Tuesday, August 27, 2013

TAWARAN YANG MENDEBARKAN



Tepat di perayaan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 2013, Menhan Purnomo Yusgiantoro menghentak publik tanah air khususnya seluruh komunitas forum militer di negeri ini dengan mengumumkan adanya penawaran 10 kapal selam bekas Rusia kepada Indonesia. Inilah tawaran paling spektakuler dari perjalanan perkuatan alutsista TNI sejak tahun 2010 karena yang ditawarkan adalah alutsista bawah air yang paling ditakuti dan memiliki efek gentar yang luar biasa.

Indonesia merasa sangat perlu untuk menambah kuantitas kapal perang pemukul bawah air.  Selama ini kepemilikan alutsista strategis  itu kita hanya punya  2 biji dari Cakra Class, setidaknya itu yang terpublikasi.  Sementara negara jiran Vietnam sebentar lagi memiliki 6 kapal selam Kilo dari Rusia.  Malaysia sudah punya 2 Scorpene berencana menambah 2 lagi. Singapura punya 6 kapal selam eks Swedia dan berencana menambah 4 unit lagi.  Australia dengan 6 Collins Classnya dan sedang mempersiapkan kapal selam tercanggihnya. Belum lagi bicara tentang punya Cina yang belakangan ini menjadi penganggu ketenteraman Laut Cina Selatan.
KRI Cakra melakukan patroli di laut Ambalat
Logikanya sederhana.  Jika memang sekarang kita punya 2 kapal selam lalu 3 tahun ke depan ada tambahan 3 kapal selam jenis Changbogo dari Korsel, artinya tahun 2018 kita punya 5 kapal selam.  Tetapi sesungguhnya 2 kapal selam kelas Cakra pada saat itu sudah uzur dan perlu rawat inap lagi atau di museumkan saja.  Jadi jumlah efektifnya tak beranjak dari 2-3 kapal selam padahal pada saat yang sama kekhawatiran tentang situasi kawasan “muka belakang” halaman rumah RI makin dinamis dan perlu penjagaan lebih ketat.

Belum lagi menjaga Ambalat yang belakangan ini diganggu manuver kapal selam tetangga. Belum lagi mewaspadai gerakan kapal selam Singapura yang teritori lautnya sempit.  Sangat diyakini gerakan kapal selam Singapura selama ini selalu memasuki teritori laut Indonesia.  Jadi selain perkuatan armada kapal selam perlu juga pangkalan kapal selam di Dumai Riau selain Teluk Palu dan Surabaya. Sebagaimana skenario sebelum krisis ekonomi 1997 ketika kita hendak membeli 5 kapal selam bekas pakai Jerman U-206 yang cocok untuk perairan dangkal.  Sayang tidak jadi beli karena krisis itu.

Memang harus ada pintu lain untuk percepatan target perolehan 12 kapal selam pada tahun 2020.  Oleh sebab itu tawaran Rusia merupakan hal yang menggembirakan karena untuk urusan kapal selam Rusia merupakan produsen yang disegani kualitas produknya.  Ingat sejarah Trikora dulu, kehadiran 12 kapal selam Whiskey Class Rusia di Indonesia membuat Belanda terpaksa angkat kaki dari Papua.  Teknologi kapal selam Rusia sampai saat ini diakui adalah yang paling senyap didunia.

