Saturday, February 14, 2015

LCS: Tidak Lagi Memakai Pendekatan Bandeng Presto



Perkembangan demam di Laut Cina Selatan semakin bulan ( kalau tidak ingin disebut semakin hari) semakin menunjukkan intensitas lagak diri dari seorang pemain yang merasa paling berhak, Cina. Secara diam-diam Cina membangun sebuah pangkalan militer di salah satu gugus kepulauan Spratly yang juga di klaim Filipina.  Pembangunan basis militer itu jelas mengancam negara-negara ASEAN.

Cina sedang bergiat diri membangun kekuatan armada laut dan udaranya.  Saat ini saja kekuatan angkatan udara dan lautnya tidak tertandingi meski seluruh negara ASEAN dikumpulkan kekuatan militernya. Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi nomor satu di dunia dengan dukungan kekuatan militer bernaluri ekspansif boleh jadi target kekuatan serbu yang dicanangkan pada tahun 2020 menjadi sebuah momok bagi negara ASEAN yang berteritori di LCS, termasuk Indonesia.  Dan itu hanya 5 tahun dari sekarang.

Apache sedang melatih Penerbad
Dalam bingkai LCS, Indonesia mestinya tidak lagi menjalankan politik bandeng presto dalam diplomasi dengan Cina.  Indonesia, bersama Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand adalah pendiri ASEAN. Jadi mestinya ASEAN tetaplah nomor satu. Artinya negara-negara anggota ASEAN yang punya klaim alias sengketa LCS dengan Cina harus lebih diutamakan aspirasinya ketimbang si Naga. Jangan menampilkan gaya diplomasi bandeng presto.  Ketika di internal ASEAN (dalam kenetralan kita), menjadi sebuah unjuk kerja persoalan yang dinamis dan panas lalu ketika Indonesia berhadapan dengan Cina menjadi bandeng duri lunak. Cina harus dihadapi dengan ketegasan, tidak ada kata lain yang lebih tepat dari itu.  Indonesia harus mengambil sikap.

Salah satu aroma ketegasan itu adalah dengan membangun pangkalan militer segala matra di Natuna.  Saat ini kepulauan Natuna tidak masuk dalam klaim Cina terhadap LCS tetapi bukan tak mungkin negeri semilyar umat itu suatu saat kembali mengklaim manakala seluruh kepulauan Spratly dan kepulauan Paracel berhasil dikuasainya. Jadi bangunkan Natuna, siapkan alutsista strategis, tempatkan 1 skuadron jet tempur dan kapal-kapal perang secara permanen disana. Natuna adalah jawaban militer terhadap arogansi klaim lidah naga yang menjulur kemana-mana.

Disamping membangun kekuatan militer lebih agresif, Indonesia sudah mulai harus memikirkan perlunya aliansi militer dengan sahabatnya di ASEAN utamanya yang “merasa terdesak dan kalah gertak” dengan klaim Cina seperti Vietnam, Malaysia, Brunai dan Filipina.  Jika aliansi militer dengan 4 negara ini menjadi kenyataan tentu mampu menjadi kekuatan bargaining diplomasi.  Kekuatan diplomasi bagaimanapun harus dibayangi dengan kekuatan militer sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam setiap sengketa internasional.

Berhadapan dengan Cina seperti berhadapan dengan tembok, makanya ASEAN harus membangun tembok juga untuk membuka celah diplomasi setara.  Sebab jika Vietnam atau Filipina atau Malaysia berhadapan one by one dengan Paman Mao, dijamin tak akan ada hasil yang didapat, bahkan mungkin pelecehan militer.  Masih ingat ketika armada kapal perang Cina menghampiri beberapa pulau yang diklaim Filipina dan Malaysia dalam perjalanan unjuk kekuatan mulai dari LCS, selat Sunda, lalu unjuk kebolehan di hidung Australia sebelum akhirnya pulang melalui selat Lombok dan selat Makassar.
Sapuan Lidah Naga
Secara tersirat sebenarnya pergeseran sikap Indonesia itu makin terlihat dengan mulai mengarah pada persekutuan tak tertulis dengan AS.  Ikut sertanya DIRI (Defense Institution Reform Initiative) AS menjadi konsultan pertahanan, ikut merancang strategi pertahanan, penguatan sistem dan manajemen pertahanan Indonesia menunjukkan adanya perubahan sikap. Disamping itu ada berbagai penawaran alutsista canggih seperti helikopter Apache, jet tempur F16 blok 60 lengkap dengan persenjataannya. Ada kabar bahwa AS juga menawarkan beberapa fregat operasionalnya untuk memperkuat angkatan laut Indonesia.

