Friday, January 18, 2019

Matahari Alutsista Bersinar Terang


Tidak terasa kita telah sampai di tahun 2019, tahun terakhir dari sebuah program antarrezim yang istiqomah, MEF-2 alias Minimum Essential Force jilid 2.  Kenapa disebut istiqomah karena dua pemerintahan yang berbeda karakternya tetap melanjutkan program modernisasi militer kita, MEF yang insyaAllah sampai jilid 3 periode 2020-2024.

Perkuatan militer Indonesia hukumnya “fardu kifayah” bagi bangsa ini dan “fardu ain” bagi pemerintahan negeri ini. Sebab jika tidak dilaksanakan atau terlambat melaksanakannya akan memberikan rasa malu yang luar biasa.  Sebab negeri kepulauan terbesar di dunia ini dengan kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah, dengan kekuatan sumber daya manusianya yang nomor 4 terbesar di dunia kok punya militer yang tak bergigi.
Kombinasi Apache dan Mi35, dua-duanya kita punya
Maka kita berterimakasih pada pemerintahan SBY dan Jokowi yang sampai saat ini masing-masing kebagian kerja satu jilid program MEF dan kita bisa lihat hasilnya yang cukup membanggakan. Berbagai jenis alutsista canggih sudah kita miliki dan pengadaan berbagai jenis alutsista semakin besar frekuensinya ditahun terakhir MEF jilid 2 ini.

Kita sedang memproses pengadaan 6 Drone Male (Medium Altitude Long Endurance) untuk mengawal Natuna. Kita sedang menunggu kedatangan 4 helikoper Chinook, kita sudah pesan 9 helikopter Bell 412Epi dan 8 helikopter Caracal. Kita juga sudah menganggarkan pembelian 8 helikopter Apache tahun ini. 5 Pesawat angkut berat Hercules seri J dari AS akan memperkuat skadron Hercules.

Skadron Hercules dikembangkan dari 2 skadron menjadi 3 skadron.  Skadron yang baru berlokasi di Makassar. Skadron helikopter tempur dibangun di Jayapura, skadron pesawat angkut CN235 dibangun di Biak, skadron  UAV dibangun di Timika.  Sedang disiapkan 1 skadron jet tempur untuk melindungi Papua. Satuan radar militer dibangun di NTT, Bengkulu dan Morotai untuk menutup blank spot mata telinga teritori udara kita. Natuna sudah jadi pangkalan militer terintegrasi.

Parade HUT TNI, seperti sebuah lukisan indah
Kita juga sedang menunggu kedatangan 11 jet tempur Sukhoi SU35.  Meski banyak dinamika dalam proses pengadaannya kita meyakini semua sesuai jadwal, minimal ada 2 jet tempur Su35 yang ikut meramaikan HUT TNI 5 oktober nanti. Sementara program radarisasi dan rudalisasi 15 jet latih tempur golden eagle sedang dikerjakan.

Setidaknya 3 kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank) dan 1 LPD rumah sakit segera memasuki inventori TNI AL. Matra laut ini juga sedang menunggu kehadiran pesanan kapal selam ke 3 Nagapasa Class yang dibuat di PT PAL kerjasama dengan Korsel.  Artinya tahun ini kita sudah memiliki 5 kapal selam. Dan tidak berhenti sampai disitu. 

Kemhan sedang bernegosiasi dengan saudara kita yang baik hati Korsel untuk melanjutkan transfer teknologi dengan kembali mengadakan pembangunan 3 kapal selam tambahan. Peran PT PAL semakin ditingkatkan dengan membangun beberapa modul kapal selam. Diharapkan dalam MEF 3 tahun 2020-2024 kita sudah memiliki 8 kapal selam canggih. Dan diharapkan teknologi pembuatan kapal selam relatif sudah kita kuasai pada saat itu.
Menyambut kapal selam baru Nagapasa Class
Kemhan juga sudah kontrak pengadaan 3 kapal perang jenis KCR (kapal cepat rudal) dengan PT PAL. Ini kontrak batch 2 dan kontrak batch 1 sudah menghasilkan 4 KCR Sampari Class. Lalu bagaimana dengan kelanjutan pembangunan kapal perang PKR10514 Martadinata Class. Sabar ya Om, bentar lagi juga ada beritanya.  Kontrak-kontrak skala besar di tahun terakhir MEF 2 akan berkibar di minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang.

Belum lagi program pengadaan jet tempur F16 Viper yang diniscayakan di MEF-3, pengadaan 2 kapal perang destroyer, makin cerah aja. Juga kedatangan MLRS Astross, Nexter, Ambulance militer, Vampire, Tank Amfibi, Tank Harimau dan lain-lain semuanya memberikan kebanggaan bagi kita yang cinta negeri ini.

Jadi tahun ini matahari alutsista kita bersinar terang, gak pake mendung dan semuanya menyambut dengan sukacita. Utamanya industri pertahanan strategis baik PT PAL, Pindad, PT DI, galangan kapal swasta nasional semuanya sedang menikmati hari-hari cerah dalam proses bisnis mereka.  Tidak terkecuali sang user TNI sebagai pemilik dan pengelola alutsista canggih tentu menyambut dengan mata berbinar.

