Sunday, November 20, 2011

Menyikapi Darwin (2)

Kehadiran pangkalan militer AS di Darwin yang nota bene ada di halaman belakang RI tentu membuat pemikir strategis hankam negara ini memformat ulang wajah pertahanan yang selama ini selalu menghadap barat laut-utara, membagi takaran keseimbangan pada keseluruhan wilayah perbatasan.  Sangat dimungkinkan salah satu opsinya adalah percepatan penambahan postur untuk menjadi kekuatan angkatan laut dengan 3 armada tempur plus kekuatan 3 divisi Marinir. TNI AL memang sedang mempersiapkan kekuatan 3 armada tempur yaitu armada barat, armada tengah dan armada timur. Paling tidak dibutuhkan 300 KRI berbagai jenis termasuk 12 kapal selam. Perkembangan situasi regional yang cepat berubah dimana posisi “usus buntu” di selatan negeri ini memberikan ruang untuk pengkalan militer negara adi kuasa, mengharuskan gerak langkah lebih cepat dan lugas untuk merealisasikan 3 armada itu.
USS Enterprise melintasi ALKI 1 Indonesia
Proyek 100 KCR (Kapal cepat Rudal) made in anak bangsa tetaplah berjalan, demikian juga proyek bersama pembuatan 10 PKR (Light Fregat)dengan Belanda yang  tersendat perjalanannya harus di gas kembali agar target 2 PKR tercapai tahun 2014.  Pilihan pengadaan 4 Fregat dari salah satu negara Eropa merupakan pilihan cerdas untuk mengantisipasi ketersediaan KRI laut dalam yang siap menjaga kedaulatan laut RI.  Disamping KCR untuk patroli laut dangkal di Indonesia Barat, sangat diperlukan tambahan minimal 20 KRI berkualfikasi Fregat dan atau Korvet untuk menjaga pantai selatan Jawa, Bali, NTT sampai laut Arafuru yang dalam dan bergelombang.  Demikian juga dengan armada kapal selam. Kita berpandangan mengapa tidak sekaligus dimenangkan saja Korea Selatan dan Turki yang akan mengerjakan 5 kapal selam sama jenis secara paralel, sehingga percepatannya semakin menggema. Halaman luar negara ini harus mulai diawasi secara ketat karena selama ini kita terfokus pada halaman dalam rumah kita saja, laut Jawa, Selat Malaka, Natuna dan Ambalat.

Perkuatan angkatan udara jelas perlu banget.  Pangkalan udara Kupang dan Merauke yang sudah mempunyai radar militer canggih sudah saatnya ditempatkan satu skuadron jet tempur minimal F16 untuk patroli udara di kawasan selatan timur NKRI.  Pusat skuadron bisa saja di Kupang dan satu flight disandarkan di Merauke bergantian. Penambahan jet tempur Sukhoi menjadi 2 skuadron (32 unit) diharapkan tercapai tahun 2014.  Kita berharap armada keluarga Sukhoi dapat ditambah sampai mencapai minimal 4 Skuadron tahun 2017 termasuk dari jenis SU35.  Ini tidak ambisius tetapi sudah merupakan kebutuhan yang wajib harus ada.  Disamping itu kita juga sangat berharap kehadiran minimal 1 skuadron F35 seperti yang pernah digadang-gadang KSAU beberapa waktu lalu, untuk kesetaraan dan penguasaan teknologi tempur.  Ini sama dengan ketika kita memilih F16 seusai pameran kedirgantaraan di Kemayoran Jakarta tahun 1986, sebuah pilihan tepat untuk loncatan teknologi yang dikuasai pilot-pilot TNI AU waktu itu.

Angkatan darat juga perlu ditata ulang organisasi tempurnya dengan menambah jumlah divisi. Dalam tulisan terdahulu “Kalimantan Menyambut Alutsista Gahar” (Lihat: http://analisisalutsista.blogspot.com/2011_11_07_archive.html) kita sudah melontarkan gagasan agar 5 pulau utama RI  diperkuat dengan divisi-divisi pemukul yang andal.  Dalam tulisan  lain yang berjudul “Jangan Remehkan Selatan Jawa” (Lihat: http://analisisalutsista.blogspot.com/2011_05_27_archive.html) kita sudah mewanti wanti agar pantai selatan Jawa jangan diabaikan, dianggap tidak penting karena tidak berbatasan dengan negara lain.  Sekarang terbukti sedang dan akan menuju jalur utama mondar-mandirnya armada AS dari dan menuju Darwin.

Pertanyaannya kemudian apakah kita tidak senang dengan aliansi militer terang-terangan antara AS dan Australia.  Karena itu adalah wilayah perjanjian bilateral diantara dua sekutu bule satu nenek moyang, maka selayaknya kita harus menyikapinya dengan bijaksana, tidak bereaksi berlebihan, mempertanyakan secara diplomatik lalu seakan-akan tidak terjadi apa-apa.  Namun perkuatan militer segala matra adalah jawaban yang paling jantan sekaligus santun, juga dengan alasan memperkuat kedaulatan NKRI dari segala macam dimensi ancaman.  Jelasnya kita harus perkuat pertahanan laut, udara dan darat untuk mengantisipasi kondisi yang cepat berubah.

Mengapa yang dipilih Darwin, karena ini yang paling instan untuk berbagai kegunaan.  Darwin mempertemukan armada AS yang beroperasi di Samudera Hindia dan lokasi bekal ulang dan rehat yang mendekati sempurna.  Bisa memperpendek jalur tempuh armada angkatan laut AS menuju LCS ketimbang dari Okinawa atau Guam. Kegunaan lain adalah  menjadi payung paling tangguh bagi hankam Australia menghadapi ancaman dari utara.  Pangkalan militer AS di Okinawa Jepang sejatinya untuk memayungi Korsel dan Jepang dari ancaman Korut.  Pemikirannya sederhana, jika terjadi konflik LCS, armada AS yang ada di Okinawa dan Guam “bisa saja” mampu dihadang kekuatan armada Cina sebelum masuk LCS.  Tapi kalau dari Darwin kan tidak mungkin.  Bisa saja ini bagian dari strategi menjepit Cina dari utara, timur dan selatan jika konflik LCS benar-benar terjadi.

Tentu negara yang bakal kerepotan dengan situasi ini adalah Indonesia karena Darwin hanya “sejengkal” dari Kupang dan Merauke yang mau tak mau harus selalu bertemu muka dalam patroli laut dan udara dengan alutsista AS yang seabreg itu.  Kemudian lokasi LCS ada di depan halaman rumah kita.  Repotnya lagi armada AS yang datang dan menuju LCS pasti melewati halaman belakang dan samping rumah kita. Lintasan ALKI akan menjadi jalur utama armada AS. Kemudian kondisi yang tidak kondusif di Papua saat ini bisa jadi membuat AS punya kalkulasi sendiri walaupun Obama sudah menegaskan pada SBY di pertemuan bilateral Indonesia-AS di Bali Jumat 18 Nopember 2011 yang menghargai kebijakan pemerintah RI di Papua.  Tapi bukankah angin kepentingan bisa berubah setiap saat. 

