Monday, April 1, 2019

Kita Baru Menuju Kekuatan Minimal


Program modernisasi militer Indonesia yang dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force) hampir menyelesaikan tahap yang kedua.  Program itu ada di MEF I (2010-2014), MEF II (2015-2019) dan MEF III (2020-2024).  Artinya saat ini kita sedang berada di penghujung MEF II dalam upaya mengejar ketertinggalan kekuatan alutsista kita. Dengan kata lain kita baru menuju kekuatan minimal yang dibutuhkan dalam mempertahan negeri ini dari ancaman kekuatan luar.

Dalam perhitungan kuantitas dan kualitas alutsista yang sudah kita miliki sampai saat ini belum sampai pada kriteria minimal. Program penguatan alutsista TNI berdasarkan target MEF baru akan tercapai tahun 2024. Itu pun dengan catatan jika program MEF II saat ini bisa mencapai target yang telah ditetapkan.

Jujur saja dibanding dengan program MEF I (2010-2014), program MEF yang sedang berjalan saat ini belum optimal. Ini bisa terlihat dari proses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang terkesan bertele-tele. Empat tahun lebih proses pengadaan alutsista strategis ini berjalan dan terakhir kabarnya harus delay dulu karena ada Pilpres 17 April 2019 nanti.
KRI Martadinata 331
Hampir semua alutsista yang didatangkan dari luar negeri dan atau diproduksi oleh industri pertahanan kita adalah produk MEF I. Pengadaan Tank Leopard, Marder, Artileri Caesar Nexter, KH 178, KH179, MLRS Astross, Starstreak, Mistral, Oerlikon Skyshield, Panser Anoa, Panser Tarantula, Tank Amfibi BMP3F, MLRS Vampire, Kapal Selam Nagapasa Class, Martadinata Class, Kapal Cepat Rudal, Kapal LST, Pesawat CN295, Jet tempur F16, T50, Super Tucano, Helikopter Mi35, Mi17, Apache, Bell 412 Ep dan masih banyak yang lain adalah realisasi program MEF I.

Dalam catatan kita sejauh ini tidak banyak rencana pesan yang diterbitkan dalam MEF II. Program pengadaan tahap kedua untuk membangun 3 kapal selam Nagapasa Class sampai saat ini belum sign kontrak. Lanjutan serial Martadinata Class juga belum jelas, program pengadaan kapal perang light destroyer yang digadang-gadang juga belum final.  Pengadaan Sukhoi SU35 berlarut terus.

Jadi jelaslah kekuatan militer kita dari segi kepemilikan kuantitas dan kualitas alutsista belum sampai pada ukuran minimal. Masih dibutuhkan lagi satu tahapan rencana strategis lima tahunan. Oleh karena itu sangat tidak pantas jika kemudian membandingkannya dengan kekuatan militer Singapura yang sudah lebih dulu berjaya.
Tank Harimau
Singapura adalah negeri dengan tingkat kesejahteraan yang terbaik di rantau ASEAN bahkan dunia. Negeri mungil yang sejahtera, makmur namun “terkendala” dengan kecilnya ukuran teritorinya mengharuskan negeri itu memperkuat militernya.  Dua tetangganya yang besar Indonesia dan Malaysia, adalah sebuah ancaman eksistensi kehidupan masa depannya. Itu persepsinya.

Tetapi kita pun tidak perlu merasa minder dengan kekuatan alutsista Singapura karena sejatinya dalam strategi pertahanan, negeri itu bukanlah ancaman bagi eksistensi Indonesia. Sehebat apapun kekuatan milter Singapura, tidak mengkhawatirkan kita.  Lho kok bisa Om.  Sederhana saja pemikirannya.  Misal seluruh jet tempurnya mampu menghancurkan Jakarta, tidak akan mampu melumpuhkan kita, masih ada kota-kota lainnya yang jumlahnya ratusan. 

Angkatan Laut Indonesia punya kekuatan armada yang lebih baik dari Singapura. TNI AL memiliki 165-170 KRI berbagai jenis sedangkan Singapura hanya di kisaran 30-35 kapal perang. Singapura hanya unggul di kekuatan udara karena dia menganut pola pre emptive strike dan sarang tawon. Berani ganggu kami sengat atau jika mendekat kami sikat. Wajar kan karena negerinya yang kecil itu mengharuskan dia untuk memperkuat tameng pertahanannya.
Apache dan Mi35
Jadi kita masih harus terus memperkuat militer kita. Masih banyak kekurangan yang harus dipenuhi. Soal coverage radar saja belum terpenuhi seluruhnya. Belum lagi soal Network Centric Warfare, sinergi pertempuran tiga matra yang harus dipenuhi. Natuna sedang dipersiapkan untuk model ini dan saat ini sudah dilapis dengan kekuatan 3 radar sekaligus berikut pangkalan militernya.

Dibanding dengan sepuluh tahun lalu, jelas kekuatan alutsista kita meningkat tajam.  Ini harus diapresiasi dan disyukuri, tetapi belum sampai pada persyaratan minimal untuk pertahanan negeri kepulauan yang besar ini.  Makanya dikembangkan Divisi 3 Kostrad, Divisi 3 Marinir, Armada 3, Koopsau 3 yang semuanya berada di wilayah timur Indonesia.

