Saturday, March 17, 2012

Hibah Tiger Taiwan, Memancing Di Air Bening

Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja Taiwan berbaik hati hendak menghibahkan 1 skuadron (16 unit) jet tempur sarat pengalaman F5E/F Tiger kepada Indonesia.  Berita ini tentu memicu tanda tanya dan kalkulasi ada apa gerangan Taiwan yang tak mempunyai hubungan diplomatik dengan RI mengetuk pintu hendak menyedekahkan Tigernya.  Yang lebih mengherankan belum 6 jam setelah publikasi   pernyataan KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat tanggal 9 Maret 2012 usai memimpin serah terima jabatan Komando Pendidikan TNI AU di Jakarta, Kadispen TNI AU Marsma TNI Azman Yunus langsung membantahnya dengan mengatakan kita tidak ada program hibah F5 dari Taiwan.

Seperti kita ketahui Indonesia dan China belum lama berselang telah bersepakat melaksanakan kerjasama teknologi rudal dengan memproduksi bersama rudal anti kapal C705.  Rudal ini beberapa diantaranya sudah dipasang di sejumlah kapal cepat rudal TNI AL setelah RI membeli barang jadinya.  Kerjasama teknologi rudal ini bernilai strategis karena Indonesia telah jauh-jauh hari mempersiapkan program roketnya dengan melakukan puluhan kali uji coba.  Dengan adanya alih teknologi rudal ini sangat diniscayakan RI akan mampu membuat rudal berbagai jenis dengan jarak tembak 300 km mulai dari rudal darat ke darat, rudal darat ke udara dan rudal udara ke darat berdasarkan teknologi yang diperoleh pada kerjasama dengan paman Panda.
1 jet tempur F5E Tiger TNI AU dari 12 yang dimiliki saat ini
Perjuangan mendapatkan kelas privat bersama guru rudal dari China  bukan perkara gampang karena sesungguhnya semua negara yang telah menguasai teknologi rudal sangat pelit menularkan ilmunya.  Perjuangan Indonesia sudah dimulai tahun 2007 dengan penandatanganan kerjasama pertahanan RI-China. Sepanjang masa itu hingga disepakatinya sekolah teknologi rudal berbagai upaya sudah dilakukan.  Berbagai kunjungan kementerian Pertahanan sudah dilakukan.  Presiden Indonesia berkunjung ke China dan Presiden China berkunjung ke Indonesia untuk memastikan strategisnya kerjasama pertahanan kedua negara. China juga tercatat dua kali mengirim kapal perang teknologi rudal satelit  ke Jakarta.  

Posisi RI yang tidak punya klaim wilayah teritori pulau di Laut China Selatan, posisi politiknya yang tak berpihak ke sumbu tertentu, letak geografisnya yang terbesar di Asia Tenggara bisa jadi merupakan nilai plus di mata China manakala negeri itu juga sedang mempersiapkan kekuatan pukul angkatan lautnya untuk menjadi kekuatan regional yang disegani.  Artinya China juga harus punya kawan untuk bersepaham bahwa negara-negara Asia Pasifik harusnya menjadi kekuatan di kawasannya sendiri, tidak lagi ada hegemoni sebuah negara.

Oleh sebab itu release Kadispen TNI AU mesti kita lihat sebagai langkah pre emptive agar jangan sampai air yang telah bening menjadi keruh karena ikannya tak paham kondisi lingkungan. Logikanya Indonesia memang harus menolak pemberian itu karena memang tak ada transaksi apa pun. Berbeda dengan Korsel, hibah 10 kendaraan angkut amfibi kelas berat beberapa waktu lalu dan mau ditambah lagi dengan 10 unit kepada RI karena ada transaksi bisnis alutsista dengan negeri ginseng itu.  Jika RI menerima tawaran Tiger dari Taiwan dapat dipastian paman Panda  tersinggung karena  itu sama artinya telunjuk lurus kelingking berkait, menggunting dalam lipatan. Taiwan dianggap China sebagai pembangkang dan salah satu provinsinya, sementara RI juga sampai saat ini mempunyai langkah politik dengan hanya mengakui satu China.  Artinya air sudah bening selama ini, jangan sampai menjadi keruh karena ada ikan salmon yang berenang ke hulu.

Poin penting lainnnya adalah kita juga akan mendapatkan hibah 1 skuadron F5E/F Tiger dari Korea Selatan sebagai hadiah pembelian 1 skuadron (16 unit) jet latih tempur T50 Golden Eagle.  Hibah dari Korsel tentu patut kita sambut karena akan menambah inventori jet Tiger dari 12 yang kita miliki saat ini menjadi 28 unit.  Dan itu murni hadiah dari kerjasama transaksi bisnis alutsista RI-Korea yang demikian eratnya.  Jet tempur ringan F5E masih dibutuhkan untuk melakukan patroli udara  mengcover wilayah udara RI yang luas ini.  Indonesia masih akan mengoperasikan jet tempur F5E sampai tahun 2020.

Mulai tahun 2014 kita akan keluar dari sesak nafas alutsista.  Di matra udara sudah berdatangan jet-jet tempur Sukhoi, F16, T50, Super Tucano, pesawat angkut, pesawat intai, helikopter tempur, helikopter angkut, dan rudal. Termasuk keberadaan 28 jet F5E yang berguna untuk patroli udara sementara jet tempur kelas berat Sukhoi terlalu mahal ongkosnya jika hanya digunakan untuk patroli udara. Jet tempur Sukhoi dirancang untuk pertempuran udara high class dan memiliki jarak jelajah yang mampu mengcover luas wilayah udara RI.  Sayang kan kalau hanya untuk mengejar pesawat Papua Nugini atau pesawat Pakistan harus dengan Sukhoi.

Langkah baik hati Taiwan harus kita sikapi dengan bijak.  Itu sebabnya langkah Kadispen TNI AU merupakan suara kecepatan yang perlu diapresiasi karena kalau terlambat merespons akan menimbulkan polemik. Jadi sebelum berpolemik mending di delete saja.  Langkah Taiwan yang tiba-tiba berbaik hati ini harus dibaca sebagai memancing di air bening karena memang kita mempunyai hubungan dagang yang baik dengan negeri pulau itu. Di sisi lain kita punya hubungan yang hangat dan sangat bersahabat dengan China yang sah di mata PBB.  Karena airnya bening tentu sangat mudah mendapatkan ikannya tanpa harus mengaduk-aduk hubungan yang sudah baik antara RI-China dan RI Taiwan.

Taiwan punya hubungan sangat dekat dengan AS, kalau boleh dibilang sekutunya AS sekaligus payungnya, dan beragam alutsistanya didominasi buatan negara adi daya itu.  Bisa jadi AS menggunakan tangan Taiwan secara halus untuk “menggoda” Indonesia.  AS bersahabat baik dengan RI karena kepentingannya juga untuk jangan sampai negeri ini jatuh ke pelukan China atau berkiblat ke China.  Ini adalah ujian awal sekolah teknologi rudal karena di hari-hari berikutnya masih akan ada lagi ujian yang mengharuskan kita bersabar sampai sekolah itu selesai dan langsung ditutup karena gurunya tak mau ada murid yang lain.  Sabar itu memang penting sama seperti pelecehan teritori yang kita alami selama ini.  Sabar itu juga sama seperti yang diungkapkan bahasa tubuh Presiden SBY di Mabes TNI Cilangkap Jakarta tahun 2007 ketika emosi Ambalat mencapai titik didih.  Beliau berupaya mendinginkan emosi rakyat saat itu namun sesungguhnya itulah awal “kemarahan militer”nya, lalu bersama petinggi Kemhan dan Mabes mencanangkan pengadaan alutsista TNI secara besar-besaran.
*******
Jagvane   17 Maret 2012


Tuesday, March 6, 2012

Lagu Hits Alutsista “Transfer Teknologi”

Pemerintah sudah bertekad hendak menggaharkan pengawal republiknya, TNI dengan memodernisasi alutsistanya.  Seiring dengan gempita itu sepanjang dua tahun terakhir ini ”lagu” alutsista yang lebih sering terdengar di telinga adalah transfer teknologi. Lagu ini memang bagian dari kebijakan Kementerian Pertahanan agar suatu saat kelak bangsa ini dapat memenuhi sendiri kebutuhan alat-alat perangnya dengan industri hankam dalam negeri yang matang dalam memproduksi alutsista.

