Sunday, February 5, 2012

Mereka Mulai Menyadari

Tiada hari tanpa belanja alutsista, mungkin itulah ungkapan gaya bahasa yang pantas didengungkan ke ruang publik karena memang selama setahun terakhir ini saja daftar belanja alutsista kita jelas terpampang di papan pengumuman semua media Indonesia baik baca, kaca dan maya.  Jelasnya  kita sedang menunggu kedatangan jet-jet tempur Sukhoi, F16, T-50 Golden Eagle dan pesawat jenis lain misal Super Tucano, Hercules, C295, UAV.  Kemudian Fregat, Kapal selam, Kapal cepat rudal, Kapal cepat trimaran, LST, Main Battle Tank, Panser, Rudal SAM, MLRS, Howitzer dan lain-lain.  Ada juga berbagai jenis helikopter misalnya Mi35, Mi17, Bell 412 Ep, Cougar, heli anti kapal selam.

Bangga, wow tentu saja.  Coba saja tanya pada seluruh rakyat bangsa ini melalui survey dan sampling atau metode lain, mayoritas kita akan mengatakan  setuju dan pantas.  Memang pantas dong, wong ini untuk eksistensi bangsa, untuk menjaga pagar halaman agar tidak diusik oleh “celeng” sebelah rumah sampai-sampai patok batas pun dikira umbi atau talas.  Pantas juga KSAD kita bilang lugas di rapat DPR beberapa waktu lalu :Lu cabut patok gua sikat !  kan jelas arahnya.  Atau statemen Menhan beberapa bulan lalu tentang tapal batas Tanjung Datu Kalbar: Kalau berani digeser kita serang.  Dua statemen keras ini tentu sudah membuat si “celeng” sebelah rumah berhitung ulang.
Barisan Tank Scorpion dalam Latgab TNI di Sangatta
Kita pun sudah bisa membayangkan dalam sebuah seremoni lima oktober tahun 2012 dan seterusnya akan ada bintang-bintang alutsista baru yang dipamerkan.  Seremoni birthday TNI tahun ini saja bintang yang bakalan muncul setidaknya Super Tucano, UAV, Sukhoi tambahan, adiknya Clurit, wajah baru Trimaran, BMP3 F tambahan, MBT, rudal SAM jarak menengah dan lain lain.  Lalu di seremoni 2013 muncul lagi bintang baru Golden Eagle, MLRS, LST, Fregat, Falcon upgrade, Sukhoi lagi, saudaranya Clurit yang lain.

Nah, bintang-bintang baru itu kalau mau diuji bersama paling layak dilakukan antara  awal sampai dengan pertengahan tahun 2014 melalui show of force latihan gabungan TNI berskala besar.  Dijamin pasti lebih spektakuler dengan gelar alutsista baru dalam jumlah besar karena pada saat itu kita sudah punya kuantitas dan kualitas alutsista yang bisa diandalkan.  Penambahan alutsista itu antara lain ada 80 tank amfibi BMP3F yang sangar itu, ada 100 MBT Leopard, ada tigapuluhan KCR termasuk 6 dari Clurit Class, ada 3 Fregat anyar bergabung dengan 6 Fregat eksisting, ada 3 Trimaran pakai rudal.  Kalau mau di list banyak banget yang sudah berdatangan, maklum lagi panen raya.  Kalau ini digabung dengan alutsista eksisting sudah pasti bernilai gahar. Nah uji kualitas tempurnya ada di latihan gabungan itu sehingga integrasi sistem pertempuran dengan beragam jenis alutsista tadi akan menggambarkan dahsyatnya suasana kebatinan dan nilai tempur yang dimiliki.  Efek getarnya banyak celeng berubah menjadi kambing atau remeh menjadi ramah.  Dan ini bagian dari kampanye militer untuk jangan menjual persoalan teritori yang sudah jelas dasar hukumnya kalau tidak ingin digebuk.

Dalam bingkai mikro penambahan alutsista TNI diniscayakan akan mampu meredam pelecehan teritori sekaligus penguat posisi bargaining diplomasi karena sejatinya kekuatan pengawal republik adalah untuk payung ini.  Dalam ruang yang lebih luas adalah untuk mengantisipasi dinamika kawasan Asia Tenggara yang sulit diprediksi dengan konflik Laut Cina Selatan. Kalau prajurit TNI diajak gelut fisik, adu endurance dan survival dengan prajurit negara lain kita yakin yang tampil sebagai pemenang adalah prajurit TNI karena disitu letak keunggulan hulubalang kita. Bahkan dalam berbagai kejuaraan adu tangkas menembak prajurit TNI selalu menempati posisi puncak, itu tak terbantahkan. Namun dalam upaya menguasai perkembangan teknologi pertempuran kita perlu meng update dan memodernisasi alutsista karena itu wajib hukumnya. Sekali anda melalaikan kewajiban ini maka prajurit TNI yang unggul kualitas personal itu akan menjadi pasukan gagah gemulai.
Konvoy Armada TNI AL pulang dari Latgab Sangatta
Perkuatan TNI sebenarnya adalah perkuatan pagar agar tak mudah dimasuki oleh maling atau rampok sumber daya.  Komparasinya sederhana, ada sebuah rumah besar dan kaya tapi pagarnya hanya pagar lapuk. Lalu datang rampok, menjarah menguras, dan si empunya rumah hanya mampu teriak tanpa mampu memberikan  perlawanan.  Si rampok tertawa terkekeh-kekeh, sembari bilang: Kasian deh lu.  Kalau kita lihat peta dunia atau google earth, negeri ini luar biasa strategisnya posisi geografisnya, kekayaan alamnya, rentang pantainya, jumlah penduduknya.  Lalu kalau bicara pagar halamannya, alamak, parah kali kawan, mirip seperti pemilik rumah mewah tadi, cuma bisa teriak tanpa melakukan perlawanan.

Nah sekarang pagar itu sedang dibenahi, diperkuat, dipergahar.  Di laut kekuatan armada ditambah menjadi 3 armada tempur dengan kekuatan minimal 274 KRI.  Pangkalan utama kekuatan armada ada di Tanjung Pinang, Makassar dan Sorong.  Jakarta dan Surabaya tetap menjadi pangkalan utama karena disana ada Kolinlamil untuk mobilisasi pasukan Marinir dan TNI AD. Kekuatan pasukan  Marinir ditambah 1 divisi sehingga menjadi 3 divisi.  Matra udara menambah skuadron tempur dan angkut seirama dengan kedatangan alutsista utama pesawat tempur dan angkut.  Satuan-satuan radar diperbanyak, pangkalan-pangkalan TNI AU diperkuat tidak saja dengan hanud titik (rudal jarak pendek) tetapi juga dengan hanud area ( rudal jarak menengah).  TNI AD tidak ketinggalan dengan menambah Heli tempur, Heli angkut, MBT, Panser, MLRS, Rudal, Roket, Howitzer. Kostrad ditambah menjadi 3 Divisi selain penambahan batalyon tempur Kodam di beberapa daerah perbatasan.

