Wednesday, November 8, 2017

Sudah Kuatkah Kita ?

Berbagai jenis alutsista yang terus berdatangan di tanah air tentu sangat mengembirakan. Program MEF (Minimum Essential Force) yang sudah dimulai sejak tujuh tahun lalu memberikan banyak inventori alutsista berteknologi untuk segala matra.  Pertanyaannya adalah sudah kuatkah kita. Maka jawaban lugasnya adalah belum. Sebab kita baru dalam kondisi untuk memulihkan kondisi persenjataan TNI yang selama ini gizi alutsistanya memprihatinkan.

Berbagai jenis alutsista yang datang mulai dari Tank Leopard, Tank Marder, Panser Anoa, MLRS Astross, Artileri Caesar Nexter, Artileri KH178, KH179, Helikopter Mi35, M117, Bell 412, Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat, Kapal LPD, LST, Korvet, Light Fregat, PKR10514, Kapal Selam, Tank Amfibi BMP3F, Pandur II, Arisgator, MLRS Vampire, RM Grad, berbagai jenis peluru kendali, Jet Tempur F16 blok 52 Id, Golden Eagle, Super Tucano, Hercules, CN 295, Radar Militer, Helikopter Comat SAR Caracal, Helikopter Anti Kapal Selam, Drone, dan lain-lain adalah dalam rangka mencukupi gizi alutsista tentara kita yang selama ini kurang diperhatikan.
Yang baru datang, artileri M109 
Adalah sebuah “fardhu kifayah” alias kewajiban mutlak dari pemerintah untuk memperkuat pertahanan negeri kepulauan ini yang luasnya setara Eropa. Apabila fardu kifayah ini tidak dilaksanakan atau terlambat dilakukan maka menjadi dosa bersama karena warisan NKRI yang kaya dan hebat ini tidak dimarwahkan dan dimartabatkan melalui kekuatan TNI yang sepadan dengan besarnya kedaulatan teritori yang harus dijaga.

Alhamdulillah, dua sektor utama dan vital sedang dihebatkan saat ini. Infrastruktur sedang dikembangkuatkan. Jalan tol dibangun untuk menguatkan daya tahan konektivitas. Jalan-jalan di perbatasan teritori negeri dibanguntumbuhkan untuk mempermudah akses ekonomi dan pertahanan. Pelabuhan laut, Bandar Udara, Bendungan, Jembatan dibaguskan sekaligus ditambah kuantitas dan kualitasnya. Sektor pertahanan juga dikembangkuatkan untuk memastikan kewibawaan teritori NKRI.

Dalam era demokrasi saat ini suara-suara sumbang tentang penguatan infrastruktur dan pertahanan akan selalu ada. Dalam pandangan kita dua sektor ini sangat pantas untuk dinomorsatukan. Kita sudah sangat tertinggal di dua sektor ini.  Kita kejar ketertinggalan itu agar kita mampu bersaing dalam investasi dan kewibawaan kedaulatan. Membangun kekuatan ekonomi tidak bisa tidak harus menguatkan jaringan infrastruktur.  Membangun kekuatan teritori tidak bisa tidak harus menguatkan interoperability alutsista.
Yang baru diresmikan KRI 332 I Gusti Ngurah Rai
Khusus dalam mengembangkuatkan militer, catatan kita adalah lebih seringlah berkoordinasi, berkomunikasi dan berinteraksi antara sesama petinggi. Petinggi Kemhan, petinggi TNI adalah person yang diamanahi untuk menghebatkan tentara kita.  Anggaran sudah disediakan bahkan menjadi nomor satu terbanyak pada tahun 2018. Jangan sampai soal kebijakan pembelian alutsista saling menumpahkan curahan hati ke media atau saling menyalahkan satu sama lain.

Soal pembelian helikopter AW101 misalnya menjadi contoh kurangnya koordinasi dan bahkan saling melempar tanggung jawab, akhirnya terbuka korupsinya. Juga proses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang memakan waktu bertahun-tahun memberikan kesan kurang greget dalam bermanajemen. Anggaran sudah disediakan jauh-jauh hari namun proses pengadaannya bertele-tele. Duit sudah ada kok malah mbulet.

Ketika jaman Trikora dan Dwikora kita hanya butuh tujuh tahun untuk menghebatkan militer kita menjadi yang terkuat di bumi selatan khatulistiwa.  Padahal waktu itu kekuatan ekonomi kita tidak sehebat sekarang ini.  Menghebatkan militer pada jaman Trikora dan Dwikora tidak ada ribut-ribut soal pembelian alutsista, tidak juga terdengar adanya korupsi. Semua dilakukan demi sebuah marwah: Bangsaku hebat, ini dadaku mana dadamu.

Sekarang, kekuatan militer kita belum sehebat jaman Dwikora yang memiliki 12 kapal selam, pesawat pembom strategis, ratusan kapal perang.  Pertumbuhan ekonomi jauh lebih baik, GDP kita masuk 15 besar dunia, tingkat kesejahteraan meningkat bagus.  Tetapi manejemen pengadaan alutsista tidak sehebat jaman Dwikora yang benar-benar fokus untuk menguatkan militer kita. Karena kondisi regional waktu itu penuh dengan konflik dan konfrontasi.

Minggu-minggu mendatang akan datang lagi kapal latih layar tinggi KRI Bimasuci, kemudian kapal selam KRI Ardadedali 404, 5 jet tempur F16 blok 52, 2 Hercules, Torpedo kapal selam, Helikopter Apache, Helikopter Mi26, peluru kendali darat ke udara jarak sedang NASAMS dan lain-lain. Kontrak pengadaan Sukhoi SU35 dalam waktu dekat, juga kontrak-kontrak pengadaan yang lain seperti radar Weibel, Oerlikon Skyshield, kapal perang jenis PKR10514 tahap kedua, kapal cepat rudal.

Tahun 2018 dan seterusnya akan banyak kontrak pengadaan alutsista skala besar.  Peluang besar ada di pengadaan jet tempur F16 Viper, lanjutan pengadaan kapal selam ke 4 dan 5 Nagapasa Class, produksi Tank Pindad-FNSS Turki, Panser Amfibi, MLRS Vampire, Nassams batch 2, satelit militer, pesawat AEW&C dan lain-lain. Termasuk juga penyelesaian tahap akhir pangkalan militer segala matra di Natuna, pangkalan AL di Teluk Ratai Lampung dan  penempatan permanen 1 flight jet tempur di Kupang dan Biak.