Ketegasan sikap Indonesia perlu ditunjukkan, sama halnya ketika kita melakukan penenggelaman kapal-kapal asing maling ikan, melanggar teritori kita.  Dan kita bisa melaksanakan itu. Juga ketika kita tegas menembak mati narapidana narkoba warga negara asing yang sudah ditolak grasinya, meski Brazil dan Belanda mutung lalu menarik Dubesnya dari Jakarta.  Belakangan Belanda sudah sembuh dari mutungnya dan kembali mengirim Dubesnya ke Jakarta.  ASEAN tidak bisa berjalan sendiri-sendiri dalam menyelesaikan konflik besar di LCS.  ASEAN harus punya formula jitu untuk menjinakkan si Naga yang sudah menyemburkan api permusuhan di kawasan kaya sumber energi itu.

Kalau kita jeli membaca kunjungan lima hari Panglima TNI ke Cina akhir Februari 2014, usai dari kunjungan Jenderal Moeldoko mengatakan dengan tegas bahwa kita akan membangun pangkalan militer besar di Natuna.  Tak lama kemudian Menhan Purnomo waktu itu menambahkan kita akan menempatkan helikopter Apache diNatuna. Boleh jadi pesan ini sebagai hasil pertemuan dengan petinggi militer disana yang tetap berwajah ketat ketika diajak ngomong soal LCS.  Maka ini bisa jadi menjadi awal perubahan sikap itu secara militer.

Kita meyakini bahwa aliansi militer beberapa negara ASEAN sekaligus perkuatan militer Indonesia akan membuka peta jalan baru sekaligus mencairkan cara pandang Cina terhadap LCS, bahwa jalan dialog dengan kesetaraan merupakan solusi win-win. Tameng dari diplomasi itu adalah kesetaraan kekuatan militer.  Aliansi militer 4 negara ASEAN dengan dukungan Australia, Jepang dan AS boleh jadi akan membuat pihak sana berhitung ulang. Namanya juga skenario, apapun boleh dirancang tergantung perubahan situasi.  Jika Indonesia punya inisiatif, boleh jadi ini adalah salah satu langkahnya.
****
Jagarin Pane / 14 Feb 2015

Tuesday, February 10, 2015

Berita Bagus Neh....

Dari Rapim TNI AU pekan lalu diperoleh informasi bahwa dalam Renstra 2015-2019 TNI AU punya rencana besar yang tentu sangat membanggakan kita.  Kira-kira ini gambarannya :

  • Penambahan 3 skuadron tempur
  • Penambahan 1 skuadron angkut
  • Penambahan 1 skuadron helikopter
  • Penambahan 1 skuadron intai strategis
  • Penambahan 2 skuadron UAV
Lima tahun itu tidak lama dan jika program ini terlaksana maka tahun 2020 kita sudah mampu menegakkan kepala dan berjalan langkah tegap meski bukan untuk gagah-gagahan.  Sesungguhnya perkuatan militer adalah bagian dari upaya untuk memperlihatkan postur kenegaraan seirama dengan kemajuan ekonomi dan kesejahteraan.  

Oleh sebab itu kita mengharapkan  perjalanan renstra ini dapat berjalan dengan sukses, tentu seiring dengan perjalanan pertumbuhan ekonomi.  Sejatinya kita tidak terbendung lagi dalam upaya memperkuat ekonomi dan militer.  Dengan PDB yang cukup besar, kemudian APBN alias daya beli yang meningkat, tidak ada lagi subsidi BBM merupakan modal kuat untuk melangkah, berjalan, berlari dan  berkompetisi.