Negeri kepulauan yang besar ini mutlak harus dilindungi dengan kekuatan militer yang berkualitas.  Maka perkuatan militer kita adalah bagian dari kesinambungan pembangunan di segala bidang. Tidak boleh dipisah-pisah apalagi dinomorduakan. Kita membangun perkuatan militer di Natuna, misalnya, adalah untuk menjaga harkat dan martabat teritori kita karena di utara kepulauan itu sedang terjadi demam berkepanjangan karena klaim Laut Cina Selatan.

Semoga program MEF kedepan nanti akan semakin memperlihatkan kehebatan militer kita yang memang sudah hebat dari sisi kualitas SDMnya. Kita terus perkuat alutsistanya sembari menyampaikan pesan kuat bagi siapa saja yang coba menganggu teritori NKRI, jangan coba-coba bermain api dengan teritori Indonesia.
****
Semarang, 18 Januari 2019
Jagarin Pane


Tuesday, December 25, 2018

Natuna, Menjawab Tantangan Atas, Kiri dan Kanan


Salah satu kawasan teritori yang demam terus menerus adalah perairan Laut Cina Selatan.  Penyebabnya semua sudah tahu, ambisi teritori Cina yang haus akan sumber daya alam tak terbarukan. Laut Cina Selatan kaya akan “nutrisi” untuk menghidupi masa depan milyaran warganya.

Kepulauan Natuna persis dihadapan klaim Cina terhadap pulau-pulau atol dan perairan Laut Cina Selatan (LCS). Cina membangun pangkalan militer besar dan menantang siapa saja yang coba-coba memasuki perairan LCS tanpa izin.  Nah Cuma AS yang bisa mengimbangi si Naga yang sedang menggeliat.

Namanya saja Naga yang menggeliat, bisa saja lalu ekornya atau semburan apinya masuk ke wilayah Natuna dan bilang : Ini punya owe juga, haiyya.  Maka kita pun bersiap menghadapi kondisi terburuk itu dengan membangun pangkalan militer terintegrasi segala matra. Dan infrastruktur pangkalan di Natuna baru saja diresmikan penggunaannya oleh Panglima TNI.

Kekuatan terintegrasi
Natuna sebagai teritori paling beresiko dan berada di garis depan teritori disiapkan untuk mampu bertahan dari serangan negara manapun yang coba mengusik teritori kita. Maka disana ada pangkalan AU, pangkalan AL termasuk pangkalan kapal selam. Ada berbagai jenis kesatuan tempur seperti Raider TNI AD, Paskhas TNI AU dan Marinir TNI AL.  Berbagai alutsista juga disiapkan termasuk satuan radar berlapis mulai dari Vera NG, Master T dan Weibel.

Dua elemen alutsista strategis yaitu KRI dan jet tempur hadir setiap saat selama 24 jam dan sepanjang tahun, bergiliran dan estafet. Namanya juga pangkalan pasti harus ada isinya dong. TNI AD menempatkan satuan artileri medan, kavaleri dan infanteri akan berkolaborasi dan berintegrasi dengan matra lain dalam sebuah skema network centric warfare.

Selain Natuna kita juga sedang menyiapkan pangkalan-pangkalan militer di NTT dan Papua. Di NTT disiapkan pembangunan batalyon armed dan kavaleri. Pangkalan TNI AL di Kupang ditempatkan beberapa KRI dan di El Tari disiapkan 1 flight jet tempur. Sementara di Sorong akan menjadi pangkalan induk Armada Tiga TNI AL, di Biak akan ada 1 skadron jet tempur dan 1 skadron pesawat angkut sedang.  Di Jayapura disiapkan 1 skadron helikopter dan Timika ditempatkan 1 skadron pesawat intai tanpa awak (UAV).

Kekuatan dan keberanian
Yang menarik tentu pangkalan militer strategis Natuna.  Meski disiapkan untuk menghadapi ancaman lidah Naga yang suka sembur sana sembur sini, juga memberikan manfaat ganda karena berada di titik strategis yang memisahkan Malaysia Semenanjung dan Malaysia Borneo.  Juga dekat dengan Singapura.

Pangkalan militer Natuna jelas memberikan dampak perhitungan strategi militer untuk Malaysia. Karena secara militer, Natuna bersama kekuatan Armada Satu TNI AL dan 3 skadron jet tempur TNI AU dianggap bisa menjadi penghadang atau mampu melakukan blokade militer untuk aliran kapal perang dan jet tempur Malaysia yang akan ke Malaysia Borneo atau sebaliknya.

Jadi manfaat ganda dari adanya pangkalan militer segala matra di Natuna tentu memberikan kebanggaan tersendiri. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Pemikir strategis pertahanan kita ketika merencanakan pangkalan militer itu tentu tidak lepas dari “bau-bau” klaim teritori Ambalat oleh Malaysia. Maka kehadiran pangkalan Natuna memberikan efek gentar bagi Malaysia. Mau coba-coba klaim lagi sudah ada Natuna di depan hidung.

Maka pekerjaan selanjutnya adalah memberikan isian menu paket lengkap untuk mencukupi kebutuhan gizi alutsista di Natuna dengan gelar permanen alutsista strategis. Termasuk kesiapan pangkalan militer pendukung utama di Batam, Tanjung Pinang, Pekanbaru dan Pontianak.  Natuna tidak sendirian, dia di back up penuh oleh pangkalan militer di dekatnya.

