Friday, April 20, 2018

Nassam Di Jakarta


Indonesia mulai membangun sistem pertahanan udara di ibukota Jakarta dengan menempatkan sejumlah peluru kendali anti serangan udara jarak sedang, Nassam. Model pertahanan udara ini mirip yang dilakukan AS terhadap ibukotanya Washington dengan alutsista sejenis. Lokasi pangkalan Hanud ini ada di Tangerang tetapi sistem pertahanan udara ini bersifat mobil, jadi bisa digerakkan ke lokasi strategis lain. Selain Jakarta, peluru kendali Nassam juga akan ditempatkan di Natuna dan kota-kota besar lainnya.  Memang sudah saatnya kita menerapkan lapis pertahanan udara mulai dari fighter jet tempur, hanud area dan hanud titik. Hanud area seperti yang sedang dibangun ini sementara hanud titik adalah rudal-rudal jarak pendek yang sudah banyak kita punyai.

***
Jagarin Pane

Monday, April 16, 2018

Dialihkan ke Natuna


Empat kapal perang Indonesia, tiga diantaranya dari Bung Tomo Class yaitu KRI Bung Tomo 357, KRI John Lie 358, KRI Usman Harun 359 dan satu lagi KRI Fatahillah 361 mulai kemarin dialihkan secara permanen dari Armada Timur ke Armada Barat utamanya untuk menjaga perairan Natuna. Seluruh kapal perang ini adalah kapal perang striking force yang dihadirkan sebagai garda garis depan, karena Natuna adalah gengsi teritori NKRI yang harus dijaga ketat.

****
Jagarin Pane

Thursday, March 29, 2018

Apache Datang Lagi



Lima Helikopter Apache tiba di Semarang kemarin melalui jalur laut.  Dengan kedatangan lima Helikopter canggih ini maka Penerbad sudah mendapatkan 8 unit Helikopter seri yang tercanggih dari AS.  Kemungkinan untuk menambah sebanyak 8 unit lagi masih terbuka lebar. Sementara itu TNI AL kemarin juga menerima kapal perang baru KRI Albakora 867 buatan galangan kapal swasta nasional dari jenis Kapal Patroli Cepat.  Alhamdulillah.
****
Jagarin Pane 

Friday, March 23, 2018

Menunggu Daftar Belanja Lanjutan

Program jilid kedua modernisasi militer Indonesia akan berakhir tahun depan. Selama berlangsungnya serial yang lebih dikenal dengan istilah MEF (Minimum Essential Force) sudah banyak berdatangan berbagai jenis alutsista TNI termasuk pembentukan batalyon-batalyon baru, pangkalan militer baru dan intensitas latihan gabungan TNI skala besar. Artinya program perkuatan tentara kita sudah, sedang dan akan terus berlanjut sampai target MEF tercapai tahun 2024.

Februari yang lalu sudah diteken kontrak pembelian 11 jet tempur paling menggerunkan yang bakal dimiliki republik ini, Sukhoi SU35. Belakangan baru diketahui bahwa tekanan untuk menghambat dan membatalkan kontrak yang prosesnya berlangsung dua tahun sangat besar.  Karena ternyata AS berupaya keras untuk membatalkan kontrak itu.  Tetapi berkat keteguhan sikap petinggi negeri, mata melotot Paman Sam disikapi santai saja, sembari bilang : sabar dong Om, ntar juga kebagian kok. Kami kan juga minat sama Viper punya nya Om.
Apache dan Mi35 punya Penerbad
Oleh sebab itu menu daftar belanja alutsista lanjutan sangat mungkin kita akan membeli jet tempur F16 Viper punya nya Om Sam. Kita sudah familiar dengan jet tempur jenis ini bahkan sudah memakainya sejak tahun 1989.  Apalagi kita juga sudah menerima 24 jet tempur F16 blok 52 Id, sehingga ini jadi basis argumen yang terkuat, membeli lagi alutsista produk AS, F16 Viper karena kita akan membentuk 3 skadron tempur baru.

Daftar belanja yang lain adalah pengadaan 5 unit radar untuk menutup celah blank spot yang masih ada seperti di Bengkulu, Singkawang, Sumba dan Morotai. Jika ini sudah dipenuhi maka program selanjutnya adalah mengganti radar-radar sepuh dengan jenis radar berteknologi digital. Radar adalah mata telinga NKRI untuk memantau pergerakan pesawat asing yang masuk wilayah teritori kita.

