Friday, July 1, 2011

Mengajak Singapura Menjadi Jiran Setara

Parade Pasukan Marinir TNI AL
Dari sisi pertahanan keamanan, Singapura seperti sebuah tembok beton kokoh yang mengelilingi seputar pulaunya yang tidak lebih besar dari Jabotabek. Takdir Singapura adalah terjepit diantara dua jirannya yang serumpun, di utara Malaysia dan di sisi selatan Indonesia.  Hari-hari takdir yang dimulai tanggal 9 Agustus 1965 itu mungkin yang menginspirasi pendiri sekaligus Perdana Menteri pertamanya Lee Kwan Yew untuk memperkuat pertahanannya karena pembelotannya pada Federasi Tanah Melayu dan sejarah Dwikora Indonesia.  Lee berhasil membawa 3 berkah sekaligus bagi negeri pulau itu, kesejahteraan rakyatnya, kestabilan pemerintahan dan kekuatan arsenal angkatan bersenjatanya.

Maka bisa kita lihat saat ini keunggulan arsenal militernya baik AD, AL, dan AU.  Dari sisi kuantitas personil, pasukan negeri pulau dengan populasi 5 juta penduduk-1 juta diantaranya adalah pekerja asing yang bekerja di berbagai sektor-  jelas kalah jumlah dari jirannya, namun jika dilihat dari kualitas dan jumlah persenjataannya, orang akan ukur diri dan berhitung ulang jika hendak mengganggu Singapura.  Dia akan seperti ribuan tawon yang menyengat kiri kanan jika ada yang berusaha mengganggu sarangnya.

Kalau ditanya secara waras dan kondisi normal apakah itu melalui metode jajak pendapat atau survey sebahagian besar warga Indonesia akan menjawab tidak ingin mengganggu negeri itu karena sudah menjadi salah satu “provinsi” tujuan wisata paling disenangi.  Namun jika dilihat dari cara dan metode bertetangganya wajar saja kita merasa berang dengan keangkuhan cara pandang pemerintahannya.  Salah satunya adalah melindungi para koruptor RI dengan  ditelantarkannya alias tidak disepakatinya perjanjian ektradisi.

Menjawab cara pandang bertetangga yang arogan itu, metode pendekatan bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah membangun keseimbangan perkuatan alutsista. Statemen Menhan Purnomo yang menyatakan RI akan memperkuat skuadron tempurnya dengan 180 Sukhoi ternyata cukup menggentarkan rumah jiran sebelah. Lalu uji coba rudal Yakhont beberapa waktu lalu di selatan Selat Sunda serta instalasi sistem persenjataan rudal Yakhont dan C802 pada puluhan KRI  mulai membuka mata dan bahasa tubuh Singapura. Langkah awal memulai kembali diplomasi perjanjian kerjasama pertahanan dan perjanjian ekstradisi yang disia-siakan sejak April 2007 dilakukan dengan kunjungan delegasi Singapura ke Jakarta akhir Juni 2011 dipimpin Menlu barunya. Bahasa diplomasinya adalah perkenalan dengan Menlu Singapura K.Shanmugam.

Singapura boleh berbangga untuk saat ini dengan keunggulan alutsistanya. Untuk kekuatan udaranya, mereka punya 24 F15 SG, 60 F16 C/D dan puluhan fighter lainnya.  Angkatan lautnya juga punya 4 kapal selam dan puluhan kapal combatan berteknologi terkini, belum lagi arsenal darat yang sanggup melakukan pre emptive strike. Tapi Singapura hanyalah sebuah pulau, bahwa dia tidak bisa disamakan dengan Israel yang masih punya pintu keluar Laut Mediteranian.  Singapura benar-benar terjepit. Singapura sangat kekurangan dalam ruang udara dan laut untuk melakukan latihan militer.

Alutsista Singapura yang seabreg itu terkendala oleh ruang udara dan laut yang sempit dan membuat dia sesak nafas.  Singapura butuh udara segar untuk olahraga alutsistanya.  Maka jangan heran 1 skuadron F16 ditempatkan di AS dan  Australia. Thailand memberikan izin ruang udaranya dipakai sebagai arena latihan tempur AU Singapura.  Dengan Indonesia juga pernah ada lokasi latihan penembakan pesawat tempur  (Air Weapon Range) di Siabu Riau namun sekarang sudah diclose.

Mulai Juli 2005 Singapura dan Indonesia melakukan perundingan  perjanjian kerjasama pertahanan (DCA) dan dijadikan satu paket dengan perjanjian ekstradisi.  Inilah pintarnya Singapura, dia sengaja menjadikan dua hal yang berbeda jauh itu menjadi satu paket agar bernilai tawar tinggi terutama ketika mengajukan usulan daerah latihan tempur di perairan Natuna. Perjanjian ekstradisi adalah nilai tawarnya agar MTA (Military Training Area) di Area Bravo Natuna bisa dipergunakan sebagai arena latihan Singapura selama 6 bulan dalam setiap tahunnya.

Ini yang berlebihan, logikanya latihan tempur paling lama hanya 10 hari dan kalau mau dijadikan 4 kali setahun baru 40 hari. Kemudian daerah  Bravo itu mencakup daerah yang cukup luas dan menjadi daerah penangkapan ikan para nelayan.  Belum lagi pasal di perjanjian ekstradisi, orangnya si koruptor boleh dibawa pulang tapi duitnya harus tetap berdiam di Bank Singapura.  Kesannya kok mendikte RI.  Maka walau sudah disign oleh Menteri Pertahanan RI dan Singapura dan disaksikan oleh Presiden SBY dan PM Lee Hsien Loong tanggal 27 April 2007, kesepakatan kerjasama itu mati suri alias tak berguna.

Kesetaraan bertetangga, itu kalimat yang pas dikumandangkan pada Singapura.  Banyak hal yang menjadi kredit point bagi RI untuk mulai memperlihatkan kesejatian dirinya.  Jumlah pelancong RI adalah yang terbanyak membelanjakan uangnya di negara kota itu, IHSG Jakarta sudah jauh mengungguli pasar saham Singapura. Indonesia 2000 berbeda jauh dengan Indonesia 2011. Tidak boleh dilupakan adalah faktor kesetaraan alutsista dimana selama ini Indonesia selalu mengabaikan dan menelantarkan TNI. Perkuatan alutsista TNI yang mulai digebyar dan digelar untuk menuju MEF (Minimum Essential Force) adalah bagian dari menunjukkan kesejatian dan jati diri kita sebagai bangsa.  Jika MEF itu dicapai dalam 2 kali renstra maka kekuatan alutsista kita akan jauh berada diatas Singapura. 

Sekedar catatan, ujicoba roket Lapan di Baturaja dan Cianjur Selatan tahun lalu, mendapat perhatian besar dari intelijen Singapura.  Roket ini adalah cikal bakal rudal surface to surface yang mampu mencapai jarak tembak 300 km.  Artinya jika ada 200 rudal jenis ini disebar di Bintan dan Batam  maka rumah tetangga sebelah menjadi susah tidur dan gelisah.  Nah kegelisahan dia itu menjadi salah satu resep untuk melunakkan cara pandang bertetangga bagi sebuah rumah yang bernama Singapura. 

Maksudnya mengapa harus melindungi koruptor RI dan hartanya.  Katanya negara yang paling disiplin, katanya negara yang paling bersih, katanya negara yang paling toleran, tapi menerapkan standar ganda jika berhadapan dengan koruptor tetangganya.  Bukankah perjanjian ekstradisi itu adalah bagian dari upaya kesetaraan dalam bertetangga.  Bukankah cara bertetangga yang setara itu adalah memahami posisi diri untuk toleransi dan saling pengertian. Untuk lahan latihan milter Singapura, kita tak jual mahal kok, asal proporsional, terukur dan terjadwal, pasti akan kita berikan.  Kita bisa memahami sesak nafasnya ruang latihan militer  tetangga kita.  Lalu dimana letak ketidaksetaraan itu.  Salah satunya adalah karakter kita yang tidak percaya diri, sikap kita yang selalu mengkerdilkan diri sendiri  dan menjadikan Singapura besar kepala.

Perkuatan alutsista yang direvolusikan saat ini untuk mencapai kekuatan MEF dan kekuatan deterence diniscayakan menjadi kekuatan bargaining agar kehidupan bertetangga dengan jiran-jiran sebelah menjadi setara, saling menghargai dan saling menghormati. Singapura harus menyadari bahwa RI akan segera mengambil alih keunggulan alutsista tidak lama lagi termasuk perkuatan ekonomi yang  semakin diperhitungkan dunia.  Kita mengingatkan bahwa  belum terlambat bagi Singapura untuk merubah cara pandangnya dalam bertetangga dengan Indonesia, kesetaraan, itu saja permintaan kita sebelum akhirnya dalam batas-batas kesabaran itu kita akan mengatakan : Ini dadaku, mana dadamu !!.

****
Jagvane / 01 Juli 2011


Thursday, June 23, 2011

Selamat Datang 24 Jet Tempur F16

Skuadron F16  TNI AU
Akhirnya TNI AU kesampaian juga menambah perkuatan jet tempur paling populer di dunia dan paling banyak spiesesnya, F16, setelah Kongres AS menyetujuinya sebagai tahapan akhir dari proses hibah.  Jujur saja kita katakan ada rasa plong dan lega nafas dengan persetujuan ini karena itu berarti jumlah F16 kita akan menjadi 34 unit yang berarti bisa disamakan dengan 2 skuadron.

