Monday, December 10, 2012

102 Yang Ditunggu Itu

Ini rincian kedatangan Alutsista TNI AU sampai dengan tahun 2014 :


  • 24 jet tempur F16 blok 52
  • 16 jet tempur T50
  •  6 jet tempur Sukhoi
  • 12 pesawat coin Super Tucano  ( 4 sudah datang)
  •  7 pesawat angkut sedang militer CN 295 ( 2 sudah datang)
  • 10 pesawat angkut berat militer Hercules
  •  6 Heli tempur Cougar
  • 16 pesawat latih Grob
  •  5 pesawat latih KT1 Wong Bee

Yang ditunggu juga Simulator Sukhoi, Radar 3 Dimensi, Rudal untuk F16, Rudal untuk Sukhoi, Rudal Anti Serangan Udara Paskhas, F16 untuk suku cadang.

******
Jagvane / 10 Des 2012

Monday, November 26, 2012

Wawancara Dengan Koran Pikiran Rakyat Bandung


Menakar Alutsista Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak serta kondisi geopolitik berada di dua persimpangan samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta dua benua, yakni benua Asia dan Australia.  Negara lain akan menghargai kedaulatan Indonesia jika pertahanan kita kuat.

Nah, sekarang bagaimanakah kondisi pertahanan serta alat utama sistem senjata (alutsista) kita ? apakah sudah cukup kuat “menakuti” bangsa lain ? Mari kita simak masing-masing kekuatan, khususnya kekuatan alutsista trimatra Tentara Nasional Indonesia (TNI) yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).

Pemerhati isu pertahanan dan alutsista TNI, Jagarin Pane mengatakan perkembangan pengadaan alutsista TNI mulai tahun 2012 ini bisa disebut masuk musim panen raya sampai tahun 2014.  Tahun ini saja kita sudah menerima empat pesawat coin (counter insurgency) Super Tucano buatan Brazil dari yang kita pesan satu skuadron (16 unit).

Kita juga sudah menerima 2 KCR (Kapal Cepat Rudal) dari enam yang dipesan buatan galangan kapal dalam negeri di Batam.  Tank berat Leopard juga sudah diambang pintu dengan pesanan 100 unit bersama dengan 50 uni tank medium Marder buatan Jerman.

“Kita juga sedang menunggu kedatangan MLRS (Multi Launcer Rocket System) Astross II dari Brazil untuk kebutuhan dua batalyon, satu unit kendaraan peluncurnya dipamerkan di ajang Indo Defence di Jakarta.  Demikian juga dengan howitzer Caesar  buatan Perancis untuk kebutuhan dua batalyon artileri sedang dinantikan kedatangannya bersama rudal Mistral untuk satu batalyon.  Pokoknya banyak sekali pengadaan alutsista hingga tahun 2014 untuk ketiga matra TNI ini”, ungkap Jagarin kepada “PR” ketika dihubungi beberapa waktu lalu.
Astross II, Caesar dan FH2000 di HUT TNI 5 Oktober 2012
Jika ditanya mana yang terkuat diantara ketiga matra saat ini, ia mengatakan yang paling kuat adalah Angkatan Darat baik dari sisi jumlah pasukan maupun alutsista.  TNI AD punya lebih dari 1000 tank dan panser belum termasuk artileri dan rudal anti serangan udara.  “Akan tetapi tank yang dimiliki hanya berkategori tank ringan dari jenis Scorpion buatan Inggris dan AMX13 buatan Perancis.  Itu sebabnya sesuai perkembangan situasi kawasan yang dinamis kita butuh Main Battle Tank (MBT) dan Medium Tank”, ungkap Jagarin menjelaskan.

Sementara itu, lanjut dia, untuk TNI AL punya kekuatan armada dengan lebih dari 140 KRI terbagi dalam dua armada, yaitu armada Barat dan Timur. Yang membanggakan tentu kekuatan pemukul KRI sudah dilengkapi dengan rudal anti kapal Yakhont buatan Rusia berjarak tembak 300 km, rudal C802 dan C705 buatan Cina. Uji coba rudal Yakhont yang dilakukan di mulut perairan Ambalat Oktober 2012 lalu pada seri latihan Armada Jaya mampu menenggelamkan KRI LST yang sudah pensiun dengan sekali tembak.

“Satuan pemukul TNI AL yang lain adalah Korps Marinir yang punya kemampuan serang pantai.  Ini yang tidak dimiliki oleh Malaysia dan Singapura.  Korps Marinir memiliki persenjataan yang berbeda generasi mulai dari tank amfibi PT 76, BTR50, AMX10P, BTR80A, RM Grad sampai yang terbaru BMP3F”, ungkap Jagarin lagi.

Untuk TNI AU Jagarin menilai kondisi alutsista yang paling lemah diantara dua matra TNI lainnya.  Saat ini TNI AU hanya memiliki kekuatan 10 F16, 10 Sukhoi, 12 F5E, 32Hawk 100/200, 4 Super Tucano.  Menurut dia kekuatan itu jelas sangat tidak memadai untuk mengawal dirgantara RI yang seluas Eropa ini.

“Namun dengan kedatangan 24 F16 blok 52, 6 Sukhoi, 16 Super Tucano dan 16 T50 setidaknya sesak nafas yang menjadi kendala mengawal kedaulatan udara RI bisa agak lega.   Tentu saja tidak berhenti sampai disitu.  Mestinya dalam MEF (Minimum Essential Force) tahap II tahun 2015-2019 kita harus memiliki minimal 32 jet tempur kelas berat Sukhoi, 48 jet tempur ringan F16 dan paling tidak punya juga minimal 24 unit dari jenis Typhoon atau Rafale” ucap Jagarin lagi.

Melihat kondisi alutsista trimatra TNI upaya untuk menambah persenjataan tentu menjadi sebuah keniscayaan bagi negara besar seperti Indonesia.  Negara kita baru saja memproduksi UU Industri Pertahanan sebagai payung hukum untuk mengembangkan industri pertahanan dan keamanan (hankam) dalam negeri.
Rudal Anti Tank Javelin segera memperkuat alutsista TNI
“Sebenarnya sebelum UU itu jadi, Kementerian Pertahanan sudah melakukan langkah maju yang berani dengan kerjasama ToT (Transfer of Technology) dengan Korea Selatan dalam pengadaan tiga kapal selam jenis Chang Bogo.  Saat ini PT PAL dan Daewoo sedang menyeleksi tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk mendapatkan 200 tenaga ahli yang akan dikirim ke Korsel.  Dua kapal selam dibangun di Korsel dan satu unit di PT PAL Surabaya.  Dengan Cina kita juga sedang melakukan kerjasama alih teknologi rudal C705.  Jika sekolah rudal ini berhasil, dikombinasi dengan kemampuan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang sudah mampu menguji roket berjarak tembak 300 km, bisa dipastikan akan terjadi kemajuan yang luar biasa dalam teknologi rudal kita dua hingga tiga tahun ke depan” ungkap Jagarin lagi.

Lebih lanjut ia menambahkan dalam pembuatan kapal perusak kawal rudal yang dikenal sebagai proyek PKR10514 dengan Damen Schelde Belanda saat ini pun dilakukan dengan transfer teknologi.   “PT PAL yang saat ini sudah mendapat order membuat enam kapal cepat rudal ukuran 60 meter untuk TNI AL, jika berhasil mendapatkan teknologi PKR 10514 akan menjadi perusahaan pembuat kapal perang yang disegani di Asia Tenggara “, tutur Jagarin.

Posisi di Asia Tenggara

Jika demikian bagaimana sebenarnya posisi Indonesia di Asia Tenggara saat ini ? dulu kita dikenal sebagai “Macan Asia”, apakah gelar itu masih pantas diberikan kepada Indonesia ?