Kita meyakini dalam beberapa bulan mendatang akan ada kontrak pengadaan alutsista skala besar seperti pengadaan lanjutan 3 kapal selam, 2 kapal perang destroyer, 2 fregat, 1 skadron jet tempur, UAV, Helikopter dan lain lain. Perkuatan militer kita akan terus berlanjut untuk memastikan seluruh teritori negeri ini terlindungi, terawasi dan berwibawa.

Natuna sudah menunjukkan kewibawaannya, bahwa kita tidak main-main soal kewibawaan teritori, kita mampu membangun kekuatan militer kita, kita juga mampu membangun industri pertahanan strategis kita baik yang dimiliki BUMN maupun swasta. Inilah salah satu kebanggaan kita memperkuat militer, industri pertahanannya pun ikut berkibar mekar.
****
Semarang, 25 Desember 2018
Jagarin Pane

Saturday, December 15, 2018

Dua Jiran Sedang Bersitegang


Selat Johor yang memisahkan dua negara jiran,  Malaysia dan Singapura, hari-hari belakangan ini sedang memperlihatkan cuaca tidak bersahabat. Sebabnya tentu soal batas teritori air dan udara yang saling klaim sehubungan dengan perluasan pelabuhan masing-masing negara. 

Singapura sedang memperluas pelabuhan Tuas melalui reklamasi laut sepanjang 10 km dan akan beroperasi tahun 2020 nanti.  Khawatir tersaingi Malaysia juga bergegas memperluas pelabuhan Johor Baru yang sangat dekat dengan pelabuhan Tuas. Malaysia juga berencana mengambil alih kontrol penerbangan di Johor dari Singapura.

Singapura, negeri mungil paling sejahtera di ASEAN dan punya koleksi alutsista terbaik di kawasan ini kemudian memperlihatkan taring kekuatannya dengan mengerahkan sejumlah kapal perang, jet tempur, helikopter apache dan UAV ke perairan sengketa yang tidak terlalu luas itu. Sementara Malaysia cuek aja melewati perairan yang sedang dipersengketakan itu bahkan menaruh kapal MV Polaris untuk berdiam diri.


Kedua negara juga pernah bersengketa soal pulau Batu Putih (Pedra Branca) yang berada di pertemuan selat Singapura dan Laut Cina Selatan. Secara historis pulau kecil itu ada dalam wilayah kesultanan Johor. Namun ketika diuji di sidang Mahkamah Internasional tahun 2008 diputuskan pulau itu milik Singapura.

Perseteruan antar jiran adalah sesuatu yang lumrah terjadi, sebagaimana dulu ketika Ambalat diributkan antara Malaysia dan Indonesia. Malaysia yang merasa diatas angin karena bisa mendapatkan Sipadan dan Ligitan melalui sidang Mahkamah Internasional tahun 2003 lalu melanjutkan klaim atas Ambalat dengan mengerahkan sejumlah kapal perang.

Waktu itu mereka tidak menunjukkan sikap sebagai sahabat ASEAN dan mengerahkan sejumlah kapal perang ke perairan Ambalat. Jujur saja waktu itu kekuatan udara mereka mengungguli kita yang sedang terpuruk ditambah lagi dengan kehadiran kapal selam barunya yang berpangkalan di Teluk Sepanggar Sabah.

Tetapi waktu itu kita hadapi Malaysia dengan kekuatan militer juga sembari bertekad memperkuat dan memodernisasi militer dalam sebuah kurikulum strategis yang dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force).  Dimulai tahun 2010 sampai sekarang program MEF kita telah menghasilkan perkuatan militer yang sudah mengungguli Malaysia.  Bahkan Natuna kita jadikan pangkalan militer besar yang lokasinya sangat strategis tepat berada ditengah Malaysia Semenanjung dan Malaysia Borneo.

Kekuatan militer Singapura jelas mengungguli Malaysia. Apalagi kondisi militer Malaysia saat ini sedang tidak “bahagia” akibat ulah rezim terdahulu yang tidak cakap dalam mengelola pemerintahan. Rasio hutang terhadap PDB negeri melayu itu saat ini berada dikisaran 74%, tentu sangat berat beban yang ditanggung APBN Malaysia.

Pada saat yang bersamaan negara-negara ASEAN lainnya sedang menunjukkan kuantitas belanja alustsista yang terus menerus.  Filipina terus memperkuat alutsista negerinya dengan membeli berbagai peralatan militer. Thailand juga memperkuat otot militernya, tidak ketinggalan Vietnam yang ada di garis depan persengketaan teritori dengan Cina. Indonesia sudah sama-sama kita ketahui belanja terus lho Om. Sementara Malaysia hanya berdiam diri.

Singapura jelas tak tertandingi soal anggaran belanja militernya dan terus memperkuat pagar teritorinya dengan model pre emptive strike. Maka ketika silang sengketa soal perairan di Selat Johor memanas, wajar saja dia unjuk kekuatan  karena memang dia punya kekuatan menyengat yang luar biasa. Soal siapa yang salah dan siapa yang benar tentang kepemilikan teritori itu jadi urusan diplomasi antara keduanya.

