapai 3 skadron atau 48 unit. Sementara 11 Sukhoi SU35 sangat dimungkinkan untuk ditambah 5-7 unit lagi untuk melengkapinya menjadi 1 skadron atau bahkan menjadi 2 skadron full armament.

Sejujurnya ada nafas kelegaan manakala perjalanan perjodohan kontrak Sukhoi SU35 ini telah dapat diselesaikan. Masih banyak PR lain di Kemhan dan TNI untuk menyelesaikan kurikulum pengadaan alutsista di tiga matra TNI sampai habis masa kerja MEF II tahun 2019.  Pengadaan kapal perang jenis fregat, kapal patroli, kapal selam, kapal buru ranjau, berbagai jenis peluru kendali, radar, pembangunan pangkalan milter Natuna, pengembangan armada TNI AL, pengembangan divisi tempur Kostrad dan lain-lain tentu memerlukan sinergitas Kemhan dan TNI.

Kita berharap program-program itu bisa berjalan baik termasuk penggunaan anggaran yang sesuai kebutuhan bukan keinginan.  Kemhan mendapat alokasi anggaran terbesar dan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Kita sangat menginginkan TNI tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan yang disegani karena kekuatan itu akan menjadi marwah kebanggaan ber NKRI sekaligus penggentar bagi pihak asing yang ingin mengacak teritori negeri kita.

****
Jagarin Pane / 23 Februari 2018

Friday, February 16, 2018

Rencana Berikutnya


Setelah kontrak pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35, TNI AU akan diperkuat lagi dengan jet tempur F16 Viper.  Menhan AS sudah berkunjung ke Jakarta, artinya peluang untuk mendapatkan 3 skadron F16 Viper terbuka lebar. Jarang lho kedatangan Menhan adidaya tidak membawa maksud dan tujuan serta hasil. Untuk jet tempur Sukhoi SU35 juga masih terbuka mendapatkan 5-7 unit lagi untuk melengkapinya menjadi 1 skadron.  Saat ini TNI AU memiliki 16 jet tempur Sukhoi SU27/30, 34 jet tempur F16 blok 52 Id, 36 jet tempur Hawk 100/200, 15 jet latih tempur T50 serta 15 pesawat tempur coin Super Tucano. Selamat untuk tentara langit Indonesia. 

****
Jagarin Pane/ 15 Feb 2018

Selamat Datang Sukhoi SU35


Akhirnya kontrak pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya ditandatangani tanggal 14 Pebruari 2018.  Inilah jet tempur yang paling dinantikan di bumi pertiwi dan sekaligus jet tempur paling menggerunkan sepanjang sejarah republik. Alhamdulillah.

****
Jagarin Pane / 15 Feb 2018

Wednesday, February 7, 2018

Proyeksi Serba Tiga

Program modernisasi militer Indonesia memasuki masa-masa paling menentukan, utamanya soal pengembangan kekuatan pasukan pemukulnya.  Program 100 hari Panglima TNI dengan jelas akan memulai merealisasikan penyebaran dan pengembangan postur kekuatan angkatan bersenjata segala matra. Dan semuanya adalah serba tiga.

Divisi pemukul strategis angkatan darat yang lebih dikenal dengan nama Kostrad akan mengembangkan diri menjadi tiga Divisi tempur modern dengan markas pusat Divisi III ada di Makassar sementara satu Brigade tempur Kostrad akan ditempatkan di Papua. Divisi yang sudah ada sampai saat ini, Divisi I bermarkas di Cilodong Jawa Barat dan Divisi II di Singosari Malang. Kekuatan pasukan pemukul elitenya diprediksi akan mencapai 50 ribu prajurit.