Maka bisa kita lihat dan saksikan saat ini spirit dan aktivitas melakukan sekolah teknologi alutsista. Ilmuwan-ilmuwan kita sudah mampu membuat alutsista berdasarkan transfer teknologi misalnya membuat kapal perang jenis KCR (Kapal Cepat Rudal), LST (Landing Ship Tank), LPD (Landing Platform Dock), Panser Anoa, Rantis, Roket R-Han, CN 235 MPA, Helikopter.  Yang sedang bersekolah transfer teknologi saat ini adalah proyek pembuatan panser canon dengan Korsel, proyek pembuatan kapal perang berkualifikasi PKR (Perusak Kawal Rudal), proyek pembuatan kapal selam dengan Korsel dan yang spektakuler adalah kerjasama pengembangan jet tempur generasi 4,5 KFX/IFX juga dengan Korsel.  Untuk kedua proyek bergengsi yang terakhir itu RI telah mengirimkan lebih dari 150 ilmuwannya ke Korsel.
KRI Trimaran produksi Lundin akan diperkuat rudal C705
Lalu yang terakhir dan masih hangat dalam perbincangan adalah kerjasama produksi rudal anti kapal C705 dengan China yang dapat dikembangkan menjadi pembuatan rudal surface to surface, surface to air dan air to surface.  Ini adalah buah dari kunjungan kerja Menhan Punomo Yusgiantoro ke Beijing China atas undangan Menhan China Jendral Liang Guanglie tanggal 19 sampai dengan 21 Fepbruari 2012.  Kerjasama real ini sebenarnya yang paling ditunggu sejak adanya perjanjian DCA (Defence Cooperation Agreement) antara Indonesia dan China tahun 2007. 
 
Ini adalah langkah cerdas dan cemerlang dari kebijakan Kementerian Pertahanan RI yang ingin memodernisasi persenjataan TNI dengan anggaran sebesar US$ 15 Milyar untuk periode 2010-2014.  Tidak melulu beli murni tetapi juga mengaktifkan dan memberdayakan kegiatan industri hankam strategis Pindad, PAL, PT DI dan perusahaan industri hankam swasta nasional.  Upaya menyirami industri hankam ini dengan berbagai proyek kerjasama produksi alutsista memberikan banyak kegunaan, salah satunya tentu kebanggan nasional dengan produksi milik bangsa sendiri.

PT Pindad kebagian order membuat panser canon bersama Korsel setelah sukses menghasilkan ratusan panser Anoa yang merupakan titik awal kebangkitan industri hankam dalam negeri.  Pindad juga sedang disibukkan dengan produksi massal Roket Rhan bersama Lapan disamping memenuhi order ekspor panser Anoa ke beberapa negara.  Sementara PT PAL saat ini mendapat order membuat kapal selam kelas Changbogo bersama industri hankam Korsel, Daewoo.  Selain itu kerjasama produksi melalui transfer teknologi juga sedang berlangsung antara PAL dan Damen Schelde Belanda untuk membuat 10 kapal perang light fregat. Tak ketinggalan embahnya teknologi kedirgantaraan PT DI mendapat banyak order mulai dari buat helikopter, kerjasama buat pesawat angkut militer CN295 dengan Airbus Military dan mengembangkan jet tempur KFX/IFX bersama Korsel.

Yang menarik China juga bersedia menularkan ilmu teknologi rudalnya dengan bekerjasama memproduksi rudal anti kapal C-705 yang mampu menembus jarak tembak 100 km.  Memang dibanding dengan rudal Yakhont buatan Rusia  yang mampu menerabas jarak jangkau 300 km, C-705 jelas tak ada apa-apanya.  Tetapi untuk mendapatkan ilmu transfer teknologi itu, kita perlu “mundur selangkah” dengan mengambil ilmu konsep dasar teknologi rudal.  Setelah itu kita dapat mengembangkannya sendiri misalnya dengan menambahkan booster dan racikan propelan untuk menambah kekuatan jarak tempuh dan hulu ledaknya. Lapan Pindad sudah siap dengan materi kuliah yang berjudul ilmu propelan. Untuk diketahui hampir semua negara yang menguasai teknologi rudal sangat merahasiakan racikan teknologi propelan yang dimilikinya.

Beberapa rudal anti kapal C-705 sudah diuji coba oleh TNI AL dan sudah terpasang di sejumlah kapal cepat rudal TNI AL.  Matra laut ini punya program pembangunan 100 kapal cepat rudal murni buatan dalam negeri dalam renstranya sehingga membutuhkan banyak rudal anti kapal sebagai senjata pemukul strategisnya. Dalam kerjasama produksi rudal C-705 sangat dimungkinkan kapal perang jenis korvet Parchim Class TNI AL yang berjumlah 16 unit itu akan mendapat jatah rudal ini sebanyak 2-4 unit di setiap kapalnya.  Kapal perang TNI AL lainnya yang sedang dibangun di PT Lundin Banyuwangi yang mengusung teknologi trimaran juga akan diperkuat dengan rudal C705.  Kapal trimaran ini punya kecepatan sampai 40 knot, tahun ini diharapkan 1 unit selesai.  TNI AL memesan 4 kapal dari galangan swasta nasional ini yang memang sudah ahli dalam membuat kapal cepat.

Diniscayakan dalam kurun waktu 4 sampai dengan 8 tahun lagi kita sudah mampu memproduksi beragam alutsista teknologi tinggi made in dewe.  Untuk  kapal berjenis PKR misalnya jika semuanya berjalan lancar mestinya tahun 2014 ini sudah jadi minimal 2 kapal perang.  Namun diantara semua sekolah transfer teknologi alutsista proyek PKR ini yang paling lambat laju kurikulum semesterannya.  Ada kesan pihak Damen Schelde Belanda mengulur-ulur waktu dan setengah hati menularkan ilmunya padahal kita sudah membeli produknya berupa 4 KRI Korvet Sigma beberapa waktu yang lalu.  Sehingga ada kesan kalau negara-negara Barat itu memang pelit menularkan teknologinya.  

Ini sangat berbeda dengan negara-negara Asia seperti Korsel dan China yang dengan ikhlas mau berbagi ilmu dengan Indonesia untuk bekerjasama memproduksi bermacam alutsista yang dibutuhkan negara ini. Transfer teknologi pembuatan kapal selam diyakini bisa dihasilkan mulai tahun 2018 saat dimana sebuah kapal selam jenis Changbogo bisa diproduksi oleh PAL.  Demikian juga dengan proyek jet tempur KFX/IFX, Indonesia diharapkan dapat menguasai teknologinya mulai tahun 2020.  Untuk teknologi rudal diharapkan tahun 2014 kita sudah mampu membuat rudal berbagai jenis yang punya daya ledak dan daya jangkau menggentarkan.

