Friday, May 6, 2011

UP DATE KEKUATAN ARMADA TEMPUR INDONESIA TAHUN 2012

Armada Fregat KRI  di sebuah Pangkalan, Ready For War

KAPAL FREGAT
AHMAD YANI CLASS
  1. KRI AHMAD YANI 351
  2. KRI SLAMET RIYADI 352
  3. KRI YOS SUDARSO 353
  4. KRI OSWALD SIAHAAN 354
  5. KRI ABDUL HALIM PERDANA KUSUMA 355
  6. KRI KAREL SATSUIT TUBUN 356
KI HAJAR DEWANTARA CLASS
  1. KRI KI HAJAR DEWANTARA 364
KAPAL KORVET
FATAHILLAH CLASS
  1. KRI FATAHILLAH 361
  2. KRI MALAHAYATI 362
  3. KRI NALA 363
SIGMA CLASS
  1. KRI DIPONEGORO 365
  2. KRI HASANUDDIN 366
  3. KRI SULTAN ISKANDAR MUDA 367
  4. KRI FRANS KAISIEPO 368
PARCHIM CLASS
  1. KRI KAPITAN PATIMURA 371
  2. KRI CUT NYAK DIN 375
  3. KRI SULTAN TAHA SYAIFUDDIN 376
  4. KRI MEMET SASTRAWIRIA 380
  5. KRI HASAN BASRI 382
  6. KRI IMAM BONJOL 383
  7. KRI PATI UNUS 384
  8. KRI TEUKU UMAR 385
  9. KRI SILAS PAPARE 386
  10. KRI UNTUNG SUROPATI 872
  11. KRI SULTAN NUKU 873
  12. KRI LAMBUNG MANGKURAT 874
  13. KRI SUTANTO 877
  14. KRI SUTEDI SENOPUTRA 878
  15. KRI WIRATNO 879
KAPAL SELAM
CAKRA CLASS
  1. KRI CAKRA 401
  2. KRI NANGGALA 402
Kapal Selam Mini 22 m :  4 Unit

KAPAL CEPAT RUDAL
MANDAU CLASS Berpeluru Kendali
  1. KRI MANDAU 621
  2. KRI RENCONG 622
  3. KRI BADIK 623
  4. KRI KERIS 624
CLURIT CLASS Berpeluru Kendali
  1. KRI CLURIT 641
  2. KRI KUJANG 642 
Catatan: Sampai dengan tahun 2014 Clurit Class mencapai 6 KRI

BRUNAI CLASS
  1. KRI SALAWAKU 642==>  No lambung menjadi kepala 8
  2. KRI BADAU 643 ===> No lambung menjadi kepala 8
ANDAU CLASS Torpedo
  1. KRI ANDAU 650
  2. KRI SINGA 651
  3. KRI TONGKAK 652
  4. KRI AJAK 653
KAKAP CLASS
  1. KRI KAKAP 811
  2. KRI KERAPU 812
  3. KRI TONGKOL 813
  4. KRI BARAKUDA 814
PANDRONG CLASS Berpeluru Kendali
  1. KRI PANDRONG 801
  2. KRI SURA 802
TODAK CLASS Berpeluru Kendali
  1. KRI TODAK  803
  2. KRI HIU 804
  3. KRI LAYANG 805
  4. KRI LEMADANG 806
BOA CLASS
  1. KRI BOA 807
  2. KRI WELANG 808
  3. KRI SULUH PARI 809
  4. KRI KATON 810
  5. KRI SANCA 811
  6. KRI WARAKAS 816
  7. KRI PANANA 817
  8. KRI KALAKAS 818
  9. KRI TEDONG NAGA 819
COBRA CLASS
  1. KR I CUCUT 866
  2. KRI COBRA 867
  3. KRI ANAKONDA 868
  4. KRI PATOLA 869
  5. KRI TALIWANGSA 870
  6. KRI KALAGIAN 871
KAPAL PATROLI CEPAT
KRAIT CLASS
  1. KRI KELABANG 826
  2. KRI KRAIT 827
  3. KRI TARIHU 828
  4. KRI ALKURA 830
SIBARAU CLASS
  1. KRI SIBARAU 847
  2. KRI SILIMAN 848
  3. KRI SIGALU 857
  4. KRI SILEA 858
  5. KRI SIRIBUA 859
  6. KRI WAIGEO 861
  7. KRI SIADA 862
  8. KRI SIKUDA 863
  9. KRI SIGUROT 864
VIPER CLASS
  1. KRI VIPER 820
  2. KRI PITON 821
  3. KRI WELING 822
  4. KRI MATACORA 823
  5. KRI TEDUNG SELAR 824
  6. KRI BOIGA 825
KAPAL LPD (LANDING PLATFORM DOCK)
MAKASSAR CLASS
  1. KRI MAKASSAR 590
  2. KRI SURABAYA 591
  3. KRI BANJARMASIN 592
  4. KRI BANDA ACEH 593
KAPAL LST (LANDING SHIP TANK)
FROSCH CLASS
  1. KRI TELUK GILIMANUK 531
  2. KRI TELUK CELUKAN BAWANG 532
  3. KRI TELUK CENDERAWASIH 533
  4. KRI  TELUK BERAU 534
  5. KRI TELUK PELENG 535
  6. KRI TELUK SIBOLGA 536
  7. KRI TELUK MANADO 537
  8. KRI TELUK HADING 538
  9. KRI TELUK PARIGI 539
  10. KRI TELUK LAMPUNG 540
  11. KRI TELUK JAKARTA 541
  12. KRI TELUK SANGKULIRANG 542
  13. KRI TELUK CIREBON 543
  14. KRI TELUK SABANG 544
TELUK LANGSA CLASS
  1. KRI TELUK LANGSA 501
  2. KRI TELUK AMBOINA 503
  3. KRI TELUK KAU 504
  4. KRI TELUK TOMINI 508
  5. KRI TELUK RATAI 509
  6. KRI TELUK SALEH 510
  7. KRI TELUK BONE 511
TACOMA CLASS
  1. KRI TELUK SEMANGKA 512
  2. KRI TELUK PENYU 513
  3. KRI TELUK MANDAR 514
  4. KRI TELUK SAMPIT 515
  5. KRI TELUK BANTEN 516
  6. KRI TELUK ENDE 517
KAPAL ANGKUT PASUKAN
TANJUNG CLASS
  1. KRI TANJUNG KAMBANI 971
  2. KRI TANJUNG OISINA 972
  3. KRI TANJUNG NUSANIVE 973
  4. KRI TANJUNG FATAGAR 974
KARANG CLASS
  1. KRI KARANG PILANG 981
  2. KRI KARANG TEKOK 982
  3. KRI KARANG BANTENG 983
  4. KRI KARANG UNARANG 984
KAPAL PENYAPU RANJAU
CONDOR CLASS
  1. KRI PULAU ROTE 721
  2. KRI PULAU RAAS 722
  3. KRI PULANG ROMANG 723
  4. KRI PULAU RIMAU 724
  5. KRI PULAU RUSA 726
  6. KRI PULAU RANGSANG 727
  7. KRI PULAU RAIBU 728
  8. KRI PULAU REMPANG 729
PROJECT 244 CLASS
  1. KRI PULAU RANI 701
PULAU RENGAT CLASS
  1. KRI PULAU RENGAT  711
  2. KRI PULAU RUPAT 712
KAPAL KOMANDO
  1. KRI MULTATULI 561
KAPAL LATIH LAYAR
  1. KRI DEWARUCI
  1. KRI ARUNG SAMUDERA
KAPAL TANKER
  1. KRI BALIKPAPAN 901
  2. KRI SAMBU 902
  3. KRI ARUN 903
  4. KRI SUNGAI GERONG 906
  5. KRI SORONG 911
KAPAL TUNDA
  1. KRI RAKATA 922
  2. KRI SOPUTAN 923
KAPAL SURVEY
  1. KRI DEWA KEMBAR 932
KAPAL PENDUKUNG
  1. KRI NUSA TELU 952
  2. KRI TELUK MENTAWAI 959
  3. KRI KARIMATA 960
  4. KRI WAGIO 961
KAPAL RUMAH SAKIT
  1. KRI DR. SOEHARSO 990
KAPAL TRIMARAN 
          Satu unit dalam  masa sea trial  (sd thn 2014 TNI AL punya 4 KRI Trimaran)
HOVERCRAFT
          8 Unit 