Menghebatkan infrastruktur dan pertahanan adalah soal keberanian dan kepastian.  Bahwa dua sektor ini sangat dibutuhkan bagi sebuah negara kepulauan yang luas dan indah ini. Kita sudah tertinggal jauh di bidang ini. Kita kejar ketertinggalan ini, kita bangun infrastruktur di segala lini termasuk di kawasan perbatasan. Kita kuatkan benteng pertahanan dan sinergi keduanya, infrastruktur dan pertahanan akan memastikan bahwa kita sedang membangun harga diri, harga investasi dan harga kesejahteraan. Percayalah.
****
Jagarin Pane / 08 Nopember 2017


Thursday, October 26, 2017

Anggaran Pertahanan 2018 Terbesar



Berpacu dalam melodi, anggaran pertahanan dan infrastruktur tahun 2018 saling memacu, saling memperkuat. Benteng pertahanan diperkuat, infrastruktur juga dihebatkan. Beli Sukhoi SU35, Hercules, Helikopter Mi26, Apache, Blackhawk, CN295, Tank amfibi BT3F, MLRS Vampire, Pandur II, Arisgator, Radar Weibel, Kapal selam, PKR 10514 lanjutan Martadinata Class, KCR, KPC, LST, LPD, Nassam, Oerlikon Skyshield, Drone, Astross, ampun dah banyak betul Jendral.

APBN Final 2018
****
Jagarin Pane / 26 Oktober 2017

Saturday, October 21, 2017

Santri Tentara, Tentara Santri

Selama puluhan tahun tidak terjawab siapa sebenarnya yang membunuh Jendral Aubertin Walter Sothern Mallaby di Surabaya tanggal 30 Oktober 1945 malam hari.  Selama waktu itu pula belum terjawab mengapa begitu heroiknya rangkaian pertempuran di kota Surabaya, padahal organisasi tentara baru saja dibentuk.  Bagaimana mereka para pemuda memobilisasi kekuatan yang demikian hebatnya untuk melawan ribuan tentara Sekutu dari Brigade 49  Divisi 23 The Fighting Cock Inggris yang kenyang pengalaman tempur PD II.

Fakta sejarah yang selama ini diabu-abukan dalam buku sejarah kita akhirnya diperjelas hitam putihnya. Faktanya adalah dalam sebuah kemelut yang terjadi di Jembatan Merah Surabaya Jendral  Malllaby ditembak oleh seorang pemuda santri. Hal ini juga dipertegas oleh Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo baru-baru ini. Bahwa pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945 sesungguhnya didominasi oleh peran para santri dan lasykar santri karena TNI sendiri baru lahir 5 Oktober 1945.
Mobil Brigjen Mallaby yang terbakar habis
Resolusi Jihad yang dikeluarkan di Surabaya dalam pertemuan para ulama se Jawa dan Madura tanggal 21-22 Oktober 1945 adalah pemicu pertempuran besar itu. Resolusi ini memberikan semangat yang luar biasa bagi para pemuda santri untuk berjuang membela tanah airnya. Aliran tentara Sekutu yang merembes di berbagai kota besar di Indonesia khususnya pulau Jawa memberikan kesan seakan proklamasi kemerdekaan Indonesia dianggap pernyataan ompong. Maka puluhan ribu pemuda santri dan lasykar Islam tampil menunjukkan kekuatannya.

Saat ini nilai kejuangan para santri dicatatkan dalam sejarah tanah air dengan menetapkan tanggal 22 Oktober setiap tahun sebagai hari santri nasional, mulai tahun 2015. Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari tanggal 22 Oktober 1845 adalah nilai emasnya. Mengapa baru sekarang ditetapkan. Jawabnya karena baru lima tahun terakhir ini kita “sadar diri”. Baru bisa merenungkan dengan jernih tanpa politisasi makna perjuangan para santri yang selama ini dianggap tidak bergaung di kancah perang kemerdekaan.

Para santri dan ulama adalah komponen hijau daun tanah air yang mampu memberikan kesejukan pada warna republik meskipun sering diganggu oleh hiruk pikuk kemarahan dan sumpah serapah dari daun-daun yang lain. Disitulah nilai tambahnya, tidak mudah terpancing meski sudah diatas ubun-ubun “serangan artilerinya”. Santri sejati dan ulama adalah perekat nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Wathoniyah meski sering menjadi obyek pelengkap penderita dari tema-tema penghasutan.

Para santri dan kader militan dari komponen hijau daun yang berkarakter nahdliyin adalah komponen terbesar yang masih bisa menjadi indikator stabilitas perjalanan eksitensi negeri ini. Jumlah ini ada puluhan juta di tanah air, karakternya menyejukkan dan tak suka ribut. Meski berkarakter low profile dan sering menjadi obyek cemoohan karena tak mampu berkonsolidasi, sekali waktu perlu melakukan show of force untuk menunjukkan kekuatan militan hijau daun “berkarakter tentara”.

Maka di puncak Gunung Lawu Tawangmangu dipertunjukkan kekuatan militan itu tanggal 14-15 Oktober 2017. Puluhan ribu kekuatan militan santri dan ulama hijau daun berkumpul dalam semangat bertanah air yang kuat, ghiroh menjaga republik, hubbul wathon minal iman.  Kader militan hijau daun sekali waktu perlu mempertunjukkan jati dirinya yang nasionalis religi karena itu adalah amanah, bahwa mencintai tanah air dan membela tanah air adalah sebagian dari iman.

Sementara itu doktrin tentara kita jelas, mati terhormat demi kejayaan NKRI.  Pemerintah saat ini sedang membaguskan kekuatan alutsista tentaranya yang juga berseragam hijau daun.  Semua dibenahi, infrastruktur berupa pangkalan militer dibangunbesarkan. Berbagai jenis alutsista canggih didatangkan untuk memperkuat benteng pertahanan republik. Ini dilakukan demi marwah teritori NKRI, demi kedaulatan NKRI, menjaga eksistensi bernegara dengan segala dinamikanya.
Puluhan ribu Santri dan Ulama berkumpul di Gn Lawu
Para santri kita sesungguhnya juga berjiwa tentara terutama jika disejajarkan bangunan nasionalismenya, semangatnya untuk mencintai tanah airnya. Sejarah santri adalah lembaran-lembaran untuk selalu mencintai Indonesia.  Resolusi jihad adalah bukti ketika proklamasi 17 Agustus 1945 dianggap tidak ada. Puluhan ribu pemuda santri dengan lasykar-lasykarnya bersama dukungan ulama melakukan pertempuran hebat di seluruh Indonesia.

Kurikulum tentara adalah kontrak mati pada NKRI, garda terdepan untuk melindungi, menjaga dan menjamin eksistensi NKRI.  Sesungguhnya karakter tentara dan karakter Santri adalah sama, mencintai tanah air, membela tanah air dan pilar-pilar didalamnya.  Tentara hijau daun dan santri hijau daun adalah dua komponen yang saling menguatkan dan menghebatkan. Yang satu dengan kekuatan alutsista, yang satu lagi dengan kekuatan doa.
 
