Friday, September 8, 2017

Menyikapi RISING 50 Tahun

Singapura menjamu Indonesia secara meriah di acara perjalanan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara.  Presiden Jokowi dan rombongan besarnya berada di negeri pulau itu selama dua hari 6-7 September 2017 untuk merayakan ulang tahun persahabatan kedua negara yang memasuki usia setengah abad. Acara yang paling gagah adalah tampilnya 20 jet tempur F16 kedua negara membentuk formasi angka limapuluh melintas Marina Bay disaksikan PM Lee Hsien Loong dan Presiden Jokowi.

RISING 50 tahun atau Republik Indonesia-Singapura 50 tahun adalah sebuah perjalanan dinamika bertetangga yang diisi dengan berbagai hal mulai dari kemarahan, keramahan, keangkuhan, keanggunan dan sebagainya mewarnai jalannya pertetanggaan itu. Bulan September 1967 secara resmi hubungan diplomatik Indonesia-Singapura dibuka dengan menempatkan masing-masing Duta Besar meski “cuaca bathin” waktu itu masih penuh permusuhan sebagai dampak DWIKORA.

Belum ada setahun hubungan itu memburuk dan nyaris menimbulkan pertempuran antara kedua negara. Marinir Indonesia siap menyerbu Singapura. Sebabnya adalah dieksekusinya dua marinir Indonesia Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968. Usman Harun melakukan infiltrasi dan sabotase di Orchard Road tahun 1965 ketika konfrontasi Indonesia-Malaysia memuncak. Singapura bagian dari Federasi Tanah Melayu pada waktu itu.
10 F16 Indonesia, 10 F16 Singapura
Tensi kemarahan itu berakhir dengan kunjungan PM Lee Kwan Yew ke Jakarta tahun 1973 dan menaburkan bunga di makam Usman dan Harun di TMP Kalibata. Presiden Soeharto bersedia menjamu PM Lee dengan syarat dia harus datang ke makam Usman Harun. Ini kemenangan diplomatik Indonesia. Dengan semangat ASEAN kedua negara mampu membangun dan merawat persahabatan berbasis keramahan dan saling menyapa.

Dalam perjalanannya kemudian Singapura berhasil membangun pertumbuhan ekonominya menjadi sebuah negara maju dan sejahtera termasuk juga membangun kekuatan militernya menjadi kekuatan sarang lebah yang menyengat. Sementara Indonesia, sebuah negara kepulauan terbesar dengan sumber daya alam yang kaya raya dan sumber daya manusia yang besar “baru mau akan” menjadi negara maju sejahtera. Pembangunan kekuatan militer kita tersendat selama puluhan tahun.

Maka sikap angkuh pun ditunjukkan negeri mungil itu di berbagai hal. Ketika para koruptor negeri ini bersembunyi disana, tak ada keinginan untuk membantu memulangkan dengan alasan tidak ada perjanjian ekstradisi. Ketika mau dibuat perjanjian pinjam lahan untuk latihan militernya mereka tidak mau dikaitkan dengan perjanjian ekstradisi. Kadang-kadang deru jet tempur mereka yang sedang latihan di lahan sempit negaranya menyentuh teritori Batam. Yang lebih menyakitkan kapal selam mereka bebas berkeliaran di perairan kita.

Yang heboh tentu saja ketika kita hendak memberi nama sebuah kapal perang kita dengan nama KRI USMAN HARUN bulan Februari 2014. Singapura mempertunjukkan diplomasi kekanak-kanakan dengan menyamai Usman dan Harun sebagai teroris.  Mereka keberatan jika satu kapal perang dari tiga kapal perang yang dibeli Indonesia diberi nama kedua pahlawan nasional itu.  Bahkan mereka membatalkan 100 undangan untuk Kemhan Indonesia yang akan menghadiri Singapore Airshow 2014.  Juga mereka keberatan jika kapal perang itu singgah di Batam.  Lucu ya.

Tapi kali ini kita bersikap tegas dan lantang.  Petinggi militer dan diplomatik kita bersuara seragam. Tidak boleh ada intervensi soal nama itu karena itu hak Republik Indonesia.  Singapura terdiam terpaku. Juga soal Tax Amnesty. Sementara kita jalan terus. Kekuatan ekonomi kita sudah menembus 15 besar dunia maka kita ikut group elite G20 dan nomor satu di ASEAN. Militer kita juga ternyata menduduki ranking 14 besar dunia, nomor satu di ASEAN. Pembangunan kekuatan militer kita berjalan terus dengan percaya diri.

Dalam strategi militer sekuat apapun militer Singapura tetap memiliki titik lemah fatal yaitu satu titik itu saja. Meski dia punya kekuatan udara yang luar biasa yang katanya bisa hancurkan Jakarta dalam hitungan jam tapi sesungguhnya kelemahannya ada di satu titik itu saja sementara kita terdiri dari ribuan titik yang menyebar luas.  Coba kita letakkan ASTROSS dan NEXTER di Batam, lalu bombardir Changi dan Paya Lebar. Meskipun jet tempurnya berhasil bom Jakarta tapi tentu mereka tak bisa pulang karena pangkalan militernya sudah hancur.

Kekuatan ekonomi  dan kekuatan militer kita saat ini tentu menjadi perhitungan Singapura.  Maka diplomasi RISING TREE yang dipertunjukkan kemarin merupakan sebuah upaya bermanis wajah untuk sahabatnya yang sedang menuju negara hebat.  Indonesia sedang membangun infrastruktur ekonomi secara besar-besaran, juga penguatan militer yang luar biasa. Singapura jelas mengamati perubahan hebat tetangganya itu.

Maka pesannya adalah, bertetanggalah dengan semangat kesetaraan, berdiplomasilah dengan bahasa ramah bukan marah, bersikaplah anggun bukan angkuh karena Indonesia yang tak akan mampu ditandingi Singapura sepanjang sejarah adalah kekuatan nasionalisnya, kekuatan sumber daya alamnya dan kekuatan sumber daya manusianya. Takdir Singapura adalah bertetangga seumur hidup dengan Indonesia. Hubungan itu saling membutuhkan, jangan merasa Indonesia butuh Singapura tapi ke depan justru Singapura butuh Indonesia.

Raungan 20 jet tempur F16 dengan membentuk formasi angka lima puluh kemarin begitu spektakuler maknanya. Angka lima diisi dengan 10 jet tempur Indonesia dan angka nol diisi dengan 10 jet tempur Singapura adalah gambaran kesetaraan itu.  Hubungan militer yang setara, hubungan diplomatik yang setara, hubungan ekonomi yang saling menguntungkan adalah bingkai bertetangga yang indah antara Indonesia dan Singapura.  Maka bertetanggalah dengan anggun dan ramah, kita akan membalasnya dengan sapa dan senyum, tak lupa sambil belanja terus di negeri tujuan wisata dan shopping center itu. Bisa aja.
****
Jagarin Pane / 8 September 2017


Monday, August 28, 2017

Nagapasa, Awal Sebuah Kebangkitan

Angkatan Laut Indonesia kedatangan sebuah kapal selam baru yang telah dinantikan cukup lama, KRI Nagapasa 403.  Surabaya hari ini Senin 28 Agustus 2017 adalah tempat berlabuhnya alutsista bawah air ini setelah menempuh perjalanan selama 17 hari dari Korsel.  Kedatangan Nagapasa sekaligus mengakhiri “krisis kuantitas” kapal selam kita yang hanya punya 2 biji selama hampir setengah abad.