Dan kalau mau diputar ulang sejenak, maka sejak Desember 2010 sampai pekan keempat Juni 2011 TNI AU sudah memperoleh pesanan koleksi tambahan 56 pesawat tempur berbagai jenis yang terdiri dari 16 Super Tucano, 16 T-50 dan 24 F16. Tiga proses pengadaan alutsista penggebuk TNI AU boleh kita sebut sebagai upaya  yang gemilang dan cepat dalam decision.  Hanya dalam waktu enam bulan ada 3 decision untuk perkuatan alutsista TNI AU.  Kita berharap pada tahun ini juga sudah ada sign decision kontrak penambahan 6 unit Sukhoi untuk melengkapi 10 Sukhoi yang sudah ada saat ini.

Tentu sekarang sedang dipikirkan oleh petinggi TNI AU sebagai unit yang punya barang alutsista penggebuk yaitu alokasi skuadron F16. Untuk Super Tucano  sudah dipastikan ditempatkan di Lanud Abrurrahman Saleh Malang.  Di Lanud ini juga ada 1 skuadron angkut berat Hercules dan  sisa 4 unit OV-10 Bronco dengan status grounded tapi masih bisa operasi loh.  Skuadron T-50 sebagai pengganti Hawk Mk-53 tetap ada di Lanud Iswahyudi Madiun.  Saat ini Hawk Mk-53 masih beroperasi dengan kekuatan 6 pesawat tempur.

Yang jelas jika 34 F16 ditempatkan semuanya di Madiun kok rasanya penuh sesak gitu. Di Iswahyudi juga ada 1 skuadron pesawat tempur F5E sebanyak 12 unit.  Dari sisi pertahanan pangkalan, tak elok jika dalam satu pangkalan terdapat pemusatan kekuatan pesawat tempur. Mestinya ada persebaran kekuatan alutsista pesawat tempur  untuk memudahkan patroli udara pada ruang udara kita yang sangat luas ini.

Biak, Medan, Kupang dan Tarakan diyakini sudah masuk nominasi “audisi” penempatan pangkalan F16.  Yang paling siap dari keempat pangkalan itu adalah Biak.  Pangkalan di utara Papua ini sudah siap lahir bathin menerima pinangan pesawat tempur, sudah punya radar canggih, sudah punya “among tamu” 1 batalyon Paskhas yang segar-segar (karena baru dibentuk).  Waktu  Lanud Supadio Pontianak ditempatkan 16 pesawat tempur baru jenis Hawk 100/200 tahun 1996, belum memiliki pasukan pertahanan pangkalan yang bernama Paskhas sehingga Paskhas yang ada di Lanud Sulaiman Bandung bedol desa alias bertransmigrasi ke Pontianak sebelum akhirnya dibentuk 1 batalyon Paskhas yang baru.

Biak sudah siap menerima pesawat tempur tetapi Medan juga membutuhkan kehadiran pesawat tempur untuk mengimbangi patroli tempur negara jiran di seberang selat Malaka.  Sementara Tarakan juga sangat perlu kehadiran pesawat tempur minimal setingkat Flight tetapi terus menerus sepanjang tahun, tidak seperti sekarang sifatnya musiman.  Kondisi meminta ini sama dan sebangun  dengan Lanud El Tari Kupang NTT.

Maka boleh jadi prediksinya adalah menempatkan 1 Skuadron (12 unit) F16 di Medan dan 1 skuadron (12 unit) F5E di Biak, kemudian 1 flight  (4 unit) F16 di Tarakan dan 1 flight (4 unit) F16 di Kupang.  Sisanya sebanyak 14 unit F16 tetap bermukim di markas besar F16 Madiun.  Namanya juga prediksi tentu tak jua harus sepemikiran dengan pengambil keputusan petinggi TNI AU namun jika ditilik dari pola persebaran kekuatan tempur AU kita, choice ini bisa jadi pertimbangan.

Lalu bagaimana dengan dinamika Laut China Selatan yang ada di depan hidung Natuna.  Boleh saja dilakukan pergeseran pesawat tempur Hawk di Pekanbaru yang saat ini berjumlah 20 unit,  6 unit diantaranya ditempatkan di Ranai untuk patroli sekitar Natuna secara rutin dan berkesinambungan.  Dalam kondisi tertentu bisa juga 6 F16 di Medan dialihtugaskan ke Natuna untuk patroli udara, atau kombinasi flight Hawk di Pontianak dengan flightt F16 di Madiun.

Perpindahan skuadron F5E ke Biak untuk saat ini dipandang lebih pas jika  melihat urgensi nilai ancaman.  Kehadiran F5E dimaksudkan agar ruang udara Papua dari Biak, Jayapura, Timika dan Merauke dapat dicover oleh patroli udara skuadron ini.  Ini bukan berarti pesawat tempur F16 tidak ikut berpartisipasi, bisa, berdasarkan urgensi dan nilai ancaman.

Akan terasa lebih lega lagi jika TNI AU sudah punya 2 skuadron Sukhoi sebagai alutsista pemukul strategis, 1 skuadron eksisting di Makassar, 1 skuadron lainnya bisa saja di Lanud Suryadharma Subang atau di Belitong.  Dari sisi coverage kedua lokasi ini dianggap mendekati ideal, menjaga ibukota Jakarta, bisa menjangkau Natuna, Sarawak, Singapura dan Semenanjung, sekaligus tidak bersinggungan dengan coverage Sukhoi di Makassar.

Apapun itu, kehadiran 24 pesawat tempur F16 di ruang dirgantara kita memberikan rasa segar, lega dan binar. Apalagi jika formasi kekuatannya menjadi 32 Sukhoi, 34 F16, 16 T50, 16 Super Tucano dan 36 Hawk 100/200.  Tentu rasanya tidak sekedar segar, lega dan binar  tapi menjadi bunga, bangga, harkat dan aura gahar.  Untuk aura yang satu ini diam-diam sudah menjadi perbincangan hangat di kalangan militer negara jiran dan pengamat militer asing. Biarkan saja mereka berbincang.

*****
Jagvane / 23 Juni 2011

Sunday, June 19, 2011

Mengawal Ambalat Dengan Pola Trikora


Pesawat Tempur F16 TNI AU
Trikora adalah puncak kemarahan Presiden Soekarno setelah lebih dari sepuluh tahun Belanda tak mau juga hengkang dari bumi Papua.  Berbagai cara diplomasi dilakukan selama kurun sepuluh tahun itu sejak pengakuan kedaulatan RI oleh Kerajaan Belanda akhir Desember 1949.  Namun bukannya segera “mengemasi barang-barang”nya di Papua sebagaimana  amanat Konferensi Meja Bundar, Belanda malah memperkuat militernya di bumi cenderawasih dan bersiap memproklamirkan negara boneka Papua.

Bukan Soekarno namanya kalau tidak cerdas, bervisi, enerjik, menggelegar dan mampu berpikir out of the book. Jalan diplomasi tidak menampakkan perkembangan, langkah keras dia lakukan melalui cara menasionalisasikan seluruh perusahaan Belanda yang ada di Indonesia dan memulangkan paksa semua warga negara Belanda.  Itu terjadi tahun 1959.  Setahun kemudian tepat tanggal 17 Agustus 1960 RI memutuskan hubungan diplomatik dengan bekas penjajahnya itu.  Diplomasi untuk mengembalikan Irian Barat harus dipertegas dengan gelar kekuatan militer besar-besaran.  Ini dimulai tahun 1958 dengan kontrak pembelian alutsista dari blok Timur  (Polandia dan Cekoslovakia) sebesar US $ 80 juta. Tak lama kemudian 30 Mig 15 UTI tiba di tanah air.  Pada tahun yang sama Rusia (waktu itu masih Uni Sovyet) melalui sekutunya Polandia menyetujui pengadaan dua kapal selam kelas Whiskey.  Setahun kemudian tepatnya September 1959 dua kapal selam itu tiba di Surabaya dan diberi nama  RI Cakra dan RI Nanggala.

Desember 1960 delegasi Jendral Nasution bertandang ke Rusia dengan membawa daftar belanja alutsista seabreg.  Setahun kemudian Rusia menyetujui belanja alutsista untuk RI sebesar US $ 500 juta dollar, ini ekivalen dengan nilai US$ 2,5 milyar untuk ukuran sekarang.  Daftar belanja yang disetujui  itu adalah 10 kapal selam, 5 Destroyer, 8 Fregat, 14 Penyapu Ranjau, 22 Kapal Cepat Torpedo. Kemudian 40 Mig-17 Fresco, 30 Mig-19, 24 Mig-21, 26 Pesawat pembom jarak jauh Tu-16, 18 pembom taktis IL-28 Beagle, 8 Antonov, 12 Mi-4, 8 Mi-6,  6 radar, ratusan tank / panser amphibi. Pada saat yang sama TNI sudah memiliki  10 Hercules, 8 B-25 Mitchell, 6 B-26 Invader, 12 P51 D Mustang, 32 C-47 Dakota, 20 Heli Bell-204, 8 Heli Albatross, 4 Destroyer dan 8 Fregat dan 30 an KRI jenis lain.

Trikora dikumandangkan Presiden Soekarno di Yogya tanggal 19 Desember 1961.  Pemilihan tanggal ini untuk mengingatkan serangan frontal Belanda ke Yogya tanggal 19 desember 1948 namun tak mampu mengalahkan TNI.  Nah setelah Trikora dikumandangkan dimulailah kampanye  pengembalian Irian Barat, dibentuk Komando Mandala dengan komandan Mayjen Soeharto  awal Pebruari 1962 atau 2 minggu setelah pertempuran Arafuru. Pusat komando pengendalian pertempuran ada di Makassar.  Arafuru adalah spirit dan adrenalin komando Mandala yang kemudian melakukan puluhan inflitrasi dan penerjunan tak terduga di Irian sebelum operasi puncak Jayawijaya dilakukan.

