Wednesday, January 4, 2012

Mengintip Kekuatan Pasukan Pemukul Marinir TNI AL

Kalau ada berita tentang latihan tempur TNI, apakah berskala internal Marinir, atau internal matra TNI AL atau antar matra gabungan (AD, AL, AU), pasukan Marinir adalah yang paling kuat gema tempurnya karena hantu laut ini adalah pasukan penggempur dan pemukul yang melakukan serangan dari laut menuju pantai melalui serangan amfibi.  Visualnya sangat jelas, menjelang subuh (selalu begitu) didahului oleh serangan udara langsung melalui jet-jet tempur TNI AU pada kawasan pantai yang akan didarati, lalu ada gempuran tembakan dari sejumlah KRI Fregat dan Korvet yang mengawal pasukan Marinir.  Suasana serangan udara dan laut itu sendiri dari sisi visual dengan kondisi alam yang masih pagi buta menimbulkan sensasi sendiri dengan warna rasa “penuh mencekam”.
Alutsista RM Grad  dalam operasi militer Korps Marinir
Kemudian dilakukan pendaratan amfibi.  Titik kritis itu ada disini, ketika sejumlah tank amfibi dan panser amfibi dikeluarkan dari perut KRI LST dan LPD lalu mengarungi perairan pantai sejauh kisaran mil.  Ruang dan waktu berenangnya alat tempur amfibi Marinir menuju titik tumpuan pantai sangat rentan oleh serangan balasan pihak musuh yang berlindung di sepanjang pantai dengan rudal anti tank atau serangan rudal dan roket dari pantai, atau serangan udara balasan, atau dihadang MBT dan artileri lawan.  Karena itu hanya latihan maka dramatisasi kondisi tempur  pihak lawan dengan situasi serangan yang sebenarnya, tidak sampai sejauh itu ceritanya.  Biasanya pihak lawan diasumsikan berkekuatan 1 batalyon, lalu dihadapi dengan 1 brigade Marinir.  Dalam latgab di Sangatta tahun 2008 pasukan musuh diasumsikan berkekuatan 1 brigade dan dihadapi dengan kekuatan 1 divisi pasukan Marinir.

Yang lebih menggembirakan tentu saja berita tentang akan diperkuatnya pasukan marinir TNI AL dari 2 Pasmar menjadi 3 Pasmar yang sudah mengembang sejak setahun lalu.  Pengembangan kekuatan itu semakin dipertegas dengan pernyataan KSAL Laksamana TNI Suparno pada HUT Korps Marinir tanggal 15 Nopember 2011 sekaligus memberikan kepastian jelas ruang pemekaran itu sedang berjalan tanpa publikasi luas.  Saat ini kekuatan Pasukan Marinir sebagai komando utama TNI AL berkekuatan 23.000 prajurit dengan alokasi Pasmar (Pasukan Marinir) I di Surabaya dan Pasmar 2 di Jakarta serta embrio Pasmar 3 di Lampung. Di Sorong juga sudah ada 1 batalyon Marinir sebagai cikal bakal pembentukan satu brigade Marinir di Papua.

Pasmar I (sama dengan kekuatan setingkat divisi) memiliki markas besar di Surabaya.  Makanya Surabaya secara de facto disebut juga kota Marinir dan Angkatan Laut karena disana ada kesatrian Marinir dan pangkalan angkatan laut terbesar di Indonesia.  Bandara Juanda itu sejatinya adalah Lanudal, bukan Lanud.  Pasmar I terdiri dari Brigade Infantri 1 Marinir, Resimen Kavaleri 1, Resimen Artileri 1 dan Resimen Bantuan Tempur 1.  Brigade Infantri 1 memiliki  3 batalyon infantri dan 1 satuan khusus yaitu batalyon intai amfibi.  Ketiga batalyon infantri itu adalah  Yonif 1 Mar, Yonif 3 Mar dan Yonif 5 Mar.

Sedangkan Resimen Kavaleri 1 memiliki kekuatan 3 batalyon yaitu 1 batalyon tank amfibi, 1 batalyon panser amfibi, 1 batalyon kapal pendarat. Resimen Artileri Marinir 1 memiliki 3 batalyon yaitu 1 batalyon meriam berat / howtizer, 1 batalyon Roket dan 1 batalyon Arhanud.  Resimen bantuan tempur Marinir 1 membawahi 5 batalyon yaitu batalyon telekomunikasi dan elektronika, 1 batalyon perbekalan, 1 batalyon kesehatan, 1 batalyon Angkutan Bermotor dan 1 batalyon provost.
Pasukan Marinir dan BTR-50 dalam operasi militer di Aceh
Untuk Pasmar II di Jakarta struktur dan kekuatannya sama saja. Yang membedakannya adalah kalau di Jakarta nomor genap maka di Surabaya nomor ganjil.  Maksudnya kalau kita menyebut Yonif 2 Mar atau Yonif 4 Mar maka alokasinya satuannya ada di Jakarta.  Kalau kita menyebut Brigade Infantri 1 Marinir maka alokasinya ada di Surabaya.  Sementara  satu brigade Marinir yang sudah terbentuk di Piabung Lampung memiliki 3 batalyon Marinir yaitu Yonif 7 Mar, Yonif 8 Mar, dan Yonif 9 Mar.  Kalau ini mau dijadikan Pasmar III, tinggal menambah kekuatan Resimen Kavaleri, Resimen Artileri dan Resimen Bantuan Tempur.  Walaupun dikatakan “tinggal menambah” sejatinya inilah yang paling mahal ongkosnya karena menyangkut pengadaan alutsista berupa tank amfibi, panser amfibi, howitzer, roket dan rudal.  Belum lagi penambahan KRI LST dan LPD untuk menunjang mobilitas tempurnya.

Korps Marinir saat ini adalah satuan tempur yang paling lengkap mobilitas tempur dan gerak operasionalnya.  Kekuatan persenjataannya diperkirakan memiliki 400-450 tank amfibi/panser amfibi dan ratusan alat tempur lainnya seperti Meriam, Howitzer, MRLS, NDL-40, Kapa, Rudal SA-7 Grail, Rudal Arhanud, Rudal Anti Tank.  Roket R-han buatan Pindad-Lapan yang baru diproduksi massal adalah alutsista yang mengisi gudang-gudang kesatrian batalyon Marinir.  Alutsista Marinir terbaru adalah tank amfibi BMP-3F buatan Rusia.  Jumlah yang tersedia baru 17 unit dan Korps Marinir sedang menunggu kedatangan 54 unit BMP-3F tahun ini.  Tank amfibi jenis lain yang dimiliki Marinir adalah  dari jenis APC (Armored Personel Carrier) yaitu  40 unit tank BMP-2 dari Slovakia, 80 unit tank AMX-10 buatan Perancis, 85 unit BTR-50 buatan Rusia, 12 unit BTR-80A , 10 unit LVTP-7A1 buatan AS.  Sementara tank tua yang dilengkapi dengan meriam 76,2 mm yang masih dimiliki Marinir adalah dari jenis  PT76.   Yang menarik adalah tank PT76 sudah diretrofit dengan mengganti mesinnya dengan mesin diesel 300 HP, sistem baru firing control, dipasangi laser range finder, perangkat night vision dan mengganti meriamnya dengan meriam Cockerill 90 mm. Jadi walaupun namanya PT76 namun rasa tempurnya sudah setara PT90.