Nagapasa adalah awal kebangkitan itu. Sejarah membuktikan bahwa kita pernah punya kapal selam “Whiskey Class” sebanyak 12 unit pada masa Trikora sampai Dwikora.  Jumlah kapal selam sebanyak itu adalah salah satu faktor kunci gentarnya Belanda yang berusaha memeluk Papua selama mungkin. Armada kapal selam Indonesia melakukan infiltrasi di Papua dan membuat kapal induk Belanda Karel Doorman menyingkir ke Australia dan akhirnya melalui jalur diplomatik Papua kembali ke pangkuan NKRI.
KRI Nagapasa 403, selamat datang
Tahun tujuhpuluhan mulailah terjadi krisis kuantitas kapal selam kita karena hanya mampu mengoperasikan 2 kapal selam yaitu KRI Pasopati dan KRI Bramasta. Ini terjadi karena ketersediaan suku cadang kapal selam buatan Rusia (dulu Uni Sovyet) nihil sehingga terjadilah kanibalisme.  Barulah pada tahun delapan puluh KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 buatan Jerman mengisi armada kapal selam kita menggantikan dua sisa Whiskey Class yang uzur.

Empat tahun yang lalu kita memesan 3 kapal selam buatan Korsel dengan model transfer teknologi, dua dibuat di Korsel dan satu lagi dibuat di PT PAL Surabaya. KRI Nagapasa 403 sudah sampai di tanah air kemudian adiknya KRI Ardadedali 404 direncanakan sampai di Indonesia akhir tahun ini.  Sementara si bungsu KRI Nagarangsang 405 yang sedang dibuat di PAL Surabaya akan diluncurkan akhir tahun depan. Bedanya si bungsu dibuat dengan praktek transfer teknologi dengan melibatkan seratusan insinyur Indonesia didalamnya.

Armada bawah laut sesungguhnya adalah alutsista strategis yang bernilai gentar. Indonesia yang dua pertiga negerinya adalah perairan harus memiliki kuantitas dan kualitas alutsista pemukul bawah air.  Kalau hanya punya dua biji jelas gak nendang, jadi kalau mau berhitung cermat kita harus punya minimal 12 kapal selam modern. 

Lalu mengapa selama puluhan tahun hanya punya dua biji saja jawabnya karena pola pikir pengambil keputusan di jaman itu tidak menganggap penting kekuatan angkatan laut kita. Barulah setelah area Ambalat memanas, Laut Cina Selatan demam berkepanjangan, para pengambil  keputusan negeri ini sadar diri bahwa kita harus memiliki angkatan laut dan udara yang kuat termasuk alutsista pemukul strategis bawah air.

Maka Nagapasa adalah awal kebangkitan itu.  Kebangkitan armada kapal selam yang sudah dinanti sejak lama. Kita membutuhkan jumlah kapal selam yang mampu menjaga perairan Indonesia di setiap sudut. Maka kita menyambut gembira kehadiran KRI Nagapasa, kita pun menyambut gembira ketika Panglima TNI menginginkan kapal selam jenis Kilo sebagai penguat  armada kapal selam selain Nagapasa Class.

Nagapasa Class yang menerapkan model transfer teknologi kita harapkan tidak berhenti di Nagarangsang.  Paling tidak ada tambahan 2-3 unit lagi agar ilmu terapan transfer teknologi yang sudah kita pelajari dengan biaya yang mahal tidak sia-sia. Sayang dong ilmu seratusan insinyur kita yang sudah disekolahkan di Korsel selama 4 tahun tidak menghasilkan karya kebanggaan anak negeri berupa pembuatan kapal selam modern yang benar-benar hasil karya kita.

Nagapasa adalah pintu kebangkitan.  Maka kedatangannya kita sambut dengan rasa syukur dan kegembiraan.  Bahwa inilah awal kebangkitan Hiu Kencana yang selalu “tabah sampai akhir”. Ketabahan mereka dengan jumlah kapal selam yang terbatas mulai teratasi. Akhir tahun ini akan datang lagi kapal selam baru, juga akhir tahun depan dan insyaAllah tahun-tahun berikutnya akan ada kapal selam baru.

Nah sementara menunggu dua sang adik, maka Kemhan diharapkan selama setahun ke depan ini sudah dapat melanjutkan kembali program pengadaan kapal selam seri berikutnya.  Boleh jadi dari jenis Kilo yang punya peluang besar sebagaimana permintaan Panglima TNI beberapa waktu yang lalu. Atau melanjutkan proyek Nagapasa Class di Surabaya. Terserah deh dan hari ini kita menikmati dulu ruang syukur atas kedatangan kapal selam baru yang canggih KRI Nagapasa 403. Selamat datang Hiu pengawal NKRI.
****

Jagarin Pane / 28 Agustus 2017

Monday, August 7, 2017

Menjaga Asa Digaris Sabar

Baru saja Kemhan menyelesaikan pekerjaan proyek pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 dengan pihak Rusia setelah bernegosiasi marathon dan melelahkan selama dua tahun. Sebenarnya kontrak pengadaan jet tempur gahar ini mau diteken Presiden Jokowi dan Vladimir Putin pertengahan tahun 2016 ketika berkunjung ke Moskow.  Nyatanya baru kemarin ini bisa diselesaikan. Asa memang harus dijaga digaris sabar.

Proyek pengadaan alutsista TNI diprediksi akan terlihat jelas mulai tahun depan.  Seperti kita ketahui program MEF (Minimum Essential Force) TNI ada tiga tahap.  MEF I sudah diselesaikan pada masa pemerintahan SBY namun kedatangan alutsista berikut pembayaran hutangnya yang multy years harus dilakukan di pemerintahan Jokowi. Itu sebabnya selama separuh periode pemerintahan Jokowi yang nota bene ada di MEF II seperti tidak terlihat adanya pengadaan alutsista yang menonjol nilai dan barangnya.
Apache TNI AD, datang 3 unit tahun ini
Tetapi bukan berarti tidak ada proyek membaguskan alutsista TNI. Program radarisasi dan rudalilasi 15 jet latih tempur golden eagle jalan terus. Setidaknya sudah ada 4 jet tempur jenis ini yang mendapatkan radar canggih sebagai indra tempurnya sehingga bisa jalan-jalan patroli  di El Tari Kupang.  Pengadaan radar Weibel sudah ditempatkan di satuan radar Yogya dan Natuna.  Termasuk pengadaan alutsista peluru kendali SAM jarak sedang NASAMS, artileri Swagerak dan kendaraan angkut pasukan M113.

Prediksi kita mulai tahun depan akan banyak proyek pengadaan alutsista skala besar.  Ini salah satu sebabnya adalah mulai berkurangnya termin pembayaran hutang alutsista multy years d MEF I. Tahun ini kita akan kedatangan 5 jet tempur F16 blok 52 Id sebagai kontingen terakhir dari 24 unit yang dipesan. Juga kedatangan 2 kapal selam canggih dari Korsel. Itu semua adalah realisasi program pengadaan alutsista MEF I.