Yang menarik dari tawaran 10 kapal selam Rusia ini adalah “cerita-cerita” sebelumnya sehingga menimbulkan berbagai spekulasi. Seperti diketahui beberapa tahun silam Presiden Vladimir Putin menyetujui pemberian pinjaman dana Kredit State untuk pembelian alutsista sebesar US$ 1 milyar kepada Indonesia.  Nah yang 300 juta dollar itu sudah dibelanjakan alutsista made in Rusia berupa Tank Amfibi BMP3F, persenjataan Sukhoi dan suku cadangnya. 
Kapal selam jenis Amur buatan Rusia
Sisanya yang 700 juta dollar anehnya tidak boleh dibelikan alutsista lain selain sosok kapal selam, itu persyaratannya. Skenarionya yang 700 juta dollar itu merupakan jatah 2 kapal selam “herder” jenis Kilo.  Tetapi berdasarkan pengumuman, pemerintah Indonesia tidak jadi membeli 2 Kilo karena yang menang tender tahun 2012 lalu adalah Korsel dengan persetujuan membuat 3 kapal selam “anjing kampung” dengan rincian 1 dibuat Daewoo, 1 dibuat bareng Daewoo dan PAL, 1 lagi dibuat PAL dengan supervisi Daewoo.  Begitu skenario transfer teknologinya.  Rusia mundur dari tender karena ada yang “lucu” disitu. Kan gue yang kasih 700 juta dollar pinjaman untuk 2 kapal selam. Kok pake-pake tender segala sih, kata Paman Beruang Merah.

Tetapi ternyata dalam perjalanan pembuatannya ada klaim dari Jerman sebagai pemilik teknologi U-209 bahwa negeri itu hanya memberi lisensi pada Turki, bukan Korsel sehingga perjalanan pembuatan kapal selam Changbogo yang merupakan fotocopy U-209 tersendat, sebagaimana dinyatakan Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq tanggal 19 Agustus 2013 yang lalu.  Sehingga tawaran 10 kapal selam itu perlu dikaji lebih lanjut tentu dengan aroma tak perlu mempersulit minimal soal anggarannya. Jika disetujui baru bisa direalisasikan after 2014 atau MEF tahap II.  Tetapi yang menjadi pertanyaan mengapa Ketua Komisi I DPR langsung mendukung, biasanya selalu ada klarifikasi dulu, atau mempertanyakan atau mengadakan rapat bareng atau “perlawanan ala kadarnya”.

Spekulasi yang berkembang boleh jadi pembuatan kapal selam Kilo terdahulu tetap berjalan tetapi tidak untuk konsumsi publik. Tahun 2009 sudah dimulai pembangunannya sehingga diperkirakan 2 Kilo itu sudah ada di perairan Indonesia saat ini.  Nah untuk menutupi perjalanan masa lalu 2 Kilo itu maka skenario tawaran 10 kapal selam dari jenis Kilo, Amur dan Lada bekas menjadi jalan keluarnya sehingga jika pengadaan 10 kapal selam tadi disetujui sudah “include” 2 Kilo proyek sebelumnya.  Bukankah Wakil Menteri Pertahanan Malaysia belum lama ini sudah berkoar-koar di Parlemennya bahwa Indonesia sudah punya 2 kapal selam buatan Rusia.  Mengapa tidak dibantah.

Asumsi lain adalah jika masing-masing kapal selam yang di upgrade itu memerlukan dana US$ 70 juta maka klop untuk 10 kapal selam dengan kucuran kredit state Rusia yang belum terpakai sebesar US$ 700 juta.  Tetapi angka US$ 70 juta itu rasanya kok belum pantas untuk 1 kapal selam bekas. Minimal diperlukan kisaran angka US$ 100 juta.  Jangan lupa Vladimir Putin kan pernah menjanjikan tambahan Kredit State sebesar US$ 1milyar lagi untuk pengadaan alutsista Indonesia apalagi jika dikaitkan dengan rencana membangun sistem jaringan rudal penangkis serangan udara di sejumlah titik strategis di Indonesia.

Apapun itu, tawaran yang mendebarkan itu selayaknya patut kita apresiasi dan mendukung realisasinya karena kita memang butuh kapal selam lebih banyak untuk mengawal perairan teritori NKRI.  Tentu dengan catatan lebih selektif melihat barangnya, nilai buku dan nilai jual, kepantasan teknologinya, ongkos retrofitnya termasuk biaya pemeliharaan dan ketersediaan awak kapal selam.  Disebut mendebarkan karena tetangga kiri kanan juga ikut berdebar dengan tawaran ini termasuk juga spekulasi kehadiran Kilo, rangkaian proses persetujuan pengadaan, anggaran yang tersedia dan kesamaan pandang Ketua Komisi I DPR dengan Pemerintah yang tiba-tiba bisa seiring sejalan gitu loh.
****
Jagvane / 27 Agustus 2013