Maka ketika tampilan menggemuruh puluhan ribu santri dan ulama Nusantara di Gunung Lawu beristighosah dan berikrar di pagi sejuk ba’da Subuh, tanpa publikasi luas, itu adalah pesona heroik hijau daun yang ingin menyampaikan pesan indah. Bukankah tanah air ini alamnya begitu ramah, bukankah ukhuwah kita begitu barokah, bukankah kebersamaan ini begitu karomah. Bukankah hijau daun itu pesona indah.

Hijau daun itu adalah tentara dan santri. Hijau daun itu adalah amanah, istiqomah, fathonah. Untuk memberikan suasana sejuk dan nyaman ber Indonesia nan indah. Ini bukan soal berpemerintahan, ini soal bernegara. Bagi kita mencintai bangsa ini tidak ada hubungannya dengan siapa yang sedang berkuasa karena bangsa ini lebih mahal nilainya dari sekedar ribut ribut soal kekuasaan dan pemerintahan.  Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017.
*****
Jagarin Pane /19 Oktober 2017

Wednesday, October 4, 2017

Ketika Tentara Memamerkan Diri

Gelar kekuatan pengawal republik tanggal 5 Oktober 2017 di Cilegon Banten menjadi ajang pameran pembangunan kekuatan militer Indonesia yang saat ini sedang giat-giatnya menggagahkan dirinya. Militer Indonesia sedang berada di ruang belanja alutsista selama delapan tahun terakhir ini untuk memenuhi kekuatan “gizi” alutsista, sebuah syarat utama yang harus dipenuhi untuk mendapat predikat gagah perkasa.

Ketika tentara belanja alutsista saat ini maka anggaran yang diperlukan tidak lagi bilangan berapa trilyun tetapi sudah memasuki kuantitas ratusan trilyun rupiah. Menghebatkan sosok militer dari sebuah negara kepulauan terbesar didunia memang perlu stok anggaran besar.  Karena selama puluhan tahun militer kita hanya mendapatkan “gizi” alutsista seadanya dengan alasan lebih mengutamakan pembangunan sektor lain.

Maka ketika era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memaklumatkan modernisasi militer kita tahun 2010, anggaran yang dikucurkan selama lima tahun terakhir pemerintahannya mencapai 150 trilyun rupiah dengan aneka ragam pengadaan alutsista yang dijelaskan dengan cerdas oleh Kementerian Pertahanan. Publik dapat mengetahui informasi pengadaan berbagai alutsista dengan terang benderang.
Helikopter anti kapal selam Panther, kita beli 11 unit
Misalnya program beli 103 tank Leopard, program pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52Id, beli 16 Super Tucano, beli 16 Golden Eagle, beli 36 Astross, beli 37 Nexter, beli peluru kendali berbagai jenis, pengadaan 3 kapal selam dengan transfer teknologi dan banyak lagi ragam alutsista yang dibeli semuanya dipublikasikan. Alutsista yang dibeli utuh atau melalui kerjasama transfer teknologi atau yang sudah bisa dibuat sendiri dapat diketahui publik dengan jelas dan cerah.

Kita bisa melihatnya sekarang dan utamanya di ajang gelar kekuatan militer pada HUT TNI ke 72 tanggal 5 Oktober 2017 di Banten. Tiga matra TNI menampilkan berbagai jenis alutsista berteknologi yang membuat kita merasa bangga.  Bangga punya tentara yang gagah dengan derap langkap tegap, bangga punya alutsista yang canggih dan berteknologi. Tiga matra ini menampilkan model simulasi pertempuran modern di hadapan Presiden dan para undangan lain.

Membangun kekuatan militer dari sebuah negara kepulauan terbesar di dunia memerlukan anggaran besar. Tetapi ini bukan biaya alias beban untuk republik melainkan investasi yang melekat dari sebuah perjalanan ber eksistensi NKRI.  Militer adalah penjamin kelangsungan bernegara, berteritori yang bermarwah dan bagian dari kewibawaan berbangsa disamping tentu saja kesejahteraan ekonomi.
KRI Nagapasa 403, ada tiga unit yang kita pesan
Perkembangan situasi yang dinamis di sekitar wilayah teritori Indonesia mengharuskan kita memperkuat barikade teritori, dan itu belum terlambat. Pembangunan pangkalan militer tiga matra berkarakter sarang lebah di Natuna saat ini sedang berlangsung. Nantinya diharapkan mampu “membela dirinya sendiri” dari serbuan asing sebelum bala bantuan datang dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Demikian juga pangkalan angkatan udara di Medan, Tarakan, Kupang, Morotai dan Biak akan dikembangkan terus dan menjadi home base jet tempur, pesawat intai, drone dan paskhas untuk memastikan kewibawaan teritori Indonesia yang indah ini. Ini pekerjaan besar dan memerlukan waktu.  Itu sebabnya program MEF yang sudah dimulai tahun 2010 dan kita saat ini ada di program MEF II yang berkelanjutan dengan rezim yang berbeda tetap konsisten dengan modernisasi tentara kita. Kita apresiasi dua rezim yang berbeda dengan program berkelanjutan.

Sesungguhnya kita butuh waktu yang lebih cepat untuk perkuatan alutsista kita.  Maka sangat disayangkan terjadinya proses yang bertele-tele dari pengadaan jet tempur Sukhoi SU35.  Anggaran sudah disediakan pemerintah namun banyaknya campur tangan berbagai pihak membuat proses pengadaan jet tempur gahar itu menjadi gunjingan publik. Sama halnya ketika para petinggi negeri ini gaduh soal senjata milik salah satu institusi.  Masing-masing mengedepankan egonya.  Lebih lucu lagi sore membantah ada barang datang, malamnya baru mengakui.
Tank Harimau Hitam, kita produksi 100 unit tahun depan
Pertunjukan silat argumen diantara para petinggi itu sejatinya akan kalah hebat dengan pertunjukan kehebatan hulubalang republik yang dipertontonkan pada hari jadinya di Cilegon Banten. Dentuman demi dentuman dari berbagai alutsista gahar yang memperlihatkan sinergi pertempuran modern di hadapan Presiden Jokowi mestinya menjadikan renungan bathin.  Bahwa kita ini ber NKRI, kita ini ber Indonesia, kita ini bersaudara sebangsa, kita ini bangsa hebat, kita ini bangsa besar, kita ini bangsa kaya.

Maka wahai petinggi perbaguslah koordinasi dan sinergi, komunikasi dan hirarki, silaturrahmi dan introperability. Pertempuran modern ditentukan oleh interoperability dan kekuatan alutsista yang dimiliki. Bukan oleh omongan yang tak bersinergi dan hobby membantah. Publik pasti akan mentertawakan para pemimpinnya.  NKRI perlu militer yang kuat, anggaran sudah sedang dan akan terus dipenuhi pemerintah. Maka percepatlah proses pengadaannya,  jelaskanlah ke publik, buanglah ego sektoral. Jangan sampai publik sampai pada kesimpulan : kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah.