Proyek PKR 10514 akan dilanjutkan kembali tahun depan. Indonesia dan Belanda punya perjanjian kerjasama transfer teknologi pembuatan kapal perang jenis ini.  Dua diantaranya sudah selesai dikerjakan yaitu KRI RE Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Ray 332. Sangat dimungkinkan kita akan menambah 3 unit lagi untuk memastikan Martadinata Class punya kekuatan 5 unit kapal perang. Pengadaan SAM jarak sedang tahap II juga akan terlaksana tahun depan. Tawaran jet tempur F16 Viper blok 72 gencar dipromosikan, termasuk asa dan doa datangnya peluru kendali jarak jauh S300 buatan Rusia.

Proyek pengadaan alutsista gahar yang lain yang selalu menarik diikuti adalah kapal selam.  Banyak pemberitaan bahwa kita akan menambah terus jumlah kapal selam dan itu pasti.  Ada beberapa merek yang ditawarkan, tentu menjadi tanda tanya, merek apa sih yang mau dibeli. User sih pengennya kapal selam KILO dari Rusia sebagaimana diperjelas Panglima TNI. Tapi sementara itu marketing pabrikan yang lain bersemangat menawarkan produknya seperti Turki dan Perancis. Kemhan pintunya.
KRI Nagapasa 403, datang pertengahan bulan ini
Basis dari semua proyek modernisasi militer kita adalah menjaga asa digaris sabar.  Bahwa pengadaan alutsista yang sedang digiatkuatkan selama delapan tahun terakhir ini memerlukan anggaran besar dan kesabaran tinggi.  Sudah banyak berdatangan alutsista canggih segala matra. Ketika kita sudah memastikan finalisasi pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35,  tetapi barangnya tidak langsung datang segera.  Diperlukan waktu minimal 2 tahun ke depan untuk pembuatannya dan itu baru jadi 2 biji saja.  Bertahap dan bersabar.

Kapal selam KRI Nagapasa 403 yang sedang dalam perjalanan ke tanah air butuh waktu 4 tahun proses pembuatannya. Pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 Id butuh 5 tahun proses kedatangannya. Jadi semuanya butuh proses tetapi tentu proses pengadaanya jangan pula ikut bertele-tele, ini yang kita kritisi. Bahwa ke depan akan banyak proses pengadaan alutsista mestinya diimbangi dengan kelincahan dan kecerdasan dalam proses negosiasi dan pengambilan keputusan, termasuk dalam press releasenya. Gunanya tentu agar semuanya jelas, dan masyarakat tidak terombang ambing dengan ketidakpastian.

Beban kerja Kemhan yang cukup padat dan berat tentu bisa diantisipasi misalnya dengan menambah Wamenhan di kementerian itu.  Kemhan periode lalu ada struktur Wamenhan dan ternyata mampu bergerak lincah kesana kemari ketika memulai proyek MEF I.  Tidak salah kan kalau untuk mengeraklincahkan roda operasional diperkuat dengan seorang Wakil Menteri.  Sebab ke depan ini program MEF kita akan semakin menggelembung dengan anggaran yang semakin besar.

Apapun itu kita tetaplah ada di garis sabar sembari memelihara asa dan memandang langit biru nan indah. Republik ini harus dijagakuat dengan militer yang gahar agar teritorinya terjamin aman dan dihormati.  Musuh kita di depan adalah rivalitas memperebutkan sumber daya alam yang ada di laut. Musuh kita ada di depan kita yang lapardan haus dengan sumber daya alam tak terbarukan alias energi fosil.

Jadi kalau ada anggapan bahwa semua berjalan baik-baik saja, tidak akan ada perang, semuanya sahabat kita, tentu anggapan ini harus ditambah dengan kalimat : meskipun begitu kita tetap harus mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan cara memperkuat militer kita.  Bukankah dengan kekuatan militer yang gahar akan memberikan rasa segan pihak lawan dan ini menjadi sebuah garansi tidak ada gangguan dan ancaman.

Asa memang harus terus dijaga digaris teritori NKRI yang luas ini.  Asa juga harus terus dijaga digaris sabar sembari menanti kedatangan alutsista yang bakal datang silih berganti. Datang, pesan dan datang lagi, tetapi tentu tetap di garis sabar. Pada saatnya nanti kita sudah menjadi salah satu yang terkuat dan teritori yang kita jaga akan semakin berwibawa. Pada saatnya nanti industri pertahanan kita sudah mampu membuat jet tempur dan kapal selam.  Semua sedang dalam proses. Asa memang harus terus dijaga, mudah-mudahan.
****
Jagarin Pane /07 Agustus 2017


Wednesday, August 2, 2017

Berdatangan Lagi



Sejumlah alutsista baru berdatangan lagi. Kali ini belasan artileri swagerak M109 dari Belgia bersama kendaraan peluncur rudal Mistral dan kendaraan peluncur roket RHan datang di Tanjung Priok Jakarta akhir pekan lalu. Alhamdulillah.




Datang Pertengahan Bulan Ini


Kapal selam baru milik Indonesia diberangkatkan besok tanggal 2 Agustus 2017. KRI Nagapasa 403 berangkat dari pabrikannya di Korsel setelah mengalami penundaan selama 4 bulan untuk memodifikasi beberapa perangkat sensitif. Indonesia memesan 3 kapal selam jenis Changbogo dari Korsel dengan model transfer teknologi.  Dua kapal selam dibuat di Korsel dan yang satu lagi di Indonesia. Alhamdulillah.

Tawaran Menggiurkan


Baru saja kita menyelesaikan proses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang sangat detterens itu, datang lagi penawaran jet tempur F16 Viper blok 72 dari AS. Indonesia sudah memiliki 33 jet tempur F16 dari blok 15Ocu sebanyak 10 unit dan blok 52Id sebanyak 23 unit. Tawaran ini sangat menggiurkan karena teknologi yang dibawa terkini banget termasuk kualitas radarnya.  Jika semua berjalan baik maka kombinasi 27 jet tempur Sukhoi ( 8 SU27, 8 SU30 dan 11 SU35) bersama 49 jet tempur F16 (10 Blok15, 33blok52Id dan 16 Blok72) tentu akan mampu mewibawakan teritori udara negeri ini. Insya Allah.

Monday, July 3, 2017

Lebih Baik Melihat Kedalam

Ajakan Presiden Filipina Rodrigo Duterte agar militer Indonesia ikut andil memerangi militan ISIS di Filipina Selatan merupakan sebuah kehormatan namun harus disikapi secara bijaksana. Duterte mengajak Indonesia tentu dengan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah kemampuan militer Indonesia melakukan perang gerilya, anti gerilya dan pertempuran jarak dekat yang dikenal dengan perang kota.

Hampir sebulan ini berbagai kegiatan patroli ketat dilakukan TNI di sepanjang garis perbatasan dengan Filipina. Setidaknya ada 12-15 KRI berbagai jenis dioperasionalkan bersama dengan pesawat pengintai TNI AU baik intai taktis maupun intai strategis, termasuk juga pengerahan jet tempur Sukhoi ke Tarakan dan Manado. Bahkan 2 kapal selam KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 kita dikerahkan ke perbatasan wilayah panas itu bersama kapal perang jenis intelijen bawah air KRI Spica 934 yang punya alat deteksi canggih bawah air.