Pengadaan alutsista jelas dibutuhkan untuk mengisi satuan-satuan tempur yang baru dibentuk. Kita masih membutuhkan minimal 3 skadron jet tempur, kapal perang jenis destroyer, fregat,  korvet dan kapal selam. Yang membahagiakan adalah industri pertahanan kita saat ini sedang berbinar terang dan sudah mampu membuat  Panser, Tank, Roket, Bom, Kapal Patroli Cepat, Kapal Cepat Rudal, LPD, LST, Korvet dan sebentar lagi Kapal Selam.

Maka untuk mencapai target minimal di MEF III, pemegang kendali dan kelola pertahanan kita harus memiliki kualitas kepemimpinan, koordinasi, komunikasi dan integritas yang kuat.  Masih banyak program yang harus diselesaikan, masih banyak yang tercecer. Karakter pengelola pertahanan yang kita inginkan seperti penggalan syair lagu Ebiet G Ade : Istriku harus cantik lincah dan gesit, tapi dia juga harus cerdik dan pintar. Bisa aja Om.
****
Jakarta, 1 April 2019
Jagarin Pane

Friday, March 29, 2019

Bulan Menguji Latih Alutsista Canggih


Bulan Maret 2019 ini berbagai inventori alutsista yang dimiliki TNI diuji dalam serial simulasi.  Ini bagian dari optimalisasi penggunaan karena alutsista yang baru dimiliki itu seyogyanya memang harus dianalisis dan diuji terus menerus keandalannya teknologinya.

Beberapa waktu lalu artileri swa gerak M109 A4 yang baru dibeli dan Caesar Nexter kembali unjuk diri kemudian diikuti dengan MLRS Astross II.  Ini adalah jenis alutsista canggih milik  Yon Armed TNI AD ini baru dimiliki, jadi harus sering-sering diujilatih agar menjadi familiar dalam penggunaannya. Demikian juga dengan helikopter serbu Apache yang berjumlah 8 unit memerlukan kuantitas dan kualitas pelatihan yang harus dikuasai oleh para awaknya.

Armada Satu TNI AL yang medan tugasnya mengawal Selat Sunda, Selat Malaka sampai Natuna melaksanakan kegiatan gugus tempur laut di Laut Jawa. Ada kapal perang baru yang dilibatkan yaitu KRI Semarang 594 dari jenis LPD bersinergi dengan KRI Bung Tomo 357 dan beberapa Kapal Cepat Rudal yang lain. Latihan sepanjang Laut Jawa ini berakhir di Banten dan dikunjungi Panglima TNI.
Artileri Swa Gerak M109 TNI AD
Ketika belasan KRI Armada Satu melaksanakan latihan tempur, kesiagaan menjaga teritori tetap tinggi, buktinya KRI Teuku Umar 385 dan Kri Tarakan 905 berhasil menangkap 4 kapal nelayan Vietnam di Natuna. Sejumlah jet tempur Hawk bersiaga di Natuna dan juga 1 flight Sukhoi mengawal Tarakan adalah dalam rangka mengawal perbatasan teritori udara negeri ini.

Armada Dua TNI AL melaksanakan simulasi pertempuran bersama TNI AU, jadi modelnya adalah interoperablity antar matra. TNI AL mengerahkan light fregat terbaru KRI I Gusti Ngurah Rai 332 dan beberapa KRI Striking Force lainnya, sedangkan TNI AU mengerahkan 4 jet tempur Sukhoi. Medan latihannya adalah Selat Makassar sampai Ambalat.  Latihan antar matra ini adalah bagian dari antisipasi model pertempuran masa depan yang dikenal dengan Network Centric Warfare.

Skadron yang berdomisili di Iswahyudi juga bareng-bareng latihan tempur malam hari. 1 flight Jet tempur F16 dan T50 selama seminggu melaksanakan pengeboman pada malam hari di area latihan AWR Lumajang.  Sementara Di Iswahyudi AFB saat ini ada kesibukan tersendiri yaitu sedang dilakukan upgrade jet tempur 10 F16 blok 15 secara bertahap dan pembangunan infrastruktur untuk 11 jet tempur Sukhoi SU35.

Astross II Mk6 TNI AD
Di wilayah timur TNI AL mengerahkan kekuatan pukulnya dengan menghadirkan KRI Yos Sudarso 353 dan sejumlah KRI combatan untuk patroli gugus tempur laut. Armada Tiga TNI AL yang baru dibentuk berpusat di Sorong Papua. Karakter laut dalam yang dimiliki kawasan timur Indonesia mengharuskan kehadiran kapal perang minimal setingkat korvet. Misalnya Diponegoro Class yang berjumlah 4 unit di BKO kan secara bergantian.

Dengan dikembangkannya gelar armada menjadi tiga maka isian KRI striking force harus dipenuhi. Dari sisi ancaman maka kekuatan Armada Satu dan Armada Dua merupakan prioritas karena ada potensi konflik di Natuna dan Ambalat.  Jadi kehadiran sejumlah KRI harus lebih sering di wilayah itu.

Sementara kehadiran KRI di Armada Tiga  dan bermarkas di Sorong akan memperpendek rentang kendali dan efektivitas operasional.  Tidak lagi harus ke Surabaya sebagai pangkalan induk. Sambil menunggu pembangunan kapal perang baru isian KRI dari inventori yang tersedia seperti Ahmad Yani Class.