Langkah cemerlang Kemenhan ini tentu kita apresiasi karena  kalau hanya sekedar beli alutsista, yang didapat cuma barangnya dan cara penggunaannya sedang teknologinya tetap milik si pembuat.  Dan kalau pola ini saja yang dianut, negeri ini tak ubahnya hanya sebuah pasar besar dimana kita hanya menjadi pembeli yang baik hati, pemakai yang baik hati tanpa pernah bisa menjadi pintar.  Pola yang dianut Kemenhan mestinya banyak ditiru oleh sektor lain misalnya sektor otomotif yang sudah menemukan titik temu ketika mobil kiat esemka menjadi begitu populer. Untuk urusan produksi sepeda motor saja mengapa harus berkiblat pada merek Jepang padahal secara de facto kita sudah mampu membuat sendiri.  Mengapa kita tidak mau memulainya sebagaimana yang telah dicontohkan Kemhan padahal teknologi otomotif sangat mudah dicerna dan diimplementasikan oleh anak bangsa ini. Mengapa ?
*****
Jagvane  06 Maret 2012

Thursday, March 1, 2012

Abaikan Belanda, Masih Banyak Jalan Menuju Leopard

Perjalanan shopping alutsista kembali dilakukan Kemhan dan Mabes TNI.  Kali ini kembali mengunjungi Jerman dan Perancis. Kafilah Kemhan dipimpin Wamenhan Syafrie Syamsoedin dan Mabes TNI dipimpin KSAD Jendral TNI Pramoni Edi Wibowo.  Di Jerman rombongan penjelajah alutsista RI itu melakukan lamaran akad nikah dengan Kemhan Jerman tanggal 27 Pebruari 2012.  Isinya berupa MOU sama dengan kesepahaman untuk menjalani pendekatan lebih intensif dalam upaya mendapatkan alutsista yang  diinginkan, misalnya MBT Leopard atau kapal selam U214.  Wamenhan RI bilang penandatanganan kerjasama itu bertujuan sebagai kerangka untuk memajukan kerja sama bilateral kedua negara berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menguntungkan dan saling menghormati, kedua pihak.

Hal yang sama dilakukan juga di Perancis.  Di Paris Rabu tanggal 29 Pebruari 2012 dilakukan sign bidang pertahanan, bisa ditebak  maksud dan tujuan MOU itu, mendapatkan alutsista made in Perancis untuk TNI AD.  Yang menarik hanya dalam waktu 1 minggu ada 2 sign kerjasama pertahanan.  Itu merupakan jalan-jalan belanja alutsista yang istimewa sekaligus ingin meledek Belanda yang plin plan menjual tank second Leopard.  Jual beli alutsista itu mestinya pakai aturan bisnis tok atau prinsip kesetaraan.  Polanya macam-macam bisa G to G atau B to B.  Tak usah membawa-bawa issue lain yang berada di luar wilayah bisnis bilateral.  Emang lu siape, emang lu penjajah yang baik, emang lu mewariskan negara jajahan yang berkualitas, jangan sok menggurui dong.  Statemen Wamenhan di Jerman itu jelas dan tegas, prinsip saling menghormati, kesetaraan dan menguntungkan adalah landasannya.
Howitzer Caesar Perancis yang diincar TNI AD
Kita tentu masih ingat ketika seorang menteri luar negeri Belanda Pronk berjalan-jalan di kawasan miskin di Jakarta akhir tahun 80 an.  Gaya bicara dan langgam bahasa tubuhnya menunjukkan seperti dewa penolong, lalu memberikan berbagai syarat agar bantuan IGGI (Inter Government Group on Indonesia)  bisa cair waktu itu. Pak Harto tersinggung berat, tak lama kemudian IGGI dibubarkan oleh Indonesia.  Sekedar informasi IGGI didirikan tahun 1967 yang merupakan group donatur untuk pembangunan ekonomi RI lewat Repelita yang anggotanya adalah Jepang, Belanda, Inggris, AS, Italia, Perancis, Jerman, Bank Dunia, ADB  dll.  Setiap tahun group ini memberikan pinjaman rata-rata 2 milyar dollar, dan si Belanda tadi kontribusinya setiap tahun tidak lebih dari US$ 70 juta, tapi gayanya itu yang menyesakkan hati, arogan dan mendikte.  Jepang yang bantuannya paling besar low profil aja tuh.

Sekarang itu perilaku itu diperlihatkan lagi ketika kita mau order Leopard.  Belum lagi langgam Damen Schelde yang setengah hati melakukan kerjasama pembuatan kapal perang berkualifikasi PKR.  Membaca langgam dan lagu negeri dibawah laut itu kadang membuat kita gregetan sekaligus keki.  Belanda  selalu merasa sebagai bangsa kelas satu lalu menganggap bangsa ini masih berada dalam “aura” negeri jajahan dia.  Perilaku ini kontras dengan gaya sambut Kemhan Perancis dan Jerman.  Mereka say hallo dengan keakraban dan bernuansa kesetaraan, lalu tak bertele-tele, prinsip dagangnya anda jual kami beli.  Bukan, anda jual, mau kami beli lalu jangan ini jangan itu.

Diantara negeri-negeri barat yang mampu membawakan bahasa santun dalam etika pergaulan dengan Indonesia tercatat Perancis dan Jerman yang paling softly.  Spanyol dan Italia juga merupakan negara yang membawa “kesetaraan gender” dalam melihat Indonesia.  Belanda sepanjang sejarah gaulnya dengan RI tak pernah menampakkan diri dalam wajah ketulusan bersahabat.  Mungkin untuk menutupi malunya ketika dua kali tarung teritori dengan RI.  Yang pertama bertekuk lutut dengan pengakuan kedaulatan RI akhir Des 1949.  Dan yang kedua kalah terhormat dalam “final Irian Barat Cup” dan mengembalikan Irian Barat (Papua) kembali ke Indonesia akhir tahun 1962.  Mereka gentar dengan kekuatan armada perang RI waktu itu

Perilaku Inggris agak mirip-mirip dengan Belanda.  Ketika insiden St Cruz Dili Timor Leste tahun 1991 meletus,  Inggris langsung embargo senjata ke RI.  Hebatnya lagi pada waktu bersamaan sedang dilakukan penerbangan ferry pengadaan 40 jet tempur Hawk 100/200.  Beberapa jet itu ditinggalkan pilot Inggris di Bangkok Thailand.  Lalu ketika dilakukan operasi militer di Aceh tahun 2003 Inggris melarang TNI mengunakan pesawat tempur Hawk dan tank Scorpion digunakan di Aceh.  Nah saat ini negeri Rooney itu kelihatannya sedang berupaya mengambil hati pemerintah RI sehubungan dengan hampir pastinya order 3 Fregat Ragam Class dan diliriknya 1 skuadron jet tempur Typhoon.  Padahal baru dilirik loh, soalnya Typhoon baru mengalami kekalahan telak dari Rafale dalam tender jet tempur medium multi guna AU India baru-baru ini.

Pepatah lama yang mengatakan tidak ada rotan akar pun jadi, kiranya perlu disesuaikan sehubungan dengan rencana beli alutsista MBT Leopard.  Pepatahnya diubah jadi: Kalau akar jual mahal kita beli sekalian rotannya.  MBT Leopard itu kan buatan Jerman. Belanda hanya user, lha kalau user mau jual tapi banyak persyaratan mending beli ke pabriknya saja langsung.  Jerman paham dengan kita karena sejarah gaulnya dengan kita penuh dengan kehangatan apalagi ada Habibie yang menjadi perekat manisnya hubungan itu.  Oleh sebab itu kunjungan Kanselir  Jerman Angela Merkel ke Indonesia pertengahan tahun ini perlu kita sambut hangat menuju kemitraan strategis Indonesia-Jerman.  Siapa tahu U214 jadi menu utama hidangan makan malamnya.  Dalam hati siapa yang tahu, ah bisa aja si Jagvane.