***

Saturday, February 7, 2015

Menyikapi Pernyataan Dan Kenyataan Itu



Masih segar dalam ingatan kita ketika beberapa tahun lalu Menhan Purnomo melontarkan statemen bahwa angkatan udara Indonesia akan diperkuat dengan 10 skuadron jet tempur Sukhoi. Pernyataan itu terasa menggentarkan dan membungakan dada sehingga direlease di beberapa media luar negeri termasuk Malaysia. Ternyata kenyataannya tidak demikian, sampai saat ini kita hanya punya 16 Sukhoi alias satu skuadron saja.

Akhir Desember 2013 kembali ada pernyataan yang menggelegar dari Menhan yang sama bahwa kita akan membangun armada kapal selam dengan membeli sampai 10 kapal selam Kilo dari Rusia.  Bahkan tim kecil sudah dikirim ke Rusia untuk melihat barang bekas yang ditawarkan itu.  Bahkan jauh-jauh hari sebelumnya sekitar tahun 2010 kita sudah “memastikan” akan mendapatkan 2 kapal selam Kilo. TNI AL sudah mempersiapkan awak kapal selamnya untuk mengikuti pelatihan di Rusia, sebelum kemudian di tikungan akhir disalip Changbogo Korea.
Oerlikon Skyshield, penjaga dan payung pangkalan TNI AU
Sehari yang lalu ada statemen KSAU bahwa kita akan memberdayakan 5 pangkalan udara strategis di perbatasan yaitu Soewondo AFB di Medan,  Ranai AFB di Natuna, Tarakan AFB di Kaltara, Eltari AFB di NTT dan Jayapura AFB di Papua.  KSAU juga memberikan pernyataan bahwa tidak ada penambahan skuadron tempur baru di Indonesia Timur, cukup di cover oleh Sukhoi di Hasanuddin AFB Makassar. Dua pernyataan itu terang benderang.

Sekarang juga sedang hangat dibahas pembelian jet tempur baru dengan kandidat utama jet tempur kelas berat Sukhoi SU35 buatan Rusia.  Tidak kurang Panglima TNI dan KSAU berulang-ulang menyebut bahwa Sukhoi SU35  memenuhi persyaratan sebagai jet tempur jelajah jarak jauh yang memberikan nilai getar dan gentar pengawal dirgantara.  Kandidat berikutnya adalah Gripen dan Typhoon.  Menjelang keputusan akhir bergabung pemain terakhir dalam kompetisi merebut pasar jet tempur Indonesia yakni F16 blok 60 yang dibawa marketer dan government tangguh dari AS.

Apa kemudian yang harus kita sikapi dengan sejumlah hal diatas.  Untuk pernyataan 10 skuadron Sukhoi yang dilontarkan Purnomo bisa jadi yang dimaksud adalah memperkuat TNI AU dengan 10 skuadron jet tempur, salah satunya Sukhoi.  Menteri kancil itu kalau ngomong memang menggebu-gebu sehingga bisa saja terpeleset omongan.  Tetapi tentu pernyataan yang lebih heboh ketika dia mengatakan di akhir tahun 2013, bahwa TNI AL akan diperkuat dengan armada kapal selam Kilo. Ini tentu sangat membanggakan sekaligus membanting rasa dan asa. Karena ternyata tak satu pun kebenaran yang didapat dari pernyataan yang dipublikasikan luas oleh media.
KRI "Sigma" Diponegoro 365
Bahwa kemudian banyak pernyataan tidak sesuai kenyataan.  Termasuk ketika tahun 2010 kita sudah hampir pasti mendapatkan 2 kapal selam Kilo dari Rusia tetapi kemudian menjadi bertele-tele lalu hilang ditelan gelombang selat tak jelas.  Mestinya hal itu menyadarkan kita bahwa statemen bukanlah firman yang harus diyakini karena bagaimanapun keluarnya statemen tergantung situasi kondisional. Apalagi jika wartawan yang meliput tidak paham seluk beluk dan anatomi alutsista. Misalnya pesawat tempur Super Tucano diberitakan sebagai Super Volcano. Atau pernyataan bias bahwa kita mengirim kapal selam ke Lebanon ditelan bulat-bulat, padahal yang dimaksud adalah kapal selam sigma Diponegoro Class.