Tuesday, August 6, 2013

Mengembangkan Spirit Bertentara



Kepantasan pemerintahan SBY selama 5 tahun terakhir ini yang patut dicatat sebagai nilai cum laude adalah memberikan baju pakaian alutsista layak pakai kepada salah satu pilar penyangga NKRI, Tentara Nasional Indonesia.  Sebelum itu dan juga pemerintah ORBA sebelumnya, perhatian untuk memakaikan pakaian perang yang layak tempur kepada garda republik memang tetap diberikan. Namun semua itu belum mampu menegakkan kegagahan dan kewibawaan tentara kita karena pakaian itu tidak layak disandingkan dalam setiap “festival” alutsista yang ditandingkan.

Tentara sesungguhnya adalah bagian dari naluri bernegara.  Ketika negara ini diproklamirkan 68 tahun yang lalu, tentara rakyat yang kemudian menjelma menjadi tentara nasional adalah kekuatan beton bertulang yang mampu mengawal kibaran merah putih  di seluruh tanah air, meskipun persenjataannya minim. Episode perang kemerdekaan sebagai konsekuansi proklamasi 17 Agusttus 1945 berujung pada kelelahan pihak penjajah sampai akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia akhir Desember 1949.  Bukankah itu hasil perjuangan tentara dan rakyat.
Jejeran Panser Anoa, 300 unit Anoa sudah digenggam TNI
Spirit bertentara sesungguhnya ingin mengajak khalayak untuk mengapresiasi ruang tugas yang diemban tentara kita.  Kebanggaan bertentara diletakkan pada nilai kesediaannya untruk kontrak mati, meletakkan jiwa raga pada pengabdian tugas utama menjaga dan mewibawakan kedaulatan NKRI.  Oleh karena itu jangan sampai ada pemikiran untuk bersu’uzon pada pengawal republik ini karena dinamika kawasan selama ini tidak memberikan kesempatan untuk terjadinya perang antar negara. Jelasnya karena tidak ada perang tidak ada yang dikerjakan. Justru semua orang di dunia ini tidak menginginkan terjadinya perang karena akhirnya akan menyengsarakan nilai eksistensi dan harkat manusia dan negara.

Tentara adalah bagian dari kebersamaan perjalananan semua komponen bangsa untuk membangun dan mensejahterakan rakyat bangsa.  Perjalanan menuju kesejahteraan bangsa ini termasuk bagian dari partisipasi tentara yang selalu mengawal dan menjaganya pada apa yang disebut kedaulatan dan harga diri bangsa.  Nilai itu dalam ukuran persepsi dan perspektif keperansertaan menuju kesejahteraan bangsa seakan tidak merupakan bagian dari substansi.  Namun banyak yang tidak menyadari bahwa  kehadiran peran kesetiaan dan pengawal harga diri kedaulatan yang diemban TNI justru menjadi faktor utama dalam mengiringi tahapan menuju kesejahteraan bangsa.

