Friday, April 22, 2016

Menyongsong Rencana Besar Itu

Sepanjang dua pekan ini ada beberapa berita yang mengejutkan sekaligus juga membuat kita heran. Berita yang mengejutkan itu adalah hendak menjadikan Natuna sebagai pangkalan militer segala matra, kemudian menjadikan Morotai sebagai basis militer berskala besar. Tak kalah menarik juga menjadikan Tanjung Pinang sebagai pangkalan skuadron. Disela-sela berita rencana besar itu kita juga dibuat heran karena ternyata insiden Natuna dengan kapal Cina baru-baru ini sudah dianggap selesai alias diselesaikan secara “adat”.

Bak gayung bersambut neh karena tak lama kemudian ada pernyataan Menko Polhukam Luhut Panjaitan yang memberi sinyal bahwa anggaran militer Indonesia yang memakai formula PDB (Produk Domestik Bruto) akan sampai di angka nominal 250 trilyun per tahun mulai 3 tahun ke depan. Artinya bila angka itu tercapai ada kenaikan yang sangat tajam lebih dari 100%. Angka ini juga mampu menggeser kepemimpinan anggaran pertahanan di ASEAN yang selama ini dipegang Singapura.
F16 di Halim AFB, kita perlu banyak jet tempur ini
Sesungguhnya saat ini kita sedang berpacu dengan cuaca kawasan yang semakin tak menentu, sulit diprediksi.  Pepatahnya dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari, pakai petir lagi. Ini mengkiaskan cuaca Natuna yang dikira tak bergelora gelombangnya “sampai petang nanti” ternyata diguyur insiden gelombang panas tak terduga  yang mencederai kehormatan teritori NKRI.

Jakarta kaget, marah lalu bersikap tahu diri.  Kaget karena segitu-gitunya Cina merangsek perairan Natuna tanpa merasa malu, padahal dalam hal kerjasama ekonomi sedang mesra-mesranya. Marah, karena harga diri teritori diusik di siang bolong, dan jadi berita internasional. Lalu akhirnya tahu diri dengan segala pertimbangan diplomatik, ekonomi dan militer, tak lama kemudian case closed. Penonton kecewa.

Itulah cuaca kita hari ini. Tetapi dalam bahasa militer insiden itu menjadi mata pelajaran penting bahwa hanya dengan memperkuat otot militer maka kewibawaan teritori bisa ditegakkan. Tidak bisa tidak. Maka memperkuat Natuna tidak bisa lagi dengan program jalan santai, jalan biasa tetapi harus dikebut menjadi jalan cepat atau berlari secepatnya.  Infrastruktur militer harus dikerjakan dengan percepatan dan intensitas tinggi.

Sementara itu kita belum melihat percepatan di bidang penyediaan alat pukul yang dikenal dengan alutsista itu.  Mestinya tidak menjadi bertele-tele soal penandatanganan kontrak pembelian jet tempur penggentar Sukhoi SU35 atau jadwal kedatangan F16 blok 52 Id yang terkesan disepelekan produsen. Kita membutuhkan segera armada F16 itu untuk kegiatan patroli udara saat ini. Bahkan kita masih butuh  F16 seri terbaru untuk mengawal kadaulatan teritori negeri ini.  Kita juga butuh jet tempur Sukhou SU35 tidak hanya delapan tetapi delapanbelas.
Kapal selam terbaru kita diluncurkan di Korsel
Infrastruktur militer kita sudah cukup memadai.  Lihat saja pangkalan udara strategis Medan, Tarakan, Biak, Kupang semua siap menampung jet tempur berbagai jenis tetapi harus diakui kuantitas jet tempur itu masih sangat kurang. Setidaknya kita butuh 3 skuadron F16 dan 2 skuadron Sukhoi untuk persebaran patroli dalam 3 tahun ke depan.  Itu hanya untuk patroli, kalau untuk disegani dan menghadapi kondisi darurat perlu dua kali lipatnya.

Oleh sebab itu rencana besar terhadap Natuna dan Morotai tentu kita sambut dengan semangat spartan. Tetapi tentu tidak hanya itu kan.  Kupang dan Biak juga prioritas untuk menjaga wilayah timur yang di selatannya banyak pergerakan pesawat tempur Australia dan AS. Lebih baik fokus dulu pada Natuna, Biak dan Kupang.  Cukupi kebutuhan jet tempur berkualitas di wilayah ini.

Angkatan Laut Indonesia menjadi garda terdepan untuk menjalankan misi ketahanan teritori.  Maka dengan anggaran yang mulai membesar tahun depan dan seterusnya kita meyakini akan ada pertambahan kapal perang permukaan dan kapal perang bawah air.  Pertambahan itu sangat relevan jika mengambil kelas destroyer atau fregat.  Maka proyek PKR 10514 sangat bagus dilanjutkan sampai mencapai bilangan nominal 20 unit.  Demikian juga dengan penambahan kapal selam, sangat dimungkinkan kita menambah kapal selam selain kelas Changbogo.

Rencana besar tentu harus ditopang dengan anggaran besar.  Angka 250 T yang dicapai mulai tahun 2019 memberikan harapan indah, harapan bangga, harapan jaya, dan harapan hebat. Tetapi bagi prajurit harapan-harapan tadi tentu akan menjadi harapan palsu jika kesejahteraan prajuritnya tidak ikut meningkat. Maka harapan kita peningkatan anggaran yang melonjak tajam itu ikut juga mendongkrak take home pay kesejahteraan prajurit yang telah dibaiat kontrak mati untuk NKRI.

