Monday, July 7, 2014

Menjelang Soft Landing



Bahwa perjalanan memang ada batasnya, jelas.  Perjalanan berpemerintahan selama sepuluh tahun terakhir ini telah sampailah pada tahapan menurunkan ketinggian untuk kemudian pada saat yang tepat mendarat secara halus dan mulus. Beberapa saat kemudian take off lagi dengan pergantian pilot yang baru. Kita berharap pergantian pilot baru itu akan memberikan nilai cerah atau setidaknya cerah berawan pada cuaca di sekitar bandara suksesi.  Sehingga tidak ada goncangan atau gangguan cuaca dalam upaya pendaratan kepemimpinan yang sudah bagus menjalankan pesawatnya selama 10 tahun ini.

Perjalanan pemerintahan SBY memberikan nilai, harga, harkat dan warna dalam perjalanan bangsa ini.  Catatan penting yang ingin kita sampaikan adalah hampir semua keberhasilan itu tidak mendapat tempat yang proporsional untuk disiarkan atau disampaikan media khususnya media layar kaca karena kepentingan pemilik media.  Pada akhirnya nilai-nilai kecerdasan yang dimiliki berpuluh juta penduduk negeri jamrud khatulistiwa inilah yang mampu memilah, merenungkan dan membeningkan nilai kebenaran sejati pada testimoni berita  dari sebuah media yang dimiliki si A atau B.  Independensi yang menjadi pita hati nurani para jurnalis tidak lagi sebening embun pagi.
Presiden yang santun dan menghasilkan karya besar
Tidak ada yang sempurna, karena kita makhluk yang bernama manusia.  Kepemimpinan yang memang sudah menjadi kodrat kita sebagai manusia yang diciptakan Allah sebagai Khalifah fil Ardhi, tentu menjadi dasar nilai-nilai menuju kesempurnaan.  Kepemimpinan seorang SBY bagaimanapun telah memberikan gambaran jelas bagaimana negeri ini bergambar dan tergambar selama sepuluh tahun terakhir ini. Ketika perjalanan itu berada ditengah ketinggian begitu banyak penumpang yang rewel dan bahkan mencaci maki perjalanan sang pilot.  Tetapi sang pilot tetaplah menjalankan pesawatnya dengan ketenangan hati dan berbagai strategi.
Nah ketika perjalanan hampir sampai di bandara suksesi kita bisa melihat sekarang tak ada lagi caci maki, tak ada hujatan, tak ada umpatan pada sang pilot.  Malah kemudian yang terjadi adalah  lagu-lagu pujian dan bersetuju dengan prestasi yang telah dicapai sang pilot. Memang ada satu dua penumpang yang wajahnya sepanjang “10 jam penerbangan ini” muram terus alias tak nyaman karena dia penumpang oposisi yang tak pernah mau mensyukuri nikmatnya berdemokrasi. Penumpang itu sepertinya memendam kebencian berlarut dan terlihat pada raut wajah yang kusut dan kalimat comberan.

Indonesia sedang mempersiapkan pilot baru karena sesuai konstitusi pilot lama tidak boleh memimpin perjalanan lebih dari “10 jam penerbangan” alias 10 tahun memimpin negara.  Oleh karena itu berbagai rencana bagus dan hebat yang sudah difundamenkan untuk menjadikan negara ini mampu menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan rakyat dan harga diri teritorialnya tentu harus terus berkesinambungan. Salah satunya adalah kesinambungan program MEF (Minimum Essential Force) jilid 2 sebagai kelanjutan MEF tahun 2010-2014.
Selalu on the spot untuk kesiapan hulubalang republik
Seperti kita ketahui program MEF 1 telah menghasilkan karya alutsista yang membanggakan.  Industri pertahanan dalam negeri telah mampu memproduksi sejumlah kapal perang berbagai jenis mulai dari Kapal Cepat Rudal, Landing Ship Tank, Landing Platform Dock dan Kapal BCM.  Produksi massal Panser Anoa sudah memenuhi batalyon tempur TNI AD dan masih terus berlangsung sementara produksi bersama pesawat angkut militer CN295 di PT DI sedang berlangsung penuh gairah.  Tidak itu saja berbagai jenis alutsista yang dibeli sudah banyak yang berdatangan seperti jet tempur T50 buatan Korsel, Super Tucano dari Brazil, Grob Jerman, KT-1 Wong Bee Korsel, Sukhoi Rusia dan lain-lain.