Predikasi daftar belanja alutsista yang lain adalah pengadaan tank amfibi BMP-3F untuk Marinir, pengadaan kapal perang jenis Fregat, kapal perang jenis KCR, KPC, kapal perang jenis LST, LPD dan BCM, termasuk juga kapal perang jenis buru ranjau. Sembari menunggu kedatangan kapal selam kedua dan ketiga yang saat ini sedang dibuat di Korsel dan PT PAL, sangat dimungkinkan ada kelanjutan penambahan minimal 2 kapal selam lagi.
Parade HUT TNI, luar biasa
Kapal perang jenis KCR (Kapal Cepat Rudal) dan KPC (Kapal Patroli Cepat) akan ditambah sebanyak mungkin.  Keduanya sudah bisa dibuat di galangan kapal kita. Kapal-kapal jenis ini akan menjadi ujung tombak patroli laut dan mengisi secara permanen di Lantamal-Lantamal yang tersebar di penjuru tanah air. Jumlah Lantamal kita ada 16 buah, jika satu Lantamal membutuhkan 4 kapal perang “hit and run” maka diperlukan setidaknya 60-65 kapal perang jenis KCR dan KPC.

TNI AD juga akan menambah inventori alutsistanya antara lain artileri mobile Caesar Nexter buatan Perancis dan Roket Astross II buatan Brazil, sembari menunggu kedatangan 5 helikopter Apache dari AS. Sangat dimungkinkan kita akan membeli kembali Helikopter Apache sebanyak 8 unit untuk melengkapi jumlah perolehan menjadi 16 unit. Kendaraan lapis baja jenis M113 sejenis dengan insiden tenggelamnya alutsista ini di Purworejo akan terus ditambah.  Kita pesan 150 unit, baru datang sepertiganya.

Kalau mau ditulis, maka daftar belanja alutsista kita untuk MEF jilid II yang berakhir tahun depan cukup banyak ragam jenisnya. Yang jelas order alutsista yang dipesan menjelang akhir pemerintahan tahun 2019 akan berdatangan pada MEF jilid III periode 2020-2014.  Cluenya sudah terang benderang, kita butuh 3 skadron tempur baru, kita butuh kapal perang jenis fregat, korvet, KCR dan KPC.  Kita masih akan memperbanyak jumlah kapal selam sampai 8 unit.  Kita akan memproduksi Tank Kaplan, melanjutkan produksi Panser Anoa, Badak.

Selain sedang membangun pangkalan militer segala matra di Natuna, TNI saat ini sedang melebarkan sayap militernya ke Timur Indonesia dengan membentuk Kostrad Divisi III, Armada Ketiga TNI AL di Sorong, Pasukan Marinir setingkat Divisi dan Komando Operasi TNI AU.  Mengembangkan sayap tentu memerlukan asupan berbagai jenis alutsista dan pasukan tempur dan semuanya diharapkan sudah berkibar di MEF ketiga.

Maka pada hari-hari mendatang, bulan-bulan mendatang akan banyak berita soal kontrak pengadaan alutsista. Tentu ini sangat menggembirakan kita semua.  Tetapi lebih dari itu jika penggunaan anggaran kementerian pertahanan yang menjadi anggaran terbesar dalam APBN dapat dipergunakan sesuai peruntukannya, akan lebih mengembirakan lagi bagi anak negeri pecinta kedaulatan NKRI.

Kita juga berharap dalam program MEF ketiga nanti persentase anggaran pertahanan yang saat ini hanya 0,8-0,9 % dari APBN bisa ditingkatkan menjadi minimal 1,5% dari APBN. Kalau dalam prioritas pemerintahan saat ini fokus di infrastruktur semoga dalam pemerintahan berikutnya bisa mendongkrak anggaran pertahanan sebagaimana harapan kita.  Semangatnya adalah memberikan marwah bagi kedaulatan teritori, memberikan kekuatan payung teritori NKRI sekaligus bargaining untuk diplomasi cerdas. Kita akan terus menyuarakan aspirasi ini.
****
Semarang, 23 Maret 2018
Jagarin Pane

Friday, February 23, 2018

Catatan “Drama” Tanda Tangan Sukhoi SU35

Tidak ada media yang tahu bahwa tanggal 14 Februari 2018 yang lalu di Jakarta Kemhan dan Rusia meneken kontrak pengadaan jet tempur strategis Sukhoi SU35.  Sedemikian silent nya bahkan tanda-tanda untuk persiapan tanda tangan saja tidak diperlihatkan sebelumnya, termasuk di ajang Singapore Air Show. Kebiasaannya di ajang pameran kerdigantaraan di Singapura itu diumumkan kontrak-kontrak pembelian persenjataan berbagai negara. Tapi untuk 11 Sukhoi SU35 seperti tidak ada tanda-tanda sebagai kabar baik.

Barulah menjelang malam di tanggal yang sama, rumor beredar di kalangan pemerhati pertahanan dan forum militer negeri ini bahwa kontrak sudah ditandatangani. Besoknya hanya satu media yang menginformasikannya.  Siang harinya ada konferensi pers singkat di Kemhan bahwa memang sudah ditandatangani. Media militer luar negeri seperti Jane’s dan media Rusia memberitakan kontrak pengadaan itu beberapa jam kemudian.