Jagarin mengatakan modernisasi alutsista TNI sebenarnya untuk mengejar ketertinggalannya yang cukup jauh dibanding dengan tetangganya.   Malaysia sudah jauh hari punya MBT PT91 buatan Polandia, Singapura sudah punya MBT Leopard.  Sampai hari ini TNI AD hanya punya tank ringan Scorpion.  “Lha, Scorpion jika diadu dengan PT91 di Kalimantan, kan sama saja dengan menandingkan kambing dengan sapi, beda kelas. Jadi penambahan kekuatan persenjataan kita adalah sebuah keniscayaan dan fardu kifayah.  Dulu di zaman Dwikora kekuatan militer RI adalah yang terkuat di Asia Tenggara sehingga dianggap sebagai kekuatan Macan Asia.  Dengan modernisasi alutsista ini diharapkan Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di Asia sesuai arahan Presiden SBY di hadapan petinggi Kemenhan dan Mabes TNI blan puasa yang lalu”, ujarnya menjelaskan.

Khusus dengan Malaysia dimana Indonesia sering mengalami konflik, Jagarin berani menyatakan bahwa kekuatan militer Indonesia saat ini secra umum tetap lebih kuat dari Malaysia.  “Hanya di AU kekuatan mereka lebih ‘bergigi’ dengan memiliki 18 Sukhoi, 12 Mig29, 8 Hornet, 12 F5E.   Untuk AL kita yang terkuat dengan lebih dari 140 KRI bandingkan dengan Malaysia hanya memiliki 58 KD.  Mereka tidak punya pasukan Marinir berkualifikasi serbu, kita punya dua divisi pasukan Marinir berkemampuan serang pantai”, katanya lagi.

Latihan PPRC Natuna Sept 2012
Yang lebih membanggakan, lanjut Jagarin, tentu skill individu prajurit kita lebih tahan uji dan mahir.   Terbukti dalam setiap uji tanding di kejuaraan menembak regional berbagai senjata perseorangan, Indonesia selalu tampil menjadi nomor satu.  Negara-negara ASEAN dan Australia angkat topi dengan kemampuan individu prajurit TNI.  “Dengan Marinir AS pun terbukti dalam uji ketahanan fisik dan mental di hutan Jawa Timur beberapa waktu lalu bersama Marinir AS, personel Marinir AS kalah uji nyali dan uji fisik dengan Marinir Indonesia”, ungkapnya.

Apalagi, lanjut Jagarin, kehadiran 45 negara dan 500 produsen alutsista dunia di ajang Indo Defence membuktikan bahwa dunia sedang melirik Indonesia dengan anggaran alutsista yang luar biasa yakni Rp 100 trilyun dan diharapkan menjadi Rp 150 trilyun pada tahun 2014 nanti.  “Prinsip yang dibangun Kemenhan, kan sudah jelas kalau belum mampu bisa beli dari luar tapi syaratnya berbagi teknologi.  Kita meyakini kebijakan Kemenhan yang melakukan transaksi pengadaan alutsista sudah berada di jalan yang benar.   Pengadaan MBT Leopard dilakukan G to G ( government to government) sehingga mampu menghapus beban jasa broker”, katanya menjelaskan.

Semua industri hankam dalam negeri saat ini bergerak dan mekar dengan berbagai order alutsista dari Kemenhan.  Lihat saja PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI).  Industri dirgantara PT DI yang sempat dinyatakan bangkrut, saat ini sedang berupaya merekrut tenaga ahli untuk menyinari kembali industri kebanggaan RI itu.  “Demikian juga dengan PT PAL, semuanya sedang menggeliat dan menampilkan kesibukannya tak terkecuali industri swasta nasional kita”, tutur Jagarin.

*******
(PR Tanggal  22 Nopember 2012 halaman 27)

Wednesday, November 14, 2012

Menyeimbangkan Sumatera


Pagar pertahanan RI di wilayah barat yang bersinggungan dengan 4 negara (Malaysia, Singapura, Thailand dan India) sudah pasti Sumatera, meski batas teritorinya laut.  Secara geografi Sumatera lebih panjang dari semenanjung Malaysia dan Singapura, jumlah penduduknya pun setara dengan jirannya, kulturnya pun setali tiga uang.  Dari sudut pandang militer negeri seberang utara selat Malaka itu Singapura dan Malaysia  menyimpan kekuatan militer utama untuk pertahanan negaranya.  Singapura jika melakukan serangan udara ke Sumatera, akan banyak obyek vital yang mampu dilumatnya meski belum berarti dia akan memenangkan pertempuran

Berandai-andai tentang skema pertahanan pulau maka Sumatera yang bertetangga satu erte dengan dua rumah sebelah seyogyanyalah  perlu didandani dengan polesan sejumlah alutsista baru berkualifikasi gebuk dulu. Memang Sumatera bukanlah jantung Indonesia, dia hanya salah satu organ NKRI.  Tetapi untuk memberikan rasa segan pada rumah sebelah agar tidak bermain api dengan tetangganya, sekaligus sebagai pemecah perhatian lawan jika terjadi konflik militer, maka sebagai pulau yang terdepan kekuatan alutsista layak diperkuat.

Debarkasi pasukan dalam latihan brigade TNI AD di Baturaja
Menyeimbangkan pulau terdepan ini perspektifnya adalah memberikan kekuatan yang paling tidak mendekati kekuatan negeri seberang selat Malaka. Itu sebabnya penempatan 1 skuadron jet tempur F16 di Pekanbaru untuk menemani 1 skuadron Hawk 100/200 merupakan langkah tepat karena mampu memberikan kekuatan tambahan meski belum sama sekali “mendekati” kekuatan lawan.  Tetapi juga harus diingat lawan yang dihadapi berada pada geografi utamanya alias pusat komando militer, tentu mereka harus lebih kuat.

Malaysia menempatkan skuadron tempur utamanya di Semenanjung seperti F18 Hornet, Mig 29 dan Sukhoi.  Demikian juga dengan Singapura karena negerinya memang cuma punya pulau itu tok. Meski Singapura punya banyak jet tempur mutakhir, tidak semuanya ada di negeri pulau itu.  Sebagian ditransmigrasikan ke AS, Thailand, Australia dan Taiwan karena negeri Temasek ini punya handikap yang cukup menyesakkan, kurangnya ruang udara untuk berlatih di wilayah sendiri.

Secara kuantitatif dan kualitatif menempatkan 2 skuadron jet tempur Hawk dan F16 di Sumatra belum memberikan kesan gahar tetapi dalam gelar kekuatan skuadron udara untuk kegiatan patroli udara dinilai cukup memadai.  Namun ke depan  tetap perlu ada penambahan minimal 1 skuadron udara intersep pemukul yang fungsinya juga untuk memayungi Jakarta dari serangan udara yang muncul dari horizon barat laut. Dilhat dari ruang jelajah yang proporsional mencakup seluruh Sumatera dan Laut Cina Selatan, maka menempatkan 1 skuadron Sukhoi SU30 (atau SU35) di Belitung adalah kebijakan jernih yang sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.  Maksudnya Jakarta tercover, Sumatera sampai Sabang dipayungi, ALKI satu termonitor, Natuna pun ada dalam jangkauan.  Posisi penempatan skuadron Sukhoi ini diyakini memberikan efek getar dan gentar bagi negara tetangga.
Seandainya ini yang digelar, dijamin gentar tuh
Sumatera yang memiliki  3 Kodam dirasa cukup untuk mengamankan teritori darat yang memanjang itu.  Tetapi tentu yang perlu dicermati adalah koordinasi 3 Kodam ketika menghadapi kondisi darurat perang dan harus berjuang duluan misalnya ketika konfrontasi dengan Malaysia.  Musuh terbesar Sumatera jika terjadi konflik dengan 2 jiran itu adalah serangan udara.  Sementara serangan pantai untuk ofensif pasukan tetangga diyakini tidak terjadi karena 2 jiran itu tak memiliki kemampuan serangan laut ke pantai seperti yang dimiliki Marinir Indonesia.

