Perkembangan geopolitik dan geostrategis kawasan regional yang dinamis mengharuskan kita untuk memperbaharui konsep dan strategi pertahanan NKRI. Ini dilakukan dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsa. Esensinya pengawal republik harus terus digagahperkasakan untuk mempertahankan warisan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Alutsista TNI adalah keniscayaan yang wajib disegarkan, supaya mekar, kekar dan gahar (Jagarin Pane SE MM)
Friday, July 25, 2014
Thursday, July 24, 2014
Menjelang Akhir Pujian Mengalir
Begitulah gambaran perjalanan pemerintahan kita selama
sepuluh tahun terakhir ini. Atas nama demokrasi, kebebasan berpendapat maka
jalannya pemerintahan sepanjang jalan ceritanya dicecar terus oleh beberapa
media vulgar untuk menggiring opini publik seakan-akan jalannya pemerintahan
tidak membawa nilai, perbaikan dan pertumbuhan. Tetapi ketika menjelang akhir
justru pujian mengalir dari media yang sama pula seiring dengan beralihnya cara
pandang dan kepentingan mereka menghujat dari Presiden eksisting ke para Capres
yang didukungnya.
Sejak awal kita berpandangan bahwa dalam setiap ide dan tulisan
yang kita publikasikan, rangkaian kalimat yang kita sampaikan selalu ingin
menyatakan niat khusnuzon. Tidak ingin
berputar pada alinea menyalahkan tetapi pada hasrat yang menggebu untuk
menempatkan nilai prestasi pada koridor yang pantas. Banyak hal yang sudah dicapai dalam
perjalanan pemerintahan SBY tetapi apakah hasil itu kemudian bisa
dipublikasikan secara proporsional oleh media “independen” kita. Jawab jelasnya
tidak. Yang diberitakan oleh media
dengan tanda kutip independen itu lebih banyak publikasi hujatan, prasangka
buruk, caci maki dan ejekan diluar batas-batas kepatutan untuk sebuah media
berita. Pura-pura independen tetapi sejatinya untuk menyuarakan kepentingan
pemilik medianya.
![]() |
| Ikut berperan dalam misi perdamaian dunia |
Pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 5 % selama sepuluh
tahun merupakan prestasi yang pantas dipublikasikan termasuk peningkatan
kesejahteraan. Kekuatan ekonomi RI
menjadi 10 besar dunia dan peningkatan pendapatan perkapita yang
signifikan membuat lembaga keuangan
dunia mengapresiasi kepemimpinan SBY. Kepemimpinannya yang penuh perhitungan
sehingga dianggap sebagai peragu belakangan baru dipahami sebagai bagian dari
strategi kecerdasan untuk membangun harkat dan martabat. Contohnya masalah
Ambalat ketika memanas di awal pemerintahan SBY.
Ketika masalah itu sempat mendidihkan adrenalin bangsa
ini, Presiden SBY justru melontarkan statemen diplomasinya yang halus dan tidak
ingin membakar hasrat bermusuhan dengan Malaysia. Dia katakan bahwa antara Indonesia dan
Malaysia adalah tetangga yang punya banyak kesamaan, disana ada jutaan TKI
yang mencari nafkah, maka segala
perselisihan teritorial hendaklah diselesaikan di meja perundingan. Waktu itu banyak orang yang “gondok” dengan
sang Presiden yang ternyata tidak lantang menyanyikan lagu maju tak gentar.
Namun perjalanan berbangsa kemudian membuktikan bahwa
Panglima Tertinggi sejatinya “marah besar” dengan polah jiran sebelah yang
meremehkan teritori Indonesia. Disamping itu berdasarkan kajian intelijen cuaca
di Laut Cina Selatan diprediksi dalam beberapa tahun kedepan akan bergelombang
dan membahayakan. Maka melalui rembug
nasional yang melibatkan Kemhan dan Parlemen dibuatlah strategi besar untuk
memperkuat militer RI dengan belanja alutsista secara besar-besaran, terbesar
sejak era Dwikora. Disiapkan anggaran
US$ 15 Milyar untuk modernisasi militer kita selama tahun 2010-2014 yang
dikenal dengan Minimum Essential Force (MEF) jilid satu.