Di perbatasan pulau Sebatik, Nunukan, Bunyu, Tarakan disiagakan satuan-satuan tempur dan intelijen TNI AD untuk memastikan tidak ada rembesan militan dan senjata mautnya masuk ke wilayah NKRI. Sangat pantas kita waspada dengan kondisi di Marawi dan Mindanao, karena ternyata militan Maute yang berafiiasi dengan ISIS mampu melakukan pertempuran jarak dekat dan belum bisa ditaklukkan sampai saat ini.

Yang menarik adalah pengerahan kekuatan itu justru mampu melipagandakan kekuatan jaga teritori Ambalat karena wilayahnya memang berdekatan. Sambil menyelam minum air atau sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.  Meski Malaysia tidak ngotot lagi menghadirkan kapal perangnya, TNI selalu siap siaga menjaga Ambalat sepanjang tahun. Ini yang disebut menjaga gengsi berteritori secara milter, dan itu perlu meski di tataran diplomatik belum selesai perkaranya.
Pesawat intai strategis TNI AU ikut dikerahkan
Militer Indonesia sangat berpengalaman dengan model “perkelahian” yang dilakukan militan dan separatis. Selama konflik dengan GAM di Aceh, TNI mampu menyekat dan melakukan serangan balasan yang mematikan sehingga tidak sampai terjadi pertempuran skala besar sebagaimana yang terjadi di Marawi. Demikian juga selama operasi militer di Timor Timur dulu, setelah melakukan serangan pendudukan, yang terjadi kemudian hanya pertarungan skala kecil, tidak head to head sebagaimana di Marawi.

Ajakan Duterte harus benar-benar disikapi dengan bijaksana. Jangan sampai kita terjebak dalam perang berlarut di negeri orang. Selama ini pengiriman pasukan TNI adalah dalam rangka peace keeping bukan untuk kombatan. Sementara bisul di Mindanao itu sudah berlangsung lama mulai dari MNLF, MILF sampai Abu Sayyaf yang bersinergi dengan Maute. Persoalan internal mereka di seputar keinginan melepaskan diri, dan itu sudah dipenuhi dengan otonomi khusus dari Pemerintah Filipina dan MNLF.  Tapi kemudian muncul lagi MILF, Abu Sayyaf dan Maute.

Dalam pandangan kita lebih baik kita konsentrasi kedalam dengan memperbesar mata dan telinga intelijen kita.  Komando teritorial yang ada seperti Koramil dan Kodim tentu harus diberdayakan bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk mendeteksi dini bau-bau Maute dan bau-bau ISIS yang tidak sedap yang mungkin merembes dan membocori suasana damai di negeri kita. Sel-sel ISIS di negeri ini juga ada di beberapa tempat dan sudah melakukan serangan berbahaya ke aparat kepolisian.

Mata dan telinga intelijen adalah kunci untuk meredam dan mengeliminasi pergerakan teroris dan separatis. Kelengahan intelijen bisa mengakibatkan terjadinya serangan teroris secara masif sebagaimana yang terjadi di Marawi. Beruntunglah kita masih mempunyai komando teritorial di daerah seperti Babinsa, Koramil, Kodim, Korem yang beberapa waktu lalu digugat eksistensinya, dan sekarang ternyata berguna.

Sel-sel Babinsa, Koramil, Kodim yang diterjunkan ke nadi-nadi kehidupan, bergerak bersama roda kehidupan masyarakat yang dinamis di negeri ini adalah metode yang paling afdhol untuk deteksi dini adanya sel-sel asing yang berwajah “amarah”.  Apalagi jika pergerakan mata dan telinga di garis depan ini disinergikan dengan silaturrahim yang terus menerus dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat termasuk MUI, ormas keagamaan, diniscayakan mampu mementalkan pergerakan sel-sel asing yang ingin merusak keharmonisan dan kedamaian.

Jadi kedalam saja kita berkonsentrasi, lebih baik melihat kedalam membenahi kelincahan gerak mata dan telinga kita.  Jangan dibiarkan matanya rabun dan telinganya budeg.  Ongkos operasionalnya dibaguskan, perlengkapan mata dan telinganya diperkuat. Kalau di Natuna kita perkuat infrastruktur militer untuk mengantisipasi ancaman berlabel negara, maka untuk antisipasi ancaman teroris dan militan perkuat basis teritorial dan intelijen daerah.  Kita meyakini TNI bisa melakukan itu.
****
Jagarin Pane / 3 Juli 2017


Sunday, June 11, 2017

Menanti Alutsista Strategis

Ketika TNI mengerahkan dua kapal selamnya ke perairan yang berbatasan dengan Filipina untuk melakukan blokade pagar betis terhadap gerilyawan Marawi, maka itulah kemampuan maksimal yang dimiliki karena memang hanya punya dua kapal selam. Kapal selam kita hanya dua selama kurang lebih 40 tahun padahal negeri ini dua pertiga adalah perairan.

Sebentar lagi kekuatan kapal selam kita bertambah. Ada dua kapal selam baru yang mau datang dari pabrikannya di Korsel. Kedatangan dua kapal selam baru itu sedikit mengurangi sesak nafas akan kurangnya alutsista pemukul strategis bawah air.  Dua kapal selam jelas tidak punya efek gentar jika yang dihadapi adalah perairan kepulauan negeri ini yang banyak dilintasi kapal-kapal asing termasuk juga kapal selam asing.

Semua kalangan baik pemikir strategis Hankam, Mabes TNI, Akademisi, Pemerhati Pertahanan selama puluhan tahun sepakat bahwa alutsista strategis bawah air kita harus berada di kisaran angka 10-12 kapal selam sebagai ukuran standar untuk mengawal perairan NKRI. Tetapi selama puluhan tahun itu pula angkanya tidak pernah bergerak dari jumlah rakaat sholat rawatib.

KRI 402 Nanggala, jam operasinya tinggi
Selama pemerintahan SBY, delapan tahun berwacana terus agar kita bisa menambah jumlah kapal selam. Cari format sana sini. Kilo sempat digadang-gadang dan mampu membuat sejumlah orang mabuk kepayang karena akan mendapat kapal selam jenis Kilo, jumlahnya tidak tanggung-tanggung 12 biji dan sempat diumumkan Menhan waktu itu.

Akhirnya di tikungan terakhir Changbogo menyalip semuanya termasuk U214. Changbogo dipilih karena pola transfer teknologinya sebagaimana yang diinginkan pemerintahan SBY.  Proyek tiga kapal selam ini, dua diantaranya dibuat di Korsel dan satu di PAL Surabaya.  Dua kapal selam segera tiba dan satu kapal selam lagi sedang dibuat di PAL Surabaya. 

Begitu ketatnya “cara membuat kapal selam” di PAL Surabaya sampai-sampai mengambil fotonya saja tidak diperkenankan dan seluruh karyawan steril dan menjaga rahasia. Kita hormati itu karena ini adalah alutsista strategis teknologi tinggi yang teknologinya harus kita kuasai. Tentu harapannya adalah setelah kita menguasainya maka pembuatan kapal selam selanjutnya istiqomah di PAL. Istiqomah supaya fathonah, konsisten agar ilmunya dapat.