Cina sudah menunjukkan reaksi kerasnya dengan mengatakan bahwa AS harus menghormati hak-hak Cina di Asia Timur. Sementara Jepang memastikan mendukung kehadiran pangkalan AS di Darwin.  Walau tidak dinyatakan secara terang-terangan Filipina pasti mendukung kehadiran AS di Darwin karena ini bermakna pada dukungan penuh AS pada negeri itu.  Negara-negara ASEAN yang punya konflik teritori dengan Cina di LCS merasa punya nyali menghadapi Cina dengan kehadiran pangkalan AS itu.  Nah, posisi Indonesia sendiri tak punya konflik teritori dengan Cina di LCS namun ikut sibuk mengamankan kedaulatannya, ini yang menjadi PR hankam dan militer kita.  Pelajaran yang didapat dari dinamika Darwin adalah bertetangga dengan Australia tidak perlu lagi menampilkan kepolosan sikap diplomasi.  Karena negara ini sejatinya tidak pernah rela berteman dan bertetangga lahir bathin dengan Indonesia.  Yang ditampilkannya adalah cara berjiran gaya Eropa yang angkuh, selalu mendikte, kurang menghargai tatakrama kultur Asia, merasa lebih super dan rela menjadi beo dan pudel AS demi mengatasi sikap paranoidnya terhadap tetangganya di Utara.
*******
Jagvane / 20 Nov 2011

Thursday, November 17, 2011

Menyikapi Darwin(1)

Ini bukan masalah Darwin Zahedi Saleh yang dicopot dari menteri ESDM baru-baru ini atau membahas teori evolusi Darwin yang menghebohkan itu.  Darwin yang ini adalah sebuah kota kecil di pantai utara Australia yang namanya melonjak populer lantaran ditunjuk menjadi markas Marinir AS berkekuatan 1 brigade dengan segala arsenal tempurnya. Gillard dan Obama Rabu 16 Nopember 2011 di Canberra bersepakat untuk menempatkan Marinir AS di Darwin sebagai bagian komitmen AS untuk mengawal Asia Pasifik dan Laut Cina Selatan (LCS) dari ancaman Cina, begitu bunyi lagunya. 
Darwin yang dihebohkan itu
Apakah kita polos saja menerima syair lagu yang melantun demikian, tentu tidak.  Bukan hanya karena corong Darwin persis ada di sebelah Kupang dan Merauke yang tentu ada dalam jangkauan cengkeraman militer AS dibanding dengan jarak jangkau Surabaya atau Jakarta.  Lebih dari itu, akan banyak gerakan armada laut AS yang melintasi ALKI (biasanya tak pakai permisi sama tuan rumah).  Jika terjadi konflik di LCS dipastikan perairan Indonesia menjadi jalur wira wiri armada tempurnya.  Itu artinya kita akan ikut sibuk mengikuti gerak lagu pemilik armada 7 itu yang gerak dan goyang pinggulnya sulit diterka iramanya. Maklumlah si Paman Sam ini satu-satunya adikuasa yang membuat dunia ini tidak seimbang akibat perlakuan dan tata kramanya.  Yang jelas halaman rumah kita bisa ikut terbakar jika konflik LCS pecah menjadi pertempuran berskala besar antara Cina dan AS.

Yang sedikit menggembirakan adalah telah difungsikannya pangkalan angkatan laut (Lantamal) di Kupang dan Merauke.  Juga telah beroperasinya satuan radar di Kupang, Saumlaki dan Merauke. Timika dan Jayapura segera menyusul memiliki satuan radar militer canggih.  Yang belum menggembirakan adalah pengisian satuan KRI yang permanen ada di kedua pangkalan.  Mestinya dengan perkembangan dinamika kawasan yang cepat berubah wajah ini, harus ada pengisian KRI berkualifikasi fregat atau korvet di kedua Lantamal ini.  Kalau kita berandai-andai setidaknya harus ada minimal 2 fregat dan 3 korvet yang ditempatkan permanen di masing-masing Lantamal itu sekaligus melakukan patroli wilayah.  Demikian juga dengan kekuatan TNI AU.  Di Kupang  minimal tersedia 8 F16, jumlah yang sama juga harus tersedia di Merauke.  Itu artinya jumlah kekuatan laut dan udara RI harus mulai memikirkan out of the box, tidak lagi berpola mengamankan halaman dalam wilayah RI.  Mantan KSAL Laksamana (purn) Slamet Subiyanto pernah melontarkan gagasan besarnya dengan membangun pangkalan angkatan laut berskala besar di pantai selatan Jawa, tepatnya di Yogya.

Memang ada juga pemikiran sebagian kalangan, asal kita manut-manut saja sama AS tak jadi masalah, AS tak akan mengganggu teritori NKRI.  Manut-manut bagaimana, kita kan bukan boneka AS, kita juga bukan seperti Australia yang membiarkan halaman rumahnya dipakai sebagai warung alutsista punya tuannya yang perkasa itu.  Harus diingat dengan tajam bahwa konflik teritorial atau sengketa wilayah antar negara atau agresi militer pemicunya adalah cadangan energi fosil yang ada di kawasan itu.  Laut Timor, Ambalat, LCS dan Papua memiliki cadangan sumber daya energi fosil yang besar.

Cina memang sudah mencanangkan bahwa tahun 2020 kekuatan militernya terutama angkatan laut dan udaranya sudah sampai dalam kemampuan galak dan terkam.  Beberapa waktu lalu armada lautnya mencoba lakukan “tes cuaca” dengan menggertak Vietnam dan Filipina.  Ternyata keduanya tak kalah galak, namun bukankah ini hanya sekedar uji nyali, sekedar membaca peta kekuatan tumpang tindih klaim LCS. Skor sementara draw 1-1. Namun tes uji nyali itu dibaca AS sebagai ancaman hegemoni.  Asia Fasifik yang dikawal armada 7 AS sejak sekian lama tentu  bagi si Paman Sam tak ingin ada kekuatan lain yang ingin mengganggu atau mengungguli kekuatannya.  Setelah Subic dan Clark di Filipina ditutup praktis AS tak punya akses terdekat dengan LCS.  Darwin dipilih karena memang sudah jadi dan tinggal pakai,mampu menampung ribuan Marinir termasuk kapal induk AS.

Yang menarik adalah pengumuman kesepakatan AS-Australia itu dilakukan menjelang KTT ASEAN dan KTT Asia Timur di Bali yang juga akan dihadiri oleh Barrack Obama dan Julia Gillard.  Sepertinya mereka ingin menunjukkan high profile dan memamerkan keangkuhan dalam beretika tetangga justru pada saat akan dilakukan rapat di “Kelurahan”.  KTT itu kan cermin dari kesediaan bersalaman, saling meghormati, saling menghargai, menjaga perasaan tetangga, menjaga perasaan tuan rumah dan menghidupkan ruang kebersamaan dalam bingkai kedamaian dan ketenteraman.  Kita berpendapat bahwa kesepakatan itu mencederai rasa-rasa yang sudah di bingkai untuk pertemuan tingkat tinggi di Bali.  Dan ini pasti akan memberikan aura tidak menyenangkan bagi tuan rumah dalam menjamu tamunya.  Cina yang juga akan hadir di pertemuan itu sudah memberikan reaksi tidak mengenakkan bahwa penempatan pasukan AS di Darwin sebagai tidak sesuai bagi kepentingan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Setelah Irak dan Afghanistan “diselesaikan” secara militer, maka AS berdalih bahwa kawasan Asia Tenggara adalah fokus berikutnya.  Inilah barangkali yang disebut dengan sikap paranoid dari negara Adikuasa itu.  Asia Tenggara adalah kawasan yang damai dan sudah terbukti selama ada ASEAN.  Kamboja bisa berdamai karena peran ASEAN terutama Indonesia.  Myanmar membuka pintu demokrasi juga karena peran ASEAN.  Artinya “pintu-pintu” itu bisa dibuka dan disambut senyum oleh pemilik pintu dengan cara mengedepankan dialog, diskusi dan kesetaraan.  Kita sangat berharap konflik dan klaim teritori di LCS dapat diselesaikan dengan cara “Asia” dengan semangat membuka pintu-pintu kesediaan berunding dalam bingkai kesetaraan dan kesamaan hak, bukan karena arogansi aliansi militer.
(Bersambung)
*******
Jagvane / 17 Nov 2011