Natuna dan Ambalat salah satu contohnya.  Kehadiran tentara disana berikut sejumlah alutsistanya  adalah upaya untuk menegaskan bahwa teritori ini dengan sejuta kekayaan sumber daya alamnya adalah bagian dari tubuh kami.  Jangan coba ganggu apalagi ambil kalau tidak ingin bertarung sampai mati.  Ini bagian dari simbol menjaga harkat dan martabat sembari tetap melangkah bersama menuju kesejahteraan bangsa.  Sepintas seperti tidak memberikan nilai kontribusi pada nilai kesejahteraan tetapi kehadiran tentara dengan alutsista yang setara di border negara tentu memberikan nilai tawar bahkan gentar bagi pihak manapun yang ingin menganggu teritori bangsa ini.  Menjaga Natuna dan Ambalat adalah upaya mengawal tingkat kesejahteraan itu.  Bukankah di dua kawasan itu tersimpan potensi energi fosil yang berlimpah.
Kegagahan alutsista Marinir menuju medan latihan
Untuk itu maka perkuatan alutsista TNI bukanlah sesuatu yang mewah dan mengada-ada.  Perkuatan alutsista merupakan kebutuhan mutlak bagi tentara dan negara. Perkuatan ini juga bagian dari upaya memoles nilai diri bangsa terutama terkait dengan posisi diplomatik, posisi hubungan bertetangga dan posisi postur diri dalam berinteraksi secara dinamis.  Jadi tidak semata-mata untuk perang.  Kekuatan tentara dan alutsista sebuah negara bangsa diyakini  mampu meredam keinginan untuk berperang bagi negara mana pun karena daya gentar dan gebraknya.  Lihat saja kekuatan militer AS, siapa sih yang berani mau ngajak perang sama Paman Sam.
Menyongsong peringatan hari kemerdekaan tahun ini, selayaknya kita merenungkan eksistensi perjalanan bangsa ini yang sudah mencapai usia 68 tahun. Peran serta tentara yang selalu setia menjaga harkat dan martabat bangsa dalam dinamika kawasan maupun ambisi separatis dari sekelompok gerakan bersenjata, sudah dibuktikan dan terbukti. Kesetiaan tentara pada negara ini adalah memastikan langkah dan nilai perjalanan bangsa untuk membangun dan mengembangkan rumah tangga Indonesia menuju cita-cita konstitusi yang telah disepakati.

Maka ketika berbagai jenis alutsista mulai berdatangan untuk sebuah kepantasan bagi pengawal republik, sepantasnya pula kita hendak menyatakan bahwa ini bukan kedatangan pertama dan terakhir.  Kita hendak menyampaikan suara mayoritas rakyat yang diyakini bagian dari kecintaan kepada TNI bahwa modernisasi persenjataan TNI harus terus berlanjut meskipun RI-1 berganti figur.  Kedatangan berbagai jenis alutsista yang sudah jauh hari dipesan bukanlah merupakan expense yang membebani negara tetapi justru merupakan investasi dan asset yang mutlak diperlukan untuk mengawal eksistensi bernegara.
Kepedulian RI-1 pada hulubalangnya, TNI
Dinamika kawasan yang mudah tersulut, sikap paranoid AS terhadap Cina karena hegemoninya tergerus, cara pandang Australia yang mendua terhadap RI merupakan fakta tak terbantahkan. Tentu perjalanan bergelombang ini mengharuskan RI waspada  sembari tetap menyebar senyum pertemanan.  Salah satu langkah kewaspadaan itu adalah memberikan kekuatan pakaian alutsista pada hulubalangnya.  Perkuatan alutsista ini tidak sekedar mengejar ketertinggalan, tetapi lebih dari itu. Dalam dua tahapan MEF berikutnya seiring dengan kekuatan daya beli dan PDB yang semakin meningkat, perkuatan alutsista TNI adalah realisasi yang sudah di depan mata.

Dirgahayu Republik Indonesia
Jayalah Tentaraku
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H
*******
Jagvane / 6 Agustus 2013

Wednesday, July 17, 2013

Antara Leopard dan Komodo



Berita menyenangkan, pantas dan enak didengar, datang dari Pangdam Mulawarman Mayjen TNI Dicky Wainal Usman.  Ketika menyaksikan penyerahan hibah 1 Helikopter Bell 412 EP dari Pemprov Kaltim ke Kemhan di Bandung tanggal 13 Juli 2013 dia katakan sedikitnya 12 MBT Leopard akan ditempatkan di Kaltim bersama dengan Heli tempur Apache.  Belum lama dari berita itu ada pula berita tentang rencana besar TNI AL menyelenggarakan latihan AL gabungan 18 negara di Natuna April 2014, namanya Latgab Komodo.