Sementara alutsista yang sedang ditunggu kedatangannya tahun ini adalah MBT Leopard, Marder, artileri Caesar Nexter, Astross Mk2, jet tempur F16 blok 52 dan lain-lain.  Semua itu adalah hasil karya MEF-1 yang menghabiskan duit sebesar US$15 Milyar.  Tentu untuk memperkuat pagar pertahanan itu tidak cukup hanya satu MEF karena situasi kawasan yang suatu saat bisa menjadi liar tak terkendali memerlukan barikade alutsista berteknologi dalam jumlah banyak dan berkualitas.  Sesungguhnya filosofi memperkuat alutsista bukanlah untuk mengganggu kawasan tetapi dengan militer dan alutsista yang gahar diniscayakan akan mampu meminimalisir terjadinya gangguan teritori.

Pada akhirnya nanti kita bisa memperbandingkan pilot yang bernama SBY dengan pilot penggantinya.  Ketika usia perjalanan pemerintahan baru telah menuju jalan setahun biasanya akan  kelihatan gaya kepemimpinan termasuk topeng sesungguhnya. Apapun itu, perjalanan berbangsa dan bernegara terus berlangsung menuju horizon peningkatan kesejahteraan dan kewibawaan teritori. Sudah tentu apa yang sudah difundamenkan dan direncanakan oleh pemerintah sebelumnya bisa menjadi sebuah mata rantai kelanjutan.  MEF 2 diharapkan tetap berkelanjutan dengan semangat yang sama karena didalamnya ada program kemandirian alutsista yang lebih spektakuler seperti pembuatan kapal perang jenis PKR, kapal selam dan jet tempur.

Lebih penting dari semua itu adalah mempersiapkan pergantian kepemimpinan dengan iklim yang sejuk dengan semangat kebanggaan berbangsa.  Sekaligus menunjukkan kekuatan kelola emosi jika ternyata harus berada di barisan pihak yang kalah suara.  Momentum Ramadhan bisa menjadi cermin tata kelola nafsu termasuk nafsu amarah manakala ternyata kalah.  Apa yang sudah menjadi prestasi pemerintahan SBY sejatinya adalah kekuatan kebanggaan itu.  Oleh karena itu menjaga irama soft landing adalah bagian ujian akhir yang akan menentukan apakah kita sudah dewasa dalam laku sikap dan ucap demokrasi atau memang baru setingkat demokrasi playgroup.
****
Jagvane/ 06 Juli 2014

Thursday, June 19, 2014

Memahami Wibawa Pertahanan



Sebenarnya tanpa kita sadari kekuatan pertahanan kita selama setahun terakhir ini meningkat dengan tajam seiring dengan kedatangan berbagai alutsista untuk mengisi satuan tempur di segala matra. Belum lagi ledakan amunisi terbesar dan tergagah sepanjang sejarah dalam Latgab TNI awal Juni kemarin yang ditembakkan dari berbagai sumber daya alutsista darat, laut dan udara. Bisa dibayangkan betapa lumatnya KRI Karang Banteng yang menjadi korban 4 peluru kendali anti kapal Exocet dan C802 yang ditembakkan dari 4 KRI sekaligus.  Memang Latgab kemarin adalah latgab terdahsyat yang pernah dilakukan TNI dan pertama kali mengintegrasikan sistem pertempuran 3 matra dengan konsep pre emptive strike.

Latgab itu adalah salah satu aplikasi memahami wibawa pertahanan. Memahami wibawa pertahanan esensinya sama dengan memperhatikan kesehatan dan kebugaran sekujur tubuh.  Tubuh yang sehat dan bugar adalah gambaran kesehatan organ tubuh di dalamnya. Tubuh yang atletis menggambarkan kegagahan bagi si pemilik tubuh. Demikian juga dengan gambaran sebuah negara. Negara yang “atletis” tentu menggambarkan kekuatan militernya yang tangguh dan gahar. Wibawa pertahanan adalah bagian dari cara pandang untuk mengukur sejauh mana harga diri bangsa berdiri di tengah pergaulan antar bangsa. Maknanya adalah tidak ada pelecehan teritori dan sekaligus kemampuan merawat pagar teritori.  Bukan ketika ada yang mencoba melecehkan teritori lalu bersikap reaktif dan retorika.
KRI SIM menembakkan rudal Exocet dalam Latgab Juni 2014
Kehadiran unsur satuan tempur di darat, laut dan udara berupa tentara dan alutsistanya di pagar teritori secara terus menerus merupakan salah satu cara mewibawakan makna pertahanan. Ke depan ini kita meyakini sejumlah alutsista TNI yang baru datang akan mampu hadir sepanjang saat untuk menjaga kewibawaan teritori Indonesia.  Kedatangan 24 jet tempur F16 blok 52 mulai Juli tahun ini akan memberikan tambahan adrenalin dan darah segar kekuatan pukul udara dan frekuansi patroli.  Demikian juga kedatangan 3 kapal perang dari Inggris mulai Juli ini bersama 3 KCR buatan PAL diniscayakan akan memberikan nafas segar bagi pengawal republik.