Kekuatan daya pukul yang dimiliki TNI pada pertengahan tahun 1962 menjelang operasi gabungan amphibi Jayawijaya tanggal 12 Agustus 1962 untuk menyerang Biak sangat mengkhawatirkan AS.  Melalui pesawat mata-mata dan kapal selam armada ke 7 AS diperoleh informasi yang sangat mencekam, ada  manuver dan pemusatan kekuatan TNI AL di Teluk Peleng dan Halmahera.  Lebih dari 90 KRI berkumpul di Teluk Peleng dan 12 kapal Selam di Teluk Kupa-Kupa. Sementara berbagai pesawat tempur dan pembom ditempatkan di Morotai, Amahai, Letfuan, Langgur, Manado, Kendari, Makassar.

Laporan intelijen ini sampai ke telinga Presiden Kennedy dan beliau segera mengambil langkah darurat, mempertemukan kedua delegasi Indonesia dan Belanda untuk maju ke meja perundingan.  Inilah salah satu kepiawaian Soekarno.  Presiden RI pertama ini sengaja “membiarkan” kedatangan alutsista TNI AL dari Rusia datang  dan melewati laut Sulawesi yang tentu saja dekat dengan pangkalan armada ke 7 AS di Teluk Subic Philipina.  Kedatangan kapal penjelajah yang legendaris KRI Irian dari Rusia sengaja dipamerkan sebagai unjuk kekuatan dan bagian dari perang psikologis untuk menggentarkan armada kapal perang Belanda.  Dan memang Belanda ciut, begitu KRI Irian memasuki perairan Indonesia, kapal komando Belanda Karel Doorman menghindar menuju Australia.

Intelijen AS menangkap pesan bahwa tanggal 12 Agustus 1962 TNI akan dilakukan operasi gabungan amphibi menyerang Biak dengan nama operasi Jayawijaya.  Jumlah pasukan TNI yang disiapkan mencapai 30.000 pasukan  pendarat terdiri dari pasukan marinir dan angkatan darat.  Jika pertempuran ini terjadi, merupakan perang paling dahsyat setelah perang Korea dan diprediksi mampu memukul kekuatan Belanda yang dipimpin kapal induk Karel Doorman. Persyaratan serangan amphibi dengan kekuatan 3:1 telah dipenuhi oleh TNI.  Ini tentu saja akan mempermalukan blok Sekutu yang nota bene AS sebagai kepala premannya.  Padahal pada waktu bersamaan AS sedang  bertarung di perang Vietnam untuk membendung paham komunis di Asia tenggara.  

Kennedy berpendapat mestinya Belanda harus mengalah dan menyerahkan Papua ke Indonesia daripada membebani AS membantu Belanda melawan RI.  Presiden AS itu dalam sebuah pertemuan rahasia dengan Menlu Belanda memaksa negeri kincir angin itu untuk segera meninggalkan Irian Barat secara terhormat daripada diserang dan dikalahkan secara militer oleh pasukan TNI. Inilah sebuah ironi dari persekutuan itu, walaupun mereka sekutu tidak harus seirama dengan pendapat masing-masing.  Itulah sialnya si Belanda dan itu sudah jalan takdirnya.  Namun kunci penyelesaian dari kampanye pengembalian Irian ini adalah unjuk kekuatan dan gelar alutsista TNI secara besar-besaran, dipamerkan di depan armada ke 7 AS.

Bagaimana dengan Ambalat, mestinya pola dan metode Trikora menjadi referensi historisnya.  Memang saat ini ada 3-4 KRI yang berpatroli rutin di perairan itu termasuk membenahi infrastruktur pangkalan AL dan AU di Tarakan.  Juga menempatkan satuan Marinir di Sebatik, menjadikan Tarakan sebagai zona pangkalan militer segala matra, membangun pangkalan aju di Sangatta, mempersiapkan pangkalan kapal selam di Teluk Palu, menambah satuan tempur  setingkat brigade dan batalyon di Kalimantan dan Sulawesi.

Yang membedakan keduanya adalah kecepatan dan percepatan pemenuhan alutsistanya. Soekarno melalui instruksinya yang tegas dan lugas ingin agar pengadaan belanja alutsista TNI yang seabreg itu bisa dipenuhi dalam waktu 2-3 tahun, dan bisa !!.  Demikian juga dalam menentukan hari H penyerbuan amphibi ke Irian, Panglima Mandala Mayjen Soeharto yang berhitung cermat dan menganalisis dari kacamata militer  berpendapat bahwa kesiapan militer RI baru benar-benar ready for combat  bulan Januari 1963.  

Namun Soekarno menghendaki agar tanggal 17 Agustus 1962 bendera Merah Putih sudah bisa dikibarkan di Irian Barat.  Maka ditetapkanlah operasi Jayawijaya tangal 12 Agustus 1962.  Hasilnya akhir bulan Juli 1962  armada TNI AL berkekuatan lebih 90 KRI sudah ready di pangkalan aju Teluk Peleng.  Sementara 12 kapal selam Whiskey Class sudah berpatroli di perairan Irian dan bahkan sudah mendaratkan pasukan khusus TNI AD di pantai Irian.  Total kekuatan armada TN AL adalah 130 KRI, 12 Kapal Selam.  TNI AU memiliki armada  lebih dari 130 pesawat tempur dan 30 an pesawat pembom jarak jauh dan berpeluru kendali.

Logikanya kalau kita mau saat ini kita bisa mempercepat proses pengadaan alutsista.  Tapi nyatanya mau beli 2 kapal selam saja prosesnya sampai 5 tahun belum kelar.  Meskipun begitu kita ( seluruh rakyat Indonesia loh) berharap tahun ini sudah ada eksekusi pengadaan kapal selam minimal 4 buah agar dalam 3 tahun ke depan kekuatan kapal selam kita mencapai 6 unit. Demikian juga proyek Light Fregat dengan membangun minimal 10 PKR berjalan lancar.  Proyek 100 KCR, proyek rudal Lapan, rudal C802, rudal Yakhont, rudal surface to air jarak sedang segera mengisi gudang arsenal kita.

Pengadaan tambahan 6 Sukhoi, hibah 24 F16, 9 Hercules, 24 UAV, 54 BMP-3F, 70 Tank IFV, 40 Panser Canon, 90 Meriam KH178 segera datang.  Untuk 16 Super Tucano dan 16 T50 tinggal menyambut kedatangannya.  Masih banyak jenis arsenal lain yang segara memenuhi kesatrian TNI di segala matra.  Kalau di era Trikora pemenuhan kebutuhan alutsista dapat dipenuhi dalam waktu 2-3 tahun, pengadaan alutsista TNI saat ini setidaknya dapat dipenuhi tahun 2014 untuk kebutuhan tempur minimal. 

Jadi Ambalat memang harus djaga dengan memamerkan kekuatan alutsista.  Kalau perlu melakukan manuver diperairan itu secara lugas dan kontinu. Jangan beri celah militer Malaysia memasuki Ambalat.  Itu jalan satu-satunya untuk menunjukkan eksitensi kedaulatan kita sekaligus kesiapan menghadapi konfrontasi militer berskala besar.  Diplomasi oke dan jalankan tapi harus dikawal dengan kekuatan militer yang tangguh.  Tidak bisa tidak.  Dan kalau ini tidak bisa dilaksanakan akan menjadi dosa sejarah bagi khalifah yang memimpin negeri ini.  Nilai plusnya sudah ada, pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih baik, cadangan devisa mencapai US$ 120 milyar, pendapatan per kapita sudah pencapai US$ 3.000, investasi menggemaskan dan lain-lain yang menunjukkan indikator ekonomi makro oke.

Sudah saatnya kita membangun kekuatan militer yang andal untuk mengawal Ambalat dan teritori lainnya dari unsur klaim dan melecehkan.  Kita memang perlu minimal 180 pesawat tempur, 300 KRI, 12 Kapal selam dan arsenal strategis lainnya didukung oleh kekuatan minimal 600 ribu prajurit TNI.  Jangan sampai telat mikir atau kelamaan memutuskan atau terlalu lama berdandan di kaca cermin padahal diluar hujan sudah turun dengan lebatnya sehingga tahu-tahu Ambalat pun tersapu banjir bandang lalu tiba-tiba muncul sebuah mercu suar baru dengan tulisan: Milik Kerajaan Melayu

*****
Jagvane  / 19 Juni 2011

Saturday, June 11, 2011

Alutsista TNI, Sebuah Keniscayaan Mutlak


Parade HUT TNI Di Surabaya
Seluruh matra TNI saat ini sedang berbenah menuju baju kesetaraan rantau dalam ujian keunggulan kegagahan jasmani berlapis alutsista modern. Pola perkuatan yang selama ini bersifat  darat centris diubah menjadi laut dan udara centris.  Jaman Trikora dan Dwikora kekuatan persenjataan angkatan laut dan udara Indonesia merupakan kekuatan penggentar yang memaksa lawan berhitung diri.  Namun setelah perubahan rezim Orla menjadi Orba tiba-tiba saja kekuatan laut dan udara menciut drastis sementara kekuatan matra darat menjadi lagu berjudul anak emas.

Pertanyaan paling menggema tentang hal itu adalah apakah penciutan kekuatan matra laut dan udara itu merupakan pesanan asing, atau yang paling pas, apa sih dosa matra laut dan udara sehingga kekuatan yang berkategori ayam jago itu berubah menjadi ayam sayur.  Beragam jawaban pun muncul antara lain alutsista blok Timur tak ada suku cadang, blok Barat bersedia mengganti jika seluruh alutsista made ini blok Timur dimusnahkan.  Dan jawaban yang paling mengena adalah menomorsatukan lebih dulu pembangunan ekonomi.