******
Jagvane 01 Maret 2012

Saturday, February 25, 2012

Berguru Ke Negeri China

Kunjungan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan orang penting lainnya di Kemhan ke China tanggal 19 sampai dengan 21 Februari 2012 tidak saja disambut hangat oleh Menhan China Jenderal Liang Guanglie, tetapi juga membuahkan kesepakatan strategis dan bernilai tambah yakni transfer teknologi rudal. Ini sebenarnya yang ditunggu-tunggu sejak adanya perjanjian DCA (Defence Cooperation Agreement) antara Indonesia-China tahun 2007. 

Perlu waktu empat tahun untuk meyakinkan China agar mau berbagi ilmu sembari mengulang-ulang membaca sebuah Hadits Nabi: Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.  Akhirnya terbuka sudah pintu perguruan Shaolin itu.  Dan ini juga yang menjadi titik asa paling gempita sejak DCA diproklamirkan karena ini tujuan utama dari wujud kerjasama yang nyata itu.

Kerjasama pertahanan dan industri pertahanan bersama China memberikan dua nilai yang sama-sama bernilai penting.  Yang satu adalah soal berguru tadi, menjadi murid sekolah transfer teknologi, yang lainnya adalah mempermudah saling pengertian dalam bidang hankam.  China saat ini sedang membangun kekuatan militernya seirama dengan pertumbuhan ekonominya yang tertinggi di dunia.  Pada saat yang sama negeri tirai bambu ini mempunyai klaim tumpang tindih dengan beberapa negara ASEAN.  Indonesia berada dalam posisi tidak bersengketa dengan negeri naga itu sehingga posisi ini setidaknya dapat menjadi pencair ketegangan.
Rudal C-705 pintu gerbang penguasaan teknologi rudal RI
Indonesia perlu rudal, jelas dong.  Jauh-jauh hari Presiden SBY sudah memberikan ruang dan waktu bahwa di masa pemerintahannya harus tercipta rudal made in dewe yang menjadi pagar pengaman teritori.  Saat ini kita tahu persiapan kearah terciptanya rudal produksi dalam negeri sudah dalam stadium “ngebet banget”. Berbagai uji coba roket sudah dilakukan termasuk membangun fasilitas luncur di Bengkulu dan  membangun pabrik bahan peledak. Nah kerjasama produksi rudal China – RI ini adalah pintu gerbang yang sudah dinantikan, pucuk dicinta ulam tiba. Dengan program kerjasama ini diharapkan Indonesia mampu mengembangkan berbagai jenis rudal sebagai salah satu alutsista strategis.

Setelah bergandeng tangan bersama guru taekwondo Korea Selatan untuk menimba ilmu melalui sekolah proyek pengembangan jet tempur IFX dan sekolah pembuatan kapal selam, maka dengan China dibuka lagi sekolah teknologi rudal untuk kemudian bisa di kembangkan sendiri sesuai jenisnya misal rudal darat ke darat, rudal darat ke udara dan rudal udara ke darat, termasuk penambahan jarak tembak dan hulu ledaknya.  Jika semua berjalan mulus diharapkan tahun 2014 peluru kendali buatan dalam negeri sudah mulai digelar di sejumlah kapal cepat rudal  sebagai rudal anti kapal dan di sejumlah tempat di perbatasan sebagai rudal darat ke darat dan rudal darat ke udara.

Ada yang menarik dari dua bangsa ras kuning ini, setidaknya dalam konteks kerjasama militer, bahwa kedua bangsa Asia ini China dan Korea tidak pelit ilmu, tidak bertele-tele dalam program pengadaan alutsista dengan model ToT, tidak terlalu banyak mempersyaratkan tetek bengek. Bandingkan dengan program kerjasama pembuatan PKR Light Fregat dengan Belanda yang jalannya melambai.  Negara-negara barat memang cenderung protektif dan jual mahal untuk memberikan ilmu teknologi persenjataan kepada negara lain. 

RI membangun kerjasama pengadaan alutsista berdasarkan prinsip kesetaraan an saling menguntungkan.  Bangsa-bangsa Asia umumnya berada dalam koridor kesamaan ini. Jepang, walaupun sudah sangat maju dalam setiap segi kehidupannya tetap saja kulturnya selalu menghormati dan menyetarakan diri dengan sesama bangsa lain, utamanya bangsa Asia. Coba saja kita bertemu dengan orang Jepang yang kita kenal pasti mereka lebih dulu yang membungkukkan badan sembari memberi salam.

Berguru ke negeri China untuk mendapatkan ilmu teknologi rudal merupakan langkah strategis Kementerian Pertahanan untuk memastikan ketersediaan teknologi rudal.  Sebab kalau ini sudah dikuasai maka lengkaplah penguasaan teknologi alutsista di Indonesia.  Artinya kita sudah mampu menguasai teknologi persenjataan mulai dari produksi amunisi, panser, roket, tank ringan, torpedo, KCR, kapal selam, PKR, pesawat angkut, jet tempur dan peluru kendali.  Inilah sebuah kebanggaan yang patut disyukuri, melihat postur TNI yang gahar, profesional dengan alutsista modern dan sebagian besar adalah produksi dalam negeri.
*******
Jagvane 25 Februari 2012

Thursday, February 9, 2012

Melihat Cakrawala 2015-2019

Kalau kita melihat perkuatan alutsista TNI sampai tahun 2014 rasanya sudah jelas bentuk dan rupanya.  Namun ada pertanyaan menggelitik apakah perkuatan alutsista TNI yang sekarang sedang digebyar akan berhenti sampai tahun 2014 dan setelah itu tidak ada lagi.  Jawaban mengelitik juga dikedepankan dengan spirit pede, tidak akan berhenti. Mengapa, karena kekuatan alutsista TNI tahun 2014 masih belum memenuhi standar kekuatan militer yang diperlukan untuk negara kepulauan terbesar di dunia ini.  Lugasnya perkuatan alutsista TNI bukan untuk membandingkan dan menyamakan dengan kekuatan militer negara tetangga tetapi untuk mengantisipasi dengan melihat dari sisi cakrawala horizon bahwa masa depan dunia ada di Asia Pasifik dengan segala dinamikanya.  Kebangkitan naga Cina, saling berebut pengaruh antara AS dan Cina, mengawal sumber daya energi yang ada di laut Cina Selatan, laut Sulawesi, laut Timor, laut Arafuru dan Papua, itu alasan tegasnya.

Visi hankam RI diyakini tidak lagi melihat Singapura atau Malaysia sebagai kompetitor.  Tetapi bergerak ke cara pandang yang lebih luas bahwa dengan kemampuan ekonomi yang maju pesat dan stabil, kita harus mampu menjaga kedaulatan dan kewibawaan wilayah RI dengan  militer yang kuat, modern dan profesional.  Bahwa seluruh wilayah negeri ini harus dikawal dengan kekuatan militer untuk menjaga sumber daya energi tak terbarukan.  Termasuk isi laut yang mampu menghasilkan duit puluhan trilyun rupiah per tahun jika dikawal dan dikelola dengan efektif.  Ke depan sumber daya energi tak terbarukan di laut termasuk isi laut itu sendiri akan menjadi pusat eksplorasi dan eksploitasi untuk menghidupi dan mencemerlangkan ekonomi bangsa ini.
KRI Nanggala selesai retrofit di Korsel, makin gahar
Tahun 2014 adalah tahun pergantian parlemen dan pemerintahan.  Kalau melihat dari kesadaran dan cara pandang DPR (secara kelembagaan) saat ini untuk memodernisasi alutsista TNI seia sekata dengan pemerintahan SBY yang bersepakat menggelontor dana US$ 15 milyar untuk beli alutsista, maka  kita sangat berkeyakinan bahwa pemerintahan baru dan DPR baru hasil Pemilu tahun 2014 akan tetap melanjutkan perjuangannya memodernisasi TNI untuk periode lima tahun berikutnya.  Dan jika itu dikaitkan dengan perkembangan PDB, pertumbuhan ekonomi yang meningkat, cadangan devisa yang semakin tambun, maka optimisme itu akan semakin berbunga, bahkan jumlah yang digelontorkan untuk pengadaan alutsista periode 2015-2019 bisa jadi mencapai US$ 20 milyar.