Divisi Marinir yang lebih dikenal dengan Pasmar akan dikembangkan menjadi tiga  Pasmar dimana Pasmar ketiga akan berpusat di Sorong Papua.  Saat ini Pasmar I ada di Jakarta dan Pasmar II di Surabaya. Prediksi jumlah pasukan Marinir dengan tiga  Pasmar berjumlah 35 ribu pasukan. Demikian juga dengan Armada ketiga yang sedang dikembangkan akan berpusat di Sorong.  Saat ini ada dua Armada kekuatan TNI AL, Armada Barat di Jakarta dan Armada Timur di Surabaya.
Martadinata Class
Komando operasi angkatan udara tidak mau ketinggalan dengan membentuk Koopsau III di Biak. Pangkalan angkatan udara Biak secara infrastruktur sudah ready for use sebagai markas Koopsau III sekaligus home base jet tempur. Saat ini Koopsau I berkedudukan di Jakarta dan Koopsau II berada di Makassar. Jumlah pesawat tempur berbagai jenis yang dimiliki saat ini berjumlah 116 unit. Prediksi pesawat tempur sampai MEF ketiga adalah 180 unit.

Yang menarik adalah pengembangan serba tiga itu juga membutuhkan tambahan 3 skadron jet tempur untuk TNI AU, tiga puluhan kapal perang untuk TNI AL dan tigaratusan Tank berbagai jenis yang dibutuhkan TNI AD. Dan yang juga tidak kalah penting adalah semua program hebat itu akan diselesaikan dalam serial MEF yang ketiga periode 2019-2024.

Angkatan laut saat ini sedang mempersiapkan pembangunan tiga kapal selam lanjutan setelah tiga kapal selam Nagapasa Class selesai tahun ini. Sangat dimungkinkan serial kerjasama transfer teknologi PT PAL dengan Korsel akan terulang kembali. PT PAL saat ini juga sedang mempersiapkan  pembangunan tiga Kapal Cepat Rudal, setelah sukses membangun kapal jenis yang sama “Sampari Class” sebanyak tiga unit.

Setelah memproduksi tigaratusan Panser Anoa berbagai versi PT PINDAD dalam program MEF ketiga juga direncanakan akan membangun tigaratusan Medium Tank Kaplan produksi bersama Turki dan Indonesia. PT Pindad telah banyak memproduksi berbagai jenis alutsista untuk TNI AD termasuk senjata organik perorangan yang membuat TNI AD selalu juara tak tergoyahkan dalam setiap lomba tembak militer tingkat dunia.
Parade HUT TNI
Angkatan udara membutuhkan tambahan tiga skadron tempur dengan harapan terbesar ada di jet tempur paling menggiurkan F16 Viper. Kedatangan Menhan AS beberapa waktu lalu di Jakarta mengisyaratkan kuat kita akan segera mendapatkannya. Kekuatan pukul TNI AU saat ini ada di 8 skadron pesawat tempur. Sementara itu tambahan tiga radar militer diprediksi akan tiba dalam sisa waktu MEF jilid dua saat ini.

Pembentukan armada ketiga TNI AL membutuhkan sebaran kapal perang berbagai jenis.  Dari jumlah 150 kapal perang berbagai jenis yang dimiliki saat ini, angkatan laut Indonesia akan menambah paling sedikit 30 kapal perang baru.  Sampai selesainya MEF ketiga nanti jumlah KRI akan mencapai 180 unit KRI.

Mulai tahun ini program sebaran kapal perang RI dialokasikan untuk 14 pangkalan angkatan laut (Lantamal). Dengan asumsi setiap Lantamal disediakan 3-4 kapal perang berkualifikasi patroli maka ada  sekitar 50 KRI disebar di seluruh Lantamal. Ini adalah strategi untuk gerak cepat armada mengantisipasi pelanggaran teritori laut.

Kita optimis penambahan jumlah armada kapal perang TNI AL bisa tercapai karena dua pertiga kapal perang yang dibutuhkan itu bisa dibuat di PT PAL dan galangan kapal swasta nasional lainnya. Sementara sepertiganya dilakukan melalui kerjasama produksi dengan pihak luar atau membeli utuh untuk kapal perang berkualifikasi Destroyer.