Situasi ini menjadi bertambah miris manakala pasukan TNI dengan “restu” Presiden Ford memasuki wilayah Timor Leste akhir tahun 1975 untuk mencegah paham komunis yang dianut Fretilin menguasai Lorosae.  Alutsista kita waktu itu sangat merana.  Boleh dikata tidak ada dukungan pesawat tempur manakala 8 Hercules melakukan penerjunan di medan tempur Baucau dan Dili, sehingga pasukan yang diterjunkan itu banyak yang menjadi korban tembakan dari Fretilin yang masih berkuasa waktu itu.  Meskipun begitu dengan semangat tempur yang tinggi  pasukan TNI dapat menguasai Lorosae hanya dalam waktu tidak lebih seminggu.

Timor Leste boleh jadi menjadi momentum perbaikan gizi alutsista TNI.  Sejak tahun 1976 dibawah komando Panglima TNI Jendral M Yusuf dimulailah proyek pengadaan alutsista segala matra meski tetap saja matra darat mendapat prioritas utama.  Maka pada tahun-tahun setelah itu berdatangan alutsista, matra udara antara lain 34 pesawat tempur A4 Skyhawk second  dan 16 F5E Tiger dari Amerika Serikat,  dan 20 Hawk Mk53 dari Inggris.  Belakangan diketahui bahwa 34 Skyhawk second itu ternyata dibeli dari Israel yang pernah digunakan dalam perang Arab-Israel tahun 1973.  Matra laut mendapat 2 kapal selam kelas Cakra dan belasan KRI dari jenis Fregat, Korvet dan PSK (Patrol Ship Killer).  Matra darat mendapat  ribuan panser, tank , howitzer, dan truk angkut personel.

Yang menggembirakan pada waktu Jendral Yusuf menjadi Panglima TNI tercatat ada 2 latihan gabungan TNI berskala besar yang melibatkan seluruh matra TNI.  Lokasinya pun sangat menantang yaitu Laut China Selatan dan Timor Leste. Jendral Yusuf adalah satu-satunya jendral yang paling sering berkunjung ke satuan-satuan tempur TNI berdialog langsung dengan prajurit, berdialog person to person sambil menepuk pundak prajuritnya dengan jiwa kebapakan yang dia miliki.  Beliau juga yang memodernisasi kekuatan persenjataan  personal pasukan TNI dengan melakukan revolusi penggantian persenjataan untuk 100 batalyon sekaligus dengan senjata jenis M16 pada medio tahun 70an.

Namun perkuatan alutsista yang dilakukan itu belum mampu mengimbangi keperkasaan TNI era Dwikora.  Tetap saja angkatan udara hanya sekedar “menggugurkan kewajibannya” dalam mengawal udara republik yang begitu luas ini.  Walaupun pada tahun 1990 sudah ditambah dengan 12 F16  kekuatan udara kita belum setara era Dwikora yang memiliki 140 pesawat tempur termasuk 20 pembom jarak jauh.

Kondisi angkatan laut sami mawon, alutsista semakin renta, 12 kapal selam  yang dimiliki berguguran satu persatu, tinggal 2 biji yaitu KRI Bramasta dan Pasopati.  Bramasta akhirnya gugur tanpa bertempur pertengahan 70an, tinggallah Pasopati menjanda sendirian dan akhirnya dipensiunkan tahun 1985 setelah dua penggantinya dari Jerman datang.  Kekuatan armada TNI AL tahun 80an hanya 80 kapal dan hanya 20an yang mampu beroperasi.  Benar-benar menderita jajaran angkatan laut.   Pasukan Marinir yang di era Dwikora bernama KKO mirip tanaman bonsai, tidak bisa besar karena tak dibesarkan. 

Tahun 90an TNI AL dengan “bantuan” Habibie mendapat 39 kapal perang second bekas Jerman Timur, setelah sebelumnya juga mendapat 6 Fregat Van Speijk dari Belanda.  Angkatan udara juga dengan lobby Habibie mendapatkan 40 pesawat tempur jenis Hawk 100/200 dari Inggris. Angkatan darat mendapatkan puluhan batteray rudal rapier dan radarnya untuk ditempatkan di obyek-obyek vital nasional, puluhan radar militer dan 120 tank Scorpion/Stormer buatan Inggris.

Semua yang diperoleh selama masa 40 tahun itu (1970- 2010) jika dikumpulkan menjadi satu belum mampu menyetarakan diri dengan kekuatan yang dimiliki TNI era Dwikora, sekali lagi belum bisa disamakan.  Padahal kekuatan yang dimiliki oleh TNI di jaman konfrontasi dengan Malaysia  bisa dikumpulkan hanya dalam waktu 4 tahun, sekali lagi hanya 4 tahun saudaraku dan dalam kondisi negara yang jauh dari sejahtera.

Nah, sekarang republik ini sudah sangat mampu untuk membenahi kekuatan hulubalangnya.  Presiden SBY mulai jabatannya yang kedua tahun 2009 melakukan revolusi besar-besaran dalam pengadaan alutista TNI segala matra.  Kita bisa lihat dan saksikan perkuatan alutsista TNI di semua satuan tempurnya.  Tahun 2010-2014 telah disetujui kucuran dana lebih dari 140 trilyun rupiah  hanya untuk pembelian dan perawatan alutsista.  Berbagai kontrak diteken, industri hankam dalam negeri “dimanusiakan” alias diberdayakan karena selama ini ditidakberdayakan, lebih senang beli dari luar karena komisinya gede karena urusannya adalah bukan untuk bangsaku melainkan bank saku nya.

Proses perkuatan itu sedang berjalan saat ini dan ini adalah sebuah keniscayaan mutlak untuk memberikan daya pukul optimal bagi pengawal NKRI.  Tahun 2014 diniscayakan merupakan pintu gerbang pertama dimana kita dapat menyaksikan postur kekuatan TNI yang gagah perkasa.  Dan itu baru pintu gerbang pertama padahal tahun-tahun setelah itu akan terus bertambah kuantitas dan kualitas alutsista TNI bak hasil produksi dalam negeri, kerjasama produksi dengan luar negeri maupun yang masih murni beli dari luar negeri.  Tahun 2014 boleh jadi kita merayakan kesetaraan kekuatan alutsista kita dengan kekuatan alutsista era Dwikora.

Oleh karena itu marilah kita sambut nilai perkuatan alutsista TNI  dengan semangat kebangsaan yang benar-benar untuk bangsaku bukan bank saku alias komisi.  Kita kawal terus proses pengadaan alutsista apakah itu Sukhoi, F16, T50, Super Tucano, KFX, Radar militer, Rudal jarak pendek dan menengah, Kapal Selam, PKR, KCR, Trimaran, Yakhont, C802, Tank IFV, Tank BMP3F, BTR-90, Panser Canon, Panser Anoa, Howitzer, Roket Rhan, Rudal Lapan dan lain-lain dengan semangat mengkritisi namun tidak untuk menghambat.  Penentuan jenis alutsista adalah wilayah TNI selaku user dan Pemerintah selaku pengambil kebijakan.  DPR tidak perlu ikut menentukan jenis alutsista apalagi berupaya mengambil alih proses pengadaannya dengan menjadi agen membela yang bayar. Paham ?!
***
Jagvane / 11 Juni 2011

Monday, May 30, 2011

Menyikapi Tantangan Teluk Sepanggar

Pasukan Marinir TNI AL
Entah karena ingin pamer atau karena merasa sudah kuat dalam pertahanan angkatan lautnya terutama dalam pengoperasian kapal selam, Menhan Malaysia Ahmad Zahid Hamidi “sengaja” mengumumkan kepada pers di Hotel Shangri-La Jakarta tanggal 20 Mei 2011 bahwa 2 kapal selam Scorpene Malaysia sudah siap operasi beserta pangkalannya di Teluk Sepanggar Kinabalu Sabah. Kehadiran Zahid Hamidi di Jakarta adalah dalam rangka pertemuan para Menhan ASEAN.
Malaysia telah membangun tiga pangkalan besar yang berbasis di Sabah yaitu Teluk Sepanggar, Sandakan dan Tawao.  Khusus Teluk Sepanggar dijadikan pangkalan induk untuk mengawasi perairan di sekitarnya termasuk Ambalat dan didalamnya juga menjadi basis untuk pangkalan 2 kapal selamnya.  Sepanjang sejarah negaranya baru tahun 2010 negara ini memiliki 2 kapal selam.  Boleh jadi ingin pamer pada rumah jirannya bahwa dia sudah punya  mainan baru sekalian berpesan bahwa dia tidak bisa dianggap remeh lagi.

Penempatan pangkalan kapal selam di Sabah termasuk mengumumkannya di ibukota negara yang sedang bersengketa Ambalat dengan negaranya, menyiratkan makna bahwa Malaysia sedang mempersiapkan konflik terbuka dengan jirannya Indonesia.  Namun disinilah letak ketidakpintaran seorang Menhan yang katanya masih asli Yogya itu.  Statemen dia justru memberikan stamina baru bagi hankam dan militer Indonesia untuk menjalankan perintah konstitusi: Anda jual kami beli.  Dia lupa semakin banyak dia memberikan pernyataan terbuka semakin memberikan adrenalin tempur bagi Kemhan dan TNI untuk melayani tantangan itu.