Maka pelajarannya yang diambil dari sengketa antar jiran adalah, jangan abaikan kekuatan dan perkuatan militer.  Karena militer adalah bagian dari kekuatan diplomasi sebuah negara. Unjuk kekuatan militer Singapura terhadap Malaysia di Selat Johor bisa dipandang sebagai ledekan dan ejekan untuk jiran utaranya itu.

Program MEF kita yang sedang berlangsung saat ini juga merupakan  langkah strategis untuk menunjukkan kepada jiran bahwa kita jangan dianggap remeh. Kita perkuat militer kita sejalan dengan perkuatan ekonomi karena antara keduanya adalah investasi untuk menuju marwah negeri berdaulat, bergengsi dan berotot.

Tentu kita berharap sengketa antara kedua jiran itu bisa diselesaikan secara baik dan terhormat melalui jalan diplomasi. Antara keduanya saling membutuhkan satu sama lain.  Kedepankan etika ASEAN dan saling menahan diri. Singapura jelas butuh jirannya Malaysia juga sebaliknya Malaysia membutuhkan Singapura dalam banyak hal.
****
Solo, 15 Desember 2018
Jagarin Pane

Monday, November 26, 2018

Perhatikan Selatan Jawa


Negeri kepulauan ini pusatnya adalah pulau Jawa sekaligus jantungnya Indonesia.  Jadi urusan merawat kesehatan dan keamanan jantung adalah prioritas utama. Ada separuh populasi penduduk negeri ini bermukim di Jawa, padahal pulau ini paling kecil diantara lima pulau besar. Disini juga pusat pemerintahan, pusat ekonomi dan industri, pusat peredaran mata uang dan tentu saja pusat pertahanan kita.

Itu sebabnya dua divisi Kostrad ada di Jawa, juga dua divisi Marinir, dua Armada KRI, tiga skadron jet tempur.  Artinya se apes-apesnya pertahanan negeri ini yang mampu diobrak abrik negeri agressor, setidaknya Jawa akan memberikan payung pertahanan terakhir dan akan dipertahankan sampai titik darah penghabisan.
Pertahanan udara jarak jauh dan mobile, jet tempur
Meski kita sedang memperkuat pertahanan di wilayah perbatasan seperti Natuna, Tarakan, Kupang dan Sorong namun konsep pertahanan untuk pulau Jawa adalah yang nomor satu.  Dan titik krusial yang paling penting untuk diamati adalah selatan pulau Jawa. Lho kok bisa, bukankah selatan pulau Jawa bersinggungan dengan lautan dalam yang sepi dan nyaris tak ada keramaian lalulintas kapal.

Iya benar tetapi jarak udara pulau Christmast ke Jakarta hanya 1200 km.  Terlalu dekat untuk dicapai jet tempur atau bomber negeri yang menggunakan fasilitas pangkalan disana. Teknologi pertempuran masa depan juga memastikan Jakarta ada dalam genggaman serangan udara yang sangat mudah dihancurkan. Saat ini praktis tidak ada payung udara area pelindung ibukota.

Kehadiran jet tempur siluman F35 di selatan negeri atau bahkan F22 Raptor sudah wira wiri tanpa ketahuan, boleh jadi dalam strategi militer begitu telanjangnya Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Jawa. Belum lagi perairan Selatan Jawa dan Selat Sunda yang dalam, sebagai lintasan kapal induk sangat dekat dengan ibukota.

Bagaimana merawat dan menjaga jantung itu dari berbagai indikasi serangan jantung, tentu sudah ada dalam benak pemikir strategis pertahanan Indonesia. Maka penempatan skadron jet tempur Sukhoi SU35 di Jawa dan pergelaran satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah di ibukota dan kota besar di Jawa adalah langkah cerdas.
Laut Cina Selatan, sudah terjadi
Natuna kita perkuat sebagai pangkalan militer garis depan, juga Tarakan, Kupang, Biak dan Sorong sebagai pangkalan militer di perbatasan.  Hampir semua posisi pertahanan garis depan itu menghadap utara atau di atas Jawa. Artinya posisi pertahanan negeri menghadapi posisi musuh dari utara. Jadi Jawa punya perisai pangkalan militer di utara negeri, tapi di selatan tidak ada.

Menguatkan payung pertahanan Jawa adalah dengan menempatkan posisi satuan radar teknologi terkini berlapis baik radar pasif maupun radar aktif. Perluasan jangkauan pertahanan udara dari sekedar pertahanan hanud titik menjadi hanud area adalah untuk menghilangkan missing link dari jet tempur ke pertahanan pangkalan dan obyek vital.

Jet tempur adalah model pertahanan udara jarak jauh, sangat mobile dan pre emptive strike. Sangat perlu dilapis dengan model pertahanan udara area dengan menempatkan satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah yang bisa dipindah-pindah. Dan lapisan terakhir dengan pertahanan udara titik atau pertahanan udara pangkalan dan obyek vital dengan satuan peluru kendali jarak pendek.