Oleh karena itu mobilisasi pasukan di pulau itu harus di dukung alutsista bernilai pre emptive tinggi misalnya ketika menghadapi serangan udara jet tempur Sukhoi Malaysia. Sumatera harus diperkuat dengan satuan rudal darat ke udara jarak menengah, tidak lagi mengandalkan rudal jarak pendek seperti yang dimiliki saat ini.  Demikian juga dengan penempatan satuan rudal darat ke darat di lokasi paling dekat dengan negeri seberang. Evaluasi latihan setingkat brigade yang dilakukan beberapa waktu yang lalu di Baturaja Sumsel dengan mendatangkan ratusan alutsista berat dari Jawa memberikan kesan beratnya situasi tempur dan waktu yang diperlukan ketika menyeberangkan ratusan alutsista dari Jawa ke Lampung.

Itulah sebabnya menurut hemat kita Sumatera harus mempunya kekuatan pukul organik yang lebih menggigit sebelum datang bala bantuan dari pulau lain utamanya Jawa.  Pekanbaru, Dumai, Batam dan Medan minimal harus memiliki satuan rudal darat ke udara jarak menengah untuk mengawal obyek vital di wilayah itu.  Untuk menambah kekuatan pre emptive tentu sangat dimungkinkan melakukan penempatan rudal darat ke darat di Bengkalis, Karimun, Batam dan Bintan.  Menempatkan satuan rudal darat ke darat ini bukan sesuatu yang nisbi loh.  Kita saat ini dalam tahapan menuju kepememilikan teknologi rudal jarak jangkau 300 km.  Lha kalau sudah punya teknologinya masak rudalnya ditempatkan di Jawa.  So pasti ruang kesatriannya ada di wilayah border semacam Sumatera dan Kalimantan.

Dalam kondisi damai seperti saat ini, menyeimbangkan kekuatan militer di Sumatera merupakan langkah terukur bernilai sunnah muakkad karena ini juga bagian dari strategi untuk memecah konsentrasi lawan agar berhati-hati dengan Sumatera.  Gelar kekuatan darat dengan kekuatan rudal arhanud jarak sedang, angkatan laut dengan satuan kapal cepat rudal yang disebar di selat Malaka dan sebaran skuadron tempur Hawk, F16 dan Sukhoi merupakan strategi pertahanan lapis yang perlu disandangkan di bumi Andalas.

Setidaknya dalam pola pertahanan berlapis, memperkuat Sumatera dengan sejumlah alutsista gebuk dulu akan memberikan kekuatan penyeimbang sekaligus rasa segan bagi pihak lawan untuk berhitung ulang ketika mau memulai konfrontasi.  Menumpuk alutsista di Jawa memberikan kesan seakan-akan hanya Jawa yang hendak dipertahankan. Oleh sebab itu gelar kekuatan milter strategi pertahanan berlapis dengan menyeimbangkan kekuatan alutsista di perbatasan dengan jantung Indonesia perlu dikembangkan. 

Menempatkan sejumlah alutsista pukul duluan di Sumatera merupakan bagian dari strategi reaksi cepat itu sendiri karena alutsistanya sudah ada.  Tidak nunggu dulu, dipukul bonyok baru datang bantuan pasukan pemukul dari Jawa, saake tenan rek.  Jernihnya, kita tidak ingin bermusuhan dan memulai konfrontasi dengan negara tetangga tetapi sekaligus tidak ingin dianggap remeh apalagi dilecehkan dengan mereka.   Kehadiran sejumlah alutsista gebuk dulu di sepanjang perbatasan Sumatera dengan negara jiran adalah dalam rangka itu, anda sopan kami segan, anda injak kami pijak !
******
Jagvane / 14 Nop 2012

Monday, November 5, 2012

Pelukan Hangat Mama Ely


Kunjungan kenegaraan Presiden Sby ke Inggris tanggal 30 Oktober hingga 03 Nopember 2012 dinilai sangat istimewa dengan perjamuan khusus Ratu Inggris Elizabeth dan Istana Buckingham.  Pertanyaannya tentu apa sebenarnya magnet yang memberikan rasa hangat dan akrab dalam bingkai kunjungan seorang pemimpin negeri kepulauan berpenduduk ke 4 terbesar didunia ini ke Inggris.  Tak lain dan tak bukan adalah madu alutsista. Siapa sih yang tak tergiur dengan modernisasi alutsista RI, hampir semua “semut” berdatangan menawarkan jualannya agar bisa mencicipi madu alutsista yang dikucurkan itu.  Terbukti jua ratusan perusahaan dari 50 negara akan hadir pada Indo Defence yang digelar 7-10 Nopember 2012 di Kemayoran Jakarta.

Rasanya memang tidak lengkap jika bumbu masak yang bernama Inggris tidak disertakan dalam aneka macam menu alutsista yang sudah dan sedang serta akan dipesan oleh Indonesia.  Dari kawasan Asia, Cina dan Korsel mewakili rudal C705, QW3 dan C802, 3 kapal selam Changbogo, 70 Howitzer KH178 dan 16 jet tempur taktis T50 Golden Eagle.  Rusia sudah lebih dulu merapat dengan 1 skuadron Sukhoi, 70 Tank amfibi BMP3F, 30 Panser amfibi BTR80A, 1 simulator Sukhoi, rudal Yakhont.  Kemudian Paman Sam membuka diri untuk  34 F16 blok 52, 8 Apache, 12 Sea Sprite dan rudal Maverick.  Brazil sudah kulonuwun dengan menyerahkan 4 Super Tucano dari pesanan 16 unit, 40 unit MLRS Astross II.  Perancis dengan rudal Exocet Blok 3, Howitzer Caesar.  Jerman dengan 120 MBT Leopard, 60 Tank Marder dan 16 pesawat latih Grobb.

Kemegahan Sambutan Itu
Dalam perjalanan belanja alutsista RI, kesannya Inggris kok ditinggalkan atau karena masih punya luka hati ketika pesanan Hawk 100/200 ditinggal begitu saja di Thailand akhir abad lalu.  Bayangkan kita pesan 40 Hawk tapi kloter terakhir ditelantarkan begitu saja oleh pilot Inggris.  Luka belum sembuh, luka lagi karena Scorpion dan Hawk dilarang dipakai dalam konflik Aceh tahun 2003 lalu.  Yang terakhir ini mungkin yang paling berbekas karena ternyata arogansi negeri Mama Ely itu seperti menikam dari belakang.

Tapi ya sudahlah, mengingat masa lalu yang haru biru itu tak jua apik jika dijadikan barometer dendam tak berkesudahan.  Pelajaran yang didapat dari itu adalah tidak lagi didikte dalam pasal dan ayat perjanjian kerjasama melainkan minimal setara karena ini adalah transaksi halal, barang halal sehingga ketika sudah dibeli mestinya tidak ada syarat dilarang pakai karena terkait separatis.  Selain itu belanja dari berbagai sumber produksi juga memberikan keyakinan untuk tetap eksis dalam memakai alutsista.

Lalu ada pertanyaan, apakah segitu aja nilai yang mau dibelanjakan untuk alutsista made in Inggris.  Apakah hanya untuk semacam rudal starstreak atau light fregat dan suku cadang Hawk padahal sambutan manis Mama Ely sangat luar biasa.  Lalu bagaimana dengan perjalanan sales 24 jet tempur Typhoon yang sudah beredar luas di media Inggris beberapa bulan lalu ketika David Cameron “menghadap” Sby di Jakarta.