![]() |
| Prajurit Marinir di RIMPAC 2014 Hawaii, meningkatkan harkat dan martabat |
Kini setelah rencana besar itu digulirkan lima tahun
lalu, hasilnya adalah mengalirnya dengan deras beragam alutsista untuk mengisi
satuan tempur hulubalang republik. Yang
lebih membanggakan lagi adalah menggeliatnya industri pertahanan dalam negeri
seperti PT PAL, PT DI, Pindad dan industri hankam swasta nasional untuk ikut
meramaikan produksi alutsista buatan anak negeri maupun kerjasama produksi
dengan negara lain. Bukankah ini sebuah
prestasi untuk meningkatkan harkat dan martabat. Bayangkan kita sekarang punya 300 Panser
Pindad, 12 Kapal Cepat Rudal, 2 LPD, murni produksi anak bangsa. Bukankah itu
membanggakan harkat dan martabat.
Penggiringan opini publik memang luarbiasa selama sepuluh
tahun ini. Kebebasan menyuarakan suara
miring seakan-akan republik ini menjadi negara gagal sangatlah memalukan. Ada yang menyebut negeri auto pilot sambil
membawa kerbau, bahkan ada yang menyebut negeri ini negeri para bedebah dengan
puisi karangannya seakan-akan dialah satu-satunya malaikat, sementara penghuni
republik ini setan semua. Kalau mau
diurai terlalu banyak umpatan, caci maki dan ejekan dalam serial pemerintahan menjelang
satu dasawarsa ini.
Nah, sekarang ketika pemerintahan ini menjelang tutup
buku untuk digantikan pemerintahan yang baru, hujatan itu tak ada lagi berganti
dengan sanjungan dan pujian. Dikatakan
bahwa SBY adalah seorang negarawan,
seorang politisi santun yang telah mampu membawa berbagai kemajuan dan
kebanggaan untuk negeri ini. SBY adalah jendral cerdas yang perlu dicontoh oleh
presiden berikutnya. Ironi bukan, dunia
sudah jauh-jauh hari menyatakan keberhasilan yang mampu meningkatkan harkat dan
martabat itu, baru kemudian pujian itu dilantunkan di pasar media dalam negeri
oleh pasar yang sama pula yang dulunya menghujat.
Bagi kalangan militer SBY telah menoreh sejarah emas
untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas persenjataan hulubalang republik termasuk peningkatan
kesejahteraan para prajurit. Demikian juga kalangan yang memiliki visi
perspektif dan bernaluri khusnuzon, termasuk tetangga kiri kanan sudah sejak
lama mengapresiasi kepemimpinannya baik dari sisi kemajuan ekonomi, peningkatan
kesejahteraan, hubungan luar negeri, kecerdasan diplomasi dan perkuatan pertahanan.
Tidak ada gading yang tak retak, demikian juga dengan gaya
kepemimpinan SBY. Kesempurnaan hanyalah
milik Allah. Masih banyak yang harus dibenahi
untuk negeri majemuk ini, dan bangsa besar ini akan terus berjalan menikmati eksistensi
dan pertumbuhannya. Maka ketika kita
memandang dari sisi itu niscaya penilaian proporsional pada akhirnya akan
menempatkan nilai Presiden ke enam itu sebagai seorang yang telah mampu
mengantar negeri ini ke pintu martabat dan harkat yang jauh lebih baik dan
bernilai memuaskan.
****
Jagvane / 24 Juli 2014
Saturday, July 12, 2014
Bercermin Dari Demokrasi Mesir dan Thailand
Sesungguhnya perjalanan demokrasi kita hari-hari ini
sedang panas dalam, meriang dan kalau tidak mampu dikelola bisa menjadi meraung
dan mengaum saling menerkam. Di tataran
pengambilan suara tanggal 9 Juli 2014 yang lalu para pemilih suara telah
menampakkan kualitas demokrasinya dengan antusias mendatangi berbagai TPS di
seluruh Indonesia. Artinya rakyat
Indonesia yang punya hak pilih telah memenuhi kewajibannya untuk memilih RI-1.
Dunia mengakui kehebatan para pemilih Indonesia dalam menjalankan hak
demokrasinya.