Monday, November 7, 2011

Kalimantan Menyambut Alutsista Gahar

Perubahan sudut pandang mulai diperlihatkan petinggi TNI ketika melihat pulau terdepannya Kalimantan yang berbatasan darat langsung dengan negara tetangga.  Ya, pulau kaya penghasil energi sumber daya mineral dan kehutanan itu sekaligus paru-paru dunia sedang dibenahi pola pertahanan keamanannya.  Pemekaran Kodam sudah dilakukan.  Dulu hanya ada 1 Kodam, sekarang ada 2 Kodam, yang satu Kodam Mulawarman berpusat di Balikpapan dan Kodam lainnya bernama Tanjungpura berpusat di Pontianak.
Konvoi Tank AMX13 TNI AD di sebuah jalan raya
Yang menarik adalah pergelaran beragam alutsista di pulau ini.  Selama ini yang terjadi adalah mutasi alutsista renta dari Jawa.  Misalnya untuk detasemen kavaleri di Pontianak didatangkan panser uzur sekedar memenuhi dan menggugurkan kewajiban bahwa di Pontianak sudah ada satuan kavaleri lapis baja.  Satuan kavaleri di Balikpapan sami mawon, menampilkan kendaraan lapis baja usang.  Beberapa tahun lalu ketika diadakan latihan perang batalyon raider yon 600 di sebuah kompleks gedung BUMN di kawasan ring road Balikpapan, kebetulan di gedung itu  sedang diadakan meeting kerjasama operasi telekomunikasi dengan Malaysia.  Peserta dari Malaysia yang dapat melihat langsung latihan itu dari gedung berdesain rumah panggung dayak terheran-heran melihat ranpur kavaleri roda empat milik TNI.  “Takjub ni kite tengok tentera Indonesia masih pakai kavaleri cam tu”, kata salah seorang dari mereka.  Mungkin menyindir atau memang terheran-heran, tak tahulah.

Kabar gembira itu akhirnya datang juga. Kalimantan diprediksi mendapat jatah penempatan alutsista baru Main Battle Tank Leopard 2 sebanyak 2 batalyon.  Betapa tidak, kehadiran alutsista berkualifikasi MBT ini adalah yang pertama sepanjang sejarah TNI dan penempatannya pun tidak di tanah Jawa seperti yang selama ini terjadi jika ada pembelian alutsista baru untuk TNI AD. Kalimantan Timur dan Barat menjadi home base alutsista berdaya getar dan gentar tinggi itu.  Kehadiran 2 batalyon MBT ini dipastikan akan memberikan kebanggaan bagi warga kita yang tinggal di kawasan border.  Bahwa mereka memiliki pasukan combatan yang kuat sebagai pengawal border, tidak sekedar pasukan infantri tradisional tanpa dukungan alutsista sekelas MBT.

Batalyon-batalyon tempur yang ada di Kalimantan terus dikembangkuatkan baik dalam pertambahan batalyon maupun perkuatan alutsista.  Disamping ada pertambahan 2 batalyon kavaleri MBT dan beberapa batalyon infantri, satuan-satuan tempur lain diperkuat dengan berbagai arsenal serang.  Misalnya rudal anti tank ATGM untuk 6 batalyon, panser Anoa untuk perkuatan batalyon infantri, Howitzer 155m dan roket berjarak tembak 40 km dan bahkan rudal berjarak jangkau 100-150 km buatan dalam negeri segera memperkuat batalyon combatan. Penerbad juga menempatkan 1 skuadron heli tempur di Tanjung Redeb Kaltim sementara di Pontianak sudah ada 1 skuadron jet tempur Hawk200 dan 1 skuadron pesawat intai UAV. 

TNI AU bersiap menempatkan 1 skuadron jet tempur F16 di Kalimantan, lokasinya bisa jadi di Tanjung Redeb atau Tarakan. Sangatta yang berdekatan dengan Ambalat juga sudah dijadikan pusat latihan tempur segala matra  berskala besar.  Minggu ke dua  Nopember ini Sangatta kembali jadi medan latihan tempur Armada Jaya dengan pendaratan amfibi pasukan Marinir beserta aneka persenjataan yang dimiliki bersama unjuk kekuatan armada 60 KRI berbagai jenis di selat Makassar sampai Ambalat.  Kalimantan memang dipersiapkan dalam kondisi yudha siaga karena di kawasan ini terdapat hot spot pusat konflik teritorial yang berkaitan dengan perebutan sumber daya energi tak terbarukan.

Penempatan alutsista berdaya ledak tinggi di Borneo kita nilai sebagai keputusan tepat agar jika terjadi kondisi terburuk dalam hubungan perjiranan, pertahanan di pulau itu (harus) mampu memberikan pukulan balasan yang menjerakan tanpa harus menunggu dan bergantung pada kekuatan di Jawa. Perkuatan alutsista di Kalimantan sangat bermanfaat dalam menjaga kewibawaan teritorial RI.  Dengan hadirnya berbagai alutsista berdaya gebuk kuat itu, diniscayakan akan memberikan pola hubungan bertetangga yang setara, tidak gampang menggertak, tidak gampang melecehkan teritori NKRI seperti yang selama ini terjadi. Kehadiran alutsista di pulau yang berbatasan darat langsung itu sudah selayaknya dipenuhi dengan standar kualitas alutsista yang mengimbangi atau mendahului karena jika terjadi konflik perbatasan, pasukan organik di pulau itu mampu melakukan serangan balasan sebelum datang dukungan pasukan dari Jawa atau pulau lain. 

Dalam bingkai ini kita berpandangan sudah saatnya masing-masing pulau besar di negara ini membangun pasukan pemukul reaksi cepat sebagai kekuatan pukul organik yang memiliki daya gebrak tinggi.  Pulau-pulau besar itu adalah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.  Gunanya sangat jelas, untuk kecepatan reaksi, serangan balasan, rentang kendali dan dukungan logistik. Doktrinnya jelas jangan sampai musuh masuk duluan baru diajak tarung, tapi digebuk langsung di kawasan border dan kalau perlu melakukan pre emptive strike. Selama ini jika terjadi hot spot di sebuah titik atau daerah misalnya di Natuna, PPRC lalu memberangkatkan 10 Hercules untuk menerjunkan kurang dari 1 batalyon pasukan PPRC dari Jawa, bukan saja tidak efisien tapi waktu yang diperlukan sudah diambil pihak lawan dengan membangun kekuatan di daerah serangnya.

Kalimantan boleh jadi sebagai proyek percontohan untuk membentuk benteng pertahanan dari pasukan organik TNI yang ada di pulau itu.  Disana ada 2 Kodam jadi bisa diasumsikan ada 2 divisi pasukan organik dengan kekuatan 30 ribu tentara.  Kekuatan ini didandani dengan beragam alutsista gahar untuk 2 batalyon MBT, 2 batalyon rudal SAM, 4 batalyon arhanud, 4 batalyon roket, 4 batalyon armed, 4 batalyon infantri mekanis dan 10 batalyon infantri.  Jangan lupa yang terpenting dari semua ini adalah pertambahan dan perbaikan infrastruktur jalan raya, bandara, pelabuhan dan jalan sungai untuk mendukung gerak pertahanan serang di pulau besar itu.

Model pertahanan pulau seperti di Kalimantan memang menjadi prioritas dan secara bertahap bisa diterapkan di pulau-pulau besar lainnya misalnya Sumatera dengan kekuatan 3 divisi pasukan, Sulawesi dengan 2 divisi, Papua dengan 1 divisi dan Jawa diperkuat dengan 6 divisi.  Dengan kekuatan 2 divisi, Kalimantan diyakini mampu bertarung dengan negara yang hendak mencoba melakukan provokasi.  Misal terjadi kondisi terburuk di Ambalat, itu bagian dari tugas angkatan laut dan angkatan udara dengan mengerahkan armada perangnya. Nah di daratan Kalimantan angkatan darat membuka front untuk uji tarung dengan lawan.  Kekuatan alutsista yang dimiliki satuan organik TNI di pulau itu mampu melakukan pukulan telak yang menjerakan.