Logika diplomasinya juga bernilai lebih misalnya dengan membandingkan kunjungan Kanselir Jerman beberapa waktu lalu ke Jakarta.  Jerman datang menjemput bola ketika petinggi Kemhan berkunjung dan berminat dengan MBT Leopard.  Tetapi Sby kan tidak perlu lagi ke Jerman.  Ini beda dengan Inggris, David Cameron datang 11-12 April 2012 membawa order 24 typhoon.  Kalau hanya untuk rudal Starstreak gak level lah seorang pemimpin tertinggi Inggris harus menyambangi Jakarta, cukup Menhannya saja.  Lalu kunjungan balasan akhir bulan lalu sampai awal bulan ini, releasenya lagi-lagi rudal starstreak dan light fregat.  Masak Cuma segitu aja.  Mungkin saja 24 typhon itu di hidden dulu untuk release pemberitaan atau bisa saja waktu penyampaiannya tidak usah terburu-buru untuk menghindarkan arm race di kawasan ini.  Soalnya belanja alutsista kita yang revolusioner ini menjadi intipan intelijen tetangga .

Sambutan yang luar biasa di Inggris mulai dari Mama Ely sampai bos Arsenal bahkan Walikota London juga ikut sibuk memberikan apresiasi hangat mengindikasikan hasrat kuat bahwa Inggris sedang membujuk RI untuk membeli 24 jet tempur Typhoon atau bahkan sudah ada kesepakatan tapi tidak untuk konsumsi publik dulu utamanya untuk menjaga jantung jiran tidak berdebar keras.  Sby kan selalu berada dalam patron itu misalnya ketika Menhan AS menawarkan 6 F16 blok 52 tahun 2009,  lalu Sby menyampaikan bahwa anggaran belum ada untuk itu.  Lalu tahun 2011 ada tawaran 24 jet tempur F16 second,  jawabannya: bungkus.
Bukan hanya untuk Rudal Starstreak
Bisa jadi release 24 jet tempur Typhoon ini untuk konsumsi tahun depan dan pesawatnya pun baru datang tahun 2016.  Bisa jadi memang tak perlu jua dipublikasi luas seperti yang dicontohkan dengan pengadaan MLRS Astross II dari Brazil yang jauh dari publikasi.  Yang jelas kan tidak mungkin hanya dengan pesanan 34 F16, 16 Super Tucano, 16 T50, 6 Sukhoi lalu berhenti sampai disitu.  Okelah, boleh jadi ada tambahan 16 Sukhoi lagi dalam MEF tahap 2 tetapi itukan untuk kebutuhan 2 skuadron jet tempur kelas berat.  Lha yang kelas medium kan perlu diperkuat misalnya untuk penggantian F5E.

Apapun itu tentu jika 24 jet tempur Typhoon Inggris jadi mengisi skuadron tempur TNI AU merupakan kado yang membanggakan.  Mimpi kita di MEF kedua periode 2015-2019 makin mendekati real dengan 32 Sukhoi, 40 F16 Blok 52 dan 24 Typhoon merupakan kombinasi satuan pemukul udara yang saling mengisi dan melengkapi.  Secara feeling sambutan hangat Mama Ely dan “keponakannya” PM David Cameron menjamu tamunya dari Indonesia memberikan sinyal kuat tentang rencana masa depan alutsista buatan Inggris yang digadang-gadang itu.  Ongkos sambutan itu tentu tidak sepadan jika dibandingkan dengan hanya belanja starstreak, suku cadang Hawk dan light fregat.  Ya kan ?

******
Jagvane/ 05 Nop 2012

Saturday, October 13, 2012

Menggagahkan Diri Di Wajah Rakyat


Episentrum peringatan HUT TNI ke 67 di Air Force Base Halim Jakarta Jumat tanggal 05 Oktober 2012 yang lalu sesungguhnya ada dalam pernyataan lugas Presiden SBY yang menyebut perkuatan alutsista TNI dengan kedatangan berbagai jenis alutsista yang dijelaskan secara rinci. Episentrum ini semakin bergema manakala tampilan kemampuan personil dan defile brigade upacara melintas dan “menari” di hadapan seluruh hadirin di pagi yang cerah itu.  Sementara berbagai alutsista sebagai background upacara memberi kesan pemandangan yang gagah dan gahar, belum lagi kemampuan berjoget Collibri Subang dan manuver lincah Tim Yupiter Yogya.

Harga diri berselendang dan bersemangat alutsista sepanjang Oktober ini memang sangat menghangatkan dan membanggakan. Mulai dari pernyataan Presiden di berbagai kesempatan termasuk di hadapan para veteran RI yang menyatakan bahwa pertambahan dan pertumbuhan alutsista TNI sedang menuju ke perubahan siginikan.  Bahasa petaninya adalah sedang mengalami panen raya.  Meski sedang memulai panen raya namun persemaian bibit-bibit baru berbagai genre alutsista tetap dipesan dan diadakan untuk panen raya berikutnya sehingga lumbung alutsista kita kelak menjadi sebuah keniscayaan bersamaan dengan makin berkilaunya kesatrian-kesatrian pengawal republik di seluruh Indonesia.
Defile Pasukan Kostrad dengan Uniform baru
Selain pernyataan itu kenyataan di lapangan pun seia sekata.  Pernyataan jelas, kenyataan jelas pula dengan kedatangan berbagai jenis alutsista baru seperti Super Tucano, Astross, Caesar, Mistral, Kapal Rudal buatan dalam negeri.  Astross, Caesar dan Mistral ikut dipamerkan di Monas Jakarta tanggal 6-9 Oktober 2012.  Bahkan yang tak terekspos sejatinya adalah produksi yang terus menerus dari Panser Anoa buatan Pindad yang sudah mencapai 250 unit, 40 diantaranya sudah wira wiri di perbatasan Libanon-Israel. Demkian juga produksi kapal rudal di Batam sudah masuk penyerahan kapal ketiga.  

Bulan-bulan mendatang dan tahun-tahun mendatang kita akan disuguhkan berita yang mampu membusungkan dada berupa penyerahan beragam alutsista buatan dalam negeri seperti kapal rudal Palindo, kapal rudal PAL, kapal rudal Lundin, panser Anoa, panser Anoa Canon, UAV / UCAV, kapal LST, kapal BCM, pesawat CN235 MPA, roket Rhan, kendaraan Rantis, berbagai jenis senjata personil mulai dari satu laras sampai multi laras.  Yang mengembirakan tentu saja dalam segudang proyek alutsista itu industri pertahanan dalam negeri ikut tersenyum dan berkeringat karena banyak mendapat order pengadaan alutsista baik produk murni maupun produk kerjasama.