Ketidakpintaran Menhan Malaysia yang memberikan pernyataan obral itu semakin menjelaskan kepada kita bahwa ada sebuah tetangga yang memang hobbynya selalu pamer.  Semua jenis alutsista dan jumlahnya dipublikasikan terang benderang melalui release resmi, padahal seharusnya terutama jumlah dan lokasi arsenal tidak untuk konsumsi publik alias tak perlu diumbar telanjang.  Bandingkan dengan Singapura, tak perlu umbar pernyataan, biarkan publik luar tahu dengan sendirinya tanpa harus membantah atau mengiyakan.  Diam tapi mengesankan tidak untuk menantang namun jangan pandang remeh.

TNI tidak berpangku tangan menghadapi manuver Malaysia.  Pangkalan AL dan AU di Tarakan yang paling dekat dengan Ambalat sudah ditingkatkan kapabliltasnya.  Lanud Tarakan sudah disiapkan untuk rumah inap bagi 6 F16 dan 4 Super Tucano.  Berau atau Tanjung Redeb disiapkan untuk pangkalan 1 skuadron helikopter tempur.  Sangatta bahkan disiapkan sebagai pangkalan induk dan aju TNI, mampu menampung 100.000 pasukan TNI untuk berjibaku menghadapi pasukan Malaysia. Manado, Palu, Gorontalo, Makassar dan Balikpapan disiapkan sebagai pangkalan pendukung. Bahkan di Gorontalo sudah tersedia 1 brigade pasukan Kostrad yang ready for war. Arsenal-arsenal baru sudah, sedang dan akan berdatangan lebih deras lagi.

Matra laut dengan KCR, PKR, Kapal Selam beserta rudal dan torpedonya, Heli tempur AKS (anti kapal selam) dan AKP (anti kapal permukaan).  Persenjataan Marinir berupa BTR-90, BMP3F, RM Grad, Rudal QW3, Howitzer, Roket sudah mengisi arsenal kesatrian.  Matra udara dengan Sukhoi, F16, F5E, Hawk, T-50, Super Tucano, rudal jarak sedang surface to air.  Matra darat dengan pembentukan Kodam baru di Kalbar, pembentukan batalyon-batalyon baru, rematerialisasi alutsista armed dan kavaleri, produksi masal roket Rhan, penempatan rudal strategis Lapan-Pindad, memperbesar skuadron Penerbad, pembentukan divisi lintas udara Kostrad dan lain-lain.

Khusus untuk kapal selam, TNI AL mempersiapkan 5 kapal selam baru untuk menambah 2 kapal selam kelas Cakra yang ada saat ini.  KRI Nanggala yang dioverhaul di Korsel diperkirakan selesai akhir Juli 2011.  Dalam renstra TNI target kapal selam yang harus dipunyai  angkatan laut kita berkisar 14-16 unit dari berbagai tipe.  Untuk saat ini memang baru tersedia 2 kapal selam namun pengalaman mengoperasikan kapal selam sampai 12 biji di masa lalu merupakan prestasi tersendiri yang memberikan semangat tempur bernyali tinggi, tabah sampai akhir.

Dalam kondisi terburuk jika Malaysia mau buka front atau mengganggu status quo Ambalat, armada TNI AL tidak akan tinggal diam dan akan membuka 3 front sekaligus yaitu Ambalat, Natuna dan Penang, sementara TNI AD membuka front Sarawak sebagai pre emptive strike.  Di Sumatera Utara dan Aceh sudah disiapkan 1 brigade Marinir yang siap didaratkan di Penang dalam serangan amphibi. Penang harus “diganggu” untuk memecah konsentrasi pasukan Malaysia. Natuna dipersiapkan untuk memblokade logistik militer ke Malaysia Timur dan ini tugasnya Armada Barat TNI yang berkekuatan 56 KRI.  Sementara satuan kapal cepat rudal berkekuatan 18 KRI akan bermanuver di selat Malaka bersama pendaratan Marinir di Penang. Ambalat sendiri akan dipertahankan oleh Armada Timur yang berkekuatan  72 KRI.  Marinir akan didaratkan di Sebatik danTawao bersama penerjunan PPRC yang lain.

Konflik terbuka bisa saja terjadi setiap saat namun dalam dua sampai tiga tahun kedepan diperkirakan tidak akan terjadi, kalaupun terjadi hanya berskala kecil.  Jika konflik terjadi setelah tahun 2014 dipastikan TNI akan memiliki keunggulan di segala matra.  TNI AU sudah punya 2 skuadron Sukhoi, 3 Skuadron F16, 1 Skuadron T-50, 2 Skuadron Hawk 200, 1 Skuadron Super Tucano, 1 Skuadron F5E dan arsenal pendukung lainnya termasuk rudal jarak sedang, pesawat intai strategis dan pesawat angkut.  TNI AL sudah punya minimal 5 kapal selam, 15 Fregat, 25 Korvet, 100 KCR, 6 LPD, 2 LHD dan 30an kapal pendukung.  TNI AD sudah menggelar rudal strategis Lapan-Pindad, Heli tempur Mi35, Mi17, Bell 412EP, Tank IFV, Tank Scorpion / Stormer, AMX 13, Panser Canon, Howitzer, Rudal anti tank, Roket,  Batalyon Infantri Mekanis, Batalyon Rudal dan lain-lain.

Tantangan Teluk Sepanggar dijawab dengan persiapan melayani tantangan tempur.  TNI sudah dan sedang mempersiapkan itu.  Pemerintah pun sejak tahun 2010 mengucurkan anggaran beli alutsista dalam jumlah besar termasuk menghidupkan kembali industri hankam strategis dalam negeri.  Seluruh galangan kapal dalam negeri dioptimalkan untuk membangun puluhan kapal perang. PT PAL sudah bekerjasama membuat PKR dan mempersiapkan kerjasama buat kapal selam baru.  Pindad memproduksi masal Panser Anoa dan Canon sementara PT DI kerjasama pembuatan peswat tempur KFX dengan Korsel.

Pesan untuk rumah sebelah adalah, jangan coba menantang kekuatan militer Indonesia karena TNI bersama seluruh komponen anak bangsa akan bersinergi lahir bathin untuk  melakukan counter attack yang dahsyat dan tak diperhitungkan sebelumnya.  Jangan coba memancing adrenalin tempur TNI dan spirit nasionalis bangsa Indonesia karena jika itu terjadi Semenanjung akan luluh lantak dilumat, mau.

*****
Jagvane / 30 Mei 2011


Friday, May 27, 2011

Jangan Remehkan Selatan Jawa

Armada TNI AL
Campur tangan Barat dalam konflik rezim di Libya sebagai akibat teori domino angin demokratisasi di negara-negara Arab tidak pernah ada dalam prediksi atau “ramalan cuaca” dari institusi intelijen manapun termasuk Mosaad.  Jatuhnya Hosni Mubarak melengkapi kejatuhan Ben Ali dari Tunisia tidak jua ada dalam benak  dan bathin aparat Polhukam negara adi daya AS dan sekutunya.

Makna dari catatan sejarah terkini itu adalah mengambil momentum perubahan sebuah negara atau kawasan dengan dalih mendukung demokrasi atau pergantian rezim tapi udang dibalik batunya adalah menguasai cadangan energi untuk masa depan, atau dalam rangka mengeliminir kekuatan radikal yang mengalir dalam darah sebuah negara. Contohnya Irak, akhirnya toh yang menguasai ladang-ladang minyaknya adalah perusahaan-perusahaan Barat dengan pola bagi hasil yang memilukan.

Apa antisipasi yang harus dilakukan hankam republik kepulauan ini. Semangat nasionalisme memang menjadi senjata ampuh untuk berkelahi terhadap siapa saja yang ingin mengganggu teritori Indonesia.  Tapi apakah itu cukup, tentu tidak karena senjata terkuat mengawal NKRI adalah kekuatan dan perkuatan  pengawal republik TNI di segala matra, utamanya matra laut dan udara.

Kalau melihat peta pertahanan kita, jujur diakui kita masih sibuk dengan halaman dalam rumah kita tok.  Masih sibuk dengan laut Jawa, selat Sunda, selat Malaka, selat Makassar dan  Natuna.  Sementara halaman luar yang bernama laut dalam nyaris tak terdengar dalam gerak operasional TNI AL, contohnya selatan Jawa.

Kawasan “kekuasaan” ratu pantai selatan ini nyaris terabaikan dalam patroli angkatan laut dan hanya tersedia satu pangkalan kecil yang bernama Cilacap.  Demikian juga pantai barat Sumatera hanya ada Teluk Bayur menatap samudera Hindia sendirian tanpa teman.  Padahal dalam setiap resiko konflik yang terjadi pilihan mematikannya adalah menyerang jantung sebuah negara atau pusat-pusat komunikasi dan industri.  Maka untuk Indonesia sudah pasti pilihan itu adalah sebuah jantungnya yang bernama pulau Jawa.  Lalu apakah serangan armada laut akan dilakukan dari selat Makassar atau laut Cina Selatan atau  laut Jawa, tentu tidak.

Jika ada serangan laut dan pendaratan pasukan amphibi dari pasukan yang ingin menyerang jantung Indonesia, pilihan paling steril adalah melalui selatan Jawa yang tidak dikawal secara permanen.  Dengan hanya satu kapal induk dan sejumlah kapal fregat dan destroyer serta kapal-kapal angkut pasukan marinir mereka bisa dengan cepat mendarat di Parang Tritis atau Pelabuhan Ratu lalu dengan cepat menguasai pusat-pusat komunikasi di Jawa Tengah dan Jakarta, termasuk menghancuran pangkalan Madiun dan Halim Jakarta melalui serangan udara dari kapal induk.

