Saturday, March 15, 2025

Hasil Program MEF TNI AL

HASIL PROGRAM 

MINIMUM ESSENTIAL FORCE (MEF) TNI AL

Aset Kapal Perang Striking Force TNI AL Produk Dalam Negeri

Kapal Cepat Rudal  Produk PT PAL

1.   KRI Kapak 625

2.   KRI Panah 626

3.   KRI Kerambit 627

4.   KRI Sampari 628

5.   KRI Tombak 629

6.   KRI Halasan 630

Kapal Cepat Rudal Produk Swasta Nasional

1.   KRI Clurit 641

2.   KRI Kujang 642

3.   KRI Beladau 643

4.   KRI Alamang 644

5.   KRI Surik 645

6.   KRI Siwar 646

7.   KRI Parang 647

8.   KRI Terapang 648

9.   KRI Golok (Trimaran) 688 

Kapal Patroli Cepat Produk Swasta Nasional

1.    KRI Pari 849

2.    KRI Sembilang 850

3.    KRI Sidat 851

4.    KRI Cakalang 852

5.    KRI Tatihu 853

6.    KRI Layaran 854

7.    KRI Madidihang 855

8.    KRI Kurau 856

9.    KRI Torani 860

10.  KRI Lepu 861

11.  KRI Albakora 867

12.  KRI Bubara 868

13.  KRI Gulamah 869

14.  KRI Posepa 870

15.  KRI Escolar 871

16.  KRI Karotang 872

17.  KRI Mata Bongsang 873

18.  KRI Dorang 874

19.  KRI Bawal 875

20.  KRI Tuna 876

21.  KRI Marlin 877

22.  KRI Butana 878

23.  KRI Selar 879

24.  KRI Hampala 880

25.  KRI Lumba-Lumba 881

Kapal Korvet Produk Swasta Nasional

1.   KRI VVIP Bung Karno 369 

2.   KRI Bung Hatta 370

3.   KRI Raja Ali Fisabilillah 391

4.   KRI Lukas Rumkoren 392

Aset Kapal Perang Supporting Force TNI AL Produksi Dalam Negeri

Kapal Logistik Produk Swasta Nasional

1.   KRI Dumai 904

2.   KRI Tarakan 905

3.   KRI Bontang 906

4.   KRI Balongan 907

Kapal LPD (Landing Platform Dock) Produk PT PAL

1.   KRI Semarang 594

2.   KRI Dr. Wahidin Sudirohusodo 991

3.   KRI Dr. Rajiman Wedyodiningrat 992

Kapal Pemetaan Bawah Air Produk Swasta Nasional

1.   KRI Pollux 935

Kapal Selam Transfer Teknologi Korsel-PT PAL

1.   KRI Nagapasa 403

2.   KRI Ardadedali 404

3.   KRI Alugoro 405

****

Jagarin Pane / 14 Maret 2025

(Dari Berbagai Sumber)

Monday, March 10, 2025

Menimbang Giuseppe Garibaldi

Nama ITS Giuseppe Garibaldi hari-hari ini menggema kuat di komunitas netizen forum militer tanah air. Dia adalah nama sebuah kapal induk ringan milik angkatan laut Italia yang sudah purna tugas. Selama masa dinasnya Giuseppe Garibaldi membawa pesawat tempur Harrier yang bisa take off dan landing secara vertikal. Kapal induk mini ini sudah bertugas sejak tahun 1985 yang menjadi flagship kebanggaan sekaligus jantung AL Italia selama 40 tahun. Sekarang sudah diganti dengan kapal induk helikopter yang lebih canggih ITS Trieste. Nah kapal induk berusia 40 tahun sepanjang 180 meter inilah yang saat ini sedang dalam kajian untuk bisa menjadi aset TNI AL. 