Yang mau datang dari luar negeri misalnya pesawat latih Grob Jerman, jet tempur ringan T50 Korea, kapal selam Korea, kapal perusak kawal rudal Belanda, kapal latih pengganti Dewaruci Spanyol, berbagai rudal Cina, MBT Leopard Jerman, medium tank Marder Jerman, kapal light fregat ex Brunai, F16 AS, Sukhoi Rusia, Hercules Australia, CN295 joint product PT DI, Heli Cougar Perancis, Heli Mi17 Rusia, Heli Bell 412Ep joint product PT DI, Heli anti kapal selam, Heli serang AD dan lain-lain.  Kenapa disebut “dan lain-lain” karena tentu saja ada beberapa jenis alutsista yang tak perlu disampaikan ke media untuk kepentingan strategi militer.  Kan tidak semua rahasia dapur harus diketahui publik.
Alutsista strategis yang sedang diincar itu
Setidaknya itu yang sudah jelas alamat pengirimannya, waktunya, dan sudah jelas kontraknya.  Yang menarik tentu saja, masih adakah alutsista lain selain yang mau datang itu. Apakah masih ada alutsista yang mau dipesan lagi.  Jawabnya pasti ada dong.  Kalau mau diambil jangka waktu yang paling pendek saja dari pemerintahan SBY masih ada 2 tahun anggaran (2013, 2014) yang memberi ruang adanya kesempatan beli atau produksi bersama alutsista RI. Kemhan sebagaimana pernyataan Menhan beberapa waktu lalu sedang fokus untuk penambahan alutsista strategis selain yang sudah dipesan.  Nah prediksi kita adalah sangat dimungkinkan adanya penambahan 1 skuadron  Sukhoi atau 1 skuadron Typhoon bersamaan dengan tambahan minimal 2 kapal selam U214 Jerman. Tanda-tandanya kan sudah jelas, Kanselir Jerman pertengahan tahun ini berkunjung ke Jakarta, sementara Presiden kita mau berkunjung ke Inggris dalam waktu dekat. Ah masak masih gak jelas juga sih.

Kalau mau berasumsi lagi tahun 2014 itu baru 30 % target MEF TNI tercapai, artinya setelah itu pertambahan alutsista masih akan berlangsung terus. Target MEF yang selalu diberitakan adalah tahun 2024 dimana saat itu kita sudah masuk pada tahapan kemampuan milter yang memliki kekuatan pukul dan bantingan.  Sekarang memang sudah punya kekuatan pukul tapi belum sampai bisa membanting.  Makanya jika tahapan sudah sampai kesitu, istilah PPRC nya bisa tetap sama, cuma istilah pemukulnya diganti sehingga menjadi Pasukan Pembanting Reaksi Cepat.

Penambahan alutsista MLRS Astross II Mk6 buatan Brazil untuk 2 batalyon TNI AD, Howitzer Caesar Nexter Perancis untuk 2 batalyon TNI AD dan 1 batalyon rudal Mistral Perancis untuk Arhanud AD adalah contoh jelas pertumbuhan itu.  Belum lagi penambahan batalyon tempur di Kalimantan, penambahan skuadron heli Penerbad, tambahan brigade Marinir di Batam dan Sorong, penyebaran skuadron tempur untuk F16 di Pekanbaru, skuadron UAV baru di Pontianak dan Pekanbaru, Berpuluh radar pantai di jalur ALKI sudah operasional, mau nambah pangkalan AL di selatan Jabar.  Isian berita itu tentu sangat menghangatkan ruang dada dan mampu menyemangatkan olahpikir bagi kita yang menginginkan sebuah kebanggaan bertanah air yakni memiliki hulubalang yang tangguh dan gahar.
MLRS Astross II milik TNI AD
Bukan bermaksud menghiperbolakan sebuah tema tentang alutsista, namun pagar yang hendak dibangun dalam semangat berkebangsaaan adalah ketika semua menjadi nisbi, semua menjadi “sandiwara” di setiap pemberitaan yang menyangkut tawuran, kerusuhan, bakar membakar, hasut menghasut, pesta korupsi gugur satu tumbuh seribu, ghibah infotainment, kebanggaan sebagai anak bangsa tidak lantas harus tersungkur manakala menyaksikan semua harubiru yang di blow up sedemikian rupa.  Maka membesarkan dan mendandani pengawal republik adalah sebuah kearifan dan kebijakan bernilai cum laude untuk meracik nilai gagah diri yang memberikan sebuah “rasa merdeka pada hati nurani”.  Sekaligus agar tidak kualat pada pendiri republik dan pejuang kemerdekaan yang sudah menitipkan perjalanan bangsa ini pada kita.

Testimoni dari semua rasa bangga dan wibawa memiliki TNI yang gagah itu bisa dilihat dari kerumunan ribuan warga di Halim ketika menyaksikan HUT TNI ke 67 tanggal 5 Oktober 2012.  Kemudian di Monas selama 3 hari berikutnya, ribuan orang menyemut menyaksikan pengawal republiknya memamerkan beragam alutsista, dan itu baru yang dimiliki TNI AD.  Testimoni itu adalah gambaran rekonstruksi dari sebuah kebanggaan melihat postur tentaranya yang gahar dan berotot untuk mengawal eksistensi NKRI.  Maka kita bisa melihat berjubelnya massa untuk menyaksikan, melihat, mengambil foto, menaiki, meraba, menanya, menggenggam beragam alutsista seakan itu menjadi miliknya.  Dan memang itu miliknya, milik rakyat kita yang dititipkan pada hulubalangnya yang terlatih untuk mengawal republik ini.  Testimoni kunjungan itu adalah evidence tak terbantahkan betapa sesungguhnya rakyat bangsa ini bangga dengan tentaranya.  Apakah masih ada yang membantah ?

******
Jagvane / 13 Okt 2012

Sunday, September 30, 2012

Terima Kasih, Panglima Tertinggi...............


Duhai Panglima Tertinggi,

Engkau telah jadikan hulubalang kami menjadi layak pakai, menjadi siap pakai, tidak lagi sekedar menggapai asa melainkan sudah mendapat asa dengan kehadiran beragam jenis alutsista. Kegembiraan kami adalah kegembiraan bernafas kebanggaan manakala sang hulubalang berbaju loreng kembali memperlihatkan otot utuhnya dengan kombinasi kemampuan adu gelut personal dan keterampilan menggunakan teknologi alutsista.  Engkau lengkapi pasukanmu dengan berbagai jenis alutsista segala matra.

“Kemarahanmu” beberapa tahun silam karena ulah arogansi negara jiran yang hobi mengklaim benar-benar membuahkan hasil nyata.  Engkau nyatakan kemarahanmu bukan dengan kata-kata sumpah serapah atau retorika melainkan dengan menyusun rencana besar yang terukur dan terstruktur untuk mempersiapakan kekuatan pukul yang membanting.  Tidak dalam rangka masuk dulu baru digebuk tetapi banting dulu sebelum masuk.  Engkau nyatakan dengan perbuatan, engkau nyatakan dengan jalan yang jelas, karena engkau seorang jenderal yang cerdas yang tak perlu menjual statemen.  Dan engkau memang tidak pernah menjual statemen keras sebelum hulubalangmu dilengkapi dulu persenjataannya. Ketika berbagai alutsista mulai berdatangan, engkau pun secara lantang berkata di depan jenderal-jenderalmu pada buka bersama Ramadhan lalu: Kita akan menuju sebagai macan Asia.
Ketika Meninjau latihan Brigade Marinir
Begitulah memang karakter sejati seorang pemimpin militer yang memiliki segudang ilmu strategi.  Ketika bicara dalam bahasa diplomasi mengedepankan konten bicara tanpa harus merusak hubungan pertemanan, hubungan perjiranan.  Hubungan antar negara tetap saja baik dan akrab.  Namun di sisi yang lain diformulakan dengan adonan kekuatan harga diri bangsa, kedaulatan yang dijunjung tinggi untuk jangan coba bermain lagi di wilayah pelecehan teritorial.  Negeri ini menjunjung kuat nilai-nilai persahabatan antar negara dan selalu mengedepankan kualitas diplomasi untuk kenyamanan dalam interaksi antar rumah tangga masing-masing negara.  Tetapi negeri ini yang memilik karakter dan nilai kejuangan tidak ingin rumah besarnya, rumah gadangnya menjadi obyek pelampiasan nafsu keangkuhan jiran yang merasa lebih bertamadun menurut dia.