Tiga lapis pertahanan udara ini sudah maksimal dan tentu memerlukan bahasa komunikasi dan koordinasi alias interoperability antar satuan. Kita tidak perlu membahas bahasa teknisnya karena ini wilayah inteligent network military. Tetapi intinya adalah jangan sampai terjadi insiden friendly fire atau hancurnya tiga lapis pertahanan udara sekaligus dalam mengelola manajemen pertempuran modern yang penuh dengan tipudaya teknologi terkini.

Masa depan militer kita adalah menyempurnakan 3 lapis pertahanan udara dengan prioritas Jawa. Penambahan jumlah jet tempur, penempatan satuan peluru kendali darat ke udara jarak menengah, satuan peluru kendali jarak pendek dan penguatan radar berlapis mutlak diperlukan. Lima tahun ke depan diprediksi kekuatan tiga lapis itu bisa tercapai.

Masa depan negeri ini selain pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan juga ditentukan oleh kekuatan militernya, tidak sekedar pintar dan cerdas berdiplomasi.  Masa depan kawasan kita adalah memperebutkan sumber daya energi.  Masa depan kawasan kita adalah pertarungan memperebutkan hegemoni ekonomi dan militer antara penantang Cina dan petahana AS.

Maka kita tidak boleh lengah atau berantai-santai untuk soal ini. Keterbatasan sumber daya energi masa depan membuat setiap negara mencari terus menerus sumber daya energi di setiap sudut bumi. Teritori kita kaya dengan sumber daya energi. Maka untuk menjaganya kita wajib perkuat terus lapis pertahanan kita dengan sekuat-kuatnya.

Sama dengan orang yang lapar, dia akan mengais makanan tidak peduli asal usulnya. Masa depan dunia adalah lapar dengan sumber daya energi.  Maka perebutan sumber daya energi akan terjadi. Laut Cina Selatan sudah terjadi, boleh jadi besok atau lusa Papua dan Arafuru. Salah satu cara efektif adalah lumpuhkan jantungnya dulu.  Dan dia adalah Jawa.

****
Solo, 26 Nopember 2018
Jagarin Pane

Sunday, November 11, 2018

Kabar-Kabar Yang Membungakan Hati


Pergelaran Indo Defence 2018 di Kemayoran Jakarta baru saja usai. Pameran teknologi pertahanan terbesar di Asia Tenggara ini diikuti 867 peserta dari 60 negara berlangsung selama 3 hari mulai anggal 7-10 Nopember 2018. Berbagai produk dari industri pertahanan strategis negeri ini diperlihatkan.  Sangat membanggakan dan luar biasa.

Kabar-kabar yang membungakan hati yang harus diceritakan dari forum Indo Defence 2018 adalah lanjutan serial Changbogo Class alias Nagapasa Class akan tetap digelar. Dengan kembali membangun produksi bersama tiga kapal selam canggih. Sebelumnya lewat proses transfer teknologi dari Korea Selatan telah dibangun tiga kapal selam yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404 dan KRI Alugoro 405.  KRI Alugoro 405 dirakit di PT PAL Surabaya dan saat ini dalam proses seremoni untuk sea trial.
Indo Defence 7-10 Nopember 2018
Berlanjutnya pembangunan kapal selam ke 4,5 dan 6 kita sambut hangat karena ini berarti proses alih teknologi akan berlanjut terus. Teknologi pembuatan kapal selam adalah teknologi yang paling sulit diperoleh, maka kerjasama dengan Korsel adalah pilihan terbaik.  Karena kita tidak sekedar membeli tetapi juga ingin mendapatkan teknologinya.

Galangan kapal selam PT PAL di Surabaya adalah investasi bagus yang pada saatnya nanti memberikan nilai prestise untuk negeri ini karena sudah mampu menguasai teknologi kapal selam. Saat ini disamping mempersiapkan peluncuran KRI Alugoro 405 galangan kapal selam ini sedang meng upgrade KRI Cakra 401 dengan biaya US$ 40 juta.

Kerjasama dengan Korea Selatan yang lain adalah kontrak pengadaan lanjutan pesawat latih KT1 Wong Bee dan instalasi radar dan rudal pesawat golden eagle yang kita kenal dengan T50 buatan Korsel. Pesawat yang dikenal dengan julukan baby falcon ini akan bermanfaat sebagai jet tempur patroli udara jika sudah diinstalasi radar dan rudal.

Tank Harimau produksi PT Pindad hasil kerjasama dengan Turki akan mulai diproduksi massal akhir tahun ini.  Kebutuhan potensial TNI AD mencapai 400 unit tank. Lebih dari itu PT Pindad juga melirik pasar ekspor, sebuah langkah yang cerdas. Demikian juga dengan panser amfibi Pandur II kerjasama dengan Ceko prospeknya sangat cerah dengan potensi membuat sebanyak 275 unit.

PT PAL yang sudah mengekspor 2 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) ke Filipina kembali mendapat pesanan dari jiran yang baik hati ini. Filipina akan memesan 2 kapal sejenis untuk memperkuat angkatan lautnya. Dua Kapal LPD yang sudah diserahkan setahun yang lalu ternyata sangat membantu dalam operasi logistik militer menumpas pemberontak di Marawi Filipina.
Martadinata Class
PT PAL juga akan kembali mendapatkan proyek pembangunan kapal perang jenis PKR (Perusak Kawal Rudal) kerjasama dengan Belanda, lanjutan dari Martadinata Class yang sudah dibangun dua unit. Sementara 2 PKR yang sudah jadi yaitu KRI Raden Edy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Ray 332 akan dilengkapi dengan persenjataan anti serangan udara VL Mica tahun depan.