Indonesia dan Italia beberapa tahun ini sedang berbunga-bunga kerjasama pertahanannya. Semua berawal dari kesediaan Italia untuk "mengalah" dengan keinginan Indonesia membeli 2 kapal perang PPA (Pattugliatore Polivalente d'Altura) setara heavy frigate buatan Fincantieri. Galangan kapal Fincantieri di Italia sudah dan sedang membangun 6 kapal perang PPA untuk AL Italia. Kemudian Indonesia dengan program extra ordinary percepatan pengadaan alutsista ingin mendapatkan 2 kapal perang jumbo PPA yang baru selesai dibangun. Dengan lobby intensif selama setahun akhirnya Indonesia mendapatkan 2 kapal perang setara heavy frigate dengan harga beli US$ 1,23 milyar. Kedua kapal perang itu diberi nama setara dengan kegagahannya. KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321. Bulan Mei 2025 nanti akan tiba di tanah air.

Sebagai pemllik teritori perairan terbesar di ASEAN, angkatan laut Indonesia saat ini sedang berupaya untuk memperkuat armada tempurnya. Proporsional dengan luasnya wilayah perairannya yang strategis. ALKI 1, ALKI 2 dan ALKI 3 adalah jalur pelayaran internasional yang menjadi  tanggung jawab Koarmada Satu, Koarmada Dua dan Koarmada Tiga. Saat ini TNI AL masih kekurangan aset kapal perang striking force. Catatan kita dalam enam bulan terakhir ini ada penambahan beberapa KRI buatan galangan kapal swasta nasional. Seperti korvet KRI Raja Ali Fisabilillah 391 dan KRI Lukas Rumkoren 392 buatan galangan kapal di Lampung. Yang terakhir korvet KRI Bung Hatta 370 buatan galangan kapal swasta di Batam. Galangan kapal ini juga yang setahun lalu sukses membangun korvet VVIP KRI Bung Karno 369.

Melihat gambaran kedepan sampai tahun 2030 dengan dinamika kawasan yang fluktuatif, antispasi penguatan postur TNI AL perlu percepatan. Dan kebutuhan utamanya adalah kapal perang kelas heavy frigate keatas, kapal selam serbu dan kapal selam nir awak. Kebutuhan untuk memiliki kapal induk ringan adalah dalam upaya menguatkan postur kemampuan armada tempur TNI AL. Juga untuk mobilitas operasi militer selain perang (OMSP) seperti penanggulangan bencana alam secara cepat. Kehadiran 2 KRI heavy frigate "Brawijaya Class" dan yang sedang dalam pembangunan saat ini di PT PAL yaitu 2 heavy frigate merah putih dengan satu kapal induk ringan akan menjadi sebuah team work armada tempur yang andal. Ini adalah penjabaran dan implementasi dari visi dan misi Nawacita PMD (Poros Maritim Dunia) Indonesia. Yaitu membangun kekuatan pertahanan angkatan laut dengan teknologi satelit dan drone. Garibaldi bisa menjadi kapal induk drone dalam suatu gugus tempur laut TNI AL dengan pengawalan  4 kapal perang heavy frigate dan kapal selam.

PT PAL sebenarnya sudah jauh hari merancang kapal induk helikopter (LHD/Landing Helicopter Dock). BUMN strategis ini adalah industri pertahanan kebanggaan Indonesia yang sudah mampu membuat kapal perang berbagai jenis. Bahkan ada 2 kapal perang LPD (Landing Platform Dock) yang sudah diekspor ke Filipina. Dan saat ini sedang membangun kapal perang LPD 163 meter untuk Uni Emirat Arab. Dengan pengalaman membangun berbagai jenis kapal perang seperti, kapal cepat rudal, korvet, heavy frigate, LPD, kita meyakini Kemampuan PT PAL untuk membangun kapal induk helikopter LHD tidak perlu diragukan. 