Engkau pun telah menunjukkan kekuatan kepemimpinan di negeri ini karena mampu menahan gejolak emosi meski caci maki terlalu sering dikumandangkan oleh petualang politik dalam negeri yang hanya pintar mencari kesalahan.  Sudah banyak buktinya, engkau bawa negeri ini dalam nilai ekonomi yang gemilang meski rakyatmu belum semua sejahtera.  Pertumbuhan ekonomi mencapai 6,4 % terbaik kedua setelah Cina, pendapatan per kapita mencapai US$ 4.000,- dan ini yang lebih dahsyat, kekuatan beli negeri ini mencapai nilai 1600 trilyun per tahun yang mampu membungakan dada dan mencerahkan wajah.  Sebagai kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN, terbesar ke 16 di dunia, masuk negeri idola bersama 3 negeri lain dalam MIST (Meksiko, Indonesia, South Korea dan Turki), pengaruh kepemimpinan adalah kunci semua prestasi, itu kalau kita membacanya dengan hati bening, bukan dengan hati busuk seperti yang dikoar-koarkan “ahli ekonomi sirik” di layar kaca.

Ketika masih menjadi Kolonel
Panglima, kami berterimakasih kepadamu karena tanggal 5 Oktober ini parade kewibawaan hulubalang republik mampu memberikan nilai langkah tegap yang sesungguhnya.  Meski belum semua alutsista yang dipesan datang namun gegap gempita menyambut kedatangannya  terasa nian dalam parade dan defile pengawal republik.  Langkah tegap yang diderukan adalah testimoni sebuah konser harga diri, nilai juang dan semangat berbangsa untuk diperlihatkan kepada siapa saja.  Bahwa bangsa ini mampu bertarung dengan taring tajam demi sebuah harga diri dari negara kepulauan terbesar di dunia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Berbagai jenis alutsista modern yang sudah dan segera mengisi kesatrian pengawal republik sejatinya adalah sebuah penghormatan terhadap nilai kepahlawanan sepanjang perjalanan bangsa ini.  Nilai penghormatan itu adalah kesediaan kita untuk selalu mengasah kemampuan bertarung dengan alutsista modern.  Karena sebagai pewaris tanah air, wasiat dari pendiri republik adalah mempertahankan setiap jengkal teritori negara ini dari segala jenis ancaman.  Itulah harga matinya, tidak ada tawar menawar karena air laut pun tidak ingin tawar.  Kita tidak ingin menjual persoalan atau persengketaan dengan rumah tetangga namun dalam etika pergaulan yang bernama harga diri jika ada yang menjual persengketaan kita pun patut membelinya.  Apalagi jika sampai melakukan show of force dengan memamerkan kekuatan militer di depan mata kita.

Begitulah Panglima, episode perjalanan bangsa ini sesungguhnya bisa mencapai sampai di batas ini tidak terlepas dari pengawalan yang terus menerus dari garda republik. Maka ketika engkau kembali mendandani dan mempertajam taring pasukanmu, itu adalah sebuah kewajiban yang harus terus digemakan.  Karena rumah yang besar ini harus mempunyai pagar yang kuat untuk menghadapi kondisi terburuk dalam dinamika kawasan.  Untuk itu sebagai anak bangsa, ucapan terimakasih dan penghargaan pantas dilayangkan kepada Panglima Tertinggi yang telah memberikan semangat dan harga diri hulubalang republik.  Kesatrian-kesatrian pengawal republik saat ini memberikan penghormatan bergelora kepada Panglima Tertinggi yang bersama komponen perwakilan rakyat dan seluruh rakyat telah memberikan dukungan penuh untuk perkuatan militer.

Selamat ulang tahun tentaraku,-

******
Jagvane / 30 September 2012

Wednesday, September 19, 2012

MEMANDANG DIRI SENDIRI


Reformasi persenjataan dan perkuatan milter Indonesia merupakan salah satu yang tercepat di dunia selama tiga tahun terakhir ini.  Itulah sebabnya tiba-tiba saja negeri ini berubah wajah menjadi sosok gadis manis berambut sebahu yang banyak ditaksir negara produsen alutsista, menawarkan madu, ginseng, membawa seikat kembang merah, menyematkan seuntai kalung berlian, agar si gadis manis yang anggun itu bersedia menerima lamarannya berupa order alutsista atau bahkan bersekutu dengannya lewat aliansi pertahanan.

Namun kecerdasan gadis manis itu memberikan nilai tambah dalam tatacara bergaul yang mencerminkan kedewasaan bersikap untuk tidak gampang terbuai dalam rayuan manis. Lebih memilih bersahabat dengan semua yang menjual senyum rayuan, lebih memilih semua adalah teman, tidak ada yang khusus di hati.  Yang lebih penting adalah si gadis ingin lebih mandiri dalam membangun eksistensi dirinya terutama dari sisi pengadaan alutsista dengan mengedepankan pola transfer teknologi atau buat sendiri jika sudah mampu.  Kalau belum bisa keduanya ya beli murni saja tanpa ada ikatan bathin berupa persekutuan militer atau yang sejenis dengannya.
MBT Leopard Revolution yang ditunggu
Perkuatan militer Indonesia tidak lepas dari pantauan intelijen asing utamanya dari kiri kanan rumah tetangga.  Uji coba peluncuran roket saja menimbulkan kehebohan di ruang intelijen mereka apalagi ketika mengetahui ada pendirian “sekolah rudal” antara Indonesia dan Cina.  Bisa dipastikan hal itu menjadi bahan diskusi yang hangat di kalangan mereka bahkan mungkin saja ada disposisi agar sekolah rudal itu dihambat atau bahkan digagalkan dengan berbagai cara yang softly tentunya.  Itulah yang mesti kita waspadai karena salah satu upaya intelijen adalah memecah kekompakan barisan kita, menghasut dan mengadu domba di kalangan internal.  Kalau cara ini tak berhasil biasanya lalu memakai tangan adidaya lewat tekanan diplomasi.  Ah kayak gak tau aja.

Soalnya walaupun sekolah rudal itu baru setingkat “madrasah ibtidaiyah” setidaknya dari kacamata negeri-negeri penghasil rudal di dunia, namun uji kreativitas dan diversifikasi produk yang dilakukan ilmuwan RI pada tingkat “tsanawiyah” dan “aliyah” sudah mampu menggetarkan lingkungan dengan kemampuan jarak tembak diatas 150 km dan daya ledak satu kampung.  Apalagi jika ilmuwan tingkat “kuliyah” mampu mengedepankan dan mengembangkan jarak tembak menjadi 300 km dengan katagori anti kapal permukaan, darat ke darat, darat ke udara dan udara ke darat, sungguh memberikan nilai getar dan gentar bagi siapapun yang hendak mengganggu kewibawaan teritori NKRI.

Berbagai dinamika dalam pengadaan alutsista selama tiga tahun ini semakin memberikan kedewasaan peran bagi kita sekaligus hikmah.  Salah satu contohnya adalah pembelian MBT Leoprad yang menghebohkan ranah publik beberapa waktu yang lalu.  Namun dibalik keriuhan pengadaan MBT itu hikmah yang didapat sungguh diluar prediksi kita semua yang selama ini “berkonsentrasi penuh” dengan 100 MBT Leopard. Setelah berbulan-bulan hujan argumen akhirnya tibalah saat yang dinantikan, menunggu kedatangan 163 Tank dari Jerman dengan rincian 61 MBT Leopard Revolution, 42 MBT Leopard 2A4, 50 Medium Tank Marder 1A3 dan 10 MBT support berupa tank jembatan dan tank penarik.   Nilai kontraknya mencapai US$ 280 juta.
Tank medium Marder 1A3 Jerman
Oleh sebab itu sudah saatnya kita memandang diri sendiri dengan percaya diri, tidak merasa tidak setara dengan rumah jiran.  Toh ekonomi kita menunjukkan kinerja terbaik kedua di dunia dengan pertumbuhan ekonomi 6,4 persen, sementara terbaik pertama diraih Cina dengan pertumbuhan 7,2%.  Kekuatan beli yang terkandung dalam APBN kita tahun 2013 mencapai 1.658 trilyun, sementara APBN berjalan tahun ini mencapai 1.548 trilyun rupiah.  Rasio utang dengan PDB hanya 24 %, cadangan devisa mencapai diatas 100 milyar dollar AS, pendapatan perkapita saat ini mencapai US$ 4.000, merupakan kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN dan nomor 16 di dunia.  Yang membanggakan negeri ini masuk dalam kategori negara idola baru dari sisi kemajuan pertumbuhan ekonomi, namanya kelompok negara MIST (Meksiko, Indonesia, South Korea dan Turki).

