Wednesday, December 31, 2025

Dinamika Geopolitik Dunia. Ketika Musim Pamer Otot Militer Mengemuka

Bukan hanya cuaca ekstrim dan siklon anomali yang lagi musim di bumi bulat bundar ini. Dinamika geopolitik dunia juga sedang menggeliat bersama dengan musim pamer otot militer di berbagai belahan benua. Tanpa ada yang menduga, tiba-tiba saja Israel mengakui eksistensi negara Somaliland, sebuah teritori strategis di Selat Bab El Mandeb dan Teluk Aden. Sontak seluruh Liga Arab marah besar dan tak terima. Di lokasi lain tiba-tiba saja jet-jet tempur Arab Saudi menggempur salah satu faksi militer separatis di Yaman yang didukung Uni Emirat Arab (UEA). Di seberang Laut Merah sisi Afrika, pasukan pemberontak Sudan dengan dukungan UEA memperluas teritori pendudukan di Sudan. Sementara di utara Jazirah Arab, Iran saat ini sedang bersiap menghadapi perang besar dengan AS dan Israel.

Di kawasan Indo Pasifik Rusia menyatakan dengan lugas akan mendukung China jika berperang dengan Taiwan. Sementara saat ini China mengadakan latihan militer skala besar di selat Taiwan. Bersamaan dengan itu Korea Utara memamerkan kapal selam nuklir baru buatannya. Masih di Indo Pasifik khususnya ASEAN, dua negara anggotanya Thailand dan Kamboja kembali bertempur karena perselisihan teritori. Myanmar juga masih sibuk dengan pertempuran internalnya. Nun di belahan benua lain AS bersiap menganeksasi Greenland yang membuat Denmark murka. Greenland adalah wilayah otonomi Denmark yang kaya sumber daya mineral. Sementara Rusia kembali menegaskan kekuatan nuklirnya bisa menjadi penentu perang Eropa jika NATO berupaya untuk memperluas perang di Ukraina.

Di Amerika Latin Venezuela sedang bersiap menghadapi eskalasi perang terbuka dengan pemerintahan cowboy Washington. Armada tempur lengkap AS sudah ready for war di perairan Karibia. Tinggal menunggu komando. Di Afrika dengan Nigeria, AS baru saja membombardir basis militer gerilyawan yang dituduh menculik dan membunuh ribuan warga berbasis religi. Sepertinya semua formula diplomatik antar negara sudah mati suri, sudah tidak berlaku. Semua dinamika berbagai konflik ini sesungguhnya sedang memperlihatkan pamer otot adrenalin militer yang mencemaskan. Oleh sebuah sebab yang bernama ambisi teritorial berbasis arogansi militer.

Dinamika geopolitik yang bisul konfliknya muncul di berbagai tempat tidak terlepas dari hilangnya marwah PBB yang sama sekali tidak punya kekuatan tawar dan eksekusi resolusi. Martabat PBB saat ini sudah berada dalam kendali AS. Eksistensi PBB bahkan sudah dilecehkan Presiden AS Donald Trump yang menyebut sebagai organisasi tertinggi dunia yang tak mampu mendamaikan. Bahkan dengan bangga Trump bilang hanya AS yang bisa mendamaikan konflik antar negara di jagad ini. Alamak sombongnya Pak De Bule ini.

Saat ini AS tengah mempertontonkan kepongahan hegemoni militernya dan keangkuhan diplomatiknya karena dia punya kekuatan itu. Namun dibalik itu Washington sebenarnya secara tersirat sedang panik karena hegemoni unipolarnya mulai tergerus. Dalam situasi yang demikian setiap negara termasuk Indonesia sudah bisa menilai subyektivitas diplomasi militer Washington yang mau benar sendiri dan cenderung sok jagoan. China, Rusia, Iran dan Korut sudah jauh hari berhitung soal arogansi ini. Sembari mereka memperkuat militer masing-masing, mereka juga sudah membentuk aliansi militer. Tentara Korut ikut berperang bersama Rusia dan Iran mengirim ribuan drone tempur ke Rusia untuk melawan Ukraina. Empat negara ini adalah rival AS hari ini dan masa depan.

Dalam situasi ekosistem dunia saat ini yang sudah tidak memiliki norma kebersamaan, norma kepantasan dan kesetaraan, masing-masing negara mulai berhitung kapabilitas diri dan menguatkannya dengan membentuk aliansi militer. Arab Saudi dan Pakistan baru saja membentuk aliansi militer nuklir yang membuat kawasan Timur Tengah tercengang kaget. Termasuk pukulan diplomatik telak untuk Israel. Australia dan Papua Nugini sudah menandatangani Pukpuk Treaty, persekutuan militer yang sangat mengganggu kerukunan diplomatik Jakarta-Canberra. Untuk mendinginkan Jakarta, Australia lalu menyambangi Indonesia untuk memberikan penjelasan soal Pukpuk Treaty. Pesan kita jangan terlalu percaya dengan jiran selatan ini. Ingat soal arogansi militernya ketika Timor Timur bergolak dan merdeka. Australia punya kontribusi besar dan mengabaikan Lombok Treaty.

Langkah strategis Indonesia untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan aset pertahanan yang sebanding dengan luas wilayah adalah untuk menjamin eksistensi kedaulatannya dan  mengantisipasi gejolak geopolitik dunia. Sekaligus untuk menguatkan peran diplomasi pertahanan di kawasan. Di seluruh ASEAN teritori Indonesia adalah yang terluas. Berhadapan dengan berbagai jenis potensi konflik yang bisa terjadi diantara berbagai jiran yang berbeda karakter. Termasuk persaingan geopolitik AS-China yang semakin berpacu dengan waktu. Nilai plus penguatan investasi pertahanan kita adalah bersinergi dengan penguatan industri pertahanan dalam negeri. Dan semuanya berlangsung cepat, extra ordinary.