Kita meyakini mulai tahun 2020 nanti akan kelihatan postur kehebatan militer kita.  Memang tidaklah mungkin bisa mengimbangi Cina tetapi setidaknya kita mampu membentak dan menyengat dia jika berani masuk Natuna.  Sebab kalau untuk perang terbuka resiko terburuknya bisa memicu perang keroyokan alias perang dunia III padahal di sisi lain kemajuan ekonomi, kesejahteraan dan teknologi ke depan sudah sangat luar biasa.  Apakah itu mau dihancurkan, pasti pihak sana berfikir dua kali untuk itu.  Tetapi kalau untuk menggertak, Cina paling suka itu.  Maka supaya kita tidak kalah gertak ya persiapkan natuna sehebat mungkin.

Menguatkan Natuna dan Morotai adalah bagian dari menguatkan beton teritori. Kita harus selalu waspada menghadapi gangguan cuaca ekstrim yang selalu mengancam. Maka cobalah ramuan penting untuk tolak angin dan tolak demam teritori dengan cara ini : taburkan belasan jet tempur, sebarkan puluhan kapal perang, luncurkan satu dua butir kapal selam.  Lalu perhatikan apa yang akan terjadi. Kalau masih juga demam berkepanjangan maka hubungi dokter secepatnya.  Dokter itu bisa bernama Jepang, AS dan Australia.
****
Jagarin Pane / 22 April 2016




Saturday, April 2, 2016

Mengelola Empat Titik Panas

Dinamika perjalanan bernegara di setiap negara mengharuskan masing-masing negara memiliki kekuatan militer sebagai pengelola otot kedaulatan negara.  Demikian juga dengan negeri kepulauan khatulistiwa ini.  Dinamika yang terjadi dalam hitungan minggu saja mengharuskan militer Indonesia mengelola empat titik panas( hot spot) sekaligus dalam sebuah “musim tak terduga”.  Empat titik panas itu adalah Poso, Natuna, Tarakan dan Ambalat.

Insiden dengan kapal penjaga pantai Cina di perairan Natuna belum lama ini membuat Jakarta mengepalkan tinju lalu mengirimkan 5 jet tempur F16, 6 KRI, perangkat radar mobile, pasukan infantri, marinir dan paskhas ke Natuna. Dalam waktu yang bersamaan PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) yang terdiri dari pasukan Kostrad, Marinir dikirim ke Tarakan bersama belasan KRI, puluhan tank amfibi dan jet tempur Sukhoi.  Ini juga bagian dari kemarahan republik atas penyanderaan warga kita oleh gerilyawan Abu Sayyaf meski format resminya adalah untuk latihan gabungan obyek vital.
Kita butuh kapal selam minimal 12 unit
Sementara itu untuk hot spot yang lain, Poso sudah digelar operasi gabungan tentara dan polisi untuk “mateni” Santoso. Sedikitnya ada 1 brigade tentara dan 1 brigade polisi mengepung ketat teroris bersama pengikut setianya.  Demikian juga Ambalat selalu disiagakan 5-7 KRI untuk berpatroli termasuk melakukan manuver interoperability dengan matra lain, sebuah simulasi untuk pertempuran laut yang sesungguhnya.

Pada saat mengelola empat titik panas ini, dibagian lain bumi Indonesia ada hajat besar dan bergengsi berupa latihan gabungan angkatan laut bersama negara-negara sahabat.  Kita mengerahkan 15-17 KRI berbagai jenis ke pantai barat Sumatera, tepatnya Padang dan sekitarnya untuk melaksanakan latihan kerjasama Multilateral Exercise Komodo 2016 tanggal 12-16 April dengan 35 negara lain.

Dalam manajemen militer tentu suasana ini memerlukan tingkat kewaspadaan yang tinggi karena mengelola empat hot spot tentu memerlukan energi ekstra dan stamina kuat.  Pada akhirnya tumpuan utama dari kesiap siagaan itu adalah ketersediaan alutsista yang mencukupi dan berkualitas.  Bisa dibayangkan bagaimana mendistribusikan perangkat alutsista untuk empat titik panas dan satu event internasional dimana kita jadi tuan rumah.
Sukhoi di Tarakan, pengawalan kontinu
Belajar dari musim tak terduga ini (tapi kita ini bolak balik belajar tapi gak paham juga) seyogyanya perencanaan kebutuhan alutsista benar-benar diupayakan sehebat mungkin.  Tidak lagi dibenturkan dengan ketersediaan anggaran tetapi kebutuhan altusista itu mutlak harus diadakan.  Memang perkuatan dan belanja alutsista saat ini sudah menuju ke arah getar tetapi diperlukan percepatan pesan, percepatan kedatangan dan percepatan operasional.  Sebagai contoh lihat saja proses pengadaan 24 jet tempur F16 up grade, sudah lebih 4 tahun yang datang baru sepertiganya.

Kita butuh 12 kapal selam bermutu, dari lima belas tahun yang lalu selalu diperdengarkan lagu itu.  Tapi nyatanya sampai hari ini baru ada 2 kapal selam tua.  Agak terhibur juga karena sebentar lagi mau datang 3 kapal selam baru dari Korea Selatan. Tetapi ketika kita dapat tambahan 3 kapal selam baru, Singapura sudah punya 6 biji, Vietnam sudah punya 5 biji baru semua.  Apalagi kalau bicara Cina, jelas gak nendang.

Belum lagi kapal perang permukaan laut, baru sampai ke tingkat fregat ringan.  Padahal untuk mengawal perairan laut yang luas ini kita butuh kapal perang kelas destroyer. Belum lagi melihat kekuatan udara yang belum sepadan dengan ruang tugas yang harus diemban.  Kalau hanya punya 1 skuadron Sukhoi hanya bagus untuk dipamerkan tapi belum mampu membentengi kedaulatan udara republik tercinta ini.