SEA RIDER 
          24 Unit 

KTBA

          12 Unit


 




*********
JAGVANE 05052011 / DARI BERBAGAI SUMBER
Update data :07012012

Tuesday, May 3, 2011

Selamat datang Alutsista Baru TNI (2)
TNI AL Bersiap Menuju Kekuatan Pukul Mematikan

Parade Pasukan Marinir TNI AL
Uji tembak rudal Yakhont yang dilakukan KRI Fregat Oswald Siahaan di selatan selat Sunda akhir April 2011 sukses besar dan mampu menenggelamkan KRI LST tua renta Teluk Bayur yang sudah pensiun.  Uji tembak rudal yang berjarak jangkau 300 km yang diikuti 12 KRI itu adalah simbol kebangkitan keperkasaan TNI AL, gemanya sampai ke rumah tetangga dan menjadi diskusi hangat di kalangan petinggi militer mereka.  Soalnya belum ada arsenal negara tetangga yang sehebat Yakhont baik dalam kecepatan dan jarak tembak.  Singapura saja dengan uji coba rudal ini tiba-tiba menjadi macan kertas pucat pasi, apalagi Malaysia yang baru punya Excocet berjarak jangkau 70 km.  Pakcik sebelah terdiam sambil menyeka keringat dinginnya.

TNI AL memang sedang berbenah.  Kita catat kehadiran alutsista baru TNI AL selama  kurun waktu tiga tahun terakhir ini terasa membungakan hati kita.  Sejak tahun 2007 sampai hari ini  setidaknya ada pertambahan  23 KRI dari berbagai jenis seperti 4 KRI Sigma Class, 4 KRI LPD Makassar Class, 2 KRI LPD Suharso Class, dan belasan KRI Kapal Cepat Rudal  termasuk 2 hibah dari Brunai dan KRI Clurit buatan Batam.  

Untuk KRI Clurit Class diprediksi akan ditambah sampai mencapai 20 unit dan nama-namanya pun (bakalan) agak seru terdengar di telinga, misalnya KRI Golok, KRI Belati, KRI Parang, KRI Sangkur, KRI Pedang, KRI Klewang dll.  Yang sudah ada kan kakaknya yaitu KRI Rencong, KRI Badik, KRI Mandau, KRI Keris yang persenjataannya tak kalah gahar termasuk manuvernya.

Proyek PKR jenis light fregat sudah dilaunching kerjasama dengan galangan kapal Belanda Schelde.  Sebenarnya Presiden SBY ketika akan berkunjung ke Belanda beberapa waktu lalu, salah satu misinya adalah memastikan payung kerjasama ToTpembuatan PKR.  Namun karena ada gertakan RMS kunjungan itu dibatalkan, sayang memang, soalnya payung itu diperlukan sebagai spirit pemicu percepatan kerjasama.  Coba kita simak lobby Korsel ketika akan menggolkan T-50nya, Presidennya berkunjung ke Bali dan bertemu SBY, kemudian dilanjut dengan kunjungan utusan pribadi Presiden Korsel ke Jakarta, bertemu SBY. Kemudian delegasi kita yang dipimpin Menko Kesra dijamu dengan layanan kelas VVIP termasuk memakai pesawat kepresidenan Korsel. Tak lama kemudian T-50 menjadi pemenang pertarungan pengadaan pesawat tempur latih TNI AU.  