Yang masih kurang greget dalam perjalanan bangsa ini adalah masalah penegakan hukum dan korupsi. Untuk masalah korupsi meski sudah banyak yang dijatuhi hukuman namun masih lebih banyak juga yang belum tersentuh penyelesaian hukum. Tetapi percayalah, nilai perjalanan bangsa ini akan semakin berkilau dengan kemajuan ekonomi dan tingkat kesejahteraan yang makin baik.  Dan sejalan dengan itu kita meyakini bahwa KPK dan institusi penegak hukum lainnya mampu membawa dan menjalankan amanah yang diemban di bahu mereka untuk menegakkan hukum, memberantas korupsi yang menimbulkan efek jera.

Dari sisi militer perkuatan alutsista TNI merupakan kewajiban yang harus terus dikumandangkan dan dikembangkan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita ingin menegakkan kewibawaan teritori negara kita sekaligus sebagai payung kekuatan diplomasi untuk memberikan rasa aman bagi kawasan regional.  Dengan kekuatan militer yang setara dan disegani, upaya diplomasi untuk mendamaikan konflik di Laut Cina Selatan misalnya, akan memberikan nilai tambah kebagusan dalam etika pergaulan, sekaligus kewibawaan diplomasi RI karena dalam konflik ini RI tidak berpihak ke siapapun.  Ini posisi yang sangat kuat.
2 KRI di Sail Morotai September 2012
Meskipun ada berbagai upaya diplomasi dari Cina dan AS serta Australia dengan membawa seikat kembang merah agar  negeri ini masuk dalam pelukan aliansinya namun sejauh ini RI tetap berdiri di tengah dengan senyum dan sapa.  Menerima tamu diplomasi yang datang berkunjung dengan ramah, kalau pun ada yang bawa kado ya diterima saja, namanya juga diberi.  Kalau ada yang mau ngajak latihan militer bersama, ya dilakoni saja hitung-hitung menambah ketrampilan milter kita sekaligus memperbanyak sahabat.  Inilah kecerdasan yang digenggam erat dalam setiap upaya diplomasi disamping terus memperkuat alutsista TNI untuk mengantisipasi kondisi terburuk.

Bagaimanapun kondisi terburuk mesti diskenariokan dalam menyambung perjalanan eksistensi bangsa.  Ketika konflik Laut Cina Selatan berkembang menjadi gesekan militer antara Cina dan AS atau antara Cina dan negara anggota ASEAN, maka pilihan perkuatan militer itu yang sudah dimulai dari sekarang diniscayakan akan menjadi pagar pelindung bagi kedaulatan teritori NKRI.  Pagar pelindung itu boleh jadi menjadi bumper jua untuk tidak masuk dalam konflik perang terbuka karena jika sampai militer Indonesia ngamuk, dipastikan peta kekuatan militer dua blok yang berseteru itu akan berubah drastis.  Cina akan menahan diri jika RI masuk blok ASEAN dan AS demikian juga sebaliknya jika RI masuk persekutuan dengan Cina, ASEAN akan tahu diri dan AS berhitung ulang.
*******
Jagvane/ 19 September 2012

Friday, September 7, 2012

Prediksi Kedatangan Alutsista TNI sampai dengan Tahun 2014


 10 Pesawat angkut Hercules type H
 16 Pesawat tempur coin Super Tucano ( 4 sudah datang)
 16 Pesawat latih Grob G120TP
   6 Pesawat latih KT1 Wong Bee
 16 Jet tempur T50 Golden Eagle
 16 Jet tempur F5E
   6 Jet tempur Sukhoi SU30  bersama paket rudal
   1  Simulator Sukhoi
 24 Jet tempur F16 Blok 52 upgrade  batch 1
   6 Jet tempur F16 untuk suku cadang
 14 Jet tempur F16 Blok 52 upgrade  batch 2
 10 Pesawat angkut CN295
 26 Heli angkut bell 412 EP ( 6 sudah diserahkan)
   6 Heli combat EC 725 Cougar
   8 Heli serang Apache
   5 Heli serbu Mi35 (tambahan)
   6 Heli angkut Mi17 (tambahan)
 11 Heli anti kapal selam
   4 Pesawat patroli CN235 MPA
   8 UAV
100 MBT Leopard
100 Panser Anoa Batch 3
300 Rantis 2,5 ton 4x4
400 Truck Angkut Pasukan
900 Roket R-Han
  34 Tank Amfibi BMP3F
  20 Panser Amfibi BTR80A
  18 MLRS Astross II
  10 MLRS RM Grad
  60 Armed 155mm Caesar
  80 Rudal Arhanud jarak pendek
  60 Rudal C705
  16 Rudal Yakhont
  12 Rudal Exocet blok 3
  18 Rudal Maverick
  36 Rudal AMRAAM
    3 Kapal Light Fregat Nachoda Ragam Class
    4 Kapal Cepat Rudal Trimaran ( 1 sudah diluncurkan)
    6 Kapal Cepat Rudal KCR40 ( 2 sudah diserahkan)
    6 Kapal Cepat Rudal KCR60
    4 Kapal Landing Ship Tank (LST)
    2 Kapal Bantu Cair Minyak (BCM)
    1 Kapal Bantu Oceanografi
    1 Kapal Latih Layar pengganti Dewaruci
    3 Kapal selam jenis Changbogo (datang mulai tahun 2015)
    1 Kapal Perusak Kawal Rudal PKR10514  (selesai tahun 2017)
******
Jagvane 07 Sep 2012 /Dari berbagai sumber

Friday, August 31, 2012

Diplomasi Pre Emptive Jangan Paksakan Kehendak


Kunjungan Menlu AS Hillary Clinton awal September 2012 ini ke Jakarta sangat diyakini membawa upaya pre emptive diplomasi AS sehubungan dengan gerak langkah Cina dari sisi militer dan diplomasi yang sangat mengkhawatirkan posisi AS.  Hillary memulai kunjungannya tanggal 30 Agustus 2012 dari Cook Island, Timor Leste, Indonesia, Brunai, Cina dan Rusia selama 11 hari.  Di Vladivostok Rusia Clinton mewakili Presiden Obama dalam Konferensi Tingkat Tinggi APEC pekan pertama September 2012.  Entah ada kaitannya atau tidak sebelumnya tanggal 10 Agustus 2012 Menlu Cina  Yang Jiechi sudah lebih dulu berkunjung ke Jakarta, tentu juga melakukan diplomasi  pre emptive dan menjanjikan kepada seorang gadis manis bernama Indonesia.

Posisi Indonesia sangat jelas, tidak memiliki konflik dengan kawasan Laut Cina Selatan (LCS) tetapi kawasan ini bersinggungan dengan halaman depan rumah kita dan sekaligus menjadi jalan raya transportasi strategis dari dan ke Asia Timur.  Klaim Cina atas seluruh pulau dan perairan LCS membenturkan dirinya pada sejumlah negara ASEAN yang sama-sama mengaku menjadi pemiliknya.  Lalu kenapa AS menjadi sibuk dan ikut masuk pada wilayah benturan itu, padahal tak ada kaitannya dengan teritori dia.