Bintang manajemen pertempuran interoperability saat ini dan kedepan adalah teknologi drone, rudal dan jet tempur. Teritori Indonesia dua pertiga adalah perairan, maka pemberdayaan teknologi drone yang memiliki mobilitas tinggi di perairan adalah dengan ketersediaan aset kapal induk drone. Selain Garibaldi rancangan LHD PT PAL sangat dimungkinkan berfungsi sebagai kapal induk drone berdampingan dengan fungsinya sebagai kapal induk helikopter. Artinya kehadiran Garibaldi menjadi kapal induk drone adalah sebuah keniscayaan. Dan dalam tahapan berikutnya bisa berdampingan dengan LHD buatan PT PAL.

Pada akhirnya ketersediaan aset kapal perang TNI AL yang berkualitas dengan teknologi terkini bersama kekuatan jet tempur TNI AU adalah untuk memastikan jaminan pertahanan yang berkelas. Luasnya teritori kita dengan kandungan sumber daya alam yang melimpah memerlukan aset pertahanan yang kuat. Apalagi saat ini ada kepemimpinan adidaya yang bergaya cowboy memaksakan kehendak. Bersemangat dengan aneksasi kepemilikan sumber daya alam Greenland, Terusan Panama, Kanada, tanah jarang Ukraina. Indonesia meski dengan prasangka baik dan kecerdasan diplomasi harus mengantisipasi lebih dini situasi dan kondisi ini. Oleh sebab itu kita harus memperkuat postur pertahanan segala matra. Ke depan potensi konflik dan perang terbuka sangat dimungkinkan karena perebutan sumber daya alam. Demi eksistensi negeri,  demi marwah teritori, kita harus mempersiapkan kekuatan pertahanan lebih dini. Dan kita sedang berada di peta jalan ini.

****

Jakarta, 09 Maret 2025

Jagarin Pane


Wednesday, January 29, 2025

Rasio Anggaran Pertahanan Dan Diplomasi Militer

Rasio anggaran pertahanan Indonesia "selama hayat dikandung badan", sejak era Orde Baru sampai "dino iki" selalu berada di kisaran 0,7-0,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Seperti kita ketahui PDB Indonesia sampai akhir tahun 2024 sebesar 1,4 trilyun dolar dan ini menempatkan kekuatan ekonomi kita di ranking 16 besar dunia. Sehingga masuk grup ekonomi elite dua puluh besar G20. Sementara anggaran pertahanan tahun 2025 telah ditetapkan sebesar 165 trilyun rupiah. Setara dengan 10,12 milyar dolar. Angka ini berada di rasio 0,7-0,8% dari PDB kita tahun ini.

Jika kita membandingkan dengan negara ASEAN lainnya maka rasio anggaran pertahanan 0,7-0,8% ini adalah yang terkecil. Padahal luas teritori negeri kepulauan ini adalah yang terbesar di rantau ASEAN. Bandingkan dengan Singapura dan Myanmar yang mencapai 3%, Filipina 1,8%, Malaysia 1,1%, Thailand 1,2%. Sementara rasio anggaran pertahanan  China 1,7% dan Australia 2,04% dari PDB masing-masing. Artinya pengupayaan Kementerian Pertahanan Indonesia untuk meningkatkan rasio anggaran pertahanan menjadi 1,5% dalam perspektif kita sangat wajar. Meski harus dilakukan secara bertahap. 

Misalnya menuju rasio 1 persen dulu sudah sangat proporsional. Pada awalnya memang terlihat ada lonjakan drastis. Anggaran tahun ini yang sudah ditetapkan sebesar  US$ 10,12 milyar (0,7% dari PDB). Jika ingin menyesuaikan ke 1% dari PDB maka anggaran pertahanan tahun depan bisa menyentuh 14-15 milyar dolar. Catatannya adalah pertumbuhan PDB berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi 5% maka PDB juga tumbuh 5 %. Anggaran sebesar ini diperlukan untuk pengadaan dan perawatan alutsista. Berbagai jenis alutsista baru yang menjadi aset pertahanan negeri ini perlu perawatan untuk kesiapan penggunaan. Termasuk adanya frekuensi latihan TNI yang lebih sering tentu memerlukan ongkos perawatan alutsista yang lebih tinggi. Tahun yang lalu berbagai latihan militer TNI skala besar dengan negara lain bisa kita saksikan. Seperti Garuda Shield, Orruda, Keris Woomera dan lain-lain. Termasuk latihan skala besar internal TNI.