Berbagai jenis alutsista yang baru dimiliki itu bukan untuk dielus-elus lalu dipamerkan dalam parade hari ulang tahun. Lebih dari itu, harus lebih sering diuji, dianalisis, dievaluasi untuk bisa menampilkan unjuk kerja optimal dan agar awak yang mengoperasikannya menjadi familiar dan tidak gaptek.
Yang dinanti kedatangannya Sukhoi SU35
Simulasi pertempuran adalah bagian dari kesenyawaan prajurit dan alutsista yang harus terus menerus diasah.  Pamer latihan juga perlu dipublikasikan karena ini bagian dari  psywar untuk menunjukkan kekuatan militer kita. China berani pamer latihan tempur besar-besaran di Laut China Selatan, padahal itu wilayah konflik. Jelas tujuannya untuk unjuk kekuatan dan kehebatan militernya.

Kita juga pernah latihan militer skala besar di Natuna, pamer kekuatan.  Kita juga pernah latihan militer skala besar di Ambalat, pamer kekuatan. Jadi negera itu perlu pamer kekuatan militer melalui latihan tempur disamping juga pamer kekuatan ekonominya.  Dua hal yang kita miliki itu, kekuatan ekonomi dan kekuatan militer seiring sejalan menuju kekuatan yang diperhitungkan.  Semoga.
****
Yogya, 29 Maret 2019
Jagarin Pane

Wednesday, March 20, 2019

Iver Class Diambang Pintu

Gambar mungkin berisi: luar ruangan dan air

Berkunjung sampai dua kali ke pabrikannya, Kementerian Pertahanan saat ini sedang menuju tahap akhir proses pengadaan 2 kapal perang Fregate Iver Class dari Denmark. Dan dalam waktu dekat akan ada kepastian kontraknya. Kita sambut gembira karena kapal perang jenis ini adalah striking force yang setara dengan kekuatan kawasan Asean. Harus begitu supaya kewibawaan teritori laut kita semakin bermarwah dan disegani. Anggaran sudah disediakan US$ 750 juta. Tentu ini tidak termasuk paket persenjataannya. Tidak apa-apa, 2 KRI Martadinata Class produksi bersama PAL dan Damen Schelde Belanda yang sudah operasional selama 2 tahun baru sekarang dilengkapi dengan berbagai jenis persenjataannya. Dalam waktu dekat diprediksi akan ada lanjutan penambahan Martadinata Class sebanyak 2 unit lagi.

***Jagarin Pane

Gagahnya Simbah S60 57 MM

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

Orang pada rame ngeributin S300 atau S400 buatan Rusia, kita punya artileri pertahanan udara S60 57mm biasa2 aja tuh. Padahal S60 itu embahnya S300 ato S400. Jadi harus hormat lho sama Simbah yg sudah setia menjaga NKRI lebih setengah abad. Masih gagah lagi. Dan sekarang Simbah juga ikut program digitalisasi, tidak lagi pakai engkol untuk menggerakkan canonnya. Batalyon Arhanud TNI AD saat ini juga mengoperasikan alutsista yang lebih modern seperti Grom, Mistral, Starstreak dan dalam waktu dekat  akan mengoperasikan sistem peluru kendali darat ke udara jarak sedang NASAMS.

***Jagarin Pane

Upgrade F16 Blok 15 OCU

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih

10 jet tempur F16 blok 15 TNI AU " direnovasi ulang" untuk meningkatkan kemampuan tempur dan usia pakai. F16 blok 15 adalah jet tempur yg dibeli tahun 1989, jadi sudah ketinggalan jaman. Maka teknologi avionik, mesin, radar dan dan rudal dimutakhirkan agar bisa setara dgn adik kelasnya F16 blok 52. Semua pekerjaan ini dilakukan di Iswahyudi AFB oleh teknisi TNI AU dan supervisi oleh Lockheed Martin AS. Program ini telah berlangsung sejak tahun 2017 dan Semester I tahun ini akan selesai 2 unit F16.

Indonesia punya 33 jet tempur F16 terdiri dari 10 F16 blok 15 dan 23 F16 blok 52. Diniscayakan dalam waktu dekat akan ada penambahan minimal 16 unit F16 Viper untuk memperkuat taji Angkatan Udara kita. Kita doakan.

***Jagarin Pane

Sunday, March 3, 2019

Menguatkan Armada Tempur Sekuat Tenaga


KRI Bung Tomo 357 baru saja digertak oleh dua kapal pengawas nelayan Vietnam, bahkan sebelumnya kapal KKP Hiu Macan harus mengalah dan melepaskan 4 kapal nelayan Vietnam di perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Natuna Riau. Baru setelah KRI TOM 357 melepaskan tembakan peringatan, kapal pengawas nelayan Vietnam menjauh.

Untung saja pangkalan militer Natuna sudah operasional sehingga 3 kapal perang Bung Tomo Class sudah ready for use di segala cuaca disana. Jadi cepat tanggap dengan rentang kendali jarak yang lebih pendek.  Meski begitu intensitas pelanggaran teritori laut ZEE kita terang-terangan dan lebih sering dimasuki kapal nelayan asing.
Bung Tomo Class, mengawal Natuna
Maka sebenarnya kebutuhan untuk mengisi tiga armada tempur TNI AL adalah prioritas untuk segera dipenuhi. Tidak lagi berpola pikir kita tidak punya musuh.  Lha memang kita tidak suka cari musuh, akan tetapi mencermati dinamika kawasan di sekitar kita boleh jadi setiap saat bisa tercipta musuh dengan sendirinya.