Era SBY berakhir tahun 2014 tetapi figur yang akan tampil di panggung kekuasaan tahun itu diyakini tidak melepas momentum perkuatan alutsista TNI.  Sekadar catatan kekuatan regional yang menghimpit RI pada tahun itu sudah jelas ”warnanya”, India dengan kekuatan militer yang makin perkasa.  Cina sudah lebih dulu membangun kekuatan militernya secara besar-besaran. Lalu AS sudah menempatkan ribuan Marinir di Darwin dan Guam.  Sekedar mengingatkan sewaktu jet tempur Sukhoi India melakukan patroli di Andaman dan tertangkap radar militer kita akhir tahun 2011, yang datang “menghadang” hanya 4 jet Hawk 200 dari Pekanbaru.  Itupun harus berhenti dulu di lanud Iskandar Muda Banda Aceh untuk ambil nafas alias isi avtur.  Secara militer jelas itu kalah kelas, namun karena India dan Indonesia bersahabat baik, tentu kedua jet flight itu sekedar say hallo sambil bercanda karena sama-sama penggemar  Shahruk Khan yang fenomenal itu.

Melihat dinamika ini militer Indonesia harus banyak memperkuat skuadron tempur dan armada laut jika ingin mensejajarkan diri dengan kekuatan regional yang tumbuh pesat.  India misalnya, ngapain dia membangun militernya secara besar-besaran padahal musuhnya cuma Pakistan.  Yang jelas tidak sekedar Pakistan, ada visi yang diemban oleh hankam India bahwa perkuatan militer mereka adalah untuk menjaga kawasan regional yang diberi label “tanggung jawab India”.  Demikian juga Cina yang sudah memproklamirkan bahwa tahun 2020 nanti, akan menjadi tahun target untuk menjadi militer berpengaruh di Asia Pasifik dengan kekuatan armada tempur yang luar biasa.
3 Fregat Inggris yang ditaksir TNI AL
Catatan kita adalah sepanjang renstra TNI  periode 2015-2019 diharapkan TNI AU menambah sedikitnya 3 skuadron jet tempur tangguh.  Ini sangat realistis, jenisnya bisa jadi dari serial Sukhoi Family misalnya Sukhoi SU30 dan Sukhoi SU35.  Bisa juga Typhoon atau Rafale yang dua-duanya lagi naik daun.  Syukur-syukur bisa dilirik F35 walaupun hanya 10 biji sebagaimana yang dicita-citakan KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat.  Untuk armada laut yang sudah menjadi 3 armada tentu perlu KRI yang lebih banyak.  Paling tidak perlu tambahan 30 KCR, 10 Korvet dan  8 Fregat.  LPD juga dirasa masih kurang, masih perlu 4-5 unit lagi apalagi jika diperlukan untuk mobilisasi MBT.  Arsenal strategis kapal selam jelas masih perlu tambahan 3-4 unit lagi.

Arsenal-arsenal darat perlu diperkuat dengan tank kelas berat, tank medium dan panser.  Yang tak kalah penting juga pengadaan rudal SAM jarak sedang, MLRS dan Howitzer untuk batalyon artileri dan batalyon rudal.  Heli tempur seperti Mi35 dan Apache atau yang setara dengannya  perlu ditambah untuk payung tempur angkatan darat. Pada era ini sangat diyakini kita sudah mampu memproduksi  rudal SAM jarak sedang yang digelar statis atau mobile.  Pada era ini juga kita sudah mampu memproduksi Panser canon, Tank medium, kapal Light Fregat dan Kapal selam.  Artinya pengadaan alutsista strategis kecuali jet tempur sudah dikuasai oleh industri hankam dalam negeri.  Dengan kata lain pada periode renstra 2015-2019 itu 70% kekuatan militer kita sudah based on industri hankam dalam negeri.  Luar biasa.

Militer yang didukung oleh kekuatan industri hankam dalam negeri akan lebih mempertegas aura kewibawaan sebuah negara karena secara logistik tidak lagi bertumpu pada pembelian alutsista dari luar negeri.  Meskipun begitu harus juga diakui tidak ada satu jenis alutsista yang murni produksi dalam negeri karena komponennya tetap harus bekerjasama dengan produsen negara lain.  Oleh sebab itu tahapan-tahapan renstra ini, membangun kekuatan militer dengan memberdayakan industri hankam dalam negeri selayaknya kita apresiasi. Beberapa paket transfer teknologi dalam pengadaan alutsista saat ini adalah sekolah teknologi yang paling komprehensif untuk kemudian mendirikan sekolah industri alutsista sendiri untuk dikembangkan buat anak bangsa.  Lima tahun ke depan ini bukan waktu yang lama, Saudaraku.  Yakinlah dengan itu sembari berdoa semoga Allah selalu memberikan petunjuk buat jalan kebanggaan bangsa besar ini.
******
Jagvane  9 Pebruari 2012.

Sunday, February 5, 2012

Mereka Mulai Menyadari

Tiada hari tanpa belanja alutsista, mungkin itulah ungkapan gaya bahasa yang pantas didengungkan ke ruang publik karena memang selama setahun terakhir ini saja daftar belanja alutsista kita jelas terpampang di papan pengumuman semua media Indonesia baik baca, kaca dan maya.  Jelasnya  kita sedang menunggu kedatangan jet-jet tempur Sukhoi, F16, T-50 Golden Eagle dan pesawat jenis lain misal Super Tucano, Hercules, C295, UAV.  Kemudian Fregat, Kapal selam, Kapal cepat rudal, Kapal cepat trimaran, LST, Main Battle Tank, Panser, Rudal SAM, MLRS, Howitzer dan lain-lain.  Ada juga berbagai jenis helikopter misalnya Mi35, Mi17, Bell 412 Ep, Cougar, heli anti kapal selam.

Bangga, wow tentu saja.  Coba saja tanya pada seluruh rakyat bangsa ini melalui survey dan sampling atau metode lain, mayoritas kita akan mengatakan  setuju dan pantas.  Memang pantas dong, wong ini untuk eksistensi bangsa, untuk menjaga pagar halaman agar tidak diusik oleh “celeng” sebelah rumah sampai-sampai patok batas pun dikira umbi atau talas.  Pantas juga KSAD kita bilang lugas di rapat DPR beberapa waktu lalu :Lu cabut patok gua sikat !  kan jelas arahnya.  Atau statemen Menhan beberapa bulan lalu tentang tapal batas Tanjung Datu Kalbar: Kalau berani digeser kita serang.  Dua statemen keras ini tentu sudah membuat si “celeng” sebelah rumah berhitung ulang.
Barisan Tank Scorpion dalam Latgab TNI di Sangatta
Kita pun sudah bisa membayangkan dalam sebuah seremoni lima oktober tahun 2012 dan seterusnya akan ada bintang-bintang alutsista baru yang dipamerkan.  Seremoni birthday TNI tahun ini saja bintang yang bakalan muncul setidaknya Super Tucano, UAV, Sukhoi tambahan, adiknya Clurit, wajah baru Trimaran, BMP3 F tambahan, MBT, rudal SAM jarak menengah dan lain lain.  Lalu di seremoni 2013 muncul lagi bintang baru Golden Eagle, MLRS, LST, Fregat, Falcon upgrade, Sukhoi lagi, saudaranya Clurit yang lain.