Masalahnya kemudian adalah di model perhitungan suara
yang bernama quick count yang berbeda satu sama lain jika berhadapan dengan
kubu yang berseberangan. Ini kemudian melahirkan sebuah kalimat populer yang
pernah disebutkan almarhum Gus Dur yaitu
membela yang bayar. Di kubu A lembaga survey membela kliennya demikian juga di
kubu B. Ini juga salah satu indikator
yang menjadi pemicu gejolak panas dalam ditambah lagi dengan keberpihakan media
yang terbelah menjadi dua kubu yang berseberangan. Meminjam istilah sastrawan, Indonesia saat
ini bagai bulan yang terbelah dua.
Sesuai perintah, saat ini satu juta Polisi dan Tentara
dalam kondisi siaga penuh untuk mengantisipasi kondisi terburuk dalam
perjalanan berdemokrasi kita. Ada pergerakan
dan pergeseran pasukan bersama sejumlah alutsista di berbagai tempat strategis. Sebagai alat dan instrumen penyelamat negara
dari gangguan keamanan dan pertahanan, menyiagakan personel dan sejumlah
alutsistanya merupakan keniscayaan yang dibenarkan. Kendali tokoh publik atau politisi tentu ada
di lisan dan laku sikap. Manakala lisan
provokasi dan laku sikap berlaku anarkis jelas akan berhadapan dan berlawanan
dengan instrumen penyelamat negara.
![]() |
| Militer Indonesia bersiaga penuh |
Berbagai contoh telah diperlihatkan manakala jalan
berdemokrasi melewati ambang batas laku sikap dan lisan yang mau menang
sendiri. Mesir yang perolehan suara kaum religi menang tipis terhadap kaum
nasionalis dalam Pemilu beberapa tahun silam sangat mengejutkan lingkungan
sekitarnya. Termasuk penggemar status
quo yang berpuluh tahun menikmati rezim Hosni Mubarak dan tetangga sebelahnya
Israel.
Sayangnya pihak pemenang tipis pemilu ingin cepat-cepat
merevolusi tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di negeri piramid itu
sehingga menimbulkan birahi berkelahi. Disamping itu sesungguhnya Israel
berkepentingan dengan posisi Mesir yang status quo alias tidak adanya aroma
ikhwanul muslimin di pemerintahannya. Oleh karena itu berbagai upaya intelijen dilakukan
untuk mengembalikan posisi status quo tadi.
Meski gejolak politik di Mesir menimbulkan efek domino
alias Arab Springs dengan kejatuhan beberapa rezim pemerintahan di sekitarnya
tapi kita bisa lihat sekarang kondisi negeri “Firaun” itu yang tidak sembuh
dari luka dan cuka demokrasi. Militer mengambil alih pemerintahan untuk
menyelamatkan wibawa negara. Sebabnya karena posisi sama kuat blok demokrasi di
dalam negeri itu yang tak mampu merekonsiliasi diri. Kemudian adanya campur tangan Israel dan AS
untuk tetap “memegang dan menggenggam” Mesir agar tetap jinak.
Demikian juga pertarungan demokrasi sama kuat antara
kelompok baju ningrat dengan kelompok baju egaliter yang dikenal dengan sebutan
kaos kuning dan kaos merah di Thailand. Berlarutnya dalam hitungan tahunan saling
hujat antara kedua kelompok itu akhirnya memancing militer Thailand untuk
mengambil alih pemerintahan. Seperti kita ketahui seorang pengusaha kaya Thaksin
Shinawatra dalam sekian tahun memerintah negeri gajah putih itu, dan terguling,
telah berhasil memikat hati kaum egaliter terutama petani dan pedagang. Kaum inilah yang menjadi lawan tanding
kelompok kaos kuning sebutan untuk mereka yang berada dalam kelas pegawai
negeri, keluarga tentara dan pemuja nilai-nilai kerajaan.
![]() |
| Titik Nol Yogya, haruskah kembali ke titik Nol |
Demokrasi Indonesia sedang diuji kematangannya terutama
ditingkat elite partai dan sekutunya.
Perhitungan suara manual yang sedang dilakukan KPU saat ini hendaknya
disikapi dengan ketenangan cara pandang dan cara bicara. Apalagi kita berada di bulan suci Ramadhan
yang nota bene menahan dari segala hal, menahan amarah, menahan emosi termasuk
menahan nafsu provokasi. Rakyat bangsa telah membuktikan kematangan
berdemokrasi dengan tingkat kedatangan di TPS meningkat tajam. Rakyat bangsa telah menjalankan “ritual
demokrasi” nyaris sempurna tanpa ribut dan cela.