Mengapa pendaratan marinir pasukan musuh dapat dilakukan dengan mudah, karena pantai selatan Jawa sangat miskin pengawalan angkatan laut.  Mantan Kasal Laksamana Slamet Subiyanto pernah mengajak kita agar memperhatikan halama luar perairan NKRI termasuk membangun pangkalan besar di kawasan selatan Yogya.  Sayangnya ide cemerlang itu telah terkubur bersamaan dengan pergantian Kasal yang high profile itu.

Bagi tentara sekutu mematikan NKRI secara militer adalah dengan serbuan kilat menyerang jantungnya langsung. Tak perlu repot-repot menyerang Sumatera atau Kalimantan.  Pilihan paling “sempurna” adalah melalui selatan Jawa karena kalau melalui utara akan dihadang oleh armada yang berpangkalan di Surabaya dan Jakarta, apalagi dukungan logistik militer  yang tak  bakalan terputus dan terhadang adalah di Selatan itu sendiri melalui pulau Christmas dan dari Australia Barat.

Oleh sebab itu sudah saatnya  pemikir strategis Kemhan dan petinggi TNI memperhatikan dinamika selatan Jawa yang memang sepi banget kesehariannya.  Sudah saatnya membenahi dan membesarkan pangkalan militer di Cilacap dan membangun satu lagi pangkalan milter di selatan Jawa.  Penambahan alutsista TNI AL perlu sekali terutama untuk kapal-kapal bersertifikat Fregat atau Destroyer.  Kita baru punya 7 Fregat dan 20 Korvet.  Sementara pengawal sejati laut dalam adalah KRI dengan kelas minimal Fregat.

Dalam program mendesak (crash progream)  bisa saja kita melakukan pengadaan minimal 9 Fregat (bukan light Fregat), 3 Destroyer second dan 4 kapal selam berwajah Kilo.  Melengkapi armada TNI AL dengan 100 KCR berpeluru kendali sangat bagus tapi KCR kan untuk laut dangkal saja. Sedangkan untuk mengawal laut dalam perlu pertambahan Fregat dan Destroyer dalam jumlah memadai.

Latihan militer skala besar juga perlu dilakukan di selatan Jawa.  Kalau selama ini pola latihan gabungan TNI pasti ada menu pendaratan amphibinya maka sekali waktu perlu ada perubahan menu yaitu menghadang pendaratan amphibi yang dilakukan oleh pasukan TNI AD dan TNI AU.  Simulasinya pasukan Marinir sebagai lawan latih TNI AD dan TNI AU lalu bertarung memperebutkan daerah tumpuan pantai di salah satu pantai di selatan Jawa.

Perkuatan pasukan TNI AD sepanjang selatan Jawa mutlak dilakukan dengan melengkapi satuan-satuan tempur itu dengan artileri berat, kavaleri, roket, rudal dan rudal anti tank. Paling tidak dibutuhkan pertambahan pasukan infantri mekanis di sepanjang garis pantai minimal 20 batalyon untuk menjaga selatan Jawa.  Sekedar catatan saat ini hanya ada 8-9 batalyon infantri yang berlokasi di kawasan ini.

Dinamika konflik kawasan tak bisa kita prediksi, sama seperti situasi negara-negara Timur Tengah saat ini.  Maka langkah preventif penting dilakukan terutama untuk mengawal jantung negara kita, jangan sampai terkena stroke  akibat pre emptive strike lebih dulu, baru kita berbenah, padahal kalau sudah kena stroke minimal wajah kita sudah mencong atau jalan tertatih.  Apakah harus menunggu seperti itu ?

******
Jagvane / 27 Mei 2011

Monday, May 23, 2011

Panen Raya Alutsista Tahun 2012 : MENJADIKAN TNI SEBAGAI PEJANTAN TANGGUH

Instalasi Rudal Yakhont pada KRI A Yani Class
Ada sebuah baliho yang dipasang pada sebuah uji tanding ketangguhan prajurit sebuah negara tetangga, bunyinya: Biarpun tak menang yang penting jaguh.  Slogan ini boleh jadi mengisyarakan kualitas  prajurit negara tersebut yang tahu diri dengan kemampuannya atau bisa juga mencerminkan sebagai pasukan seremonial belaka.

TNI sebagai pengawal republik tentu bukan sekelas itu.  Dalam setiap uji tanding kemampuan dan kedayatahanan prajurit di rantau ini, TNI selalu tampil sebagai yang terbaik, juara pertama, juara umum, tak tergoyahkan selama bertahun-tahun.  Ini adalah sebuah muara bintang dari pola pembinaan jasmani militer, ketangkasan, bela diri, terampil dalam penggunaan alutsista dan cerdas olah pikir.

Ketangguhan personal TNI secara de yure dan defacto diakui oleh para jiran. Dilihat dari uji tampil dan terampil sosok penampilan personil TNI jauh lebih garang ketimbang tentara Singapura atau Malaysia. Belum lagi bicara endurance.  Buktinya dalam sebuah latihan bersama pasukan Marinir RI dengan pasukan marinir AS di Jawa Timur  setahun lalu, pasukan marinir AS rontok dan menyerah dalam latihan survival di tengah hutan Banyuwangi.

Sudah tentu kualitas daya tahan dan keunggulan jasmani militer TNI akan semakin berbinar dengan bertambahnya beragam alutsista di gudang arsenalnya.  Berita dan fakta sepanjang semester I tahun 2011 ini sudah terang benderang menyampaikan kegembiraan yang luar biasa bagi jajaran TNI bahwa sebentar lagi menghadapi panen raya alutsista, tepatnya mulai tahun depan.  Meskipun begitu tahun ini dan tahun sebelumnya TNI juga sudah banyak mendapatkan alutsista baru, tetapi itu belum bisa disebut panen raya, ya panen kecil-kecilan lah.

Alutsista-alutsista yang bernilai strategis sudah, sedang dan akan memenuhi kesatrian-kesatrian TNI. Pesawat tempur Sukhoi sudah ada 10 biji, tahun ini kontraknya ditambah 6 lagi lengkap dengan ragam arsenalnya, kemudian tahun berikutnya ditambah lagi sampai mencapai 32 unit (2 Skuadron). Pesawat tempur F16 eksisting ada 10 biji, Desember tahun ini dipastikan bertambah 24 biji sehingga mencapai 34 unit (2 Skuadron).  Tahun 2012 Super Tucano made in Brazil mulai berdatangan sebanyak 16 unit, tahun yang sama pesawat tempur latih T50 buatan Korsel sebanyak 16 unit juga masuk skuadron di Madiun. TNI AU juga naksir berat untuk mendapatkan 24 unit pesawat tempur Typhoon buatan Inggris, 16 unit Sukhoi SU35 dan 12 unit pesawat tempur stealth F35.  

Nah, kalau ini diurut-urut jumlahnya akan mencapai 180 unit alias sama dengan 10 skuadron. Ini belum ditambah dengan 50 unit pesawat tempur KFX hasil kerjasama teknologi Korsel dan Indonesia. Sementara 12 batalyon Paskhas TNI AU dilengkapi dengan rudal jarak pendek dan rudal jarak menengah surface to air untuk pertahanan pangkalan udara. Sangat wajar untuk melindungi alutsista strategis yang dimilikinya.

Matra laut sejak jaman Trikora dan Dwikora sampai saat ini merupakan angkatan laut terbesar di Asia Tenggara.  Kekuatan AL kita secara kuantitas mengungguli Malaysia, Thailand dan Singapura. Posisi juara bertahan itu akan terus dipertahankan dengan menambah jumlah KRI sampai 300 unit.  Maka proyek  100 KCR (Kapal Cepat Rudal) murni buatan dalam negeri sudah dan sedang digelar. Proyek  kerjasama pembuatan PKR (Perusak Kawal Rudal) untuk membuat 10 PKR sedang berjalan, proyek kerjasama pengadaan kapal selam Juni 2011 ini sudah sign kontrak.  TNI AL  akan mendapatkan tambahan kapal selam sebanyak 5 unit dalam 2 kontrak pengadaan.  Penerbal yang sudah dibagi menjadi 2 wing juga sedang mempersiapkan kedatangan 1 skuadron Heli AKS (anti kapal selam) dan 1 skuadron Heli AKP (anti kapal permukaan).

Sementara kontrak pengadaan 11 LST dengan PAL dan Koja Bahari sudah berjalan.  Proyek Yakhont dan C802 yakni pemasangan rudal dan sistem integrasi tempur pada puluhan KRI sudah dan sedang berjalan.  TNI AL juga mempersiapkan pembuatan 2 unit LHD yang  dikerjakan PAL.  Benar-benar sibuk si PAL dapat order seabreg.  Belum pernah sepanjang sejarah perjalanan hidupnya PAL mendapat order sebanyak itu.  Galangan kapal dalam negeri juga ikut menikmati pesta alutsista.  Mulai dari Lundin Banyuwangi, Koja, sampai Batam dapat proyek milyaran buat KCR ,Trimaran dan LST.

Bisa dibayangkan kelak (tidak lama lagi kok) perairan Nusantara dikawal 300 an KRI,  14 kapal selam, 450 KAL dan ratusan kapal Bakorkamla (DKP, Polisi Air, Bea Cukai).  Armada tempur dengan kekuatan 300 KRI ini dibagi menjadi 3 armada tempur, demikian juga pasukan Marinir yang saat ini berkekuatan 2 divisi ditambah menjadi 3 divisi sesuai dengan kekuatan armada TNI AL. Marinir sudah dilengkapi dengan tank amphibi BMP-3F, RM Grad, Rudal QW3, BTR-80, BTR-50, AMX, Howtizer dan Roket.  Korps Marinir akan terus menambah kekuatan pukulnya dengan menambah tank amphibi BMP-3F dan BTR-90 sampai mencapai minimal 300 unit.  Perlu dicatat, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki kekuatan Marinir terkuat dan disegani.