Sepuluh tahun terakhir ini kemajuan ekonomi Indonesia mampu menghebatkan kualitas rakyatnya dan memunculkan kekuatan kelas menengah yang pasti paham bagaimana memahami konsep wibawa pertahanan. Sebagai negara kepulauan maka sudah sepantasnya fokus kekuatan pertahanan ada di kekuatan laut dan udara. Jika kita perbandingkan maka konsep itu sama dengan kekuatan kelas menengah yang menjadi pilar kekuatan ekonomi cerdas yang dimiliki bangsa ini. Kelas menengah adalah gambaran keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi dan eksistensinya sedangkan wibawa pertahanan kemampuan menjaga pagar teritori khususnya laut dan udara.

Riak gelombang di Laut Cina Selatan (LCS) sudah menunjukkan iklim tidak sehat, gampang demam tinggi.  Cina sudah mulai berani menggertak AS agar tidak bermain api di LCS padahal justru dia yang bermain api selama ini.  Vietnam, Filipina bersuara keras terhadap Cina sementara Malaysia mengambil sikap lembut terhadap Cina.  Kita tidak tahu mengapa dia tiba-tiba menjadi selembut salju menghadapi Cina bahkan mau membeli sejumlah aluisista dari negeri tirai bambu itu.  LCS adalah medan konflik yang sudah di depan mata.  AS dan Australia sudah memperbaharui model pakta pertahanannya dengan membolehkan akses militer AS dan alutsistanya yang lebih besar di Australia Utara, tidak sekedar Darwin.
35 Heli Penerbad berbagai jenis ikut menggemuruhkan Latgab 2014
Indonesia tentu harus menyikapi perubahan ini yang bisa saja menjadi liar dan tak terkendali sewaktu-waktu.  Krisis Ukraina dan kejutan militan ISIS di Irak adalah semboyan bahwa konflik militer tidak bisa diprediksi meski dengan kacamata intelijen sekalipun.  Bahasa jelasnya adalah membangun wibawa pertahanan dengan anggaran besar untuk sebuah negara besar berbentuk kepulauan.  Maka keperluan yang harus disediakan adalah membangun armada kapal selam, penyediaan kapal perang permukaan setingkat fregat dan destroyer.  Untuk kedaulatan udara diperlukan pesawat tempur dalam jumlah memadai dengan teknologi yang setara.

Wibawa pertahanan Indonesia akan diuji dengan dinamika kawasan yang makin demam tinggi.  Meski AS dan Australia telah menyepakati penempatan sejumlah kapal perang dan pasukan marinir di utara Australia tetapi tetap saja akses terbuka dan paling lebar menuju panggung LCS melalui perairan Indonesia.  Oleh sebab itu ketersediaan sejumlah kapal perang fregat dan destroyer serta kapal selam yang memadai tentu akan memberikan pesan untuk tidak lagi menganggap remeh negara ini. Memang sih sepanjang sejarahnya wibawa pertahanan negara ini selalu diremehkan oleh kekuatan asing. Tak usah malu-malu lah mengatakan itu. Maka agar tak malu-maluin terus perkuatlah persenjataan hulubalang republik.  Pagar utama adalah laut dan udara
Jet tempur Sukhoi dengan rudal-rudal penghancurnya
Wibawa pertahanan tidak hanya berteriak dan menggertak tetapi alat gertaknya juga harus jelas agar tidak disebut gertak sambal.  Menjadi ironi misalnya ketika terjadi insiden teritori yang keluar hanya teriakan bukan menghadirkan sejumlah jet tempur atau kapal perang.  Tidak juga mengurangi kewibawaan pertahanan manakala kita tetap membuka diri tapi juga jaga jarak dengan AS dan Australia dengan azas kehormatan teritori.  Maksudnya karena teritori laut dan udara Indonesia adalah jalan masuk dari selatan menuju palagan LCS, akses itu bisa tetap dilewati dengan pengamatan dan pengawalan laut dan udara.