Perkuatan pengawal republik ini tidak lepas dari ruang pantau intelijen dan hankam negara tetangga, utamanya Malaysia, Singapura dan Australia.  Bahasa tubuh ketiga jiran ini menampakkan reaksi berbeda.  Australia misalnya memberikan warning terhadap peningkatan kekuatan TNI sebagai sebuah upaya menyetarakan keseimbangan kawasan seraya memberikan ruang perspektif untuk bekerja sama  lebih erat antar militer kedua negara.  Meskipun begitu aura kekhawatiran bangsa bule yang “nyasar” ke selatan Asia ini tetap bergema.  Ini ciri khas sekalgus arogansi Barat Anglo yang merasa tidak ingin harkatnya disaingi.
Pasukan Marinir dalam sebuah upacara militer
Sikap Singapura relatif lebih tenang dan diam. Negeri ini memang jarang mengumbar pernyataan reaksi terhadap perkembangan militer negara tetangganya.  Sikap diam ini mencerminkan kedewasaan emosional hankam mereka.  Singapura cenderung lebih suka tak pamer khawatir,  meski secara intelijen mereka sangat ingin tahu alutsista apa lagi yang akan dibeli oleh Indonesia.  Lalu bagaimana dengan Malaysia yang dalam Pameran LIMA akhir tahun silam tak jua jadi menambah arsenal udaranya meski sempat menggadang-gadang Typhoon. Komunitas militer yang banyak berdiskusi dengan jiran sebelah bisa membaca suasana hati mereka.  Sebelumnya ada semacam arogansi terhadap keunggulan alutsista yang mereka miliki terhadap RI.  Namun sejak negeri ini melakukan belanja alutsista secara besar-besaran, sikap itu sudah jauh berkurang dan bahkan berganti dengan sikap, menyadari bahwa negeri ini tak bisa disikapi dengan kesombongan militer.  

Inilah yang disebut efek gentar dan getar. Perkuatan alutsista TNI bukan dimaksudkan untuk ngajak gelut tetangga tetapi sebagai penguat dan penggentar agar jiran tak lagi remehkan teritori RI.  Kekuatan militer sejatinya adalah untuk menjaga nilai-nilai kesetaraan dalam hidup bertetangga, menjadi payung bargaining dalam langkah diplomasi untuk penyelesaian sengketa batas wilayah sekaligus menjadi kekuatan pukul terakhir demi eksistensi teritori yang diyakini benar.  Itulah kodrat eksistensi dan harga diri.  Sama seperti eksistensi diri kita sebagai pribadi yang bernama manusia, pada dasarnya suka dengan nilai-nilai kebenaran universal, kebersamaan, kesetaraan, saling menghargai dan menghormati.  Jika nilai-nilai ini dilanggar maka kodrat marah pun muncul dipermukaan wajah.  Sabar juga bagian dari kodrat tadi yang dianalogikan sebagai kekuatan bargaining menahan diri.  Nah kalau itu tak jua menemukan titik selesai, ya gelut saja demi eksistensi dan harga diri. Dan itu sah.
*******
Jagvane, 05 Peb 2012


Thursday, January 26, 2012

Leopard Diambang Pintu

Heboh tentang Main Battle Tank yang bernama Leopard benar-benar menjadi headline seluruh media Indonesia selama dua pekan ini, baik media cetak, layar TV maupun media online.  Berbagai talkshow digelar di layar kaca, berbagai komentar dipajang di media cetak dan online, berbagai pengamat dan “pengamat” tiba-tiba jadi pada pintar menggurui seakan-akan dia lebih tahu dari user. Kalau mau diranking dalam proses pengadaan alutsista TNI maka rencana pengadaan 100 MBT ini menduduki ranking pertama The Hit of Alutsista mengalahkan lagu jazz “hibah F16” dan lagu dangdut “kapal selam ecek-ecek” beberapa waktu yang lalu.

Seperti sudah diprediksi oleh majalah Tempo, hiruk pikuk MBT kelas berat ini dipicu oleh pola beli yang dianut Mabes TNI dan Kemhan yang membuat makelar alutsista keki hati lalu melakukan gerakan klandestein.  Kasad pernah bilang bahwa pola beli MBT Leopard adalah G to G (antar pemerintah) bukan B to B  (bahasa goodnya, business to business tapi sering diartikan broker to broker).  Nah ini yang membuat suasana pasar alutsista berjenis kelamin MBT menjadi hingar bingar karena preman pasarnya mau diusir sama “Satpol PP” alias tidak dilibatkan karena mengakibatkan high cost.
Sang Leopard yang memikat
Celakanya “pengamat” dadakan dan pengamat yang “itu-itu juga” yang ngomong di beberapa media terpancing untuk ikut-ikutan ngomong sambil numpang populer bahwa  MBT Leopard tidak cocok dengan kontur tanah RI, MBT Leopard tidak cocok dengan iklim hutan, MBT Leopard  tidak cocok dengan beban jalan raya.  Lalu puncak pertarungan final “Copa Del Leopard” itu digelar secara resmi di ruang Komisi I DPR tanggal 24 Januari 2011.  Kesimpulannya Pemerintah dan DPR sepakat dengan pengadaan MBT, walau tidak harus Leopard.  Lalu bagaimana dengan alasan-alasan yang dikemukakan itu, yang tidak cocoklah, yang terlalu beratlah dan sebagainya.  Artinya gerilya yang dilakukan broker alutsista sejatinya hendak mementahkan Leopard lalu bisa jadi digantikan dengan MBT jenis lain atau setidaknya hendak memperlambat laju pengadaan MBT Leopard sembari perlahan memasuki  inner cyrcle, syukur-syukur jadi B to B atau G to B, sini pemerintah sono broker.

Sebagai anak negeri yang mendambakan pertumbuhan kekuatan alutsista TNI yang gahar kita merasa miris dengan perilaku sebagian anggota parlemen dan pengamat amatiran yang kelihatannya bersuara jernih dari hati sanubari yang bening tetapi ternyata menyimpan dan berselingkuh dengan pesan dari hati yang lain. Sarkasnya, bukan membela yang benar tetapi membela yang bayar.  Retorika bicaranya memberi keyakinan pada khalayak seperti sebuah firman atau sabda yang paling benar, mimik wajah mirip pemain sinetron mak lampir. Benar-benar sempurna aktingnya.  Lalu ketika sampai di rumah jam 23.00 sembari melepas jas dan dasi di kamar tidur, lalu bercermin di kaca wastafel sambil bergumam : kutipu kau. Tak tahu kita maksud kalimat itu, dia menipu hatinya atau dia menipu semua orang.  Tapi hati kan tak bisa ditipu, berarti dia menipu diri sendiri.