Contohnya ya itu tadi wong kapal setingkat pengawas nelayan Vietnam saja berani menggertak kapal perang kita yang dikomandani setingkat kolonel lho. Bagaimana kalau yang menggertak kapal Fregat Vietnam, bisa saja kan. Atau tiba-tiba kapal selam Kilo nya muncul dari dalam laut. Jadi kita tidak mencari musuh tetapi dalam lintas perjalanan pengawalan teritori bisa saja terjadi insiden dan musuh tercipta dalam waktu singkat.

Oleh karena itu program pengadaan alutsista matra laut kita harus nomor satu yang paling  diprioritaskan selain matra udara. Kita kan negara maritim, negara yang halaman luasnya bernama perairan yang punya kekayaan sumber daya alam.  Kehadiran armada kapal perang kita yang melakukan patroli laut adalah kewajiban yang harus ditunaikan sepanjang jam dan sepanjang hari.
Armada kapal selam akan menjadi 8 unit thn 2024
Sebaran pangkalan sudah diperbanyak.  Lantamal-Lantamal sudah siap menampung kapal-kapal perang kita.  Isiannya yang masih kurang.  Saat ini jumlah kapal perang kita ada di kisaran 160-165 KRI berbagai jenis, separuhnya kapal tua.  Dan untuk KRI Striking Force yang kita miliki baru sampai pada tingkat Light Fregat.  Belum nendang jika berhadapan dengan negara di kawasan ini.

Martadinata Class perlu dilanjut, dari dua yang sudah dibangun paling tidak masih butuh 7 kapal perang lagi dari kelas ini. Kemudian pegadaan kapal perang jenis Destroyer sudah diulang-ulang disampaikan.  Bahkan petinggi Kemhan sudah bolak balik mengincar Destroyer kelas Iver. Tapi menurut kita langkahnya kurang tegap dan cepat.

KRI Striking Force kita minimal harus ada kekuatan penggentarnya yaitu Destroyer.  Memperbanyak KCR (Kapal Cepat Rudal) juga bagus sebagai kapal penyengat hit and run.  Namun untuk mewibawakan teritori laut yang disekitarnya ada tumpang tindih klaim selayaknya kita harus mempercepat proyek Destroyer. Dalam lima tahun mendatang harus ada minimal 6 Destroyer lengkap dengan persenjataannya. Itu kalau mau disebut berwibawa.

Jadi proyek KCR dengan PT PAL jalankan terus, termasuk proyek PKR Martadinata Class lanjutkan. Dan mulailah dipercepat pengadaan kapal perang jenis Destroyer.  Ini soal kecepatan pengambil keputusan, jalur koordinasi antar kementerian bisa diparalelkan.  Kalau perlu dekati Presiden dan Parlemen.  Jelaskan argumennya dengan kecerdasan. 

Soal ancaman nomor satu adalah bencana alam kita sudah sepakat.  Tapi soal terciptanya musuh setiap saat kita juga harus cerdas dong menghadapinya.  Salah satu bentuk kecerdasan itu ya dihadapi dengan kekuatan militer, mengerahkan kapal perang  Striking Force yang sudah terisi dengn berbagai jenis persenjataannya.

Contoh paling dekat adalah konflik India dan Pakistan, masing-masing punya kekuatan militer yang modern dan dua-duanya punya senjata nuklir.  Dan dua-duanya jadi segan untuk memperbesar eskalasi konflik.  Itulah salah satu kegunaan kalau punya militer yang kuat.  Adu otot terukur dalam bingkai kecerdasan diplomasi.  Lha kalau ototnya gak kuat diketawain dong sama yang menggertaknya.  Jadi kuatkanlah sekuat tenaga.
****
Solo, 3 Maret 2019
Jagarin Pane

Tuesday, February 12, 2019

Kogabwilhan, Menuju Network Centric Warfare


Ada  sejumput pertanyaan yang diungkap, meski program perkuatan militer Indonesia melalui program MEF (Minimum Essential Force) sudah berjalan 9 tahun, jika dibanding dengan era Trikora dan Dwikora masih kalah cepat, kalah kuantitas, kalah greget. Maka jawaban cerdasnya adalah waktu itu kita sedang berkonflik hebat dengan Belanda dan Malaysia. Jadi diperlukan kekuatan militer dengan alutsista yang detterens secepatnya.

Isian alutsista waktu itu dari ala kadarnya kemudian menjadi kekuatan penggentar hanya dalam waktu 7 tahun. Punya lebih dari 100 kapal perang, 12 kapal selam, 100 jet tempur dan pembom jarak jauh, peluru kendali SAM dan lain-lain.  Hasil perkuatan itu Belanda dengan nasehat dari AS harus angkat kaki dari Papua dengan diplomasi PBB.  Catatannya adalah kalau kekuatan militer kita tidak galak waktu itu maka Belanda tidak akan kabur dari Papua.
Pelabuhan Indah Kiat Cilegon, bisa jadi pangkalan AL
Nah saat ini sudah 9 tahun kita memperkuat militer kita. Memperkuat tentara kita saat ini adalah dalam rangka mengantisipasi dinamika kawasan yang mulai panas dingin.  Terutama sejak China mengklaim kawasan Laut Cina Selatan, meski Natuna tidak termasuk, kata dia. Tapi tidak ada jaminan itu akan tepat omongan. Lidah diplomasi itu tergantung suasana di hadapan dan suasana hati.