Banyak yang sedang dilakukan pemerintah untuk mengembangkuatkan tentaranya. Kita sedang menanti kedatangan 5 jet tempur F16 blok 52 tahun ini. Tahun berikutnya kita mendapatkan 10 jet tempur Sukhoi SU35. Proyek pengadaan kapal perang jenis Fregat dengan Denmark menemukan jalan terang sementara galangan kapal dalam negeri sedang mengerjakan pembuatan 2 kapal cepat rudal (KCR), 8 kapal patroli cepat, 6 LST (Landing Ship Tank) 1 Landing Plattform Dock (LPD) dan 1 kapal selam.
Latihan PPRC di Natuna
Pembangunan pangkalan militer Natuna sedang giat dilakukan termasuk pembangunan bunker kapal selam, bunker jet tempur, penempatan UAV, radar dan pertambahan pasukan. Berbagai serial latihan tempur dilakukan di Natuna. Sementara Morotai juga akan dibangun menjadi salah satu pangkalan militer setelah Natuna selesai. Dan pangkalan kapal selam di Teluk Palu sudah operasional.

Yang menarik adalah ketika infrastruktur yang dibangun diperlukan, sudah tersedia.  Misalnya pangkalan kapal selam di Teluk Palu dan Bandara Miangas di Sulut.  Dua-duanya baru selesai. Saat-saat seperti sekarang ini ketika TNI melakukan penambahan kekuatan di perbatasan dengan Filipina infrastruktur di dua tempat itu sudah operasional. Sangat membantu banget, Alhamdulillah.

Dinamika punya perbatasan laut yang luas itu bisa dilihat dari beberapa titik panas. Tahun 2005 tiba-tiba saja Ambalat memanas dan membuat kita tersentak. Bagaimana tidak tersentak karena kita baru menyadari bahwa militer kita giginya kurang taring, begitu nyengir diketawain tetangga.  Nah setelah itu barulah dimulai program pembangunan militer secara besar-besaran yang hasilnya bisa kita lihat sekarang.

Ambalat tenang, muncul Natuna. Kali ini si Lidah Naga menggeliat menjulurkan lidahnya untuk menyatakan bahwa lidahnya sampai di perairan Natuna.  Meski si Naga menyatakan tidak mengklaim Natuna tapi secara militer kita mesti siap, maka dibangunlah pangkalan militer segala matra disana.

Nah sekarang selatan Filipina bergolak. Kali ini militan jihad berbaju ISIS mengamuk dan menggegerkan.  Ini bukan persoalan antar negara tetapi militan yang rembesannya bisa saja masuk tanah air. Maka TNI kerahkan pasukan dan sejumlah kapal perang terasuk dua kapal selam miliknya. Dari operasi intelijen militer ini baru terasa pentingnya jumlah alutsista pemukul bawah air diperbanyak secepat mungkin.

Pesan dari semua dinamika itu adalah percepat pengadaan alutsista strategis seperti kapal selam, kapal permukaan, jet tempur dan lain-lain. Karena di kemudian hari bisa saja terjadi ada empat titik panas sekaligus yang harus “dilayani” dengan metode militer.  Ketersediaan alutsista yang mencukupi baik dari sisi kuantitas dan kualitas mutlak ada di segala matra TNI.

Anggaran ditambah dan cermati jika ada yang mencoba mengutil. Dua kasus korupsi besar yang terkuak yang terkait dengan pengadaan alustsista bisa dijadikan muhasabah.  Mumpung kita ada di bulan penuh rahmah dan maghfiroh maka jadikan kasus korupsi itu sebagai madrasah ibrah. Yang jelas datangkanlah alutsista strategis dengan cara-cara yang amanah, istiqomah dan fathonah. Bukankah begitu ikhwah fillah.
****
Jagarin Pane / 11 Juni 2017

Tuesday, May 30, 2017

Drama Helikopter AW101 Di Garis Polisi

Sejak awal proses pembelian Helikopter Agusta Westland AW101 menyiratkan tanda tanya besar di khalayak. Ketika sudah ditolak Presiden Jokowi akhir tahun 2015 mestinya urusan pembelian Helikopter canggih mewah itu selesai, alias tidak jadi. Presiden tidak memerlukan Helikopter VVIP Kepresidenan karena Helikopter eksisting Super Puma yang ada masih bagus dan siap operasional.

Tapi ternyata dalam perkembangannya ada arogansi dan pemaksaan kehendak. Serangan awalnya adalah menjelek-jelekkan PT DI.  Syahwat yang menggebu untuk membeli Helikopter merk lain dibahasakan dengan audio dan visual yang menggebu di media.  PT DI dijadikan kambing hitam karena lambatnya proses produksi atau tak berkeinginan ada merek lain selain serial Super Puma. Maksudnya untuk penggiringan opini supaya AW101 bisa gol.

Kita bisa saksikan di episode itu seorang pengamat militer di beberapa media dengan bahasa yang vulgar menjatuhkan wibawa industri kerdigantaraan dalam negeri.  PT DI ditelanjangi sebagai sebuah BUMN “karatan” alias tak mampu buat Helikopter.  Bisanya hanya merakit dan mengecat, bisanya hanya memonopoli merek dan hanya bisa buat CN235. Tapi dia lupa bahwa saat ini PT DI sedang bekerjasama pembuatan jet tempur KFX/IFX dengan Korsel. Publik pun “terkesima” dengan penggiringan opini ini.
Helikopter TNI AD di Natuna
Ketika korupsi bernilai 220 Milyar dari harga Helikopter yang 738 Milyar terbuka maka benarlah asumsi khalayak selama ini bahwa memang terjadi mark up harga dalam pembelian Helikopter buatan Inggris dan Italia itu. Sekedar membandingkan harga Helikopter Caracal EC (Eurocopter) 725 alias Super Cougar yang dirakit PT DI bernilai US$ 35 juta sementara si AW101 dihargai US$55 juta. Ketika kasus ini terbongkar mana ya suara si pengamat militer tadi.

Drama tak elok ini sepertinya mengikuti jejak India yang tahun 2010 memesan 12 unit Helikopter AW101. India sudah menerima 3 unit Helikpoter, sisanya masih 9 unit dan masih dirakit. Kemudian terjadilah penangkapan Giuseppe Orsi CEO Finmeccanica, perusahaan induk Agusta Westland di Italia. Efek domino dari penangkapan itu ternyata KSAU India termasuk salah satu dari banyaknya politikus dan pejabat militer India yang terkena suap dari pembelian Helikopter senilai 7 trilyun itu. Ada indikasi kuat bahwa Helikopter yang dibeli Indonesia itu adalah paket Helikopter yang bermasalah di India.

Bisa jadi cerita korupsi jamaah di India itu diikuti Indonesia sebab korupsi 220 Milyar itu secara logika tidaklah mungkin hanya melibatkan 3 orang tersangka militer aktif Indonesia termasuk jendral bintang satu. Tetapi setidaknya dalam kondisi saat ini ada yang merasa berdebar-debar ketika pintu rumahnya diketuk, jangan-jangan ada yang menjemput atau bertanya. Kita tunggu saja perkembangan kasus korupsi alutsista terbesar ini yang “mengungguli” nilai korupsi pengadaan Jet F16 dan Helikopter Apache bernilai  US$ 12,4 juta.