Misalnya peluncuran KRI Balaputradewa 322 bersamaan dengan publikasi senjata laser dan kapal selam tanpa awak (KSOT). Ketiga alutsista strategis ini semuanya hasil karya gemilang PT PAL Indonesia. Dan diselesaikan dalam waktu cepat.  Lahirnya ketiga alutsista canggih ini mendapat publikasi luas di luar negeri. Media luar menyebut Indonesia selangkah lebih maju dari negara kawasan dalam keberhasilan membangun industri pertahanan. Singapura meski tidak banyak memberikan respon kita meyakini bahwa mereka mengamati dengan cermat kemajuan industri pertahanan Indonesia. Dan boleh jadi mulai sedikit khawatir dengan program Trident Shield Indonesia.

Peta geopolitik yang cenderung mudah panas dan meledak adalah bagian dari proses transisi untuk membentuk tatanan dunia baru yang menuju multipolar. Bersamaan dengan persaingan berbagai aliansi ekonomi dan militer di kawasan untuk menjadi yang terdepan. Sebagai contoh terbaru perseteruan Arab Saudi dan UEA ternyata diam-diam sedang berebut pengaruh di jazirah Arab. Dua negara Arab yang kaya raya  ini malah bersaing untuk menjadi yang terdepan dan memperluas pengaruhnya. Konflik di Sudan dan Yaman membuktikan itu. Menjadi pemasok senjata dan bahkan pengerahan pasukan.

Sementara Israel dengan kemampuan dan kecerdasan intelijen militernya menemukan pijakan baru di Somaliland yang strategis di ujung Laut Merah berhadapan dengan Yaman. Meski ditentang habis puluhan negara di kawasan itu, Israel seperti biasa tidak akan peduli dan akan jalan terus. Pengakuan Tel Aviv kepada Somaliland adalah bagian strategi geopolitiknya untuk memperkuat diplomasi pertahanan. Kita meyakini Somaliland akan menjadi pangkalan militer Israel yang dapat mengontrol Yaman bahkan seluruh jazirah Arab. Liga Arab terlambat mengantisipasi karena diantara anggotanya malah saling bersaing berebut pengaruh. Jadi seperti liga sepakbola saja, sesama mereka yang satu bangsa mengutamakan ego masing-masing. Padahal esensi pembentukan Liga Arab adalah untuk melawan Israel.

Ditengah gejolak geopolitik dunia yang fluktuatif, program penguatan militer Indonesia saat ini telah mengalami metamorfosis dari Minimum Essential Force ke Optimum Essential Force menuju Trident Shield (Perisai Trisula Nusantara). Pembangunan kekuatan pertahanan yang massif dengan program extra ordinary adalah untuk mengejar ketertinggalan kita dalam investasi pertahanan. Dan kita tidak ingin terjebak dalam aliansi militer dengan negara manapun. Indonesia ingin membangun kekuatan pertahanan secara mandiri. Semua yang dilakukan pemerintah saat ini dalam penguatan postur pertahanan adalah untuk memastikan dan menjamin perlindungan teritori seluruh negeri kepulauan ini.

Pertambahan ratusan batalyon TNI, pengembangan struktur organisasi komando utama, pengadaan alutsista secara besar-besaran adalah jawaban untuk sampai pada kekuatan pertahanan mandiri Trident Shield yang setara dengan luasnya teritori. Ini sesuai dengan konstitusi politik luar negeri yang bebas aktif, dinamis dan non blok. Indonesia ingin mencapai kekuatan pertahanan mandiri yang berkelas sebagai penopang stabilitas kawasan. Karena posisi geostrategis Indonesia yang memiliki selat-selat strategis untuk pelayaran internasional. Maka kita perbanyak kuantitas dan kualitas kapal perang striking force termasuk kapal selam. Sebagian kita bangun sendiri. 

Kita harus menjaga selat-selat strategis dan ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) dengan KSOT dan atau Coastal Missile. Mulai tahun 2026 PT PAL akan memproduksi 30 KSOT. Investasi 30 KSOT nilainya sama dengan pembuatan 1 kapal selam konvensional. Sangat efisien tanpa mengurangi nilai deterensnya. Kapal-kapal perang kita juga harus berkarakter gahar untuk memberikan tampilan kewibawaan di perairan sendiri. Karena ALKI kita termasuk perairan Natuna sering dilalui kapal-kapal perang jumbo baik dari AS, China, Jepang, Australia dan Rusia. Kita harus tampil dong dengan armada kapal perang besar dan canggih untuk menjunjung jalesveva jayamahe.

Sangat wajar kalau Indonesia mempunyai kapal perang heavy frigate, destroyer bahkan kapal induk sebagai penyeimbang persaingan geopolitik dan untuk menjamin pertahanan teritori. Juga ratusan jet tempur berbagai merk, ratusan rudal dan drone bersenjata. Jangan sampai di kemudian hari ketika ada konflik memperebutkan hegemoni dan teritori di Indo Pasifik, kita ikut babak belur karena tidak punya kekuatan pertahanan yang berkelas. Membangun pertahanan yang kuat sesungguhnya adalah untuk mencegah terjadinya konflik. Karena pertahanan yang kuat adalah bargaining diplomasi yang sangat diperhitungkan. Dengan dinamika geopolitik yang fluktuatif dan lagi musim pamer otot adrenalin militer,  percepatan penguatan postur pertahanan kita adalah langkah strategis terbaik. Kita mengapresiasinya. Dan di tahun 2026 kita akan banyak menyaksikan kedatangan alutsista canggih berbagai jenis. Selamat Tahun Baru 1 Januari 2026

****

Jagarin Pane / 30 Desember 2025


Tuesday, November 18, 2025

Strategi Diversifikasi Investasi Alutsista ( Bagian 2 Habis)

 Analisis Historis Dinamis

Dinamika geopolitik kawasan sangat dinamis dan sulit ditebak. Ketika bagian pertama dari tulisan ini diterbitkan beberapa hari yang lalu, belum ada tanda akan ada perubahan esensial dari Defense Cooperation Arrangement (DCA], antara Indonesia dan Australia. Kunjungan Presiden Prabowo ke Australia tanggal 12 Nopember 2025 tepat sebulan setelah terbentuknya aliansi militer Australia dan Papua Nugini "Pukpuk Treaty" tanggal 12 Oktober 2025. Aliansi ini bagian dari upaya diplomasi antisipasi Australia untuk mempertahankan dominasinya terhadap Papua Nugini. Terutama sejak China mulai menanamkan pengaruhnya di negara-negara pasifik selatan.