Paskhas TNI AU kembali akan memperoleh alutsista canggih Oerlykon Skyshield untuk melindungi pangkalan militer utama di negeri ini, termasuk Natuna. Paskhas juga sudah memperoleh belasan Ranpur Turangga untuk mobilitas pasukan. Sementara alutsista jenis NASAMS yaitu satuan peluru kendali darat ke udara jarak sedang, akan melindungi ibukota Jakarta.

Banyak sekali yang mau diceritakan kabar-kabar yang membungakan hati. Tetapi kalau diceritain semua jadi kepanjangan dong nulisnya. Belum lagi soal mau diakuisisnya 2 Fregat rasa Destoyer Iver, 5 Hercules seri J dari AS, 8 Heli Chinook dari AS, tambahan 8 Heli serbu Apache juga dari AS. Dan bahkan yang sedang ditunggu dengan harap-harap cemas, pembelian minimal 1 skadron jet tempur primadona F16 Viper.

Kita masih membutuhkan kuantitas berbagai jenis alutsista. Pembentukan Kostrad Divisi III, pembentukan Pasmar III, Pengembangan Armada III dan Koopsau III semua untuk kawasan timur Indonesia. Tentu ini memerlukan isian berbagai jenis alutsista. Nah tahun depan dikucurkan dana di kisaran US $ 5,2 Milyar atau 70 trilyun khusus untuk beli berbagai jenis alutsista. Klop kan, ada uang ada barang dan mutu tentu tidak mengkhianati harga kecuali di mark up.

Kita selalu bersuara lantang agar modernisasi militer kita harus terus dilanjutkembangkan dengan sebuah pesan kuat.  Bahwa membangun militer negeri kepulauan ini bukanlah beban atau biaya yang memberatkan tetapi dia adalah investasi besar untuk eksistensi negara kepulauan terbesar. Militer adalah adrenalin eksitensi berbangsa dan bernegara.

Negeri yang luas dan kaya sumber daya alamnya ini harus dilindungi dan dipayungi dengan kekuatan militer yang andal.  Kita tidak mencari musuh, kawan kita juga banyak tetapi soal masa depan adalah potensi konflik memperebutkan sumber daya energi dan sumber daya alam. Maka selayaknya kita punya kekuatan militer yang dapat diandalkan secara teknologi dan kuantitas. Iya kan.

Jagarin Pane
Semarang 11 Nopember 2018

Friday, October 26, 2018

Matahari 2019 Cerah Banget


Barusan Menkopolhukam Wiranto memberikan kabar bagus yang membungakan.  Anggaran khusus untuk beli alutsista tahun 2019 sudah disiapkan, besarannya 75 trilyun rupiah. Dari jumlah yang besar itu sangat terbuka pembelian alutsista TNI dalam jumlah yang signifikan.  Dan sebagaimana prediksi kita akan ada kontrak pengadaan alutsista dalam skala besar.

Kita patut mensyukuri, karena perkuatan alutsista militer kita sejatinya bukan beban negara tetapi investasi untuk tujuan jangka panjang sejalan dengan perjalanan eksitensi bangsa ini. Program MEF yang sudah berjalan selama 9 tahun akan semakin memperlihatkan kuantitas dan kualitas persenjataan TNI.  Meski harus diakui masih jauh dari kriteria ideal.
Sudah ada dua, mau nambah dua lagi Martadinata Class

Prediksi jenis alutsista yang akan dibeli Indonesia tahun depan adalah :

1.     2 Kapal perang jenis destroyer Iver Class
2.     2 Kapal perang pengadaan lanjutan Martadinata Class
3.     3 Kapal cepat rudal
4.     2 Kapal penyapu ranjau
5.     2 Kapal selam pengadaan lanjutan Nagapasa Class
6.     5 Pesawat angkut berat Hercules type J
7.     8 Helikopter angkut serba guna Chinook
8.     8 Helikopter serang Apache batch 2
9.    16 jet tempur F16 Viper
10. 60 Tank amfibi untuk Marinir
11. 60 Panser amfibi untuk Marinir
12. 60 Tank harimau untuk TNI AD
13.   5 battery peluru kendali Nassam
14. 16 UAV
15.   5 Radar Master T

Sementara dalam waktu dekat ini akan ada peluncuran kapal selam baru KRI 405 Alugoro bersama 1 kapal perang jenis LPD KRI Semarang 504 di Surabaya.  Kapal perang lainnya yang akan diselesaikan tahun ini adalah 2 kapal jenis LST Bintuni Class, 1 kapal tanker Tarakan Class,  2 Kapal cepat rudal dan 3 Kapal patroli cepat.
Kita juga sedang menantikan kedatangan alutsista jenis peluru kendali jarak sedang Nassam, kedatangan lanjutan rudal Starstreak, Radar master T dan MLRS Astross. Sementara 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang sudah ditandatangani kontraknya akan mulai berdatangan akhir tahun depan lengkap dengan persenjataannya.