Kiri kanan Kalimantan memang menjadi perhatian serius Cilangkap karena di dua hot spot itu telah berlaku ujian matakuliah teritorial, tepatnya klaim teritorial. Di kanan Kalimantan ada Ambalat di mana tetangga jauh di hati dekat di mata lebih merasa pantas memiliki perairan itu setelah “memperoleh” Sipadan dan Ligitan tahun 2002.  Sementara di kiri Kalimantan ada suhu demam berkepanjangan karena Cina melakukan manuver kapal perang di kawasan kaya sumber daya fosil itu, Laut Cina Selatan (LCS).  Yang sebelah kanan Kalimantan sudah nubruk teritori sedangkan yang kiri agaknya masih nyerempet nih.

Kedatangan berbagai jenis alutsista secara bergelombang tentu saja beberapa item diantaranya mestinya didekatkan dengan titik panas.  Tujuannya bukan untuk memanaskan situasi tetapi lebih berperan sebagai anti biotik pertama manakala ada serangan flu yang mau uji kekuatan imunitas.  Setidaknya sebagai penggentar jika tetangga sebelah mau bermain api dengan NKRI.  Maka pantas jika 12-15 MBT Leopard ditaruh di Mulawarman bersama puluhan Tank Scorpion atau AMX13 untuk membentuk batalyon kavaleri komposit. Termasuk 1 detasemen  Astross sebagai kekuatan jaga nilai dan harkat.  Penempatan satu skuadron heli komposit Apache, Mi35, Bell 412EP diyakini sudah memberikan kekuatan percaya diri.
Tank Scorpion di Latgab 2013 Situbondo
Bagaimana dengan Tanjungpura.  Jangan kuatir, skuadron Hawk di Supadio akan ditemani dengan skuadorn UAV canggih untuk memantau pergerakan makhluk militer di seberang Entikong atau Putusibau.  Tidak hanya itu, prediksi kita batalyon kavaleri dan artileri di Kalbar juga akan diisi dengan MBT Leopard, Tank Scorpion, Tank AMX13, Panser Anoa dan Artileri Caesar Nexter.  Secara infrastruktur jalan raya di Kalbar lebih baik dari Kaltim karena dari ibukota Provinsi Pontianak ke wilayah perbatasan bisa dicapai. Maka penempatan Panser Anoa di Kalbar pantas. Ini berbeda dengan Kaltim.  Jalan raya di Kaltim justru sejajar dengan Selat Makassar dan Laut Sulawesi mulai dari Balikpapan, Samarinda, Bontang, Sangatta, Berau, Tanjung Selor dan Malinau.  Tidak menyentuh tapal batas.

Untuk MEF tahap pertama yang selesai tahun 2014, sudahlah jelas alutsista apa yang dibeli dan yang mau datang.  Jangan lupa MEF itu akan terus berlanjut ke tahap lima tahun berikutnya.  Tentu perkuatan demi perkuatan itu akan menempatkan posisi Kalimantan sebagai prioritas asupan gizi alutsista disamping pulau-pulau lain.  Jadi tetap optimis dengan alokasi alutsista terbaru yang akan ditempatkan di bumi borneo itu.  Tegasnya tidak hanya 12-15 MBT, tidak hanya 1 detasemen Astross, tidak hanya 5 pucuk Caesar Nexter atau 10 Panser Anoa.  Pasti akan ditambah terus secara bertahap menuju kekuatan yang disegani.