Walau tidak “seheboh” dengan revolusi alutsista di matra laut dan udara, Angkatan Darat juga berbenah dengan sejumlah target. Diantaranya pembentukan Divisi Lintas Udara Kostrad, pembentukan puluhan batalyon baru baik satuan organik Kodam maupun satuan organik Kostrad. Pembentukan Kodam Tanjungpura Kalbar sudah jadi. Rematerialisasi alutsista Armed dengan menambah satuan roket dan rudal dalam jumlah besar.  Repowering 300 tank AMX, penambahan 150 panser Anoa, penambahan 100  Tank IFV,  pengadaan 80 Howitzer, pengadaan ratusan rudal anti tank, pengadaan 100 panser Canon.

Penerbad juga dimekarkan menjadi 5 skuadron dengan mendatangkan  alutsista baru yaitu  8 Heli Mi35, 16 Heli Mi17 dan 40 Heli Bell 412EP.  TNI AD juga sedang mempersiapkan metamorfosis puluhan batalyon infantri menjadi batalyon infantri mekanis dengan menambah alutsista tempur berupa panser dan tank IFV.  Jika ada 10 batalyon yang dimetamorfosis maka diperlukan paling sedikit 600 panser dan atau tank IFV yang gress. Sementara itu proyek strategis yang paling sepi publisitas adalah proyek rudal Lapan-Pindad-China. Rudal surface to surface ini mampu menjangkau jarak tembak sampai 300 km.  Bisa dibayangkan jika dari Sumatra, Batam dan Kalimantan disebar ratusan rudal jenis ini akan memberikan nilai detterens yang begitu kuat gaungnya bagi kedigdayaan alutsista TNI.

Itu semua menggambarkan kekuatan TNI sebagai pejantan tangguh, ayam kinantan yang mampu berkokok dan berkelahi baik berkelahi dengan alutsista atau berkelahi tanpa alutsista.  Kita meyakini dengan kekuatan daya tahan dan bela diri yang dimiliki personil TNI, setiap satu personil TNI mampu mengalahkan 3 prajurit Malaysia dan 5 prajurit Singapura.  Artinya jika 1 prajurit TNI dikeroyok 3 prajurit  Malaysia atau dengan 5 prajurit Singapura tanpa senjata, pertarungan itu akan dimenangkan oleh prajurit TNI.  Kalau tidak percaya silakan coba, tapi sesuai dengan slogan baliho di awal tulisan ini: Biarpun tak menang yang penting jaguh, kita pun jadi memakluminya.  Jadi inget gaya si Emon menggandeng Mas Boy sambil berkata : Ih mas Boy, udah ngerti sama Emon kan, gak penting menang Mas, yang penting jaguh, katanya sambil berlari gemulai dan melambai.

********
Jagvane / 23 Mei 2011

Tuesday, May 17, 2011

Skenario Gelar Latgab TNI Tahun 2012



Dalam Latgab TNI 2008, Presiden Sby sudah memberikan arahan agar setiap 4 tahun sekali diadakan latihan gabungan TNI berskala besar.  Nah, kalau diurut waktunya maka tahun 2012 adalah saatnya TNI menjalankan instruksi Panglima tertinggi itu.  Mestinya begitu kan dan tidak ada lagi istilah kurang anggaran atau kurang peralatan karena alutsista TNI pada tahun 2012 jauh lebih baik dibanding tahun 2008 lalu.  Dan kantong duit TNI jauh lebih tebal dengan kucuran anggaran berlipat-lipat. Kita sekedar mengingatkan bahwa jadwal itu sudah mendekat di dermaga Mabes TNI.

Pola latihan gabungan TNI tahun mendatang disarankan tidak lagi memakai pola masuk dulu baru digebuk.  Pola ini sudah saatnya direvisi dan diganti dengan pola pre emptive strike.  Misalnya diasumsikan Armada Barat sebagai lawan lalu berkelahi  dengan Armada Timur di selat Malaka.  Atau membombardir habis sebuah pulau dekat perbatasan dengan rudal surface to surface Lapan atau rudal-rudal KRI.  Perlu juga dicoba pertempuran udara atau dog fight antara F16 dengan Sukhoi, F5E dengan Hawk, T50 dengan F-16, kombinasinya bisa beragam sesuai kebutuhan.

Jika memang Kalimantan kembali diskenariokan menjadi hot spot latihan  tempur, maka mobilisasi seluruh kekuatan TNI organik di pulau itu perlu diuji coba.  Misalnya di perbatasan Sarawak “diperlukan” pemusatan kekuatan TNI AD untuk menyerang lawan.  Maka seluruh kekuatan  organik TNI AD yang ada di Kodam Tanjungpura (Kalbar dan Kalteng) dikerahkan secara besar-besaran sampai mencapai 25.000 pasukan termasuk melibatkan satuan Hansip, Menwa dan Brimob.  Sementara untuk Kodam Mulawarman (Kaltim dan Kalsel) konsentrasi 20.000 pasukan  TNI, Brimob, Hansip dan Menwa dipusatkan di Sangatta Kaltim.

Unjuk kekuatan model beginian walaupun tak ada amunisi yang keluar sudah mampu memberikan kekuatan real yang mampu memberikan aura gentar bagi rumah sebelah.  Manfaat lain tentu saja menguji coba kesiapan koordinasi antar satuan organik Kodam dan “kekuatan” infrastruktur perhubungan di dua provinsi itu. Misalnya bagaimana mengumpulkan pasukan organik dan kekuatan pendukung lain sampai mencapai jumlah 25.000 pasukan dalam waktu 2 x 24 jam di sebuah kawasan perbatasan.  Kemudian bisa ditampilkan penerjunan Divisi Lintas Udara Kostrad dengan puluhan Hercules untuk bergabung dengan pasukan organik Kodam.

Unjuk arsenal terbaru sangat wajar dipamerkan di masyarakat Kalbar.  TNI AD dapat menampilkan satuan kavaleri (Panser Anoa, Tank IFV, Stormer, AMX ) dan artileri medan termasuk satuan rudal / roket.  Penerbad juga menampilkan Heli Tempur Mi 35 dan Mi17 serta Heli jenis lain.  TNI AU menampilkan skuadron UAV yang sudah ditempatkan di lanud Supadio Pontianak bersama Hawk, F16 dan Sukhoi.  Tahun 2012 TNI AU akan memperoleh banyak alutsista anyar misalnya  Super Tucano, T-50, F16, Rudal jarak menengah, rudal jarak pendek, UAV.  Diasumsikan tidak ada pendaratan amphibi di Kalbar maka gelar arsenal TNI  AL tidak diperlukan di Kodam ini.

Selat Malaka bisa dijadikan hot spot bagi latihan perang laut.  Misalnya satuan kapal cepat rudal diskenariokan mengejar amada musuh yang berkekuatan 5 kapal perang.  Maka diperlukan minimal 10 KCR dan 1 kapal selam untuk mengejar lalu tembakkan rudal C802 atau C705, hit and run.  Kehadiran KCR di selat Malaka sejatinya sudah eksis namun gelar penembakan rudal dan latihan tempur laut perlu dikedepankan agar amunisi alutsista itu dapat dimanfaakan secara optimal ketimbang expired alias kadaluarsa macam rudal Harpoon, basi kedinginan kelamaan disimpan di kulkas KRI. 

Untuk keperluan “perang laut” itu setidaknya perlu dihadirkan  28 KRI berbagai jenis di Selat Malaka, sekaligus sebagai show of force bahwa kita adalah penentu stabilitas selat Malaka.  Lantas pulangnya berkonvoi di selat Singapura, mampir di Nipah dan Batam, lalu bubar jalan atau sebagian menuju Natuna untuk patroli konvoi. Pepatah Melayunya jadi bunyi: Sekali mendayung dua tiga pulau terlampau.  Dan memang banyak pulau-pulau yang dilewati armada tempur itu dalam perjalanan pergi pulang.

Hot spot lainnya adalah pendaratan amphibi dengan mengerahkan 10.000 pasukan marinir di Tarakan dan Nunukan.  Pasukan didrop dari Sangatta yang saat ini sudah menjadi markas komando tempur dan mampu mendukung gerakan 100.000 pasukan TNI.  Gerakan armada KRI dari Sangatta memerlukan kekuatan minimal 45 KRI dari berbagai jenis yaitu Fregat, Korvet, LPD, LST, Kapal cepat angkut pasukan, kapal selam dan dukungan pesawat tempur.  Tahun 2008 pendaratan amphibi dilakukan di Sangatta, agaknya masih terlalu “kedalam”.  Dengan skenario pendaratan marinir di Tarakan dan Nunukan pesan yang hendak disampaikan lebih bergaung karena dua lokasi ini adalah halaman depan NKRI, paling depan.

Jadi diskenariokan ada 3 titik hotspot pre emptive yaitu Selat Malaka, Kalbar dan Tarakan / Nunukan.  Satu lagi adalah skenario perang asimetris melalui perang biologi kimia.  Diskenariokan ada sebuah pulau yang kaya raya dan warganya sombong bukan main. Kalau masih sombong sih gak apa-apa tapi ini sudah sombong lalu melecehkan NKRI dengan berbagai cara misalnya menjadi tempat tinggal koruptor, tempat money laundry, tidak beminat dalam perjanjian ekstradisi dan punya hobby menghasut.