Maka menghadapi inkonsistensi lidah tak bertulang kita siapkan Natuna sebagai benteng pertahanan berkarakter lebah. Ada yang berani ganggu kita sengat. Isian berbagai jenis alutsista kita penuhi baik untuk matra darat, laut dan udara. Ada tiga lapis radar, ada kesiagaan jet tempur, ada patroli rutin KRI striking force, ada UAV, ada 1 brigade pasukan pemukul reaksi cepat.

Proses pengadaan alutsista sedang berjalan sebagaimana juga pembangunan di sektor lain. Peta jalan pengadaan alutsista ke depan adalah untuk memenuhi konsep interoperability antar matra dan bagian pengelolaan sistem pertempuran modern yang dikenal dengan Network Centric Warfare. Natuna adalah contoh yang sudah jadi hard infrastucture nya berupa pangkalan militer 3 matra.

Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan) yang sudah dipersiapkan sejak 10 tahun yang lalu baru sekarang mulai direalisasikan. Artinya memang tidak perlu tergesa-gesa membentuk satuan baru ini. Disamping tidak efektif juga belum banyak keterisian alutsista pada sepuluh tahun yang lalu. Sama halnya ketika kita bangun kapal perang, tidak serta merta lengkap dengan isian sejumlah rudal dan lain-lain.  Semuanya bertahap sesuai ketersediaan anggaran.

Dua kapal perang striking force kita yang canggih Martadinata Class yang dibangun 2 tahun lalu baru sekarang diisi dengan berbagai jenis persenjataan berteknologi terkini.  Demikian juga dengan KRI Fatahillah yang baru diremajakan tidak perlu terburu-buru diinstall dengan persenjataan rudal anti kapal atau rudal anti serangan udara. Semuanya bertahap. 
Coast Guard (Bakamla) kekuatan lapis kedua TNI AL
Kapal-kapal Coast Guard kita (Bakamla) yang baru dibuat juga sudah disiapkan tempat untuk instalasi peluru kendali dan persenjataan mematikan.  Suatu saat jika diperlukan sebagai lapis kedua kekuatan angkatan laut selain TNI AL kapal-kapal Bakamla bisa dipersenjatai dengan rudal atau torpedo dan lain-lain.

Jika sekarang Kogabwilhan dioperasionalkan itu karena ruang kendali wilayah atau titik panasnya sudah ada yaitu Natuna. Pangkalan militer sudah ready for use, isian alutsista sudah disebar. Yang sedang dipersiapkan soft infrastructure Network Centric Warfare. Kogabwilhan diperlukan sebagai antispasi rantai komando lapangan di suatu wilayah yang mensinergikan 3 matra, bereaksi cepat dan tanggap.

Semua proses itu, pengadaan alutsista dan pembentukan Kogabwilhan, berjalan terukur dan direncanakan dengan baik oleh pemikir dan pengambil keputusan strategis di Kemhan dan Cilangkap. Semuanya bertahap dan lagian kita kan tidak dalam posisi berkonflik dengan negara lain. Ini tentu beda dengan suasana Trikora dan Dwikora dulu.

Kita mengantisipasi situasi di kawasan kita dengan perebutan teritori penyimpan sumber daya alam tak terbarukan. Contohnya Laut Cina Selatan, Ambalat dan boleh jadi suatu ketika ada yang coba mengganggu Papua. Makanya pembangunan Armada ketiga, Divisi ketiga Marinir, pembangunan skadron-skadron TNI AU dan Divisi ketiga Kostrad semuanya disebar di kawasan timur negeri ini utamanya di Papua.

Saat ini sedang berjalan proses-proses pemenuhan kebutuhan pertahanan kita.  Kita meyakini dalam program MEF jilid 3 periode 2020-2024 semua program pemenuhan kebutuhan untuk memperkuat militer kita bisa terlaksana dengan bagus.  Siapapun yang akan memenangkan pemilihan pemimpin negeri ini tahun ini, tetaplah dia selalu amanah dan istiqomah untuk memperkuat benteng pertahanan republik yang luas, kaya dan strategis ini.
****
Jagarin Pane / Yogya, 11 Februari 2019

Friday, January 18, 2019

Matahari Alutsista Bersinar Terang


Tidak terasa kita telah sampai di tahun 2019, tahun terakhir dari sebuah program antarrezim yang istiqomah, MEF-2 alias Minimum Essential Force jilid 2.  Kenapa disebut istiqomah karena dua pemerintahan yang berbeda karakternya tetap melanjutkan program modernisasi militer kita, MEF yang insyaAllah sampai jilid 3 periode 2020-2024.