Maka saatnya elite partai dan kelompok masing-masing
harus mampu menunjukkan kecerdasan berpolitik, kecerdasan emosional, kecerdasan
intelektual. Asal tahu saja kalangan
grass root atau akar rumput tidak akan melakukan tindakan apa-apa jika tidak
ada instruksi dari atasan partai atau kelompoknya. Mestinya kita banyak bercermin dari
kedewasaan masyarakat pemilih kita yang sudah kembali menjalankan aktivitas
mereka. Berbagai aktivitas mereka sesungguhnya menggerakkan perekonomian yang
terus tumbuh dan berkembang di negeri ini.
Ketika saatnya diumumkan siapa yang menjadi pemenang
untuk menjadi Presiden lima tahun ke depan, mestinya jauh-jauh hari sudah
dikondisikan bagi kedua petarung dan kelompoknya untuk siap kalah dan menerima
kekalahan dengan legowo. Tentu ini berat
karena ongkos politik tidak hanya berupa nilai tukar tetapi juga gengsi diri,
harga diri, aktualisasi diri, emosi diri dan ambisi diri terhadap apa yang
disebut nilai perolehan harga kekuasaan.
Tentu semua ada limitnya. Oleh
sebab itu pusat gravitasi kendali merupakan kunci untuk memberikan ketenangan
pada harga diri, gengsi diri termasuk kendali kelompok.
Pada posisi tak terkendali, bukan sesuatu yang haram jika
Polisi dan Tentara bahu membahu menghantam habis kelompok anarkis yang berusaha
mencederai martabat demokrasi karena tak siap kalah. Posisi darurat sipil maupun darurat militer
bisa dan sah diberlakukan di seluruh tanah air manakala kemarahan lisan berubah
menjadi kemarahan destruktif tak terkendali.
Kita berada di persimpangan itu, mau meneruskan universitas demokrasi
dengan nilai cum laude atau terpaksa harus mengulang kembali karena tidak lulus
mata kuliah pengendalian diri.
Semoga berkah Ramadhan ini mampu memberikan berkah demokrasi
yang bening, pengendalian diri untuk sebuah kemenangan Indonesia Raya yang majemuk.
Dan di Idul Fitri nanti kita semua bisa mengembalikan nilai kesejatian pada fitrah
diri, fitrah berbangsa, sebuah kebanggaan pada nilai kebangsaan Indonesia Raya.
****
Jagvane / 12 Juli 2014.
Monday, July 7, 2014
Menjelang Soft Landing
Bahwa perjalanan memang ada batasnya, jelas. Perjalanan berpemerintahan selama sepuluh
tahun terakhir ini telah sampailah pada tahapan menurunkan ketinggian untuk
kemudian pada saat yang tepat mendarat secara halus dan mulus. Beberapa saat kemudian
take off lagi dengan pergantian pilot yang baru. Kita berharap pergantian pilot
baru itu akan memberikan nilai cerah atau setidaknya cerah berawan pada cuaca
di sekitar bandara suksesi. Sehingga
tidak ada goncangan atau gangguan cuaca dalam upaya pendaratan kepemimpinan
yang sudah bagus menjalankan pesawatnya selama 10 tahun ini.
Perjalanan pemerintahan SBY memberikan nilai, harga,
harkat dan warna dalam perjalanan bangsa ini.
Catatan penting yang ingin kita sampaikan adalah hampir semua
keberhasilan itu tidak mendapat tempat yang proporsional untuk disiarkan atau
disampaikan media khususnya media layar kaca karena kepentingan pemilik
media. Pada akhirnya nilai-nilai
kecerdasan yang dimiliki berpuluh juta penduduk negeri jamrud khatulistiwa
inilah yang mampu memilah, merenungkan dan membeningkan nilai kebenaran sejati pada
testimoni berita dari sebuah media yang
dimiliki si A atau B. Independensi yang
menjadi pita hati nurani para jurnalis tidak lagi sebening embun pagi.