Skenario perang biologinya mudah banget. Sejumlah unit kecil pasukan khusus TNI dari tiga angkatan menyelinap membawa segerobak virus antrax, virus flu burung, virus anjing gila dan virus babi ngepet lalu sebarkan dan biarkan.  Dijamin terjadi kepanikan di pulau itu dan memberi dampak buruk pada kegiatan ekonomi, harga saham jatuh, turis mancanegara eksodus, pelancong dari Indonesia di stop total untuk jangka waktu tertentu.  Jadi tak perlu bersusah payah walaupun pulau itu di jaga oleh pasukan Kingkong sekalipun.  Tujuannya hanya untuk memberi efek jera agar pulau itu memiliki tata krama bertetangga yang baik dan saling menghormati termasuk mengembalikan simpanan koruptor.

Tiga skenario hotspot yang disebut terdahulu akan melibatkan setidaknya 60.000 pasukan TNI, 85 KRI termasuk 2 kapal selam, 80 Tank Amphibi, 85 Panser Amphibi, 6 RM Grad, 45 pesawat tempur berbagai jenis, 55 Helicopter, 21 pesawat angkut Hercules, puluhan rudal surface to surface baik jarak pendek dan menengah, 160 Tank, 170 Panser, 55 Howitzer dan ragam alutsista lainnya.  Pengerahan kekuatan sebesar ini untuk membuktikan bahwa TNI hari ini lebih baik dari kemarin disamping sebagai bentuk tanggung jawab penggunaan alutsista secara maksimal.  Pesan yang lebih bergema dari semua itu tentu ingin memberikan sosok keperkasaan bahwa pengawal NKRI adalah kekuatan yang diniscayakan mampu menjaga kedaulatan, harkat dan martabat Republik Indonesia.  Maka jangan sekali-kali mencoba mengganggu teritori republik kami.
******
Jagvane / 17 Mei 2011

Saturday, May 14, 2011

Changbogo Diambang Pintu

Rusia tahun 2008, lewat Presiden Vladimir Putin waktu itu sudah memberikan kredit ekspor untuk pengadaan alutsista TNI sebesar US $ 1 Milyar, tiga perempatnya atau US $ 700 juta untuk pengadaan 2 kapal selam kelas Kilo. Arsenal yang lain sudah berdatangan antara lain senjata untuk Sukhoi batch 1, Tank Amphibi BMP-3F, rudal Yakhont, Heli tempur Mi17 dan Mi35.  Yang tak jadi pesawat tempur latih Yak-130, yang bakalan tak jadi ya 2 Kilo itu.  Sementara pembelian 6 Sukhoi batch 2 diluar pola kredit ekspor itu.

Lho kok bisa, ya itu lah perubahan cara pandang dan cara hitung.  Petinggi TNI sebagai user tentu ingin alutsista berkelas herder yang dengan kehadirannya saja sudah mampu membuat jiran berukur diri.  Kilo memenuhi kriteria itu.  Kilo adalah penamaan NATO untuk kapal selam made in Rusia yang dinegerinya sendiri dikenal dengan kode Project 877 Paltus.  Jenis tercanggih dari kelas Kilo dikenal dengan Improved Kilo diberi kode Project 636/Varshavyanka. Kilo jenis ini yang diminati banget sama TNI AL, dikenal sebagai kapal selam paling senyap di dunia. Bahkan petinggi militer Australia sudah mewanti-wanti dengan lantang, kehadiran Kilo di Indonesia tidak akan mampu ditandingi oleh “Collins” nya Australia termasuk seluruh arsenal amgkatan lautnya.

Nah dari sisi kegarangannya, Kilo menjadi pilihan TNI AL, ya untuk itu.  Kalau dengan kehadirannya saja sudah mampu menggentarkan jiran artinya secara psikologis kita sudah mampu menjaga kedaulatan perairan kita tanpa harus mengeluarkan ongkos diplomasi yang kadang-kadang membikin keki hati.  Ini sama dengan kehadiran Sukhoi di Makassar saat ini sudah mampu memberikan kebanggaan bagi penjaga kedaulatan dirgantara meski jumlahnya baru 10 unit.  Tahun ini direncanakan ada kontrak penambahan 6 unit Sukhoi lengkap dengan segala jenis arsenalnya lagi.  Sampai tahun 2014 TNI AU diprediksi mendapat 2 Skuadron Sukhoi (32 unit).

Cara pandang Pemerintah dalam program alutsista diyakini sebenarnya hendak meniru keberhasilan Korea Selatan dalam industri alutsistanya. Negeri ginseng ini dinilai berhasil dalam pengembangan persenjataannya. Hampir seluruh arsenal angkatan bersenjatanya diproduksi sendiri.  Contoh terakhir  adalah hadirnya Main Battle Tank Black Panther K2 yang segera menggantkan Tank M48 Patton yang jumlahnya mencapai 800 unit.  Proyek KFX kerjasama dengan Indonesia adalah untuk menggantikan armada F16nya yang saat ini menjadi tulang punggung AU Korsel.

Korea Selatan tidak pelit ilmu transfer teknologi.  Dia banyak menimba ilmu dan teknologi dari Barat dan ingin juga diamalkan bersama sahabat karibnya Indonesia.  Buktinya sudah banyak, 4 LPD yang terakhir, dua dibuat di Korsel dan sisanya sudah dibuat di PAL dan sukses dengan berbagai modifikasi.  Lalu ada kerjasama proyek pesawat tempur KFX.  Korsel juga berhasil menjual 16 pesawat tempur latih T50 beserta ToTnya kepada Indonesia mengalahkan saingannya Yak-130 dari Rusia.  Panser Canon yang dibuat Pindad merupakan kerjasama dengan  Korsel.  Overhaul dua kapal selam Indonesia dilakukan di Korsel, salah satunya KRI Nanggala diprediksi Juli nanti selesai dioverhaul.

Cara pandang Pemerintah adalah melihat horizon ke depan.  Bagaimana sepuluh tahun ke depan, bagaimana industri pertahanan kita, bagaimana kekuatan TNI kita pada saat itu.  Nah kalaupun pilihan pada Changbogo untuk kapal selam kita, horizon itu yang sejatinya hendak dituju.  Korsel bersedia untuk transfer teknologi dan itu akan diawali dengan pengadaan 4 kapal selam, mungkin saja polanya sama dengan LPD, 2 di Korsel dan 2 di PAL, atau ke empatnya dibuat di Korsel lalu untuk kapal selam ke 5,6 dan seterusnya dibuat di PAL.   Nah, dalam proses yang membutuhkan waktu bertahun-tahun itu pasti akan ada perkembangan teknologi yang diadopsi, diimplementasikan sesuai keinginan kita.

Sekedar catatan, tahun 1995 ketika aneka elektronik merk Samsung mulai memasuki pasar tanah air, hampir semua konsumen elektronik di Indonesia mencibir kehadiran produk itu, alias tidak dilirik blas.  Namun seiring perjalanan waktu 5 tahun setelahnya produk Korea mulai mampu mengambil hati masyarakat konsumen Indonesia, bahkan saat ini sebagian masyarakat kita gandrung dengan produk buatan Korea.

Bukan bermaksud membela visi government tetapi kita perlu mengedepankan cara pandang  horizon, bukan cara pandang kacamata kuda yang hanya membeli, memakai, membuang lalu beli again.  Kita perlu tahu juga dong bagaimana cara membuatnya walaupun tidak harus membuat seluruh komponennya untuk menumbuhkan indusri hankam kita.  Ini harus dimulai dari sekarang. Proyek PKR Light Fregat sudah dimulai kerjasama dengan Belanda yang akan membangun 10 kapal perusak kawal rudal.  Seluruh pengerjaan Kapal Cepat Rudal (KCR) sudah mampu dibuat di dalam negeri.  Proyek rudal C802 / C705 dengan China sudah dimulai termasuk rudal surface to surface Pindad-Lapan yang berjarak tembak 300 km.

Titik genting dari cara pandang ini ada pada pergantian rezim. Tahun 2014 dipastikan akan terjadi perubahan kepemimpinan. Repotnya adalah pola kepemimpinan pasca SBY tidak sama dengan visi kemandirian alutsista yang sudah diimplementasikan.  Padahal tahun 2014 kemandirian alutsista masih balita yang harus terus dipupuk dan dikembangkan.  Jangan sampai ketika sedang tumbuh mekar lalu “dibunuh” secara sistematis seperti ketika kita akan mengembangkan pesawat N250 yang harus almarhum pada usia balita.

Okelah, Changbogo mungkin saat ini masih dianggap anjing kampung di kelasnya, bukan herder sebagaimana gonggongan Kilo. Tapi jangan lupa perkembangan teknologi mampu mengangkat kelas anjing kampung tadi menjadi sekelas herder atau bahkan sekelas srigala.  Kan mirip produk Samsung tahun 1995 yang dipandang sebelah mata tapi sekarang malah dicari orang.  Kita juga tak ingin ketergantungan alutsista pada satu negara saja, maka bisa kita saksikan saat ini menu gado-gado alutsista kita.  Ada Van Speijk dipasang Yakhont, ada KCR pakai C802, ada Sigma, ada Sukhoi, ada F16 ada Hawk, ada Scorpion ada BMP3F, ada juga Anoa.  Macam-macam rasanya, macam-macam pedasnya.

Pilihan terhadap Changbogo mungkin terasa kurang pedas atau kurang garam bagi TNI AL saat ini, tetapi ramuan lombok ijo atau cabe hijau atau garam teknologi diyakini akan mampu menjadikan Changbogo kelak setara dengan srigala apalagi jika transfer teknologi itu benar-benar dikuasai oleh putra-putri Indonesia.   Semoga Allah SWT meridhoi perjalanan bangsa ini,-
********
Jagvane / 13Mei 2011