Sementara itu dalam lalulintas diplomasi aktif, beberapa negara Indo Pasific melakukan langkah pendekatan serius dengan Indonesia. PM Jepang Shigeru Ishiba baru saja melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia tanggal 10-11 Januari 2025. Jepang kembali menawarkan kerjasama pertahanan. Utamanya untuk membangun kapal perang heavy fregate "Mogami Class" untuk Indonesia melalui pola kerjasama alih teknologi. Sebelumnya, sebagai bentuk keseriusan dan insentif kerjasama, negeri matahari terbit itu sudah menghibahkan 1 kapal besar untuk Coast Guard (Bakamla) Indonesia. Bukan kapal bekas. Ini kapal baru dan saat ini sedang dibangun di Jepang. 

Korsel saat ini sedang mempersiapkan hibah 1 kapal perang "Pohang Class" untuk TNI AL. Nah kalau ini kapal bekas. Bersamaan dengan upaya Seoul mengambil hati Jakarta "menghidupkan kembali" batch 2 pembangunan 3 kapal selam Nagapasa Class. Nagapasa batch 1 telah menghasilkan 3 kapal selam. Sayangnya hanya KRI Alugoro 405 yang pembangunannya di PT PAL Surabaya yang menghasilkan unjuk kinerja lebih baik. Dua "kakaknya" KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 yang pembuatannya di Korsel menghasilkan performa kurang memuaskan. Namanya juga usaha, marketing komunikasi dan lobby-lobby intensif Korsel terus dilakukan, untuk to be continued pembangunan kapal selam batch 2 yang bergelar "anjing kampung" ini.

China juga aktif  melakukan diplomasi militer "penuh senyum" dengan Indonesia sebagai lanjutan diplomasi detente Xi Jinping dan Prabowo. Beijing secara implisit menawarkan 1 kapal perang destroyer dan 1 kapal selam ketika Menhan Sjafri Sjamsudin berkunjung ke China tanggal 21-22 Januari 2025. Sebelumnya Komandan Bakamla Laksdya TNI Irvansyah berkunjung ke markas CCG di Guangzhou China tanggal 10 Januari barusan. Semuanya untuk menindaklanjuti diplomasi detente tadi. Nah kita berpandangan, kunjungan PM Jepang ke Indonesia barusan. Dari kacamata percaturan geopolitik bisa dimaknai sebagai upaya Tokyo mengajak Jakarta agar tetap menjaga  harmoni persahabatan, dan tidak terlalu condong ke Paman Panda.

Dengan India, Prabowo menjadi tamu terhormat dalam perayaan hari jadi Republik India ke 76. Kunjungan Presiden Indonesia tanggal 23-26 Januari 2025 ini menjadi kunjungan paling bermarwah dalam sejarah persahabatan Indonesia-India. Parade militer India yang megah itu menempatkan 350 taruna Akmil dan prajurit TNI berada paling depan. Dengan langkah tegap mengumandangkan mars Maju Tak Gentar, kontingen satu-satunya dari luar India ini mendapat applaus dari hadirin. Begitu bersahabatnya India menyambut kedatangan delegasi tamu dari Indonesia selama 3 hari. Berlanjut kemudian dengan finalisasi pengadaan alutsista canggih peluru kendali Brahmos senilai US$ 450 juta. Alutsista ini sangat dinantikan untuk memperkuat pertahanan pantai Natuna dan IKN. Bahkan untuk pertahanan selat-selat strategis Indonesia seperti selat Sunda, selat Lombok.