Kunjungan Prabowo ke Canberra sesungguhnya memberikan keyakinan tentang semakin berkembangnya marwah diplomasi Indonesia. Pengembangan postur pertahanan dan perkuatan alutsista TNI yang semakin berbintang diniscayakan menjadi faktor utama pembaharuan DCA. Perjanjian kerjasama pertahanan dengan Australia ini diperluas menjadi kemitraan strategis komprehensif, multi dimensi. Mirip dengan perjanjian kemitraan strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat. Asesories dari kunjungan ini adalah sambutan tuan rumah yang begitu hangat dan serba militer. Australia memamerkan sejumlah alutsistanya kepada Prabowo.

PM Australia Anthony Albanese dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto diatas kapal perang LHD (kapal induk helikopter) HMAS Canberra memperbaharui DCA dengan sebuah Headline : Jika salah satu negara terancam oleh negara lain maka kedua negara akan saling berkonsultasi dan membantu. Paragraf ini menjadi penguat DCA tahun 2024. Meski kadar kekentalannya tetap masih setingkat dibawah aliansi militer. Masih setingkat dibawah Pukpuk Treaty antara Australia dan Papua Nugini. Karena sesuai politik luar negeri yang bebas aktif dan dinamis, Indonesia tidak ingin terjebak dalam aliansi militer dari negara manapun. 

Dalam perspektif kita, performa diplomasi Indonesia sebenarnya berada diatas angin dalam pembaharuan DCA dengan Australia kali ini. Kita meyakini bahwa inisiatif amandeman DCA ini bukan dari Jakarta. DCA tahun 2024 sebenarnya sudah cukup bagi Indonesia. Toh dalam takdir hubungan bertetangga antar negara yang penting adalah saling menghargai, saling berkomunikasi dan tidak usil dengan urusan dalam negeri tetangganya. Padahal sejauh ini banyak catatan historis bertetangga dengan negeri berwajah Eropah di selatan kita ini. Ada kesan yang kuat Canberra selama ini merasa lebih superior, cenderung mendikte dan high profile dalam tampilan diplomatik.

Mari kita simak catatan itu. Indonesia-Australia tanda tangan perjanjian keamanan tahun 1995. Nyatanya ketika Timor Timur bergolak tahun 1999, kawan kita ini ikut bermain api. Canberra menyurati Jakarta agar melaksanakan referendum. Australia juga grusa grusu ngebet ingin menjadi leader pasukan INTERFET di Timor Timur. Dalam suasana seperti ini, suatu ketika 2 jet tempur Hawk Indonesia yang berpatroli bertemu dan mempertanyakan penerbangan beberapa jet tempur Hornet Australia di udara pulau Roti NTT. Malam harinya tiba-tiba 5 jet tempur Hornet Australia melakukan manuver provokasi di atas Kupang. Lalu dimana sebenarnya "harga diri" perjanjian keamanan tahun 1995 itu.

Amandemen DCA ini sangat dimungkinkan karena  pengaruh program extra ordinary penguatan militer Indonesia yang dikenal dengan Optimum Essential Force (OEF) tahun 2025-2030. OEF adalah lanjutan dari program MEF (minimum essential force) 2010-2024. Pola diplomasi Indonesia yang mulai mendunia juga menjadi perhatian Australia. Seperti dalam perumusan perdamaian Gaza, bantuan kemanusiaan untuk Gaza, kesediaan mengirim ribuan pasukan perdamaian TNI ke Gaza. Pemberitaan program percepatan perolehan investasi alutsista dan memodernisasi alutsista TNI yang sudah ada, getarannya terasa sampai Canberra. 

Bisa dibayangkan begitu masifnya pengadaan berbagai jenis alutsista TNI saat ini dan diversifikasinya. 42 jet tempur Rafale segera tiba bertahap. 6 jet latih tempur T50 menjelang tiba. 1 pesawat angkut berat terbesar A400M sudah tiba. 25 radar GCI Thales dan Retia sedang dalam proses instalasi. 2 KRI heavy frigate Brawijaya Class sudah ditangan. 2 KRI heavy frigate Merah Putih yang dibangun PT PAL menjelang sentuh air. 2 kapal selam Scorpene sedang proses bangun. PT PAL sukses mengembangkan teknologi kapal selam tanpa awak dan akan membangun 30 unit. Belum lagi pertumbuhan cepat  kapal perang OPV, kapal cepat rudal (KCR), landing platform dock (LPD) produksi dalam negeri.

Sementara pengadaan 48 jet tempur KAAN, 2 kapal frigate Istif Class, 2 kapal cepat rudal, puluhan rudal Atmaca, rudal balistik KHAN, puluhan drone Anka, Bayraktar dan lain-lain semuanya produk Turkiye. Tidak lepas dari perhatian dan pantauan Australia. Canberra "nguping terus" sembari mengguman: what's next.  Belum lagi kerjasama jet tempur KF21 Boramae dengan Korsel yang mulai produksi massal. Indonesia punya alokasi 48 jet tempur. Beberapa alutsista China juga dilirik Jakarta sebagai bagian dari kebijakan diversifikasi investasi alutsista. Seperti coastal missile, jet tempur J10 Chengdu dan kapal perang frigate. Yang lebih bergetar tentu saja adalah akuisisi kapal induk bekas AL Italia INS Giuseppe Garibaldi. Formula  interoperability dalam manajemen pertempuran modern network centric warfare (NCW) adalah bagian dari strategi diversifikasi ini.