Pengadaan alutsista  TNI adalah sebuah proyek mega pangkat mega.  Nilai sebuah arsenal gentar dan strategis seperti 3 kapal selam Korsel itu saja mencapai US$ 1,08 Milyar. Nilai anggaran pengadaan alustsista yang sudah disepakati antara Pemerintah dan DPR untuk tahun 2010-2014 berjumlah 150 trilyun rupiah.  Dari jumlah itu belum semua terpakai, artiya masih banyak jenis dan jumlah alutsista yang akan dibeli atau diadakan TNI segala matra.  Maka bisa dibayangkan betapa seksinya Kemhan dan TNI dilirik dan dirayu produsen alutsista. Yang paling dominan berperan tentu ya makelar alutsista dengan tampilan raut wajah bisa jadi seperti malaikat tapi suatu saat bisa jadi mirip gendoruwo.

Kita berkeyakinan bahwa MBT Leopard akan tetap menjadi pilihan TNI AD karena sesungguhnya kesejatian dan jati diri sebuah MBT adalah Leopard.  Dibanding-banding dengan rekan seperingkatnya seperti Abrams, Merkava dan T90, Leopard adalah yang terbaik.  Namun yang terpenting dari semua itu adalah nilai jual yang ditawarkan Belanda lebih murah, barangnya sudah ada, negara penjualnya lagi butuh uang.  Ini namanya merespons iklan baris yang membold kata  bu jlcpt (butuh uang jual cepat).  Leopard itu sudah dikaji jauh-jauh hari oleh TNI AD, dan dialah yang terbaik.  Tetapi waktu itu duitnya belum ada, jadi disimpan dulu di lemari arsip sembari berdoa, semoga dilimpahkan rezeki yang halal dari rakyat Indonesia untuk beli si Leopard.  

Nah baru Nopember 2011 ada lampu hijau penggunaan anggaran, jumlahnya 14 trilyun untuk TNI AD, lalu lemari arsip tadi dibuka kembali.  Sang Komandan bilang dengan wajah cerah, doa kita dikabulkan.  Ya iyalah wong sejak negara ini merdeka sampai today kok belum punya MBT ya kebangetan amat.  Sekadar catatan jumlah 14 trilyun itu bukan hanya untuk beli MBT tapi masih ada jenis alutsista lain yang termasuk daftar belanjaan TNI AD.  Lalu gerak cepat dilakukan karena ada negara pemakai mau jual Leopard, dipilih-dipilih katanya, barang sudah ada, masih baru jarang dipakai.  Begitu sapa si penjual.

Hasil final Copa del Leopard itu tentu memberikan harapan baru bahwa  kata kuncinya adalah semua sepakat dengan MBT.  Langkah ke depan ini tentu adalah membangun komunikasi dan saling pengertian dengan DPR.  Ini yang terpenting agar keinginan user bisa dipahami dan memahami bahwa Leopard yang terbaik.  Dulu ketika terjadi jalan buntu tentang pengadaan F16 antara yang baru dan second, yang dilakukan adalah membangun komunikasi efektif, informal, setara, dan rasional antara Pemerintah/Kemhan dan DPR Komisi I untuk menyamakan persepsi dan akhirnya disetujui pengadaan 30 F16 yang disetarakan dengan blok 52.

Dengan begitu ruang untuk berdiskusi secara lebih luas dan lapang dikedepankan, tak juga harus dirilis media, biarlah semua berjalan dengan porsinya untuk menuju sebuah titik temu. Dengan begitu jua sang MBT yang digadang-gadang dan sudah di ambang pintu bisa hadir lebih rileks, bisa masuk ke ruang darat teritori NKRI, bisa ditempatkan di border bilamana diperlukan.  Judul tulisan ini pun sejatinya adalah kalimat doa agar sang Leopard yang sudah diambang pintu tidak lagi dihalangi dengan sejuta argumen emosional maju tak gentar membela yang bayar.  Dengan begitu mari kita satukan tekad dalam waktu dekat sang leopard sudah mendekat karena kita memang terpikat.
********
Jagvane / 26 Januari 2012




Friday, January 20, 2012

Selamat Datang KRI Nanggala

Berangkat menuju Korsel untuk Overhaul Des 2009 


Sampai di DSME Korsel utk Overhaul
Proses Overhaul untuk mempercanggih diri


Operasi Caesar hampir selesai, tinggal di cat
Selesai sudah proyek overhaul 2 tahun utk KRI Nanggala
Menjelang keberangkatan pulang ke Indonesia
*****
Jagvane / 20 Jan 2012