Masih belum terlambat menguatkan nilai-nilai kewibawaan pertahanan itu.  MEF II (2015-2019) diharapkan menjadi realisasi menghadirkan sejumlah kapal perang dan kapal selam penyengat serta jet tempur penghancur. Kalau sejumlah alutsista penyengat dan penghancur ini sudah hadir maka dengan sendirinya muncul aura kewibawaan itu.  Salah satu nilai ber NKRI itu adalah menghirup aura kewibawaan itu disamping senantiasa menata hubungan internasional dengan kecerdasan diplomasi berlandaskan harga diri.  Kita yakin sejalan dengan tingkat kesejahteraan dan pertumbuhan PDB yang telah mencapai 10 besar dunia itu, Indonesia akan semakin diperhitungkan nilai-nilai kewibawaannya termasuk kewibawaan pertahanannya.
****
Jagvane / 19 Juni 2014

Wednesday, June 4, 2014

Serunya Latgab Pre Emptive Strike 2014

RM Grad Marinir menghancurkan sasaran
35 Heli serbu Penerbad dan 9 Heli serbu TNI AU  menuju medan
KRI Sultan Iskandar Muda menembakkan rudal Exocet MM40 Blok 3
KRI Makassar 591 dikawal Fregat KRI Ahmad Yani
Panser buatan anak bangsa Anoa merajalela di arena Latgab
Antara tank amfibi BMP3F dan ternak warga, arena Latgab
Pendaratan amfibi di pantai Banongan membawa RM Grad
Rudal Sukhoi Kh29 Vympel, salah satu menu amunisi Latgab 2014
***Jagvane/04062014

Tuesday, June 3, 2014

Serial Latgab 2014

KRI Karang Banteng (983) akan diluluhlantakkan dalam serangan keroyokan 23 KRI bersama 8 Sukhoi dan 6 F16 yang melakukan Latgab satu komando (TNI AL dan TNI AU) hari ini di Samudra Hindia. Kapal perang yang dipensiunkan ini akan dihujani tembakan peluru kendali anti kapal C802 buatan Cina, Exocet MM40 Blok 3 dan peluru kendali udara ke permukaan KH29 Vympel dari jet tempur Sukhoi. Lokasi penghancuran kapal di selatan Jawa ini tentu membawa pesan jelas kepada tetangga selatan. Yang jelas pesan itu bukan SMS, MMS, Twitter atau facebook. Ini adalah pesan militer dengan bahasa militer.

**Jagvane 03062014

Sunday, June 1, 2014

Latgab Pre Emptive Strike

Hari ini dimulai Latgab TNI dengan pengerahan 16.000 tentara, 40 kapal perang, 35 jet tempur, 3 pesawat intai strategis, 14 Hercules, 45 Helikopter tempur berbagai jenis, ratusan tank berbagai jenis (Scorpion, Stormer, AMX13, BMP3F, PT76, BTR-50) dan berbagai alutsista canggih lainnya yang baru datang dalam satu model pertempuran yang terintegrasi. Ini pertama kalinya TNI menerapkan simulasi pertempuran 3 matra dengan konsep pre emptive strike. 

Yang menarik meski Latgab diadakan di seluruh Jawa dan Bali, empat hotspot yang lagi hangat saat ini tetap dalam pengawalan ketat operasi militer gabungan TNI. Perairan Ambalat dijaga 10-12 KRI bersama pasukan Kodam Mulawarman dan Kodam Wirabuana dengan dukungan Sukhoi Makassar. Laut Timor dan Arafuru dikawal 9-11 KRI dan Laut Natuna dijaga 8-10 KRI. Satu hotspot lagi yaitu hotspot tak terduga Tanjung Datuk saat ini dijaga 4 KRI dan pasukan batalyon 641 Raider.

Kurikulum simulasi pertempuran dalam Latgab kali ini lebih bergigi dengan menampilkan pertempuran udara antar jet tempur, serangan udara langsung, penembakan rudal, penghancuran kapal perang, membombardir markas lawan, pendaratan pasukan Marinir dan pasukan Kostrad sebanyak 1 Divisi.  Ini bukan pekerjaan mudah, mobilisasi pasukan dan alutsista merupakan kerja hebat yang perlu diacungi jempol dan hanya mampu dilakukan oleh manajemen tentara yang terlatih.  Berbagai peluru kendali canggih akan ditembakkan antara lain peluru kendali Exocet MM40 blok 3 dari KRI Sultan Iskandar Muda, peluru kendali KH29 Vympel dari jet tempur Sukhoi, peluru kendali C803, torpedo dan berbagai amunisi lain yang mempunyai daya ledak yang luar biasa.


