Saturday, November 29, 2014

Mengapa Dia Begitu Sensitif



Ketika presiden sipil Indonesia berteriak lantang untuk menenggelamkan kapal nelayan asing yang maling ikan di perairan kita sehubungan dengan uji nyali jalesveva jayamahe, satu rumah tetangga yang bernama Malaysia tiba-tiba jadi berisik dan bereaksi negatif. Lewat media online yang merupakan corong pemerintahnya, mereka merasa tak nyaman, tak enak badan lalu dengan tak elok pula bilang Jokowi arogan, antek Amerika dan sebagainya.

Bertetangga dengan jiran yang satu ini memang seperti berhadapan dengan saudara bertabiat congkak dan angkuh. Sebenarnya dia yang angkuh karena reaksinya itu terhadap gaya Jokowi yang tegas dan jelas.  Mengapa dia merasa kelasnya lebih tinggi dari Indonesia karena gambaran negeri ini ada di wajah-wajah tenaga kerja yang merantau kesana.  Jadi TKI, PATI Indon itu adalah bingkai cermin cara dia memandang kita.  Belum lagi cara pandang feodal negeri yang terdiri dari kerajaan-kerajaan berbasis Melayu Islam, tentu menjadi pengental cara pandang terhadap apapun yang berbau buruh, kuli atau tenaga berbayar.
KRI Oswald Siahaan meluncurkan rudal maut Yakhont
Sekedar catatan dengan dua jiran yang lain Indonesia baik-baik aja tuh meski ada persoalan perbatasan dengan kita. Menjelang akhir pemerintahan SBY dicapai kesepakatan perjanjian tapal batas bilateral dengan Singapura dan Filipina tanpa gembar gembor. Ini membuktikan ruang kelas dan kualitas dialog dengan kedua negara itu menghasilkan kesepakatan ciamik “bersih cemerlang tanpa menggores”.  Berbeda dengan kawan sebelah ne yang gemar melakukan klaim demi klaim. Ya karena cermin itu tadi, dianggapnya kita ini kelas buruh berbayar yang kelasnya dibawah dia

Adalah menjadi hak yang jelas dan terang bagi pemerintahan bangsa besar ini untuk menyatakan perintah bagi jajarannya agar bertindak keras dan lugas menghadapi para pencuri sumber daya kelautan termasuk menenggelamkan kapal mereka jika perlu. Kita juga kan tak pernah dan tak elok meributkan kenapa pemerintah Malaysia tak mau membuka keran demokrasinya untuk kesamaan hak bagi setiap warganegaranya. Lihat saja yang terjadi sepanjang sejarah negeri itu pimpinan pemerintahannya selalu bernama L4 (Lu Lagi Lu Lagi) maksudnya kalau ditelisik tidak jauh-jauh dari turunan kakek, bapak, anak, sepupu.

Ketika militer Indonesia sedang puasa alutsista di awal reformasi, jiran sebelah ne banyak kali tingkahnya. Sipadan-ligitan dia goyang dengan melakukan manuver militer.  Sekali waktu di awal tahun 2001 empat pesawat coin kita OV10 Bronco melakukan patroli di Sipadan, eh dia malah mengerahkan jet tempur F5E.  Padahal masih dalam status sama-sama berhak. Dia berhasil di Sipadan-Ligitan melalui Mahkamah Internasional tapi terus kemudian berupaya nak ekspansi pula ke Ambalat.  Indonesia pasang kuda-kuda dengan otot militer.
Sukhoi dan F16 melintas gagah
Akhirnya memang berhadapan dengan tetangga pongah harus dihadapi dengan cara pandang militer. Ini penting untuk diingat saudara-saudaraku. Cara pandang militer (bukan melotot lho) adalah garis tegas di wajah yang menahan amarah manakala pelecehan demi pelecehan dipertontonkan. Maka RI pun belanja alutsista secara besar-besaran, terus menerus dan tak terbendung lagi.  Setelah Presiden SBY menggelontorkan dana US $15 milyar untuk shopping alutsista selama lima tahun terakhir ini maka Presiden Jokowi semakin jelas dan banyak lagi membelanjakan duit untuk alutsista segala matra