Saturday, January 14, 2012

Ada “Demokrasi” Dalam Pengadaan Alutsista

Bicara dana alutsista diluar spek teknisnya adalah bicara tentang manisnya gula sehingga ramai-ramai para semut mendatanginya.  Ada semut bule, ada semut ireng, ada semut hidung mancung, ada juga semut berwajah makelar. Bayangkan saja dengan kucuran dana 150 trilyun untuk masa lima tahun ini, berbagai jenis alutsista didatangkan ke markas brigade dan batalyon TNI.  Proses mendatangkan alutsista itu yang sejatinya membuat banyak semut berdatangan untuk ikut mencicipi manisnya gula alutsista.
Belum hilang dari ingatan kita ribut soal F16 misalnya apakah harus beli baru blok 52 sebanyak 6 biji atau menerima hibah 24 F16 jet second lalu di upgrade jadi setara blok 52.  Betapa riuhnya suasana “demokrasi” antara Komisi I DPR dengan Pemerintah.  Argumen yang dilontarkan sebagian kalangan parlemen di komisi itu terkesan emosional daripada rasional. Gaya bicara mereka seakan merasa lebih tahu dari Usernya, lalu mematok definisi lebih baik memilih beli baru 6 biji F16 dengan alasan lebih menggentarkan.  Maka cecak pun berdecak kagum dengan ketololan itu.  Bagaimana mungkin dengan 6 biji F16 baru itu bisa menggentarkan, padahal Singapura sudah punya 60 biji F16 blok 52 dan 24 F15 seri terbaru.  Pantas saja cecak pun berdecak.
Tank Leopard 2 yang digadang-gadang itu
 Meski  akhirnya usulan pemerintah untuk menerima hibah upgrade 24 F16 dari AS disetujui juga setelah melalui jalur ngambek karena ngembeknya tak digubris, toh simulasi demokrasi konyol yang dipertontonkan itu menjadi catatan tersendiri bagi rakyat cerdas sembari bergumam, apa memang iya itu suara hati rakyat, atau hanya suara mereka sendiri, atau ada suara lain yang dititipkan melalui suara anggota dewan.  Argumen yang dikedepankan sebagian anggota Komisi I tidak mencerminkan kualitas intelektual, lebih merefleksikan sikap asal bisa beda supaya kelihatan lebih menonjol “kualitas akunya”.
Kini isu terbaru bergulir lagi.  Kali ini tentang pengadaan 100 unit MBT (Main Battle Tank) Leopard 2 yang sudah digagas, dibicarakan lugas oleh KSAD, Mabes TNI dan Kemhan.  Bergegas pula mengunjungi negara pemiliknya yang memang mau menjualnya.  Lalu tiba-tiba saja ramai yang membicarakan pantas tidaknya MBT itu untuk tanah airku ini.  Kan jadi lucu kalau alasannya masalah bobot, tidak sesuai dengan kontur bumi nusantara, atau alasan lain mau perang dengan siapa, atau alasan yang dicari lagi, sepenting itukah MBT.
Sekali lagi rakyat cerdas harus bisa menangkap bahwa hiruk pikuk yang mengatasnamakan demokrasi itu boleh jadi adalah pesanan makelar alutsista jenis lain atau dari pabrik lain atau bisa saja pesanan dari negara lain agar kita tak usah beli MBT, atau kalaupun mau beli jangan yang Leopard. Intelijen makelar senjata bisa menyuarakan dirinya melalui orang dewan atau LSM  bahkan media yang tentu saja harus melalui “terowongan jalur gaza” agar tak ketahuan pamrihnya.  Melalui tangan orang lain yang punya gigi dimulailah kampanye anti MBT, atau kampanye anti Leopard, dengan harapan syukur-syukur ada perubahan merk sesuai keinginan makelar salesman tadi.
Pertanyaan substansinya adalah siapa yang lebih tahu dengan keunggulan satu jenis alutsista, ya tentu si User sendiri.  TNI AD butuh Leopard bukan karena bujuk rayu pabrikan Leopard, tetapi sudah melalui proses waktu dan kajian mendalam. Sangat kebetulan harganya lebih murah dari bandrol biasa.  Logikanya sederhana, diantara semua jenis MBT yang dianalisis, berdasarkan kajian teknis dan kegunaan terpilihlah Leopard, dan itu sudah lama dipendam.  Lalu ada dana untuk alokasi alutsista angkatan darat, maka dimulailah penjajakan dengan mengunjungi negara produsen.
Konvoy Tank AMX 13 Milik Batalyon Kav Tank Ambarawa
Kita  kadang merasa “lucu hati” dengan tingkah dan gaya anggota dewan yang merasa menjadi seperti tuhan untuk menentukan keputusan berdasarkan selera dia dan atau selera makelar alutsista yang joint venture dengan dia.  Bajunya pasti demokrasi, capnya parlemen, atas nama rakyat katanya.   Masih ingat dalam benak kita anggota dewan koar-koar bahwa border RI dicaplok Malaysia di kawasan Tanjung Datu Kalbar.  Publik merasa terbawa arus pernyataan itu tetapi terbukti kemudian tertipu dengan statemen itu yang jelas-jelas tak benar.  Lalu setelah semuanya diluruskan dan diputihkan karena  memang tak ada yang salah dengan border itu, si anggota dewan sedikit pun tak mampu mengucapkan kata maaf.  Ya itu tadi karena dia sudah merasa seperti tuhan, paling benar dalam segala hal.  Merasa menjadi pemilik rumah demokrasi sementara yang lainnya hanya mengontrak.
Hiruk pikuk dengan tema Alutsista biar kelihatan seperti berdemokrasi sebenarnya ada dasar hukumnya yaitu UUD maksudnya ujung-ujungnya duit. Makelar Alutsista bisa meminjam tangan berbagai pihak tak terkecuali tangan internal TNI dan Kemhan agar jualannya dibeli.  Hukum ekonomi alutsista ini sudah berlaku umum di berbagai negara di bumi ini.  Namanya juga salesman pasti berbagai cara ditempuh untuk mencapai goalnya.  Tak perlu diperdebatkan, kajian dari pihak pengguna lah yang menentukan jenis alutsista yang seperti apa yang hendak dibeli. 
Maka jika MBT dari jenis Leopard 2 yang terpilih selayaknya kita mendukung.  Yang perlu dikritisi adalah prosedur pengadaannya, tranparansi proses, kualitas barang yang akan diterima, kewajaran harga dan pola bayarnya.  Jadi agak sumbang terdengar ketika TNI AD butuh MBT Leopard lalu ada suara gentayangan di telinga membisikkan hasutan, kita tak perlu MBT karena bisa ambles, jangan pilih Leopard karena tak cocok dengan iklim kita.  Lebih baik beli yang ini atau pakai yang itu.  Nah ketahuan kan siapakah dia yang umbar omongan itu.
*******
Jagvane / 14 Januari 2012

Friday, January 13, 2012

Unjuk Kekuatan di Kota Tujuh Putri

Sebuah gelar kekuatan TNI dipertontonkan di bumi lancang kuning Riau bulan Desember 2011 lalu, tepatnya di sebuah kota pelabuhan minyak terbesar di pantai timur Sumatera, Dumai. Satu brigade pasukan pemukul reaksi cepat (PPRC) TNI dikerahkan ke kota asal muasal tujuh putri itu melalui penerjunan payung pasukan TNI AD dari batalyon 503 Mayangkara dan serangan amfibi dari batalyon infantri 3 Marinir. Ini bagian dari perhelatan Hari Nusantara yang jatuh setiap tanggal 13 Desember  yang bersumber dari Deklarasi Juanda tahun 1957.

Apa itu deklarasi Juanda yang dicetuskan tanggal 13 Desember  1957. Tak lain dan tak bukan isinya adalah mempertegas bahwa  Indonesia adalah negara kepulauan yang punya corak khas dan sejak dahulu kala kepulauan nusantara sudah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.  Dengan Keppres No 126 tahun 2001 deklarasi ini ditetapkan sebagai Hari Nusantara.
Persiapan pasukan Yon Kav 8 Tank untuk PPRC Dumai

Ada pertanyaan mengapa harus di Dumai padahal rencana semula di Poso.  Yang jelas karena kepanitiaan ada di tangan Kementerian Pertahanan maka akan lebih terasa gemanya jika dilaksanakan di Dumai sebuah kota pelabuhan  di tepi selat Malaka yang strategis itu.  Kehadiran PPRC TNI di kota terluas di Indonesia itu (1.727,385 km²) dipandang perlu untuk menunjukkan kesiagaan yang tinggi karena kota ini adalah pusat transportasi laut berskala besar untuk lalulintas ratusan ribu barrel minyak perhari dan ribuan ton CPO.  Dan yang lebih penting bersebelahan dengan dua jiran sebagai sebuah pesan.