Kondisi dan dinamika perbatasan negara diyakini sangat terkait dengan penguasaan sumber daya alam tak terbarukan.  Natuna dan Ambalat menyimpan cadangan energi fosil yang besar. Parahnya lagi, sudah sedemikian majunya teknologi menguasai pola hidup dan cara pandang manusia namun tak jua beranjak dari kebutuhan energi yang berasal dari sumber daya fosil.  Matahari yang menjadi sumber energi terbesar dan tetap setia menyinari bumi tak jua menjadi pilihan utama pasokan energi meski dengan kemajuan teknologi sekalipun.  Maka tak heran penguasaan sumber daya energi tak terbarukan menjadi target negara adikuasa.  Lihat saja Irak, lalu yang terakhir Libya, campur tangan itu sangat terkait dengan penguasaan sumber daya energi perut bumi.

Kita menyambut gembira dengan perkuatan militer dan alutsistanya di bumi Kalimantan. Kehadiran militer yang kuat dengan gelar ragam alutsista gahar diyakini mampu memberikan efek ganda, di satu sisi mampu memberikan nilai gentar bagi pihak lawan untuk tidak bermain api. Di sisi lain mampu memberikan kebanggaan bagi warga kita yang tinggal di perbatasan dan tambahan spirit nasionalisme.  Kekuatan militer dan alutsista diniscayakan menjadi aura yang mampu memberikan nilai tawar dalam negosiasi dan diplomasi sengketa.  Ingat perjuangan mengembalikan Irian Barat (Papua) awal tahun 60an.  Jika TNI tidak membangun kekuatan militer secara besar-besaran didukung kuantitas dan kualitas alutsista yang mendebarkan, tidaklah mungkin Belanda yang ndableg itu mau hengkang dari Papua, meskipun perginya penjajah itu lewat jalur diplomasi PBB.  Itu kan cuma bahasa harga diri agar tak dipermalukan oleh negeri bekas kolonialnya.

Sejalan dengan perkuatan militer di Kalimantan hendaknya jangan dilupakan perkuatan geliat ekonomi di kawasan bordernya dengan membangun dan memperbaiki infrastruktur, sekolah bagus, ekonomi kreatif dan perkuatan usaha kecil dan menengah.  Kalimantan saat ini memiliki ratusan ribu hektar perkebunan kelapa sawit. Tentu ini sangat membantu menghidupkan ekonomi rakyat baik sebagai pekerja di perkebunan maupun pemilik lahan yang mensuplay buah kelapa sawit.  Potensinya sudah mengembang, sudah jalan dan sudah menghasilkan.  Yang perlu ditambahkan adalah pemberdayaan optimal warga lokal untuk meningkatkan kesejahteraannya.  Ini perlu diingatkan agar posisi domisili yang berada di garis border tidak merasa dimarginalkan, disia-siakan dan dianggap suratan takdir.  Jangan sampai kemudian yang terjadi adalah bajunya memang Indonesia tetapi cintanya sudah pindah ke lain hati.
******
Jagvane / 7 Nopember 2011

Tuesday, November 1, 2011

Update Prediksi Daftar Belanja Alutsista TNI 2011-2014

  1. 6 Jet tempur Sukhoi  SU30 batch 3 (Rusia)==>tunggu kedatangan
  2. Arsenal rudal untuk Sukhoi (Rusia)=> sebagian sudah datang
  3. 16 pesawat coin Super Tucano (Brasil)=> datang mulai tahun 2012
  4. 16 jet tempur latih T50 Golden Eagle (Korsel) => datang mulai tahun 2012
  5. 30 Jet tempur F16 Blok 52 (AS)  ==> datang mulai tahun 2012
  6. Upgrade 10 F16 blok 15 OCU ke Blok 52==> 1 paket dengan 30 F16 blok52
  7.  1 Skuadron Jet tempur Sukhoi SU35 BM (Rusia)=>Statemen KSAU
  8.  1 Paket Simulator jet tempur Sukhoi (Rusia) =>Statemen KSAU
  9.  2 Skuadron pesawat intai UAV ==> datang mulai akhir 2011
  10. 9 pesawat angkut berat Hercules (AS dan Australia)=>hibah upgrade
  11. 9 pesawat angkut CN295 (Kerjasama dengan Spanyol)=> sign kontrak
  12. 3 Heli serbu Mi35 (Rusia) ==> sdh datang 5 unit
  13. 6 Heli angkut serbu Mi17 (Rusia) ==> sdh datang 12 unit
  14.  16 Heli Apache (AS)==>Statemen Wamenhan
  15.  16 Heli Bell 412 EP (kerjasama produksi dengan AS)==>sedang dikerjakan
  16.   8 Heli Fennec AS550 (kerjasama produksi dengan AS)==>sign kontrak
  17.   6 Heli EC725 Cougar (Eurocopter Perancis)=>sign kontrak
  18.   2 Heli Super Puma (produksi dalam negeri)=>sedang dikerjakan
  19. 16 Heli anti kapal selam (AS)=>penjajakan
  20.  3 pesawat CN295 AEW (Airbus Military Spanyol)=>penjajakan
  21.  4 Radar Raytheon (Perancis)=>3 sudah diinstal di Timika, Merauke, Saumlaki
  22.  1 Pesawat Intai CN235 MPA (produksi dalam negeri) =>sedang dikerjakan
  23.  3 Pesawat Patroli  Maritim CN235 (produksi dalam negeri)=>sign kontrak
  24.  3 Kapal Selam (kerjasama produksi dengan Korsel)=>sign kontrak
  25.  4 Fregat (Inggris)==>statemen KSAL
  26.  2 PKR Light Fregat kerjasama produksi dengan Belanda=> sedang dikerjakan
  27.  5 LST (Landing Ship Tank) produksi dalam negeri==> sedang dikerjakan
  28.  30 Kapal Cepat Rudal (produksi dalam negeri)==>sedang dikerjakan
  29.   8 Kapal Trimaran (produksi dalam negeri)==> 1 unit selesai akhir 2011
  30.  54 Tank amphibi BMP3F batch 2 (Rusia)==>tunggu kedatangan
  31.  20 Tank amphibi BMP 3F batch 3 (Rusia)==>proses anggaran
  32.    2 Batalyon MBT Leopard 2 (Belanda)==>statemen Panglima TNI
  33.   54 Tank Pindad ==>proses order
  34.   22 Panser Canon Pindad Tarantula batch 1==> sedang dikerjakan
  35.   30 IFV  K1 Korsel batch 1 ==> sedang dikerjakan
  36.  330 Panser Pindad 5 ton ==> proses order
  37.  660 Panser Pindad 2,5 ton ==> proses order
  38.    55 Panser Anoa batch 2 ==> sedang dikerjakan
  39.  30 Oerlikon 35 mm, radar dan rudal Chiron (Swiss)==>datang tahun 2012
  40.  100 Rudal jarak sedang surface to air (Hanud Area)
  41.  150 Rudal surface to surface Lapan-Pindad jarak 300 km
  42.   30 Rudal Yakhont Rusia untuk Fregat dan Korvet=>sebagian sdh diinstal
  43.   60 Rudal C802 Cina untuk Kapal Cepat Rudal=>sebagian sdh diinstal
  44.  100 Rudal C705 Cina untuk Kapal Cepat Rudal / Trimaran
  45.  300 Rudal QW3 Cina untuk Marinir dan Paskhas==>sebagian sudah datang
  46.  600 Rudal Anti Tank untuk TNI AD
  47.  70 Howitzer KH178 Korsel ==> sebagian sudah datang
  48.  80 Howitzer 155 mm Turki==>proses order
  49.  30 MLRS Rocketsan Turki ==> proses order
  50.  5.000 Roket Rhan Pindad==> sedang dikerjakan
 *****
Jagvane
(Diolah dari Berbagai Sumber)

Tuesday, October 25, 2011

Tank Amfibi BMP-3F Hantu Laut Yang Menggentarkan

Korps Marinir TNI AL saat ini telah memiliki kendaraan tempur (ranpur) yang berkemampuan teknologi pertempuran masa kini, namanya BMP-3F buatan Rusia.  Jumlahnya untuk pengiriman pertama mencapai 17 unit, resmi masuk jajaran Korps Marinir 11 Desember 2010 yang lalu.  BMP itu sendiri singkatan dalam bahasa Rusia, Boyevaya Mashina Pyekhota, sama dengan definisi Infantry Fighting Vehicle, kendaraan tempur angkut pasukan.  BMP-3F adalah ranpur lapis baja tangguh, mampu bermanuver di dua alam (air dan darat), dan disiapkan untuk pertempuran total football dengan kemampuan manuver menyerang dari laut, punya canon 100mm, punya senjata anti serangan udara, punya rudal anti tank, mampu mengangkut pasukan dan sekaligus mampu mempertahankan diri dari serangan lawan.