Tapi lucunya beberapa jam kemudian media Jane’s dan media Rusia mencabut kembali berita penandatanganan kontrak Sukhoi SU35 itu dengan alasan belum meyakinkan dan sahih. Alasan mereka belum ada penjelasan resmi dari pejabat Kemhan Indonesia setingkat menteri yang menginformasikannya. Pihak Rusia sendiri mengambil sikap wait and see atau acuh tak acuh untuk memberitakannya. Jadilah seperti sebuah drama pemberitaan yang penuh sandiwara.
Sang primadona SU35, selamat datang
Dua hari kemudian barulah semuanya menjadi jelas ketika media-media dalam negeri termasuk televisi dan kantor berita luar negeri memberitakan kontrak pengadaan alutsista senilai US$ 1,14 milyar itu. Indonesia akhirnya membeli 11 jet tempur canggih Sukhoi SU35  dari Rusia lengkap dengan persenjataannya.  Separuh dibayar cash separuhnya lagi dengan komoditas. Dua unit Sukhoi akan tiba pertengahan tahun depan.

Perjalanan pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 sungguh menarik diikuti.  Bukan saja karena durasi perjalanannya yang se usia dengan rezim ini tetapi juga informasi yang disampaikan berputar terus, baik soal jumlah, soal harga dan lain-lain. Media tidak mendapatkan informasi yang oke.  Mula-mula diberitakan hanya 8 unit, lalu berubah menjadi 11 unit dengan jumlah nominal anggaran yang disediakan sama.  Begitu disampaikan 11 unit dengan harga satuan tertentu, digoreng lagi dan ada yang bilang kemahalan. Lalu ramai lagi.

Kemudian soal bayar dengan komoditi ekspor, terjadi silang pendapat antara Kemhan dan Kemdag. Kemhan bilang urusan teknis komoditi ada di Kemdag, lalu Kemdag bilang kita tunggu kontrak induknya ditandatangani dan lain-lain. Lalu soal kapan tandatangan kontrak juga seperti “menghitung hari, bulan dan tahun” dan nama-nama bulan pun disebutkan, Nopember, Desember, Januari dan Februari. Juga nama-nama tahun, 2016, 2017, 2018. Akhirnya goal di hari Valentine.  Benar-benar perjalanan “cinta” jodoh pengadaan alutsista yang berakhir happy ending di hari kasih sayang.

Soal mengapa tidak dipublikasi luas, banyak asumsi yang bisa dikedepankan.  Salah satunya adalah karena romantika perjodohan kontrak ini disimak dengan seksama oleh jiran-jiran kita.  Asumsi yang lain adalah kita ingin low profile saja, biasa-biasa aja tidak usah dibesar-besarkan “akad nikahnya” dan tak perlu ada acara “resepsi pernikahan”. Jet tempur multi role sehebat Sukhoi SU35 sudah memberikan efek gentar karena kecanggihan teknologi dan manuvernya yang spektakuler itu. Jadi supaya tidak ada kesan high profile ya diam-diam saja.

Ketika Jane’s dan media Rusia meralat berita kontrak pengadaan jet tempur itu, forumer militer negeri jiran “bersorak kegirangan” seakan mendapat mainan baru untuk bahan diskusi hangat. Dan ketika berita kontrak itu memang benar-benar terjadi giliran forumer militer kita “bertepuk tangan meriah”.  Ini saja sudah menggambarkan betapa hebohnya lalulintas traffic di media sosial militer membahas soal tetek bengek jet tempur Sukhoi SU35.
F16 Viper, segera menyusul
Sesungguhnya kita membutuhkan skadron-skadron jet tempur berteknologi tinggi untuk mengawal langit biru nusantara dengan wibawa penuh. Oleh sebab itu prediksi kita setelah kontrak penandatanganan 11 Sukhoi SU35 ini dalam tahun ini juga atau paling tidak sampai menjelang Pilpres 2019 mendatang akan ada lagi kontrak pengadaan jet tempur. Calon kuatnya adalah jet tempur F16 Viper dan jumlahnya diprediksi mencapai 3 skadron atau 48 unit. Sementara 11 Sukhoi SU35 sangat dimungkinkan untuk ditambah 5-7 unit lagi untuk melengkapinya menjadi 1 skadron atau bahkan menjadi 2 skadron full armament.

Sejujurnya ada nafas kelegaan manakala perjalanan perjodohan kontrak Sukhoi SU35 ini telah dapat diselesaikan. Masih banyak PR lain di Kemhan dan TNI untuk menyelesaikan kurikulum pengadaan alutsista di tiga matra TNI sampai habis masa kerja MEF II tahun 2019.  Pengadaan kapal perang jenis fregat, kapal patroli, kapal selam, kapal buru ranjau, berbagai jenis peluru kendali, radar, pembangunan pangkalan milter Natuna, pengembangan armada TNI AL, pengembangan divisi tempur Kostrad dan lain-lain tentu memerlukan sinergitas Kemhan dan TNI.