Memang sudah selayaknya Korps Marinir diperkuat sampai 3 divisi.  Ini sejalan dengan pengembangan kekuatan armada laut TNI AL yang sedang dikembangkan dari 2 armada menjadi 3 armada.  Wajar dong negara kepulauan harus punya angkatan laut dan udara yang kuat.  Logikanya sederhana, kalau ada konflik regional yang akan maju duluan untuk gebuk-gebukan adalah AU dan AL.  Nah peran Marinir menjadi sangat kuat manakala konflik itu sampai pada tahap  merebut pulau yang diduduki musuh atau yang dipersengketakan.  Melalui serangan laut dan operasi amfibi, Marinir melakukan pendaratan dengan sejumlah alutsistanya.  Setelah itu semuanya berubah menjadi pertempuran darat.  Semua alutsista Marinir apakah dia bernama BMP3F, BTR-50, PT76, BTR80, RM Grad, Howitzer  masih akan ikut terus dalam pertempuran darat bergerak maju menghabisi musuh di pulau yang diduduki musuh itu.

Yang menarik hampir seluruh alutsista Korps Marinir berasal dari “blok Timur”.  Yang dari Barat misalnya tank AMX-10 yang ternyata hanya dipakai pada saat defile upacara, jarang terlihat dalam latihan serangan amfibi.  Usut punya usut katanya spek teknisnya tidak mendukung untuk operasi amfibi karena mudah terguling.  Ada juga tank amfibi jenis LVTP-7A1 buatan Paman Sam merupakan hibah dari Korsel karena TNI AL melakukan operasi bedah KRI Cakra dengan dokter dari Daewoo.  Janjinya sih Korsel mau menghibahkan 35 LVTP-7A1, yang baru direalisasikan 10 unit, masih ada “hutang” 25 unit.  Mestinya ditagih dong apalagi kita sudah pesan 3 kapal selam, 16 jet latih tempur T50 Golden Eagle dan alutsista lainnya.  Dalam bahasa bisnis ini sah-sah saja apalagi karena menyangkut janji, tentu harus dipenuhi.  Tetapi apa memang cuma merpati yang tidak pernah ingkar janji ?
*****
Jagvane  04 Januari 2012



Tuesday, December 27, 2011

Menutup Tahun Dengan Madu Ginseng

Satu tahun sudah blog ini hadir di hadapan sidang pembaca sebagai penabuh gendang yang mengiringi modernisasi alutsista TNI.  Selama setahun ini puluhan artikel sudah digelar sebagai pemancing selera untuk melirik ruang alutsista yang ditabuh berulang-ulang agar terdengar dan dipedulikan.  Bahwa sepanjang tahun ini kabar gembira terus mengiringi minggu-minggu perjalanan tahun mengisi berita alutsista baru yang dibeli murni, dibeli dengan transfer teknologi dan dibeli dari produk dalam negeri.

Pamungkasnya adalah penandatanganan kontrak pengadaan 3 kapal selam dengan negeri ginseng Korsel, nilainya US $ 1,1 Milyar.  Seperti bermain bola setelah tendang sana tendang sini, sempat juga handsball dan offside akhirnya goal itu tercapai juga.  Inilah bingkisan manis yang menutup perjalanan belanja alutsista  tahun 2011 dengan cum laude. Kita pun ikut menutup tahun dengan menyeruput  minuman madu ginseng yang menghangatkan itu.

Tulisan yang dikedepankan di blog ini sejatinya adalah untuk mengajak kita, warga republik agar bisa memahami, mendalami dan menghargai perjuangan hulubalang negeri yang sangat wajar untuk dipersenjatai dengan alutsista modern, bukan sekedar didandani dalam selebrasi upacara dan atau unjuk diri.  Sudah selayaknya TNI mendapatkan alat pukul yang berkualitas bukan alat pukul gebuk kasur, untuk mengawal negara kepulauan terbesar di dunia ini.

Itu sebabnya dalam menulis analisis alutsista, kita selalu berada di ruang langkah yang mendahului dua tiga langkah, semata untuk memberi kamar opini bahwa kita menginginkan TNI yang memiliki kuantitas dan kualitas alutsista yang setara dengan jiran, kalau perlu selangkah lebih maju.  Kita bisa jika memang kita berniat untuk mengagahkan pengawal republik ini.  Dan niat itu sudah dilakukan Pemerintah dengan persetujuan DPR dengan menggelontorkan dana yang besar untuk mendapatkan  TNI yang gagah di tahun 2014. Program modernisasi ini  akan terus bergulir setidaknya dalam 3 kali renstra atau apalah namanya sehingga kekuatan gahar itu akan makin jelas posturnya mulai tahun 2019 dan seterusnya.

Terimakasih kepada seluruh pembaca setia yang telah mengunjungi blog ini.  Mohon maaf kalau kita terlambat mengupdate.  Soalnya dalam menuliskan setiap analisis perlu pemikiran, perlu waktu, tema dan data yang terkini.  Blog ini bukan mengutip berita militer lalu menempatkannya dalam blog. Kita ingin menyampaikan opini analisis alutsista TNI dalam koridor semangat mengajak berwawasan optimis dan percaya diri.  Kita akan terus menulis sebagai bagian dari kepedulian dan hasrat yang besar itu, melihat TNI yang berkualitas dengan gandengan alutsista yang modern.  

Selamat memasuki Tahun Baru 1 Januari 2012.   
Semoga kita semua selalu berada dalam ridho Allah SWT, amien.
Salam hangat selalu
Jagvane,-


Tuesday, December 20, 2011

Segelas Anggur Alutsista

Sepanjang tahun ini kita disuguhi berita-berita yang menyenangkan dan membanggakan hati yang berkaitan dengan upaya menggagahkan hulubalang  republik. Anggaran belanja untuk pengawal republik terutama belanja alutsista digelontor secara besar-besaran. Kalau mau membanding-banding ini adalah periode belanja alutsista terbesar sejak jaman Dwikora tahun 60an.  Pada periode tahun 2010 sampai dengan 2014 Pemerintah dengan persetujuan DPR telah mengalokasikan dana sebesar Rp 150 trilyun untuk memodernisasi persenjataan TNI.

Ibarat berbuka puasa, saat-saat yang dinanti itu akhirnya sampai juga waktunya manakala pengambil keputusan negeri ini bersama perwakilan rakyatnya menabuhkan bedug  saat berbuka puasa. Ya TNI berbuka puasa setelah sekian lama menjalani puasa keprihatinan, menjalani hari-hari operasinya dengan keterbatasan alutsista, sudah terbatas renta lagi.  Belum lagi belenggu embargo bertahun-tahun yang membuat pengawal republik ini menanggung derita kurang gizi alutsista.

Belanja alutsista sebesar itu untuk masa lima tahun ini diniscayakan menjadi langkah permulaan menuju puncak tangga MEF (minimum essential force), sebuah syarat mutlak bagi perbaikan gizi alutsista tentara untuk bisa mengawal apik negara kepulauan terbesar di dunia ini.  Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam berbagai kesempatan menggariskan bahwa pencapaian MEF bisa tercapai dalam tiga tahap, artinya tiga kali lima tahun sejak tahun 2010, sama dengan tahun 2024.  Pada saat itu Cina dan India telah berubah menjadi kekuatan regional yang disegani karena kekuatan militer dan alutsistanya punya kemampuan serang jarak jauh.