Rasanya kok jadi gak sabar ya melihat kritisnya mengelola empat hot spot dengan kekuatan alutsista yang ada.  Ayo buat dong langkah out of the box, over the horizon, duduk bersama bersepakat Pemerintah, DPR lalu keluarkan doktrin baru atau dekrit baru sehubungan dengan ini, sehubungan dengan itu dan seterusnya. Lalu belanja alutsista sehebat mungkin.

Changbogo bisa dibuatkan paralel di Surabaya dan Korsel.  Atau pesan 2-4 Kilo sebagai alutsista penguat. Sukhoi SU35 juga ditambah tidak hanya 10 biji tapi dua skuadron kebutuhannya.  Kapal perang permukaan jenis korvet, fregat dan destroyer segera ditambah secepat mungkin.

Alutsista kita masih kalah cerdas dan kalah banyak jika ingin dipersandingkan dengan ruang wilayah yang sangat luas ini, apalagi jika ingin mencapai cita-cita poros maritim.  Kekuatan poros maritim ada di angkatan laut dan angkatan udara, maka dua matra ini menjadi fokus utama dan penting untuk dibenahi, dimodernisasi, digaharkan dan dibanggakan.

Kita hanya ingin mengingatkan ketika tahun-tahun awal reformasi, TNI mengawal 3 hot spot yang banyak menghabiskan energi yaitu konflik horizontal Maluku, konflik bersenjata Timor Timur dan Aceh. Ketika TNI kita sedang disibukkan dengan tugas berat itu, tetangga sebelah berulah dan mengambil Sipadan Ligitan.

Jangan dikira Natuna itu tidak terancam meski berulang kali dikatakan kemenlu Cina bahwa dia tidak keberatan Natuna milik Indonesia.  Omongan diplomatik itu sesuai musimnya, kalau musim panas dia bilang “ini itu” tetapi jika musim hujan dia bilang “itu ini”.  Namanya juga diplomasi tentu sesuai kepentingan nasionalnya.  Nah jalan satu-satunya adalah perkuat otot kedaulatan, perkuat militer sekuatnya. Dengan militer yang kuat dan bersemangat sangat diniscayakan omongan diplomasi kita akan diperhatikan.
****

Jagarin Pane / 02 April 2016

Sunday, March 20, 2016

Kapal Selam Baru Neh


Setelah menunggu selama 35 tahun Angkatan Laut Indonesia mendapatkan 1 unit kapal selam baru yang canggih, dengan diluncurkannya KRI 403 Nagabanda di galangan kapal Daewoo Korsel tanggal 19 Maret 2016. Kapal selam Changbogo Class ini merupakan satu dari tiga yang dipesan Indonesia dengan model transfer teknologi. Itulah sebabnya PT PAL saat ini sedang sibuk membuat galangan kapal selam di Surabaya sebagai tempat pembuatan kapal selam ketiga mulai Desember nanti. Meski sudah diluncurkan tetapi masih harus uji laut (sea trial) termasuk uji persenjataannya. Rencana tiba di Indonesia Desember 2016.

Indonesia terus memperkuat kemampuan pukul militernya, termasuk armada kapal selam. Disamping pengadaan Changbogo Indonesia juga akan membeli 2-4 kapal selam Kilo dari Rusia untuk memenuhi kebutuhan 10-12 kapal selam sampai tahun 2022.  Analoginya begini : Changbogo ketiga selesai 2018, kemudian setiap tahun produksi 1 kapal selam Changbogo di PT PAL. Maka sampai tahun 2022 produksi Changbogo baru 7-8 unit. Sementara Cakra Class yang uzur itu dipensiun 2020. Nah untuk mencukupi jumlah armada kapal selam dibutuhkan Kilo sebagai pendamping Changbogo.

****
Jagarin Pane / 20032016

Thursday, March 10, 2016

Air Tak Lagi Beriak Meski Terdengar Suara Kilo

Mungkin karena sudah terlalu sering mendengar dan ikut mendiskusikan rencana pengadaan kapal selam Kilo dan bolak balik kena timpuk dan terbanting akhirnya forum militer tempat berkumpul komunitas pengamat dan ilmuwan sekaligus salesman alutsista di Kaskus sudah immun mendengar segala sesuatu yang terkait Kilo. Barusan ada berita tentang pembangunan pangkalan kapal selam Teluk Palu yang didesain untuk bisa menampung kapal selam Kilo. Termasuk kunjungan Menhan ke Rusia awal bulan depan untuk tanda tangan kontrak 10 Sukhoi SU35 dan bersiap negosiasi Kilo.  Berita itu ditanggapi dingin oleh komunitas Formil Kaskus.

Beberapa pemerhati pertahanan yang juga ada di komunitas itu tidak lagi menguliti, dan meneliti anatomi kehebatan Kilo.  Mau dibeli silakan, tidak juga rakpopo. Ini semua bisa terjadi karena lebih dari dua belas tahun saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, rencana dan keinginan untuk mendapatkan kapal selam maut buatan Rusia itu seperti judul sebuah sinetron: Tersanjung Satu lalu Tersandung Satu. Jilid dua juga begitu Tersanjung Dua tak lama kemudian Tersandung Dua dan seterusnya sampai gerhana matahari total tanggal 9 Maret 2016 entah sudah tersandung yang keberapa gitu.
Fregat Ahmad Yani Class bersama Apache
Ketika muncul kembali cuaca cerah sehabis “gerhana Kilo” dengan anggaran militer yang semakin kinclong, muncul lagi berita seperti yang dari Teluk Palu itu dan rencana kunjungan Menhan Ke Rusia bulan depan.  Suasana berbeda terjadi tiga tahun lalu ketika Menhan waktu itu Purnomo Yusgiantoro dengan berapi-api mengabarkan kepada rakyat bahwa Indonesia akan membangun armada kapal selam Kilo dan seterusnya dan seterusnya.