Masalah pengadaan kapal selam yang berlarut-larut, tidak bisa dilepaskan dengan kekuatan lobby Korsel pada petinggi Pemerintah dan Kemhan.  Ini yang membuat Kilo yang sudah di depan mata  menjadi fatamorgana kembali.  Lalu tiba-tiba muncul Changbogo di layar cermin.  Padahal TNI AL pengen kapal selam dari kelas herder bukan anjing kampung, so si user pasti tahu dong dengan kehebatan herder macam Kilo itu.  Nah daripada dibeliin kapal selam dari anjing kampung class mending uangnya dibeliin beras saja, kata mantan Kasal Tedjo menyindir. 

Pengadaan 2 Kilo mestinya sudah dimulai sejak tahun 2009.  Tapi bisa juga tersendatnya 2 kapal selam made in Rusia itu karena ada jiran yang meradang lalu melapor sama emaknya yang nota bene Polisi Dunia.  Dan seperti biasa petinggi kita kalau sudah dapat Nota keberatan diplomatik biasanya menjadi kesatria peragu, lalu tempe yang sudah digoreng menjadi hangus kelamaan digoreng. Maka tender pun diulang-ulang sembari menyanyikan lagu : maju tak gentar membela yang bayar.

Kalau mau di survey sejatinya hampir 70% warga bangsa ini merasa gregetan dengan cara pandang kemayu itu.  Logikanya, sudah dikasih kredit ekspor sama Rusia, masih jual mahal, bahkan pengennya  ngambil uang KE nya lalu dibelikan barang dari negara lain, kan gak etis jadinya.  Apa sih susahnya membeli Kilo, wong belinya pakai KE.  Vietnam saja tanpa basa-basi langsung pesan 6 Kilo, tak ada yang gelisah.  Malaysia sudah punya 2 Scorpene, Singapura sudah punya 5 biji.  Bahkan Thailand pun pesan yang second hand sebanyak 4 biji.  Lha kita mau nambah dua dari dua yang dipunyai saat ini, susahnya seperti orang sembelit, gelisah tapi tak keluar-keluar juga keputusannya.

Proyek Kapal Cepat Rudal kelihatannya yang paling lancar jalannya.  Setelah selesai KRI Clurit akan selesai lagi KCR-KCR yang lain, semuanya buatan galangan kapal dalam negeri.  KRI KCR ini dilengkapi dengan sepasang rudal C802 atau C705.  Rudal ini buatan China namun China bersedia melakukan kerjasama pembuatan rudal ini secara besar-besaran untuk kebutuhan TNI AL.  Bayangkan paling tidak akan ada 300 rudal jenis ini untuk persenjataan 100 Kapal Cepat Rudal kita.  Salah satu sinyal kerjasama strategis dengan China itu bisa kita saksikan dari kunjungan PM China Wen ke Jakarta akhir April 2011.   Walaupun tak dinyatakan secara eksplisit dan dipublikasikan, kunjungan itu terkait dengan kerjasama pertahanan kedua negara khususnya kerjasama rudal surface to surface Lapan-Pindad yang mampu menjangkau jarak tembak 300 km dan rudal C802 untuk KRI KCR.

KRI Trimaran Class juga sudah dibuat, ini buatan Lundin Banyuwangi.  Sebentar lagi satu KRI rampung dan TNI AL memesan Trimaran Class sebanyak 12 unit. TNI AL juga sudah menandatangani kontrak dengan PT PAL untuk pengadaan 12 KRI LST, 8 FPB, 2 LHD, instalasi rudal dan sistem tempur KRI dan perawatan KRI.  Jumlah kekuatan armada TNI AL saat ini berkisar 165 KRI dari berbagai jenis.  Prediksi kekuatan armada itu pada tahun 2014 akan menyentuh angka 200 KRI.  Yang menarik dari jumlah KRI sebanyak itu, 130 KRI adalah striking force mulai dari kelas fregat, korvet dan KCR karena punya kekuatan rudal Yakhont, Excocet, C805 dan C705.

Kapal selam KRI Nanggala yang dioverhaul di Korsel diperkirakan akhir Juli 2011 sudah tiba di tanah air.  Overhaul ini tentu saja menambah daya tempur dan serang Nanggala dan yang lebih penting ada teman KRI Cakra yang lebih dari setahun menjomblo alias sendirian.  Beberapa sumber menyebutkan sebenarnya kita memliki 3 kapal selam buatan Jerman.  KRI Cakra 401 ada kembarannya yang juga punya nomor identitas 401.  Ini mirip dengan jumlah kepemilikan pesawat tempur Hawk Mk53 yang kita beli dari Inggris.  Publikasinya kita beli 8 unit tahun 1982 tapi ada yang menyebut kita punya 20 unit di Madiun.  Atau pembelian 34 unit pesawat tempur Skyhawk tahun 1980 bilangnya dari AS, belakangan ketahuan belinya dari Israel.

Apapun itu tak perlu jua kita mempermasalahkannya, yang penting bagi kita adalah perkuatan TNI tidak hanya berhenti pada minimum essential force tapi sampai pada kekuatan yang menggentarkan.  Sehingga tidak ada yang berani kagi melecehkan teritori NKRI.  Angkatan laut kita berhak memperoleh alutsista yang berkelas herder dengan kehadiran Destroyer, Fregat, Korvet dan KCR termasuk kapal selam dalam jumlah yang banyak karena halaman depan, belakang dan samping  kita bukanlah daratan melainkan perairan.  Sangat wajar bila pengawal lautan dan samudera itu diberi amunisi berdaya ledak tinggi, bukan senapan angin agar tidak ditertawakan burung camar.

*******
Jagvane / 03 Mei 2011

Monday, May 2, 2011

 Selamat Datang Alutsista Baru TNI (1):
 Diambang Fajar, Menyongsong Kekuatan Penggentar TNI AU

Hanya dalam waktu 4 bulan sudah ada restu dan kontrak pengadaan 2 skuadron pesawat tempur ringan untuk TNI AU.  Desember 2010 ada sign kontrak pembelian 16 Super Tucano made ini Brazil, lalu April 2011 sudah ada kepastian pengadaan pesawat latih / tempur jenis T-50 buatan Korea Selatan.  Kedua Skuadron itu secara bertahap akan mengisi arsenal TNI AU mulai awal tahun depan.