Dengan MEF tahap pertama ini esensi dasarnya adalah menutupi berbagai lubang yang menganga dari satuan-satuan tempur TNI yang kurang mendapat suplai alutsista selama duapuluh tahun.  Contohnya pengadaaan 16 pesawat coin Super Tucano dari Brasil yang mulai berdatangan tahun 2012, adalah untuk menggantikan pesawat uzur OV10 Bronco yang tinggal 4 biji dan grounded.  Selama 2 tahun terakhir ini skuadron yang berhome base di Malang ini tidak bisa melaksanakan fungsi operasionalnya karena alutsista utamanya tak boleh terbang.

Demikian juga pengadaan 16 jet latih tempur T50 Golden Eagle dari Korsel untuk menggantikan jet tempur Hawk Mk53 yang sudah berusia 30 tahun dan hanya tersisa 5 unit.  Sementara 10 Jet tempur Sukhoi yang kita miliki saat ini  sejatinya untuk menggantikan pesawat tempur A4 Skyhawk yang sudah harus pensiun karena sudah tua, belinya pun beli second dari Israel akhir tahun 70an.  Perolehan 24 F16 hibah dari AS yang kemudian diupgrade setara dengan blok 52 adalah untuk menambah kekuatan 10 F16 Blok 15 Ocu yang dimiliki TNI AU saat ini.

Alutsista matra laut dan darat juga sama. TNI AL mengisi kekurangan kapal perang dengan pengadaan 4 KRI sigma, 4 KRI LPD dan beberapa kapal cepat rudal. TNI AD melakukan retrofit Tank AMX13, mendapat panser Anoa buatan Pindad untuk melengkapi batalyon infantri yang diubah menjadi batalyon infantri mekanis.  Sejauh ini tidak ada yang ditambah melainkan memenuhi kekurangan akibat stagnan rematerialisasi alutsista selama dua dekade.  Pekerjaan MEF saat ini adalah menambal sulam baju tempur yang compang-camping agar bisa dipakai sebagai baju tempur layak pakai.

Melihat daftar belanja alutsista yang sudah banyak dipublikasikan, apakah itu sudah berupa kontrak perjanjian dan tinggal menunggu kedatangan barangnya, atau sedang dalam proses penawaran dan bahkan dalam proses penjajakan sekalipun, maka TNI ada dalam sebuah ruang horizon menantikan saat berbuka puasa itu bersama segelas anggur yang bernama alutsista. Jujur diakui bahwa selama duapuluh tahun ini TNI hanya disuguhi kopi pahit melihat kondisi alutsistanya yang hidup segan mati tak mau.  Nah, mulai tahun 2012 akan banyak berdatangan berbagai jenis persenjataan modern untuk TNI. Yang lebih membanggakan tentu saja ada beberapa jenis alutsista itu diproduksi dengan pola kerjasama, berbagi teknologi dan bahkan buatan industri hankam dalam negeri.

Bersama segelas anggur alutsista yang disuguhkan itu diharapkan postur kekuatan persenjataan TNI tahun 2014 sudah pulih namun tentu belum sampai pada ukuran gahar apalagi ideal. Oleh karena itu kesinambungan perkuatan alutsista TNI perlu terus dilanjutkan oleh pemerintahan baru pasca 2014, minimal dengan anggaran yang sama dengan yang dilakukan Pemerintah saat ini.  Tidak terlalu dini kalau kita mengatakan saat ini agar pergantian pucuk pimpinan republik ini tahun 2014 tidak menghentikan upaya perkuatan alutsista TNI dalam rangka mencapai kekuatan pertahanan yang setara dengan jiran. 

Tahun 2014 sampai dengan tahun 2019 adalah masa penting untuk mempersiapkan kekuatan TNI bersamaan dengan kondisi dan situasi kawasan regional yang semakin dinamis berebut pengaruh dan memperebutkan sumber daya energi fosil di Laut Cina Selatan.  Cina tahun 2020 sudah memastikan menjadi kekuatan militer dan ekonomi regional yang berpengaruh.  India semakin memperjelas posisi kekuatan militernya yang kian perkasa. Sementara Australia, Malaysia, Singapura dan Vietnam terus memperkuat alutsistanya dengan kekuatan pukul maksimal. Tanda-tanda jaman itu sudah mulai menampakkan inkubasinya. AS sebagai pengendali kekuatan regional Asia Pasifik sudah menetapkan Darwin dan Singapura sebagai pangkalan militernya.  Sementara Cina sudah membangun pangkalan angkatan lautnya di Hainan persis di depan laut Cina Selatan, bersebelahan dengan Vietnam.

Melihat besarnya jumlah anggaran yang disediakan, dalam proses pengadaan alutsista segala matra ini Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, DPR  dan Mabes TNI tetap keukeuh dan istiqomah  menjaga dan mengawal tahapan demi tahapan yang dilalui termasuk nilai kepantasan harga beli alutsista. Tidak mudah terjebak dalam lingkaran makelar pangkat dua, maksudnya di pihak pembeli ada makelarnya demikian juga di pihak penjual, sehingga harga jual alutsista menjadi tidak pantas.  Pasar alutsista selalu berada dalam ruang persaingan lintas negara termasuk lintas intelijen yang saling menjegal satu sama lain dalam upaya memperebutkan segelas anggur alutsista.
******
Jagvane, 20 Desember 2011

Tuesday, December 13, 2011

Prediksi Kedatangan Alutsista Baru TNI Tahun 2012 (2)

1 Skuadron Heli Super Cobra

1 Skuadron Heli Bell 412 EP

2 dari 9 pesanan Pesawat Angkut CN295

4 dari 30 F16 Blok 52 Upgrade Hibah dari AS

6 dari 9 Hercules hibah upgrade dari AS dan Australia

Howitzer 155mm Cesar untuk 2 batalyon Armed

1 LST dari 7 pesanan LST TNI AL

Tambahan 56 Panser Anoa Pindad

Tambahan Rudal Yakhont, C802 dan C705 untuk TNI AL

1 Skuadron Heli AKS Super Sea Sprite

1 Skuadron pesawat UAV
****
Jagvane / 13 Des 2011

Prediksi Kedatangan Alutsista Baru TNI Tahun 2012 (1)

MBT Tank Leopard 2  sebanyak 100 unit
 
Tank Amphibi BMP3F sebanyak 54 unit (Sudah datang 17 unit)

Heli Serbu Mi35 sebanyak 3 unit ( sudah datang 5 unit)

Jet Tempur Sukhoi SU30 sebanyak 6 unit ( 10 unit sudah operasional)

Pesawat Coin Super Tucano sebanyak 16 unit dari Brasil

Jet Latih Tempur T50 Golden Eagle sebanyak 16 unit

Heli Angkut Mi-17 sebanyak 6 unit ( Sudah ada 12 unit)

Kapal Cepat Rudal Clurit Class sebanyak 5 unit

Kapal Cepat Rudal Trimaran sebanyak 2 unit

Overhaul Kapal Selam KRI Nanggala dari Korsel selesai
 ******
Jagvane 13 Des 2011

Wednesday, December 7, 2011

Dua Jendral Bertarung di Versus

Ada dua jendral purnawirawan TNI bertarung, yang satu Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, yang satu lagi Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh.  Media tarungnya adalah sebuah acara Versus di layar kaca Kompas TV Selasa Sore 6 Desember 2011, durasi tarungnya 1 jam, moderatornya Helmi Yahya. Tampilan dua sosok jenderal di acara penuh wawasan dan pengetahuan itu menyegarkan penonton, jauh dari kesan kaku dan saling melontarkan joke segar.  Misalnya di sesi awal ketika Sondakh mengungguli Chappy, mantan KSAU ini langsung bilang :Tak apa-apa, kita kasih kesempatan.

