Monday, April 15, 2013

Memahami Karakter Tentara



Tentara di manapun di muka bumi ini adalah salah satu lambang keperkasaan negara, simbol dari eksistensi kewibawaan untuk melanjutkan dan melangkah dalam etika pergaulan antar bangsa. Tentara adalah nadi yang mengalirkan darah negara untuk mampu bercita-cita dengan mengawal perjalanannya dari segala bentuk ancaman dan gangguan eksistensi.

Tentara Indonesia lahir dari rahim Ibu Pertiwi yang secara gagah berani memproklamirkan kemerdekaan jamrud Sabang Merauke.  Tanggal 17 Agustus 1945 diumumkan kemerdekaan Republik Indonesia ke seluruh dunia.  Tentu saja sang Penjajah tak terima maka dikirimlah pasukan gabungan sekutu pemenang perang dunia II yang didalamnya ada tentara Belanda.  Maka selama lima tahun berikutnya terjadilah perang kemerdekaan di seluruh tanah air.  Kegigihan militer Indonesia yang didukung penuh rakyat membuat Belanda letih bertempur dan akhirnya mengakui kedaulatan RI akhir Desember 1949.
Pasukan Kostrad dalam sebuah Defile
Inilah cikal bakal nilai kejuangan tentara Indonesia yang bersama rakyat bahu membahu menegakkan NKRI.  Nilai kejuangan ini bentuknya adalah militansi, heroik dan nasionalis memberikan warna dalam langkah sejarah perjalanan bangsa selanjutnya. Militernya heroik, rakyatnya nasionalis, itulah keistimewaan Republik Indonesia.

Pasukan khusus Indonesia dari satuan angkatan darat, Kopassus sudah jauh hari memberikan nilai kebanggaan dan martabat bernegara.  Keberhasilan Kopassus dalam membebaskan jet DC-10 Garuda dan penumpangnya yang dibajak dalam perjalanan Jakarta-Medan di Bandara Don Muang Bangkok tanggal 28 Maret 1981 merupakan nilai cum laude yang berhasil mengangkat harkat satuan elite ini di mata dunia.  Masih banyak prestasi lain yang dilakukan pasukan loreng darah ini sepanjang sejarahnya mengawal NKRI.

Garis hidup seorang prajurit adalah bersiap diri untuk setiap saat maju ke medan penugasan apakah itu dalam bentuk operasi militer, operasi intelijen atau operasi kemanusiaan.  Negara nomor satu, keluarga nomor dua.  Bentuk kesiapan itu adalah untuk seluruh organ yang dia miliki termasuk nyawa yang memang sudah ada dalam perjanjian mencetak karakter prajurit.  Karakter yang dibentuk melalui pendidikan dan latihan militer TNI sebenarnya untuk melahirkan kembali isian benak, isian hati, isian naluri untuk disatukan pada ikatan yang bernama mati untuk negara demi kehormatan  dan sebuah harga diri bangsa.

Dalam bingkai tertib sipil, tentara sejatinya tidak pernah memulai sebuah sebab karena memang tak ingin memberikan akibat.  Tetapi jika tentara dilukai dan dibunuh secara keji oleh preman sebagaimana yang terjadi di Yogya baru-baru ini maka naluri tempur yang dididihkan melalui semangat patriotik membela NKRI dan korps akan memberikan letusan lahar dan semangat hukum qisas.  Nyawa dibayar nyawa karena itu adalah adrenalin yang disumpahkan dan disusupkan dalam diri seorang tentara.   Itulah yang mestinya dipahami oleh kita karena karakter tentara adalah kehormatan dan martabat sebagaimana dia menjaga kehormatan bangsa dan negaranya.
Pasukan Marinir menyemut dan menyengat
Semangat untuk menyeimbangkan harkat tentu sangat kita hormati karena pada dasarnya kita adalah manusia yang menghargai harkat dan martabat.  Tetapi ketika hendak disandingkan terhadap dua sebab kematian yang tidak diingini maka menjadi tidak seimbang ketika kematian tentara yang nota bene asset penting NKRI tidak disebut pelanggaran HAM sedangkan kematian 4 preman yang menjadi pemicu disanjung-sanjung sebagai pelanggaran HAM.  Itu sama saja kita mengamini sebuah terminologi preman lebih berharga dari tentara.

Okelah, pertanggungjawaban ke 11 prajurit itu di mata hukum sedang dalam proses.  Kita hanya ingin menyampaikan pesan kepada anak negeri bahwa meski secara hukum mereka salah tetapi jika kita mampu memahami bangunan karakter tentara tentu kita bisa memahami mengapa serangan balasan itu bisa terjadi.  Sangat ironi tentara dibunuh oleh kelompok preman.  Lebih ironi lagi ketika perjalanan proses menuju peradilan militer, ada upaya untuk mengangkat harkat untuk tidak disebut preman dan sekan-akan hendak menjadikannya sebagai pahlawan.

Sebagaimana yang disampaikan Letnan Jendral (Purn) Luhut Panjaitan, jika saja masyarakat tahu “proses” pembunuhan keji anggota Kopassus di Yogya melalui CCTV maka tentu saja orang akan memaklumi tindakan balas dendam itu.  Sayangnya reportase pemberitaan media kita lebih sering mengedepankan drama, bukan fakta.  Drama pemberitaan keluarga 4 preman diberitakan sebagai kaum yang dizalimi sementara keluarga tentara yang dibunuh dan sedang hamil berat “ditelantarkan”.  Model media drama seperti ini ditambah ketidakseimbangan peran Komnas HAM dan LSM lain memberikan kesan menggiring cara pandang untuk memojokkan institusi tentara.