Demikian juga dengan pengadaan 24 pesawat tempur F16 second hand dari Amerika Serikat sudah mendekati proses akhir.  Nantinya ke 24 pesawat tempur hibah itu akan di upgrade ke blok 52 lengkap dengan persenjataan mutakhirnya melengkapi jumlah yang ada saat ini 10 unit sehingga  menjadi 2 skuadron  ( 34 unit) F16.

Apakah akan berhenti sampai disitu saja, tentu tidak karena TNI tidak ingin cacingan (meminjam istilah iklan obat cacing).  Tahun ini juga sudah dipersiapkan tambahan 6 unit Sukhoi lengkap dengan persenjataannya untuk melengkapi jumlah yang ada sekarang sebanyak 10 unit.  Opsi tentang perkuatan pesawat tempur jenis Sukhoi tetap mengental.  Setelah lengkap berjumlah satu skuadron (16 unit), akan terus ditambah minmal sampai berjumlah 32 unit dari jenis Su27/30.  Bahkan petinggi TNI AU sangat berminat dengan Sukhoi SU35 BM minimal 1 skuadron.

Untuk memenuhi kriteria Minimum Essential Force (MEF) sampai dengan tahun 2014 TNI AU membutuhkan minimal 10 Skuadron tempur.  Gambaran itu bisa di road map kan melalui ;
§         1 Skuadron  (20 unit) Hawk 100/200 di Pekanbaru
§         1 Skuadron (16 unit) Hawk 100/200 di Pontianak
§         1 Skuadron (16 unit) Super Tucano di Malang
§         1 Skuadron ( 12 unit) F5E di Tarakan
§         1 Skuadron ( 16 unit) T-50 di Madiun
§         1 Skuadron ( 18 unit) F16 di Madiun
§         1 Skuadron ( 16 unit) F16 di Medan
§         1 Skuadron (16 unit) Sukhoi SU27 di Makassar
§         1 Skuadron (16 unit) Sukhoi SU30 di Pangkal Pinang
§         1 Skuadron ( 16 unit) Sukhoi SU35 di Madiun

Selain 10 Skuadron tempur itu, TNI AU juga segera diperkuat dengan 2 skuadron UAV yang dtempatkan di Pekanbaru dan Pontianak.  Diperkirakan jumlah pesawat tanpa awak yang dipersenjatai ini berjumlah 20-24 unit untuk 2 skuadron.  Sementara untuk pertahanan pangkalan TNI AU sudah tersedia  batalyon-batalyon Paskhas, setidaknya ada 10 batalyon pasukan khas TNI AU yang sudah dilengkapi dengan rudal panggul QW3 buatan China termasuk radarnya.  Paskhas TNI AU akan diperkuat dengan arsenal baru peluru kendali jarak menengah surface to air sebagai pertahanan udara area (hanud area).  Ini  sangat berkaitan dengan keselamatan arsenal pesawat tempur  mutakhir yang ada di pangkalan TNI AU yang harus dijaga  keselamatan dan keamanannya.

Adapun alokasi skuadron pesawat tempur itu tidak statis ada di  pangkalan skuadron.  Untuk setingkat flight ( 4-6 pesawat) bisa digeser sesuai kebutuhan.  Misalnya Biak, akan diisi bergantian dengan 1 flight F16 atau F5E atau Hawk tergantung kebutuhan.  Bisa juga di Biak ditempatkan permanen sebanyak 8 unit Hawk 100/200 dengan mengurangi 20 unit Hawk yang ada di Pekanbaru sehingga hanya 12 unit saja.

Demikian juga dengan Kupang, bisa diisi dengan 1 flight F16 untuk patroli di perbatasan sampai Merauke.  Kita ketahui Merauke saat ini telah dilengkapi dengan satuan radar militer (Satrad 244), menyusul Saumlaki (Juli 2011) dan Timika (Feb 2012).  Hadirnya alat pengindra militer ini sangat wajar diikuti dengan kehadiran skuadron tempur atau flight tempur di Indonesia Timur.

Selain urusan kebutuhan pesawat tempur, TNI AU yang saat ini punya  22 pesawat angkut berat jenis Hercules akan ditambah sampai mencapai minimal  30 unit.  Kebutuhan 30 Hercules unit ini untuk memenuhi  pergerakan kekuatan 2 batalyon Pasukan Pemukul Reaksi Cepat ( PPRC) secara cepat pada 2 titik panas konflik sekaligus.  Untuk pesawat angkut sedang TNI AU sedang memproses pengadaan 8 unit C27 J Spartan buatan Italia.  Pesawat ”hercules mini” ini mampu membawa 45 pasukan bersenjata lengkap.

Untuk armada Helikopter, TNI AU terus menambah kuantitasnya dari jenis Super Puma. Bahkan TNI AU juga sudah memesan  setidaknya 8 unit Eurocopter dari pabriknya langsung.  TNI AU saat ini memiliki setidaknya  4 Skuadron helikopter dari berbagai jenis untuk berbagai keperluan operasi militer, bencana, termasuk VVIP.  Ini tentu diluar kepemilikan 5 skuadron Penerbad milik TNI AD yang mengoperasikan Heli Tempur Mi35 dan Heli  angkut Mi17.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah kedirgantaraan terkemuka baru-baru ini Kasau Marsekal Imam Sufaat sangat berkeingan agar TNI AU dapat memiliki minimal 10 unit pesawat tempur F35.  Ini diperlukan sebagai penyeimbang atas kehadiran F35 di kawasan ini satu dasawarsa ke depan.  Setidaknya ada lompatan teknologi yang harus diketahui TNI AU.  Ini sama ketika Pemerintah memutuskan untuk membeli 12  pesawat tempur F16 usai Indonesia Air Show tahun 1986 di Jakarta. Terbukti keputusan itu mampu menyeimbangkan kemampuan teknologi  pilot-pilot TNI AU sampai saat ini.