Kita berharap program-program itu bisa berjalan baik termasuk penggunaan anggaran yang sesuai kebutuhan bukan keinginan.  Kemhan mendapat alokasi anggaran terbesar dan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Kita sangat menginginkan TNI tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan yang disegani karena kekuatan itu akan menjadi marwah kebanggaan ber NKRI sekaligus penggentar bagi pihak asing yang ingin mengacak teritori negeri kita.

****
Jagarin Pane / 23 Februari 2018

Friday, February 16, 2018

Rencana Berikutnya


Setelah kontrak pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35, TNI AU akan diperkuat lagi dengan jet tempur F16 Viper.  Menhan AS sudah berkunjung ke Jakarta, artinya peluang untuk mendapatkan 3 skadron F16 Viper terbuka lebar. Jarang lho kedatangan Menhan adidaya tidak membawa maksud dan tujuan serta hasil. Untuk jet tempur Sukhoi SU35 juga masih terbuka mendapatkan 5-7 unit lagi untuk melengkapinya menjadi 1 skadron.  Saat ini TNI AU memiliki 16 jet tempur Sukhoi SU27/30, 34 jet tempur F16 blok 52 Id, 36 jet tempur Hawk 100/200, 15 jet latih tempur T50 serta 15 pesawat tempur coin Super Tucano. Selamat untuk tentara langit Indonesia. 

****
Jagarin Pane/ 15 Feb 2018

Selamat Datang Sukhoi SU35


Akhirnya kontrak pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya ditandatangani tanggal 14 Pebruari 2018.  Inilah jet tempur yang paling dinantikan di bumi pertiwi dan sekaligus jet tempur paling menggerunkan sepanjang sejarah republik. Alhamdulillah.

****
Jagarin Pane / 15 Feb 2018

Wednesday, February 7, 2018

Proyeksi Serba Tiga

Program modernisasi militer Indonesia memasuki masa-masa paling menentukan, utamanya soal pengembangan kekuatan pasukan pemukulnya.  Program 100 hari Panglima TNI dengan jelas akan memulai merealisasikan penyebaran dan pengembangan postur kekuatan angkatan bersenjata segala matra. Dan semuanya adalah serba tiga.

Divisi pemukul strategis angkatan darat yang lebih dikenal dengan nama Kostrad akan mengembangkan diri menjadi tiga Divisi tempur modern dengan markas pusat Divisi III ada di Makassar sementara satu Brigade tempur Kostrad akan ditempatkan di Papua. Divisi yang sudah ada sampai saat ini, Divisi I bermarkas di Cilodong Jawa Barat dan Divisi II di Singosari Malang. Kekuatan pasukan pemukul elitenya diprediksi akan mencapai 50 ribu prajurit.

Divisi Marinir yang lebih dikenal dengan Pasmar akan dikembangkan menjadi tiga  Pasmar dimana Pasmar ketiga akan berpusat di Sorong Papua.  Saat ini Pasmar I ada di Jakarta dan Pasmar II di Surabaya. Prediksi jumlah pasukan Marinir dengan tiga  Pasmar berjumlah 35 ribu pasukan. Demikian juga dengan Armada ketiga yang sedang dikembangkan akan berpusat di Sorong.  Saat ini ada dua Armada kekuatan TNI AL, Armada Barat di Jakarta dan Armada Timur di Surabaya.
Martadinata Class
Komando operasi angkatan udara tidak mau ketinggalan dengan membentuk Koopsau III di Biak. Pangkalan angkatan udara Biak secara infrastruktur sudah ready for use sebagai markas Koopsau III sekaligus home base jet tempur. Saat ini Koopsau I berkedudukan di Jakarta dan Koopsau II berada di Makassar. Jumlah pesawat tempur berbagai jenis yang dimiliki saat ini berjumlah 116 unit. Prediksi pesawat tempur sampai MEF ketiga adalah 180 unit.

Yang menarik adalah pengembangan serba tiga itu juga membutuhkan tambahan 3 skadron jet tempur untuk TNI AU, tiga puluhan kapal perang untuk TNI AL dan tigaratusan Tank berbagai jenis yang dibutuhkan TNI AD. Dan yang juga tidak kalah penting adalah semua program hebat itu akan diselesaikan dalam serial MEF yang ketiga periode 2019-2024.

Angkatan laut saat ini sedang mempersiapkan pembangunan tiga kapal selam lanjutan setelah tiga kapal selam Nagapasa Class selesai tahun ini. Sangat dimungkinkan serial kerjasama transfer teknologi PT PAL dengan Korsel akan terulang kembali. PT PAL saat ini juga sedang mempersiapkan  pembangunan tiga Kapal Cepat Rudal, setelah sukses membangun kapal jenis yang sama “Sampari Class” sebanyak tiga unit.