Di usia mereka yang telah melewati batas enam puluh tahun, keduanya masih segar, enerjik, cerdas, berwibawa, penuh senyum dan kelihatan akrab.  Keakraban ini boleh jadi karena masa “pemerintahan” mereka di masing-masing matra angkatan TNI sama waktu lantiknya dan sama pula waktu usainya. Jelasnya masa kepemimpinan mereka sama waktu tayangnya.  Chappy Hakim menjabat sebagai KSAU sama dengan Bennard Kent Sondakh menjabat sebagai KSAL yaitu mulai tanggal 25 April 2002 sampai dengan 18 Pebruari 2005, di masa pemerintahan Megawati dan sedikit di era awal pemerintahan SBY.

Ketika ada paket soal tentang nama-nama presenter TV, Chappy mampu menyapu bersih seluruh pertanyaan yang diajukan, demikian juga ketika paket soal tentang group penyanyi terkenal giliran Sondakh yang melibas seluruh pertanyaan yang diajukan Helmy. Lalu Chappy lontarkan joke lagi: maklum dia kan playboy, penonton pun segar tertawa renyah. Ketika Chappy gagal menjawab lokasi kerajaan Siak di provinsi mana, Sondakh bilang: Di Riau karena Chappy tak pernah singgah ke sungai Siak, hanya lewat atas  melulu, beda dengan saya yang pernah menjadi Pangarmabar, katanya. Chappy menjawab kalau saya berhenti  bisa-bisa nantinpesawatnya jatuh, moderator tertawa juga penonton. Di sesi awal Sondakh melesat dengan skor meyakinkan namun pada sesi middle selisih “skor goal” mereka hanya 10.  Moderator soal pun bilang: luar biasa, jangan coba-coba melawan jendral.

Pada sesi akhir walaupun Chappy yang memenangkan, kekompakan mereka makin terasa kualitasnya. Sondakh tidak merasa nomor dua. Mereka berdua saling bahu membahu menjawab dan melahap pertanyaan pemberi soal.  Ketika Chappy tak bisa jawab, Sondakh yang tampil membisikkan sehingga semua soal lunas dan lugas dijawab, penonton di studio memberikan applaus.

Bobot acara itu bergengsi lantaran punya kemampuan menghadirkan orang ternama untuk beradu ilmu dan pengetahuan yang ditonton orang banyak.  Tak mudah loh menghadirkan tokoh-tokoh bergengsi di acara yang memang menjadi satu inspirasi dalam sebuah tontonan edukasi layar kaca.  Soalnya layar kaca yang menjadi jendela di rumah kita masing-masing lebih banyak berisi  penggiringan opini publik daripada mengajak memperluas cakrawala pandang, atau memperdekat nilai kesatuan dalam rajutan NKRI.  Yang diperlihatkan beberapa stasiun TV justru tayangan talk show dialog untuk saling hujat, saling hantam, menjadi saluran pusat fitnah serba ada, keberpihakan, dan selalu mencari celah salah.  Demikian juga tayangan infotainment yang memang dirancang untuk memelihara marketing dan nilai jual seorang artis atau mengarang cerita seolah-olah menjadi sebuah fakta yang terjadi pada seorang artis. 

Kembali ke dua jendral tadi, selama menjabat sebagai KSAL gaya kepemimpinan Bennard Kent Sondakh  terbuka, cerdas dan berpola menembus horizon.  Sondakh membuat cetak biru pengembangan postur kekuatan TNI AL sampai sepuluh tahun kedepan, punya konsep archipelago strategic war sesuai dengan kondisi geografi RI. Pada saat dia memimpin angkatan laut, berani menyampaikan kekurangan yang ada di jajaran TNI AL terutama kondisi alutsista untuk membuka mata hati rakyat dan DPR.  Kekurangan-kekurangan itu pada akhirnya membuka mata hati kita semuanya bahwa kondisi TNI memang benar-benar mencemaskan karena kekurangan alutsista.

Karena kondisi itulah, dia juga yang menggagas ide kontroversi agar setiap provinsi membangun KAL agar kekuatan TNI AL terutama untuk patroli keamanan laut bisa tercukupi.  Sondakh juga yang  mengajukan pengadaan 4 korvet sigma dari Belanda, pengadaan kapal patroli produksi PAL dan melakukan repowering KRI.  Saat ini aktivitas rutin pria kelahiran Tobelo Halmahera 63 tahun lalu  adalah sebagai Presiden Komisaris sebuah perusahaan PMA yang tak jauh-jauh dari ruang usaha kelautan.

Sementara Chappy Hakim sejak pensiun telah menulis 13 buku, buku ke 14 segera terbit dengan judul “Saya Pengen Jadi Pilot”.  Sempat terkena serangan jantung awal tahun ini, ayah dari Tascha Liudmilla presenter Metro TV itu memang menggeluti hobby nulisnya dengan produktif alias total football. Tidak banyak jendral purnawirawan TNI yang punya kemampuan menulis dan memproduksi buku seperti Marsekal kita yang satu ini. Di Kompasiana tetap aktif mengeluarkan tulisan-tulisan bermutu dan mengkritisi demikian juga dengan websitenya yang ramai dikunjungi wisatawan “penggemar tulisan”.

Pesan yang hendak disampaikan dua jendral purnawirawan yang cerdas ini setidaknya adalah tetaplah mengaktualisasi diri dengan berbagai cara sesuai dengan potensi diri yang membangun nilai positif bagi diri sendiri dan berguna bagi khalayak.  Perjalanan panjang dalam urusan kedinasan ketentaraan telah usai, dan itu adalah pengabdian resmi pada republik yang sudah menjadi suratan takdir berlabel khusnul khotimah.  Dan sekarang tinggal menapaki hari-hari purnabakti  yang bebas di usia senja dengan berbagai aktivitas.  Semoga juga semuanya berakhir dengan khusnul khotimah.  Bukankah begitu Jendral ?!

Jagvane / 07122011

Sunday, November 20, 2011

Menyikapi Darwin (2)

Kehadiran pangkalan militer AS di Darwin yang nota bene ada di halaman belakang RI tentu membuat pemikir strategis hankam negara ini memformat ulang wajah pertahanan yang selama ini selalu menghadap barat laut-utara, membagi takaran keseimbangan pada keseluruhan wilayah perbatasan.  Sangat dimungkinkan salah satu opsinya adalah percepatan penambahan postur untuk menjadi kekuatan angkatan laut dengan 3 armada tempur plus kekuatan 3 divisi Marinir. TNI AL memang sedang mempersiapkan kekuatan 3 armada tempur yaitu armada barat, armada tengah dan armada timur. Paling tidak dibutuhkan 300 KRI berbagai jenis termasuk 12 kapal selam. Perkembangan situasi regional yang cepat berubah dimana posisi “usus buntu” di selatan negeri ini memberikan ruang untuk pengkalan militer negara adi kuasa, mengharuskan gerak langkah lebih cepat dan lugas untuk merealisasikan 3 armada itu.
USS Enterprise melintasi ALKI 1 Indonesia
Proyek 100 KCR (Kapal cepat Rudal) made in anak bangsa tetaplah berjalan, demikian juga proyek bersama pembuatan 10 PKR (Light Fregat)dengan Belanda yang  tersendat perjalanannya harus di gas kembali agar target 2 PKR tercapai tahun 2014.  Pilihan pengadaan 4 Fregat dari salah satu negara Eropa merupakan pilihan cerdas untuk mengantisipasi ketersediaan KRI laut dalam yang siap menjaga kedaulatan laut RI.  Disamping KCR untuk patroli laut dangkal di Indonesia Barat, sangat diperlukan tambahan minimal 20 KRI berkualfikasi Fregat dan atau Korvet untuk menjaga pantai selatan Jawa, Bali, NTT sampai laut Arafuru yang dalam dan bergelombang.  Demikian juga dengan armada kapal selam. Kita berpandangan mengapa tidak sekaligus dimenangkan saja Korea Selatan dan Turki yang akan mengerjakan 5 kapal selam sama jenis secara paralel, sehingga percepatannya semakin menggema. Halaman luar negara ini harus mulai diawasi secara ketat karena selama ini kita terfokus pada halaman dalam rumah kita saja, laut Jawa, Selat Malaka, Natuna dan Ambalat.