![]() |
| Presiden yang santun dan menghasilkan karya besar |
Tidak ada yang sempurna, karena kita makhluk yang bernama
manusia. Kepemimpinan yang memang sudah menjadi
kodrat kita sebagai manusia yang diciptakan Allah sebagai Khalifah fil Ardhi,
tentu menjadi dasar nilai-nilai menuju kesempurnaan. Kepemimpinan seorang SBY bagaimanapun telah
memberikan gambaran jelas bagaimana negeri ini bergambar dan tergambar selama
sepuluh tahun terakhir ini. Ketika perjalanan itu berada ditengah ketinggian
begitu banyak penumpang yang rewel dan bahkan mencaci maki perjalanan sang
pilot. Tetapi sang pilot tetaplah
menjalankan pesawatnya dengan ketenangan hati dan berbagai strategi.
Nah ketika perjalanan hampir sampai di bandara suksesi
kita bisa melihat sekarang tak ada lagi caci maki, tak ada hujatan, tak ada
umpatan pada sang pilot. Malah kemudian
yang terjadi adalah lagu-lagu pujian dan
bersetuju dengan prestasi yang telah dicapai sang pilot. Memang ada satu dua
penumpang yang wajahnya sepanjang “10 jam penerbangan ini” muram terus alias
tak nyaman karena dia penumpang oposisi yang tak pernah mau mensyukuri
nikmatnya berdemokrasi. Penumpang itu sepertinya memendam kebencian berlarut dan
terlihat pada raut wajah yang kusut dan kalimat comberan.
Indonesia sedang mempersiapkan pilot baru karena sesuai
konstitusi pilot lama tidak boleh memimpin perjalanan lebih dari “10 jam
penerbangan” alias 10 tahun memimpin negara.
Oleh karena itu berbagai rencana bagus dan hebat yang sudah difundamenkan
untuk menjadikan negara ini mampu menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi,
peningkatan kesejahteraan rakyat dan harga diri teritorialnya tentu harus terus
berkesinambungan. Salah satunya adalah kesinambungan program MEF (Minimum Essential
Force) jilid 2 sebagai kelanjutan MEF tahun 2010-2014.
![]() |
| Selalu on the spot untuk kesiapan hulubalang republik |
Seperti kita ketahui program MEF 1 telah menghasilkan
karya alutsista yang membanggakan.
Industri pertahanan dalam negeri telah mampu memproduksi sejumlah kapal
perang berbagai jenis mulai dari Kapal Cepat Rudal, Landing Ship Tank, Landing
Platform Dock dan Kapal BCM. Produksi
massal Panser Anoa sudah memenuhi batalyon tempur TNI AD dan masih terus berlangsung
sementara produksi bersama pesawat angkut militer CN295 di PT DI sedang
berlangsung penuh gairah. Tidak itu saja
berbagai jenis alutsista yang dibeli sudah banyak yang berdatangan seperti jet
tempur T50 buatan Korsel, Super Tucano dari Brazil, Grob Jerman, KT-1 Wong Bee
Korsel, Sukhoi Rusia dan lain-lain.
Sementara alutsista yang sedang ditunggu kedatangannya
tahun ini adalah MBT Leopard, Marder, artileri Caesar Nexter, Astross Mk2, jet
tempur F16 blok 52 dan lain-lain. Semua itu
adalah hasil karya MEF-1 yang menghabiskan duit sebesar US$15 Milyar. Tentu untuk memperkuat pagar pertahanan itu
tidak cukup hanya satu MEF karena situasi kawasan yang suatu saat bisa menjadi
liar tak terkendali memerlukan barikade alutsista berteknologi dalam jumlah
banyak dan berkualitas. Sesungguhnya
filosofi memperkuat alutsista bukanlah untuk mengganggu kawasan tetapi dengan
militer dan alutsista yang gahar diniscayakan akan mampu meminimalisir
terjadinya gangguan teritori.
Pada akhirnya nanti kita bisa memperbandingkan pilot yang
bernama SBY dengan pilot penggantinya.
Ketika usia perjalanan pemerintahan baru telah menuju jalan setahun
biasanya akan kelihatan gaya
kepemimpinan termasuk topeng sesungguhnya. Apapun itu, perjalanan berbangsa dan
bernegara terus berlangsung menuju horizon peningkatan kesejahteraan dan
kewibawaan teritori. Sudah tentu apa yang sudah difundamenkan dan direncanakan
oleh pemerintah sebelumnya bisa menjadi sebuah mata rantai kelanjutan. MEF 2 diharapkan tetap berkelanjutan dengan
semangat yang sama karena didalamnya ada program kemandirian alutsista yang
lebih spektakuler seperti pembuatan kapal perang jenis PKR, kapal selam dan jet
tempur.