Dramanya adalah baru pertama kali terjadi pengadaan helikopter militer diberi garis polisi di pangkalan militer bergengsi. Kedatangan si AW101 seakan tak ada yang bisa menghadang dan dengan gagah memasuki Halim AFB. Atau boleh jadi kasus ini mengikuti doktrin TNI,masuk dulu baru digebuk. Heli dibiarkan masuk lalu diberi garis polisi, dikasih kesempatan terbang untuk uji kelayakan lalu masuk garasi dan kembali diberi garis polisi. Nah sekarang orang-orang yang terlibat sudah digebuk dan sangat mungkin akan bertambah jumlahnya.
Helikopter Apache TNI AD
Anggaran pertahanan Indonesia menjadi yang terbesar mulai tahun depan. Madu manis ini tentu menarik perhatian para semut-semut makelar, produsen, user militer, pengambil kebijakan atau bahkan pihak-pihak yang mengaku dekat dengan kekuasaan. Inilah ujian Kementerian Pertahanan dan TNI yang diamanahkan mengemban modernisasi militer Indonesia secara besar-besaran.

Dua kasus korupsi bernilai ratusan milyar ini hendaknya dijadikan semangat untuk berbenah dan bersih-bersih di tubuh militer kita. Pemerintah mengucurkan dana ratusan trilyun untuk menggagahkan hulubalang republik. Lihatlah Natuna sekarang, demam terus, lihatlah selatan Kupang ada pergerakan milter teknologi tinggi, lihatlah Ambalat dan perbatasan Filipina ada klaim teritori dan militan ISIS. Kita perlu militer yang kuat secara kuantitas dan kuat secara teknologi.

Anggaran besar itu digelontorkan agar pertahanan teritori kita kuat dan berdaya tahan tinggi. Maka bangunlah militer dengan semangat membangun kekuatan bangsaku, bukan bank saku mu yang dikuattebalkan karena ingin mencicipi manisnya madu anggaran alutsista.  Bulan puasa ini saatnya menjernihkan pola sikap untuk tidak rakus karena puasa mengajarkan kepada kita tidak rakus, tidak tamak. Itu saja harapan kita Jendral, kata Nagabonar.
****

Jagarin Pane / 30 Mei 2017

Tuesday, May 16, 2017

Natuna Again


Belum setengah tahun diadakan unjuk kekuatan dan latihan militer skala besar di Natuna yang dihadiri oleh Presiden Jokowi akhir tahun lalu, militer Indonesia kembali menggelar latihan gabungan respon cepat yang dikenal dengan sebutan PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat). Sepanjang minggu ini yang berpuncak di Jumat Wage tanggal 19 Mei 2017 gelar pasukan reaksi cepat dipertunjukkan di Tanjung Datuk Natuna di hadapan Presiden Jokowi dan seluruh Gubernur di Indonesia.

Mengapa di Natuna lagi, karena ini adalah pertaruhan gengsi berteritori yang paling menentukan.  Sebab di seberang utara sana geliat lidah naga semakin menjulur dan sering memercikkan percikan gelombang laut yang menerpa ke segala arah. Penampilan unjuk kekuatan militer Indonesia di pangkalan militer Natuna yang berulang kali tentu menarik untuk dicermati.

Boyongan alutsista dari pulau Jawa dua minggu terakhir ini begitu terasa. Antara lain MLRS Astross II Mk6, Tank Leopard, Tank Marder, Artileri Caesar Nexter, Artileri KH179, UAV, Radar Mobile, sejumlah KRI striking force, KRI Logistik, Tank Amfibi, RM Grad / Vampire, Hercules, Jet Tempur, Helikopter dan sebagainya. Lanud strategis yang mendukung adalah Halim Jakarta, Pekanbaru, Pontianak, Batam dan Natuna bersama 6000 pasukan TNI.
Jet tempur TNI AU, belum memadai jumlahnya
Natuna adalah pagar teritori yang patut diwaspadai karena lalulintas militer di Laut Cina Selatan begitu tinggi tensinya. Cina sudah membangun pangkalan militernya di kawasan itu dan seakan tidak terbendung lagi untuk menancapkan hegemoninya di perairan kaya energi fosil itu. Meski dengan kepulauan Natuna tidak mengklaim tapi Cina dengan tegas menyatakan bahwa perairan ZEE Natuna bersinggungan dengan klaim teritorinya.

Nah kita harus cepat mengantisipasinya. Tidak bisa lagi ada statemen kita tak punya musuh, semuanya kawan dan kita tidak cari musuh. Ya semua negara di kawasan ini kawan kita, sahabat kita tetapi sebagai bagian dari antisipasi untuk pertahanan teritori adalah sangat wajar kita perkuat militer kita. Jangan terlambat Om, apalagi terlambat mikir.

Jenderal Gatot berkali-kali sudah ngomong bahwa pertempuran masa depan adalah perebutan sumber daya alam. Jadi bukan pertempuran merebut pulau Jawa tetapi wilayah yang kaya sumber energi, Natuna salah satunya. Maka perkuatlah angkatan laut dan udara, maka tambahlah alutsista mobile seperti jet tempur, kapal perang, kapal selam dan peluru kendali jarak sedang. Jangan kebanyakan mikir sendiri, bukankah anggaran sudah disediakan secara terang benderang dan tahun depan menjadi anggaran terbesar diantara seluruh kementerian.
Armada KRI, perlu diperbanyak striking forcenya
Jet tempur Sukhoi SU35 yang dipesan itu mestinya tidak sekedar 8-10 saja, tapi kita butuh lebih dari itu misalnya 24 unit. Jet tempur F16 juga harus ditambah lagi meski kita sudah memiliki 33 unit. Juga kapal perang striking force seperti PKR, Fregat, kapal selam harus terus ditambah. Ruang udara dan perairan kita cukup luas, jadi kita butuh alat pemukul di udara dan laut.  Kita butuh angkatan laut dan udara yang kuat.

Unjuk kekuatan melalui latihan militer sesungguhnya menggambarkan kekuatan kuantitas dan kualitas alutsista yang dimiliki. Kita boleh saja mengklaim bahwa pertunjukan demo kehebatan militer kita di Natuna bernilai spektakuler tetapi menurut sudut pandang Vietnam atau Singapura boleh jadi sesuatu yang biasa-biasa saja atau menurut Cina bisa jadi belum menyengat tuh alias gak nendang.

Padahal kita saat ini sedang membangun pangkalan militer di Natuna berkarakter sarang lebah.  Bisa menyengat sebelum bala bantuan datang dari Jawa. Jika pangkalan militer itu jadi apakah kemudian ketersediaan alutsista untuk ditempatkan di pulau itu memadai. Itu pertanyaan besarnya. Oleh sebab itu isian alutsista pertambahannya harus dipercepat, butuh gerak cepat.

Jelaskan pada Presiden ketika berkunjung ke Natuna nanti, kita masih membutuhkan sejumlah kapal perang dan jet tempur, kita butuh rudal jarak sedang, kita masih perlu pertambahan alutsista secara besar-besaran dan mendesak. Natuna hanya satu titik teritori sementara banyak titik teritori yang perlu diawasi ketat. Butuh persebaran alutsista mobile, jadi butuh pertambahan alutsista, itu logikanya.