Maka sambutan riuh rendah dikumandangkan oleh pengamat militer, pemerhati pertahanan, Komisi I DPR dan komunitas Formil, bersemangat dan berapi-api menyambut rencana beli alutsista pemukul strategis bawah laut itu.  Semua media memberitakan dan sambutan hangat diperlihatkan tentu dengan dukungan yang kuat agar makhluk yang bernama “Lontong” Kilo itu bisa segera kita miliki.  Tetapi kenyataannya kemudian pernyataan Menhan itu dibanting dan terbanting sendiri karena memang tidak pernah ada tindak lanjutnya.  Dan itu bukan yang pertama, tahun-tahun sebelum itu, tahun 2003, kemudian tahun 2008 juga bergema suara pengumuman itu tetapi pada akhirnya hanya sebuah fatamorgana, tetap tidak menjadi kenyataan.

Makanya sekarang ini ketika ada lagi berita “rencana mulu” mau mengakuisisi kapal selam Kilo, tanggapan dari pemerhati militer dan komunitas militer tidak lagi se antusias dulu.  Boleh jadi karena gondoknya belum move on atau wait and see sajalah.  Capek ngomong, barangnya gak datang-datang, padahal pihak penjual Rusia yang baik hati sudah menyediakan format utang dulu gak papa alias kredit state ratusan juta dollar agar dua Kilo bisa diangkut ke Surabaya.

Meski begitu kita tetap meyakini bahwa kapal selam yang digadang-gadang sebagai herder perairan tanah air itu pada saatnya akan tiba, atau pada saatnya barangnya akan dimunculkan ke permukaan. Anggaran militer Indonesia diyakini akan melonjak tajam mulai tahun 2017 karena formula yang mulai digunakan adalah berbasis PDB ( Produk Domestik Bruto). Dengan formula itu meski pertumbuhan ekonomi belum mencapai 7%, anggaran tahunan yang diperoleh untuk sektor pertahanan diprediksi berkisar 150-180 trilyun rupiah. 
Bung Tomo Class, gahar
Presiden pernah berjanji jika pertumbuhan ekonomi mencapai 7% maka anggaran militer bisa mencapai 2% dari PDB. Maka jika tahun 2017 pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6% sd 6,5% setidaknya asumsi anggaran pertahanan bisa mencapai 1,5%, itu artinya angkanya dikisaran 150-180 trilyun.  Dengan anggaran yang semakin membagus itu tentu rencana strategis membeli alutsista gahar bisa dilaksanakan termasuk rencana pengadaan Kilo.

Tetapi lebih penting dari itu adalah lanjutan serial transfer teknologi pembuatan 3 kapal selam Changbogo jangan sampai menjadi sinetron “Changbogo Tersandung” karena keinginan segelintir orang yang bermental salesman dan makelar.  Proyek Changbogo harus tetap berlanjut dan berjilid sampai kita benar-benar bisa membuat kapal selam sendiri mulai dari kapal selam ketiga.  Jadikanlah proyek Changbogo sebagai proyek tersanjung yang bersama proyek jet tempur IFX akan menjadi bangsa ini bisa disanjung bangsa lain dengan teknologi dan industri pertahanannya yang maju dan modern.

Saat ini air tak lagi beriak meski terdengar suara Kilo, bisa jadi karena ingin memberi angin pada pihak yang mau beli agar tidak plin plan, maju mundur akhirnya maju kena mundur kena, padahal jalannya searah.  Sudah ada proyek Changbogo, teruskan saja.  Kilo diperlukan untuk mengisi kuantitas yang belum tercukupi.  Kita memerlukan setidaknya 12 kapal selam sampai tahun 2022.  Padahal sampai tahun 2019 dengan kedatangan 3 kapal selam Changbogo kita baru punya lima unit saja termasuk si Cakra Class yang sudah uzur.  Maka kekurangan jumlah itu bisa diisi dengan proyek Kilo setidaknya mendatangkan 2-4 kapal selam Kilo disamping produksi Changbogo minimal 1 tahun 1 unit bisa tercapai. 

Kita bisa ngomong ini karena anggaran pertahanan kita diyakini mampu membeli Kilo sembari meneruskan produksi Changbogo. Namanya juga keinginan pasti kalau diambil jajak pendapat banyak yang sama pendapatnya untuk menjadikan armada kapal selam kita herder dan gahar. Tinggal bagaimana alokasi anggarannya dipilah-pilah.  Makanya ketika ada berita mau beli Kilo lagi kita wait and see saja.  Kali ini berdoa saja mudah-mudahan terkabul sehingga motto Hiu Kencana “tabah sampai akhir” bisa ditambah dengan kalimat berikutnya “tabah sampai terkabul”.
****
Jagarin Pane / 10 Maret 2016

Monday, March 7, 2016

Thursday, February 18, 2016

Ketika Jiran Mulai Terpana

Belanja militer Indonesia tahun 2016-2019 terus dipacu untuk memenuhi kriteria kekuatan pukul yang mampu diandalkan. Contohnya TNI AU dalam 4 tahun ke depan mendapat asupan dana US$ 3,1 milyar untuk belanja alutsista. Bulan Maret mendatang sudah kontrak pembelian 10 unit jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya. Tidak hanya itu, TNI AU juga sedang mendatangkan 5 unit Hercules, 4 pesawat bom air  Beriev Be200, 6 helikopter Caracal, 4 Radar, termasuk melengkapi 15 unit jet tempur T50 dengan radar dan rudal, juga 11 pesawat KT1 Wong Bee. Tumben Wong Bee juga dikasih rudal.