Pernyataan bahwa tidak ada penambahan skuadron tempur di Indonesia Timur tentu sangat mengecewakan khalayak, jika benar.  Karena sesungguhnya Biak telah mempersiapkan jauh-jauh hari untuk menampung skuadron tempur permanen. Telah tersedia disana satuan radar modern, Paskhas, dan infrastruktur lain yang mencerminkan kesiapan itu sejak lama.  Sejatinya kita menginginkan di Biak tersedia 1 skuadron jet tempur misalnya F16 untuk mengcover Papua.  Bukankah ini juga bersinergi dengan pembangunan 1 divisi Marinir di Sorong sekaligus sebagai payung udara.

Sementara pernyataan tentang 5 Air Force Base Strategis (Medan, Natuna, Tarakan, Kupang dan Jayapura) kenyataan sesungguhnya adalah Lanud yang tidak ada apa-apanya selain menyandang status strategis.  Di lima Lanud itu tidak ada skuadron tempur permanen apalagi bicara perlindungan udara semacam Oerlikon Skyshield.  Demikian juga dengan digadang-gadangkannya  Sukhoi SU35 sebagai kandidat number one jet tempur pengganti F-5 Tiger belum menjadi jaminan akan menjadi kenyataan.

Meski user sudah berulang kali melontarkan pernyataan akan ketertarikan dengan Sukhoi SU35, bisa jadi Kemhan sebagai pintu utama pengambil keputusan berbeda warna.  Oleh sebab itu menurut pandangan kita, tidaklah harus mempercayai secara “fanatik” beberapa statemen yang dilontarkan.  Soalnya jika ternyata tidak sesuai dengan harapan dan dambaan, sakitnya tuh terasa disini, betapa kecewanya kita.  Sama dulu ketika kita bermimpi tentang Kilo ternyata ketika kita bangun hanya fatamorgana sementara Vietnam saat ini sudah punya 4 kapal selam Kilo.

Diluar pernyataan dan kenyataan itu, pesan yang ingin disampaikan adalah berhitunglah secara jernih tentang kebutuhan alutsista untuk negeri kepulauan terbesar di dunia ini.  Bahwa kita masih membutuhkan banyak jet tempur, pesawat angkut, radar, kapal perang, kapal selam dan lain-lain adalah untuk memberikan kekuatan kedaulatan negeri ini.  Berhitung secara jernih dan bening dimaksudkan pula agar tidak mudah berubah pikiran.  Kehendak user adalah usulan yang paling terhormat untuk dipenuhi, toh anggaran belanja alutsista di MEF 2 ini diprediksi lebih banyak dari MEF1 yang lalu.  Kemhan adalah pintu strategis harapan itu.
****
Jagarin Pane / 07 Feb 2015

Wednesday, February 4, 2015

Detik-Detik Memilih Jet Tempur



Pertarungan memperebutkan pasar jet tempur yang dibuka Indonesia semakin seru saja terutama sejak Amerika Serikat mengambil sikap serius untuk ikut meramaikan pasar alutsista jet tempur dengan satu pembeli, Indonesia. Sejak lama digadang-gadang bahwa jet tempur Sukhoi SU35 menjadi pilihan utama karena memiliki nilai debar dan getar yang membahana.  Disamping itu untuk lebih memperkuat satuan alutsista Sukhoi yang sudah dimiliki Indonesia yaitu dari jenis SU27 dan SU30.