Selamat hari ulang tahun TNI ke 72
Adrenalin NKRI adalah TNI, kewibawaan NKRI adalah TNI, marwah teritori NKRI adalah TNI

****
Jagarin Pane / 04 Oktober 2017


Saturday, September 16, 2017

Gelar Kekuatan Menuju Hebat

Gelar kekuatan TNI akan diperlihatkan pada serebrasi HUT nya yang ke 72 tanggal 5 Oktober 2017 nanti di Cilegon Banten. Pameran menuju hebat kira-kira begitu meski harus diakui sampai saat ini sesungguhnya kekuatan militer kita belum masuk kategori hebat.  Tapi menuju hebat bolehlah karena jalan kearah itu sedang dilakukan melalui program strategis MEF I, II dan III. Kita sedang berada di MEF II.

Mengapa harus punya militer yang hebat, jawab singkatnya karena kita negara besar, negara kaya. Kaya sumber daya alam, besar sumber daya manusianya. Jadi kalau masih ada pikiran sempit yang mengatakan tidak perlu punya militer kuat maka pola pikir itu dinyatakan dengan pasti kurang wawasan kebangsaannya. Militer adalah adrenalin sebuah negara, dia juga adalah benteng eksistensi sekaligus pengawal teritori.
Apache TNI AD, kebanggaan tersendiri
Berpuluh tahun kita selalu disajikan format baku bahwa pembangunan ekonomi adalah nomor satu. Benar juga karena pengalaman pemerintahan Soekarno yang mendahulukan penguatan militer daripada ekonomi membuat kita tak beranjak petumbuhan ekonominya. Tapi jangan lupa penguatan militer itu karena tantangan jaman yaitu mengembalikan Papua ke pemilik sejati dan membendung neo kolonialisme lewat Dwikora.

Baru delapan tahun terakhir ini format itu disesuaikan dengan rumus sama. Dua-duanya seiring sejalan, pembangunan kekuatan ekonomi dilakukan bersamaan dengan pembangunan kekuatan militer. Ekonomi kita saat ini berada di lingkungan elite dunia masuk kelompok G20 dengan urutan ke 15. Militer kita juga ternyata tidak jauh-jauh rankingnya dari klasemen kekuatan ekonomi yaitu berada di peringkat 14 besar dunia.

Tantangan berteritori kita sejatinya luar biasa. Luasnya teritori yang harus dijaga dan membendung ekspansi teritori dari sebuah negara hebat di Asia adalah kewaspadaan yang harus dilakukan terus menerus. Maka perkuatan militer yang sedang dilakukan selama delapan tahun terakhir ini adalah dalam upaya penguatan pertahanan yang harus berkualifikasi hebat juga. Semua matra TNI harus diperkuat.

Anggaran yang dikucurkan untuk menguatkan militer kita menjadi yang terbesar dibanding kementerian yang lain. Catatannya adalah program hebat ini dengan anggaran yang besar harus dikelola bagus dan dikawal dengan kecerdasan bermanajemen di Kemhan.  Termasuk kecerdasan menyampaikan program kepada masyarakat republik.  Publikasi resmi terhadap rencana pengadaan alutsista harus disampaikan agar tidak menimbulkan fitnah.

Jangan sampai berita dan gosip yang didapat adalah versi makelar sales sementara berita yang sesungguhnya disembunyikan, tahu-tahu barang ghoibnya sudah datang. Contohnya kendaraan lapis baja M113. Maka konferensi pers yang dilakukan Kemhan soal pembelian Sukhoi SU35 baru-baru ini adalah langkah cerdas agar publik tidak terombang ambing.  Sebelum konferensi pers ada yang ngomong soal Gripen, seakan-akan sudah yakin akan dibeli, padahal itu versi salesman yang tentu saja menjagokan produknya.

Korupsi pembelian Apache, F16 serta  AW101 adalah cermin buruk yang menjadi ibrah untuk kita semua yang berhati jernih. Dua kasus korupsi itu saja punya nilai nominal rupiah yang luar biasa besarnya. Ironinya adalah soal helikopter AW101, saling lempar tanggung jawab lalu menyampaikannya ke ranah publik.  Ini menjadi sebuah gambaran kurang bersinarnya jalur koordinasi, konfirmasi dan komunikasi diantara pemangku jabatan strategis.
Kapal selam KRI Nagapasa, luar biasa
Menguatkan tentara adalah juga menguatkan bangsaku, tapi jangan pula diartikan sebagai menguatkan “bank saku” jenderal. Bangsaku ini harus kuat ekonominya dan harus kuat militernya. Maka pembangunan kekuatan ekonomi yang sedang berlangsung saat ini, pembangunan infrastruktur  di segala sektor termasuk pembangunan kekuatan militer kita adalah proses yang sangat membanggakan dan menjanjikan.

Maka pameran kekuatan militer kita yang akan disajikan dalam HUT TNI bulan depan adalah laporan pertanggungjawaban militer kepada rakyatnya yang telah bersusah payah patuh bayar pajak, retribusi, sumbangan, donasi, infaq untuk bangsanya. Sebagai bentuk tanggung jawab itulah gelar parade militer akan menampilkan alutsista-alutsista baru yang canggih dengan “jalan cerita” upacara yang menunjukkan nilai hebat.

Alutsista-alutsista baru yang akan ditampilkan adalah sang primadona kapal selam KRI Nagapasa 403. Kemudian helikopter serang Apache, Helikopter Blackhawk, Helikopter Anti kapal selam Panther, Kapal perang PKR10514 Martadinata Class, Tank medium Kaplan, Panser Pandur II, Arisgator, Artileri swagerak M109, MLRS Vampire, peluru kendali Starstreak, roket Rhan450.  Alutsista yang lain adalah MLRS Astross II Mk6, Artileri Caesar Nexter, Artileri KH178, KH179, Tank Leopard, Marder, M113, Panser Anoa, Jet tempur F16, Sukhoi, Golden Eagle, Supertucano dan masih banyak yang lain, bisa disaksikan sendiri pada hari H nya.

Saat ini Indonesia sedang melakukan pemesanan dua kapal penyapu ranjau dari Jerman.  Sementara KRI Bimasuci sedang dalam persiapan menuju tanah air dari pabrikannya di Spanyol. Kita juga sedang menantikan kedatangan kapal selam kedua dari Korsel akhir tahun ini. PT PAL saat ini sedang membangun 1 kapal selam “Nagapasa Class” kerjasama dengan Korsel dan 1 kapal perang jenis KCR 60m.  Beberapa galangan kapal dalam negeri saat ini sedang membuat 1 kapal perang jenis LPD, 3 kapal perang jenis LST, 1 kapal perang jenis logistik BCM, 6 kapal perang jenis KPC. Tahun depan akan dimulai lagi proyek PKR tahap II dengan membangun 3 kapal perang jenis Martadinata Class.