Lebih penting dari semua itu adalah mempersiapkan
pergantian kepemimpinan dengan iklim yang sejuk dengan semangat kebanggaan
berbangsa. Sekaligus menunjukkan
kekuatan kelola emosi jika ternyata harus berada di barisan pihak yang kalah
suara. Momentum Ramadhan bisa menjadi
cermin tata kelola nafsu termasuk nafsu amarah manakala ternyata kalah. Apa yang sudah menjadi prestasi pemerintahan
SBY sejatinya adalah kekuatan kebanggaan itu.
Oleh karena itu menjaga irama soft landing adalah bagian ujian akhir
yang akan menentukan apakah kita sudah dewasa dalam laku sikap dan ucap demokrasi
atau memang baru setingkat demokrasi playgroup.
****
Jagvane/ 06 Juli 2014
Thursday, June 19, 2014
Memahami Wibawa Pertahanan
Sebenarnya tanpa kita sadari kekuatan pertahanan kita
selama setahun terakhir ini meningkat dengan tajam seiring dengan kedatangan
berbagai alutsista untuk mengisi satuan tempur di segala matra. Belum lagi
ledakan amunisi terbesar dan tergagah sepanjang sejarah dalam Latgab TNI awal
Juni kemarin yang ditembakkan dari berbagai sumber daya alutsista darat, laut
dan udara. Bisa dibayangkan betapa lumatnya KRI Karang Banteng yang menjadi
korban 4 peluru kendali anti kapal Exocet dan C802 yang ditembakkan dari 4 KRI
sekaligus. Memang Latgab kemarin adalah
latgab terdahsyat yang pernah dilakukan TNI dan pertama kali mengintegrasikan
sistem pertempuran 3 matra dengan konsep pre emptive strike.
Latgab itu adalah salah satu aplikasi memahami wibawa
pertahanan. Memahami wibawa pertahanan esensinya sama dengan memperhatikan
kesehatan dan kebugaran sekujur tubuh.
Tubuh yang sehat dan bugar adalah gambaran kesehatan organ tubuh di
dalamnya. Tubuh yang atletis menggambarkan kegagahan bagi si pemilik tubuh. Demikian
juga dengan gambaran sebuah negara. Negara yang “atletis” tentu menggambarkan
kekuatan militernya yang tangguh dan gahar. Wibawa pertahanan adalah bagian
dari cara pandang untuk mengukur sejauh mana harga diri bangsa berdiri di
tengah pergaulan antar bangsa. Maknanya adalah tidak ada pelecehan teritori dan
sekaligus kemampuan merawat pagar teritori.
Bukan ketika ada yang mencoba melecehkan teritori lalu bersikap reaktif
dan retorika.
![]() |
| KRI SIM menembakkan rudal Exocet dalam Latgab Juni 2014 |
Kehadiran unsur satuan tempur di darat, laut dan udara
berupa tentara dan alutsistanya di pagar teritori secara terus menerus
merupakan salah satu cara mewibawakan makna pertahanan. Ke depan ini kita
meyakini sejumlah alutsista TNI yang baru datang akan mampu hadir sepanjang
saat untuk menjaga kewibawaan teritori Indonesia. Kedatangan 24 jet tempur F16 blok 52 mulai
Juli tahun ini akan memberikan tambahan adrenalin dan darah segar kekuatan
pukul udara dan frekuansi patroli.
Demikian juga kedatangan 3 kapal perang dari Inggris mulai Juli ini
bersama 3 KCR buatan PAL diniscayakan akan memberikan nafas segar bagi pengawal
republik.
Sepuluh tahun terakhir ini kemajuan ekonomi Indonesia
mampu menghebatkan kualitas rakyatnya dan memunculkan kekuatan kelas menengah
yang pasti paham bagaimana memahami konsep wibawa pertahanan. Sebagai negara
kepulauan maka sudah sepantasnya fokus kekuatan pertahanan ada di kekuatan laut
dan udara. Jika kita perbandingkan maka konsep itu sama dengan kekuatan kelas
menengah yang menjadi pilar kekuatan ekonomi cerdas yang dimiliki bangsa ini. Kelas
menengah adalah gambaran keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi dan eksistensinya
sedangkan wibawa pertahanan kemampuan menjaga pagar teritori khususnya laut dan
udara.