Tank Amfibi BMP-3F
Sesuai dengan rencana Kemhan, ranpur jenis BMP-3F ini akan terus ditambah dan pada order tahap kedua telah dilakukan kontrak pengadaan 54 unit tank BMP-3F untuk memenuhi kebutuhan 1 batalyon kavaleri Marinir. Kemhan merencanakan kebutuhan ranpur untuk Marinir sebanyak  95 unit terdiri dari 81 unit BMP-3F, 10 unit BMP-3FK (versi komando), dan 4 unit BREM-L (versi bengkel).  Anggaran pembelian 17 unit ranpur BMP-3F  sebesar US$ 50 juta, pada awalnya senilai dengan 20 unit. Tetapi karena penyusutan nilai akhirnya dengan anggaran sebesar itu Marinir mendapatkan 17 unit BMP-3F. Sangat terbuka kemungkinan penambahan ranpur jenis ini untuk batalyon kavaleri Korps Marinir karena pasukan hantu laut ini terus mengembangkan postur kekuatannya.  Tercatat ada 10 negara yang menggunakan tank BMP-3 selain Rusia yaitu UEA, Venezuela, Kuwait, Korsel, Sri Lanka, Cyprus, Indonesia, Ukraina, Azerbaijan, dan Yunani.
Saat ini Korps Marinir berkekuatan  2 Pasmar (setingkat 2 divisi)  dan 1 brigade cikal bakal divisi 3, memiliki sekitar 450 ranpur berbagai jenis misalnya tank  amfibi PT-76, BTR-50, AMX-10P, BMP-2, BTR-80A, LVT-7, Kapa, Howitzer, Peluncur Roket Multi Laras RM Grad, Rudal Panggul Qw3.  Kehadiran tank amfibi BMP-3F semakin memperkuat taring korps pasukan baret ungu ini. Tank jenis ini merupakan pengembangan dari jenis BMP2/BVP2 yang juga dimiliki Korps Marinir, dirancang untuk adu kuat, adu adrenalin dan uji nyali dalam pertempuran tiga dimensi (darat, air, udara).
Tank ini memiliki akurasi tembakan ke sasaran yang tepat dan survival dalam pertempuran.  Keunggulan ini menjadikan BMP-3F sebagai salah satu ranpur infantri bersenjata berat yang disegani di seluruh dunia.  Beratnya mencapai 18,7 Ton, panjang 7,14 meter, lebar 3,15 meter dan tinggi 3,57m, mampu membawa 7 pasukan marinir dan 3 awak tank.  Dari segi bobot dan kelengkapan persenjataan, BMP-3F menduduki urutan teratas kendaraan tempur kavaleri yang dimiliki Korps Marinir, bahkan menjadi alutsista nomor satu dibanding beragam jenis tank yang dimiliki TNI-AD. Dengan tank Scorpion  milik TNI-AD, BMP-3F jauh lebih unggul dan mematikan.

Tank tempur BMP-3F merupakan generasi penerus dari seri sebelumnya BMP1 dan BMP2.  Keunggulan BMP-3F ada pada kekuatan persenjataan yang dimilikinya termasuk membawa 8 rudal bastion dalam sarang arsenalnya. Punya kemampuan bermanuver pada saat berenang di laut yang bergelombang pada level kondisi sea state 3.  Dalam kondisi berenang dengan kemampuan laju 10 km/jam tank modern ini mampu melakukan penembakan  rudal pada  serangan  pendaratan ke pantai. BMP-3F juga mampu menembakkan peluru kanon sambil bergerak dalam kondisi segala cuaca (siang dan malam).

Keunggulan tank BMP-3F mengaplikasikan sistem persenjataan yang memadukan artileri, rudal, roket dengan sistem kontrol penembakan otomatis, mampu menembak tepat pada saat berenang.   Konstruksi persenjataannya merupakan penggabungan dalam satu kubah tembak (single turet) dimana didalamnya tersedia  meriam, peluncur roket kaliber 100mm, kanon otomatis kaliber 30 mm dan mitraliur kaliber 7,62 mm. Penggabungan ini memberikan kemudahan bagi awak ranpur untuk memilih dengan cepat keperluan penggunaan senjata dalam kondisi bertempur karena dapat memilih sasaran yang diinginkan baik didarat, laut dan udara.  Sistem pengontrol penembakan otomatis ini memberi kesempatan kepada awak tank untuk mempertimbangkan berbagai data kondisi medan tempur lalu dengan itu bisa memutuskan memilih menggunakan arsenal jenis apa yang tersedia, kemudian menembak tepat sasaran dengan satu tombol otomatis.

Tank BMP-3F dirancang memiliki kemampuan amfibi penuh, melaju di permukaan air memakai sistem hidrojet, bukan sistem penggerak rantai roda seperti pada BMP-1 dan BMP-2. Kecepatan berenang maksimal 10 km/jam, daya tahan berenang selama 7 jam. Di jalan raya mampu melaju dengan kecepatan 70 km/jam dan di medan off road mampu berlari dengan kecepatan 40 km/jam. Jarak jelajah mencapai 700 km dan mampu berjalan mundur dengan kecepatan 20 km/jam.

BMP-3F yang dirancang untuk pendaratan amfibi terdapat tambahan snorkel di atas badan belakang dan bilah pemecah ombak di depan badan kendaraan. BMP-3F mampu berenang pada level sea state 3.  Akurasi tembakan sambil berenang masih akurat pada sea state level 2. Sea state adalah indikator kondisi gelombang laut menurut badan meteorologi dunia. Level 2 berarti tinggi gelombang berkisar hingga setengah meter, sedangkan level 3 berarti tinggi gelombang laut berkisar hingga 1,25 meter.

Kubah tank atau turet terbuat dari aluminium paduan berlapis baja yang dilas. Persenjataan yang terpasang di turet ditopang dua stabilizer sistem elektromekanik.  Kubah ini memuat sistem persenjataan berupa meriam kaliber 100 mm, meriam otomatis kaliber 30 mm, 1 unit mitraliur kaliber 7,62 mm, dan 6 peluncur granat asap kaliber 81 mm yang semuanya terpasang secara koaksial pada turet. Dua unit mitraliur kaliber 7,62 mm terdapat di sisi depan samping badan(hull). Pengendalian 2 unit mitraliur di bagian badan depan melalui sistem display fiber optik.

Persenjataan pada turet mempunyai variasi sudut -6 derajat hingga +60 derajat dan bisa berputar 360 derajat. Turet mampu menampung 40 butir amunisi kaliber 100 mm, menampung hingga 500 butir amunisi kaliber 30 mm dan ketersediaan amunisi kaliber 7,62mm hingga 6 ribu butir. Turet BMP-3F memiliki 2 penstabil hentakan tolak balik sehingga memiliki akurasi tembakan yang hampir sama dalam penembakan baik dalam posisi statik, bergerak, ataupun saat berenang. Juga dilengkapi dengan komputer penghitung balistik yang mengkalkulasi data pergerakan relatif kendaraan, kecepatan sasaran, dan kondisi cuaca medan tempur.