Menhan sendiri secara tersirat menyatakan  bahwa perhelatan Hari Nusantara di Dumai yang kental dengan aroma militer diperlukan untuk menunjukkan pada negara lain bahwa TNI siap untuk berkelahi demi mempertahankan teritori NKRI. Nah untuk menambah kesan aroma militer itu, tidak hanya latihan militer gabungan yang dipertunjukkan namun ada simulasi menghancurkan perompak oleh pasukan khusus TNI AL, juga pameran industri alutsista dalam negeri, sailing pass kapal perang, flypass pesawat militer, latihan integrasi taruna TNI yang diikuti 1500 taruna tingkat akhir.

Jadi bisa dibayangkan suasana militer setidaknya selama tiga minggu di kota berpenduduk 280.00 jiwa itu yang sehari-harinya  disibukkan dengan aktivitas bisnis perminyakan, kelapa sawit dan transportasi laut lintas negara.  Dumai tiba-tiba saja menjadi kota militer dengan kahadiran ribuan personil TNI dan berbagai jenis alutsistanya. Masyarakat Dumai yang multi etnis itu pun antusias menonton gelar terjun payung yang dilakukan oleh 9 pesawat Hercules di Bandara Pinang Kampai yang berdekatan dengan kompleks perumahan Chevron, menerjunkan ratusan personil TNI AD di sebuah pagi tanggal 11 Desember 2011.

Pada saat yang bersamaan dari laut pasukan marinir berkekuatan 1 batalyon dan dikawal 9 KRI menyerang pantai Mundang Dumai untuk melakukan serbuan amfibi merebut kembali kota Dumai yang sudah dikuasai ”musuh” berbulan-bulan.  Hanya kali ini musuhnya bukan negara Sonora melainkan GSB (Gerakan Separatis Bersenjata) yang hendak menguasai sebagian provinsi Riau, kata penulis skenarionya begitu. Ini merupakan bagian materi berjudul Operasi Lawan Insurjensi atau OLI kata Kasum TNI Letjen TNI J. Suryo P.

Maka pagi itu Dumai benar-benar hiruk pikuk dengan deru sejumlah alutsista dan pasukan TNI yang ”menyerang” kota mereka.  Tiga jet tempur Hawk dari Pekanbaru menghancurkan sasaran lawan di pantai untuk memuluskan gerakan serbuan amfibi. Dentuman menggemuruh disana sini. Sementara di bagian angkasa yang lain 9 Hercules menerjunkan pasukan untuk menduduki kota Dumai melalui bandara Pinang Kampai.

Serangan pasukan pemukul reaksi cepat TNI di Dumai merupakan puncak dari kegiatan latihan militer yang sudah dimulai sejak tanggal 22 Nopember 2011.  Latihan bergengsi ini sebenarnya diluar jadwal kegiatan latihan tempur TNI karena belum lama berselang sudah diadakan latihan berskala besar di Sangatta, juga pendaratan amfibi pasukan marinir.  Penutupan latihan dilakukan satu hari setelah pendaratan pasukan gabungan oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di lapangan Chevron Dumai.

Show of force militer Indonesia ini di sebuah kota minyak yang memiliki sejumlah obyek vital merupakan kejutan tersendiri bagi warga Dumai. Selama ini unjuk kekuatan TNI selalu ada di wilayah segitiga ATS Kalimantan yaitu  Ambalat-Tarakan-Sangatta.  Bagi warga Dumai sendiri surprise itu memberikan nilai kebanggaan karena  tak menyangka dengan kehadiran ribuan pasukan TNI untuk melindungi wilayah dan warganya dari gangguan keamanan.  Bayangkan saja ribuan pasukan TNI ditambah 7000 undangan dan animo puluhan ribu masyarakat Dumai menyatu merayakan Hari Nusantara yang dibalut dengan latihan militer, flypass pesawat, sailing pass kapal perang, pameran pertahanan dan kedatangan Wapres Boediono.

Alutsista laut yang berpartisipasi dalam latihan militer TNI ini adalah KRI Makassar LPD, KRI Banjarmasin LPD, KRI Banda Aceh LPD, KRI Tanjung Nusanive, KRI Teluk Cenderawasih, KRI Lambung Mangkurat, KRI Sutanto, KRI Silas Papare, KRI KRI Todak, KRI Barakuda, KRI Clurit. Marinir menampilkan 1 peleton tank amfibi, 1 kompi panser amfibi, 1 peleton kapa, 1 peleton Howitzer dan RM Grad. Dari matra darat ditampilkan beberapa unit tank Scorpion/Stormer, panser Anoa, meriam artileri, radar giraffle, LCR dan kendaraan angkut pasukan.  Sedangkan matra udara mengirimkan 1 flight jet tempur Hawk, 1  filght jet tempur F16, 9 Hercules, 2 F27, 1 Casa 212, 1 CN235, 2 Heli.

Dumai bermakna strategis bagi Indonesia karena letak geografis kota ini persis di jalur sempit  selat Malaka yang ramai lancar itu.  Lebih dari itu dari kota ini transaksi bisnis jutaan dollar berlangsung melalui transportasi perminyakan dan kelapa sawit.  Dumai, sebuah kosa kata yang berasal dari legenda kekaguman seorang pangeran Empang Kuala yang melihat tujuh putri cantik sedang mandi di lubuk Sarang Umai. Sang Pangeran berdecak kagum sambil berkata pelan dengan pengawalnya: ada gadis cantik di lubuk Umai, cantik di Umai ya..ya.. di umai, lalu  akhirnya menjadi Dumai.  Dan memang sekarang Dumai tumbuh menjadi kota yang cantik, memikat, memukau dan berkembang pesat.  Ya karena ada ”gadis cantik” di lubuknya, gadis cantik itu bernama minyak bumi dan minyak sawit.
********
Jagvane,  13 Januari 2012

Wednesday, January 4, 2012

Mengintip Kekuatan Pasukan Pemukul Marinir TNI AL

Kalau ada berita tentang latihan tempur TNI, apakah berskala internal Marinir, atau internal matra TNI AL atau antar matra gabungan (AD, AL, AU), pasukan Marinir adalah yang paling kuat gema tempurnya karena hantu laut ini adalah pasukan penggempur dan pemukul yang melakukan serangan dari laut menuju pantai melalui serangan amfibi.  Visualnya sangat jelas, menjelang subuh (selalu begitu) didahului oleh serangan udara langsung melalui jet-jet tempur TNI AU pada kawasan pantai yang akan didarati, lalu ada gempuran tembakan dari sejumlah KRI Fregat dan Korvet yang mengawal pasukan Marinir.  Suasana serangan udara dan laut itu sendiri dari sisi visual dengan kondisi alam yang masih pagi buta menimbulkan sensasi sendiri dengan warna rasa “penuh mencekam”.
Alutsista RM Grad  dalam operasi militer Korps Marinir
Kemudian dilakukan pendaratan amfibi.  Titik kritis itu ada disini, ketika sejumlah tank amfibi dan panser amfibi dikeluarkan dari perut KRI LST dan LPD lalu mengarungi perairan pantai sejauh kisaran mil.  Ruang dan waktu berenangnya alat tempur amfibi Marinir menuju titik tumpuan pantai sangat rentan oleh serangan balasan pihak musuh yang berlindung di sepanjang pantai dengan rudal anti tank atau serangan rudal dan roket dari pantai, atau serangan udara balasan, atau dihadang MBT dan artileri lawan.  Karena itu hanya latihan maka dramatisasi kondisi tempur  pihak lawan dengan situasi serangan yang sebenarnya, tidak sampai sejauh itu ceritanya.  Biasanya pihak lawan diasumsikan berkekuatan 1 batalyon, lalu dihadapi dengan 1 brigade Marinir.  Dalam latgab di Sangatta tahun 2008 pasukan musuh diasumsikan berkekuatan 1 brigade dan dihadapi dengan kekuatan 1 divisi pasukan Marinir.