Program pengadaan Tank harimau produksi bersama Pindad dan Turki sedang mempersiapkan produksi massal akhir tahun ini. TNI AD untuk tahap I memesan 54 unit sementara kebutuhan yang diperlukan matra darat ini ada di kisaran 400 unit. Paskhas TNI AU juga sudah mulai menerima puluhan Ranpur Turangga dari industri pertahanan swasta nasional.

Dengan begitu semakin cerah dan benderang perjalanan perkuatan alutsista militer kita.  Dan program ini akan berlanjut terus sampai tahun 2024 sebagaimana harapan target Minimum Essential Force (MEF) TNI bisa tercapai. Setelah itu tentu akan bergerak pada kebutuhan menuju kriteria ideal. Semoga.

****
Jagarin Pane / 26 Oktober 2018


Datang Lagi Terus Menerus

Panglima TNI : "Tahun depan Kami kembali akan terima berbagai alutsista canggih.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyebut, jumlah pelanggaran perbatasan di Indonesia semakin 
menurun selama empat tahun terakhir. "Pelanggaran wilayah di NKRI memang masih terjadi, tapi 
sekarang angkanya terus menurun," ujar Hadi dalam konferensi pers pencapaian 4 tahun kinerja 
pemerintahan Jokowi-JK di Gedung III Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (25/10/2018). Dalam kurun 
waktu 1 tahun terakhir, TNI melaksanakan penindakan kepada pelaku pelanggaran wilayah teritorial 
NKRI yang dilakukan oleh 25 pesawat asing dan 4 kapal asing. Adapun, sepanjang empat tahun 
terakhir, total TNI berhasil mendeteksi sekaligus menghalau pelaku pelanggaran wilayah teritorial NKRI 
oleh 286 pesawat asing dan 26 kapal asing.

Dalam mempertebal kekuatan di daerah terpencil, TNI juga menggelar kekuatan baru. Ini sekaligus demi 
menyingkronisasi dengan agenda pembangunan nasional. "Gelar kekuatan yang dilaksanakan adalah 
pembentukan Divisi Infanteri III Kostrad di Sulawesi Selatan, Koarmada III dan Pasukan Maritim III di 
Sorong dan pembentukan Koopsau III di Biak," ujar Hadi. Dalam memperkuat aksi penindakan terhadap 
pelanggaran wilayah teritorial NKRI, lanjut Hadi, TNI juga mengadakan sejumlah alutsista demi 
mendukung itu.
"Tahun depan akan kembali kami terima berbagai alutsista canggih, misalnya peluncur roket multilaras, 
 Astross, Rudal Starstreak, kapal selam, LPD dan pesawat tanpa awak," ujar Hadi.

Sumber : Kompas

Sunday, October 21, 2018

Menuju Santri Pre Emptive Strike


Banyak yang belum familiar dengan tanggal 22 Oktober, ada apa sih dengan tanggal itu. Belum terbiasa dengan apa isi dan bobotnya karena baru 3 tahun terakhir ini ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. Selama republik ini merdeka dengan usia 73 tahun baru 3 tahun inilah resmi diakuinya perjuangan para santri dan kyai dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan negeri ini.

Melalui Keputusan Presiden No 22 tahun 2015 tanggal 15 Oktober 2015 ditetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Ini adalah bagian dari pelurusan sejarah yang selama 70 tahun negeri ini berjalan melenggang di pentas kemerdekaan, peran sejarah para santri dan kyai diabaikan. Mengapa begitu, salah satu asumsinya adalah kalimat resolusi jihad.

Kalimat jihad selama puluhan tahun rezim terdahulu berkuasa menjadi sebuah menu yang tak boleh ditampilkan karena dianggap “bikin orang merinding”. Padahal jihad itu kalimat perjuangan suci dan terukur. Sejarah terkadang harus “disubyektifkan” oleh sebuah rezim tetapi kemudian juga harus “diobyektifkan” oleh penggantinya yang tak punya kepentingan.

Logikanya mudah saja, apa sih yang menyebabkan Brigjen Mallaby terbunuh di Surabaya tanggal 30 Oktober 1945.  Apa fikroh dan ghirohnya. Sebab TNI pada waktu itu masih jabang bayi alias belum berusia sebulan. Mengapa dia bisa terbunuh padahal dia komandannya. Inggris benar-benar dipermalukan.

Semua baru terjawab tiga tahun terakhir ini dan membuka mata kita yang selama ini “rabun ayam”. Membanjirnya puluhan ribu anak muda santri dan lasykar pejuang ke Surabaya dipicu oleh Resolusi Jihad dalam pertemuan Ulama se Jawa dan Madura tanggal 21-22 Oktober 1945. KH Hasyim Asy’ari memberikan komando tegas, mengusir penjajah adalah jihad.

Sesungguhnya santri dan kyai yang jumlahnya puluhan juta adalah pelapis adonan negeri yang rahmatan lil alamin ini. Santri dan kyai adalah pelapis dominan dalam bangunan fondasi NKRI.  Ini salah satu sebab mengapa eksistensi NKRI masih terjaga dan terlindungi secara utuh. Lihatlah tampilan santri dan kyai, selalu sederhana, santun, teduh dan menyejukkan.