Perkuatan militer Indonesia hukumnya “fardu kifayah” bagi bangsa ini dan “fardu ain” bagi pemerintahan negeri ini. Sebab jika tidak dilaksanakan atau terlambat melaksanakannya akan memberikan rasa malu yang luar biasa.  Sebab negeri kepulauan terbesar di dunia ini dengan kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah, dengan kekuatan sumber daya manusianya yang nomor 4 terbesar di dunia kok punya militer yang tak bergigi.
Kombinasi Apache dan Mi35, dua-duanya kita punya
Maka kita berterimakasih pada pemerintahan SBY dan Jokowi yang sampai saat ini masing-masing kebagian kerja satu jilid program MEF dan kita bisa lihat hasilnya yang cukup membanggakan. Berbagai jenis alutsista canggih sudah kita miliki dan pengadaan berbagai jenis alutsista semakin besar frekuensinya ditahun terakhir MEF jilid 2 ini.

Kita sedang memproses pengadaan 6 Drone Male (Medium Altitude Long Endurance) untuk mengawal Natuna. Kita sedang menunggu kedatangan 4 helikoper Chinook, kita sudah pesan 9 helikopter Bell 412Epi dan 8 helikopter Caracal. Kita juga sudah menganggarkan pembelian 8 helikopter Apache tahun ini. 5 Pesawat angkut berat Hercules seri J dari AS akan memperkuat skadron Hercules.

Skadron Hercules dikembangkan dari 2 skadron menjadi 3 skadron.  Skadron yang baru berlokasi di Makassar. Skadron helikopter tempur dibangun di Jayapura, skadron pesawat angkut CN235 dibangun di Biak, skadron  UAV dibangun di Timika.  Sedang disiapkan 1 skadron jet tempur untuk melindungi Papua. Satuan radar militer dibangun di NTT, Bengkulu dan Morotai untuk menutup blank spot mata telinga teritori udara kita. Natuna sudah jadi pangkalan militer terintegrasi.

Parade HUT TNI, seperti sebuah lukisan indah
Kita juga sedang menunggu kedatangan 11 jet tempur Sukhoi SU35.  Meski banyak dinamika dalam proses pengadaannya kita meyakini semua sesuai jadwal, minimal ada 2 jet tempur Su35 yang ikut meramaikan HUT TNI 5 oktober nanti. Sementara program radarisasi dan rudalisasi 15 jet latih tempur golden eagle sedang dikerjakan.

Setidaknya 3 kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank) dan 1 LPD rumah sakit segera memasuki inventori TNI AL. Matra laut ini juga sedang menunggu kehadiran pesanan kapal selam ke 3 Nagapasa Class yang dibuat di PT PAL kerjasama dengan Korsel.  Artinya tahun ini kita sudah memiliki 5 kapal selam. Dan tidak berhenti sampai disitu. 

Kemhan sedang bernegosiasi dengan saudara kita yang baik hati Korsel untuk melanjutkan transfer teknologi dengan kembali mengadakan pembangunan 3 kapal selam tambahan. Peran PT PAL semakin ditingkatkan dengan membangun beberapa modul kapal selam. Diharapkan dalam MEF 3 tahun 2020-2024 kita sudah memiliki 8 kapal selam canggih. Dan diharapkan teknologi pembuatan kapal selam relatif sudah kita kuasai pada saat itu.
Menyambut kapal selam baru Nagapasa Class
Kemhan juga sudah kontrak pengadaan 3 kapal perang jenis KCR (kapal cepat rudal) dengan PT PAL. Ini kontrak batch 2 dan kontrak batch 1 sudah menghasilkan 4 KCR Sampari Class. Lalu bagaimana dengan kelanjutan pembangunan kapal perang PKR10514 Martadinata Class. Sabar ya Om, bentar lagi juga ada beritanya.  Kontrak-kontrak skala besar di tahun terakhir MEF 2 akan berkibar di minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang.

Belum lagi program pengadaan jet tempur F16 Viper yang diniscayakan di MEF-3, pengadaan 2 kapal perang destroyer, makin cerah aja. Juga kedatangan MLRS Astross, Nexter, Ambulance militer, Vampire, Tank Amfibi, Tank Harimau dan lain-lain semuanya memberikan kebanggaan bagi kita yang cinta negeri ini.

Jadi tahun ini matahari alutsista kita bersinar terang, gak pake mendung dan semuanya menyambut dengan sukacita. Utamanya industri pertahanan strategis baik PT PAL, Pindad, PT DI, galangan kapal swasta nasional semuanya sedang menikmati hari-hari cerah dalam proses bisnis mereka.  Tidak terkecuali sang user TNI sebagai pemilik dan pengelola alutsista canggih tentu menyambut dengan mata berbinar.

Negeri kepulauan yang besar ini mutlak harus dilindungi dengan kekuatan militer yang berkualitas.  Maka perkuatan militer kita adalah bagian dari kesinambungan pembangunan di segala bidang. Tidak boleh dipisah-pisah apalagi dinomorduakan. Kita membangun perkuatan militer di Natuna, misalnya, adalah untuk menjaga harkat dan martabat teritori kita karena di utara kepulauan itu sedang terjadi demam berkepanjangan karena klaim Laut Cina Selatan.

Semoga program MEF kedepan nanti akan semakin memperlihatkan kehebatan militer kita yang memang sudah hebat dari sisi kualitas SDMnya. Kita terus perkuat alutsistanya sembari menyampaikan pesan kuat bagi siapa saja yang coba menganggu teritori NKRI, jangan coba-coba bermain api dengan teritori Indonesia.
****
Semarang, 18 Januari 2019
Jagarin Pane


Tuesday, December 25, 2018

Natuna, Menjawab Tantangan Atas, Kiri dan Kanan


Salah satu kawasan teritori yang demam terus menerus adalah perairan Laut Cina Selatan.  Penyebabnya semua sudah tahu, ambisi teritori Cina yang haus akan sumber daya alam tak terbarukan. Laut Cina Selatan kaya akan “nutrisi” untuk menghidupi masa depan milyaran warganya.