Laras meriam BMP-3F juga mampu meluncurkan rudal anti-tank Bastion berpandu  sinar laser.  Rudal ini mampu menghancurkan sasaran kendaraan lapis baja setebal hingga 850 mm dengan jarak tembak efektif 4.000 sampai 5.000m.  Pemandu rudal secara elektronik di dalam tank  terdiri atas teleskop siang/malam yang terintegrasi dengan pemancar laser dan sensor pencari.  Pemandu menstabilkan secara vertikal terhadap garis lurus laras meriam dengan mematikan sistem suspensi meriam guna mencegah pengaruh distorsi.  Sistem ini bisa dipakai untuk menyerang sasaran diam ataupun bergerak bahkan pesawat terbang berkecepatan rendah seperti helikopter. Sasaran tembak sejauh 4000 meter ditempuh dalam waktu 13,5 detik.

Awak tank adalah komandan, sopir, dan juru tembak. Kubah BMP-3F ditempati komandan dan juru tembak, masing-masing terdapat pintu palka. Komunikasi antar awak menggunakan peralatan komunikasi pemancar radio R-173 dan penerima radio R-173P serta intercom R-174. Tank ini dilengkapi dua periskop monokuler  dengan pembesaran sampai 4 kali dan piranti pencari jejak infrared.

Kemampuan manuver gesit ranpur ini didukung oleh kekuatan mesin diesel yang terletak dibagian belakang dengan kekuatan mencapai 500-600 tenaga kuda.  Kompartemen mesin ditutup oleh sekat kedap suara sehingga di ruang kabin tidak terganggu suara mesin. Kabin memiliki ventilator perlindungan Nubika (nuklir, biologi, kima) dengan penyaring FVU dan pendeteksi radiasi kima GO-27. Di kabin tank juga tersedia sensor api dan pemadam kebakaran otomatis. Transmisinya  punya 4 persneling maju dan 1 mundur, sementara untuk urusan knalpot gas buang dapat dimanfaatkan sebagai tabir asap pelindung dengan cara menginjeksikan bahan bakar.  Walaupun beroda rantai namun mengendarai ranpur ini terasa nyaman karena adanya suspensi hidropneumatik independen pada masing-masing 12 roda yang dilapisi rantai.

Semua kelengkapan operasi tempur serang yang dimiliki tank amphibi BMP-3F ini memberi pesan kuat bahwa hantu laut ini benar-benar menggentarkan, kapan saja dan dimana saja siap dioperasikan untuk mempertahankan teritori NKRI.  Bulan Nopember 2011 ini akan dilakukan latihan puncak Armada Jaya di Kalimantan Timur dengan mengerahkan sedikitnya 23 KRI berbagai jenis.  Salah satunya adalah skenario penyerangan dan pendaratan pantai dengan berbagai jenis tank amfibi yang dimiliki Korps Marinir.  Sudah tentu peran serta tank amfibi BMP-3F akan memberikan nilai detterens dan kualitas latihan tempur.  Ini juga bermakna pesan pada jiran manapun untuk tidak bermain api dan melecehkan teritori NKRI.
*****
Jagvane, 25 Oktober 2011

Monday, October 17, 2011

Simbol Teknologi Tinggi Itu Kembali Menggeliat


Industri produk kedirgantaraan kebanggaan bangsa  PT Dirgantara Indonesia (PT DI) saat ini sudah memasuki tahun ke 36, tepatnya tanggal 23 Agustus 1976 ketika masih bernama Nurtanio diresmikan oleh Presiden Soeharto. Langkah sejarah perusahaan strategis ini mengalami fase kebanggaan sekaligus keharuan, ketika titik kebanggaan mencapai kulminasi ditahun 1997 dengan memulai produksi pesawat komersial N250 turboprop berkapasitas 50-70 penumpang dan mengembangkan jet N2130 berkapasitas 100-130 penumpang.  Pada saat yang sama ”ultimatum” IMF pada krisis finansial tahun 1998 memaksa industri kedirgantaraan kita bertekuk lutut pada donatur berwajah kapitalis.  Sekedar catatan pesawat penumpang N250 yang dijuluki Gatot Kaca terbang perdana 10 Agustus 1995 dan tanggal ini dijadikan sebagai Hari Teknologi Nasional.

Pesawat angkut NC295 di Lanud Halim Perdana Kusuma Jkt 
Cerita pendirian Nurtanio diawali dengan kedatangan BJ Habibie bersama 17 insinyur dari Jerman dengan restu Dirut Pertamina dan panggilan pulang Presiden Soeharto   tahun 1975 untuk bekerja di ATP (Advance Technology Pertamina).  Sementara itu di Bandung sudah ada Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio.  Atas restu Pak Harto Habibie diperkenankan membuat industri pesawat terbang berskala internasional, lalu ATP dan Lembagai Industri Penerbangan Nurtanio digabung dan diresmikan 23 Agustus 1976.

Dalam langkah perjalanannya Nurtanio kemudian berganti baju menjadi PT IPTN (Industri Pesawat terbang Nusantara) tahun 1986, kemudian ganti baju lagi menjadi PT DI (Dirgantara Indonesia) tahun 2000.  Pada saat ganti baju yang terakhir itu perseroan ini sedang mengalami goncangan hebat sebagai akibat ultimatum IMF tadi, tidak ada kucuran dana segar dari Pemerintah, lalu tahun 2003 PT DI melakukan PHK masal kepada ribuan karyawannya.  Tercatat waktu itu ada 16 ribu karyawan dikurangi menjadi  hanya 4000 karyawan saja.

Tanggal 4 Oktober 2011 adalah penanda kebangkitan yang cukup signifikan bagi sebuah industri teknologi tinggi PT DI karena sahabat lamanya CASA Spanyol melalui bendera Airbus Military yang dimiliki European Aeronautic Defense and Space (EADS) melakukan ”pernikahan kembali” dengan memproduksi bersama pembuatan pesawat angkut militer NC 295.  Pernikahan pertama adalah kerjasama produksi CN235. Kerjasama dengan Airbus Miltary ini akan memproduksi minimal 9 pesawat angkut militer berkapasitas 71 pasukan atau 49 peterjun payung, diproduksi secara paralel, 6 diantaranya dibuat di pabrik pesawat terbang milik Airbus Military di San Pablo Spanyol, 3 unit lagi diproduksi di Bandung.  Sangat terbuka kemungkinan PT DI memproduksi lebih banyak NC295 untuk pasar Asia Pasifik.

Pesawat NC295 merupakan pengembangan dari CN235, punya kesanggupan membawa beban 9,2 ton sehingga masuk kategori medium military lift, badannya diperpanjang 3 meter sementara sayapnya tetap sama dan diperkuat dengan engine PW127G turboprop buatan Pratt &Withney, kekuatannya satu setengah kali CN235. Data Casa menunjukkan NC295 lebih irit bahan bakar dan perawatan dan sanggup terbang dengan daya jelajah 5.300 km dengan kapasitas bahan bakar 4,5 ton.  Kemhan memesan 9 unit pesawat jenis ini untuk memperkuat skuadron angkut sedang dalam mobilitas rotasi pasukan dan penanggulangan bencana alam.

Pesanan Kemhan ini membuat PT DI menggeliat gairah setelah sebelumnya tanggal 26 Mei 2011 melalui program penyertaan modal negara (PMN) dengan persetujuan Komisi VI DPR, perusahaan ini digelontor dana konversi sebesar Rp 3,8 trilyun untuk memperbaiki posisi neraca keuangan.  Rincian PMN itu adalah 1,42 T untuk konversi utang dan 2,38T untuk penyertaan modal sementara.  Suntikan ini mampu menyegarkan wajah permodalan perseroan dari sebelumnya defisit 707 milyar rupiah menjadi plus 617 milyar.