Kita sangat berharap Pemerintah bisa membaca dengan arif keinginan TNI AU ini sebagai pengawal kedirgantaraan. Setidaknya kehadiran F35 sangat bersinergi dengan selesainya proyek KFX sebagai pesawat tempur generasi 4,5 kerjasama Indonesia-Korea Selatan.  Jadi menu pesawat tempur yang dapat dihidangkan TNI AU ke depan sangat menggentarkan :  Ada  F16, ada Sukhoi SU27/30, ada Sukhoi SU35 BM, ada KFX, ada F35.  Benar-benar pedas rasanya, terutama bagi yang ingin mencoba mengganggu teritori udara NKRI.
********
Jagvane / 02 Mei 2011

Thursday, March 17, 2011

Prediksi Alutsista yang diterima TNI (2011 - 2014)

Pesawat Tempur Sukhoi TNI AU
Seperti diketahui untuk program pembelian alutsista TNI tahun 2010 sampai dengan 2014 telah disetujui dengan anggaran sebesar US$ 15 Milyar ( Rp. 140 Trilyun ).  Berikut ini disampaikan prediksi Alutsista yang diterima TNI (2011-2014):

  •   6  Pesawat Tempur Sukhoi SU27/30 dan Arsenal 16 Sukhoi
  • 16  Pesawat Tempur Super Tucano
  • 24  Pesawat Tempur F16 ( hibah )
  • 16  Pesawat Tempur ( opsi: Yak-130, T50 )
  • 16  Pesawat Tempur ( opsi: SU35 BM, Gripen, Typhoon)
  •   4 Pesawat Intai Strategis
  •   8 Pesawat Intai Taktis
  • 24  UAV
  • 12  Hercules
  •   6  C17J Spartan
  •   80 Rudal hanud area surface to air
  • 400 Rudal hanud titik surface to air
  •     8 Radar Militer Master T
  •   600 Rudal Anti Tank
  • 200 Rudal C802 / 705
  •   50 Rudal Yakhont
  •   20 Rudal Exocet  Blok3
  •   70 Main Battle Tank
  •   80 Infantri Fighting Vehicle
  • 100 Panser Canon
  • 300 Panser APC
  • 200 Rudal Lapan-Pindad surface to surface
  •   11 KRI Landing Ship Tank
  •     1 LPD
  •   25 KRI Kapal Cepat Rudal
  •     8 KRI Trimaran
  •     4 KRI Korvet
  •     2 Kapal Selam
  •   80 Tank Amphibi BMP3F
  •   70 Tank Amphibi BTR90
  •   20 RM Grad
  •   80 RM Langusta
  •   90 Howitzer
  •     8 Heli EC 725 Cougar
  •   12 Heli anti kapal selam (AKS)
  •   12 Heli anti kapal permukaan (AKPA)
  •     5 Heli Tempur Mi35
  •    8 Heli Tempur / Angkut  Mi17
  •  24 Heli Tempur Bell 412Ep
****
Jagvane / 17032011
(Dari berbagai sumber)
 

Monday, March 7, 2011

Main Battle Tank, Sebuah Kebutuhan Utama TNI AD

Dalam peta hankam NKRI ada 3 pulau di Indonesia yang berbatasan darat dengan negara lain yaitu Kalimantan, Timor dan Papua.  Ketiga pulau itu sejatinya dipisahkan jauh menyeberangi laut dari jantungnya Indonesia, Jawa.  Apakah karena itu sosok alutsista yang bernama Main Battle Tank ( MBT) tidak diperlukan karena MBT negara penyerang tidak akan sampai di Jawa atau Jakarta? Jawabnya tentu tidak karena kita tidak ingin cacingan dalam menjalankan konsep Hankam.

Selama ini TNI AD hanya punya sekitar 400 Tank dari kelas ringan (Light Tank) 100 biji dari jenis Scorpion dan Stormer, 300 sisanya dari jenis AMX-13.  Kekuatan ini didukung dengan sekitar 700 Panser berbagai jenis salah satunya panser Anoa buatan Pindad. Menyikapi perkembangan dinamika kawasan, sesungguhnya  kita memerlukan kekuatan pukul sekelas MBT yang ditempatkan di provinsi yang berbatasan langsung dengan negara jiran.  Kalau mau diurut skala prioritas maka, Kalbar sangat memerlukan kehadiran setidaknya satu batalyon kavaleri berkekuatan 70-75 MBT.   Kehadiran MBT di kawasan border land memberikan kekuatan Hankam yang diyakini mampu menumbuhkan kebanggaan dan rasa patriot bagi warga setempat sekaligus unsur penggentar bagi negara jiran.

Tradisi kita selama ini selalu melihat Jawa sebagai pusat Hankamnas padahal Jawa hanya satu pulau kecil yang “kebetulan” ada Jakarta didalamnya.  Sementara pulau-pulau besar hanya dianggap sebagai benteng sekunder yang gak penting-penting amat dijaga, toh nanti yang nyerang juga capek sendiri, begitu kata ironinya.  Apalagi doktrin tempur TNI selama ini selalu mengambil tema : biarkan musuh masuk dulu, baru dipukul kemudian.  

Nah kalau yang masuk itu China dan dia hanya perlu Natuna apa kita mampu memukul mundur kekuatan China yang maha itu.  Atau pecah konflik dengan Malaysia dan MBTnya bebas memasuki Kalbar lalu baru dikirim pasukan pemukul reaksi cepat.  Apa iya pasukan itu dapat segera memukul mundur pasukan Malaysia.  Paling tidak dibutuhkan waktu 2 minggu untuk embarkasi bala bantuan pusat bersama alutsistanya, dan selama waktu itu agresor sudah menginjak-injak teritori kita.  

Kita percaya pemikir strategis Kemhan dan TNI pasti memiliki  ruang jelajah yang lebih biru langit untuk menata konsep hankam RI.  Konsep Hankamrata masih tetap oke, namun harus diimbangi dengan perbanyakan dan modernisasi alutsista TNI segala matra.  Di laut diperbanyak kapal-kapal combatan untuk memenuhi kekuatan 3 armada dan minimal 6 kapal selam.  Di udara dilengkapi dengan pesawat penggebuk sekelas Sukhoi minimal 2 Skuadron dan F16 minimal 3 Skuadron.  Nah, Angkatan Darat juga jangan dilupakan dengan menggelar kekuatan MBT di border-border land.