Yang lebih menggembirakan tentu saja berita tentang akan diperkuatnya pasukan marinir TNI AL dari 2 Pasmar menjadi 3 Pasmar yang sudah mengembang sejak setahun lalu.  Pengembangan kekuatan itu semakin dipertegas dengan pernyataan KSAL Laksamana TNI Suparno pada HUT Korps Marinir tanggal 15 Nopember 2011 sekaligus memberikan kepastian jelas ruang pemekaran itu sedang berjalan tanpa publikasi luas.  Saat ini kekuatan Pasukan Marinir sebagai komando utama TNI AL berkekuatan 23.000 prajurit dengan alokasi Pasmar (Pasukan Marinir) I di Surabaya dan Pasmar 2 di Jakarta serta embrio Pasmar 3 di Lampung. Di Sorong juga sudah ada 1 batalyon Marinir sebagai cikal bakal pembentukan satu brigade Marinir di Papua.

Pasmar I (sama dengan kekuatan setingkat divisi) memiliki markas besar di Surabaya.  Makanya Surabaya secara de facto disebut juga kota Marinir dan Angkatan Laut karena disana ada kesatrian Marinir dan pangkalan angkatan laut terbesar di Indonesia.  Bandara Juanda itu sejatinya adalah Lanudal, bukan Lanud.  Pasmar I terdiri dari Brigade Infantri 1 Marinir, Resimen Kavaleri 1, Resimen Artileri 1 dan Resimen Bantuan Tempur 1.  Brigade Infantri 1 memiliki  3 batalyon infantri dan 1 satuan khusus yaitu batalyon intai amfibi.  Ketiga batalyon infantri itu adalah  Yonif 1 Mar, Yonif 3 Mar dan Yonif 5 Mar.

Sedangkan Resimen Kavaleri 1 memiliki kekuatan 3 batalyon yaitu 1 batalyon tank amfibi, 1 batalyon panser amfibi, 1 batalyon kapal pendarat. Resimen Artileri Marinir 1 memiliki 3 batalyon yaitu 1 batalyon meriam berat / howtizer, 1 batalyon Roket dan 1 batalyon Arhanud.  Resimen bantuan tempur Marinir 1 membawahi 5 batalyon yaitu batalyon telekomunikasi dan elektronika, 1 batalyon perbekalan, 1 batalyon kesehatan, 1 batalyon Angkutan Bermotor dan 1 batalyon provost.
Pasukan Marinir dan BTR-50 dalam operasi militer di Aceh
Untuk Pasmar II di Jakarta struktur dan kekuatannya sama saja. Yang membedakannya adalah kalau di Jakarta nomor genap maka di Surabaya nomor ganjil.  Maksudnya kalau kita menyebut Yonif 2 Mar atau Yonif 4 Mar maka alokasinya satuannya ada di Jakarta.  Kalau kita menyebut Brigade Infantri 1 Marinir maka alokasinya ada di Surabaya.  Sementara  satu brigade Marinir yang sudah terbentuk di Piabung Lampung memiliki 3 batalyon Marinir yaitu Yonif 7 Mar, Yonif 8 Mar, dan Yonif 9 Mar.  Kalau ini mau dijadikan Pasmar III, tinggal menambah kekuatan Resimen Kavaleri, Resimen Artileri dan Resimen Bantuan Tempur.  Walaupun dikatakan “tinggal menambah” sejatinya inilah yang paling mahal ongkosnya karena menyangkut pengadaan alutsista berupa tank amfibi, panser amfibi, howitzer, roket dan rudal.  Belum lagi penambahan KRI LST dan LPD untuk menunjang mobilitas tempurnya.

Korps Marinir saat ini adalah satuan tempur yang paling lengkap mobilitas tempur dan gerak operasionalnya.  Kekuatan persenjataannya diperkirakan memiliki 400-450 tank amfibi/panser amfibi dan ratusan alat tempur lainnya seperti Meriam, Howitzer, MRLS, NDL-40, Kapa, Rudal SA-7 Grail, Rudal Arhanud, Rudal Anti Tank.  Roket R-han buatan Pindad-Lapan yang baru diproduksi massal adalah alutsista yang mengisi gudang-gudang kesatrian batalyon Marinir.  Alutsista Marinir terbaru adalah tank amfibi BMP-3F buatan Rusia.  Jumlah yang tersedia baru 17 unit dan Korps Marinir sedang menunggu kedatangan 54 unit BMP-3F tahun ini.  Tank amfibi jenis lain yang dimiliki Marinir adalah  dari jenis APC (Armored Personel Carrier) yaitu  40 unit tank BMP-2 dari Slovakia, 80 unit tank AMX-10 buatan Perancis, 85 unit BTR-50 buatan Rusia, 12 unit BTR-80A , 10 unit LVTP-7A1 buatan AS.  Sementara tank tua yang dilengkapi dengan meriam 76,2 mm yang masih dimiliki Marinir adalah dari jenis  PT76.   Yang menarik adalah tank PT76 sudah diretrofit dengan mengganti mesinnya dengan mesin diesel 300 HP, sistem baru firing control, dipasangi laser range finder, perangkat night vision dan mengganti meriamnya dengan meriam Cockerill 90 mm. Jadi walaupun namanya PT76 namun rasa tempurnya sudah setara PT90.

Memang sudah selayaknya Korps Marinir diperkuat sampai 3 divisi.  Ini sejalan dengan pengembangan kekuatan armada laut TNI AL yang sedang dikembangkan dari 2 armada menjadi 3 armada.  Wajar dong negara kepulauan harus punya angkatan laut dan udara yang kuat.  Logikanya sederhana, kalau ada konflik regional yang akan maju duluan untuk gebuk-gebukan adalah AU dan AL.  Nah peran Marinir menjadi sangat kuat manakala konflik itu sampai pada tahap  merebut pulau yang diduduki musuh atau yang dipersengketakan.  Melalui serangan laut dan operasi amfibi, Marinir melakukan pendaratan dengan sejumlah alutsistanya.  Setelah itu semuanya berubah menjadi pertempuran darat.  Semua alutsista Marinir apakah dia bernama BMP3F, BTR-50, PT76, BTR80, RM Grad, Howitzer  masih akan ikut terus dalam pertempuran darat bergerak maju menghabisi musuh di pulau yang diduduki musuh itu.