Setelah memproduksi tigaratusan Panser Anoa berbagai versi PT PINDAD dalam program MEF ketiga juga direncanakan akan membangun tigaratusan Medium Tank Kaplan produksi bersama Turki dan Indonesia. PT Pindad telah banyak memproduksi berbagai jenis alutsista untuk TNI AD termasuk senjata organik perorangan yang membuat TNI AD selalu juara tak tergoyahkan dalam setiap lomba tembak militer tingkat dunia.
Parade HUT TNI
Angkatan udara membutuhkan tambahan tiga skadron tempur dengan harapan terbesar ada di jet tempur paling menggiurkan F16 Viper. Kedatangan Menhan AS beberapa waktu lalu di Jakarta mengisyaratkan kuat kita akan segera mendapatkannya. Kekuatan pukul TNI AU saat ini ada di 8 skadron pesawat tempur. Sementara itu tambahan tiga radar militer diprediksi akan tiba dalam sisa waktu MEF jilid dua saat ini.

Pembentukan armada ketiga TNI AL membutuhkan sebaran kapal perang berbagai jenis.  Dari jumlah 150 kapal perang berbagai jenis yang dimiliki saat ini, angkatan laut Indonesia akan menambah paling sedikit 30 kapal perang baru.  Sampai selesainya MEF ketiga nanti jumlah KRI akan mencapai 180 unit KRI.

Mulai tahun ini program sebaran kapal perang RI dialokasikan untuk 14 pangkalan angkatan laut (Lantamal). Dengan asumsi setiap Lantamal disediakan 3-4 kapal perang berkualifikasi patroli maka ada  sekitar 50 KRI disebar di seluruh Lantamal. Ini adalah strategi untuk gerak cepat armada mengantisipasi pelanggaran teritori laut.

Kita optimis penambahan jumlah armada kapal perang TNI AL bisa tercapai karena dua pertiga kapal perang yang dibutuhkan itu bisa dibuat di PT PAL dan galangan kapal swasta nasional lainnya. Sementara sepertiganya dilakukan melalui kerjasama produksi dengan pihak luar atau membeli utuh untuk kapal perang berkualifikasi Destroyer.

Kita meyakini di babak-babak akhir pemerintahan saat ini selama satu tahun ke depan akan banyak kontrak pangadaan alutsista skala besar.  Dan barangnya akan datang pada saat MEF ketiga berlangsung. Misalnya kontrak pengadaan kapal perang jenis perusak kawal rudal, kapal selam, jet tempur, radar, uac/ucav, tank amfibi dan lain-lain. Ini yang paling realistis. Tapi bisa saja ada kejutan yang lebih hebat misalnya kontrak pengadaan kapal perang jenis Destroyer.

Perjalanan MEF kita adalah pola ukur hitung untuk menyelesaikan perkuatan TNI yang selama puluhan tahun kurang mendapat perhatian. Dampaknya kita sudah tertinggal jauh dengan militer jiran. Oleh sebab itu diniscayakan dengan terus memompakan anggaran pertahanan yang besar dalam program MEF berkesinambungan ketertinggalan itu bisa disejajarkan.

Pertahanan sebuah negara adalah bagian dari kehormatan bernegara, marwah berbangsa. Maka kesediaan mengikhlaskan porsi anggaran pertahanan dalam jumlah terbesar adalah jalan barokah untuk perjuangan perjalanan berbangsa dan bernegara. Jalan barokah itu akan semakin karomah manakala penggunaan anggarannya dipergunakan untuk kemashlahatan tentara, perkuatan alutsista dan kesejahteraan prajurit. Itu saja Jenderal.
****

Jagarin Pane / 07 Feb 2018

Saturday, January 20, 2018

Ketika Harapan Kembali Bersinar

Program jilid dua dari apa yang sudah dikenal selama ini, Minimum Essential Force TNI (MEF)kembali memantik harapan bugar di hari-hari terakhir ini dengan berita-berita yang membangkitkah ghiroh bertentara. Perkuatan militer Indonesia dengan pintu gerbang Kemhan memberikan angin segar program yang membungakan dalam tahun ini. Menambah sejumlah alutsista di segala matra dalam skala besar.

Tiga tahun terakhir ini berbagai jenis alutsista hasil program MEF jilid satu masih terus berdatangan secara bergelombang. Sementara MEF jilid dua sedang mempersiapkan pesanan alutsista skala besar antara lain rencana membeli dua kapal perang besar jenis Destroyer, penambahan kapal selam baru, penambahan  skadron jet tempur selain jet tempur Sukhoi SU35, penambahan 12 radar, melanjutkan program PKR dan lain-lain.
CN235 MPA untuk TNI AL yg diserahkan bulan Januari 2018 
Sementara itu Menteri Pertahanan AS tanggal 21-22 Januari 2018 berkunjung ke Jakarta. Tentu ada tawaran alat militer yang dibawanya. Maka peluang menambah jet tempur made in AS seperti F16 Viper sangat terbuka lebar. Termasuk menambah kuantitas Helikopter serbu paling canggih Apache dari pesanan yang sekarang berjumlah 8 unit bisa ditambah menjadi dua kali lipatnya.