Angkatan Laut ikut mempercepat laju modernisasinya. Setelah meluncurkan 1 kapal perusak kawal rudal PKR 10514 di Surabaya Januari lalu, proyeksi empat tahun ke depan TNI AL akan mendapatkan minimal 6 kapal fregat baru, 5 kapal selam baru, 4 kapal cepat rudal (KCR) 60 m, 54 tank amfibi BMP3F, 11 Helikopter anti kapal selam, berbagai jenis peluru kendali anti kapal, meriam artileri, roket dan peluru kendali pertahanan udara pangkalan.
Apache dan Ahmad Yani Class, luar biasa
Yang menarik, wilayah perairan luas Indonesia saat ini sudah ada pembagian tugas dimana BAKAMLA ditugaskan menjaga kemanan laut khususnya dari motif ekonomi seperti pencurian ikan dan penyelundupan. TNI AL khusus menjaga teritori kedaulatan negara dari ancaman militer asing.  Kapal-kapal BAKAMLA yang berukuran besar dipersiapkan juga menjadi armada cadangan TNI AL manakala terjadi perang. Kapal-kapal BAKAMLA yang berukuran 80 meter dan 110 meter dipersiapkan dengan landasan peluru kendali anti kapal.

BAKAMLA saat ini punya 20 kapal dan dalam empat tahun ke depan akan menjadi 50 kapal dari berbagai ukuran.  Sementara TNI AL yang saat ini punya 170 KRI akan dipertahankan dalam jumlah yang sama dengan melakukan pergantian armada yang sudah uzur dengan KRI berwajah fregat modern. Termasuk juga armada pendukung dan pangkalan AL.  Jumlah KRI sebanyak itu akan didistribusikan kedalam tiga armada, barat, tengah dan timur.

Sementara itu Angkatan Darat juga mengembangkan postur tempurnya terutama kemampuan daya pukulnya. Sambil menunggu kedatangan 8 heli Apache juga bersiap mendapatkan 8 heli Chinook, persenjataan artileri berat, 60 panser Badak dan Anoa. Juga penambahan batalyon kavaleri, artileri dan infantri di berbagai Kodam. Termasuk pembentukan Kodam Merdeka di Sulawesi dan Kodam Papua Barat.

Indonesia tidak akan terbendung lagi soal modernisasi kekuatan militernya. Ini sejalan dengan pertumbuhan GDP yang juga tidak tertandingi di kawasan ini.  Anggaran berbasis PDB yang mulai diterapkan tahun depan akan memastikan bahwa dalam 3 tahun ke depan anggaran militer Indonesia akan menjadi yang tertinggi di ASEAN. Sebagai contoh jika dipakai formula 2% dari PDB maka kita anggaran pertahanan kita menjadi nomor satu di rantau ASEAN.
Fregat terbaru, KRI Martadinata 331
Malaysia yang selama puluhan tahun komunitas forum militernya selalu melecehkan postur militer Indonesia, sudah mulai terpana dan terbangun dari mimpi kebanggaan keperkasaan militernya. Forum itu yang mayoritas pengisinya justru hanya dari satu puak “pemilik” semenanjung, selama ini selalu meremehkan kekuatan militer kita.  Namun saat ini kondisi ekonomi negerinya yang tersendat mengharuskan belanja militernya dipuasakan untuk beberapa tahun. 

Selama 4 tahun ini tidak ada belanja militer yang mengejutkan dari negeri jiran itu selain perbaikan alutsista, upgrade dan penambahan suku cadang.  Bahkan dua kapal selamnya pun ikut di rawat inap selama 18 bulan karena berbagai alasan teknis. Nah selama periode itu pula mereka mendengar dan menyaksikan gempitanya modernisasi militer tetangga sebelahnya yang bernama Indonesia, sebuah nama yang selalu diidentikkannya dengan TKI sehingga kesan melecehkan terbawa sampai bathin mereka.

Tiada hari tanpa ada kabar bagus tentang alutsista, baik berupa kedatangan alutsista baru maupun pesanan untuk kedepannya. Akhir Februari ini akan datang 4 pesawat Super Tucano, awal Maret kedatangan 5 jet tempur F16 Blok 52 Id, bulan-bulan berikutnya KCR, Radar, Hercules, Panser Badak, Helikopter Caracal, Tank Amfibi, Tank Leopard, Nexter, Astross, ATGM, UAV dan lain-lain akan beruntun datang memenuhi kesatrian militer negeri ini. Belum lagi adanya pesanan baru. Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya adalah tahun-tahun yang paling meriah melihat kedatangan berbagai jenis alutsista canggih di negeri ini.

Malaysia dalam banyak hal memang selalu meremehkan kita, karena kacamata mereka hanya wajah TKI itu. Tetapi ketika kita mulai serius memodernisasi militer kita selama lima tahun terakhir ini, mereka khususnya forum milternya mulai bercermin diri dan mulai tahu diri. Apalagi saat ini Indonesia sedang membangun pangkalan militer di Natuna, mereka semakin gelisah. Karena meski pangkalan ini untuk membentengi ancaman dari utara Laut Cina Selatan tapi juga sekaligus bisa sebagai pangkalan penggempur Sabah, Sarawak dan memotong jalur logistik militer Malaysia ke Kalimantan jika pecah konflik Ambalat.

Makna dari semua pertumbuhan dan pemekaran militer Indonesia karena indikator potensi hebat yang dimiliki Indonesia memang tak tertandingi.  Itu sebabnya mengapa lembaga pemeringkat militer Global Fire Power menempatkan Indonesia sebagai kekuatan miilter terkuat no 12 di dunia, nomor wahid di ASEAN dan mengungguli Australia.  Indikatornya jelas, jumlah SDM raksasa, SDA melimpah, wilayah luas, alutsistanya bertambah modern.