Bulan Mei 2011 PT DI berhasil melakukan pengiriman pesawat produksinya CN235 jenis angkut militer VIP ke Senegal dengan nilai kontrak US$ 13 juta. Pesawat ini merupakan modifikasi dari CN 235 milik Merpati.   Modifikasi yang dilakukan adalah dengan mengubahnya menjadi tipe pesawat militer, menganti mesin untuk menambah daya angkut dan penambahan sistem auto pilot TCAS.  Ini adalah ekspor pertama sejak tahun 2008 dimana selama itu PT DI tidak mampu melakukan ekspor pesawat produksinya meskipun yang diekspor itu pesawat second yang diperbaharui.

Setelah ekspor ke Senegal, PT DI juga kembali mengirimkan 2 CN235 tipe patroli maritim yang dipesan angkatan laut Korea Selatan.  Korea Selatan memesan 4 unit CN 235 patroli maritim yang dilengkapi dengan alat pendeteksi kapal, migrasi ikan, polusi tumpahan minyak dengan nilai kontrak US$ 94 juta.  Semuanya akan diselesaikan tahun ini.  Khusus dengan Korsel, PT DI ke depan diprediksi akan mendapat tambahan order CN 235 atau NC295 dalam jumlah banyak sehubungan dengan adanya kerjasama pertahanan yang erat antara RI dan Korsel.  RI banyak memesan alutsista dari Korsel antara lain 16 jet latih tempur T50 Golden Eagle, pengadaan 3 kapal selam kelas Changbogo, upgrade 2 kapal selam dan lain-lain.  Selama ini negeri ginseng itu sudah mengunakan 15 unit pesawat CN 235 buatan PT DI untuk keperluan operasi militernya.

PT DI saat ini sedang disibukkan dengan penyelesaian berbagai order alutsista udara untuk TNI, yaitu pembuatan 3 pesawat CN235 patroli maritim untuk TNI AL dan penyelesaian helikopter NAS-332 Super Puma untuk TNI AU.  TNI AU juga memesan 1 unit CN235 MPA untuk skuadron intainya. Tak ketinggalan TNI AD sebagai pelanggan tetap PT DI memesan 8 unit helikopter jenis Bell 412 EP tipe serbu dan 8 unit dari tipe angkut, kemudian helikopter jenis Fennec AS-550  sebanyak 8 unit.  Masih banyak paket-paket alutsista yang diorder oleh TNI misalnya  pembuatan SUT Torpedo tipe 364 MKO untuk kapal selam TNI AL dan paket simulator terjun payung untuk TNI AD.  Dari semua rangkaian order itu diprediksi sampai tahun 2014 PT DI akan mendapat peluang revenue sebesar Rp 9,23 Trilyun, sebuah angka yang mampu memberikan nilai geliat gairah bagi industri kedirgantaraan dalam negeri.

Ini semua tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah bersama DPR dalam program pengadaan alutsista TNI yang menggelontorkan dana 100 Trilyun rupiah dengan opsi tambahan 50 trilyun selama periode 2010-2014, dengan mengggandeng industri strategis pertahanan dalam negeri.  Selain PT DI, PAL dan Pindad juga mendapat order luar biasa dalam pengadaan alutsista TNI.  PAL mendapat order pembuatan puluhan Kapal Cepat Rudal, Kapal Landing Ship Tank, Kapal LPD, integrasi sistem tempur KRI dan kerjasama pembuatan kapal selam dengan Korsel.  Pindad mendapat pesanan ribuan senjata SS2, ribuan roket R-Han, ratusan Panser Anoa, kerjasama produksi Panser Canon Tarantula dengan Korsel  dan Panser Fnss dengan Turki.

Untuk diketahui selama 36 tahun masa kehadirannya PT DI telah memproduksi lebih dari 300 pesawat terbang dan helikopter berbagai jenis seperti NC-212, CN235, NBO105, NBELL 412, NAS332.  Juga mampu memproduksi 60 ribu unit roket dan 160 unit torpedo, 13 ribu unit komponen pesawat terbang F16, Boeing, Airbus.  Sejalan dengan itu PT DI mampu melakukan penguasaan teknologi pabrikasi Casa, Boeing Company, Fokker dan Bell Helicopter termasuk product support, maintenance dan overhaul. Dalam quality assurance sudah diakui oleh General Dynamic dengan persyaratan US Military Specification MIL-1-45208A, Bae, Lockhead, Boeing Company, Daimler Benz Aerospace dan DGAC.

Geliat gairah PT DI sebagai simbol teknologi tinggi yang dimiliki republik ini merupakan momentum kebangkitan kembali industri kerdigantaraan kita.  Apalagi saat ini sudah ada kerjasama pengembangan proyek jet tempur KFX/IFX bersama Korsel dimana  Indonesia mendapat bagian 50 unit jet tempur generasi 4,5 dan PT DI akan menjadi produsen dan pemasar jet tempur dengan kualitas diatas F16 mulai tahun 2020.  Simbol teknologi tinggi bangsa ini kembali bersinar terang memberikan nilai kebanggaan dan harapan pada generasi penerus bangsa.
******
Jagvane,17 Oktober 2011
Catatan
Tulisan ini dipublikasikan di Harian Suara Merdeka Tgl 18 Oktober 2011

Wednesday, October 5, 2011

Catatan Ulang Tahun Pengawal Republik

Ulang tahun pada dasarnya adalah mematri posisi eksistensi ketika cerita perjalanan sampai di batas daur ulang edar manakala bumi lengkap tigaratus enampuluh lima hari enam jam berputar mengelilingi matahari.  Satu tahun namanya dan eksistensi pun kembali ke titik ulang untuk kemudian berjalan lagi, terus, sampai pada sebutan berulang lagi.

Lima oktober dua ribu sebelas pengawal republik memasuki bilangan usia enampuluh enam, sebuah bilangan yang mencerminkan kedewasaan titik eksistensi pada putaran revolusi bumi yang selama itu berkeliling tak jenuh, tak ingkar mengantarkan semua dinamika yang ada didalamnya termasuk sebuah institusi TNI. Ya selama usia itu TNI telah berkembang menjadi menjadi sebuah kebanggaan, martabat, harga diri, keperkasaan dan kesetiaan mengawal Republik Indonesia. 
Pasukan Marinir TNI AL
Ketika pada awalnya dilahirkan, TNI mirip sebagai sosok bayi yang tak punya apa-apa, telanjang.  TNI lahir dalam sejumlah keterbatasan pada saat mana perjuangan untuk menendang penjajah memerlukan energi dan gizi yang bernama arsenal.  Namun senjata utama TNI waktu itu adalah doa dan spirit tempur, semangat luar biasa untuk mengusir penjajah yang tak mengakui adanya pengumuman kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.  Cerita perang kemerdekaan yang penuh haru biru itu, ada agresi militer pertama lalu agresi milter kedua tak jua menghilangkan TNI dari percaturan tempur sebagaimana yang diinginkan Belanda.  Akhirnya negeri kincir angin ini yang letih, kehabisan stamina dan mengakui kedaulatan RI akhir tahun 1949.

Perjalanan kemudian mencatat pergolakan di beberapa daerah yang merasa dianaktirikan oleh Jakarta.  Ada PRRI / Permesta, ada RMS, ada Daud Beureueh, ada DI/TII.  Semua pergolakan itu memberikan catatan bagi TNI, bahwa tidak ada kata kompromi jika ada komponen yang menyatakan memisahkan diri dengan seabreg alasan.  Karena perjanjian bernegara ini sudah jelas, bahwa negara kesatuan ini adalah konsekuensi sejarah dari kebersamaan langkah yang sudah dilas dengan semangat proklamasi.  Pemberontakan itu akhirnya dipadamkan dengan berdirinya TNI di garis depan sebagai tulang punggung pemadam kebakaran.