Jangan pemikirannya hanya untuk parade ultah TNI lalu MBT itu harus ada di Jakarta atau Jawa (gak rela kalau MBT ada di luar Jawa), sehingga menghilangkan makna detterens bagi border land.  MBT harus ada di border land dengan skala prioritas Kalbar. Justru menjadi kebanggaan warga Indonesia di perbatasan manakala setiap tahun diparadekan kekuatan pukul MBT, di Pontianak misalnya.  Kalau secara ekonomi kekuatan warga negara kita yang tinggal di perbatasan mirip langit dan bumi dengan negara jiran Malaysia kenapa sih kita ”tidak boleh” berbangga dengan kekuatan Hankam yang diwujudkan dengan kehadiran MBT di provinsi itu.

Kehadiran MBT di Kalbar sejatinya untuk mengimbangi kekuatan divisi ATM yang sudah membangun kekuatannya di Sarawak.  Malaysia sudah membangun jalan raya di sepanjang perbatasan dengan Indonesia.  ATM juga sudah merekrut askar wathaniah di sepanjang perbatasan, menempatkan brigade artileri dan kavaleri di Sarawak.  Kodam Tanjungpura yang sudah dibentuk di Pontianak dihadirkan untuk memperpendek jalur komando dan jarak.  Adalah sangat ironi manakala jalur komando dan jarak yang sudah dipunyai itu hanya sebagai macan kertas manakala kondisi terburuk terjadi.

Doktrin masuk dulu baru pukul perlu penyesuaian karena kita ada dalam dinamika perkembangan yang sangat cepat perubahannya.  Kekuatan detterens perlu digelar di border land agar jiran sebelah bisa ngaca diri dan tahu diri.  Oleh sebab itu dalam konsep minimum essential force kita sangat mengharapkan Kodam Tanjungpura memliki kekuatan pukul penggentar dengan memiliki minimal 1 batalyon MBT, 1 batalyon panser, 1 batalyon artileri, 1 batalyon rudal lapan-pindad surface to surface, 1 batalyon rudal surface to air jarak sedang, 4 batalyon infantri mekanis dan 5 batalyon infantri.  Semoga itu bisa tercapai dalam 5 tahun ke depan.
*******
Jagvane / Pengamat alutsista
06032011

Tuesday, March 1, 2011

Serial Alutsista (3): TNI AD, Mengasah Pedang Pre Emptive Strike


Diantara ketiga matra TNI, TNI AD adalah matra yang paling kuat jumlah personil dan persenjataannya. Data terkini menyebutkan TNI AD memiliki kekuatan 350.000 pasukan yang terdiri dari pasukan Kopasus, Kostrad, Kodam.  Ragam persenjataannya meliputi  2.150  Tank, Panser, Howitzer dari berbagai jenis, ratusan Roket dan Rudal serta 110 heli tempur / angkut.  Tahun 2010 kemarin TNI AD diperkuat lagi dengan 154 Panser Anoa buatan Pindad dan 12 Heli Tempur dan Angkut dari Rusia.

Untuk menuju kekuatan pukul minimum essential force tahun 2014, TNI AD melakukan pekerjaan mengaduk adonan baru dengan mengubah wajah satuan pemukulnya based on kecepatan reaksi, utamanya untuk satuan Kostrad.  Divisi Kostrad tidak lagi berdasarkan pembagian tugas teritorialnya melainkan pada tingkat gerak cepat kesatuan menuju 3 titik panas sekaligus jika diperlukan.  Saat ini sedang dilakukan pembangunan divisi 3 Kostrad di kawasan Indonesia Timur sehingga akan menjadi kekuatan pemukul 3 divisi berkekuatan 50 ribu personil.

Batalyon-bataylon di seluruh Kodam juga berbenah diri termasuk membentuk batalyon baru (infantri, artileri dan kavaleri).  Kalimantan yang terdiri dari 2 Kodam diperkuat dengan kehadiran batalyon baru, setidaknya ada  10 batalyon baru dibentuk dalam rangka mengasah pedang pre emptive strike.  Mengapa pre emptive strike karena itu bagian dari perubahan pola untuk menyikapi perkembangan situasi bertetangga yang gampang demam.  Obat flu demam dan sakit kepala akibat ulah tetangga tak lain adalah dengan memperkuat pertahanan diri termasuk banyak minum madu (baca: alutsista) dan vitamin (baca: pasukan pemukul reaksi cepat).

Ini tidak bisa ditawar.  Kalimantan merupakan salah satu pusat demam ulta (ulah tetangga) sehingga harus banyak madu dan vitamin dipersiapkan disana.  Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Sarawak dalam waktu dekat akan menjadi basis utama Main Battle Tank  batalyon kavaleri dengan kekuatan 70 Tank, 80 Panser Canon.  Batalyon artileri yang sudah ada diperkuat dengan satuan-satuan roket dan akan disebar di beberapa titik di perbatasan. Batalyon ini juga dilengkapi dengan rudal anti tank yang juga menjadi senjata andalan batalyon infantri.  Brigade rudal dengan alutsista utama dari karya anak bangsa rudal Pindad-Lapan berjarak jangkau 300 km akan menjadi arsenal  strategis bagi TNI AD dan ditempatkan di border Kalimantan, Riau dan Sumatra Utara.

TNI AD sudah mempersiapkan kedatangan arsenal baru yang terdiri dari 70 MBT, 80 IFV (Infantri Fight Vehicle) dan 80 Panser Canon.  Roket Langusta dan Howitzer kaliber besar akan menjadi senjata andalan batalyon armed yang akan berubah bentuk menjadi batalyon roket.  Sementara satuan tempur infantri berkualfikasi raiders  menjelma menjadi batalyon infantri mekanis dengan kendaraan tempur panser Anoa.  TNI AD saat ini memiliki  Tank tempur utama 100 Tank Scorpion/Stormer, 300 Tank AMX-13 sebagian dari tank jenis ini  sedang diretrofit  agar menjadi lebih striking force untuk satuan-satuan kavaleri.