Hiruk pikuk Pilpres lebih membahana gaungnya namun hulubalang Republik tetap menjalankan tugas utamanya, pertahanan dan kewibawaan teritori NKRI. Termasuk mengusir kapal perang jiran yang "mengawal" pembangunan mercusuar Tanjung Datuk Kalbar. Dan memang itulah tugas tentara.
****
Jagvane / 01 Juni 2014

Saturday, May 31, 2014

Tambahan Kapal Combatan TNI AL

Selama 4 tahun ini ada tambahan 10 Kapal Perang Striking Force TNI AL :

Kapal Cepat Rudal 40 m buatan Palindo Batam :

KRI Clurit 641
KRI Kujang 642
KRI Beladau 643
KRI Alamang 644
(Keempat kapal perang ini dipersenjatai dengan peluru kendali anti kapal C705 buatan Cina)

Kapal Cepat Rudal 60 m buatan PAL Surabaya :

KRI Sampari 628
KRI Tombak 629
KRI Halasan 630
(Ketiga kapal perang ini dipersenjatai dengan peluru kendali anti kapal 802 buatan Cina)

Kapal Light Fregat buatan Inggris :

KRI Bung Tomo 357
KRI John Lie 358
KRI Usman Harun 359

***Jagvane 31 Mei 2014

Sunday, May 25, 2014

Garda Wibawa, Uji Nyali dan Uji Tempur



Sepanjang pekan lalu dan pekan awal bulan depan ada dua mata ujian yang telah dan akan dilakoni TNI kita. Yang pertama adalah mata pelajaran uji nyali di Tanjung Datuk Kalbar.  Dengan mengerahkan sejumlah KRI, sejumlah jet tempur Hawk dan pesawat UAV berikut pasukan batalyon 641 Raider TNI AD maka pelajaran uji nyali di Tanjung Datuk lulus dengan mundurnya kapal perang Malaysia.  Meski begitu sejumlah KRI tetap bersiaga disana untuk memastikan “jalannya” kewibawaan teritori NKRI, garda wibawa.

Pada saat yang sama sebenarnya di perairan Ambalat saat ini sedang berlangsung operasi militer gabungan TNI “Garda Wibawa” yang melibatkan puluhan KRI dan sejumlah jet tempur dengan dukungan pasukan Kodam Mulawarman dan Kodam Wirabuana. Operasi militer ini untuk menguji koneksitas dan integrasi sistem pertempuran antar matra TNI.  Ambalat yang dijadikan medan uji simulasi sistem pertempuran, ternyata Tanjung Datuk menjadi ujian sesungguhnya.
Tank amfibi BMP3F sedang melakukan serbuan pantai
Sekedar membandingkan bedanya perairan Ambalat dengan Tanjung Datuk adalah, kalau di Ambalat kita yang bangun mercu suar di Karang Unarang lalu ada gangguan dari kapal perang Malaysia, tetapi pembangunan tetap jalan terus sampai selesai. Di perairan Tanjung Datuk pihak Malaysia yang berinsiatif membangun mercu suar di wilayah “abu-abu” itu tetapi dengan ketegasan hulubalang Republik, pembangunan mercu suar itu akhirnya dihentikan. Pelajaran dari kedua wilayah ini adalah jangan sekali-kali kita lengah karena sekali lagi terbukti perilaku jiran sebelah itu memang selalu ingin mencari kelengahan kita.

Pekan depan tepatnya sepanjang minggu pertama bulan Juni 2014 akan ada pergerakan 16.000 tentara khususnya di pulau Jawa.  Pergerakan militer itu dalam rangka menguji mata pelajaran militer yang lain yaitu uji tempur seluruh matra TNI bersama senjata-senjata strategis yang dimilikinya.  Setidaknya ada 40 an jet tempur berbagai jenis yang terdiri 8-10 Sukhoi, 6-8 F16, 12 T50, 2 F5E, 3 Super Tucano dan 10-12 Hawk akan bersileweran di langit Jawa untuk memerankan uji tempur pre emptive strike, menghancurkan musuh sebelum memasuki wilayah teritori Indonesia.  Musuh anggapan (musang) yang dijadikan target ada di perairan selatan Jawa yang bermaksud menyerang jantung Indonesia dari “pangkalan militer” dekat Bengkulu.