Kemudian melihat rencana RI mengadakan latihan gabungan AL dengan 17 negara lain di Natuna April 2014 merupakan langkah cantik sekaliguna  gagah, tetapi juga harus berhati-hati. Lho kok bisa, ya iyalah cantik karena ini berkait dengan diplomasi maritim yang perlu dipertontonkan.  Bahwa dengan latihan itu nanti perairan ZEE Natuna akan dilintasi armada gabungan termasuk Cina yang juga ikut latihan Komodo.  Gagah karena TNI AL menjadi leadernya dan mengirim 12 KRI terbaiknya untuk memimpin konvoi kapal perang 18 negara menyisir beberapa kepulauan yang berada di wilayah NKRI.  Berhati-hati karena yang ikutkan ada Cina, ada Rusia, ada Jepang, ada AS disamping negara-negara ASEAN.  Itu sebabnya release resminya adalah latihan penanggulangan bencana.
Konvoi Anoa di Perkebunan Kelapa Sawit
Mengelola suhu konflik di LCS memang perlu kesabaran dan ketenangan.  Posisi Indonesia yang tak ikut dalam klaim LCS memberi keleluasaan bagi diplomasi negeri ini ke semua pihak yang bertikai agar bisa memperoleh “kesetaraan kehormatan bersama” melalui kegiatan latihan militer bersama.  Boleh jadi ini merupakan titik awal untuk bersama-sama pula mencari solusi terbaik dengan suasana kedekatan militer dan saling ketergantungan dalam hubungan ekonomi multilateral.  Perspektif hubungan antar negara ke depan ini khususnya di kawasan Asia Pasifik akan semakin dinamis dan mungkin saja akan terjadi petir di siang hari.  Tentu untuk mengurangi dampak petir tadi perlu ada prakarsa.  Indonesia berpeluang besar memainkan prakarsa itu.

Kita berpandangan Leopard dan Komodo adalah kampanye.  Yang pertama tentu sesuai namanya, jangan-main-main dengan kucing hutan kami kalau tidak ingin diterkam. Yang terakhir juga sesuai namanya, karena kata si Cina LCS sudah diklaim sejak jaman baheula maka memunculkan nama Komodo seakan ingin menegaskan bahwa masih ada lagi makhluk yang lebih pra sejarah, ya si Komodo itu. Bukan bermaksud menyindir tetapi kalau klaim didasarkan pada argumen kejayaan masa lalu yang sudah bernilai berabad-abad, kita pun bisa mengatakan kami ingin juga mengembalikan kejayaan Majapahit. Bagaimana koko Panda ?
****
Jagvane / 17 Juli 2013


Sunday, June 23, 2013

Pesan Untuk Singapura



“Serangan udara” berupa asap dari sejumlah tempat di Riau membuat negeri kecil nan makmur di sebelah Batam, Singapura meradang dan mengomel. Namun omelannya kali ini dibalas telak oleh pemilik asli negeri jamrud khatulistiwa, Indonesia. Betapa tidak, seperti yang diungkap Menko Kesejahteraan Agung Laksono, Singapura seperti anak kecil, gampang merengek hanya soal asap, padahal untuk area yang lebih luas Riau juga diselimuti asap termasuk Batam.  Juga Malaysia, namun negeri melayu itu “tabah” menghadapi serangan asap dari tetangganya Sumatera.

Bahkan secara lugas Menlu Marty menyatakan Indonesia tak akan meminta maaf secara formal kepada Singapura soal asap. Pernyataan diplomatik ini menegaskan kepada kita bahwa RI tidak ingin (lagi) berada dalam posisi defensif dalam soal pecundang kesalahan. Harus jelas dulu duduk perkaranya baru lontarkan pernyataan karena sesungguhnya perusahaan yang terlibat pembakaran hutan di Singapura justru bermarkas di negeri singa itu. Kan lebih baik menyerukan kerjasama untuk mengatasi pembakaran hutan daripada mengeluh, mengomel lalu melontarkan kecaman.

 

Salah satu prediksi itu
Dalam kacamata kita, Singapura selalu merasa memiliki kasta lebih dibanding dengan dua jirannya padahal dalam hubungan multilateral yang bernama saling ketergantungan, sesungguhnya negeri itu sangat tergantung kepada Malaysia dan Indonesia.  Tak usahlah kita sebut substansinya.  Petinggi pemerintahan negeri itu selayaknya mulai menata pola gaul dan tata cangkem karena perubahan dan kemajuan ekonomi kesejahteraan ke depan untuk kedua jirannya Malaysia dan Indonesia akan mempengaruhi sikap dan cara pandang mereka terhadap Singapura.