Pilihan terhadap Sukhoi SU35 dianggap memadai sebagai jawaban atas kedatangan jet tempur siluman F35 di Singapura dan Australia dalam waktu dekat.  Memilih SU35 adalah dalam upaya menuju kesetaraan teknologi tempur udara.  Menjaga wilayah udara RI yang luas, memang perlu jet tempur kelas berat, berteknologi tinggi dengan daya jelajah ribuan kilometer. Jika kita memilih dengan kebeningan nurani, tidak ada pembisik dan kecerdasan cara pandang maka sudah tentu Sukhoi SU35 memang pantas mengisi ruang udara negeri ini.

Manuver Sukhoi SU35
Pesaing Rusia yang perlu diawasi ketat oleh sales dan marketer Sukhoi adalah AS yang menawarkan jet tempur F16 blok 60.  Marketing F16 tentu sangat lihai memainkan kartu tawar dan boleh jadi bisa menyalip di tikungan akhir grand prix jet tempur.  Kita sudah akrab dengan jet tempur F16 sejak era akhir tahun delapan puluhan. Sakit hatinya kita terhadap alutsista AS dan sekutunya adalah pil pahit embargo satu dekade yang lalu.  Mestinya kita harus mengambil pengalaman itu sebagai bagian dari analisis kurang lebih yang menjadi tolok ukur penawaran dan keputusan membeli.

Sesungguhnya teknologi Sukhoi adalah “mata rantai” yang terputus yang tidak bisa masuk dalam bingkai pantauan dan remote barat.  Contoh dekatnya ketika kita diundang untuk membawa Sukhoi ke Pitch Black di Australia beberapa tahun lalu, pesta penyambutan khusus untuk tamu yang bernama Sukhoi sangat luar biasa, diikuti “rekam jejaknya” sejak masuk perairan Darwin.  Mereka haus dengan informasi dan postur Sukhoi.  Segala manuver diamati ketat termasuk dalam seri-seri latihan tempur di even yang diikuti AS dan Singapura itu.  Jangan lupa mesti sifatnya latihan sesungguhnya shohibul bait sedang mengintip ketangguhan sekaligus kelemahan pesawat tempur Sukhoi untuk kemudian disimpan dalam bank data militer Australia.

Makanya mata rantai yang terputus itu justru menjadi kelebihan jika kita memilih Sukhoi. Paling tidak membuat rasa penasaran dan menebak-nebak kehebatan dan kelemahan teknologi Sukhoi terkini, sudah menjadi beban pikiran ahli strategi militer negara sekutu. Sebaliknya jika kita memilih F16 atau teknologi barat jelas “rekam jejaknya” bahkan remotenya sudah tersimpan di bank data militer AS.  Kita perlu menambah kuantitas dan kualitas jet tempur Sukhoi, kalau hanya berharap dari 1 skuadron yang dimiliki saat ini jelas masih kurang.

3 F16 blok 52 Id dari pesanan 24 jet tempur
Tetapi sesungguhnya kita  bukan hanya sedang berupaya mengganti jet tempur F-5 Tiger.  Dalam MEF 2 ini sesungguhnya kita masih perlu penambahan minimal 2 skuadron tempur diluar penggantian itu.  Maka kalau melihat dari urutan kebutuhan skuadron tempur itu ada peluang untuk mengisi 3 skuadron.  Oleh sebab itu jika memang ingin penyederhanaan “merek”  alutsista ambil saja kedua-duanya, Sukhoi SU35 dan F16 blok 60.  Sehingga nantinya kombinasi akhir kompetisi MEF2 kekuatan TNI AU dengan  2 skuadron Sukhoi family dan 4 skuadron F16 beserta skuadron tempur lainnya.

Rusia adalah sahabat kita, sementara AS juga demikian meski lebih suka mendikte. Tapi kalau mau jujur sesungguhnya AS banyak membantu kita terutama dalam bidang kemanusiaan dan bencana alam.  Kalau kita ingin bermain cantik maka gaulilah keduanya dengan cerdas sementara dengan Cina mulailah pasang kuda-kuda secara militer meski secara diplomasi tetap harus pasang muka senyum.  Arogansi militer Cina di Laut Cina Selatan semakin hari semakin membuat kita antipati dan sekaligus waspada.  Meski saat ini kita netral tapi bisa saja demi solidaritas ASEAN kita harus memilih kawan yang sebenarnya.