Perkuatan angkatan udara jelas perlu banget.  Pangkalan udara Kupang dan Merauke yang sudah mempunyai radar militer canggih sudah saatnya ditempatkan satu skuadron jet tempur minimal F16 untuk patroli udara di kawasan selatan timur NKRI.  Pusat skuadron bisa saja di Kupang dan satu flight disandarkan di Merauke bergantian. Penambahan jet tempur Sukhoi menjadi 2 skuadron (32 unit) diharapkan tercapai tahun 2014.  Kita berharap armada keluarga Sukhoi dapat ditambah sampai mencapai minimal 4 Skuadron tahun 2017 termasuk dari jenis SU35.  Ini tidak ambisius tetapi sudah merupakan kebutuhan yang wajib harus ada.  Disamping itu kita juga sangat berharap kehadiran minimal 1 skuadron F35 seperti yang pernah digadang-gadang KSAU beberapa waktu lalu, untuk kesetaraan dan penguasaan teknologi tempur.  Ini sama dengan ketika kita memilih F16 seusai pameran kedirgantaraan di Kemayoran Jakarta tahun 1986, sebuah pilihan tepat untuk loncatan teknologi yang dikuasai pilot-pilot TNI AU waktu itu.

Angkatan darat juga perlu ditata ulang organisasi tempurnya dengan menambah jumlah divisi. Dalam tulisan terdahulu “Kalimantan Menyambut Alutsista Gahar” (Lihat: http://analisisalutsista.blogspot.com/2011_11_07_archive.html) kita sudah melontarkan gagasan agar 5 pulau utama RI  diperkuat dengan divisi-divisi pemukul yang andal.  Dalam tulisan  lain yang berjudul “Jangan Remehkan Selatan Jawa” (Lihat: http://analisisalutsista.blogspot.com/2011_05_27_archive.html) kita sudah mewanti wanti agar pantai selatan Jawa jangan diabaikan, dianggap tidak penting karena tidak berbatasan dengan negara lain.  Sekarang terbukti sedang dan akan menuju jalur utama mondar-mandirnya armada AS dari dan menuju Darwin.

Pertanyaannya kemudian apakah kita tidak senang dengan aliansi militer terang-terangan antara AS dan Australia.  Karena itu adalah wilayah perjanjian bilateral diantara dua sekutu bule satu nenek moyang, maka selayaknya kita harus menyikapinya dengan bijaksana, tidak bereaksi berlebihan, mempertanyakan secara diplomatik lalu seakan-akan tidak terjadi apa-apa.  Namun perkuatan militer segala matra adalah jawaban yang paling jantan sekaligus santun, juga dengan alasan memperkuat kedaulatan NKRI dari segala macam dimensi ancaman.  Jelasnya kita harus perkuat pertahanan laut, udara dan darat untuk mengantisipasi kondisi yang cepat berubah.

Mengapa yang dipilih Darwin, karena ini yang paling instan untuk berbagai kegunaan.  Darwin mempertemukan armada AS yang beroperasi di Samudera Hindia dan lokasi bekal ulang dan rehat yang mendekati sempurna.  Bisa memperpendek jalur tempuh armada angkatan laut AS menuju LCS ketimbang dari Okinawa atau Guam. Kegunaan lain adalah  menjadi payung paling tangguh bagi hankam Australia menghadapi ancaman dari utara.  Pangkalan militer AS di Okinawa Jepang sejatinya untuk memayungi Korsel dan Jepang dari ancaman Korut.  Pemikirannya sederhana, jika terjadi konflik LCS, armada AS yang ada di Okinawa dan Guam “bisa saja” mampu dihadang kekuatan armada Cina sebelum masuk LCS.  Tapi kalau dari Darwin kan tidak mungkin.  Bisa saja ini bagian dari strategi menjepit Cina dari utara, timur dan selatan jika konflik LCS benar-benar terjadi.

Tentu negara yang bakal kerepotan dengan situasi ini adalah Indonesia karena Darwin hanya “sejengkal” dari Kupang dan Merauke yang mau tak mau harus selalu bertemu muka dalam patroli laut dan udara dengan alutsista AS yang seabreg itu.  Kemudian lokasi LCS ada di depan halaman rumah kita.  Repotnya lagi armada AS yang datang dan menuju LCS pasti melewati halaman belakang dan samping rumah kita. Lintasan ALKI akan menjadi jalur utama armada AS. Kemudian kondisi yang tidak kondusif di Papua saat ini bisa jadi membuat AS punya kalkulasi sendiri walaupun Obama sudah menegaskan pada SBY di pertemuan bilateral Indonesia-AS di Bali Jumat 18 Nopember 2011 yang menghargai kebijakan pemerintah RI di Papua.  Tapi bukankah angin kepentingan bisa berubah setiap saat. 

Cina sudah menunjukkan reaksi kerasnya dengan mengatakan bahwa AS harus menghormati hak-hak Cina di Asia Timur. Sementara Jepang memastikan mendukung kehadiran pangkalan AS di Darwin.  Walau tidak dinyatakan secara terang-terangan Filipina pasti mendukung kehadiran AS di Darwin karena ini bermakna pada dukungan penuh AS pada negeri itu.  Negara-negara ASEAN yang punya konflik teritori dengan Cina di LCS merasa punya nyali menghadapi Cina dengan kehadiran pangkalan AS itu.  Nah, posisi Indonesia sendiri tak punya konflik teritori dengan Cina di LCS namun ikut sibuk mengamankan kedaulatannya, ini yang menjadi PR hankam dan militer kita.  Pelajaran yang didapat dari dinamika Darwin adalah bertetangga dengan Australia tidak perlu lagi menampilkan kepolosan sikap diplomasi.  Karena negara ini sejatinya tidak pernah rela berteman dan bertetangga lahir bathin dengan Indonesia.  Yang ditampilkannya adalah cara berjiran gaya Eropa yang angkuh, selalu mendikte, kurang menghargai tatakrama kultur Asia, merasa lebih super dan rela menjadi beo dan pudel AS demi mengatasi sikap paranoidnya terhadap tetangganya di Utara.
*******
Jagvane / 20 Nov 2011

Thursday, November 17, 2011

Menyikapi Darwin(1)