Kepulauan Natuna persis dihadapan klaim Cina terhadap pulau-pulau atol dan perairan Laut Cina Selatan (LCS). Cina membangun pangkalan militer besar dan menantang siapa saja yang coba-coba memasuki perairan LCS tanpa izin.  Nah Cuma AS yang bisa mengimbangi si Naga yang sedang menggeliat.

Namanya saja Naga yang menggeliat, bisa saja lalu ekornya atau semburan apinya masuk ke wilayah Natuna dan bilang : Ini punya owe juga, haiyya.  Maka kita pun bersiap menghadapi kondisi terburuk itu dengan membangun pangkalan militer terintegrasi segala matra. Dan infrastruktur pangkalan di Natuna baru saja diresmikan penggunaannya oleh Panglima TNI.

Kekuatan terintegrasi
Natuna sebagai teritori paling beresiko dan berada di garis depan teritori disiapkan untuk mampu bertahan dari serangan negara manapun yang coba mengusik teritori kita. Maka disana ada pangkalan AU, pangkalan AL termasuk pangkalan kapal selam. Ada berbagai jenis kesatuan tempur seperti Raider TNI AD, Paskhas TNI AU dan Marinir TNI AL.  Berbagai alutsista juga disiapkan termasuk satuan radar berlapis mulai dari Vera NG, Master T dan Weibel.

Dua elemen alutsista strategis yaitu KRI dan jet tempur hadir setiap saat selama 24 jam dan sepanjang tahun, bergiliran dan estafet. Namanya juga pangkalan pasti harus ada isinya dong. TNI AD menempatkan satuan artileri medan, kavaleri dan infanteri akan berkolaborasi dan berintegrasi dengan matra lain dalam sebuah skema network centric warfare.

Selain Natuna kita juga sedang menyiapkan pangkalan-pangkalan militer di NTT dan Papua. Di NTT disiapkan pembangunan batalyon armed dan kavaleri. Pangkalan TNI AL di Kupang ditempatkan beberapa KRI dan di El Tari disiapkan 1 flight jet tempur. Sementara di Sorong akan menjadi pangkalan induk Armada Tiga TNI AL, di Biak akan ada 1 skadron jet tempur dan 1 skadron pesawat angkut sedang.  Di Jayapura disiapkan 1 skadron helikopter dan Timika ditempatkan 1 skadron pesawat intai tanpa awak (UAV).

Kekuatan dan keberanian
Yang menarik tentu pangkalan militer strategis Natuna.  Meski disiapkan untuk menghadapi ancaman lidah Naga yang suka sembur sana sembur sini, juga memberikan manfaat ganda karena berada di titik strategis yang memisahkan Malaysia Semenanjung dan Malaysia Borneo.  Juga dekat dengan Singapura.

Pangkalan militer Natuna jelas memberikan dampak perhitungan strategi militer untuk Malaysia. Karena secara militer, Natuna bersama kekuatan Armada Satu TNI AL dan 3 skadron jet tempur TNI AU dianggap bisa menjadi penghadang atau mampu melakukan blokade militer untuk aliran kapal perang dan jet tempur Malaysia yang akan ke Malaysia Borneo atau sebaliknya.

Jadi manfaat ganda dari adanya pangkalan militer segala matra di Natuna tentu memberikan kebanggaan tersendiri. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Pemikir strategis pertahanan kita ketika merencanakan pangkalan militer itu tentu tidak lepas dari “bau-bau” klaim teritori Ambalat oleh Malaysia. Maka kehadiran pangkalan Natuna memberikan efek gentar bagi Malaysia. Mau coba-coba klaim lagi sudah ada Natuna di depan hidung.

Maka pekerjaan selanjutnya adalah memberikan isian menu paket lengkap untuk mencukupi kebutuhan gizi alutsista di Natuna dengan gelar permanen alutsista strategis. Termasuk kesiapan pangkalan militer pendukung utama di Batam, Tanjung Pinang, Pekanbaru dan Pontianak.  Natuna tidak sendirian, dia di back up penuh oleh pangkalan militer di dekatnya.

Kita meyakini dalam beberapa bulan mendatang akan ada kontrak pengadaan alutsista skala besar seperti pengadaan lanjutan 3 kapal selam, 2 kapal perang destroyer, 2 fregat, 1 skadron jet tempur, UAV, Helikopter dan lain lain. Perkuatan militer kita akan terus berlanjut untuk memastikan seluruh teritori negeri ini terlindungi, terawasi dan berwibawa.

Natuna sudah menunjukkan kewibawaannya, bahwa kita tidak main-main soal kewibawaan teritori, kita mampu membangun kekuatan militer kita, kita juga mampu membangun industri pertahanan strategis kita baik yang dimiliki BUMN maupun swasta. Inilah salah satu kebanggaan kita memperkuat militer, industri pertahanannya pun ikut berkibar mekar.
****
Semarang, 25 Desember 2018
Jagarin Pane

Saturday, December 15, 2018

Dua Jiran Sedang Bersitegang


Selat Johor yang memisahkan dua negara jiran,  Malaysia dan Singapura, hari-hari belakangan ini sedang memperlihatkan cuaca tidak bersahabat. Sebabnya tentu soal batas teritori air dan udara yang saling klaim sehubungan dengan perluasan pelabuhan masing-masing negara. 