Sibuknya AS “mengurus” Cina di LCS tidak sekedar berkaitan dengan konflik teritori.  AS sejatinya haus dengan sumber daya energi tak terbarukan yang bernama minyak bumi dan gas walau testimoninya selalu mengaku hendak membendung pengaruh Cina.  Bersamaan dengan itu sifat jagoannya muncul manakala Cina menargetkan bahwa pada tahun 2020 nanti militernya mulai berada dalam kriteria kekuatan regional yang disegani. AS tentu tak ingin kehilangan hegemoninya sebagai pemimpin klasemen liga kekuatan militer di Asia Pasifik dan dunia yang mampu memayungi Jepang dan Korsel.
Armada Kapal Perang RI pulang dari Latgab
Perkembangan terkini situasi dan kondisi maju ekonomi regional di masing-masing negara tentu tidak bisa dihindarkan.  Kemajuan ekonomi Cina merupakan efek kejut dari pola sebuah negara raksasa non demokrasi yang diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu di dunia beberapa tahun ke depan.  Sejalan dengan itu Cina juga membangun kekuatan militernya secara terpadu menuju militer pre emptive di kawasan Asia Pasifik.  Prediksi kekuatan ekonomi dan militer Cina yang bakalan tak terbendung ini memberikan reaksi paranoid di mata AS sehingga ada kesan kepanikan psikologi militer.  Lalu memindahkan kekuatan armada Mediteranean dan marinir ke Asia Pasifik sembari berupaya memperbanyak sekutu.

Merapatnya kekuatan militer besar di kawasan LCS dimana teritori Indonesia sebagai garis pantai terbesar dari arah selatan mengharuskan AS melakukan lobi intensif dan sedikit menekan kepada Indonesia.  Jika terjadi konflik militer skala besar garis pantai dan teritori udara RI akan menjadi akses militer AS untuk memukul Cina dari arah selatan.  Sementara dari arah timur diprediksi armada VII AS berkonsentrasi menjaga Taiwan, Korsel dan Jepang.   Artinya AS memang butuh sekutu tambahan sebagai pemilik teritori paling depan.  Indonesia adalah pilihan satu-satunya dalam upaya mengurung Cina di LCS sehingga ini akan menutup akses militer dan ekonomi Cina ke selat Malaka, selat Sunda dan selat Lombok. 

Vietnam, Malaysia, Brunai, Filipina jelas berkonflik dengan Cina dan jika Indonesia berhasil masuk “aliansi” bersama AS dan Australia tentu sistem keroyokan yang dikenal sebagai pakemnya AS dalam menghajar lawannya menjadi sempurna dari sisi strategi militer.  Dari sisi kekuatan militer dan cakupan wilayah tempur, gabungan militer AS, Australia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Brunai dan Filipina diyakini mampu bersaing dengan Cina.  Masalahnya adalah kedekatan Indonesia dan Cina yang terus dipupuk lewat kerjasama ekonomi dan pertahanan akan menjadi goncangan tersendiri karena posisi teritori dan pengaruhnya yang kuat di ASEAN bisa mementahkan semua prediksi dan asumsi yang dibangun AS.
Pendaratan pasukan marinir di Natuna
Diplomat Indonesia di Kemenlu dan intelijen militer tentu sudah paham dengan lagu dan langgam yang diperdengarkan AS. Kecerdasan diplomasi RI sudah teruji untuk memberikan argumen berwajah perspektif dengan menawarkan logika bersahabat pada semua negara. Tidak ingin memiliki musuh dan selalu berupaya mendekatkan kedua posisi yang berseberangan itu setidaknya akan memberikan ruang untuk mendinginkan temperatur.  Di mata AS upaya mendekati RI dengan  membawa hibah berbayar 24 F16 batch 1 dan 10 F16 batch 2, lampu hijau pembelian 8 heli Apache dan rudal serang darat jarak jauh Maverick serta latihan militer bersama merupakan pintu masuk yang bergizi. Namun pemaksaan terhadap sebuah keinginan berdasarkan logika pergaulan yang disandang sekalipun membawa “kado” tidaklah pantas dikedepankan secara tersurat.

RI ingin semua persoalan sengketa berbaju apa pun sangat terhormat dijalankan melalui jalur diplomasi dan perundingan. Dan RI sudah melakukan itu misalnya menjadi arsitek perdamaian di Kamboja dan Filipina Selatan. Nah kalau jalur ini yang dilalui pertanyaannya adalah atas dasar apa AS ikut-ikutan berunding karena dia tidak berkonflik dengan teritori Cina yang dipersengketakan.  Maka logika kita akan semakin jelas bahwa sejatinya AS ingin mendapat jatah sumber daya fosil di dasar LCS disamping agar hegemoni militernya di Asia Pasifik tetap bersinggasana. Dalam upaya menjaga hegemoni itu tentu dia tak ingin sendirian menanggung beban militer membendung pengaruh Cina. Dan salah satu upayanya tentu dengan merangkul RI agar ikut serta dalam pengaruhnya untuk kesetiakawanan.

Pesan untuk AS, bermain cantiklah terhadap republik ini karena atmosfer takdir tidak lagi mengharuskan pemaksaan kehendak dan merasa benar sendiri.  Asia Pasifik adalah masa depan dunia. Cina bersama Jepang, Korsel, Taiwan dan Singapura sudah memberikan panduannya. Indonesia pun sudah diperhitungkan dunia dengan kekuatan ekonomi terbesar ke 16 di dunia dan terbesar di ASEAN. Pergaulan kawasan yang dibangun dengan semangat saling menghormati dan tak merasa arogan adalah posisi strategis yang menjadikan ASEAN tetap bergema meski beberapa anggotanya berselisih dengan Cina. Indonesia berperan besar dalam menciptakan posisi ASEAN yang harmonis.  Kita meyakini dengan peran RI yang selalu mengedepankan diplomasi rendah hati namun ulet bisa membawa negara ASEAN yang bersengketa dengan Cina ke meja perundingan.
Batalyon Scorpion dalam sebuah Latgab TNI
Seandainya Cina mau berunding dengan ASEAN tentang masa depan LCS dan menemukan kata kuncinya, kondisi ini tentu akan memukul wajah AS sekaligus akan menjadikan Cina terhormat di mata ASEAN.  Bukankah kemajuan ekonomi Cina dan ASEAN yang sudah didapat selama ini akan menjadi kesia-siaan jika terjadi konflik militer berskala besar. Tentu pemikir strategis di masing-masing negara yang bersengketa tidak ingin masuk di wilayah itu. Jadi ingat ketika upaya RI merukunkan faksi-faksi yang bertikai di Kamboja dengan melakukan Jakarta Informal Meeting (JIM) November 1988.  Begitu alotnya mempersatukan ego keras masing-masing di Kamboja dan rasanya mustahil berdamai. Kubu Hun Sen didukung Vietnam dan Uni Sovyet sementara Heng Samrin didukung Cina.  Namun dengan kepiawaian diplomasi Menlu RI Ali Alatas kekerasan kedua kubu mencair dan akhirnya berdamai di Paris setahun kemudian.

Dengan contoh itu dalam lingkup yang lebih luas RI bisa melakukan langkah inisiatif untuk merundingkan kawasan LCS. Cina juga diharap tak kaku dengan langkah perundingan karena Indonesia sejatinya ingin kawasan regional ini menjadi kawasan yang sejuk dan damai.  Tetapi kalau kekakuan Cina terus dipanggungkan maka  ketika militer RI mulai bertaring tahun 2020 tak salah jua jika negeri ini merapat ke AS demi solidaritas ASEAN dan penyeimbang kawasan.

******
Jagvane/ 31 Agustus 2012