Membuka era 60an, Trikora berkumandang tepatnya 19 Desember 1961 untuk memperjuangkan Irian Barat yang masih digenggam Belanda.  Trikora adalah momentum perkuatan alutsista TNI yang luar biasa dan pertama.  Berbagai arsenal mematikan didatangkan dari blok Timur.  Kehadiran arsenal-arsenal ini memberikan aura gentar bagi Belanda. Atas nasehat Presiden AS Kennedy, Belanda akhirnya angkat kaki dari Papua. Inilah kekalahan kedua Belanda setelah sebelumnya mengakui kedaulatan Indonesia akhir tahun 1949.  Sekali lagi TNI tampil sebagai bemper perjuangan keutuhan NKRI. Lengkap sudah NKRI dari Sabang sampai Merauke, ibarat sebuah tubuh, lengkap sudah bersama seluruh anggota badan. 

Lima Oktober TNI berulang tahun, dan tahun ini genap sudah usianya menginjak angka enampuluh enam, sebuah usia dewasa yang mengantarkan kesetiaan pengawal republik pada negeri ini.  Pada usia sebaya ini TNI sedang mempersiapkan gelar alutsista menuju minimum essential force. Ya sang hulubalang sedang mengasah pedangnya agar terlihat mengkilap dan tajam.  Mengapa harus diasah agar tajam, karena inilah kekuatan bargaining yang mampu memberikan nilai kesetaraan dalam pola gaul dengan negara lain terutama negara yang senang mengklaim teritori negara lain.  Kekuatan alutsista adalah cermin menuju profesionalitas TNI karena teman sejati  TNI adalah alutsista itu sendiri, namanya saja angkatan bersenjata, ya senjata itulah  yang menjadi kebanggaan dan nilai profesionalitas sosok tentara.

Nah kalau bicara alutsista maka alokasi atau distribusi alutsista menjadi penting bagi sebuah negara bercorak kepulauan ini. Bicara tentang alokasi arsenal dan satuan-satuan tempur pada sebuah peta yang bernama Republik Indonesaia, maka bisa disimpulkan dengan mudah kekuatan arsenal TNI semua angkatan  menumpuk di pulau Jawa.  Kostrad divisi I dan II semua bermukim di Jawa, Pasmar I dan II juga berdomisili di Jawa.  Pangkalan utama TNI AL di Surabaya dan Jakarta.  Skuadron-skuadron tempur dan angkut militer mayoritas ada di pulau Jawa.

Satuan-satuan tempur di dua Kodam di Kalimantan sudah selayaknya mendapatkan alutsista penggebuk berdaya ledak tinggi disertai mobilitas gerak pasukan.  Main Battle Tank (MBT) diperlukan di sebuah pulau yang berbatasan darat dengan negara tetangga, bukan diletakkan di Jakarta.  Selama ini jika ada penambahan alutsista baru untuk TNI AD, Jakarta dan Jawa selalu mendapat prioritas kemudian alutsista yang lama dipindahkan ke satuan tempur daerah di luar Jawa.  Ketika konflik Ambon sempat menyalak minggu kedua September 2011, alutsista yang muncul di jalanan kota Ambon tidak mencerminkan kegagahannya karena memang sudah tua.  Bandingkan misalnya yang tampil Panser Anoa, auranya akan menegaskan kehadiran satuan pengaman yang gagah dan berwibawa.

Tidak perlu harus mengutamakan Jawa.  Misalnya untuk alokasi  satuan batalyon kavaleri dan batalyon infantri mekanis beserta kekuatan arsenalnya kota Ambon, Banda Aceh, Lhok Seumawe, Jayapura, Pontianak, Kupang mestinya mendapatkan priorotas paling utama.  Di Ambon misalnya harus ada batalyon infantri mekanis dengan kekuatan 70-75 panser Anoa atau yang sejenis.  Kehadiran alutsista seperti ini akan memberikan warna kekuatan gahar pengaman republik dari unsur-unsur pengacau dan separatis.  Bisa ditampilkan pada saat parade militer atau melakukan patroli pengamanan wilayah untuk meredam konflik antar warga.  Demikian juga dengan Pontianak sangat memerlukan kekuatan Main Battle Tank.

Kita berharap ada pemerataan penempatkan satuan-satuan tempur TNI segala matra di 5 pulau besar yaitu Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.  Lima pulau besar ini dapat membentuk Kowilhan (Komando Wilayah Pertahanan) yang nantinya  saling memback up satu sama lain.  Kalimantan misalnya sebagai daerah yang beresiko konflik perbatasan paling tinggi minimal harus ada satuan organik dengan kekuatan 2 divisi TNI AD dengan dukungan alutsista berupa 2 batalyon kavaleri MBT, 4 batalyon infantri mekanis, 4 batalyon armed, 2 batalyon rudal / roket dan 15 batalyon infantri.  Kekuatan AD ini didukung dengan gelar kekuatan AU yang menempatkan secara permanen minimal 2 skuadron tempur, 1 skuadron heli tempur dan 1 skuadron UAV.  TNI AL menempatkan sejumlah KRI di Tarakan berikut penempatan batalyon-batalyon marinir di beberapa pangkalan AL yang ada di Kalimantan.

Penataan satuan organik sebagai kekuatan pemukul reaksi cepat di masing-masing 5 pulau besar dan saling mendukung satu sama lain diniscayakan lebih efektif dalam rentang kendali dan kecepatan reaksi.  Misalnya terjadi konflik terbuka di Ambalat, maka satuan organik di Kalimantan dan Sulawesi bisa saling membantu dengan kedekatan jarak jangkau dan jarak tempur.   Termasuk pula dalam operasi militer selain perang sebaran kekuatan pasukan TNI dengan alokasi alutsistanya di 5 pulau besar ini mampu memberikan kecepatan reaksi.

Seremoni ulangtahun yang digelar di Markas Besar TNI Cilangkap Jakarta hari ini memberi kesan sederhana dan tidak memusatkan pameran kekuatan alutsista di ibukota negara.  Hanya ada flypass 6 Sukhoi dan 6 Hawk, parade dan defile tidak ditampilkan.  Berbeda dengan di Surabaya dan Yogyakarta, kesannya lebih meriah dengan dilakukannya parade dan defile menampilkan beragam jenis alutsista TNI yang dimiliki.  Bisa jadi ini menjadi pertanda bahwa sebaran alutsista  akan dialokasikan merata khususnya di lima pulau besar RI. 

Kita berharap suatu saat akan ada gelar upacara HUT TNI yang dipimpin Presiden di daerah perbatasan, misalnya di Kupang dan Pontianak dengan gelar alutsista secara besar-besaran.  Walaupun hanya bersifat seremoni namun gaungnya akan terasa kuat di kalangan rakyat setempat, manakala upacara HUT TNI dipusatkan di provinsi border land.  Ini akan menciptakan ruang rasa pada nuansa kebangsaan dan mampu membangkitkan semangat patriotik. Parade alutsista di kawasan perbatasan darat akan memberikan pesan jelas kepada negara tetangga adanya kehadiran TNI yang kuat di ruang perbatasan itu. Kita membayangkan ada parade dan defile satuan organik pasukan pemukul reaksi cepat di Kalimantan Barat atau NTT, ada unjuk kekuatan alutsista berupa MBT, Panser, Artileri, Rudal, Roket, Jet Tempur, KRI dan alutsista lainnya.  Semoga horizon membayangkan itu suatu saat bisa menjadi kenyataan yang membanggakan.  Dirgahayu TNI.

Jagvane / 05 Oktober 2011