Seluruh gubernur yang ikut menyaksikan unjuk kerja PPRC di Natuna merupakan momentum sosialisasi bahwa perkuatan militer mutlak diperlukan.  Jangan hanya menjelaskan kehebatan jalannya latihan tempur, lalu tepuk tangan.  Tetapi lebih dari itu bahwa penambahan alutsista di seluruh pelosok tanah air bukanlah pemborosan anggaran tetapi bagian dari investasi ber NKRI, berteritori, berpertahanan dan bereksistensi. NKRI adalah eksistensi yang didalamnya memerlukan payung perlindungan militer sepanjang waktu dan sepanjang tempat.

Jadikanlah momen pertemuan elemen pemerintahan sipil dan militer di Natuna sebagai kebulatan tekad untuk mempercepat pertambahan alutsista berteknologi tinggi dan pertambahan anggaran pertahanan secara signifikan. Natuna adalah contoh dimana gengsi berteritori NKRI sedang dipertaruhkan, diuji dan ditampilkan. Maka tampilan alutsista pemukulnya yang ada disana haruslah yang berkelas, setara, gahar dan membanggakan serta menetap di pulau itu.
 ****
Jagarin Pane / 16 Mei 2017

Sunday, April 23, 2017

Sukhoi SU35 Menjelang Datang

Kabar-kabar baik terus mendatangi kesatrian hulubalang republik.  Ya karena negeri ini sedang giat membangunkuatkan militernya agar mampu “bersaing” dengan kekuatan militer di kawasan ini. Indonesia berada di lokasi strategis dimana konflik masa depan dunia ada di kawasan Laut Cina Selatan, sebuah kawasan yang punya gizi kandungan sumber daya energi tak terbarukan sekaligus jalur utama perekonomian bernilai trilyunan dollar.

Kebijakan pemerintah selama tujuh tahun terakhir ini walaupun berganti rezim tetap istiqomah untuk menguatkan tentaranya, adalah satu langkah cerdas yang harus diapresiasi. Sebab kalau pembiaran berlarut tak memperhatikan penguatan militer maka wajah republik ini akan menjadi bulan-bulanan negara lain soal pelecehan teritori. Ingat mencuatnya kasus Ambalat tahun 2005 karena negara lain menganggap militer kita tak punya taring. Dan memang pada saat itu kita tak punya taring.
Jet tempur Sukhoi SU30 TNI AU
Pembangunan kekuatan milter kita berlangsung meriah dan jelas. Saat ini kita sedang membangun 7 kapal perang jenis LST, semuanya buatan dalam negeri. Kita sedang menunggu kedatangan kapal selam baru dari Korsel, kita juga sedang membuat kapal cepat rudal (KCR 60m) buatan dalam negeri, membangun belasan kapal patroli cepat di berbagai galangan kapal nasional.  Ini untuk TNI AL, untuk BAKAMLA juga sedang mengembangkuatkan armada lautnya dengan membangun sedikitnya 20 kapal Coast Guard dalam lima tahun ke depan.

Berbagai alutsista mengisi kesatrian hulubalang negeri. Kita menunggu kedatangan 8 helikopter Apache, kita sedang menunggu kedatangan 11 helikopter anti kapal selam.  Berbagai alutsista pesanan sudah dan sedang dalam pengiriman. Seperti helikopter Fennec, radar militer, artileri Caesar Nexter batch dua, Astross batch dua, berbagai jenis peluru kendali mulai dari Javelin, Nlaw, C705, C803, Exocet blok 3, Hellfire, dan lain-lain (capek nyebut satu persatu karena banyaknya).

Natuna juga kita jadikan pangkalan militer berkarakter lebah.  Lu ganggu gua sengat, itu karakternya. Pembangunan bunker jet tempur, pangkalan kapal selam, penempatan radar tiga dimensi, penempatan radar weibel, penempatan satuan peluru kendali jarak sedang, UAV dan penempatan sedikitnya 2000 tentara dari berbagai kesatuan tempur. Semua dibangun dengan konsep interoperability real time antar kesatuan dengan dukungan pangkalan udara strategis Supadio, Hang Nadim dan Halim.

Yang paling menggembirakan dengan semua kabar-kabar baik itu adalah kontrak seri pertama pembelian sedikitnya 10 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia lengkap dengan persenjataannya. Jet tempur Sukhoi SU35 adalah sebuah pencapaian yang diidamkan tentara langit Indonesia dan akan menambah perbendaharaan kepemilikan Sukhoi Family menjadi 26 unit. Secara kuantitas pembelian 10 unit SU35 tentu belum memadai tetapi secara penguasaan teknologi tentu menggembirakan. Dan kita berharap paling tidak ada 1 skadron SU35 ikut mengawal dirgantara NKRI.

Karakter geografis Indonesia mengharuskan negeri ini punya angkatan laut dan udara yang lebih kuat dari angkatan darat.  Australia negeri benua punya angkatan udara dan laut yang benar-benar bergigi sementara angkatan daratnya tidak sekuat dua matra itu. Sementara selama berpuluh tahun dibawah sebuah rezim otoriter kita hanya asyik memperkuat matra darat. Padahal ketika Trikora dan Dwikora Indonesia punya kekuatan milter paling hebat dan tak tertandingi di kawasan ini.
Jet tempur F16 TNI AU
Kedatangan Flanker E, julukan NATO untuk si SU35 setidaknya akan memberikan menu baru bagi kegiatan operasional TNI AU. Menu itu tentu menggairahkan.  Kita sudah punya 16 jet tempur Sukhoi Su27/30, dan 34 jet tempur F16. Kita sudah memiliki 36 jet tempur Hawk, kita sedang meningkatkan kemampuan tempur 15 jet latih T50 golden eagle dengan memasang radar dan rudal. Kita juga punya 15 jet coin (counter insurgency) super tucano. Sukhoi SU35 adalah puncak kegairahan menu operasional TNI AU dan sekaligus mempertajam taring tentara langit Indonesia.

Kepemilikan jet tempur superioritas udara Sukhoi SU35 bukan untuk gagah-gagahan tetapi sebuah kepantasan untuk menjadi payung pertahanan teritori udara. Apalagi kiri kanan muka belakang negeri ini alutsistanya juga pada seram semua. Australia punya F35, Singapura sebentar lagi punya F35, di seberang Natuna apalagi, ada naga yang sedang menggeliat dan sewaktu-waktu menyemburkan api. Jadi kita harus siaga, waspada. Salah satu caranya perkuat militer, perkuat alutsistanya dan perkuat kembali karakter kebangsaaan kita sebagai nasionalis patriotik.

Esensi penguatan militer seperti mendatangkan sejumlah jet tempur galak Sukhoi SU35 adalah untuk memastikan kekuatan kepercayaan diri dalam menjaga kewibawaan teritori NKRI.  Negara yang memiliki militer dan persenjataan yang kuat tentu menjadi kekuatan bargaining dalam pola diplomasi antar negara. Indonesia perekonomiannya tumbuh bagus, sedang giat membangun infrastruktur, masuk kelompok G20, sumber daya alamnya melimpah, sumber daya manusianya juga melimpah.  Sangat wajar jika semua kehebatan itu dipayungi oleh sebuah kekuatan militer yang kuat. Kuat di karakter nasionalis patriotik dan kuat di teknologi alutsistanya.
****

Jagarin Pane / 22 April 2017

Saturday, April 8, 2017

Menguatkan Tentara Langit Nusantara

Milad tentara langit kita dilangsungkan meriah. Tanggal 9 April ini seratusan pesawat militer angkatan udara memeriahkan langit biru Halim AFB dan Jakarta untuk mempertontonkan kehebatan manuver berbagai alutsista mahal. Angkatan udara identik dengan mahalnya asset karena wilayah ini adalah wilayah teknologi tinggi, keberanian dan marwah.  Maka sajian berbagai manuver utamanya jet tempur akan memberikan suasana gemuruh yang membanggakan harga diri berbangsa meski bangsa ini sedang sakit korupsi berjamaah.