Seperti diketahui pesanan alutsista yang didatangkan dari AS saat ini antara lain 24 jet tempur F16 blok 52Id, 28 Helikopter Bell 412EP, 8 Helikopter Apache. Dalam pandangan kita kunjungan Menhan AS salah satunya adalah memperkuat kemitraan pertahanan strategis. Bahasa militernya adalah membawa daftar alutsista yang boleh dibeli Indonesia. Bahasa bisnisnya nawarin barang untuk dipakai dengan sejumlah harga paketan.

Dalam daftar anggaran belanja yang beredar luas selain membeli 11 jet tempur Sukhoi SU35, Indonesia akan membeli 2 kapal perang jenis Destroyer, 2 kapal perang jenis PKR 10514, 2 kapal selam, sejumlah Radar GCI, UAV, Helikopter Serbu,  Helikopter Angkut, Peluru Kendali, Tank, Tank Amfibi, Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat, MLRS Astross, Pesawat Amfibi, Pesawat Latih dan lain-lain.
Hercules kita dalam latgab TNI skala besar
Sementara 15 jet latih tempur T50 Golden Eagle sedang dipasangi radar canggih yang mampu mendeteksi berbagai sasaran secara jitu, dan mempersenjatainya dengan peluru kendali.  Jadi fungsinya menjadi baby falcon cabe rawit, kecil-kecil menyengat, sangat berguna untuk ronda udara. Memang kalau untuk patroli udara serahkan saja dengan F16 atau Golden Eagle.  Jangan biarkan jet tempur kelas berat Sukhoi membawa misi patroli rutin, tidak efektif.

Di kurikulum MEF Indonesia diwajibkan menambah perbendaharaan 3 skadron jet tempur. Maka harapan besar dari kedatangan Menhan AS adalah memberikan lampu hijau percepatan bagi pengadaan minimal 2 skadron jet tempur F16 Viper, penambahan Apache dan membeli Chinook. Ruang udara yang luas mengharuskan Indonesia memiliki setidaknya 11 jet tempur yang disebar di berbagai pangkalan angkatan udara.

Untuk matra laut penambahan 2 kapal selam sangat membesarkan hati.  Sampai dengan akhir tahun ini kita punya 5 kapal selam.  Maka proyek pengadaan 2 kapal selam baru akan semakin memberikan kekuatan pertahanan bawah air yang bergigi. Termasuk pengadaan 2 Destroyer dan 2 Fregat ditambah sejumlah Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat, LPD, LST akan menjadikan angkatan laut kita semakin tegar dan kuat.

Kehadiran armada BAKAMLA atau Coast Guard Indonesia sangat membantu meringankan tugas TNI AL dalam pengamanan laut khususnya pencurian ikan.  Armada BAKAMLA saat ini sedang dikuatkan dengan pembangunan kapal-kapal baru aneka ukuran. Salah satunya yang terbesar berukuran 115 meter baru saja selesai.  Ini sangat menggembirakan dan dalam lima tahun ke depan armada BAKAMLA akan mencapai 45-50 kapal baru berbagai ukuran.

Di ASEAN ada trend negara jiran melakukan perkuatan militerya secara signifikan. Misalnya Vietnam dan Filipina yang berkonflik teritori dengan Cina di Laut Cina Selatan. Meskipun tidak ada konflik teritori Myanmar, Singapura dan Thailand juga memperkuat militernya. Hanya Malaysia yang agak tersendat pembangunan militernya. Belanja militernya hanya beli yang kecil-kecil saja. Tidak ada belanja militer skala besar selama 7 tahun terakhir ini.

Harapan baru kembali diperlihatkan sinarnya, manakala program MEF jilid dua sudah menggeliat untuk kembali memesan sejumlah alutsista gahar dalam jumlah banyak. Tapi meskipun dibeli dalam jumlah besar tetap saja masih belum mencukupi esensi minimal sebagaimana yang dipersyaratkan. Perlu tiga tahap MEF agar kuantitas minimal alutsista yang diinginkan bisa tercapai.

Kita mengapresiasi program-program Kemhan meski sering kali urut dada atas kinerja eksekusi yang diperlihatkan.  Contohnya dalam proses kontrak Sukhoi SU35 yang bertele-tele.  Kemhan sebagai pemegang anggaran terbesar menjadi sorotan publik soal manajemen anggaran, soal mekanisme pengadaan alutsista.  Terlebih lagi soal komunikasi publikasi yang kurang terukur pesan kuatnya.