Nah, bintang-bintang baru itu kalau mau diuji bersama paling layak dilakukan antara  awal sampai dengan pertengahan tahun 2014 melalui show of force latihan gabungan TNI berskala besar.  Dijamin pasti lebih spektakuler dengan gelar alutsista baru dalam jumlah besar karena pada saat itu kita sudah punya kuantitas dan kualitas alutsista yang bisa diandalkan.  Penambahan alutsista itu antara lain ada 80 tank amfibi BMP3F yang sangar itu, ada 100 MBT Leopard, ada tigapuluhan KCR termasuk 6 dari Clurit Class, ada 3 Fregat anyar bergabung dengan 6 Fregat eksisting, ada 3 Trimaran pakai rudal.  Kalau mau di list banyak banget yang sudah berdatangan, maklum lagi panen raya.  Kalau ini digabung dengan alutsista eksisting sudah pasti bernilai gahar. Nah uji kualitas tempurnya ada di latihan gabungan itu sehingga integrasi sistem pertempuran dengan beragam jenis alutsista tadi akan menggambarkan dahsyatnya suasana kebatinan dan nilai tempur yang dimiliki.  Efek getarnya banyak celeng berubah menjadi kambing atau remeh menjadi ramah.  Dan ini bagian dari kampanye militer untuk jangan menjual persoalan teritori yang sudah jelas dasar hukumnya kalau tidak ingin digebuk.

Dalam bingkai mikro penambahan alutsista TNI diniscayakan akan mampu meredam pelecehan teritori sekaligus penguat posisi bargaining diplomasi karena sejatinya kekuatan pengawal republik adalah untuk payung ini.  Dalam ruang yang lebih luas adalah untuk mengantisipasi dinamika kawasan Asia Tenggara yang sulit diprediksi dengan konflik Laut Cina Selatan. Kalau prajurit TNI diajak gelut fisik, adu endurance dan survival dengan prajurit negara lain kita yakin yang tampil sebagai pemenang adalah prajurit TNI karena disitu letak keunggulan hulubalang kita. Bahkan dalam berbagai kejuaraan adu tangkas menembak prajurit TNI selalu menempati posisi puncak, itu tak terbantahkan. Namun dalam upaya menguasai perkembangan teknologi pertempuran kita perlu meng update dan memodernisasi alutsista karena itu wajib hukumnya. Sekali anda melalaikan kewajiban ini maka prajurit TNI yang unggul kualitas personal itu akan menjadi pasukan gagah gemulai.
Konvoy Armada TNI AL pulang dari Latgab Sangatta
Perkuatan TNI sebenarnya adalah perkuatan pagar agar tak mudah dimasuki oleh maling atau rampok sumber daya.  Komparasinya sederhana, ada sebuah rumah besar dan kaya tapi pagarnya hanya pagar lapuk. Lalu datang rampok, menjarah menguras, dan si empunya rumah hanya mampu teriak tanpa mampu memberikan  perlawanan.  Si rampok tertawa terkekeh-kekeh, sembari bilang: Kasian deh lu.  Kalau kita lihat peta dunia atau google earth, negeri ini luar biasa strategisnya posisi geografisnya, kekayaan alamnya, rentang pantainya, jumlah penduduknya.  Lalu kalau bicara pagar halamannya, alamak, parah kali kawan, mirip seperti pemilik rumah mewah tadi, cuma bisa teriak tanpa melakukan perlawanan.

Nah sekarang pagar itu sedang dibenahi, diperkuat, dipergahar.  Di laut kekuatan armada ditambah menjadi 3 armada tempur dengan kekuatan minimal 274 KRI.  Pangkalan utama kekuatan armada ada di Tanjung Pinang, Makassar dan Sorong.  Jakarta dan Surabaya tetap menjadi pangkalan utama karena disana ada Kolinlamil untuk mobilisasi pasukan Marinir dan TNI AD. Kekuatan pasukan  Marinir ditambah 1 divisi sehingga menjadi 3 divisi.  Matra udara menambah skuadron tempur dan angkut seirama dengan kedatangan alutsista utama pesawat tempur dan angkut.  Satuan-satuan radar diperbanyak, pangkalan-pangkalan TNI AU diperkuat tidak saja dengan hanud titik (rudal jarak pendek) tetapi juga dengan hanud area ( rudal jarak menengah).  TNI AD tidak ketinggalan dengan menambah Heli tempur, Heli angkut, MBT, Panser, MLRS, Rudal, Roket, Howitzer. Kostrad ditambah menjadi 3 Divisi selain penambahan batalyon tempur Kodam di beberapa daerah perbatasan.

Perkuatan pengawal republik ini tidak lepas dari ruang pantau intelijen dan hankam negara tetangga, utamanya Malaysia, Singapura dan Australia.  Bahasa tubuh ketiga jiran ini menampakkan reaksi berbeda.  Australia misalnya memberikan warning terhadap peningkatan kekuatan TNI sebagai sebuah upaya menyetarakan keseimbangan kawasan seraya memberikan ruang perspektif untuk bekerja sama  lebih erat antar militer kedua negara.  Meskipun begitu aura kekhawatiran bangsa bule yang “nyasar” ke selatan Asia ini tetap bergema.  Ini ciri khas sekalgus arogansi Barat Anglo yang merasa tidak ingin harkatnya disaingi.
Pasukan Marinir dalam sebuah upacara militer
Sikap Singapura relatif lebih tenang dan diam. Negeri ini memang jarang mengumbar pernyataan reaksi terhadap perkembangan militer negara tetangganya.  Sikap diam ini mencerminkan kedewasaan emosional hankam mereka.  Singapura cenderung lebih suka tak pamer khawatir,  meski secara intelijen mereka sangat ingin tahu alutsista apa lagi yang akan dibeli oleh Indonesia.  Lalu bagaimana dengan Malaysia yang dalam Pameran LIMA akhir tahun silam tak jua jadi menambah arsenal udaranya meski sempat menggadang-gadang Typhoon. Komunitas militer yang banyak berdiskusi dengan jiran sebelah bisa membaca suasana hati mereka.  Sebelumnya ada semacam arogansi terhadap keunggulan alutsista yang mereka miliki terhadap RI.  Namun sejak negeri ini melakukan belanja alutsista secara besar-besaran, sikap itu sudah jauh berkurang dan bahkan berganti dengan sikap, menyadari bahwa negeri ini tak bisa disikapi dengan kesombongan militer.  