Program percepatan pemenuhan investasi alutsista TNI belum pernah semeriah saat ini. Yang bisa menyainginya adalah era Trikora dan Dwikora. Dinamika geopolitik saat ini yang bernuansa susah ditebak dan ngeri-ngeri sedap, luasnya wilayah negeri, kekayaan sumber daya alam, pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan penguat bargaining posisi diplomasi Indonesia, adalah indikator utama yang menjadi keharusan mutlak untuk memperkuat pertahanan negara. Negeri yang luas ini harus mempunyai payung pertahanan yang kuat. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kesejahteraan dan kekuatan ekonomi Indonesia yang saat ini berada di posisi 16 besar dunia.

Strategi diversifikasi pengadaan alutsista dalam pandangan kita adalah kecerdasan membaca peta geopolitik kawasan. Pola ini untuk mengantisipasi adanya embargo dan menyesuaikan dengan karakter potensi konflik di sekitar rumah besar kita. Termasuk menguatkan industri pertahanan dalam negeri yang sudah terbukti menjadi pemasok alutsista panser, tank, roket dan kapal perang. Industri pertahanan kita juga bekerjasama dengan Turkiye dan Korsel. Apalagi saat ini alutsista non barat seperti Turkiye dan China sedang naik daun. Pada saat kita sedang berupaya untuk mempercepat perolehan alutsista, ada jiran yang kemudian ingin mengajak lebih bersahabat lagi. Bukankah ini bagian dari menguatnya marwah diplomasi pertahanan kita. 

****

Jagarin Pane / 18 November 2025


Saturday, November 8, 2025

Strategi Diversifikasi Investasi Alutsista

"Analisis Historis Dinamis (Bagian Satu)"

Dinamika geopolitik dunia saat ini mengharuskan Indonesia bersiap menghadapi turbulensi tak terduga. Persiapannya adalah memperkuat cakram pertahanan berkorelasi dengan luasnya teritori, dan kekayaan sumber daya alam. Termasuk menyikapi karakter historis dan dinamis para tetangga yang ada di sekitar rumah gadang yang bernama bumi pertiwi ini. Seperti terbentuknya aliansi militer Australia dan Papua Nugini baru-baru ini. Aliansi "Pukpuk Treaty" ditandatangani 12 Oktober 2025 merupakan sebuah surprise geopolitik kawasan. Perjanjian strategis mereka berdua menyebut jika salah satu negara diserang secara militer, negara mitranya wajib membantu tanpa syarat.

Australia bersama keluarga besar "Anglo Saxon" AS dan Inggris sudah membentuk aliansi militer nuklir AUKUS di Indo Pasifik. Dengan tujuan menghadapi China. Sementara dua negara anggota ASEAN Malaysia dan Singapura pasca era Dwikora  bergabung dalam FPDA (Five Power Defence Arrangements). Bersama Australia, Selandia Baru dan Inggris mereka membentuk persekutuan militer tahun 1971 sebagai dampak Dwikora. Filipina secara historis menjadi sekutu militer AS sejak perang Vietnam. Subic Navy Base dan Clark Air Force Base di Filipina menjadi pangkalan aju pergerakan militer dan alutsista AS untuk menggempur Vietnam Utara waktu itu. Meski akhirnya AS kalah secara militer. Vietnam Utara dan Selatan menjadi satu kesatuan Vietnam.

Negeri kepulauan kita yang luas ini berada di lingkaran historis dan dinamis dalam peta geopolitik kawasan. Hot spot terberatnya saat ini dan ke depan adalah dinamika konflik di Laut China Selatan (LCS). Dalam pandangan AUKUS, China adalah musuh bersama karena klaimnya pada LCS dan Taiwan. Dalam catatan historis FPDA, Indonesia dianggap musuh bersama karena luka sejarah konfrontasi Ganyang Malaysia. Sementara dalam pandangan masing-masing negara seperti Vietnam, Taiwan dan Filipina, China adalah potensi musuh mereka karena ambisi teritorinya yang begitu ekspansif.

Berdasarkan pengalaman historis pula, aslinya negara-negara di sekitar Indonesia yang bersentuhan teritori punya catatan diplomatik kurang sedap bahkan ngeri-ngeri sedap. Kecuali Brunai dan Filipina, tetangga "bernuansa persemakmuran" Australia, Malaysia dan Singapura mempunyai tabiat bermanis wajah didepan. Namun sering menggunting dalam lipatan, dengki dan arogan. Australia misalnya dalam persoalan Timor Timur awalnya mendukung Indonesia untuk intervensi militer akhir tahun 1975. Namun sejalan dengan perubahan peta geopolitik, Canberra berganti wajah arogan, mendikte dan merasa berjaya memimpin INTERFET untuk "menguasai" Timor Timur secara militer tahun 1999.

Konfrontasi Dwikora tahun 1963 sejatinya ngeri-ngeri sedap sekaligus pertaruhan eksistensi Indonesia. Suasana sudah menjelang perang terbuka. Puluhan ribu pasukan dan sukarelawan dikirim ke Kalimantan dan Sumatra. Kapal induk Inggris memprovokasi lewat Selat Sunda dari Singapura menuju Darwin.Tapi pulangnya dipaksa lewat Selat Lombok oleh Indonesia dengan pantauan kapal selam TNI AL. Malaysia dan Singapura berlindung di ketiak Inggris karena kemampuan militernya tidak berdaya menghadapi superioritas militer Indonesia yang sangat berjaya waktu itu. Berbagai infiltrasi pertempuran terjadi  seperti di markas tentara persemakmuran di Kalabakan dekat Tawao Sabah dan Sakilkilo Sabah. Di Long Midang Krayan Prov Kaltara dan beberapa titik di Kalimantan Barat juga terjadi pertempuran sporadis.