Jadi ke depan kita akan menjadi kekuatan militer yang akan diperhitungkan di regional ini. Kalau hanya sekelas Malaysia atau hanya imbangi Singapura hanyalah sasaran antara. Jangka waktu sepuluh tahun ke depan kita harus menjadi yang terbaik dalam keunggulan teknologi alutsista berikut kuantitasnya. Optimisme itu menjadi ruang kesejukan manakala pertumbuhan ekonomi kesejahteraan dan PDB kita semakin membaik. Biarkan tetangga terpana sekaligus membalikkan opini bahwa wajah kita bukan TKI karena 4 tahun ke depan cerita tentang TKI sudah game over alias tidak ada lagi.  Dan kita tiba-tiba saja sudah jauh meninggalkan jiran yang selama ini merasa dialah yang paling jaguh.
****

Jagarin Pane / 18022016

Wednesday, February 10, 2016

Pesan Dan Datang Bersahutan


Kabar baik untuk TNI AU, bulan depan Menhan akan teken kontrak pembelian tahap pertama 10 unit jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya. Pada bulan yang sama kita juga akan kedatangan 5 jet tempur F16 blok 52 Id sebagai bagian dari pengadaan 24 jet tempur F16 dari AS. Dengan kedatangan 5 F16 ini maka sudah ada 13 unit F16 yang mengisi skuadron tempur di Pekanbaru dan Natuna. Sementara itu diprediksi sampai tahun 2019 kita akan memiliki 16 jet tempur kelas berat paling canggih Sukhoi SU35. Alhamdulillah.

Sementara itu Hercules yang kelima dari Australia juga sudah menjelang datang. Kita memesan 5 pesawat angkut militer dari Australia yang sudah di retrofit. Sesuai rencana setelah kedatangan 5 Hercules ini masih ada pesanan pembelian 4 Hercules dari Australia.  Kesembilan Hercules ini akan membentuk skuadron baru di Makassar.

Tahun ini TNI AU juga akan melengkapi radal dan rudal untuk pesawat latih tempur T50 yang dibeli dari Korea Selatan.  Juga upgrade 10 F16 blok 15 Ocu agar setara dengan adik kelasnya Blok 52Id. Jadi begitulah kesannya, datang, pesan dan datang lagi.

*** Jagarin Pane / 10022016

Monday, February 8, 2016

Natuna After 2018

Boleh dibilang hot spot paling strategis sekaligus paling bergengsi untuk dikawal dan dijaga ketat tidak lain adalah Kepulauan Natuna di Laut Cina Selatan (LCS).  Saat ini pembangunan pangkalan militer sedang berjalan disana dengan anggaran ratusan milyar untuk membesarkan pangkalan udara dan laut yang sudah ada saat ini. Tujuannya jelas agar Natuna mampu menjadi pusat pertahanan teritori berkarakter lebah berikut isian segala macam alutsista.

Natuna memang harus disaranglebahkan dalam pola pertahanan teritori agar keinginan untuk mengganggu apalagi mencaplok dari penganut ekspansionis setidaknya bisa terhalangi.  Meski tidak tertutup kemungkinan sarang lebah itu mampu dibakar habis oleh kekuatan besar itu melalui pertempuran terbuka skala besar.  Jujur saja kalau berhadapan head to head secara militer jelas kita kalah kelas dengan si lidah naga.

Armada KRI, menegakkan teritori laut NKRI
Sejalan dengan itu pangkalan udara Supadio di Kalbar juga dikembangkuatkan sebagai basis militer respon cepat dan bersama pangkalan AL Pontianak berfungsi sebagai pangkalan sinergitas dengan pangkalan militer di Natuna. Indonesia tidak lagi main-main dengan diplomasi gaya Cina yang manis dibibir tapi pahit di kenyataan.  Nyatanya Cina telah membangun pangkalan militer skala besar di pulau karang Fiery Cross Spralty yang jarak tempurnya mampu menjangkau Natuna.

Indonesia after 2018 adalah sebuah wajah yang diyakini punya kemampuan ekonomi dan militer yang jauh lebih baik dari sekarang ini. Khususnya pembangunan kekuatan militer maka mulai tahun 2018 kekuatan pengawal republik sudah mendapatkan titik tumpu pertahanan yang mampu mengcover seluruh wilayah tanah air. Wilayah yang masih bolong saat ini, ruang udara Bengkulu, Tambolaka, Morotai, Singkawang sudah dicover oleh instalasi radar militer canggih. Termasuk juga alat cegat, usir dan pukulnya sehingga “doa selamat” yang dilantunkan di satuan radar Saumlaki sudah mampu dijalankan oleh jet tempur yang disebar Kohanudnas di beberapa titik tumpu pertahanan udara.

Natuna after 2018 adalah etalase hilir mudik alutsista taktis dan strategis TNI.  Bergantian jet tempur Sukhoi SU35, SU30, SU27, F16, T50 mendatangi pangkalan udara Ranai untuk saling isi, saling lengkap, saling sinergi menjaga pagar teritori yang di utara perairannya sudah ada gerakan militer saling intip antara penganut klaim teritori. Demikian juga dengan pangkalan AL Natuna sudah disebar berbagai jenis KRI kombatan, Ahmad Yani Class, Diponegoro Class, Bung Tomo Class, Martadinata Class, dan tentu saja kapal selam. Bergiliran hilir mudik untuk menyatakan dengan jelas bahwa ini adalah wilayah teritori republik Indonesia.
Navy Base Surabaya, kekuatan pukul utama
Sementara daratan Natuna, sudah tersedia 1 brigade kombatan gabungan yang terdiri dari 1 batalyon raider, 1 batalyon arhanud, 1 skuadron Penerbad, 1 batalyon marinir dan 1 batalyon paskhas berikut sejumlah alutsista yang menyertainya.  Ada Oerlikon Skyshield, ada Pantsir-S, ada Apache, ada Mi35, ada Astross, ada UAV dan seterusnya.  Tidak tertutup kemungkinan penyediaan tempat bagi sarana labuh dan bekal ulang beberapa kapal perang dan jet tempur negara lain seperti AS dan Australia.