Yang menarik hampir seluruh alutsista Korps Marinir berasal dari “blok Timur”.  Yang dari Barat misalnya tank AMX-10 yang ternyata hanya dipakai pada saat defile upacara, jarang terlihat dalam latihan serangan amfibi.  Usut punya usut katanya spek teknisnya tidak mendukung untuk operasi amfibi karena mudah terguling.  Ada juga tank amfibi jenis LVTP-7A1 buatan Paman Sam merupakan hibah dari Korsel karena TNI AL melakukan operasi bedah KRI Cakra dengan dokter dari Daewoo.  Janjinya sih Korsel mau menghibahkan 35 LVTP-7A1, yang baru direalisasikan 10 unit, masih ada “hutang” 25 unit.  Mestinya ditagih dong apalagi kita sudah pesan 3 kapal selam, 16 jet latih tempur T50 Golden Eagle dan alutsista lainnya.  Dalam bahasa bisnis ini sah-sah saja apalagi karena menyangkut janji, tentu harus dipenuhi.  Tetapi apa memang cuma merpati yang tidak pernah ingkar janji ?
*****
Jagvane  04 Januari 2012



Tuesday, December 27, 2011

Menutup Tahun Dengan Madu Ginseng

Satu tahun sudah blog ini hadir di hadapan sidang pembaca sebagai penabuh gendang yang mengiringi modernisasi alutsista TNI.  Selama setahun ini puluhan artikel sudah digelar sebagai pemancing selera untuk melirik ruang alutsista yang ditabuh berulang-ulang agar terdengar dan dipedulikan.  Bahwa sepanjang tahun ini kabar gembira terus mengiringi minggu-minggu perjalanan tahun mengisi berita alutsista baru yang dibeli murni, dibeli dengan transfer teknologi dan dibeli dari produk dalam negeri.

Pamungkasnya adalah penandatanganan kontrak pengadaan 3 kapal selam dengan negeri ginseng Korsel, nilainya US $ 1,1 Milyar.  Seperti bermain bola setelah tendang sana tendang sini, sempat juga handsball dan offside akhirnya goal itu tercapai juga.  Inilah bingkisan manis yang menutup perjalanan belanja alutsista  tahun 2011 dengan cum laude. Kita pun ikut menutup tahun dengan menyeruput  minuman madu ginseng yang menghangatkan itu.

Tulisan yang dikedepankan di blog ini sejatinya adalah untuk mengajak kita, warga republik agar bisa memahami, mendalami dan menghargai perjuangan hulubalang negeri yang sangat wajar untuk dipersenjatai dengan alutsista modern, bukan sekedar didandani dalam selebrasi upacara dan atau unjuk diri.  Sudah selayaknya TNI mendapatkan alat pukul yang berkualitas bukan alat pukul gebuk kasur, untuk mengawal negara kepulauan terbesar di dunia ini.

Itu sebabnya dalam menulis analisis alutsista, kita selalu berada di ruang langkah yang mendahului dua tiga langkah, semata untuk memberi kamar opini bahwa kita menginginkan TNI yang memiliki kuantitas dan kualitas alutsista yang setara dengan jiran, kalau perlu selangkah lebih maju.  Kita bisa jika memang kita berniat untuk mengagahkan pengawal republik ini.  Dan niat itu sudah dilakukan Pemerintah dengan persetujuan DPR dengan menggelontorkan dana yang besar untuk mendapatkan  TNI yang gagah di tahun 2014. Program modernisasi ini  akan terus bergulir setidaknya dalam 3 kali renstra atau apalah namanya sehingga kekuatan gahar itu akan makin jelas posturnya mulai tahun 2019 dan seterusnya.

Terimakasih kepada seluruh pembaca setia yang telah mengunjungi blog ini.  Mohon maaf kalau kita terlambat mengupdate.  Soalnya dalam menuliskan setiap analisis perlu pemikiran, perlu waktu, tema dan data yang terkini.  Blog ini bukan mengutip berita militer lalu menempatkannya dalam blog. Kita ingin menyampaikan opini analisis alutsista TNI dalam koridor semangat mengajak berwawasan optimis dan percaya diri.  Kita akan terus menulis sebagai bagian dari kepedulian dan hasrat yang besar itu, melihat TNI yang berkualitas dengan gandengan alutsista yang modern.  

Selamat memasuki Tahun Baru 1 Januari 2012.   
Semoga kita semua selalu berada dalam ridho Allah SWT, amien.
Salam hangat selalu
Jagvane,-


Tuesday, December 20, 2011

Segelas Anggur Alutsista

Sepanjang tahun ini kita disuguhi berita-berita yang menyenangkan dan membanggakan hati yang berkaitan dengan upaya menggagahkan hulubalang  republik. Anggaran belanja untuk pengawal republik terutama belanja alutsista digelontor secara besar-besaran. Kalau mau membanding-banding ini adalah periode belanja alutsista terbesar sejak jaman Dwikora tahun 60an.  Pada periode tahun 2010 sampai dengan 2014 Pemerintah dengan persetujuan DPR telah mengalokasikan dana sebesar Rp 150 trilyun untuk memodernisasi persenjataan TNI.

Ibarat berbuka puasa, saat-saat yang dinanti itu akhirnya sampai juga waktunya manakala pengambil keputusan negeri ini bersama perwakilan rakyatnya menabuhkan bedug  saat berbuka puasa. Ya TNI berbuka puasa setelah sekian lama menjalani puasa keprihatinan, menjalani hari-hari operasinya dengan keterbatasan alutsista, sudah terbatas renta lagi.  Belum lagi belenggu embargo bertahun-tahun yang membuat pengawal republik ini menanggung derita kurang gizi alutsista.

Belanja alutsista sebesar itu untuk masa lima tahun ini diniscayakan menjadi langkah permulaan menuju puncak tangga MEF (minimum essential force), sebuah syarat mutlak bagi perbaikan gizi alutsista tentara untuk bisa mengawal apik negara kepulauan terbesar di dunia ini.  Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam berbagai kesempatan menggariskan bahwa pencapaian MEF bisa tercapai dalam tiga tahap, artinya tiga kali lima tahun sejak tahun 2010, sama dengan tahun 2024.  Pada saat itu Cina dan India telah berubah menjadi kekuatan regional yang disegani karena kekuatan militer dan alutsistanya punya kemampuan serang jarak jauh.