Sabotase peledakan bom di Singapura oleh KKO Indonesia (sekarang Marinir) tanggal 10 Maret 1965 membuat negeri itu panik. Meski akhirnya Singapura bisa menangkap Usman dan Harun kemudian mengeksekusinya dengan hukuman gantung. Ketika peristiwa sudah berlangsung puluhan tahun kedengkian Singapura berlanjut ketika Indonesia memberi nama KRI Usman Harun untuk nama KRI striking force frigate tahun 2012. Singapura keberatan dengan pemberian kedua nama pahlawan ini. Inilah ciri jiran yang belum legowo dengan sejarah dan berusaha mendikte secara diplomatik. Indonesia tidak menggubris. Tetangga menggonggong, KRI Usman Harun 359 berlayar gagah melewati Selat Malaka.

Embargo alutsista buatan Barat adalah pengalaman pahit justru ketika kita membutuhkan untuk marwah kedaulatan. Bayangkan, kita punya 40 Jet tempur Hawk dan 100 tank Scorpion buatan Inggris. Tapi tidak boleh dipergunakan untuk menggempur GAM di Aceh. Jet tempur F5E dan F16 buatan AS diembargo suku cadangnya karena insiden Santa Cruz di Timor Timur. Pada saat seperti ini tiba-tiba muncul insiden di Bawean dan klaim Malaysia di Ambalat. Insiden Bawean Juli 2003 adalah provokasi 5 jet tempur Hornet dari kapal induk AS yang melintas di laut Jawa menuju Darwin. Manuver 5 Hornet ini membahayakan penerbangan sipil dari dan menuju Juanda. Iswahyudi AFB mengirim 2 jet tempur F16 untuk memantau pergerakan konvoi kapal induk AS. Meski sempat dikunci 5 Hornet, pilot F16 kita tetap tenang dan meminta agar manuver dihentikan. Sementara klaim Malaysia soal Ambalat mulai berkobar tahun 2004 sejak negeri jiran itu show of force dengan mengerahkan kapal perang. 

Karakter jiran-jiran di sekitar rumah besar kita secara historis dan bergabung dalam beberapa aliansi militer terlihat dalam gambaran diatas. Juga pengalaman diembargo. Maka dalam pandangan strategis pertahanan Indonesia, dinamika historis geopolitik dan potensi konflik di kawasan ini perlu antisipasi secara dini. Dan perlu percepatan dalam pemenuhannya. Termasuk dalam strategi diversifikasi pengadaan alutsista. Semuanya berdasarkan peta geopolitik dan karakter jiran di sekitar kita. Kalau dalam program modernisasi alutsista TNI yang populer dengan sebutan  MEF (Minimum Essential Force) perlu waktu 15 tahun yaitu 2010-2024. Maka program extra ordinary OEF (Optimum Essential Force) target waktunya 5 tahun saja. Yaitu tahun 2025-2030. Itu sebabnya ada kesan pengadaan alutsista TNI saat ini begitu bergelora.

Salah satu contoh diversifikasi alutsista adalah realisasi investasi drone bersenjata (UCAV) di Skadron 51 Pontianak dan Skadron 52 Natuna. Dengan kedatangan 12 UCAV Anka dari Turkiye maka 8 UCAV CH4 Rainbow buatan China digeser ke Skadron 53 UCAV di Tarakan. Skadron 51 dan 52 diisi UCAV Anka yang baru dan UCAV Aerostar yang sudah eksis lebih dulu. Wajar dong, karena rasanya kurang pas jika Rainbow berpatroli di LCS. Jadi jeruk makan jeruk kesannya. Juga rencana pengadaan jet tempur J10 Chengdu China adalah bagian dari strategi pertahanan pola diversifikasi. Jika 42 unit jet tempur Rafale befokus untuk membentengi teritori Natuna, Sumatera dan Kalimantan. Maka Jet tempur J10 Chengdu bisa dialokasikan di Sulawesi atau NTT. Sudah pahamlah maksudnya.

(Bersambung)

****

Jagarin Pane / 8 November 2025


Thursday, October 2, 2025

Korelasi Martabat Diplomasi Dan Kehormatan Militer

Sidang Majelis Umum PBB di New York AS tanggal 23 September 2025 dan rangkaian kegiatan didalamnya memperlihatkan kemampuan martabat diplomasi Indonesia. Pidato Presiden Indonesia Prabowo Subianto tegas dan lugas menggema. Orasi dan materi yang dikumandangkan mampu membangunkan kesadaran bersama tentang hakekat perdamaian. Khususnya tentang perdamaian Palestina-Israel, pentingnya memperkuat PBB sebagai lembaga untuk perdamaian dan kesejahteraan. Dan ini yang paling menghentak orasinya : Might cannot be right. Right must be right. Yang kuat tidak bisa selalu benar. Yang benar harus benar. Kalimat adrenalin ini diyakini mampu "menampar bathin" dua pemimpin arogan dunia, AS dan Israel. Sekaligus sebagai peluntur merasa paling benar.

Kita bisa saksikan berkali-kali para delegasi Sidang Umum PBB memberikan applause untuk Presiden Indonesia. Bahkan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan khusus dengan 8 pemimpin negara Arab dan Muslim menyampaikan pujian dan hormat pada Prabowo. Para pemimpin dunia pun angkat topi dan salut dengan isi pidato dan orasi Presiden kita. Raja Yordania memeluk Prabowo yang juga sahabat karibnya. Termasuk pidato PM Israel yang meyakini akan ada titik terang dari pidato Presiden Indonesia. Kehadiran Presiden Indonesia di forum tertinggi PBB menjadi sebuah misi diplomatik yang sukses dan menguatkan martabat Indonesia di mata dunia.