Inilah yang disebut efek gentar dan getar. Perkuatan alutsista TNI bukan dimaksudkan untuk ngajak gelut tetangga tetapi sebagai penguat dan penggentar agar jiran tak lagi remehkan teritori RI.  Kekuatan militer sejatinya adalah untuk menjaga nilai-nilai kesetaraan dalam hidup bertetangga, menjadi payung bargaining dalam langkah diplomasi untuk penyelesaian sengketa batas wilayah sekaligus menjadi kekuatan pukul terakhir demi eksistensi teritori yang diyakini benar.  Itulah kodrat eksistensi dan harga diri.  Sama seperti eksistensi diri kita sebagai pribadi yang bernama manusia, pada dasarnya suka dengan nilai-nilai kebenaran universal, kebersamaan, kesetaraan, saling menghargai dan menghormati.  Jika nilai-nilai ini dilanggar maka kodrat marah pun muncul dipermukaan wajah.  Sabar juga bagian dari kodrat tadi yang dianalogikan sebagai kekuatan bargaining menahan diri.  Nah kalau itu tak jua menemukan titik selesai, ya gelut saja demi eksistensi dan harga diri. Dan itu sah.
*******
Jagvane, 05 Peb 2012


Thursday, January 26, 2012

Leopard Diambang Pintu

Heboh tentang Main Battle Tank yang bernama Leopard benar-benar menjadi headline seluruh media Indonesia selama dua pekan ini, baik media cetak, layar TV maupun media online.  Berbagai talkshow digelar di layar kaca, berbagai komentar dipajang di media cetak dan online, berbagai pengamat dan “pengamat” tiba-tiba jadi pada pintar menggurui seakan-akan dia lebih tahu dari user. Kalau mau diranking dalam proses pengadaan alutsista TNI maka rencana pengadaan 100 MBT ini menduduki ranking pertama The Hit of Alutsista mengalahkan lagu jazz “hibah F16” dan lagu dangdut “kapal selam ecek-ecek” beberapa waktu yang lalu.

Seperti sudah diprediksi oleh majalah Tempo, hiruk pikuk MBT kelas berat ini dipicu oleh pola beli yang dianut Mabes TNI dan Kemhan yang membuat makelar alutsista keki hati lalu melakukan gerakan klandestein.  Kasad pernah bilang bahwa pola beli MBT Leopard adalah G to G (antar pemerintah) bukan B to B  (bahasa goodnya, business to business tapi sering diartikan broker to broker).  Nah ini yang membuat suasana pasar alutsista berjenis kelamin MBT menjadi hingar bingar karena preman pasarnya mau diusir sama “Satpol PP” alias tidak dilibatkan karena mengakibatkan high cost.
Sang Leopard yang memikat
Celakanya “pengamat” dadakan dan pengamat yang “itu-itu juga” yang ngomong di beberapa media terpancing untuk ikut-ikutan ngomong sambil numpang populer bahwa  MBT Leopard tidak cocok dengan kontur tanah RI, MBT Leopard tidak cocok dengan iklim hutan, MBT Leopard  tidak cocok dengan beban jalan raya.  Lalu puncak pertarungan final “Copa Del Leopard” itu digelar secara resmi di ruang Komisi I DPR tanggal 24 Januari 2011.  Kesimpulannya Pemerintah dan DPR sepakat dengan pengadaan MBT, walau tidak harus Leopard.  Lalu bagaimana dengan alasan-alasan yang dikemukakan itu, yang tidak cocoklah, yang terlalu beratlah dan sebagainya.  Artinya gerilya yang dilakukan broker alutsista sejatinya hendak mementahkan Leopard lalu bisa jadi digantikan dengan MBT jenis lain atau setidaknya hendak memperlambat laju pengadaan MBT Leopard sembari perlahan memasuki  inner cyrcle, syukur-syukur jadi B to B atau G to B, sini pemerintah sono broker.

Sebagai anak negeri yang mendambakan pertumbuhan kekuatan alutsista TNI yang gahar kita merasa miris dengan perilaku sebagian anggota parlemen dan pengamat amatiran yang kelihatannya bersuara jernih dari hati sanubari yang bening tetapi ternyata menyimpan dan berselingkuh dengan pesan dari hati yang lain. Sarkasnya, bukan membela yang benar tetapi membela yang bayar.  Retorika bicaranya memberi keyakinan pada khalayak seperti sebuah firman atau sabda yang paling benar, mimik wajah mirip pemain sinetron mak lampir. Benar-benar sempurna aktingnya.  Lalu ketika sampai di rumah jam 23.00 sembari melepas jas dan dasi di kamar tidur, lalu bercermin di kaca wastafel sambil bergumam : kutipu kau. Tak tahu kita maksud kalimat itu, dia menipu hatinya atau dia menipu semua orang.  Tapi hati kan tak bisa ditipu, berarti dia menipu diri sendiri.

Pengadaan alutsista  TNI adalah sebuah proyek mega pangkat mega.  Nilai sebuah arsenal gentar dan strategis seperti 3 kapal selam Korsel itu saja mencapai US$ 1,08 Milyar. Nilai anggaran pengadaan alustsista yang sudah disepakati antara Pemerintah dan DPR untuk tahun 2010-2014 berjumlah 150 trilyun rupiah.  Dari jumlah itu belum semua terpakai, artiya masih banyak jenis dan jumlah alutsista yang akan dibeli atau diadakan TNI segala matra.  Maka bisa dibayangkan betapa seksinya Kemhan dan TNI dilirik dan dirayu produsen alutsista. Yang paling dominan berperan tentu ya makelar alutsista dengan tampilan raut wajah bisa jadi seperti malaikat tapi suatu saat bisa jadi mirip gendoruwo.

Kita berkeyakinan bahwa MBT Leopard akan tetap menjadi pilihan TNI AD karena sesungguhnya kesejatian dan jati diri sebuah MBT adalah Leopard.  Dibanding-banding dengan rekan seperingkatnya seperti Abrams, Merkava dan T90, Leopard adalah yang terbaik.  Namun yang terpenting dari semua itu adalah nilai jual yang ditawarkan Belanda lebih murah, barangnya sudah ada, negara penjualnya lagi butuh uang.  Ini namanya merespons iklan baris yang membold kata  bu jlcpt (butuh uang jual cepat).  Leopard itu sudah dikaji jauh-jauh hari oleh TNI AD, dan dialah yang terbaik.  Tetapi waktu itu duitnya belum ada, jadi disimpan dulu di lemari arsip sembari berdoa, semoga dilimpahkan rezeki yang halal dari rakyat Indonesia untuk beli si Leopard.  

Nah baru Nopember 2011 ada lampu hijau penggunaan anggaran, jumlahnya 14 trilyun untuk TNI AD, lalu lemari arsip tadi dibuka kembali.  Sang Komandan bilang dengan wajah cerah, doa kita dikabulkan.  Ya iyalah wong sejak negara ini merdeka sampai today kok belum punya MBT ya kebangetan amat.  Sekadar catatan jumlah 14 trilyun itu bukan hanya untuk beli MBT tapi masih ada jenis alutsista lain yang termasuk daftar belanjaan TNI AD.  Lalu gerak cepat dilakukan karena ada negara pemakai mau jual Leopard, dipilih-dipilih katanya, barang sudah ada, masih baru jarang dipakai.  Begitu sapa si penjual.

Hasil final Copa del Leopard itu tentu memberikan harapan baru bahwa  kata kuncinya adalah semua sepakat dengan MBT.  Langkah ke depan ini tentu adalah membangun komunikasi dan saling pengertian dengan DPR.  Ini yang terpenting agar keinginan user bisa dipahami dan memahami bahwa Leopard yang terbaik.  Dulu ketika terjadi jalan buntu tentang pengadaan F16 antara yang baru dan second, yang dilakukan adalah membangun komunikasi efektif, informal, setara, dan rasional antara Pemerintah/Kemhan dan DPR Komisi I untuk menyamakan persepsi dan akhirnya disetujui pengadaan 30 F16 yang disetarakan dengan blok 52.