Maka segala cara militer dilakukan untuk mengobrak abrik pangkalan militer musang berkekuatan 1 brigade itu.  Mulai dari penembakan peluru kendali udara ke permukaan dari Sukhoi dan F16, penembakan peluru kendali Exocet MM40 Blok 3 dari KRI Sigma untuk menghancurkan kapal lawan.  Kalau kita melihat serial latihan gabungan yang dilakukan selama 3 tahun terakhir maka uji tembak senjata strategis yang dimiliki TNI AL sudah dilakukan mulai dari rudal C705, rudal C802, rudal Yakhont, Torpedo dan terakhir ini Exocet seri terbaru.  Jet tempur Sukhoi juga akan melakukan pertempuran udara dengan jet tempur musang lalu menembakkan rudal udara ke permukaan, Vympel KH29.
Rudal Yakhont ditembakkan dari KRI Oswald Siahaan
Puncak dari semua uji tempur dan uji tembak itu akan berakhir di pantai Asembagus Situbondo dengan serangan pantai ribuan pasukan Marinir dan akan disaksikan oleh Presiden SBY.  Serbuan pantai ini akan dikawal sedikitnya 30 KRI yang sebagian akan memuntahkan ratusan isi perutnya berupa tank amfibi BMP3F, PT76, BTR50, RM Grad, LVT7, Artileri, Roket, Rudal Qw3 dan senjata berat lainnya. TNI AD menyertakan ribuan prajuritnya bersama alutsista yang dimilikinya seperti tank Scorpion, Stormer, AMX13, artileri KH179, KH178, panser Anoa, panser Tarantula, heli tempur Mi35, Mi17, Bell412Ep dan lain-lain.

Meski uji tempur TNI memberikan kegembiraan gahar yang luar biasa karena kita bisa melihat perkembangan modernisasi TNI selama 5 tahun terakhir ini namun nilai gentar uji nyali di Tanjung Datuk lebih memberikan kebanggaan yang membuncah. Karena peristiwa unjuk kerja militer itu nyata, bukan simulasi.  Gerakan kapal perang RI yang dipimpin oleh KRI Sutedi Senaputra yang baru diperbaharui power dan persenjataannya bersama manuver Hawk Pontianak dan UAV memberikan efek ciutnya nyali pihak seberang.  Sayangnya banyak media yang tidak mengekspos peristiwa ini karena sibuk dengan berita pesta pilpres.  Bandingkan dengan berita Ambalat tempo hari.

Sementara itu terkait dengan uji tempur Latgab tahun ini perlu juga dicatat, bahwa belum pernah ada dalam catatan sejarah Latgab selama ini, pelaksanaan Latgab dilakukan dengan frekuensi sesering 4 tahun belakangan ini.  Tahun 2013 ada Latgab besar dengan 3 Hotspot, Sangatta, Flores dan Situbondo.  Lalu tahun ini dilakukan Latgab lagi dengan formula yang berbeda dengan Latgab sebelumnya.  Latgab tahun ini tidak lagi berpola defensif tetapi mengerahkan semua kekuatan yang ada untuk menyerang pangkalan militer negara Musang.
Artileri KH179 ikut meramaikan ledakan amunisi Latgab 2014
Latgab tahun ini mensinergikan kekuatan 3 matra dalam satu komando tempur gabungan dengan kurikulum baru : gebuk sebelum masuk (pre emptive strike). Sepertinya ini menguji dulu komando militer gabungan terpadu sebelum nantinya model pertahanan Kogabwilhan diresmikan Presiden SBY.  Sejak tahun 2008 sampai 2014 tercatat ada 4 kali TNI melakukan Latgab berskala besar.  Untuk ukuran Asia Tenggara belum ada negara yang menyaingi kemampuan Indonesia dalam memobilisasi pasukan dan alutsista dalam jumlah besar yang dilakukan oleh satu negara.

Kampanye militer Indonesia bukan untuk menakuti negara tetangganya tetapi ingin mengingatkan negara jiran dan sekaligus rakyat Indonesia sendiri.  Untuk negara jiran pesannya adalah kekuatan sejumlah ledakan demi ledakan yang dimuntahkan itu memberi pesan kuat agar berlaku sopan dalam etika berjiran.  Sedangkan untuk rakyat kita sendiri sebagai pertanggungjawaban atas perolehan sejumlah alutsista baru dan berteknologi.  Sekalian mengingatkan pada semua komponen bangsa bahwa pagar teritori yang dikawal itu sangat luas dan masih memerlukan sejumlah perkuatan gahar untuk garda wibawa. 
****
Jagvane / 25 Mei 2014