Riak gelombang di Laut Cina Selatan (LCS) sudah
menunjukkan iklim tidak sehat, gampang demam tinggi. Cina sudah mulai berani menggertak AS agar
tidak bermain api di LCS padahal justru dia yang bermain api selama ini. Vietnam, Filipina bersuara keras terhadap
Cina sementara Malaysia mengambil sikap lembut terhadap Cina. Kita tidak tahu mengapa dia tiba-tiba menjadi
selembut salju menghadapi Cina bahkan mau membeli sejumlah aluisista dari
negeri tirai bambu itu. LCS adalah medan
konflik yang sudah di depan mata. AS dan
Australia sudah memperbaharui model pakta pertahanannya dengan membolehkan
akses militer AS dan alutsistanya yang lebih besar di Australia Utara, tidak
sekedar Darwin.
![]() |
| 35 Heli Penerbad berbagai jenis ikut menggemuruhkan Latgab 2014 |
Indonesia tentu harus menyikapi perubahan ini yang bisa
saja menjadi liar dan tak terkendali sewaktu-waktu. Krisis Ukraina dan kejutan militan ISIS di
Irak adalah semboyan bahwa konflik militer tidak bisa diprediksi meski dengan
kacamata intelijen sekalipun. Bahasa
jelasnya adalah membangun wibawa pertahanan dengan anggaran besar untuk sebuah
negara besar berbentuk kepulauan. Maka
keperluan yang harus disediakan adalah membangun armada kapal selam, penyediaan
kapal perang permukaan setingkat fregat dan destroyer. Untuk kedaulatan udara diperlukan pesawat
tempur dalam jumlah memadai dengan teknologi yang setara.
Wibawa pertahanan Indonesia akan diuji dengan dinamika
kawasan yang makin demam tinggi. Meski
AS dan Australia telah menyepakati penempatan sejumlah kapal perang dan pasukan
marinir di utara Australia tetapi tetap saja akses terbuka dan paling lebar menuju
panggung LCS melalui perairan Indonesia.
Oleh sebab itu ketersediaan sejumlah kapal perang fregat dan destroyer
serta kapal selam yang memadai tentu akan memberikan pesan untuk tidak lagi menganggap
remeh negara ini. Memang sih sepanjang sejarahnya wibawa pertahanan negara ini selalu
diremehkan oleh kekuatan asing. Tak usah malu-malu lah mengatakan itu. Maka
agar tak malu-maluin terus perkuatlah persenjataan hulubalang republik. Pagar utama adalah laut dan udara
![]() |
| Jet tempur Sukhoi dengan rudal-rudal penghancurnya |
Wibawa pertahanan tidak hanya berteriak dan menggertak tetapi
alat gertaknya juga harus jelas agar tidak disebut gertak sambal. Menjadi ironi misalnya ketika terjadi insiden
teritori yang keluar hanya teriakan bukan menghadirkan sejumlah jet tempur atau
kapal perang. Tidak juga mengurangi
kewibawaan pertahanan manakala kita tetap membuka diri tapi juga jaga jarak dengan
AS dan Australia dengan azas kehormatan teritori. Maksudnya karena teritori laut dan udara Indonesia
adalah jalan masuk dari selatan menuju palagan LCS, akses itu bisa tetap
dilewati dengan pengamatan dan pengawalan laut dan udara.
Masih belum terlambat menguatkan nilai-nilai kewibawaan
pertahanan itu. MEF II (2015-2019) diharapkan
menjadi realisasi menghadirkan sejumlah kapal perang dan kapal selam penyengat
serta jet tempur penghancur. Kalau sejumlah alutsista penyengat dan penghancur
ini sudah hadir maka dengan sendirinya muncul aura kewibawaan itu. Salah satu nilai ber NKRI itu adalah
menghirup aura kewibawaan itu disamping senantiasa menata hubungan
internasional dengan kecerdasan diplomasi berlandaskan harga diri. Kita yakin sejalan dengan tingkat
kesejahteraan dan pertumbuhan PDB yang telah mencapai 10 besar dunia itu,
Indonesia akan semakin diperhitungkan nilai-nilai kewibawaannya termasuk
kewibawaan pertahanannya.
****
Jagvane / 19 Juni 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)