Dengan begitu ruang untuk berdiskusi secara lebih luas dan lapang dikedepankan, tak juga harus dirilis media, biarlah semua berjalan dengan porsinya untuk menuju sebuah titik temu. Dengan begitu jua sang MBT yang digadang-gadang dan sudah di ambang pintu bisa hadir lebih rileks, bisa masuk ke ruang darat teritori NKRI, bisa ditempatkan di border bilamana diperlukan.  Judul tulisan ini pun sejatinya adalah kalimat doa agar sang Leopard yang sudah diambang pintu tidak lagi dihalangi dengan sejuta argumen emosional maju tak gentar membela yang bayar.  Dengan begitu mari kita satukan tekad dalam waktu dekat sang leopard sudah mendekat karena kita memang terpikat.
********
Jagvane / 26 Januari 2012




Friday, January 20, 2012

Selamat Datang KRI Nanggala

Berangkat menuju Korsel untuk Overhaul Des 2009 


Sampai di DSME Korsel utk Overhaul
Proses Overhaul untuk mempercanggih diri


Operasi Caesar hampir selesai, tinggal di cat
Selesai sudah proyek overhaul 2 tahun utk KRI Nanggala
Menjelang keberangkatan pulang ke Indonesia
*****
Jagvane / 20 Jan 2012

Saturday, January 14, 2012

Ada “Demokrasi” Dalam Pengadaan Alutsista

Bicara dana alutsista diluar spek teknisnya adalah bicara tentang manisnya gula sehingga ramai-ramai para semut mendatanginya.  Ada semut bule, ada semut ireng, ada semut hidung mancung, ada juga semut berwajah makelar. Bayangkan saja dengan kucuran dana 150 trilyun untuk masa lima tahun ini, berbagai jenis alutsista didatangkan ke markas brigade dan batalyon TNI.  Proses mendatangkan alutsista itu yang sejatinya membuat banyak semut berdatangan untuk ikut mencicipi manisnya gula alutsista.
Belum hilang dari ingatan kita ribut soal F16 misalnya apakah harus beli baru blok 52 sebanyak 6 biji atau menerima hibah 24 F16 jet second lalu di upgrade jadi setara blok 52.  Betapa riuhnya suasana “demokrasi” antara Komisi I DPR dengan Pemerintah.  Argumen yang dilontarkan sebagian kalangan parlemen di komisi itu terkesan emosional daripada rasional. Gaya bicara mereka seakan merasa lebih tahu dari Usernya, lalu mematok definisi lebih baik memilih beli baru 6 biji F16 dengan alasan lebih menggentarkan.  Maka cecak pun berdecak kagum dengan ketololan itu.  Bagaimana mungkin dengan 6 biji F16 baru itu bisa menggentarkan, padahal Singapura sudah punya 60 biji F16 blok 52 dan 24 F15 seri terbaru.  Pantas saja cecak pun berdecak.
Tank Leopard 2 yang digadang-gadang itu
 Meski  akhirnya usulan pemerintah untuk menerima hibah upgrade 24 F16 dari AS disetujui juga setelah melalui jalur ngambek karena ngembeknya tak digubris, toh simulasi demokrasi konyol yang dipertontonkan itu menjadi catatan tersendiri bagi rakyat cerdas sembari bergumam, apa memang iya itu suara hati rakyat, atau hanya suara mereka sendiri, atau ada suara lain yang dititipkan melalui suara anggota dewan.  Argumen yang dikedepankan sebagian anggota Komisi I tidak mencerminkan kualitas intelektual, lebih merefleksikan sikap asal bisa beda supaya kelihatan lebih menonjol “kualitas akunya”.
Kini isu terbaru bergulir lagi.  Kali ini tentang pengadaan 100 unit MBT (Main Battle Tank) Leopard 2 yang sudah digagas, dibicarakan lugas oleh KSAD, Mabes TNI dan Kemhan.  Bergegas pula mengunjungi negara pemiliknya yang memang mau menjualnya.  Lalu tiba-tiba saja ramai yang membicarakan pantas tidaknya MBT itu untuk tanah airku ini.  Kan jadi lucu kalau alasannya masalah bobot, tidak sesuai dengan kontur bumi nusantara, atau alasan lain mau perang dengan siapa, atau alasan yang dicari lagi, sepenting itukah MBT.
Sekali lagi rakyat cerdas harus bisa menangkap bahwa hiruk pikuk yang mengatasnamakan demokrasi itu boleh jadi adalah pesanan makelar alutsista jenis lain atau dari pabrik lain atau bisa saja pesanan dari negara lain agar kita tak usah beli MBT, atau kalaupun mau beli jangan yang Leopard. Intelijen makelar senjata bisa menyuarakan dirinya melalui orang dewan atau LSM  bahkan media yang tentu saja harus melalui “terowongan jalur gaza” agar tak ketahuan pamrihnya.  Melalui tangan orang lain yang punya gigi dimulailah kampanye anti MBT, atau kampanye anti Leopard, dengan harapan syukur-syukur ada perubahan merk sesuai keinginan makelar salesman tadi.
Pertanyaan substansinya adalah siapa yang lebih tahu dengan keunggulan satu jenis alutsista, ya tentu si User sendiri.  TNI AD butuh Leopard bukan karena bujuk rayu pabrikan Leopard, tetapi sudah melalui proses waktu dan kajian mendalam. Sangat kebetulan harganya lebih murah dari bandrol biasa.  Logikanya sederhana, diantara semua jenis MBT yang dianalisis, berdasarkan kajian teknis dan kegunaan terpilihlah Leopard, dan itu sudah lama dipendam.  Lalu ada dana untuk alokasi alutsista angkatan darat, maka dimulailah penjajakan dengan mengunjungi negara produsen.
Konvoy Tank AMX 13 Milik Batalyon Kav Tank Ambarawa
Kita  kadang merasa “lucu hati” dengan tingkah dan gaya anggota dewan yang merasa menjadi seperti tuhan untuk menentukan keputusan berdasarkan selera dia dan atau selera makelar alutsista yang joint venture dengan dia.  Bajunya pasti demokrasi, capnya parlemen, atas nama rakyat katanya.   Masih ingat dalam benak kita anggota dewan koar-koar bahwa border RI dicaplok Malaysia di kawasan Tanjung Datu Kalbar.  Publik merasa terbawa arus pernyataan itu tetapi terbukti kemudian tertipu dengan statemen itu yang jelas-jelas tak benar.  Lalu setelah semuanya diluruskan dan diputihkan karena  memang tak ada yang salah dengan border itu, si anggota dewan sedikit pun tak mampu mengucapkan kata maaf.  Ya itu tadi karena dia sudah merasa seperti tuhan, paling benar dalam segala hal.  Merasa menjadi pemilik rumah demokrasi sementara yang lainnya hanya mengontrak.
Hiruk pikuk dengan tema Alutsista biar kelihatan seperti berdemokrasi sebenarnya ada dasar hukumnya yaitu UUD maksudnya ujung-ujungnya duit. Makelar Alutsista bisa meminjam tangan berbagai pihak tak terkecuali tangan internal TNI dan Kemhan agar jualannya dibeli.  Hukum ekonomi alutsista ini sudah berlaku umum di berbagai negara di bumi ini.  Namanya juga salesman pasti berbagai cara ditempuh untuk mencapai goalnya.  Tak perlu diperdebatkan, kajian dari pihak pengguna lah yang menentukan jenis alutsista yang seperti apa yang hendak dibeli. 
Maka jika MBT dari jenis Leopard 2 yang terpilih selayaknya kita mendukung.  Yang perlu dikritisi adalah prosedur pengadaannya, tranparansi proses, kualitas barang yang akan diterima, kewajaran harga dan pola bayarnya.  Jadi agak sumbang terdengar ketika TNI AD butuh MBT Leopard lalu ada suara gentayangan di telinga membisikkan hasutan, kita tak perlu MBT karena bisa ambles, jangan pilih Leopard karena tak cocok dengan iklim kita.  Lebih baik beli yang ini atau pakai yang itu.  Nah ketahuan kan siapakah dia yang umbar omongan itu.
*******
Jagvane / 14 Januari 2012