Harapan besar kita sandarkan pada kementerian pertahanan untuk membaguskuatkan militer kita. Semoga program MEF jilid dua yang tersisa satu setengah tahun ini mampu dikejar dengan semangat kerjasama dan koordinasi yang menjulang. Anggaran udah disediakan maka belanjalah dengan spirit menguatkan kehebatan dan kedaulatan teritori sembari mengurangi ego sektoral one man show.
****
Jagarin Pane / 20 Januari 2018


Monday, January 15, 2018

Angin Segar Alutsista 2018

Angin segar Alutsista yang mau datang tahun ini :
- 6 Pesawat latih Grob -Jerman
- 6 Pesawat latih KT1 Wong Bee -Korsel
- 7 Helikopter AKS Panther(4 sdh diterima) -Perancis
- 5 Helikopter Apache (3 sdh diterima) -AS
- 6 Helikopter Fennec (6 sdh diterima) -Perancis
- 2 Pesawat angkut Hercules ( 7 sdh diterima) -Australia
- 2 Radar militer Weibel -Denmark
- 1 Kapal selam KRI404 -Korsel-PAL
- 1 Kapal LPD (Landing Plattform Dock) -PAL
- 4 Kapal LST (Landing Ship Tank) -Galangan swasta nasional
- 4 Battery Peluru Kendali Mistral -Perancis
- 4 Battery Peuru Kendali Starstreak -Inggris
- 2 Battery Peluru Kendali Nasams -Norwegia

Sign pengadaan dan proses buat :
- 11 Jet tempur Sukhoi SU35 -Rusia
-   6 Helikopter Combat SAR Caracal -Perancis
-   3 Helikopter Bell 412 EP -AS
-   2 Pesawat  CN295 -Spanyol - PT DI
-   9 Pesawat Casa 212 -PT DI
-   1 Pesawat CN 235 -PT DI
-   4 KCR (Kapal Cepat Rudal) -PAL
-   2 Kapal PKR Sigma 10514 -Belanda-PAL
-   2 Kapal buru ranjau -Jerman
-   1 Kapal OPV -Galangan swasta nasional
-   1 Kapal selam KRI405 -Korsel-PAL
-   4 Kapal Patroli Cepat -Galangan swasta nasional
****
Jagarin Pane / Dari berbagai sumber

Monday, January 8, 2018

Kita Ada Di MEF Dua Lho

Matahari 2018 masih diganggu mendung dan musim hujan yang basah. Bumi nusantara yang hijau permai dan basah ini adalah anugerah yang luar biasa menghantarkan warga negaranya untuk menghirup oksigen segar dengan wajah bugar bersama payung kedaulatan negeri kepulauan NKRI. Payung kedaulatan itu saat ini sedang diperkuat, digagahhebatkan agar mempunyai nilai marwah. Lewat program MEF yang digagas sejak delapan tahun lalu, garda pertahanan negeri ini sedang diperkuat.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah kinerja MEF yang saat ini memasuki episode kedua menampilkan catatan bugar dan segar sebagaimana asupan oksigen hutan tropis, kayaknya beda deh. Kemhan kita yang saat ini berada dalam MEF jilid dua belum mampu menunjukkan kebugaran dalam manajemen komunikasi, koordinasi dan konfirmasi unjuk kerja khususnya pengadaan alutsista. Padahal perjalanan MEF kedua sudah memasuki tahun ketiga setengah.

Apache datang, karya MEF I
MEF (Minimum Essential Force) adalah nama program modernisasi militer Indonesia yang sudah dimulai sejak tahun 2010. Pada program MEF pertama  (2010-2014) jajaran Kemhan telah menunjukkan kelasnya sebagai unit kinerja yang mampu menghasilkan perkuatan alutsista  di segala matra dengan anggaran yang disediakan. Hasilnya bisa kita lihat sekarang dengan kedatangan berbagai jenis alutsista yang canggih, gahar dan berteknologi terkini.

Tetapi jujur harus kita akui program MEF yang sekarang belum menunjukkan kinerja yang kinclong padahal usia program telah memasuki tiga setengah tahun masa kerja. Tidak ada catatan tinta emas yang mau dituliskan sebagai piagam kebagusan kerja. Belum ada program pengadaan alutsista yang bernilai greget untuk bisa disematkan sebagai prestasi kerja.

Proyek pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 terkesan bertele-tele. Terakhir drama yang diperlihatkan adalah saling lempar bola panas antara Kemhan dan Kemdag. Sementara Rusia sejatinya merasa keki dengan permainan ping pong ini, padahal Papa Bear sudah setuju dengan model barter komoditas. Tapi atas nama persahabatan dan butuh uang dia tetap bersabar melihat tingkah polah pembeli yang satu ini.

Setelah menyelesaikan program pembangunan 2 kapal perang jenis Sigma PKR 10514 Martadinata Class, kerjasama transfer teknologi dengan Belanda, belum ada lagi kabar untuk melanjutkan pembangunan kapal perang ketiga dan keempat. Logikanya kalau mau mendapatkan ilmu transfer teknologi kapal perang haruslah membangun minimal 4 unit kapal perang agar ilmunya benar-benar lengket di benak para insinyur kita.
24 F16 Blok 52 Id datang, karya MEF I
Sudah ada contohnya dengan proyek transfer teknologi kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) Makassar Class bersama Korsel. Kita berhasil membangun 4 kapal perang LPD, dua dibangun di Korsel dua lagi di PAL Surabaya.  Kemudian bahkan kita dapat mengekspor 2 kapal perang sejenis ke Filipina murni buatan PAL. Dua-duanya sudah diserahkan kepada Pemerintah Filipina dan sangat membantu dalam operasi militer di Marawi baru-baru ini.

Pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class dengan teknologi Korea Jerman, satu sudah jadi, satu lagi mau diserahkan triwulan I tahun ini dan satu lagi sedang dikerjakan di galangan kapal nasional PT PAL Surabaya. Mestinya bangun lagi dua kapal selam jenis yang sama dengan berbagai penyesuaian di galangan PT PAL. Jangan mudah pindah ke lain hati.  Amanah dan istiqomah akan membawa kita ke derajat fathonah alias cerdas.  Cerdas teknologi dan cerdas bersikap.

Lain lagi dengan Drama “Tersanjung Tersandung Helikopter Agusta Westland AW101”.  Sudah ditolak Presiden Jokowi, masih juga memaksakan untuk tetap mengadakan 1 unit.  Ketika barangnya datang, lalu pada bilang, lho kok datang, kok gak bilang-bilang. Akhirnya si AW101 dimasukkan ke kandang.  KPK datang karena katanya 200 milyar melayang, lalu banyak yang meradang karena KPK mengundang atas nama Undang-Undang.

Anggaran terbesar yang dikucurkan untuk Kemhan tahun 2018 ini adalah bukti bahwa Pemerintah bersama DPR serius banget untuk menggagahkan tentaranya. Sudah terlalu jauh kita tertinggal dalam postur persenjataan TNI.  Maka kita kejar ketertinggalan itu.  Kita buka pengadaan alutsista model transfer teknologi seperti PKR10514, Kapal Selam, Tank. Kita beli Jet Tempur, Tank Amfibi, berbagai jenis Artileri, Peluru Kendali dan lain-lain.
KRI Nagapasa 403, karya MEF I
Juga program pengembangan jet tempur IFX bersama Korsel demi memberikan marwah pada industri pertahanan strategis dalam negeri dimasa mendatang. Ironinya beberapa waktu yang lalu tersiar ke publik Kemhan lupa mengalokasikan dana pengembangan jet tempur IFX yang harus disetor ke Korsel. Menteri Sri Mulyani sampai harus memberikan nasehat halus.

Kita tetap optimis dalam waktu dekat akan ada penandatanganan kontrak pembelian jet tempur Sukhoi SU35. Kita juga memprediksi akan ada lanjutan proyek pembangunan 2 kapal perang Sigma PKR jilid dua. Dan lanjutan pengadaan kapal selam keempat dan kelima melanjutkan kuantitas Nagapasa Class.

Dengan asumsi pada tahun pertama sampai tahun ketiga Kemhan menyelesaikan kedatangan proyek pengadaan alutsista MEF I.  Maka mestinya mulai tahun ini greget proyek pengadaan alutsista skala besar akan diperlihatkan, seperti tambahan minimal 1 skadron jet tempur selain Sukhoi SU35. Pengadaan radar militer, penyelesaian pangkalan militer Natuna, lanjutan proyek Tank Kaplan, produksi Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat dan lain-lain.

Tetapi lebih dari itu unjuk kerja sebuah unit kerja strategis dalam menyelesaikan amanah yang dipercayakan adalah lebih terhormat dengan memberikan informasi progres terkini.  Dengan bahasa manajemen yang tertata dan jelas. Disamping kematangan koordinasi, komunikasi dan konfirmasi sebagai pilar manajemen profesional. Publik bisa menilai kualitas kepemimpinan dari berbagai aspek, salah satunya tidak mencla mencle.
****

Jagarin Pane /08 Januari 2018

Wednesday, December 27, 2017

Yang Terbaru 2017

6 Helikopter Caracal memperkuat TNI AU
3 Apache datang, 5 lagi Maret 2018

6 F16 Blok 52 Id datang, lengkap jadi 24 unit
20 unit Artileri Swa Gerak sudah datang
1 dari 11 unit Helikopter anti kapal selam Panther
7 Hercules dari 9 yg dipesan dari Australia sudah datang
PKR 10514 KRI 331 dan KRI 332 sudah operasional
KRI Bimasuci buatan Spanyol sudah datang
KRI Nagapasa403  sudah datang, 2 lagi menyusul
Oerlikon Skyshield sudah disebar ke pangkalan udara
MLRS Vampire sudah masuk arsenal Marinir
Tank Pindad sudah berparade
Panser Pandur II sudah unjuk diri
Rudal Starstreak sudah disebar ke Obyek Vital
M113 Arisgator sudah sampai
Jagarin Pane / 27-12-2017
****