Satuan Penerbad akan memperoleh 24 Heli 412EP, 6 Heli MI35 dan 8 Heli Mi17. Skuadron Heli Penerbad dikembangkan dari 3 skuadron saat ini menjadi 5 skuadron, 1 skuadron ditempatkan di Berau Kaltim, 1 skuadron lainnya di Timika Papua.  Skuadron eksisting saat ini ada di Semarang (2 skuadron) dan  Jakarta (1 Skuadron) dengan kekuatan  5 Heli Mi35, 8 Heli Mi17, 40 Heli jenis lain).

Dengan anggaran pembelian alutsista yang telah disetujui sebesar US$15 Milyar untuk masa 2010-2014, TNI AD mendapat porsi paling kecil.  Itu karena nilai arsenal pada matra darat ini ada di kualitas pasukan, tidak seperi matra lainnya (AL dan AU)  yang bertumpu pada kualitas arsenal.  Namun walaupun kecil (20% dari US$ 15 milyar), dari jumlah anggaran yang sedikti itu dapat dibeli sejumlah arsenal modern dalam jumlah memadai dan berkualitas.  Berapa sih harga 1 buah MBT dibanding 1 unit Sukhoi atau 1 unit Korvet.  Artinya 1 Sukhoi bisa untuk beli 100 MBT atau 300 Panser Anoa.

Minimum Essential Force bukanlah sasaran akhir tetapi sasaran antara dan dharapkan tahun 2014 sudah tercapai untuk kemudian menuju kekuatan pukul yang berkualifikasi detterens.  Untuk menuju 2014 ini kita sudah bisa melihat gerak dan geliat Kemhan dan Mabes yang tiba-tiba saja berubah menjadi gadis cantik yang dilirik banyak orang.  Karena rasa ingin tahu tentang anatomi si gadis ini sampai-sampai intelijen Korea Selatan penasaran untuk lihat daftar belanja alutsista TNI dengan cara mencuri data.  Atau agar si gadis tak menjadi liar lalu Presiden AS menawarkan hibah 24 F16 dan retrofit 5 Hercules.  Cina juga berbaik hati mau dan sudah bekerjasama untuk proyek rudal strategis dan menawarkan kerjasama pertahanan.

Yang pasti, penyakit demam Ulta harus disikapi dengan memperkuat postur pertahanan diri dan merubah pola defensif menjadi pre emptive strike.  Definisi pre emptive strike adalah untuk mengajak tetangga agar mau menghormati teritorial jirannya kalau tidak ingin dipukul babak belur. Bukan mengajak berantem tetapi mengajak untuk menghargai karena kita sudah cukup toleransi, rendah hati dan baik budi pada tetangga.  Sayangnya sikap itu dianggap gagah gemulai, tidak tegas, lugu sehingga pre emptive strike adalah salah satu jawaban untuk memperlihatkan kekuatan otot kita yang sesungguhnya.  TNI AD dan matra lain sudah siap untuk itu.

*****
Jagvane/pengamat alutsista
01032011

Tuesday, February 1, 2011

Skenario Perang Indonesia - Malaysia



Wilayah Konflik Ambalat
Panas dinginnya hubungan bertetangga antara Indonesia dengan Malaysia dimana penyebab virus demam itu bermuasal dari arogansi Malaysia yang merasa kastanya lebih tinggi dari Indonesia, lalu seenaknya melecehkan teritori NKRI, budaya NKRI, dan TKI.  Situasi ini  memberikan cuaca mendung dan memungkinkan setiap komponen warga bangsa ini mempersiapkan skenario terburuk untuk melawan arogansi tetangga sebelah itu. Beberapa skenario ganyang Malaysia sudah disiapkan melalui beberapa cara dan salah satunya adalah pre emptive strike menghajar teritori Malaysia melalui serangan dadakan yang tak terduga.

Berbagai unjuk rasa sampai sweeping yang dilakukan terhadap warga Malaysia setidaknya mencatat satu hal penting yaitu permusuhan di kalangan grass root masyarakat Indonesia dengan Malaysia sudah mencapai titik didih.  Seandainya Pemerintah mengisyaratkan sinyal Dwikora jilid 2 maka dalam waktu sesingkatnya TNI bisa melancarkan pre emptive strike.  Simulasinya adalah suatu kejadian di sekitar Maret 2015 dengan sebab yang sama, Ambalat.  TNI mendahului dengan melakukan sabotase obyek vital di Semenanjung dan Kalimantan melalui pasukan khusus yang menyamar sebagai TKI.  

Tak lama kemudian  TNI meluncurkan ratusan rudal yang sudah ready for use di Sarawak dan Sabah dan dalam waktu bersamaan dimulailah serangan amphibi gerak cepat menghancurkan kota Tawao dan Kinabalu. TNI AL pada saat itu sudah memiliki kekuatan 3 divisi Marinir dengan persenjataan lengkap dan pengalaman tempur yang jauh lebih baik dari TLDM baik dari sisi kuantitas dan kualitas. Dalam pada itu 1 pleton Taifib dan Jala Mengkara diluncurkan melalui kapal selam mini untuk hancurkan Scorpene yang sedang berlabuh di pangkalannya di Sabah lewat serangan tak terduga dinihari.

Serangan dan pendaratan pasukan amphibi akan diselesaikan dalam waktu 11 jam yang bergerak dari Sangatta dan Tarakan yang sudah dipersiapkan sebagai basis militer berkekuatan 50 ribu pasukan TNI.  Sebelumnya pantai Tawao dan Kinabalu dihujani bom oleh 8 Sukhoi dan 12 F16.  Kemudian pasukan pendukung AD dan persenjataan berat lainnya diturunkan dari puluhan KRI LPD, LST dalam waktu 24 jam berikutnya. 