Kita meyakini di babak-babak akhir pemerintahan saat ini selama satu tahun ke depan akan banyak kontrak pangadaan alutsista skala besar.  Dan barangnya akan datang pada saat MEF ketiga berlangsung. Misalnya kontrak pengadaan kapal perang jenis perusak kawal rudal, kapal selam, jet tempur, radar, uac/ucav, tank amfibi dan lain-lain. Ini yang paling realistis. Tapi bisa saja ada kejutan yang lebih hebat misalnya kontrak pengadaan kapal perang jenis Destroyer.

Perjalanan MEF kita adalah pola ukur hitung untuk menyelesaikan perkuatan TNI yang selama puluhan tahun kurang mendapat perhatian. Dampaknya kita sudah tertinggal jauh dengan militer jiran. Oleh sebab itu diniscayakan dengan terus memompakan anggaran pertahanan yang besar dalam program MEF berkesinambungan ketertinggalan itu bisa disejajarkan.

Pertahanan sebuah negara adalah bagian dari kehormatan bernegara, marwah berbangsa. Maka kesediaan mengikhlaskan porsi anggaran pertahanan dalam jumlah terbesar adalah jalan barokah untuk perjuangan perjalanan berbangsa dan bernegara. Jalan barokah itu akan semakin karomah manakala penggunaan anggarannya dipergunakan untuk kemashlahatan tentara, perkuatan alutsista dan kesejahteraan prajurit. Itu saja Jenderal.
****

Jagarin Pane / 07 Feb 2018

Saturday, January 20, 2018

Ketika Harapan Kembali Bersinar

Program jilid dua dari apa yang sudah dikenal selama ini, Minimum Essential Force TNI (MEF)kembali memantik harapan bugar di hari-hari terakhir ini dengan berita-berita yang membangkitkah ghiroh bertentara. Perkuatan militer Indonesia dengan pintu gerbang Kemhan memberikan angin segar program yang membungakan dalam tahun ini. Menambah sejumlah alutsista di segala matra dalam skala besar.

Tiga tahun terakhir ini berbagai jenis alutsista hasil program MEF jilid satu masih terus berdatangan secara bergelombang. Sementara MEF jilid dua sedang mempersiapkan pesanan alutsista skala besar antara lain rencana membeli dua kapal perang besar jenis Destroyer, penambahan kapal selam baru, penambahan  skadron jet tempur selain jet tempur Sukhoi SU35, penambahan 12 radar, melanjutkan program PKR dan lain-lain.
CN235 MPA untuk TNI AL yg diserahkan bulan Januari 2018 
Sementara itu Menteri Pertahanan AS tanggal 21-22 Januari 2018 berkunjung ke Jakarta. Tentu ada tawaran alat militer yang dibawanya. Maka peluang menambah jet tempur made in AS seperti F16 Viper sangat terbuka lebar. Termasuk menambah kuantitas Helikopter serbu paling canggih Apache dari pesanan yang sekarang berjumlah 8 unit bisa ditambah menjadi dua kali lipatnya.

Seperti diketahui pesanan alutsista yang didatangkan dari AS saat ini antara lain 24 jet tempur F16 blok 52Id, 28 Helikopter Bell 412EP, 8 Helikopter Apache. Dalam pandangan kita kunjungan Menhan AS salah satunya adalah memperkuat kemitraan pertahanan strategis. Bahasa militernya adalah membawa daftar alutsista yang boleh dibeli Indonesia. Bahasa bisnisnya nawarin barang untuk dipakai dengan sejumlah harga paketan.