Angkatan udara kita memesan 11 jet tempur Sukhoi SU35, menanti kedatangan 5 jet tempur F16 blok 52 dari AS, instalasi radar dan rudal 15 jet tempur T-50, upgrade 10 jet tempur F16 blok 15 Ocu, mendatangkan 4 Hercules dari Australia, menambah 2 CN295, menunggu kedatangan peluru kendali jarak sedang Nasam, menambah radar militer di 4 titik pertahanan, memperkuat pangkalan AU di Kupang, Natuna, Tarakan, Batam dan Biak. 

Kita memang sedang menuju hebat walaupun sesungguhnya kalimat yang tepat adalah mengejar ketertinggalan. Tertinggal sama negara tetangga. Jadi nanti jika MEF III yang berakhir tahun 2024 barulah kriteria setara bisa disandangkan. Setara bisa juga diartikan hebat karena mampu mengejar ketertinggalan menuju kesetaraan. Selamat hari ulang tahun, semoga semakin hebat dan perkasa mengawal republik tercinta tanpa mengenal lelah.
****
Semarang / 16 September 2017


Friday, September 8, 2017

Menyikapi RISING 50 Tahun

Singapura menjamu Indonesia secara meriah di acara perjalanan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara.  Presiden Jokowi dan rombongan besarnya berada di negeri pulau itu selama dua hari 6-7 September 2017 untuk merayakan ulang tahun persahabatan kedua negara yang memasuki usia setengah abad. Acara yang paling gagah adalah tampilnya 20 jet tempur F16 kedua negara membentuk formasi angka limapuluh melintas Marina Bay disaksikan PM Lee Hsien Loong dan Presiden Jokowi.

RISING 50 tahun atau Republik Indonesia-Singapura 50 tahun adalah sebuah perjalanan dinamika bertetangga yang diisi dengan berbagai hal mulai dari kemarahan, keramahan, keangkuhan, keanggunan dan sebagainya mewarnai jalannya pertetanggaan itu. Bulan September 1967 secara resmi hubungan diplomatik Indonesia-Singapura dibuka dengan menempatkan masing-masing Duta Besar meski “cuaca bathin” waktu itu masih penuh permusuhan sebagai dampak DWIKORA.

Belum ada setahun hubungan itu memburuk dan nyaris menimbulkan pertempuran antara kedua negara. Marinir Indonesia siap menyerbu Singapura. Sebabnya adalah dieksekusinya dua marinir Indonesia Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968. Usman Harun melakukan infiltrasi dan sabotase di Orchard Road tahun 1965 ketika konfrontasi Indonesia-Malaysia memuncak. Singapura bagian dari Federasi Tanah Melayu pada waktu itu.
10 F16 Indonesia, 10 F16 Singapura
Tensi kemarahan itu berakhir dengan kunjungan PM Lee Kwan Yew ke Jakarta tahun 1973 dan menaburkan bunga di makam Usman dan Harun di TMP Kalibata. Presiden Soeharto bersedia menjamu PM Lee dengan syarat dia harus datang ke makam Usman Harun. Ini kemenangan diplomatik Indonesia. Dengan semangat ASEAN kedua negara mampu membangun dan merawat persahabatan berbasis keramahan dan saling menyapa.

Dalam perjalanannya kemudian Singapura berhasil membangun pertumbuhan ekonominya menjadi sebuah negara maju dan sejahtera termasuk juga membangun kekuatan militernya menjadi kekuatan sarang lebah yang menyengat. Sementara Indonesia, sebuah negara kepulauan terbesar dengan sumber daya alam yang kaya raya dan sumber daya manusia yang besar “baru mau akan” menjadi negara maju sejahtera. Pembangunan kekuatan militer kita tersendat selama puluhan tahun.

Maka sikap angkuh pun ditunjukkan negeri mungil itu di berbagai hal. Ketika para koruptor negeri ini bersembunyi disana, tak ada keinginan untuk membantu memulangkan dengan alasan tidak ada perjanjian ekstradisi. Ketika mau dibuat perjanjian pinjam lahan untuk latihan militernya mereka tidak mau dikaitkan dengan perjanjian ekstradisi. Kadang-kadang deru jet tempur mereka yang sedang latihan di lahan sempit negaranya menyentuh teritori Batam. Yang lebih menyakitkan kapal selam mereka bebas berkeliaran di perairan kita.

Yang heboh tentu saja ketika kita hendak memberi nama sebuah kapal perang kita dengan nama KRI USMAN HARUN bulan Februari 2014. Singapura mempertunjukkan diplomasi kekanak-kanakan dengan menyamai Usman dan Harun sebagai teroris.  Mereka keberatan jika satu kapal perang dari tiga kapal perang yang dibeli Indonesia diberi nama kedua pahlawan nasional itu.  Bahkan mereka membatalkan 100 undangan untuk Kemhan Indonesia yang akan menghadiri Singapore Airshow 2014.  Juga mereka keberatan jika kapal perang itu singgah di Batam.  Lucu ya.

Tapi kali ini kita bersikap tegas dan lantang.  Petinggi militer dan diplomatik kita bersuara seragam. Tidak boleh ada intervensi soal nama itu karena itu hak Republik Indonesia.  Singapura terdiam terpaku. Juga soal Tax Amnesty. Sementara kita jalan terus. Kekuatan ekonomi kita sudah menembus 15 besar dunia maka kita ikut group elite G20 dan nomor satu di ASEAN. Militer kita juga ternyata menduduki ranking 14 besar dunia, nomor satu di ASEAN. Pembangunan kekuatan militer kita berjalan terus dengan percaya diri.

Dalam strategi militer sekuat apapun militer Singapura tetap memiliki titik lemah fatal yaitu satu titik itu saja. Meski dia punya kekuatan udara yang luar biasa yang katanya bisa hancurkan Jakarta dalam hitungan jam tapi sesungguhnya kelemahannya ada di satu titik itu saja sementara kita terdiri dari ribuan titik yang menyebar luas.  Coba kita letakkan ASTROSS dan NEXTER di Batam, lalu bombardir Changi dan Paya Lebar. Meskipun jet tempurnya berhasil bom Jakarta tapi tentu mereka tak bisa pulang karena pangkalan militernya sudah hancur.

Kekuatan ekonomi  dan kekuatan militer kita saat ini tentu menjadi perhitungan Singapura.  Maka diplomasi RISING TREE yang dipertunjukkan kemarin merupakan sebuah upaya bermanis wajah untuk sahabatnya yang sedang menuju negara hebat.  Indonesia sedang membangun infrastruktur ekonomi secara besar-besaran, juga penguatan militer yang luar biasa. Singapura jelas mengamati perubahan hebat tetangganya itu.