Meski demikian, suara hati sebagian rakyat Indonesia sesungguhnya ada disamping tentaranya.  Simak saja suara itu di hampir semua media on line dan cetak.  Rakyat sudah makin cerdas memilah dan mencerna.  Tindakan shock terapy tentara di Cebongan sesungguhnya mewakili suara rakyat cerdas yang sudah muak melihat ulah preman dan kriminalitas di sekelilingnya.  Meski secara hukum salah tetapi dalam rangka memberi efek kejut yang mampu menciutkan nyali preman atau siapa saja pelaku kejahatan yang menantang tentara, tindakan itu perlu dan pantas.  Pesannya sangat jelas dan itu adalah karakter sejati tentara, kehormatan dan harga diri korps sebagaimana tugas utamanya menjaga kehormatan dan harga diri NKRI.
*****
Jagvane / 15 April 2013


23 comments:

Anonymous said...

Komnas HAM dan Siti noor laila itu bangsat dan biadab....

Anonymous said...

komnas HAM anjing!
P*L*S*I pengecut,sarang koruptor!!

harno bebek said...

heheh agan2 diatas ane ngak usah pada ezmosi.. sabr2.. yg benar akan terungkap..yg buruk akan keliahtan.. maju terus TNIku..jangan hiraukan antek2 asing beryanyi,sikat semua preman & musush NKRI.. special buat agan jagvane.. ditunggu terus update yo...terima kaseh

taufiq rozi said...

komnas HAM kan cerai berai INDONESIA, bubarkan komnas HAM!!!!!

Anonymous said...

setuju dengan tulisan bapak... padat, berisi dan tepat sasaran..
terimakasih pak..
Bravo Kopassus..

Anonymous said...

saya sangat setuju ulasan bapak,,dan secara pribadi saya sangat memaklumi aksi kopasus,,meskipun kalau dianalisa dari sisi hukum katanya melakukan pelanggaran..tapi bagi saya rakyat kecil,,meski saya kurang pintar tapi saya tau mana yang layak di sebut pahlawan ,,KOPASUS atau preman jalanan itu..tentu jelas KOPASUS,,,donk,,,

H. Jagarin said...

Thanks mas Harno, semoga antum di kejauhan sana selalu dalam ridho Allah SWT, amien

H. Jagarin said...

Thanks kembali...

H. Jagarin said...

Kopassus lebih terhormat dari preman...

Anonymous said...

sikat aja tuh kuman-kuman yg hidup di masyarakat..o iya,,komnas ham mesti di rendam pake rinso ma baycliin biar bersih dri banksat negara asing.

Anonymous said...

Komnas HAM itu pauk, kalo TNI yang di dzalimi diam aja,
tpi preman yg jelas2 nyari gara malah dibesar2kan...
dasar kaki tangan asing...
Ingat ga waktu TNI dbrondong di OPM di Irian? mana Komnas HAM? tidur aja kerjanya...
Pauk Emang...

bebek said...

Yang ngasih dana aja dari luar negeri, ya pantes aja dia selalu menjilat penyandang dana. Kalau nggak menjelekkan pemerintah, nggak dapat makan dia. Mungkin nggak ya dibuat perundangan yang melarang komnas ham ini hanya mendapat dana dari pemerintah, dan nggak boleh menerima dana bantuan dari asing?

Anonymous said...

komnasham itu emang anjiiiing!!!!-nya negara asing yg gak suka dgn nkri,,, jmpol untuk kopasus,,,tumpas hbs premanisme tanah air...

Anonymous said...

Bravo Kopassus...!!!! Go to HELL preman + Komnas HAM.......!!!!

Anonymous said...

kopasus---kamu selalu dihati kami----bersihkan preman2 trutama pelindung preman dg dpt setoran, siapa lagi klo bukan p^l^s^---sdh jd rahasia umum bro---munculkan petrus kembali !!!
thanks bung atas analisisnya yg benar2 mengena---ada agenda untuk mengkerdilkan tentara kita dg alasan HAM yg dipakai senjatanya !!!

taufiq rozi said...

mantap brouw. . . . . .

Anonymous said...

Komnas Ham, Kontras adalah antek2 asing. Kalau anggota TNI yang tewas di papua komnas HAM dan Kontras hanya DIAM. Mereka ini hanya menjadi benalu dinegeri sendiri. hidup koppasus, hidup koppasus, hidup koppasus.

Anonymous said...

mereka adalah parasit dan benalu di negeri sendiri. bubarkan Komnas HAM dan Kontras.

Anonymous said...

lebih dari itu gan , ternyata kontras didalamnya merupakan kumpulan dari bangsat dan penghianat bangsa , bahkan rela jual negara yang pantas di eleminasidan dihakimi oleh masyarakat.... mereka hidup dari duit orang asing yang yang jelas2 ingin hancurkan NKRI.... bravo kopassus

Anonymous said...

Kopassus lebih mulia dari komnas ham

Bagong said...

Memang RI selalu diributkan akan ham,yg selalu merongrong setiap negara.
Sebaiknya komnas ham lebih hati2 kedepan,jgn jadi perusak negara dgn membantu negara AS SBG PELANGGAR HAM.
Kalau memang hebat komnas ham melaporkan AS atas dugaan pelanggaran ham dimuka bumi ini?

pujakesuma said...

MAJU TERUS TNI,,HARGA DIRI TETAP HARGA DIRI..kami yakin RAKYAT INDONESIA TETAP MENDUKUNG MU.........

Ahmad Fadly said...

Bantai preman bubarkan komnasham. Tentaraku tanpa kau negri ini akan hancur, tanpa preman negri ini akan makmur bantai semua pereman dan jangan sisakan preman berdasi yg membunuh negri