Singapura sedang memperluas pelabuhan Tuas melalui reklamasi laut sepanjang 10 km dan akan beroperasi tahun 2020 nanti.  Khawatir tersaingi Malaysia juga bergegas memperluas pelabuhan Johor Baru yang sangat dekat dengan pelabuhan Tuas. Malaysia juga berencana mengambil alih kontrol penerbangan di Johor dari Singapura.

Singapura, negeri mungil paling sejahtera di ASEAN dan punya koleksi alutsista terbaik di kawasan ini kemudian memperlihatkan taring kekuatannya dengan mengerahkan sejumlah kapal perang, jet tempur, helikopter apache dan UAV ke perairan sengketa yang tidak terlalu luas itu. Sementara Malaysia cuek aja melewati perairan yang sedang dipersengketakan itu bahkan menaruh kapal MV Polaris untuk berdiam diri.


Kedua negara juga pernah bersengketa soal pulau Batu Putih (Pedra Branca) yang berada di pertemuan selat Singapura dan Laut Cina Selatan. Secara historis pulau kecil itu ada dalam wilayah kesultanan Johor. Namun ketika diuji di sidang Mahkamah Internasional tahun 2008 diputuskan pulau itu milik Singapura.

Perseteruan antar jiran adalah sesuatu yang lumrah terjadi, sebagaimana dulu ketika Ambalat diributkan antara Malaysia dan Indonesia. Malaysia yang merasa diatas angin karena bisa mendapatkan Sipadan dan Ligitan melalui sidang Mahkamah Internasional tahun 2003 lalu melanjutkan klaim atas Ambalat dengan mengerahkan sejumlah kapal perang.

Waktu itu mereka tidak menunjukkan sikap sebagai sahabat ASEAN dan mengerahkan sejumlah kapal perang ke perairan Ambalat. Jujur saja waktu itu kekuatan udara mereka mengungguli kita yang sedang terpuruk ditambah lagi dengan kehadiran kapal selam barunya yang berpangkalan di Teluk Sepanggar Sabah.

Tetapi waktu itu kita hadapi Malaysia dengan kekuatan militer juga sembari bertekad memperkuat dan memodernisasi militer dalam sebuah kurikulum strategis yang dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force).  Dimulai tahun 2010 sampai sekarang program MEF kita telah menghasilkan perkuatan militer yang sudah mengungguli Malaysia.  Bahkan Natuna kita jadikan pangkalan militer besar yang lokasinya sangat strategis tepat berada ditengah Malaysia Semenanjung dan Malaysia Borneo.

Kekuatan militer Singapura jelas mengungguli Malaysia. Apalagi kondisi militer Malaysia saat ini sedang tidak “bahagia” akibat ulah rezim terdahulu yang tidak cakap dalam mengelola pemerintahan. Rasio hutang terhadap PDB negeri melayu itu saat ini berada dikisaran 74%, tentu sangat berat beban yang ditanggung APBN Malaysia.

Pada saat yang bersamaan negara-negara ASEAN lainnya sedang menunjukkan kuantitas belanja alustsista yang terus menerus.  Filipina terus memperkuat alutsista negerinya dengan membeli berbagai peralatan militer. Thailand juga memperkuat otot militernya, tidak ketinggalan Vietnam yang ada di garis depan persengketaan teritori dengan Cina. Indonesia sudah sama-sama kita ketahui belanja terus lho Om. Sementara Malaysia hanya berdiam diri.

Singapura jelas tak tertandingi soal anggaran belanja militernya dan terus memperkuat pagar teritorinya dengan model pre emptive strike. Maka ketika silang sengketa soal perairan di Selat Johor memanas, wajar saja dia unjuk kekuatan  karena memang dia punya kekuatan menyengat yang luar biasa. Soal siapa yang salah dan siapa yang benar tentang kepemilikan teritori itu jadi urusan diplomasi antara keduanya.

Maka pelajarannya yang diambil dari sengketa antar jiran adalah, jangan abaikan kekuatan dan perkuatan militer.  Karena militer adalah bagian dari kekuatan diplomasi sebuah negara. Unjuk kekuatan militer Singapura terhadap Malaysia di Selat Johor bisa dipandang sebagai ledekan dan ejekan untuk jiran utaranya itu.

Program MEF kita yang sedang berlangsung saat ini juga merupakan  langkah strategis untuk menunjukkan kepada jiran bahwa kita jangan dianggap remeh. Kita perkuat militer kita sejalan dengan perkuatan ekonomi karena antara keduanya adalah investasi untuk menuju marwah negeri berdaulat, bergengsi dan berotot.

Tentu kita berharap sengketa antara kedua jiran itu bisa diselesaikan secara baik dan terhormat melalui jalan diplomasi. Antara keduanya saling membutuhkan satu sama lain.  Kedepankan etika ASEAN dan saling menahan diri. Singapura jelas butuh jirannya Malaysia juga sebaliknya Malaysia membutuhkan Singapura dalam banyak hal.
****
Solo, 15 Desember 2018
Jagarin Pane