Yang tak terbantahkan dan sekaligus merupakan takdir sejarah Singapura  adalah kepemilikan teritori yang kecil dibanding dua rumah di sebelahnya yang berkelimpahan sumber daya alam.  Selain itu perjalanan bertetangga ke depan ini khususnya pada dua negara disebelahnya, masing-masing telah menuju ke arah kemajuan ekonomi kesejahteraan yang signifikan.  Malaysia sudah berada dalam lingkaran komunitas negara berkemampuan ekonomi sejahtera.  Indonesia sudah menampakkan kemajuan ekonomi yang luar biasa selama 9 tahun terakhir ini.  PDB RI terbesar di ASEAN dan nomor 16 di dunia.

Sejalan dengan itu, tentu untuk menjaga nilai kewibawaan diplomatik, pembangunan kekuatan militer untuk menjaga sumber daya alam dan harga diri teritorial sedang digiatkan secara luar biasa di Indonesia.  Posisi perkuatan ini (nantinya) adalah ukuran untuk menjaga ritme tahu diri dan ngaca diri agar siapa pun itu dalam ukuran tata gaul regional, dalam hubungan pertetanggaan satu RT terutama,  bisa mengendalikan cangkem dan bahasa tubuh untuk tidak meremehkan tetangganya.

Ketersinggungan hubungan bertetangga dengan Singapura dalam bingkai grass root di bumi pertiwi ini sudah menjadi “hapal luar kepala” di setiap benak rakyat Indonesia.  Misalnya terhadap keengganan dia melakukan perjanjian ekstradisi terutama untuk pelaku korupsi di Indonesia.  Sehingga muncul kesan bahwa negeri penampung koruptor itu tidak menghargai Indonesia, alias menyepelekan.  Yang lebih menggemaskan adalah cara dia mendikte RI dengan cara meminta zona militer untuk latihan di Natuna selama berbulan-bulan dan itu menggabungkannnya dengan perjanjian ekstradisi.  Syukurlah itu tidak terjadi.

Pesan kita untuk Singapura adalah untuk tidak lagi merasa sebagai orang penting di lingkungan.  Perjalanan ke depan ini terutama untuk dua jirannya Malaysia dan Indonesia sangat memungkinkan untuk tidak lagi menganggap Singapura sebagai faktor utama melainkan hanya sebagai salah satu faktor. Paham maksud kulo njihh ? Maksudnya kemajuan dalam hubungan ekonomi internasional RI dan Malaysia bisa memastikan untuk tidak lagi melihat negeri unyil itu sebagai segala-galanya.  Prediksi berbagai  lembaga pemeringkat ekonomi dunia mengarahkan telunjuknya bahwa RI merupakan salah satu kandidat untuk maju sebagai negara ekonomi sejahtera dan kekuatan 7-8 besar dunia dua puluh tahun mendatang.

Bisa dibayangkan dua puluh tahun mendatang, dengan populasi lebih dari 400 juta, sumber daya alam dan geografi yang luas, rakyatnya sudah makin sejahtera dan tentu kekuatan militernya setara dengan keunggulan kekuatan ekonominya.  Gak usah dibayangkan jauh-jauh dah, tahun 2020 nanti kekuatan ekonomi dan militer RI sudah bertunas mekar dan ranum (ini kalimat doa untuk kita bangsa besar ini, semoga dikabulkan Allah SWT).  Mestinya Singapura mampu membaca suasana kebatinan ini.

Pukulan diplomatik yang dilakukan dua menteri Indonesia sekaligus, soal serbuan asap itu sangat tepat dan mewakili suara mayoritas rakyat.  Itu adalah bahasa tubuh ketidaksukaan yang pantas dilakukan terhadap keangkuhan cangkem yang dilantunkan Singapura.  Yang perlu diingat adalah Singapura itu hari ini dan ke depannya tergantung dengan dua tetangganya, karena dia adalah negara jasa. Musuh terbesar negara jasa adalah kepanikan.  Sangat pantas kiranya Singapura mulai menata cangkemnya sekaligus berlaku adil dalam hubungan sebab akibat bertetangga.

*****
Jagvane / 23 Juni 2013