Dalam rangka berhadapan dengan Cina itulah kita harus memperkuat AL dan AU kita.  Pilihan terhadap Sukhoi dan F16 adalah penggambaran sikap tidak harus setia pada satu hati  tetapi juga dalam rangka penyederhanaan jenis pesawat.  Itu sebabnya kita tidak memasukkan Gripen dan Typhoon dalam analisis  ini karena penyederhanaan merek dan pengalaman memakai 2 jet tempur Sukhoi dan F16 tentu menjadi nilai tambah keduanya.  Tetapi sekali lagi bisa saja Gripen dan Typhoon yang memenangi pertarungan ini di putaran akhir. Semua tergantung siapa yang membawanya, siapa yang dibelakangnya, siapa negara dibelakangnya, dan siapa yang mampu meyakinkan.  Dan yang diyakinkan yakin seyakin-yakinnya bukan yakin karena ada yang mau diyakinkan.
****
Jagarin Pane / 04 Feb 2015

Saturday, January 17, 2015

Mengintip Belanja Militer Jokowi



Perkuatan militer Indonesia terus berlanjut dan diperkirakan akan lebih seru dari periode sebelumnya. Presiden Jokowi sudah bertekad menjadikan militer Indonesia bergigi dan bertaring dengan melakukan pembelanjaan alutsista.  Prediksi nilai belanja itu minimal mencapai US$ 20 milyar mulai tahun ini dan lima tahun ke depan. Orang dekatnya Andi Widjajanto adalah salah satu pemberi semangat Presiden yang menguasai betul seluk beluk pertahanan karena dia memang seorang cendikiawan pertahanan yang menginginkan kekuatan militer kita gahar.

Saat ini kita sedang menunggu kedatangan lanjutan berbagai alutsista yang sudah dipesan sebelumnya antara lain jet tempur F16 setara blok 52, MBT Leopard 2, Roket Astross, Artileri Caesar Nexter, Hercules, CN295, Radar dan lain lain. Pembangunan 3 kapal selam Changbogo juga sedang berlangsung saat ini di Korea Selatan.  Untuk percepatan target perolehan 8 kapal selam sampai tahun 2020, Indonesia diperkirakan akan mengakuisisi minimal 2 kapal selam jenis lain selain Changbogo.
Sukhoi dan F16, melintas gagah
Dengan visi poros maritim sebagai pemersatu pulau-pulau nusantara maka Angkatan Laut dipastikan akan mendapatkan perolehan alutsista kapal perang yang lebih berkualitas. Kita memerlukan lebih banyak kapal perang berkualifikasi fregat atau destroyer, maka prediksi lima tahun ke depan ini akan ada akuisisi 7-8 kapal fregat bekas pakai bersama 2-3 kapal destroyer.  Sementara kapal perang kelas KCR yang sudah mampu dibuat di tanah air akan lebih fokus dengan ukuran 50-60 meter.  Untuk lima tahun ke depan tidak sulit membuat 20-25 KCR di beberapa galangan kapal swasta nasional.

Penambahan kekuatan divisi Marinir menjadi tiga divisi sejalan dengan pemekaran armada tempur laut menjadi tiga armada tentu memerlukan isian alutsista dan komponen pendukungnya. Korps Marinir diperkirakan akan menambah persenjataan kavaleri dan artilerinya dengan penambahan alutsista minimal untuk 2-3 batalyon termasuk peluru kendali anti serangan udara untuk melindungi pangkalan angkatan laut di beberapa tempat.