Dalam daftar anggaran belanja yang beredar luas selain membeli 11 jet tempur Sukhoi SU35, Indonesia akan membeli 2 kapal perang jenis Destroyer, 2 kapal perang jenis PKR 10514, 2 kapal selam, sejumlah Radar GCI, UAV, Helikopter Serbu,  Helikopter Angkut, Peluru Kendali, Tank, Tank Amfibi, Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat, MLRS Astross, Pesawat Amfibi, Pesawat Latih dan lain-lain.
Hercules kita dalam latgab TNI skala besar
Sementara 15 jet latih tempur T50 Golden Eagle sedang dipasangi radar canggih yang mampu mendeteksi berbagai sasaran secara jitu, dan mempersenjatainya dengan peluru kendali.  Jadi fungsinya menjadi baby falcon cabe rawit, kecil-kecil menyengat, sangat berguna untuk ronda udara. Memang kalau untuk patroli udara serahkan saja dengan F16 atau Golden Eagle.  Jangan biarkan jet tempur kelas berat Sukhoi membawa misi patroli rutin, tidak efektif.

Di kurikulum MEF Indonesia diwajibkan menambah perbendaharaan 3 skadron jet tempur. Maka harapan besar dari kedatangan Menhan AS adalah memberikan lampu hijau percepatan bagi pengadaan minimal 2 skadron jet tempur F16 Viper, penambahan Apache dan membeli Chinook. Ruang udara yang luas mengharuskan Indonesia memiliki setidaknya 11 jet tempur yang disebar di berbagai pangkalan angkatan udara.

Untuk matra laut penambahan 2 kapal selam sangat membesarkan hati.  Sampai dengan akhir tahun ini kita punya 5 kapal selam.  Maka proyek pengadaan 2 kapal selam baru akan semakin memberikan kekuatan pertahanan bawah air yang bergigi. Termasuk pengadaan 2 Destroyer dan 2 Fregat ditambah sejumlah Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat, LPD, LST akan menjadikan angkatan laut kita semakin tegar dan kuat.

Kehadiran armada BAKAMLA atau Coast Guard Indonesia sangat membantu meringankan tugas TNI AL dalam pengamanan laut khususnya pencurian ikan.  Armada BAKAMLA saat ini sedang dikuatkan dengan pembangunan kapal-kapal baru aneka ukuran. Salah satunya yang terbesar berukuran 115 meter baru saja selesai.  Ini sangat menggembirakan dan dalam lima tahun ke depan armada BAKAMLA akan mencapai 45-50 kapal baru berbagai ukuran.

Di ASEAN ada trend negara jiran melakukan perkuatan militerya secara signifikan. Misalnya Vietnam dan Filipina yang berkonflik teritori dengan Cina di Laut Cina Selatan. Meskipun tidak ada konflik teritori Myanmar, Singapura dan Thailand juga memperkuat militernya. Hanya Malaysia yang agak tersendat pembangunan militernya. Belanja militernya hanya beli yang kecil-kecil saja. Tidak ada belanja militer skala besar selama 7 tahun terakhir ini.

Harapan baru kembali diperlihatkan sinarnya, manakala program MEF jilid dua sudah menggeliat untuk kembali memesan sejumlah alutsista gahar dalam jumlah banyak. Tapi meskipun dibeli dalam jumlah besar tetap saja masih belum mencukupi esensi minimal sebagaimana yang dipersyaratkan. Perlu tiga tahap MEF agar kuantitas minimal alutsista yang diinginkan bisa tercapai.

Kita mengapresiasi program-program Kemhan meski sering kali urut dada atas kinerja eksekusi yang diperlihatkan.  Contohnya dalam proses kontrak Sukhoi SU35 yang bertele-tele.  Kemhan sebagai pemegang anggaran terbesar menjadi sorotan publik soal manajemen anggaran, soal mekanisme pengadaan alutsista.  Terlebih lagi soal komunikasi publikasi yang kurang terukur pesan kuatnya.

Harapan besar kita sandarkan pada kementerian pertahanan untuk membaguskuatkan militer kita. Semoga program MEF jilid dua yang tersisa satu setengah tahun ini mampu dikejar dengan semangat kerjasama dan koordinasi yang menjulang. Anggaran udah disediakan maka belanjalah dengan spirit menguatkan kehebatan dan kedaulatan teritori sembari mengurangi ego sektoral one man show.
****
Jagarin Pane / 20 Januari 2018