Lima Oktober 2025, TNI berulang tahun yang ke 80. Pencapaian usia sebilangan ini adalah salah satu evidence kehormatan militer yang mampu mengawal dan menjamin eksistensi Republik Indonesia. Kehormatan militer yang lain adalah tingkat kepercayaan rakyat Indonesia kepada institusi TNI adalah yang tertinggi bersama Presiden. Ini adalah hasil penelitian beberapa lembaga survey sepanjang tahun 2025. Kehormatan militer yang tidak kalah penting adalah kesediaan pemerintah dan DPR bersama komponen civil society lainnya untuk berinvestasi pertahanan, dalam rangka mengembangkuatkan TNI. 

Investasi pertahanan bersama pembangunan ekonomi kesejahteraan adalah dua sisi mata uang, satu kesatuan. Sebuah sinergitas yang harus seiring sejalan. Kondisi geopolitik dunia saat ini dan ke depan serta luasnya teritori yang harus dilindungi, mengharuskan Indonesia memperkuat pertahanan. Negeri kepulauan ini sangat strategis dan kaya dengan sumber daya alam. Potensi konflik masa depan salah satunya adalah memperebutkan sumber daya alam yang terbatas. Oleh karena itu investasi pertahanan negeri dengan 286 juta penduduk ini harus dipercepat. Untuk menjamin keberlangsungan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan eksistensi negara.

Kepemimpinan Presiden Prabowo saat ini dalam sudut pandang kita adalah tepat waktu dan tepat manfaat. Korelasinya adalah ketegasan dalam format leadership dan orasi. Kredit poinnya adalah keberanian untuk membongkar praktik-praktik korupsi raksasa. Korupsi skala trilyunan berhasil diungkap terang benderang. Kemudian kemampuannya melakukan diplomasi perdamaian di Sidang Umum PBB menjadi kebanggaan kita bersama. Lihatlah perkembangan terakhir di Gaza, sudah menampakkan titik terang perdamaian. Trump dan Netanyahu secara tersirat akhirnya mengikuti peta jalan perdamaian yang dikumandangkan Prabowo bersama Presiden Perancis dan Raja Arab Saudi. Solusi terbaik adalah dua negara Palestina dan Israel yang berdampingan damai. Semoga.

Di tengah dinamika kondisi geopolitik saat ini dan ke depan yang sulit diprediksi, Prabowo hadir untuk memimpin republik kepulauan terbesar ini. Sejak menjadi Menteri Pertahanan visi dan misi besarnya untuk mengembangkuatkan postur tentara Indonesia terlihat menggebu. Mengapa sampai menggebu, karena selama ini harus kita akui perkuatan alutsista TNI ternyata belum memenuhi persyaratan minimal. Lima belas tahun kita perkuat TNI sejak tahun 2010 hanya untuk memenuhi kriteria pencapaian minimum essential force. Dan saat ini sebagai Presiden, Prabowo sedang berupaya mempercepat pertumbuhan investasi kekuatan pertahanan dengan program extra ordinary. Untuk menuju kekuatan militer yang proporsional dan setara dengan luasnya teritori Indonesia. Termasuk menambah seratusan batalyon TNI dan menguatkan Komponen Cadangan (Komcad) sebagai bagian dari pertahanan semesta.

Maka dalam minggu-minggu ke depan, bulan dan tahun berikutnya kita akan melihat kedatangan berbagai jenis alutsista untuk TNI. Seperti tambahan 6 jet latih tempur T50i dari Korsel dan 2 pesawat angkut berat A400M dari Spanyol bulan depan. Kemudian kedatangan bertahap 42 jet tempur Rafale dari Perancis awal tahun depan. KRI Prabu Siliwangi 321 dari Italia akan tiba Desember tahun ini. Ada juga kapal selam mini tanpa awak dan kapal perang LHD rancangan  PT PAL, pembangunan 2 kapal perang frigate merah putih oleh PT PAL dan pembangunan 2 kapal selam Scorpene di PT PAL kerjasama dengan Perancis. Yang lagi ramai dibahas rencana akuisisi kapal induk Italia Giuseppe Giribaldi. Penetapan anggarannra sudah turun dari Bappenas. Kemarin baru saja diresmikan kapal perang baru jenis kapal cepat rudal KRI Belati 622 produksi galangan kapal swasta nasional. Kapal ini sudah full armament dengan combat management system, meriam Leonardo dan persenjataan rudal Atmaca. Tumben komplit, biasanya FFBNW (fit for but not with).

TNI AD  sedang menunggu kedatangan 22 helikopter Black Hawk dari AS, dan pengiriman lanjutan rudal balistik KHAN dari Turkiye. Dari negerinya Erdogan ini kita akan menerima dalam jumlah besar berbagai jenis alutsista yaitu rudal anti kapal Atmaca, rudal surface to air Hisar (Trisula), rudal jelajah Cakir, drone Anka, drone Bayraktar, 2 fregat Istif Class, dan 2 kapal cepat rudal. Dari Jerman akan datang kapal hydro oceanography KRI Canopus 936. Juga 13 radar GCI dari Thales Perancis dan 12 radar GCI dari Retia Ceko. Kedua jenis radar ini bisa saling sinergitas dan menguatkan dalam manajemen interoperability. Dengan begitu blank spot sudah  tertutup. Seluruh teritori udara kita sudah tercover dan terintegrasi.

Investasi pertahanan memang memerlukan anggaran sangat besar dan multi year. Namun anggaran besar ini bukan untuk belanja habis pakai atau belanja konsumtif (cost/expense).Tetapi menjadi aset strategis pertahanan yang masa manfaatnya bisa mencapai puluhan tahun. Contohnya 3 kapal perang Fatahillah Class yang dibeli tahun 1980 dari Belanda masih aktif sampai sekarang. Salah satu tujuan berinvestasi pertahanan adalah untuk menguatkan marwah dan kehormatan militer kita. TNI yang profesional harus memiliki alutsista teknologi terkini yang terintegrasi dalam manajemen pertempuran modern network centric warfare. Inilah kehormatan militer yang sesungguhnya. TNI yang kuat dan disegani diniscayakan mampu menguatkan marwah diplomasi politik luar negeri kita yang bebas aktif dan dinamis. 