Ini bukan masalah Darwin Zahedi Saleh yang dicopot dari menteri ESDM baru-baru ini atau membahas teori evolusi Darwin yang menghebohkan itu.  Darwin yang ini adalah sebuah kota kecil di pantai utara Australia yang namanya melonjak populer lantaran ditunjuk menjadi markas Marinir AS berkekuatan 1 brigade dengan segala arsenal tempurnya. Gillard dan Obama Rabu 16 Nopember 2011 di Canberra bersepakat untuk menempatkan Marinir AS di Darwin sebagai bagian komitmen AS untuk mengawal Asia Pasifik dan Laut Cina Selatan (LCS) dari ancaman Cina, begitu bunyi lagunya. 
Darwin yang dihebohkan itu
Apakah kita polos saja menerima syair lagu yang melantun demikian, tentu tidak.  Bukan hanya karena corong Darwin persis ada di sebelah Kupang dan Merauke yang tentu ada dalam jangkauan cengkeraman militer AS dibanding dengan jarak jangkau Surabaya atau Jakarta.  Lebih dari itu, akan banyak gerakan armada laut AS yang melintasi ALKI (biasanya tak pakai permisi sama tuan rumah).  Jika terjadi konflik di LCS dipastikan perairan Indonesia menjadi jalur wira wiri armada tempurnya.  Itu artinya kita akan ikut sibuk mengikuti gerak lagu pemilik armada 7 itu yang gerak dan goyang pinggulnya sulit diterka iramanya. Maklumlah si Paman Sam ini satu-satunya adikuasa yang membuat dunia ini tidak seimbang akibat perlakuan dan tata kramanya.  Yang jelas halaman rumah kita bisa ikut terbakar jika konflik LCS pecah menjadi pertempuran berskala besar antara Cina dan AS.

Yang sedikit menggembirakan adalah telah difungsikannya pangkalan angkatan laut (Lantamal) di Kupang dan Merauke.  Juga telah beroperasinya satuan radar di Kupang, Saumlaki dan Merauke. Timika dan Jayapura segera menyusul memiliki satuan radar militer canggih.  Yang belum menggembirakan adalah pengisian satuan KRI yang permanen ada di kedua pangkalan.  Mestinya dengan perkembangan dinamika kawasan yang cepat berubah wajah ini, harus ada pengisian KRI berkualifikasi fregat atau korvet di kedua Lantamal ini.  Kalau kita berandai-andai setidaknya harus ada minimal 2 fregat dan 3 korvet yang ditempatkan permanen di masing-masing Lantamal itu sekaligus melakukan patroli wilayah.  Demikian juga dengan kekuatan TNI AU.  Di Kupang  minimal tersedia 8 F16, jumlah yang sama juga harus tersedia di Merauke.  Itu artinya jumlah kekuatan laut dan udara RI harus mulai memikirkan out of the box, tidak lagi berpola mengamankan halaman dalam wilayah RI.  Mantan KSAL Laksamana (purn) Slamet Subiyanto pernah melontarkan gagasan besarnya dengan membangun pangkalan angkatan laut berskala besar di pantai selatan Jawa, tepatnya di Yogya.

Memang ada juga pemikiran sebagian kalangan, asal kita manut-manut saja sama AS tak jadi masalah, AS tak akan mengganggu teritori NKRI.  Manut-manut bagaimana, kita kan bukan boneka AS, kita juga bukan seperti Australia yang membiarkan halaman rumahnya dipakai sebagai warung alutsista punya tuannya yang perkasa itu.  Harus diingat dengan tajam bahwa konflik teritorial atau sengketa wilayah antar negara atau agresi militer pemicunya adalah cadangan energi fosil yang ada di kawasan itu.  Laut Timor, Ambalat, LCS dan Papua memiliki cadangan sumber daya energi fosil yang besar.

Cina memang sudah mencanangkan bahwa tahun 2020 kekuatan militernya terutama angkatan laut dan udaranya sudah sampai dalam kemampuan galak dan terkam.  Beberapa waktu lalu armada lautnya mencoba lakukan “tes cuaca” dengan menggertak Vietnam dan Filipina.  Ternyata keduanya tak kalah galak, namun bukankah ini hanya sekedar uji nyali, sekedar membaca peta kekuatan tumpang tindih klaim LCS. Skor sementara draw 1-1. Namun tes uji nyali itu dibaca AS sebagai ancaman hegemoni.  Asia Fasifik yang dikawal armada 7 AS sejak sekian lama tentu  bagi si Paman Sam tak ingin ada kekuatan lain yang ingin mengganggu atau mengungguli kekuatannya.  Setelah Subic dan Clark di Filipina ditutup praktis AS tak punya akses terdekat dengan LCS.  Darwin dipilih karena memang sudah jadi dan tinggal pakai,mampu menampung ribuan Marinir termasuk kapal induk AS.

Yang menarik adalah pengumuman kesepakatan AS-Australia itu dilakukan menjelang KTT ASEAN dan KTT Asia Timur di Bali yang juga akan dihadiri oleh Barrack Obama dan Julia Gillard.  Sepertinya mereka ingin menunjukkan high profile dan memamerkan keangkuhan dalam beretika tetangga justru pada saat akan dilakukan rapat di “Kelurahan”.  KTT itu kan cermin dari kesediaan bersalaman, saling meghormati, saling menghargai, menjaga perasaan tetangga, menjaga perasaan tuan rumah dan menghidupkan ruang kebersamaan dalam bingkai kedamaian dan ketenteraman.  Kita berpendapat bahwa kesepakatan itu mencederai rasa-rasa yang sudah di bingkai untuk pertemuan tingkat tinggi di Bali.  Dan ini pasti akan memberikan aura tidak menyenangkan bagi tuan rumah dalam menjamu tamunya.  Cina yang juga akan hadir di pertemuan itu sudah memberikan reaksi tidak mengenakkan bahwa penempatan pasukan AS di Darwin sebagai tidak sesuai bagi kepentingan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Setelah Irak dan Afghanistan “diselesaikan” secara militer, maka AS berdalih bahwa kawasan Asia Tenggara adalah fokus berikutnya.  Inilah barangkali yang disebut dengan sikap paranoid dari negara Adikuasa itu.  Asia Tenggara adalah kawasan yang damai dan sudah terbukti selama ada ASEAN.  Kamboja bisa berdamai karena peran ASEAN terutama Indonesia.  Myanmar membuka pintu demokrasi juga karena peran ASEAN.  Artinya “pintu-pintu” itu bisa dibuka dan disambut senyum oleh pemilik pintu dengan cara mengedepankan dialog, diskusi dan kesetaraan.  Kita sangat berharap konflik dan klaim teritori di LCS dapat diselesaikan dengan cara “Asia” dengan semangat membuka pintu-pintu kesediaan berunding dalam bingkai kesetaraan dan kesamaan hak, bukan karena arogansi aliansi militer.
(Bersambung)
*******
Jagvane / 17 Nov 2011

Monday, November 7, 2011

Kalimantan Menyambut Alutsista Gahar

Perubahan sudut pandang mulai diperlihatkan petinggi TNI ketika melihat pulau terdepannya Kalimantan yang berbatasan darat langsung dengan negara tetangga.  Ya, pulau kaya penghasil energi sumber daya mineral dan kehutanan itu sekaligus paru-paru dunia sedang dibenahi pola pertahanan keamanannya.  Pemekaran Kodam sudah dilakukan.  Dulu hanya ada 1 Kodam, sekarang ada 2 Kodam, yang satu Kodam Mulawarman berpusat di Balikpapan dan Kodam lainnya bernama Tanjungpura berpusat di Pontianak.
Konvoi Tank AMX13 TNI AD di sebuah jalan raya
Yang menarik adalah pergelaran beragam alutsista di pulau ini.  Selama ini yang terjadi adalah mutasi alutsista renta dari Jawa.  Misalnya untuk detasemen kavaleri di Pontianak didatangkan panser uzur sekedar memenuhi dan menggugurkan kewajiban bahwa di Pontianak sudah ada satuan kavaleri lapis baja.  Satuan kavaleri di Balikpapan sami mawon, menampilkan kendaraan lapis baja usang.  Beberapa tahun lalu ketika diadakan latihan perang batalyon raider yon 600 di sebuah kompleks gedung BUMN di kawasan ring road Balikpapan, kebetulan di gedung itu  sedang diadakan meeting kerjasama operasi telekomunikasi dengan Malaysia.  Peserta dari Malaysia yang dapat melihat langsung latihan itu dari gedung berdesain rumah panggung dayak terheran-heran melihat ranpur kavaleri roda empat milik TNI.  “Takjub ni kite tengok tentera Indonesia masih pakai kavaleri cam tu”, kata salah seorang dari mereka.  Mungkin menyindir atau memang terheran-heran, tak tahulah.