Bakamla yang dibentuk pertengahan Desember tahun lalu sudah memastikan akan membangun sedikitnya 30 kapal patroli pantai berbagai ukuran untuk memperkuat armada kapal jenis BMI (Buru Maling Ikan).  Itu diluar dari hibah 10 kapal patroli non rudal yang dihibahkan dari TNI AL.  Dengan begitu dalam lima tahun ke depan sudah tersedia 50-60 kapal penjaga pantai BMI. Yang menggembirakan tentu adalah bahwa 30 kapal patroli BMI yang mau dibuat itu akan ditenderkan kepada galangan kapal swasta nasional di tanah air.
2 Fregat A Yani Class berparade
Matra udara diperkirakan akan memperoleh 1 skuadron jet tempur Sukhoi SU35 dan 2 skuadron jet tempur lainnya, bisa dari jenis F16 blok 60, Gripen atau Typhoon. Jet tempur Sukhoi SU35 sangat diperlukan sebagai bagian dari perkuatan Sukhoi Family dan untuk menjawab akuisisi jet tempur siluman F35 dari dua negara tetangga Singapura dan Australia.  Tidak hanya itu TNI AU akan memperkuat alat pandang dengarnya dengan menggelar radar-radar terbarunya termasuk satuan radar dan rudal yang bersifat mobile.  Nunukan adalah satu contoh pergelaran satuan radar dan rudal mobile dalam satu paket.

Pembangunan pangkalan militer di Natuna diharapkan akan menjadi home base permanen jet tempur dan kapal perang.  TNI AD juga memperkuat pulau besar terluar di Laut Cina Selatan ini dengan menempatkan 1 batalyon infantri permanen, 1 skuadron heli serbu dan kemungkinan tambahan 1 batalyon arhanud. Natuna adalah pertaruhan agar keterjagaan eksistensi teritori tidak diusik dan diremehkan. Maka sudah sepantasnya disiapkan lebih dini infrastruktur militer dan berbagai alutsista modern di pulau itu.  Yang menarik tentu perkuatan instalasi militer di Natuna membawa nilai gentar bagi Malaysia karena  menjadi sekat militer yang bisa menghalangi jalur logisik Semenanjung dengan Serawak, Sabah jika terjadi konflik kedua negara.

Modernisasi militer Indonesia yang diamati cermat oleh beberapa negara tetangga, lebih sering dipublikasikan oleh media militer luar negeri termasuk ulasan pengamat militernya.  Dalam pandangan kita tentu perkuatan militer itu untuk memastikan jaminan keyakinan kemampuan pada kekuatan militer yang dimiliki,mampu mempertahankan teritori NKRI.  Dalam pandangan beberapa jiran tujuan mulia itu tentu diapresiasi tetapi mereka juga memantau ketat pergerakan arah kiblat kekuatan militer Indonesia disamping sejauh mana kekuatan itu berpotensi menjadi ancaman mereka.
LPD dan Tank Amfibi BMP3F, luar biasa
Kita berpendapat sesungguhnya 70% kiblat alutsista Indonesia tetap ke Barat sedang sisanya adalah keinginan mandiri dan menyeimbangkan perolehan alutsista dengan Rusia dan Korea Selatan. Dengan Cina kita berupaya melakukan kerjasama militer, sayangnya negeri semilyar umat itu terlalu berhitung untung rugi.  Misalnya dalam transfer teknologi peluru kendali anti kapal C705. Sejauh ini hanya Korea Selatan yang lebih terbuka dalam manajemen kerjasama militer sementara Rusia kelihatannya baru membuka diri, jadi perlu bukti.

Sesungguhnya belanja militer Indonesia saat ini sedang diintip ketat oleh negara produsen alutsista.  Banyak yang kembali menawarkan seikat kembang merah dengan janji madu transfer teknologi.  Ujian terbesar dari pihak kita sebenarnya adalah mempertahankan nilai istiqomah ToT dan pengutamaan produksi dalam negeri.  Kita akan melihat sejauh mana keistiqomahan itu tetap dipegang karena sebelumnya sudah terbangun mekanisme kerjasama alih teknologi. Sementara produksi dalam negeri sudah berjalan bagus seperti Panser Pindad, KCR40, KCR60, Roket Rhan. Pengembangan alutsista berteknologi produksi dalam negeri pertaruhannya ada di periode ini,misalnya tank Pindad, peluru kendali, kapal perang PKR 10514, kapal selam.  Dan itu salah satu sebab mengapa kita perlu mengintip belanja militer Jokowi.
****
Jagarin Pane / 17 Jan 2015