Dengan MEF tahap pertama ini esensi dasarnya adalah menutupi berbagai lubang yang menganga dari satuan-satuan tempur TNI yang kurang mendapat suplai alutsista selama duapuluh tahun.  Contohnya pengadaaan 16 pesawat coin Super Tucano dari Brasil yang mulai berdatangan tahun 2012, adalah untuk menggantikan pesawat uzur OV10 Bronco yang tinggal 4 biji dan grounded.  Selama 2 tahun terakhir ini skuadron yang berhome base di Malang ini tidak bisa melaksanakan fungsi operasionalnya karena alutsista utamanya tak boleh terbang.

Demikian juga pengadaan 16 jet latih tempur T50 Golden Eagle dari Korsel untuk menggantikan jet tempur Hawk Mk53 yang sudah berusia 30 tahun dan hanya tersisa 5 unit.  Sementara 10 Jet tempur Sukhoi yang kita miliki saat ini  sejatinya untuk menggantikan pesawat tempur A4 Skyhawk yang sudah harus pensiun karena sudah tua, belinya pun beli second dari Israel akhir tahun 70an.  Perolehan 24 F16 hibah dari AS yang kemudian diupgrade setara dengan blok 52 adalah untuk menambah kekuatan 10 F16 Blok 15 Ocu yang dimiliki TNI AU saat ini.

Alutsista matra laut dan darat juga sama. TNI AL mengisi kekurangan kapal perang dengan pengadaan 4 KRI sigma, 4 KRI LPD dan beberapa kapal cepat rudal. TNI AD melakukan retrofit Tank AMX13, mendapat panser Anoa buatan Pindad untuk melengkapi batalyon infantri yang diubah menjadi batalyon infantri mekanis.  Sejauh ini tidak ada yang ditambah melainkan memenuhi kekurangan akibat stagnan rematerialisasi alutsista selama dua dekade.  Pekerjaan MEF saat ini adalah menambal sulam baju tempur yang compang-camping agar bisa dipakai sebagai baju tempur layak pakai.

Melihat daftar belanja alutsista yang sudah banyak dipublikasikan, apakah itu sudah berupa kontrak perjanjian dan tinggal menunggu kedatangan barangnya, atau sedang dalam proses penawaran dan bahkan dalam proses penjajakan sekalipun, maka TNI ada dalam sebuah ruang horizon menantikan saat berbuka puasa itu bersama segelas anggur yang bernama alutsista. Jujur diakui bahwa selama duapuluh tahun ini TNI hanya disuguhi kopi pahit melihat kondisi alutsistanya yang hidup segan mati tak mau.  Nah, mulai tahun 2012 akan banyak berdatangan berbagai jenis persenjataan modern untuk TNI. Yang lebih membanggakan tentu saja ada beberapa jenis alutsista itu diproduksi dengan pola kerjasama, berbagi teknologi dan bahkan buatan industri hankam dalam negeri.

Bersama segelas anggur alutsista yang disuguhkan itu diharapkan postur kekuatan persenjataan TNI tahun 2014 sudah pulih namun tentu belum sampai pada ukuran gahar apalagi ideal. Oleh karena itu kesinambungan perkuatan alutsista TNI perlu terus dilanjutkan oleh pemerintahan baru pasca 2014, minimal dengan anggaran yang sama dengan yang dilakukan Pemerintah saat ini.  Tidak terlalu dini kalau kita mengatakan saat ini agar pergantian pucuk pimpinan republik ini tahun 2014 tidak menghentikan upaya perkuatan alutsista TNI dalam rangka mencapai kekuatan pertahanan yang setara dengan jiran. 

Tahun 2014 sampai dengan tahun 2019 adalah masa penting untuk mempersiapkan kekuatan TNI bersamaan dengan kondisi dan situasi kawasan regional yang semakin dinamis berebut pengaruh dan memperebutkan sumber daya energi fosil di Laut Cina Selatan.  Cina tahun 2020 sudah memastikan menjadi kekuatan militer dan ekonomi regional yang berpengaruh.  India semakin memperjelas posisi kekuatan militernya yang kian perkasa. Sementara Australia, Malaysia, Singapura dan Vietnam terus memperkuat alutsistanya dengan kekuatan pukul maksimal. Tanda-tanda jaman itu sudah mulai menampakkan inkubasinya. AS sebagai pengendali kekuatan regional Asia Pasifik sudah menetapkan Darwin dan Singapura sebagai pangkalan militernya.  Sementara Cina sudah membangun pangkalan angkatan lautnya di Hainan persis di depan laut Cina Selatan, bersebelahan dengan Vietnam.

Melihat besarnya jumlah anggaran yang disediakan, dalam proses pengadaan alutsista segala matra ini Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, DPR  dan Mabes TNI tetap keukeuh dan istiqomah  menjaga dan mengawal tahapan demi tahapan yang dilalui termasuk nilai kepantasan harga beli alutsista. Tidak mudah terjebak dalam lingkaran makelar pangkat dua, maksudnya di pihak pembeli ada makelarnya demikian juga di pihak penjual, sehingga harga jual alutsista menjadi tidak pantas.  Pasar alutsista selalu berada dalam ruang persaingan lintas negara termasuk lintas intelijen yang saling menjegal satu sama lain dalam upaya memperebutkan segelas anggur alutsista.
******
Jagvane, 20 Desember 2011

Tuesday, December 13, 2011

Prediksi Kedatangan Alutsista Baru TNI Tahun 2012 (2)

1 Skuadron Heli Super Cobra

1 Skuadron Heli Bell 412 EP

2 dari 9 pesanan Pesawat Angkut CN295

4 dari 30 F16 Blok 52 Upgrade Hibah dari AS

6 dari 9 Hercules hibah upgrade dari AS dan Australia

Howitzer 155mm Cesar untuk 2 batalyon Armed

1 LST dari 7 pesanan LST TNI AL

Tambahan 56 Panser Anoa Pindad

Tambahan Rudal Yakhont, C802 dan C705 untuk TNI AL

1 Skuadron Heli AKS Super Sea Sprite

1 Skuadron pesawat UAV
****
Jagvane / 13 Des 2011

Prediksi Kedatangan Alutsista Baru TNI Tahun 2012 (1)

MBT Tank Leopard 2  sebanyak 100 unit
 
Tank Amphibi BMP3F sebanyak 54 unit (Sudah datang 17 unit)

Heli Serbu Mi35 sebanyak 3 unit ( sudah datang 5 unit)

Jet Tempur Sukhoi SU30 sebanyak 6 unit ( 10 unit sudah operasional)

Pesawat Coin Super Tucano sebanyak 16 unit dari Brasil

Jet Latih Tempur T50 Golden Eagle sebanyak 16 unit

Heli Angkut Mi-17 sebanyak 6 unit ( Sudah ada 12 unit)

Kapal Cepat Rudal Clurit Class sebanyak 5 unit

Kapal Cepat Rudal Trimaran sebanyak 2 unit

Overhaul Kapal Selam KRI Nanggala dari Korsel selesai
 ******
Jagvane 13 Des 2011