Upaya saling berkunjung untuk menguatkan kerjasama dan persahabatan di kawasan Indo Pasific adalah bagian dari strategi diplomatik cerdas Indonesia yang bersahabat dengan semua. Termasuk diplomasi militer, penawaran kerjasama pertahanan, pengadaan alutsisa untuk memperkuat teritori negeri ini. Diplomasi internasional Indonesia dengan baju diplomasi militer tentu memerlukan postur kegagahan dong. Untuk memberikan value added yang bernama marwah dan martabat. Oleh sebab itu perkuatan militer kita yang sampai saat ini masih berkategori minimum essential force menjadi sebuah keniscayaan. Pengadaan alutsista strategis seperti kapal perang heavy fregate, kapal selam, jet tempur, drone bersenjata, radar, berbagai jenis peluru kendali memerlukan anggaran besar. Peningkatan rasio anggaran pertahanan menjadi 1-1,5 persen dari PDB adalah keniscayaan yang pantas dan wajar untuk percepatan penguatan postur pertahanan negeri. 

****

Jagarin Pane / 28 Januari 2025


Wednesday, December 25, 2024

Memahami Diplomasi Detente Prabowo

Pernyataan bersama Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden China Xi Jinping soal Laut China Selatan (LCS) tanggal 9 Nopember 2024 mendapatkan respon yang luar biasa. Di dalam dan di luar negeri. Ada dua catatan yang bisa kita kedepankan sebagai bagian dari diplomasi detente Presiden kita ini. Yang pertama adalah ketika Prabowo terpilih menjadi Presiden Indonesia, China mengundangnya secara khusus dalam kapasitas sebagai presiden terpilih. Meski kemudian Kemenlu Indonesia meluruskannya sebagai Menteri Pertahanan. Prabowo berkunjung ke Beijing tanggal 31 Maret sampai 2 April 2024 dan mendapat sambutan hangat Presiden China Xi Jinping. Ini sebuah inisiasi diplomatik terukur Paman Panda untuk merangkul Jakarta.

Yang kedua, setelah dilantik menjadi Presiden Indonesia, Prabowo memilih China sebagai negara pertama yang dikunjungi sebelum kunjungan safari ke benua Amerika. Dan ini hanya berjarak enam bulan interval berkunjung ke China. Luar biasa berbalas pantun diplomatik. Sementara kunjungan berikutnya Prabowo ke AS tanggal 10-13 November 2024, kemudian menghadiri KTT APEC di Peru tanggal 15-16 November 2024 dan KTT G20 di Brazil tanggal 18-19 November 2024. Dalam kunjungan kenegaraan ke China tanggal 8-10 November 2024 inilah lahir Joint Statement bersejarah China-Indonesia. Judulnya sangat rinci: Peningkatan Kemitraan Strategis Komprehensif Dan Komunitas China-Indonesia Untuk Masa Depan Bersama. 

Pernyataan bersejarahnya ada di butir 9. Bahwa kedua negara akan bersama-sama membuat lebih banyak titik terang (bright spot) dalam kerjasama maritim termasuk untuk area yang mengalami klaim tumpang tindih dan sepakat untuk membentuk komite pengarah bersama. Kementerian luar negeri Indonesia kemudian memberikan penjelasan bahwa Joint Statement bukanlah pengakuan terhadap nine dash line China. Dan kerjasama maritim Indonesia-China tidak berdampak pada kedaulatan maupun yuridiksi Indonesia di Laut Natuna Utara (LNU). Maka gema joint statement kedua negara ini membuat kalkulasi geopolitik LCS bergelombang.

Dalam perspektif kita langkah diplomatik Presiden Prabowo ini setidaknya berupaya mengurangi demam berkepanjangan di LCS yang sudah menimbulkan banyak provokasi dan insiden. Menurunkan ketegangan atau relaksasi  dikenal dengan istilah detente. Yaitu upaya diplomatik mengelola hubungan dengan negara yang berpotensi menjadi musuh untuk menjaga perdamaian. Dan bahkan bisa membangun kerjasama simbiosis mutualistis. Istilah detente sangat populer pada era ketegangan NATO dengan Pakta Warsawa. Langkah diplomatik Prabowo ini juga ingin menegaskan bahwa Indonesia punya cara tersendiri dalam mengelola hubungan luar negerinya. Termasuk diplomasi militer. 