Kabar gembira itu akhirnya datang juga. Kalimantan diprediksi mendapat jatah penempatan alutsista baru Main Battle Tank Leopard 2 sebanyak 2 batalyon.  Betapa tidak, kehadiran alutsista berkualifikasi MBT ini adalah yang pertama sepanjang sejarah TNI dan penempatannya pun tidak di tanah Jawa seperti yang selama ini terjadi jika ada pembelian alutsista baru untuk TNI AD. Kalimantan Timur dan Barat menjadi home base alutsista berdaya getar dan gentar tinggi itu.  Kehadiran 2 batalyon MBT ini dipastikan akan memberikan kebanggaan bagi warga kita yang tinggal di kawasan border.  Bahwa mereka memiliki pasukan combatan yang kuat sebagai pengawal border, tidak sekedar pasukan infantri tradisional tanpa dukungan alutsista sekelas MBT.

Batalyon-batalyon tempur yang ada di Kalimantan terus dikembangkuatkan baik dalam pertambahan batalyon maupun perkuatan alutsista.  Disamping ada pertambahan 2 batalyon kavaleri MBT dan beberapa batalyon infantri, satuan-satuan tempur lain diperkuat dengan berbagai arsenal serang.  Misalnya rudal anti tank ATGM untuk 6 batalyon, panser Anoa untuk perkuatan batalyon infantri, Howitzer 155m dan roket berjarak tembak 40 km dan bahkan rudal berjarak jangkau 100-150 km buatan dalam negeri segera memperkuat batalyon combatan. Penerbad juga menempatkan 1 skuadron heli tempur di Tanjung Redeb Kaltim sementara di Pontianak sudah ada 1 skuadron jet tempur Hawk200 dan 1 skuadron pesawat intai UAV. 

TNI AU bersiap menempatkan 1 skuadron jet tempur F16 di Kalimantan, lokasinya bisa jadi di Tanjung Redeb atau Tarakan. Sangatta yang berdekatan dengan Ambalat juga sudah dijadikan pusat latihan tempur segala matra  berskala besar.  Minggu ke dua  Nopember ini Sangatta kembali jadi medan latihan tempur Armada Jaya dengan pendaratan amfibi pasukan Marinir beserta aneka persenjataan yang dimiliki bersama unjuk kekuatan armada 60 KRI berbagai jenis di selat Makassar sampai Ambalat.  Kalimantan memang dipersiapkan dalam kondisi yudha siaga karena di kawasan ini terdapat hot spot pusat konflik teritorial yang berkaitan dengan perebutan sumber daya energi tak terbarukan.

Penempatan alutsista berdaya ledak tinggi di Borneo kita nilai sebagai keputusan tepat agar jika terjadi kondisi terburuk dalam hubungan perjiranan, pertahanan di pulau itu (harus) mampu memberikan pukulan balasan yang menjerakan tanpa harus menunggu dan bergantung pada kekuatan di Jawa. Perkuatan alutsista di Kalimantan sangat bermanfaat dalam menjaga kewibawaan teritorial RI.  Dengan hadirnya berbagai alutsista berdaya gebuk kuat itu, diniscayakan akan memberikan pola hubungan bertetangga yang setara, tidak gampang menggertak, tidak gampang melecehkan teritori NKRI seperti yang selama ini terjadi. Kehadiran alutsista di pulau yang berbatasan darat langsung itu sudah selayaknya dipenuhi dengan standar kualitas alutsista yang mengimbangi atau mendahului karena jika terjadi konflik perbatasan, pasukan organik di pulau itu mampu melakukan serangan balasan sebelum datang dukungan pasukan dari Jawa atau pulau lain. 

Dalam bingkai ini kita berpandangan sudah saatnya masing-masing pulau besar di negara ini membangun pasukan pemukul reaksi cepat sebagai kekuatan pukul organik yang memiliki daya gebrak tinggi.  Pulau-pulau besar itu adalah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.  Gunanya sangat jelas, untuk kecepatan reaksi, serangan balasan, rentang kendali dan dukungan logistik. Doktrinnya jelas jangan sampai musuh masuk duluan baru diajak tarung, tapi digebuk langsung di kawasan border dan kalau perlu melakukan pre emptive strike. Selama ini jika terjadi hot spot di sebuah titik atau daerah misalnya di Natuna, PPRC lalu memberangkatkan 10 Hercules untuk menerjunkan kurang dari 1 batalyon pasukan PPRC dari Jawa, bukan saja tidak efisien tapi waktu yang diperlukan sudah diambil pihak lawan dengan membangun kekuatan di daerah serangnya.

Kalimantan boleh jadi sebagai proyek percontohan untuk membentuk benteng pertahanan dari pasukan organik TNI yang ada di pulau itu.  Disana ada 2 Kodam jadi bisa diasumsikan ada 2 divisi pasukan organik dengan kekuatan 30 ribu tentara.  Kekuatan ini didandani dengan beragam alutsista gahar untuk 2 batalyon MBT, 2 batalyon rudal SAM, 4 batalyon arhanud, 4 batalyon roket, 4 batalyon armed, 4 batalyon infantri mekanis dan 10 batalyon infantri.  Jangan lupa yang terpenting dari semua ini adalah pertambahan dan perbaikan infrastruktur jalan raya, bandara, pelabuhan dan jalan sungai untuk mendukung gerak pertahanan serang di pulau besar itu.

Model pertahanan pulau seperti di Kalimantan memang menjadi prioritas dan secara bertahap bisa diterapkan di pulau-pulau besar lainnya misalnya Sumatera dengan kekuatan 3 divisi pasukan, Sulawesi dengan 2 divisi, Papua dengan 1 divisi dan Jawa diperkuat dengan 6 divisi.  Dengan kekuatan 2 divisi, Kalimantan diyakini mampu bertarung dengan negara yang hendak mencoba melakukan provokasi.  Misal terjadi kondisi terburuk di Ambalat, itu bagian dari tugas angkatan laut dan angkatan udara dengan mengerahkan armada perangnya. Nah di daratan Kalimantan angkatan darat membuka front untuk uji tarung dengan lawan.  Kekuatan alutsista yang dimiliki satuan organik TNI di pulau itu mampu melakukan pukulan telak yang menjerakan.