Maka pesannya adalah, bertetanggalah dengan semangat kesetaraan, berdiplomasilah dengan bahasa ramah bukan marah, bersikaplah anggun bukan angkuh karena Indonesia yang tak akan mampu ditandingi Singapura sepanjang sejarah adalah kekuatan nasionalisnya, kekuatan sumber daya alamnya dan kekuatan sumber daya manusianya. Takdir Singapura adalah bertetangga seumur hidup dengan Indonesia. Hubungan itu saling membutuhkan, jangan merasa Indonesia butuh Singapura tapi ke depan justru Singapura butuh Indonesia.

Raungan 20 jet tempur F16 dengan membentuk formasi angka lima puluh kemarin begitu spektakuler maknanya. Angka lima diisi dengan 10 jet tempur Indonesia dan angka nol diisi dengan 10 jet tempur Singapura adalah gambaran kesetaraan itu.  Hubungan militer yang setara, hubungan diplomatik yang setara, hubungan ekonomi yang saling menguntungkan adalah bingkai bertetangga yang indah antara Indonesia dan Singapura.  Maka bertetanggalah dengan anggun dan ramah, kita akan membalasnya dengan sapa dan senyum, tak lupa sambil belanja terus di negeri tujuan wisata dan shopping center itu. Bisa aja.
****
Jagarin Pane / 8 September 2017


Monday, August 28, 2017

Nagapasa, Awal Sebuah Kebangkitan

Angkatan Laut Indonesia kedatangan sebuah kapal selam baru yang telah dinantikan cukup lama, KRI Nagapasa 403.  Surabaya hari ini Senin 28 Agustus 2017 adalah tempat berlabuhnya alutsista bawah air ini setelah menempuh perjalanan selama 17 hari dari Korsel.  Kedatangan Nagapasa sekaligus mengakhiri “krisis kuantitas” kapal selam kita yang hanya punya 2 biji selama hampir setengah abad.

Nagapasa adalah awal kebangkitan itu. Sejarah membuktikan bahwa kita pernah punya kapal selam “Whiskey Class” sebanyak 12 unit pada masa Trikora sampai Dwikora.  Jumlah kapal selam sebanyak itu adalah salah satu faktor kunci gentarnya Belanda yang berusaha memeluk Papua selama mungkin. Armada kapal selam Indonesia melakukan infiltrasi di Papua dan membuat kapal induk Belanda Karel Doorman menyingkir ke Australia dan akhirnya melalui jalur diplomatik Papua kembali ke pangkuan NKRI.
KRI Nagapasa 403, selamat datang
Tahun tujuhpuluhan mulailah terjadi krisis kuantitas kapal selam kita karena hanya mampu mengoperasikan 2 kapal selam yaitu KRI Pasopati dan KRI Bramasta. Ini terjadi karena ketersediaan suku cadang kapal selam buatan Rusia (dulu Uni Sovyet) nihil sehingga terjadilah kanibalisme.  Barulah pada tahun delapan puluh KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 buatan Jerman mengisi armada kapal selam kita menggantikan dua sisa Whiskey Class yang uzur.

Empat tahun yang lalu kita memesan 3 kapal selam buatan Korsel dengan model transfer teknologi, dua dibuat di Korsel dan satu lagi dibuat di PT PAL Surabaya. KRI Nagapasa 403 sudah sampai di tanah air kemudian adiknya KRI Ardadedali 404 direncanakan sampai di Indonesia akhir tahun ini.  Sementara si bungsu KRI Nagarangsang 405 yang sedang dibuat di PAL Surabaya akan diluncurkan akhir tahun depan. Bedanya si bungsu dibuat dengan praktek transfer teknologi dengan melibatkan seratusan insinyur Indonesia didalamnya.

Armada bawah laut sesungguhnya adalah alutsista strategis yang bernilai gentar. Indonesia yang dua pertiga negerinya adalah perairan harus memiliki kuantitas dan kualitas alutsista pemukul bawah air.  Kalau hanya punya dua biji jelas gak nendang, jadi kalau mau berhitung cermat kita harus punya minimal 12 kapal selam modern. 

Lalu mengapa selama puluhan tahun hanya punya dua biji saja jawabnya karena pola pikir pengambil keputusan di jaman itu tidak menganggap penting kekuatan angkatan laut kita. Barulah setelah area Ambalat memanas, Laut Cina Selatan demam berkepanjangan, para pengambil  keputusan negeri ini sadar diri bahwa kita harus memiliki angkatan laut dan udara yang kuat termasuk alutsista pemukul strategis bawah air.

Maka Nagapasa adalah awal kebangkitan itu.  Kebangkitan armada kapal selam yang sudah dinanti sejak lama. Kita membutuhkan jumlah kapal selam yang mampu menjaga perairan Indonesia di setiap sudut. Maka kita menyambut gembira kehadiran KRI Nagapasa, kita pun menyambut gembira ketika Panglima TNI menginginkan kapal selam jenis Kilo sebagai penguat  armada kapal selam selain Nagapasa Class.

Nagapasa Class yang menerapkan model transfer teknologi kita harapkan tidak berhenti di Nagarangsang.  Paling tidak ada tambahan 2-3 unit lagi agar ilmu terapan transfer teknologi yang sudah kita pelajari dengan biaya yang mahal tidak sia-sia. Sayang dong ilmu seratusan insinyur kita yang sudah disekolahkan di Korsel selama 4 tahun tidak menghasilkan karya kebanggaan anak negeri berupa pembuatan kapal selam modern yang benar-benar hasil karya kita.

Nagapasa adalah pintu kebangkitan.  Maka kedatangannya kita sambut dengan rasa syukur dan kegembiraan.  Bahwa inilah awal kebangkitan Hiu Kencana yang selalu “tabah sampai akhir”. Ketabahan mereka dengan jumlah kapal selam yang terbatas mulai teratasi. Akhir tahun ini akan datang lagi kapal selam baru, juga akhir tahun depan dan insyaAllah tahun-tahun berikutnya akan ada kapal selam baru.

Nah sementara menunggu dua sang adik, maka Kemhan diharapkan selama setahun ke depan ini sudah dapat melanjutkan kembali program pengadaan kapal selam seri berikutnya.  Boleh jadi dari jenis Kilo yang punya peluang besar sebagaimana permintaan Panglima TNI beberapa waktu yang lalu. Atau melanjutkan proyek Nagapasa Class di Surabaya. Terserah deh dan hari ini kita menikmati dulu ruang syukur atas kedatangan kapal selam baru yang canggih KRI Nagapasa 403. Selamat datang Hiu pengawal NKRI.
****

Jagarin Pane / 28 Agustus 2017

Monday, August 7, 2017

Menjaga Asa Digaris Sabar

Baru saja Kemhan menyelesaikan pekerjaan proyek pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 dengan pihak Rusia setelah bernegosiasi marathon dan melelahkan selama dua tahun. Sebenarnya kontrak pengadaan jet tempur gahar ini mau diteken Presiden Jokowi dan Vladimir Putin pertengahan tahun 2016 ketika berkunjung ke Moskow.  Nyatanya baru kemarin ini bisa diselesaikan. Asa memang harus dijaga digaris sabar.