Memperkuat pertahanan di Natuna sesungguhnya bukan untuk melawan Cina tetapi untuk menyatakan sikap secara militer bahwa kita adalah pemilik teritori Natuna secara sah dan tak terbantahkan.  Kita ketahui bahwa keinginan Cina untuk menguasai seluruh teritori laut dan pulau-pulau di LCS (Paracel, Spratly) belakangan ini sangat intensif dan terang-terangan. Perairan yang diklaim itu bersinggungan dengan perairan ZEE Natuna, meski katanya Natuna tidak termasuk.  Tetapi pernyataan diplomatik itu boleh jadi akan melenakan kita jika kita tidak tahu lidah diplomatik tidak bertulang dan boleh jadi di kemudian hari menyemburkan lidah api ke Natuna.

Makanya kita pun bersiap agar Natuna mampu melindungi dirinya dengan konsep sarang lebah.  Angkatan laut dan udara sebagai kekuatan utama akan terus dikembangkuatkan untuk mendukung ketahanan dan kedaulatan teritori.  Tahun 2018 nanti kita sudah punya setidaknya 5 kapal selam baru dari jenis Changbogo Class dan Kilo Class.  Sementara armada kapal perang permukaan sudah diperkuat dengan beberapa kapal fregat baru dengan persenjataan canggih. Demikian juga dengan angkatan udara, kita sudah punya Sukhoi SU35, tambahan SU30/27 dan F16.

Anggaran militer berbasis PDB tentu akan mampu mengangkat kemampuan dan daya tempur militer kita karena sejatinya kita masih butuh banyak kapal perang pemukul berbagai jenis utamanya fregat, destroyer dan kapal selam.  Kita juga masih butuh beberapa skuadron tempur untuk memperkuat taji kedaulatan udara. Tahun 2018 adalah tahun permulaan hasil karya jelas modernisasi militer kita dan tahun-tahun mendatang setelah itu akan semakin kelihatan postur kekuatan TNI yang sesungguhnya, gahar.

Natuna after 2018 adalah mulai terbangun dan terstrukturnya bentuk sarang lebah pertahanan.  Sudah ada kesiapan menjemput segala ancaman meski tentu saja kita tidak boleh sendirian berhadapan dengan lidah naga.  Kita tetap butuh teman lain yang membenci si juluran lidah naga. Teman itu bisa bernama Jepang, Australia dan AS. Juga Vietnam dan Filipina yang sudah terang-terangan bersengketa dengan juluran si lidah naga.  Andai saja lidah naga itu membatasi julurannya maka konflik di LCS tidak akan separah ini. Tapi apa boleh buat, nasi putih sudah menjadi bubur panas.

Kita harus bersiap karena yang kita hadapi adalah ketidakpastian iklim teritori.  Kalau kita kuat secara militer maka setidaknya ada jaminan percaya diri untuk mempertahankan teritori sembari tetap melakukan terobosan diplomatik.  Diplomasi negara dengan bayang-bayang kekuatan militer diniscayakan akan mampu menimbulkan efek segan dan sungkan pada pihak manapun yang hendak menganggu apalagi mencaplok teritori NKRI.  Jadi perkuatan militer adalah satu-satunya peta jalan yang patut didukung dan diapresiasi.
****
Jagarin Pane/08022016


Wednesday, February 3, 2016

Tuesday, February 2, 2016

Wednesday, January 27, 2016

Fregat Anyar


Indonesia terus menambah kekuatan alutsista strategisnya. Pertengahan Januari 2016 diluncurkan kapal perang terbaru jenis PKR 10514 buatan PT PAL Surabaya kerjasama dengan Damen Schelde Belanda, namanya KRI RE Martadinata 331. Kapal perang jenis fregat ini merupakan kapal perang pertama dari pesanan TNI AL sebanyak 6 unit, diluncurkan bersamaan dengan kapal perang jenis SSV pesanan militer Filipina.


Dalam setahun kedepan Angkatan Laut Indonesia diperkirakan akan mendapatkan 2 kapal perang jenis PKR 10514, satu lagi bernama KRI I Gusti Ngurah Rai 332.  Disamping itu ada juga pesanan 2 kapal perang jenis KCR 60m buatan PT PAL, 2 kapal perang jenis LST buatan Koja Bahari Jakarta, 1 kapal selam jenis Changbogo. Sementara Angkatan Udara Indonesia akan kedatangan 15 F16 blok 52id, 4 Super Tucano, 3 Hercules, 3 Radar militer dan 2 batteray Oerlikon Skyshield.  Alhamdulillah.

****
Jagarin Pane / 26 Jan 2016

Wednesday, January 20, 2016

Bersabarlah, Tidak Sekedar Membeli

Andai bersemayam hasrat hawa nafsu dengan sejumlah anggaran yang digelontor secara besar-besaran untuk militer Indonesia, lalu kita membeli  dalam kapasitas besar sejumlah alutsista gahar teknologi terkini, maka tetap saja kapasitas kita adalah sebagai pembeli barang militer. Pemerintah Indonesia tidak lagi ingin terjebak dalam sebutan pembeli tetapi bertekad menguasai teknologi militer strategis terkini.