Puluhan jet tempur berbagai skadron unjuk kebolehan, misalnya simulasi pertempuran jarak dekat antara F16 dan Sukhoi. Ini adalah dua asset penting TNI AU sekaligus menunjukkan inilah wajah tentara langit nusantara. Semua alutsista tentara langit diperlihatkan kepada khalayak, mulai dari Grob, Kt1 Wong Bee, Collibri, Super Puma, Cougar, CN 235, CN 295, Hercules, Super Tucano, Golden Eagle, Hawk, F16, Sukhoi, Oerlikon Skyshield dan lain-lain. Makna dari pertunjukan Milad ini adalah untuk memperlihatkan sampai di batas inilah kemampuan kekuatan pengawal dirgantara republik.
Sukhoi Indonesia, kekuatan paling bertaring
Pertanyaannya, sudah kuatkah tentara langit kita. Jawabnya belum. Wilayah udara republik ini sama dengan Eropa namun jumlah skadron tempurnya masih dibawah standar kebutuhan. Tentara langit kita masih butuh penguatan dan pertambahan skadron tempur, meski saat ini sudah memiliki 8 skadron tempur jumlah itu masih jauh dari kekuatan ideal yang dibutuhkan. Saat ini setidaknya ada 3 hotspot yang harus diwaspadai duapuluh empat jam penuh yaitu Natuna, Ambalat dan Kupang. Lho kok Kupang dimasukkan titik panas, ya karena Darwin ke depan ini akan menjadi pusat pergerakan pesawat militer AS dan Australia untuk menghadapi Cina di Laut Cina Selatan (LCS).

Ada pangkalan udara strategis di Sumatera yang tidak digunakan untuk penerbangan komersial, Polonia atau Lanud Soewondo. Mestinya TNI AU mengoptimalkan penggunaan pangkalan angkatan udara ini untuk berbagai kegiatan. Atau menjadikannya sebagai salah satu home base skadron tempur, atau skadron intai atau apalah. Lanud Soewondo jauh lebih bagus dari Pekanbaru. Menumpuk dua skadron tempur Hawk dan F16 di Pekanbaru yang juga sebagai bandara komersial tentu tidak nyaman secara operasional.

Bertele-telenya pengadaan jet tempur pengganti F5E Tiger memberikan kesan pada khalayak bahwa metode dan model pengadaan alutsista TNI AU kurang memberikan nilai cerah. Skadron F5E yang dinonaktifkan menandakan proses regenerasi kurang berwibawa. Bukan karena kita kurang duit, wong anggarannya sudah tersedia sejak tahun 2014, tapi karena cara pandang yang kurang memandang horizon sebagai titik pandang.  Mengapa bisa begitu karena kita terlalu banyak “diskusi” dengan segudang persyaratan. Padahal yang mau dibeli tidak cukup satu skadron.
 
Yupiter dengan Black Eagle, keakraban sejati
Kalau dulu kita terhambat mengembangkan kekuatan tentara langit karena anggaran terbatas tetapi ternyata sekarang ketika anggaran dikucurkan deras, pertambahan kekuatan tidak selancar kucuran anggarannya. Belum lagi soal selera, kita beli sesuai kebutuhan atau sesuai keinginan sih.  Kok sepertinya khalayak membaca suasana ini tidak harmonis. Kemhan bilang mau beli pesawat angkut berat A400M, TNI AU nyatanya belum tahu padahal dia user. Atau soal Helikopter AW101 yang sempat heboh kok bisa begitu ya. Antara satu statemen dengan statemen lainnya tidak saling memberikan aura sinergi.

Soal pertambahan kekuatan, sangat layak jika Kupang diberikan jatah minimal 6 jet tempur menginap permanen.  Demikian juga Biak yang sudah tersedia infrastruktur termasuk Paskhas mestinya tersedia dengan jumlah yang sama dengan Kupang.  Apalagi Natuna dan Tarakan yang mudah demam berkepanjangan harus tersedia jet-jet tempur yang bergigi.  Kehadiran sejumlah jet tempur di wilayah perbatasan akan memberikan marwah dan wibawa teritori sekaligus memperpendek waktu sergap jika ada pesawat asing nyelonong.

Kita berharap kekuatan tambahan untuk TNI AU bisa tersedia tanpa proses yang bertele-tele. Kita masih butuh radar untuk menutupi Bengkulu, Singkawang, NTB dan Morotai. Kita juga butuh jet-jet tempur berteknologi tinggi.  Ingat kiri kanan kita sudah mulai berdatangan jet tempur “Jin” F35. Ingat di selatan kita sudah ada penempatan jet tempur F22 Raptor. Ingat di LCS sudah tersedia pangkalan militer skala besar milik Cina yang sangat dekat dengan Natuna.

Sementara kita masih berfikir konvensional, bersikap seolah tak ada musuh, berlagak seakan semuanya biasa, tidak ada apa-apa. Ingat pemicu konflik masa depan adalah perebutan sumber daya alam yang sebagian besar ada di laut. Bahasa jelasnya gak ada negara lain yang berminat sama pulau Jawa. Tapi yang mengincar Natuna, Ambalat, Arafuru dan Papua sudah bisa dipetakan secara intelijen militer.

Maka sebelum semuanya terlambat, perkuatlah militer kita, perkuatlah angkatan udara dan laut sebagai pagar kekuatan terdepan.  Negara kepulauan ini mutlak harus punya kekuatan gahar di udara dan laut, tidak bisa tidak. Pertambahan skadron tempur dipercepat waktu prosesnya sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan termasuk keinginan makelar.  Anggaran secara bertahap diperbesar terus dan Kemhan menjadi pemegang APBN terbesar dan bahkan diprediksi mulai tahun 2019 anggaran pertahanan RI menjadi yang terbesar di ASEAN.

Tunjukkan kinerja penggunaan anggaran secara profesional, bangun komunikasi dan koordinasi serta sinergi dengan user matra angkatan. Khalayak menginginkan tentara republiknya mempunyai kemampuan tempur yang setara dengan kawasan ini. Postur kekuatan spartan yang dimiliki prajurit TNI selayaknya diimbangi dengan perkuatan alutsista yang berteknologi tinggi. Dengan itu maka marwah teritori NKRI akan menjadi terangkat dan memberikan rasa segan bagi siapa saja yang mencoba melecehkannya.

Happy milad tentara langit nusantara. Jujur saja saat ini kalian belumlah sekuat gemuruh yang dipertontonkan itu. Kalian harus kuat, kalian harus bertaring, kalian harus bernyali. Jika kalian kuat dan gahar maka kami akan merasa bangga punya tentara langit. Kami bangga punya pengawal republik yang gagah dan gahar, tak peduli apakah bangsa ini sedang sakit korupsi berjamaah hanya karena sebuah sebab merubah kertas menjadi plastik.

****
Jagarin Pane / 08 April 2017