Martabat diplomasi sebuah negara bagaimanapun sangat berkorelasi dengan postur kekuatan militer dan kekuatan ekonomi yang dimiliki. Sudah banyak contohnya. Kemampuan Indonesia menguatkan martabat diplomasi dan politik luar negeri merupakan prestasi dan prestize. Sejalan dengan itu perkuatan militer kita adalah untuk menguatkan bargaining harga diri bangsa dalam dinamika diplomasi. Seperti potensi konflik Ambalat dan Laut China Selatan. Dalam dinamika diplomasi dan kehormatan militer berlaku cara pandang sederhana : Tampilan wajah diri boleh berseri dengan narasi, diskusi, orasi dan persuasi mencari solusi. Namun semua itu harus ditopang dengan adrenalin, tubuh atletis dan kemampuan bela diri. Ini yang disebut gagah dan simpatik. Korelasi martabat diplomasi dan kehormatan militer kita adalah seperti ini. Dirgahayu Tentara Nasional Indonesia. Selamat berulang tahun yang ke 80. TNI Prima-TNI Rakyat-Indonesia Maju.

****

Jagarin Pane / 2 Oktober 2025

Tuesday, September 16, 2025

Antisipasi Fluktuasi Geopolitik Ngeri-Ngeri Sedap

Tiba-tiba saja Israel membombardir Doha ibukota Qatar untuk membunuh pemimpin Hamas. Sangat jelas ini merupakani agresi militer yang paling memalukan. Israel berulang kali memperlihatkan gaya bernegara yang arogan, bergaya preman,sok jago. Karena ada pelindung abadinya AS. Padahal di Qatar ada pangkalan militer terbesar AS. Padahal Qatar selama ini adalah negara yang menjadi mediator, dan fasilitator untuk setiap perundingan Timur Tengah bersama Israel. Padahal Qatar memiliki kekuatan persenjataan yang canggih yang sebagian besar produk Paman Sam. Qatar merasa dikhianati dan marah besar. Sementara di kawasan Eropa, ratusan drone Rusia menyusup ke Polandia yang nota bene anggota NATO. Maka gegerlah Pakta Atlantik Utara itu. Jika Polandia dan NATO membalas maka dunia menuju Perang Dunia Ketiga. Itulah suasana terkini dari dinamika geopolitik dunia yang fluktuatif. Di berbagai kawasan banyak terjadi konflik militer tak terduga.

Para pemikir strategis Indonesia tentu sudah membaca tanda-tanda jaman ini. Cuaca geopolitik saat ini dan ke depan sepertinya bernuansa ngeri-ngeri sedap. Dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari. Kalau kita amati sebenarnya ini adalah inkubasi dari transisi perubahan tatanan dunia yang selama ini bercorak unipolar. Penguasa hegemoninya adalah AS. Staf khususnya NATO di Eropa. Sementara di Indo Pasifik anak buahnya adalah Jepang, Australia dan Korsel. Perilaku penguasa hegemoni saat ini bisa terlihat jelas sepak terjangnya. Kepemimpinan AS dibawah Donald Trump tidak menunjukkan leadership yang berkualitas, apalagi bijaksana. Tetapi cenderung bergaya "pamership", "premanship" dan yang sebangsa dengan arogansi. Itu semua bisa terjadi karena tatanan dunia saat ini unipolar, dikuasai oleh satu blok kekuatan yang sebenarnya sedang memudar hegemoninya.

Indonesia yang begitu luas teritorinya dan kaya akan sumber daya alam adalah karunia terbesar yang dimiliki bangsa besar ini. Jawaban dan antisipasi terhadap gonjang ganjing geopolitik dunia saat ini adalah dengan memperkuat basis pertahanan. Dan tetap keukeuh dalam posisi non blok yang dinamis. Negeri kepulauan terbesar ini  harus memilki manajemen pertahanan yang kuat dan terintegrasi. Pertanyaannya, bagaimana dengan kondisi kekuatan pertahanan kita saat ini. Jawabannya masih belum mencapai kriteria standar. Oleh karena itulah saat ini kita bisa menyaksikan berbagai program extra ordinary dari Kementerian Pertahanan. Semua berpacu dengan waktu. Untuk mengembangkuatkan investasi pertahanan dengan pengadaan berbagai jenis alutsista strategis dan canggih.  

Kita ambil contoh bagaimana standar manajemen pertahanan di Indonesia Timur saat ini khususnya Maluku dan Papua. Meski sudah ada pangkalan AL Koarmada Tiga di Sorong dan Pasmar Tiga ( Divisi 3 Marinir). Namun  kekuatan striking force Armada Tiga belum masuk kriteria minimum essential force. Ketersediaan KRI pemukul masih terbatas dengan kapal korvet dan kapal cepat rudal. Demikian juga dengan kekuatan TNI AU, belum ada skadron tempur yang ber home base di Maluku dan Papua. Secara ekosistem Maluku dan Papua ini sebenarnya strategis dalam dinamika geopolitik Indo Pasifik. Pemilihan Sorong sebagai Navy Base Armada Tiga berikut Pasmar Tiga karena lebih melihat potensi ancaman dari Utara. Guam sangat dekat dengan Papua. Kita tahu pangkalan militer Andersen di Guam menyimpan  berbagai jenis jet tempur dan pengebom strategis milik AS. Trafik air force dari Guam ke Darwin Australia dan sebaliknya pasti melintasi langit Maluku dan Papua.