Kondisi dan dinamika perbatasan negara diyakini sangat terkait dengan penguasaan sumber daya alam tak terbarukan.  Natuna dan Ambalat menyimpan cadangan energi fosil yang besar. Parahnya lagi, sudah sedemikian majunya teknologi menguasai pola hidup dan cara pandang manusia namun tak jua beranjak dari kebutuhan energi yang berasal dari sumber daya fosil.  Matahari yang menjadi sumber energi terbesar dan tetap setia menyinari bumi tak jua menjadi pilihan utama pasokan energi meski dengan kemajuan teknologi sekalipun.  Maka tak heran penguasaan sumber daya energi tak terbarukan menjadi target negara adikuasa.  Lihat saja Irak, lalu yang terakhir Libya, campur tangan itu sangat terkait dengan penguasaan sumber daya energi perut bumi.

Kita menyambut gembira dengan perkuatan militer dan alutsistanya di bumi Kalimantan. Kehadiran militer yang kuat dengan gelar ragam alutsista gahar diyakini mampu memberikan efek ganda, di satu sisi mampu memberikan nilai gentar bagi pihak lawan untuk tidak bermain api. Di sisi lain mampu memberikan kebanggaan bagi warga kita yang tinggal di perbatasan dan tambahan spirit nasionalisme.  Kekuatan militer dan alutsista diniscayakan menjadi aura yang mampu memberikan nilai tawar dalam negosiasi dan diplomasi sengketa.  Ingat perjuangan mengembalikan Irian Barat (Papua) awal tahun 60an.  Jika TNI tidak membangun kekuatan militer secara besar-besaran didukung kuantitas dan kualitas alutsista yang mendebarkan, tidaklah mungkin Belanda yang ndableg itu mau hengkang dari Papua, meskipun perginya penjajah itu lewat jalur diplomasi PBB.  Itu kan cuma bahasa harga diri agar tak dipermalukan oleh negeri bekas kolonialnya.

Sejalan dengan perkuatan militer di Kalimantan hendaknya jangan dilupakan perkuatan geliat ekonomi di kawasan bordernya dengan membangun dan memperbaiki infrastruktur, sekolah bagus, ekonomi kreatif dan perkuatan usaha kecil dan menengah.  Kalimantan saat ini memiliki ratusan ribu hektar perkebunan kelapa sawit. Tentu ini sangat membantu menghidupkan ekonomi rakyat baik sebagai pekerja di perkebunan maupun pemilik lahan yang mensuplay buah kelapa sawit.  Potensinya sudah mengembang, sudah jalan dan sudah menghasilkan.  Yang perlu ditambahkan adalah pemberdayaan optimal warga lokal untuk meningkatkan kesejahteraannya.  Ini perlu diingatkan agar posisi domisili yang berada di garis border tidak merasa dimarginalkan, disia-siakan dan dianggap suratan takdir.  Jangan sampai kemudian yang terjadi adalah bajunya memang Indonesia tetapi cintanya sudah pindah ke lain hati.
******
Jagvane / 7 Nopember 2011

Tuesday, November 1, 2011

Update Prediksi Daftar Belanja Alutsista TNI 2011-2014

  1. 6 Jet tempur Sukhoi  SU30 batch 3 (Rusia)==>tunggu kedatangan
  2. Arsenal rudal untuk Sukhoi (Rusia)=> sebagian sudah datang
  3. 16 pesawat coin Super Tucano (Brasil)=> datang mulai tahun 2012
  4. 16 jet tempur latih T50 Golden Eagle (Korsel) => datang mulai tahun 2012
  5. 30 Jet tempur F16 Blok 52 (AS)  ==> datang mulai tahun 2012
  6. Upgrade 10 F16 blok 15 OCU ke Blok 52==> 1 paket dengan 30 F16 blok52
  7.  1 Skuadron Jet tempur Sukhoi SU35 BM (Rusia)=>Statemen KSAU
  8.  1 Paket Simulator jet tempur Sukhoi (Rusia) =>Statemen KSAU
  9.  2 Skuadron pesawat intai UAV ==> datang mulai akhir 2011
  10. 9 pesawat angkut berat Hercules (AS dan Australia)=>hibah upgrade
  11. 9 pesawat angkut CN295 (Kerjasama dengan Spanyol)=> sign kontrak
  12. 3 Heli serbu Mi35 (Rusia) ==> sdh datang 5 unit
  13. 6 Heli angkut serbu Mi17 (Rusia) ==> sdh datang 12 unit
  14.  16 Heli Apache (AS)==>Statemen Wamenhan
  15.  16 Heli Bell 412 EP (kerjasama produksi dengan AS)==>sedang dikerjakan
  16.   8 Heli Fennec AS550 (kerjasama produksi dengan AS)==>sign kontrak
  17.   6 Heli EC725 Cougar (Eurocopter Perancis)=>sign kontrak
  18.   2 Heli Super Puma (produksi dalam negeri)=>sedang dikerjakan
  19. 16 Heli anti kapal selam (AS)=>penjajakan
  20.  3 pesawat CN295 AEW (Airbus Military Spanyol)=>penjajakan
  21.  4 Radar Raytheon (Perancis)=>3 sudah diinstal di Timika, Merauke, Saumlaki
  22.  1 Pesawat Intai CN235 MPA (produksi dalam negeri) =>sedang dikerjakan
  23.  3 Pesawat Patroli  Maritim CN235 (produksi dalam negeri)=>sign kontrak
  24.  3 Kapal Selam (kerjasama produksi dengan Korsel)=>sign kontrak
  25.  4 Fregat (Inggris)==>statemen KSAL
  26.  2 PKR Light Fregat kerjasama produksi dengan Belanda=> sedang dikerjakan
  27.  5 LST (Landing Ship Tank) produksi dalam negeri==> sedang dikerjakan
  28.  30 Kapal Cepat Rudal (produksi dalam negeri)==>sedang dikerjakan
  29.   8 Kapal Trimaran (produksi dalam negeri)==> 1 unit selesai akhir 2011
  30.  54 Tank amphibi BMP3F batch 2 (Rusia)==>tunggu kedatangan
  31.  20 Tank amphibi BMP 3F batch 3 (Rusia)==>proses anggaran
  32.    2 Batalyon MBT Leopard 2 (Belanda)==>statemen Panglima TNI
  33.   54 Tank Pindad ==>proses order
  34.   22 Panser Canon Pindad Tarantula batch 1==> sedang dikerjakan
  35.   30 IFV  K1 Korsel batch 1 ==> sedang dikerjakan
  36.  330 Panser Pindad 5 ton ==> proses order
  37.  660 Panser Pindad 2,5 ton ==> proses order
  38.    55 Panser Anoa batch 2 ==> sedang dikerjakan
  39.  30 Oerlikon 35 mm, radar dan rudal Chiron (Swiss)==>datang tahun 2012
  40.  100 Rudal jarak sedang surface to air (Hanud Area)
  41.  150 Rudal surface to surface Lapan-Pindad jarak 300 km
  42.   30 Rudal Yakhont Rusia untuk Fregat dan Korvet=>sebagian sdh diinstal
  43.   60 Rudal C802 Cina untuk Kapal Cepat Rudal=>sebagian sdh diinstal
  44.  100 Rudal C705 Cina untuk Kapal Cepat Rudal / Trimaran
  45.  300 Rudal QW3 Cina untuk Marinir dan Paskhas==>sebagian sudah datang
  46.  600 Rudal Anti Tank untuk TNI AD
  47.  70 Howitzer KH178 Korsel ==> sebagian sudah datang
  48.  80 Howitzer 155 mm Turki==>proses order
  49.  30 MLRS Rocketsan Turki ==> proses order
  50.  5.000 Roket Rhan Pindad==> sedang dikerjakan
 *****
Jagvane
(Diolah dari Berbagai Sumber)