Kita tidak ingin terjebak dalam framing ikut dan atau dipengaruhi salah satu persekutuan dan aliansi militer. Dengan AS kita sudah punya hubungan kemitraan strategis komprehensif, sama dan setara dengan China. Indonesia dan Australia punya perjanjian Defence Cooperation Agreement (DCA) revisi dari Lombok Treaty. Juga dengan Singapura. DCA dengan Australia telah menghasilkan latihan militer terbesar sepanjang sejarah "Keris Woomera" bulan November yang lalu di Jawa Timur. DCA dengan Singapura, mengizinkan negeri mungil sejahtera berotot militer itu menggunakan perairan di selatan Natuna untuk latihan militernya. Dengan militer AS, Indonesia setiap tahun melakukan latihan tempur tiga matra skala besar "Garuda Shield", bersama negara sahabat yang lain. Dengan Armada Pasifik Rusia, TNI AL baru saja melakukan latihan tempur laut "Orruda Exercise" di laut Jawa bulan lalu.

Dalam diplomasi detente, mengumandangkan bright spot jauh lebih baik daripada memelihara hot spot. Membangun kerjasama untuk kepentingan bersama jauh lebih penting daripada memelihara titik panas konflik oleh sebuah sebab yang tidak proporsional. Indonesia sebenarnya tidak berkonflik kedaulatan teritori dengan China. Tumpang tindih dengan nine dash line China ada di perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) LNU, bukan di perairan teritori kedaulatan NKRI. ZEE Indonesia di LNU adalah hak berdaulat sesuai Konvensi Hukum Laut Internasional UNCLOS 1982. Konvensi ini ditandatangani 10 Desember 1982 di Jamaika. Berlaku efektif sejak 16 Nopember 1994. Indonesia meratifikasi UNCLOS 1982 dengan UU No 17 tahun 1985 . China baru meratifikasi UNCLOS 1982 pada tahun 1996. Sementara AS sampai saat ini belum mengakui UNCLOS 1982.

Mengapa AS begitu bersemangat membangun aliansi militer AUKUS di Indo Pasifik. Menggelar kekuatan militer secara besar-besaran. Melakukan latihan militer dengan sejumlah negara di Indo Pasifik. Memperkuat Australia dengan kapal selam nuklir. Membangun pangkalan militer di Filipina. Menguatkan pertahanan Taiwan. Memindahkan armada kapal induk dari kawasan Teluk ke Pasifik. Semua langkah strategis AS ini  adalah untuk mengantisipasi ancaman militer China. Termasuk memelihara hegemoni superioritas ekonominya yang bersaing ketat dengan China. Dalam bahasa Samuel Huntington musuh masa depan AS adalah China.

Mengantisipasi dinamika geopolitik kawasan dan untuk urusan kedaulatan teritori, Indonesia terus menguatkan postur pertahanannya, proporsional dengan luas wilayahnya. Dua kapal perang setara heavy fregate "Brawijaya Class" dari Italia tahun depan memperkuat armada tempur TNI AL. Termasuk kontrak efektif pembangunan dua kapal selam Scorpene dengan Perancis. Pembangunan kapal perang jenis OPV 90, kapal cepat rudal, kapal patroli cepat terus berlangsung di galangan kapal swasta nasional. PT PAL saat ini sedang membangun 2 kapal perang terbesar heavy fregate "merah putih" di galangan kapal miliknya di Surabaya.