Pemerintah berinvestasi pertahanan dengan berbagai jenis alutsista produksi berbagai negara, menjadi bagian dari strategi pertahanan. Misalnya 18 jet tempur Chengdu buatan China jika jadi dibeli , penempatannya bisa di Biak atau Kupang. Sudah tahu lah maksudnya. Termasuk memperkuat skadron Sukhoi yang sudah ada di Makasar. Sementara 48 jet tempur gen 5 KAAN buatan Turki bisa dialokasikan di Manado, Kupang, Balikpapan. Untuk 48 Jet tempur Rafale yang mulai datang awal tahun depan sudah pasti akan ditempatkan di Pekan Baru, Pontianak dan Natuna. Seluruh jet tempur F16 yang berjumlah 33 unit akan berada di home base Iswahyudi AFB bersama 19 unit jet tempur baby falcon T50 golden eagle. Sementara jet tempur IFX dengan asumsi produksi 24 unit kemungkinan besar akan ditempatkan di Medan dan Pekan Baru melapis Rafale. Sebaran skadron tempur ini dalam pandangan kita sudah menyebar merata dan ideal.

TNI AL saat ini sedang berproses menguatkan kemampuan armada tempurnya. Termasuk mengembangkan organisasi. 14 Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) ditingkatkan menjadi Komando Daerah AL dengan panglima bintang dua. Kapal perang terbesar dan canggih KRI Brawijaya 320 sudah datang. Menyusul Desember 2025 nanti KRI Prabu Siliwangi 321. PT PAL sedang mempersiapkan pembangunan 2 kapal selam Scorpene bersama Perancis. Pada saat yang bersamaaan PT PAL sedang menyelesaikan pembangunan 2 Fregat Merah Putih. Di Turki juga sedang berproses pembangunan 2 Fregat Istif Class dan Kapal Cepat Rudal untuk TNI AL. Sementara galangan kapal swasta dalam negeri mendapat order modernisasi 41 KRI, pembuatan kapal Cepat Rudal dan Kapal Patroli Cepat.

Pelajaran dari beberapa pertempuran di berbagai kawasan membuktikan bahwa alutsista buatan Barat ternyata tidak setangguh marketing komunikasinya. Rudal-rudal Iran ternyata mampu menembus Air Defence System (ADS) Israel yang terkenal canggih dan kokoh. ADS Ukraina juga babak belur dihujani drone dan rudal Rusia. Rudal Nassam dan Patriot kalah awu melawan rudal-rudal Rusia yang punya kecepatan tinggi. Belum lagi rudal Oreshnik yang spektakuler itu. Jet tempur Rafale India berhasil dijatuhkan rudal China yang diluncurkan dari jet tempur J10 Pakistan. Battle proven alutsista Rusia dan China telah membuka cakrawala pandang dunia yang selama ini banyak berkiblat ke Barat. Qatar, Arab Saudi, UEA adalah negara yang seluruh alutsistanya buatan AS dan Eropa. 

Pilihan Indonesia untuk investasi pertahanan dengan pola diversifikasi adalah bagian dari strategi manajemen pertahanan sesuai konstelasi geopolitik kawasan. Potensi konflik di sekitar kita juga bercorak warna. Ada China, ada Malaysia, ada Australia. Saat ini ada dua hotspot yang harus mendapat pengawalan ekstra yaitu  Laut Natuna Utara dan Ambalat. Pengadaan alutsista mengikuti konstelasi potensi konflik yang mungkin terjadi. Misalnya pengadaan Coastal Missile dari China. Jika nantinya menjadi aset pertahanan TNI, dalam perspektif kita akan lebih baik ditempatkan di selat-selat strategis ALKI.  Seperti Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makassar. Demikian juga jet tempur Chengdu lebih pas dialokasikan di Timur Indonesia. Jika penempatan kedua alutsista ini di Natuna agaknya kurang pas. Jadi seperti jeruk makan jeruk. Jeruk purut lagi.

Ada kesan bahwa perkuatan manajemen pertahanan Indonesia yang berbasis interoperability dengan alutsista canggih seperti hendak bersiap untuk perang. Padahal sesungguhnya investasi pertahanan adalah untuk memastikan eksistensi negeri dan pengakuan kesetaraan dalam diplomasi antar negara. Ini sebangun dengan filosofi Si Vis Pacem Parabellum. Jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Indonesia mengembangkuatkan manajemen pertahanan untuk memastikan jaminan keberlangsungan hidup bernegara, melindungi segenap tumpah darah, melindungi teritori negeri, melindungi sumber daya alam dan mengawal pertumbuhan ekonomi kesejahteraan. Kita mempercepat pembangunan investasi pertahanan adalah untuk mengantisipasi fluktuasi iklim geopolitik yang ngeri-ngeri sedap. Karena geopolitik dunia saat ini sedang mengalami transisi dari unipolar menjadi multi polar. Dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari. Tak bawa payung lagi, basah kuyup dah.

****

Jagarin Pane / 14 September 2025


Saturday, August 23, 2025

Daftar Pengadaan Alutsista Indonesia

2 KRI Frigate Brawijaya Class dari Italia

2 KRI Frigate Merah Putih dari PT PAL

2 KRI Frigate Istif Class  dari Turkiye

1 KRI Rigel Class dari Palindo/Jerman

2 KRI Kapal Cepat Rudal dari Turkiye

1 KRI Kapal Cepat Rudal dari Tesco Bekasi

2 KS Scorpene dari Perancis & PT PAL

1 Kapal Induk Giribaldi dari Italia (Opsi)

1 Kapal LHD Helikopter dari PT PAL (Opsi)

42 Jet Tempur Rafale dari Perancis

48 Jet Tempur IFX kerjasama Korsel RI

48 Jet Tempur KHAAN dari Turkiye

  6 Jet Tempur T50 dari Korsel

  2 Pesawat angkut A400M dari Spanyol

13 Radar GCI dari Thales Perancis

12 Radar Retia dari Ceko

  3 Baterai Rudal Balistik KHAN Turkiye

  3 Baterai Rudal ADS Trisula dari Turkiye

22 Helikopter Blackhawk dari AS

12 Drone Anka dari Turkiye

60 Drone Bayraktar TB3 dari Turkiye

45 Rudal anti kapal Atmaca dari Turkiye

****

Jagarin Pane

(Dari berbagai sumber)