Yang menarik orang dekatnya yang menjadi Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto adalah pakar pertahanan dan militer yang sangat visioner. Sebenarnya ada dua figur pakar militer lagi yang sama-sama lantang menyuarakan modernisasi TNI, yaitu Salim Said dan Connie Rahakundini.  Jauh-jauh hari sebelum Andi jadi Seskab dia sudah melontarkan prediksi bahwa belanja alutsista TNI lima tahun ke depan minimal US$ 20 milyar.  Seskab bersama Kemenhan tentu menjadi pilar utama untuk mengambarkan renstra lanjutan lima tahun ke depan.

Terkait dengan poros maritim sudah tentu penggelontoran dana akan terpusat di AL dan AU.  TNI AL segera membentuk armada tengah, divisi 3 marinir, melanjutkan pengadaan KCR (Kapal Cepat Rudal), memperbanyak pesanan PKR, mengakuisisi kapal perang kelas fregat termasuk percepatan pengadaan kapal selam.  TNI AU juga diperkirakan akan menambah sedikitnya 2 skuadron tempur baru disamping mengganti  1 skuadron F5E yang dipensiunkan. Disamping itu akan ada penambahan radar-radar militer, satuan peluru kendali darat udara jarak sedang, pesawat intai strategis, intai taktis.

Gebrakan untuk menenggelamkan kapal nelayan asing sejatinya untuk mengukur kesiapan armada Angkatan Laut, KKP, Bea Cukai, Polisi Air dengan dukungan Angkatan Udara.  Sinergi dan koordinasi akan memberikan pesan apa yang masih harus diperbaiki, ditambah dan dikuatkan.  Ini harus dipraktekkan di lapangan.  Bisa jadi yang diperbanyak kapal-kapal patroli non rudal atau bahkan kapal selam sesuai dengan tugas utamanya sebagai penggentar bawah air tak tertandingi.

Sangat diniscayakan bahwa dalam lima tahun ke depan militer Indonesia akan tampil dengan dandanan gahar, berkualitas dan bergengsi.  Kalau sudah begini apakah si Pakcik akan melontarkan statemen angkuh lagi.  Atau jangan-jangan setelah dia membaca tulisan ini malah sekujur tubuhnya demam lalu mengigau: “kita kan serumpun bang, adek ne hanya bergurau bang, tak nak kita bergaduh, tak elok dilihat sepupu kita Singapura.  Nanti dia orang ketawa senang nak lihat kita bergaduh terus”.  Ternyata igauannya di dengar Pak Jokowi, lalu sang presiden egaliter itu berkomentar: “emang gue pikirin”.
****
Jagvane / 29 Nop 2014

3 comments:

harno bebek said...

ahahahah jelas sensitif,secara ikan,hutan dari indonesia ya yang maling mereka2 itu gan jagvane.. lihat saja,masak ikan,hasil hutan kita yg melimpah,klau dah keluar negri made in bukan dari indonesia,tapi dari malaysia,thailand,singapora,dll.. kan kita rugi bandar..klau begini pada miker sekarang..dan harus tegas ngak hanya hangat2 mie ayam

Anonymous said...

yaa jelas sensitif toooh..., kan berdampak pada perekonomian mereka, terutama pasokan ikan laut yang dihasilkan para nelayan mereka. Dan yang akhirnya berpengaruh pula pada harga ikan yang ada dipasar-pasar mereka juga.

Tapi dipihak kita apakah juga memanfaatkan moment ini untuk mengerahkan dan meningkatkan kemampuan perolehan ikan oleh nelayan RI???.

kurasa kita tak bisa memanfaatkan situasi ini untuk meningkatkan perolehan ikan dan menambah jumlah ekspor kita keluar negeri.

sayaaaangg bingit gitulohh..

Si Rosyid said...

Haha.. Analisis yang bagus.. :)