Monday, April 1, 2019

Kita Baru Menuju Kekuatan Minimal


Program modernisasi militer Indonesia yang dikenal dengan MEF (Minimum Essential Force) hampir menyelesaikan tahap yang kedua.  Program itu ada di MEF I (2010-2014), MEF II (2015-2019) dan MEF III (2020-2024).  Artinya saat ini kita sedang berada di penghujung MEF II dalam upaya mengejar ketertinggalan kekuatan alutsista kita. Dengan kata lain kita baru menuju kekuatan minimal yang dibutuhkan dalam mempertahan negeri ini dari ancaman kekuatan luar.

Dalam perhitungan kuantitas dan kualitas alutsista yang sudah kita miliki sampai saat ini belum sampai pada kriteria minimal. Program penguatan alutsista TNI berdasarkan target MEF baru akan tercapai tahun 2024. Itu pun dengan catatan jika program MEF II saat ini bisa mencapai target yang telah ditetapkan.

Jujur saja dibanding dengan program MEF I (2010-2014), program MEF yang sedang berjalan saat ini belum optimal. Ini bisa terlihat dari proses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang terkesan bertele-tele. Empat tahun lebih proses pengadaan alutsista strategis ini berjalan dan terakhir kabarnya harus delay dulu karena ada Pilpres 17 April 2019 nanti.
KRI Martadinata 331
Hampir semua alutsista yang didatangkan dari luar negeri dan atau diproduksi oleh industri pertahanan kita adalah produk MEF I. Pengadaan Tank Leopard, Marder, Artileri Caesar Nexter, KH 178, KH179, MLRS Astross, Starstreak, Mistral, Oerlikon Skyshield, Panser Anoa, Panser Tarantula, Tank Amfibi BMP3F, MLRS Vampire, Kapal Selam Nagapasa Class, Martadinata Class, Kapal Cepat Rudal, Kapal LST, Pesawat CN295, Jet tempur F16, T50, Super Tucano, Helikopter Mi35, Mi17, Apache, Bell 412 Ep dan masih banyak yang lain adalah realisasi program MEF I.

Dalam catatan kita sejauh ini tidak banyak rencana pesan yang diterbitkan dalam MEF II. Program pengadaan tahap kedua untuk membangun 3 kapal selam Nagapasa Class sampai saat ini belum sign kontrak. Lanjutan serial Martadinata Class juga belum jelas, program pengadaan kapal perang light destroyer yang digadang-gadang juga belum final.  Pengadaan Sukhoi SU35 berlarut terus.

Jadi jelaslah kekuatan militer kita dari segi kepemilikan kuantitas dan kualitas alutsista belum sampai pada ukuran minimal. Masih dibutuhkan lagi satu tahapan rencana strategis lima tahunan. Oleh karena itu sangat tidak pantas jika kemudian membandingkannya dengan kekuatan militer Singapura yang sudah lebih dulu berjaya.
Tank Harimau
Singapura adalah negeri dengan tingkat kesejahteraan yang terbaik di rantau ASEAN bahkan dunia. Negeri mungil yang sejahtera, makmur namun “terkendala” dengan kecilnya ukuran teritorinya mengharuskan negeri itu memperkuat militernya.  Dua tetangganya yang besar Indonesia dan Malaysia, adalah sebuah ancaman eksistensi kehidupan masa depannya. Itu persepsinya.

Tetapi kita pun tidak perlu merasa minder dengan kekuatan alutsista Singapura karena sejatinya dalam strategi pertahanan, negeri itu bukanlah ancaman bagi eksistensi Indonesia. Sehebat apapun kekuatan milter Singapura, tidak mengkhawatirkan kita.  Lho kok bisa Om.  Sederhana saja pemikirannya.  Misal seluruh jet tempurnya mampu menghancurkan Jakarta, tidak akan mampu melumpuhkan kita, masih ada kota-kota lainnya yang jumlahnya ratusan. 

Angkatan Laut Indonesia punya kekuatan armada yang lebih baik dari Singapura. TNI AL memiliki 165-170 KRI berbagai jenis sedangkan Singapura hanya di kisaran 30-35 kapal perang. Singapura hanya unggul di kekuatan udara karena dia menganut pola pre emptive strike dan sarang tawon. Berani ganggu kami sengat atau jika mendekat kami sikat. Wajar kan karena negerinya yang kecil itu mengharuskan dia untuk memperkuat tameng pertahanannya.
Apache dan Mi35
Jadi kita masih harus terus memperkuat militer kita. Masih banyak kekurangan yang harus dipenuhi. Soal coverage radar saja belum terpenuhi seluruhnya. Belum lagi soal Network Centric Warfare, sinergi pertempuran tiga matra yang harus dipenuhi. Natuna sedang dipersiapkan untuk model ini dan saat ini sudah dilapis dengan kekuatan 3 radar sekaligus berikut pangkalan militernya.

Dibanding dengan sepuluh tahun lalu, jelas kekuatan alutsista kita meningkat tajam.  Ini harus diapresiasi dan disyukuri, tetapi belum sampai pada persyaratan minimal untuk pertahanan negeri kepulauan yang besar ini.  Makanya dikembangkan Divisi 3 Kostrad, Divisi 3 Marinir, Armada 3, Koopsau 3 yang semuanya berada di wilayah timur Indonesia.

Pengadaan alutsista jelas dibutuhkan untuk mengisi satuan-satuan tempur yang baru dibentuk. Kita masih membutuhkan minimal 3 skadron jet tempur, kapal perang jenis destroyer, fregat,  korvet dan kapal selam. Yang membahagiakan adalah industri pertahanan kita saat ini sedang berbinar terang dan sudah mampu membuat  Panser, Tank, Roket, Bom, Kapal Patroli Cepat, Kapal Cepat Rudal, LPD, LST, Korvet dan sebentar lagi Kapal Selam.

Maka untuk mencapai target minimal di MEF III, pemegang kendali dan kelola pertahanan kita harus memiliki kualitas kepemimpinan, koordinasi, komunikasi dan integritas yang kuat.  Masih banyak program yang harus diselesaikan, masih banyak yang tercecer. Karakter pengelola pertahanan yang kita inginkan seperti penggalan syair lagu Ebiet G Ade : Istriku harus cantik lincah dan gesit, tapi dia juga harus cerdik dan pintar. Bisa aja Om.
****
Jakarta, 1 April 2019
Jagarin Pane