Perjuangan santri ke depan adalah menjaga eksistensi NKRI sebagai garis perjuangan utama.  Ini sama perannya dengan TNI yang memang tupoksi nya menjaga keutuhan negeri ini dari ancaman multi dimensi.  Doktrin TNI selama puluhan tahun menganut azas : Masuk dulu baru digebuk, artinya kalau ada musuh datang biarkan masuk baru digebuk.

Sekarang doktrin itu sudah mulai ditinggalkan dan berganti dengan sebutan : Berani masuk digebuk. Maka diperkuatlah alutsista AU dan AL dan menyebar pangkalan militer di Natuna, Sorong, Kupang, Tarakan, Morotai. Semua diperkuat agar musuh tidak berani masuk teritori NKRI

Perjuangan santri dan kyai ke depan juga mestinya meniru doktrin TNI. Kalau dalam pertempuran Surabaya yang heroik itu sudah berlaku rumus : Masuk dulu baru digebuk lewat resolusi jihad. Maka perjuangan ke depan adalah berani masuk digebuk atau yang dikenal dengan istilah pre emptive strike.

Lha lawannya siapa pak Jagarin.  Lawannya adalah Ghaswul Fikri alias perang pemikiran, perang opini, perang argumen melawan siapa saja yang hendak menggerus dan melumpuhkan NKRI dan amaliyah-amaliyah aswaja. Santri-santri harus siap dengan model pertempuran dan pendangkalan aqidah dengan melakukan serangan langsung sebelum lawan masuk teritori pemikiran kita.

Dunia maya, media sosial adalah medan pertempuran yang paling dominan.  Maka para santri dan kyai harus menyiapkan pertarungan di basis lawan. Adu argumen di media sosial tidak lagi memakai model defensif pasif tetapi santri dan kyai harus bisa mengendalikan dan memenagkan jalannya pertempuran argumen dan dalil.

Santri dan kyai harus bisa memberikan fikroh dan ghiroh ber NKRI dengan mengingat sejarah perjuangan kemerdekaan dulu. Tunjukkan kekuatan di media sosial dengan membanjirinya dengan berbagai argumen kebenaran. Jangan sampai tercipta sebuah garis demarkasi, pihak lawan yang benar dan santri kyai tidak boleh benar.

Maka lawanlah dengan kalimat-kalimat santun yang tegas dengan segala dalil dan penjelasannya. Maka lawanlah dengan sholawat nariyah secara serentak.  Maka lawanlah dengan unjuk kekuatan di dunia nyata melalui parade besar di Hari Santri Nasional. Selamat Hari Santri Nasional 22 Okrober 2018.
****
Semarang 21 Oktober 2018
Jagarin Pane

Monday, October 15, 2018

MEF On Going Project

NUSANTARANEWS Jakarta - TNI Defense and Alutsista Analyst Jagarin Pane notes that the journey of growing Indonesian military defense forces has been going on for nine years since the MEF (Minimum Essential Force) program was published in 2010. With a large roadmap for developing the latest technology armaments collection. Traveling all the time it has provided extraordinary value for the military institution of the warrior country.

Last Thursday (28/06/2018), said Jagarin, a new LST (Landing Ship Tank) warship was launched in Lampung from an outstanding national private shipyard. The shipyard is currently building 4 LST warships for the Navy after successfully building Bintuni Bay 520 KRI which later became the name of this LST class, Bintuni Class.

AU Great Road Indonesia Builds Full Scale Air Power
Indonesian Military Requested Fast Motion Complete Alutsista Needs
In addition, he said, PT PAL Surabaya currently builds 1 LPD (Landing Platform Dock) war ship, 1 Nagapasa Class submarine and 3 Rapid Ship Missiles. Other private national shipyards also reveled in the project splash building of dozens of Fast Patrol Boats (KPC), logistics ships BCM TNI AL, ships Bakamla and KKP. This means that all national shipyards in this country are happy to get a big sustenance from the MEF program TNI.

"Our celestial soldiers have also ordered 11 Sukhoi SU35 fighter jets and are predicted to add at least 5 more units. Kemhan is also in the process of procuring 5 Hercules J-series aircraft from the United States, preparing 3 additional combat squadrons with the strongest F16 Viper candidate, additional Apache helicopters, then adding at least 5 military radar, adding Oerlikon Skyshiled and anti- Nasams, "Jagarin said in his analytical note, as quoted nusantaranews.co, Saturday (14/07/2018).

Jagarin explained that the fifteen Golden Eagle fighter jets are also reinforced with Elbit radar infrastructure, adding to Grob and KT1 Wong Bee train jets. Orders of Caracal Helicopters, CN295 aircraft continue to be done. PT DI as a gateway distribution of cooperation production is completing various work orders such as 11 helicopters anti-submarine Panther for the Navy.

PT Pindad, he said, is also shining brightly with various orders of the Army. Anoa's panser production continues, medium Kaplan medium tank production project with Turkey, Komodo rantis, rhinoceros panser, ranpur Sanca. All strategic defense industries are busy with various business activities for our military armaments alutsista.

Nevertheless, he said, the travel program MEF is still long. And all the time we will get proud and heartfelt news for our military reinforcement. The arrival of various types of armaments and re-ordering various types of defense equipment is the consumption of news that has been commonplace.

****