Proyek pengadaan alutsista TNI diprediksi akan terlihat jelas mulai tahun depan.  Seperti kita ketahui program MEF (Minimum Essential Force) TNI ada tiga tahap.  MEF I sudah diselesaikan pada masa pemerintahan SBY namun kedatangan alutsista berikut pembayaran hutangnya yang multy years harus dilakukan di pemerintahan Jokowi. Itu sebabnya selama separuh periode pemerintahan Jokowi yang nota bene ada di MEF II seperti tidak terlihat adanya pengadaan alutsista yang menonjol nilai dan barangnya.
Apache TNI AD, datang 3 unit tahun ini
Tetapi bukan berarti tidak ada proyek membaguskan alutsista TNI. Program radarisasi dan rudalilasi 15 jet latih tempur golden eagle jalan terus. Setidaknya sudah ada 4 jet tempur jenis ini yang mendapatkan radar canggih sebagai indra tempurnya sehingga bisa jalan-jalan patroli  di El Tari Kupang.  Pengadaan radar Weibel sudah ditempatkan di satuan radar Yogya dan Natuna.  Termasuk pengadaan alutsista peluru kendali SAM jarak sedang NASAMS, artileri Swagerak dan kendaraan angkut pasukan M113.

Prediksi kita mulai tahun depan akan banyak proyek pengadaan alutsista skala besar.  Ini salah satu sebabnya adalah mulai berkurangnya termin pembayaran hutang alutsista multy years d MEF I. Tahun ini kita akan kedatangan 5 jet tempur F16 blok 52 Id sebagai kontingen terakhir dari 24 unit yang dipesan. Juga kedatangan 2 kapal selam canggih dari Korsel. Itu semua adalah realisasi program pengadaan alutsista MEF I.

Proyek PKR 10514 akan dilanjutkan kembali tahun depan. Indonesia dan Belanda punya perjanjian kerjasama transfer teknologi pembuatan kapal perang jenis ini.  Dua diantaranya sudah selesai dikerjakan yaitu KRI RE Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Ray 332. Sangat dimungkinkan kita akan menambah 3 unit lagi untuk memastikan Martadinata Class punya kekuatan 5 unit kapal perang. Pengadaan SAM jarak sedang tahap II juga akan terlaksana tahun depan. Tawaran jet tempur F16 Viper blok 72 gencar dipromosikan, termasuk asa dan doa datangnya peluru kendali jarak jauh S300 buatan Rusia.

Proyek pengadaan alutsista gahar yang lain yang selalu menarik diikuti adalah kapal selam.  Banyak pemberitaan bahwa kita akan menambah terus jumlah kapal selam dan itu pasti.  Ada beberapa merek yang ditawarkan, tentu menjadi tanda tanya, merek apa sih yang mau dibeli. User sih pengennya kapal selam KILO dari Rusia sebagaimana diperjelas Panglima TNI. Tapi sementara itu marketing pabrikan yang lain bersemangat menawarkan produknya seperti Turki dan Perancis. Kemhan pintunya.
KRI Nagapasa 403, datang pertengahan bulan ini
Basis dari semua proyek modernisasi militer kita adalah menjaga asa digaris sabar.  Bahwa pengadaan alutsista yang sedang digiatkuatkan selama delapan tahun terakhir ini memerlukan anggaran besar dan kesabaran tinggi.  Sudah banyak berdatangan alutsista canggih segala matra. Ketika kita sudah memastikan finalisasi pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35,  tetapi barangnya tidak langsung datang segera.  Diperlukan waktu minimal 2 tahun ke depan untuk pembuatannya dan itu baru jadi 2 biji saja.  Bertahap dan bersabar.

Kapal selam KRI Nagapasa 403 yang sedang dalam perjalanan ke tanah air butuh waktu 4 tahun proses pembuatannya. Pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 Id butuh 5 tahun proses kedatangannya. Jadi semuanya butuh proses tetapi tentu proses pengadaanya jangan pula ikut bertele-tele, ini yang kita kritisi. Bahwa ke depan akan banyak proses pengadaan alutsista mestinya diimbangi dengan kelincahan dan kecerdasan dalam proses negosiasi dan pengambilan keputusan, termasuk dalam press releasenya. Gunanya tentu agar semuanya jelas, dan masyarakat tidak terombang ambing dengan ketidakpastian.

Beban kerja Kemhan yang cukup padat dan berat tentu bisa diantisipasi misalnya dengan menambah Wamenhan di kementerian itu.  Kemhan periode lalu ada struktur Wamenhan dan ternyata mampu bergerak lincah kesana kemari ketika memulai proyek MEF I.  Tidak salah kan kalau untuk mengeraklincahkan roda operasional diperkuat dengan seorang Wakil Menteri.  Sebab ke depan ini program MEF kita akan semakin menggelembung dengan anggaran yang semakin besar.

Apapun itu kita tetaplah ada di garis sabar sembari memelihara asa dan memandang langit biru nan indah. Republik ini harus dijagakuat dengan militer yang gahar agar teritorinya terjamin aman dan dihormati.  Musuh kita di depan adalah rivalitas memperebutkan sumber daya alam yang ada di laut. Musuh kita ada di depan kita yang lapardan haus dengan sumber daya alam tak terbarukan alias energi fosil.

Jadi kalau ada anggapan bahwa semua berjalan baik-baik saja, tidak akan ada perang, semuanya sahabat kita, tentu anggapan ini harus ditambah dengan kalimat : meskipun begitu kita tetap harus mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan cara memperkuat militer kita.  Bukankah dengan kekuatan militer yang gahar akan memberikan rasa segan pihak lawan dan ini menjadi sebuah garansi tidak ada gangguan dan ancaman.

Asa memang harus terus dijaga digaris teritori NKRI yang luas ini.  Asa juga harus terus dijaga digaris sabar sembari menanti kedatangan alutsista yang bakal datang silih berganti. Datang, pesan dan datang lagi, tetapi tentu tetap di garis sabar. Pada saatnya nanti kita sudah menjadi salah satu yang terkuat dan teritori yang kita jaga akan semakin berwibawa. Pada saatnya nanti industri pertahanan kita sudah mampu membuat jet tempur dan kapal selam.  Semua sedang dalam proses. Asa memang harus terus dijaga, mudah-mudahan.
****
Jagarin Pane /07 Agustus 2017


Wednesday, August 2, 2017

Berdatangan Lagi



Sejumlah alutsista baru berdatangan lagi. Kali ini belasan artileri swagerak M109 dari Belgia bersama kendaraan peluncur rudal Mistral dan kendaraan peluncur roket RHan datang di Tanjung Priok Jakarta akhir pekan lalu. Alhamdulillah.