Sementara TNI AD akan mendapatkan 22 helikopter Black Hawk dari AS, sejumlah rudal balistik Khan buatan Turki,  UAV dan berbagai jenis ranpur lainnya. TNI AU menambah dan menguatkan satuan radar dengan 25 radar GCI baru. Sebagian buatan Perancis dan sebagian lagi buatan Ceko. Juga mempersiapkan infrastruktur untuk 42 jet tempur Rafale, 2 pesawat angkut A300 MRTT, 2 pesawat angkut A400M dan sejumlah drone bersenjata. Ini adalah program strategis extra ordinary untuk memastikan keberdayaan militer menjaga marwah teritori negeri kepulauan ini

China adalah kekuatan ekonomi dan militer masa depan. Pertumbuhan ke arah itu sangat jelas sekarang. Dunia yang unipolar saat ini sudah menuju multipolar. Pemegang piala hegemoni AS dan sekutu Baratnya tentu berupaya agar hegemoni ekonomi, hegemoni militer, hegemoni framing dan informasi tidak tergerus abrasi China. Maka sekarang kita lihat polarisasi dunia menguat. Perang Rusia-Ukraina adalah hasil dari hegemoni framing. Di sisi yang lain ada pembiaran kekejaman Israel di Gaza. Semua ini karena perilaku hegemoni yang overdosis dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Termasuk lahirnya aliansi militer China, Rusia, Korea Utara, Iran adalah karena ketidakadilan hegemoni. Juga BRICS.

Oleh sebab itu kita melihat langkah diplomatik cerdas Presiden Prabowo dan Presiden Xi Jinping melalui Joint Statement bisa diartikan dalam perspektif memandang over the horizon. Dunia masa depan dengan adalah kerjasama, bukan permusuhan. Indonesia tidak ingin terjebak dalam percaturan spion hegemoni karena masa depan harus dibangun dengan kerjasama ekonomi semua pihak. Membangun kerjasama internasional melalui bright spot adalah jalur terbaik untuk menuju Indonesia Emas. Termasuk membangun kekuatan militer negeri ini adalah untuk memastikan keberdayaan dan kewibawaan teritori NKRI serta marwah diplomasi. Semoga.

****

Jagarin Pane / 25 Desember 2024


Sunday, December 15, 2024

Iskandar Muda Berangkat, Diponegoro Pulang

Di tengah suasana konflik hebat di Timur Tengah, Indonesia istiqomah menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon. Termasuk melakukan pergantian tugas Maritim Task Force (MTF)  UNIFIL di perairan perbatasan Lebanon-Israel. KRI Diponegoro 365 yang sudah bertugas sepanjang tahun ini pulang tugas dan digantikan kapal perang striking force "satu kelas" KRI Sultan Iskandar Muda 367. Sama-sama keluaran Damen Schelde Belanda. KRI satu kelas lainnya adalah KRI Sultan Hasanudin 366 dan KRI Frans Kaisiepo 368. Semuanya dilengkapi dengan peluru kendali canggih Exocet MM40 Blok 3 dan infrastruktur tempur lainnya.

Iskandar Muda berangkat dari Navy Base Surabaya pekan ketiga Desember 2024 dengan 120 prajurit TNI AL dan 1 helikopter anti kapal selam Panther. Persiapan sudah dilakukan sejak Oktober 2024. Termasuk mengikuti latihan gabungan operasi tempur laut bersama belasan KRI di Laut Jawa seminggu yang lalu. Dengan puncaknya penembakan litoral Rudal Exocet MM 40 Blok 3 ke arah pulau Gundul di Karimunawa.

Rute perjalanan yang akan dilalui Surabaya, Jakarta, Batam, Sri Lanka, Oman, Mesir dan Beirut. Sebuah rute perjalanan panjang untuk misi mulia tugas PBB sekaligus menguatkan marwah negeri ini yang cinta perdamaian. Indonesia sudah terbiasa mengirim kapal perang ke Lebanon. Beberapa KRI bergantian tugas untuk MTF UNIFIL.

Kontribusi Indonesia untuk UNIFIL di perbatasan Lebanon-Israel saat ini adalah yang terbesar dibanding negara lain. Ada 1.230 prajurit TNI yang sedang bertugas di perbatasan Lebanon-Israel dibawah desingan puluhan jet tempur Israel yang membombardir kota-kota di Lebanon. Juga desingan roket-roket Hizbullah yang menyeberangi perbatasan udara Lebanon-Israel. Tugas penuh resiko ini tetap harus dijalankan untuk misi perdamaian PBB dan salah satu implementasi dari Pembukaan UUD 45. Selamat bertugas untuk misi perdamaian dan kemanusiaan, Jalesveva Jayamahe.