Anggaran yang digelontor sebesar 18 trilyun tahun ini bukanlah angka yang main-main untuk sebuah proyek jet tempur teknologi terkini KFX / IFX kerjasama dengan Korea Selatan. Jumlah 18 trilyun itu jika dibelikan jet tempur Sukhoi SU35 bisa mendapatkan 4 skuadron pesawat lengkap dengan persenjataannya.  Tetapi pemerintah telah berhitung cermat dan sabar untuk waktu 5-7 tahun lagi, mengeluarkan dana besar untuk sebuah harga teknologi jet tempur.  Meski begitu TNI AU tahun ini tetap dibelikan 12 jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya.
Peluncuran Fregat PKR 10514 TNI AL dan SSV untuk Filipina
Selain mega proyek KFX / IFX  Indonesia dan Korsel sudah melakukan kerjasama transfer teknologi untuk pembuatan 3 kapal selam canggih Changbogo.  Hasil karya itu akan diperlihatkan akhir tahun ini dengan selesainya kapal selam pertama. Kemudian berturut-turut kapal selam kedua tahun depan dan kapal selam ketiga yang sudah dibuat di PAL Surabaya tahun 2018.  Kapal selam ke empat dan seterusnya sudah dapat diproduksi PAL hingga bisa mencapai 10 buah sampai tahun 2024.

Demikian juga dengan proyek kerjasama teknologi kapal perang PKR 10514 antara PAL dan Damen Schelde Belanda yang kapal pertamanya diluncurkan tanggal 18 Januari 2016 bersamaan dengan ekspor kapal perang jenis SSV pesanan militer Filipina.  Indonesia bekerjasama transfer teknologi dengan Belanda membangun 2 unit kapal perang fregat.  Dalam perjalanannya ada penambahan 4 unit lagi sehingga tahun-tahun mendatang ini kita akan mendapatkan 6 unit fregat dengan kemampuan tempur 4 dimensi.

Kabar-kabar menyenangkan ini mestinya membawa rasa bangga kepada militer republik kita, karena program modernisasi TNI tidak hanya meningkatkan kemampuan tempurnya tetapi juga menguasai teknologi militer terkini. Proyek kerjasama dan  transfer teknologi jet tempur, kapal selam dan kapal fregat merupakan proyek bergengsi yang diniscayakan akan mampu mengangkat derajat kehebatan militer negeri ini yang sesungguhnya.

Negeri ini sejatinya hebat tetapi kehebatan itu dikerdilkan oleh hawa nafsu segelintir orang selama puluhan tahun yang hanya memuaskan dahaga nafsu “bank sakunya”, padahal komitmen pendiri republik jelas menyatakan: membangun bangsaku, bukan bank saku. Pemerintahan yang sekarang jelas sedang membangun bangsaku secara merata utamanya berbagai jenis infrastruktur.

Yang menarik dari pola dan cara berpemerintahan saat ini khususnya dalam program modernisasi tentara adalah mampu meneruskan program yang telah dibuat pemerintahan sebelumnya. Tiga proyek diatas, jet tempur, kapal selam dan PKR 10514 adalah rencana yang telah digulirkan dan dilaksanakan oleh pemerintahan sebelumnya.
24 F16 Blok 52 dari AS, 6 unit ditempatkan di Natuna
Kita berpandangan bahwa cara untuk menguatkan kualitas eksitensi bangsa ini utamanya dalam menjaga harkat dan martabat pertahanannya adalah dengan memperkuat militernya sekaligus menguasai teknologi terkininya.  Oleh sebab itu industri pertahanan strategis seperti Pindad, PAL dan PT DI harus dikembangbesarkan dan diberi tanggung jawab untuk mengolahbaguskan dan mengelola teknologi militer yang telah didapatkan.  Jangan sampai terjadi lagi keributan seperti soal helikopter kepresidenan.  Karena ketidaksamaan persepsi dan perspektif di ruang olah manajemen industri pertahanan PT DI menjadikan publik “berpandangan satu sama lain” kemudian tertawa tak beraturan.

Pada akhirnya manajemen industri pertahanan strategis adalah pemikul tanggung jawab untuk menghasilkan produk alutsista berkualitas tinggi, tentu dengan payung Undang-Undang.  Kita sudah punya Pindad yang mampu memproduksi senjata laras pendek dan panjang, panser Anoa, panser Badak, panser Anoa Amfibi dan lain-lain.  Demikian juga PAL yang sudah mampu memproduksi kapal perang jenis KCR 60m dan PKR 10514 dan sebentar lagi kapal selam.

Bersabar untuk tidak mengumbar nafsu membeli murni untuk alutsista strategis adalah langkah cerdas. Semua itu memerlukan waktu dan konsistensi. Penguasaan teknologi militer adalah satu cara untuk meningkatkan daya gentar berpertahanan.  Dengan begitu pelecehan teritori dengan sendirinya melandai dan tenang tanpa riak. Indonesia telah berjalan diatas kemajuan yang menguat, ekonomi diprediksi tumbuh lebih baik tahun ini. Infrastruktur dibangun secara besar-besaran sebagai rangka utama perjalanan pertumbuhan ekonomi.  Penguatan militer juga searah dengan penguatan ekonomi.

Berbaik sangka dengan pemerintahan dan programnya setidaknya menjadi kalimat doa untuk kemajuan bangsa besar ini. Lebih arif lagi tidak lantas membanding-bandingkan dengan pemerintahan sebelumnya.  Bahwa semua perjalanan yang kita lakukan dengan pergantian pilot sesuai mekanisme demokrasi pada hakekatnya adalah untuk menjaminkan nilai negeri ini pada perjalanan berikutnya.  Kita ada didalamnya dengan peran masing-masing dan patut pula menguatkan jaminan nilai dan harkat negeri ini.

*****

Jagarin Pane / 20 Jan 2016