Dalam waktu bersamaan 1 Divisi TNI AD dengan dukungan ratusan artileri, tank dan rudal yang sudah digelar di Kalimantan Barat memasuki Kuching dalam satu serangan kilat  8 jam. Karena sudah didahului oleh serangan rudal, maka pusat-pusat combatan, pangkalan udara dan komunikasi Malaysia di Sarawak menjadi lumpuh.  Sementara Perairan Natuna sebelumnya juga sudah diblokade oleh 26 KRI untuk memutus logistik laut Semenanjung dan Borneo.

Lalu bagaimana dengan Sumatra ? TNI di wilayah ini mengirim pasukan komando ke Semenanjung untuk menyusup dan lakukan sabotase mirip rembesan lasykar jihad. Selat Malaka dikawal oleh 34 KRI striking force yang siap menyerang pantai Malaysia.  Melalui penyusupan pasukan komando, obyek-obyek vital di KL dihancurkan dan mengkondisikan TKI dan warga Indonesia yang ada di Malaysia untuk melakukan serangan sporadis, bom bunuh diri, intelijen, sabotase dan pembakaran sehingga menimbulkan kepanikan massif sekalian membalas apa yang telah dilakukan Noordin M Top selama ini. Model propaganda juga dilakukan dengan melakukan provokasi terhadap etnis China dan India untuk melakukan perlawanan terhadap diskriminasi etnis yang terjadi selama ini dan mempersiapkan Anwar Ibrahim merebut kekuasaan dan mengganti bentuk kerajaan menjadi republik Malaysia.

Pada hari yang sama 3 brigade Marinir dari Medan dan Aceh lakukan serangan dadakan ke Penang untuk memecah konsentrasi TDM berperang menuju front yang mana. Karena kebingungan menghadapi 4 front pertempuran sekaligus (Sabah, Sarawak, Natuna dan Penang) membuat TDM kebingungan, panik dan tidak mampu lakukan konsolidasi karena telah terjadi kerusuhan rasial di Semenanjung, Serawak dan Sabah. Sementara dari Riau ratusan kapal nelayan yang berisi pasukan para militer Indonesia dan sukarelawan merembes dan mendarat secara besar-besaran lalu lakukan sabotase, pembakaran dan mengajak warga Indonesia yang ada di Johor untuk lakukan apa saja untuk membuat huru-hara horizontal sehingga menimbulkan perkelahian massal dan ketakutan yang luar biasa bagi warga Malaysia.

Lalu dimana posisi TNI AU. Dengan kekuatan  pesawat tempur  32 Sukhoi, 40 F16, 36 Hawk, 12 F5E, 16 Yak 130, 16 Super Tucano TNI AU tidak melakukan serangan udara ke wilayah Semenanjung karena serangan pre emptive sudah dilakukan melalui rudal-rudal berjarak jangkau 300 km dan mampu melumpuhkan pusat-pusat militer dan komunikasi Malaysia.  Meskipun begitu TNI AU bersiap untuk dog fight dengan TUDM dengan taktik biarkan lawan masuk ke wilayah NKRI baru digebuk dan dihancurkan. Wilayah Indonesia yang luas ini membuat TUDM tak fokus mau lakukan serangan udara ke area mana apalagi seluruh pangkalan udara di Sarawak dan Sabah telah dihancurkan rudal-rudal Lapan yang menggetarkan itu.

Serangan langsung ke wilayah teritori Malaysia diskenariokan hanya berlangsung 7 hari karena Indonesia tidak berambisi ekspansi teritorial. Setelah melewati waktu itu seluruh PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) TNI ditarik mundur setelah pengkondisian di dalam negeri Malaysia berjalan mulus yaitu menimbulkan konflik horizontal diantara sesama penduduk Malaysia kemudian mendukung Anwar Ibrahim menjadi presiden Malaysia setelah bentuk kerajaan diganti menjadi republik dan mempercepat pembentukan negara Sabah dan Sarawak di Kalimantan.

Berikut disampaikan peta kekuatan TNI dan cadangan nasional yang dimiliki NKRI, sebuah kekuatan yang tak mampu ditandingi Malaysia, apalagi kalau bicara kekuatan nasionalisme dan heroik yang dimiliki bangsa ini

TNI AD  memiliki pasukan tempur 260.000 orang (Kopassus, Kostrad, Kodam).  Jumlah pasukan cadangan mencapai 6 juta personil.  TNI AD dilengkapi dengan 1.200 Tank, 1.700 Panser, Artileri / Roket  2.200 unit, Rudal 900 unit, Heli Tempur 90 unit.  Konsentrasi arsenal TNI AD ada di pulau Kalimantan.

TNI AL memiliki kekuatan 95.000 pasukan termasuk 3 divisi Marinir dengan jumlah armada 196 KRI dari berbagai jenis (Fregat, Korvet, KCR, LPD, LST).  Kapal selam yang dimiliki berjumlah 6 unit dan menjadi alat pukul strategis untuk menghancurkan kapal diraja Malaysia yang lewat di selat Malaka, Laut Natuna dan Ambalat.  Marinir memiliki 750 tank amphibi dan 820 panser amphibi disamping howitzer, roket dan rudal.

TNI AU memiliki kekuatan pesawat tempur  32 Sukhoi, 40 F16, 36 Hawk, 12 F5E, 16 Yak 130, 16 Super Tucano, 6 pesawat intai strategis, 12 pesawat intai taktis, 40 pesawat angkut berat Hercules, 24 pesawat  UAV dan rudal anti serangan udara jarak sedang.

Nah sekarang dengan skenario perang ini mampukah Malaysia menandingi kekuatan NKRI yang jauh lebih besar dari kekuatan yang dimiliknya, terutama kekuatan nasionalisme dan heroik yang dimiliki seluruh anak bangsa. Pesan yang ingin disampaikan melalui tulisan ini adalah agar jiran sebelah itu mampu memberikan nuansa bertetangga yang baik, tidak arogan, tidak melecehkan tetangga, saling menghormati dan toleransi. Jangan sampai kondisi terburuk itu yang terjadi, jangan bangunkan macan yang sedang tidur, jangan buat harga diri bangsa Indonesia menjadi macan yang terluka. Kalau itu yang terjadi, siap-siaplah menjadi almarhum kerajaan Malaysia.
*****
Jagvane