****

(Jagarin Pane)

Wednesday, November 13, 2024

Habis Orruda Terbitlah Woomera

Diplomasi militer Indonesia beberapa pekan ini memperlihatkan kapabilitas non bloknya. Angkatan Laut Indonesia baru saja menggelar latihan gabungan dengan Angkatan Laut Rusia di Laut Jawa. Namanya Orruda Exercise. Masing-masing mengerahkan 3 kapal perang dengan pengawalan 1 kapal selam Kilo Class dari Armada Pasifik Rusia. Ini yang menarik, kapal selam "herder" ini tidak ikut latihan, hanya mengawal. Bagaimanapun kehadiran kapal selam Kilo Rusia di Orruda Exercise memberikan nilai kejut sekaligus nilai gahar.

Usai Orruda berlanjut dengan Latgab yang lain. Yaitu Latgab TNI bersama Australia bertajuk Keris Woomera. Kalau ini 3 matra TNI dan Australia melakukan berbagai serial latihan dengan ribuan pasukan dan alutsista. Mulai dari Darwin Australia kemudian berkonvoi menuju Banyuwangi untuk debarkasi alutsista milik Australia. Puncaknya tanggal 16 November 2024, dengan melakukan operasi tempur serbuan pantai untuk pendaratan pasukan marinir di Situbondo. Marinir Indonesia akan unjuk kemampuan dengan pengerahan tank-tank amfibi dan sejumlah alutsista lainnya. Termasuk dukungan pesawat intai, drone, radar dan jet tempur TNI AU.

Keris Woomera adalah implementasi dari Defence Cooperation Agreement (DCA) antara Indonesia dan jiran selatan yang berwajah Eropa. Inilah Latgab terbesar yang dilakukan Indonesia dan Australia sepanjang sejarah. Maklumlah jiran kita ini sedang berupaya "mengambil hati" tetangga besarnya yang kerap diusili soal OPM dan HAM. Sekarang sudah gak ngeributin OPM lagi karena fokus dengan AUKUS. Nah pakta AUKUS kan perlu berbaik hati kepada Jakarta untuk kulonuwun akses militer jika terjadi konfrontasi dengan China di Laut China Selatan.

Diplomasi militer Indonesia mah bebas-bebas aja. Kita bersahabat dengan semua pihak yang berseteru. Bulan depan TNI  kembali akan melakukan Latgab. Kali ini dengan militer PLA China. Bahkan kabar terbaru dari Beijing setelah kunjungan Presiden Prabowo, China menawarkan 2 kapal perang jumbo heavy fregate kepada Indonesia. Ini bukan hal yang baru. Beberapa tahun lalu Indonesia juga pernah membeli 8 unit drone bersenjata CH4 Wing Loong dari China. 

Intinya kita tidak ingin terjebak dalam pusaran konflik di era Unipolar saat ini dengan AS, NATO dan AUKUS sebagai penguasa hegemoni. Dalam visi over the horizon prediksi ke depan dunia sudah menuju Multipolar. China sedang menuju kejayaan sebagai kekuatan ekonomi number one in the world. Demikian juga dengan kekuatan militernya. Rusia-China-Korut-Iran sudah membentuk aliansi militer. Pasukan Korut sudah bertempur di Rusia melawan Ukraina. BRICS sudah semakin menguat dan berpengaruh, Indonesia mulai mendaftar ikut bergabung. Dari semuanya kita harus bersiap mengantisipasi prediksi untuk masa depan. Dengan tetap istiqomah di marwah non blok. Diplomasi militer kita sudah menyiratkan prediksi itu.

****

Jagarin Pane / 13 November 2024