Datang Pertengahan Bulan Ini


Kapal selam baru milik Indonesia diberangkatkan besok tanggal 2 Agustus 2017. KRI Nagapasa 403 berangkat dari pabrikannya di Korsel setelah mengalami penundaan selama 4 bulan untuk memodifikasi beberapa perangkat sensitif. Indonesia memesan 3 kapal selam jenis Changbogo dari Korsel dengan model transfer teknologi.  Dua kapal selam dibuat di Korsel dan yang satu lagi di Indonesia. Alhamdulillah.

Tawaran Menggiurkan


Baru saja kita menyelesaikan proses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang sangat detterens itu, datang lagi penawaran jet tempur F16 Viper blok 72 dari AS. Indonesia sudah memiliki 33 jet tempur F16 dari blok 15Ocu sebanyak 10 unit dan blok 52Id sebanyak 23 unit. Tawaran ini sangat menggiurkan karena teknologi yang dibawa terkini banget termasuk kualitas radarnya.  Jika semua berjalan baik maka kombinasi 27 jet tempur Sukhoi ( 8 SU27, 8 SU30 dan 11 SU35) bersama 49 jet tempur F16 (10 Blok15, 33blok52Id dan 16 Blok72) tentu akan mampu mewibawakan teritori udara negeri ini. Insya Allah.

Monday, July 3, 2017

Lebih Baik Melihat Kedalam

Ajakan Presiden Filipina Rodrigo Duterte agar militer Indonesia ikut andil memerangi militan ISIS di Filipina Selatan merupakan sebuah kehormatan namun harus disikapi secara bijaksana. Duterte mengajak Indonesia tentu dengan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah kemampuan militer Indonesia melakukan perang gerilya, anti gerilya dan pertempuran jarak dekat yang dikenal dengan perang kota.

Hampir sebulan ini berbagai kegiatan patroli ketat dilakukan TNI di sepanjang garis perbatasan dengan Filipina. Setidaknya ada 12-15 KRI berbagai jenis dioperasionalkan bersama dengan pesawat pengintai TNI AU baik intai taktis maupun intai strategis, termasuk juga pengerahan jet tempur Sukhoi ke Tarakan dan Manado. Bahkan 2 kapal selam KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 kita dikerahkan ke perbatasan wilayah panas itu bersama kapal perang jenis intelijen bawah air KRI Spica 934 yang punya alat deteksi canggih bawah air.

Di perbatasan pulau Sebatik, Nunukan, Bunyu, Tarakan disiagakan satuan-satuan tempur dan intelijen TNI AD untuk memastikan tidak ada rembesan militan dan senjata mautnya masuk ke wilayah NKRI. Sangat pantas kita waspada dengan kondisi di Marawi dan Mindanao, karena ternyata militan Maute yang berafiiasi dengan ISIS mampu melakukan pertempuran jarak dekat dan belum bisa ditaklukkan sampai saat ini.

Yang menarik adalah pengerahan kekuatan itu justru mampu melipagandakan kekuatan jaga teritori Ambalat karena wilayahnya memang berdekatan. Sambil menyelam minum air atau sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.  Meski Malaysia tidak ngotot lagi menghadirkan kapal perangnya, TNI selalu siap siaga menjaga Ambalat sepanjang tahun. Ini yang disebut menjaga gengsi berteritori secara milter, dan itu perlu meski di tataran diplomatik belum selesai perkaranya.
Pesawat intai strategis TNI AU ikut dikerahkan
Militer Indonesia sangat berpengalaman dengan model “perkelahian” yang dilakukan militan dan separatis. Selama konflik dengan GAM di Aceh, TNI mampu menyekat dan melakukan serangan balasan yang mematikan sehingga tidak sampai terjadi pertempuran skala besar sebagaimana yang terjadi di Marawi. Demikian juga selama operasi militer di Timor Timur dulu, setelah melakukan serangan pendudukan, yang terjadi kemudian hanya pertarungan skala kecil, tidak head to head sebagaimana di Marawi.

Ajakan Duterte harus benar-benar disikapi dengan bijaksana. Jangan sampai kita terjebak dalam perang berlarut di negeri orang. Selama ini pengiriman pasukan TNI adalah dalam rangka peace keeping bukan untuk kombatan. Sementara bisul di Mindanao itu sudah berlangsung lama mulai dari MNLF, MILF sampai Abu Sayyaf yang bersinergi dengan Maute. Persoalan internal mereka di seputar keinginan melepaskan diri, dan itu sudah dipenuhi dengan otonomi khusus dari Pemerintah Filipina dan MNLF.  Tapi kemudian muncul lagi MILF, Abu Sayyaf dan Maute.

Dalam pandangan kita lebih baik kita konsentrasi kedalam dengan memperbesar mata dan telinga intelijen kita.  Komando teritorial yang ada seperti Koramil dan Kodim tentu harus diberdayakan bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk mendeteksi dini bau-bau Maute dan bau-bau ISIS yang tidak sedap yang mungkin merembes dan membocori suasana damai di negeri kita. Sel-sel ISIS di negeri ini juga ada di beberapa tempat dan sudah melakukan serangan berbahaya ke aparat kepolisian.

Mata dan telinga intelijen adalah kunci untuk meredam dan mengeliminasi pergerakan teroris dan separatis. Kelengahan intelijen bisa mengakibatkan terjadinya serangan teroris secara masif sebagaimana yang terjadi di Marawi. Beruntunglah kita masih mempunyai komando teritorial di daerah seperti Babinsa, Koramil, Kodim, Korem yang beberapa waktu lalu digugat eksistensinya, dan sekarang ternyata berguna.

Sel-sel Babinsa, Koramil, Kodim yang diterjunkan ke nadi-nadi kehidupan, bergerak bersama roda kehidupan masyarakat yang dinamis di negeri ini adalah metode yang paling afdhol untuk deteksi dini adanya sel-sel asing yang berwajah “amarah”.  Apalagi jika pergerakan mata dan telinga di garis depan ini disinergikan dengan silaturrahim yang terus menerus dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat termasuk MUI, ormas keagamaan, diniscayakan mampu mementalkan pergerakan sel-sel asing yang ingin merusak keharmonisan dan kedamaian.

Jadi kedalam saja kita berkonsentrasi, lebih baik melihat kedalam membenahi kelincahan gerak mata dan telinga kita.  Jangan dibiarkan matanya rabun dan telinganya budeg.  Ongkos operasionalnya dibaguskan, perlengkapan mata dan telinganya diperkuat. Kalau di Natuna kita perkuat infrastruktur militer untuk mengantisipasi ancaman berlabel negara, maka untuk antisipasi ancaman teroris dan militan perkuat basis teritorial dan intelijen daerah.  Kita meyakini TNI bisa melakukan itu.
****
Jagarin Pane / 3 Juli 2017